Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo KH Moh. Zuhri mengatakan seorang santri tidak hanya dituntut tekun belajar saja, tapi lebih dari itu dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang dihasilkan ? sebagai bentuk pelatihan sebelum pulang ke masyarakat.

"Dibentuknya Forum Komunikasi Santri (FKS) adalah sebagai wadah para santri ketika libur pesantren dalam menerapkan ilmunya. Belajar berhikmad kepada masyarakat," katanya dalam acara peringatan Nuzulul Quran di Masjid Al-Ghozali Gambiran Lumajang (12/7).?

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

FKS merupakan wadah pembelajaran santri aktif dalam berorganisasi berbasis kemasyarakatan. Karenanya tidak hanya mengadakan ? kegiatan keagamaan, akan tetapi bermacam-macam kegiatan pada umumnya seperti seminar, pondok Ramadhan, lomba-lomba dan lain sebagainya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga memberi penghargaan kepada Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ Lumajang) ? dan Ibu-ibu PKK Gambiran yang telah bersedia bekerjasama dengan FKS-L dan menjadi pembimbing para santri.

Acara yang dihadiri lebih tiga ratus jamaah meliputi santri aktif, alumni, dan masyarakat berlangsung cukup meriah.

? "Saya senang sekali sebagai alumni melihat santri-santri yang masih berproses di pondok, namun mampu mengadakan kegiatan semeriah ini," ungkap Amin, alumni sekaligus mantan ketua FKS-L masa ibadah 2008-2009.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun acara peringatan Nuzulul Quran dimulai sejak pukul 07.00 WIB, dengan khotmil quran, istighosah, pengajian umum dan ditutup dengan buka bersama.? (Andika Dika/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Februari 2018

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak umat Islam untuk memusatkan segala aktivitas ibadah di dalam masjid, bukan di jalanan. Pihak PBNU mengharapkan umat Islam tetap menjaga ketertiban umum dan terutama hak-hak masyarakat lain pengguna jalanan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/11) malam.

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Imbauan ini disampaikan menyusul rencana aksi gelar sajadah oleh sekelompok umat Islam yang dengan sengaja mengagendakan shalat Jumat di jalan protokoler di Jakarta pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang.

“Pada zaman dahulu Masjid Nabawi itu kecil. Dahulu daya tampungnya agak terbatas. Shalat Jumat pun dilakukan di situ. Rasulullah SAW tidak pernah melakukan shalat Jumat di jalanan. Tetapi Masjid Nabawi zaman sekarang cukup besar,” kata Kiai Moqsith.

Ribath Nurul Hidayah

Kalau umat Islam menggunakan jalanan sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat Jumat, maka itu akan cukup merepotkan. Kebutuhan akan jalanan seperti di Ibu Kota Jakarta, atau jalanan di kota-kota besar lainnya Medan, Surabaya, dan Semarang, sangat tinggi.

Umat Islam, menurut Moqsith, cukup mendayagunakan masjid-masjid yang masih tersedia di kota-kota tersebut sebagai fasilitas untuk beribadah.

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan demikian, seharusnya umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas ibadah, seperti aktivitas ibadah tidak perlu dialihkan ke jalanan yang berpotensi menggangu orang lain. Dan setiap orang mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jalanan,” kata salah seorang dosen pengampu mata kuliah tafsir di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Humor Islam, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Februari 2018

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan

Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali korban yang harus dipertaruhkan oleh bangsa Indonesia. Tak terhitung lagi korban yang telah dipersembahkan demi sebuah kemerdekaan. Bukan sekedar harta dan nyawa, namun juga perasaan terhinakan karena terus dikejar-kejar dan terusir dari kampung halaman. Namun tentu saja banyak sekali para pahlawan yang justru memanfaatkannya untuk berjuang di dua ranah, yakni perjuangan fisik dengan mengangkat senjata dan perjuangan dakwah dengan mendidik generasi penerus bangsa.

Salah satu di antara sekian banyak para pahlawan bangsa yang berjuang di dalam dua medan perjuangan sekaligus ini adalah KH Dimyati Banyuwangi. Seorang ulama kharismatik yang telah memiliki banyak jasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beliau adalah salah satu di antara para ulama Nahdlatul Ulama dengan andil besar dalam perjuangan fisik yang berpuncak pada meletusnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan

?

Salah satu bentuk sumbangsih nyata bagi perjuangan fisik merebut kemerdekaan adalah fatwa Beliau yang berbunyi, “seluruh santri santri di daerah Banyuwangi selatan (kawasan Blambangan lama) wajib masuk Hizbullah.” Fatwa ini memiliki konsekwensi yang cukup besar bagi santri-santri di kawasan Banyuwangi selatan. Dengan adanya fatwa ini, para santri memiliki tugas ganda. Pada malam hari mereka harus mengendap-endap untuk menyerang pos-pos keamanan tentara Belanda dan Jepang.

Sementara pagi harinya mereka kembali memeluk kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran agama. Walhasil sebenarnya mereka belajar di atas timbunan amunisi dan mesiu hasil rampasan dari tentara penjajah. Memang secara struktural, KH Dimyati adalah Komandan Hizbullah (laskar pejuang yang berafiliasi ke NU) untuk wilayah Blambangan selatan.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan ganda semacam ini di jalani oleh KH Dimyati bersama dengan santri-santrinya di Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab. Bukan tanpa resiko, selain menantang bahaya pada malam hari, mereka juga selalu diintai bahaya pada keesokan hari ketika mereka sedang mengaji. Banyaknya intel penjajah yang berkeliaran membuat keselamatan mereka selalu dipertaruhkan setiap saat.

Ribath Nurul Hidayah

Selain mengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab, KH Dimyati juga dipercaya sebagai Rois Suriyah I Nahdlatul Ulama cabang Blambangan (saat itu Banyuwangi selatan). Sementara pada waktu tersebut Pengurus Tanfidiyah dipercayakan kepada K Syuja’i. Keduanya, bersama para ulama lain, bahu membahu memimpin penduduk di sana untuk melawan penjajahan. Baik secara fisik maupun melawan terhadap segala dampak buruk penindasan Belanda dan Jepang, termasuk kebudayaan negatif yang dibawa oleh setiap pemerintah penjajah.

Keadaan ini berlangsung terus hingga masa-masa setelah kemerdekaan. Dalam mempertahankan kemerdekaan, para santri terus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pos-pos tentara Belanda pada malam hari.? Maka benar saja, lama kelamaan perlawanan mereka pun tercium oleh Belanda. Sehingga pondok pesantren yang dipimpinnya pun digerebek oleh tentara Belanda.

Seluruh bangunan dibakar, termasuk bangunan pesantren dan tempat tingaal KH Dimyati diratakan dengan tanah oleh Belanda. Seluruh kitab-kitab Beliau sebanyak dua lemari besar pun habis di makan api. Karena di bawah bangunan pesantren banyak tertanam amunisi dan mesiu hasil rampasan para santri ketika bergerilya malam hari, maka akibat pembakaran semakin menjadi-jadi. Mesiu-mesiu ini mengakibatkkan api yang melalap gedung pesantren semakin menyala menjadi-jadi dan menimbulkan ledakan-ledakan hebat.

Meski para santri telah diperintahkan menyingkir dan berpencar, salah seorang santri bernama Muhammad Fadlan tertembak dan gugur pada penyerangan Belanda tersebut. Muhammad Fadlan kemudian dikuburkan sebagai syuhada dan dipindahkan ke Makam Pahlawan Banyuwangi pada tahun 1962.

Sementara KH Dimyati ditangkap oleh Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Komandan Hizbullah Blambangan selatan ini sebenarnya sudah hampir dieksekusi oleh Belanda. Namun menurut beberapa cerita, ketika menjelang hari-hari eksekusi, dokumen-dokumen pidananya oleh Belanda ternyata hilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Sehingga eksekusi tidak pernah benar-benar dilaksanakan, sampai waktunya ia dibebaskan karena kekalahan-kelahan Belanda di Indonesia.

Lahan untuk para Santri. Setelah keluar dari tahanan Belanda dan bangsa Indonesia kembali menata kehidupannya dengan merdeka, maka KH Dimyati kembali membangun pesantrennya.

Pada tahun 1950 KH Dimyati mengumpulkan para tokoh agama di wilayah Banyuwangi selatan, dan pada tahun 1951 beliau secara resmi mengasuh Pesantren Nahdlatut Thullab kembali.

?

Pada tahun 1957 Beliau dan keluarganya mendirikan Yayasan Nahdlatut Thullab. Beberapa saudara-saudara dan relasi keluarga KH Dimyati kemudian mengajukan permohonan kepada Presiden Soekarno di Jakarta. Rupanya pengajuan ini berhasil dan mendapatkan dana yang cukup untuk membangun kembali kompleks pesantren yang telah dibumihanguskan Belanda tersebut.

Dana dari Presiden Soekarno ini rupanya diirit-irit oleh panitia pembangunan, sehingga memiliki sisa yang cukup untuk dibelikan sawah seluas 5 hektare yang kemudian dikelola oleh para santri untuk menunjang kehidupan mereka selama mondok di Pesantren Nahdlatut Thullab.?

Metode penggarapan sawah oleh santri ini merupakan perluasan manfaat yang didapatkan oleh KH Dimyati dari pengalamannya selama Beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren di Jawa Timur.

Menurut ceritanya, dahulu sewaktu KH Dimyati menginjak masa-masa remaja, ia ingin menuntut ilmu ke luar dari wilayah Blambangan (Banyuwangi). Maka, ia pun mengutarakan maksudnya ini kepada ibundanya. Namun sang ibu menyatakan bahwa keluarganya sedang tidak memiliki bekal yang cukup untuk membiayai keinginannya. Keluarga di Banyuwangi hanya memiliki tanah persawahan yang tidak dapat diharapkan banyak karena sulitnya zaman akibat penjajahan.

Namun Dimyati nampaknya telah teguh dengan keinginannya. Ia menginginkan untuk menjual sawah yang menjadi bagain warisannya kelak ketika dewasa. Kendati terheran-heran dan ham[ir tak percaya, Ibunya pun kemudian menyangupi ketika melihat tekad bulat anaknya ini. Ibunya lebih heran lagi ketika melihat bahwa semua uang hasil penjualan sawah satu satu hektar bagiannya, ternyata seluruhnya dibelikan kitab. Saking herannya ibunya bahkan sempat mengatakan, ”Makan tuh kitab.”

Walhasil Dimyati pun segera meninggalkan rumahnya untuk modok ke Pesantren Termas, di Pacitan. Karena seluruh uangnya telah dibelikan kitab, maka ia hanya dibekali oleh ibunya dengan sekarung cengkaruk/karak campur jagung. Bahan makanan ini berupa bahan yang? menunjukkan betapa sebenarnya keluarga Dimyati di banyuwangi juga sama-sama susah akibat penjajahan Belanda.

Namun rupanya dengan bekal hanya sekarung cengkaruk ini, Dimyati mampu bertahan hingga tiga tahun di Pesantren Termas. Rupanya ia bertahan di Termas dengan cara bekerja ke sawah untuk mencukupi kebutuhannya selama mondok. Karenanya KH Dimyati kemudian menerapkan metode ini di pesantrennya yang telah ia bangun kembali.

Selama mondok Dimyati memang terkenal sebagai santri yang tekun, konon ia adalah santri kesayangan sang pengasuh Pesantren Termas. Pada saat itu pondok Termas berada di bawah bimbingan KH. Hafidz Dimyati. Karena saking sayangnya, di sinilah Dimyati berganti namanya menjadi Dimyati, nama yang digunakannya hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, nama lahirnya adalah Muhibbut Thobari. Maka setelah boyongan dari Pesantren Termas, ia pun menggunakan nama Dimyati. Sementara nama lahirnya, Muhibbut Thobari, tak lagi digunakan.

Dalam pandangan KH Dimyati, para santri sah-sah saja bekerja selama menimba ilmu di pesantren, karena justru akan membantu mereka untuk mandiri sejak dini dan tidak membebani orang tua di rumah. Pesantren dapat menyediakan lahan yang digunakan oleh para santri untuk bercocok tanam atau membuka usaha, asalkan tidak mengesampingkan tugas utamanya, yaitu belajar ilmu agama. Dengan demikian para santri dapat menopang sendiri hidupnya, sehingga tidak perlu dikirim oleh orangtua dari rumah.

Begitulah yang dijalaninya selama mengaji di tiga pesantren, yakni Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH Abdullah Fakih dan Pesantren Idham Sari, Genteng di bawah bimbingan KH Abdullah Syuja’. Kedua pesantren yang terakhir berada di wilayah Banyuwangi sendiri.

Maka demikian pun ia mempraktekkan ilmunya ketika telah mengasuh pesantren. Para santri di Nahdlatut Thullab tidak harus membawa bekal atau dibekali oleh orang tuanya dari rumah. Asalkan santrinya bekerja keras tentu dapat menopang kehidupan dan membiayai pendidikannya selama di pesantren. Karenanya, dana pembangunan pesantren yang dari Presiden Soekarno disisakan untuk membeli lahan, agar para santri tidak membebani orang tua masing-masing.

Kenyataan ini adalah yang sebenarnya, karena entah kebetulan atau tidak, jumlah santrinya tidak pernah lebih dari kapasitas lahan yang tersedia untuk menopang kehidupan dan kebutuhan belajar mereka. Sehingga KH Dimyati dapat benar-benar mendidik mereka dengan seksama, termasuk ketika harus membina mereka sebagai laskar Hizbullah pada kegelapan malam. Mengendap-endap dan menyergap musuh, untuk merangkul kitab kuning pagi harinya di pesantren.

Sorogan Tak-langsung dan Pendidikan Bilfili. Dalam sistem pendidikan di pesantrennya, KH Dimyati mengandalkan lebih mengandalkan sistem sorogan. Sistem ini menjadikan santri-santrinya menyimak dengan seksama. Karena sorogan yang dipakai oleh KH Dimyati adalah "sorogan tak langsung”. Artinya para santri mengulangi membaca kitab yang telah dibaca oleh sang kyai beberapa hari sebelumnya. Jadi para santri secara otomatis akan mendengarkan dengan seksama ketika sang kyai sedang membacakan, karena mereka harus mengulanginya secara terjadwal.

Sementara cara lain yang digunakan oleh KH Dimyati di Pesantrennya adalah metode bandongan. Dalam mekanisme bandongan sang kyai bebas menerangkan agar para santri mengerti maksud-maksud tersirat dari teks-teks kitab yang sedang dipelajari. Cara ini lazim digunakan di madrasah-madrasah Blambangan selatan sebagaimana juga pesantren-pesantren Nusantara lainnya.

? ? ?

Selama mengasuh pesantren, selain terlibat dalam perjuangan fisik secara langsung di malam hari, KH Dimyati juga sempat membuat karangan tentang akhlak (karakter) yang semestinya dimiliki oleh para remaja Islam. Karangan ini berbentuk nadzam (semacam pantun dalam bahasa Arab, yang menggunakan susunan rima ab ab. Nadzam karangan KH Dimyati ini berjudul Muidzotus Syibyan (Nasehat untuk para Remaja).

Pesantren Nahdlatut Thullab sendiri sangat mengutamakan penguasaan ilmu alat, nahwu dan shorof. Meski tentu saja kitab2 tafsir juga menjadi kajian utama para santrinya. Menurut beberapa santri yang sempat menimba ilmu kapada KH Dimyati, kehebatan Pesantren Nahdlatut Thullab adalah dalam pengembangan aqoid 50-nya. Melalui pembinaan Aqoid 50 ini para santri yang telah boyongan dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah ketuhanan kepada masyarakat di daerah alumni itu sendiri.

Beberapa santri bahkan menyatakan ilmu-ilmu tersebut dapat mereka kuasai secara ”ladunni”. Artinya, dulu ketika diajar langsung terkadang mereka tidak memahami pelajaran saat itu juga, namun setelah kelaur dan mengabdi untuk masyarakat, mereka tiba-tiba teringat dan mengerti maksud penjelasan KH Dimyati sewaktu di pesantren dahulu.

Metodenya pembelajaran KH Dimyati sebenarnya sangat sederhana sekali. Namun karena keyakinan tinggi dari para santrinya, maka mereka mendapatkan semacam pencerahan. Hal pertama yang ditancapkan kepada para santri adalah Al-Qur’an. Para santri diwajibkan senantiasa mendawamkan membaca Al-Qur’an di sepanjang hari, di setiap aktifitas mereka. Kemudian barulah didoktrin dengan Aqoid 50 dan baru belajar nahwu shorof serta ilmu-ilmu lainnya.

Hal penting lain yang diajarkan KH Dimyati adalah pendidikan bilhal/bifi’li. Yakni pendidikan praktek langsung, bukan hanya teori. KH Dimyati terkenal suka mengajak para santrinya untuk bersilaturrahim. Hal ini adalah salah satu aspek pendidikan yang terus tertanam di hati para santrinya sepanjang hidup mereka.

Beberapa santri bahkan menyatakan, sifat kewiraan KH. Dimyati banyak menitis/menurun kepada anak didiknya. Mereka sering didatangi oleh KH Dimyati jika malakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran KH Dimyati. Jika mereka mengalami hambatan atau kendala dalam kehidupan, kemudian bertawassul kepada KH Dimyati, maka biasanya mereka kemudian segera menemukan solusi dari permasalahan mereka.

”Semasa masih di pondok, para santri seakan tidak merasakan keistimewaan menimba ilmu kepada KH Dimyati, namun setelah mereka kembali pulang ke daerahnya masing-masing, barulah mereka mengerti keistimewaan tinggal di pondok ini. Kebanyakan para santri baru menyadari manfaat menimba ilmu pesantren Nahdlatut Thullab, Kaliogoro Kepundungan Srono Banyuwangi, ini setelah berdakwah di rumah,” demikian diungkapkan KH Syaifullah Ali Subagiono, Pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah, Ketapang Banyuwangi.

Berbagi Relasi untuk para Santri. Menurut Subagiono, KH Dimyati benar-benar menjadikan hidupnya sebagai pengabdian sepenuhnya kepada sesama, termasuk kepada orang-orang dari tanah kelahirannya, Yogyakarta. Di manapun para alumni berada, biasanya mereka mendapatkan solusi terkait relasi yang ditunjukkan oleh KH Dimyati. Hal ini dikarenakan KH Dimyati yang berasal dari keluarga Yogyakarta memang memiliki banyak relasi di Jakarta, Yogyakarta dan daerah-daerah lain.?

Luasnya jaringan relasi di kalangan para pemimpin bangsa, dibuktikan oleh kunjungan berkala dari ketiga menteri agama Republik Indoensia yangd ari NU, yakni KH A. Wahid Hasyim, KH Syaifuddin Zuhri dan KH Ahmad Dahlan, termasuk KH Ahmad Syaikhu. Meski sudah menjadi pejabat negara di tingkat pusat, namun tamu-tamu ini tetap bersikap santai di pesantren. Mereka biasa tiduran dan bercengkerama dengan santri di pendopo pesantren.

Terpenting KH Dimyati selalu menanamkan jiwa ke-NU-an di hati anak didiknya. Beliau menyatakan ingin hidup sebagai orang NU dan kelak jika meninggal pun sebagai orang NU. KH Dimyati mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan NU.? Sementara untuk urusan anak-anaknya, ia menyatakan, toh mereka bisa mencari hidup sendiri-sendiri.

Tokoh Kharismatik dari Blambangan selatan ini, terlahir pada tahun 1912 dan dibawa pindah ke kawasan Blambangan selatan oleh keluarganya, yang berasal dari Wonokromo Yogyakarta, sekitar tahun 1915-an dan boyongan dari pesantren untuk mendirikan pesantren dan berdakwah di daerah Blambangan selatan pada tahun 1936. pada tahun 1959 setelah usai merampungkan pembangunan gedung pesantrennya dan menyediakan cukup lahan untuk para santrinya menopang kehidupan dan biaya belajar selama di sana, KH Dimyati berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Namun di sanalah rupanya Beliau datang untuk menghadap kepada Rabb-nya pada usia 47 tahun. Sebuah pemakaman tanpa penghormatan militer, meskipun Beliau selalu berada di garis terdepan dalam pertempuran melawan tentara-tentara Belanda. Selamat jalan Komandan Hizbullah Blambangan selatan. Semoga generasi masa kini dapat meneruskan perjuanganmu mengusir imperialisme dari bumi Nusantara (Puji Utomo/Syaif)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Februari 2018

Pasar Murah Jelang Ramadhan di Kalibata Disambut Antusias

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Jelang Ramadhan, bahan baku kebutuhan masyarakat berpotensi mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Melihat hal tersebut, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) di bawah bimbingan Ari Haryati Marwan Jafar, Istri Menteri Desa PDTT, Marwan Jafar menggelar pasar murah di area perkantoran Kemendes PDTT Kalibata, Jakarta, Rabu (1/6).

Pasar Murah Jelang Ramadhan di Kalibata Disambut Antusias (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasar Murah Jelang Ramadhan di Kalibata Disambut Antusias (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasar Murah Jelang Ramadhan di Kalibata Disambut Antusias

"Semoga pasar murah ini bisa membantu karyawan dan masyarakat khususnya penduduk sekitar, untuk menyediakan bahan-bahan pokok menjelang puasa," ujar Ari Haryati, Penasehat DWP Kemendes PDTT, saat membuka pasar murah di Gedung Makarti Muktitama, kantor Kemendes PDTT .

Dalam kesempatan itu, Ari Haryati menegaskan, bahan-bahan kebutuhan pokok yang disediakan dalam pasar murah itu hanya untuk kebutuhan rumah. Artinya, masyarakat yang membeli di pasar murah tersebut tidak boleh untuk kembali diperjualbelikan.

Ribath Nurul Hidayah

"Yang berbelanja tidak untuk dijual lagi atau untuk kulakan, karena tujuan kita adalah membantu masyarakat untuk menyediakan bahan-bahan baku jelang Ramadhan, bukan untuk dijual lagi," paparnya.

Dalam pasar murah tersebut, produk-produk yang dijual beragam. Mulai dari beras, minyak goreng, gula, bawang merah, bawang putih, daging dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.? Pasar Murah ini pun mendapat antusias dan apresiasi positif dari masyarakat. Terlihat, ada banyak.pengunjung yang berbelanja di pasar.murah tersebut. Risma, warga kalibata misalnya, ia tampak membeli berkilo-kilo gula untuk persiapan Ramadhan.

Ribath Nurul Hidayah

"Harga gulanya murah, cuma Rp14 ribu. Kalau di luar Rp17 ribu, bedanya lumayan sampai Rp3 ribuan," ujarnya.

Begitu juga dengan pengunjung lain yakni Ana, warga setempat yang mengaku terbantu dengan digelarnya pasar tersebut. Menurutnya, harga yang ditawarkan pasar murah tersebut berbanding jauh dengan harga pasar pada umumnya. "Bawang merah di sini harganya Rp25 ribu, padahal kalau di pasar bisa sampai Rp40 ribu," ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 03 Februari 2018

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Oleh Irham Ali Saifuddin

Tak dipungkiri lagi, Indonesia adalah negara yang besar. Kita adalah bangsa yang besar. Situ enggak percaya? Walaupun kita belum menjadi negara maju dan berdaulat sepenuhnya dalam relasi global, seenggak-enggaknya kita besar hal populasi dan luasan geoprafis. Baiklah, biar lebih ciyus, kita kutip Laporan BPS pada Februari 2016 yanng memperkirakan jumlah penduduk kita saat ini sebanyak 257,62 juta jiwa. Saking luasnya wilayah Indonesia, sudah terpatri dalam benak kita klaim turun-temurun sebagai bangsa agraris dan maritim.

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Memang kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.Nyatanya, klaim sebagai bangsa agraris dan maritim tidak sepenuhnya salah. Setidaknya bila dilihat dari okupasi prosentase sektor ketenagakerjaan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yang oleh BPS digolongkan sebagai Sektor 1, memang merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar, yakni 31,74 persen. Ada 38,29 juta jiwa yang bekerja di Sektor 1 ini. Dahsyat kan?

Tetapi tunggu dulu. Kenapa sekarang sudah semakin langka anak muda yang ketika ditanya cita-citanya apa maka tidak ada yang menjawab ingin menjadi petani?

Ribath Nurul Hidayah

Secara diametral, di sini kita melihat dengan jelas bahwa sektor pertanian dan perikanan sampai detik ini belum bisa menjadi sektor yang menjanjikan, yang darinya orang dapat menggantungkan hidup. Sudah semakin jarang kita temui cerita seorang petani yang kaya raya dan penuh kuasa seperti dongeng-dongeng di masa kecil. Berarti ada yang salah dari pertanian kita. Oke... Sektor tersebut memang menyerap tenaga kerja terbesar. Tetapi jangan lupa, kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto-nya (PDB) rendah, hanya sekitar 14,5 persen. Bandingkan dengan sektor industri dan manufaktur yang hanya menyerap 12 persen tenaga kerja, tetapi sumbangsih terhadap PDB dua kali lipat dari pertanian, yakni 25 persen.

Ribath Nurul Hidayah

Gimana? Jelas kan? Angka tersebut secara jelas memberi gambaran betapa rendahnya produktivitas pertanian kita. Akhirnya ia tidak kompetitif dan selanjutnya semakin ditinggalkan oleh keluarga petani. Celakanya, hingga saat ini belum ada upaya yang terukur dari pemerintah terkait dengan strategi penyelamatan warisan nenek moyang ini.



Matinya petani, matinya bangsa


Kondisi ini tidak saja bisa disebut sebagai matinya desa. Kematian sektor pertanian adalah proyeksi masa depan kematian kita sebagai bangsa. Ini menyangkut kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa, Bung! Betapa tidak, dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana sekalipun, kita sudah tidak berdaulat. Tidak percaya?

Atas nama mendulang investasi dan memperkuat likuiditas, Negara bersimpuh-serah pada kekuatan-kekuatan korporasi untuk mengelola pertanian kita. Masih ingat Monsanto kan? Ia merupakan gurita global yang fokus pada pembenihan/pembibitan melalui benih/bibit transgenik. Rejim bibit ini akan sangat mengancam masa depan petani kita. Bukan saja karena Monsanto melakukan rekayasa genetik yang berbahaya dan mengancam keanekaragaman hayati. Atau kalau kamu orang Jogja, pasti tahu Pakem kan? Di Pakem terdapat sebuah perusahaan pembenihan asing yang sudah lima tahun terakhir beroperasi. Hebatnya, ia hanya fokus pada komoditas bambu. Aneka bambu yang tumbuh subur di Nusantara dikawin-sliangkan hingga menjadi varietas unggulan, kemudian bibit bambunya dipatenkan.

Ngeri enggak? Korporasi sudah seperti ancaman Jaddal bagi manusia petani di dunia modern saat ini. Penguasaan benih oleh korporasi seperti di atas ibarat sabotase karunia Tuhan terhadap bumi yang kita tinggali dengan keragaman hayatinya, lalu tetiba diklaim dan dimonopoli oleh korporasi atas nama paten dan sertifikasi. Atas sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT di tanah kita saja, kita sudah tidak berdaulat. Tidak terbayang kan petani kita bisa dipidanakan cuma gegara menanam bambu atau padi? Korporasi melalui rejim hak paten akan membuat negeri ini tiba-tiba miskin karena kita kemudian menjadi tidak punya hak apa-apa atas semua yang ditumbuhkan oleh Tuhan di negeri subur ini. (Hhhmmmmm... Jadi ingat lagu Darah Juang).

Itu baru dari sisi bibit saja ya. Kita belum lagi membahas mengenai swasembada pangan, ketahanan pangan, lalu seringnya Negara terjebak strategi impor atas komoditas-komoditas pangan yang menguasai hajat orang banyak. Cukuplah ini sebagai ironi negara agraris!

Di sebrang yang lain, mari kita lihat petani kita. Struktur agraria kita timpang. Prosentase kepemilikan lahan tak seimbang. Mayoritas petani pun kemudian tumbang. Kenapa? Mereka rata-rata hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan. Dengan luasan seperti ini, para petani kita akan kesulitan untuk menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Belum lagi ketergantungan petani terhadap faktor produksi pertanian seperti pupuk, bibit, pestisida dan peralatan penunjang lainnya yang semua harus beli. Produktivitas rendah karena lahan terbatas lalu ditunjang oleh faktor produksi yang mahal. Klop sudah. Kemudian harga panen rendah karena tidak kompetitif dengan produk yang diimpor pemerintah. Gimana enggak gulung koming mereka...

Berikutnya, diserahkannya sektor pertanian kepada korporasi besar secara pasti dan sistematis akan menggerus pertanian rakyat, bahkan memati-permanenkan petani kecil. Lihat saja misalnya, beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan dari China dan Malaysia mulai masuk ke dunia pertanian kita. Tak tanggung-tanggung, mereka mengucurkan investasi puluhan trilyun rupiah untuk menguasai lahan-lahan pertanian kita untuk membangun lahan persawahan dan pertanian terpadu. Bukan hanya teknologi terkini pertanian yang mereka bawa, mereka mengganti semua pola bertani tradisional kita. Ini hanya menjadi sekedar gambaran, betapa makin tampaknya gempuran korporasi tersebut semakin meminggirkan pertanian rakyat.

Akibat high-technology yang tak terbeli dan subtitusi tenaga manusia menjadi mesin-mesin pertanian yang canggih, para petani kita semakin tersudut di pinggir galeng-galeng persawahan. Mereka hanya menjadi penonton yang menyaksikan atraksi Akbar korporasi atas bumi pertiwi. Kearifan lokal seperti budaya gotong royong, bertani yang ramah alam, serta nilai-nilai social lainnya kemudian hilang. Pertanian hanya dimaknai secara serapah sebagai proses produksi dalam perspektif rakusnya industrialisasi. Pertanian sudah tidak lagi memiliki dimensi budaya dan keyakinan sosial yang sebenarnya merupakan ekstraksi nilai peradaban yang berabad turun-temurun.

Merenungkan wasiat Hadratussyekh



Dunia Islam di Indonesia seharusnya memiliki tanggung jawab yang lebih akan keberlanjutan masa depan pertanian kita. Pertanian telah menjadi saksi bagaimana ia dijadikan alat diplomasi politik, sosial dan budaya di masa penyebaran Islam di Nusantara selain jalur perdagangan. Bahkan, pesantren-pesantren di masa lalu selalu menjadikan pertanian sebagai penopang utama bagi kebutuhan pendanaan roda pendidikan Islam.

Dalam hal ini, kita sudah diingatkan oleh ulama besar pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari. Sebagaimana pernah di tulis Hamzah Sahal di situs resmi PBNU, KH Hasyim Asyari memberikan perhatian yang luar biasa pada pertanian. Hamzah Sahal menyebut, Hadratussyekh bahkan memiliki tulisan khusus yang berjudul "Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani." Hadratussyekh bahkan meyakinkan kepada kita semua bahwa pertanian adalah benteng terakhir bagi pertahanan Negara.

Hamzah Sahal menjelaskan bahwa Hadratussyekh secara spesifik menulis:

"Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta soedi menolong) pada negeri; dan Pa Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat? negeri didasarkan."

Mbah Hasyim seperti hendak mengingatkan kepada kita, betapa strategisnya sektor pertanian ini. Nasehat tersebut semakin relevan dengan kondisi terkini dunia di mana ketahanan pangan kita sedang tercancam karena semakin terbatasnya lahan pertanian dan adanya perubahan iklim dan bencana alam. Betul sekali pesan Hadratussyekh tersebut, bahwa "Pak Tani itulah penolong negeri." Pertanian memang sektor yang sangat strategis sampai kapan pun. Saat ini, secara global ada 1 miliar lebih penduduk dunia yang bekerja di sektor pertanian. Angka ini setara dengan sepertiga tenaga kerja dunia. Walaupun angka ini turun selama dua decade terakhir, dari 45 persen menjadi 35 persen. Tetap saja yang paling siginfikan diantara sektor lainnya.

NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, yang menurut lembaga survei LSI berjumlah 90 juta orang, seharusnya memiliki kepentingan yang besar terhadap pertanian ini. NU bukan saja memiliki landasan teologis-historis untuk menempatan pertanian sebagai prioritas dalam khidmah sosialnya, lebih jauh lagi. Jamaah NU yang sebagian besar tersebar di pedesaan adalah bidang garap yang hanya berjarak sejengkal dari dunia pertanian. Data Sakernas BPS pada Agustus 2015 mencatat ada 55 juta penduduk Indonesia yang bekerja di pedesaan. Proporsi terbesarnya, yakni 31,4 juta bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (Sektor 1). Kembali lagi ke survei yang dilaksanakan LSI, bila survei tersebut valid, maka mayoritas petani di Indonesia adalah mereka yang mengklaim NU secara kultural (yakni NU yang tidak memiliki identitas formal sebagai anggota Jamiyah Nahdlatul Ulama atau menjadi pengurus di badan-badan organisasi).

Isu-isu pertanian hampir selalu dibahas dalam forum-forum pembahasan masalah sosial-keagamaan di lingkungan NU, bahkan di setiap Muktamar limatahunan NU selalu memperbincangkannya. Bahkan secara formal NU memiliki badan otonom yang didedikasikan untuk pertanian, yakni Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Meminjam istilah KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Islam itu sebagai mayoritas di negeri ini dan karenanya ia memiliki tanggung jawab tertinggi atas apa pun yang terjadi di negeri ini. Apalagi, dalam konteks NU, organisasi ini memiliki anggota yang mayoritas mata pencahariannya adalah betani. Tanggung jawab itu menjadi berlipat ganda.

Pertanyaan penutup yang perlu kita refleksikan adalah sudah seberapa jauh dunia Islam kita dan NU mengawal wasiat Hadratussyekh tersebut?

Penulis adalah pengurus Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Humor Islam, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 23 Januari 2018

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi

Sumatera Barat Ranah Minang yang terkenal dengan Adat bersandi Syarak, Syarak bersandi Kitabullah yang dipimpin oleh Tigo Tungku Sajarangan, Ulama, Penghulu dan Cadik Pandai. Para ulama di ranah Minang, sebagai panutan umat biasanya mempunyai keahlian dalam ilmu Syariat, ilmu Thariqat dan seringkali pula melengkapi diri dengan ilmu Pencak Silat.? Kisah yang akan kita ikuti kali ini adalah salah satu contoh peran ulama di ranah Minang, dalam membina umat di tengah berbagai goncangan zaman.

Di daerah Pesisir Selatan yang dulu dikenal Banda Sapuluh kemudian Pesisir Selatan dan Kerinci, bermukim seorang ulama panutan umat yang dikenal seluruh lapisan masyarakat yakni Syeikh Abdul Munaf Bakrin yang terkenal dengan panggilan Tuanku lebih populer lagi dengan Buya Lubuk, yang mulanya mengajar ilmu syariat berbentuk halaqah di surau.

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyebar Thariqoh Naqsyabandiyah di Bumi Paderi

Syeikh Abdul Munaf Bakrin gelar Tuanku Mudo-Malin Sutan, terlahir di Taeh Koto Pulai, Barung-Barung Belantai Koto XI Tarusan ±? 44 km dari Padang pada bulan Agustus 1901 M. dan wafat pada 31 Maret 1984 M.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin adalah anak dari pasangan H. Abu Bakar dan ibu Siti Subuh Chaniago. Siti Subuh adalah seorang ibu yang taat dan lemah lembut serta pandai pencak silat.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak Kecil Munaf Bakrin diasuh oleh kedua orang tuanya, kemudian belajar Sekolah Desa 3 tahun. Untuk menguasai ilmu-ilmu agama, Munaf belajar Al-Qur’an di Taram, kec. Harau 50 Kota. Kemudian berpindah-pindah guru agama. Di antaranya adalah Buya Taram, Buya Ibrahim, Tiakar Payakumbuh, Buya Ruslan di Limbukan, Buya Sulaiman ar-Rasuli (Buya Candung) Bukittinggi, Buya Jamil Jaho (Buya Jaho) Padang Panjang, dan belajar thariqat Naqsyabandiyah dengan Buya Syeikh M. Thaib Pasar Baru Pauh Padang hingga berhasil mendapat Ijazah Khalifah.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah ilmunya cukup, Munaf Bakrin kemudian mengajar mengaji dan berdakwah dari surau ke surau dan nagari di daerah Banda Sapuluh. Munaf Bakrin mengembangkan ajaran Thariqat Naqsyabandiyah dan ajaran Sunniah Syafi’iyah. Munaf Bakrin kemudian diangkat sebagai Tuanku Muda oleh Syeikh Maulana HM. Thaib, Angku Surau Baru sekaligus khalifah Mursyid Thariqat Naqsyabandi 1932 daerah Banda Sapuluh di Surau Lubuk Panjang Barung-Barung Belantai Koto XI Tarusan.

?

Dari pengalaman berdakwah inilah, Munaf Bakrin tumbuh menjadi seorang ulama yang telah aktif memimpin masyarakat, termasuk dalam perjuangan politik. Seperti terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda tahun 1926. Saat itu, Munaf Bakrin bahkan sempat ditangkap Belanda dan ditahan di Tangsi Muaro. Namun kemudian lepas dari tahanan dan merantau lagi untuk menambah ilmu dan pengalaman ke kepulauan Malaya dan Singapura.

Pada zaman Jepang, jiwa patriotisme Munaf Bakrin tampil kembali. Karena di segani oleh Jepang banyak pemuda-pemuda yang dibuang ke Digul dapat diselamatkan dengan menjadikan mereka pelajar di Surau Lubuk dan Jepang dapat membenarkannya.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan mendirikan Lasymi (Lasykar Muslim Indonesia) di Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK) langsung Komandan Intendannya.

Masa Kemerdekaan

Sebagai ulama Syafi’iyah-Sunniyah, Munaf Bakrin bersama ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang sepaham mendirikan cabang Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang didirikan oleh Buya Candung di kabupaten PSK. Pada waktu Perti berobah menjadi Partai Islam Perti, maka kabupaten PSK langsung menyesuaikan diri dan berdirilah Partai Islam Perti dengan Munaf Bakrin Buya langsung sebagai Ketua Dewan Thariqatnya.

Pada tahun 1950 Munaf Bakrin diangkat sebagal Hakim pada Makmar Syariah Painan. Dalam masa PRRI tetap setia pada Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjabat jabatan sebagai Penasihat Bupati Pesisir Selatan.

Tahun 1960-1970 Munaf Bakrin dipercayakan memegang jabatan Ketua Pimpinan Cabang Perti sekaligus Pimpinan PPTI kabupaten Pesisir Selatan. Setelah Dekrit Buya Candung, Perti menjadi Persatuan Tarbiyah lslamiyah, tahun 1969 langsung menjadi Ketua DPD Persatuan Tarbiyah Islamiyah kabupaten Pesisir Selatan. Tahun 1977-1982 menjadi angggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Golkar.

Mengembangkan Thariqot Naqsyabandiyah

Setelah diangkat dan diresmikan sebagai Khalifah Mursyid oleh Buya Syeikh M. Thaib-Angku Pasar Biduk di Surau Lubuk Panjang, mengajarkan Thariqat Naqsyabandi dengan mendirikan Suluk, sekaligus menghadapi tantangan penganut Khurafah Tahyul dan ilmu Sihir serta rasa disaingi dari pengamal Thariqat yang telah lebih dulu berkembang.

Selanjutnya berdatanglah murid-murid yang ingin belajar Thariqat Naqsyabandiyah dan melaksanakan suluk dari daerah-daerah Banda Sapuluh, kota Padang. Munaf Bakrin kemudian mengembangkan pengajian Thariqat Naqsyabandi ke Siguntur Muda. Pengajian Munaf bakrin kemudian menjalar hingga ke Lubuk Niur, Indrapura, Lubuk Pinang Muko-Muko Kabupaten Bengkulu Utara, Teluk Kabung, Batu Sangkar dan Padang.

Untuk menyebarkan ilmunya, Syeikh Abdul Munaf Bakrin mengangkat para khalifah di daerahnya masing-masing dan mendirikan surau tempat wirid Tawajuh. Syeikh Abdul Munaf Bakrin mendatangi dan membimbing mereka secara bergilir di tempat-tempat didirikan Halqah Khatwat (Suluk). kegiatan ini dilaksanakan sepanjang hidup.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin sangat berjasa dalam penyatuan pengajian Syariat dengan Thariqat. Syeikh Abdul Munaf Bakrin mengantar kader-kader ke sekolah agama (Madrasah Tarbiyah) di daerah Payakumbuh dan Bukitinggi. Namun Syeikh Abdul Munaf Bakrin juga mendirikan Madrasah/Pesantren dengan mewakafkan tanah pusaka tinggi untuk perumahan pesantren di Taeh.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin mendukung secara utuh dan sungguh-sungguh pendidikan Al-Qur’an yang mewajibkan pelajaran terjemah Al-Qur’an yang dipimpin Ibnu Abbas (anak) dengan pendidikan Nurul Yaqien. Syeikh Abdul Munaf Bakrin menjadikan Nurul Yaqien sebagai nama bagi seluruh surau dan mesjid dibawah naungannya, baik yang berada di Pesisir Selatan maupun yang berada di luar Pesisir Selatan dengan harapan agar pendidikan Al-Qur’an dan terjemahannya diajarkan oleh para khalifah untuk para jamaah di daerah masing-masing.

Syeikh Abdul Munaf Bakrin juga menugaskan kepada para khalifah, jamaah dan ahli waris untuk memperbaiki dan membangun baru Surau Lubuk yang telah dimakan usia. Serta mengamanatkan kepada seluruh khalifah dan jamaah untuk selalu bekerjasama dengan pemerintah di semua tingkat dan tokoh agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat selama tidak menghalangi pelaksanaan ajaran Thariqat Naqsyabandiyah dan ikut berperan serta dalam pembangunan dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lembut, santun tapi tegas.

Suasana Menjelang dan Saat Wafat

Sekitar tiga puluh hari mendekati hari wafat, Buya tidak mau makan dan minum dan tak boleh dibangunkan karena sedang sakit dan zikir. Hanya bangun di awal setiap waktu shalat untuk bersuci dan berwudhu, langsung shalat dalam berbaring menghadap kiblat.

Saat menjelang wafat selalu terdengar ucapan Allah, Allah, akhirnya Buya berangkat Kehadirat Allah dengan ucapan la ilaha illallah dengan wajah yang tenang berseri. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.



(oleh Syaifullah Amin. Disarikan dari Buku Syeikh Abdul Munaf Bakrin : Ulama Panutan dan Pejuang, karya Syeikh H Ibnu Abbas Munaf, SH)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kajian Sunnah, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 Januari 2018

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Siswa SMA Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo sukses membuat alat kontrol saklar listrik jarak jauh. Cara kerja alat ini dikendalikan melalui pesan singkat telpon genggam. Di samping sangat mudah dan praktis, karya siswa ini dapat membantu menghemat daya pakai listrik.

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Inovasi ini diciptakan oleh siswa jurusan Sains Matematika SMA Nurul Jadid Paiton. Idenya berawal karena maraknya penggunaan lampu di ruang sekolahnya yang setiap hari tidak pernah dimatikan walaupun sedang tidak digunakan.

Koordinator pembuat alat kontrol hemat listrik jarak jauh Muhammad Nur Ilham Mubarok mengatakan, inovasi ini berawal dari banyaknya pemborosan energi listrik. “Kemudian kami buat sebuah terobosan untuk mencari aplikasi yang tepat sebagai upaya penghemat energi,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hebatnya, jelas Ilham, inovasi ini dibuat dengan menggunakan komponen bekas dari alat-alat elektronik yang sudah tidak terpakai. Alat utamanya adalah Print Circuit Board (PCB), yang berfungsi sebagai wadah komponen eletronika. Selain itu terdapat micro sebagai otak pengendali, relai sebagai saklar otomatis, modem untuk mengantarkan sms serta serial yang menjadi penghubung antara micro dan modem.

“Komponen yang dibutuhkan di antaranya transistor, kapasitor Kristal serta tombol swicth on off. Dari seluruh komponen ini, hanya modem berikut nomor operator selular yang dibeli. Selebihnya merupakan komponen alat elektronik bekas dengan biaya tak lebih dari 500 ribu rupiah,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Ilham, cara kerja alat ini adalah dengan mengirim sms ON9 ke nomor operator modem, otomatis lampu listrik sudah bisa dihidupkan. Sebaliknya sms OF9 berfungsi mematikan daya listrik. Sementara tarif sms disesuaikan dengan ketentuan operator seluler.

“Teknologi ini juga dapat mengendalikan saklar perangkat elektronik lain seperti kipas angin, televisi, bahkan kran air dengan kekuatan maksimal 8 ampere, baik aliran listrik bersistem paralel maupun seri,” terangnya.

Sementara guru pembina Affandi mengungkapkan bahwa saat ini warga maupun pelaku usaha dapat mengendalikan pemakaian listrik dari jauh tanpa harus ke saklar langsung, sepanjang masih terjangkau sinyal operator seluler. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Humor Islam, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 03 Januari 2018

Temui Pangdam Jaya, IPNU DKI Minta Dilatih Bela Negara

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama berkunjung ke kantor Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya). Dalam kesempatan itu, mereka diterima langsung Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo dan beberapa stafnya.

Temui Pangdam Jaya, IPNU DKI Minta Dilatih Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Temui Pangdam Jaya, IPNU DKI Minta Dilatih Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Temui Pangdam Jaya, IPNU DKI Minta Dilatih Bela Negara

Pada pertemuan Kamis (12/2) tersebut, Ketua PW IPNU DKI Jakarta Muhammad Said memaparkan program kerja yang akan dan telah dilaksanakan organisasinya. Ia menyebut salah satunya adalah membentengi pelajar dari ideologi-ideologi yang mengancam kesatuan NKRI.

“Kita perlu mengadakan pelatihan bela bangsa dan negara, sebagai bentuk kepedulian kita sebagai pelajar NU demi mengawal Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mendengar keterangan tersebut, Pangdam Jaya mengapresiasi langkah salah satu banom NU tersebut. Menurutnya, jarang anak muda yang mempunyai kepedulian terhadap bela bangsa dan negara.

Pangdam berjanji akan memberikan pelatihan bela negara dan bangsa kepada kader IPNU se-DKI Jakarta sebagai bentuk aplikasi dari kepedulian dalam membela dan mempertahankan NKRI pada bulan Maret yang akan datang. (Mohammad Khoiron/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 21 Desember 2017

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran para pahlawan yang berjasa dalam merebut kemerdekaan untuk Indonesia. Karena itu, makna hari pahlawan sangat tinggi nilainya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat juang perlu dijadikan perhatian utama setiap kali peringatan hari pahlawan.

Demikian disampaikan Katib Syuriah PWNU Jawa Barat KH Rachmat Syafe’I di pesantren Al-Wafa’, kota Bandung, Ahad (9/11).

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban

Kiai Rachmat menerangkan, makna hari pahlawan terdapat suatu ikhtiar atau perbuatan dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Ribath Nurul Hidayah

“Makna yang pokok adalah bagaimana kita mempunyai jiwa seperti para pahlawan melalui jiwa patriotisme mempertahankan hak asasi manusia, kebebasan bernegara, dan kebebasan berbuat kebaikan,” tuturnya saat ditemui Ribath Nurul Hidayah, Ahad (9/11) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, semangat jiwa untuk berkorban bisa ditujukan demi kebaikan diri, keluarga dan lingkungan. Bagi kiai Rachmat, berkorban itu bukan hanya dalam keadaan berperang, tetapi dalam keadaan damai bisa juga berkorban dalam bentuk semangat untuk menjaga diri mengembangkan diri, keluarga. “Jangan sampai menyimpang dari aturan-aturan hukum dan agama,” tambahnya.

Ketua bidang fatwa MUI Jabar ini mengakui, saat itu pahlawan memang lebih banyak muslim. Tetapi ia mengajak masyarakat muslim untuk tidak mengabaikan pahlawan dari non-muslim karena sama-sama berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia.

“Karenanya, orang Islam sekarang harus sadar bagaimana supaya mampu meneladani mereka untuk berbuat baik, sehingga menjadi orang besar manfaatnya, terutama untuk kemanusiaan,” terang KH Rachmat Syafe’i.

Selain itu, ia juga mendorong kepada generasi muda khususnya kalangan pelajar supaya meningkatkan semangat jihad dalam mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Kiai Rachmat memperkuatnya dengan semboyan Hibrul qalam, asyhadu minad dam (tulisan ilmu lebih suci daripada darah pejuang perang).

Hakikat manusia, lanjut Kiai Rachmat, pada hakikatnya ingin berbuat baik. Karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia dapat menjaga keinginan suci tersebut. Agar, ke depannya dapat merealisasikan sesuai fungsi masing-masing dengan sekuat tenaga untuk mencapai kemuliaan dalam berbangsa dan bernegara. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, IMNU, Doa Ribath Nurul Hidayah

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar jalan sehat dengan rute Monumen Nasional (Monas)-Bundaran HI-Monumen Nasional, Ahad (22/12) dengan jarak sekitar 2.5 km.

Kader-kader Fatayat berseragam pakaian olah raga putih hijau khas Fatayat secara bergelombang memenuhi sisi selatan Silang Monas. Tak sedikit diantaranya datang bersama keluarga, suami dan anak. Rekreasi sekaligus olah raga bersama. Dan jika beruntung, siapa tahu dapat hadiah door prize.

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Sekitar jam 6 pagi, mereka melakukan pemanasan dengan senam aerobik dipandu oleh beberapa instruktur senam diiringi dengan musik yang ceria.

Ribath Nurul Hidayah

Menteri BUMN Dahlan Iskan yang energik, turut datang dalam acara ini. Ia naik ke panggung dan mengajak peserta untuk sehat dengan berolah raga senam.

Ribath Nurul Hidayah

Hujan rintik-rintik yang membasahi monas sejak subuh tidak menghalangi para anggota Fatayat untuk ikut senam dan bergembira bersama.

Mantan Wapres Jusuf Kalla bersama istrinya Mufida Jusuf Kalla ikut hadir dan bergembira serta menyampaikan Selamat Hari Ibu. Kedatangannya disambut meriah oleh ibu-ibu muda Fatayat NU. Ia mengajak hadirin membacakan surat Al-Fatihah secara bersama-sama untuk mendoakan figur Ibu, yang telah berkorban membesarkan anak-anaknya. 

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah bersama dengan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud melepas rombongan jalan kaki dengan mengibarkan bendera dan melepaskan balon ke udara.

Panitia menyediakan sejumlah hadiah menarik, termasuk dua umrah bersama dengan NRA tour and travel, kulkas, sepeda gunung dan sejumlah hadiah hiburan lainnya.

Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Ida Fauziyah menjelaskan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penyegaran kembali dan menumbuhkan semangat berorganisasi serta rasa bangga bagi anggota Fatayat di tengah beragam organisasi masyarakat belakangan ini. Disamping itu,  Fatayat NU sebagai bagian dari perempuan Indonesia memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan keluarga. 

"Keberhasilan seorang pria, begaimana pun hebatnya kesuksesan mereka itu karena peran besar yang diberikan oleh perempuan. Oleh karena itu peran perempuan  yang besar itu patut dihargai. Kita juga tidak akan lupa bahwa sejarah bangsa kita telah membuktikan bahwa kaum ibu lah yang telah menjadi inspirasi pergerakan perempuan Indonesia, sehingga saatnya kaum Ibu bangkit dari keterbelakangan di segala bidang baik di bidang pengetahuan, sosial, politik dan ekonomi serta bidang lainnya,” katanya.(mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kiai, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah?



Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpanan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Bondowoso periode 2017-2022 dilantik di pendopo Bupati Bondowoso Jawa Timur pada Ahad (12/3). Pelantikan tersebut dikemas dengan seminar dan lokakarya.?

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama H Saihan dalam sambutannya berharap setelah dilantik, Pergunu Bondowoso menjadi langkah baru untuk memajukan pendidikan, khususnya di Bondowoso.

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

“Kami Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Bondowoso terus terang berasa haru, merasa bangga dengan gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Pergunu Kabupaten Bondowoso,” katanya.

Gebrakan yang baik itu, kata dia, harus diteruskan dengan menata organisasi Pergunu ini. ? Karena, banom NU para guru itu merupakan organisasi profesi yang mesti di kelolah secara profesional.

Lanjut Saihan, banyak guru yang berafiliasi ke Nadlatul Ulama baik yang ada di Kemendikbud atau di Kementerian Agama. Dengan demikian, Pergunu harus betul-betul menggali potensi para guru tersebut. Untuk itu, kata dia, Pergunu Bondowoso harus mempunyai data guru-guru Nahdlatul Ulama.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Pergunu H Rudolf Chrysoekamto mengatakan, Pergunu meski sudah didirikan sejak tahun 50-an, tapi aktif kembali enam tahun belakangan ini.?

Setelah kongres kedua di Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, kata dia, Pergunu memantapkan untuk kemandirian organisasi, peningkatan kualifikasi dan kompentensi guru-guru di seluruh Indonesia, khususnya berbasis Nahdliyin.

Ribath Nurul Hidayah

"Itu yang paling mendesak di samping konsolidasi organisasi kemudian peningkatan kualitas," katanya.

Ia menambahkan, Pergunu juga akan meningkatkan program-program yang bisa menetaskan kemampuan guru di Indonesia, khususnya NU. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, AlaNu, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Panti Sosial Asuhan Anak “Harapan Remaja” yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU telah berhasil menapaki sejarah dan eksis selama lebih dari 30 tahun. Syukuran atas keberhasilannya ini diabadikan dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Mengantar ke Pintu Gerbang”

Peluncuran buku ini dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada hari Senin, 21/7) di asrama panti yang berlokasi di Jl. Tenggiri 37 Jakarta Timur dan dihadiri oleh para donator dan alumni.

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Buku ini menceritakan proses berdirinya panti dan segala dinamika perjuangannya sampai perkembangannya saat ini dan visi pengembangannya di masa yang akan datang. Sejumlah data anak asuh dan alumni, program serta biografi para pendirinya juga tercantum dalam buku ini. Tak ketinggalan, foto-foto kegiatan turut menghiasi buku setebal 136 halaman ini.

Ribath Nurul Hidayah

Panti ini didirikan pada tanggal 4 Desember 1976 diatas tanah seluas 1.680 meter persegi oleh para pengurus Muslimat waktu itu seperti Ny Solichah Wahid Hasyim, Ny Solichah Syaifuddin Zuhri, Hj Soetarjih Rachmat Muylomiseno, Hj Madillah Himpuni Suparman dan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi yang kini menjadi satu-satunya pendiri yang masih hidup.

Ribath Nurul Hidayah

Dimulai dengan tujuh anak binaan, kini sudah meluluskan ratusan alumni. Batas maksimal ditetapkan usia 21 tahun dengan pendidikan SLTA. Selain memperoleh pendidikan formal, tak lupa pendidikan agama wajib dijalani oleh semua anak asuh. Mereka juga mandapatkan pendidikan ketrampilan yang semuanya ditanggung oleh panti.

Untuk pendidikan agama, mereka mendapatkan pelajaran Al Qur’an, Hadist, Bahasa Arab, akidah, akhlaq, fiqh, tafsir dan sejarah Islam. Mereka secara temporer juga diwajibkan untuk embaca tahlil, yasin, rawi dan latihan pidato.

Mereka yang diterima harus berusia sekolah dan berstatus yatim-piatu, anak terlantar atau tidak mampu. Apabila selesai menjalani proses pembelajaran, panti mengusahakan adanya pekerjaan, mengusahakan beasiswa atau mengembalikan kepada wali atau orang tua.

Terdapat 16 orang karyawan dan 11 orang guru yang mengelola panti ini. Sementara itu anak asuh yang tinggal di asrama sebanyak 50 orang dan yang tinggal di luar asrama sebanyak 50 orang. Kini, sedang diusahakan proses pembangunan gedung Madrasah untuk tingkat ke dua.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Ny Farida Salahuddin Wahid menjelaskan saat ini lembaganya sudah mengelola 102 panti asuhan, 57 rumah sakit dan klinik bersalin, 1 klinik hemodialisis, 5 panti lansia dan 16 asrama putri. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung

Lampung Timur, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 5000 Muslimat NU Kabupaten Lampung Timur mengikuti pengajian triwulan mereka yang berlangsung di Desa Adiwarno, Kecamatan Batang Hari. Mereka berbondong dengan berbagai kendaraan, mulai bus, sampai sepeda motor.

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Muslimat Ikuti Pengajian Ketua PWNU Lampung

Pengajian berlangsung ahad (24/11) tersebut dhadiri Ketua PWNU Lampung RM Soleh Bajuri. Ia disambut disambut antusias 5000 ibu-ibu berpakaian serba hijau yang telah menantikan kedatangannya sejak pukul 07.00 wib.

Sambil berjalan ke tempat yang telah disediakan, di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu Kiai Soleh menyapa dengan ucapan, “pripun kabare ibu-ibu sedoyo?” Ibu-ibu menjawab, “sae-sae Pak Kiai”, “Alhamdulillah,” Kiai Soleh menjawabnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada pengajian triwulanan ke-28 tersebut, Soleh Bajuri menyampaikan Pendidikan karakter anak adalah sebuah proses penanaman nilai.

Ribath Nurul Hidayah

Proses tersebut, kata dia, melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga anak-anak mampu memahami, mengamalkan, dan mengintegrasikan nilai dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kepribadiannya.

Pendidikan karakter juga sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Soleh juga mengajak Muslimat NU untuk melakukan pengalangan dana guna menghidupkan kegiatan Muslimat NU di Batang Hari sehingga meningkatkan ukhuwah islamiyah serta terus memupuk semangat organisasi ibu-ibu NU lebih maju dan berjaya membumikan Aswaja.

Hasil dari penggalangan tersebut terkumpul uang sebesar Rp 11.500.000. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan Muslimat NU Batang Hari seperti santunan anak yatim piatu dan dhuafa. (rudi/abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an

Di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, masyhur dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an. Nama-nama pondok Al-Muayyad, Al-Qur’aniyy, begitu tersohor hingga ke luar daerah. Bila waktu subuh maupun maghrib, dari pondok tersebut, sering pula kita dengarkan lantunan syahdu para santri yang tengah mendaras Kalamullah. Belum lagi ditambah para ustaz serta ustazah di langgar maupun masjid, yang selalu setia menemani para santri mengaji Kitab Suci.

Di daerah penghasil batik itu, terdapat sejumlah tokoh ulama ahlul-Qur’an. Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan, KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), KH Ahmad Asy’ari, KH Asfari (Mbah Bei), dan masih banyak lagi nama yang kiranya dapat disebutkan.

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an

Termasuk di dalamnya, yakni KH Muhammad Tolhah bin Sulaiman, seorang ulama Ahlul-Qur’an yang tinggal di daerah Tegalsari, Kelurahan Bumi, Laweyan. Pribadi yang memiliki sifat lemah lembut ini dikenang sebagai sosok yang rendah hati.

“Beliau Bicaranya halus, tidak pernah ingin jadi yang di depan,” kenang Ketua Yayasan Ta’mirul Masjid Tegalsari, KH Idris Shofawi, saat ditemui As-Shofwah di kediamannya, belum lama ini (16/5).

Kiai Idris juga masih ingat pesan singkat yang diberikan KH Muhammad Sulaiman, kala dirinya hendak pergi haji, tahun 1991 silam. “Dadiya lemah, lemah diidak meneng tapi akeh manfaate (Jadilah seperti tanah, yang diam meski selalu diinjak, di sisi lain memiliki banyak manfaat,-red.)

Ribath Nurul Hidayah

Produktif Menulis

Di sela-sela kesibukannya mengajar, KH Muhammad Sulaiman juga produktif dalam menghasilkan karya tulisan. Salah satu yang cukup populer yakni kitab tafsir al-Quran berbahasa Arab : Jami’ul Bayaan. Sebuah ringkasan dari berbagai kitab tafsir, yang konon populer dan dicetak hingga ke luar negeri.

Ribath Nurul Hidayah

Selain kitab tafsir tersebut, Mbah Muhammad yang pernah berguru kepada KH Dimyathi Tremas, KHR Munawwir Krapyak, dan lainnya itu menulis beberapa buku antara lain : Khulasoh Min Shuwaril Qur’an (1992), Asmaul Husna dan Syarahnya (1991), Bukti Al-Quran Sebagai Wahyu (1989).

Ia juga memiliki jadwal rutin mengajar di Masjid Tegalsari, yakni pengajian Tafsir Jalalain (Selasa pagi) serta Shahih Bukhari, di serambi masjid. Sepeninggalnya, rutinan ini dilanjutkan KH Naharussurur, kemudian estafet berpindah sampai ke KH Abdul Halim Naharussur yang berjalan hingga sekarang.

Begitulah, sosok kiai panutan umat ini, tutup usia pada Sabtu Pon 28 Shofar 1412 H atau bertepatan dengan 7 September 1991 pukul 13.30 WIB di RS Kasih Ibu. Jenazahnya dikebumikan keesokan harinya, di Makam Pulo Laweyan, berdekatan dengan makam KH Ahmad Shofawi. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru

Karanganyar, Ribath Nurul Hidayah. Setelah beberapa tahun vakum dari berbagai aktivitas keorganisasian, Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar, akhirnya membentuk kepengurusan baru guna menghidupkan kembali jalannya organisasi.

Sebanyak 33 perwakilan Pimpinan Ranting Fatayat dari masing-masing desa berkumpul di rumah seorang anggota Fatayat di Desa Ngobaran Pojok Mojogedang Karanganyar, Sabtu (21/11).

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru

Setelah melakukan pemilihan ketua berdasarkan voting, terpilihlah Fitri Rahmawati sebagai ketua didampingi Ririn Setyowati sebagai wakilnya. Sementara Aida dan Dwi Fatmawati menjadi sekertaris dan bendahara.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir pula dalam kesempatan tersebut ketua PAC Muslimat Mojogedang Nyai Umi Kultsum beserta jajaran pengurus lain. Dalam sambutannya, Umi Kultsum mengaku kehadirannya ialah untuk mengantarkan kader-kader Fatayat dari desanya.

Ribath Nurul Hidayah

“Setelah kepengurusan terbentuk, sementara kegiatan Fatayat masih boleh bergabung dengan Muslimat hingga pengurus baru benar-benar siap melaksanakan program kerjanya,” ucapnya.

Fitri selaku ketua terpilih menyatakan, sebelum pertemuan ini pihaknya memang sudah berkerja keras mengumpulkan kader Fatayat, selain mengedarkan undangan ke masing-masing desa, ia juga sowan kepada kiai dan tokoh masyarakat setempat guna meminta kedernya untuk dimasukkan Fatayat. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 14 November 2017

Kiai Mas Subadar Penjaga “Wewangen” Fiqh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kepergian Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar Pasuruan, Jawa Timur menyisakan kesedihan mendalam tak hanya bagi keluarga, santri, masyarakat, organisasi, tapi juga sahabat-sahabatnya. Salah satu yang merasa kehilangan adalah KH Masdar F. Mas’udi. ?

Kiai Mas Subadar Penjaga “Wewangen” Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mas Subadar Penjaga “Wewangen” Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mas Subadar Penjaga “Wewangen” Fiqh

Kiai Masdar yang juga Rais Syuriyah PBNU terkenan akan forum-forum bahtsul masail PBNU. Dia dan Kiai Mas Subadar sering terjadi perbedaan pendapat.

Bisa dikatakan, pendapat yang disampaikan Kiai Masdar selalu bertolak belakang dengan pendapat Kiai Mas Subadar. Tapi karena itulah forum menjadi dinamis.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya berterima kasih banyak dengan pendapat dan sikapnya itu! Allah yarham!” ujarnya mendoakan.

Dari forum semacam itu, Kiai Masdar bisa mengetahui kealiman dan kedalaman Kiai Mas Subadar dalam bidang fiqh.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya bersaksi almarhum itu kiai besar dan seorang faqih dengan ketelitian yang sangat tinggi. Bacaannya luas, mendalam dengan keteguhan yang hampir tak kenal kompromi dalam memegangi wewangen (norma-norma) fiqh,” jelasnya kepada Ribath Nurul Hidayah Ahad (31/7).

Dengan demikian, NU kehilangan besar atas kepergiannya. “Semoga almarhum diterima dengan suka cita dalam sorga-Nya. Dan keluarga yang ditinggalkannya pun dapat menerima takdir ini dengan lapang dada dan keikhlasan. Selamat jalan ke alam baqa, Kyai,” pungkasnya.

Kiai Mas Subadar meninggal pada Sabtu malam (30/7). Ia adalah salah seorang dari sembilan kiai terpilih yang masuk pada ti Ahlul Halli wal ‘aqdi pada Muktamar ke-33 Jombang, Jawa Timur. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Oleh H Sujatmiko Huda

Berjuta maaf saya sampaikan kalau tulisan ini jauh panggang dari api, jauh pena dari ilmu. Sebab, tulisan ini hanya kontemplasi diri atas fenomena di abad googleliyah ini. Refleksi diri yang awam dan jahil alias bodoh. 

Dulu (menurut cerita para orangtua), kenyamanan beribadah dan mencari ilmu (khususnya agama) agak sedikit terganggu. Terlebih kalau sudah masuk senja, hanya mengandalkan lampu tempel (yang minyaknya sangat dihemat-hemat), tapi semangat anak-anak kecil untuk mencari ilmu kepada seorang yang dianggap mumpuni keilmuannya sangatlah besar. Bahkan semangat yang besar itu seakan menjadi kobaran api yang mengalahkan kobaran obor yang dibawa mereka saat mencari ilmu. Karena buat mereka, menghilangkan kebodohan adalah awal dari kesuksesan.

Mereka amat semangat untuk mengaji agama kepada pak kiai, pak ustadz, guru, ajengan dan seterusnya, demi ilmu dan demi kesuksesan dunia akhirat. Tapi ternyata, bukan hanya ilmu yang mereka cari, bukan cuma impian sukses yang mereka harapkan, mereka pun belajar berakhlak yang baik, akhlak al karimah. Betapa mereka amat bergembira bila mencium telapak tangan ibu dan bapaknya ketika berangkat mengaji, lalu mencium telapak tangan gurunya ketika tiba di pengajian. Tidak berani membantah perkataan orangtua, perintah guru dan seterusnya. 

Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Sekarang di zaman twitteriyah dan facebookiyah ini, entah fenomena apa yang sedang ku saksikan sebenarnya. Bada maghrib mereka kaum muda lebih senang buka facebook, google, yahoo messenger, twitter dan seterusnya hanya untuk post status, demi mengeluh dan mengadukan masalah-masalahnya ke semua teman mayanya. Dan yang lebih ironis serta kronis, yaitu mereka me-repost catatan-catatan keilmuan/keagamaan tanpa pernah memiliki guru yang membimbing. Mereka sudah merasa sangat pandai dan ‘alim bila me-repost/share link-link keagamaan tersebut atau tulisan keagamaan dari buku yang dia baca.

Bahwa mencari ilmu itu sebuah kewajiban bagi muslim adalah benar, tapi belajar kepada guru untuk mencari ilmu adalah keharusan dalam agama. Belajar tanpa guru, maka syaithan yang menjadi gurunya, begitu para ulama mengatakan.

Ribath Nurul Hidayah

Dan celakanya, mereka anggap internet itu adalah guru yang kompeten dan pakar dalam agama, akhirnya mereka melupakan dan mengacuhkan kitab-kitab yang dibawakan oleh para guru dalam sebuah majlis talim. Sehingga pantas jika mereka hanya memiliki kemampuan knowledge saja tapi tidak memiliki keunggulan dalam akhlak. Mereka senang menyalahkan perilaku orang lain, gemar menganggap orang lain itu salah, bahkan mereka berani mengatakan orang lain itu melakukan perbuatan syirik dan kafir, karena mereka menganggap orang lain itu melakukan sesuatu yang tidak diajarkan oleh agama. Padahal yang menurut mereka ajaran agama itu sebenarnya adalah ajaran internet. Mereka faham agama sebatas lisan dan mata, bukan kandungan dari agama itu sendiri.

Tidak terlarang mencari pengetahuan dari apapun termasuk dari eyang google dan sebangsanya, tapi yakinkan apa yang kita lihat dan pelajari itu adalah sesuatu yang haq dengan bimbingan seorang guru.

Lihatlah salah satu syarat dalam mencari ilmu, yaitu irsyadul ustadz atau bimbingan seorang guru. Dan perhatikanlah tujuan dari bitsaturrasul,yaitu li utammima makarimal akhlaq atau menyempurnakan akhlak yang baik.

Sujatmiko Huda, Santri Majelis al Musnid Bekasi

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Humor Islam, Quote Ribath Nurul Hidayah

IPNU Purworejo Ambil Bagian di "Butuh Expo 2012"

Purworejo, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Butuh, Purworejo memanfaatkan momentum “Butuh Expo 2012” yang digelar Kecamatan setempat untuk membuka Bazar dengan berbagai produk dan kuliner siap saji.

IPNU Purworejo Ambil Bagian di Butuh Expo 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Purworejo Ambil Bagian di Butuh Expo 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Purworejo Ambil Bagian di "Butuh Expo 2012"

Menurut Faqihudin, Koordinator Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan PAC IPNU Butuh, hal itu dikembangkan guna meningkatkan kapasitas kader.

“Selain sebagai upaya menghidupi organisasi, Bazar ini kita buka juga sebagai wahana pembelajaran kader agar nantinya siap menjadi pengusaha ketika terjun langsung di tengah masyarakat,” ungkapnya kepada Ribath Nurul Hidayah, Ahad (21/10).

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan, mereka membuka beberapa stand yang kesemuanya dikelola oleh kader-kader IPNU dan IPPNU. “Kita membuka tiga stand yang masing-masing menjual buku-buku ilmiah dan keagamaan, pakaian batik dan kedai kopi dengan berbagai makanan siap saji,” Imbuhnya.

Terpisah, Zainul Muttakin selaku Sekretaris PAC IPNU Butuh juga mengatakan bahwa omzet yang diterima cukup lumayan. “Alhamdulillah, dari kedai kopi saja setiap harinya bisa masuk Rp.300.000,-, belum ditambah dengan dua stand lainnya,” ungkap mahasiswa STAINU Purworejo tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini lumayan, sebagai pembelajaran kepada kami untuk lebih menghargai proses’imbuhnya.

Ahmad Naufa, ketua PC IPNU Purworejo yang sidak dilokasi memberi dukungan penuh kepada para rekan-rekannya. “Kami mengapreisiasi penuh usaha rekan dan rekanita. Jangan lihat hasilnya berapa, namun proses ini akan menjadi pembelajaran bagi masa depan kalian ketika terjun di masyarakat, utamanya dalam berwirausaha” tuturnya ditengah kader-kadernya.

Pemuda dan Pemudi, lanjut Naufa, selain harus cakap di bidang intelektual juga harus berpikir bagaimana mandiri secara sekonomi.

“Kita jangan terlalu bergantung kepada pengusaha, politik atau pegawai pemerintah. Harus ada kader yang memilih dunia wirausaha, mengingat ketiga sektor tersebut sudah terlalu banyak yang mengisinya, kita perlu alternatif lain. Hal semacam ini penting dan hasilnya akan dirasakan lima sampai sepuluh tahun mendatang,” imbuh Naufa.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Jumadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Santri, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 08 November 2017

Ribuan Warga Jombang Kirim Doa untuk Rakyat Palestina

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Palestina di Jombang, Jawa Timur, menggelar doa bersama di Bundaran Ringin Contong, Jombang, Ahad (17/12).

Aksi ini merupakan wujud solidaritas serta bentuk kepedulian terhadap hak asasi manusia pada rakyat Palestina. Mereka menyatakan protes keras terhadap keputusan Presiden Amerika yang menyatakan secara sepihak terhadap status Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel.

Ribuan Warga Jombang Kirim Doa untuk Rakyat Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Jombang Kirim Doa untuk Rakyat Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Jombang Kirim Doa untuk Rakyat Palestina

"Aksi solidaritas ini merupakan bentuk kekecewaan dan sekaligus kutukan keras terhadap Amerika yang sudah melakukan keputusan secara sepihak atas pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel," kata H Zulfikar Damam Ikhwanto, koordinator aksi ini.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping itu massa ini juga bersama-sama mendesak Presiden Amerika Serikat untuk mencabut pengakuan sepihak Presiden Amerika atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Desakan itu ditandai penandatanganan setiap perwakilan lembaga atau organisasi yang ikut pada kesempatan ini terhadap tuntutan-tuntutan yang sudah dibuat bersama. Selanjutnya tuntutan itu akan dikirimkan ke Kedubes Amerika yang ada di Indonesia.

"Kita ingin menunjukkan melalui doa bersama ini sebagai support secara moril pada saudara-saudara kita di Palestina, serta memberikan dukungan pada pemerintah untuk segera turut serta melakukan upaya untuk mencabut pengakuan sepihak Presiden Amerika atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua GP Ansor Jombang ini berharap, pemerintah Indonesia juga pro-aktif untuk mendesak negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk melakukan sikap politik atau diplomasi terhadap keputusan Presiden Amerika itu.

Untuk diketahui, Aliansi Masyarakat Peduli Palestina di Jombang ini terdiri dari massa yang merupakan perwakilan dari puluhan ormas (organisasi kemasyarakatan). Di antaranya, GP Ansor, PMII, HMI, Pagar Nusa, KAHMI, Kokam, Banser, IPNU, IPPNU serta ormas-ormas lintas agama. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 22 Oktober 2017

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?

Film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” sampai saat ini telah ditonton sekitar 25 ribu orang. Menurut sutradara film tersebut, Yuda Kurniawan, jumlah sebanyak itu setelah diputar 42 kali di tempat berbeda mulai pesantren dan kampus.

“Ini merupakan pemutaran yang ke-42 sejak diputar perdana tanggal 10 Agustus 2016 menjelang Hari Santri. Hingga kini telah ditonton sekitar 25 ribu orang,” katanya selepas pemutaran film itu di peringatan Hari Lahir (harlah) NU ke-91 di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/1). Film tersebut memungkasi pemutaran dua film pemenang Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam rangka Hari Santri tahun lalu.?

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Menurut Yuda, film berdurasi 37 menit itu telah diputar di 15 kampus dan 26 pesantren di seluruh pulau Jawa. Ke depan, ia ingin memutar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Bagi komunitas, pesantren atau kampus di daerah tersebut yang ingin memutarnya, bisa menghubungi email yudakurniawan@yahoo.com.?

Film ini, sambungnya, belum dapat dipublish di media sosial seperti YouTube karena lebih mengutamakan pemutaran dan diskusi.?

Di antara apresiasi dikemukakan Rektor IAI Ibrahimy KH Cholilur Rahman. Menurut dia, film itu bisa memunculkan romantisme tersendiri bagi para alumni pesantren. “Jujur, saya meneteskan air mata saat melihat bagian awal ketika lalaran Alfiyah. Ini benar-benar menumbuhkan kebanggaan bagi santri dengan pesantrennya,” ungkapnya selepas menontonnya di auditorium Institute Agama Islam Ibrahimy, Genteng, Selasa (25/10/2016).?

Ribath Nurul Hidayah

Film tersebut, lanjutnya, dibikin selama setahun dengan menyambangi sekitar 15 pesantren di pulau Jawa. Beberapa tokoh yang ada dalam film tersebut adalah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU KH Abdul Gaffar Rozin, pengasuh Pesantren Kaliopak KH Jadul Maula, pengasuh Pesantren Tegalrejo KH Yusuf Chudlori, dan pengasuh Pesantren Kauman Lassem KH Zaim Ahmad Syakir. (Abdullah Alawi)

Official trailer itu diunggah di YouTube dengan penjelasan berikut:

Negeri ini memiliki lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah