Selasa, 22 November 2016

Orang Tua Diimbau Awasi Anak Gunakan Internet

Kudus, Ribath Nurul Hidayah

Menghadapi derasnya arus teknologi informasi, para orang tua diimbau mengawasi anak-anaknya terutama yang masih pelajar sekolah dasar dalam menggunakan internet melalui telepon pintar atau smartphone. Pasalnya, usia anak sekolah dasar belum mampu memfilter konten-konten yang bertebaran di dunia maya.

"Sebisa mungkin orang tua harus selalu mendampingi dan menggarahkan anaknya menggunakan penggunaan smartphone android. Ajarkan pemanfaatan smartphone yang berguna lebih baik," kata Ali Maghfuri, guru Madrasah Ibtidaiyah NU Al Azhariyah Jurang Gebog Kudus kepada Ribath Nurul Hidayah Rabu (27/7).

Orang Tua Diimbau Awasi Anak Gunakan Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Diimbau Awasi Anak Gunakan Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Diimbau Awasi Anak Gunakan Internet

Maghfuri mengatakan, pengawasan dalam memanfaatkan internet oleh orang tua sangat diperlukan supaya anak-anak seusia siswa madrasah ibtidaiyah/sekolah dasar di rumah tidak mengakses informasi yang membawa mudarat.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka ini belum mengerti namun rasa ingin tahunya tinggi. Karenanya berikanlah HP android pada anak yang sudah cukup umur," tandas sekretaris Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Gebog, Kudus ini.

Ribath Nurul Hidayah

Diakuinya, internet membawa manfaat untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan. Tetapi mudaratnya lebih besar untuk anak-anak karena terdapat konten-konten ynag tidak pantas dikonsumsi oleh mereka, semisal pornografi.

"Bila hal ini dikonsumsi mereka, dampaknya akan mempengaruhi perilaku menyimpang yang tidak sesuai norma-norma agama," jelas Maghfuri.

Manakala ada tugas sekolah menggunakan internet, sebaiknya jangan biarkan siswa melakukannya sendiri melainkan harus dibantu oleh guru atau orang tua. "Karenanya, orang tua harus paham penggunaan baik manfaat maupun madharat internet. Jangan sampai orang tua kalah dalam penguasaan teknologi dengan anak-anaknya," pinta Maghfuri. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 21 November 2016

Menghitung Jumlah Jamaah

Sebelum memulai pengajian umum, Gus Dur mengajak jamaah untuk membaca Shalawat Badar bersama-sama. “Sholatullah salamullah…”. Gus Dur sendiri yang memimpin bacaan shalawat itu.

“….’alaa Yasiiin habibillah.”

Selepas membaca shalawat Gus Dur bertanya kepada para jamaah, “Mengapa saya mengajak bapak dan ibu sekalian membaca shalawat begini?”

Ada yang menjawab, “Agar kita mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW Kiai.”

Menghitung Jumlah Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghitung Jumlah Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghitung Jumlah Jamaah

“Ya itu betul. Tapi saya mengajak bershalawat agar saya tahu berapa kira-kira jamaah yang hadir,” kata Gus Dur. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Quote Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 20 November 2016

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi 

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Santri Design Community (SDC) Kabupaten Banyuwangi menggelar pelatihan design grafis untuk santri dan kader-kader IPNU IPPNU setempat. Pelatihan bertajuk "Madrasah Design Chapter Banyuwangi" dilaksanakan di Aula Kantor PCNU Banyuwangi. Minggu (11/6) pagi.

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

SDC Gelar Madrasah Design untuk Santri Banyuwangi

Ketua Santri Design Community, Dodik Nur Cahyo mengatakan bahwa SDC merupakan komunitas yang digagas oleh para santri pesantren yang tersebar di berbagai daerah. Selain untuk melatih santri-santri dan kader-kader NU asal Banyuwangi, gelaran ini juga digunakan untuk pembentukan SDC Kabupaten Banyuwangi.

" Kita yakin dari komunitas SDC ini, akan lahir santri-santri yang menjadi inisiator designer yang kreatif dan handal," jelas Dodik.

Dodik menambahkan, terjun ke dalam dunia design memiliki dua tujuan. Pertama adalah sebagai media dakwah dan yang kedua adalah untuk media pembelajaran bagi kader muda NU yang lebih banyak dari santri dan kader IPNU-IPPNU. 

"Tak jarang beberapa hikmah di dapat, saat kita memiliki keahlian design dan jaringan dengan pihak luar, salah satunya akan mendatangkan tambahan rezeki.  Dan ini sebagai motivasi kita untuk terus berkarya dan berkarya," jelas pemuda asal Ponorogo.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan bertajuk ‘Madrasah Design’ lanjut Dodik, selain untuk melatih santri-santri dan kader-kader muda NU asal Banyuwangi, juga untuk pembentukan SDC Kabupaten Banyuwangi. 

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kelas ‘Madrasah Design’ini, beberapa materi penting akan diberikan diantarana mulai pembuatan logo sampai brosur, CorelDraw dan Adobe Photoshop. design grafis. “Kelas design ini kami berikan batasan peserta. Karena antusias peserta cukup banyak,” ujar ketua Panitia M. Khoirul Abda.

Sofyan Sauri salah satu santri yang menjadi peserta pelatihan menuturkan, madrasah desin bagi santri ini diharapkan bisa memberikan ilmu baru terutama untuk kepentingan dakwah di media social agar bisa mewarnai dakwah yang sejuk dan ramah. 

"Karena menurut saya dakwah bukan hanya melalui ceramah dan tulisan sebagaimana sering kita temukan. Dewasa ini kita juga membutuhkan sarana dakwah berupa desaign grafis meme-meme yang menyejukkan. Bukan meme-meme ujaran kebencian dan kekerasan yang sering berkeliaran di media sosial, sebagaimana sarana dakwah mereka di luar kalangan nahdliyin," tutur Sofyan. (M. Sholeh Kurniawan / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 19 November 2016

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Dari data yang diperoleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), angka kasus pelanggaran toleransi di Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan. Tahun 2010 ada 34 peristiwa, tapi 2011 melonjak lima kali lipat hingga 174 kasus. Lalu tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 117 kasus, sementara tahun 2013 terdapat 118 kasus, dan 116 kasus di tahun 2014.

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Fenomena ini menunjukkan persoalan toleransi beragama bukanlah persoalan yang timbul tahap demi tahap, tapi persoalan yang awalnya adem, damai, tenang, tiba-tiba terbakar begitu saja. Ada hal yang perlu diperhatikan untuk melihat lonjakan drastis tentang perubahan apa yang terjadi di negeri ini sehingga menimbulkan permasalahan toleransi beragama yang terjadi hingga saat ini.

Demikian disampaikan Satrio Wiratanu, Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, sebagai pemateri dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Masalah dan Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia" yang berlangsung di aula fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/3).

Ribath Nurul Hidayah

Satrio menjelaskan, pelanggaran toleransi beragama pada tahun 2011 motifnya cenderung berbentuk kekerasan, penganiayaan, pengrusakan harta benda, penutupan hingga pembekaran tempat ibadah, bahkan sampai pembunuhan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

Ribath Nurul Hidayah

"Setelah tahun 2011, pelanggaran lebih cenderung pada bentuk ucapan atau seruan penyesatan yang secara akademis dinamakan hate speech (syiar kebencian). Misalnya memvonis kafir atau sesat yang disertai dengan pernyataan (fatwa) layak dibunuh atau halal darahnya," sambungnya dalam acara yang bekerja sama dengan PC PMII Kota Bandung itu.

Dalam konteks internasional, mengutip data yang diperoleh Kontras, Satrio mengungkapkan hasil penelitian tentang kadar konflik keagamaan di suatu Negara. Dari 198 negara pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kesepuluh dalam hal konflik keagamaan. Sedangkan Pakistan berada di posisi pertama, disusul Afghanistan dan India di tempat kedua dan ketiga. Sementara tahun 2013, Indonesia turun pada posisi ketiga belas.

Sedangkan dalam hal pembatasan praktik keagamaan yang dilakukan Pemerintah, tahun 2012 Indonesia tercatat posisi kelima, di bawah Mesir, China, Iran dan Saudi Arabia. Namun Indonesia naik di peringkat kedua pada tahun 2013, dan China menduduki posisi pertama.

“Tapi saya ragu, misalkan (posisi) kita akan turun pada tahun-tahun setelahnya. Karena melihat pada tahun 2014, banyak bermunculan peraturan-peraturan syariah yang sifatnya banyak membatasi praktik-praktik atau hak-hak keagamaan. Dalam posisi kita, bagaimana cara memperbaikinya?” ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa yang memenuhi diskusi tersebut.

Usai pemateri menyampaikan paparannya, peserta diskusi publik yang didominasi kader-kader PMII Kota Bandung itu menanyakan berbagai hal terkait fenomena inteloransi beragama, cara menangani konflik keagaman, maupun soal pengalaman Kontras dalam mengadvokasi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 November 2016

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Jenewa, Ribath Nurul Hidayah - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (16/6) bahwa kelompok ISIS mungkin menggunakan lebih dari 100.000 warga sipil Irak yang disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua Mosul.

Pasukan Irak berjuang merebut kembali Mosul dari ISIS setelah kelompok ekstremis itu menyerbu kota pada 2014 dan memberlakukan peraturan brutal terhadap penduduknya.

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: ISIS Gunakan 100.000 Sandera sebagai Perisai Manusia di Mosul

Perwakilan badan pengungsi PBB di Irak Bruno Geddo mengatakan bahwa ISIS telah menangkap warga sipil dalam pertempuran di luar Mosul dan memaksa mereka memasuki Kota Tua, salah satu bagian terakhir kota yang masih berada dalam genggaman mereka.

"Lebih dari 100.000 warga sipil masih disandera di Kota Tua," kata Geddo kepada wartawan di Jenewa.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami tahu bahwa ISIS membawa mereka saat mereka meninggalkan... lokasi tempat pertempuran berlangsung," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

"Warga sipil ini pada dasarnya disandera sebagai perisai manusia di Kota Tua."

Dengan hampir tidak ada makanan, air atau listrik yang tersisa di daerah tersebut, penduduk sipil "hidup dalam kondisi kekurangan dan kepanikan yang kian memburuk," katanya.

"Mereka dikepung pertempuran di setiap sisi."

Sementara para penembak jitu berusaha membunuh siapa saja yang mencoba meninggalkan daerah yang dikuasai ekstremis, katanya lalu menambahkan bahwa beberapa orang yang berhasil melarikan diri mengalami "trauma berat".

Sejak pertempuran untuk merebut kembali Mosul dimulai sembilan bulan lalu, sekitar 862.000 orang mengungsi dari kota itu, meski 195.000 di antaranya kemudian kembali, utamanya ke bagian timur kota yang sudah dibebaskan.

Itu berarti 667.000 orang masih mengungsi, hampir seluruhnya dari bagian barat Mosul, dan tinggal di 13 kamp yang dibangun UNHCR atau bersama kerabat.

Geddo mengatakan badan PBB sejauh ini sudah memberikan bantuan kepada lebih dari 500.000 pengungsi, dan juga berusaha membantu mereka yang kembali ke Mosul, sering kali tinggal di bangunan-bangunan yang pernah dibom.

"Banyak dari orang-orang ini kembali...ke situasi kekurangan," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

PWNU Jatim Gelar Buka Puasa bersama Gubernur

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kembali menggelar buka puasa bersama Gubenur dan Forum Pimpinan Daerah Jatim di Aula Lantai 3 Gedung PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur 09 Surabaya itu, Sabtu (11/07).

Hadir dalam kesempatan ini utusan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Jawa Timur.

PWNU Jatim Gelar Buka Puasa bersama Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Gelar Buka Puasa bersama Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Gelar Buka Puasa bersama Gubernur

Terlihat pula Mustasyar PWNU Jatim KH Sholeh Qosim dan Habib Zen Al Kaf, Ketua MUI Jatim, dan Ketua Yayasan Bakti Persatuan Surabaya. Acara yang digelar setiap tahun ini mendapat sambutan baik dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Ribath Nurul Hidayah

"Semoga silaturahim ini memperkuat hubungan antara para ulama dan pemerintah," ungkap Soekarwo, Gubenur Jatim yang didampingi Pangdam Brawijaya, Kapolda, Sekda, dan Kakanwil Kemenag Jatim.

Dalam acara itu, Ketua PWNU Jatim menyerahkan dua mobil ambulance kepada PCNU Pasuruan dan PCNU Lamongan. Selain itu pemprov menyerahkan bantuan enam mobil operasional melalui Jasmas Fraksi PKB Jatim kepada PWNU. Masing-masing diperuntukkan kepada PW LFNU, LTMNU, Pergunu, LPBH NU, LP Maarif dan Aswaja NU Center Jatim. Pemberian itu diterima oleh KH Miftachul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim.

Sedangkan PWNU Jatim memberikan cenderamata berupa buku hasil bahtsul masail PWNU Jatim sebanyak dua Jilid. "Setiap peserta Muktamar nanti akan diberi buku ini, yang bayar Pak Gubenur," canda Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua Panitia Daerah Muktamar ke-33 NU yang juga Wagub Jatim.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Mutawakkil memberikan apresiasi kepada pemerintah Jawa Timur berkat kepemimpinan Pakde Karwo dan Gus Ipul perekonomian di Jatim terus meningkat. "Di saat perekonomian provinsi lain goyah, namun di Jatim terus mengalami kenaikan," kata Kiai Mutawakkil di hadapan para pengurus cabang NU se-Jatim. (Rofii Boenawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Syariah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 09 November 2016

PBNU: Strategi Penanganan Bencana Perlu Masuk Kurikulum Pesantren

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Strategi, sistem, metode dan tata cara penanganan bencana alam perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan pesantren sebagai bagian dari konsep penanganan bencana berbasis masyarakat. Hal itu penting karena pesantren selama ini dianggap sebagai lembaga pendidikan yang hampir tak memiliki ‘jarak’ dengan masyarakat.



PBNU: Strategi Penanganan Bencana Perlu Masuk Kurikulum Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Strategi Penanganan Bencana Perlu Masuk Kurikulum Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Strategi Penanganan Bencana Perlu Masuk Kurikulum Pesantren

Demikian diungkapkan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Nasaruddin Umar dalam sambutannya pada pembukaan halaqah bertajuk “Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Islam” di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Senin (23/7)

Hadir pada acara yang digelar Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) NU itu, Deputi Mitigasi Bencana Badan Koordinasi Nasional Penangana Bencana (Bakornas PB) Drs Thabrani, Ketua PBNU Masdar Farid Mas’udi dan sejumlah ulama pondok pesantren NU se-Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Nasaruddin yang juga Direktur Jenderal Bimbingan Islam Departemen Agama itu menjelaskan, konsep dasar penanganan bencana alam dalam Islam sudah ada pada banyak sumber, baik Al-Quran maupun Hadist. Hal itu pun telah diajarkan dalam pendidikan pesantren.

Ribath Nurul Hidayah

“Sekarang, tinggal bagaimana mengkonkretkan konsep dasar penanganan bencana di dalam Al-Quran maupun Hadist itu ke dalam sebuah kurikulum pendidikan pesantren,” ujar Nasaruddin.

Dengan demikian, lanjutnya, lulusan pesantren tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang agama semata, melainkan pula memiliki pengetahuan serta keterampilan dalam hal penanganan bencana. Ia mengakui, selama ini metode penanganan bencana yang berbasis masyarakat tidak terfokus dan sistematis.

Selain itu, papar Nasaruddin, usulan tersebut juga sekaligus untuk mengajak kalangan pesantren dan para ulama agar mau memikirkan sebab-sebab terjadinya bencana alam. “Jadi, tidak hanya memikirkan akibat bencana saja, tapi juga bagaimana bencana itu bisa terjadi,” pungkasnya.

Tak dapat dipungkiri, katanya, saat ini masih ada sejumlah kalangan yang memitoskan bencana alam dengan sesuatu yang tidak rasional. “Ada anggapan bahwa bencana alam karena presidennya si A,” tandasnya. Bahkan, lanjutnya, muncul pula kecenderungan memanfaatkan musibah bencana alam untuk kepentingan ekonomis-pribadi.

Sementara itu, Thabrani, dalam sambutannya, memuji langkah NU yang telah menggelar halaqah tersebut. Menurutnya, NU merupakan satunya-satunya organisasi kemasyarakatan Islam yang telah memulai membuat rumusan dan konsep penanganan bencana alam berbasis masyarakat. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Nasional, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Senin, 07 November 2016

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN

Jember, Ribath Nurul Hidayah. Kepedulian Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember, Jawa Timur terhadap pencegahan penyalahgunaan narkoba, patut diacungi jempol. Hal ini? bisa dilihat dari kegetolan lembaga pimpinan Nyai Hj. Emi Kusminarni tersebut untuk memerangi segala bentuk penyalahgunaan obat terlarang itu dengan beragam cara. Salah satunya adalah dengan membentuk Laskar Anti Narkoba (LAN) di tingkat Pengurus Anak Cabang dan Ranting.

Pembentukan LAN tersebut direkomendasikan dalam acara “Sosialisasi Hidup Sehat Tanpa Narkoba” di aula Kantor Muslimat NU Jember, Ahad (20/11). Selain merekomendasikan pembentukan LAN, Nyai Hj. Emi Kusminarni dalam arahannya juga mengajak hadirin untuk menjauhi narkoba serta memastikan anggota keluarganya tidak terlibat penggunaan narkoba, miras dan tidak melakukan seks bebas.

“Kemudian, selain terus mensosialisasikan tentang bahaya narkoba, miras dan seks bebas, saya mengimbau kader Muslimat NU juga tak segan-segan memberikan pendampingan terhadap korban penyalahgunaan narkoba, miras dan sebagainya,” tuturnya.

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Narkoba, Muslimat NU Jember Bentuk LAN

Menurut Nyai Hj. Emi, penyalahgunaan narkoba dewasa ini sudah begitu mencemaskan. Penggunanya tidak hanya kaum dewasa tapi juga sudah merambah kalangan pelajar, bahkan pesantren tak luput dari bidikan pengedar obat haram tersebut. Sungguh miris. Oleh karena itu, ia mengjak para orang tua untuk betul-betul memantau pergaulan anaknya. Sebab, barang atau budaya apapun memang datangnya dari lingkungan dan teman bergaul.

“Untuk soal pergaulan, jangan percaya pada anak seratus persen. Kita harus memantau dan mengontrol siapa-siapa saja temannya. Sebab, narkoba dan prilaku apapun sumbernya dari pergaulan,” urainya.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan tersebut Nyai Hj. Emi juga menekankan pentingnya kader Muslimat NU di semua tingkatan untuk ambil bagian dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba, khususnya sosialisasi tentang bahaya narkoba di acara-acara pengajian muslimat.

“Sosialisasi bahaya narkoba dan ciri-ciri juga penting. Sebab, bisa jadi itu dibilang obat penenang, padahal narkoba,” ucapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Acara tersebut diikuti oleh lebih dari 100 orang yang terdiri dari pengurus cabang dan anak cabang serta para ketua majelis taklim dan tokoh masyarakat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Olahraga, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 02 November 2016

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting

Ciamis,Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ciamis sedang gencar membentuk kepengurusan hingga ke tingkat ranting. Setiap Pimpinan Anak Cabang (PAC) dibantu untuk membentuk kepengurusan ranting.

Ketua GP Ansor Kabupaten Ciamis Dendeu Rifa’i Hielmy menyatakan, kepengurusannya tidak akan dilantik, sebelum ranting-ranting terbentuk.

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ciamis Gencar Bentuk Ranting

“Jadi, kalau ada kabar GP Ansor Ciamis, dilantik, berarti ranting sudah selesai,” kata ketua terpilih pada Konfercab di Pondok Pesantren Miftahul Falah Al-Aziziyah Cihaur Beuti Kabupaten Ciamis akhir Januari lalu, kepada Ribath Nurul Hidayah, di gedung PCNU Ciamis, Ahad, (10/2) lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Ada 3 program besar yang akan dilakukan Dandeu selama kepengurusannya. Pertama, membenahi sturuktur di PAC, penguatan SDM, pengembangan majelis dzikir. “Sudah berjalan, misalnya di Kecamatan Cijenjing, Cipaku, Kawali, Jatinegara. Di kecamatan-kecamatan lain juga bukan tidak aktif, tapi tidak diatasnamakan Ansor,” jelasnya.

Pria berusia 30 tahun tersebut menargetkan, di tingkat ranting digelar seminggu sekali, di wilayah kecamatan sebulan sekali. Dan di tingkat kabupaten dua bulan sekali.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, program ideologisasi, yaitu rutinitas organisasi dengan pelatihan PKD, PKL, dan penjenjangan Diklatsar. Ketiga, pemberdayaan pemberdayaan ekonomi mutlak dilakukan di basis-basis NU. “Kemiskinan dekat dengan kekufuran,” lulusan Pesantren Al-Ihsan Purwokerto dan Pondok Pesantren Al-Quran Cijantung Ciamis ini berdalil. ?

Pemberdayaan melalui pengembangan yang berpotensi di kabupaten Ciamis semisal perikanan, sayur-mayur, agribisnis. Agribisnis sudah dimulai di Kecamatan Sukamantri. Perikanan di Kecamatan Cijenjing. Peternakan di Kecamatan Kawali, dan di Lakbok.

“Untuk menunjang kegiatan-kegiatan di PAC, Cabang akan membikin lembaga keuangan semisal BMT,” pungkas lulusan Jurusan PAI di Miftahul Huda Al-Azahar, Citangkolo.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Quote, Sholawat Ribath Nurul Hidayah