Rabu, 29 Maret 2017

Waspada Penipuan Berkedok Agama

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Masyarakat hendaknya berhati-hati terhadap segala macam bentuk penipuan yang berkedok agama. Apalagi saat ini sudah marak penipuan paket haji dan umroh yang murah dan menjanjikan akan segera berangkat.

Waspada Penipuan Berkedok Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada Penipuan Berkedok Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada Penipuan Berkedok Agama

Hal tersebut disampaikan oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin ketika menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pendopo Kecamatan Krejengan, Senin (26/12).

“Saya mengingatkan kepada masyarakat agar senantiasa berhati-hati terhadap segala macam penipuan yang berbungkus agama karena sudah banyak yang menjadi korbannya,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk menghindari penipuan tersebut, jelas Hasan, maka jalan keluarnya begitu ada penawaran paket umroh maupun haji, terutama umroh, tanyakan lebih awal pesawat dan hotelnya. “Hal ini penting untuk menghindari penipuannya,” jelasnya.

Menurut Hasan, saat ini sudah banyak masyarakat Kabupaten Probolinggo yang mendaftar haji maupun umroh. Hal ini merupakan bentuk kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Ribath Nurul Hidayah

“Malah ada usulan agar ada kenaikan ongkos haji dengan catatan ada peningkatan kualitas pelayanan, khususnya manasik. Bagaimana orang berangkat haji bisa menguasai mana yang wajib dan sunnah. Sehingga tatkala menunaikan ibadah tidak disibukkan dengan urusan mau memasak nasi. Dengan demikian akan khusyu beribadah,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasan meminta semua aparat pemerintah agar jangan sampai ada arogansi kekuasaan. Bagaimana semua aparat, khususnya yang ada di kecamatan bersinergi. “Boleh beda tupoksi tetapi tetap bersama sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Sesama aparat harus saling mengingatkan,” tegasnya.

Lebih lanjut Hasan meminta agar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini tidak hanya sekadar seremony saja. Tetapi bagaimana setelah peringatan ini ada hikmah yang bisa dipetik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Marilah kita tasbihkan bahwa Baginda Rasulullah SAW sebagai manusia paling sempurna. Kita petik perilakunya dan kita amalkan di tengah-tengah masyarakat agar terwujud hablum minannas demi membentuk hablum minallah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 Maret 2017

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945

Pasuruan, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur menegaskan, bahwa dia akan tetap bertekad terus berupaya mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Hal itu diungkapkan Gus Dur pada Sarasehan Nasional dengan tema Mempertegas Eksistensi Pancasila Di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa Indonesia di Candra Wilwatikta Pandaan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis.

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945

Gus Dur memaklumi jika Pancasila dan UUD 1945 masih mengandung masalah. Namun apabila pemerintah akan mengembangkan sistem pemerintahan otonomi daerah tidak harus melakukan amandemen terhadap UUD 1945, tapi cukup dibuatkan undang-undang organiknya saja.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur memberi latar belakang munculnya gagasan dilakukannya amandemen terhadap UUD 1945 yang awalnya adalah untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang sifatnya Jakarta-Sentris.

Namun semangat reformasi tersebut berdampak terjadinya amandemen terhadap UUD 1945 hingga empat kali selama kurun waktu antara 1999 hingga 2002. Gus Dur menyebutnya amandemen tersebut dilakukan oleh para anggota DPRD "gadungan" pada periode tersebut.

Menurut Gus Dur, UUD 1945 yang telah diamandemen tersebut sebenarnya tidak berlaku, karena tidak diundangkan dalam lembaran negara. UUD 1945 yang telah diamandemen itu baru diundangkan dalam lembaran negara pada masa jabatan parlemen periode berikutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal itu, katanya, membuat negara tidak mempunyai undang-undang dasar karena UUD 1945 yang diamandemen belum diundangkan dalam lembaran negara, sedangkan UUD 1945 sudah tidak diakui lagi.

Dalam acara yang sama, Akbar Tanjung berharap pemerintah sekarang tidak terburu-buru melakukan amandemen UUD 1945 lagi. "UUD 1945 yang telah diamandemen itu jalankan dulu, sambil dilakukan evaluasi," pesannya.

Ribath Nurul Hidayah

Akbar Tanjung menilai amandemen terhadap UUD 1945 bisa saja dilakukan, tapi dengan cara sangat hati-hati. Ia menyarankan lebih baik amandemen terhadap UUD 1945 hendaknya dilakukan sesudah Pemilu 2009. (ant/eko)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 Maret 2017

Universitas NU dan Masa Depannya (3)

Oleh Mh Nurul Huda

--Indonesia adalah negeri yang kaya, dengan aneka kebudayaan dan tradisi-tradisi agung masyarakatnya. Salah satunya yang penulis sebut adalah tradisi pesantrenlengkap dengan spirit trisakti-nya, bersama dengan tradisi-tradisi masyarakat kita lainnya, yang bersentuhan dengan tradisi-tradisi agung dunia. Tradisi ini berhasil menjadi inspirasi dan selanjutnya berpotensi memainkan peranan penting dalam kehidupan di masa depan.

Sulit disangkalbahwa modernitas Barat juga membawa rasiokita semakin matang. Dihantarkannya kemajuan sains dan teknologi, serta kematangan dalam hal pemahaman mengenai siapa diri kita. Tetapi, seperti dinyatakan seorang penyair William Blake, rasio sendiriandalam sejarah membawa kita dalam keputusasaan (oleh tragedi demi tragedi), oleh karena itulah kita perlu mengenalikembali sumber-sumber inspirasi dan harapan.

Universitas NU dan Masa Depannya (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU dan Masa Depannya (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU dan Masa Depannya (3)

Banyak orang bilang, di dunia modern tak ada yang abadi kecuali perubahan. Namun penyelidikan secara seksama dari satu era ke era lainnya menunjukkan bahwa ada banyak perubahan tetapi juga kesinambungan (continuity and change). 

Ribath Nurul Hidayah

Kesinambungan dalam kehidupan diantaranya berupa peranan universal agama dan/atau spiritualitas dalam kebudayaan-kebudayaan. Sedangkan bentuk perubahan evolutifnya terlihat dalam hal kematangan penghayatan dan pemahaman para pemeluknya seiring dengan perkembangan jaman, aneka perjumpaan kebudayaan dan pengalaman kesejarahan yang beragam. 

Ribath Nurul Hidayah

Sekali lagi,Indonesia bukanlah kekecualian. Agama dan/atau spiritualitas menjadi sumber ilmu dan inspirasi pemerdekaan sertasumber kearifan dan harapan di dalam mengarungi bahtera dunia kehidupan. Suatu dunia yang sulit diprediksi dan teramat kompleks (complex world), yang tunggang-langgang (run away world) danpenuh dengan risiko (world risk society)yang oleh para ahli dinyatakan sebagai gejala umum globalisasi. Ada juga yang menyebut kondisi itu “high modernity” yang ditandai oleh kepercayaan diri yang tinggi akan kemajuan sains dan teknologi serta ketergantungan umum padakeahlian para intelektual dan inovasisaintifik, yang membuatnya cenderung lebih bersifat elitis (teknokratik).

Para ilmuan sosial telah mengkritik kecenderungan-kecenderungan di atas. Namun demikian,betapapun usaha itu dilakukan, mereka juga tak dapatmenolaknya.Apa yang kemudian dapat dilakukan adalah mentransformasikannya, mengubah elemen-elemen distortifnya dari dalamdan memperbaikinya. Maka bila dengan berani kita menyatakan bahwa spirit pesantren mentransformasi universitas-universitas, perguruan tinggi-perguruan tinggi (sebagaimana kita tahu universitas, dan juga negara, adalah institusi modern), maka hal itu berarti suatu usaha yang dilakukan untuk tujuan yang dimaksud.

Kritik yang mendasar juga banyak dilontarkan terhadap wacana modernisme yang mau “menaklukkan” kehidupan dengan cara menciptakan pembelahan sosial dalam bentuk dikotomi-dikotomikonseptual yang sifatnya generik. Misalnya dikotomi “modern vs traditional”, “sekuler vs relijius”, “liberal vs illiberal” dan seterusnya, yang dalam episteme dominan pihak pertama mengklaim secara sepihak sebagai puncak kemajuan dan simbol keunggulan nilai, dan sementara yang terakhir adalah simbol keterbelakangan, kekunoan bahkan kedunguan. 

Seperti sudah kita ketahui, suatu tindak penamaan (the act of naming) macam konstruksi dikotomis seperti itu dapat merupakan suatu tricky game. Sedemikian rupa ia bila diawetkan berpotensi mendegradasi kemampuan kita sendiri untuk mengenali sesuatu atau seseorang yang berada diantara dua kutub berlawanan tersebut. Merekapunya sikap modern sekaligus tradisional, atau mereka mengaku relijius tapi sebagian prakteknya bersifat sekular, atau juga sebaliknya. 

Mereka yang “in between” itu bisa jadi merupakan “silent majority” (masyarakat kebanyakan yang diam) dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Jumlah mereka bisa berjuta-juta orang yangironisnya tak terkenali bahkan tak terpikirkan gara-gara pengkutuban dikotomis ataupun trikotomis. Dari segi jumlah merekadapat bertambah dan mungkin juga semakin berkurang seiring dengan dinamika yang berkembang di masyarakat.

Oleh karena itu, betapapun sulit menghindar dari tricky game konseptual macam diatas, kiranya penting artinya mendengarkan saran umum agar kita tidak terperangkap dalam kategori-kategori “di atas kertas”.Kita harus merdeka, sebagaimana ungkapan Kiai Abdurrahman Wahid, dalam membuat pengertian-pengertian kita sendiri tentang arti sebuah katadalam gelapnya Misteri Kata-Kata (2010). Dalam konteks tulisan ini berarti suatu doronganuntuk terlibat dan membuka percakapan langsung dengan “silent majority”(masyarakat kebanyakan yang diam) yang tak ternamai dalam kutub dikotomis, yang dapat diduga pula merupakan penghuni sektor-sektor sosial yang termarginalkandan yang suaranya tak ter(di)dengar. 

Percakapan (conversation, berbeda dari discourse) dilakukan demi jalannya dialog yang kaya, dari hati ke hati, menembus yang “diam”. Sebuah ruang percakapan yang tidak terperangkap oleh pandangan dunia yang diilmiahkan secara sempit (a narrow scientised-worldview) beserta matriks bahasa pendukungnya. Dialog itu terkoneksi dengan pengalaman, pandangan dunia, perasaan, keluh kesah, harapanserta “diam”-nya masyarakat sehari-hari; ia yang juga tidak dibatasi oleh pengalamannya orang-orang yang urusannya berpikir dan fasih berbahasa tulis saja. 

Seni mendengarkan (art of listening), pada akhirnya, semakin dibutuhkan. Universitas lalu kian terkoneksi dengan kebutuhan sebenarnya masyarakat kebanyakan. Pendidikan menjadi arena pemerdekaan. Selamat Hari Santri Nasional. (bersambung)

Mh Nurul Huda, Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 17 Maret 2017

Stikes Hafshawaty Zaha Genggong Mewisuda 304 Mahasiswa

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Hafshawaty Zainul Hasan (Zaha) Genggong Desa Karangbong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mewisuda 304 mahasiswanya di Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan, Rabu (6/13).

Stikes Hafshawaty Zaha Genggong Mewisuda 304 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Stikes Hafshawaty Zaha Genggong Mewisuda 304 Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Stikes Hafshawaty Zaha Genggong Mewisuda 304 Mahasiswa

Prosesi wisuda tersebut dilaksanakan dalam Rapat Terbuka Senat Stikes Hafshawaty Zaha Genggong dalam rangka wisuda S1 Keperawatan, Diploma III Keperawatan, Diploma III Kebidanan dan Diploma IV Bidan Pendidik yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Stikes Hafshawaty Zaha Genggong KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.

 

Wisuda kali ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo yang juga Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, Kapolres Probolinggo AKBP Endar Priantoro, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Alfi Sahri Lubis, Ketua PPNI Kabupaten Probolinggo H. Mujoko dan Ketua IBI Kabupaten Probolinggo Hj. Mari’ah.

 

Ribath Nurul Hidayah

Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan yang hari itu secara resmi telah dinyatakan lulus dan berhasil menyelesaikan pendidikannya di Stikes Hafshawaty Zaha Genggong. “Semoga ilmunya manfaat dan segera bisa mengabdikan diri untuk mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat,” ungkapnya.

 

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Tantri, wisuda yang digelar Stikes Hafshawaty Zaha Genggong untuk akademi keperawatan (akper) dan akademi kebidanan (akbid) ini sejalan dengan prioritas Pemerintah Daerah dalam membangun Kabupaten Probolinggo lima tahun ke depan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

 

“Keberadaan Stikes Hafshawaty Zaha Genggong memberikan kontribusi dan membantu Pemerintah Daerah dalam sektor pendidikan dan kesehatan untuk ikut menciptakan generasi muda yang ahli dalam bidang kesehatan,” jelasnya.

 

Dikatakan Tantri, saat ini masyarakat Kabupaten Probolinggo kesadaran tentang pendidikan dan kesehatan terus meningkat. “Tetapi disisi lain, kita tidak boleh berpuas diri dengan keberhasilan yang kita capai. Terima kasih kepada orang tua yang telah berhasil dan sukses mengantarkan putra dan putri dalam meraih ilmu sesuai dengan keahliannya,” terangnya.

 

Sementara Ketua Yayasan Stikes Hafshawaty Zainul Hasan Genggong KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan keberhasilan ini harus selalu mengingatkan kita agar senantiasa berdzikir sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.

 

“Syukur itu hakekatnya mudah, tetapi kadang-kadang kita tidak melakukannya. Hal ini dilakukan supaya ilmunya bermanfaat. Sebab keberhasilan ini tidak lepas dari ijin dan pertolongan dari Allah SWT,” ungkapnya.

 

Menurut Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini, setelah bersyukur kepada Allah SWT, maka kita harus bersyukur kepada orang tua. “Ucapkan terima kasih dan jaga akhlak kepada orang tua. Karena keridho’annya, ilmu yang kita dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah,” jelasnya.

 

Lebih lanjut Pengasuh Pesantren Zaha Genggong ini meminta agar wisudawan dan wisudawati terus meningkatkan tali silaturahim. ”Saya mengajak para wisudawan dan wisudawati untuk tetap dan terus berhubungan dengan lembaga Stikes Hafshawati Zaha Genggong. Semoga ilmu yang dimiliki bisa memberikan barokah dan manfaat baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain,” harapnya.

 

Berdasarkan pantauan Ribath Nurul Hidayah, sejak pagi suasana Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan itu sudah ramai dengan kehadiran ratusan mahasiswa yang akan diwisuda beserta orang tua dan pengantar mereka. Sekitar pukul 08.00 WIB, rangkaian acara prosesi wisudapun dimulai. Bagi pengantar yang tidak dapat masuk ke ruangan GIC Kraksaan, panitia menyediakan layar LCD yang di tempatkan di beberapa sudut luar GIC Kraksaan.

 

Lulusan terbaik dari Prodi S-1 Keperawatan diraih oleh Hendra Kustiantoro dengan IPK 3,64 dan lulusan terbaik Prodi D-III Keperawatan diraih oleh Renni Indrawati dengan IPK 3,57. Untuk lulusan terbaik Prodi D-III Kebidanan diraih oleh Robiatul Adawiyah I dengan IPK 3,81dan lulusan terbaik Prodi D-IV Kebidanan diraih oleh Rieke Novitri dengan IPK 3,80. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 13 Maret 2017

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah - Shalat berjamaah merupakan ibadah sunah muakkad yang pahalanya 27 derajat lebih baik daripada shalat sendiri. Tetapi lebih utama lagi jika shalat berjamaah itu dilakukan di masjid yang merupakan tempat suci dan juga rumah Allah SWT.

"Mampu shalat berjamaah dengan istiqamah adalah hidayah. apalagi di masjid," kata Ustadz Fadlun saat menyampaikan taushiyah pada Halal Bihalal bersama beberapa Kelompok Jamaah Yasin di lingkungan Masjid Al-Hikmah Kuncup, Pringsewu, Kamis (13/7).

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid

Lebih lanjut ia mencontohkan, orang yang mendapatkan hidayah walaupun rumahnya jauh dari masjid, tetapi saat mendengar adzan dikumandangkan akan terpanggil melangkah menuju masjid untuk berjamaah. "Tapi walaupun rumahnya dekat sampai nempel masjid kalau belum ada hidayah, tidak akan ke masjid," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Terlebih usai Ramadhan. Di berbagai tempat terjadi penurunan drastis jamaah shalat di banyak masjid. "Tidak di sana-tidak di sini. Kalau Ramadhan, jamaah membludak sampai halaman tetapi setelah Ramadhan jamaah bisa dihitung dengan jari," katanya.

Ia juga mengingatkan apalah gunanya masjid dibangun dengan bagus dan megah apabila fungsi utamanya untuk ibadah shalat tidak diistiqamahkan. "Masjid dibangun megah dengan fasilitas mewah tapi sedikit yang mau shalat berjamaah. Untuk apa?" tanyanya.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karenanya Ia mengingatkan kepada umat Islam untuk kembali memakmurkan masjid baik itu saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. "Shalat berjamaah adalah rahmat. Di situ semua orang dapat kumpul ada kebersamaan dan kekompakan," katanya menjelaskan sebagian hikmah dari shalat berjamaah.

Pada kegiatan yang dilaksanakan pada Malam Jumat Kliwon di Serambi Masjid Al-Hikmah itu ia juga berpesan kepada seluruh anggota kelompok jamaah Yasin untuk bersama-sama ketakmiran masjid memakmurkan dan mengisi masjid dengan berbagai kegiatan ibadah.

"Sudah dicontohkan juga dalam shalat bagaimana kekompakan imam dan makmum. Semua bergerak bersama dan apabila terjadi imam lupa maka jamaah mengingatkannya," ujarnya pada pengajian yang untuk pembukaan dimulainya kembali kegiatan jamaah Yasin setelah libur Ramadhan dan lebaran.

Kegiatan ini ditutup dengan saling berjabat tangan antarjamaah dalam rangka memanfaatkan momentum Syawwal untuk berhalal bihalal. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 Maret 2017

Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh

Coxs Bazar/Kutupalong, Ribath Nurul Hidayah. Habis jatuh tertimpa tangga. Mungkin ungkapan ini pas untuk menggambarkan nasib anak-anak pengungsi Rohingya di Bangladesh. Perpindahan mereka dari Myanmar ke di kamp-kamp pengungsian negara tetangga tak membuat penderitaan mereka berakhir, bahkan bertambah.

Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh

Data yang dikumpulkan Reuters menyimpulkan bahwa kondisi anak-anak pengungsi Rohingya tidak lebih baik dari ketika mereka berada tanah asal. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan, anak-anak pengungsi terpaksa harus bekerja dengan bayaran sangat murah, mengalami kekerasan dan penganiayaan.

Laporan eksklusif Reuters juga berhasil mendokumentasikan fenomena gadis-gadis Rohingya berumur 11 tahun yang sudah menikah. Orang tua rela melepas anak-anak mereka melakukan hal itu dengan alasan memberikan perlindungan dan kemajuan ekonomi.

Sekitar 450.000 anak-anak, atau 55 persen dari populasi pengungsi, tinggal di permukiman kumuh dekat perbatasan dengan Myanmar, menyusul aksi brutal tentara Myanmar dan massa Buddhis yang membakar desa-desa, membunuh, menjarah, dan memerkosa para Muslim Rohingya.

Ribath Nurul Hidayah

Peristiwa tersebut muncul sebagai aksi balasan setelah sekelompok militan Rohingya melakukan serangan mematikan pada pos-pos keamanan Myanmar pada 25 Agustus lalu. PBB secara resmi menyebut krisis kemanusiaan di Myanmar sebagai upaya pembersihan etnis.

IOM mengatakan, anak-anak menjadi sasaran para agen tenaga kerja di tengah situasi keluarga mereka yang miskin dan kekurangan gizi di tenda-tenda pengungsian. Pendidikan pun terbatas bagi anak-anak yang sudah melewati kelas tiga.

Ribath Nurul Hidayah

Hasil temuan menyatakan, anak laki-laki dan perempuan Rohingya yang berusia tujuh tahun dipastikan bekerja di luar permukiman. Anak laki-laki umumnya bekerja di perkebunan, proyek bangunan, dan kapal penangkap ikan, juga di kedai teh dan sebagai supir becak.

Sementara anak perempuan biasanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh untuk keluarga Bangladesh, baik di kota dekat Coxs Bazar atau di Chittagong, kota terbesar kedua di Bangladesh, sekitar 150 kilometer dari tenda pengungsian.

Seorang ibu yang tak mau disebutkan namanya mengaku putrinya yang berusia 14 tahun bekerja di Chittagong sebagai pembantu namun kemudian melarikan diri dari majikannya. Ketika dia kembali ke tenda pengungsian, anak perempuan itu tak lagi bisa berjalan lantaran kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan si majikan.

"Suami itu (majikan) adalah seorang pecandu alkohol dan dia masuk ke kamarnya (anak perempuannya) pada malam hari dan memperkosanya. Dia melakukannya enam atau tujuh kali," kata ibu itu. "Mereka tidak memberi kami uang. Tidak ada."

Sebuah survei awal Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi PBB (UNHCR) dan Komisi Bantuan dan Repatriasi Pengungsi Bangladesh telah menemukan bahwa 5 persen rumah tangga—atau 3.576 keluarga—dipimpin oleh seorang anak. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 10 Maret 2017

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua

 Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sekretaris Jenderal Majelis Muslim Papua Thaha Al-Hamid mengaku sering satu mobil dengan KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid setiap kali Presiden keempat Indonesia itu bertolak ke Papua.

Thaha menceritakan, suatu ketika ia berada dalam satu mobil dengan Gus Dur untuk menghadiri undangan Dewan Adat Papua. Dalam perjalanan itu, Gus Dur dikawal oleh voorijder atau iring-iringan mobil pengawal agar perjalanan tidak terhambat.

Saat melintasi suatu jalan, jelas Thaha, tiba-tiba Gus Dur meminta untuk berhenti dan memerintahkan voorijder untuk berhenti pula. 

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua

“Tiba-tiba Gus Dur bilang, perintahkan voorijder berhenti,” kata Thaha menirukan Gus Dur di Graha Gus Dur, Rabu (26/7).

Kemudian, imbuh Thaha, para pengawal itu protes karena prosedur yang ada tidak memperkenankan voorijder tersebut berhenti di tengah jalan seperti itu.

Ribath Nurul Hidayah

Thaha menambahkan, karena voorijder tidak mau berhenti, maka mereka diminta untuk memperlambat mobilnya. 

“Jadi voorijder (iring-iringan pengawal) terpaksa memperlambat (mobilnya), dan tidak lama kemudian mobil ambulan lewat bawa seorang jenazah,” ungkap Thaha.

Setelah mobil jenazah tersebut lewat, lalu rombongan Gus Dur kembali melanjutkan perjalanan dan mempercepat mobilnya sebagaimana sedia kala. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 Maret 2017

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan. Menurutnya, penurunan ini terjadi setelah program pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan berjalan sesuai harapan.

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

“Secara bertahap, angka kemiskinan terus turun, dari 12,9 persen kini tinggal 11,25 persen. Dan kita targetkan penurunan itu bisa mencapai 10 persen,” ujarnya usai bersilaturrahmi dengan beberapa Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Selasa (15/7).

Hadir dalam acara kunjungan Menkokesra ini Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum KH Hasib Abdul Wahab, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid, serta Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterongan KH Dimyati Rimly. Bupati dan Wakil Bupati Jombang, Nyono Suharly dan Munjdiah Wahab, juga turut mendampinginya.

Ribath Nurul Hidayah

Meski telah mengalami penurunan, Agung mengakui, pada akhir-akhir ini program penanggulangan kemiskinan mengalami keterlambatan. Hal ini dikarenakan beberpa hal yang belum bisa berjalan maksimal. “Namun secara keseluruhan angka kemiskinan mengalami penurunan, termasuk angka penganguran juga mengalami penurunan,” imbuhnya.

Agung berharap, program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan kementriannya bisa dilanjutkan oleh presiden terpilih mendatang. Salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri (PNPM Mandiri).

Ribath Nurul Hidayah

”Siapapun presidennya, saya berharap PNPM ini bisa dilanjutkan,” pintanya seraya mengatakan, pihaknya sudah membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada presiden terpilih nanti.

Mengapa PNPM? Menko Kesra yang juga wakil ketua DPP Golkar ini mengungkapkan,  alasannya karena PNPM sangat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat khususnya dipedesaan. “Yakni untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, air, pembangunan ekonomi, dan juga sosial kemasyarakatan, dan proyeknya tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Apalagi, lanjutnya, dalam pelaksanaannya di lapangan, PNPM melibatkan masyarakat langsung dan secara nasional untuk angka kebocorannya sangat minim. “Secara nasional, angka kebocorannya  hanya 0,02 persen,” tandasnya.

Sementara itu, dalam safarinya ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Agung menyerahkan bantuan ke pesantren di antaranya untuk koperasi pesantren sebesar Rp 200 juta, sembako dari BAZNAS sebesar Rp 50 juta, serta sertifikat peserta BPJS untuk kalangan pesantren.

Menko Kesra juga menyerahkan sertifikat Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 33,05 miliar dari PNPM Mandiri, serta bantuan untuk pembangunan museum sebesar Rp 20 Miliar dari Dirjen Kebudayaan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Berita, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah