Selasa, 31 Oktober 2017

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Matraman, Ribath Nurul Hidayah

Untuk meningkatkan mutu kader-kader NU di semua lini, PBNU terus mengkampanyekan pentingnya kaderisasi. Pelaksanaan kaderisasi adalah amanah resmi Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur tahun 2015.

Dalam AD/ART NU Bab XIII Pasal 39 ayat 4-7 dijelaskan bahwa syarat untuk menjadi pengurus cabang NU, PWNU dan PBNU harus sudah mengikuti pendidikan kader atau kaderisai yang dibuktikan dengn sertifikat kader NU.

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Poin-poin tersebut terungkap saat Sidang Pleno Kedua pada Munas Konbes NU 2017, Kamis (23/11) malam di pelataran Masjid Islamic Center NTB.

Ketua PBNU didampingi Sekjen PBNU pada kesempatan tersebut, menjelaskan kaderisasi dilaksanakan melalui Madrasah Kader NU yang di-launching secara resmi pada Juni 2016. MKNU kemudian  secara resmi menjadi bagian dari suprastruktur kadeeisasi NU di semua lini dan tingkatkan.

Sejauh ini pelaksanaan Madrasah kader NU di berbagai daerah sudah menghasilkan beberapa angkatan alumni. Hingga November 2017, madraha kader NU sudah terselenggara di 20 titik, dengan luar Jawa sebgaia fokus prioritasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Beberapa materi yang disampaikan adalah relasi NU terhadap perkembangan ideologi dan gerakannya; arah, cita-cita dan strategi perjuangan NU; relasi dan respons NU terhadap negara; arah, cita-cita dan program perjuangan NU 2015-2020.

Selain itu juga strategi pembangunan dan pemberdayaan ekonomi NU, literasi media, kekuaatan dan tantangnnya.

Madrasah kader NU langsung dipandu oleh instruktur dan fasilitator dai PBNU. (Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Oktober 2017

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar lima ribu massa dari Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Diniyah (For-Madin) menduduki gedung DPRD Jepara, Rabu (9/1). Ribuan massa yang berkumpul dari gedung NU Jepara terdiri dari berbagai elemen, antara lain Qiroati, Yanbua, RMI, Lakpesdam, Ansor dan IPNU-IPPNU.

Dalam aksi longmarch dari gedung NU menuju gedung DPRD massa hendak menyampaikan aspirasi kepada dewan terkait digagalkannya Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan Diniyah dalam rapat paripurna DPRD 26 Desember 2012 lalu. 

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

“Digagalkannya Perda Diniyah merupakan bukti bahwa wakil rakyat kita tidak peka terhadap aspirasi masyarakat. DPRD Jepara telah mempermainkan agama untuk kepentingan politik mereka,” kata Achmad Makhalli koordinator umum aksi sembari membacakan testimoni suara masyarakat Jepara. 

Ribath Nurul Hidayah

Ranperda Diniyah merupakan perda inisiatif dari DPRD. Makhalli menyayangkan Ranperda yang diproses dan dikaji Panitia Khusus (Pansus) yang harapannya sesuai dengan kehendak rakyat malah ditolak sendiri oleh Pansus dan Fraksi di DPRD. 

“Ini artinya DPRD melakukan tindakan yang “sembrono” karena selain pemborosan anggaran juga berakibat kepada pendidikan diniyah di kabupaten Jepara,” sambung Makhalli. 

Ribath Nurul Hidayah

H Anas Arbaani dari PCNU mengungkapkan munculnya pro-kontra Ranperda dari masyarakat dan DPRD berdalih belum sempurna dan perlu disempurnakan maka masyarakat tidak perlu terkecoh. Masyarakat lanjut Anas yakin digagalkannya Ranperda tersebut berkiatan dengan pertarungan politik elit dan “kue politik” 2014. 

Karenanya, For-Madin, imbuh Anas, menyatakan sikap menolak politisasi agama untuk kepentingan sesaat, DPRD harus menghilangkan dikotomi pendidikan formal dan non formal, DPRD harus segera menyempurnakan dan mengesahkan Ranperda pendidikan diniyah paling lambat 31 Januari 2013 dan For-Madin akan melakukan pengawalan terhadap proses finalisasi Perda dan Pebup pendidikan Diniyah. 

Dalam aksi sebelum berjalan menuju gedung dewan diawali dahulu dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan shalawat serta menyuarakan yel-yel. Didepan gedung dewan secara bergantian menyampaikan orasi dengan lagu, syiiran maupun suara nan lantang. 

“Hai wakil rakyat elengono naliko mlarat/ saiki wes sugih ojo nganti nekad/ ngelengono/ ngelengono besok bakal dadi tanggungan akherat.” Begitu salah satu syiir dari salah satu orator. 

Karena perwakilan dari For-Madin yang tak kunjung keluar akhirnya massa merangsek ke gedung dewan. Meski demikian aksi tidak diwarnai dengan anarkis melainkan doa bersama sekaligus mengakhiri aksi siang itu. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Para santri Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar aksi damai pada Hari Perdamaian Internasional di tiga tempat, Ahad (21/9). Mereka membubuhkan tanda tangan dan menuliskan harapan perdamaian dunia di sebuah spanduk besar.

Kepada Ribath Nurul Hidayah, Noor Ridho salah satu pengurus pondok menuturkan acara serupa juga diselenggarakan beberapa pesantren di daerah lain. Dengan mengusung “Peace 360:Peace Leader in Action”, melakukan aksi yang sama.

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

“Kita berharap dari acara ini, masyarakat lebih memahami makna perdamaian,” ujar Ridho.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut pengajar SMP Al-Muayyad itu, perdamaian tidak hanya sebatas aman dari perang, tapi juga bagaimana membangun perdamaian dalam konteks antarumat beragama dan sebagainya.

Faqih, seorang siswa kelas XI SMA Al-Muayyad menuliskan harapannya akan perdamaian. “Hari ini, hari esok, hari nanti, damai sepanjang hari,” kata Faqih mengutip salah satu lsyair pada sebuah lagu. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 29 Oktober 2017

Pesantren Tambakberas Tuan Rumah Kartanu Kali Ketiga

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang turut berbangga menjadi tuan rumah pelaksanaan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu). Bahkan untuk kali ketiga, pesantren menjadi saksi sejarah antuasias para santri dan penduduk setempat.

Pesantren Tambakberas Tuan Rumah Kartanu Kali Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Tuan Rumah Kartanu Kali Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Tuan Rumah Kartanu Kali Ketiga

Ahad (31/3) kemarin, sejak pagi hingga jam sembilan malam, para petugas Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) harus siap di Gedung Serba Guna KH Chasbulloh Sa’id area Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Ini sebenarnya pengalam kali ketiga bagi panitia untuk melakukan pemotretan Kartanu. 

“Yang pertama pada saat launching Kartanu, kemudian pada pemotretan kedua serta hari ini untuk ketiga kalinya,” kata Affandi. Sebenarnya jadual pemotretan harusnya di MWCNU Kesamben. “Namun karena pengurus di kecamatan tersebut belum siap, akhirnya dialihkan ke sini,” tandasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Bukan semata pengalihan jadual, namun panitia bekerja secara total. “Seluruh alat Kartanu yang berjumlah empat unit dihadirkan di pesantren ini,” katanya. Padahal untuk satu unit, dibutuhkan empat operator. 

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini dilakukan karena setidaknya ada dua ribu lembar yang akan diproses.  “Karenanya kami turun full team,” kata pria asli Baweaan Gresik ini. 

Diluar itu semua, panitia merasa salut dengan kiprah pengurus khususnya Ketua MWCNU Jombang, KH Asharun Nur. “Pak Asharun selalu hadir di setiap kegiatan pemotretan,” katanya. Hal itu tentu saja membuat warga yang sempat didatangi merasa puas dan bangga lantaran pimpinannya juga terlihat sibuk dan menyapa mereka.

Untuk pemotretan kali ini, setidaknya telah siap diproses sekitar seribu lima ratus lembar Kartanu. Sedangkan untuk periode kedua saat susulan kemarin berjumlah sekitar seribu lima ratus buah. “Jombang kota memang beda dengan MWC lain,” katanya.

Dengan sejumlah pesantren besar yang dimiliki, sebenarnya sukses Kartanu di MWC NU Jombang dapat menginspirasi wilayah lain untuk melakukan hal yang sama. Sejumlah MWC memiliki sejumlah pesantren di wilayahnya.

“Ini sangat bergantung kepada para pimpinan NU setempat untuk silaturahim kepada pengasuh pesantren setempat,” katanya. “Kalau di Jombang kota saja bisa, pastinya di tempat lain juga bisa kan?” pungkasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Kediri, Ribath Nurul Hidayah

Untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Kediri yang didukung oleh Pemkot Kediri, PT Gudang Garam Tbk, Radio On, dan Kediri Jaya.com, menggelar kegiatan pameran lukisan Gus Dur dengan bahan dasar cekakik kopi.



Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Pameran resmi dibuka oleh Agus Sunyoto, Wakil Ketua Lesbumi NU, pada Ahad (25/7) kemarin, dan akan berlangsung hingga Rabu (28/7) di Musium Mastrip Perpustakaan Umum Kota Kediri JL Diponegoro.

Acara yang juga dihadiri Pendeta Kabul dari Gereja GBI Getsamani Kediri ini menarik perhatian publik khususnya warga Kota Kediri yang berduyun-duyun datang ke lokasi pameran.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini sungguh luar biasa – saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Gus Dur adalah bapak bangsa dan perekat antar umat beragama,” kata Pendeta Kabul seperti dikutip www.kedirijaya.com.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam acara ini juga dilaksanakan demo melukis dengan menggunakan bahan dasar cekakik kopi oleh pengunjung.

Bertempatan dengan bulan Jadi Hari Kota Kediri yang ke-1131, 70 lukisan akan dipamerkan, termasuk koleksi lukisan cekakik konjen Jepang di Surabaya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 27 Oktober 2017

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  Hasyim Muzadi mengatakan, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi tidak bisa disamakan dengan Eropa, karena dimensinya berbeda.

"Kalau Eropa, dimensinya bisnis, keamanan, atau dimensi politik. Tapi, kalau dengan Arab Saudi hubungan Indonesia dimensi agamis," kata Hasyim usai seminar bertajuk Amandemen UUD 1945 di kantor PBNU Jakarta, Kamis.

Hasyim mengatakan, mengenai wacana larangan terbang terhadap maskapai penerbangan Indonesia ke Arab Saudi tidak perlu ditangapi dengan keras. "Indonesia cukup melakukan penjelasan, tidak usah keras. Kalau memang harus ada yang diperbaiki dari Garuda, ya diperbaiki," katanya.

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa

Hasyim menegaskan, dalam hal ini yang lebih terlihat adalah pihak Arab Saudi yang ingin mendapatkan keterangan dari pihak Indonesia. "Belum ada larangan, saya juga belum yakin itu larangan. Saudi cuma ingin penjelasan, kenapa itu terjadi di Eropa," ujarnya.

Lebih lanjut Hasyim yakin, posisi Arab Saudi tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan sesuai amanah yang diembannya. "Saya yakin posisi Arab sesuai namanya dalam bahasa Arab "Qodimun Haromain" itu, sesungguhnya pengabdi haji. Maka dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip yang ia lakukan," katanya.

Disinggung adanya boikot haji, Hasyim menegaskan hal itu tidak perlu dilakukan. "Saya kira itu tidak perlu. itu, hanya, karena kaget saja," demikian Hasyim Muzadi.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Menteri Agama Maftuh Basyuni menegaskan bahwa pemerintah Arab Saudi belum melarang penerbangan Indonesia ke Arab Saudi. Semua yang berkembang saat ini baru wacana.

"Pemerintah Arab Saudi baru mempertanyakan keputusan Uni Eropa yang melarang penerbangan Indonesia ke Eropa. Utusan dari sana (Arab Saudi) telah diminta datang ke Indonesia untuk memperoleh penjelasan langsung mengenai kondisi penerbangan di Indonesia," katanya.

Menag berharap pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini tidak sampai terjadi.(sbr)

Ribath Nurul Hidayah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 26 Oktober 2017

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Kekosongan organisasi kemahasiswaan yang bernaung secara struktural di bawah PBNU menjadi perbicangan hangat para aktivis mahasiswa NU, baik yang dari IPNU dan IPPNU maupun yang dari organisasi kemahasiswaan berideologi NU. Munas-Konbes NU 2014 juga menyepakati akan membahas isu ini pada forum musyawarah tertinggi NU, Muktamar ke-33 NU Agustus mendatang.

Ada wacana bahwa batas usia dan gerak di IPNU dan IPPNU yang kini memiliki jaringan di sekolah, pesantren, dan kampus, akan dipangkas hingga sebatas level pelajar. Sebagian aktivis IPNU-IPPNU keberatan dengan wacana kebijakan ini, mengingat tingkat kesulitan dan kesibukan proses kaderisasi di berbagai pelosok negeri yang dinilai susah jika hanya ditangani seorang pelajar sekolah.

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar

Kabar yang lain menyebutkan simpang siur status independensi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) tetap lepas atau akan masuk ke dalam Banom NU.

Ribath Nurul Hidayah

Menyikapi ini, Ketua Pengurus NU (PWNU) Jawa Tengah Abu Habsin menyatakan ide moderatnya. Menurutnya, bagaimanapun juga IPNU dan IPPNU harus tetap eksis mengakomodir para pelajar, agar saat menjadi mahasiswa, mereka tidak hanya kutu buku saja, tapi juga mampu mengatasi problem sosial yang dihadapi.

Ribath Nurul Hidayah

“Kalau anak sudah diantar IPNU-IPPNU, nanti di kampus sudah matang. Maka IPNU-IPPNU pun perlu kembali pada fungsinya, yakni mengakomodir pelajar. Tidak usah ada komisariat di kampus. Pengurus boleh mahasiswa, tapi garapannya tetap dipusatkan kepada para pelajar. Mahasiswa menjadi pengurus, yang akan membina para pelajar kita,” ujarnya kepada Ribath Nurul Hidayah saat ditemui di kantor PWNU Jawa Tengah, Semarang (2/5).

Hal ini sesuai dengan fakta bahwa KH Moh. Tolchah Mansur saat mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) juga adalah seorang mahasiswa. Sampai sekarang pun, pengurus IPNU dan IPPNU di pelbagai daerah adalah para mahasiswa.

Namun yang lebih menjadi sorotan bagi aktivis IPNU dan IPPNU adalah soal pemangkasan usia. Hal ini terkait erat dengan eksistensi organisasi yang tidak hanya di level pimpinan komisariat sekolah atau ranting di masing-masing desa. Sebab sebagai Banom NU, kepengurusan IPNU dan IPPNU pun meliputi pelbagai tingkatan dari pelosok desa hingga nasional.

Ini artinya semakin tinggi tingkat kepengurusan maka akan semakin tinggi pula frekuensi kesibukan mengurus bawahannya. Belum lagi masalah jarak tempuh yang khas dimiliki negara kita. Lebih dari itu, kepengurusan dan pengkaderan di IPNU maupun IPPNU juga berjenjang tertib. Maka ketika batasan usia ditetapkan pada usia pelajar saja, bisa dibayangkan betapa repotnya seorang pelajar tingkat SMA mengatasi pengkaderan teman seusianya di seluruh pelosok negeri. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Sholawat, Doa Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 24 Oktober 2017

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA

Karanganyar, Ribath Nurul Hidayah. Citra pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang ramah, toleran, dan menghargai budaya lokal dapat menjadi ikon pendidikan Islam pada masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini ditegaskan Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah, KH Abdul Ghaffar Rozin, pada acara rapat kerja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (17/4).

Menurutnya problema menguatnya radikalisme dan sikap intoleransi telah menjadi masalah bersama masyarakat ASEAN. Munculnya kelompok-kelompok radikal dan transnasional telah menjadikan suasana kehidupan beragama menjadi kaku, saling curiga, dan mengancam identitas kebangsaan. Hal demikian karena kelompok-kelompok tersebut cenderung menerapkan pemahaman tekstualis, mudah menyesatkan, dan tidak ramah terhadap budaya lokal.

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA

"Pesantren NU mempunyai peran strategis karena dalam kurun yang panjang mampu menunjukkan sebagai pusat pendidikan yang melahirkan kader-kader yang toleran, ramah terhadap budaya, sehingga menempatkan agama Islam sebagai rahmatan lil alamin," kata kiai muda yang biasa disapa Gus Rozin ini. 

Oleh karena itu model pendidikan pesantren NU saat ini banyak dilirik oleh negara-negara ASEAN untuk dikembangkan di negara masing-masing. Hal demikian setidaknya dapat dilihat semakin banyaknya santri-santri di pesantren NU dari negara-negara ASEAN tersebut.

Kondisi ini jika diantisipasi dengan baik, melalui dukungan berbagai pihak bukan tidak mungkin pesantren NU menjadi ikon pendidikan Islam pada era MEA. Bahkan sistem pendidikan pesantren NU dapat diduplikasi dan dikembangkan di berbagai kawasan ASEAN. Namun demikian, Gus Rozin mengingatkan, jika pesantren-pesantren NU tidak berbenah secara internal justru bisa saja sistem ini diambil dan dikembangkan negara-negara ASEAN yang lain dan kita tertinggal seperti kondisi yang terjadi pada sistem pendidikan non pesantren. 

Ribath Nurul Hidayah

"Dahulu negara-negara ASEAN belajar kepada kita, saat ini justru kita banyak tertinggal dengan pendidikan mereka. Oleh karena itu pesantren perlu meningkatkan tata kelola manajemen, kemandirian, dan citra lembaga yang bersih dan sehat, sehingga layak dijadikan rujukan pendidikan Islam negara kawasan ASEAN," terangnya.

"RMI NU sebagai asosiasi pesantren NU terus berusaha menjembatani kebutuhan dan meningkatkan daya dukung pesantren NU ini baik dari segi regulasi, pengembangan lembaga, manajemen agar pesantren NU dapat menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara," tegas Gus Rozin yang juga Rektor Institut Pesantren Matholiul Falah Pati. (M.Zulfa/Abu Choir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Senin, 23 Oktober 2017

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Minggu, 22 Oktober 2017

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?

Film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” sampai saat ini telah ditonton sekitar 25 ribu orang. Menurut sutradara film tersebut, Yuda Kurniawan, jumlah sebanyak itu setelah diputar 42 kali di tempat berbeda mulai pesantren dan kampus.

“Ini merupakan pemutaran yang ke-42 sejak diputar perdana tanggal 10 Agustus 2016 menjelang Hari Santri. Hingga kini telah ditonton sekitar 25 ribu orang,” katanya selepas pemutaran film itu di peringatan Hari Lahir (harlah) NU ke-91 di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/1). Film tersebut memungkasi pemutaran dua film pemenang Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam rangka Hari Santri tahun lalu.?

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Menurut Yuda, film berdurasi 37 menit itu telah diputar di 15 kampus dan 26 pesantren di seluruh pulau Jawa. Ke depan, ia ingin memutar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Bagi komunitas, pesantren atau kampus di daerah tersebut yang ingin memutarnya, bisa menghubungi email yudakurniawan@yahoo.com.?

Film ini, sambungnya, belum dapat dipublish di media sosial seperti YouTube karena lebih mengutamakan pemutaran dan diskusi.?

Di antara apresiasi dikemukakan Rektor IAI Ibrahimy KH Cholilur Rahman. Menurut dia, film itu bisa memunculkan romantisme tersendiri bagi para alumni pesantren. “Jujur, saya meneteskan air mata saat melihat bagian awal ketika lalaran Alfiyah. Ini benar-benar menumbuhkan kebanggaan bagi santri dengan pesantrennya,” ungkapnya selepas menontonnya di auditorium Institute Agama Islam Ibrahimy, Genteng, Selasa (25/10/2016).?

Ribath Nurul Hidayah

Film tersebut, lanjutnya, dibikin selama setahun dengan menyambangi sekitar 15 pesantren di pulau Jawa. Beberapa tokoh yang ada dalam film tersebut adalah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU KH Abdul Gaffar Rozin, pengasuh Pesantren Kaliopak KH Jadul Maula, pengasuh Pesantren Tegalrejo KH Yusuf Chudlori, dan pengasuh Pesantren Kauman Lassem KH Zaim Ahmad Syakir. (Abdullah Alawi)

Official trailer itu diunggah di YouTube dengan penjelasan berikut:

Negeri ini memiliki lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 21 Oktober 2017

ISNU: Indonesia Kehilangan Ahli Fiqih Terbaik

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (NU) Ali Masykur Musa menyatakan wafatnya Rais Aam Syuriah Pengurus Besar NU (PBNU) KH Sahal Mahfudh membuat bangsa Indonesia kehilangan salah satu ahli ilmu fiqih terbaiknya.

ISNU: Indonesia Kehilangan Ahli Fiqih Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Indonesia Kehilangan Ahli Fiqih Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Indonesia Kehilangan Ahli Fiqih Terbaik

"Innnaalillaahi wa innaa Ilaihi roojiuun, telah meninggal dunia guru kami, KH Sahal Mahfudh. Mbah Sahal adalah sosok yang sangat alim. Indonesia kehilangan ahli Fiqih terbaiknya," ujar Ali Masykur Musa di Jakarta, Jumat.

Ilmu Fiqih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah SWT.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Ali Masykur Musa, Sahal yang lazim disapa Mbah Sahal tersebut adalah seorang fuqoha (ahli ilmu Fiqih) modern. 

Ada dua kitab karya Sahal yang selalu menjadi rujukan umat untuk memperkaya khasanah Islam, yaitu Fiqih Siyasah (politik) dan Fiqih Lingkungan. 

Ribath Nurul Hidayah

Dengan buku yang menjadi karya beliau itu, ujar Ali Masykur, hukum Islam mampu menjawab berbagai tantangan zaman.

"Mbah Sahal yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama tiga periode ini adalah tokoh yang sangat disegani, bukan hanya karena ilmu, tetapi juga akhlaknya," kata Cak Ali, panggilan akrab Ali Masykur Musa. 

Dalam berorganisasi, lanjut dia, Sahal adalah sosok yang sangat taat pada aturan organisasi yang ada, sehingga pengambilan keputusan selalu menunggu pendapat tokoh ini. 

"Secara pribadi saya sangat kagum dan hormat pada almarhum Mbah Sahal. Banyak sikap politik saya yang dipengaruhi oleh pandangan beliau. Saya sangat terkesan saat menjadi Ketua Umum Ikatan Sarjana NU (ISNU), saya dilantik langsung oleh beliau, yang mana tidak biasa dilakukan sebelumnya," kata Cak Ali yang juga Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Buka Stan Pameran, KBRI Damaskus Dukung Pembangunan Kembali Suriah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus mengikuti Pameran Pembangunan “Expotechno Build Syria” ke-3 pada 16—18 Mei 2016 di Hotel Damarose Damaskus yang diselenggarakan oleh Pemerintah Suriah sebagai bagian dari rangkaian kampanye program Rebuild Syria (pembangunan kembali Negara Suriah).

Pameran yang mengangkat tema “For Better Syria” itu diikuti oleh lebih dari 40 stan perusahaan di sektor rekonstruksi, tenaga listrik/tenaga surya, pembangunan infrastuktur, pengairan, renewable sources, dan elektonik yang berasal dari Suriah dan Lebanon. Pameran Techno Build Syria ke-3 yang akan berakhir pada 18 Mei 2016 ditargetkan akan dihadiri lebih dari 4.000 pengunjung. Dibandingkan sebelumnya, pameran kali ini diikuti oleh lebih banyak ragam peserta dari berbagai perusahaan.

Buka Stan Pameran, KBRI Damaskus Dukung Pembangunan Kembali Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Stan Pameran, KBRI Damaskus Dukung Pembangunan Kembali Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Stan Pameran, KBRI Damaskus Dukung Pembangunan Kembali Suriah

Stan KBRI Damaskus menampilkan dua Perusahaan BUMN Indonesia, yaitu PT Wijaya Karya Persero (tbk) dan PT INKA Persero yang telah mengirimkan berbagai materi pameran untuk dipajang di stan Indonesia, demikian siaran pers Pensosbud KBRI Damaskus yang diterima Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Pameran “Expotechno Build Syria” dibuka Senin (16/05) oleh Menteri Pembangunan Umum Ir. Hussein Arnous; didampingi Menteri Pengairan dan Irigasi Dr Kamal Shikha; Duta Besar RI Damaskus Djoko Harjanto dan disaksikan oleh para pejabat setempat, delegasi perusahaan-perusahaan konstruksi serta delegasi dari berbagai Kedutaan Asing.

Mendapat apresiasi

Ribath Nurul Hidayah



Setelah acara pembukaan, stan KBRI Damaskus adalah stan pertama yang dikunjungi oleh Menteri PU Ir. Hussein Arnous dan para pejabat setempat. Saat mengunjungi stan KBRI Damaskus, Menteri PU Ir. Hussein Arnous menulis pesan di buku tamu.

“Saya atas nama rakyat dan Pemerintah Suriah menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada rakyat dan Pemerintah Indonesia yang telah berpartisipasi dalam pameran ini,” tulis Menteri Arnous, “Ini adalah bukti Indonesia adalah sahabat sejati Suriah yang mendukung pembangunan kembali Suriah pasca konflik.”

Pada kesempatan itu, Dubes RI Damaskus, Djoko Harjanto, pun menyerahkan cenderamata kepada Menteri PU Eng. Hussein Arnous.

Dalam kesempatan wawancara dengan berbagai media di Suriah, seperti Syria FM, Syria TV, Stasiun TV Nour Sham, Sinmar News, Iraq News, dan Media East Channel, Duta Djoko menjelaskan bahwa partisipasi Indonesia dalam Expo ini merupakan wujud dari dukungan Indonesia kepada Suriah mengingat ikatan persahabatan antara Indonesia dan Suriah sudah terjalin sejak lama.

“Sudah sepantasnya Indonesia berpartisipasi dalam pameran ini dalam rangka membantu pembangunan Suriah pasca konflik,” jawab Dubes Djoko kepada para wartawan. “Pameran ini juga merupakan peluang yang sangat baik bagi KBRI Damaskus untuk memperkenalkan potensi Indonesia di sektor konstruksi dan pembangunan serta transportasi perkerata-apian kepada masyarakat dan Pemerintah Suriah.” Duta Djoko mempromosikan PT. Wijaya Karya Persero, BUMN yang telah berpengalaman dalam membangun berbagai konstruksi di luar negeri dan PT. Industri Kereta Api yang sukses mengekspor produknya ke luar negeri.

Menurut Pejabat Fungsi Ekonomi KBRI Damaskus, Makhya Suminar, tidak hanya menarik perhatian para media, tetapi juga stan Indonesia juga menarik perhatian berbagai pengusaha yang mencari informasi untuk membuka hubungan dan memanfaatkan peluang bisnis dengan Indonesia. Kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh KBRI Damaskus untuk menyebarkan informasi terkait pelaksanaan Trade Expo Indonesia yang akan diselenggarakan pada 12 – 16 Oktober di Jakarta.

“KBRI Damaskus adalah satu-satunya Kedutaan yang berpartisipasi pada Pameran Expotechno Build Syria ini,” ujar Makhya Suminar, “Ini wujud kedekatan KBRI Damaskus dengan Pemerintah Suriah dalam bidang ekonomi dan pembangunan.”

Tujuan KBRI Damaskus untuk berpartisipasi pada Pameran ini adalah untuk membuka mata rakyat dan para pemangku kepentingan di bidang konstruksi dan transportasi di Suriah akan potensi yang dimiliki Indonesia sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam program Rebuild Syria yang dicanangkan pemerintah Suriah pasca konflik. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Kiai, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 20 Oktober 2017

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. NU Care-LAZISNU Lampung mengagendakan terbentuknya seluruh struktur kepengurusan UPZISNU se-Lampung Timur. Untuk menyukseskan agenda tersebut dilakukan sosialisasi sejak September 2017.

Mengingat banyaknya kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, tim NU Care-LAZISNU Lampung Timur mengunjungi kecamata-kecamatan tersebut setiap Ahad. Seperti pada 10 Desember lalu sosialisasi dilakukan di Pesantren Miftahul Ulum, Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara.

“Ada 24 MWC (kecamatan) dan 264 desa di Lampung Timur. Insyaallah, sosialisasi dan pembentukan UPZISNU akan selesai awal bulan April 2018,” kata Ketua LAZISNU Lampung Timur, Makruf, Senin (11/12).

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Setelah sosialisasi dan pembentukan UPZISNU di semua desa, akan diadakan pelatihan Managemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah bulan Mei 2018.

“Pelatihan akan diikuti oleh seluruh pengurus UPZISNU se-Lampung Timur.

Sosialisasi sambil berbagi

Ribath Nurul Hidayah

Di sela-sela kegiatan sosialisasi, NU Care-LAZISNU Lampung Timur juga mengadakan penyaluran, salah satunya lewat Jumat Berkah Berbagi. Pada program tersebut rata-rata dibagikan 40 paket sembako setiap minggunya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kegiatan Jumat Berkah Berbagi sangat membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Imam Mutakkin, salah satu pengurus LAZISNU Lampung Timur.

Kegiatan berbagi sendiri bergeliat semenjak mulai terbentuknya kepengurusan UPZISNU di setiap kecamatan Lampung Timur.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa waktu, kepengurusan MWCNU Pasir Sakti bersama pengurus NU Care LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti telah berhasil menghimpun bantuan dari masyarakat dengan pencapaian 180 juta untuk program peduli Rohingnya.

“Atas perolehan itu, oleh PBNU diberangkatkan dua orang pengurus UPZISNU Pasir Sakrti untuk presentasi pada Munas Konbes NU di NTB, tentang keberhasilan menggalang donasi tersebut,” Makruf menambahkan.

Mengikuti keberhasilan Pasir Sakti, desa-desa lain mulai bergerak untuk melaksanakan program gerakan Koin NU. Makruf optimis, upaya tersebut akan mampu membangun kemandirian NU di Lampung Timur. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 19 Oktober 2017

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang  (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmlaya menerbitkan Buletin Jumat  Santri Nusantara,  Jumat (22/01).

Menurut Pimpinan Redaksi Buletin Santri Nusantara Husni Mubarok, buletin tersebut dibuat untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan pelajar NU dan masyarakat umum. “Buletin ini juga bertujuan untuk lebih membumikan dan menjembatani  terciptanya pelajar NU dan masyarakat  yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Wakil Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya ini menambahkan, upaya ini juga sebagai bentuk perlawanan atas beredarnya buletin yang diterbitkan suatu ormas tertentu yang selama ini menentang NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Ribath Nurul Hidayah

“Materi dari buletin ini bertema tentang keislaman dan keindonesiaan dan kami menerima tulisan dari kader IPNU dan masyarakat secara umum dengan cara dikirim ke email pcipnukab.tasikmalaya@gmail.com,” imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk distribusi, buletin ini akan disebarkan ke Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat  IPNU di Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga akan disebar ke masjid- masjid di Kabupaten Tasikmalaya terutama di Masjid Agung di Kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini menjadi tempat beredarnya buletin yang kerap kampanye anti-NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

“Buletin ini juga akan terus terbit setiap hari Jumat dan menunggu tulisan dari rekan-rekan semua,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ulama Ahli Tafsir H Muhammad Quraish Shihab mengatakan, hijrah di masa sekarang harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia.

"Hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang baik," kata Quraish Shihab di Jakarta, Senin, menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriyah yang akan jatuh pada Ahad, 2 Oktober 2016.

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab

Menurut Penulis Tafisr Al-Misbah ini, hijrah adalah ungkapan cinta tanah air yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagi bangsa Indonesia hijrah harus dimaknai untuk lebih mencintai tanah air demi menciptakan negeri yang adil, damai, dan sejahtera.

Pernyataan itu sekaligus meluruskan pengertian hijrah yang digunakan kelompok ISIS dalam menjalankan misinya. ISIS menjadikan hijrah sebagai alat propaganda untuk menarik pengikutnya pindah ke Suriah untuk mendirikan khilafah. 

Menurut mantan Menteri Agama ini, hijrah dipilih untuk Tahun Baru Islam karena hijrah memiliki tiga nilai penting yang harus dipahami umat Muslim. Pertama, ada kaitan antara hijrah dengan keamanan karena pada waktu itu terjadi teror atau ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Itu pun, kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Rasulullah menunggu perintah Allah. Sebelum perintah hijrah turun, sahabat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengajak Rasulullah untuk hijrah, tetapi ajakan itu tidak dilaksanakan.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, meskipun hijrah perintah langsung dari Allah, namun Rasulullah tetap melakukan perencanaan sebelum melakukan hijrah ke Madinah. Menurutnya, sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah lebih dulu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia, red), meski negeri itu dipimpin seorang raja beragama Nasrani.

"Namun, karena raja itu baik dan adil, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah, sebelum kemudian hijrah lagi ke Madinah. Dari situ dipetik makna bahwa dalam hijrah harus ada optimisme," ujar Guru Besar Tafsir itu.

Nilai ketiga, lanjut Quraish Shihab, dalam hijrah terdapat kebersamaan karena pada waktu itu terdapat anak, remaja, dan orang tua. Ia menegaskan, Tahun Baru Islam dimulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan pada waktu Nabi meraih kemenangan. 

"Karena kalau dasarnya kemenangan, orang biasanya akan merasa puas," tandasnya. (Red: Fathoni)

Source: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. MTs Negeri Model Brebes berhasil menjadi juara 3 tingkat Jawa Tengah sebagai sekolah yang menerapkan pendidikan Karakter. Meski harus mengakui keunggulan SMP N 1 Kudus yang menjadi juara 1 dan SMK Negeri Surakarta yang menjadi juara 2. 

MTs yang terletak di Jalan Yos Sudarso (Kompleks) Islamic Centre itu berhasil menyisihkan 46 peserta finalis lainnya.  

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter

“Alhamdulillah, MTs model meraih juara 3 tingkat Jateng,” tutur Drs Muntoyo MPd saat dihubungi di ruang kerjanya, Jumat (8/2).

Ribath Nurul Hidayah

Keunggulan MTs dalam penerapan pendidikan karakter, lanjutnya, yaitu dengan menerapkan pendidikan sistem pondok pesantren. 

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Muntoyo, memadukan sistem pendidikan umum dan pesantren benar-benar akan menjadikan peserta didik lebih unggul dibandingkan dengan yang konvensional. Karakter anak didik bisa terbangun karena perubahan pembiasaan. 

“Yang dulunya bersifat dan bersikap kurang baik menjadi baik. Perubahan perilaku dibentuk karena karakter yang kuat dari peserta didik,” tuturnya.

Di dalam kesehariannya, kata Muntoyo, sekolah yang memiliki siswa 1306 ini memberi pelajaran tambahan kitab kuning, muhadasah (percakapan bahasa Arab) dan bahasa Inggris. Pembelajaran kehidupan ala santri pondok pesantren diterapkan dengan penuh, termasuk di dalamnya sholat berjamaah, tadarus dan kajian kitab-kitab lainnya. 

Untuk pembelajaran kitab kuning, sekolah mengambil Imam Besar Masjid Agung Brebes KH Rosyidi, Pengasuh Majelis Taklim Al Ikhlas Pasarbatang KH Jarukhi dan Ulama Limbangan Wetan dan KH Khalimi. 

“Dengan sentuhan dari para Kiai itu, alhamdulillah bisa menguatkan karakter siswa dalam kehidupannya,” kata Muntoyo.

Agar tidak menimbulkan kerisauan, tambahnya, bagi kelas IX juga diberi bekal pendalaman materi pelajaran yang di UN-kan. 

“Kalau karakternya terbangun, tidak ada rasa khawatir menghadapi Ujian Nasional, maka Insya Allah out put nya akan positif,” pungkasnya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 18 Oktober 2017

Islam, Benny Moerdani dan Politik Militer Soeharto

Bagaimana Islam dipahami oleh pemerintahan Soeharto, yang disokong kekuatan penuh militer? Serta, bagaimana militer melihat Islam sebagai kekuatan di tengah keragaman bangsa Indonesia? Buku ini, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (Mizan, 2016), yang ditulis wartawan senior dan diplomat, Salim Haji Said, berhasil memberikan perspektif baru tentang bagaimana militer dan pemerintahan Orde Baru memandang Islam.

Dalam buku ini, Salim Haji Said berusaha mengkonstruksi tiang utama pemerintahan otoriter Orde Baru, yang dikuatkan oleh barisan militer. Komando militer, menjadi andalan utama Soeharto dengan Benny Moerdani sebagai orang kepercayaannya. Melalui serangkaian wawancara, pengamatan dan penggalian arsip, Salim Said menggali latar belakang di balik strategi politik Benny Moerdani yang mendulang kebencian di kalangan umat muslim. Bagaimana kebijakan Benny terhadap kaum muslim Indonesia? "Setelah mempelajari latar belakang perwira-perwira itu, saya berkesimpulan, bahwa yang dicurigai Benny dan perwira-perwira di sekitarnya, serta pengikutnya adalah mereka yang ditengarai ? menonjol keislamannya, misalnya dengan mengirimkan anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian" (hal. 98).

Dalam catatan Salim Said, kelompok perwira militer yang berlatar belakang militer akan mendapatkan diskriminasi dalam karir dan pendidikan. Mayor Jenderal TNI Edi Budianto, dalam kisah yang ditulis Salim Said, pernah dianggap sebagai fundamentalis. Mengapa demikian? Benny Moerdani menganggap Edi Budianto sebagai fundamentalis, hanya karena menyekolahkan anak gadisnya ke pesantren kilat semasa libur.

Islam, Benny Moerdani dan Politik Militer Soeharto (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Benny Moerdani dan Politik Militer Soeharto (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Benny Moerdani dan Politik Militer Soeharto

Benny juga punya metode untuk memilah dan menggariskan cara berpikir anak buahnya. Dalam tes bagi perwira untuk pendidikan militer lanjutan, dicantumkan pertanyaan tentang apakah perwira yang beragama Islam bersedia menerima pemuda non-Muslim sebagai suami bagi anak gadisnya? Jika jawaban yang diberikan adalah perlu iman yang sama, maka perwira tersebut bisa dipastikan akan mendapat nasib yang buruk (hal. 99).

Soeharto sebagai Raja

Dalam buku ini, pembaca bisa melihat bagaimaan sisi-sisi lain dari hubungan militer, Soeharto dan kelompok muslim terjadi. Meski Soeharto memandang Islam sebagai kekuatan utama, tapi dia berusaha menjaga kekuasaan dengan mengokohkan barisan militer. Para tokoh muslim hanya menjadi alat kekuasaanya, terutama ketika munculnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai lembaga yang didukung oleh Soeharto. Buku ini, juga merekam bagaimana Soeharto secara licin menggunakan strategi politik adu-domba terhadap orang-orang di sekelilingnya. Untuk apa? Tidak lain, adalah untuk mempertahankan kekuasaan. ?

Ribath Nurul Hidayah

Benny Moerdani sosok kontroversial dalam sejarah militer di negeri ini. Di panggung politik, Benny Moerdani memerankan body guard yang mengamankan lapis internal kekuasaan Soeharto. Benny juga mengawasi gerak-gerik keluarga Soeharto, untuk memastikan mereka aman. Dalam hubungannya dengan Islam, Benny sering dianggap sebagai musuh politik kaum muslim. Terlebih, insiden Tanjung Priok menjadi puncak kebencian mayoritas kaum muslim terhadap Benny.

Akan tetapi, kisah menarik diperankan Benny dengan Gus Dur. Kisah persahabatan dua tokoh ini, diliputi misteri: antara persahabatan dan permusuhan, antara percaya dan curiga. Ketika Benny dikritik dan dihujam kebencian kaum muslim, Gus Dur mengajak Benny untuk keliling pesantren, sowan ke beberapa kiai sepuh, dan mengenalkan dunia santri kepada Jenderal Benny. Padahal, beberapa tahun silam, ketika Soeharto mengintervensi kaum santri, hingga pada pemilihan Ketua Umum PBNU, Benny lah yang menjadi komandan lapangan untuk melakukan operasi melemahkan NU dan pesantren, khususnya pada Muktamar 1987 di Asembagus, Situbondo.

Namun, Gus Dur memaafkan Benny dengan mengajaknya bersafari ke pesantren-pesantren, ketika posisi Sang Jenderal sedang terjepit. Mengenai Benny, Gus Dur menulis: "Sebagian teman menyatakan kepada penulis, bahwa Benny Moerdani adalah musuh Islam yang sesungguhnya, tapi penulis berkesimpulan itu sebagai sesuatu yang salah. Justru, Pak Benny adalah orang yang melaksanakan pola hubungan negara dan agama seharusnya. Di antaranya, dia memegang pendiriannya bahwa harus ada perbedaan tegas antara mana yang menjadi tanggungjawab negara dan mana milik negara itu sendiri" ungkap Gus Dur, dalam buku LB Moerdani: Langkah dan Perjuangan (2005).

Ribath Nurul Hidayah

Buku karya Salim Haji Said ini, melengkapi beberapa karyanya terdahulu: Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (Mizan, 2013), dan Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno dan Soeharto (Mizan, 2015). Ulasan Salim Haji Said memiliki perspektif yang segar, karena sebagai peneliti, wartawan dan diplomat, ia mampu menjangkau beberapa narasumber kunci yang selama ini menjadi saksi sejarah dalam tubuh militer Indonesia.***

Info Buku:

Penulis : Salim Haji Said

Judul : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Orde Baru

Penerbit? ? ? ? : Mizan, Agustus 2016

ISBN : 978-979-433-952-7 ?

Peresensi ? ? ? ? : Munawir Aziz,? Peneliti Islam dan Kebangsaan, bergiat di Gerakan Islam Cinta dan PPM Aswaja. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Warta, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Awal Mei, GP Ansor Ende NTT Pilih Pemimpin Baru

Ende, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Ende pada awal Mei mendatang menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) di Kota Ende, Nusa Tenggara Timur. Acara tersebut bakal dihadiri 20 Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kab Ende.

Awal Mei, GP Ansor Ende NTT Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Mei, GP Ansor Ende NTT Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Mei, GP Ansor Ende NTT Pilih Pemimpin Baru

Ketua PC Ansor Ende Umar Embe, kepada Ribath Nurul Hidayah, di Ende, Rabu (15/4), mengatakan, rencana tersebut sudah menjadi kesepakatan pengurus. Forum yang menjadi ajang pemilihan ketua baru masa khidmah 2015-2019 ini mesti segera digelar mengingat masa kepengurusan GP Ansor Ende telah purna.

Menurut Umar, Badan Pengurus Harian (BPH) GP Ansor mendorong panitia Konfercab mengikuti regulasi baru, seperti soal proses konfercab yang harus dihadiri pengurus wilayah dan ketentuan umur calon ketua.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara ini, kader yang bersedia maju sebagai calon ketua baru satu orangm, yakni Usman Nagi dari BPH Ansor Ende. Sedangkan kandidat lain masih melalui proses penjaringan sesuai dengan kebutuhan regulasi yang ada, katanya.

Umar Embe berharap ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor NTT bisa memenuhi undangan, termasuk pada saat acara pembukaan.

Ribath Nurul Hidayah

Informasi yang dihimpun melalui pimpinan cabang menyebut calon ketua cabang GP Ansor diharapkan memiliki pengalaman dalam kepengurusan, sehingga kepemimpinan Ansor kelak berjalan maksimal. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Senin, 16 Oktober 2017

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Perkembangan Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran Hijaz (Makkah dan Madinah). Hijaz, sejak zaman zaman Rasulullah SAW menjadi primadona bagi orang yang ingin mendalami wahyu dan Hadist an-Nabawi. Sempat, banyak ilmuwan Islam meninggalkan Hijaz disebabkan karena adanya pembantaian massal yang dilakukan oleh Hajaj bin Yusuf yang mensyahidkan Abdullah bin Zubair, ulama yang sangat disegani dari sisa-sisa sahabat Rasulullah SAW. Setelah simpuh darah membanjiri Masjidil Haram, banyak ilmuwan Muslim yang pindah menuju Baghdad, Syam dan Mesir serta Yaman. Hingga, ketika situasi Hijaz sudah stabil lagi, ia diserbu para thâlabah yang ingin mencari ilmu dan keberkahan beribadah di Masjidil Haram dan Masjid an-Nabawi yang pahalanya dilipatgandakan sebagaimana yang disabdakan baginda Nabi Muhammad SAW.

Dari Hijaz, terpancarlah sinar Islam hingga menjulang ke seantero dunia, termasuk Nusantara (Indonesia). Indonesia terkena sinar keislaman Hijaz pada abad 1 Hijriyah/ 7 Masehi, yaitu pada masa Khalifah Ustman bin Affan. Sinar itu semakin bercahaya pada abad 18, 19 dan 20. Banyak ulama asal Nusantara yang mendatangi Hijaz, baik untuk berdagang, menuntut ilmu atau untuk menjalankan ritual ibadah haji. Dari banyaknya animo umat Islam asal Nusantara ini, maka terbentuklah Kampung al-Jawi yang barada di Syami’ah, dekat Pasar Seng. Kampung al-Jawi ini, bukan hanya dihuni oleh bangsa Indonesia, melainkan umat Islam Asia Tenggara, banyak yang bertempat tinggal di sana.

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Mulanya, umat Islam yang belajar di Hijaz, terutama di Masjidil Haram mendapatkan celaan dan hinaan. Namun, dengan penuh kesabaran mereka tetap semangat untuk selalu belajar dan beristifâdah kepada para syeikh yang mengajar di Masjidil Haram. Buahnya, Hijaz dibanjiri oleh pengajar dan thâlabah yang datangnya dari Nusantara dari generasi ke generasi. Ulama-ulama dari Nusantara banyak memainkan peranan penting dalam akademik keulamaan. Prestasi mereka banyak yang mengungguli ulama-ulama yang asli orang Arab, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi, dan Syaikh Yasin al-Fadani.

Buku Amirul Ulum ini menerangkan tentang biografi 26 ulama Aswaja asal Nusantara yang mempunyai prestasi gemilang (seperti menjadi imam, khatib dan pengajar di Masjidil Haram) yang dapat membawa nama baik Nusantara (Indonesia) hingga go internasional. Ulama-ulama tersebut yaitu, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Makki, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Mahfudz at-Turmusi al-Makki, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi al-Makki, Syaikh Muhsin al-Musawa al-Palimbani al-Makki, Syaikh Abdullah Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi al-Makki, Syaikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jukjawi al-Makki, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, Syaikh Ahmad bin Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Makki, Syaikh Ismail al-Khalidiyah al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Makki, Syaikh Junaid al-Batawi, Syaikh Abdul Karim al-Bantani al-Makki, Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari al-Makki, Syaikh Muhammad  Ahyad bin Muhammad Idris al-Bughuri al-Makki, Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi al-Makki, Syaikh Jinan Muhammad Thayyid al-Sariaki al-Makki, Syaikh Asy’ari bin Abdurrahman al-Baweani al-Makki,  Syaikh Abu Bakar bin Syihabudin at-Tambusi al-Makki, Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi al-Makki, Syaikh Muhammad Zainudin al-Baweani al-Makki, Syaikh Abdul Qadir al-Mindili al-Makki, Syaikh Abdullah bin Hasan al-Jawi al-Makki, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Jawi al-Makki, Syaikh Marzuki al-Jawi al-Makki dan Syaikh Muhammad bin Umar al-Sumbawi al-Makki.

Ribath Nurul Hidayah

Di dalam buku ini telah dikupas biografi langka dari sirah ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh di Negeri Hijaz. Mungkin buku yang semacam ini baru pertama kali di Nusantara yang ditulis memakai huruf latin. Sebuah prestasi langka yang mengagumkan meskipun hanya ditulis oleh santri lulusan pesantren (lulusan Pesantren Al-Anwar asuhan KH Maimoen Zubair, sesepuh Nahdlatul Ulama). Sebenarnya Amirul Ulum dalam muqadimahnya, ingin menulis lebih dari 26  tokoh. Akan tetapi, karena minimnya data, terpaksa ia mencukupkan tokohnya menjadi 26. Menilik statemen Syaikh Yasin al-Fadani sebagaimana yang dikutip penulis bahwa ada sekitar 130 pakar hadist yang transmisi keilmuannya diriwayatkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani yang kesemuanya tidak lepas dari Hijaz. Sehingga, dari statemen ini, bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa ulama-ulama asal Nusantara yang mempunyai peranan penting dalam kontak dan jaringan keilmuan di Hijaz itu lebih dari 130. Sebab, kutipan itu hanya dalam masalah Hadist, belum cabang keilmuan yang lainnya seperti Fiqih, Teologi, Gramatika Arab dan Tasawuf.

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa kelebihan buku karya Amirul Ulum ini, ada juga beberapa kekurangannya, misalnya tokoh urutan 22 sampai 26 itu ditulis hanya beberapa lembar saja. Ada yang dua lembar dan ada yang tiga. Akan tetapi, kekurangan yang sedikit itu tidaklah mengurangi sumbangsih besar penulis yang dapat mengungkap sesuatu kekayaan sejarah ulama Nusantara di Hijaz sehingga membuat keislaman Nusantara terpancar hingga ke seantero dunia melalu mediator Makkah dan Madinah.

Saya berharap ke depan, dengan lahirnya buku ini, akan menginspirasi lahirnya buku-buku yang membahas tentang prestasi ulama Nusantara, bukan hanya di Hijaz, melainkan merambah ke Yaman, Mesir, Syam dan Negara Islam lainnya. Semua itu adalah khazanah yang luar biasa, yang membuat nama Nusantara kita harum semerbak di mata dunia. Semoga penulis buku ini mau melanjutkan studinya sehingga tokoh yang ditulis tidak hanya 26. Semoga bermanfaat.

Judul Buku : Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Kategori : Sejarah Islam Nusantara

Penulis : Amirul Ulum

Kata Pengantar : Prof. Dr. Abdul Karim, M.A., M.A. (Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga asal Bangladesh, India)

Penerbit : Pustaka Musi Yogyakarta 

Tebal : xxvi + 332 Halaman 

No ISBN : 602-14832-5-1

Cetakan I : 17 Maret 2015

Harga : Rp. 76.000,- 

Peresensi : Dwi Oktaviani Kurniawati, peminat kajian Sejarah Islam Nusantara asal Kota Jambi, Sumatra

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Nusantara, Nasional Ribath Nurul Hidayah

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya

Pidie Jaya, Ribath Nurul Hidayah?

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banda Aceh kembali menyalurkan bantuan ke lokasi terdampak bencana gempa di Pidie Jaya dalam bentuk bahan baku semen. Benda tersebut untuk membangun dua mesjid dan satu pesantren atau dayah, Selasa (10/1).?

Dua Masjid yang mendapatkan bantuan PMII tersebut adalah Masjid Baitul Fukara di Gampong Paru Keude dan Masjid Babul Hidayah di Gampong Lancang Paru, di Kecamatan Bandar Baru. Sementara bantuan untuk pesantren diberikan kepada Dayah Thauthiatut Tarbiyah di Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Pante Raja.?

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya

Bendahara PC PMII Banda Aceh Hendriansyah mengatakan, bantuan tersebut merupakn penggalangan dana PMII Banda Aceh yang melibatkan PMII di daerah lain.

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan PMII Banda Aceh akan berada di lokasi bencana dalam beberapa waktu tertentu di tengah masyarakat yang membutuhkan pertolongan. “Ini bagian dari masa rekontruksi, di Gampong Lancang Paru satu masjid rata dengan tanah. Dan pemulihan psikologis anak," katanya.?

Ribath Nurul Hidayah

Tokoh masyarakat Pidie Jaya, Geucik M. Jafar menyatakan terima kasih atas bantuan yang diberikan PMII. “Kita akan gotong royong untuk peletakan Batu pertama pembangunan kembali dari swadaya masyarakat," katanya.

Sementara itu Ketua PMII Kota Banda Aceh Akmal berharap bantuan itu dapat membantu dalam persiapan pembangunan mesjid yang disalurkan PMII. “Ucapan terima kasih atas sumbangan PMII seluruh Indonesia yang mempunyai rasa solidaritas tinggi terhadap masyarakat Aceh. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebenarnya dan mesjid dapat terbangun kembali. (Fauzan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Habib, Berita, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 15 Oktober 2017

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember

Jember, Ribath Nurul Hidayah

Para personel Banser Tanggap Bencana (Baga) Gerakan Pemuda Ansor Jember bahu-membahu bersama anggota TNI dan Polri melakukan sterilisasi pasca banjir dan longsor di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Sabtu (28/01).

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember

Tidak kurang dari 80 personel Bagana diturunkan. Sebelumnya, Pimpinan Cabang GP Ansor Jember HM.Ayub Junaidi dihubungi camat setempat yang meminta bantuan agar menurunkan personel Bagana untuk melakukan sterilisasi material longsor setinggi 20 meter dan menutup jalur irigasi di Dusun Rayap Desa Kemuning Lor.

Dalam aksi sosial tersebut tampak beberapa pengurus dari Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser Jember, di antaranya Wakasatkorcab Banser Jember Alfin Kurnia Elfani, Kasetma Banser M. Sholeh Huddin, Kabiro Bagana Muhammad Lefand, dan Kabiro Logistik Moch. Rhasidy.

Ribath Nurul Hidayah

"Bagana Jember akan selalu siap sedia memantau keadaan di lapangan, bahkan tak segan untuk turun langsung baik diminta ataupun tidak," kata Sekretaris PC GP Ansor Jember H Kholidi Zaini yang saat itu turun langsung memimpin jalannya aksi. (Red: Mahbib)



Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia

Pada prinsipnya puasa sunah dianjurkan untuk dilaksanakan sebanyak mungkin mengingat puasa sarat keutamaan lahir dan batin. Karenanya agama Islam tidak akan menghalangi pemeluknya yang ingin mengejar banyak keutamaan melalui puasa selain pada hari-hari tertentu yang dilarang. Teristimewa pula puasa yang diperintahkan Rasulullah SAW seperti puasa Rajab, maka anjuran agama semakin kuat.

Abu Bakar bin M Al-Hishni dalam karyanya Kifayatul Akhyar menyebutkan.

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?: ?. ? ?: ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Dianjurkan sekali memperbanyak puasa sunah. Timbul pertanyaan, apakah makruh puasa sepanjang masa? Imam Baghowi berpendapat, makruh. Sementara Imam Ghozali mengatakan, itu justru disunahkan. Sedangkan mayoritas ulama menjelaskan, selagi khawatir akan mudharat tertentu atau melalaikan kewajiban karenanya, maka puasa sepanjang masa hukumnya makruh. Tetapi jika tidak membawa akibat-akibat tertentu, maka tidak makruh.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping anjuran puasa sebanyak mungkin mengingat besarnya keutamaan ibadah jenis ini, Rasulullah SAW menekankan agar umatnya tidak melewatkan kesempatan puasa pada bulan-bulan Haram (mulia) sebagai kesempatan emas. Syekh Yahya Abu Zakariya Al-Anshori dalam Tahrir Tanqihil Lubab mengatakan sebagai berikut.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

Perintah berpuasa di bulan mulia tertera pada hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan imam lainnya. Dan yang paling utama dari semua bulan itu adalah Muharram seperti hadits riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa paling afdhal setelah Ramadhan itu dikerjakan pada bulan Muharram.”

Adapun perihal bulan-bulan mulia ini, ada baiknya kita mengamati keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in berikut ini.

? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Bulan paling utama untuk ibadah puasa setelah Ramadhan ialah bulan-bulan yang dimuliakan Allah dan Rasulnya. Yang paling utama ialah Muharram, kemudian Rajab, lalu Dzulhijjah, terus Dzulqa‘dah, terakhir bulan Sya‘ban.

Puasa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan, jelas puasa di bulan Muharram. Tetapi mana yang lebih utama setelah Muharram, ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan bulan Sya’ban jatuh setelah Muharram. Sementara Imam Royani memilih Rajab berada di posisi ketiga setelah Ramadhan dan Muharram. Keterangan ini dikutip dari Kifayatul Akhyar. Pendapat Imam Royani sejurus dengan keterangan sebelumnya di Fathul Mu‘in.

Dalam I‘anatut Tholibin, Sayid Bakri bin M Sayid Syatho Dimyathi mengemukakan sejumlah catatan soal Rajab sebagai salah satu bulan mulia di sisi Allah dan Rasulnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Rajab" merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashobb” karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Ia bisa juga dipanggil “Al-Ashomm” karena tidak terdengar gemerincing senjata untuk berkelahi pada bulan ini. Boleh jadi juga disebut “Rajam” karena musuh dan setan-setan itu dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Dari uraian di atas, kita memperoleh keterangan terkait bulan-bulan terhormat yang mana kita disunahkan untuk berpuasa pada bulan yang dimuliakan Allah SWT dan Rasulnya SAW itu. Wallahu A‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Pertandingan, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Rembang, Ribath Nurul Hidayah. Sedikitnya seratus anak yatim mengikuti buka puasa bersama yang diselenggarakan Komisariat IPNU-IPPNU MA Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) desa Gandrirojo kecamatan Sedan kabupaten Rembang di aula sekolah setempat, Sabtu (11/7) sore. Usai berbuka puasa, mereka pulang dengan membawa paket santunan yang disediakan penyelenggara.

"Kami sengaja mengundang 100 anak yatim untuk mengikuti buka bersama ini. Bukan hanya buka bersama, kami juga berbagi santunan kepada mereka," tutur Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim kepada Ribath Nurul Hidayah.

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Tampak hadir seluruh civitas dan siswa-siswi MA YSPIS. Turut mengundang jajaran pengurus MWCNU Sedan. Terlihat hadir Mustasyar PCNU Rembang KH Sahlan M Nur. Saat memberikan sambutan, Muhtar mengatakan, jangan bersedih, jangan berkecil hati, bapak kalian (anak yatim, red.) adalah Rasulullah SAW.

Ribath Nurul Hidayah

Pihaknya berharap tahun depan dapat bekerja sama dengan Lazisnu agar bisa lebih banyak lagi mengundang anak yatim. "Dengan begitu, kami bisa mengundang minimal 500 anak yatim untuk mengikuti acara rutinitas sekolah kami ini," harap Muhtar yang juga menjabat Ketua MWCNU Sedan itu.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah yang diikuti oleh seluruh siswa dan undangan. Sementara doa bersama dipimpin oleh KH Sahlan untuk kemajuan civitas akademik yang ada di bawah naungan Yayasan Badan Pelaksana Pendidikan Maarif NU (BPPM-NU). (M Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Bahtsul Masail, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 12 Oktober 2017

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Paniai tengah membangun madrasah di daerah setempat untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam di kawasan pedalaman ini. Usaha tersebut ditandai dengan koordnasi antara PCNU Paniai dan PBNU.

Senin (27/7), rombongan PCNU Paniai bertandang ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan jajaran Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU. Sebelumnya, Sabtu, mereka bertemu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, didampingi Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra serta Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif H Arifin Junaidi.

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua

Menurut Ketua PCNU Paniai Shodiqin, ketersediaan lembaga pendidikan agama Islam di Papua sangat terbatas. Dalam kondisi ini, cabang NU yang baru menerima Surat Keputusan (SK) pada Desember lalu ini ingin berkontribusi nyata membantu pemerintah dalam bidang pendidikan.

Ribath Nurul Hidayah

“Maka PCNU Kabupaten Paniai beriktikad kuat untuk dapat mendirikan satuan pendidikan Islam yang bernaung di bawah NU," ujarnya.

Sekertaris PC LP Ma’arif NU Kabupaten Paniai Ahamd Syaiful Mujib menambahkan, ke depan pihaknya akan mendirikan madrasah ibtidaiyah yang bernaung di LP Maarif NU dengan tentap menyelngarakan pendidikan nonformal seperti TPQ dan Madin berbadan Hukum NU.

Ribath Nurul Hidayah

Pertemuan yang dilakukan di ruang kerja ketua umum PBNU berlangsung hangat. Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyampaikan keinginannya untuk datang ke Paniai dan membantu perkembangan NU di daerah pedalaman tersebut.

Turut hadir dalam pertemuan Rais Suriyah PCNU Kabupaten Paniai KH Dahlan Kader dan Wakil Ketua PCNU Kabupaten Paniai Ahmad Muslih. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Tanger, Ribath Nurul Hidayah. Warga NU Maroko menggelar rangkaian acara peringatan hari lahir (Harlah) ke-92 NU yang jatuh pada bulan Rajab ini. Kegiatan berpusat di kota Tanger dan diawali dengan berziarah ke makam ulama Syekh Ibnu Ajibah yang berada di wilayah Gimmiche, sekitar 30 kilometer ke timur dari? kota Tanger, Maroko.

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Syekh Ibnu Ajibah adalah seorang ulama besar pada abad ke-18. Selain sebagai seorang sufi, ia juga terkenal sebagai seorang penulis yang tekun. Buah pemikirannya hingga saat ini masih dinikmati oleh para pelajar dan menjadi rujukan warga setempat.

Durrotul Yatimah, panitia penyelanggara dari Pengurus Cabang Istmewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko, mengatakan, kota Tanger dipilih sebagai pusat peringatan Harlah kali ini lantaran memiliki jejak sejarah bagi NU di negara bermadzhab Maliki ini. Hal ini sekaligus menjadi momen napak tilas, mengingat pada 17 September 2011, KH Maimun Zubair meresmikan berdirinya PCINU Maroko di kota tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Sebenarnya rangkaian acara Harlah ini beragam, Senin lalu (11/5) kami adakan seminar tentang ekonomi syariah di KBRI? Rabat, lantas ziarah wali Ibnu Ajibah pada Jumat pagi (15/05),? disusul dengan diskusi pada sorenya dan ditutup ceramah isra mi’raj malam harinya," tuturnya, Jumat.

Diskusi yang digelar usai ziarah itu diisi dengan refleksi harlah NU yang dipandu oleh Sekretaris PCINU Maroko Fairuz Ainun Naim. Diskusi ini difokuskan pada perenungan kembali atas apa yang sudah dicapai NU di usianya yang sekarang, dan apa yang mesti dicapai NU di masa depan.

Ribath Nurul Hidayah

"Di sini anak-anak muda NU Maroko diharap mampu memberikan kontribusi positif karena mereka nanti yang akan menerima estafet kepengurusan NU," ujar Durrotul Yatimah.

Diskusi berlangsung hangat karena antusiasme peserta dalam mengungkapkan kegelisahan-kegelisahan mereka selama ini mengenai NU. Disepakati bahwa model kaderisasi yang cocok untuk massa NU adalah kaderisasi yang sifatnya kultural dan tidak menekankan pada militansi seperti yang dipilih oleh kebanyakan ormas.

Setelah jeda makan malam, kemudian dilanjutkan dengan ceramah memperingati Isra Miraj oleh Katib Syuriah PCINU Maroko Rifqi Maula dengan mengetengahkan topik kesabaran Nabi. Di akhir ceramahnya, tak lupa lulusan institut talim Atiq Imam Nafi Tanger ini memompa kembali semangat para kader yang lebih muda untuk terus belajar dan berkarya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Sholawat, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 Oktober 2017

Menunda Shalat

Adzan berkumandang di kompleks Pesantren Tegalsari. Waktunya untuk sholat dzuhur. Namun, dua sahabat Mahmud dan Joko, bukanya pergi mengambil wudhu, melainkan pergi ke kantin pondok.

“Lho kang, ayo ke masjid!”

“Bentar Jok. Kan kalau hendak shalat, merasa lapar. Kita boleh makan dulu, biar shalatnya bisa lebih konsentrasi,” jawab Mahmud.

Menunda Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menunda Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menunda Shalat

Joko pun mengiyakan ajakan temannya itu, disamping ia pernah mendengar keterangan itu pada kajian fiqh. Kebetulan perutnya juga ikutan lapar, maklum tadi habis ikut ro’an (kerja bakti).

Keduanya akhirnya makan sampai selesai. Joko langsung membayar, untuk segera menuju ke masjid. Tapi Mahmud, belum ada tanda-tanda beranjak dari kursinya.

“Ayo, Kang. Kalau tadi aku sepakat alasan untuk makan dulu. Lha sekarang kok tetap menunda-nunda lagi, sampeyan mau ndalil apa lagi?

Ndak ada Jok, nek saiki mung kewaregen (sekarang ? kekenyangan), nanti shalatnya ndak konsen,”

Ribath Nurul Hidayah

Walah, wes tak tinggal wae! (kalau begitu kutinggal saja!)” ? ? Ajie Najmuddin

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, AlaSantri, Santri Ribath Nurul Hidayah

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat mengadakan turnamen futsal se-DKI Jakarta. Kali ini turnemen tergolong unik, karena semua pesertanya adalah orang mini (cebol) yang tak asing lagi di layar televisi Indonesia.

Kebanyakan dari mereka adalah pemain sinetron, seperti Tarzan Betawi, Ronaldowati, dan  7 Manusia Harimau, yang sampai saat ini sinetronnya masih tayang. “Saya sendiri awalnya meragukan akan terlaksanannya turnamen ini. Mereka adalah pemain sinetron, terlebih ada yang bilang bahwa setelah futsal mau langsung menuju lokasi syuting di Cibubur,” ujar Yani Rahman, Ketua PC IPNU Jakarta Pusat.

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Turnamen yang digelar Sabtu (12/9) ini dihadiri langsung oleh Faisal dari Deputi 3 Kemenpora Republik Indonesia. Ia membuka turnamen ini dengan menendangkan bola dari tengah lapangan yang kemudian disahut gemuruh tepuk tangan para peserta dan panitia.

Ribath Nurul Hidayah

Faisal tampak terkejut dan senang ketika memasuki lapangan futsal, di kawasan Kwitang, Jalan Keramat 2, Jakarta Pusat itu. “Waw, ini merupakan suatu kegiatan yang beda dengan yang lain, tetap jaya olahraga Indonesia,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

PC IPNU Jakarta Pusat mengadakan turnamen ini karena menilai bahwa olahraga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gelak tawa yang tanpa henti mewarnai turnamen futsal tersebut. Semua larut dalam kebersamaan dan kegembiraan, termasuk bagi tim yang kalah. “Ini merupakan kemenangan kita bersama,” ujar Farly sesaat setelah menerima piala juara 1 turnamen futsal mini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 05 Oktober 2017

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menentang keputusan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, terkait pengosongan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). 

"Meski sifatnya sementara, itu tidak boleh dilakukan," kata Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU, Andi Najmi Fuaidi, di Jakarta, Jumat (7/11/2014).

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila

Andi menjelaskan, Indonesia adalah negara berketuhanan sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila. Jika nantinya benar dilakukan, pengosongan kolom agama di KTP merupakan kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila.

Ribath Nurul Hidayah

 

"Yang harus diperhatikan oleh Pemerintah, semua Undang Undang pasti merujuk ke Pancasila. Oleh karena itu tidak boleh ada kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila," jelas Andi.

Ribath Nurul Hidayah

 

Lebih jauh Andi mengungkapkan, kebijakan pengosongan kolom agama di KTP sama artinya Pemerintah mentolerir adanya kelompok masyarakat yang tidak mengenal Tuhan. Kondisi ini dikhawatirkan justru mengakibatkan gejolak sosial di masyarakat.

Mengenai alasan Tjahjo Kumolo, yaitu menghormati hak masyarakat yang tidak menganut 6 agama sah di Indonesia, Andi menekankan hal tersebut tetap tidak boleh mengorbankan Pancasila. "Itu tugas Pemerintah untuk mencari solusinya, bukan dengan jalan pintas mengorbankan Pancasila. Harus diingat, Pancasila itu dasar negara," tegasnya.

 

PBNU, masih kata Andi, sedang mempelajari kemungkinan melayangkan protes resmi ke Pemerintah mengenai kebijakan pengosongan kolom agama di KTP.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, menilai kebijakan pengosongan kolom agama di KTP telah mencederai perasaan umat beragama di Indonesia.

 

"Terus terang saya kecewa dengan pernyataan (Mendagri) tersebut, karena ini mencederai perasaan umat beragama, tidak hanya Islam, tapi tentunya juga agama lain," ungkap Kiai Said.

 

Menurut Kiai Said, penulisan agama di KTP adalah identitas seorang warga negara yang penting dan harus dihormati. "Bukan untuk sombong-sombongan. Penulisan agama di KTP itu identitas yang menurut saya sangat penting," pungkasnya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita, Khutbah, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 04 Oktober 2017

Libatkan Puskesmas Pal Lima, Pelajar MTs Aswaja Periksa Kesehatan

Pontianak, Ribath Nurul Hidayah - Dua orang petugas lapangan dari Puskesmas Pal Lima Pontianak Barat mengunjungi MTs Aswaja Pontianak di Jalan Husein Hamzah Pontianak, Rabu (14/9). Pihak Puskesmas? melakukan kunjungan rutin sebagai konsekuensi kemitraan antara MTs Aswaja dan pihak puskesmas.

Kunjungan ini diisi dengan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan gigi, telinga, dan mata. Petugas Puskesmas Pal Lima yang melakukan pemeriksaan kali ini adalah Ade Dahlia dan Tugirah.

Libatkan Puskesmas Pal Lima, Pelajar MTs Aswaja Periksa Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Libatkan Puskesmas Pal Lima, Pelajar MTs Aswaja Periksa Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Libatkan Puskesmas Pal Lima, Pelajar MTs Aswaja Periksa Kesehatan

Mereka menyatakan bahwa kesehatan gigi, telinga dan mata ini penting untuk diperhatikan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka merekomendasikan beberapa siswa yang untuk memeriksakan kesehatan secara rutin di Puskesmas.

Sementara Koordinator UKS MTs Aswaja Amriana menyebutkan bahwa program penyuluhan ini merupakan hasil kesepakatan antara kedua belah pihak dalam rangka menciptakan kondisi dan suasana belajar yang bersih dan nyaman, tentunya dengan siswa yang sehat.

Ribath Nurul Hidayah

Amriana juga mengusulkan usulan kepada pihak Puskesmas agar dapat meningkatkan kerja sama dengan memeriksa kesehatan anggota tubuh lain para siswa di madrasahnya.

Pemeriksaan yang disaksikan oleh Kepala MTs Aswaja Pontianak Sholihin HZ ini dikhususkan pelajar baru MTs Aswaja kelas VII a dan VII b.

Ribath Nurul Hidayah

Sholihin HZ mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kerja sama Puskesmas Pal Lima dalam rangka bersama-sama membina anak-anak khususnya di bidang kesehatan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Quote Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 03 Oktober 2017

7 Kiai Nahdlatul Ulama Bergelar Honoris Causa

Faiz Nurrazi



Sumbangsih Nahdlatul Ulama (NU) dalam ikut serta membangun masyarakat moderat tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah menjadi tradisi, tokoh-tokoh NU tidak pernah mengenal lelahnya dalam memberikan kiprahnya untuk masyarakat.?

7 Kiai Nahdlatul Ulama Bergelar Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
7 Kiai Nahdlatul Ulama Bergelar Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

7 Kiai Nahdlatul Ulama Bergelar Honoris Causa

Berikut ini adalah 7 tokoh NU yang bergelar doktor honoris causa yang saya ketahui. Mungkin tokoh NU lawas ada juga yang meraih gelar itu.?

Gelar tersebut diberikan oleh perguruan tinggi untuk seseorang yang memiliki jasa besar dibidang akademik maupun pengabdian kepada masyarakat. Berikut adalah ulasannya.

1. Dr. (HC) KH Abdurrahman Wahid

Ribath Nurul Hidayah

Siapa yang tidak kenal dengan KH. Abdurrahman Wahid atau lebih akrab dipanggil Gus Dur. Pengabdian beliau terhadap masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia tidak perlu diragukan lagi. Pengabdiannya mulai dari Ketua Umum PBNU tahun 1984-1999 hingga menjadi Presiden RI ke-empat, mampu menghantarkannya menjadi tokoh yang berpengaruh di dunia. Karena sumbangsih kepada masyarakat yang begitu luar biasa, beliau dianugerahkan gelar Doktor Honoris Causa hingga lebih dari 10 penghargaan. Baik di bidang politik, ekonomi, manajemen hingga bidang humaniora dari berbagai universitas di seluruh dunia. Hal menarik yang perlu diungkap adalah beliau tidak pernah mendapatkan gelar sarjana, namun gelar doktor kehormatan yang beliau dapatkan sangatlah banyak. Mengenai kepakaran ilmu yang beliau miliki tidak perlu diragukan lagi, mulai keahlian di bidang politik, sosial-budaya hingga agama. Presiden dari kalangan santri pertama yang memiliki prestasi gemilang dalam upayanya mengayomi masyarakat luas ya beliau, Gus Dur.

2. Dr. (HC) KH Sahal Mahfudh

Kepakaran beliau di bidang ilmu fiqh kontemporer tidak perlu diragukan lagi. Rais ‘Aam PBNU tahun 1999-2014 hingga menjadi ketua umum MUI pernah beliau embannya. Hingga tidaklah heran jika Kiai Sahal mendapatkan gelar doktor kehormatan di bidang fiqh sosial dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2003.

3. Dr. (HC) KH Ma’ruf Amin

Ribath Nurul Hidayah

Saat ini beliau mendapatkan amanat untuk menjadi Rais ‘amm PBNU berdasarkan Muktamar NU ke-33 di Jombang dan juga Ketua Umum MUI Pusat. Banyaknya sumbangsih yang beliau berikan kepada masyarakat tidak terhitung lagi. Pada tahun 2012, beliau dianugerahkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah.

4. Prof. Dr. (HC) KH Tholhah Hasan

Wakil Rais ‘Aam PBNU pada tahun 2004-2009 ini adalah mantan rektor Universitas Islam Malang (UNISMA). Melalui beliau pula UNISMA pernah dijadikan kampus unggulan NU. Kiai Tholhah yang juga mantan menteri agama di era presiden Gus Dur ini mendapatkan anugerah doktor kehormatan bidang pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2005.

5. Dr. (HC) KH Hasyim Muzadi

Pada tahun 2006, IAIN Sunan Ampel (sekarang UINSA) menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang Peradaban Islam kepada KH. Hasyim Muzadi. Gelar ini diberikan karena beliau memiliki sumbangsih yang besar pada pengembangan agama yang rahmatan lil alamin ke seluruh dunia. Selain itu, mantan ketua umum PBNU ini juga mampu menggabungkan antara kecerdasan intelektual dan emosionalnya. Sehingga layak lah beliau mendapatkan gelar kehormatan dari perguruan tinggi.

6. Dr. (HC) KH Mustofa Bisri

Seorang budayawan sekaligus kiai yang sangat menjunjung tinggi keluhuran dalam bertata krama. Putra dari ulama kharismatik KH Bisri Mustofa saat ini mengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin. Rais ‘Aam PBNU yang menggantikan KH Sahal Mahfudh ini adalah sosok ulama yang cara berdakwahnya melalui pendekatan budaya, hingga pada tahun 2009 beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan di bidang Kebudayaan Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

?

7. Dr. (HC) Ir. KH Salahudin Wahid

Gus Sholah, panggilan akarab yang biasa masyarakat panggil. Beliau adalah adik kandung dari Gus Dur, putra dari KH Abdul Wahid Hasyim bin Hadratussyekh M. Hasyim Asy’ari. Keluarga dari kalangan NU yang memiliki sumbangsih besar terhadap masyarakat Indonesia maupun dunia. Sekarang beliau menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang ke-7 sekaligus menjadi rektor Universitas Hasyim Asyari (Unhasy). Kiprah beliau di bidang pendidikan menghantarkannya mendapatkan gelar doktor kehormatan di bidang manajemen Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2011.

Nah, itu tadi 7 tokoh NU bergelar Honoris Causa. Apapun gelar yang diperoleh tidaklah bermakna, jikalau esensi kemaslahatan kepada masyarakat tidak ada. Jasa besar dari para ulama untuk masyarakat Indonesia maupun dunia telah menjadi komitmen luhur dari para salafus shalih. Menyebarkan paham Islam yang rahmatan lil alamin dan sekaligus penerus perjuangan ambiya’. Wallahua’lam bishawab.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Sejarah Ribath Nurul Hidayah