Senin, 31 Juli 2017

Kiai Harisudin Motivasi Anak Yatim Raih Sukses

Jember,? Ribath Nurul Hidayah

Anak-anak yatim harus kuat bagaikan baja dan punya semangat yang tinggi dalam meraih sukses kehidupan. ?

Kiai Harisudin Motivasi Anak Yatim Raih Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Harisudin Motivasi Anak Yatim Raih Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Harisudin Motivasi Anak Yatim Raih Sukses

Hal itu disampaikan Katib Syuriyah PCNU Jember Kiai MN Harisudin, dalam acara Santunan Anak Yatim yang digelar oleh ibu-ibu pengajian Miftahul Janah, di Perumahan Pesona Surya Milenia Mangli Kaliwates Jember, Jawa Timur, Sabtu (30/9).?

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

“Jangan buat mereka (anak yatim) lemah. Kita semua terus memotivasi untuk kesuksesan adik-adik. Berikan mereka motivasi untuk menjadi yang terbaik, selain tentu saja doa,” tutur kiai yang Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember. ? ?

Kiai Harisudin menceritakan kehidupan Dahlan Iskan, seorang miskin yang waktu SD sudah ? sengsara dengan mencuci baju milik orang lain. Selain itu, Dahlan tidak bisa beli sepatu.?

“Tapi, Dahlan menjadikan keadaan ini sebagai pelecut untuk motivasi suksesnya. Bukan menjadikan keadaan tidak enak dengan keluhan yang tidak berkesudahan. Kini Dahlan adalah pengusaha yang sukses dan pernah menjadi Menteri BUMN,” paparnya.

Kiai kiai muda yang anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten ? Jember itu mendorong keadaan tidak enak yang dihadapi para yatim seperti lapar, kekurangan uang, keadaan buruk sebagai motivasi mencapai kesuksesan.

Kepada para donatur anak-anak yatim, ia mendorong agar meningkatkan kualitas pemberian.?

“Kalau dulu slogannya: Kalau memberi yang penting banyak, tidak Ikhlas tidak apa. Sekarang slogannya diganti: Kalau memberi yang penting ikhlas, banyak alhamdulillah,” canda Wakil Ketua Lembaga Talif wa an-Nasyr ? PWNU Jawa Timur ? yang disambut riuh hadirin. ?

Ketua Bidang Intelektual dan Publikasi Ilmiah IKA PMII Jember ini mengatakan, ibu-ibu yang sudah mempraktikkan sunah dlahir Nabi SAW, yaitu santunan anak yatim, sekarang seyogianya diteruskan dengan sunah batin, berupa keikhlasan dalam pemberian santunan anak yatim.?

Sedikitnya 300 orang memeriahkan kegiatan tersebut. Sementara 84 anak yatim menjadi penerima manfaat. Turut hadir Ketua ? RW 10 Perum Pesona Surya Milenia Mangli Jember, H Bambang Sumarjono; Ketua Pengajian Miftahul Janah, Hj Ratna Arif.? (Shohibul Ulum/Kendi Setiawan) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Iklan Freedom Institute dinilai Politis

 Jakarta, Ribath Nurul Hidayah
Iklan mendukung kenaikan harga BBM yang dimuat diharian kompas (sabtu 26/2/2005) ternyata mengundang respon berbagai pihak. Pasalnya ditengah gencarnya penolakan kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh mahasiswa, aktivis LSM dan masyarakat ternyata sekelompok intelektual maupun aktivis LSM yang disponsori oleh freedom institute melakukan langkah kontra produktif  dengan cara kampanye mendukung kenaikan BBM. Kritik atas  iklan tersebut disampaikan Andrianof A Chaniago saat  konferensi pers wartawan di Jakarta pada senin (28/2) .

staf pengajar pascasarjana Fakultas ilmu social dan ilmu politik UI itu mengatakan, iklan itu selain dikhawatirkan berdampak menyesatkan terutama pada proses pembuatan kebijakan menaikkan harga BBM, iklan itu juga dianggap sebagai upaya pemerintah memprakondisikan kebijakan yang pasti akan dikeluarkan itu. “kami khawatir iklan dukungan ini sekedar menjadi iklan politik”, ujarnya tegas.

Hal senada juga disampaikan Masdar F. Mas’udi, yang dihubungi secara terpisah oleh Ribath Nurul Hidayah, Ketua PBNU ini menegaskan iklan itu kurang sesuai dengan fatsoun akademis dan bersifat politis. Karena mereka mendukung dan mensosialisasikan kebijakan politis. Sebaiknya, lanjut direktur P3M ini, para aktivis LSM dan intelektual itu lebih berkonsentrasi mengawal alokasi dana dari pemerintah ke rakyat miskin sebagai pengalihan subsidi BBM tersebut.

“iklan seperti itu secara hukum memang tidak haram, tapi dalam situasi begini saya kira kurang pas”, jelas nya.

Kenaikan BBM yang diikuti dengan kenaikan bahan pokok lainnya memang dilematis karena disatu sisi perekonomian masyarakat belum membaik tapi disisi lain memang bahan mentah minyak sudah naik sejak beberapa waktu lalu sehingga,  Menurutnya, pemerintah harus mendasarkan spirit  keadilan dalam mengambil kebijakan termasuk kenaikan BBM tersebut. adil disini berarti memperhatikan kebutuhan dasar yang menjadi prioritas masyarakat banyak.

“intinya adalah kebijakan yang memberi kemaslahatan  umat”, lanjutnya mengakhiri pembicaraan via telpon.

Sebagaimana yang kita ketahui, iklan dukung mendukung kenaikan harga BBM ini melibatkan 36 aktivis LSM dan intelektual atas sponsor dari Freedom Institute, sebuah LSM di Jakarta yang dikenal dekat dengan Abu Rizal Bakrie.(alf/kcm)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Habib, Doa Ribath Nurul Hidayah

Iklan Freedom Institute dinilai Politis (Sumber Gambar : Nu Online)
Iklan Freedom Institute dinilai Politis (Sumber Gambar : Nu Online)

Iklan Freedom Institute dinilai Politis

Minggu, 30 Juli 2017

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa

Sleman, Ribath Nurul Hidayah. Anak muda NU meminta konsep Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) diterapkan dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang. Ahwa dianggap sebagai konsep ideal untuk mengembalikan marwah ulama dan menjaga Muktamar dalam rel yang lurus sesuai khittah NU.

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda NU Minta Muktamar Terapkan Ahwa

Agar tidak ada lagi kesan kiai “diadu” dengan kiai lain dan membawa resiko konflik laten maupun terbuka seusai Muktamar. Terlebih jika terjadi mobilisasi dukungan dengan segala cara.

Hal tesebut dinyatakan oleh anak muda NU yang menggelar Musyawaroh Kubro 2015 “Merembug  Jam’iyyah, Bangsa, Dunia”  di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, Jumat-Sabtu (22-23/5).

Ribath Nurul Hidayah

Salah satu penggagas acara, Nur Khalik Ridwan mengatakan, konsep Ahwa yang telah dibahas matang dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Cirebon tahun 2012 dan di Jakarta tahun 2014, harus diterapkan dalam Muktamar 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Sebab, menurutnya, Ahwa adalah model ideal untuk menata organisasi NU. Apalagi, Ahwa telah dipraktikkan di muktamar-muktamar NU di masa awal perkembangannya.

“Konsep Ahwa harus diterapkan lagi di NU. Harus dimulai dari Muktamar 2015 ini,” ujar pegiat Jamaah Nahdliyin Yogyakarta (JNY) ini.  

Ia memohon seluruh kiai struktural maupun mendorong penerapan konsep yang mendorong supremasi ulama tersebut. Dukungan atas pemakaian Ahwa, sambungnya, harus menjadi suara bulat seluruh ulama dan warga NU.

“Penerapan Ahwa dalam muktamar harus kita dorong menjadi suara bulat. Harus menjadi kesadaran bersama seluruh kiai maupun warga Nahdlatul Ulama,” tandasnya.

Peserta Musyawaroh Kubro Anak Muda NU 2015 asal Depok, Jawa Barat, Imam Malik mengaku risih mendengar ada sebagian pengurus NU di suatu daerah menyatakan menolak penerapan konsep Ahwa dalam Muktamar 2015.

Anak muda NU, kata dia, akan melakukan segala upaya agar konsep ideal tersebut tidak dibegal di tengah jalan. Apabila ada yang menolak penerapan Ahwa, maka pihak yang menolak tersebut perlu diberi sanksi sosial maupun sanksi organisasi.

“Saya risih ada oknum pengurus NU di suatu daerah di Indonesia menyatakan menolak konsep Ahwa. Itu sungguh menyedihkan. Kami merekomendasikan agar pelaku penolakan itu diberi sanski sosial atau dita’zir secara organisasi,” ujarnya.

Ia merasa lelah melihat suasana perebutan kepemimpinan NU di setiap Muktamar. Maka sekarang saatnya kembali ke model musyawarah mufakat.

“Marwah ulama harus dijaga. Jangan terus-menerus memakai model pemungutan suara,” ujarnya.

Voting, lanjut Imam Malik, diharapkan jangan terjadi dalam pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, apalagi dalam pemilihan Rais Am Syuriyah.

“Kami sudah menyepakati dalam beberapa pertemuan, Muktamar NU besok perlu diupayakan tidak ada voting. Terlebih untuk Rais Am Syuriyah, harus haram memakai voting,” tegas dia.

Hal senada disampaikan  Ahmad Majidun. Aktivis Gerakan Pemuda Ansor asal Kabupaten Magelang ini mengusulkan satu pasal dalam peraturan tata tertib Muktamar.

Yaitu pasal yang mengatur siapapun yang terbukti memakai politik uang dalam Muktamar NU didiskualifikasi apabila terpilih.

“Di Muktamar NU 2015 harus ada aturan yang tegas. Siapapun yang terbukti memakai politik uang dalam pemilihan, dinyatakan batal alias tidak sah,” usulnya.

Musyawaroh Kubro ini difasilitasi oleh Jamaah Nahdliyin Yogyakarta –JNY. Peserta adalah kaum muda nahdliyin dari pelbagai daerah di Indonesia, yang mayoritas pernah menimba ilmu di Yogyakarta. Dihadiri tak kurang 80-an orang. Termasuk Ketua PBNU M Imam Aziz dan putri almarhum Gus Dur Alissa Qotrunnada Munawwaroh Wahid. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 29 Juli 2017

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir mengingatkan, berpaling dari Allah tak hanya dialami orang-orang kafir.

Kondisi yang disebut Imam al-Ghazali sebagai tertipu (maghrur) ini dapat menimpa siapa saja, termasuk para ulama, habib dan kaum sufi.

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangankan Orang Biasa, Para Sufi pun Bisa Tertipu

Umat Islam kerap tertipu dengan prestasi ibadah, ilmu pengetahuan atau kekayaan yang dicapai, seraya melupakan ketetapan batin bersama Tuhan, muara dari segala tujuan.

Ribath Nurul Hidayah

“Yang para sufi aja bisa kena tipu apalagi biasa-biasa aja,” terangnya saat mengurai kandungan kitab al-Kasyf wat Tabyin fi ghururil Khalqi Ajma’in karya Imam al-Ghazali di Jakarta, Selasa (6/11) sore. Kitab ini merupakan bacaan rutin Kiai Saifuddin bersama para mahasiswanya dalam sebuah forum pengajian.

Ribath Nurul Hidayah

Di bagian awal Imam al-Ghazali menjelaskan, selain orang kafir, ada empat jenis lain yang juga bisa tertipu. Mereka adalah orang-orang mukmin yang teridiri dari para cendekia (ulama), ahli ibadah, pemilik kekayaan, dan penggiat tasawuf.

“Pada akhirnya yang sudah dikira tidak tertipu, itu masih tertipu, yaitu para sufi yang telah melewati daerah maqamat, daerah ahwal. Yang sudah mengalami mukasyafah-mukasyafah sekalipun, ternyata pada gilirannya mereka tertipu,” imbuhnya.

Dengan kenyataan ini Kiai Saifuddin mengimbau setiap orang untuk ekstra hati-hati dengan seluruh sikapnya. Ketekunan ibadah, kepandaian, dan semangat perjuangan Islam tak menjamin mereka selamat dari ketertipuan.

Ia mencontohkan, betapa banyak umat Islam berbondong mengunjungi Baitullah ke Makkah dengan motivasi yang tidak tepat. Melalui baju ibadah, mereka terkadang membesitkan niat sekadar bersenang-senang atau mencari nafkah.

“Ada yang berhaji untuk piknik. Mereka sebut siyahah. Ada yang untuk meminta-minta. Dan itu realitas,” ungkapnya.

Redaktur  : A. Khoirul Anam

Penulis      : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 28 Juli 2017

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, sudah ada embrio organisasi yang menjadi cikal bakal NU, salah satunya adalah Nahdlatut Tujjar yang merupakan perkumpulan para pengusaha NU yang didirikan oleh KH Wahab Hasbullah, dan dipimpin oleh Hasan Gipo, yang kemudian menjadi ketua tanfidziyah pertama NU.

“Para kiai sadar bahwa masyarakat NU masih ketinggalan dalam perekonomian, karena itulah dibentuk wadah Nahdlatut Tujjar untuk mendukung aktifitas keagamaan warga NU yang sudah sangat kuat,” katanya dalam acara launching NU Expo 2012 dan Rembug Nasional Saudagar NU di halaman gedung PBNU, Kamis (5/1).

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar

Islam, kata Kiai Said, sangat menghormati dunia usaha. Buktinya, Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad, merupakan nabi yang dilahirkan dari suku pedagang, yaitu suku Quraisy.? Diantara anggota suku tersebut, seperti Abu Sufyan, Abu Lahab dan Umayyah, merupakan para saudagar yang dihormati masyarakatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, menurut Kiai Said, merupakan salah satu modal utama untuk menciptakan stabilitas. Karena itu, diperlukan adanya kebijakan yang adil dan mengayomi rakyat kecil agar mereka bisa terentas dari kemiskinan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kekayaan yang ada di Indonesia cukup untuk menhidupi 250 juta rakyat Indonesia, tetapi tidak cukup memenuhi hasrat satu orang yang rakus,” paparnya.

Ia menyampaikan penghargaannya atas upaya Lembaga Perekonomian NU dan Himpunan Pengusaha NU (HPN) dalam menggairahkan dan mendorong tumbuh kembangnya kewirausahaan di lingkungan NU.

“Ini merupakan langkah positif harus kita apresiasi agar kita dapat bangkit seperti yang lain,” paparnya.

Kiai Said juga memotivasi para pengurus LPNU, HPN dan lembaga lainnyayang hadir dalam acara tersebut bahwa aktif dan berkorban untuk NU tidak akan menjadi melarat, meskipun tidak ada gaji yang diperoleh. Banyak orang telah membuktikan adanya berkah yang diperoleh karena keikhlasannya dalam berjuang untuk ummat.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i

Guratan wajah atau air muka merupakan ekspresi seseorang paling jujur, kecuali jika ia memang sedang berpura-pura seperti karena tuntutan peran dalam sebuah pertunjukan drama,? atau memang ada maksud tertentu bersifat spiritual. Ekspresi seseorang yang paling dapat dipercaya sebenarnya adalah pada saat sendirian, atau pada saat sedang tidur. Pada diri Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—ekspresi wajah yang benar-benar? mencerminkan suasana batinnya adalah pada saat sendirian.

Mbah Ngis ketika sedang sendirian guratan wajahnya sangat tampak. Kehidupan yang dijalaninya? memang berat sehingga wajahnya kadang menampakkan keseriusan yang mendalam. Maklum, Mbah Ngis memiliki 13 anak dengan ekonomi lemah. Tapi wajah serius itu hanya tampak ketika Mbah Ngis yakin tak ada orang lain di sekitarnya. Begitu disadarinya ada kehadiran orang lain dengan serta merta Mbah Ngis menampakkan wajah? “sumringah” dengan senyum merekah. ?

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i

Imam Syafi’I dalam kitab Manaqib Imam Syafi’i, karya Al-Baihaqi (2/188), menyatakan bahwa ada tiga tanda? yang menunjukkan bahwa seseorang adalah sosok yang hebat. Tanda pertama adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta. Imam Syafi’i menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya:“Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.”

Ribath Nurul Hidayah

Kemampuan tersebut dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Hal ini tampak dari sikap Mbah Ngis yang tidak suka meminta kepada siapa-siapa meski Mbah Ngis bukan orang berpunya.? Mbah Ngis hanyalah seorang pedagang kecil sekecil modal yang dimilikinya; pun sekecil warung tempat Mbah Ngis berjualan. Justru yang menonjol dari Mbah Ngis adalah hal yang sebaliknya, yakni bersedekah terutama kepada orang-orang lemah yang membutuhkan. ?

Setiap kali dalam kesulitan keuangan, Mbah Ngis tidak pernah meminta-minta kepada siapa pun. Dalam keadaan mendesak, Mbah Ngis meminjam uang kepada pihak-pihak tertentu yang mampu meminjami seperti? bendahara arisan di mana Mbah Ngis bergabung sebagai anggota, atau kepada saudara dekat yang berpunya. Kepada anak-anak Mbak Ngis yang sudah bekerja, Mbah Ngis juga tidak pernah meminta uang, tetapi meminjam secukupnya dan selalu berusaha mengembalikannya.? ? ? ?

Tanda kedua adalah kemampuannya menyembunyikan kesusahannya sehingga orang lain mengira ia selalu senang. Imam Syafi’i menyatakan:

? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang.”

Kemampuan seperti itu juga dimiliki Mbah Ngis. Banyak orang mengenal Mbah Ngis sebagai perempuan yang ramah dan ceria. Mbah Ngis memang tidak suka memperlihatkan kesedihan kepada sesama manusia, tetapi lebih suka mengadukan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada Allah SWT.? Mbah Ngis dapat bermunajat atau berkeluh kesah kepada Sang Pencipta kapan saja menginginkannya terutama ketika di sekitarnya tak ada seorangpun.

Kepada sesama manusia Mbah Ngis lebih suka berbagi kebahagiaan sehingga suka bersenyum dan bersedekah seperti kepada para santri dengan apa yang telah ada di tangannya seperti tahu, tempe, atau bakwan dan uang seadanya untuk para pengemis yang memintanya. Mbah Ngis memang orang kecil sekecil peranannya di komunitas pesantren dimana Mbah Ngis tinggal. Mbah Ngis tidak pernah berpikir kaya dulu baru kemudian berderma.

Tanda ketiga adalah kemampuannya menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira ia ridha. Imam Syafi’i menyatakan:

? ? ? ? ? ? ?

Artinya:“Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha

Kemampuan ketiga tersebut juga dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Mbah Ngis dikenal sebagai wanita yang sangat sabar dan jarang marah. Mbah Ngis pernah dilabrak seorang perempuan yang datang ke rumah Mbah Ngis dengan marah-marah, padahal Mbah Ngis tidak bersalah. Mbah Ngis tidak membalas kemarahan itu. Malah sebaliknya Mbah Ngis menasihatinya baik-baik.

Selain itu, Mbah Ngis selalu dapat menahan kemarahannya setiap kali melihat ada orang? mengambil barang? dagangannya tanpa bayar. Mbah Ngis hanya berusaha mengingat orang itu. Sewaktu-waktu ketika sepi tak ada orang lain Mbah Ngis dapat menasehatinya agar tidak lagi mengulang perbuatannya. Dipilihnya saat sepi karena Mbah Ngis tidak ingin mempermalukan anak atau orang tersebut di hadapan orang banyak.

Begitulah Mbah Ngis yang mampu menyembunyikan tiga hal yang meliputi kefakiran, kesusahan dan kemarahan. Dengan kemampuan seperti itu Mbah Ngis dikenang oleh saduara-saudara dan teman-temannya sebagai perempuan bukan biasa. Imam Syafi’i mengakui siapapun yang memiliki ketiga kemampuan diatas adalah orang-orang hebat. Dan tentu saja? pantas? diteladani.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Doa Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 26 Juli 2017

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar

Pekan ini, Muslim Indonesia menerima tamu kehormatan Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Muhammad Ahmed El Tayeb yang kedudukan di Mesir setara dengan perdana menteri. Sebagai tokoh agama ia diangkat seumur hidup. Dalam berbagai pernyataanya selama kunjungan ke sejumlah tempat di Indonesia, El Thayeb secara tegas telah menunjukkan sikap Islam moderatnya, sikap yang selama ini terus diperjuangkan oleh NU. Dengan adanya kesamaan tersebut, inilah saatnya untuk membangun sinergi dalam memperluas jejaring dan memperjuangkan Islam moderat di dunia.

Banyak aspek yang dapat dimanfaatkan dalam kunjungan ini. Mesir merupakan negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, saat sejumlah negara lain bahkan “memberi boncengan” untuk mendorong Belanda menduduki Indonesia. Ini adalah peristiwa sejarah yang patut dikenang. Dukungan moral dari Mesir tersebut telah membantu menjaga semangat para Pendiri Bangsa untuk terus berjuang. Indonesia dan Mesir merupakan dua negara dengan penduduk Muslim terbesar di kawasannya masing-masing. Dinamika yang terjadi di kedua negara tersebut pasti akan mempengaruhi wilayah di sekitarnya.?

Al-Azhar memiliki catatan sejarah akan kualitas dan kemampuannya bertahan menghadapi berbagai tantangan zaman, dari perubahan dinasti, era kololisasi sampai perubahan rezim di Mesir. Al-Azhar tetap mampu bertahan dan melahirkan pada tokoh yang membawa pencerahan bagi dunia Islam. Banyak pemuka agama Islam di Indonesia yang belajar di sana. Di lingkungan NU sendiri, KH Abdurrahman Wahib atau Gus Dur pernah belajar di sana. Demikian pula KH Musthofa Bisri menyelesaikan pendidikannya di institusi tersebut. Secara langsung pendidikan di Azhar membawa pengaruh kepada NU melalui tokoh-tokoh NU yang dididik di sana.?

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar

Di institusi tersebut, berbagai pemikiran dan aliran Islam dengan bebas dikaji. Dengan demikian, para mahasiswanya diajarkan untuk mengenal berbagai aliran dan pemikiran Islam. Jika pada akhirnya, dengan proses perenungannya menemukan sebuah pandangan yang dianggapnya lebih sesuai, maka itulah yang dipilih. Tetap terdapat proses penimbangan berbagai pandangan dan argumentasi yang menyertainya. Azhar tidak bersifat doktriner dalam pengajarannya. Model seperti inilah yang juga dilakukan di pesantren dengan membahas berbagai pandangan yang berbeda. Dari sinilah tradisi Islam moderat yang menghargai pandangan orang lain muncul.?

Sebagai sebuah institusi yang telah teruji kualitasnya, yang ditunjukkan oleh pengaruh besar dari para alumninya, tentu banyak hal yang bisa dipelajari dari Al-Azhar dan kemudian diterapkan pada pendidikan Islam di Indonesia. Saat ini ada ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di institusi tersebut. Tetapi akan lebih baik jika institusi pendidikan di Indonesia sendiri juga mampu menerapkan metode-metode atau tradisi kesuksesan tersebut sehingga semakin banyak umat Islam yang tercerahkan dengan pendidikan tinggi Islam yang moderat.?

Ribath Nurul Hidayah

Kondisi dunia Islam saat ini menghadapi tantangan akan radikalisme dan kekerasan yang telah menghancurkan peradaban yang sekian lama dibangun dan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Mesir sendiri sedang bergulat dengan tantangan internalnya yang hingga kini belum menemukan ujung penyelesaian.?

Dengan sejumlah kesamaan antara Mesir dan Indonesia, serta Al-Azhar dengan NU sebagai pengusung Islam moderat, sudah sangat selayaknya jika momentum kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama lebih lanjut guna memperjuangkan nilai-nilai Islam moderat yang telah menjadi perhatian yang sama. Jika dua kekuatan besar ini bergabung, akan banyak hal yang bisa diselesaikan. Banyak sumberdaya yang telah dimiliki, tinggal bagaimana mengelola dan mensinergikan kedua potensi tersebut untuk kebaikan umat Islam. (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 25 Juli 2017

Sururi Pimpin PW Pergunu Jawa Timur

Mojokerto, Ribath Nurul Hidayah - Konferensi Wilayah Pergunu Jawa Timur berjalan dengan lancar dan sukses. Beberapa sidang seperti sidang komisi dan pleno hampir tidak ada suara penolakan. Laporan pertanggungjawaban yang rawan akan kegaduhan hingga penolakan, terlihat dan terdengar sepi.

Itulah kondisi Konferwil Pergunu Jawa Timur yang dilaksanakan di Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Sabtu-Ahad (5–6/8).

Sururi Pimpin PW Pergunu Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sururi Pimpin PW Pergunu Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sururi Pimpin PW Pergunu Jawa Timur

Dengan bergilir, sebanyak 33 cabang yang memiliki suara sah memilih Ketua Pergunu Jatim 2017-2022. Sesuai dengan tatib pasal 15 ayat 2 menyebutkan bakal calon ketua ditetapkan sebagai calon sekurang-kurangnya didukung oleh 9 suara yang sah.

Dari enam bakal calon yang muncul, hanya satu yang lolos dan memenuhi syarat meraih 9 suara atau lebih. H Sururi meraih 20 suara dan ditetapkan sebagai ketua terpilih secara aklamasi.

Ribath Nurul Hidayah

"Ini adalah amanah yang harus saya emban. Dengan ucapan bismillah saya bersedia menjadi Ketua Pergunu Jatim," kata Sururi saat diminta kesediaannya oleh pimpinan sidang.

"Semoga konferwil ini menjadi awal kebangkitan Pergunu Jawa Timur. Konsolidasi organisasi akan terus dilakukan. Bertekad menjadikan para guru professional dan memetakan potensi guru atau dosen," pungkas Sururi, disambut tepuk tangan oleh para peserta.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai pembantu untuk menyusun pengurus, konferwil membentuk tim formatur yang terdiri atas enam zona. Dan ditambah dari unsur pimpinan pusat serta ketua demisioner.

"Ketua tim formatur ketua terpilih, sesuai dengan pasal 16 ayat 1, penyusunan pengurus selambat-lambatnya 60 hari terhitung sejak pelaksanaan konferwil," tegas pimpinan sidang. (Rof Maulana/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Halaqoh, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat

Rembang, Ribath Nurul Hidayah. Bagi warga NU di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang ingin mengirimkan tahlil, Radio NU Rembang (NURFM) setiap Jumat ada acara kirim doa bagi keluarga yang sudah meninggal, usai shalat jumat.

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio NU Rembang Gulirkan Program Kirim Doa Tiap Jumat

Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari syiar Aswaja dan menjalankan amaliah NU. Program ini digagas oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Rembang.

Suyoto Tohir sebagai pembaca tahlil dan doa secara live di radio NUR FM menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk meneruskan tradisi para ulama sepuh yang biasa mendoakan orang lain.

"Tujuannya adalah sebagai bentuk melestarikan budaya para sesepuh yang biasa mendoakan orang lain terutama yang sudah meninggal,” tuturnya beberapa waktu lalu di Rembang.

Menurut salah seorang crew radio NUR FM Rembang Nia Syafira mengemukakan, pendengar bisa memberikan catatan nama orang yang mau didoakan dibarengi dengan shodaqoh jariyah se- ihklasnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Caranya mudah, hanya dengan memberikan catatan keluarga yang sudah meninggal, dan dikirimkan langsung ke studio radio NUR fm Rembang, dan disertai dengan shodaqoh se-ikhlasnya," jelasnya.

Selain acara kirim doa, di radio NUR fm Rembang diantara mengenalkan para tokoh NU, baik nasional maupun lokal di Kabupaten Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 21 Juli 2017

Bangun Soliditas, Muslimat NU Kraksaan Gelar Pertemuan Rutin 3 Bulanan

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Muslimat NU Kota Kraksaan menggelar silaturahmi dengan pengurus Muslimat NU di tingkat anak cabang di aula Kantor MWCNU Kecamatan Banyuanyar, Selasa (3/1). Kegiatan rutin tiga bulan sekali ini dimaksudkan untuk membangun kekompakan, soliditas, dan kebersamaan di antara sesama pengurus.

Pertemuan cabang dan pengurus anak cabang Muslimat NU digelar secara bergantian. Sedikitnya 100 orang dari pengurus di semua tingkatan menghadiri pertemuan ini. Kegiatan ini diawali dengan pembacaan Shalawat Nahdliyah yang dipimpin oleh ST Nur Tamami.

Bangun Soliditas, Muslimat NU Kraksaan Gelar Pertemuan Rutin 3 Bulanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Soliditas, Muslimat NU Kraksaan Gelar Pertemuan Rutin 3 Bulanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Soliditas, Muslimat NU Kraksaan Gelar Pertemuan Rutin 3 Bulanan

Ketua Muslimat NU Kota Kraksaan Hj Zulfa Badri mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun kebersamaan karena Allah SWT. “Pengurus harus solid. Usaha lahir dan batin harus dilakukan secara istiqamah,” katanya.

Sementara Sekretaris Muslimat NU Kota Kraksaan Qurratu Aini mengatakan, program ke depan harus benar-benar dikaji dan mampu dilakukan Muslimat NU sesuai dengan kemampuan yang ada di setiap layanan serta dianalisa lewat 4 (empat) pilar kekuatan sebagai indikator keberhasilan, yakni revitalisasi struktur organisasi, infrastruktur, SDM, dan pendanaan.

Ribath Nurul Hidayah

“Revitalisasi struktur organisasi harus dilakukan di semua tingkatan, infrastruktur sebagai fasilitas, SDM jangan sampai meninggalkan tradisi silaturahmi Aswaja (Ahlussunah wal Jamaah) yang harus dibekali ilmu pengetahuan yang tinggi untuk berdakwah. Sumber dana perlu diaktifkan di setiap tingkatan tidak memberatkan anggota, tapi akan menjadi sumber kekayaan Muslimat NU ke depan,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya dalam pembinaan, jelas Qurrotu Aini, masalah keagamaan seperti pengajian, tahlilan, Yasinan, Sholawatan lebih dari ini, Muslimat NU telah memberikan kontribusi yang berarti.

“Misalnya telah dibentuknya Laskar Antinarkoba sehingga nantinya diharapkan bisa bersinergi dengan pemda dan masyarakat untuk memberantas yang bathil dan mengalahkan yang batil,” jelasnya.

Menurut Qurrotu Aini, ke depan diharapkan Muslimat NU dapat melakukan pemetaan atau strategi dakwah baru dengan mengkolaborasi atau memadukan 5 W+ 1H (What, Where, Who, When, Why dan How) dalam setiap persoalan dakwah yang terjadi.

“Format dakwah kita masih sangat dominan dengan dakwah bil lisan, bukan tidak perlu tetapi terkiat dengan format dakwah ini kita harus introspeksi diri, koreksi dan muhasabah bersama bagaimana ada keseimbangan antara dakwah bil lisan, bil hal dan bil mal,” terangnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Kader IPNU-IPPNU Gebog Segarkan Semangat Juang

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Katib Syuriyah MWCNU Gebog kabupaten Kudus KH Noor Hadi mengingatkan pelajar NU untuk menjaga stamina perjuangan dalam menegakkan keimanan dan paham Asawaja NU di tengah masyarakat. Kiai Noor Hadi mendorong kaderisasi di kalangan pelajar untuk menjaga semangat perjuangan.

Kader IPNU-IPPNU Gebog Segarkan Semangat Juang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU-IPPNU Gebog Segarkan Semangat Juang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU-IPPNU Gebog Segarkan Semangat Juang

“Mari kita berjuang melalui NU dalam memperteguh keimanan maupun aqidah Aswaja NU,” kata Kiai Noor pada acara Halal Bihalal IPNU-IPPNU Gebog di masjid Miftahul Falah desa Kedungsari, Ahad (10/8) malam.

Menurut Kiai Noor, manusia tidak boleh hidup menganggur dari perjuangan. Allah telah menyediakan kesehatan dan kecukupan rezeki di dunia dan surga bagi mereka yang memperjuangkan ajaran-Nya dan syariat Rasul-Nya.

Ribath Nurul Hidayah

“Tentu saja untuk bisa masuk surga kita harus tekun dalam berjuang sehingga kita tidak perlu neko-neko (asal-asalan) dalam kehidupan,” terang Kiai Noor di hadapan ratusan pelajar NU di Gebog pada acara Halal Bihalal yang dikemas dalam kegiatan rutin Padang Bulanan ini.

Ribath Nurul Hidayah

Halal Bihalal ditutup dengan pembacaan sholawat Simthud Duror yang diiringi ratusan penabuh rebana kader IPNU-IPPNU Gebog.(Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

Jakarata, Ribath Nurul Hidayah. Lebih dari seribu calon pemudik memadati Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta ? Pusat, Senin (6/8). Mereka berbondong mengambil tiket pulang dengan arah tujuan bervariasi di sepanjang Pulau Jawa.

Pengambilan tiket ini merupakan tindak lanjut peserta mudik setelah pengisian formulir pendaftaran yang dibuka sejak Jumat (27/7). Dengan membawa bukti nomer tiket yang telah diterima, mereka akan mendapatkan kursi bus yang akan diberangkatkan pada 12 Agustus 2012 nanti.

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

“Mengingat banyaknya peserta, panitia punya kebijakan, penukaran tiket dilakukansecara bertahap. Kita utamakan dari trayek paling jauh terlebih dahulu,” ujar Mujahidin, Kordinator Mudik Bareng NU 1433 H.

Ribath Nurul Hidayah

Program yang digelar PBNU melalu Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) ini menyediakan 26 bus mudik. Dengan jumlah tersebut, kira-kira 1.400 pemudik akan mendapat kesempatan mudik bareng NU secara gratis.

Ribath Nurul Hidayah

PP LTMNU telah menyiapkan 99 masjid sebagai posko mudik yang membentang dari Merak hingga Banyuwangi. Ini berarti para pemudik berkesempatan mendapatkan sarana istirahat lebih nyaman. Apalagi, selain melepas lelah, mereka yang mayoritas warga Nahdliyin ini dapat melaksanakan sembahyang dengan lebih tenang dan khusuk.

“Motto kami adalah mudik nyaman, aman, sampai tujuan,” tandas Mujahidin.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 19 Juli 2017

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Manusia di dunia, kadang lupa diri ketika diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga kadang berbuat diluar nalar dan lebih membanggakan diri sendiri tanpa memperhatikan kekuatan yang lebih dasyat. Bahkan dibandingkan dengan alam sekitarnya pun, manusia kadang kalah.



Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Seperti yang dicontohkan laut. Bagaimanapun banyaknya anak sungai yang airnya mengalir kelaut namun air laut tak akan kehilangan asinnya.

“Artinya kita selaku manusia meskipun banyak sekali ilmu pengetahuan maupu segala sesuatu yang dapat kita serap namun kita jangan sampai kehilangan jati diri,” pinta KH Habib Lutfi bin Ali Yahya pada saat menyampaikan tausiyah Maulid Nabi dan Haul Muassis ke-24 di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes Senin (22/2).

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Habib, bila para alim memiliki jatidiri, maka akan selalu berada di dijalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam. “Era sekarang, pencemaran laut terus mendera, tapi tetap saja terasa asin,” ucapnya mantap.

Tak terkecuali manusia, setiap hari diterpa pencemaran. Baik itu berupa harta, tahta maupun wanita yang sangat menggiurkan. Tapi bila tetap berpegang pada jatidiri yang hakiki, tidak akan tergoyahkan.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir pada acara tersebut wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro, SH MSi, Walikota tegal H. Ikmal Jaya, Kapolres dan wakapolres Brebes, Muspida dan muspika, kepala SKPD, ki dalang Entus dan ratusan Santri dan santriwati serta masyarakat umum lainnya.

Sebelumnya panitia juga mendaulat dalang kondang asal tegal Ki Entus Susmono untuk memberikan sedikit sambutan. Dengan gaya bahasanya yang blak-blakan, jamaah yang hadir dibuat ketawa lepas. Karuan saja, suasana mendadak ramai dan meriah. 

Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro, SH MSi yang membacakan sambutan Bupati, mengucapkan terima kasih atas kedatangan habib lutfi di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh pondok pesantren assalafiah desa Luwungragi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten Brebes setiap tahunya telah memperhatikan kebutuhan beragama mulai dari Pondok pesantren, madrasah dan lainya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar pendidikan agama tetap ditanamkan sejak dini. Selanjutnya bupati berpesan kepada yang hadir pada acara tersebut agar dapat menjaga kerukunan antar sesama terutama kerukunan antar umat beragama, mengingat kabupaten brebes memiliki wilayah yang cukup luas. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Momen Hari Santri Nasional akan dijadikan sebagai momentum langkah awal untuk menata pendidikan madrasah menjadi lebih baik lagi. Demikian disampaikan Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI, Prof Dr Nurkholis Setiawan di depan Para Guru Madrasah Aliyah Negeri di Pusdiklat Kemenag Jakarta, Jumat (23/10).

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Hari Santri untuk Pendidikan Madrasah yang Lebih Baik

Prof Nurkholis mengatakan, bahwa dalam pengelolaan pendidikan Islam khususnya madrasah, bukan persoalan mengenai budget anggaran semata, namun yang lebih penting menurutnya adalah komitmen dari semua pihak untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Salah satu komitmen dalam penataan Madrasah adalah peningkatan kualitas guru dalam mencetak generasi yang percaya diri dan berkualitas. "Guru harus menciptakan generasi yang percaya diri. Dan semua itu harus diawali dari kepercayaan diri Gurunya," tegas pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan, berbagai macam terobosan lain dalam pengembangan Madrasah adalah program diversifikasi madrasah yang telah digulirkan Kementerian Agama. "Salah satu contoh program ini adalah mendirikan Madrasah Aliyah Kejuruan diberbagai Provinsi," terang Guru Besar UIN Yogyakarta ini.

Dalam hal pendirian Madrasah ini, menurutnya berbagai negara sudah mengajukan permintaan untuk dapat medirikan Madrasah di Indonesia. Namun menurut Guru Besar Tafsir kelahiran 1971 ini, diperlukan kehati-hatian dan pendalaman secara komprehensif dalam menjawab permintaan tersebut terkhusus dalam hal pemahaman.?

Ribath Nurul Hidayah

"Kita sudah sepakat dengan konsep Islam Nusantara. Madrasah yang diusulkan harus jelas, dan tidak membawa serta menyebarkan paham-paham radikal di Indonesia," tegasnya. Oleh karena itu, ia mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan madrasah secara kolektif. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 18 Juli 2017

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan

Medan, Ribath Nurul Hidayah. Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Benny Rhamdani melakukan silaturahmi dengan pengurus Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor Pengurus Wilayah (PW) NU Sumatera Utara, Jalan Sei Batanghari Medan, Kamis (9/3). ?

Kunjungan Benny Rhamdani yang juga Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Utara (Sulut) itu diterima Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea, Wakil Ketua Jasrul Lubis, Kamil Lubis, Bendahara El-Suhaimi, mantan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Adrian Azhari Akbar Harahap.

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan

Juga hadir mantan Ketua PW IPNU Sumut ? Gunawan Abdi Hasibuan, Sekretaris PW IPNU Sumut ? Aliaga Hasibuan, Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumut Bobby Dalimunthe, dan jajaran pengurus Banom NU Sumut lainnya.

Dalam silaturahmi yang dirangkai dengan dialog kebangsaan itu, Benny Rhamdani mengatakan, situasi dan kondisi bangsa saat penuh tantangan terutama dalam menangkal radikalisme guna menjaga keutuhan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

"Menjaga keutuhan NKRI merupakan tanggung jawab kita sebagai Badan Otonom NU. Karena sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU harus berada di garda terdepan dalam mewujudkan bangsa ini menjadi negeri yang damai," kata Wakil Ketua Komite Etik DPD RI ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskannya, sat ini merupakan momentum generasi muda terutama Banom NU dalam meraih kepemimpinan di negeri ini. "Namun semua itu dapat diperoleh bila saling bahu membahu untuk saling membesarkan dan memanfaatkan momentum yang ada," katanya.

Sementara itu, Mulia Banurea mengatakan, Banom NU di Sumut saat ini tengah gencar melakukan kaderisasi. Dengan banyaknya kader muda NU di Sumut, diharapkan sebagai tonggak pemersatu pemuda dan penentu bangsa ini.

"Dengan jumlah yang banyak dalam satu bingkai yang sama, tentu dapat menangkal radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI," kata Mulia yang juga Ketua KPU Sumut.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Jasrul Lubis mengatakan, kebersamaan dan persatuan-kesatuan Banom NU di Sumut selalu terjalin dengan baik. Tugas berat sekarang tinggal merumuskan kebersamaan ini menjadi satu kekuatan besar dalam menjaga NKRI dan meraih kemenangan dalam setiap momentum yang ada.

"Kesempatan ini harus kita mulai dari diri kita dan menjalin kebersamaan antarsesama dan selalu mengikuti nasihat-nasihat Kiai NU. Dengan demikian cita-cita kita akan tercapai," kata Jasrul. (Hamdani Nasution/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Sunnah, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Septi Rahmawati Pimpin Kopri PB PMII 2017-2019

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?



Septi Rahmawati dipercaya peserta kongres menjadi Ketua KOPRI PB PMII periode 2017-2019. Ia terpilih pada kongres ke-19 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di kota Palu, Sulawesi Tengah Ahad pagi (21/5).?

Menurut informasi yang diterima Ribath Nurul Hidayah dari peserta di arena kongres, kader PMII asal Metro Lampung tersebut, meraih suara 111 menyisihkan pesaing terkuatnya Liazul Kholifah dengan terpaut 16 suara atau memperoleh 95 suara dan Atik H. Ummah mendapatkan 35 suara. Sementara suara tidak sah 3.?

Septi Rahmawati Pimpin Kopri PB PMII 2017-2019 (Sumber Gambar : Nu Online)
Septi Rahmawati Pimpin Kopri PB PMII 2017-2019 (Sumber Gambar : Nu Online)

Septi Rahmawati Pimpin Kopri PB PMII 2017-2019

Pada pemilihan Ketua Umum PMII, sampai berita ini ditulis, masih menunggu pencoblosan putaran kedua.?

Sebelumnya, pada putaran pertama masing-masing calon mendapatkan suara sebagai berikut: Zainal Abidin: 8, Ahmad Zaerudin: 19, M. Syarif Hidayatullah: 11, Sabolach El Kalamby: 6, Taufik Nurrohim : 19, M. Zeny Zarqowi: 20, Rizavan S. Thoriqi: 1, Arief Hermanto: 26, Agus Herlambang: 64, Luqi Saadilah: 0, Ayi Sopwanul Umam: 0, Junaidi: 1, Chandra Wahyudi: 0, Iden Robet Ulum: 39, Mulyadin Permana: 5. Adapun surat suara sah: 215 dan tidak sah: 25. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Santri, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Senin, 17 Juli 2017

IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar”

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) meluncurkan kembali program beasiswa “Pintar” (Pelajar Indonesia Tangguh Religius) tahun 2010-2011 sebagai upaya untuk memfasilitasi para kader NU yang pintar dan potensial tetapi berasal dari kalangan kurang mampu.

Peluncuran program beasiswa ini dilakukan pada acara buka puasa bersama IPNU yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (24/8).

IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Luncurkan Kembali Program Beasiswa “Pintar”

Dari rilis yang disampaikan oleh panitia, ditargetkan mampu menjangkau 200 orang, yang masing-masing per satu orang mewakili satu cabang IPNU. Beasiswa ini dilakkan dalam waktu satu tahun dalam disalurkan setiap bulannya sebesar 100 ribu rupiah.

Ribath Nurul Hidayah

IPNU lebih memprioritaskan pemberian beasiswa untuk pelajar Madrasah Aliyah dengan proporsi 70 persen, sementara 30 persennya dialokasikan untuk pelajar SMU.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang berhak mendapat beasiswa merupakan pelajar kelas X MA atau SMU di daerah atau cabang yang ditunjuk sebagai zona binaan, rangking satu di kelasnya dan jika memungkinkan memiliki nilai akademik tertinggi di sekolah, memiliki kemampuan bahasa asing, memiliki pengalaman berorganisasi, menjadi pengurus cabang IPNU dan berlatar belakang kurang mampu.

Para penerima beasiswa juga memiliki tanggung jawab, diantaranya membuat diskusi kecil rutin bulanan, minimal diikuti tiga orang dengan tema seputar kepelajaran, fenomena pendidikan, sosial dan keagamaan. Selain itu, mereka juga didwajibkan melaporkan hasil raport ujian akhir kepada pimpinan cabang IPNU yang ditunjuk sebagai pelaksana program.

Selanjutnya, mereka juga diwajibkan aktif di organisasi intra sekolah, mempersiapkan diri untuk menjadi calon ketua OSIS dan siap menerima pembinaan lebih lanjut dari pimpinan cabang IPNU.

Sebelumnya Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi menjelaskan, IPNU telah memposisikan diri ssebagai organisais pembelajar (learning organization). Dalam konsep ini, yang dihasilkan bukan hanya produk, tetapi juga melakukan peningkatan dan terobosan-terobosan.

Ia menjelaskan, secara substansial, melalui pembelajaran, dapat dirasakan hubungan manusia dan dunia dan melalui pembelajaran, dapat memperluas kapasitas untuk menciptakan serta menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan.

“Program beasiswa IPNU ini adalah kontribusi kongkrit terhadap peningkatan mutu pelajar. Selain didedikasikan untuk menciptakan generasi muda NU berkualitas secara kongnitif, prikomotirik maupun afektif, program ini diharapkan dapat mengentaskan nasib pelajar berkualitas yang masih kurang diperhatikan,” katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Sunnah, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 Juli 2017

Cara Sahabat Nabi Menanggapi Pejabat yang Hartanya Bertambah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad mengatakan, persoalan kebangsaan seperti korupsi tidak bisa diatasi oleh satu atau dua lembaga saja. Menurutnya, semua lembaga dan masyarakat harus saling bersinergi untuk memberantas korupsi.

“Persoalan kebangsaan itu tidak hanya bisa diatasi oleh satu dua lembaga, tetapi perlu melibatkan seluruh komponen komponen bangsa,” kata Rumadi saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi di lantai 8 gedung PBNU, Kamis (23/6).

Ia menilai, sejak dahulu Nahdlatul Ulama sudah melakukan beberapa upaya terkait dengan pemberantasan tindak pidana korupsi. Baginya, hadirnya buku ini merupakan upaya untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi, karena tantangan pemberantasan korupsi semakin berat.

Cara Sahabat Nabi Menanggapi Pejabat yang Hartanya Bertambah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Sahabat Nabi Menanggapi Pejabat yang Hartanya Bertambah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Sahabat Nabi Menanggapi Pejabat yang Hartanya Bertambah

“Buku ini merupakan salah satu ikhtiar bagaimana kita memperkuat gerakan anti korupsi terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Senada dengan Rumadi, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Saiq Aqil Siroj menyebutkan bahwa salah satu hasil Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (Munas NU) di Kempek Cirebon tahun 2012 adalah himbauan kepada seluruh warga NU untuk tidak membayar pajak manakala pajak tersebut dikorupsi.?

“Kalau pajak itu dikorupsi, maka PBNU menghimbau warga NU tidak usah bayar pajak,” jelas Kiai Said.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, Kiai Said menceritakan dua model kepemimpinan dua khalifah pengganti Rasulullah dalam menghadapi para pejabat negara yang hartanya bertambah setelah mereka menjadi pejabat. Pertama, model Umar bin Khattab.

“Ada khalifah yang sangat keras sekali. Kalau hanya ada laporan bahwa gubernur A sekarang kekayaannya bertambah (setelah menjadi pejabat), langsung dipecat,” papar kiai jebolan pesantren Lirboyo tersebut.

Kedua, model Ustman bin Affan. Kiai Said menceritakan bahwa gaya Ustman bin Affan cukup longgar dalam menangani kasus bertambahnya harta kekayaan pejabat.

Ribath Nurul Hidayah

“Yang penting bayar zakat, yang penting peduli dengan fakir miskin. Agak longgar lah,” ucapnya. (Ahmad Muchlishon R/Zunus)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Doa, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 Juli 2017

Badan Kesbangpol Kota Pematangsiantar Silaturahim ke GP Ansor

Pematangsiantar, Ribath Nurul Hidayah

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, bersilaturahim ke Kantor Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Pematangsiantar, Jumat (214). Kunjungan tersebut dalam rangka pembinaan organisasi kepemudaan dan untuk saling mendekatkan antara Badan Kesabangpol dengan organisasi kemasyarakatan.

Badan Kesbangpol Kota Pematangsiantar Silaturahim ke GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Kesbangpol Kota Pematangsiantar Silaturahim ke GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Kesbangpol Kota Pematangsiantar Silaturahim ke GP Ansor

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Pematangsiantar Lukas Barus menjelaskan, pihaknya ingin saling mengenal serta mendengar langsung masukan-masukan dari bawah dalam rangka pembinaan organisasi kemasyarakatan maupun kepemudaan di Kota Pematangsiantar. Ia berharap Kota Pematangsiantar tetap menjadi kota yang aman, tertib, sejuk, damai, menjaga kebinekaan, dan budaya toleransi.

Selain silaturahim, Lukas Barus dan rombongan juga hendak mendengar langsung program-program organisasi kepemudaan di Pematangsiantar. Pihak Badan Kesbangpol mengaku siap memfasilitasi dan bekerja sama dalam meningkatkan produktivitas organisasi kepemudaan di Pematangsiantar.

Ribath Nurul Hidayah

PC GP Ansor Kota Pematangsiantar bersama Banser menyambut antusias kedatangan Badan Kebangpol Pematangsiantar. Arjuna selaku ketua GP Ansor setempat menyatakan salut dengan kesediaan Badan Kesbangpol yang mau turun ke bawah untuk mendengar langsung aspirasi organisasi pemuda.

Ribath Nurul Hidayah

Arjuna mengatakan, GP Ansor mendukung kebijakan Pemerintah Kota Pematangsiantar dan mengharapkan ke depan aka nada kegiatan bersama sesama organisasi kepemudaan di Pematangsiantar yang difasilitasi Badan Kesbangpol.

“Sehingga terjalin kebersamaan dan saling mengenal sesama organisasi yang ada. Banyak contoh di luar daerah kita sesama organisasi saling bentrok, saling merasa benar karena kurangnya rasa kebersamaan untuk sama-sama menciptakan ketenteraman dan ketertiban,” tuturnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 Juli 2017

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah. Jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Guru Madrasah (PGM) Kota Tasikmalaya, Jawa barat periode 2016-2021 resmi dilantik di GOR Sukapura Dadaha, Tasikmalaya, Sabtu (23/7).

Disaksikan langsung Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dede Sudrajat, Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya, Munadi dan mantan Kepala Kemenag, Ahmad Fatoni serta ribuan guru, PGM resmi secara formal ada di Kota Tasikmalaya.

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perhimpunan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Resmi Dilantik

Ketua DPD PGM Tasikmalaya, Asep Rizal Asyari dengan semangatnya bahwa madrasah harus lebih baik karena lebih baik madrasah. Slogan tersebut sebagai titik awal membangun madrasah sebagai tonggak pendidikan utama di masyarakat.

"Saya yakin kita semua bisa mewujudkan Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah," kata dia.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Asep yang juga Wakil Ketua PW GP Ansor Jabar ini, pendidikan formal pertama di Nusantara adalah Pesantren. Kemudian dari pesantren melahirkan ruang tempat belajar baru yang disebut madrasah.

"Nah di madrasahlah segala ilmu keagamaan diajarkan yang abadi sampai sekarang," ujarnya.

Perkembangan pendidikan madrasah juga, tuturnya, tak luput dari berbagai rintangan. Yang akhirnya pemerintah mengakui pendidikan madrasah berlaku formal, disetarakan dengan pendidikan umum dibawah naungan Kemendiknas.

"Maka madrasah lebih baik suatu keharusan, karena lebih baik memang madrasah. Dan PGM salah satu penopang menuju lebih baik itu," ucapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman yang juga pengurus Mustasyar PCNU Kota Tasikmalaya menegaskan tak ada perlakuan beda bagi pendidikan apapun. Meski secara vertikal Madrasah dibawah naungan Kemenag, namun Pemerintah daerah juga dituntut peduli terutama membantu operasional guru.

"Tasik dikenal gudangnya pesantren. Setiap pesantren pasti ada madrasah. Maka kewajiban kami juga membantu madrasah," kata Budi. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 11 Juli 2017

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Said Siroj mengungkapkan, NU dan Muhammadiyah mengemban dua amanat yaitu diniyah (agama) dan wathaniyah (kebangsaan).

Hal tersebut disampaikan Kiai Said saat membuka Halaqah Kebangsaan NU-Muhammadiyah bertema “Negara Pancasila dan Khilafah” di Ruang Perpustakaan Gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (19/5).

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah Mengemban Dua Amanat Ini

“Amanat diniyah telah diajarkan para ulama, masyayikh, dan pejuang Islam agar kita selalu menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam. Dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan dakwah Islam harus dengan cara mulia dan bermartabat, karena Islam adalah agama yang mulia dan bermartabat,” kata Kiai Said dalam halaqah yang menghadirkan Sekjen PBNU Helmy Fashal Zaini dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti.

Kiai Said menegaskan tidak benar dakwah Islam dilakukan dengan cara yang keras. Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dakwah dengan akhlakul karimah.?

“Sungguh engkau (Nabi Muhammad) memiliki akhlak yang mulia,” kutip Kiai Said.

Ribath Nurul Hidayah

Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah di antaranya dengan mengampuni penduduk Mekah pada tahun 8 Hijiriah saat pihak Rasulullah memasuki kota Mekah dengan kemenangan.?

“Rasulullah memaafkan seluruh penduduk yang tadinya memusuhinya dan umat Islam, . tanpa memaksa mereka harus masuk Islam. Hal ini justru membuat mereka semua masuk Islam,” cerita Kiai Said.

Ribath Nurul Hidayah

Pada waktu itu, lanjut Kiai Said, Rasulullah berprinsip bahwa semua orang yang semula memusuhinya memiliki aklhak yang mulia.

Sementara itu, dalam wathaniyah, para pendiri bangsa memegang prinsip bahwa Indonesia bukan negara agama, melainkan negara kebangsaan.

“Kesepakatan yang sudah dibangun harus dipertahankan. Karena telah mengeluarkan pengorbanan para pendiri bangsa untuk membangun NKRI,” tegas Kiai Said.

Pada pembukaan halaqah tersebut, Kiai Said menerima secara simbolis buku “Negara Pancasila sebagai Dar Al-Ahdi Wa Al-Syahadah” dari Sekretaris Umum PP Muhammadiyah H Abdul Mu’ti. Buku yang disusun dari hasil Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015, rencananya akan disumbangkan untuk Perpustakaan PBNU. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 07 Juli 2017

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza, Palestina, yang kini dirundung konflik.

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Serahkan Bantuan untuk Gaza dari Warga

Bantuan diberikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi di sela acara pembukaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 di halaman kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Bantuan senilai Rp 406.000.100 ini merupakan aksi amal kedua setelah September kemarin menyalurkan bantuan makanan dan obat-obatan. Donasi dikumpulkan dari para dermawan lewat nomor rekening LAZISNU.

Ribath Nurul Hidayah

Serah terima bantuan kemanusiaan tersebut disaksikan para peserta Munas-Konbes NU 2014, pengurus lengkap syuriah dan tanfidziyah NU, serta para menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri Pembangunan Daerah Teringgal Marwan Jakfar.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Kiai Said memuji LAZISNU berjalan maju dibanding periode-periode sebelumnya. "Jumlah bantuannya tentu kecil dibandingkan penderitaan rakyat Gaza saat ini. Tapi kita patut mengapresiasi langkah LAZISNU," ujarnya pada malam penyambutan peserta Munas-Konbes NU, Jumat. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 04 Juli 2017

Tiga Tujuan Bismillah

Malang, Ribath Nurul Hidayah. Kalimat bismillah memiliki tiga tujuan. Pertama, melakukan sesuatu berdasarkan perintah Allah (awamirillahi). Kedua, selama prosesnya niat mencari pertolongan Allah (thaliban lima’unatihi) dan ketiga, untuk hasilnya memohon berkah Allah (barakatan linatijatihi).

Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tujuan Bismillah

Demikian ditegaskan oleh KH. Hasyim Muzadi dalam pengajian awal bulan, Ahad, (4/01) di Masjid Al-Ghazali, Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Hasyim menjelaskan, bermula dari kata bismillah, bisa dimaknai dengan saya melakukan sesuatu atas nama siapa, atas nama nafsu atau kehendak sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

“Atas nama Allah swt adalah niat yang paling tinggi,” tuturnya.?

Hasyim melanjutkan, jika amal keduniaan diniati dengan kebaikan, maka amal itu akan menjadi amal akhirat. Sebaliknya kata Kiai Hasyim, jika diniati dengan salah, amal akhirat bisa menjadi amal dunia.?

“Istigotsah kalau tujuannya untuk sukses pilkada ya kurang (berkualitas),” ucap pengasuh Pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok itu.?

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kalimat bismillah ini Hasyim juga menjelaskan makna rahman dan rahim. Rahman, kata Sekjen ICIS ini, adalah kasih sayang Allah untuk semua makhluk, baik itu manusia, jin, hewan, malaikat, dan seterusnya. “Bahkan setan juga diberi Rahman Allah,” katanya.

Rahman Allah, tambahnya, harus disandingkan dengan sifat rahim. Rahim Allah, lanjut Hasyim, adalah kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang muslim.?

“Kuncinya surga adalah tauhid kepada Allah, maka orang kafir yang melakukan kebaikan hanya akan dibalas di dunia, sedangkan muslim yang shalih akan dibalas sampai di akhirat,” papar Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 ini.

Di akhir tausiahnya Hasyim menjelaskan, di tengah zaman yang sulit, dimana kebathilan dianggap benar dan kebenaran dianggap bathil, maka menurut dia, kuncinya kembali kepada Al-Quran dan shalawat Nabi.?

“Makanya jamaah khataman diperbanyak, masyarakat digerakan bershalawat,” pesan Hasyim. (Sabiq Al-Aulia Zulfa/Fathoni) ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam akan merevitalisasi keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus atau yang selama ini dikenal sebagai MAN PK. Kepastian revitaslisasi MAN PK ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan di Jakarta, Rabu (24/02).

“MAN PK-MAN PK yang ada akan kita revitalisasi,” tegas M. Nur Kholis Setiawan sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Khusus Keagamaan Akan Direvitalisasi

Ditegaskan pria yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, Program revitalisasi ini merupakan implementasi dari kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 60 Tahun 2015 tentang perubahan atas PMA Nomor 90 Tahun 2013. Dalam perubahan tersebut, ditetapkan tentang penganekaragaman madrasah menjadi tiga tipologi, yaitu: akademik, keterampilan/kejuruan, dan keagamaan.

“Revitalisasi ini menjadi upaya dan kontribusi Kemenag dalam mengatasi langkanya kader ulama. Ditpenma mengambil peran aktif dalam menyiapkan kader ulama sejak jenjang pendidikan menengah,” tambahnya.

Pada akhir tahun 1987, Menteri Agama Munawir Sjadzali memprakarsai proyek penyelenggaraan Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK). Madrasah Aliyah ini didesain dengan kurikulum keagamaan yang padat serta penekanan pada penguasaan Bahasa ? Arab dan Inggris. Dibuka pertama kali pada lima daerah, yaitu: Ujung Pandang, Jember, Yogyakarta, Ciamis, dan Padang Panjang, MAPK dinilai berhasil menyiapkan lulusan yang berwawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kemodernan yang baik.

Ribath Nurul Hidayah

Kehadiran MAPK disambut masyarakat hingga keluar Keputusan Menteri Agama (KMA) No 371 tahun 1993 yang mengubah MAPK menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan KMA ini, Kanwil Kementerian Agama (Depag waktu itu) diperbolehkan membuka MAK sesuai kebutuhan, tidak hanya negeri tetapi juga swasta.

Jumlah MAK pun semakin banyak. Sayang, peningkatan kuantitas ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sehingga minat masyarakat juga berkurang. Munculnya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga tidak mengatur secara jelas tentang apa, bagaimana, dan di mana status hukum dan legalitas MAK. Ditjen Pendidikan Islam mengeluarkan surat edaran yang mengatur bahwa mulai tahun 2007 MAK tidak lagi diizinkan menerima siswa baru.

Namun demikian, menurut M Nur Kholis mengatakan bahwa proses revitalisasinya bukan berarti mengembalikan MAN PK di era awal. Proses revitalisasi dilakukan menyesuaikan dengan peraturan perundangan yang ada. Modelnya tidak akan sama persis dengan MAN PK di tahun 87-an atau 90-an.

Ribath Nurul Hidayah

“Bentuk revitalisasinya adalah melalui penguatan kurikulum asramanya. Aspek tafaqquh fiddinnya ada di asrama. Jadi hampir mirip dengan pesantren,” terang M. Nur Kholis Setiawan.

“Jadi misalnya di Madrasah Aliyah peminatan keagamaan ada mapel Tafsir, maka pendalaman mapel Tafsir itu dilakukan di asrama dengan, misalnya tambahan kajian terhadap kitab-kitab Tafsir. Begitu juga dengan Fikih-Usul Fikih dan Hadis-Ilmu Hadis,” tambahnya.

Revitalisasi MAN PK tahun ini menurut M Nur Kholis akan dilaksanakan di 10 madrasah, antara lain di Jember, Jombang, Surakarta, Jogjakarta, Ciamis, dan Padang Panjang. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Cerita, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 03 Juli 2017

57 Tahun Intelektualisme PMII

Oleh Ferhadz Ammar Muhammad



Penyegaran dan “modernisasi” NU tidak lepas dari keberhasilan PMII. Kader-kader PMII menyebar hampir ke semua lini NU se-Nusantara. Ketaatan kultural terhadap ulama yang membangun jam’iyah NU tidak berubah, tetapi lebih kritis mengembangkan pemikiran-pemikiran keagamaan yang sejalan dengan dinamika zaman. (M. Said Budairy – salah seorang deklarator PMII)



57 Tahun Intelektualisme PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
57 Tahun Intelektualisme PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

57 Tahun Intelektualisme PMII

Lima puluh tujuh tahun yang lalu, beberapa aktivis NU yang tersebar di berbagai kampus sibuk mondar-mandir melakukan konsolidasi besar-besaran. Mereka mendesak pimpinan PBNU–waktu itu KH. Idham Chalid–agar secepatnya membentuk organisasi mahasiswa NU. Alotnya perdebatan antara PBNU dengan mahasiswa NU mengindikasikan adanya dua pemikiran yang bersinggungan, yakni Idham Chalid dengan karakter politisnya dan aktivis NU dengan populisnya–seperti yang terjadi di tahun-tahun setelahnya dalam catatan Fealy, dkk (Yogyakarta: LKiS, 2010).

Ribath Nurul Hidayah

Di satu sisi, ghirrah untuk membuat wadah yang memperteguh sekaligus memperkuat ideologi gerakan mahasiswa Ahlussunnah wal Jama’ah (aswaja) an-Nahdliyah di tengah pembasisan kultur dan sosial dirasa urgen untuk mereka segerakan-seperti yang sebelumnya dilakukan oleh partai dan golongan Islam lain untuk membuat organisasi mahasiswa underbow-nya, seperti Masyumi-HMI, Muhammadiyah-IMM, PSII-SEMII, Perti-KMI, dll (Modul Ashram Bangsa, 2014). Namun di sisi lain, Idham Chalid masih mempertimbangkan (ihtiyath) efektifitas organisasi, mengingat keberadaan IPNU yang masih menjadi rujukan kaum pelajar NU.

Setelah berbulan-bulan melakukan lobi, akhirnya restu dari PBNU telah berhasil dikantongi lewat hasil Konferensi Besar IPNU bulan Maret 1960. Sebulan setelah keputusan itu, 13 orang yang dipilih untuk menjadi punggawa konsolidasi lanjut segera mengumpulkan semua aktivis-mahasiswa NU di Surabaya. Walhasil, lahirlah dengan sempurna perkumpulan yang mendasarkan diri pada tugas dan tanggung jawab mahasiswa Islam atas nama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Ribath Nurul Hidayah

Dalam perjalanannya, PMII sudah menghadapi pasang-surut gerakan, mulai dari tuduhan kacung NU (saat itu menjadi Partai NU), kacang lupa kulitnya (saat PMII memutuskan hubungan struktural dari NU), penegasan interdependensi PMII dengan NU, sampai yang terbaru adalah tuntutan PMII agar menjadi Banom NU. Dari semua pergulatan PMII itu– terutama yang ditulis oleh Otong Abdurrahman (Jakarta: PB.PMII, 2005)–, penulis menaruh fokus refleksi dan minat kajian pada aspek PMII sebagai produsen arah gerakan intelektual.

Tradisi Berpikir

Penulis dalam hal intelektualisme PMII tidak akan melepaskan dari akar tradisi berpikir NU, mengingat PMII masih menerapkan intellectual chains–meminjam bahasa Zamakhsyari Dhofier–yakni tali pengikat keluhuran berpikir yang merujuk pada tokoh-tokoh Islam Aswaja an-Nahdliyah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh pemikir NU, santri atau kaum terpelajar Islam jebolan pesantren akan dipandang berilmu jika menerapkan tiga prinsip, yakni lelana belajar, hormat pada ahli ilmu, dan mengaplikasikan ilmunya di masyarakat sesuai konteks kebutuhan–konklusi dari paparan Ben Anderson (1988). Mengingat NU sangat memegang erat kaidah gerakan “mempertahankan tradisi baik dan mengambil suatu hal baru yang dipandang baik bagi masyarakat”, makaidentifikasi demikian membawa implikasi kepada platform aktivis NU sampai detik ini selakupemikir yang tidak melepaskan diri dari teks klasik, lokalitas masyarakat, dan kemajuan zaman.

Sebagai medium memahami PMII sebagai basis gerakan intelektual bisa dilihat dari tulisan ciamik Mahbub Junaedi di bawah ini:

Ada satu sebutan yang dijauhi rektor seperti penduduk kampung menjauhi muntaber: politikus. Tak ada itu politik-politikan karena yang tersedia cuma ilmiah-ilmiahan. Jika politik itu jalan besar, universitas akan bikin jembatan penyeberangan melintasi kepalanya. Kaum kampus berpikir ilmiah, kaum politik berpikir entah cara apa, itu pun kalau boleh disebut berpikir. Pencemaran harus dicegah mulai dini, karena itu sebaiknya kampus hanya diberi air susu Ibu. (Mahbub Junaedi, 1982)

Kelakar Mahbub tentang kondisi kampus dengan dunia luar mengingatkan penulis pada pendapat luhur KH. A. Wahid Hasyim yang menyatakan, bahwa kemunduran berpikir Indonesia disebabkan orang lebih mengapresiasi pejabat partai daripada terpelajar kita, di samping juga banyaknya terpelajar yang terlepas dari nalar common (mudahnya: bermasyarakat).

Di tahun yang sama, Mahbub memberikan suatu prinsip berpikir PMII yang penting untuk direfleksikan. Dengan memberikan gambaran tauladan dari Kiai As’ad Situbondo, Mahbub menegaskan bahwa berpikirnya kaum santri adalah berpikir tentang pertanggungjawaban sebagai makhluk lintas generasi. Kiai As’ad ingin mempertebal i’tikad para santri dengan mematahkan-secara otomatis-berbagai wacana sosiolog manca negara yang memposisikan santri sebatas grudak-gruduk desa. Pertanyaan eksplisitnya, bagaimana bisa dikatakan ’sebatas’, padahal terbukti langkah persuasif kiai kampung telah membuat NU menjadi organisasi yang memiliki cabang terbanyak di Indonesia (sejak KH. A. Wahid Hasyim memaparkan data itu di tahun 1938)?.

Dalam konteks PMII, Mahbub—sebagaimana Wahid Hasyim—tidaklah menafikan keharusan intelektual Islam untuk merespon berbagai kondisi masyarakat, baik aspek sosial-kultur maupun ekonomi-politik. Bahkan dengan tanpa menerjunkan diri pada kondisi masyarakat, intelektual Islam akan cenderung apatis dan sok netral padahal sedang berdiri di depan masyarakat yang terkapar. Meski demikian, hal yang perlu dicatat adalah seringkali terjunnya PMII di ranah itu membuat ia terperangkap dalam nalar pragmatis-praktis atau malah romantis merasa sudah aktivis. Keinginan merespon keadaan tidak dibarengi dengan konsistensi pada nilai dasar pergerakan yang menekankan proses–oleh karenanya dilarang berpuas diri–dan totalitas–oleh karenanya dimohon tidak mengharapkan ‘profit’.

Oleh karena spirit intelektualisme PMII menerapkan pola pikir ‘kritis-akomodatif’ (sebagaimana model bahtsul masail) terhadap tradisi luhur dan kebaruan yang diperlukan plus tidak arogan untuk melakukan gerakan perubahan sosial, maka penulis memandang bahwa intelektualisme di PMII layak ditempatkan sebagai prototype yang berguna sekaligus mengoreksi–kalau tidak ingin disebut membantah–intelektual dalam teori Gramscian.Menurut Gramsci ada dua macam intelektual, pertama, intelektual tradisional, yakni kaum pemikir yang segala aktivitas pengetahuannya hanya berkutat pada persoalan teori, dan sering kali mengabdikan teori tersebut untuk mempertahankan status quo dengan para pemegang kekuasaan. Kedua, intelektual organik, yakni para pemikir yang mampu membuat konvergensi antara teori dan realita sosial untuk kemudian dijadikan sebagai analisa utama dalam relasinya dengan struktur dan perubahan sosial.

Kategorisasi Gramsci terbilang ambigu jika PMII harus masuk ke dalam salah satunya. Bagaimana bisa dimasukkan di intelektual tradisional, sedang PMII meski mempertahankan tradisi namun tidak pernah monopoli keilmuan dan memuja status quo–harusnya demikian, entah aktornya? Bagaimana mungkin masuk di intelektual organik jika makna organik dihadapkan secara biner (plus dikotomik) dengan tradisional, padahal PMII insaf untuk merangkul ke-tradisional-an yang luhur?.

Akhirnya di harlah ke-57 PMII ini, sebagai sebuah organisasi yang telah merentang berbagai zaman, seyogyanya jujur diakui bahwa hal ikhwal yang dicita-citakan seringkali macet saat berhadapan dengan dunia yang sebenarnya terjadi. Bahwa kemandekan gerakan PMII telah mengindikasikan banyaknya persoalan di Internal yang mustilah diperbaiki secara simultan oleh seluruh keluarga besar. Pertanyaannya, keluarga PMII akan memperbaiki yang mana dan dengan cara apa?

Penulis adalah aktivis PMII Daerah Istimewa Yogyakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Juli 2017

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 tahun 2017 membuat pejuang kemerdekaan RI prihatin. Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda.

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Demikian diungkapkan salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padang Pariaman, Labai Burhan, Jumat (18/8) di kediamannya kepada Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana yang mengunjunginya dalam suasana peringatan HUT RI ke-72.?

Burhan yang ditemani isterinya, Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Menurut Burhan, betapa sedihnya menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali.?

Ribath Nurul Hidayah

"Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol ? bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan tersebut, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat," kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan. Suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO di Pakandangan menyuruhkannya menjeput peluru ke Sicincin. Dengan seorang teman, berangkat ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda.?

“Kami sangat kuatir jika tentara Belanda menghunuskan senapan, pasti tewas. Agar tidak menarik perhatian tentara, tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan," kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun. Karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa ? dimajukan menjadi 15 April 1929 di KTP.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran. Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat.?

"Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan. Bahkan ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya. Akhirnya hingga kini tak jelas," kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak. Meski memiliki empat isteri, tapi tidak pernah isterinya di madu.

Sementara itu, ? Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengakui, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

"Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih ? banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut," kata Zeki yang didampingi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Padang Pariaman Muhammad Zulfadli.

Menurut Zeki, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut, kata Zeki yang juga ? mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Halaman rumah yang menyambung dengan pelataran sebuah masjid yang diberi nama Al-Jadid sudah tampak penuh sesak oleh ribuan orang yang mulai berdatangan seusai Salat Tarawih. Malam tersebut merupakan malam peringatan 100 hari meninggalnya  Buya KH Ja’far Aqiel Siroj, pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Rabu (16/7).

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Seratus Hari Buya Ja’far Dihadiri Ribuan Pengunjung

Setelah tamu undangan dari beberapa pesantren di Cirebon telah hadir ke atas serambi rumah yang diposisikan sebagai panggung sederhana, acara pertama langsung dibuka dengan pembacaan tahlil oleh KH Niamillah Aqil, adik bungsu mendiang Buya Ja’far. Setelah itu, sambutan keluarga disampaikan oleh KH Mustofa Aqil,  sekaligus mengutarakan prakata atas nama pengasuh Pesantren Kempek Cirebon pasca meninggalnya Buya Ja’far.

Dalam sambutannya, Kiai Mustofa memohon doa dari para santri dan tamu undangan agar Pesantren Kempek dapat terus berada di garis perjuangan yang secara istiqamah dicontohkan oleh almarhum.

Ribath Nurul Hidayah

“Mudah-mudahan para penerus pesantren ini mampu merawat dan mengingat-ingat kembali tujuan didirikannya pesantren ini. Bukan hanya enak-enak merasakan manfaat dari peninggalan dan perjuangan Buya Ja’far,” ungkap Kiai Mustofa.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, melalui acara ini juga Kiai Mustofa meminta kepada santri dan masyarakat agar berkenan untuk mendoakan kedamaian dan ketentraman bangsa usai pemilihan presiden pekan lalu.

“Doa para santri, orang-orang NU, kiai dan pesantren akan menjadi sangat penting di tengah hiruk-pikuk dan panasnya suhu perpolitikan Indonesia sekarang ini,” ungkap Kiai yang juga Katib Syuriah PBNU ini.

Dari jajaran tamu undangan, tampak perwakilan tokoh sepuh dari Pesantren Babakan, Gedongan, Buntet, Arjawinangun, Tegalgubug dan beberapa pesantren lain di Cirebon. Acara peringatan seratus hari ini ditutup dengan taushiyah dan doa dari KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah