Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Jakarta, NU online

Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Isyroqi Nur Muhammad Limiroji, santri Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojokerto untuk mengikuti perlombaan Musabaqoh Hifzhul Quran Tingkat Nasional ketiga di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Darunnajah

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Santri penyandang tunanetra berusia 17 tahun yang kini masih duduk di kelas 3 Aliyah itu semenjak kecil bercita-cita menjadi seperti ayahnya yang juga seorang hafiz. Selain cita-cita tersebut wasiat sang ayah sebelum meninggal agar ia menjadi seorang penghafal Al-Quran, semakin menumbuhkan semangatnya.

"Saya mulai menghafal Al-Quran ketika saya berumur 8 tahun dan alhamdulilah selesai di umur 13. Saya ingin mengamalkan wasiat ayah saya yang telah berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu. Saya ingin menjadi seorang hafiz seperti almarhum ayah saya yang juga seorang hafiz. Dulu almarhum pernah menjadi juara tahfiz di Jakarta," kata Isyroqi, Ahad (29/10).

Perjuangannya untuk mampu menghafal Al-Quran tidaklah mudah. Metode yang ia tempuh adalah metode simaah. Ia harus mendengarkan ibunya membacakan kalimat per kalimat ayat- ayat Al-Quran. Ia juga menggunakan rekaman suara untuk menghafalkan ayat-ayatnya. 

Ribath Nurul Hidayah

“Ketika saya sedang malas-malasnya, ibu tetap memaksa saya untuk tetap menghafal, hingga akhirnya saya menghafalkan Al-Quran sambil menangis," lanjut Isyroqi.

Isyroqi berpesan kepada generasi penerus bangsa untuk selalu bersemangat dalam menghafal Al-Quran dan selalu mengimbangi antara usaha dan doa. 

"Saya berpesan agar mereka selalu bersemangat dalam menghafal quran, jangan mudah menyerah, dan imbangi selalu antara usaha dan doa, serta usahakan bukan hanya sekedar menghafal, namun juga lancar dalam menghafalkan Al-Quran," tukas Isyroqi. (Red: Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Februari 2018

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Oleh: Nine Adien Maulana



Salah satu potensi ekonomis umat Islam yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan antara kaum kuat dan lemah adalah pengelolaan zakat, infak dan sedekah secara profesional dan amanah. Zakat adalah kewajiban umat Islam yang telah mencapai syarat ketentuan tertentu. Ia adalah bagian dari syariat Islam. Infak dan sedekah adalah perbuatan mulia yang sangat dianjurkan; hukumnya adalah sunnah. Ini adalah bagian dari ibadah, sehingga setiap umat Islam pada waktunya pasti akan tergerak untuk menunaikannya. ?

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Karena zakat terikat syarat dan ketentuan khusus, maka diperlukan waktu untuk melakukan dakwah oleh lembaga amil agar para wajib zakat tahu kewajibannya dan mau mengeluarkan zakatnya itu. Meskipun secara tekstual, kita mengetahui bahwa kita diperintahkan untuk memungut zakat dari harta-harta mereka, namun dalam praktiknya hal itu tidak bisa dilakukan secara lugas oleh lembaga amil. Lembaga amil tidak bisa secara langsung menyasar kepada para pihak wajib zakat (muzakki) untuk memungut zakat darinya. Proses sosialisasi, persuasi dan edukasi kepada para calon muzakki perlu dilakukan, sehingga akhirnya mereka mau mengalkulasi wartanya dan mengeluarkan zakatnya baik disalurkan secara mandiri maupun melaui lembaga amil. ?

Infak dan sedekah tidak terikat syarat dan ketentuan khusus sebagaimana zakat. Hal ini menjadi peluang kreativitas lembaga amil bisa langsung menyasar kepada seluruh lapisan umat Islam. Di ranah inilah berbagai lembaga amil berlomba-lomba dalamnya kreativitas (fastabiqul khairaat) menarik simpati calon donaturnya.

Ada banyak kreativitas yang bisa ditawarkan kepada mereka untuk menunaikan infaq dan sedekah. Misal, ada lembaga amil zakat yang langsung menawarkan penyaluran infak sedakah uang tanpa jumlah minimal atau maksimal yang akan disalurkan untuk beasiswa pendidikan kaum lemah, santunan langsung anak-anak yatim yang lemah, bantuan kesehatan bagi dhuafa dan lain-lain. Ada juga yang menawarkan penyaluran sedekah nasi bungkus harian bagi siapa saja yang bersedia. Lembaga amil akan mendatangi rumahnya untuk mengambil nasi bungkus itu, kemudian menyalurkannya kepada kaum lemah di daerah-daerah pinggiran yang tertinggal. Ada juga yang menawarkan donasi dengan cara potong pulsa. Ada juga yang bekerja sama dengan toko-toko modern untuk menerima donasi dari uang kembali belanja, biasanya dalam bentuk pecahan kecil. Masih ada banyak lagi kreativitas penjaringan dana ummat dalam bentuk infak dan sedekah ini. ? ?

Ribath Nurul Hidayah

UPZISNU-LAZISNU Jombang telah mendeklarasikan gerakan Jombang Bersedekah. Salah satu tawaran programnya adalah membagikan kaleng-kaleng sedekah kepada semua warga, khususnya kaum Nahdliyin Jombang untuk menjadi donatur dan menyisihkan koin Rp500,00 tiap hari ke dalam kaleng tersebut. Dalam kurun waktu tertentu petugas akan mengambilnya dan mengelolanya secara kreatif, profesional dan amanah.

Setelah berhasil membuat jaringan dan branding yang positif di tingkat kabupaten, kini Lembaga Amil ini menyasar langsung ke tingkat kecamatan dan desa. Salah satunya adalah membuat proyek percontohan UPZISNU berbasis desa. Desa Pacarpeluk Kecamatan Megaluh menjadi desa pertama yang menyambut dengan antusias program ini. Bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pacarpeluk Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk mendeklarasikan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah.

Gerakan ini menjadi energi penggerak jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Pacarpeluk.Warga desa dari beragam organisasi, menyambut positif gerakan ini. Dalam waktu tidak sampai dua minggu, telah ada hampir 400 warga yang bersedia menjadi donatur. Masyarakat sadar bahwa ini adalah gerakan positif yang bisa langsung dirasakan oleh warga untuk meningkatkan kesejahteraan dan ibadah kepada Allah SWT.

Jika semua Ranting Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Jombang bisa digerakkan mengikuti jejak Pacarpeluk, maka gerakan Jombang Bersedekah benar-benar akan terasa gaung dan manfaatnya. Kemandirian dan aksi nyata Nahdlatul Ulama kepada warganya benar-benar bisa diwujudkan. Nahdlatul Ulama tidak akan mudah terkooptasi oleh penguasa atau berbagai kekuatan politik atau pemodal besar dalam menjalankan program-program khidmat kemaslahatan kepada umat.

Ribath Nurul Hidayah

Kemandirian ini bukanlah hal yang mustahil, karena Nahdlatul Ulama telah memiliki aset dan potensi yang besar. Semuanya harus disinergikan dalam suatu tata kelola yang kreatif, profesional dan amanah, sehingga jamaah memiliki kepercayaan (trust) kepada jamiyyah dan sebaliknya jamiyyah bisa memberikan khidmat nyata kepada jamaah. Sudah waktunya jamiyyah sekarang menghidupi jamaah dengan khidmat nyata, sehingga jamaah dengan rela hati, suka cita dan penuh kebanggaan menghidupi jamaah.?

Janji-janji normatif surgawi tidaklah cukup untuk menggerakkan jamaah untuk menghidupi jamiyyah, jika jamaah tidak pernah merasakan kemanfaatan dan khidmat jamiyyah secara langsung dan praktis. Atas dasar itulah pengelolaan zakat, infak dan sedekah menjadi peluang dan sarana nyata jamiyyah menghadirkan kemanfaatan dan khidmat, apalagi jamiyyah telah memiliki banyak aset dan lembaga atau infrastruktur yang bisa disinergiskan. ?

Lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama bisa disinergikan dengan pengurus ranting yang telah mengelola zakat, infak dan sedekah di desa. Lembaga-lembaga itu akhirnya bisa hidup dan menghidupi warga Nahdliyin. Inilah hubungan timbal balik saling memberi dan menerima kemaslahatan. Memang sudah waktunya kemandirian jamaah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama tidak lagi disampaikan sekadar retorika normatif semata, tapi benar-benar nyata bisa diwujudkan. Salah sata caranya adalah menggerakkan jamaah dan jam’iyyah ini melalui pengelolaan dan pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah secara kreatif, profesional dan amanah.?

Penulis adalah ketua tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Makam Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati harlah ke-81, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor NU Pringsewu menggelar istighotsah dan shalawat bersama 24/04/15 di gedung NU Pringsewu yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Cabang dan PAC GP Ansor dan Banser dari 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu.?

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Dalam sambutannya Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan mengatakan bahwa di usia ke-81 ini GP Ansor Pringsewu bertekad untuk lebih menanamkan nilai nilai Ahlussunnah wal Jamaah kepada seluruh anggota Ansor dan Banser. Selain penanaman nilai-nilai Aswaja tersebut, kaderisasi juga merupakan salah satu program utama kepengurusan yang dinahkodainya.

Menurutnya kaderisasi sangat penting dalam rangka menjaga eksistensi sebuah organisasi. Oleh karena itu pada bulan mendatang PC GP Ansor akan merekrut anggota baru untuk dididik dalam Pendidikan Latihan Dasar untuk Ansor dan Banser.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami ingin para anggota Ansor dan Banser benar-benar menjadi pemuda yang tangguh dan militan dalam berorganisasi," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Nampak hadir pada kegiatan ini H Taufiqurrohim, ketua tanfidziyyah PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memimpin istighotsah dan doa bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Simtudduror yang bekerja sama dengan Repshol (Remaja Pecinta Sholawat) Pringsewu. (m faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial RI, H Khofifah Indar Parawansa, melepas 14 balita dan anak kepada orang tua angkat masing-masing. Pelepasan balita dan anak ini dilakukan di kantor UPT PSAB Dinas Sosial Jatim di Sidoarjo, Kamis (2/3). Anak dan balita tersebut sebelumnya ditampung di UPT Pelayanan Sosial Anak Balita (PSAB) Dinas Sosial (Dinsos) Jatim di Sidoarjo.

Menteri Sosial Ri Khofifah Indar Parawansa mengatakan, syarat untuk bisa mengadopsi anak diantaranya pasangan harus sudah berstatus menikah minimal 5 tahun dan usia pernikahan maksimal 45 tahun. Selain itu pasangan harus melengkapi berkas tertulis dari dokter ahli bahwa pasangan sudah tidak memungkinkan memiliki anak kandung.

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing

"Balita yang sudah mendapatkan orang tua angkat usianya bervariasi, ? mulai dari usia paling kecil empat bulan hingga balita usia 3 tahun, namun rata–rata balita yang dilepas usianya di bawah 1 tahun. Latar belakang keluarga yang mengadopsi juga beragam, mulai dari pasangan PNS, Polri, dari keluarga dokter, bidan dan wiraswasta," kata Ketum Muslimat itu.

Terkait dengan ijin adopsi anak, prosedur administrasinya harus mengurus di kantor Dinas Sosial tingkat propinsi, sedangkan untuk warga Negara asing apabila ingin mengadopsi anak prosedur yang dilewati harus mendapatkan ijin dari kementerian sosial RI, diantaranya syaratnya harus mendapatkan ijin dari Negara asal pemohon.

Ribath Nurul Hidayah

Prosedur ijin untuk mengadopsi anak angkat menjadi perhatian pemerintah karena untuk menjaga jangan sampai terjadi kembali persoalan-persoalan sosial muncul, seperti halnya kekerasan pada anak.

Sugeng Hari, salah satu orang tua asuh, mengaku akan merawat anak yang diadopsi dengan sebaik mungkin. Karena anak-anak itu juga anugrah dari Tuhan. "Kami akan merawat anak ini dengan sebaik-baiknya. Karena anak ini juga anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syafuddin, berpesan kepada para orang tua angkat, supaya ikhlas dan sabar dalam merawat anak. Dan yang paling penting, kata Wabup, adalah memberikan kasih sayang penuh hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

Pria yang akrab disapa Cak Nur menjelaskan, sebelum memutuskan untuk mengadopsi anak, tentu orang tua angkat sudah melakukan persiapan–persiapan seperti kondisi ekonomi serta kesiapan mental dalam mengasuh anak. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah News, Ulama, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Januari 2018

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi mengungkapkan, peringatan Haul penting dilaksanakan dan perlu untuk dilestarikan. Sebab Nabi Muhammad SAW pun menjalankan ritual tahunan tersebut.

Demikian diungkapkannya dalam peringatan Haul KH Muslim ke-35 di maqbarah (makam) desa Robayan kecamatan Kalinyamatan, Sabtu sore (15/12). 

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan

Menurut Kiai Sya’roni, Nabi Muhammad setiap setahun sekali melaksanakan ziarah ke makam para suhada perang Uhud. Jarak kediaman Nabi ke makam kira-kira 6 km. Waktu itu beliau setiap kesana dengan naik khimar, keledai kadang-kadang jalan kaki. 

Dalam kitab Syarah Nahjil Balaghah, Imam Allaqiti pernah mengatakan setiap tahun sekali Nabi Muhammad menziarahi sejumlah 70 sahabat. 

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Meski demikian Kiai Sya’roni menghimbau kepada hadirin agar waspada pada kitab Syarah Nahjil Balaghah sebab ada yang dikarang ulama Sunni ada pula yang dikarang golongan wahabi. Dalam Nahjil Balaghah karya Ulama Sunni jelas Haul dilaksanakan juga oleh kanjeng Nabi. Sedangkan menurut kitab yang sama karya golongan Wahabi jelas-jelas diharamkan. 

Kitab Fatkhul Majid yang ia dapatkan dari perguruan tinggi di Madinah tahun 1982 silam pun demikian. Dalam kitab karya versi Wahabi tersebut ia menemukan fasal yang menerangkan tentang pengkufuran pembuat burdah yang dianggap terlalu mengagung-agungkan Nabi Muhammad SAW. Hal itu tentu berbeda dengan Syarah Fatkhul Majid karya Imam Nawawi Al-Banteni. 

Untuk itu, kitab-kitab wahabi tersebut ia taruh di madrasah agar para guru membacanya dan bisa membedakan dengan kitab-kitab karangan ulama Sunni. “Saya menghimbau kepada para santri agar berhati-hati saat mengaji kitab-kitab kuning saat ini,” himbaunya.   

Berkenaan dengan Haul kiai sepuh asal Kudus melansir sabda Nabi Muhammad yang menyatakan mauidloh ada 2. Mauidloh yang bisa berbicara yaitu Al-Qur’an dan asshamit, mauidloh yang berupa kematian. 

Karenanya Haul sambungnya merupakan kegiatan peringatan. “Bersamaan dengan Haul KH Muslim keluarga maupun kita yang ditinggalkan perlu miker-miker kelak kita juga akan menyusulnya,” imbuhnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Desember 2017

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia

London, Ribath Nurul Hidayah - Mantan ibu negara Ny Hj Sinta Nuriyah masuk dalam daftar perempuan-perempuan berpengaruh di dunia versi New York Times. Istri mendiang KH Abdurrahman Wahid ini dinilai sebagai feminis yang aktif menyebarluaskan toleransi.

New York Times dalam situsnya merinci 11 nama perempuan dari berbagai belahan dunia dan menyebutnya “11 Powerful Women We Met Around the World in 2017.” Daftar tersebut dipublikasikan pada 15 Desember 2017.

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia

Ia menyebut perempuan yang akrab disapa Bu Sinta tersebut aktif menyelenggarakan acara-acara lintas agama serta sukses membangun jaringan pesantren yang progresif untuk perempuan dan anak.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang masuk daftar tak disyaratkan memiliki kriteria sebagai pejabat publik atau bintang film tersohor. Menurut New York Times, para perempuang yang dipilih kebanyakan mungkin belum terkenal secara internasional namun memiliki cerita kehidupan yang menarik, melakukan sesuatu yang luar biasa, atau baru saja melewati pengalaman yang luar biasa.

Sejak didirikan pada tahun 2002, Saturday Profile bertujuan untuk menghadirkan pembaca orang-orang The New York Times di seluruh dunia yang mungkin belum pernah mereka dengar, tapi yang telah menjalani kehidupan yang menarik dan melakukan hal-hal yang spektakuler, atau mungkin baru saja melewati sebuah pengalaman yang luar biasa.

Ribath Nurul Hidayah

Di jajaran 11 nama tersebut antara lain ada aktivis hak-hak perempuan Arab Saudi Manal al-Sharif, Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallström, penyair Tiongkok Yu Xiuhua, fotografer Letizia Battaglia, dan lainnya.

Nyai Sinta Nuriyah merupakan pendiri sekaligus pengelola Puan Amal Hayati, sebuah lembaga sosial-kemanusiaan yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan kaum perempuan dan anak. Lembaga yang didirikan di Jakarta 3 Juli 2000 ini banyak fokus pada kampanye dan upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Oleh Fathoni Ahmad

Ijtihad para ulama pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memang patut di acungi jempol. Terutama ketika bangsa Indonesia terancam perpecahan dan disintegrasi antar-anak bangsa sendiri. Perhatian para kiai memang begitu besar terhadap kerharmonisan kehidupan bangsa selama ini. Dasar negara Pancasila salah satu buah pikir para ulama yang menautkan nilai-nilai kental religiusitas sebagai pondasi persatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia.

Pun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945, namun justru ancaman pemberontakan dan disintegrasi bangsa muncul di mana-mana, antara lain pemberontakan yang dilakukan DI/TII dan PKI di Madiun pada tahun 1948. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengungkapkan gagasan salah seorang Pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menggelar halal bihalal untuk seluruh tokoh bangsa atas permintaan Bung Karno.

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Dari riwayat yang diceritakan Kiai Masdar itu, pada tahun 1948 yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

?

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

Ribath Nurul Hidayah

"Itu gampang,” kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahim yang diberi judul halal bihalal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah istilah halal bihalal gagasan Kiai Wahab lekat dengan tradisi bangsa Indonesia pasca-lebaran hingga kini.

?

Begitu mendalam perhatian seorang Kiai Wahab Chasbullah untuk menyatukan seluruh komponen bangsa yang saat itu sedang dalam konfik politik yang berpotensi memecah belah bangsa. Hingga secara filosofis pun, Kiai Wahab sampai memikirkan istilah yang tepat untuk menggantikan istilah silaturrahim yang menurut Bung Karno terdengar biasa sehingga kemungkinan akan ditanggapi biasa juga oleh para tokoh yang sedang berkonflik tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Kini, halal bihalal yang dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia lebih dari sekadar memaknai silaturrahim. Tujuan utama Kiai Wahab untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang. Begitu pun dengan orang yang dimintai maaf agar secara lapang dada pula memberikan maaf sehingga maaf-memaafkan mewujudkan Idul Fitri itu sendiri, yaitu kembali pada jiwa yang suci tanpa noda bekas luka di hati.

Dengan demikian, ditegaskan bahwa bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.

Istilah khas Indonesia

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadis sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah itu memang khas Indonesia. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab. Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh Kiai Wahab untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an asal Indonesia Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut. Pertama, dari segi hukum. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa acara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

?

Masih dalam tinjauan hukum. Menurut para pakar hukum, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala. Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak cenderung memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antarsesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbaga bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu.?

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimugnkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturrahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesan bahwa halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan. Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah di atas lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan di antara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Sebab itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif. Wallahu ‘alam bisshowab.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Daerah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 04 Desember 2017

Menikah dengan Nama Baru, Sahkan Bercerai dengan Nama Lama?

Assalamu’alaikum wr. Wb. Seseorang perempuan menikah dengan nama baru (pemberian kiai) dan di akta nikahnya tertulis sesuai dengan nama aslinya. Kemudian terjadi perceraian, di Pengadilan Agama digunakan nama sesuai dengan akta nikah tersebut. Sahkah perceraian tersebut, karna nama yang berbeda waktu akad nikahnya...terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Tabrani - Kuala Tungkal)

?

---

Menikah dengan Nama Baru, Sahkan Bercerai dengan Nama Lama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikah dengan Nama Baru, Sahkan Bercerai dengan Nama Lama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikah dengan Nama Baru, Sahkan Bercerai dengan Nama Lama?

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Dalam sebuah kehidupan rumah tangga perceraian merupakan hal yang sangat tidak diinginkan. Tetapi memang akhir-akhir sepengetahuan kami tingkat perceraian pasangan suami-isteri sangat tinggi. Padahal kita juga semua sudah mengetahui bahwa perceraian meskipun halal tetapi merupakan hal yang Allah swt tidak sukai.

? ? ? ? ?. “Perkara halal yang paling dibenci Allah swt adalah cerai” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan mengenai seseorang perempuan menikah dengan nama baru (pemberian kiai) dan di akta nikahnya tertulis sesuai dengan nama aslinya. Kemudian terjadi perceraian, di Pengadilan Agama digunakan nama sesuai dengan akta nikah tersebut, maka hemat kami merupakan kasus yang menarik. Sebab, biasanya yang kami temui adalah perceraian tetapi dengan menggunakan nama yang tidak tertera di KTP atau dalam akta nikah.

Hal yang harus dipahami dalam kasus perceraian ini adalah bahwa saat menikah dengan menggunakan nama baru pemberian sang kyai itu sebenarnya adalah nama lain dari nama yang sudah ada. Dengan kata lain, namanya lebih dari satu, tetapi individunya (musamma) adalah sama.

Dalam pandangan kami, perceraian tersebut tetap sah, meskipun dengan nama yang tidak tersebut pada saat akad nikah. Sebab, yang menjadi acuan dalam hal ini adalah bukan namanya, tetapi yang diberi nama atau individunya. Nama boleh saja berbeda, tetapi orangnya tetap sama. Karena itu acuannya adalah orangnya (al-musamma), bukan nama itu sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ?

“Yang menjadi acuan pokok adalah yang disemati (al-musamma), bukan nama (al-ism) itu sendiri” (Lihat, Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarhu Misykah al-Mashabih, juz, 13, h. 66)

Demikian jawaban singkat ini yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan lakukan perceraian kecuali memang sudah tidak ada jalan lain. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Pengadilan Rusia Larang Peredaran Terjemahan Quran

Moskow, Ribath Nurul Hidayah. Satu tahun setelah larangan kontroversial buku koleksi hadist dan Sirah Nabawiyah, sebuah pengadilan Rusia memerintahkan penarikan terjemahan dan tafsir Qur’an, sebuah kebijakan yang menimbulkan kemarahan besar umat Islam Rusia.

Pengadilan Rusia Larang Peredaran Terjemahan Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengadilan Rusia Larang Peredaran Terjemahan Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengadilan Rusia Larang Peredaran Terjemahan Quran

Muslim Rusia sangat geram atas keputusan memalukan tersebut," kata Rushan Abbyasov, wakil kepada Majelis Mufti Rusia, yang memiliki hubungan dekat dengan Kremlin kepada Reuters, Sabtu (21/9).

Jika aturan itu diundangkan, ulama tersebut memperingatkan “Akan terjadi kerusuhan…tidak hanya di Rusia, tetapi juga di dunia, ini menyangkut penghancuran Qur’an.”

Ribath Nurul Hidayah

Sebuah pengadilan di Novorossiysk, satu kota di selatan Rusia, memerintahkan, akhir Kamis lalu, sebuah terjemahan dan tafsir Qur’an yang banyak dibaca, karya Elmir Kuliyev.

Pengadilan tersebut mengatakan bahwa teks yang ada dalam Qur’an melanggar hukum dibawah UU anti-ekstrimisme Rusia, yang oleh para aktifis hak-hak asasi manusia dikatakan sebagai upaya penyalahgunaan pejabat lokal yang penuh prasangka oleh kelompok didominasi oleh gereja Rusia Ortodok.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak UU anti-ekstrimisme Rusia diundangkan, dengan tujuan membatasi potensi ancaman militer, lebih dari 2.000 publikasi dimasukkan dalam daftar hitam yang dipublikasikan di website Kementerian Kehakiman.

Beberapa teks yang masuk dalam kategori seperti terjemahan diary menteri propaganda Nazi Joseph Goebbels dan buku karya Adolf "Mein Kampf", yang mendapat pujian dari kelompok HAM. 

Tetapi banyak kritik yang mengatakan terlalu banyak karya tidak berbahaya yang ditambahkan, yang mengancam hak-hak kaum minoritas.

Ketika pengadilan, dimana saja di Rusia memutuskan sebuah karya masuk kategori ekstremis, hal ini secara otomatis dimasukkan dalam daftar hitam nasional.

Dalam suratnya kepada Putin, Majelis tersebut menggambarkan potensi kekerasan seperti yang terjadi di Timur Tengah dan Afganistan karena tindakan pastor Amerika Terry Jones, yang mengancam akan membakar Qur’an pada11 September 2010.

“Penting untuk membahas bagaimana penghancuran kitab suci, yang telah diterima di Rusia sejak masa lalu.”

“Kami ingatkan kembali bagaimana pembakaran beberapa Qur’an oleh Pastor Amerika, yang tidak hanya menimbulkan protes di Rusia, tetapi juga di seluruh dunia sebagai bagian dari solidaritas atas kemarahan Muslim secara global,” tambahnya.

Penyalahgunaan

Para ahli menekankan bahwa lebih dari satu dekade, terjemahan oleh Kuliyev dihormati sebagai sebuah karya intelektual, satu dari empat terjemahan dalam bahasa Rusia.

“Ini merupakan satu langkah menuju pelarangan Qur’an," kata Akhmed Yarlikapov, seorang ahli Islam di Akademi Sains Rusia.

“Ini merupakan terjemahan yang sangat berkualitas,” tambahnya.

“Pelarangan terjemahan Kuliyev sama sekali tidak profesional, anda dapat dengan mudah melarang Injil karena juga terdapat ayat yang membicarakan pertumpahan darah."

Pengacara yang mewakili teks terjemahan mengatakan dia akan mengajukan banding atas keputusan yang melarang terjemahan tersebut dan meminta buku yang beredar “dihancurkan”.

“Ini benar-benar kebodohan. Beberapa penuntut lokal mengirimkan materi ini pada sebuah pengadilan lokal, dan mereka bersama-sama memutuskan untuk melarang kitab suci ini,” kata pengacara Murat Musayev, yang memiliki waktu satu bulan untuk mengajukan banding.

“Di satu sisi, terdapat kebebasan beragama di Rusia, tetapi disisi lain, terdapat pelarangan buku paling penting.”

 Para analis mengatakan, terdapat penyalahgunaan aturan dan prosedur yang kabur dalam UU tersebut yang memberi kekuasaan kepada pejabat lokal yang menimbulkan hasil keputusan yang cacat.

Sebelumnya, pada Juni 2012, 65 buku Islam sudah dilarang, yang oleh pengadilan dikategorikan sebagai literatur ekstremis.

Diantara yang dilarang adalah kitab Riyadhus Sholihin, Hadist 40 karya Imam Nawawi, Sirah Nabawiyah karya Ibn Hisham dan al-Mubarakfury, Benteng Muslim karya al-Qahtani, dan lainnya, termasuk karya Al Ghozali.

Daftar tersebut meliputi sejumlah buku dari para pengarang Turki seperti Said Nursi, Fethullah Gulen, Osman Nuri Topbash, Omer Chelika, Mustapha Ozturk, dan bahkan pengarang Muslim modern pasca Soviet seperti karya imam populer Moskow Imam Shamil Alyautdinov “Jalan Menuju Iman" dan terjemahan “Jalan Menuju Qur’an” karya Elmir Kuliev dari Azerbaijan.

“UU anti-ekstrimisme ini berjalan dengan mekanisme yang tidak dapat dihentikan, yang memungkinkan pengadilan di tingkat bawah melarang apa yang mereka sukai,” kata Geraldine Fagan, seorang ahli dan pengarang kebijakan keagamaan di Rusia.

“Ini adalah kasus yang sangat monumental yang dapat merubah segala sesuatunya dan memicu pembalikan kecenderungan umum. Ini akan mengejutkan saya,” katanya.

"Tampaknya tidak terdapat kemauan politik bagaimana mencegah hal tersebut terjadi, meskipun terdapat kritik yang sangat keras.”

Federasi Rusia merupakan tempat bagi 23 juta umat Islam di wilayah utara Kaukasus dan di wilayah selatan seperti di Chechnya, Ingushetia dan Dagestan.

Islam di Rusia merupakan agama terbesar kedua, yang mewakili 15 persen dari 145 juta penduduk yang didominasi oleh pemeluk Kristen Ortodoks. (onislam/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Para alumni Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya memperingati haul ke-27 pendiri pesantren tersebut, KH Mukhtar Syafa’at bin Abdul Ghafur.

Acara ini digelar di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (1/4). Acara yang rutin digelar tiap tahun ini tak hanya dihadiri alumni dan simpatisan, namun juga 30 keluarga Kiai Syafa’at dari Banyuwangi.

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Peringatan haul itu diawali dengan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada 1000 anak yatim yang didatangkan dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. Acara santunan ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Yang didaulat sebagai penceramah pada acara ini adalah KH. Syarif Rahmat. Pada kesempatan ini, kiai yang selalu memakai blangkon ini mengatakan bahwa fungsi ulama adalah seperti gunung. “Gunung selalu membuat daerah sekitarya sejuk. Ulama pun demikian,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qurra’, Pondok Cabe ini juga mengingatkan pentingnya kita mencari berkah kepada petilasan para salafussalih, seperti kuburan, dan lain-lain.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya berharap, alumni Blokagung ini, meskipun telah memperingati haul kiainya, untuk menyempatkan ziarah ke makam Kiai Syafa’at di Banyuwangi sana,” tambahnya.

Kiai Syarif juga mengingatkan akan pentingnya regenerasi para ulama, karena jika ulama telah tiada, maka bumi akan menjadi “panas”.

Acara itu juga dihadiri pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar. Kiai Nur Muhammad dipercaya untuk memimpin doa di akhir acara. (M. Nurul Huda/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 November 2017

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Kerja sama antara PC Muslimat NU Jombang dan Bank Jatim pada gerakan seribu rupiah telah berjalan satu semester. Dan alhamdulillah selama kurun waktu tersebut telah terkumpul uang sebanyak Rp311.112.616.

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

"Kami berharap gerakan seribu rupiah ini benar-benar bermanfaat bagi umat," kata Ny Hj Mundjidah Wahab, Rabu (14/9). ? Ketua PC Muslimat NU Jombang ini secara khusus menyelenggarakan rapat koordinasi dengan pengurus harian untuk membahas tindaklanjut kegiatan tersebut di kantor setempat, Jalan Juanda. ? Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan Muharram.

"Dana yang sudah ada dapat digunakan untuk kegiatan Muharraman berupa pengobatan gratis, pemberian santunan kepada fakir miskin, manula serta kunjungan ke penjara anak dan perempuan," pesan Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Seluruh kegiatan tersebut sebisa mungkin melibatkan kepengurusan yang ada, lanjutnya.

Seperti diketahui, gerakan seribu rupiah yang digagas PC Muslimat NU Jombang sudah berjalan 6 bulan sejak digulirkan Maret hingga Agustus lalu. Dan sesuai kesepakatan, seluruh kepengurusan PAC dan Ranting Muslimat NU di Jombang akan mendapatkan prosentase dari gerakan tersebut. Lebih detil, PP Muslimat NU memperoleh 5 persen, disusul kepengurusan secara berjenjang PW (10 persen), PC (15 persen), PAC (20 persen), ? Ranting (20 persen) dan tertinggi sebanyak 30 persen ? adalah dimiliki kepengurusan Anak Ranting?

Menurut Ibu Chumaiyyah Noor, uang masuk dari bulan Maret hingga Agustus sebanyak Rp311.112.616 dan pada September ini akan ditransferkan ke seluruh PAC dan Ranting sesuai prosentase yang disepakati bersama. "Jadi seluruh proses dan sistem pengambilan uang lewat bank, saya tidak pernah pegang uang sepeserpun karena sistemnya seperti itu," kata Bendahara PC Muslimat NU Jombang ini.

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya PC Muslimat NU Jombang akan memberi reward atau penghargaan kepada PAC yang anggotanya paling banyak. "Untuk tahap pertama ini, PAC Mojowarno memperoleh dana sebesar Rp. 34.475.000, kemudian Diwek sebanyak Rp23.651.000,- dan Jombang Kota Rp22.421.000" rincinya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Hadits, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 November 2017

Untuk Kemakmuran Desa, Pelajar Diminta Garap Pertanian

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Wonosobo mendorong para pelajar untuk memerhatikan kemakmuran desa. Bidang pertanian di Wonosobo bisa menjadi sumber daya yang kaya bila diolah secara maksimal.

Demikian diungkapkan Ketua PC IPPNU Wonosobo Amintarsih dalam diskusi perihal pelajar dan kepemudaan di MTs Ma’arif Sukoharjo kecamatan Leksono, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (20/11).

Untuk Kemakmuran Desa, Pelajar Diminta Garap Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Kemakmuran Desa, Pelajar Diminta Garap Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Kemakmuran Desa, Pelajar Diminta Garap Pertanian

Dalam pertemuan rutin dua bulanan itu, Amintarsih mengingatkan persoalan buntu yang dihadapi pelajar di desa-desa. Menurutnya, kesadaran pelajar akan pengelolaan pertanian terbilang minim.

Ribath Nurul Hidayah

Selain berwirausaha, kreativitas dan kesegaran pelajar dalam mengelola bidang pertanian bisa menjadi lahan baru dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Pada gilirannya, kesejahteraan desa bisa meningkat.

Ribath Nurul Hidayah

“Kader-kader pelajar NU bisa menjadi salah satu pelopor dan motivator di setiap bidang mulai pendidikan, sosial, ekonomi hingga agama. Mereka bisa menjadi panutan di setiap bidang di desa masing-masing,” kata Amintarsih di hadapan sedikitnya 60 kader IPNU-IPPNU.

Untuk terobosan itu, mereka akan dikenang warga desa selama-lamanya, pungkas Amintarsih.

Sementara itu, Ketua PC IPNU  Wonosobo Ahmad Haryanto menambahkan, untuk sampai ke tingkat itu kader IPNU-IPPNU perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas individu. “Kita juga harus bisa menyeimbangkan antara kuantitas dan kualitas,” katanya.

Dengan keseimbangan itu, para kader IPNU-IPPNU bisa menjadi pelopor di setiap lini dalam dunia pelajar maupun kehidupan bermasyarakat, tandas Haryanto. (Fathul Jamil/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

Pontianak, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Kalimantan Barat menggembleng para kadernya melalui Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) II di Pondok Pesantren Darul Faizin, jalan Danau Sentarum Kota Pontianak, Kalbar, 12-15 Juni 2014. Para peserta didorong untuk setia membela tanah airnya.

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

"Dengan pengkaderan ini akan muncul kader-kader militan yang siap menjaga keutuhan NKRI dan Islam Ahlussunah wal Jamaah, sebagai Islam rahmatan lil alamin," terang Ketua PW GP Ansor Kalbar M Nurdin, Senin (16/6).

Menurutnya, PKL merupakan kegiatan wajib bagi pengurus PW GP Ansor, sebagai proses pengkaderan di tingkat wilayah. Subro, Sekretaris PW GP Ansor Kalbar, mengatakan, ada 33 orang peserta yang dibaiat untuk tetap setia kepada NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Subro menambahkan, ke-33 peserta tersebut berasal dari pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Kalbar, dan utusan dari beberapa Pimpinan Cabang GP Ansor, antara lain Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya.

Kegiatan PKL ini mendapat sambutan positif dari pengasuh Pesantren Darul Faizin, Ust. Rudhy Abdullah Faiz. Ia berharap, dengan program ini hubungan antara GP Ansor dan pondok pesantren terus berlanjut dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya generasi mudanya.

Ribath Nurul Hidayah

Ungkapan serupa disampaikan Faisal Attamimi, instruktur PKL. Ia menekankan pentingnya kaderisasi bagi anggota GP Ansor di seluruh Indonesia.

"Ini juga menjadi syarat bagi sahabat-sahabat untuk menjadi pengurus GP Ansor dan mendapatkan pengesahan dari pimpinan pusat. Kalau ada pengurus belum ikut kaderisasi maka SK kepengurusannya tidak akan dikeluarkan," pesan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kepada para peserta PKL. (Yadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, RMI NU, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Waktu baru menunjukkan pukul 2.00 WIB, waktu yang sebenarnya terbilang tanggung untuk santap sahur, belum terlalu lapar jika diukur seusai shalat tarawih kebanyakan orang baru memakan nasi beserta lauk pauknya.

Begitu juga, di jam-jam seperti ini waktu imsak masih lama, jangan-jangan jika memaksakan diri untuk bersantap di awal pagi, menahan haus dan lapar saat berpuasa akan semakin terasa lama.

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman

Tapi pertimbangan tersebut harus diabaikan jika ingin mendapatkan kesempatan bersantap sahur dengan menu nasi Jamblang,  warung-warung yang menjajakan makanan khas Cirebon, Jawa Barat tersebut sudah mulai tampak ramai dikunjungi calon pembeli semenjak jam 1 pagi, katanya, jika datang lewat jam 2, maka jangan harap bisa kebagian nasi berbungkus daun jati ini.

Ribath Nurul Hidayah

Demikian Mukhlis (19) saat mengisahkan pengalamannya berburu nasi Jamblang pada Ramadhan tahun lalu, di sebuah warung nasi jamblang favoritnya yang bernama “Ibu Nur”, ia rela untuk mengantre dua jam lebih sebelum tiba waktu sahur maupun waktu berbuka.

Ribath Nurul Hidayah

“Kini warung Ibu Nur sudah berpindah alamat di jalan Cangkring, dan kebetulan di dekat rumah saya juga ada warung sega Jamblang, jadi tidak usah jauh-jauh,” ungkapnya saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di warung sega Jamblang “Mama Deyniz” yang terletak di perempatan Cipeujeuh kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, Ahad (28/7) pagi.

Abdul Hadi (38) menuturkan hal yang sama. Kegemarannya bersantap sahur dengan menu nasi Jamblang inilah yang memaksakan diri untuk memboyong istri dan kedua anaknya keluar rumah menuju salah satu warung di tepi perempatan jalan ini.

“Kami hampir seminggu sekali berkunjung ke sini, meskipun bukan asli warga Cirebon, tapi nasi Jamblang sudah begitu akrab dan dicari-cari oleh keluarga kami,” papar Hadi yang merupakan warga pindahan dari Semarang tersebut.

Sebenarnya, warung nasi Jamblang tidak hanya milik Mama Deyniz dan Ibu Nur saja, warung yang sejenis bisa dengan mudah ditemukan mulai dari ujung barat sampai ke timur kota Cirebon.  

Sejarah

Nasi jamblang merupakan salah satu dari sekian banyak makanan khas Cirebon, penamaan Jamblang berasal dari sebuah nama desa yang terletak di bagian barat kota Cirebon dan dari daerah tersebutlah penjual nasi Jamblang berasal. Aneka rupa lauk pauk biasa menemani makanan khas ini, dari mulai semur ati-ampela, sate kentang, perkedel, mie, telur dadar, tahu dan tempe goreng, ikan asin, sambal dan banyak lagi yang lainnya.

Raden Rafan S. Hasyim, budayawan Cirebon mengungkapkan bahwa di dalam sajian kuliner yang dulunya biasa dinikmati para kuli pelabuhan di sekitar daerah Pekalipan, Cirebon ini sebenarnya memendam nilai filosofi yang sangat tinggi.

Ia memposisikan nasi Jamblang sebagai simbol keberagaman sebagaimana yang menempel pada keberadaan Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon, masjid yang dibangun oleh para wali pada tahun 1480 masehi tersebut memiliki pengadopsian gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina, begitu juga akan keberadaan nasi Jamblang ini. 

Budayawan yang juga merupakan seorang filolog tersebut melanjutkan bahwa nasi Jamblang menunjukkan watak asli keberagamaan rakyat Cirebon, berbagai lauk pauk yang disandingkan bersamanya merupakan keterwakilan dari beberapa identitas yang memang ada sejak awal kehadirannya, seperti mie merupakan keterwakilan dari bangsa Cina, telur dadar merupakan keterwakilan dari kuliner Arab dan India, perkedel merupakan ciri khas dari pola masakan eropa, kemudian keberagaman lauk pauk tersebut terkumpul bersama nasi dalam satu  bungkus yang sama, yakni daun jati.

“Keberagaman dan banyak keterwakilan budaya tersebut kemudian dibungkus dalam status yang sama, yakni daun jati, di sanalah makna Islam dihadirkan oleh Sunan Gunung Jati, Islam sejati, Islam harus mampu mengayomi dan membungkus keberagaman yang ada,” jelas Raden Rafan S Hasyim yang akrab dipanggil Opan Safari. (Sobih Adnan/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 November 2017

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri unjuk kebolehan membaca puisi saat menghadiri agenda Hari Puisi Indonesia Tahun 2017 di Graha Bhakti Kebudayaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/10) malam.

Bagi Menteri Hanif, puisi merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari realita kehidupan manusia. Oleh karena iu, Hanif mendukung agar proses berpuisi terus dikembangkan dan dilestarikan. 

"Karena disana mengalir realita yang metaforik. Kemudian metafora yang realistik. Kemudian di sana ada etika dan juga estetika," kata Menaker.

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Pada kesempatan tersebut, Menaker pun turut membacakan puisi "Berpedomanlah Pada Cita-cita" karya Ir. Soekarno.

Melalui puisi karya Soekarno ini, Menaker mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk optimis menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

"Saatnya kita sebagai bangsa melihat ke depan, penuh optimisme, bekerja keras," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Berikut adalah sepenggal puisi karya presiden pertama Indonesia tersebut:

 

Berpedomanlah Pada Cita-cita

Ir. Soekarno

Ribath Nurul Hidayah

Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan

kehidupan manusia sekarang digerogoti

dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan

Ketakutan akan hari depan

ketakutan akan bom hidrogen

ketakutan akan ideologi-ideologi

Mungkin rasa takut itu

pada hakekatnya merupakan bahaya yang

lebih besar daripada bahaya itu sendiri

Sebab rasa takutlah yang

mendorong orang berbuat tolol

berbuat tanpa berpikir

berbuat hal yang membahayakan

Dalam permusyawaratan Tuan-tuan

saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan

terpengaruh oleh ketakutan itu

Sebab ketakutan adalah zat asam

yang mencapkan perbuatan manusia

menjadi pola yang aneh-aneh

Berpedomanlah pada harapan

dan ketetapan hati

berpedomanlah pada cita-cita

berpedomanlah pada impian dan angan-angan

(Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 November 2017

Hukum Bawa Anak Balita Shalat Jamaah di Masjid

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah yang baik, saya punya anak kecil usia dua tahun. Ia sering ikut ke masjid. Terkadang ia berlari-lari di depan orang yang sedang shalat. Pertanyaan saya, apa hukumnya membawa anak kecil ke masjid? Terima kasih atas penjelasannya. Assalamu alaikum. wr. wb. (Viali).

Jawaban

Hukum Bawa Anak Balita Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Bawa Anak Balita Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Bawa Anak Balita Shalat Jamaah di Masjid

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Pendidikan anak melalui keteladanan memang baiknya dibangun sejak dini. Aktivitas ibadah orang tua memang baiknya dilihat agar ditiru anak sejak dini. Terlebih lagi mendekatkan anak-anak ke masjid akan menjadi memori yang patut ditanamkan sedini mungkin.

Ribath Nurul Hidayah

Hanya saja para ulama memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan orang tua. Pertimbangan ini dimaksudkan agar masjid sebagai tempat ibadah tidak terkurangi nilainya. Berikut ini kami kutipkan keterangan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari.

Ribath Nurul Hidayah

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Anak-anak dilarang...) Walid An-Nasyiri mengeluarkan fatwa bahwa pengajaran anak-anak di masjid adalah hal yang baik. Anak-anak bebas memasuki masjid sejak era Rasulullah SAW hidup hingga kini tanpa dipermasalahkan. Pendapat yang menyatakan makruh atas masuknya anak-anak ke dalam masjid tidak berlaku secara mutlak. Kemakruhan ini berlaku hanya untuk anak-anak yang belum mumayyiz yang belum terbebani ibadah dan hajat terhadapnya. Tetapi pahala pengajaran anak-anak melebihi pengurangan pahala karena hukum makruh anak-anak memasuki masjid,” (Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudhatit Thalib, Juz 3, halaman 108).

Keterangan di atas membagi anak kecil mejadi dua kategori. Pertama, mumayyiz (anak yang sudah membedakan baik dan buruk, serta telah mengerti bahasa atau aturan). Kedua belum mumayyiz, anak yang belum bisa menimbang baik dan buruk (biasanya anak di bawah usia lima tahun).

Hukum makruh hanya jatuh pada anak kecil yang belum mumayyiz karena dikhawatirkan mencemari masjid lantaran belum mengerti, khawatir mereka membuang kotoran tanpa diduga. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan pembalut anak (pampers) yang rapat. Di samping itu anak-anak yang belum mumayyiz belum bisa menerima peringatan untuk tenang agar tidak mengganggu aktivitas shalat pengunjung lainnya. Ini yang repot. Karenanya ulama menyatakan makruh.

Baiknya memang ada ruangan masjid khusus orang tua yang membawa anak di bawah umur dengan jaminan pembalut yang rapat. Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak di bawah umur juga memiliki hak guna terhadap masjid.

Saran kami, berilah keteladanan shalat untuk anak-anak di rumah atau di masjid bagian belakang agar si anak juga tidak mengganggu jamaah lainnya. Orang tua harus menjamin kesucian masjid dengan memberikan pengamanan anak-anak lewat pembalut yang rapat.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 19 Oktober 2017

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang  (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tasikmlaya menerbitkan Buletin Jumat  Santri Nusantara,  Jumat (22/01).

Menurut Pimpinan Redaksi Buletin Santri Nusantara Husni Mubarok, buletin tersebut dibuat untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan pelajar NU dan masyarakat umum. “Buletin ini juga bertujuan untuk lebih membumikan dan menjembatani  terciptanya pelajar NU dan masyarakat  yang berwawasan keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Wawasan Keindonesiaan, IPNU Tasikmalaya Terbitkan Buletin Jumat

Wakil Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya ini menambahkan, upaya ini juga sebagai bentuk perlawanan atas beredarnya buletin yang diterbitkan suatu ormas tertentu yang selama ini menentang NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Ribath Nurul Hidayah

“Materi dari buletin ini bertema tentang keislaman dan keindonesiaan dan kami menerima tulisan dari kader IPNU dan masyarakat secara umum dengan cara dikirim ke email pcipnukab.tasikmalaya@gmail.com,” imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk distribusi, buletin ini akan disebarkan ke Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat  IPNU di Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga akan disebar ke masjid- masjid di Kabupaten Tasikmalaya terutama di Masjid Agung di Kawasan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini menjadi tempat beredarnya buletin yang kerap kampanye anti-NKRI, Pancasila dan UUD 1945.

“Buletin ini juga akan terus terbit setiap hari Jumat dan menunggu tulisan dari rekan-rekan semua,” pungkasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 September 2017

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Perjalanan rumah tangga KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama Nyai Hajjah Siti Fatma telah berlangsung menjelang setengah abad. Gus Mus resmi menikahi putri Kiai Basyuni ini pada 19 September 1971.

Dalam rentang itu kiai yang kini menjadi Mustasyar PBNU itu merasakan berbagai lika-liku hidup berkeluarga: susah senang dilalui bersama. Hingga akhirnya, Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB di RSUD Rembang, Jawa Tengah, Nyai Fatma mendahului Gus Mus pulang ke rahmatullah.

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma

“Selera kami sering berbeda. Tapi kami selalu menghargai selera masing-masing,” tutur Gus Mus melalui akun facebook pribadinya, A Mustofa Bisri, pada 3 April 2016 lalu.

Sebelumnya, dua hari setelah hari pernikahan ke-44, Gus Mus juga bercerita terang-terangan perihal kehidupan bersama istrinya tersebut. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini di dinding facebooknya pada 21 September 2015.

Ribath Nurul Hidayah

"Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan "Qabiltu nikãhahã..." ketika Kiai Abdullah Chafizh --Allahu yarham-- mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan puterinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan.

Selama itu --hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu-- seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: "I love you", "Aku cinta padamu", "Anä bahebbik", "Aku tresno awakmu", atau kata-kata mesra sejenis. Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara serius tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius.

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada.

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘alã kulli hãl.."



(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Makam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 September 2017

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Ciganjur Jakarta selatan menggelar seleksi untuk calon santri baru. Seleksi gelombang pertama ini diikuti puluhan calon santri, Ahad, (26/2/2017).

"Gelombang pertama ini kebanyakan diikuti calon santri dari Jakarta, sedangkan selksi gelombang ke dua pada Maret banyak dari daerah," kata panitia seleksi Irfan.

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Pesantren asuhan Ketua Umum PBNU Kiai Said Siroj ini memiliki visi menjadi lembaga pendidikan pesantren yang unggul dan terkemuka di tingkat nasional dan internasional dalam pengintegrasian dan pengembangan studi keislaman dan peradaban.

Kepala MTS M Sofwan Yahya yang akrab disapa Gus Sofwan mengatakan, "pesantren ini memiliki visi untuk menjadi pesantren yang unggul di tingkat nasional dan internasional. Salah satu misi kami mengembangkan wawasan keislaman dan keilmuan yang tawassuth, tawazun, tasamuh dan itidal," paparnya

Ribath Nurul Hidayah

Dalam berbagai ajang perlombaan, Pesantren Al Tsaqafah ini sering menyabet juara "Alhamdulillah lomba kitab kuning juara II, pidato juara I, pidato bahasa Arab dan Inggris semuanya di tingkat provinsi, dan sains juara I tingkat provinsi se-Jabodetabek," kata Gus Sofwan

"Tiga santri kita juga mendapatkan beasiswa sekolah ke Maroko, semoga tahun ini ada yang mengikuti," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 15 Agustus 2017

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah