Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam jangka panjang, yang menjadi penentu dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat adalah masyarakat itu sendiri, bukan pemimpin keagamaan. Karena itu, pilihan negara Islam menjadi sangat tidak tepat.

“Bukan lagi kiai yang menentukan. Karena itu, almarhum Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ary dan KH. Wahid Hasyim itu berfikir ya sudah negara ini jangan dijadikan negara Islam,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di depan para puluhan peserta pengajian Ramadhan di Pesantren Ciganjur, Jakarta (1/10).

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Kenapa kita menjadi negara Pancasila? Menurut Gus Dur, dalam masa depan pluralitas itu sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia yang beragama. Islam sendiri tidak memungkiri adanya pluralitas itu.

“Maka mau tidak mau jangan negara Islam. Kalau saya sih ikut Mbah Hasyim saja (KH. Hasyim Asy’ary: Red), karena kenyataannya memang begitu,” kata Gus Dur.

Konsekuensi dari negara Pancasila adalah adanya pemisahan yang tegas antara agama dan negara. “Karena itu undang undang seperti Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) harus dihindarkan, nah karena itu berarti UU berarti pemerintah campatr tangan,” kata Gus Dur yang sejak awal berbeda dengan PBNU dalam soal APP.

Dalam negara Pancasila, dikatakan Gus Dur, pemerintah tidak dapat menentukan apakah sebuah intitusi dalam masyarakat telah mengganggu ketentraman umum atau tidak. Gus Dur mencontohkan, pemerintah yang diwakili oleh pihak kepolisian sempat berencana menutup pesantren Nguki Solo yang dipimpin oleh Ustadz Ba’asyir karena dinilai meresahkan masyarakat dan diklam sebagai sarang penggemblengan para teroris.

Ribath Nurul Hidayah

“Waktu itu hanya saya yang berani membantah. Saya katakan, bahwa negara tidak punya urusan untuk menutup pesantren. Masyarakat yang berhak menutup, bukan kepolisian. Apalagi kepolisian kan hanya menjalankan perintah saja, tidak berhak menentukan apakah melanggar kepentingan umum atau tidak,” kata Gus Dur. (nam)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Februari 2018

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak umat Islam untuk memusatkan segala aktivitas ibadah di dalam masjid, bukan di jalanan. Pihak PBNU mengharapkan umat Islam tetap menjaga ketertiban umum dan terutama hak-hak masyarakat lain pengguna jalanan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/11) malam.

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Imbauan ini disampaikan menyusul rencana aksi gelar sajadah oleh sekelompok umat Islam yang dengan sengaja mengagendakan shalat Jumat di jalan protokoler di Jakarta pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang.

“Pada zaman dahulu Masjid Nabawi itu kecil. Dahulu daya tampungnya agak terbatas. Shalat Jumat pun dilakukan di situ. Rasulullah SAW tidak pernah melakukan shalat Jumat di jalanan. Tetapi Masjid Nabawi zaman sekarang cukup besar,” kata Kiai Moqsith.

Ribath Nurul Hidayah

Kalau umat Islam menggunakan jalanan sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat Jumat, maka itu akan cukup merepotkan. Kebutuhan akan jalanan seperti di Ibu Kota Jakarta, atau jalanan di kota-kota besar lainnya Medan, Surabaya, dan Semarang, sangat tinggi.

Umat Islam, menurut Moqsith, cukup mendayagunakan masjid-masjid yang masih tersedia di kota-kota tersebut sebagai fasilitas untuk beribadah.

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan demikian, seharusnya umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas ibadah, seperti aktivitas ibadah tidak perlu dialihkan ke jalanan yang berpotensi menggangu orang lain. Dan setiap orang mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jalanan,” kata salah seorang dosen pengampu mata kuliah tafsir di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Humor Islam, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri”

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Rabithah Maahid al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Cabang Kendal menggelar "Mlaku Bareng Santri", Kamis (22/10). Garis start dan finish berada di alun-alun kabupaten Kendal. Sebanyak kurang lebih 3000 santriwan-santriwati se-kabupaten Kendal berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tidak hanya santri pondok pesantren salaf saja yang turun memeriahkan acara ini, pelajar yang berbasis pesantren pun larut di dalamnya.

Acara ini diresmikan para masyayikh pondok pesantren Kendal ini diantaranya KH. Makhzunun Irja (Pesantren Miftahul Ulum), KH. Sholahuddin Khumaidullah (pesantren APIK), KH. Baduhun Badawi (Pesantren Miftahul Huda) dan KH. Suyuthi (Pesantren Mambaul Hikmah) memberikan motivasi kepada para santriwan-santriwati. 

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri”

"Kita berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo atas pengakuan terhadap perjuangan kaum santri dalam menegakkan kemerdekaan RI," ungkap KH. Sholahuddin. Pengasuh pesantren APIK Kaliwungu ini juga menceritakan, bahwas santri ini merupakan elemen bangsa yang konsisten melawan kolonialisme di Indonesia. 

Ribath Nurul Hidayah

"Dari pesantren, Nahdlatul Ulama, kiai, dan santri untuk NKRI", tambah Kiai Sholah. Santri juga konsisten dengan pola pikir moderat dan menyebarkan Islam yang ramah. Banyak nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari dunia pesantren. Akhlak al-karimah, sopan-santun, kedisiplinan, kekeluargaan dan sebagainya. 

Sebelum gerak jalan dimulai, Kiai Sholah mengajak santriwan-santriwati untuk mengirim surat al-Fatihah kepada para kiai-ulama dan pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemeredekaan Indonesia.  

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum "Mlaku Bareng Santri", sehari sebelumnya (21/10) telah diadakan Halaqah Kebangsaan dengan tema meneguhkan Semangat Santri untuk Menjaga Tradisi dan Keutuhan NKRI dan lomba rebana se-kabupaten Kendal. Dalam kegiatan "Mlaku Bareng Santri" ini, para santri wajib mengenakan sarung, kaos dan peci sebagai seragam. Tagline atau slogan yang diangkat dari rangkaian acara ini adalah ‘Santri Kendal, Iso Opo Wae, Opo Wae Iso’ (Bisa apa saja, apa saja bisa). (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Nasional, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 13 Februari 2018

Pelajar NU Jombang Gelar Pendidikan PD-PRT dan Administrasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus harian IPNU-IPPNU Jombang mengiringi pendidikan PD PRT dan Administrasi IPNU-IPPNU di Aula PCNU Jombang pada Kamis-Jum’at, (29-30/12). Sebelumnya, mereka sukses menggelar Makesta dan Lakmud gabungan di berbagai kecamatan.

Pelajar NU Jombang Gelar Pendidikan PD-PRT dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Gelar Pendidikan PD-PRT dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Gelar Pendidikan PD-PRT dan Administrasi

“Kegiatan ini memang diperuntukkan bagi ketua dan sekretaris PAC/PR/PK IPNU-IPPNU sekabupaten Jombang. Namun banyak yang mengirimkan delegasi lebih dari 2 perwakilan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka antusias mengikuti kegiatan yang diikuti kurang lebih dari 50 peserta ini”, terang Ketua IPNU Jombang Abdul Rosyid di sela-sela pembukaan diklat.

Sementara Ketua IPPNU Jombang Aliyah menegaskan bahwa menjelang Konfrencab IPNU-IPPNU Jombang yang rencananya akan diselenggarakan pada awal Januari 2016, pengurus akan mengadakan rangkaian kegiatan Pra Konfrencab lainnya pada beberapa bulan sebelumnya, termasuk kegiatan diklat ini.

Ribath Nurul Hidayah

Selain sosialisasi PD-PRT dan Peraturan Organisasi dan Peraturan Administrasi (POPA) IPNU-IPPNU serta praktik membuat surat-menyurat, mereka juga dibekali materi ke-Aswajaan yang langsung disampaikan oleh pengurus Aswaja NU Centre Jombang.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini nantinya dapat disebarkan kepada pengurus dan anggota lainnya di masing-masing tingkat organisasi, baik pimpinan anak cabang, pimpinan ranting, pimpinan komisariat pesantren dan perguruan tinggi IPNU-IPPNU yang berada di kabupaten Jombang,” tambah Sekretaris IPPNU Jombang Aulia Rohmah. (Nur Isnaini/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 07 Februari 2018

Panitia Lokal Cek Kesiapan Rakernas Pergunu Akhir Februari

Lombok, Ribath Nurul Hidayah - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) berencana menggelar rapat kerja nasional di Pondok Pesantren NU Al-Mansyuriyah, Praya, Lombok, pada 24-26 Februari 2017. Sementara panitia setempat tengah mempersiapkan segala keperluan rapat kerja perdana pascakongres Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto beberapa bulan lalu.

Ketua Panitia Rakernas Joni Rupawan mengatakan, persiapan sarana dan prasarana sudah mencapai delapan puluh persen. Dukungan terhadap acara ini datang dari pelbagai pihak termasuk Bupati Lombok Tengah dan masyarakat setempat. “Pemerintah Daerah Lombok Tengah sangat men-support kegiatan ini,” imbuh Rupawan.

Panitia Lokal Cek Kesiapan Rakernas Pergunu Akhir Februari (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Lokal Cek Kesiapan Rakernas Pergunu Akhir Februari (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Lokal Cek Kesiapan Rakernas Pergunu Akhir Februari

Ketua PW Pergunu NTB Baiq Muliyanah mengatakan, NTB merasa terhormat menjadi tuan rumah dan bisa melayani pengurus Pergunu seluruh Indonesia. “Kami akan berusaha semampu kami untuk melayani dan menyukseskan perhelatan akbar ini,” kata Baiq.

Pengasuh Pondok Pesantren NU Al-Mansyuriyah TGh KH Taqiyuddin Mansyur mengatakan, pihaknya akan melakukan pelayanan terbaik bagi tamu-tamu rakernas Pergunu. “Dengan keterbatasan kami tetap akan melakukan yang terbaik untuk melayani tamu dan undangan pada rakernas Pergunu.”

Ribath Nurul Hidayah

Sekretaris Panitia Pusat Akhsan Ustadhi dating meninjau kesiapan panitia daerah. Menurutnya, persiapan panitia daerah cukup luar biasa. Pihaknya berterima kasih kepada panitia daerah yang dengan kerja keras berupaya memberikan pelayanan yang prima demi terselenggara dan suksesnya acara rakernas Pergunu.

Forum ini rencananya akan dihadiri oleh utusan 34 pimpinan wilayah dan 316 pimpinan cabang Pergunu. Acara ini akan diisi dengan kajian perlindungan profesionalitas guru, pelatihan menulis ilmiah untuk guru/dosen, dan sarasehan kiai NU se-NTB. (Sandhi/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 50 peserta pelatihan agen santri anti kejahatan terorisme di pesantren Kempek, mengidentifikasi situs jejaring sosial yang membawa semangat kekerasan dan keresahan. Mereka mendata situs jejaring sosial dengan aneka bentuk konten yang mengampanyekan kekerasan atas nama agama.

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

“Pada era digital seperti ini website kerap menjadi rujukan paling cepat dan mudah bagi masyarakat. Namun demikian, daya kritis tetap sangat diperlukan ketika seseorang mengakses gambar, video, atau tulisan di internet,” kata peniliti dari PAKAR, Badrus Samsul Fata memandu peserta pelatihan gerakan santri anti terorisme di pesantren Kempek, Cirebon, Senin-Rabu (29/9-1/10).

Situs jejaring anti aswaja, lanjut Badrus, memuat ajakan untuk berbuat kekerasan. Pengelola jejaring ini menarik simpati pengguna dengan mengabarkan pembantaian umat Islam dari pelbagai belahan dunia.

Ribath Nurul Hidayah

“Selain bercampur opini dan fakta, berita yang ditayangkan tidak bisa diverifikasi kebenarannya,” kata Badrus di hadapan santri dari pelbagai pesantren di Jawa Barat.

Konten jejaring mereka menyuarakan paham anti demokrasi. Mereka menolak NKRI dan Demokrasi. Semangat jihad kekerasan begitu tinggi. Jejaring mereka tidak segan menyebut Pancasila dan NKRI sebagai sistem Thaghut.

Ribath Nurul Hidayah

Sejumlah website yang teridentifikasi mengarah pada terorisme, antara lain arrahmah, muslimdaily, attawbah, kiblat, voa-islam, nahimunkar, daulahislamiyah, kompas islam, salam online. Daftar ini, kata Badrus pada pelatihan yang difasilitasi RMI NU, bisa diperpanjang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 23 Januari 2018

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi

Sumatera Barat Ranah Minang yang terkenal dengan Adat bersandi Syarak, Syarak bersandi Kitabullah yang dipimpin oleh Tigo Tungku Sajarangan, Ulama, Penghulu dan Cadik Pandai. Para ulama di ranah Minang, sebagai panutan umat biasanya mempunyai keahlian dalam ilmu Syariat, ilmu Thariqat dan seringkali pula melengkapi diri dengan ilmu Pencak Silat.? Kisah yang akan kita ikuti kali ini adalah salah satu contoh peran ulama di ranah Minang, dalam membina umat di tengah berbagai goncangan zaman.

Di daerah Pesisir Selatan yang dulu dikenal Banda Sapuluh kemudian Pesisir Selatan dan Kerinci, bermukim seorang ulama panutan umat yang dikenal seluruh lapisan masyarakat yakni Syeikh Abdul Munaf Bakrin yang terkenal dengan panggilan Tuanku lebih populer lagi dengan Buya Lubuk, yang mulanya mengajar ilmu syariat berbentuk halaqah di surau.

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi

Syeikh Abdul Munaf Bakrin gelar Tuanku Mudo-Malin Sutan, terlahir di Taeh Koto Pulai, Barung-Barung Belantai Koto XI Tarusan ±? 44 km dari Padang pada bulan Agustus 1901 M. dan wafat pada 31 Maret 1984 M.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin adalah anak dari pasangan H. Abu Bakar dan ibu Siti Subuh Chaniago. Siti Subuh adalah seorang ibu yang taat dan lemah lembut serta pandai pencak silat.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak Kecil Munaf Bakrin diasuh oleh kedua orang tuanya, kemudian belajar Sekolah Desa 3 tahun. Untuk menguasai ilmu-ilmu agama, Munaf belajar Al-Qur’an di Taram, kec. Harau 50 Kota. Kemudian berpindah-pindah guru agama. Di antaranya adalah Buya Taram, Buya Ibrahim, Tiakar Payakumbuh, Buya Ruslan di Limbukan, Buya Sulaiman ar-Rasuli (Buya Candung) Bukittinggi, Buya Jamil Jaho (Buya Jaho) Padang Panjang, dan belajar thariqat Naqsyabandiyah dengan Buya Syeikh M. Thaib Pasar Baru Pauh Padang hingga berhasil mendapat Ijazah Khalifah.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah ilmunya cukup, Munaf Bakrin kemudian mengajar mengaji dan berdakwah dari surau ke surau dan nagari di daerah Banda Sapuluh. Munaf Bakrin mengembangkan ajaran Thariqat Naqsyabandiyah dan ajaran Sunniah Syafi’iyah. Munaf Bakrin kemudian diangkat sebagai Tuanku Muda oleh Syeikh Maulana HM. Thaib, Angku Surau Baru sekaligus khalifah Mursyid Thariqat Naqsyabandi 1932 daerah Banda Sapuluh di Surau Lubuk Panjang Barung-Barung Belantai Koto XI Tarusan.

?

Dari pengalaman berdakwah inilah, Munaf Bakrin tumbuh menjadi seorang ulama yang telah aktif memimpin masyarakat, termasuk dalam perjuangan politik. Seperti terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda tahun 1926. Saat itu, Munaf Bakrin bahkan sempat ditangkap Belanda dan ditahan di Tangsi Muaro. Namun kemudian lepas dari tahanan dan merantau lagi untuk menambah ilmu dan pengalaman ke kepulauan Malaya dan Singapura.

Pada zaman Jepang, jiwa patriotisme Munaf Bakrin tampil kembali. Karena di segani oleh Jepang banyak pemuda-pemuda yang dibuang ke Digul dapat diselamatkan dengan menjadikan mereka pelajar di Surau Lubuk dan Jepang dapat membenarkannya.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan mendirikan Lasymi (Lasykar Muslim Indonesia) di Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK) langsung Komandan Intendannya.

Masa Kemerdekaan

Sebagai ulama Syafi’iyah-Sunniyah, Munaf Bakrin bersama ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang sepaham mendirikan cabang Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang didirikan oleh Buya Candung di kabupaten PSK. Pada waktu Perti berobah menjadi Partai Islam Perti, maka kabupaten PSK langsung menyesuaikan diri dan berdirilah Partai Islam Perti dengan Munaf Bakrin Buya langsung sebagai Ketua Dewan Thariqatnya.

Pada tahun 1950 Munaf Bakrin diangkat sebagal Hakim pada Makmar Syariah Painan. Dalam masa PRRI tetap setia pada Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjabat jabatan sebagai Penasihat Bupati Pesisir Selatan.

Tahun 1960-1970 Munaf Bakrin dipercayakan memegang jabatan Ketua Pimpinan Cabang Perti sekaligus Pimpinan PPTI kabupaten Pesisir Selatan. Setelah Dekrit Buya Candung, Perti menjadi Persatuan Tarbiyah lslamiyah, tahun 1969 langsung menjadi Ketua DPD Persatuan Tarbiyah Islamiyah kabupaten Pesisir Selatan. Tahun 1977-1982 menjadi angggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Golkar.

Mengembangkan Thariqot Naqsyabandiyah

Setelah diangkat dan diresmikan sebagai Khalifah Mursyid oleh Buya Syeikh M. Thaib-Angku Pasar Biduk di Surau Lubuk Panjang, mengajarkan Thariqat Naqsyabandi dengan mendirikan Suluk, sekaligus menghadapi tantangan penganut Khurafah Tahyul dan ilmu Sihir serta rasa disaingi dari pengamal Thariqat yang telah lebih dulu berkembang.

Selanjutnya berdatanglah murid-murid yang ingin belajar Thariqat Naqsyabandiyah dan melaksanakan suluk dari daerah-daerah Banda Sapuluh, kota Padang. Munaf Bakrin kemudian mengembangkan pengajian Thariqat Naqsyabandi ke Siguntur Muda. Pengajian Munaf bakrin kemudian menjalar hingga ke Lubuk Niur, Indrapura, Lubuk Pinang Muko-Muko Kabupaten Bengkulu Utara, Teluk Kabung, Batu Sangkar dan Padang.

Untuk menyebarkan ilmunya, Syeikh Abdul Munaf Bakrin mengangkat para khalifah di daerahnya masing-masing dan mendirikan surau tempat wirid Tawajuh. Syeikh Abdul Munaf Bakrin mendatangi dan membimbing mereka secara bergilir di tempat-tempat didirikan Halqah Khatwat (Suluk). kegiatan ini dilaksanakan sepanjang hidup.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin sangat berjasa dalam penyatuan pengajian Syariat dengan Thariqat. Syeikh Abdul Munaf Bakrin mengantar kader-kader ke sekolah agama (Madrasah Tarbiyah) di daerah Payakumbuh dan Bukitinggi. Namun Syeikh Abdul Munaf Bakrin juga mendirikan Madrasah/Pesantren dengan mewakafkan tanah pusaka tinggi untuk perumahan pesantren di Taeh.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin mendukung secara utuh dan sungguh-sungguh pendidikan Al-Qur’an yang mewajibkan pelajaran terjemah Al-Qur’an yang dipimpin Ibnu Abbas (anak) dengan pendidikan Nurul Yaqien. Syeikh Abdul Munaf Bakrin menjadikan Nurul Yaqien sebagai nama bagi seluruh surau dan mesjid dibawah naungannya, baik yang berada di Pesisir Selatan maupun yang berada di luar Pesisir Selatan dengan harapan agar pendidikan Al-Qur’an dan terjemahannya diajarkan oleh para khalifah untuk para jamaah di daerah masing-masing.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin juga menugaskan kepada para khalifah, jamaah dan ahli waris untuk memperbaiki dan membangun baru Surau Lubuk yang telah dimakan usia. Serta mengamanatkan kepada seluruh khalifah dan jamaah untuk selalu bekerjasama dengan pemerintah di semua tingkat dan tokoh agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat selama tidak menghalangi pelaksanaan ajaran Thariqat Naqsyabandiyah dan ikut berperan serta dalam pembangunan dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lembut, santun tapi tegas.

Suasana Menjelang dan Saat Wafat

Sekitar tiga puluh hari mendekati hari wafat, Buya tidak mau makan dan minum dan tak boleh dibangunkan karena sedang sakit dan zikir. Hanya bangun di awal setiap waktu shalat untuk bersuci dan berwudhu, langsung shalat dalam berbaring menghadap kiblat.

Saat menjelang wafat selalu terdengar ucapan Allah, Allah, akhirnya Buya berangkat Kehadirat Allah dengan ucapan la ilaha illallah dengan wajah yang tenang berseri. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.



(oleh Syaifullah Amin. Disarikan dari Buku Syeikh Abdul Munaf Bakrin : Ulama Panutan dan Pejuang, karya Syeikh H Ibnu Abbas Munaf, SH)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kajian Sunnah, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 20 Januari 2018

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperkenalkan Metode baru dalam membaca dan menulis Al-Quran di Kabupaten Pringsewu, Pesarungsewu (Persatuan Guru Ngaji Pringsewu) menggelar Workshop Baca Tulis Al-Quran Metode Follow the Line (FTL).

Kegiatan yang menghadirkan Jamiyyatul Quro wal Huffadz (JQH) Jawa Timur ini bertempat di kantor PCNU Kabupaten Pringsewu belum lama ini.

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL (Sumber Gambar : Nu Online)
Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL (Sumber Gambar : Nu Online)

Workshop Baca Tulis Al-Quran Perkenalkan Metode FTL

Menurut Ketua Panitia, Syaiful Anwar, kegiatan ini diikuti oleh 246 peserta yang terdiri dari utusan PAUD 1 orang, SD 110 orang, TPQ 16 orang dan utusan Masjid dan Musholla 19 orang.

Ribath Nurul Hidayah

Nampak hadir dalam Workshop tersebut segenap Pengurus Pesarungsewu dan Pengurus PCNU Kabupaten Pringsewu.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ini di buka oleh KH. Sujadi Saddad (Mustasyar PCNU Pringsewu) yang juga merupakan Bupati kabupaten Pringsewu.

Dalam pengarahannya, Kiai Saddad menyampaikan pentingnya pendidikan Al-Quran sejak dini sehingga tidak akan ditemukan lagi Buta Aksara Al-Quran.

Sementara, narasumber dari JQH Jawa Timur KH. Choiruddin Abdul Qodir, SH, dan KH. Muhammad Muhyddin MS memaparkan materi yang meliputi: Wawasan & Visi misi Gerakan Baca Tulis Al-Quran, Metoda Baca Tulis Al-Quran Tartila Bil Qolam ( Follow The Line ), Psikologi pendidikan untuk anak usia dini, Manajemen Pembelajaran Untuk PAUD , TK , SD, MI dan TPQ, Bermain Cerita dan Menyanyi (BCM).

Menurut Kiai Choiruddin, metode FTL lebih mengedepankan praktek dari pada sekedar teori, karena dengan praktek akan mempercepat kemampuan menulis.

Dengan metode ini pula, katanya, "kemampuan motorik, pemahaman atas karakteristik hurup arab, ritme penulisan serta batasan-batasan penulisan yang jika di teorikan akan semakin rumit dan memakan waktu.

"Namun dengan metode FTL kemampuan menulis khot Arab akan mengalir secara alami sehingga hasilnya lebih cepat, rapi, indah dan yang lebih utama akan tertanam dalam diri sang penulis," terangnya.

Pihaknya menambahkan bahwa Metode FTL telah melalui uji coba penerapan pada beberapa sekolah secara acak di Tengerang, Samarinda, Jombang, Mojokerto, Aceh dan Jakarta, termasuk siswa siswi tuna wicara di Jawa Timur.

Dari hasil uji coba sekaligus sosialisasi tersebut diambil kesimpulan bahwa progam ini bisa diterapkan pada siswa / semua kalangan. Bahkan proses uji dan sosialisasi ini mendapat rekor MURI atas keberhasilan 600 siswa sekolah dasar menyelesaikan khatam menulis Al-Quran 30 juz dalam waktu 10 menit di Tangerang, dan menulis mushaf oleh 604 Muallaf di TMII Jakarta pada tanggal 1 Muharram 1433H.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 17 Januari 2018

Usai Ditahlilkan, Buku Mbah Sahal Dibedah

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melangsungkan tahlilan atas wafatnya KH Sahal Mahfudh atau yang biasa dipanggil Mbah Sahal, Jumat (31/01). Bertempat di Aula PWNU DIY Jalan Mt. Haryono no 40-42, tahlilan tersebut sebagai pengawal kegiatan diskusi forum Jumat.

Usai tahlilan, dilanjutkan dengan diskusi buku karya Mbah Sahal berjudul "Nuansa Fiqh Sosial". Buku tersebut dibedah oleh dua narasumber Imam Aziz (Ketua PBNU) dan Hairus Salim (Penyunting Buku).  

Usai Ditahlilkan, Buku Mbah Sahal Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Ditahlilkan, Buku Mbah Sahal Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Ditahlilkan, Buku Mbah Sahal Dibedah

Karya Mbah Sahal ini sudah diakui dunia. Pembahasannya dipandang sangat cocok dengan era kekinian. Dengan kata lain, sangat kontekstual.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan tersebut, karya Mbah Sahal ini menguatkan pemahaman terkait dengan ibadah.

"Sebagaimana diketahui, dalam buku ini juga diketengahkan, ibadah itu terbagi menjadi dua macam, yakni ibadah yang bermanfaat untuk pribadi (individual/syakhshiyah) dan untuk orang lain atau masyarakat (sosial/ijtima iyah)," terang Imam Aziz. 

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskan, sebelum meningkatkan amaliah ibadah, seseorang perlu meningkatkan keimanan dan kepercayaan akan wujud Allah dengan segala perintah dan larangan-Nya, kepercayaan akan adanya pahala serta keyakinan akan manfaat dan faedah dari amaliah ibadah.

Dalam konteks sosial yang ada, tekannya, ajaran syari’at yang tertuang dalam fiqih sering terlihat tidak searah dengan bentuk kehidupan praktis sehari-hari. Hal ini pada hakikatnya disebabkan oleh pandangan fiqih yang terlalu formalistik. Titik tolak kehidupan yang kian hari cenderung bersifat teologis, menjadi tidak berbanding dengan konsep legal-formalisme yang ditawarkan oleh fiqih. 

"Dalam buku ini diungkap, teologi di sini bukan hanya dalam arti tauhid yang merupakan pembuktian ke-Esa-an Tuhan, akan tetapi teologi dalam arti pandangan hidup yang menjadi titik tolak seluruh kegiatan kaum muslimin. Padahal di balik itu, asumsi formalistik terhadap fiqih ternyata akan dapat tersisihkan oleh hakikat fiqih itu sendiri," bebernya.

Sebagaimana dimaklumi, fiqih dalam arti terminologisnya adalah ilmu hukum agama. Kemudian ia diartikan sebagai kumpulan keputusan hukum agama sepanjang masa, atau dengan kata lain, yurisprudensi dalam Islam. Sebagai kompendium yurisprudensi, fiqih memiliki sistematikanya sendiri. 

"Ia tidak berdiri sendiri karena sebagai disiplin ilmu maupun sebagai perangkat keputusan hukum, fiqih dibantu oleh sejumlah kerangka teoritik bagi pengambilan keputusan hukum agama," tukasnya. (hairul anam/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 07 Januari 2018

Soekarwo Tolak Muhammadiyah Libur Selasa

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Gubernur Jawa Timur Soekarwo menolak permintaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim untuk menetapkan tanggal 16 November 2010 sebagai hari libur untuk memberikan kesempatan kepada warga Muhammadiyah menunaikan shalat Idul Adha.



Soekarwo Tolak Muhammadiyah Libur Selasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Soekarwo Tolak Muhammadiyah Libur Selasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Soekarwo Tolak Muhammadiyah Libur Selasa

"Kalau mau shalat Id silakan, tapi setelah itu harus masuk kerja seperti biasa. Mengapa? Karena pemerintah sudah menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November, sehingga tidak ada hari libur lebaran selain tanggal tersebut,"tandas Gubernur Jatim Soekarwo di Surabaya, Jumat (12/11).

Meskipun demikian katanya, pihaknya memaklumi jika warga Muhammadiyah memang melaksanakan shalat Idul Adha pada Selasa (16/11) . "Izin itu bersifat personal. Jadi, kalau PNS atau siswa tidak bisa menjalankan kewajibannya pada hari itu, maka ajukan saja izin sendiri-sendiri ke institusinya,"ujar gubernur menyarankan.

Ribath Nurul Hidayah

Yang pasti pihaknya akan memberikan toleransi kepada PNS yang terlambat masuk kerja karena menjalankan shalat Ied. "Asalkan benar-benar untuk shalat Ied, tidak apa-apa terlambat,"tambah Soekarwo.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim meminta Gubernur menetapkan hari libur pada Selasa (16/11) yang bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha versi Muhammadiyah.

"Kami berharap Gubernur bisa memberikan kesempatan itu. Dengan demikian, warga bisa tenang menjalankan sholat Id dan tidak dikejar-kejar jam masuk kantor," kata Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammdiyah Jatim, Nadjib Hamid.

Kalau Gubernur tak menetapkan hari libur, dia meminta Gubernur memundurkan jam kerja. "Minimal satu jam dari hari biasanya. Tetapi agar tidak merugikan pekerjaan, saat pulang kantor juga diundur satu jam. Di samping itu, kita meminta kepada panitia sholat Ied untuk menggelar sholat lebih pagi dan khotbahnya dipersingkat,”ujar Nadjib.

Sementara kalau penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan besoknya atau lusa sebab dalam Islam diperbolehkan menyembelih hewan kurban pada hari Tasyrik (tiga hari setelah hari raya Idul Adha). (amf/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Nasional, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 Desember 2017

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya dengan sungguh-sungguh (Q.S. Al-Ahzab ayat 56)

Semua sudah maklum, bahwa shalawat memiliki berbagai macam fadlilah (keutamaan). Diantaranya adalah hadis riwayat Amr ibn Ash

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa

Sesungguhnya Amr bin Al Ash RA mendengar Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali”

?

Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy Syadzily berkata

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW, aku bertanya “Ada hadis yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian Nabi menjawab “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”

Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan do’a kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Terlebih jika ia membaca dengan hati hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdo’a tidak dimulai dengan memuja Allah Ta’ala, tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Baginda Nabi mendengar ada seseorang yang sedang berdo’a tapi tidak dibuka dengan memuja Allah ta’ala dan tanpa membaca shalawat, Nabi berkata “orang ini terburu-buru”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kemudian Baginda Nabi mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati “jika diantara kalian berdo’a, maka harus diberi pujian kepada Allah SWT, membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki”

Apalagi jika bertepatan pada hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Sabda Rasulullah SAW “Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepangkuanku”.

?

Ulama’ sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW. Ada penyair yang berkata

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bacalah shalawat selalu, sebab shalawat pasti diterima.

Adapun amal yang lain mungkin saja diterima dan mungkin ditolak, kecuali shalawat. Shalawat pasti diterima.?

?

Supaya doa berhasil dan terkabul maka saat berdoa kita harus dengan adab dan tata cara yang tepat yaitu dimulai dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat.?

(Ulil/disarikan dari tulisan KH.Shofie Baedlowi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Desember 2017

Perihal Masa Depan yang Misterius (III)

Oleh Mh Nurul Huda

Berbicara tentang masa depan atau menyatakan Islam agama yang berorientasi masa depan, betapapun dilakukan secara relatif seksama dan hati-hati, tampaknya bukanlah tanpa “risiko”. Berbeda halnya bila kita membicarakan hal ini dalam praktik hidup sehari-hari, atau dalam ilmu-ilmu sosial, atau dalam lingkup yang sedapat mungkin bersifat holistik.

Perihal Masa Depan yang Misterius (III) (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Masa Depan yang Misterius (III) (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Masa Depan yang Misterius (III)

Risiko tak dapat dihindari dalam hidup. Tetapi budayawan Dr Mohamad Sobari mengingat kita arti sebuah keberpihakan: Anda harus bersikap arif dalam memandang kehidupan; Anda mungkin saja “tidak benar” tetapi yang pasti Anda tidak boleh salah. Pesan ini amat berharga, meski terdengar ambigu seperti ambigunya kenyataan-kenyataan hidup yang kita alami dan terpaksa kita terima.

Dalam kenyataan yang hidup, kita dapat menyaksikan baik perseorangan maupun lembaga modern (entah yang bersifat umum ataukah keagamaan) giat membuat perencanaan-perencanaan di awal tahun kerja untuk masa depannya. Diantara mereka mungkin sedang berada dalam kondisi krisis dan tak menentu, lalu muncul kehendak kolektif dan sadar untuk mengatasi keadaan yang dialami. Mereka mengelola dan mengantisipasi perubahan-perubahan serta merencanakan masa depan-masa depan alternatif yang mereka inginkan (preferable futures) dan diinginkan lembaga atau masyarakatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mahasiswa pengantar sosiologi di kelas saya mengetahui hal itu via Dalil Thomas yang mengatakan: If men define situations as real, they are real in their consequences. Bila orang menafsirkan sebuah situasi dalam gambaran tertentu yang kemudian membimbing tindakannya, maka konsekuensi gambaran itu menjadi nyata. Kisah Karyati yang perempuan, tua renta dan orang kecil dalam esai ini dihadirkan sebagai salah satu kasus.

Perihal Masa Depan yang Misterius (II)

Ribath Nurul Hidayah



Karyati adalah contoh individu, tetapi ini juga berlaku pada masyarakat atau komunitas. Masyarakat yang tanpa tujuan, tanpa impian masa depan, akan hanyut terseret arus dari masa depan yang tak diinginkannya menuju masa depan berikutnya yang kurang lebih serupa. Begitu pula komunitas yang terus-menerus sekadar bereaksi terhadap satu perubahan ke perubahan berikutnya akan berjalan hidup dari krisis ke krisis. Terus menerus demikian tertimpa krisis hingga akhirnya putus asa dan fatalis.

Sebelum ada demarkasi dalam ilmu sosial, ilmu pengetahuan (science) belum berpisah jalan dengan filsafat dan filsafat belum cerai dari teologi, demikian kata sejarawan dan sosiolog terkemuka Fernad Braudel dan Immanuel Wallerstein, para pemikir kuno (filsuf) biasa berkonsultasi dengan teks-teks keagamaan dan kearifan-kearifan tradisi lisan. Maka ijinkanlah sekarang saya berkonsultasi dengan salah satu tradisi itu, yakni ajaran dan pandangan dunia Islam, tentang kesadaran masa depan.

Al-Quran mengingatkan kita pemeluknya untuk menyadari sejarah orang-orang terdahulu dan masa depan mereka. Ittaquu maa baina aidiikum wa maa khalfakum la’allakum turhamuun, berhati-hatilah mengenai apa yang ada di hadapanmu dan apa yang datang supaya engkau mendapatkan rahmat (Surat Yasin, Ayat 45). Tak syak lagi di sini Al-Qur’an juga mengandung gagasan mengenai masa depan dan terkait erat dengan konsep “akhirat”.

Akhirat adalah konsep waktu dalam Islam, kata Ziauddin Sardar, tetapi bukan konsep waktu yang berjalan maju secara linear seperti dipikirkan oleh filsafat rasionalis dan materialistik. Waktu dalam Islam adalah suatu hamparan di mana waktu duniawi dan waktu abadi terjalin bersama. Hidup kita sekarang adalah waktu dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah waktu abadi.

Semua muslim meyakini, kehidupan ini tidak berakhir setelah kematian. Semua perbuatan di dunia fana akan berdampak pada kehidupan kemudian. Kelak mereka harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Ini berarti waktu masa depan dalam Islam adalah (1) mencakup waktu dunia dan waktu akhirat; dan (2) masa depan adalah waktu pertanggungjawaban (akuntabilitas).

Nabi Muhammad adalah contoh yang baik mengenai pentingnya kesadaran masa depan. Ketika memutuskan hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia melakukannya dalam rangka mengantisipasi aneka kemungkinan masa depan yang akan dihadapinya dan para pengikutnya. Kita belajar bagaimana ia memahami benar situasi mutakhirnya waktu itu, baik yang dialaminya secara internal (di tinggal wafat sang paman yang setia melindunginya) maupun lingkungan sekitarnya (permusuhan dan ancaman kaum Quraish yang mengeras). Hijrah itu direncanakan secara seksama, jalurnya diamati selama beberapa bulan dan dipastikan aman dari hadangan tentara Quraish. Seorang pemimpin punya tanggung jawab.

Terkait dengan akuntabilitas dan masa depan, kita memiliki konsep khalifah fil ardl. Manusia diberikan hak menjadi “pengganti Allah” atau wakil Allah di muka bumi. Tentang tanggung jawabnya, Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa khalifah adalah:

“. . . [F]ungsi kemasyarakatan yang mengharuskan kaum muslimin untuk senantiasa memperjuangkan dan melestarikan cita hidup kemasyarakatan yang mampu menyejahterakan manusia itu sendiri secara keseluruhan dan tuntas. . . diharuskan untuk menentang pola kehidupan bermasyarakat yang eksploitatif, tidak manusiawi serta tidak berasaskan keadilan dalam artian yang mutlak” (tambahan cetak miring dari saya sendiri).

Di tempat lain, Gus Dur mengatakan kehidupan adalah amanah yang dianugerakan Allah kepada manusia. Dan karena itu sudah sepantasnya manusia memelihara amanah tersebut (himayah). Itulah mengapa kelestarian bumi dan kesejahteraan umat manusia harus diwujudkan untuk generasi masa depan dalam keadaan yang baik, bahkan bila mungkin lebih baik, daripada sebelumnya. Seperti dinyatakan dalam Al-Quran: Wa an-laisa lil-insani illa ma sa’aa. Dan bahwa seorang tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (An-Najm, ayat 39).

Belajar dari kisah-kisah ini, baik kisah orang kecil maupun orang besar, ada sesuatu yang dapat kita pelajari (ini juga berlaku bagi diri penulis sendiri). Jembatan antara masa lampau dan masa depan bukanlah sekadar gambaran mengenai masa depan dan tindakan masa kini (sekarang dan disini), melainkan juga suatu etika, tanggung jawab dan akuntabilitas. [bersambung]

Penulis adalah Dosen Sosiologi UNU Indonesia, Jakarta



Perihal Masa Depan yang Misterius (I)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Nasional, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 15 Desember 2017

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Bandha (aset) wakaf yang dimiliki masjid perlu dikelola agar produktif. Pengelolaan tersebut maksudnya diupayakan supay menghasilkan uang yang bisa dipergunakan untuk kemakmuran masjid dan umat di sekitarnya.

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif

Para nazhir masjid perlu mengupayakan hal tersebut agar? masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah sholat saja. Tidak sebatas fungsi sebagai takmir yang memakmurkan masjid dengan kegiatan keagamaan saja.

Demikian disampaikan Ketua Lajnah Talif wan-Nasyr PWNU Jateng Dr H Muhyar Fanani MAg saat memberikan pembekalan kepada para nazhir masjid utusan kabupaten/kota se-Jateng dalam Workshop Workshop "Optimalisasi Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf Produktif Angkatan II yang diselenggarakan Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah, di Hotel Muria, Semarang, Selasa, (4/11/2014).

Ribath Nurul Hidayah

Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo ini menyatakan, mayoritas aset masjid, baik berupa tanah maupun bangunan, tidak dikelola secara produktif alias dibiarkan saja sebagai harta tak bergerak. Dia mengutip data Kemenag RI, di tahun 2008 ada tanah wakaf masjid seluas 1,6 milyar meter persegi, dan menjadi 3,49 milyar meter persegi pada 2012. Aset seluas itu,? hanya 34 persen yang telah dikelola secara produktif. ?

Apabila dirupiahkan, 3,49 miliar meter persegi yang berada di 420.003 titik itu dengan asumsi harga tanah hanya Rp100 ribu per meter persegi, nilainya mencapai Rp 349 triliun.

Ribath Nurul Hidayah

"Inilah sebabnya kita perlu mengajak seluruh nazhir masjid berpikir soal bisnis dan ekonomi," tuturnya.

Ia tambahkan, wakaf selain tanah juga bisa digali dari umat Islam. Yaitu wakaf uang yang saat ini sudah ditampung dalam Tabungan Wakaf Indonesia (TWI) dan wakaf berupa saham (surat berharga). Potensi dari wakaf non tanah ini, menurutnya, mencapai Rp 4 triliun per tahun.

Disebutkannya, kelemahan umum umat Islam adalah kurangnya ilmu manajemen dan kurangnya profesioanlitas dalam urusan dunia. Rata-rata takmir atau nazhir masjid adalah orang-orang berjiwa ikhlas yang pikirannya hanya dipenuhi soal pahala dan sorga, tentang kehidupan akhirat. Kalaupun memproduktifkan bandha masjid, sekedar membuka toko atau menyewakan tanah, sambil berharap usaha itu berkembang. Tanpa manajemen yang profesional.

"Yang dibutuhkan adalah ilmu manajemen. Jadi harus profesional jika ingin produktif. Tidak asal-asalan," ujarnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Perlu Kemitraan

Muhyar menyadari, tidak realistik apabila mendorong para nazhir masjid melakukan usaha itu sendirian. Yang paling mungkin adalah mendorong mereka bermitra dengan pebisnis, atau merekrut orang yang ahli bisnis menjadi pengelola wakaf masjid. Dan dalam kemitraan itu memakai asas bisnis profesional. Yakni dengan perjanjian yang jelas, dengan aturan hak dan kewajiban yang rinci dan terukur.

"Nazhir perlu bermitra dengan pebisnis yang terpercaya. Karena tidak realistis jika kita mendorong nazhir mengelola usaha sendiri. Kecuali memang mereka yang punya keahlian itu," tandasnya.

Hal itu menurutnya, sesuai dengan UU nomor 41 tahun 2004 tentang Perwakafan. Terlebih, lanjutnya, UU ini juga mengatur tentang perlunya memberi tunjangan kesejahteraan kepada nazhir masjid.

Ia jelaskan, ciri-ciri sebuah wakaf telah produktif adalah apabila memenuhi tiga hal. Yaitu semua pembiayaan dilakukan dalam bingkai proyek, kesejahteraan nazhir diperhatikan, dan asas akuntabilitas dan transparansi dipraktekkan.

Karena itu, kata dia, nazhir masjid haruslah orang yang kreatif, tekun dan cakap. Ini sebagai syarat tambahan selain keimanan dan akhlaknya. Dan untuk itu, memang harus mendorong perubahan cara kerja nadzhir. Jika selama ini 92 persen menjadi nazhir sebagai sambilan, diubah menjadi nazhir penuh dan terlembagakan. Tidak perorangan.

Muhyar menyayangkan acara tersebut tidak menghadirkan pemateri dari praktisi bisnis atau motivator. Dia mengritik pihak Kemenag masih berpikir seperti umumnya takmir masjid. Membahas tentang perekonomian, tetapi yang dihadirkan ulama semua. Ahli fiqih dan ahli ibadah semua.

"Mestinya workhsop ini menghadirkan pembicara dari praktisi bisnis dan motivator. Semisal Tung Desem Waringin, Andrie Wongso dan semacamnya. Padahal ini sudah angkatan ke-2. Mestinya pembicaranya jangan ahli agama semua," pungkas dia.

Dalam jadwal workshop tersebut, tertera para pembicara selain Muhyar Fanani adalah H. Ahmad Furqon Lc MAg, Dr H Ayoeb Amin MAg, Ahmad Arif Budiman MAg, dan Prof. Dr. HM Ali Mansyur Mhum. Sedangkan para moderator, seluruhnya adalah para pegarai Kanwil Kemenag Jateng. [ichwan/Abdullah]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 13 Desember 2017

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA Helmy Faishal Zaini menyoroti pernyataan Mendikbud Muhadjir Effendy. Melalui akun twitter pribadinya @Helmy_Faishal_Z, pria kelahiran Cirebon ini menulis “Mendikbud enyar ora paham nawacita”.?

Saat dikonfirmasi mengenai pernyatannya tersebut, Sekjen menjelaskan bahwa dua pernyataan dan gagasan Mendikbud akhir-akhir sangat patut disayangkan. Gagasan mengenai full day school dan juga pola pikir sektarian yang mengunggulkan pendidikan kelompok tertentu dengan menegasikan lembaga pendidikan lain menurut Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut? adalah gagasan dan juga sekaligus pernyataan yang tidak semestinya dikeluarkan.

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita

“Gagasan yang prematur dan juga pernyataan yang cenderung tidak didasari semangat kemajemukan bangsa yang tidak mengunggul-unggulkan satu pihak sembari menegasikan pihak lain, sudah seharusnya tidak diungkapkan oleh seorang Menteri,” jelas Helmy.

Banyak pihak menaruh rasa kecewa terhadap kinerja dan pernyataan Mendikbud. Ketua Lakpesdam NU, Rumadi Ahmad melalui akun twitternya @Rumadi04 menulis, “Mendikbud ini blm jelas prestasi dan kerjanya. Pagi2 sudah bikin gaduh.”

Sementara itu wartawan senior Putu Setia via akun twitter pribadinya @mpujayaprema juga menyoroti Mendikbud. Ia menulis “Saya gagal paham. Katanya full day school isinya tak belajar melulu, tp ada ekrakurikuler. Jadi belajar radikal?” (Fariz Alniezar)

?

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Nahdlatul, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 Desember 2017

Hari Ini Mudik Gratis Bareng NU Diberangkatkan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Program mudik gratis bareng Nahdlatul Ulama (NU) menjadi agenda penting tahunan menjelang lebaran. Melalui program tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulam (PBNU) berupaya hadir untuk warga NU yang ingin silaturrahim bertemu keluarga di kampung halaman.

Hari Ini Mudik Gratis Bareng NU Diberangkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini Mudik Gratis Bareng NU Diberangkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini Mudik Gratis Bareng NU Diberangkatkan

Mudik gratis tersebut secara resmi diberangkatkan hari ini, Ahad (18/6/2017) ke sejumlah kota tujuan di Indonesia. Para pemudik diberangkatkan secara serentak di sekitar Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat.

?

“Sebelum pemberangkatan, acara seremoni mengiringi para pemudik. Secara resmi para pemudik yang berjumlah sekitar 2400 orang akan dilepas oleh Ketua Umum PBNU,” jelas Panitia Pelaksana Mudik Gratis, Mujahidin, Sabtu (17/6) saat dikonfirmasi Ribath Nurul Hidayah.

Program yang digawangi Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU ini setiap tahun mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari warga NU di kota metropolitan, Jakarta.

Ribath Nurul Hidayah

?

Wakil Sekretaris LTM PBNU Ali Sobirin menyatakan, tradisi mudik perlu difasilitasi karena di dalamnya mengandung tujuan silaturrahim bertemu keluarga, saudara, dan handai taulan di kampung halaman.

“Bahkan saya mendorong kepada para pemudik agar kembali ke ajaran para kiai di kampung. Sowan juga ke kiai-kiai di kampung, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup,” jelas Ali Sobirin dalam kesempatan yang sama.

Program mudik gratis ini dibuka pada 3 Juni 2017 lalu untuk mendapatkan formulir. Setelah itu, para pemudik?

Ribath Nurul Hidayah

menukarkan formulir tersebut dengan tiket pada 10 Juni 2017. LTM PBNU akan terus berkomitmen memenuhi kebutuhan para pemudik, khususnya warga NU setiap tahun. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 Desember 2017

Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Imam dan khatib Masjid Nabawi Madinah Syeikh Dr Abdul Muhsin Al Qasim bersama rombongan melakukan kunjungan ke kantor PBNU, Selasa (29/12). Ia diterima oleh KH Hasyim Muzadi, KH Syaifuddin Amsir, Ir Iqbal Sullam dan Dr Arif Zamhari.

Muhsin menjelaskan, kunjungan ini merupakan silaturrahmi kepada para pimpinan NU yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia.

Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Berharap Islam ala Indonesia Dihargai

Dalam kesempatan ini, Hasyim menjelaskan sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang berbeda dengan di jazirah Arab. Dikatakannya, nusantara pada awalnya didominasi oleh agama Hindu dan Budha, yang sampai saat ini peninggalannya masih dipelihara dan dilestarikan seperti candi Borobudur dan Prambanan.

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya datang para walisongo yang mendakwahkan Islam ke bumi nusantara sampai akhirnya Islam terus berkembang dan saat ini dianut oleh sekitar 85 persen penduduk Indonesia.

“Para wali mendakahkan Islam tidak dengan cara kekerasan, tetapi dengan pendekatan budaya. Inilah kunci keberhasilan dakwah Islam di Indonesia,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena proses dakwah yang menggunakan pendekatan agama inilah, yang menjadikan Islam memiliki warna yang berbeda dengan yang ada di Arab sebagai tempat kelahiran Islam, tetapi tidak keluar substansi Islam.

Negeri Arab, terdiri dari satu bahasa dan budaya sehingga lebih monoton, sementara Indonesia kondisinya sangat beragam, mulai dari entis, bahasa, budaya dan kondisi geografisnya yang terdiri dari berbagai pulau.

“Merupakan prestasi yang luar biasa bisa mengislamkan lebih dari 80 persen penduduk di nusantara,” katanya.

Setelah masuknya Islam di nusantara, wilayah ini kemudian didatangi oleh para penjajah beserta misionarisnya, tetapi mereka tidak mampu merubah keyakinan yang sudah dipegang teguh umat Islam. Agama nasrani hanya bisa berkembang di daerah-daerah yang belum banyak tersentuh oleh pendakwah Islam, khususnya di Indonesia Timur.

Sementara itu syuriyah PBNU KH Syaifuddin Amsir mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga riset tentang Islam Indonesia di universitas di Saudi Arabia agar bisa memahami kondisi dan perkembangan Islam di Indonesia secara komprehensif, temasuk mengapa tejadi perbedaan-perbedaan dengan di jazirah Arab. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Sejarah, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Sudah jamak diketahui, bahwa masyarakat Indonesia merupakan “penggila” sepak bola. Hal itu terbukti dengan tingginya animo suporter dari Sabang sampai Merauke ketika mendukung klub kesayangannya bertanding di Liga Indonesia. Hampir di setiap pertandingan stadion penuh sesak ribuan bahkan puluhan ribu jiwa dengan segala atribut kreatifitasnya.

Puncaknya, ketika Timnas Indonesia bertanding di level Internasional yang dianggap mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, para suporter dari berbagai daerah rela antri berjam-jam untuk memperoleh tiket demi menjadi saksi perjuangan punggawa Timnas Merah Putih.

Akan tetapi, yang tak luput dari kaca mata dunia, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.? Sebagai seorang Muslim, kewajiban shalat 5 waktu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Para suporter sepak bola Indonesia yang mayoritas Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini. Mungkin bagi mereka yang menyaksikan lewat siaran televisi dapat mengatur waktu lebih mudah antara menunaikan shalat dengan menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, bagi mereka yang menyaksikan langsung di stadion justru menjadi masalah pelik. Lama waktu mengantre tiket, berjubelnya suporter dan minimnya fasilitas musholla seolah menjadi alasan mereka untuk “pasrah”. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban shalat begitu saja.

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Lantas, siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap masalah ini ? Dalam Islam, Nabi Muhammad telah bersabda: “kullukum rầ’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. Jika ditempatkan dalam konteks persepakbolaan Indonesia, pemimpin dalam hal ini adalah pengurus PSSI. Sebagai penyelenggara Liga Indonesia dan pertandingan internasional, seharusnya mereka mengerti dan memahami bahwa mayoritas suporter adalah Muslim.

Apalagi Ketua dan mayoritas pengurus PSSI juga Muslim. Tidak selayaknya mereka sibuk dengan masalah internal yang ujung-ujungnya berebut kekuasaan. Tidak selayaknya pula hanya melakukan komersialisasi demi meraih kuntungan yang sebesar-besarnya, hingga melupakan masalah yang urgent, hak dan kewajiban suporter sebagai umat Islam. PSSI harus mengayomi mereka dengan melakukan beberapa hal.

Pertama, mengatur waktu penyelenggaraan pertandingan. PSSI hendaknya menentukan waktu-waktu pertandingan yang tidak mepet dengan batas waktu shalat. Shalat yang paling “rawan” hilang adalah shalat Dzuhur (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan sore), shalat Ashar dan Magrib (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan malam). Waktu yang paling pas menurut bagi pertandingan sepak bola Indonesia adalah ba’da shalat Ashar dan ba’da shalat Isya’. Alasannya, jarak kedua waktu shalat ini dengan shalat sesudahnya cukup panjang. Dari Ashar ke Magrib sekitar tiga jam, sedangkan dari Isya’ ke Subuh malah lebih panjang lagi. Akan tetapi, hal ini harus didukung dengan penjualan tiket yang professional.

Kedua, memperbaiki manajemen penjualan tiket. Apabila penjualan tiket masih saja seperti saat ini dengan cara mengantre berjam-jam di hari H, tentu akan membuang banyak waktu hingga shalatnya “bablas”. Karena itu, system penjualan tiket secara online hendaknya semakin diutamakan dengan waktu pengambilan tiket beberapa hari sebelum hari H. Minimal menjual tiket lebih pagi. Dengan itu para suporter bisa datang ke stadion beberapa menit sebelum kick off dimulai, tanpa kehilangan shalatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, penyediaan fasilitas shalat di dekat stadion. PSSI bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun masjid di dekat stadion yang sanggup menampung ratusan hingga ribuan jamaah. Hal ini penting agar penonton tidak terlalu jauh dan membuang-buang waktu mencari tempat untuk menunaikan shalat. Selain itu, masjid yang dekat dengan stadion juga mempengaruhi mood para suporter terhadap kewajibannya agar tidak dilupakan begitu saja.

Keempat, sosialisasi dalam internal PSSI maupun dengan elemen-elemen masyarakat. Berawal dari Pengurus Besar PSSI disalurkan kepada Pengprov PSSI, Pengcab PSSI hingga ke akar rumput perkumpulan suporter, dan akhirnya sampai ke sanubari pribadi suporter. Selain itu, perlu juga berkoordinasi dengan elemen-elemen masyarakat, di antaranya dengan ulama’ atau kyai. Pengurus PSSI bisa terjun dalam pengajian-pengajian bersama ulama’ membahas pentingnya shalat bagi umat Islam mekipun dalam keadaan hendak menyaksikan pertandingan sepak bola, sehingga shalatnya tidak terlewatkan.

Ribath Nurul Hidayah

Terakhir, petinggi dan pengurus PSSI (banyak yang telah Haji) mestinya memahami arti pentingnya shalat. Tentunya mereka menginginkan terwujudnya ketertiban dan sportifitas pada persepakbolaan Indonesia, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal itu dapat terwujud setelah elemen-elemen persepakbolaan Indonesia melaksanakan shalat. Setelah shalat, hati dan fikiran mereka akan terasa “adem ayem”, tenang, damai, dan terhapuslah rasa dengki yang dapat menciptakan anarkisme. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Ashsholatu tanha ‘an al-fakhsya’i wa al-munkar” (Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).

Mengingat masih sedikitnya yang membahas masalah ini, semoga saran dalam tulisan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti demi keseimbangan dunia dan akhirat kita sebagai umat Islam. Boleh kita menyaksikan pertandingan sepak bola, namun jangan sampai meninggalkan shalat. Hendaknya masalah pelaksanaan shalat ini menjadi tanggungjawab bersama antara PSSI, Suporter, dan elemen-elemen masyarakat.

Di dalam momentum peringatan tahun baru Hijriyah ini, dan sebelum dimulainya kompetisi musim depan, saatnya PSSI mulai berpikir dan berhijrah ke arah yang lebih baik dengan mengatur jadwal pertandingan sepak bola supaya tidak bentrok dengan waktu shalat. Semoga persepakbolaan Indonesia semakin berprestasi dan didukung oleh suporter yang mempunyai akhlak mulia, sebagai akibat dari pelaksanaan shalat. Amin.

?

Riza Nur Fikri

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

Pelajar NU Pilih Caleg Berkualitas

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Pemilu menjadi sarana pendidikan politik di kalangan pelajar. Karenanya, para pelajar NU harus menggunakan hak suaranya dengan memilih calon legislatif yang berkualitas.

Wakil Ketua PC IPNU Kudus Ubaidillah Dwi Lazuardi mengatakan pelajar NU harus mensukseskan pemilu dengan berpartisipasi aktif dan berkomitmen untuk tidak golput. Sebab, pemilu merupakan sarana dalam meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia.

Pelajar NU Pilih Caleg Berkualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pilih Caleg Berkualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pilih Caleg Berkualitas

“Gunakan hak anda secara bebas yang bertanggungjawab untuk memilih caleg yang sesuai dengan harapan tanpa adanya paksaan.,”katanya kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (7/4).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam menentukan pilihan, Ubaidillah mengingatkan supaya memilih caleg berdasarkan kualitasnya bukan karena kemampuannya membagi uang. Ditegaskan, adanya politik uang sebagai bentuk pelanggaran juga mencoreng demokrasi di Indonesia.

“Masa depan bangsa atau daerah ada di tangan pemuda. Jadi jika ingin yang terbaik untuk bangsa dan daerah maka pilihlah pemimpin kualitas dengan melihat rekam jejak perjuangannya di masyarakat,”tandasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemiliu, imbuh Ubadillah, adalah sebagai pendidikan dengan manifestasi meningkatkan rasa partisipasi politik dalam rangka penciptaan iklim persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Menurutnya, dengan semakin tingginya pemahaman berpolitik yang benar dan bermartabat,  maka semakin tinggi pula rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.(Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Tegal, Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 20 November 2017

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya

Tangerang, Ribath Nurul Hidayah. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang merealisasikan program pembinaan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) ke pesantren dan sekolah se-Tangerang Raya.

H Muhamad Qustulani, Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU dalam rilis yang diterima Ribath Nurul Hidayah Senin (11/5) mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian dari pengabdian mahasiwa semester VII untuk membumikan aswaja Nahdlatul Ulama di Tangerang.

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara “Road show” Aswaja NU ke Pesantren-Sekolah di Tangerang Raya

Alumni STISNU Tangerang adalah pionir NU untuk menangkal gerakan gerakan yang mencoba merusak dan menyalahkan amaliyah dan tradisi sholeh ulama Nusantara. Lagi, menjaga generasi muda terkontaminasi dari ideologi radikal atasnama agama yang dapat merusak keutuhan NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga menambahkan, roadshow ini bertujuan memberikan pemahaman kepada para santri atau siswa yang akan lulus pesantren, atau sekolah setingkat Madrasah Aliyah bahwa NU adalah jalan soleh  yang real sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

“Banyak generasi muda yang masih mencari jati diri, salah mengambil tempat menaung. Ujung-ujungnya mereka menjadi bagian mereka yang membidahkan tradisi ulama salafus shalih, lebih lebih mengkafirkan ajaran para guru gurunya di pesantren,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

KH Mahrusillah, ketua pembina road show pembinaan Aswaja NU STISNU  menegaskan, santri hukumnya wajib NU dan mengamalkan tradisi NU, sebab itu kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman manhaj Aswaja NU, akan tetapi juga memberikan dalil dalil yang terkait dengan amaliyah nahdliyah di masyarakat.

Buku “Kontroversi Fiqh Tradisionalis” akan dibedah secara tuntas pada kegiatan ini. Ke depan, diharapkan tidak ada lagi kebingungan dalil bagi santri menangkal paham-paham yang bertentangan dengan ajaran shalih ulama.

Azib Andriyansah, ketua panitia roadshow STISNU berharap, para santri yang ingin melanjutkan studi keperguruan tinggi sudah mapan dan matang ideologi ke NU-anya, lebih lebih semua bisa bergabung melanjutkan studi perguruan tinggi di Kampus NU Tangerang, STISNU Nusantara.

“Kami berharap, ke depan, pemerintah daerah atau pusat turut mendukung kegiatan ini, mengingat manfaatnya untuk mencegah lahirnya radikalisme ideologi dan tindakan atasnama agama yang mengancam generasi muda Indonesia,” katanya.

“Lihat saja, mereka yang mengusung khilafah Islamiyah di bawah kebanyakan anak baru lulus yang tidak tahu subtansi beragama, berbangsa, dan beragama,” tambahnya.

Dalam acara roadshow, para peserta tidak hanya diberikan materi Aswaja tetapi juga dilengkapi dengan games dan lomba menghafal cepat Mars NU.

Kegiatan ini diluncurkan di Pondok Pesantren Al Kamil Kota Tangerang, dihadiri oleh 600 santri yang akan lulus. Selain itu, kegiatan ini direncanakan 3 bulan dengan target 20-30 pesantren dan sekolah se Tangerang Raya, di antaranya: Al-Mansyuriah, an-Nuqtoh, Darus Saadah, Al Mansuriyah, dan Al Hasaniyah. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Nasional, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 November 2017

Akhir Ramadhan,LAZISNU Surabaya Percepat Salurkan Zakat dan Infaq Anak Yatim

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah - Beberapa hari mendekati berakhirnya Ramadhan, berbagai lembaga amil zakat semakin giat menyalurkan dan infaq dan sedekah. Hal ini juga dilakukan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kota Surabaya. Lazisnu Surabaya memberikan santunan kepada anak yatim dalam program Santunan Yatim On The Road.

Ketua LAZISNU Kota Surabaya Yusuf Hidayat menjelaskan, pemberian santunan kepada anak yatim dalam program Santunan Yatim On The Road dilakukan di beberapa wilayah di Kota Surabaya. Pembukaan program ini berlangsung di JMP Mall beberapa waktu lalu.

Akhir Ramadhan,LAZISNU Surabaya Percepat Salurkan Zakat dan Infaq Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Ramadhan,LAZISNU Surabaya Percepat Salurkan Zakat dan Infaq Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Ramadhan,LAZISNU Surabaya Percepat Salurkan Zakat dan Infaq Anak Yatim

"Kegiatan ini sengaja dipercepat untuk menyalurkan berbagai infaq dan sedekah di bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan berakhir," ujar Yusuf Hidayat di kantor LAZISNU Surabaya, Kamis (30/6).

Kegiatan ini merupakan bentuk kewajiban LAZISNU karena lembaga ini memang bertugas untuk melakukan penghimpunan, distribusi, dan melaporkannya kepada para muzakki dan donatur. "Untuk itu ke depan kita optimistis gerakan kebangkitan zakat akan semakin semarak," tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Ia berharap anak yatim bersama-sama mendoakan para muzakki dan donatur agar senantiasa diberi keberkahan hartanya. Kepedulian pada anak yatim dan kaum dhuafa harus menjadi kesadaran bersama untuk mewujudkan kesejahteraan dengan berpegang teguh pada prinsip keadilan.

Ia juga mengajak pada bulan suci Ramadhan ini terus memperbaiki kualitas diri. "Semoga amal ibadah kita diterima dan diberikan umur yang panjang dan bertemu kembali dengan bulan puasa yang akan datang," ungkapnya.

Sebelumnya Lazisnu Kota Surabaya menggelar berbagai kegiatan penyaluran dana di bulan Ramadhan ini diantaranya, renovasi mushala, pemberian bantuan pendidikan untuk masyarakat dhuafa, pemberian bantuan gerobak Ramadhan untuk membantu usaha, pemberian takjil on the road dan pemberian santunan anak yatim. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Nasional, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah