Minggu, 22 September 2013

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama (IPPNU) Jakarta Timur, sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik dan Medsos dengan mengusung tema Membangun Karakter Generasi Muda NU, Yang Kreatif, Inovatif di Era Milenial, Sabtu-Ahad, 28-29 Oktober 2017 di Pondok Pesantren Al Amiria Ciracas Jakarta Timur.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar oleh Pengurus Cabang IPNU IPPNU Jakarta Timur ini bersamaan dengan Makesta.

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

“Tujuannya untuk memberikan bekal dan pengetahuan tentang bagaimana pentingnya dunia informasi yang baik dan benar sesuai dengan ajaran NU," ujar Ismail Marzuki Ketua IPNU Jakarta Timur

Dalam kegiatan ini dihadirkan pemateri dari LTN NU DKI Jakarta Yusron Syarif, dan dari LTN NU Jakarta Jakarta Timur Syarif Cakhyono.

Di hari kedua acara, peserta diberikan kesempatan untuk membuat berita TV berupa liputan kegiatan pelatihan jurnalistik itu sendiri. Kegiatan ini berlangsung dengan seru dan lancar, dibuktikan dengan tingginya antusias peserta mendengarkan dan bertanya kepada pemateri.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua LTN NU Jakarta Timur, Syarif Cakhyono, berharap setelah pelatihan jurnalistik ini, para peserta rekan rekan IPNU dan IPPNU terus mengembangkan kreatifitasnya di bidang pembuatan berita audia visual.

Diharapkan dengan terlaksananya pelatihan jurnalistik ini, anggota IPNU bisa memproduksi informasi positif dalam bentuk audio visual.

Ribath Nurul Hidayah

“Nantinya bisa disebarkan melalui media sosial masing peserta,” tandas Syarif. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 15 September 2013

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kehidupan keagamaan yang semakin kompleks dan kerap memunculkan sikap intoleransi membuat Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Agama RI terus melakukan berbagai langkah agar kehidupan umat beragama berjalan harmonis di tengah perbedaan.?

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Untuk tujuan itu, Balitbang Kemenag mengadakan Simposium International Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life) bertajuk "Managing Diversity, Fostering Harmony", Rabu-Kamis (5-7/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Tokoh Agama dan intelektual dari berbagai mancanegara diantaranya, Amerika Serikat, Hongkong, Brunei, Singapura, Malaysia, dan negara lainnya.

Sebelum acara pembukaan, Balitbang terlebih dahulu menggelar Pra-Simposium di hotel tersebut, Selasa (4/10). Dalam kegiatan pra simposium ini, Balitbang menghadirkan mantan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Guru Besar Boston University USA Robert W. Hefner, Kepala Balitbang Kemenag Abdurrahman Mas’ud, dan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU yang juga Jurnalis senior GATRA Asrori S. Karni.

Diskusi pra simposium ini mengangkat tema “Definisi Agama di Indonesia: Rekognisi, Proteksi, dan Kepastian Hukum". Berbagai kekerasan yang kerap muncul mengatasnamakan agama membuat Balitbang kembali berupaya merumuskan definisi agama secara komprehensif dari berbagai aspek.

Menurut Abdurrahman Mas’ud, kekerasan agama juga kerap diakibatkan Islamofobia yang hingga kini terus menggelayuti sebagian umat beragama di dunia sebagai dampak radikalisme global. Rasa kekhawatiran atau ketakutan ini juga sebetulnya ada pada diri umat Islam terhadap kaum Barat sehingga seolah menimbulkan konflik yang tidak pernah ada ujung pangkalnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kita harus jujur bahwa westernphobia juga menginggapi umat Islam sehingga menjadi agenda penting untuk diselesaikan,” ujar Abdurrahman Mas’ud.

Diskusi ini kembali menegaskan bahwa regulasi perlindungan umat beragama mempunyai posisi yang sangat penting untuk mewujudkan harmoni. Sebab di Indonesia sendiri selain mempunyai agama-agama yang resmi diakui negara, juga memiliki berbagai macam masyarakat adat yang masih memegang teguh keyakinan nenek moyang. Di titik inilah penegasan definisi agama menjadi persoalan yang sangat penting.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan Simposium internasional ini akan dibuka Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 04 September 2013

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah - Imam Gereja Katolik Keluarga Kudus Baradatu Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung Romo Diosesan (RD) Thomas Metan Jamlean mengapresiasi komitmen GP Ansor dalam menghidupkan semangat nasionalisme. Penegasan tersebut disampaikan RD Thomas didampingi Ketua Yayasan Bakti Baradatu Markus Tri Cahyono dan aktivis Pemuda Katolik Andreas Natalis Sapta Aji di Blambangan Umpu, Selasa (31/5)..

"Ansor ini luar biasa, bisa menempatkan diri, mampu memilah mana agama dan negara. Semangat nasionalismenya luar biasa," ujar RD Thomas dalam sambutan pertemuan Saresehan Kesetiaan Pancasila dan NKRI yang akan dilangsungkan 1 Juni 2016.

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

RD Thomas juga mengaku menyukai keteladanan Gus Mus yang ditampilkan di acara Mata Najwa dalam edisi Panggung Gus Mus. Menurutnya, di tengah merosotnya moral sebagian pemimpin nasional yang tidak memikirkan bangsa, gerakan sosial dan keberagaman penting untuk terus dilakukan.

Ribath Nurul Hidayah

"Tidak hanya dalam acara resmi. Bisa juga seperti yang dilakukan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib yang beberapa tahun silam disiarkan televisi, sederhana tapi bermakna. Itu bagus," kata RD Thomas.

Ribath Nurul Hidayah

Markus menambahkan, semangat dan pelaksanaan pengakuan keberagaman sebagaimana amanat konstitusi negara yang dilakukan GP Ansor di Waykanan.

"Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pemuda Ansor selalu merangkul kami dan Pemuda Hindu untuk bersama-sama bicara masalah sosial dan kebangsaan yang belum dilakukan. Saya tidak memuji, tapi mengapresiasi fakta di lapangan, apalagi dewasa ini bermunculan gerakan-gerakan anti-Pancasila," kata Markus.

Berkaitan dengan keberagaman, GP Ansor Waykanan telah beberapa kali menggelar kegiatan bertema kebangsaan, seperti Riungan Kebangsaan dan Festival Bhineka Tunggal Ika.

Atas sejumlah upaya pemuda NU tersebut, di tahun 2015 Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Waykanan memberikan penghargaan keberagaman kepada GP Ansor. Diserahkan I Gede Klipz Darmaja selaku Ketua Peradah melalui Ketua NU Way Kanan KH Nur Huda disaksikan Ketua Ansor Gatot Arifianto dan Bendahara Abdullah Candra Kurniawan. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Habib, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah