Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Ribath Nurul Hidayah - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Warta, Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Februari 2018

PBNU: Beri Jalan untuk Presiden Selesaikan Nasib Korban Lapindo

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap semua pihak agar menghargai dan memberi jalan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang melawat ke Sidoarjo, terkait upaya penyelesaian derita warga korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

"Saya berharap misi ini sukses dan seluruh birokrasi serta masyarakat membantu," kata Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, di Jakarta, Senin (25/6).

PBNU: Beri Jalan untuk Presiden Selesaikan Nasib Korban Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Beri Jalan untuk Presiden Selesaikan Nasib Korban Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Beri Jalan untuk Presiden Selesaikan Nasib Korban Lapindo

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jatim, itu, apabila upaya Presiden Yudhoyono sukses, maka interpelasi lumpur Lapindo yang digagas anggota DPR sudah tidak perlu lagi diteruskan.

"Untuk apa interpelasi kalau Presiden ternyata bisa menyelesaikan?" kata Hasyim, seraya menambahkan dukungan PBNU pada rencana interpelasi semata-mata untuk penyelesaian nasib korban.

Sebenarnya, kata Hasyim, Presiden mempunyai "senjata pamungkas" untuk mengatasi krisis, yakni dengan menggunakan posisinya sebagai Kepala Negara yang dapat menetapkan keadaan darurat lokal demi keselamatan rakyat, melakukan terobosan keuangan negara dan mempertanggungjawabkannya kemudian.

Lebih lanjut, Hasyim menegaskan, PBNU, PWNU Jatim, PCNU Sidoardjo tidak akan memasuki masalah teknis, seperti transaksi dan sebagainya, karena akan mengundang fitnah, apalagi hal itu bukan wilayah NU. Masyarakat pun, katanya, sekarang tidak lagi percaya janji.

Ribath Nurul Hidayah

"Yang menjadi kewajiban amar maruf nahi mungkar adalah bagaimana negara tidak menelantarkan rakyatnya sendiri dan tidak selalu menguntungkan pihak asing. Dalam hal semacam ini, PBNU pasti bicara, sekalipun mungkin banyak yang tidak suka, karena untuk itulah NU didirikan," katanya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Meme Islam, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 02 Februari 2018

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Perhelatan Konferensi Wlayah Nahdlatul Ulama yang segera berlangsung mendapatkan apresiasi dari sejumlah kalangan, termasuk HIPSI. Bahkan, sejumlah tali asih disiapkan bagi mereka yang tergerak menjadi anggota baru.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI), Mochammad Ghozali kepada Ribath Nurul Hidayah (30/5). ?

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir

“HIPSI terpanggil untuk turut meramaikan even akbar NU Jatim ini terutama untuk mengingatkan kembali semangat Nahdlatut Tujjar yang pernah didengungkan KH Abdul Wahab Chasbullah kepada nahdliyin,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, untuk kegiatan Konferwil ini HIPSI mengambil dua stand di dalam arena maupun di luar.?

“Untuk stand di dalam, mendisplay sejumlah produk unggulan hasil usaha dari sejumlah pengurus dan anggota HIPSI di sejumlah daerah,” tandasnya. Sedangkan untuk stand di luar arena Konferwil berupa produk kuliner.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami mendisplay sejumlah produk hasil karya anak-anak muda NU di bidang software IT, kerajinan mendong, produk olahan nugget, bakso, coffee shop, snack dan sejenisnya,” ungkapnya. ?

Sejumlah produk ini adalah hasil karya para santri secara mandiri. “Sebagian lagi ada yang berpartner dengan pengusaha muslim di Gresik untuk produk frozen food dan ikan laut,” lanjutnya.

Di stand yang ada nantinya juga sebagai ajang mempromosikan kiprah sejumlah pengurus yang telah memiliki usaha membanggakan. Para pengunjung dapat mendengarkan kisah sukses dari HIPSI Jember yang sudah memiliki lebih dari 500.000 populasi ayam potong.?

“Kami juga sedang mengembangkan produk turunan yang memiliki nilai tambah seperti aneka macam nugget ayam, resoles, siomay dan sejenisnya,” terangnya.

Tidak hanya ingin memamerkan sejumlah keberhasilan dan kiprah para pengusaha santri, di stand juga menjadi media untuk menampung para pengusaha baru yang ingin bergabung dengan HIPSI.?

“Kami sediakan sekitar tiga ratus kaos dan souvenir dari salah satu sponsor kepada para kiai, santri dan warga NU yang berkenan untuk mendaftar sebagai anggota baru,” katanya berpromosi.

Banyaknya pengunjung di even ini menjadi salah satu media efektif dalam upaya memperkenalkan organisasi yang berkeinginan untuk menciptakan jutaan pengusaha santri ? di tanah air ini. Sebuah kesempatan langka dan sayang kalau dilewatkan.? ?

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 26 Januari 2018

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, umat Islam tidak boleh diam melihat kezaliman yang menimpa Palestina. Menurut dia, apa yang dilakukan Donald Trump yang mengklaim Yerusalem ibu kota negara Israel adalah adalah bentuk kezaliman dan menantang arus internasional demi keuntungan satu bangsa.

Membela tanah air, menurutnya, adalah menjalankan perintah agama karena tanah yang subur kaya-raya ini merupakan amanah Allah sehingga wajib mengembangkan dan membangunnya. 

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam

“Itu perintah agama, bukan perintah politik,” tegasnya pada pidato di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Pusat Fatayat NU di gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (16/12).  

Umat Islam, menurutnya, harus membela Palestina dan menolak Yerusalem sebagai ibu kota Israel karena itu adalah bentuk kezaliman terhadap tanah air sebuah negara. 

Ribath Nurul Hidayah

“Kita tak boleh diam terhadap kezaliman. Kita tak boleh berpangku tangan. Ini harus kita lawan. Kita harus membela Palestina. Kita harus berada di belakang Palestina,” serunya. 

Pada Jumat (15/12) Kiai Said mewakili tokoh-tokoh lintas agama untuk menyampaikan pernyataan sikap terhadap klaim sepihak Donald Trump itu. Juga mendukung sikap pemerintah Indonesia untuk menyuarakan kedaulatan Palestina. 

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Kiai Said, hal itu sebagai wujud implementasi diktum pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

“Maka kami mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk terus memperjuangkan dengan lantang tentang kedaulatan Palestina,” katanya. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, AlaNu, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 14 Januari 2018

Rais Aam PBNU: Pesantren Harus Lahirkan Ulama

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan ulama masa mendatang. Hal ini disampaikan KH Maruf Amin pada puncak haul KH Bisri Syansuri di halaman Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, Selasa (28/3) malam.

Menurut Kiai Ma‘ruf, KH Bisri Syansuri adalah sosok yang selalu menjaga serta menyiapkan para ahli agama serta tokoh perbaikan. Hal tersebut sejalan dengan pesan Rasulullah SAW bahwa Allah tidak akan pernah mengangkat ilmu dari hati manusia. "Akan tetapi Allah mengangkat ilmu itu dengan memanggil ulama," kata Kiai Maruf.

Rais Aam PBNU: Pesantren Harus Lahirkan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Pesantren Harus Lahirkan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Pesantren Harus Lahirkan Ulama

Kalau kemudian banyak ulama wafat beserta ilmu yang dimiliki, serta tidak ada yang menggantikan maka akan terjadi krisis orang alim. "Akibatnya orang akan mengangkat para pemimpin bodoh," jelasnya. Kalau ditanya sejumlah masalah, akan tetapi tidak didasari pengetahuan, maka mereka akan mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan, lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, dalam pandangan Ketua Umum MUI ini, keberadaan ulama harus selalu disiapkan oleh pesantren. "Pesantren adalah tempat bertafaqquh fiddin, serta menyiapkan para ulama," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Bisri, kata Kiai Ma’ruf, adalah sosok yang konsisten menjaga tradisi pesantren tersebut.

Ia juga mengapresiasi gerakan Ayo Mondok yang selama ini digagas pengurus Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) NU. "Setidaknya ada kesadaran para orang tua untuk memondokkan anak terbaiknya ke pesantren," ungkapnya.

Sisi lain yang juga menonjol dari Kiai Bisri adalah konsisten menjaga tugas keumatan dan kebangsaan serta kenegaraan. "Karena ulama itu juga dituntut tanggungjawab keumatan, kebangsaan dan kenegaraan," urainya.

Hal tersebut sebagaimana diteladankan oleh Rasululah menjelang wafat yang lebih memikirkan masa depan umat. "Ini memberikan pesan bahwa beliau memikirkan umat sepeninggalnya," katanya. Tanggung jawab umat ini juga menjadi tugas dari NU. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Direktur Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama RI, Mohsen, menegaskan, KUA sangat strategis dalam membina paham keagamaan Islam di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan KUA dekat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah.

“Peran KUA Strategis justru karena dekat dengan masyarakat dalam membina paham keagamaan Islam,” ujar Mohsen, Kamis (14/12) lalu di Jakarta sembari menegaskan bahwa tugas KUA tidak hanya semata mengurusi persoalan pernikahan saja.

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan

Pria kelahiran Makassar ini menjelaskan, KUA sudah cukup dikenal masyarakat. Saat ini ada 5.707 KUA di Indonesia, penghulu 5.773 lokasi, Penyuluh PNS 4500 orang, penyuluh Non-PNS 45.000 orang.

Di KUA ada kepanjangan tangan yaitu penghulu dan penyuluh. Penghulu dan penyuluh menpunyai peran strategis kuntuk memberi layanan kepada umat Islam dalam membina paham keagamaan Islam.

Ribath Nurul Hidayah

“Jadi KUA selain memberikan pelayanan, juga melakukan pembinaan,” kata Mohsen.

Dia berharap, KUA memberi peran yang sangat signifikan dalam memberi bimbingan kepada masyarakat. KUA, tegasnya, memiliki peran memberikan layanan dan bimbingan kepada masyarakat Islam di lingkungan kerjanya.

KUA, sambungnya, berfungsi salah satunya memberikan peneranagan agama Islam. KUA merupakan garda terdepan Kemenag yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Mohsen tidak memungkiri, di antara sebab yang mendukung aliran keagamaan yang bermasalah yaitu keliru memahami al-Qur’an, kurang menyeluruhnya sumber-sumber rujukan, lemahnya pemahaman keagaman, dan laata belakang pendidikan yang tidak cukup baik.

Lebih jauh, dia menyatakan, aliran atau ideologi bermasalah juga berasal dari luar (transnasional, red) untuk menggangu stabilitas negara. Negosiasi lebih penting. Misal adanya komitmen dalam menyelesaikan masalah dari berbagai pihak.

Ribath Nurul Hidayah

“Tentu dengan mengesampingkan kepeantingan pribadi dan kelompok tertentu,” tandas mantan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Warta, Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 10 Januari 2018

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang.

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja maka ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com pada 22 Desember 2017.

Ia mengingatkan jamaah Jumat bahwa kini umat manusia tengah berada di gerbang tahun baru Masehi. Ia menganjurkan jamaah masjid tersebut dan umat Islam pada umumnya untuk bahu-membahu menjaga keamanan gereja sebagaimana umat Islam menjaga masjid.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, partisipasi pengamanan gereja juga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Dan ini, menurutnya, berdasar pada pemahaman yang sahih atas nilai-nilai Islam.

Ribath Nurul Hidayah

“Pemahaman yang benar atas ajaran agama yang menjadi prioritas utama kita saat ini adalah mencegah mereka yang tidak memiliki kualifikasi dan kapasitas ilmu agama yang memadai untuk mencederai nama baik Islam dan agama yang benar,” kata Mukhtar Jum‘ah.

Dalam khutbah Jumat akhir tahun ini, ia juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah dengan kutipan definisi muhasabah dari Imam Al-Mawardi. Ia mengajak jamaah untuk memeriksa perilaku keseharian masing-masing sesuai pertimbangan baik dan buruk menurut syariat Islam.

Menurutnya, mereka yang melakukan perbuatan terpuji patut bersyukur dan memuji Allah. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan tercela menurut agama harus bertobat kepada Allah dan berusaha tidak akan mengulangi perbuatan buruknya karena segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Anti Hoax, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’

Pangkajene Kepulauan, Ribath Nurul Hidayah 

Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) Ibnu Hazein mengungkapkan bahwa generasi muda adalah tumpuan para pendahulu untuk memperjuangkan Islam dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari kelompok-kelompok yang ingin memecah belahnya. 

Demikian disampaikan Ibnu dihadapan lima puluh peserta yang mengikuti  Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (6/12).

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’ (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’ (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’

"Jangan sampai masjid sebagai tempat bikin bom yang mengancam keutuhan NKRI," katanya. 

Oleh karena itu, katanya, menjaga masjid dan pesantren dari paham-paham radikalisme merupakan salah satu agenda penting yang selalu diusung PBNU. 

Pada kegiatan yang terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) ini, Ibnu juga juga mengungkapkan pentingnya menjaga pesantren. Nahdliyin harus menjaga masjid dan pesantren agar tidak dibajak oleh kelompok ekstremis.

Ribath Nurul Hidayah

"Dua ini (masjid dan Pesantren) jangan sampai lepas karena NU memiliki andil terbesar mendirikan negara Indonesia," tegasnya. (Husni Sahal/Muchlishon)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Anti Hoax, Habib Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 Januari 2018

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda melihat keberadaan organisasi masyarakat (ormas) radikal yang sering melakukan kekerasaan dan anti-Pancasila telah menjadi perhatian publik. Kritik banyak ditujukan kepada? pemerintah dan penegak hukum yang lamban dan tidak tegas untuk membubarkan ormas radikal dan anti-Pancasila, meski? perangkat hukum yang ada selama ini dinilai cukup memadai.

Berdasarkan kajian bidang hukum PCINU Belanda, permasalahan ini telah berlangsung sejak Reformasi bergulir karena adanya keterbukaan dan kebebasan untuk membentuk organisasi, namun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ormas terus dibiarkan oleh pemerintah terdahulu sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Namun pemerintah memandang ada hambatan regulasi untuk menindak ormas radikal yang Anti-Pancasila. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pemerintah berusaha menjawab beberapa hal yang dianggap kurang tegas dalam prosedur pembubaran ormas.

Permasalahan krusial dari Perppu ini diantaranya perluasan spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, penghapusan prosedur pembubaran ormas melalui peradilan, dan menambahkan ancaman pemidanaan bagi ormas dan anggota ormas, seperti rilis PCINU Belanda kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan memperluas spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, Perppu ini memberikan penguatan legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pembubaran ormas yang tidak sejalan dengan ideologi negara. Namun sangat disayangkan penghilangan 17 (tujuh belas) pasal tentang prosedur pembubaran melalui proses peradilan menjadikan hak konstitusional warga negara untuk melakukan pengawasan terhadap potensi tindakan sewenang-wenang pemerintah menjadi hilang. Ini berimplikasi pada kemungkinan terlanggarnya hak berserikat dan berkumpul sebagai hak konstitusional.

Yang lebih mengkhawatirkan, kriminalisasi Ormas dengan mencantumkan pasal-pasal pemidanaan pada Perppu yang cenderung abstrak dan multitafsir berpotensi menyasar ormas apapun yang dinilai rezim penguasa bertentangan dengan? Pancasila. Selain itu perumusan unsur pertanggungjawaban pidana yang? abstrak menjadikan siapapun pengurus ormas dapat dipidana karena pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota suatu ormas tanpa sepengetahuan pengurusnya. Perumusan pemidanaan dalam Perppu dengan mengaburkan tindakan perorangan (oknum) dan tindakan ormas sebagai lembaga dapat melanggar hak kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh UU Hak Asasi Manusia dan UUD 1945.

Ribath Nurul Hidayah

Menyadari beberapa fakta di atas PCINU Belanda berpandangan bahwa Peppu ini secara konstitusional sangat rentan untuk dibatalkan karena bertentangan dengan UUD 1945. PCINU Belanda berpendapat bahwa sejatinya Pemerintah tetap dapat menindak ormas radikal yang melakukan kekerasan dan bertentangan Pancasila melalui perangkat hukum yang telah ada baik melalui prosedur administratif maupun pidana.

Bahkan yang harus jadi perhatian serius dari pemerintah adalah menjamin bahwa aparat penegak hukum serta aparatur negara baik sipil maupun militer bersikap tegas dan tidak akomodatif terhadap kehadiran ormas yang mengganggu ketertiban umum, kata pengurus harian PCINU Belanda yang berkantor di Heeswijkplein 170, 2531 HK Den Haag, Belanda.

Rilis ini ditandatangani oleh Ketua PCINU Belanda Ibnu Fikri dan Sekretaris PCINU Belanda Fahrizal Yusuf Affandi. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Budaya, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 16 Desember 2017

Khataman Al-Quran di Pesantren Asnawiyah

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran (PPTQ) Asnawiyah yang beralamat di Desa Pilangwetan Kecamatan Kebon Agung, Demak, Jawa Tengah mempunyai kebiasaan menutup program khataman dibarengkan dengan peringatan Nuzulul Quran.

Ketua Lembaga Pendidikan Islam Asnawiyah (PPTQ) Asnawiyah K.Cholilullah pada mengatakan, Pesantren Asnawiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mendalami khusus Al-Qur’an baik program menghafal, maupun mendalami ilmu Al-Quran.

Khataman Al-Quran di Pesantren Asnawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Quran di Pesantren Asnawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Quran di Pesantren Asnawiyah

“Sebagai pesantren Al-Quran , Pesantren Asnawiyyah membiasakan penutupan kajian Ramadhan dibarengkan dengan peringatan Nuzulul Quran,” kata Cholilullah kepada Ribath Nurul Hidayah pada Ahad (28/7).

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan tersebut diawali dengan ziarah ke makam sesepuh PPTQ Asnawiyyah pagi hari. Pada sore hari buka puasa bersama dengan pengasuh pesantren beserta dzuriyyah (keluarga pesantren), dan seluruh santri. 

Lebih lanjut K Cholilullah menambahkan acara penutupan dan peringatan Nuzulul Quran dilaksanakan setelah shalat Tarawih yang didahului dengan khotmil Quran. Acara dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin Anisatul Qariah Cholil, AH dan doa dipimpin langsung Nyai Hj. Siti Hajar Harni, AH dan diakhiri dengan peringatan hikmah Nuzulul Quran.

Ribath Nurul Hidayah

“Habis Tarawih kita lanjutkan dengan khataman kajian yang didahului dengan khotmil Quran, tahlil mauidhoh hasanah,” tambah K Cholil.

Dalam kesempatan itu, Pengasuh PPTQ Asnawiyyah KH M Muchozin mengatakan, bahwa peringatan Nuzulul Quran adalah sebuah momentum bagi santri supaya lebih mengenal secara mendalam tentang Al-Quran yang meliputi tajwid, qiro’ah atau bacaan, ilmu tafsir, sampai asal mula ayat diturunkan (asbabunnuzul).

“Seorang santri harus mempunyai semangat dalam memperdalam keilmuan Al-Quran, baik qiro’ah, tafsir maupun ulumul Quran itu sendiri,” tutur KH Khozin.

Dalam acara tersebut pengurus Ikatan Santri Putri Asnawiyyah (IKASAPNA) sebagai wadah organisasi internal pesantren Asnawiyyah meluncurkan buletin El-Fata Edisi ke-3 dengan kajian utama “Santri Multi Talent”.

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial

Oleh Misbahul Munir



Banyak pembahasan mengenai puasa. Mulai dari hal yang diwajibkan dalam berpuasa, hal yang disunahkan dalam berpuasa, hal apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam berpuasa. Bila bicara mengenai puasa, seolah tidak akan ada habisnya materi yang hendak kita diskusikan. Telah banyak para ustadz-ustadz yang membahas mengenai puasa. Seperti pada acara rutinan saat Ramadhan di beberapa televisi swasta, acara pengajian di masjid-masjid umum, serta banyak tulisan di media yang menyediakan halaman secara khusus yang membahas mengenai puasa.

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Pendidikan Kepekaan Sosial

Memang ada banyak hal yang bisa kita bicarakan ihwal puasa. Salah satunya adalah mengenai tujuan dari puasa. Sebagaimana yang telah tercantum dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183, bahwa salah satu tujuan dari adanya ibadah puasa adalah agar bertambahnya ketaqwaan umat Islam kepada Allah SWT. Umat Islam diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar bertambah keimanan dan ketaqwaannya. Bertambah dalam hal keyakinannya, yang kaitannya dengan keimanan kepada Allah, bertambah teguh dan mantap eksistensi imannya umat Islam sebagai mahluk yang menghambakan diri kepada Tuhannya.

Ribath Nurul Hidayah

Allah juga menempatkan posisi hamba yang berpuasa di tempat yang sangat istimewa. Bahkan kaitannya dengan pahala berhubungan langsung dengan Allah tanpa adanya perantara. “puasa itu untuk-Ku. Tidak ada yang tahu. Dan aku sendiri yang akan memberikan pahala dengan kehendak-Ku”. Begitulah betapa amalan ibadah puasa ini dijalankan berhubungan langsung kepada Allah tanpa ada mediasi yang menjadi lantarannya. Puasa urusannya langsung kepada Allah. Berbeda dengan amalan ibadah yang lain seperti sholat, zakat, sedekah, haji dan lain sebagainya yang masih menggunakan perantara dalam proses pengamalannya, baik perantara melalui sesama manusia maupun perantara melalui malaikat.

Selain tujuan dalam hal agar bertambahnya ketaqwaan seorang hamba, puasa juga mempunyai manfaat terhadap diri pribadi seorang hamba yang melakukannya. Puasa mempunyai keutamaan secara lahiriah maupun bahtiniah. Secara lahirian, sabda Rasulullah “Shûmû tashihhû (Berpuasalah kalian! Niscaya kalian akan sehat)”. Sudah jelaslah bahwa seorang yang berpuasa itu akan mendapatkan kesehatan. Baik kesehatan jasmani maupun rohani. Secara gamblang Rasul menegaskan hal tersebut. Tidak sedikit terdapat cerita bahwa ada seseorang yang sebelumnya mempunyai penyakit tertentu, ketika puasa selama bulan Ramadhan, maka sembuhlah penyakit tersebut. Ini merupakan salah satu bukti konkrit bahwa berpuasa itu menyehatkan secara jasmani.

Lalu jika kita membahas mengenai puasa dari sisi rohani (ruhiah), jelaslah sebenarnya katika berpuasa, umat Islam sedang ditempa, digembleng, digojlok oleh kawah candra dimuka pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Yang tadinya mempunyai sifat tidak sabar, maka puasa melatih agar dapat bersabar. Jika sebelumnya tidak bisa menahan amarah, maka puasa melatih dapat memanajemen amarah. Jika sebelumnya belum bisa menahan nafsu, maka puasa melatih agar dapat menahan hawa nafsu. Pendek kata, secara rohani puasa dapat mensehatkan kita dalam segi kejiwaan.

Ribath Nurul Hidayah

Ada salah satu riwayat hadis yang menjelaskan bahwa setan menggoda manusia melalui aliran darah. Sepanjang darah manusia masih mengalir, maka sepanjang itu pula setan masih menggoda. Maka ketika umat Islam berpuasa, aliran darah yang disalurkan melalui makanan tidak berjalan lancar seperti biasanya yang ketika tidak berpuasa, nadi yang dilalui darah menjadi lebih mengecil, dan disitulah jalan setan menggoda bisa diperkecil. Dari situ dapat disimpulkan bahwa dengan berpuasa, maka kita dapat terjaga dari godaan setan. Walau kadang dalam kenyataannya ketika orang berpuasa masih ada saja yang berbuat dosa, namun setidaknya dengan puasa ini umat Islam dapat lebih manjaga diri dari godaan tersebut.

Lalu bagaimanakah jika kita bahas puasa ini melalui aspek sosial. Jika kita sudah mengetahui secara jelas, bahwa puasa bertujuan untuk menambah ketaqwaan umat Islam, memberikan kesehatan secara jasmani dan rohani kepada umat Islam, menjauhkan dari godaan setan. Adakah kautamaan puasaini dalam aspek sosial? Maka, sesungguhnya puasa juga mempunyai nilai-nilai sosial. Puasa tidak hanya membahas urusan seorang hamba dengan tuhannya (hablum minallah), tetapi puasa juga membahas urusan hamba dengan hamba (hablum minannas) atau aspek sosial sesama manusia.

Aspek Sosial



Ternyata titik fokus eksistensi puasa bukanlah pada menambah ketaqwaan saja. Bukan hanya kaitannnya antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga terdapat kaitan antara sesama hamba. Banyak perihal puasa yang kaitannya antara sesama hamba, antara lain dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, rasa seperjuangan, rasa seimanan sekeyakianan, rasa persaudaraan, rasa lebih memiliki teman ketika sama-sama berpuasa dan juga dapat menebarkan kasih sayang terhadap sesama Muslim yang sedang melakukan ibadah puasa.

Ketika umat Islam berpuasa, di mana sedang berjuang bertahan melawan rasa lapar yang melilit perut, haus yang mencekik tenggorokan, di situ membuat tersadar dan ikut merasakan bagaimana rasanya ketika menjadi seorang yang dalam keadaan kekurangan. Ikut merasakan penderitaan saudara sesama Muslim yang memang dalam kesehariannya selalu lapar dan haus karena memang memiliki kondisi ekonominya serba kekurangan.

Jika umat Islam dapat merasakan kesusahan yang dirasakan oleh saudaranya yang dalam kekurangan, maka di situ akan tergugahlah jiwa sosial seorang Muslim. Setelah mengetahui bagaimana rasanya hidup dalam rasa lapar dan kekurangan karena tempaan puasa, diharapkan akan tumbuh kesadaran dan pada akhirnya mau saling membantu dan mengulurkan tangan pada saudara yang kekurangan. Dengan demikian, salah satu hikmah dari puasanya ini adalah tergugahnya jiwa sosial pada diri umat Islam.

Walhasil, pada momentum bulan yang penuh rahmah ini, marilah kita tingkatkan rasa solidaritas dan kepekaan sosial sekaligus toleransi kita terhadap sesama.Puasa dapat menjadi mediasi bagi kita untuk memperoleh pendidikan kepekaan sosial. Harapannya, setelah melewati puasa Ramadhan ini, tergugahlah jiwa sosial umat Islam yang kemudian menjadikan terciptanya suatu tatanan masyarakat Muslim yang sejahtera, saling mengasihi dan menyayangi. Semoga!



Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Tegalsari Sleman; mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Desember 2017

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi

Jember, Ribath Nurul Hidayah. Hidup matinya sebuah organisasi sangat tergantung pada kaderisasi. Jika kaderisasi lancar, maka organisasi tersebut bisa ‘survive’. Sebaliknya, jika kaderisasi stagnan, maka umur organisasi itu tinggal menunggu waktu. Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Cabang IPNU Kencong, Jember, Jawa Timur, Muhammad Mansur saat menyampaikan materi dalam acara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU di aula MA Yunisma, Kencong, Rabu (28/9).?

Menurutnya, kaderisasi sangat penting dan harus dilakukan secara terus-menerus agar organisasi tak kekurangan kader. “Demikian juga IPNU-IPPNU, tak boleh berhenti melakukan kaderisasi. Semakin banyak kader atau anggota maka kita semakin kokoh. Semakin banyak yang memahami nilai-nilai Aswaja sekaligus mendakwahkannya,” ucapnya.

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Miliki Peran Penting dalam Organisasi

Mahasiswa semester akhir Jurusan Matematika FKIP Univeritas Islam Jember tersebut ? menambahkan, dalam hal pengkaderan, IPNU-IPPNU ? selalu berada di garda terdepan dan paling awal memperkenalkan NU kepada pelajar. IPNU-IPPNU-lah yang pertama kali keluar masuk sekolah untuk merekrut anggota.?

Baru setelah “lulus” IPNU-IPPNU, mereka aktif di berbagai ? organisasi sayap atau Banom NU yang lain. Dengan demikian, maka sesunguhnya IPNU-IPPNU merupakan ujung tombak untuk menanamkan pondasi ke-NU-an di kalangan pelajar.?

“Itu tugas mulya dan amanah yang wajib kita laksanakan. Dari sinilah banyak tokoh bahkan pemimpin bangsa muncul. Anggota IPNU-IPPNU saat ini adalah calon pemimpin ? NU di masa depan, dan kami harus bangga dengan itu semua,” tukasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Makesta itu sendiri berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh 60 orang peserta. Sebelum menyampaikan meteri, Mansyur melakukan pembai’atan terhadap peserta Makesta. Sejumlah narasumber dihadirkan untuk mengasah sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai soal kepemimpinan, organisasi dan tentu saja soal ke-NU-an. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang yang melaksanakan ibadah puasa bisa dibagi ke dalam tiga golongan. Pertama, adalah puasa yang dilakukan orang awam.

“Puasa orang awam seperti kita-kita ini adalah lita’abud. Kalau tak puasa takut neraka, kalau puasa ingin surga. Ini puasa ta’abud,” katanya pada ceramah buka puasa bersama digelar di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/6).?

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata

Kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini mengibaratkan puasa lita’abudi seperti kuli, yaitu melakukannya karena ingin mendapatkan bayaran dari majikan. Meski demikian, puasa tetap wajib karena itu perintah Allah.?

“Tidak sekali-kali manusia dan jin diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah,” katanya mengutip salah satu ayat Al-Qur’an. “Tidak ada pengabdian yang total, kecuali kepada Allah,” tambahnya.

Puasa jenis kedua adalah litaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah. Bagi orang yang berpuasa pada tahap taqarrub, surga dan bidadiari bukan apa-apa, imbalan bukan tujuannya. Karena bagi dia tujuan utamanya adalah dekat dengan Allah.?

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur tersebut adalah puasa untuk litahaquq, mencari hakikat. Puasa jenis ini adalah ketika orang mencari kebenaran agar berada pada pihak yang benar.?

“Kalau tidak bisa benar, orang tersebut ingin menjadi orang benar. Kalau belum bisa, jangan menghalang-halangi teman yang sudah benar. Masya Allah, jangan sampai ketika ada teman tidak korupsi, jangan dikata-katain kampungan, ndeso, kesempatan tidak terulang,” katanya. ?

Ribath Nurul Hidayah

Menurut dia, puasa litahaqquq tersebut adalah puasa maksimal yang puncaknya adalah allah. Karena, tujuan puasa yang paling utama adalah Allah semata. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 November 2017

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Kongres pada pertengahan Juli 2007 nanti. Kongres akan memilih Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa NU yang baru dan merumuskan langkah-langkah strategis setelah sempat vakum sepeninggal "sang pendekar" KH Maksum Jauhari Lirboyo (Gus Maksum).

Muktamar ke-31 NU di Solo Jawa Tengah, pada akhir November 2004 silam menitahkan organisasi pencak silat kebanggaan warga pesantren itu untuk mengukuhkan diri sebagai "badan otonom" di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang menangani "dunia persilatan"

Kongres akan berlangsung selama empat hari (19-21 Juli 2007), di Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, bertema "Memperkokoh Persatuan dan Persaudaraan Sejati;  Membangun Kebersamaan untuk Penguatan Profesi dan Prestasi."

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Pagar Nusa Digelar Pertengahan Juli

Rencananya Kongres akan dibuka oleh Menegpora Adhyaksa Dault dan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi serta akan ditutup oleh para pinisepuh Pagar Nusa NU. Selain memilih Ketua Umum Pagar Nusa yang baru menggantikan Gus Maksum, kongres ini sekaligus sebagai deklarasi Pagar Nusa dari lembaga yang berada di bawah NU menjadi badan otonom.

Ketua Panitia Konggres KH Fuad Anwar yang didampingi sekretaris H Mujtahidur Ridho kepada wartawan di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (28/6) kemarin, mengatakan, Kongres itu akan dihadiri oleh 211 cabang lebih dari 21 provinsi se-Indonesia. Sebanyak 87 cabang berada di Jawa dan 60 cabang lainnya berada di luar Jawa.

Ribath Nurul Hidayah

Kongres juga akan menghadirkan Panglima TNI, Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Menteri Agama HM. Maftuh Basyuni, Menegpora Adhyaksa Dault, IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia).

Fuad Anwar mengatakan, Pagar Nusa dalam kiprahnya juga pernah ikut membantu mengamankan negara. Sedangkan Kapolri juga untuk mengawal keamanan di tengah masyarakat sejalan dengan program polisi masyarakat (Polmas Polri).

"Pagar Nusa mempunyai sejarah panjang dalam mengawal perjuangan NU, yang kemudian menjadi lembaga Pencak Silat resmi di lingkungan NU. Sebagai sebuah pengabdian moral kepada para kiai Pagar Nusa mengalami perkembangan pesat di seluruh Indonesia," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, dikatakan, sejalan dengan krisis berkepanjangan yang terjadi di negeri ini, Pagar Nusa NU harus mampu memimpin dan membenahi dirinya secara kreatif, kompak, dan saling tolong-menolong serta memberikan kontribusinya pada terciptanya keamanan, kedamaian, ketentraman, dan kehidupan yang tolerans di tengah masyarakat.

Ditambahkan Fuad Anwar, hadirnya Menegpora karena Pencak Silat itu bagian dari olahraga dan olah mental yang berhubungan dengan kesehatan tubuh dan mental. Semantra Menteri Agama diundang terkait adanya aliran-aliran di dunia persialtan yang disebut sebagai aliran putih, merah, dan hitam.

"Dari aliran itu kira-kira yang mana yang benar menurut agama dan sebagainya. Untuk Menteri Pariwisata dan Seni, karena silat juga erat hubungan dengan seni bela diri. Sedangkan dengan IPSI tentu saja terkait dengan pencak silat itu sendiri,” ujar Fuad Anwar.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Kediri, Ribath Nurul Hidayah

Untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Kediri yang didukung oleh Pemkot Kediri, PT Gudang Garam Tbk, Radio On, dan Kediri Jaya.com, menggelar kegiatan pameran lukisan Gus Dur dengan bahan dasar cekakik kopi.



Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Pameran resmi dibuka oleh Agus Sunyoto, Wakil Ketua Lesbumi NU, pada Ahad (25/7) kemarin, dan akan berlangsung hingga Rabu (28/7) di Musium Mastrip Perpustakaan Umum Kota Kediri JL Diponegoro.

Acara yang juga dihadiri Pendeta Kabul dari Gereja GBI Getsamani Kediri ini menarik perhatian publik khususnya warga Kota Kediri yang berduyun-duyun datang ke lokasi pameran.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini sungguh luar biasa – saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Gus Dur adalah bapak bangsa dan perekat antar umat beragama,” kata Pendeta Kabul seperti dikutip www.kedirijaya.com.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam acara ini juga dilaksanakan demo melukis dengan menggunakan bahan dasar cekakik kopi oleh pengunjung.

Bertempatan dengan bulan Jadi Hari Kota Kediri yang ke-1131, 70 lukisan akan dipamerkan, termasuk koleksi lukisan cekakik konjen Jepang di Surabaya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 22 Oktober 2017

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?

Film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” sampai saat ini telah ditonton sekitar 25 ribu orang. Menurut sutradara film tersebut, Yuda Kurniawan, jumlah sebanyak itu setelah diputar 42 kali di tempat berbeda mulai pesantren dan kampus.

“Ini merupakan pemutaran yang ke-42 sejak diputar perdana tanggal 10 Agustus 2016 menjelang Hari Santri. Hingga kini telah ditonton sekitar 25 ribu orang,” katanya selepas pemutaran film itu di peringatan Hari Lahir (harlah) NU ke-91 di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/1). Film tersebut memungkasi pemutaran dua film pemenang Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam rangka Hari Santri tahun lalu.?

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Menurut Yuda, film berdurasi 37 menit itu telah diputar di 15 kampus dan 26 pesantren di seluruh pulau Jawa. Ke depan, ia ingin memutar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Bagi komunitas, pesantren atau kampus di daerah tersebut yang ingin memutarnya, bisa menghubungi email yudakurniawan@yahoo.com.?

Film ini, sambungnya, belum dapat dipublish di media sosial seperti YouTube karena lebih mengutamakan pemutaran dan diskusi.?

Di antara apresiasi dikemukakan Rektor IAI Ibrahimy KH Cholilur Rahman. Menurut dia, film itu bisa memunculkan romantisme tersendiri bagi para alumni pesantren. “Jujur, saya meneteskan air mata saat melihat bagian awal ketika lalaran Alfiyah. Ini benar-benar menumbuhkan kebanggaan bagi santri dengan pesantrennya,” ungkapnya selepas menontonnya di auditorium Institute Agama Islam Ibrahimy, Genteng, Selasa (25/10/2016).?

Ribath Nurul Hidayah

Film tersebut, lanjutnya, dibikin selama setahun dengan menyambangi sekitar 15 pesantren di pulau Jawa. Beberapa tokoh yang ada dalam film tersebut adalah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU KH Abdul Gaffar Rozin, pengasuh Pesantren Kaliopak KH Jadul Maula, pengasuh Pesantren Tegalrejo KH Yusuf Chudlori, dan pengasuh Pesantren Kauman Lassem KH Zaim Ahmad Syakir. (Abdullah Alawi)

Official trailer itu diunggah di YouTube dengan penjelasan berikut:

Negeri ini memiliki lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Senin, 16 Oktober 2017

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Perkembangan Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran Hijaz (Makkah dan Madinah). Hijaz, sejak zaman zaman Rasulullah SAW menjadi primadona bagi orang yang ingin mendalami wahyu dan Hadist an-Nabawi. Sempat, banyak ilmuwan Islam meninggalkan Hijaz disebabkan karena adanya pembantaian massal yang dilakukan oleh Hajaj bin Yusuf yang mensyahidkan Abdullah bin Zubair, ulama yang sangat disegani dari sisa-sisa sahabat Rasulullah SAW. Setelah simpuh darah membanjiri Masjidil Haram, banyak ilmuwan Muslim yang pindah menuju Baghdad, Syam dan Mesir serta Yaman. Hingga, ketika situasi Hijaz sudah stabil lagi, ia diserbu para thâlabah yang ingin mencari ilmu dan keberkahan beribadah di Masjidil Haram dan Masjid an-Nabawi yang pahalanya dilipatgandakan sebagaimana yang disabdakan baginda Nabi Muhammad SAW.

Dari Hijaz, terpancarlah sinar Islam hingga menjulang ke seantero dunia, termasuk Nusantara (Indonesia). Indonesia terkena sinar keislaman Hijaz pada abad 1 Hijriyah/ 7 Masehi, yaitu pada masa Khalifah Ustman bin Affan. Sinar itu semakin bercahaya pada abad 18, 19 dan 20. Banyak ulama asal Nusantara yang mendatangi Hijaz, baik untuk berdagang, menuntut ilmu atau untuk menjalankan ritual ibadah haji. Dari banyaknya animo umat Islam asal Nusantara ini, maka terbentuklah Kampung al-Jawi yang barada di Syami’ah, dekat Pasar Seng. Kampung al-Jawi ini, bukan hanya dihuni oleh bangsa Indonesia, melainkan umat Islam Asia Tenggara, banyak yang bertempat tinggal di sana.

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Mulanya, umat Islam yang belajar di Hijaz, terutama di Masjidil Haram mendapatkan celaan dan hinaan. Namun, dengan penuh kesabaran mereka tetap semangat untuk selalu belajar dan beristifâdah kepada para syeikh yang mengajar di Masjidil Haram. Buahnya, Hijaz dibanjiri oleh pengajar dan thâlabah yang datangnya dari Nusantara dari generasi ke generasi. Ulama-ulama dari Nusantara banyak memainkan peranan penting dalam akademik keulamaan. Prestasi mereka banyak yang mengungguli ulama-ulama yang asli orang Arab, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi, dan Syaikh Yasin al-Fadani.

Buku Amirul Ulum ini menerangkan tentang biografi 26 ulama Aswaja asal Nusantara yang mempunyai prestasi gemilang (seperti menjadi imam, khatib dan pengajar di Masjidil Haram) yang dapat membawa nama baik Nusantara (Indonesia) hingga go internasional. Ulama-ulama tersebut yaitu, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Makki, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Mahfudz at-Turmusi al-Makki, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi al-Makki, Syaikh Muhsin al-Musawa al-Palimbani al-Makki, Syaikh Abdullah Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi al-Makki, Syaikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jukjawi al-Makki, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, Syaikh Ahmad bin Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Makki, Syaikh Ismail al-Khalidiyah al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Makki, Syaikh Junaid al-Batawi, Syaikh Abdul Karim al-Bantani al-Makki, Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari al-Makki, Syaikh Muhammad  Ahyad bin Muhammad Idris al-Bughuri al-Makki, Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi al-Makki, Syaikh Jinan Muhammad Thayyid al-Sariaki al-Makki, Syaikh Asy’ari bin Abdurrahman al-Baweani al-Makki,  Syaikh Abu Bakar bin Syihabudin at-Tambusi al-Makki, Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi al-Makki, Syaikh Muhammad Zainudin al-Baweani al-Makki, Syaikh Abdul Qadir al-Mindili al-Makki, Syaikh Abdullah bin Hasan al-Jawi al-Makki, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Jawi al-Makki, Syaikh Marzuki al-Jawi al-Makki dan Syaikh Muhammad bin Umar al-Sumbawi al-Makki.

Ribath Nurul Hidayah

Di dalam buku ini telah dikupas biografi langka dari sirah ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh di Negeri Hijaz. Mungkin buku yang semacam ini baru pertama kali di Nusantara yang ditulis memakai huruf latin. Sebuah prestasi langka yang mengagumkan meskipun hanya ditulis oleh santri lulusan pesantren (lulusan Pesantren Al-Anwar asuhan KH Maimoen Zubair, sesepuh Nahdlatul Ulama). Sebenarnya Amirul Ulum dalam muqadimahnya, ingin menulis lebih dari 26  tokoh. Akan tetapi, karena minimnya data, terpaksa ia mencukupkan tokohnya menjadi 26. Menilik statemen Syaikh Yasin al-Fadani sebagaimana yang dikutip penulis bahwa ada sekitar 130 pakar hadist yang transmisi keilmuannya diriwayatkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani yang kesemuanya tidak lepas dari Hijaz. Sehingga, dari statemen ini, bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa ulama-ulama asal Nusantara yang mempunyai peranan penting dalam kontak dan jaringan keilmuan di Hijaz itu lebih dari 130. Sebab, kutipan itu hanya dalam masalah Hadist, belum cabang keilmuan yang lainnya seperti Fiqih, Teologi, Gramatika Arab dan Tasawuf.

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa kelebihan buku karya Amirul Ulum ini, ada juga beberapa kekurangannya, misalnya tokoh urutan 22 sampai 26 itu ditulis hanya beberapa lembar saja. Ada yang dua lembar dan ada yang tiga. Akan tetapi, kekurangan yang sedikit itu tidaklah mengurangi sumbangsih besar penulis yang dapat mengungkap sesuatu kekayaan sejarah ulama Nusantara di Hijaz sehingga membuat keislaman Nusantara terpancar hingga ke seantero dunia melalu mediator Makkah dan Madinah.

Saya berharap ke depan, dengan lahirnya buku ini, akan menginspirasi lahirnya buku-buku yang membahas tentang prestasi ulama Nusantara, bukan hanya di Hijaz, melainkan merambah ke Yaman, Mesir, Syam dan Negara Islam lainnya. Semua itu adalah khazanah yang luar biasa, yang membuat nama Nusantara kita harum semerbak di mata dunia. Semoga penulis buku ini mau melanjutkan studinya sehingga tokoh yang ditulis tidak hanya 26. Semoga bermanfaat.

Judul Buku : Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Kategori : Sejarah Islam Nusantara

Penulis : Amirul Ulum

Kata Pengantar : Prof. Dr. Abdul Karim, M.A., M.A. (Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga asal Bangladesh, India)

Penerbit : Pustaka Musi Yogyakarta 

Tebal : xxvi + 332 Halaman 

No ISBN : 602-14832-5-1

Cetakan I : 17 Maret 2015

Harga : Rp. 76.000,- 

Peresensi : Dwi Oktaviani Kurniawati, peminat kajian Sejarah Islam Nusantara asal Kota Jambi, Sumatra

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Nusantara, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 Oktober 2017

Menunda Shalat

Adzan berkumandang di kompleks Pesantren Tegalsari. Waktunya untuk sholat dzuhur. Namun, dua sahabat Mahmud dan Joko, bukanya pergi mengambil wudhu, melainkan pergi ke kantin pondok.

“Lho kang, ayo ke masjid!”

“Bentar Jok. Kan kalau hendak shalat, merasa lapar. Kita boleh makan dulu, biar shalatnya bisa lebih konsentrasi,” jawab Mahmud.

Menunda Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menunda Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menunda Shalat

Joko pun mengiyakan ajakan temannya itu, disamping ia pernah mendengar keterangan itu pada kajian fiqh. Kebetulan perutnya juga ikutan lapar, maklum tadi habis ikut ro’an (kerja bakti).

Keduanya akhirnya makan sampai selesai. Joko langsung membayar, untuk segera menuju ke masjid. Tapi Mahmud, belum ada tanda-tanda beranjak dari kursinya.

“Ayo, Kang. Kalau tadi aku sepakat alasan untuk makan dulu. Lha sekarang kok tetap menunda-nunda lagi, sampeyan mau ndalil apa lagi?

Ndak ada Jok, nek saiki mung kewaregen (sekarang ? kekenyangan), nanti shalatnya ndak konsen,”

Ribath Nurul Hidayah

Walah, wes tak tinggal wae! (kalau begitu kutinggal saja!)” ? ? Ajie Najmuddin

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, AlaSantri, Santri Ribath Nurul Hidayah

Senin, 02 Oktober 2017

Peduli Katarak, Pesantren Tebuireng Adakan Operasi Gratis

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Banyaknya penderita mata katarak di kabupaten Jombang yang tidak  mendapatkan pelayanan operasi dan pengobatan katarak secara gratis, mendapat perhatian khusus dari Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Sebagai lembaga sosial yang peduli akan kesehatan masyarakat, dalam hal ini kesehatan mata. LSPT bekerja sama dengan beberapa lembaga yaitu Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU), Persatuan Tionghoa Indonesia (INTI), Polres Jombang, serta Kodim 0814 Jombang mengadakan operasi katarak secara gratis. 

Peduli Katarak, Pesantren Tebuireng Adakan Operasi Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Katarak, Pesantren Tebuireng Adakan Operasi Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Katarak, Pesantren Tebuireng Adakan Operasi Gratis

Melalui rilisnya kepada Ribath Nurul Hidayah Senin (29/12), Nizar Rafi Muttaqin ketua panitia, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi angka kebutaan akibat penyakit katarak di  daerah Jombang. 

Ribath Nurul Hidayah

“Hal ini sebagai usaha dan upaya untuk mengatasi masalah tingginya angka kebutaan karena penyakit katarak, terutama bagi masyarakat tidak mampu di Kabupaten Jombang,” terangnya.

Target peserta sebanyak 500 orang yang akan dioperasi secara gratis. Sedangkan untuk peserta yang diperbolehkan periksa secara gratis sebanyak 1.500 orang. Peserta yang diutamakan masyarakat kurang mampu secara ekonominya itu, diberi kesempatan untuk mendaftar di tiga lokasi yang berbeda. Selain itu, langkah ini juga dalam rangka memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Tiga lokasi pendaftaran tersebut adalah di kantor LSPT Jl Irian Jaya No 10 Jombang 61471 (Telepon : 08569067122), di Toko Mulia Jl A Yani No 6, dan di Melati Jln Buya Hamka No 49.

Kegiatan  ini dibagi menjadi tiga tahapan. Dimulai dari pendaftaran peserta di tiga liokasi tersebut, kemudian screening dan pemeriksaan di kantor KODIM 0814 Jombang Jl KH Wahid Hasyim No 28 Jombang pada Ahad 11 Januari 2015 pukul 08.00 sampai selesai. 

Sedangkan tahapan terakhir dan acara puncaknya adalah operasi katarak secara gratis yang ditempatkan di Rumah Sakit Nahdhatul Ulama (RSNU) Jombang. Ini nanti dilaksanakan pada Jum’at sampai Ahad (23-26/12/2015). (romza/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Kiai, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 28 Juli 2017

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri, sudah ada embrio organisasi yang menjadi cikal bakal NU, salah satunya adalah Nahdlatut Tujjar yang merupakan perkumpulan para pengusaha NU yang didirikan oleh KH Wahab Hasbullah, dan dipimpin oleh Hasan Gipo, yang kemudian menjadi ketua tanfidziyah pertama NU.

“Para kiai sadar bahwa masyarakat NU masih ketinggalan dalam perekonomian, karena itulah dibentuk wadah Nahdlatut Tujjar untuk mendukung aktifitas keagamaan warga NU yang sudah sangat kuat,” katanya dalam acara launching NU Expo 2012 dan Rembug Nasional Saudagar NU di halaman gedung PBNU, Kamis (5/1).

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tumbuh dari Perkumpulan Saudagar

Islam, kata Kiai Said, sangat menghormati dunia usaha. Buktinya, Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad, merupakan nabi yang dilahirkan dari suku pedagang, yaitu suku Quraisy.? Diantara anggota suku tersebut, seperti Abu Sufyan, Abu Lahab dan Umayyah, merupakan para saudagar yang dihormati masyarakatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, menurut Kiai Said, merupakan salah satu modal utama untuk menciptakan stabilitas. Karena itu, diperlukan adanya kebijakan yang adil dan mengayomi rakyat kecil agar mereka bisa terentas dari kemiskinan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kekayaan yang ada di Indonesia cukup untuk menhidupi 250 juta rakyat Indonesia, tetapi tidak cukup memenuhi hasrat satu orang yang rakus,” paparnya.

Ia menyampaikan penghargaannya atas upaya Lembaga Perekonomian NU dan Himpunan Pengusaha NU (HPN) dalam menggairahkan dan mendorong tumbuh kembangnya kewirausahaan di lingkungan NU.

“Ini merupakan langkah positif harus kita apresiasi agar kita dapat bangkit seperti yang lain,” paparnya.

Kiai Said juga memotivasi para pengurus LPNU, HPN dan lembaga lainnyayang hadir dalam acara tersebut bahwa aktif dan berkorban untuk NU tidak akan menjadi melarat, meskipun tidak ada gaji yang diperoleh. Banyak orang telah membuktikan adanya berkah yang diperoleh karena keikhlasannya dalam berjuang untuk ummat.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah