Rabu, 22 November 2006

Semi Final MKK Zona Tiga Jabar Resmi Dimulai

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Semi Final Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) Zona Tiga Jabar di Ponpes Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Kabupaten Bandung resmi dimulai. Dibuka langsung Ketua DKN Garda Bangsa, Cucun A Syamsurizal, seluruh peserta perwakilan asal Garut, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat berlomba menjadi yang terbaik.

Ketua DKN Garda Bangsa, Cucun A Syamsurizal mengatakan MKK ini kali kedua digelar. Dan ada yang menarik ketika MKK tahun lalu untuk juara kategori Ihya Ulumuddin berasal dari Cianjur namun mewakili Ponpes Lirboyo Jawa Timur.

"Maka Jabar punya lima zona sehingga potensi dari Jabar lebih tergali," katanya, Kamis (18/5).

Semi Final MKK Zona Tiga Jabar Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Semi Final MKK Zona Tiga Jabar Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Semi Final MKK Zona Tiga Jabar Resmi Dimulai

Menurut anggota DPR RI dari Fraksi PKB ini, setelah MKK antar pesantren akan digelar juga MKK "Goes To Campoes". Untuk Jabar dimulai dari Unpad dan ITB.

Ketua PCNU Kabupaten Bandung, KH Asep Jamaludin bersama Pimpinan Ponpes Aljawami, KH Imang Abdul Hamid sangat mengapresiasi dan berharap dari Jabar menang.?

"Kitab Kuning sudah banyak dilupakan. Dengan MKK ini bukti PKB sebagai partainya warga NU," kata KH Asep.?

Ribath Nurul Hidayah

Zona Jabar Tiga meliputi Kota dan Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kota Cimahi dan Bandung Barat. (Nurjani/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Budaya, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 15 November 2006

Belajar dari Keberhasilan Gerakan KOIN NU MWC Ngantru

Oleh Nuruddin

Pelan tapi pasti, itulah kalimat yang dapat saya simpulkan dari gerak langkah kemandirian NU di MWCNU (Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama) Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Bersama PAC Ansor Ngantru dan Banser, Senin malam, 22 Januari 2018, Kotak Infaq NU atau disingkat KOIN NU dibethok untuk dihitung bersama. Hasil yang saya ketahui—sementara dari 800 kotak—terkumpul Rp8.000.000 padahal sisa kotak yang belum dihitung adalah 1200 kotak. Jika dihitung rata-rata per kotak Rp 10.000, maka hasil tiap bula dari KOIN NU MWCNU Ngantru adalah Rp20.000.000, jumlah yang fantastis.

Belajar dari Keberhasilan Gerakan KOIN NU MWC Ngantru (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keberhasilan Gerakan KOIN NU MWC Ngantru (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keberhasilan Gerakan KOIN NU MWC Ngantru

Dana yang terkumpul dari KOIN NU ini selanjutnya dicatat dan dilaporkan kepada organisasi dan masyarakat, serta ditasyarufkan untuk kepentingan melayani Jamaah dan Jamiyyah NU. Misalnya untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, ataupun yang lainnya sesuai aturan yang berlaku dan membutuhkan prioritas penanganan demi jamaah dan jamiyyah.

Secara tidak langsung, adanya KOIN NU di MWCNU Ngantru Tulungagung juga menjadi sarana konsolidasi organisasi, karena dengan adanya KOIN NU, minimal para pengurus lebih intensif bertemu dan membahas tindak lanjut setiap pertemuan. Sehingga energi yang dimiliki pengurus, jamaah dan jamiyyah, benar-benar tersedot untuk hal-hal positif dan bernilai guna bagi jamaah dan jamiyyah. Dengan kesibukan dan momentum bernilai saat berkumpul, para pengurus NU tidak sempat lagi menyisihkan energi untuk debat kusir atau orang Jawa menyebut dengan istilah "udhur pok" (debat tanpa hasil).

KOIN NU juga sebagai salah satu upaya membangkitkan rasa kepemilikan dan kebanggaan pada NU. Karena dengan kemauan mengeluarkan uang receh atau kertas yang dimasukkan di Kotak Infaq, minimal semangat berkidhmah kepada organisasi NU akan tergugah. Selain itu, sejak awal, NU sudah terbiasa mandiri tanpa mengharap pemberian dari luar NU. Sehingga NU memang gagah dan mampu berdiri sendiri sebagai organisasi yang sehat, kuat, dan rahmatan lil alamiin.

Ribath Nurul Hidayah

Lima Kunci Keberhasilan

Kunci keberhasilan MWCNU Ngantru adalah: segera memulai, memulai sosialisasi dengan tim khusus, dengan keluar masuk jamiyyah serta menjelaskan semua poin yang terkait KOIN NU. Selain itu, MWCNU Ngantru juga segera memulai membuat kotak dengan 5 personel tukang profesional yang siap menerima pengerjaan pembuatan Kotak Infaq NU, dan memulai mengisi kotak dari sekarang dan secepatnya oleh kita yang sudah ada, selanjutnya ditularkan kepada teman saudara dan warga. Prinsipnya adalah "kalau tidak kita siapa lagi?" lantas "kalau tidak sekarang kapan lagi?"

Kunci kedua, mereka segera bergerak sambil belajar menutup kekurangan yang ada. Ketiga, menjalankan seluruh kegiatan dengan tanggung jawab sebagai kader penggerak. Keempat, menularkan pengetahuan dari yang bisa membimbing kepada yang belum bisa karena setiap manusia punya modal untuk bisa melakukan apa pun. Kelima, ada waktu khusus yang diluangkan ditengah kesibukan sehari-hari.

Sumber daya yang dimiliki NU sebagai organisasi yang turut melahirkan NKRI sangat luar biasa. Segalanya NU punya. Kelebihan, kekurangan, masalah, dan solusi bahkan laboratoriumnya, NU punya. Tinggal mana yang digerakkan, dan bagaimana cara menggerakkannya. 

Kemampuan menggerakkan sumber daya NU juga sangat variatif, ada yang tradisional, ada yang menggunakan pendekatan fiqih, ada pula yang menggunakan pendekatan sejarah. Semua pendekatan boleh digunakan, dengan tujuan kemaslahatan umat. Kadang yang jadi masalah adalah, pendekatan yang digunakan hanya untuk menghadang tujuan berjalannya sebuah program. Misalnya program KOIN NU (Kotak Infaq NU). Muncul berbagai pertanyaan, apakah para muassis (pendiri) NU juga melakukan penggalangan KOIN NU? Bagaimanakah hukum syari KOIN NU? Bagaimana tasharufnya? Bagaimana KOIN NU menurut UU yang ada di Indonesia? Sampai pada pertanyaan bagaimana jika infaq tidak usah dinamai NU.

Ribath Nurul Hidayah

Masyarakat harus dipahamkan bahwa para muassis NU punya Nahdlatut Tujjar yang bergerak di bidang perekonomian perdagangan, dana sumbangan organisasi juga dihimpun. KOIN NU ini, mengambil spirit para muassis NU yakni semangat kemandirian tanpa menggantungkan kepada siapa pun, termasuk pemerintah.

Jika dipertanyakan bagaimana hukum dan tasharufnya sampai pada posisi KOIN NU, ini sudah selesai dibahas di aturan, karena KOIN NU ini adalah gerakan nasional yang diresmikan oleh PBNU dan Koai Said juga rawuh di Sragen, Jawa Tengah. Masalah distribusinya, di Sragen mengambil segmen: pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan kampus NU. Bidang pendidikan misalnya bisa untuk membantu  beasiswa warga NU, membantu biaya pendidikan warga yang kurang mampu, dan lain-lain. Bidang kesehatan, kerja sama dengan Pemkab Sragen untuk mendirikan RSNU di empat titik sekaligus yang nantinya diperuntukkan layanan kesehatan warga NU. Bidang ekonomi, diperuntukkan memberi tambahan modal pedagang ethek atau membantu perbaikan gerobak dengan label NU. Kenapa itu dipilih di Sragen? Karena yang paling butuh ya empat prioritas tersebut. Lha PCNU, MWCNU di luar Sragen silakan disesuaikan dengan kesepakatan dan kondisi dimasing-masing.

Masalah di atas, juga harus didukung dengan keterbukaan wawasan bahwa menata sebuah gerakan harus dimulai dari diri sendiri, dan pengurus NU sendiri. Bagaimana mau menata orang lain kalau dirinya sendiri tidak bisa di tata? Bahasa saya, untuk berkhidmah kepada NU dalam hal apa pun hanya butuh orang dengan kriteria: pertama, "pinter" karena orang yang pinter akan punya perhitungan dan pertimbangan dalam segala langkahnya; kedua, "kober" (punya waktu) untuk ngurusi dan berkhidmah kepada NU. Banyak orang pinter, tapi mayoritas mereka tidak punya waktu (tidak kober); ketiga, "bener", benar dalam pelaksanaan, penataan, pengadministrasian, pelaporan, dan pelayanan. Maka jika kriteria "pinter, kober, dan bener" ini dapat dipenuhi, maka pekerjaan akan mudah dan selesai sesuai target dan harapan.

Keberhasilan MWCNU Ngantru dalam mengelola KOIN NU sehingga beberapa hari yang lalu dihitung dan dikumpulkan keseluruhannya dari KOIN NU, jika dirata-rata per Kotak berisi Rp 10.000, dan jumlah kotak MWCNU yang sudah beredar di MWCNU Ngantru Tulungagung adalah 2.000 kotak, maka gambaran kasar tiap bulanya adalah 20 juta uang receh terkumpul di MWCNU Ngantru. Bisa dibayangkan misalnya MWC NU Ngantru menyetop uang receh tersebut dalam dua bulan saja, saya yakin pasar dan toko di Ngantru akan kelabakan uang receh. 

Perlu kita belajar bagaiman MWCNU Ngantru Tulungagung memulai sosialisasi menyebarkan Kotak KOIN NU kepada warga. Pasca PKPNU, mereka dengan semangat bekhidmah kepada NU yang membara karena baru di-charge, kader NU sejumlah 72 kader ikut pawai Agustusan dengan pakaian kaos PKPNU satu peleton membawa bendera NU, dan bendera merah putih serta meneriakkan "Siapa kita?" "NU", "NKRI?" "Harga Mati", "Pancasila?" "Jaya". Padahal beliau-beliau adalah para kiai dengan usia di atas 60-an tahun. 

Selanjutnya semangat itu dikonversi menjadi aksi sosialisasi kepada warga NU dari rumah ke rumah, dari jamaah Yasin-Tahlil ke jamiyyah NU. Semua dilalui dengan tekun, telaten, sabar, dan ikhlas. Bahkan Tim pembuat kotak juga ditata. Lima orang tukang kayu profesional menggarap kotak yang nantinya diedarkan ke warga yang berminat dan tidak terpaksa setelah mendapat sosialisasi. 

Sejatinya, pada bagian mengonversi semangat menjadi aksi inilah yang kadang terlupakan, muncul ego sektoral bahwa hanya dia yang super dan mampu, sehingga tidak melibatkan yang lain. Kadang juga, menganggap, ini pekerjaan manajemen, hanya butuh orang-orang pilihan. Memang betul ini pekerjaan manajerial, tapi tetap membutuhkan bantuan dari semua pihak, butuh kebersamaan, dengan tetap ada penanggung jawab.

Tulisan di atas saya kumpulkan dari berbagai sumber di Ngantru, baik langsung maupun tak langsung. Ada peran duo kembar Kaji Aya Nawafi Maksum dan Kaji Ahmad Yuzki Maksum yang luar biasa mempola PAC GP Ansor Banser Ngantru menuju kemandirian NU. Sahabat-sahabat Ansor Banser, IPNU, IPPNU PAC, seluruh jajaran MWCNU Ngantru, Pak Tomy,  Kiai Mastur dan semua kader NU di Ngantru. "Bravo Ngantru Berdikari". Kalimat saya, "Pelan tapi Pasti!"

Penulis adalah pengurus Lakpesdam NU Tulungagung

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Senin, 25 September 2006

Tindakan dalam Bermedia Sosial Cerminkan Sifat dalam Kehidupan Nyata

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Ketua LBM PWNU Lampung KH Munawir menyambut baik langkah Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) yang menggelar kajian keagamaan terkait berita palsu (hoax) dan aksi menyudutkan orang lain di dunia maya (bully), Kamis (1/2) di Kantor PBNU Jakarta.

Tindakan dalam Bermedia Sosial Cerminkan Sifat dalam Kehidupan Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Tindakan dalam Bermedia Sosial Cerminkan Sifat dalam Kehidupan Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Tindakan dalam Bermedia Sosial Cerminkan Sifat dalam Kehidupan Nyata

Menurutnya langkah ini sudah sangat mendesak dilakukan sebagai ikhtiar untuk mengingatkan dan memberi kesadaran kepada ummat Islam bahwa tindakan tersebut jelas melanggar aturan agama, merugikan orang lain dan dapat juga merugikan sang penyebar berita palsu tersebut.

"Saat ini sangat gampangnya orang membagikan berita yang terkadang belum jelas kebenarannya. Selama menguntungkan kelompoknya sendiri maka dengan gencarnya mereka membagikannya dan sering juga ditambah-tambah kalimat-kalimat provokatif," katanya Kamis (1/12).

Gus Nawir begitu Ia biasa dipanggil menambahkan bahwa kemudahan yang hadir dari keberadaan dunia maya khususnya media sosial, membuat orang gampang sekali menyerang orang lain.

"Apalagi sekarang ini gampang dan banyak sekali ditemukan akun-akun palsu yang memang dibuat orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menjatuhkan orang lain. Ini tentu sangat memprihatinkan," kata Kiai muda yang juga merupakan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung.

Ribath Nurul Hidayah

Undang-undang IT yang mengatur hal ini seakan-akan mandul ketika berada di realita aktivitas dunia maya. Akun-akun palsu masih saja sering menebar kebencian dengan harapan orang lain juga akan berpikiran sama sehingga akan ikut golongannya.

Ribath Nurul Hidayah

Jika hal ini terus terjadi dan tidak ada langkah untuk mengingatkan masyarakat khususnya orang Islam, kedepan bisa saja terjadi orang tidak akan lagi memiliki sopan santun dan etika dalam pergaulan nyata ditengah masyarakat.

"Sifat kasar dalam membuat status atau komentar didunia maya bisa saja akan terjadi didunia nyata. Kalau bukan terjadi sekarang, bisa jadi para generasi selanjutnya yang akan melakukannya. Apa yang dilakukan didunia maya adalah cerminan dalam kehidupan nyata," katanya.

Sehingga sudah saatnya, kajian dari aspek agama memberikan peringatan kepada umat Islam untuk berhati-hati dalam bertindak didunia maya khususnya media sosial. "Kalau sudah tidak lagi mematuhi aturan dan norma agama, bisa jadi mata hatinya sudah tertutup untuk menerima kebaikan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 27 Juli 2006

Mahasiswa STAINU Tampilkan Sholawat di Maroko

Rabat, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati Hari Naik Tahta dan Pelestarian Seni Adat Tradisional, para pelajar STAINU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama) Jakarta mendapatkan kehormatan untuk ikut berpartisipasi pada acara ini.

Acara ini berlangsung pada Selasa 23 Juli sampai 27 Juli 2013, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Maroko. Di akhir puncak acara mahasiswa STAINU Jakarta menampilkan sederet lagu sholawat dan qasidahan dengan diiringi musik tradisional dan rebana.?

Mahasiswa STAINU Tampilkan Sholawat di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Tampilkan Sholawat di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Tampilkan Sholawat di Maroko

Acara ini merupakan acara tahunan yang di adakan di Arena Pentas Bab Lamrisa Sale. Sejumlah kegiatan yang ditampilkan adalah pertunjukan musik khas Maroko, musik Andalus, pembacaan puisi, nyanyian lagu Amazir, dzikir dan pujian sufi serta kompetisi hafalan Al-Quran. Bukan hanya itu, panitia juga menyedikan hidangan buka puasa gratis bagi masyarakat setempat.

Ribath Nurul Hidayah

"Penampilan grup sholawat STAINU Jakarta merupakan bentuk partisipasi atas berlangsungnya acara ini sekaligus perwakilan dari Indonesia dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Maroko yang sudah lama terjalin, khususnya dalam bidang seni dan budaya,” ujar Dedy Rinaldi, staff Pensosbud KBRI Rabat yang turut hadir pada penutupan acara ini.

Ribath Nurul Hidayah

Masyarakat Maroko begitu antusias ketika mendengar lantunan sholawat yang dibawakan oleh grup sholawat STAINU Jakarta. Mereka mendengarkan dan menikmatinya dengan iringan tepuk tangan. Saking antusiasnya, di akhir pentas, mereka rela mengantri satu per satu untuk bisa mengambil gambar bersama.

Turut hadir, Suparman Hasibuan selaku Pensosbud KBRI Rabat. Ia bangga sekali karena masyarakat Maroko begitu apresiatif dengan penampilan musik dari Indonesia yang dibawakan oleh grup sholawat STAINU Jakarta.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 29 Juni 2006

Ribuan Relawan IPPNU Siap Laporkan Pelanggaran Pemilu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pada pemilu April mendatang, ribuan pelajar putri NU akan turun langsung memantau proses pemilu di lokasi pemungutan suara. Mereka akan memastikan sterilnya penyelenggaraan pemilu dari kemungkinan pelanggaran dengan segala bentuknya di lokasi.

“Ribuan pasang mata kader-kader relawan IPPNU di seluruh tanah air Indonesia siap mengawasi dan melaporkan setiap pelanggaran dalam pemilu nanti,” terang Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah kepada Ribath Nurul Hidayah, Kamis (3/4) siang.

Ribuan Relawan IPPNU Siap Laporkan Pelanggaran Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Relawan IPPNU Siap Laporkan Pelanggaran Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Relawan IPPNU Siap Laporkan Pelanggaran Pemilu

Relawan kita, sambung Farida, tidak memandang siapa pihak yang melanggar kendati itu partai politik, ormas, atau penyelenggara pemilu itu sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping itu, IPPNU mendesak pihak Bawaslu untuk menjatuhkan sanksi tegas terhadap aneka bentuk pelanggaran dan kecurangan dalam Pemilu 2014. Sikap tegas seperti ini sangat ditunggu-tunggu segenap warga Indonesia demi kelangsungan pemilu yang bersih.

Ribath Nurul Hidayah

“Sekurangnya, penyelenggaraan pemilu telah melewati tahapan dan prosedur secara benar meski kualitas calon terpilih di luar jaminan,” tandas Farida. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah