Kamis, 31 Agustus 2017

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tanggamus, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tanggamus menggelar Musyawarah Kerja Cabang di Kantor NU setempat, Tanggamus, Lampung, Ahad (27/9). Muskercab pertama ini dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Tanggamus, Syamsul Hadi.

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tampak hadir di dalam aula gedung yang terletak di Kecamatan Gisting ini seluruh pengurus PCNU Tanggamus dan MWCNU dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Peserta Muskercab juga terdiri dari seluruh ketua dan sekretaris badan otonom NU, seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, ISNU, dan Pagar Nusa.

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Tanggamus, H. Amir Harun, dalam Muskercab tersebut terdapat dua komisi yang masing-masing membahas materi berbeda. Komisi A membidangi organisasi dan program kerja dan Komisi B membahas Rekomendasi," jelas Amir melalui akun Facebook miliknya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan bahwa dalam Muskercab kali ini juga disampaikan materi dari beberapa Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus. Dinas yang menyampaikan materi antara lain dari Bappeda, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, serta Dinas Peternakan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Fragmen, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 29 Agustus 2017

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah



Ketua Lrmbaga Bahtsul Masail Provinsi Lampung KH Munawir mengatakan bahwa pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Pemerintah Republik Indonesia sudah tepat. Hal ini tentunya telah melewati berbagai macam kajian komprehensif dengan pertimbangan yang sudah matang.

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia

"HTI tidak sesat. Tapi tidak tepat di Indonesia," tegasnya seraya mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah darul Islam (Negara Islam), tapi darussalam (negara keselamatan), Rabu (10/5).

Ia mengingatkan juga bahwa HTI selama ini tidak memiliki peran dan sumbangsih ikut berjuang melawan penjajah di zaman kemerdekaan. Mereka bukan seperti ormas lainnya seperti NU yang telah jelas nyata mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

"Begitu mudahnya mereka datang tidak ikut berjuang, tiba-tiba ingin mengganti ideologi Indonesia dengan sistem khilafah yang sudah dilarang di banyak negara," katanya.

Ia menegaskan bahwa Pancasila dan NKRI adalah harga mati dan sudah final. Menurutnya tidak perlu ada wacana-wacana khilafah di Indonesia. "Jangankan di Indonesia, di negara Timur Tengah HT itu sudah ditolak," tegasnya sembari menilai bahwa pelarangan HTI di Indonesia ? terlambat dibanding negara-negara lain.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Gus Nawir mengatakan bahwa Hizbut Tahrir secara ekstrem mewajibkan khilafah dan apabila tidak menggunakan sistem tersebut adalah dosa besar. Sementara kajian lain dari Imam Ghazali dalam Al-Iqtishad fi Al-Itiqad halaman 200 menyebutkan bahwa kajian tentang khilafah tidak penting, dan lebih selamat tidak mengkajinya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Ulama, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 26 Agustus 2017

Pagar Nusa NU Kembangkan Silat Minang di Mancanegara

Padang, Ribath Nurul Hidayah. Tak sia-sia upaya sang ayah melatih Ahmad Bram Maghfirah sejak usia balita. Kini berbagai prestasi di olahraga pencak silat diraih Bram, begitu ia akrab disapa. Prestasi terakhir diraihnya sebagai pelatih Pencak Silat Pagar Nusa NU Sumatera Barat yang mengantarkan tim Pagar Nusa Propinsi Sumatera Barat  meraih juara Umum II dan atlit terbaik Putri pada Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa NU yang berlangsung 2 – 5 April 2012 di OSO Sport Center Bekasi, diikuti 400 peserta dari 13 propinsi.

Pagar Nusa NU Kembangkan Silat Minang di Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa NU Kembangkan Silat Minang di Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa NU Kembangkan Silat Minang di Mancanegara

Sebelumnya, berbagai prestasi sudah  berhasil diraih Bram, lelaki kelahiran Padangpanjang 4 April 1991. Diantaranya, juara II umum Popda Sumbar tahun 2008 di Padang. Pesilat terbaik Pandeka Minangvillage Padangpanjang 2000, meraih medali perunggu Popda Sumbar 2004, medali perak Popda Sumbar 2007, medali emas tunggal dan laga O2SN SMA 2008 di Padang, 3 medali emas Popda Sumbar 2008 di Padang, 2 medali perak Popwil Sumatera di Batam 2008, medali emas KSPN Semen Padang 2009, medali emas Pomda Politeknik Universitas Andalas 2011, 2 medali perunggu Porprov Sumbar 2010 di Padangpanjang, 2 emas,  1 perunggu Porprov Bengkulu 2010 di Bengkulu.

Belakangan sebagai Pelatih Tim Pagar Nusa NU Sumbar pada Kejurnas Pencak Silat di Bekasi 2012 yang mengantarkan Auliana Mukti Maghfirah sebagai atlit terbaik putri  dan mendapatkan hadiah umroh dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Sedangkan   Bram  sendiri ditawarkan menjadi pelatih ke negara Maroko selama setahun. “Insya Allah ini kesempatan untuk mengembangkan silat Minang di mancanegara (Maroko). Doakan semoga terwujud dan berjalan dengan lancar,” kata Bram sembari minta dukungan kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (8/4/2012) di Padang.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini prestasi diluar dugaan kami. Padahal keberangkatan kami seadanya dan tidak punya target untuk menang. Karena melihat potensi lawan yang tak sebanding dengan tim kami,” kata Bram yang mengaku berlatih pencak silat sejak usia 4 tahun.

Ribath Nurul Hidayah

Keberhasilan Bram dan Tim Sumbar pada Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa tak terlepas dari peran official  Andre Abdurrahiem Priza Saputra,  kelahiran 3 Februari 1992. Mahasiswa Fakultas Hubungan International (HI) Jurusan International Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini, siang malam memotivasi atlit agar mampu tampil maksimal.

”Saya amat puas dengan prestasi yang diraih tim Sumbar ini. Terutama dengan tangan dingin Bram melatih tim Kecil 8 Atlit meraih Juara U um II,” kata Andre peraih beasiswa dari World Bank (2 tahun di Indonesia,  2 tahun di Amerika Serikat) dan berobsesi  menjadi diplomat di Departemen Luar Negeri. Andre menguasai 2 seni beladiri yakni Karate yang berlatih sejak usia 9 tahun dan Pencak Silat.

Andre berharap kedua seni beladiri yang dimilikinya akan dikembangkan saat melanjutkan studi di Amerika serikat, sebagai generasi Muda Minang yang diwarisinya dari Dra. Hj.Azizah Aziz M.Si dan Drs.H.Supriadi dari tanah Banten.

Kini Bram tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Kepelatihan dengan program studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang. Bram anak sulung dari 4 bersaudara, masing-masing Ahmad Bram, Auliana Mukti Maghfirah, Ratu Hasih Mughny M dan Fisty Fitri Mu’it Maghfirah.

Prestasi yang diperoleh Bram, diakuinya andil besar kedua orangtuanya, Drs. David Safitri (Ketua  PW Pagar Nusa Sumbar) dan Hartati Hariyati. “Keduanya mengajarkan banyak nilai-nilai silat, perbedaan silat  dengan olahraga bela diri lainnya. Apa yang diajarkan orangtua itulah yang selalu memacu semangat untuk terus berlatih dan akhirnya berbuah prestasi,” kata Bram menambahkan.

Bram bercita-cita ingin mengembangkan pencak silat Minang ke berbagai negara di luar Indonesia. Karena banyak nilai-nilai kehidupan dalam pencak silat Minang yang dapat dipetik. “Sampai sekarang saya baru melatih silat orang dari warga asing dari Ceko, Ukraina, Hongaria, Amerika Serikat dan Belanda. Mereka dilatih di Padangpanjang,” kata Bram.

Menurut  Bram, silat Minang itu identik dengan shalat. Shalat identik dengan surau, surau identik dengan ulama. Di Minangkabau generasi muda masa silamnya merupakan orang pandeka, alim ulama dan cerdik pandai yang dalam bersikap selalu berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.“Sekarang dengan lintas berbagai budaya bangsa Indonesia, sehingga disegani dan dihormati oleh seluruh dunia. Sementara generasi muda kita terhadap budaya sendiri semakin merosot. Untuk itu, saya ingin merangkul  generasi muda agar kembali memiliki budaya yang tinggi ini,” kata Bram.

Kita memang prihatin banyaknya generasi muda terpengaruh budaya asing. Banyak yang lupa diri. Kita boleh-boleh saja meniru budaya luar, tidak pula kaku, namun harus selektif, sesuai dengan norma adat. Generasi masa lampau mereka kreatif membentuk kelompok seni, silat, sanggar dan kegiatan positif sehingga mereka terhindari dari pengaruh negatif budaya luar.

“Dengan menekuni budaya silat Minang, Insya Allah bisa menjawab tantangan budaya asing ke depan. Pepatah mengatakan, rancak nagari dek nan mudo, rancak kampung jo nan tuo (bagus negeri oleh yang muda, bagus kampung dengan orangtua). Ini berarti generasi muda haruslah berbudaya yang baik,” tambah Bram.

Bram berharap orangtua, ninik mamak dan tokoh masyarakat selalu berikan motivasi kepada generasi muda agar mencintai seni bela diri Minang. “Doakan kami  (Bram dan Andre),  generasi muda Minang dapat mengharumkan ranah Minang di Maroko dan Amerika Serikat,” harap Bram. 

 

Redaktur    : Syaifullah Amin

Kontributor : Bagindo Armaidi Tanjung 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Warta, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Konferensi Lewat 30 April, PWNU dan PCNU Hilang Hak di Muktamar

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuka kesempatan bagi PWNU dan PCNU yang sudah jatuh tempo untuk menggelar konferensi terakhir pada 30 April 2015. Wilayah dan cabang NU yang menggelar konferensi setelah 30 April, akan kehilangan haknya sebagai peserta Muktamar Ke-33 NU di Jombang. Mereka hanya memiliki hak sebagai peninjau pada forum tertinggi di NU pada Agustus mendatang.

Sanksi itu didasarkan pada keputusan yang disepakati oleh peserta rapat pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta, pada Senin 9 Maret 2015. Hilangnya hak sebagai peserta, mereka otomatis kehilangan hak suara.

Konferensi Lewat 30 April, PWNU dan PCNU Hilang Hak di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Lewat 30 April, PWNU dan PCNU Hilang Hak di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Lewat 30 April, PWNU dan PCNU Hilang Hak di Muktamar

“Sampai sekarang belum ada perubahan terkait keputusan rapat itu,” kata Ketua Panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz kepada Ribath Nurul Hidayah di Jakarta, Rabu (20/5) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah rapat pada 9 Maret waktu itu, kita mendata PWNU dan PCNU yang sudah jatuh tempo untuk mengadakan konferensi. Kita aktif menelpon para pengurus NU yang belum konferensi.

“Kita dorong mereka untuk segera menggelar konferensi. Setelah itu, banyak dari mereka mengadakan konferwil dan konfercab,” kata Ketua PBNU yang menerima anugerah perdamaian dari Yayasan Perdamaian Jeju, Korea pada akhir April lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan berdirinya cabang NU tanpa kehadiran MWCNU. “Ini memang harus dibenahi betul,” kata Imam Aziz.

Menurut Imam Aziz, setiap kabupaten tidak harus selalu ada PCNU kalau tidak ada warga dan pengurusnya di tingkat kecamatan dan ranting. Keputusan ini merupakan bagian dari pembenahan organisasi yang dilakukan PBNU.

“Tujuan pembatasan konferensi 30 April itu antara lain memberikan waktu bagi PBNU untuk mengurus SK mereka yang sudah melakukan konferwil dan konfercab,” Ketua Sekretariat Muktamar Ke-33 NU Sarmidi Husna. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, Habib Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 25 Agustus 2017

Koin Peduli Rohingya dari LP Ma’arif NU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kekerasan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine Myanmar terus mendapat simpati banyak pihak karena menyangkut persoalan kemanusiaan, tak terkecuali datang dari Nahdlatul Ulama (NU) dengan segala perangkat organisasinya.

Simpati tersebut berusaha diwujudkan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dengan mengumpulkan koin bantuan untuk Rohingya. Langkah ini hanya salah satu upaya LP Ma’arif selain siap menampung anak-anak Rohingya dan mendirikan sekolah di Rakhine.

Koin Peduli Rohingya dari LP Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Koin Peduli Rohingya dari LP Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Koin Peduli Rohingya dari LP Ma’arif NU

Untuk pengumpulan koin ini, Ketua Pimpinan Pusat LP Ma’arif NU HZ. Arifin Junaidi mngungkapkan, dirinya telah mengimbau kepada seluruh murid, guru, dan tenaga kependidikan di lingkungan Ma’arif NU se-Indonesia agar mengumpulkan koin.

Imabuan tersebut diedarkan melalui surat resmi yang dikeluarkan oleh PP LP Ma’arif NU kepada seluruh wilayah dan cabang Ma’arif di daerah.

“Pengumpulan koin ini di bawah tanggung jawab dan koordinasi Kepala satuan pendidikan yang selanjutnya menyerahkan hasilnya kepada Pengurus LP Ma’arif NU secara berjenjang,” ujar Arifin Junaidi kepada Ribath Nurul Hidayah, Selasa (5/9) di Jakarta.

Ribath Nurul Hidayah

Arifin menegaskan, semua satuan pendidikan Ma’arif NU yang jumlahnya mencapai 21.850 sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia wajib melaksanakan instruksi penggalangan dana untuk warga Rohingya.

Pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah ini juga menegaskan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dalam proses distribusi bantuan dari koin yang terkumpul.

Ribath Nurul Hidayah

Arifin juga mengimbau kepada seluruh jajaran dan tingkatan Pengurus LP Ma’arif NU serta satuan pendidikan untuk melaksanakan qunut nazilah dan istighotsah memohon kepada Allah SWT agar tragedi kemanusiaan tersebut segera memperoleh jalan keluar terbaik bagi semua pihak. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Doa Ribath Nurul Hidayah

Rezekimu Tak Akan Tertukar dengan Orang Lain

Sukohar,jo Ribath Nurul Hidayah. Kiai Soni Parsono yang pemilik radio Aswaja Al-Hidayah FM berpendapat rezeki seseorang itu tidak akan tertukar dengan milik orang lain.

“Seseorang itu sudah ditentukan rezekinya masing-masing,” katanya pada pengajian dan shalawat rutin di halaman salah satu supermarket daerah Pabelan kecamatan Kartasura atau tepatnya di sebelah barat jembatan penyebarangan Pabelan, Ahad pagi (9/2),   

Rezekimu Tak Akan Tertukar dengan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Rezekimu Tak Akan Tertukar dengan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Rezekimu Tak Akan Tertukar dengan Orang Lain

Menurut dia, yang disampaikan pada pengajian yang dihadiri para kiai dan habaib Solo Raya ini, soal rezeki itu manusia diwajibkan untuk mendapatkannya dari ketetapan Allah.

Ribath Nurul Hidayah

Mengawali kajian, ia mengutip perkataan Ibnu Athoillah Al Askandary dalam kitab Al-Hikam yaitu “arih nafsaka mina attadbiri” , tenangkanlah nafsumu atau keinginanmu dari urusan tadbir, yakni bersusah-payah dan merasa risau di dalam mengatur keperluan-keperluan hidup.

Lebih lanjut ia juga menceritakan burung Ababil yang membawa batu untuk menyerang pasukan bergajah yang dikisahkan dalam surat Al-Fil, “batu-batu yang dibawa oleh burung Ababil tersebut masing-masing sudah ada namanya, sehingga tidak akan salah lempar dan tertukar”, paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mencontohkan bagaimana potongan kepala ikan laut bisa menjadi rezekinya kucing, “kucing itu tidak bisa berenang, logikannya tidak mungkin kucing bisa makan kepala ikan.”

Namun, kata dia, karena sudah menjadi ketetapan bahwa kepala ikan itu adalah rezekinya kucing, sehingga dari proses panjang mulai dari nelayan yang menangkap ikan, dijual ke pasar, dibeli dan dimasak seseorang, pada akhirnya kepala ikan menjadi rezeki kucing.

Di akhir taushiyah, kiai yang juga pengusaha itu pun mengimbau agar kita umat Islam menjadi umat yang kuat dan pantang menyerah dalam segala hal termasuk dalam sektor ekonomi.

“Karena itu (ekonomi) bisa menjadi salah satu jalan dakwa kita,” pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Quote Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 24 Agustus 2017

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Ribath Nurul Hidayah

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Mashum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro

Bantul, Ribath Nurul Hidayah

Bambanglipuro merupakan salah satu kecamatan yang terletak di sebelah selatan ibu kota Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kecamatan itu terdiri dari tiga desa yakni Sumbermulyo, Sidodadi dan Mulyodadi. Di daerah tersebut, bisa dibilang, warga Nahdliyin minoritas.

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro

Keadaan itu membuat para sesepuh NU gelisah karena anak-anak mereka kurang intens terhadap kajian-kajian keagamaan, utamanya keaswajaan. Karena itulah para sesepuh NU memiliki ide mengadakan Masa Kesetiaan Aggota (Makesta) untuk generasi muda Bambanglipuro. Tujuannya, setelah diadakan Makesta diharapkan akan segera terbentuk PAC IPNU-IPPNU Bambanglipuro.

Demi terlaksananya ide tersebut, para sesepuh NU membentuk Tim Pembentukan PAC IPNU-IPPNU. Setelah terbentuk, tim ini bekerja sama dengan PC IPNU-IPPNU Bantul untuk mengadakan Makesta.

Ribath Nurul Hidayah

Berkat bantuan dari Muslimat Ranting Mulyodadi, Takmir Masjid Miftahussalam, Remaja Masjid MMS, dan KAPPSA, akhirnya Makesta pertama untuk pelajar NU di Bambanglipuro dapat dilaksanakan di Masjid Miftahussalam, pada Ahad (20/02). Acara Makesta ini diikuti oleh 64 peserta yang terdiri atas 26 putra dan 38 putri

Ketua LWP (Lembaga Wakaf dan Pertanahan) NU Bantul Asrori dalam acara tersebut mengungkapkan, dengan diadakannya Makesta ini akan membuat NU di Bambanglipuro bangkit. “Dua puluh tahun ke depan, NU akan kembali jaya di sini,” tegas Asrori yang juga menjabat sebagai Kepala KUA .

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua IPNU Bantul, Ahmad Sidik menegaskan bahwa acara makesta tersebut merupakan cara untuk Upgrading kader NU di Bambanglipuro. “Harapan saya dengan acara Makesta ini, bisa membangkitkan kembali kader NU di Bambanglipuro semakin luar biasa dan semangat bersama,” tegas Ahmad Sidik.

Ahmad Sidik juga menegaskan bahwa bulan Maret akan segera dibentuk PAC IPNU-IPPNU Bambanglipuro dan Kasihan. Menurut penuturannya, saat ini, di Bantul baru terbentuk PAC IPNU-IPPNU sebanyak sembilan. Masih banyak yang harus dikerjakan untuk meluaskan dakwah NU kepada para pelajar. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Kiai, Habib Ribath Nurul Hidayah

Kuatkan Sinergi, IMAN STAN Gelar Silaturrahim dan Reuni Akbar

Tangerang Selatan, Ribath Nurul Hidayah? . Segenap pengurus dan anggota Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) serta AL IMAN (Baca: Alumni IMAN) menggelar Silaturrahim dan Reuni Akbar di Gedung F kampus tersebut di Bintaro Sektor V Tangerang Selatan, Banten.

Kuatkan Sinergi, IMAN STAN Gelar Silaturrahim dan Reuni Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuatkan Sinergi, IMAN STAN Gelar Silaturrahim dan Reuni Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuatkan Sinergi, IMAN STAN Gelar Silaturrahim dan Reuni Akbar

Kegiatan Sabtu (21/3) ini dihadiri berbagai elemen IMAN dari kalangan mahasiswa yang masih aktif di kepengurusan dan tentunya Alumni IMAN dari mulai IMAN berdiri (1991) hingga masa kelulusan terakhir (2014).?

Meski para alumni sudah banyak tersebar di berbagai daerah, namun tak menyurutkan semangat dan antusiasme mereka untuk menghadiri acara istimewa ini. Mereka datang dari seluruh penjuru tanah air, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Malaysia.?

Ribath Nurul Hidayah

Acara dimulai pukul 09.00 WIB. Penampilan tim hadroh “Badrut Tamam” pun ? menjadi sajian pembuka acara ini. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, serta dari beberapa alumni lintas angkatan yang tak jarang mengundang sebuah euforia tersendiri saat mengenang perjalanan IMAN dari masa ke masa.?

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya mau’idloh hasanah disampaikan oleh Ustadz Dawud Arif Khan selaku pendiri Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin STAN, “Dengan silaturrahim akan mendatangkan kemanfaatan dalam berbagai hal, termasuk pekerjaan kalian sebagai pegawai Kemenkeu,” ujarnya dalam sambutannya.?

Acara dilanjutkan dengan acara inti, yakni Pembentukan Dewan Alumni dan pembahasan Dana Umat AL IMAN yang dimoderatori Rizki Amaluddin dan Abdulloh Rifqi Jauhari.

Selain dimaksudkan untuk mengenang masa-masa perjuangan, acara ini juga bertujuan untuk menguatkansinergi IMAN STAN,baik antar-alumni maupun antara alumni danpengurus yang diharapkan dapat terwujud melalui pembentukan Dewan Alumni IMAN.?

Terkait dengan pembentukan Dana Umat ? AL IMAN, ide pembuatan program terbaru AL- IMAN ini dilatarbelakangi dari munculnya kendala finansialsebagaimana ? sering dihadapi oleh organisasi mahasiswa pada umumnya dalam menjalankan berbagai kegiatan.?

Berangkat dari kondisi demikian, maka muncullah inisiatif dari para alumni untuk meluncurkan program pendanaan yang kemudian diresmikan dengan nama “Dana Umat AL IMAN”.?

Harapannya, melalui pembentukan program ini dapat semakin mendukung dan memancing kreatifitas para pengurus IMAN untuk mengadakan kegiatan dalam rangka dakwah di kampus. Selain untuk internal IMAN, program ini juga ditujukan untuk kegiatan – kegiatan sosial masyarakat lainnya, seperti sumbangan duka dan bencana alam serta demi kemaslahatan umat islam pada umumnya.

Acara ditutup dengan doa nan khidmat yang dipimpin Ustadz Dawud. Setelah rangkaian acara selesai, dilanjutkan dengan sesi foto bersama peserta yang hadir dalam acara ini.

Saat diwawancarai, Bapak Faris Zain selaku ketua panitia merasa sangat bahagia dengan terselenggaranya acara ini. Ia mengharapkan acara ini dapat semakin menguatkan seluruh personil IMAN dalam memegang dan menegakkanprinsip Ahlussunah wal-Jamaah dimana pun berada.?

“Mudah-mudahan acara seperti ini bisa rutin diadakan,” katanya mengakhiri pembicaraan. (ARH/Mei/Alw)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Tegal, Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 22 Agustus 2017

Dirjen Pendidikan Islam Klaim Madrasah Sudah Maju

Bojonegoro, Ribath Nurul Hidayah. Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI Prof Dr H Nursyam mengklaim pendidikan madrasah sudah maju. Hal tersebut diungkapkan saat menjadi narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Bojonegoro di aula setempat, Ahad? (23/3).

Dirjen Pendidikan Islam Klaim Madrasah Sudah Maju (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen Pendidikan Islam Klaim Madrasah Sudah Maju (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen Pendidikan Islam Klaim Madrasah Sudah Maju

"Sudah ada peningkatan madrasah di lingkungan kementrian agama, ada tiga indikator kemajuan madrasah," ujarnya.

Dijelaskan, indikasi tersebut di antaranya dari segi akreditasi. Saat ini masih tersisa sekitar 25% lembaga madrasah yang belum terakreditasi, namun tahun ini Kemenag berupaya semuanya akan selesai diakreditasi. Pasalnya, akreditasi merupakan indikasi kualitas pendidikan di lembaga bersangkutan.

Ribath Nurul Hidayah

Indikasi lainnya, adanya diserifikasi program-program madrasah. Seperti halnya beberapa madrasah dengan berbagai variannya, yakni ada yang menyebutnya madrasah riset, madrasah model, madrasah keahlian keagamaan dan lain-lain. Menurut Nursyam, semua itu menjadikan indikasi perkembangan madrasah sekarang ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga menilai pendidikan madrasah berlangsung baik, karena tidak hanya memberikan pengetahuan umum pada umumnya tetapi juga pendidikan agama dan karakter. "Indikator terakhir melihat respon masyarakat yang sudah luar biasa. Karena madrasah bukan lagi lembaga pendidikan alternatif, tetapi menjadi utama," sambungnya.

Menurutnya, madrasah sudah mengajarkan dua sisi, yakni peningkatan kualitas ilmu umum dan juga memfasilitasi ilmu-ilmu agama. Sehingga madrasah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya.

Di Kabupaten Bojonegoro, lanjut pria asal Kabupaten Tuban itu, sudah semakin banyak madrasah yang telah diserifikasi, seperti madrasah keahlian khusus, international class program (ICP), keterampilan, dan lain sebagainya.

Akreditasi sudah membagus dan adanya guru pelatihan untuk peningkatan kualitas guru. "Sehingga madrasah di Bojonegoro sudah setapak maju ke depan," klaimnya. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes Ribath Nurul Hidayah

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

Sawahlunto, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa mengatakan Peraturan Pemerintah Penggnti Undang-undang (Perppu) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual segera disahkan menjadi Undang-Undang (UU).

"Proses pembahasan di tingkat fraksi sudah selesai dilaksanakan, tinggal menunggu pengesahan yang diperkirakan selesai pada Agustus 2016," kata dia di Sawahlunto, usai melantik Laskar Anti Narkoba Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Barat (Sumbar) di Sawahlunto, Kamis (4/8).

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

Setelah disahkan, jelasnya, maka pelaku kejahatan seksual yang korbannya mengalami trauma sangat dalam atau mengalami infeksi saluran hingga menyebabkan hilangnya nyawa korban akan diberikan hukuman tambahan berupa penghilangan fungsi ereksi organ vital atau biasa disebut dengan kebiri.

Hukuman tersebut juga akan diberlakukan jika pelaku kejahatan tersebut merupakan orang-orang terdekat korban atau orang yang memiliki profesi terhormat seperti pendidik atau oknum pejabat publik.

Ribath Nurul Hidayah

"Selain hukuman tambahan, pelaku kekerasan seksual juga dapat diberikan hukuman pemberatan seperti hukuman mati dan kurungan seumur hidup yang seluruhnya akan ditentukan oleh putusan majelis hakim sesuai tingkat kejahatan yang dilakukannya," tambah dia.

Menurutnya, proses pemberian hukuman pemberatan dan hukuman tambahan tersebut sangat tergantung pada proses pembuktian oleh penyidik, antara lain kondisi korban serta latar belakang pelakunya.

Selain hukuman kebiri, lanjutnya jenis hukuman tambahan yang bisa dijatuhkan dapat berupa pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual kepada khalayak ramai serta pemasangan alat deteksi keberadaan pelaku dimana saja berada.

"Sehingga masyarakat dapat mewaspadai kehadirannya dan bisa melapor jika tindakan pelaku sudah mengarah pada perbuatan kekerasan seksual, disamping menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelakunya," ujar dia.

Ribath Nurul Hidayah

Disinggung mengenai kegiatan Laskar Anti Narkoba yang ia lantik tersebut, dia mengatakan hal itu merupakan bentuk kepedulian organisasi Muslimat NU dalam menyikapi status darurat narkoba di negara ini.

"Laskar tersebut akan bekerja secara aktif dalam membantu tugas-tugas lembaga pemerintah yang mengurusi penyalahgunaan narkoba, salah satunya dengan memberikan penyuluhan serta deteksi dini indikasi penyalahgunaannya mulai dari lingkungan keluarga masing-masing," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit pada kesempatan itu mengemukakan pihaknya mencatat sebanyak 30 persen korban penyalahgunaan narkoba di provinsi itu, berasal dari kalangan anak-anak usia sekolah.?

Disamping itu, jelasnya, fakta lain yang tidak kalah mengejutkan adalah terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS akibat berkembangnya prilaku lesbian gay biseksual dan trangender (LGBT) di Sumatera Barat.

Berdasarkan penelitian ahli, lanjutnya, prilaku tersebut mampu menularkan virus mematikan itu lebih cepat dari penggunaan narkoba memakai jarum suntik.

"Jika menggunakan narkoba menggunakan jarum suntik membutuhkan waktu lima tahun menularkan virus kepada pengguna, maka prilaku LGBT bisa menularkan dalam waktu lebih singkat," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 21 Agustus 2017

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Sya’ban berarti bulan penuh berkah dan kebaikan. Pada bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Karenanya, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunah seperti puasa sunah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebuah hadits mengatakan bahwa Nabi SAW lebih sering puasa sunah di bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan lainnya, (HR Al-Bukhari).

Selain puasa, menghidupkan malam sya’ban juga sangat dianjurkan khususnya malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Maksud menghidupkan malam di sini ialah memperbanyak ibadah dan melakukan amalan baik pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa terdapat banyak kemuliaan di malam nisfu Sya’ban; Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat dilakukan pada malam nisfu Sya’ban. Tiga amalan ini disarikan dari kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Ribath Nurul Hidayah

Pertama, memperbanyak doa. Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, “(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

Kedua, membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Dua kalimat syahadat termasuk kalimat mulia. Dua kalimat ini sangat baik dibaca kapan pun dan di mana pun terlebih lagi pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?".

Artinya, “Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”

Ketiga, memperbanyak istighfar. Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Itulah manusia. Kesehariannya bergelimang dosa. Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun. Karenaya, meminta ampunan (istighfar) sangat dianjurkan terlebih lagi di malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan.

Demikianlah tiga amalan utama di malam nisfu Sya’ban menurut Sayyid Muhammad. Semua amalan itu berdampak baik dan memberi keberkahan kepada orang yang mengamalkannya.

Semoga kita termasuk orang yang menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan memperbanyak do’a, membaca dua kalimat syahadat, istighfar, dan kalimat mulia lainnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Meme Islam, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar PBNU KH Hafidz Usman yang meninggal Senin (20/10) pagi di Bandung dimakamkan di makam keluarga di Menes, Banten. Jenazah tiba di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah singgah keluarga Menes pada sekitar pukul 00.10 dini hari dan langsung disambut ratusan jamaah yang memenuhi masjid.

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Shalat jenazah dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU Banten, KH Tubagus Abdul Hakim. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh KH Suhri Usman, adik dari almarhum.

Atas permintaan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Menes Banten, tepatnya di makam keluarga dari istri Kiai Hafidz yang juga saudara dari istri KH Ma’ani Rusydi.

Ribath Nurul Hidayah

Sejumlah pengurus NU hadir mengikuti pemakaman mewakili PBNU, antara lain Katib Syuriyah KH Mujib Qulyubi, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna dan H Mahbub Ma’afi Ramdlan, Ketua Lembaga Wakaf PBNU H Mardini. Terlihat juga mantan politisi PPP Endin Sofihara, dan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Mahbub Ma’afi, Kiai Hafidz meniggal sehari setelah pulang dari haji. Ia datang ke kediamannya di Bandung pada Ahad (19/10). Keesokan harinya Kiai Hafidz tiba-tiba dikabarkan meninggal, tanpa didahului sakit sedikitpun.

“Jadi beliau berangkat haji itu seolah-olah berpamitan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan haji akbar. Bahkan sebelum berangkat haji pun beliau belum sempat pulang ke rumah sehabis berkeliling Sumatera dan Sulawesi dalam rangka menjalankan tugas BWI (Badan Wakaf Indonesia),” kata Mahbub.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masai PBNU itu menceritakan pengalamannya bersama KH Hafidz Usman terutama saat mendampingi almarhum dalam menyelesaiakan pembukuan hasil bahtsul masail NU sejak Muktamar pertama NU tahun 1926.

“Beliau memimpin tim menyocokkan referensi dari semua keputusan bahtsul masail. Kalau ada kitab yang menjadi referensi tidak ada di PBNU, beliau pesen itu kitab ke Mesir. Beliau salah satu Kiai NU yang ensikopedis, tahu banyak hal. Beliau mempunyai semua kitab yang menjadi rujukan bahtsul masail NU,” katanya.

Sebagai kiai senior, KH Hafidz Usman cukup menghargai pendapat kiai-kiai muda di lingkungan lembaga bahtsul masail. “Beliau tidak pernah marah. Kalau kami membantah atau mendebat beliau, secara etika kan tidak bener, tapi beliau tidak marah,” katanya.

KH Hafidz Usman meninggal pada usia 74 tahun. Aktivitasnya di NU dimulai sejak usia muda, sampai menjadi ketua PWNU Jawa Barat. Di PBNU, Jakarta, pertama-tama Kiai Hafidz diminta oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi salah satu Ketua PBNU. Pada periode berikutnya ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 20 Agustus 2017

Doa Bersama

Rezim Orde Baru menghadapi akhir otoritarianismenya dengan mengurai dan membubarkan simpul-simpul gerakan sosial. Mereka melakukannya untuk memecah simpul gerakan sosial dengan cara diciptakannya keretakan sosial. Dengan demikian sangat mudah terjadi konflik sosial yang bersifat horizontal.?

Sejak tahun 1997 hingga 1999 terjadi banyak konflik antara kelompok dan bahkan kemudian konflik antaragama. Seringkali konflik ini tidak disadari oleh masyarakat di sekitar tempat itu sendiri, bahkan seringkali para pelakunya juga tidak sadar bahwa dirinya bisa bertindak brutal, misalnya melakukan pembakaran tempat ibadah, merusak pertokoan, rumah dan sebagainya. Padahal selama ini mereka saling hidup rukun, saling bantu membantu, tetapi tiba-tiba digiring pada konflik yang tidak mereka kehendaki.

Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama

Berbagai pengalaman konflik yang memakan banyak korban fisik dan psikologis itu mulai mereka sadari bahwa konflik tersebut tidak semata karena adanya ketegangan antarkelompok atau antaragama, melainkan adanya pihak luar yang mengadu domba.

Sering kali konflik terjadi setelah masuknya orang tertentu dari luar yang mengobarkan permusuhan. Atau sekelompok orang dari luar yang melakukan serangan terhadap suatu kelompok, sementara orang yang ada sekitar tempat tersebut hanya bisa menonton atau sebagian terprovokasi.

Ribath Nurul Hidayah

Pada awalnya, kejadian demi kejadian semacam itu memunculkan kecurigaan antarkelompok dan antaraagama, sehingga bisa mengarah pada konflik horizontal yang lebih luas. Adanya konflik horizontal itulah yang dikehendaki para pembuat skenario kerusuhan tersebut.

Tujuannya, agar mereka tidak melakukan konflik yang sifatnya vertikal, yakni melawan pemerintah orde baru yang sudah mulai goyah dan kehilangan legitimasi.

Untuk menepis rasa saling curiga di kalangan masyarakat dan antar agama dan sebagai usaha untuk merajut kohesifitas sosial, maka para kiai NU yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid mengadakan acara do’a bersama.?

Ribath Nurul Hidayah

Doa bersama ini dihadiri oleh wakil dari masing-masing agama, mulai dari Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu bahkan beberapa agama lokal seperti Kaharingan, Sunda Wiwitan dan sebagainya. Dengan adanya forum ini, kelompok minoritas merasa terlindungi oleh kelompok mayoritas Islam, yaitu NU, sehingga kelompok ini mendapatkan jaminan keamanan dengan demikian konflik bisa dihindari dan kesatuan Negara bisa dipertahankan.

Doa bersama yang dimulai di level pimpinan PBNU, kemudian dikembangkan di berbagai daerah. Kelompok Islam puritan Islam sangat mengutuk tindakan ini karena dianggap sebagai bentuk kemusyrikan yang mencampurdukkan antar kepercayaan agama.?

Tetapi sebagai kelompok Islam terbesar NU menganjurkan tindakan ini, demi menciptakan kerukunan bersama. Para ulama NU menempatkan ini sebagai forum kerukunan sosial, bukan pelaksanaan ritual agama, karena mereka berkumpul dan berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing.?

Sejak saat itu ? kalangan antaragama mulai terbiasa menjalankan doa bersama, yang selama ini dianggap tabu atau minimal sama-sama merasa risi, tetapi sejak saat itu telah menjadi kebiasaan, tanpa harus merasa terintimidasi dan merasa tercemari keyakinan agama mereka. (Abdul Mun’im DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, News, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 19 Agustus 2017

Innalillah, Aktivis NU Gebog Kiai Marlan Berpulang

Kudus, Ribath Nurul Hidayah

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, suasana duka menyelimuti warga NU Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) yang juga modin Desa Klumpit, Gebog, Kiai Sumarlan (54) meninggal dunia, Senin (8/8), pukul 08.00 WIB di Rumah Sakit Islam Kudus.

Innalillah, Aktivis NU Gebog Kiai Marlan Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, Aktivis NU Gebog Kiai Marlan Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, Aktivis NU Gebog Kiai Marlan Berpulang

Kabar wafatnya ayahanda kontributor Ribath Nurul Hidayah di Kudus Istahiyah ini mengagetkan kerabat, tetangga, dan teman seperjuangannya. Pasalnya, Pak Modin Marlan, demikin almarhum sering disapa, Ahad malam masih berkunjung dan berkumpul bersama warga lain di rumah tetangga yang hendak berangkat haji.

?

"Saya sempat kaget karena semalam masih jagong sama orang banyak. Beliau sakit mendadak Senin dini hari, sempat dibawa ke rumah sakit Islam. Tetapi Allah berkehendak lain memanggil Pak Marlan ke haribaan-Nya pagi tadi," ujar seorang tetangga, Ulil Abshar, kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam upacara pemberangkatan jenazah Senin pukul 16.00 WIB, Wakil Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Gebog KH Ibrohim Kholili menyampaikan testimoni almarhum yang mengemban amanah sebagai modin selama 13 tahun. Menurutnya, Pak Marlan merupakan seorang pejuang pendidikan Islam yang tekun beribadah dan mengajarkan ilmu agama.

"Pak Marlan adalah guru Madrasah Diniyah Sabilul Khairatil Islamiyah (Ngaringan) yang penuh keikhlasan. Ia merawat ilmu tanpa mengharapkan gaji," kata KH Ibrohim.

Ribath Nurul Hidayah

?

Ketika menggerakkan Nahdlatu Ulama, imbuh Kiai Ibrohim, Pak Marlan semangatnya menggebu-gebu. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi untuk meningkatkan kualitas warga NU setempat.

?

"Pernah suatu ketika MWC NU butuh bantuan konsumsi kegiatan manasik haji, beliau repot meminta bantuan pada yang lain dan? mengantar sendiri ke lokasi kegiatan. Pak Marlan memberi keteladanan bagi kita semua terutama penggerak NU," ujarnya.

?

Kepala Desa Klumpit Subadi merasa kehilangan atas meninggalnya Pak Marlan. Dikatakan, almarhum merupakan seorang modin yang selalu patuh menjalankan tugas dan tanggung jawab. Marlan juga dikenal cekatan dalam melayani masyarakat,

?

"Atas nama pemerintah desa, saya memohon maaf bila Pak Marlan ada kesalahan sebagai pelayan masyarakat," ujarnya di hadapan para pelayat.

Jenazah almarhum diberangkatkan ke pemakaman umum dukuh Kalilopo Desa Klumpit diiringi ratusan? penakziah. Sebelum dimakamkan, jenazah dishalatkan di masjid setempat dengan imam Rais Syuriyah MWCNU Gebog KH. Abdul Manan Alhafidz.

Di antara penakziah terdapat Camat Gebog Saiful Huda, Koramil Gebog, pengurus NU dan teman seperjuangan di lembaga pendidikan serta tetangga teman karib. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Mubaiah dan 3 orang anak termasuk kontributor Ribath Nurul Hidayah di Kudus, Istahiyah. Selamat jalan Pak Modin Marlan, semoga Allah memberikan tempat di surga. Amin. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 18 Agustus 2017

Soal Rohingya, Majelis Buddhayana Indonesia Apresiasi Respon PMII Kota Metro

Kota Metro, Ribath Nurul Hidayah - Majelis Buddhayana Indonesia menyatakan terharu dan bahagia dengan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Metro. Aktivitis mahasiswa ini menginisiasi agenda malam peduli dengan masyarakat Rohingya Myanmar. Mereka berdoa agar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Metro selalu sukses.

Demikian disampaikan Tokoh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kota Metro Lampung Willyanto di sela-sela doa bersama sekaligus pembacaan pesan damai bersama tokoh lintas agama di Halaman Masjid Taqwa Kota Metro Lampung, Senin (11/9) malam.

Soal Rohingya, Majelis Buddhayana Indonesia Apresiasi Respon PMII Kota Metro (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, Majelis Buddhayana Indonesia Apresiasi Respon PMII Kota Metro (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, Majelis Buddhayana Indonesia Apresiasi Respon PMII Kota Metro

“Kami atas nama MBI mengutuk keras kekerasan yang terjadi di Rakhine Myanmar, tindakan yang dilakukan oleh satuan keamanan Myanmar adalah biadab,” kata Willyanto.

Demi mendukung penyudahan segera konflik dan kekerasan ini Keluarga Besar Buddhayana Indonesia (KBI) mengimbau:

Ribath Nurul Hidayah

1. Agar semua umat Buddha di Indonesia untuk turut bahu membahu dengan segenap komponen masyarakat dan komunitas lintas agama di tiap daerah untuk mengumpulkan bantuan kemanusiaan guna membantu saudara-saudara  kita Rohingya yang kini mengalami penderitaan luar biasa.

Ribath Nurul Hidayah

2. Mendorong Pemerintah agar turut aktif memfasilitasi perdamaian di Myanmar melalui forum ASEAN dan PBB sehingga kekerasan dapat segera dihentikan sehingga tercapai keamanan, perdamaian, dan stabilitas berkelanjutan di Myanmar demi kepentingan umat manusia.

3. Kekerasan dan kejahatan kemanusiaan adalah musuh bersama semua agama. KBI tidak mendukung segala tindak kekerasan atas nama agama apapun dan di manapun.

4. KBI mengajak semua komponen masyarakat untuk bersama-sama memikirkan langkah-langkah lanjutan untuk membantu krisis kemanusiaan ini antara lain dengan turut meringankan beban para pengungsi korban-korban kekerasan tersebut dengan bekerja sama dengan komunitas lintas agama dan pemerintah.

5. KBI sebagai komponen agama Budha Indonesia sejak dahulu hingga sekarang telah mempraktikkan hidup bersama dalam keanekaragaman  sebagaimana yang dijadikan semboyan persatuan bangsa; Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Karya leluhur yang diwariskan oleh leluhur bangsa Indonesia lewat karya Mpu Tantular ini menjadi panutan umat Budha yang hidup dengan penuh harmonis dengan agama-agama lain serta semua komponen bangsa lainnya di Indonesia. Konflik di Myanmar yang melibatkan agama dan etnis sama sekali telah menabrak budaya luhur bangsa dan kehidupan beragama yang telah lama dibangun di Indonesia.   

6. Perbuatan jahanam dan pengecut yang dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar lebih pantas untuk dihukum sebagai kejahatan internasional dan kemanusiaan.

Malam doa sekaligus pesan damai untuk Rohingya selain dihadiri ratusan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Metro, juga dihadiri tokoh agama Islam, tokoh agama Katolik, tokoh agama Protestan, tokoh agama Budha, tokoh agama Hindu, HMI, Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, unsur Polres Kota Metro, dan lain-lain.  (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Budaya, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 17 Agustus 2017

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

Bantul, Ribath Nurul Hidayah. Setelah melewati hari-hari yang menengangkan dan melahkan selama kurang lebih 9 hari di Jambi, Senin sore (9/9) rombongan santri Pesantren Krapyak Yogyakarta, peserta lomba Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) V, akhirnya tiba di pesantren asal. Mereka disambut ratusan santri dengan penuh bahagia.

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)
Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

KH. Hilmy Muhammad yang turut serta menemani para santri selama perlombaan menyampaikan syukur yang mendalam dan kebanggaannya atas jerih payah dan hasil maksimal yang dicapai oleh anak-anak santri.

"Alhamdulillah, Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta berhasil memperoleh berbagai prestasi membangakan di ajang Musabaqoh Qiraatil-Kutub (MQK) ke-5 di Jambi,” ujarnya sembari berharap capaian ini dapat diikuti para santri lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang berprestasi tersebut adalah Ayyun Anniqo Rizqyana, juara 2 putri dan Ibnu Hajar Asqolani, juara 3 putra, masing2 di bidang tarikh (sejarah) tingkat Ulya, kitab Tarikh Ibni Hisyam; Rikza Aufarul Umam, juara 3 bidang ushul-fiqh ulya, kitab Ghayatul-Wushul; Nur Azka Inayatus Sahara, juara 3 bidang hadits wustha kitab Bulughul-Maram; dan Hamidatul Hasanah, juara harapan I bidang balaghah ulya, kitab Uqudul-Juman.

Ribath Nurul Hidayah

"Capaian prestasi tahun ini yang meraih 5 gelar, lebih baik daripada tahun lalu yang hanya meraih 2 gelar, yakni juara 3 lomba debat pidato bahasa Inggris putri dan juara harapan 2 ushul fiqh ulya di Sumbawa-NTB, karenanya kita patut berbangga dan bersyukur," lanjut KH. Hilmy Muhammad.

Sementara Ayyun Aniqo Rizkiyana, dalam sambutannya mewakili delegasi santri, menyampaikan terimakasih atas doa dan dukungan semua pihak. "Doa dan dukungan kalian semua sangat berarti bagi kami, jaakumullah ahsanal jaza, ujar mahasiswi D3 bahasa Mandarin UGM yang juga pembimbing putri ini dengan haru berkaca-kaca.

Pada ajang perlombaan kali ini, Pondok Pesantren Krapyak berhasil mengirimkan 15 santri terbaiknya bergabung dalam kafilah Provinsi DIY dalam ajang bergengsi tahunan kemeterian agama tersebut.

Secara keseluruhan, posisi DIY menjadi urutan ke enam dengan total perolehan medali 15 buah. Rincian medali yang diperoleh DIY yaitu juara 1 di cabang balaghah ulya putra, juara 2 dicabang fiqh ula putra, tafsir wustha putra dan tarikh ulya putri, juara 3 dicabang hadits wustha putri, hadits ulya putra, tarikh ulya putra dan ushul fiqh ulya putra. Juara harapan 1 diperoleh cabang nahwu ula putri, balaghah wustha putra, balaghah ulya putri dan ushul fiqh ulya putri. Sedangkan juara harapan 2 diperoleh dari cabang ushul fiqh wustha putri, tarikh ula putra dan nahwu ulya putri.

Urutan 10 besar MQKN V di Jambi ini adalah Jawa Timur dengan 37 medali, Jawa Tengah 32 medali, Jawa Barat 32 medali, Banten 15 medali, Kalimantan Selatan 22 medali, DIY 15 medali, DKI Jakarta 2 medali, Riau 8 medali, Nusa Tenggara Barat 8 medali dan Nangroe Aceh Darussalam 5 medali. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 Agustus 2017

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Judul: Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar

Penulis: Andre Moller

Tahun terbit: September, 2005

Halaman: xi+309

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Penerbit: Nalar, Jakarta

Peresensi: Abu Khaer

Ribath Nurul Hidayah

‘Bapak Antropolog’ Indonesia, Koentjaraningrat, sebagaimana dikutip oleh Ceprudin (2010), pernah melukiskan mengenai kegiatan Ramadhan di Jawa dengan menyatakan “orang Jawa senang mencari kesusahan dan menderita ketaknyamanan dengan sengaja untuk tujuan agama.”

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pandangan Guru Besar Antropologi salah satu universitas negeri tersebut, memandang bahwa kesusahan dan penderitaan menjalankan ‘adat’ religius bagi masyarakat Jawa, justru dipandang sebagai kesenangan pribadi, bahkan sebenarnya lebih tepat lagi jika ia mengatakan sebagai suatu kebahagiaan tersendiri, termasuk ketika menyambut, melaksanakan, dan meneruskan tradisi agung umat Islam, shaum Ramadhan. Istilah shiyam ataupun shaum, bukan ‘barang’ atau ‘wacana’ baru bagi orang Jawa. Terlepas dari perbedaan makna shiyam atau shaum dan puasa, orang Jawa lebih memilih istilah sendiri dengan menggunakan istilah wulan puasa.

Bagi umat Islam, tak terkecuali di Jawa, percaya bahwa dengan menahan lapar selama satu bulan, ia akan mendapatkan ridho Allah. bagi orang Jawa, puasa, tirakat, bertapa, sudah menjadi adat tradisi yang berlangsung  turun-temurun sejak nenek-moyang dulu. Salah satu contoh, bagaimana puasa telah mengakar dalam kehidupan orang Jawa seperti tercantum dalam Serat Wulang Reh, “Dadiyo lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lan aja asukan-sukan, anganggowa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.” Orang Jawa sangat menjaga dan terus berusaha meningkatkan kualitas rohani. Seluruh nasihat dalam peribahasa Jawa yang ribuan itu pun, posisinya lebih sebagai ‘’fatwa rohani’’. Bukan rumus perhitungan untuk menyelesaikan persoalan praktis keduniawian, melainkan ajakan untuk menjalankan puasa dan tirakat setiap hari, sepanjang hayat. Jika direnungkan, makna dari cegah dhahar lawan guling, ana sethithik dipangan sethithik, ya jangane ya segane, adalah upaya untuk mengolah dan menata dunia batin manusia.

Puasa dan tirakat di Jawa memang berat, karena cenderung dilakukan setiap hari, setiap saat. Namun, seperti halnya orang yang telah terbiasa memikul beban berat, manakala benar-benar mendapat cobaan (beban kehidupan nyata) tentu akan lebih kokoh, tawakal, dan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, beban hidup itu jadi terasa ringan.

Maka tidak mengherankan jika puasa yang dimaknai sebagai upaya pembersihan diri banyak diamalkan orang Jawa sebelum ajaran shiyam Ramadhan diperkenalkan oleh ajaran Islam. umat Islam di Jawa jauh-jauh hari menjelang bulan Ramadhan sudah melakukan ritus-ritus. biasanya diawali sejak bulan Ruwah atau roa (Syakban). Di bulan Ruwah, umat Islam menyibukkan dengan kegiatan atau pekerjaan yang memungkinkan diselesaikan (dipadatkan) pada bulan itu. Di Semarang ada Dugderan yang sangat terkenal dan erat kaitannya dengan Ramadhan di Jawa. Bahkan, dihampir seluruh wilayah pulau Jawa, terutama pedesaannya, pada pertengahan bulan roa, di malam harinya ramai-ramai mengadakan acara nisfu sya’banan, suatu ritus untuk berupaya semoga buku amal perbuatan manusia selama satu tahun di tutup dengan indeks prestasi ke-sholeh-an sebelum menghadapi ‘bulan panen’ amal kebajikan Ramadhan.

Lebih jauh lagi, seiring dengan perkembangan budaya Jawa aksesoris menjelang Ramadhan ada yang menggunakan secara simbol “politis”. Tujuan politis pada bulan Ramadhan dapat dipahami dalam konteks pemikiran yang menganggap Ramadhan sebagai sebuah “momentum”-nya umat Islam. Termasuk di dalamnya adalah kontroversi hisab-rukyat dalam menentukan satu syawal pun ikut mewarnai. Meskipun tidak terjadi kontras begitu serius.

Hal yang masih kontroversi dalam ritus menjelang Ramadhan yaitu nyekar. Nyekar adalah kegiatan berkunjung dan membersihkan makam-makam orang tua atau sanak saudara yang telah terlebih dahulu menghadap kehadirat Illahi biasanya dengan membawa bunga tujuh rupa (umba rampe) untuk ditaburkan di makam dan pembacaan do’a tahlil.  Pro-kontra ini terjadi antara Islam tradisional (pro) dan modernisme (kontra). Bagaimana pun juga umat Islam Jawa mayoritas percaya dan yakin terhadap nyekar sebagai bentuk lain dari perwujudan ziarah kubur, yang bertujuan ketika memasuki bulan Ramadhan diri dalam keadaan suci dan untuk ‘sekedar berusaha’ meringankan beban ukhrowi keluarganya yang telah wafat.

Memasuki bulan Ramadhan menurut orang Jawa harus benar-benar suci secara komprehensif, baik lahir maupun bathin. Dimulai dengan bebersih diri, beranjak sampai skup bebersih lingkungan, dimana ada tradisi bersih lingkungan. Di bulan Ramadhan, lingkungan harus bersih dari kotoran sampah dan juga dipahami bersih dari perbuatan amoral. Karena dianggap dalam bulan ramadhan lebih mengganggu aktifitas berpuasa.

Sebelum berpuasa, umat Islam pada malam hari disunnahkan untuk makan sahur. Alunan ‘musik’ ensambel perkakas dapur yang dimainkan anak-anak atau ta’mir mesjid yang mengumandangkan agar menyegerakan bersahur mengakibatkan suasana menjadi riang dan saling bergotong royong meski ala kadarnya menjadi semakin kuat, tak seperti malam-malam biasa. Pada siang harinya segala lapisan strata sosial, mulai anak-anak sampai dewasa, menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an (Tadarusan). Menjelang sore, sebagian ibu-ibu sibuk mempersiapkan menu untuk berbuka puasa, kaum remaja dan anak muda jalan-jalan sore (JJS) dengan berbagai ragam niatnya, dengan tertib menunggu waktu ifthor tiba.

Di malam hari selesai sholat Isya’ dilanjut dengan sholat tarawih. Sholat tarawih merupakan ritus paling penting sepanjang bulan Ramadhan. Dalam penentuan jumlah raka’at pun disini terjadi perbedaan antara Islam tradisional dan modernis. Meski akhir-akhir ini perdebatan itu sudah mulai mencair.

Malam-malam khusus yang diperingati pada bulan Ramadhan juga ikut meramaikan belantika wulan puasa Jawa. Di antaranya malam Lailatul Qodar dan Nuzulul Qur’an. Bisanya diisi dengan pengajian-pengajian yang berkaitan dengan turunnya al-Qur’an. Umat Islam dan Orang Jawa khususnya, percaya bahwa malam itu penuh dengan berkah dan kemuliaan dibanding dengan seribu bulan.

Ritus yang tidak kalah penting menurut orang Jawa yaitu I’tikaf. I’tikaf tidak begitu populer, biasanya kegiatan i’tikaf dilakukan pada hari-hari ganjil sepuluh hari akhir bulan Ramadhan. Ritus ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad sebagai sarana untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pada hari terakhir menjelang bergantinya bulan Ramadhan ke bulan Syawal (Idul Fitri) untuk menyempurnakan ibadah puasanya umat islam diwajibkan untuk berzakat fitrah (kesucian). Datangnya hari raya Idul Fitri itu diakhiri dengan berbuka puasa hari terakhir bulan Ramadhan dengan ditandai pemukulan beduk di musholla dan masjid setelah ada pengumuman resmi dari Pemerintah.

Pada malam hari ini umat muslim merayakan dengan sangat meriah. Paling banyak dilakukan adalah Takbiran. Ada yang melakukannya dengan sambil keliling kampung dengan menggemakan koor Takbir dengan berulang-ulang sambil membawa lampu ‘oncor’ yang terbuat dari bambu. Tua, muda, perempuan, laki-laki tumpah-ruah sama-sama memeriahkan malam hari ‘kemenangan’ Hari Raya Idul Fitri ini. Pagi harinya umat muslim berbondong-bondong menuju ke mesjid untuk melaksanakan Shalat Id. Tepatnya hari ini tanggal 1 syawal.

Selesai Sholat Id, umat Islam Jawa bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Tujuannya agar dosa sesama manusia selama berinteraksi pada hari itu bisa diampuni Allah. Setelah merasa lega dan puas bermaaf-maafan serta silaturahmi pada hari itu juga dilanjutkan dengan kumpul bareng keluarga sambil menyantap opor ayam dan ketupat bersama-sama keluarga. Acara Hari kemenangan lumrahnya diakhiri dengan kembali nyekar ke pekuburan keluarga. Nyekar disini substansinya sama dengan nyekar menjelang Ramadhan. Hanya bedanya ini dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan tentunya dengan busana pakaian yang baru dibeli.

Demikian gambaran Ramadhan berikut dengan aksesoris ritus yang dilakukan orang Jawa. Meskipun dari sisi materiil orang Jawa harus menyediakan lebih dibanding bulan biasanya, tapi semua itu tertutupi dengan senangnya kedatangan bulan suci Ramadhan.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karya penulis Swedia, Andre Moller ini menarik untuk kita renungkan terutama dalam momen-momen Ramadhan. Buku ini tidak melihat puasa semata-mata dari aspek teologis-normatif, tetapi lebih dari itu, pelaksanaan ibadah puasa dalam buku ini dilihat dari aspek aksesoris yang mengitarinya dan membuat ramadhan menjadi lebih meriah dari bulan-bulan lainnya.

*Koordinator social Karang Taruna PelitaIndonesia Banyuputih Wringin Bondowoso Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah. Pada diklatsar dan PKD di Blambangan Umpu, Selasa (25/4), Gerakan Pemuda Ansor Waykanan menandatangani sembilan sikapnya menghadapi pemilu April mendatang. Sembilan poin ini menjadi pedoman politik kader GP Ansor dan Banser Waykanan.

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Waykanan Keluarkan 9 Sikap Politik

Dalam Sembilan poin itu, GP Ansor Waykanan menyatakan, memegang teguh Khittah NU 1926, mengajak warga menciptakan perdamaian, mengawal dan mewujudkan Pemilu damai 2014, ? menjamin kebebasan hak asasi setiap anggota untuk menggunakan hak pilih sesuai kehendak hati, tidak memihak calon atau partai peserta Pemilu 2014.

Kecuali itu, GP Ansor Waykanan mengimbau kader dan warga menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2014, mengharapkan kadernya untuk menjadi pemilih cerdas, memilih caleg berdasarkan rekam jejak dan kapasitasnya, mengimbau warga menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI, dan mengimbau kader dan warga menolak politik uang demi menciptakan Pemilu 2014 yang bersih.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PC GP Ansor Waykanan mengatakan, “GP Ansor sebagai elemen kepemudaan perlu terlibat konkret dalam Pemilu ini, sebagai bagian pengawalan jalannya demokrasi di NKRI.”

Ribath Nurul Hidayah

Sembilan sikap ini merupakan nota kesepahaman antara GP Ansor dan KPU Waykanan di pesantren Roudhotul Mutaqin. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Pendidikan, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 15 Agustus 2017

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah

Para pelajar NU di Kabupaten Banyuwangi mendapat pendidikan kepemimpinan. Mereka dibimbing untuk memiliki karakter sebagai pemimpin masa depan.

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Banyuwangi Digembleng soal Kepemimpinan

Seperti yang dilakukan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) SMK Al-Azhar, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, menggelar pelatihan yang bertajuk Leadership Camp, Rabu (14/12) pagi.

Diikuti puluhan siswa, pemateri kegiatan tersebut diisi oleh beberapa pengurus Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Banyuwangi, salah satunya Wisnu Murti. Ia menjelaskan, kepemimpinan yang patut dicontoh adalah kepemimpinan dari revolusioner dunia, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ribath Nurul Hidayah

"Sifat-sifat kepemimpinan beliau merupakan suri tauladan bagi kita semua. Jadi tidak ada yang bisa menggantikan beliau," katanya.

Di hari yang sama puluhan siswa SMA Bhakti Negara Kecamatan Purwoharjo mengikuti Diklat Pelajar yang dihelat oleh IPNU-IPPNU Purwoharjo di sekolah setempat. Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh Ketua IPNU Purwoharjo, Moh. Nur Fatah.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Sekolah SMA Bhakti Negara Kecamatan Purwoharjo Hj. Istianah menegaskan, kepemimpinan sangat perlu dipelajari oleh anak-anak di bangku sekolah menengah. "Semoga Diklat Pelajar dapat mencetak pelajar-pelajar berjiwa pemimpin yang baik." harapnya sebelum membuka Diklat Pelajar

Diklat Pelajar yang berlangsung sehari semalam tersebut tidak hanya menyajikan materi di dalam ruangan, namun juga praktik di lapangan, seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB), Out Bond, dan pentas seni di malam harinya. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 10 Agustus 2017

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Malang, Ribath Nurul Hidayah - Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Malang, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, calon bayi yang dikandung oleh ibu dari sang ayah tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang tuanya. Karena itu jangan sampai para orang tua mengurangi kualitas calon bayi tersebut.

“Agar kualitasnya tidak berkurang, marilah kita menjaga makanan kita dari hal-hal yang syubhat apalagi haram. Bibit yang bagus dengan perawatan yang baik insyaallah akan menjadi baik,” demikian disampaikan KH Marzuki Mustamar dalam satu acara resepsi pernikahan Agus Habibullah dan Ning Aminah di Malang, Ahad (28/2) kemarin.

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu melanjutkan taushiyahnya. Setelah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, para calon orang tua juga harus memilih “bibit” yang baik atau pasangan yang baik agar kebaikan itu bisa menjadi penuh seutuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lalu setelah anak terlahir ke dunia, para orang tua harus menyiapkan lingkungan yang baik untuk menjadi tempat berkembangnya akhlak.

Ribath Nurul Hidayah

Salah satu cara menyiapkan lingkungan yang baik yang disarankan oleh KH Marzuki adalah memondokkan atau memasukkan anak ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, anak-anak akan berada di lingkungan yang paling baik.

“Di sana seorang anak akan dididik dengan guru-guru yang ikhlas dan tanpa pamrih. Semuanya juga muslim dan shalih,” demikian KH Marzuki Musytamar. (Abu Husam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 09 Agustus 2017

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menilai, pemerintah bersikap plin-plan atau inkonsistensi dalam masalah dukungan atas resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1747 terhadap Iran.

"Kami prihatin, karena pemerintah plin-plan dengan memberikan dukungan kepada PBB untuk memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran yang dianggap mengembangkan uranium," ujarnya saat berbicara pada pembukaan Hari Lahir (Harlah) ke-61 Muslimat NU di Surabaya, Jumat (6/4).

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Anggap Pemerintah Plin-plan Terhadap Iran

Ia menjelaskan, sikap plin-plan Indonesia itu sangat berbahaya, karena akan menurunkan kepercayaan negara lain terhadap Indonesia.

"Pemerintah dapat dikatakan plin-plan atau inkonsistensi, karena saat Presiden Iran dan Ketua MA Iran datang ke Indonesia dengan menemui presiden dan sejumlah pemimpin informal untuk menjelaskan program nuklir di Iran guna tujuan damai justru mendapatkan dukungan dari pemerintah," ujarnya menegaskan.

Namun, anggota Fraksi Kebangsaan Bangsa (FKB) DPR RI itu, hanya dalam kurun satu hungga dua bulan justru muncul dukungan Indonesia terhadap Resolusi 1747 dari DK-PBB untuk memberikan sanksi kepada Iran atas pengembangan nuklirnya.

Khofifah mengatakan, pandangan Muslimat NU terhadap Iran itu sudah menjadi kesepakatan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU se-Indonesia pada Maret 2007.

Ribath Nurul Hidayah

"Dalam Rapimnas Muslimat NU se-Indonesia itu, kami menyikapi masalah nuklir Iran dan resolusi DK-PBB, desakan pengesahan RUU APP, dan desakan perlunya badan khusus dalam menangani luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo," katanya menambahkan. (ant/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Berita, Habib Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Menumbuhkan Budaya Toleran di Antara Para Aktivis Rohis

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Di waktu siang yang cukup terik dan menyengat kulit, sekitar 2000 para aktivis Rohis di tingkat SMA/SMK, Rabu (4/5) dalam kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menerima berbagai materi peningkatan kapasitas pribadi dan orgnaisasi ke arah yang lebih baik.

Menumbuhkan Budaya Toleran di Antara Para Aktivis Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)
Menumbuhkan Budaya Toleran di Antara Para Aktivis Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)

Menumbuhkan Budaya Toleran di Antara Para Aktivis Rohis

Format pembagian kelompok berdasarkan Rukun Warga (RW) yang terbagi dalam 12 RW tersebut menggabungkan aktivis dan pengurus Rohis dari berbagai satuan sekolah di seluruh daerah dan provinsi di Indonesia. 1 RW yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga (RT) tersebut saling berbaur dan mengenal satu sama lain.

Mereka saling menyapa dan tersenyum untuk mengawali proses perkenalan mereka. Hal ini berlangsung sebelum mereka menerima materi yang bertempat di setiap balai RW. Di balai RW tersebut, mereka tidak hanya dikelompokkan per jenis kelamin yakni siswa perempuan saja, tetapi forum di setiap RW juga melibatkan peserta laki-laki sehingga interaksi sosial lintas jender pun terjadi. Namun demikian, bumi perkemahan mereka tetap terpisah.

Konsep perkemahan yang melibatkan siswa dari berbagai daerah ini sengaja dilakukan agar para Rohis sadar bahwa mereka berinteraksi dalam keberagaman suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Dengan ikatan iman yang sama, tetapi mereka juga mesti memahami bahwa perbedaan di antara para aktivis Rohis justru memperkuat identitas keindonesiaan sehingga terbangun budaya toleransi.

Dari pengalaman ini, para pemateri di setiap RW juga menekankan keberagaman keyakinan di Indonesia sehingga berangkat dari pemikiran yang sama terkait dengan perbedaan suku, budaya, adat, tradisi, bahasa, dan lain sebagainya, mereka juga hendaknya bersikap toleran dan ramah terhadap saudara setanah air meski berbeda keyakinan. Di titik inilah keterbukaan pemikiran dan wawasan kebangsaan harus dipahami oleh para Rohis sehingga stigma Rohis sebagai organisasi tertutup tidak lagi beredar.

Ribath Nurul Hidayah

Sadar akan keberagaman budaya dan agama inilah yang menjadi alasan kuat Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari untuk menampilkan berbagai pakaian dan tarian adat serta keragaman seni dan budaya di dalam acara pembukaan Perkemahan Rohis Selasa (3/5) lalu.?

“Mereka harus sadar bahwa mereka hidup dalam keberagaman budaya sehingga harus menjadi generasi ramah terhadap perbedaan budaya maupun keyakinan,” ujar Amin Haedari sesaat setelah acara pembukaan selesai.

Untuk mewujudkan generasi ramah dan toleran di antara para aktivis Rohis, setiap pembina dan guru di sekolah juga harus paham betul kegiatan para Rohis. Hal ini seperti yang ditekankan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan pidato pembukaan Perkemahan Rohis ini.?

Ribath Nurul Hidayah

“Jangan sampai para guru dan pihak-pihak terkait di sekolah tidak membimbing kegiatan mereka ke arah pemahaman yang lebih baik. Lebih dari itu, guru dan pembina Rohis juga harus selalu memperbarui informasi terkini soal perkembangan terbaru tentang pemikiran, pemahaman, dan konflik dunia Islam,” ujar Menag. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 08 Agustus 2017

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

Bogor, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga dan Deradikalisasi Agama Bagi Dewan Mahasiswa/BEM dan Ustadz Muda Pondok Pesantren Se-Indonesia.

Acara di buka oleh M. Guntur Hamzah Sekretaris Mahkamah Konstitusi, dihadiri oleh Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah Suwendi, Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Ruchman Basori, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitudi MK Ardiansyah Salim, dan sejumlah tamu undangan lain dan nara sumber yang telah hadir.

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

“Tepat sekali kalau hari ini Kementerian Agama RI bersama Mahkamah Konstitusi menjalin kerjasama sinergis untuk memperkuat bangunan solidaritas, membuka kesadaran konstitusi warga negara dan menanggulangi masalah-masalah kekerasan berbasis agama,” kata Guntur, Bogor, Kamis (21/04) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Di hadapan Pimpinan Mahasiswa (Dewan Mahasiswa/BEM) dan Ustadz Muda Pondok Pesantren yang merupakan calon pimpinan bangsa, Guntur menekankan pentingnya Dewan Mahasiswa di lingkungan PTKI (UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) dan Pondok Pesantren menjadi aktor-aktor penebar damai, tolaran, keterbukaan dan taat berkonstitusi.

Menurutnya, salah satu akar masalah yang dihadapi Idonesia saat ini adalah masalah kepemimpinan, khususnya terkait keteladanan. Kepemimpinan adalah keteladanan, yang termanisfestasi dari perilaku.?

Ribath Nurul Hidayah

Selain soal keteladanan, masalah lainnya ? terkait rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan hak-hak konstitusi kenegaraannya. Guntur merasa solidaritas antar masyarakat mulai mengendor, ketaatan pada peraturan rendah, rasa hormat menghormati dan empati sosial pun menurun.?

Ribath Nurul Hidayah

“Kita sering lupa siapa diri kita sebagai mahluk sosial yang harus saling menghargai dan menghormati,”katanya.

Suwendi, Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah DitPdpontren Kementerian Agama mengatakan hasil riset LIPI dan Balitbang Kementerian Agama menunjukan bahwa 25-40% para siswa dan guru SMA sudah menganggap Pancasila tidak relevan lagi untuk bangsa ini. Data ini menunjukan bahwa sudah ada pergeseran yang serius di kalangan anak-anak muda level SMA yang harus disikapi dengan pemahaman agama yang inklusif, damai, dan toleran bukan idiologi keras..

Suwendi mengapresiasi MK yang berkenan menjalin kerjasama dengan Kementerian Agama khususnya Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam dalam pendidikan hak konstitusional dan deradikalisasi agama. ?

Ardiansyah Salim, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK melaporkan kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 21-23 April 2016 di Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK. Sinergi antar Kementerian dan Lembaga menjadi penting bahkan niscaya ketika masalah-masalah kebangsaan dan kemasyarakatan semakin komplek.?

“Pengabaian atas konstitusi yang menyebabkan hilangngya konstitusi warga negara menjadi keprihatinan tersendiri. Ditambah dengan maraknya gerakan radikal yang kian subur mengharuskan kita bergandengan tangan untuk menangkalnya,” katanya. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah