Kamis, 30 November 2017

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Subang, Ribath Nurul Hidayah. Setiap daerah memiliki keunikan sendiri dalam menyambut lebaran, seperti di wilayah pantura kabupaten Subang terdapat tradisi tukar rantang atau biasa disebut dengan udun-udunan.

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Menurut Reti salah satu warga desa Cilamayagirang tukar rantang adalah saling tukar makanan atau masakan yang disimpan di dalam rantang susun, “Tradisi tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang daerah sini” jelasnya.

”Dalam tukar tantang ada perbedaan antara kerabat dan tetangga. Jika kerabat yang nasabnya lebih tua, tukar rantang berisi lengkap, seperti nasi, bakakak (ayam panggang), gula, kopi, udud (rokok) aneka macam buah-buahan,” ujar Siti Aisyah.  

Ribath Nurul Hidayah

Kalau untuk kerabat yang nasabnya lebih muda dan tetangga, tukar tantang isinya sederhana, yaitu nasi lengkap lauk pauknya, seperti telur atau ayam opor. 

“Kebiasaan orang yang diberi hantaran rantang akan membalas hantaran pada hari yang sama atau hari berikutnya. Tentu saja isinya sama, nasi lengkap dengan lauk-pauk,” jelas Aisyah pada Ribath Nurul Hidayah, Selasa (6/8/2013).

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Ustadz Sobri, Tradisi tukar rantang harus dilestarikan karena selain bersedekah makanan, tradisi tersebut untuk memperetat tali silaturrahim antar kerabat dan tentangga.

Uniknya, dalam tradisi tukar rantang ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. Uang tersebut diperuntukkan kepada si anak pengirim rantang. 

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5.000 sampai dengan  Rp50.000 atau pun Rp100.000, tergantung pada kemampuan si pemberi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Warta, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rayon PMII Kesehatan Ajak Kader Jadi Aktivis Militan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 3 bulan yang lalu, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang mendirikan rayon di Fakultas Kesehatan Unwaha. Hal ini pertama kali pihak pengurus komisariat melakukan ekspansi di berbagai fakultas setempat.

Rayon PMII Kesehatan Ajak Kader Jadi Aktivis Militan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rayon PMII Kesehatan Ajak Kader Jadi Aktivis Militan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rayon PMII Kesehatan Ajak Kader Jadi Aktivis Militan

Pada waktu yang singkat itu, Pengurus Rayon PMII Kesehatan menggelar perekrutan anggota baru atau yang biasa diistilahkan dengan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba).

Ma’rifatin Nikmah, Ketua Pengurus Rayon PMII Kesehatan mengajak kepada calon anggota mengabdikan dirinya untuk urusan organisasi dengan menjadi aktivis yang militan. “Menjadi seoarang kader militan sangat dibutuhkan demi kemajuan organisasi PMII, sebab pemikirannya menjadi pilar yang memperkokoh ketangguhan dari organisasi tersebut,” katanya kepada Ribath Nurul Hidayah, Ahad (20/12) kemarin.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Nikmah, aktivis yang militan akan membantu keberlangsungan organisasi PMII lebih baik dan progresif. “Kelangsungan dan kelanggengan organisasi tidak lepas dari terbentuknya kader yang militan terhadap organisasi,” ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Syaiful Hadi, ketua panitia pelaksana kegiatan, menyinggung tajuk yang diangkat panitia, yakni “Membentuk Kader Militan Berbasis Kesehatan dari Kampus untuk Negeri”, berawal dari realitas bahwa tidak sedikit aktivis pergerakan yang acuh terhadap organisasinya. Mereka lebih mementingkan urusan tampilan atau pola hidupnya daripada memupuk diri menjadi aktivis yang sebenarnya.

“Tidaklah mudah menjadi calon kader yang memiliki kemampuan untuk menjadi seoarang pionir organisaasi. Hal itu terbukti, para remaja yang sejatinya sebagai penerus bangsa yang baik dan terarah malah kebanyakan sibuk dengan style daripada memikirkan bangsa,” tuturnya.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 18-20 Desember 2015, di Graha Gus Dur, Tambakberas ini, diikuti tak kurang dari 10 peserta. Selama kegiatan mereka mendapat berbagai materi, di antaranya Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Nilai Dasar Pergerakan (NDP), antropologi kampus, ke-PMII-an, sejarah PMII lokal, sejarah Kopri, mahasiswa dan tanggung jawab sosisal, dan kajian ilmu fakultatif. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Lomba, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta segenap umat muslim, utamanya warga NU untuk mengerjakan segala amalan di bulan suci Ramadhan dengan khusyu. Terlebih dengan pelaksanaan sholat tarawih.

“Selama ini terkesan sholat Tarawih dikerjakan dengan cepat dan seolah-olah balapan antara tempat yang satu dengan yang lain. Hal ini tentunya dikhawatirkan akan mengurangi kekhusyuan,” katanya, Senin (6/6).

Menurut Hasan, biasanya sholat tarawih ini dilakukan dengan cepat karena ingin cepat selesai. Apalagi jika mendengar tempat sebelahnya sudah sholat witir, pasti akan tambah cepat. Terlebih jika makmumnya adalah para anak-anak muda.

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Shalat Tarawih Khusyu? Matikan Pengeras Suara!

“Setelah saya amati dengan seksama, ternyata hal itu dikarenakan adanya speker (pengeras suara). Jika tempat sebelahnya terdengar sudah witir, maka imam pastinya agak cepat baca suratnya. Solusi yang ingin saya tawarkan, saat sholat taraweh matikan dulu spekernya. Nanti nyalakan lagi setelah mau tadarus Al-Qur’an,” jelasnya.

Hasan menyampaikan bahwa sholat taraweh ini harus dilakukan dengan tuma’ninah dan khusyu. Meskipun agak cepat, tetapi imam dan makmum tidak boleh melupakan tuma’ninah. “Terkadang saat imam selesai baca Al-Fatihah makmum menjawab Amin dengan keras seperti dibentak,” terangnya.?

Oleh karena itu Hasan meminta kepada segenap imam masjid dan mushola untuk memberikan proses pembelajaran kepada anak muda bagaimana menunaikan sholat dengan khusyu. “Marilah berikan contoh yang baik bagi anak muda,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Hasan mengharapkan agar umat muslim, terutama di Kabupaten Probolinggo bisa mengisi bulan suci Ramadhan ini dengan kegiatan-kegiatan ibadah. “Inilah bulan suci yang penuh dengan berkah dan ampunan. Semoga kita mampu mengisi bulan penuh rahmat ini dengan sebaik-baiknya dan kembali fitrah saat hari raya Idul Fitri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Kajian, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah - Sejumlah program yang dapat direalisasikan Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur dibahas intensif pada Ahad (17/1). Diharapkan dari koordinasi ini banyak peluang dan kegiatan yang bisa menyapa warga serta manfaatnya dapat dirasakan khalayak.

"Ada 5 program yang telah disepakati pada rapat yang berlangsung sejak pagi hingga petang kemarin," kata Ahmad Najib AR kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (18/1). Kelima program tersebut dari mulai menejemen organisasi, media informasi dan publikasi, pembinaan dan kepustakaan, penerbitan dan usaha, serta riset dan pengembangan, lanjutnya.

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Gus Najib, sapaan akrabnya juga menandaskan bahwa di menejemen organisasi bersifat konsolidasi internal, memanfaatkan jaringan dengan kepengurusan di kota dan kabupaten se Jawa Timur hingga memanfaatkan koordinasi dengan kepengurusan di tingkat PP LTN NU di Jakarta.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk media informasi dan publikasi ada dua pekerjaan besar yang dilakukan yakni mengoptimalkan keberadaan website kitabkuning.net serta workshop media sosial," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam waktu dekat, PW LTN NU Jatim yang dipandegani oleh program pembinaan dan kepustakaan akan melangsungkan lomba karya tulis ilmiah. "Temanya sedang kami persiapkan," katanya. Dari kegiatan ini diharapkan juga akan lahir buku sebagai bunga rampai gagasan peserta lomba, lanjutnya.

Pertengahan tahun depan juga sudah disiapkan usaha penerbitan sekaligus percetakan sebagai penopang kebutuhan keuangan lembaga. "Yang pasti, untuk penerbitan sudah disepakati," kata Gus Najib. Sedangkan untuk percetakan karena membutuhkan mesin yang memadai, masih menunggu kepastian dari sejumlah pihak yang telah menyediakan kesempatan tersebut, lanjutnya.

Sedangkan terakhir adalah terkait dengan riset dan pengembangan yang mendapat sejumlah masukan dari peserta rapat. "Kegiatan ini memang penting sebagai sarana menghimpun dan mengkonsolidir intelektual dan peneliti NU yang berorientasi pada kemajuan jamiyah," terangnya. Devisi ini juga akan mengakomodir keinginan kuat para tenaga pendidik dan dosen yang membutuhkan jurnal sebagai media untuk menyampaikan gagasan demi memperbaiki kondisi yang lebih baik.

Yang membanggakan, pada rapat yang berlangsung di aula PWNU Jatim tersebut, sejumlah pengurus berkenan hadir. "Walau ada yang dari luar kota, antusias mereka sangat membanggakan," kata Gus Najid. Termasuk kehadiran mantan Ketua PW LTN NU periode sebelumnya yakni? Dr H Syahid yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Santri, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.

Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

Ribath Nurul Hidayah

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.

Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.

Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”

Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, IMNU, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Cabut Gigi Atas Tak Pengaruhi Saraf Mata

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah - Dokter gigi Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo drg Dyanita mengatakan, banyak beredar di masyarakat bahwa mencabut gigi atas dapat mempengaruhi saraf mata. Padahal itu tidak benar, selama pencabutan gigi dilakukan oleh tenaga profesional yaitu seorang dokter gigi.

"Sering kita mendengar mitos bahwa mencabut gigi atas dapat mempengaruhi saraf mata. Hal ini adalah anggapan yang salah," kata Dyanita kepada Ribath Nurul Hidayah, Sabtu (25/11).

Cabut Gigi Atas Tak Pengaruhi Saraf Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabut Gigi Atas Tak Pengaruhi Saraf Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabut Gigi Atas Tak Pengaruhi Saraf Mata

Ia menjelaskan, prosedur pencabutan gigi memang menggunakan obat anestesi (bius) untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Tetapi, obat anestesi yang diberikan itu ditujukan pada saraf yang letaknya berjauhan dengan saraf mata sehingga proses pencabutan sama sekali tidak terkait dengan saraf mata.

"Berbeda halnya dengan infeksi pada gigi rahang atas, jika sudah terlanjur terjadi komplikasi dapat menjalar ke daerah cekungan bawah mata. Infeksi gigi yang tidak segera diobati akan semakin parah dan dapat timbul nanah. Biasanya, komplikasi ini terjadi pada pasien yang juga memiliki riwayat penyakit sistemik seperti diabetes mellitus dan gangguan otoimun," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Apabila, sambung Dyanita, ada nanah yang terkumpul di daerah tersebut, maka akan menekan bagian mata. Oleh karenanya, apabila terdapat lubang pada gigi, segera untuk diperiksakan ke dokter gigi.

Jika sudah dibawa ke dokter gigi, dokter itu akan menilai kondisi gigi. Jika kerusakan minimal, akan dilakukan perawatan untuk mempertahankan gigi. Sebaliknya, jika kerusakan sudah menjalar ke jaringan penyangga sekitar, gigi harus dicabut untuk menghilangkan sumber infeksi yang dapat menyebabkan komplikasi lebih parah.

Ribath Nurul Hidayah

"Sebelum dilakukan pencabutan, dokter gigi akan memeriksa kondisi umum pasien seperti tekanan darah, suhu badan, dan menanyakan riwayat penyakit sistemik yang berkaitan dengan tindakan pencabutan. Dokter gigi akan menilai kondisi pasien apakah aman untuk dilakukan pencabutan atau tidak. Jika aman akan dilakukan prosedur anestesi sesuai prosedur dan dilakukan pencabutan gigi," terangnya.

Ia menambahkan, perawatan luka setelah cabut gigi juga berpengaruh terhadap kesembuhan pasien. Dokter gigi akan menyampaikan ke pasien hal-hal yang harus dihindari setelah pencabutan gigi seperti tidak boleh merokok, tidak boleh sering berkumur-kumur, tidak boleh tidur menghadap bekas pencabutan dan luka tidak boleh diberi minyak-minyak.

"Pasien dianjurkan untuk minum obat sesuai petunjuk sehingga luka pencabutan pun akan sembuh sebagaimana mestinya," pungkasnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan Ribath Nurul Hidayah

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Presiden DPP Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Saiful Bahri Anshori menyayangkan sikap sepihak PT Chevron Pasific Indonesia yang melakukan pengurangan karyawan dalam jumlah besar tanpa mekanisme yang berlaku dalam perundang-undangan. Saiful melihat sikap sepihak ini sebagai sebuah sikap semena-mena terhadap hukum yang berlaku.

"PT Chevron Pasific Indonesia sebagai perusahaan multi nasional dalam eksplorasi Migas dan pertambangan di Indonesia seharusnya menaati dan mengetahui bagaimana proses dan mekanisme hukum di Indonesia," ujar Saiful didampingi Sekretaris Jendral Sukitman Sudjatmiko di Jakarta, Kamis (4/2).

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar

Menurut Saiful, PT Chevron Pasific Indonesia tanpa melakukan perundingan dengan melibatkan serikat buruh yang berada di perusahaan tersebut langsung melakukan sosialisasi kepada seluruh buruh dan karyawannya mengenai akan adanya pengurangan karyawan sebanyak 25 persen (sekitar 2.000 orang karyawan) dari jumlah seluruh karyawan yang ada sekitar 6.500 karyawan.

Atas dasar pandangan itu, pihak Sarbumusi menuntut Presiden Republik Indonesia untuk mengevaluasi seluruh perusahaan asing dan investor asing yang selama ini ditengarai tidak tunduk dan mau mengikuti peraturan perundang undangan yang berlaku di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Sarekat buruh NU ini juga mendesak Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk selalu melakukan pengawasan dan mengawal proses program reorganisasi di PT Chevron Pasific Indonesia agar sesuai dengan koridor perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Sarbumusi juga mengimbau pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia untuk tunduk dan patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan menyesuaikan seluruh kebijakan korporat dengan aturan di Indonesia.

Menurut Saiful, pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia sebaiknya mengedepankan komunikasi dan konsultasi yang baik dalam perundingan Bipartit agar dicapai solusi terbaik sehingga tidak diperlukan lagi pengunduran diri karyawan massal sebanyak 1.600 orang.

Sarbumusi meminta SKK Migas dan Kementerian ESDM RI memonitor dan melakukan evaluasi terhadap pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia agar tidak melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Demikian pernyataan sikap DPP K Sarbumusi dalam rangka menegakkan peraturan dan mekanisme perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Sarbumusi menolak berbagai bentuk penindasan buruh dengan cara memperkuat persatuan dan solidaritas di antara sesama buruh dan rakyat Indonesia," pungkas Saiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Sudah jamak diketahui, bahwa masyarakat Indonesia merupakan “penggila” sepak bola. Hal itu terbukti dengan tingginya animo suporter dari Sabang sampai Merauke ketika mendukung klub kesayangannya bertanding di Liga Indonesia. Hampir di setiap pertandingan stadion penuh sesak ribuan bahkan puluhan ribu jiwa dengan segala atribut kreatifitasnya.

Puncaknya, ketika Timnas Indonesia bertanding di level Internasional yang dianggap mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, para suporter dari berbagai daerah rela antri berjam-jam untuk memperoleh tiket demi menjadi saksi perjuangan punggawa Timnas Merah Putih.

Akan tetapi, yang tak luput dari kaca mata dunia, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.? Sebagai seorang Muslim, kewajiban shalat 5 waktu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Para suporter sepak bola Indonesia yang mayoritas Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini. Mungkin bagi mereka yang menyaksikan lewat siaran televisi dapat mengatur waktu lebih mudah antara menunaikan shalat dengan menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, bagi mereka yang menyaksikan langsung di stadion justru menjadi masalah pelik. Lama waktu mengantre tiket, berjubelnya suporter dan minimnya fasilitas musholla seolah menjadi alasan mereka untuk “pasrah”. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban shalat begitu saja.

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Lantas, siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap masalah ini ? Dalam Islam, Nabi Muhammad telah bersabda: “kullukum rầ’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. Jika ditempatkan dalam konteks persepakbolaan Indonesia, pemimpin dalam hal ini adalah pengurus PSSI. Sebagai penyelenggara Liga Indonesia dan pertandingan internasional, seharusnya mereka mengerti dan memahami bahwa mayoritas suporter adalah Muslim.

Apalagi Ketua dan mayoritas pengurus PSSI juga Muslim. Tidak selayaknya mereka sibuk dengan masalah internal yang ujung-ujungnya berebut kekuasaan. Tidak selayaknya pula hanya melakukan komersialisasi demi meraih kuntungan yang sebesar-besarnya, hingga melupakan masalah yang urgent, hak dan kewajiban suporter sebagai umat Islam. PSSI harus mengayomi mereka dengan melakukan beberapa hal.

Pertama, mengatur waktu penyelenggaraan pertandingan. PSSI hendaknya menentukan waktu-waktu pertandingan yang tidak mepet dengan batas waktu shalat. Shalat yang paling “rawan” hilang adalah shalat Dzuhur (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan sore), shalat Ashar dan Magrib (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan malam). Waktu yang paling pas menurut bagi pertandingan sepak bola Indonesia adalah ba’da shalat Ashar dan ba’da shalat Isya’. Alasannya, jarak kedua waktu shalat ini dengan shalat sesudahnya cukup panjang. Dari Ashar ke Magrib sekitar tiga jam, sedangkan dari Isya’ ke Subuh malah lebih panjang lagi. Akan tetapi, hal ini harus didukung dengan penjualan tiket yang professional.

Kedua, memperbaiki manajemen penjualan tiket. Apabila penjualan tiket masih saja seperti saat ini dengan cara mengantre berjam-jam di hari H, tentu akan membuang banyak waktu hingga shalatnya “bablas”. Karena itu, system penjualan tiket secara online hendaknya semakin diutamakan dengan waktu pengambilan tiket beberapa hari sebelum hari H. Minimal menjual tiket lebih pagi. Dengan itu para suporter bisa datang ke stadion beberapa menit sebelum kick off dimulai, tanpa kehilangan shalatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, penyediaan fasilitas shalat di dekat stadion. PSSI bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun masjid di dekat stadion yang sanggup menampung ratusan hingga ribuan jamaah. Hal ini penting agar penonton tidak terlalu jauh dan membuang-buang waktu mencari tempat untuk menunaikan shalat. Selain itu, masjid yang dekat dengan stadion juga mempengaruhi mood para suporter terhadap kewajibannya agar tidak dilupakan begitu saja.

Keempat, sosialisasi dalam internal PSSI maupun dengan elemen-elemen masyarakat. Berawal dari Pengurus Besar PSSI disalurkan kepada Pengprov PSSI, Pengcab PSSI hingga ke akar rumput perkumpulan suporter, dan akhirnya sampai ke sanubari pribadi suporter. Selain itu, perlu juga berkoordinasi dengan elemen-elemen masyarakat, di antaranya dengan ulama’ atau kyai. Pengurus PSSI bisa terjun dalam pengajian-pengajian bersama ulama’ membahas pentingnya shalat bagi umat Islam mekipun dalam keadaan hendak menyaksikan pertandingan sepak bola, sehingga shalatnya tidak terlewatkan.

Ribath Nurul Hidayah

Terakhir, petinggi dan pengurus PSSI (banyak yang telah Haji) mestinya memahami arti pentingnya shalat. Tentunya mereka menginginkan terwujudnya ketertiban dan sportifitas pada persepakbolaan Indonesia, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal itu dapat terwujud setelah elemen-elemen persepakbolaan Indonesia melaksanakan shalat. Setelah shalat, hati dan fikiran mereka akan terasa “adem ayem”, tenang, damai, dan terhapuslah rasa dengki yang dapat menciptakan anarkisme. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Ashsholatu tanha ‘an al-fakhsya’i wa al-munkar” (Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).

Mengingat masih sedikitnya yang membahas masalah ini, semoga saran dalam tulisan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti demi keseimbangan dunia dan akhirat kita sebagai umat Islam. Boleh kita menyaksikan pertandingan sepak bola, namun jangan sampai meninggalkan shalat. Hendaknya masalah pelaksanaan shalat ini menjadi tanggungjawab bersama antara PSSI, Suporter, dan elemen-elemen masyarakat.

Di dalam momentum peringatan tahun baru Hijriyah ini, dan sebelum dimulainya kompetisi musim depan, saatnya PSSI mulai berpikir dan berhijrah ke arah yang lebih baik dengan mengatur jadwal pertandingan sepak bola supaya tidak bentrok dengan waktu shalat. Semoga persepakbolaan Indonesia semakin berprestasi dan didukung oleh suporter yang mempunyai akhlak mulia, sebagai akibat dari pelaksanaan shalat. Amin.

?

Riza Nur Fikri

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

Perlu Ketegasan Sikapi TKI

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Anggota DPR RI yang juga Ketua Umum Fatayat NU Hj Maria Ulfah Anshar meminta pemerintah untuk memberikan perlindungan dalam berbagai kasus yang dihadapi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"TKI ini bisa mendatangkan devisa bagi Indonesia, sehingga perlu jaminan dan perlindungan yang jelas. Kasus tindakan kriminalitas masih sering terjadi hingga sekarang," katanya dalam beda buku berjudul "Nalar Politik Perempuan Pesantren" yang digelar Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Cirebon di Pusdiklatpri, Sabtu (17/3).

Perlu Ketegasan Sikapi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Ketegasan Sikapi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Ketegasan Sikapi TKI

Menurut dia, masalah TKI begitu kompleks. Sebut saja mulai dari kasus penganiayaan TKI, pemulangan secara paksa oleh Pemerintah Malaysia bahkan sampai pada ancaman hukuman mati yang dialami TKI di Arab Saudi.

“Ini dapat dianalisa secara seksama mengapa permasalahan TKI terus mencuat ke permukaan? Itu akibat ketersediaan lapangan kerja di dalam negeri terbatas," ujarnya.

Maria Ulfah menjelaskan, melihat permasalahaan-permasalahan yang ada maka dapat disimpulkan permasalahan TKI di luar negeri bukan semata-mata datang dari TKI itu sendiri, tetapi juga melibatkan banyak pihak. Untuk itulah diperlukan aturan yang jelas, khususnya dari negara hingga menjadi aturan umum yang harus dipatuhi secara bersama.

Ribath Nurul Hidayah

Aturan-aturan itu kata dia, juga harus didukung oleh para aparat penegak hukum, sehingga benar-benar dapat dipatuhi oleh pihak-pihak yang terkait dengan masalah pengaturan TKI. Dengan aturan itu ungkap dia, diharapkan kasus-kasus penganiayaan, pelecehan, dan lainnya terhadap TKI di luar negeri dapat dihindari.

Bedah buku tersebet berlangsung semarak, sedikitnya seratusan undangan hadir. Tampak di antara mereka sejumlah tokoh NU Cirebon, tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cirebon, aktivis muda seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ansor, Muslimat, Fatayat, ISNU dan para dosen STAIN Cirebon.(kalil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Total 258 Jemaah Haji Wafat, 50.894 Orang Telah Kembali ke Indonesia

Mekkah, Ribath Nurul Hidayah. Memasuki hari ke-48 Operasional penyelenggaraan ibadah haji, total jemaah haji Indonesia yang wafat mencapai 258 orang. Penghubung Kesehatan Daker Makkah Ramon Andrias mengatakan, meski jumlah jemaah risiko tinggi (risti) lebih banyak, namun angka kematian tahun ini lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu.

"Dibandingkan pada hari yang sama pada tahun lalu lebih rendah. Sekarang 258 orang, tahun lalu 393 orang," ujar Ramon, Ahad (25/9) dilansir situs resmi Kemenag. Menurutnya, rincian dari 258 jemaah tersebut, 188 orang wafat di Makkah, 37 di Madinah, 30 di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, serta 3 di Airport.

Total 258 Jemaah Haji Wafat, 50.894 Orang Telah Kembali ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Total 258 Jemaah Haji Wafat, 50.894 Orang Telah Kembali ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Total 258 Jemaah Haji Wafat, 50.894 Orang Telah Kembali ke Indonesia

Ramon berharap, menurunnya angka kematian jemaah ini berkorelasi positif dengan pemahaman mereka terhadap pola hidup dan sehat. "Jemaah lebih mengerti tentang bagaimana menjaga kesehatan yang baik. Tidak melakukan kegiatan yang sunah di luar kemampuan dia," ujarnya.

Menurutnya, salah satu faktor penyebab jemaah sakit adalah ketidakmampuan mereka dalam mengukur kemampuan diri sendiri sehingga kelelahan. Kondisi ini bisa menyebabkan sakit bawaan dari Tanah Air muncul. Meski dibanding tahun lebih rendah, Ramon mengaku bahwa kalau dibandingkan dua sebelumnya, yaitu tahun 2014, angka kematian tahun ini masih lebih tinggi. Pada hari yang sama di tahun 2014, lanjut Ramon, angka kematian saat itu 234 orang.

Sementara itu, Kepala Daker Airport Jeddah Madinah Nurul Badruttamam menjelaskan bahwa sampai dengan Ahad (25/9) Pukul 10.00 WAS, total jemaah haji Indonesia gelombang pertama yang sudah pulang ke Tanah Air dari Bandara Internasional King Abdul berjumlah 50.894 orang. "Mereka terdiri dari 50.269 jemaah dan 625 petugas kloter. Mereka tergabung dalam 124 kloter," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Fase pemulangan jemaah haji gelombang pertama dari Jeddah akan berlangsung sampai dengan 30 September mendatang," tambahnya.

Selain itu, lanjut Nurul, sebanyak 7.532 jemaah haji khusus juga sudah diterbangkan ke Tanah Air. Mereka tergabung dalam 138 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). (Red: Fathoni)?





Ribath Nurul Hidayah

Source: Kemenag?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah

Sadar atas karunia Allah adalah salah satu kewajiban “waktu” yang harus dipenuhi. Tetapi orang yang menyadari kehadiran nikmat Allah ini tidak memiliki pilihan selain dua kondisi berikut. Sebagian orang menyadarinya ketika nikmat itu masih di genggaman tangan. Tetapi sebagian orang menyadarinya saat nikmat itu sudah “ke laut” karena waktu juga bergulir.

Syekh Ibnu Athaillah RA menyebut dua kondisi ini dalam Al-Hikam sebagai berikut.

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, “Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu sudah raib.”

Ribath Nurul Hidayah

Syekh Zarruq dalam menjelaskan hikmah ini menyebutkan contoh-contoh konkret.

?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?

Artinya, “Karena itu ada ulama mengatakan bahwa nikmat-nikmat Allah itu tidak disadari. Semua itu bisa disadari ketika sudah raib. Ada ulama mengatakan, anak durhaka yang ‘senang atau kebiasaan’ ditegur dan diomeli orang tua akan menyadari kadar nikmat kehadiran orang tua di hari kematian bapaknya. Ada lagi ulama mengatakan, orang yang menyadari kadar nikmat air adalah mereka yang kehausan di pedalaman Arab tandus, bukan orang yang ada di tepi sungai atau di lembah dengan aliran-aliran air,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 160).

Nikmat kesehatan, kemudahan fasilitas, kesempatan, usia muda, atau kelapangan rezeki merupakan nikmat Allah yang patut disadari sejak awal. Dengan kesadaran dini atas karunia itu, kita dapat bergerak leluasa dengan aktivitas-aktivitas positif.

Tetapi jangan pula dipahami secara hitam dan putih. Jangan diartikan bahwa orang yang telat menyadari nikmat Allah itu tidak bersyukur kepada-Nya. Orang yang telat menyadari nikmat Allah itu tetap dinilai sebagai orang yang bersyukur, tetapi tentu lain kualitasnya dengan mereka yang menyadarinya lebih dini sebagai disinggung Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nikmat Allah itu kadang disadari oleh mereka yang menghayatinya ketika nikmat itu sendiri masih di genggaman. Tetapi nikmat itu kadang disadari oleh mereka yang mengabaikannya ketika nikmat itu sendiri telah raib. Kesadaran mereka yang menghayatinya adalah bentuk syukur yang menuntut kelanggengan dan penambahan nikmat. Sementara kesadaran mereka yang mengabaikannya karena telah raib juga merupakan bentuk syukur yang menuntut kembali kehadiran nikmat tersebut,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam Al-Atha’iyyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 123).

Uraian terakhir ini jelas menyebutkan bahwa kedua macam orang dalam kaitannya dengan nikmat Allah ini sebenarnya sama-sama orang yang bersyukur. Hanya saja mereka yang telat menyadari nikmat Allah sejak dini mendapat sebuah kerugian yang pasti selain penyesalan, yaitu tidak dapat bergerak leluasa dibanding mereka yang sedari awal menyadarinya. Mau apa lagi? Kesehatan menurun, uang sudah tidak pegang, usia tidak lagi muda, kerepotan tambah, daya pikir berkurang, fasilitas minim, orang tua sudah tidak ada, saudara punya urusannya masing-masing. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jombang menggelar doa bersama di kantor PCNU setempat, Sabtu (20/8). Mereka mendoakan bangsa Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berintegritas untuk membangun persatuan.

Tak lupa, mereka juga mendoakan para pahlawan yang gugur sebab merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan. Bagi mereka, kemerdekaan Indonesia yang dirasakan oleh bangsa saat ini adalah hasil perjuangan berdarah para pahlawan saat mengusir penjajah dari tanah air ini.

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Abdul Haris, Ketua PC IPNU Jombang berharap kader IPNU-IPPNU dapat berkontemplasi dari sejumlah perjuangan yang telah ditorehkan para pahlawan kemerdekaan, termasuk para kiai yang juga berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia ini.

"Kami berharap setelah memperingati kemerdekaan ini, para kader IPNU-IPPNU se-Jombang dapat menghayati makna kemerdekaan yang kemudian dapat berprestasi untuk mengharumkan Indonesia," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Haris menambahkan, perjuangan para pahlawan saat itu tak bisa diganti dengan apapun oleh bangsa Indonesia saat ini, kecuali hanya bisa mendoakan agar perjuangan mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat dan tergolong para syuhada. Di samping berdoa, katanya, penting juga memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki bangsa saat ini.

Pada saat yang sama, pihaknya juga menggelar berbagai lomba untuk meriahkan HUT RI. Di antaranya lomba makan pisang, cari koin dalam tepung, dan juga sepak bola contong.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ini diawali apel sekaligus menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars organisasi IPNU-IPPNU serta lagu "Ya Ahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai penutupnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu itu dengan khidmat. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Ansor Kencong Bentuk Banser Maritim

Jember, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka mengoptimalkan peran Banser sebagai benteng ulama dan negara, jajaran Satkorcab Banser Kencong membentuk Banser Maritim (Baritim).

Ansor Kencong Bentuk Banser Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kencong Bentuk Banser Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kencong Bentuk Banser Maritim

Pembentukan Banser Maritim yang dirangkai dengan pelatihan pengamanan laut tersebut dilaksanakan di Pantai Jeruk pulau Nusabarong, salah satu pulau yang berada di tengah-tengah samudra Indonesia.

Kegiatan yang diikuti oleh 25 anggota Banser Maritim tersebut dipimpin langsung oleh Kasatkorcab Banser Kencong, Miskad Widodo.

Perlu diketahui, dua pertiga dari wilayah GP Ansor Cabang Kencong memiliki garis pantai samudra Indonesia, jadi pembentukan Banser Maritim adalah sebuah keharusan.?

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PC GP Ansor Kencong ? Muhammad Yasin Yusuf Ghozali menegaskan acara ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian Ansor kepada NKRI, ? siapapun yang ingin mengganggu negara maka Banser akan maju paling depan.?

Menurut Miskad, Kasatkorcab yang memang rumahnya berbatasan langsung dengan laut selatan ini, jauh sebelum Pimpinan Pusat membentuk Banser Maritim, di GP Ansor Kencong telah memiliki satuan khusus Banser Laut yang beranggotakan para nelayan di pesisir selatan pulau Jawa kabupaten Jember.

"Jadi, pembentukan Banser Maritim saat ini hanya perubahan nama saja dari Banser Laut menjadi Banser Maritim" kata Miskad.

Sementara itu, dalam laporannya sebagai ketua panitia pembentukan Banser Maritim, Ghufron Asruri, menyampaikan bahwa kegiatan Pelatihan Banser Maritim saat ini bekerja sama dengan Pokmaswas ? laut di bawah Dinas Perikanan dan Kelautan.

Ribath Nurul Hidayah

Salah seorang ketua Pokmaswas adalah kader Ansor yang lama malang melintang di kegiatan Banser laut, yaitu Masrukhin. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minim Fasilitas, Siswa Madrasah Belajar di Lantai

Kupang, Ribath Nurul Hidayah. Beginilah kondisi Siswa Madrasyah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Nur Ikhsan di Kecamatan Ndori Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), harus rela menerima pelajaran duduk di bawah lantai karena kekurangan ruangan kelas.

Minim Fasilitas, Siswa Madrasah Belajar di Lantai (Sumber Gambar : Nu Online)
Minim Fasilitas, Siswa Madrasah Belajar di Lantai (Sumber Gambar : Nu Online)

Minim Fasilitas, Siswa Madrasah Belajar di Lantai

Fasilitas yang dimiliki yayasan terbatas, sementara rombongan belajar sudah mencapai enam kelas. Sekolah yang baru berdiri sejak tahun 2008-2009 lalu sudah memilik sekitar ratusan siswa dari kelas satu sampai kelas enam. 

Pantauan Ribath Nurul Hidayah, Sabtu 17 Agustus 2013, MIS yang memiliki empat ruangan kelas tersebut harus menerima pelajaran duduk di bawah lantai, sebab ruangan sudah tersisih siswa kelas empat sampai kelas enam. Sementara kelas satu dan kelas dua harus rela menerima pelajaran dengan suasana seperti zaman sebelum Indonesia merdeka, harus duduk maupun berdiri demi mendapat pendidikan.

Ribath Nurul Hidayah

Perhatian Kementerian Agama Kabupaten Ende kepada sekolah yang baru berdiri sekitar lima tahun terakhir ini, tidak tersentuh berbagai bantuan. Sementara usulan pihak yayasan maupun kepala sekolah tidak pernah di akomodir oleh pihak pemerintah.

Kepala MIS Nur Ikhsan Ndori, Drs. Said Rani, kepada Ribath Nurul Hidayah mengatakan, kondisi yang dialami siswa MIS sejak tahun 2012 kemarin, kami telah mengalami kekurangan ruangan belajar. 

Ribath Nurul Hidayah

“Kami telah mengalami kekurangan ruang sejak tahun 2012 lalu, sebab rombongan belajar telah meningkat. Maka suasana dan aktifitas belajar bagis siswa tidak memenuhi standar belajar yang layak bagi peserta didik lainnya. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ajhar Jowe 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Kidung Cinta Kiai Budi di Haflah Akhirusanah Pesantren Darussalam Purwokerto

Purwokerto, Ribath Nurul Hidayah. Haflah Akhirussanah merupakan agenda tahunan yang selalu digelar oleh setiap Pondok Pesantren. Dimana berbagai macam kegiatan selalu digelar guna memeriahkan perhelatan agung tahunan tersebut. Dari mulai lomba-lomba, bakti sosial, hingga pertunjikan hiburan.?

Pondok Pesantren Darussalam Dukuwaluh Purwokerto asuhan KH Khariri Shofa, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Banyumas, mengelar acara haflah akhirrusanah sekaligus peringatan ulang tahun ke 11 tahun.?

Kidung Cinta Kiai Budi di Haflah Akhirusanah Pesantren Darussalam Purwokerto (Sumber Gambar : Nu Online)
Kidung Cinta Kiai Budi di Haflah Akhirusanah Pesantren Darussalam Purwokerto (Sumber Gambar : Nu Online)

Kidung Cinta Kiai Budi di Haflah Akhirusanah Pesantren Darussalam Purwokerto

Dengan mengambil tema mengeratkan nilai-nilai kebudayaan dalam bingkai kebinekaan, para santri Pesantren Darussalam diharapkan selalu menjaga tradisi dan budaya Islam Ahlussunnah wal jamaah.?

Serangkaian kegiatan digelar, dari mulai lomba voli antar pondok, festival hadrah, tahlil akbar dan ziarah kubur yang dimulai sejak Sabtu (16/7) pagi itu berjalan dengan meriah.?

Pada puncaknya, Ahad (17/7) malam. Sebanyak 77 santri putra dan putri mengikuti Khotmil Juzz Amma bil ghoib wal mana yang kemudian dirangkai dengan pengajian akbar oleh KH Amin Budi Harjono atau yang lebih dikenal dengan Kiai Budi.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai sufi yang selalu tampil khas dengan udeng-udengnya di kepala itu selalu menebar benih-benih cinta di setiap petuah-petuah yang ia sampaikan. Sambari sesekali mendendangkan melodi cinta yang ditemani oleh para penari sufi.?

Kiai Budi berpesan agar tetap menjaga perdamaian Indonesia dan melestarikan ajaran nasionalisme yang telah ditanamkan oleh para pejuang bangsa. Menurutnya bangsa yang kuat adalah yang tidak melupakan akar sejarah.

Ribath Nurul Hidayah

"Kita harus bangga menjadi warga Indonesia, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. Setiap Idul Fitri atau lebaran di Indonesia punya tradisi Halal bihalal, yang artinya momen memaafkan secara nasional, sebuah tradisi yang tidak dimiliki oleh bansa lain, bahkan negara Islam pun tak memilikinya," paparnya.?

Kiai Budi juga mempersilakan para tamu undangan, antara lain Camat Kembaran, Kapolsek, Dandim serta para kiai lainya untuk naik ke atas panggung dan memberikan tanggapan terkait persoalan bangsa yang terjadi hari-hari ini.

Dipenghujung acara ia mengajak semua hadirin dan tamu undangan untuk berdiri bersama mendendangkan sholawat cinta, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan diiringi musik rebana serta musik beatbox dari Sihe Baldatana, sang beatboxer dari Pondok Pesantren Darussalam Purwokerto. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Makam, Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

Jember, Ribath Nurul Hidayah

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Jember H. Hobri Ali Wafa menyatakan mendukung dan siap melaksanakan instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bahwa hari masuk sekolah tetap enam hari, mulai Senin hingga Sabtu.

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

“Kami siap mengikuti apa pun perintah PBNU. Kalau memang diinstruksikan tetap 6 hari sekolah, maka sekolah-sekolah di bawah LP Maarif di Jember, ya tetap 6 hari, dan mungkin juga Maarif di seluruh Indonesia sama,” jelasnya.

Kamis (15/6), PBNU secara eksplisit menolak kebijakan baru Kemendikbud tentang pemangkasan hari sekolah yang berakibat penambahan durasi belajar pelajar menjadi delapan jam sehari.

Ribath Nurul Hidayah

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj berpandangan, daripada membuat kebijakan baru yang merugikan, Kemendikbud sebaiknya fokus pada peningkatan kualitas sistem pendidikan yang sudah ada. PBNU bahkan mengancam melakukan boikot bila kebijakan baru tersebut dipaksakan berlaku secara nasional.

Ribath Nurul Hidayah

(Baca: Pernyataan Resmi PBNU Menolak Kebijakan Sekolah 5 Hari)



Kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk memberlakukan 8 jam pelajaran perhari atau 40 jam dalam seminggu juga mendapat reaksi keras dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jember, Akhmad Taufiq. Ahad (11/6), Dosen Universitas Jember itu mengeluarkan rilis menyikapi keputusan sang menteri yang? kontroversial tersebut.

Menurutunya, kebijakan tersebut terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia, dan cenderung dipaksakan, karena belum mempertimbangkan secara seksama karakter? dan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam. “Mestinya, aspek nasionalitas keindonesiaan menjadi pertimbangan utama dalam segala bentuk kebijakan pendidikan yang dilakukan (Muhadjir Effendy),” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau penerapan 5 hari sekolah itu dilandaskan pada alasan untuk memenuhi minimal 40 jam pelajaran dalam seminggu, sungguh merupakan alasan yang tidak mendasar. Alasan tersebut baru pada tataran normatif dan prosedural semata. Sedangkan pada? tataran substantif tidak memenuhi derajat orientasi visional pendidikan nasional. “Karena itu kami menyerukan? agar keputusan 5 hari sekolah itu dibatalkan demi stabilitas dan kondusivitas pendidikan nasional yang sedang berjalan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung

Lampung Timur, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 5000 Muslimat NU Kabupaten Lampung Timur mengikuti pengajian triwulan mereka yang berlangsung di Desa Adiwarno, Kecamatan Batang Hari. Mereka berbondong dengan berbagai kendaraan, mulai bus, sampai sepeda motor.

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung

Pengajian berlangsung ahad (24/11) tersebut dhadiri Ketua PWNU Lampung RM Soleh Bajuri. Ia disambut disambut antusias 5000 ibu-ibu berpakaian serba hijau yang telah menantikan kedatangannya sejak pukul 07.00 wib.

Sambil berjalan ke tempat yang telah disediakan, di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu Kiai Soleh menyapa dengan ucapan, “pripun kabare ibu-ibu sedoyo?” Ibu-ibu menjawab, “sae-sae Pak Kiai”, “Alhamdulillah,” Kiai Soleh menjawabnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada pengajian triwulanan ke-28 tersebut, Soleh Bajuri menyampaikan Pendidikan karakter anak adalah sebuah proses penanaman nilai.

Ribath Nurul Hidayah

Proses tersebut, kata dia, melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga anak-anak mampu memahami, mengamalkan, dan mengintegrasikan nilai dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kepribadiannya.

Pendidikan karakter juga sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Soleh juga mengajak Muslimat NU untuk melakukan pengalangan dana guna menghidupkan kegiatan Muslimat NU di Batang Hari sehingga meningkatkan ukhuwah islamiyah serta terus memupuk semangat organisasi ibu-ibu NU lebih maju dan berjaya membumikan Aswaja.

Hasil dari penggalangan tersebut terkumpul uang sebesar Rp 11.500.000. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan Muslimat NU Batang Hari seperti santunan anak yatim piatu dan dhuafa. (rudi/abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 27 November 2017

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rakernas Fatayat NU yang berlangsung pada 3-6 Mei di Puncak yang dihadiri oleh 25  Pengurus Wilayah se Indonesia memutuskan akan melakukan konsolidasi struktural dan kultural untuk mengatasi Islam transnasional yang kini berkembang di Indonesia.

Ketua Umum Fatayat NU Maria Ulfa Anshor ketika dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Senin, menjelaskan langkah kongrit yang akan dilakukan adalah menghidupkan Fatayat sampai ke tingkat ranting dan membuat anak ranting dengan berbasiskan masjid dan musholla.

Sebelumnya, dalam acara pembukaan, Maria Ulfa menjelaskan ia telah mendapatkan laporan bahwa Islam transnasional telah masuk sampai ke Bau Bau di Pulau Buton, daerah yang harus ditempuh beberapa jam dari Kendari Sulteng. MUI setempat yang dikuasai oleh Islam transnasional membidahkan tradisi tahlilan dan yasinan yang sudah diselenggarakan oleh nahdliyyin sejak lama.

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural

Kader-kader Fatayat NU kini juga menjadi obyek yang ditarik-tarik oleh Islam transnasional untuk menjadi anggotanya. Neng Dara Afiah, salah satu ketua Fatayat menambahkan bahwa untuk mengatasi hal ini Fatayat akan memperkuat basisnya di majelit taklim, pengajian, dan pesantren yang menjadi basis Fatayat NU.

Sementara itu berkaitan dengan pendidikan, Fatayat NU akan berusaha meningkatkan kembali semangat pendidikan yang berlandaskan ahlusunnah wal jamaa. Lahirnya Fatayat NU dilandasi semangat pendidikan, disamping membenahi pendidikan yang ada, harus ada pengembangan pendidikan, mendirikan TK, SD dan lainnya,” tandas Neng Dara, Senin.

Untuk bidang keseahatan, Fatayat NU menyatakan rasa prihatin melihat kondisi kesehatan perempuan sangat mengkhawatirkan dan bahkan terburuk di Asia Tenggara mengalahkan Vietnam yang baru merdeka.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Fatayat akan mengoptimalkan kemandirian ekonomi dikalangan Fatayat NU. Kemandirian ekonomi bukan sesuatu yang baru dikalangan peremupan NU, namun harus terus dikembangkan.

Fatayat juga berharap agar perempuan bukan hanya sebagai legitimator dalam bidang politik, namun ditingkatkan dalam pengambilan keputusan publik yang mempengaruhi kepentingan perempuan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Lebaran masih tiga bulan lagi, tapi bagi para perantau yang tinggal di Jakarta, perjuangan untuk mendapatkan tiket kereta api agar bisa pulang sudah harus dilakukan hari-hari ini. Jika tidak bisa-bisa momen indah bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman bisa batal.

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran Tiga Bulan Lagi, tapi Tiket Mudik Sudah Ludes

Tiket kereta api yang bisa dibeli tiga bulan sebelumnya menjadi banyak incaran calon pemudik. Ketepatan waktu dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan utama memilih moda transportasi ini. Untuk itu, calon pemudik harus rela begadang menunggu pukul 00.00 saat penjualan tiket kereta ke semua jurusan dimulai. Sayangnya, hanya dalam waktu tak lebih dari 10 menit, tiket-tiket tersebut sudah ludes.

Ribath Nurul Hidayah dalam tiga hari terakhir, 13, 14, dan 15 April yang mencoba ikut berburu tiket lebaran selalu gagal mendapatkan tiket impian. Ketika jam sudah menunjukkan pukul 00.00 website PT KAI atau atau website milik mitra PT KAI yang melakukan penjualan online selalu gagal diakses karena terlalu banyak orang yang mencoba masuk dalam waktu yang bersamaan. Saat jam sudah menunjukkan pukul 00.10 website sudah mulai bisa diakses, tetapi sebagian besar tiket sudah ludes, tinggal tersisa beberapa tiket untuk kelas eksekutif yang harganya relatif mahal untuk kebanyakan orang.?

Ribath Nurul Hidayah

Begitu pula, mitra penjualan PT KAI seperti Indomart, Alfamart, dan Alfamidi yang beberapa malam terakhir ini selalu diantri calon pembeli tiket seringkali juga error pada jam-jam tersebut.?

Salah seorang calon pembeli tiket, Ahmad yang berburu tiket ke Yogyakarta mengeluh, pada Lebaran tahun lalu, Jakarta-Yogyakarta harus ditempuhnya dalam waktu dua hari. Karena itu, ia kapok naik bis dan berusaha mendapatkan tiket kereta. Untungnya, dua tiket yang diimpikannya berhasil dibeli buat di dan istrinya untuk keberangkatan tanggal 13 Juli 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Di Alfamart jl Raden Saleh Jakarta Pusat yang buka 24 jam juga menjadi incaran calon pembeli tiket. Saat Ribath Nurul Hidayah berkunjung ke toko tersebut pada Rabu dini hari, 15 April, sudah terdapat sekitar 10 orang yang mengantri, tetapi mereka terpaksa bubar karena komputer di toko tersebut tidak dapat mengakses pusat data penjualan milik PT KAI. Hal yang sama juga terjadi di Alfamidi dan 7-Eleven di jl Kramat Raya, tak jauh dari gedung PBNU.?

Pelayanan kereta api di Indonesia belakangan ini mengalami perbaikan. Jika dulu orang harus berdesak-desakan saat naik kereta api. Kini penjualan tiket hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas tempat duduk yang tersedia. Semua rangkaian kereta juga sudah diberi pendingin udara. Para pedagang asongan juga dilarang masuk ke stasiun. Kondisi inilah yang membuat minat masyarakat naik kereta api meningkat pesat, bukan hanya pada musim lebaran.?

Bagi yang menginginkan mudik gratis, PBNU dalam beberapa tahun ini secara rutin menyediakan mudik gratis dengan menggunakan bis. Informasi lengkap umumnya disediakan pada awal Ramadhan. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah - Hujan deras yang mengguyur bumi Kota Tasikmalaya sejak pukul 14.00 hingga sore hari, Sabtu (26/11), merendam sejumlah fasilitas publik. Salah satunya Rumah Sakit Umum dr. Soekardjo yang ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Air pun meluber hingga kedalam ruangan. Dari tempat pendaftaran pasen hingga pekarangan parkir. Dan situasi Rumah Sakit menjadi genting karena air terus merendam, masuk ke dataran rendah.

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasikmalaya Dikepung Banjir, Banser Disiagakan

Sejumlah petugas yang bekerja dilantai satu berlarian menuju lantai atas. Mereka tidak berani turun karena belum surutnya air yang meluap dari Sungai Cimulu itu.

Direktur RSU dr. Soekardjo, Wasisto belum bisa dihubungi. Namun menurut karyawan bahwa air masuk ke Rumah Sakit karena minimnya serapan air. Ketika serapan tidak ada, Sungai Cimulu meluap, maka air masuk Rumah Sakit.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky assegaf yang kebetulan sedang di Rumah Sakit melaporkan kondisi banjir tersebut. Hampir seluruh penjuru kota hingga pusat kota digenangi air.

Ribath Nurul Hidayah

"Maka Banser Tanggap Bencana (Bagana) harus siaga. Karena hujan? terus deras," ujarnya melalui sambungan telepon.

Menurut Ricky, pihak BPBD Kota Tasikmalaya juga sudah menghubungi Bagana. Meminta siaga mengantisipasi segala kemungkinan.

Dan Alhamdulillah, ujarnya, tidak ada korban jiwa, kecuali sejumlah kendaraan yang macet ditengah jalan sehingga mengganggu lalu lintas. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen, Meme Islam, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI

Oleh Aris Adi Leksono

? ? ?

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI

Bung Karno



Nasionalisme berasal dari kata ‘nation’ yang berarti bangsa. Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, sehingga mereka merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. Dengan demikian Nasionalisme Indonesia pada konteks kekinian adalah rasa cinta yang mendalam bangsa Indonesia untuk menjaga dan mewujudkan cita-cita kemendekaan.

Ribath Nurul Hidayah

Sekadar mengingatkan dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam bahasa lain nasionalisme diungkapkan dengan hubbul wathan, cinta tanah air. Bahkan dalam menurut alim ulama pejuang kemerdekaan Indonesia yang dimotori KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Tentu salah satu dasarnya adalah tidak mungkin umat beragama akan mampu menjalankan imannya, kalau negara dalam kondisi tidak aman. Maka mempertahankan keamanan dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Negara merupakan bagaian dari aktifitas menjaga iman dalam beragama.



Lintasan Nilai Nasionalisme


Dalam cacatan sejarah tumbuhnya nasionalisme bangsa Indonesia ditandai dengan munculnya berbagai gerakan kesadaran pentingnya kemerdekaan, berdaulat, kemakmuran dan kesekahteraan. Seperti lahirnya gerakan Budi Utomo (20 Mei 1908) yang menitikberatkan perjuangan kemerdekaan melalui dunia pendidikan. Karena pendidikan akan membuka kedasaran modern untuk bersama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Pada perkembangan berikutnya nasionalisme bangsa ditandai dengan tumbuhnya organisasi sosial-keagamaan dan social-kemasyarakatan seperti Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Keduanya telah terbukti telah mampu menjadi organisasi besar di Indonesia. Dalam lintasan sejarah keduanya selalu menyerukan kekuatan civil society untuk terus menjaga Negara Kesatuan Republik Indoensia. Muhammadiyah membuktikan gerakan nasionalismenya pada peran kemasyarakatan berupa memajukan pengajaran dan kesejahteraan para anggotanya dengan cara mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Sedangkan Nadlatul Ulama (NU) sejak awal berdirinya NKRI, selalu menjadi garda depan dalam memberla keutuhannya. Dengan jargon NKRI harga mati, Pancasila Harga Mati, Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI, serta peran sosial lainnya.

Pada era reformasi, nasionalisme ditandai dengan gerakan kebangkitan nasional ditetapkannya hari kebangkitan nasional (20 Mei 1998). Merupakan reaksi protes atas tirani, hegemoni, dan otoriterisme rezim orde baru. Reformasi merupakan suatu gerakan yang bertujuan untuk melakukan perubahan dan pembaruan, terutama perbaikan tatanan perikehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan social.

Pada kesimpulannya, semua gerakan sosial yang merupakan pancaran nilai nasionalisme tersebut memiliki cita-cita yang sama. Bagi generasi awal yang satu zaman dengan Boedi Oetomo, cita-cita merdeka dari penjajah telah terwujudkan, dengan adanya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Begitu juga dengan cita-cita pemuda ‘98 yang telah berhasil menurunkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 gunu terwujudnya masyarakat Indonesia yang demokratis, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Nafsu Keserakahan Berbangsa dan Benegara



Ironis memang kata-kata yang berkonotasi nagatif harus muncul di tengah perjuangan nasionalisme yang terus digelorakan. Memang seharusnya “nafsu keserakahan” di usia kemerdekaan Indonesia ke-71 sudah terkubur. Alasannya, sejarah nasionalisme bangsa ini sudah sangat panjang, lintasan rintangan dan tantangan sudah mampu dilewati dengan kemerdekaan dan usaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Artinya, harusnya semakin tua usia, semakin kuat rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Tapi realita menunjukkan sebaliknya, nasionalime terkikis oleh fakta “kerakusan” individu elite pemerintah dan partai politik, kerakusan kelompok atas nama agama, kerakusan atas nama demokrasi dan HAM, kerakusan atas nama perjuangan kerakyatan, dan kerakusan lainnya.

Jika keserakahan diartikan sebagai keinginan yang sangat besar untuk memiliki kekayaan, barang atau benda bernilai abstrak, dengan maksud menyimpannya untuk dirinya sendiri atau kelompoknya, jauh melebihi kenyamanan dan kebutuhan dasar untuk hidup yang berlaku pada umumnya. Pada pengertian lain keserakahan juga diterapkan pada keinginan yang besar dan mencolok dalam upaya mengejar kekayaan, status sosial, dan kekuasaan. Maka kondisi Negara Indonesia pada usianya yang ke-71 dipenuhi dengan makna keserahana tersebut.

Sebagai buktinya, semakin merajalelanya kasus korupsi setiap tahunnya. Tahun 2015 sebagaimana data yang dirili Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan total kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi sepanjang 2015 mencapai Rp. 31,077 triliun. Sedangkan jabatan tersangka yang paling banyak selama 2015 adalah pejabat atau pegawai pemda/kementerian, disusul direktur dan komisaris pegawai swasta, kepala dinas, anggota DPR/DPRD serta kepala desa/lurah dan camat. Sementara tahun 2014 lebih kerugian Negara lebih kecil, yakni; jumlah kasus 629 kasus, jumlah tersangka 1328 orang dan kerugian negara sebesar Rp. 5,29 triliun.

Bukti keserakahan pada sektor ekonomi adalah munculnya keinginan sebagaian kelompok untuk menghegemoni kekayaan alam Nagera. Kasus perpanjangan kontrak PT Freeport yang telah menyerat banyak oknum masuk ke dalam bui, bahkan petinggi kementerian ESDM. Kasus lain yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan publik yaitu reklamasi pantai utara Jakarta. Kelihatan betul bagaimana koorporasi bermain dengan sejumlah elit pemerintah dalam proyek tersebut. Bahkan sudah menyeret korban dari Anggota DPRD DKI Jakarta dan jajaran direksi ke rumah prodeo. Tentu masih banyak lagi praktik manipulasi dalam percaloan bisnis yang berimplikasi kepada kerugian Negara. Kalau nasionalisme itu tidak terkalahkan dengan keserakahan ekonomi segelintir oknum, maka cita-cita kemerdekaan ekonomi itu bukan mimpi.

Pada ranah idelogi kebangsaan, keserakahan sebagian golongan ditunjukkan dengan keinginan menghegemoni atau mengarahkan idelogi bangsa menjadi mengikuti faham agama atau aliran tertentu. Sebut saja kelompok yang selalu menyuarakan tegaknya “khilafah” di bumi nusantara. Gerakan yang dilakukan bahkan sampai mengarah pada issu sarah, yang dapat merusak hubungan horizontal sebagai anak bangsa. Munculnya gafatar, kelompok gerakan santoso, serta gerakan separatis lainnya. Kalaulah dalam dada mereka masih menyala nilai nasionalisme, maka mereka akan memaknai nilai agama juga terkandung dalam ideologi kebangsaan. Bernegara dengan mengarusutamankan nilai agama dan kpercayaannya masing-masing, bukan fomalistik cara ber-agama. Kalau lah pilihan agamanya adalah Islam, maka Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Merdekakan Nasionalisme dari Nafsu Keserakahan



Ulasan di atas adalah dua kutub berlawanan yang salah satunya cenderung mendegradasi makna kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara. Ini semakin? membuktikan kebenaran pidato Bung Karno 70 tahun silam, bahwa "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Maka tidak ada pilihan di HUT RI yang ke 71, 17 Agustus 2016, kecuali segenap komponen bangsa bersama berjuang untuk kemerdekaan yang hakiki, lahir dan batin. Merdeka dari penjajah kapitalis dan merdeka dari keserakahan oknum atau golongan yang mengatasnamakan perjuangan kebangsaan.

Ikhtiar itu dibuktikan dengan memerdekakan keinginan untuk menguasai sistem berbangsa dan bernegara. Merdeka secara ekonomi berarti betindak jujur, tidak KKN, tidak mencuri kekayaan Negara untuk diri kelompoknya, apalagi menjual adet Negara pada pihak asing. Merdeka secara politik dibuktikan tidak melalukan skenario hegemoni kekuasaan birokrasi atau pemerintahan. Salah satunya dengan mengusung calon kepala daerah yang memang memiliki kompetensi kepemimpinan, serta berpihak kepada kepentingan rakyat. Bukan kepala daerah yang bertindak atas kepentingan koorporasi dan kelompok tertentu.

Merdeka secara idiologi salah satunya adalah membebaskan bangsa dan negara dari gerakan yang menyerukan “khilafah”, anti pancasila, anti NKRI, dan gerakan separatis lainya. Karena hakikatnya mereka telah melanggar UUD ’45, merusak konsensus para pendiri bangsa, bahkan pemerintah harus bertindak tegas untuk gerakan “bughat” semacam ini.

Akhirnya goresan tulisan yang tidak berarti ini dibuat untuk membuktikan bahwa memang pidato Bung Karno itu teruji kebenarannya. Kemerdekaan hakiki yang diimpikan ternyata malah dijajah oknum bangsa dari dalam negara sendiri. Maka tidak ada pilihan kecuali memperkuat kembali rasa cinta tanah air yang imlikasi pada kuatnya nasionalisme berbangsa dan bernegara. Teladan itu bisa disaksikan dari pemimpin dunia, Nabi Muhammad SAW, meskipun tanah makkah telah berhasil beliau taklukkan, beliau tetap kembali ke madinah sebagai bukti cinta beliau kepada tanah air madinah, cintanya kepada rakyat madinah, dan tentu berbuat lebih banyak kebaikan untuk penduduk madinah. Melepaskan ego individu, partai, kelompok agama, korporasi yang berujung pada keserakahan adalah kebutuhan untuk kemerdekan Indonesia yang hakiki.

Sangat relevan, HUT RI ke-71 kembali meneladani semangat perjuangan dr. Soetomo (pendiri perkumpulan Budi Oetomo) dan Bung Karno (Proklamor Kemerdekaan):

dari pada hidup seorang diri dalam surga, lebih baik ke neraka bersama dengan rakyat. Jadilah hamba keadilan dan kebenaran, bekerja dan berusaha dengan ketetapan hati, melintasi menuju Indonesia kita”, kita sejak kecil hingga keluar dari sekolah tinggi, bisa mendapatkan pengajaran, karena biaya yang dipungut dari keringat bangsa kita yang melarat dan hidup dalam kegelapan. Karena itu kaum terpelajar harus menyediakan pikiran dan tenaga untuk keperluan dan kesejahteraan rakyat”

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali"
. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno).

* Penulis adalah Ketua PW Persatuan Guru NU (Pergunu) DKI Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

KH Fadil dan KH Oenoeng, Pendiri NU Tasikmalaya

"Barudak, kaula tos kadongkapan Kangjeng Dalem ti Tasik. Saur anjeunna kiwari aya dua kumpulan anyar. Anu hiji ti kulon (AII atau Al-Ittihadijatoel Islamijah atau sekarang dikenal PUI), nu hiji deui ti wetan nyaeta NO atau Nahdlatul Oelama. Kula moal nitah moal nyarek. Tapi asana nu bakal lana mah nu ti wetan. Kieu we pamanggih kula mah mun rek asup kadinya baca Robbi adkhilni mudkhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin wajal lii minladunka sulthoona nashiiro. Baca tilu balik bari ramo leungeun katuhu dempet ku kelek kenca. Mun hate loyog, pek asup kadinya, mun heunteu loyog nya ulah," kata KH Aon (Penghulu Besar) di hadapan santri-santrinya di Mangunreja Singaparna Tasikmalaya tahun 1927.

Siapa pendiri Nahdlatul Ulama (NU) atau yang mengenalkan NU ke Tasikmalaya. Ada dua literatur yang dihimpun yakni KH Fadil asal Cikotok Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran (dulu Parigi tahun 1933/Al-Imtisal No 26 masuk Tasikmalaya, kemudian masuk wilayah Kabupaten Ciamis).

KH Fadil dan KH Oenoeng, Pendiri NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Fadil dan KH Oenoeng, Pendiri NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Fadil dan KH Oenoeng, Pendiri NU Tasikmalaya

Namun, menurut salah satu menantu KH Fadil, Hj Enar (85) bahwa KH Fadil berasal dari Plered Cirebon. Adapun ke Cikotok karena mengungsi ketika ada serangan Belanda ke Tasikmalaya tahun 1938.

KH Fadil ke Tasikmalaya karena mengikuti istrinya, Hj Masnuah yang menikah ketika sedang ibadah haji di Mekah. Dan satunya lagi menyebut KH Fadil serta KH Oenoeng Qolyubi asal Kampung Madewangi Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. KH Oenoeng merupakan sahabat dekat KH Fadil ketika sama-sama di Mekah yang dipertemukan kembali di Tasikmalaya.

Ribath Nurul Hidayah

Dua sumber menyatakan KH Fadil, yakni Penelitian Maman Abdul Malik Syaroni dalam "Idhar Ulama Birokrat di Tasikmalaya" (IAIN Sunan Kalijaga 1993), dan Awal Berdirinya NU di Tasikmalaya yang disusun KH A. E Bunyamin, terbitan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kota Tasikmalaya Tahun 2014.

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian yang menyatakan KH Fadil dan KH Oenoeng Qalyubi adalah keterangan dari Ringkasan Riwayat Hidup KH O. Qolyubi yang ditulis putranya KH Ahmad Thabibudin pada 27 November 1955. Dalam catatan tersebut, anggota DPR asal Garut, H. Zainal Abidin mengatakan pendiri NU Cabang Tasikmalaya adalah KH O. Qalyubi dan KH Fadil tahuh 1926.

Menarik memang, karena keterbatasan sumber literatur tentang siapa dan kapan pastinya NU Cabang berdiri di Tasikmalaya belum terjawab tuntas. Untuk tahun pendirian pun masih ada dua pendapat yakni tahun 1928 (Penelitian Amin Mudzakir dan KH AE Bunyamin), serta di tahuh 1926 atau bersamaan dengan berdirinya NU di Surabaya. Meski demikian, perbedaan bukan untuk diperdebatkan tapi akan saling melengkapi di kemudian hari.

Dalam catatan ringkas "Riwayat Ngadegna NU Cabang Tasikmalaya" yang ditulis KH Ahmad Thabibudin tahun 1955 dengan bahasa Sunda, diceritakan KH Fadil dan KH Oenoeng menemui para kiai di Tasikmalaya. Untuk Kiai yang di kota hanya beberapa tempat, kecuali di Singaparna.

Saat NU akan ramai, kolonial Belanda menakuti-nakuti sampai banyak pengurus dan anggota NU menyerahkan kembali kartu NU. Termasuk di Kampung Madewangi (tempat KH Oenoeng) dari 60 orang tinggal 35 orang. Namun, ketika Ketua NU dipegang "Juragan" Ahmad Dasuki, anggota NU kembali banyak. Dan lagi-lagi terus dihalangi Belanda, kemudian banyak yang keluar lagi.

Kemudian KH Oenoeng dan KH Fadil menemui Sutisna Senjaya, guru HIS Pasundan di kediamannya Jalan Kebon Tiwu. Keduanya meminta agar Sutisna Senjaya bersedia jadi Ketua NU. Pertamanya ditolak karena merasa tidak banyak tahu tentang ilmu agama, tapi ketika diyakinkan, akhirnya menerima. Diadakanlah pertemuan pertama di Masjid Madewangi mengenalkan Sutisna Senjaya ke warga NU Madewangi.

Setelah Sutisna Senjaya masuk, lalu ke Singaparna menemui KH Ruhiyat Cipasung, KH Dahlan Cicarulang serta KH Aon Mangunreja. Akan tetapi, KH Aon menolaknya, termasuk KH Sobandi Cilenga. Namun ketika tahu KH Ruhiyat masuk NU, KH Sobandi pun mengikuti.

Di wilayah Cibeureum, hanya KH Masduki Awipari dan KH Zabidi Nagarakasih yang masuk NU. Meski akhirnya satu per satu pesantren masuk juga.

Ketika NU diketuai Sutisna Senjaya, sempat diganti oleh "Juragan Adjat Sudrajat", tapi sebentar dan diganti lagi oleh Sutisna Senjaya yang menjadi pelopor pertama dalam jurnalistik NU dengan membuat majalah Almawaidz tahun 1933.

Pasca Sutisna Senjaya, NU dipegangan KH Hulaimi, dan Syuriah oleh KH Ruhiyat Cipasung yang sebelumnya oleh KH Oenoeng Qalyubi. Sejak itu, NU mulai dipimpin anak muda.

Jika ada siapa pendiri atau yang pertama kali mengenalkan NU ke Tasikmalaya, tentu ada yang menjadi pimpinan pertama. Dalam buku Awal Berdirinya NU di Tasikmalaya yang ditulis KH AE Bunyamin, Ketua NU pertama adalah R. AhmadDasuki seorang Penghulu Besar Tasikmalaya. Penentuan Ketua NU pertama itu dilakukan dirumah KH Fadil atau rumahnya KH Dimyati di Nagarawangi. Diputuskan untuk Syuriah KH Fadil, Tanfidziyah R. Ahmad Dasuki. (Nurjani)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD

Rembang, Ribath Nurul Hidayah - Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mendorong aktivis bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama mengalihkan perhatian pada UU, Perda, APBN, dan APBD. Menurutnya, semua itu merupakan program yang hasilnya nyata, konkret, dan bersifat stretegis.

Norma-norma berupa UU dan Perda adalah regulasi yang mengatur kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara oleh pemerintah. Baik burukya rakyat dan pemerintah, tergantung peraturan perundang-undangan tersebut. Jadi ini sangat strategis.

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD

Ia menjelaskan, satu-satunya pintu masuk mewarnai dan menentukan bagaimana penyelanggaraan negara adalah lewat UU dan Perda. Jadi wajib hukumnya untuk diperhatikan oleh NU.

"Jika NU selama ini mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin harus dibuktikan dengan mempengaruhi isi UU dan Perda. Jadi tidak hanya motto atau slogan," kata Kiai Masdar ketika membuka forum Bahtsul Masail dalam Rangka Harlah Ke-94 NU yang diadakan oleh PWNU Jawa Tengah di Pesantren Roudlotut Tholibin Leteh, Rembang, Senin (1/5).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih tegas ia menyebutkan, NU harus memastikan setiap pemerintah daerah dan pemerintah RI benar-benar menjalankan amanah menjamin kesejahteraan rakyat. “Itu berarti harus memelototi APBD dan APBN, apakah benar-benar prorakyat atau tidak. Membawa maslahat atau tidak.”

Ribath Nurul Hidayah

Apabila kepala daerah atau pemerintah berkata, “prorakyat,” tapi anggaran untuk rakyat sedikit atau tidak adil, maka itu jelas kebohongan. Dan NU harus mencegah dusta konstitusional itu.

"Ayo awasi APBN, kuliti APBD. Bahtsul masail harus masuk ke sana," ia mengajak dan memotivasi.

Konsekuensi dari program itu, Masdar menambahkan, NU perlu memproduksi para sarjana bidang bidang nonagama, mendidik para ahli hokum, atau pembuat regulasi. Hasilnya nanti, DPR dan DPRD harus meminta restu NU sebelum menetapkan setiap UU atau Perda.

UU atau Perda yang sudah disetujui NU, akan sangat kuat legitimasinya karena telah didukung para ulama. Produk hukumnya menjadi tidak sekadar buatan umara dan wakil rakyat, tetapi juga dari unsur ulama.

"Di sinilah semestinya fungsi organisasi kita menjaga negara yang merupakan kontrak atau kesepakatan antarkomponen bangsa ini," ujarnya bersemangat disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Kiai Masdar mengulang-ulang statemennya tersebut. Ia lebih dari tiga kali mengulang kalimat tersebut agar PCNU dan PWNU segera memprogramkan bahsul masail Qonuniyah yang membahas regulasi.

"Bapak-bapak kiai dan ibu-ibu nyai yang saya hormati. Apabila kita sudah membuat bahtsul masail Qonuniyyah seperti yang saya jelaskan tadi, pasti panjenengan semua akan sangat sibuk. Mungkin bahtsul masail tidak diadakan setiap tiga atau enam bulan seperti selama ini, tapi bisa jadi setiap minggu. Bahkan satu bahtsul masail bisa sampai berhari-hari. Sebab UU itu jumlahnya ratusan, Perda juga puluhan atau ratusan di setiap Pemda," kata Kiai Masdar yang kini tercatat sebagai pengurus DMI. (Ichwan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

Temanggung, Ribath Nurul Hidayah. Jaringan GUSDURian Kabupaten Temanggung menyumbang belasan water torrent (tampungan air) jumbo untuk warga korban bencana kekeringan di Kabupaten Temanggung. Organisasi lintas agama ini juga menyumbang pompa air untuk masjid yang mengalami kerusakan pompa air untuk kebutuhan berwudlu.

Koordinator Jaringan GUSDURian Temanggung, Abaz Zahrotien, mengatakan bantuan water torrent dikirimkan ke Desa Tlogopucang dan Desa Wadas Kecamatan Kandangan dan Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran. Bantuan ini diberikan untuk wadah penampung dropping air dari pemerintah yang langsung disalurkan ke jerigen yang dibawa warga.?

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

"Kalau menggunakan jerigen langsung banyak air yang terbuang. Jadi kami berikan torrent dengan maksud untuk menampung air agar tertampung dengan baik," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia mengatakan, bantuan tersebut diperoleh dari dana sumbangan para dermawan dari berbagai agama seperti Islam, Katolik, Budha, Hindu, Kristen dan Konghuchu. Dari dana yang terkumpul sebagian dibelikan water torrent dan sebagian lainnya dibelikan pompa air serta air bersih untuk digunakan warga.?

Ribath Nurul Hidayah

"Ini program tahunan kami dan semakin tahun ternyata donaturnya semakin besar. Kami berharap apa yang kami lakukan dapat mengurangi beban masyarakat," tambahnya.

Pimpinan Paroki Gereja Katholik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, Petrus Santoso, menjelaskan, setelah mendapatkan peta potensi kekeringan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, pihaknya langsung mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di wilayah penghasil tembakau ini. Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan akan melakukan aksi sosial secara kolektif membantu korban bencana kekeringan.?

"Dalam hal ini kami tidak lagi memandang saya Katolik, anda Islam dan sebagainya, tetapi ini melihat sisi kemanusiaannya," imbuhnya.

Kepala Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Tohirin, menambahkan, pihaknya merasa sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan komunitas lintas agama ini. Menurutnya, apa yang dilakukan organisasi ini merupakan langkah strategis untuk membantu warganya yang selama musim kemarau mengalami krisis air.?

"Disini ada 9 dusun dengan jumlah jiwa lebih dari 7.000 orang. 90 persen diantaranya mengalami krisis air dan untuk mendapatkan air paling dekat harus menempuh jarak 13 kilometer sampai 20 kilometer," terangnya.

Pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk memberikan solusi permanen atas bencana ini. Menurutnya, pemerintah harus membuat lebih banyak sumur bor dan atau saluran air dari mata air yang tersedia.?

"Kita bisa mengambil air dari mata air di Sumowono (Kabupaten Semarang) untuk mengatasi kekeringan secara permanen," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Halaqoh, Doa Ribath Nurul Hidayah