Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi

Brebes, Ribath Nurul Hidayah

Sebagai bentuk dukungan pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas berbagai tindak Korupsi yang dilakukan para Pejabat Brebes, ratusan Santri dari berbagai pondok pesantren di wilayah Brebes bagian selatan melakukan demonstrasi.



Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Demo Penuntasan Kasus Korupsi

Mereka menuntut KPK agar tidak mandeg dalam menuntaskan kasus-kasus korupsi di Kabupaten Brebes.  Pasca ditetapkannya Bupati Brebes H Indra Kusuma S Sos sebagai tersangka mark up pembelian tanah, kelihatannya malah sepi-sepi saja. Bupati masih terlihat aktivitasnya seperti biasa sebagai Bupati. Tidak ada beban moral sedikitpun.

"Pentetapan satu tersangka bukanlah akhir, tapi awal pembongkaran kasus-kasus korupsi di Brebes. Seret semua pelaku korupsi di Brebes, siapapun yang terlibat harus bertanggungjawab," teriak Koordinator Aksi Darwanto disela-sela Demo Bada Jumat (8/1), dengan lantang.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, sebagai kekuatan moral, santri turun ke jalan untuk menyatakan dukungan pada KPK untuk penuntasan kasus korupsi di Brebes. Hal ini sangat penting, mengingat sejak kasus korupsi di Brebes yang dilaporkan pada tahun 2005 lalu, baru ada satu kasus korupsi yang mulai ditangani. Yaitu kasus mark up tanah dan juga baru satu orang yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka.

Ratusan santri, menggelar aksi demo di Ibu Kota Kecamatan Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah mulai pukul 14.30 hingga pukul 16.30.  Dengan jalan kaki, demo diawali dari Taman Makam Pahlawan (TMP) hingga Masjid Agung Baeturrohim Bumiayu.

Ribath Nurul Hidayah

Meski sempat diguyur hujan deras, mereka tetap bersemangat. Sehingga arus lalulintas jurusan Tegal-Purwokerto pun tersendat. Dalam demonya, mereka mengusung beberapa spanduk dan karton yang bertuliskan kecaman pada pelaku koruptor. Diantaranya Koruptor adalah Musuh Rakyat, Tangkap Semua Pelaku Korupsi,  dan Tangkap pelaku Lain yang Terlibat..!

Di depan halaman Masjid, satu persatu para aktivis berorasi. Dalam orasinya mencuatkan Kasus Korupsi yang sudah dilaporkan ke KPK, antara Korupsi pengadaan tanah yang merugikan uang negara sebesar Rp 11 milyar, pengadaan buku ajar Balai Pustaka (BP) senilai Rp 20 milyar dan merugikan negara sebesar Rp 8 milyar, kasus pengadaan alat kesehatan 664 juta, kasus dugaan korupsi APBD 2003-2004 serta kasus-kasus lainnya. "Kasus-kasus korupsi di Brebes itu melibatkan banyak pihak, eksekutif, legislatif dan juga pengusaha di Brebes," katanya.

Aksi demo di jalan protokol Bumiayu itu sempat mengundang perhatian warga. Banyak warga pula yang memberikan tanda tangan di atas kain putih. Tanda tangan pada kain tersebut selanjutnya akan dikirimkan ke KPK di Jakarta. "Tandatangan akan kami kirimkan ke KPK sebagai bukti dukungan pada warga Brebes," kata Darwanto yang juga kordinator aksi.

Setelah melakukan aksi demonstrasi, para pendemo yang didukung  Forum Ulama Anti Koriupsi (FUAK), LSM Pampera, Pusaka, Gugat, Serikta Guru Brebes (SGB), Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak), Ikatan Mahasiswa Brebes Selatan (IMBS), Forum Masyarakat Brebes Selatan (Formabes) dan Universitas Terminal Jalan (UTJ) melakukan doa bersama untuk almarhum KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Baeturrohim Bumiayu.

Meskipun berjalan aman dan tertib, tetap mendapatkan pengamanan yang cukup ketat oleh petugas dari Polres Brebes. Tidak kurang dari tiga peleton personil keamanan yang diterjunkan untuk mengamankan aksi tersebut. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Nahdlatul, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Februari 2018

Sambut Ramadhan, IPNU-IPPNU MTs-MA Plus Al-Hikam Gelar Musabaqoh Al-Barjanzi

Sumedang, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) MTs dan MA Plus Al-Hikam Sumedang menyelenggarakan musabaqoh Al-Berjanzi. Musabaqoh ini diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Ketua panitia musabaqoh Al-Barjanzi Yahya Hendra Komara mengatakan, walaupun bulan ramadhan masih setengah bulan lagi, tapi suasana ramadhan sudah dibangun dan dirasakan dari mulai sekarang. "Menbaca shalawat dan Al-Barjanzi merupakan amalan yang baik untuk dilakukan oleh setiap orang. Apalagi kalau dilakukan nanti di bulan Ramadhan," kata Hendra disela-sela acara, Senin (23/5).

Peserta yang mengikuti musabaqah ini berjumlah 22 grup. Setiap grup terdiri dari 7 orang. Mereka semua perwakilan terbaik dari tiap kelas yang ada di MTs dan MA Plus Al-Hikam.

Sambut Ramadhan, IPNU-IPPNU MTs-MA Plus Al-Hikam Gelar Musabaqoh Al-Barjanzi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, IPNU-IPPNU MTs-MA Plus Al-Hikam Gelar Musabaqoh Al-Barjanzi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, IPNU-IPPNU MTs-MA Plus Al-Hikam Gelar Musabaqoh Al-Barjanzi

Kepala MTs Plus Al-Hikam, Uat Wahyudin mengatakan, dari pihak sekolah sangat mendukung kegiatan musahbaqah ini. ? Membaca Al-Barjanzi suka dibaca bersama-sama oleh seluruh siswa MTs Plus Al-Hikam setiap hari jumat. Malahan setiap siswa wajib menyetorkan bacaan Al-Barjanzi kepada guru. Setoran ini dilakukan supaya bacaan dan makhorijul hurufnya benar.

Kegiatan musabaqoh Al-Barjanzi yang dilakukan saat ini sebagai bentuk aplikasi kecintaan warga MTs MTs dan MA Plus Al-Hikam kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu supaya para siswa terbiasa membaca shalawat dan barjanzi.?

"Tradisi membaca barjanzi merupakan tradisi yang diwariskan oleh para wali dan ulama. Kita selaku manusia yang menjadi pengikut para wali dan ulama wajib menjaga tradisi ini. Somoga nanti diyaumil qiyamah kita kita semua mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW," tutup Uat Wahyudin. (Ayi Abdul Kohar/Zunus)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Pemerintah Indonesia telah menetapkan kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa setelah maraknya tindakan kriminal itu di Indonesia.

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa

"Karena itu penanganannya harus dengan cara-cara yang juga luar biasa dan juga sikap dan tindakan kita pemerintah juga harus luar biasa," kata Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers di Istana Negara pada Selasa sore.

Menurut Presiden, pemerintah sedang menyiapkan hukuman yang lebih berat untuk mencegah tindak kriminal tersebut.

Jokowi mengatakan telah mengarahkan Kementerian Hukum dan HAM, Polri, serta Kejaksaan Agung untuk menindaklanjuti proses jenis hukuman yang tepat secara cepat.

Ribath Nurul Hidayah

"Perppu-nya baru diproses, undang-undangnya nanti juga akan kita ajukan revisi, tetapi yang paling penting tadi bahwa penanganannya harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa," kata Presiden terkait rencana hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara itu, Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan lembaganya akan mempelajari segala aturan hukum yang berlaku untuk mengefektifkan penanganan perkara kejahatan kekerasan seksual terhadap anak.

Ribath Nurul Hidayah

Selama ini, ujar Prasetyo, penegak hukum hanya menjerat pelaku kekerasan seksual terhadap anak menggunakan pasal 35 tahun 2012 dengan hukuman 10 tahun penjara.

"Bahkan kalau dilakukan disertai dengan pembunuhan, kita tidak hanya tuduhkan perkosaan tapi juga pidana pembunuhan," jelas Prasetyo.

Selain rencana pengkebirian terhadap pelaku kejahatan seksual, pemerintah berencana memberikan sanksi sosial dengan mengumumkan identitas dan gambar wajah pelaku kepada masyarakat umum.

"Kalau revisi mungkin lama. Karena sekarang terdesak dan sekarang UU sanksi tak memadai ini jadi dasar Perppu Perlindungan Anak khususnya kekerasan seksual terhadap anak," kata Prasetyo. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Olahraga, Makam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 03 Februari 2018

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Oleh Irham Ali Saifuddin

Tak dipungkiri lagi, Indonesia adalah negara yang besar. Kita adalah bangsa yang besar. Situ enggak percaya? Walaupun kita belum menjadi negara maju dan berdaulat sepenuhnya dalam relasi global, seenggak-enggaknya kita besar hal populasi dan luasan geoprafis. Baiklah, biar lebih ciyus, kita kutip Laporan BPS pada Februari 2016 yanng memperkirakan jumlah penduduk kita saat ini sebanyak 257,62 juta jiwa. Saking luasnya wilayah Indonesia, sudah terpatri dalam benak kita klaim turun-temurun sebagai bangsa agraris dan maritim.

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Memang kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.Nyatanya, klaim sebagai bangsa agraris dan maritim tidak sepenuhnya salah. Setidaknya bila dilihat dari okupasi prosentase sektor ketenagakerjaan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yang oleh BPS digolongkan sebagai Sektor 1, memang merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar, yakni 31,74 persen. Ada 38,29 juta jiwa yang bekerja di Sektor 1 ini. Dahsyat kan?

Tetapi tunggu dulu. Kenapa sekarang sudah semakin langka anak muda yang ketika ditanya cita-citanya apa maka tidak ada yang menjawab ingin menjadi petani?

Ribath Nurul Hidayah

Secara diametral, di sini kita melihat dengan jelas bahwa sektor pertanian dan perikanan sampai detik ini belum bisa menjadi sektor yang menjanjikan, yang darinya orang dapat menggantungkan hidup. Sudah semakin jarang kita temui cerita seorang petani yang kaya raya dan penuh kuasa seperti dongeng-dongeng di masa kecil. Berarti ada yang salah dari pertanian kita. Oke... Sektor tersebut memang menyerap tenaga kerja terbesar. Tetapi jangan lupa, kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto-nya (PDB) rendah, hanya sekitar 14,5 persen. Bandingkan dengan sektor industri dan manufaktur yang hanya menyerap 12 persen tenaga kerja, tetapi sumbangsih terhadap PDB dua kali lipat dari pertanian, yakni 25 persen.

Ribath Nurul Hidayah

Gimana? Jelas kan? Angka tersebut secara jelas memberi gambaran betapa rendahnya produktivitas pertanian kita. Akhirnya ia tidak kompetitif dan selanjutnya semakin ditinggalkan oleh keluarga petani. Celakanya, hingga saat ini belum ada upaya yang terukur dari pemerintah terkait dengan strategi penyelamatan warisan nenek moyang ini.



Matinya petani, matinya bangsa


Kondisi ini tidak saja bisa disebut sebagai matinya desa. Kematian sektor pertanian adalah proyeksi masa depan kematian kita sebagai bangsa. Ini menyangkut kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa, Bung! Betapa tidak, dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana sekalipun, kita sudah tidak berdaulat. Tidak percaya?

Atas nama mendulang investasi dan memperkuat likuiditas, Negara bersimpuh-serah pada kekuatan-kekuatan korporasi untuk mengelola pertanian kita. Masih ingat Monsanto kan? Ia merupakan gurita global yang fokus pada pembenihan/pembibitan melalui benih/bibit transgenik. Rejim bibit ini akan sangat mengancam masa depan petani kita. Bukan saja karena Monsanto melakukan rekayasa genetik yang berbahaya dan mengancam keanekaragaman hayati. Atau kalau kamu orang Jogja, pasti tahu Pakem kan? Di Pakem terdapat sebuah perusahaan pembenihan asing yang sudah lima tahun terakhir beroperasi. Hebatnya, ia hanya fokus pada komoditas bambu. Aneka bambu yang tumbuh subur di Nusantara dikawin-sliangkan hingga menjadi varietas unggulan, kemudian bibit bambunya dipatenkan.

Ngeri enggak? Korporasi sudah seperti ancaman Jaddal bagi manusia petani di dunia modern saat ini. Penguasaan benih oleh korporasi seperti di atas ibarat sabotase karunia Tuhan terhadap bumi yang kita tinggali dengan keragaman hayatinya, lalu tetiba diklaim dan dimonopoli oleh korporasi atas nama paten dan sertifikasi. Atas sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT di tanah kita saja, kita sudah tidak berdaulat. Tidak terbayang kan petani kita bisa dipidanakan cuma gegara menanam bambu atau padi? Korporasi melalui rejim hak paten akan membuat negeri ini tiba-tiba miskin karena kita kemudian menjadi tidak punya hak apa-apa atas semua yang ditumbuhkan oleh Tuhan di negeri subur ini. (Hhhmmmmm... Jadi ingat lagu Darah Juang).

Itu baru dari sisi bibit saja ya. Kita belum lagi membahas mengenai swasembada pangan, ketahanan pangan, lalu seringnya Negara terjebak strategi impor atas komoditas-komoditas pangan yang menguasai hajat orang banyak. Cukuplah ini sebagai ironi negara agraris!

Di sebrang yang lain, mari kita lihat petani kita. Struktur agraria kita timpang. Prosentase kepemilikan lahan tak seimbang. Mayoritas petani pun kemudian tumbang. Kenapa? Mereka rata-rata hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan. Dengan luasan seperti ini, para petani kita akan kesulitan untuk menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Belum lagi ketergantungan petani terhadap faktor produksi pertanian seperti pupuk, bibit, pestisida dan peralatan penunjang lainnya yang semua harus beli. Produktivitas rendah karena lahan terbatas lalu ditunjang oleh faktor produksi yang mahal. Klop sudah. Kemudian harga panen rendah karena tidak kompetitif dengan produk yang diimpor pemerintah. Gimana enggak gulung koming mereka...

Berikutnya, diserahkannya sektor pertanian kepada korporasi besar secara pasti dan sistematis akan menggerus pertanian rakyat, bahkan memati-permanenkan petani kecil. Lihat saja misalnya, beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan dari China dan Malaysia mulai masuk ke dunia pertanian kita. Tak tanggung-tanggung, mereka mengucurkan investasi puluhan trilyun rupiah untuk menguasai lahan-lahan pertanian kita untuk membangun lahan persawahan dan pertanian terpadu. Bukan hanya teknologi terkini pertanian yang mereka bawa, mereka mengganti semua pola bertani tradisional kita. Ini hanya menjadi sekedar gambaran, betapa makin tampaknya gempuran korporasi tersebut semakin meminggirkan pertanian rakyat.

Akibat high-technology yang tak terbeli dan subtitusi tenaga manusia menjadi mesin-mesin pertanian yang canggih, para petani kita semakin tersudut di pinggir galeng-galeng persawahan. Mereka hanya menjadi penonton yang menyaksikan atraksi Akbar korporasi atas bumi pertiwi. Kearifan lokal seperti budaya gotong royong, bertani yang ramah alam, serta nilai-nilai social lainnya kemudian hilang. Pertanian hanya dimaknai secara serapah sebagai proses produksi dalam perspektif rakusnya industrialisasi. Pertanian sudah tidak lagi memiliki dimensi budaya dan keyakinan sosial yang sebenarnya merupakan ekstraksi nilai peradaban yang berabad turun-temurun.

Merenungkan wasiat Hadratussyekh



Dunia Islam di Indonesia seharusnya memiliki tanggung jawab yang lebih akan keberlanjutan masa depan pertanian kita. Pertanian telah menjadi saksi bagaimana ia dijadikan alat diplomasi politik, sosial dan budaya di masa penyebaran Islam di Nusantara selain jalur perdagangan. Bahkan, pesantren-pesantren di masa lalu selalu menjadikan pertanian sebagai penopang utama bagi kebutuhan pendanaan roda pendidikan Islam.

Dalam hal ini, kita sudah diingatkan oleh ulama besar pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari. Sebagaimana pernah di tulis Hamzah Sahal di situs resmi PBNU, KH Hasyim Asyari memberikan perhatian yang luar biasa pada pertanian. Hamzah Sahal menyebut, Hadratussyekh bahkan memiliki tulisan khusus yang berjudul "Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani." Hadratussyekh bahkan meyakinkan kepada kita semua bahwa pertanian adalah benteng terakhir bagi pertahanan Negara.

Hamzah Sahal menjelaskan bahwa Hadratussyekh secara spesifik menulis:

"Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta soedi menolong) pada negeri; dan Pa Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat? negeri didasarkan."

Mbah Hasyim seperti hendak mengingatkan kepada kita, betapa strategisnya sektor pertanian ini. Nasehat tersebut semakin relevan dengan kondisi terkini dunia di mana ketahanan pangan kita sedang tercancam karena semakin terbatasnya lahan pertanian dan adanya perubahan iklim dan bencana alam. Betul sekali pesan Hadratussyekh tersebut, bahwa "Pak Tani itulah penolong negeri." Pertanian memang sektor yang sangat strategis sampai kapan pun. Saat ini, secara global ada 1 miliar lebih penduduk dunia yang bekerja di sektor pertanian. Angka ini setara dengan sepertiga tenaga kerja dunia. Walaupun angka ini turun selama dua decade terakhir, dari 45 persen menjadi 35 persen. Tetap saja yang paling siginfikan diantara sektor lainnya.

NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, yang menurut lembaga survei LSI berjumlah 90 juta orang, seharusnya memiliki kepentingan yang besar terhadap pertanian ini. NU bukan saja memiliki landasan teologis-historis untuk menempatan pertanian sebagai prioritas dalam khidmah sosialnya, lebih jauh lagi. Jamaah NU yang sebagian besar tersebar di pedesaan adalah bidang garap yang hanya berjarak sejengkal dari dunia pertanian. Data Sakernas BPS pada Agustus 2015 mencatat ada 55 juta penduduk Indonesia yang bekerja di pedesaan. Proporsi terbesarnya, yakni 31,4 juta bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (Sektor 1). Kembali lagi ke survei yang dilaksanakan LSI, bila survei tersebut valid, maka mayoritas petani di Indonesia adalah mereka yang mengklaim NU secara kultural (yakni NU yang tidak memiliki identitas formal sebagai anggota Jamiyah Nahdlatul Ulama atau menjadi pengurus di badan-badan organisasi).

Isu-isu pertanian hampir selalu dibahas dalam forum-forum pembahasan masalah sosial-keagamaan di lingkungan NU, bahkan di setiap Muktamar limatahunan NU selalu memperbincangkannya. Bahkan secara formal NU memiliki badan otonom yang didedikasikan untuk pertanian, yakni Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Meminjam istilah KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Islam itu sebagai mayoritas di negeri ini dan karenanya ia memiliki tanggung jawab tertinggi atas apa pun yang terjadi di negeri ini. Apalagi, dalam konteks NU, organisasi ini memiliki anggota yang mayoritas mata pencahariannya adalah betani. Tanggung jawab itu menjadi berlipat ganda.

Pertanyaan penutup yang perlu kita refleksikan adalah sudah seberapa jauh dunia Islam kita dan NU mengawal wasiat Hadratussyekh tersebut?

Penulis adalah pengurus Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Humor Islam, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 28 Januari 2018

Pak Slamet dan Pak Syukur adalah Warga NU

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus NU di semua tingkatan Kabupaten Pringsewu diharapkan dapat menanamkan kepada seluruh umat Islam yang beramaliyah Ahlussunnah wal-Jamaah, bahwa mereka merupakan jama’ah dari jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Pak Slamet dan Pak Syukur adalah Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Slamet dan Pak Syukur adalah Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pak Slamet dan Pak Syukur adalah Warga NU

"Mayoritas warga Kabupaten Pringsewu orang NU. Mayoritas amaliyah warga dalam beribadah menggunakan Aswaja. Tapi masih ada yang belum tahu kalau mereka NU," kata Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrahim di depan Pengurus MWCNU dan Seluruh Ranting NU di Kecamatan Pagelaran Utara, Sabtu (11/6).

Taufiq mengibaratkan warga NU seperti itu seperti makan makanan sehari hari, tapi tidak tahu nama makanan yang dimakannya. "Ibaratnya mereka hobi makan salak tapi tidak tahu kalau yang dimakannya itu namanya buah salak," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Warga yang mengamalkan amaliyah-amaliyah NU seperti slametan, syukuran, yasinan dan sejenisnya harus tahu jam’iyyah NU. "Yang senang syukuran tempat Pak Slamet dan slametan tempat Pak Syukur harus menyadari kalau mereka adalah warga NU," ujarnya diiringi tawa para pengurus NU yang hadir.

Ribath Nurul Hidayah

Dan ini menurutnya, menjadi tugas dari pengurus NU untuk meng-NU-kan warga NU. Pengurus NU harus memperkuat identitas organisasi dengan mensyiarkannya ke seluruh pelosok Kabupaten Pringsewu.

"Alhamdulillah kepengurusan NU sudah terbentuk sampai tingkatan seluruh ranting. Ke depan kita akan membentuk sampai Pengurus Anak Ranting," tambah Taufiq pada kegiatan penguatan organisasi yang dirangkai dengan Safari Ramadhan 1437 H.

Selain memperkuat identitas jamiyyah, Taufiq juga mengharapkan kepada seluruh pengurus untuk lebih memperkuat organisasi salah satunnya dengan menertibkan administrasi keorganisasian. "Banyak aspek dari administrasi yang masih lemah dan perlu penguatan sehingga diharapkan roda organisasi dapat berjalan dengan lancar," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

Kapan Nikah?

Menjelang mudik Lebaran, Dulkirom, seorang anggota Banser, dak-dik-duk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” dari segenap pintu rumah kerabat yang bakal ia kunjungi. Baginya, usia 34 tahun belum ijab-qabul adalah aib, bahkan bid’ah bagi sekelompok orang.

Benar. Serangan yang ia khawatirkan pun tiba.

Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nikah?

“Kapan nikah, Nak?” Pertanyaan meluncur dari Pak Leknya (paman).

Ribath Nurul Hidayah

“Wah, KUA Lebaran gini masih tutup, Pak Lek,” jawabnya ngeles.

Ribath Nurul Hidayah

Pertanyaan serupa muncul dari anggota keluarga lain dan sahabat-sahabatnya dan dijawab dengan alasan yang sama. Terus berulang dari pintu ke pintu hingga sembilan kali.

“Terus kalau KUA sudah buka, tanggal berapa mau kawin?” Tanya salah satu bibinya.

Jawaban tak mungkin sama. Sambil melirik saudara sepupunya, si Banser sok berkonsultasi, “Enaknya, punya rumah dulu atau mobil dulu ya sebelum nikah?”

“Kalau menurutku, ya mesti punya calon dulu,” balas rekannya sambil ngelonyor. (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Habib Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Kudus, Karyati Inayah berpendapat Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Langsung merupakan momen sambung rasa dan silaturrahim antara calon wakil dengan rakyat.

Ia mengatakan hal itu pada diskusi “Pilkada Langsung, Pilkada Tidak Langsung: Siapa Beruntung?” yang diadakan STAIN Kudus bekerja sama dengan Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah bertempat di rektorat lantai 3 STAIN Kudus, Sabtu (20/9) siang.

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat

“Dengan Pilkada Langsung, menurut kami para calon bisa silaturrahim, blusukan, sambung rasa kepada rakyat secara langsung,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Berkaitan dengan politik uang, lanjut Inayah perlu dimaknai dengan positif. Masyarakat punya bargain, nilai tawar untuk menentukan pilihannya, bukan rakyat hanya mampu “dibeli” dengan selembar uang.

Ribath Nurul Hidayah

Disamping itu, Pilkada Langsung yang dianggap banyak menuai konflik menurutnya kedepan akan lekas hilang dengan sendirinya. “Ke depan masyarakat kian tambah dewasa. Kita pun tidak perlu cemas sebab kelak konflik akan hilang dengan sendirinya,” imbuhnya.

Sejumlah dinamika  dalam pelaksanakan Pilkada Langsung; politik uang dan konflik, tambah Inayah, merupakan pembelajaran tersendiri bagi masyarakat. Lambat laun dinamika tersebut kelak hilang dengan sendirinya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 12 Januari 2018

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Sidoarjo, Jawa Timur, menyatakan siap berada di garis depan untuk menghadapi ekstremisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

Ketua PC PSNU Pagar Nusa Sidoarjo Abdur Rosyad yang barusan dilantik mengatakan, sebagai salah satu badan otonom NU berkewajiban untuk bergerak dan bersikap sesuai ajaran dan tuntunan para ulama NU.

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pagar Nusa Sidoarjo Tegaskan Lawan Ekstremisme

"Untuk mengantisipasi kelompok atau organisasi yang tidak menghendaki Pancasila dan mengoyak persatuan Indonesia, Pagar Nusa Sidoarjo dalam mengambil sikap tetap akan berkoordinasi aktif dengan pihak keamanan baik Kepolisian maupun TNI," papar Abdur Rosyad, Ahad (19/4) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Acara pelantikan Pengurus Cabang PSNU Pagar Nusa Sidoarjo yang digelar di halaman kantor Cabang NU Sidoarjo itu dimeriahkan berbagai macam atraksi pencak silat mulai dari memegang petasan dan atraksi pencak silat lainnya.

Lebih jauh Abdur Rosyad mengatakan, dalam menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sidoarjo yang akan digelar tahun 2015 ini, Pagar Nusa Sidoarjo berkomitmen atas nama para ulama siap  menjaga stabilitas keamanan dan kesuksesan acara tersebut. (Moh Kholidun/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 03 Januari 2018

Sarbumusi Minta Chveron Patuhi UU soal Jam Kerja dan Upah Lembur

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) mengecam intimidasi oleh PT Chevron Pasific Indonesia kepada karyawannya soal tuntutan upah lembur. Sarekat buruh NU ini? menilai perlakuan PT Chevron Pasific Indonesia sudah menyalahi perundang-undangan berlaku.

"Tanggal 30 Maret 2015 dan 15 Oktober 2015, pimpinan basis GB-Migas Sarbumusi PT Chevron Pasific Indonesia telah mengajukan surat pencatatan perselisihan hubungan industrial mengenai penerapan waktu kerja staf dan nonstaf terkait pembayaran upah kerja lembur tersebut kepada Dinas Tenaga Kerja dan Kependudukan Provinsi Riau," kata Presiden Sarbumusi Saiful Bahri Anshori di Jakarta, Kamis (11/2).

Sarbumusi Minta Chveron Patuhi UU soal Jam Kerja dan Upah Lembur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Minta Chveron Patuhi UU soal Jam Kerja dan Upah Lembur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Minta Chveron Patuhi UU soal Jam Kerja dan Upah Lembur

Dalam surat itu, kata Saiful melanjutkan, GB-Migas Sarbumusi PT Chevron Pasific Indonesia menuntut agar manajemen perusahaan dimaksud membayar kekurangan upah terhadap kelebihan jam kerja atau upah lembur karyawan sebagai akibat dari penerapan ketentuan jam kerja yang melebihi jam kerja normal sebagaimana diatur oleh undang-undang.

"Karena secara hukum dan fakta pelanggaran itu, perusahaan wajib membayar kelebihan jam kerja karyawan sebagai kewajiban pembayaran. Dan dalam mediasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Kependudukan Provinsi Riau putusannya menegaskan bahwa hal itu jelas-jelas pelanggaran terhadap perundang-undangan yang berlaku di Indonesia," kata Saiful.

Ribath Nurul Hidayah

Karena itu, Sarbumusi sebagai Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang fokus terhadap persoalan buruh mengimbau manajemen PT Chevron Pasific Indonesia untuk beritikad baik menyelesaikan kasus penerapan sistem kerja dan mekanisme kerja lembur sebagaimana amanat Pasal 77 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang mengatur ketentuan jam kerja.

"Tapi manajemen PT Chevron Pasific Indonesia malah melakukan berbagai intimidasi kepada karyawan untuk menandatangani pernyataan tidak mendukung tuntutan tersebut yang diperjuangkan serikat buruh demi kepentingan buruh itu sendiri,"? kata Saiful didampingi Sekretaris Jendral Sukitman Sudjatmiko.

Ribath Nurul Hidayah

Sebab itu, dalam menyikapi persoalan-persoalan ini DPP K-SARBUMUSI NU meminta manajemen PT Chevron Pasific Indonesia untuk menghentikan segala bentuk intimidasi, terror, dan pemasaksaan kepada karyawan dalam bentuk apapun.

Mereka mengimbau manajemen PT Chevron Pasific Indonesia untuk tunduk dan mematuhi peraturan perundang-undangan NKRI di mana mereka melakukan investasi modal.

Sarbumusi mengharapkan Presiden RI melalui Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia menindak tegas setiap pelanggaran peraturan perundang-undangan yang dilakukan perusahaan asing terutama PT Chevron Pasific Indonesia yang telah meningjak-nginjak kedaulatan hukum yang berlaku.

"Demikian pernyataan sikap kami dalam rangka menjaga hubungan industrial yang harmonis dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Kami menyerukan semua pihak untuk terus berjuang dan melawan setiap bentuk intimidasi dan penindasan terhadap buruh dalam bentuk apapun," pungkas Saiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 Januari 2018

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kawasan Babarsari, Tambakbayan, Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terjadinya konflik sosial antar kelompok. Hal ini karena daerah tersebut mengalami pergeseran akibat pesatnya perkembangan Aglomerasi perkotaan dengan berkembangnya sekitar 11 perguruan tinggi, perhotelan dan perumahan. Peristiwa kekerasan demi kekerasan terjadi di kawasan tersebut.

Menyikapi itu, Our Indonesia bekerjasama dengan Masyarakat Tambakbayan, Prodi Sosiologi Atma Jaya dan Alliansi Bela Garuda (ABG) menyelenggarakan diskusi dan buka puasa bersama (Bukber) dikemas dalam kegiatan Ramadhan Kebhinekaan, di Balai Pendopo Tambakbayan RW 04, Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Yogyakarta, Rabu (21/6).

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukber Dan Dialog, Cara Warga Yogyakarta Wujudkan Toleransi

"Kita perlu menjaga toleransi antar berbagai perbedaan yang ada di Babarsari dan Tambakbayan. Perlu dikembangkan dengan membangun interaksi antara komunitas yang berbeda secara dialogis dalam suasana saling menjaga kedamaian. Dengan demikian, kerukunan dapat terwujud," kata Slamet Suparman  salah satu tokoh masyarakat Tambakbayan.

Slamet menambahkan, pada dasarnya masyarakat setempat adalah masyarakat yang toleran terhadap perbedaan dan memiliki semangat nasionalis yang tinggi. Hidup berdampingan dengan pendatang dari berbagai daerah sudah menjadi bagian dan interaksi,  baik mahasiswa maupun yang bekerja. 

"Perkembangan terjadi berdampak perubahan pola interaksi sosial antar masyarakat maupun dengan pendatang," kata dia lagi.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menegaskan, pengelolaan  kompleksitas  dan dinamika perkembangan masyarakat  lokal dengan para pendatang yang perlu tetap dijaga semangat keterbukaan dan toleransinya.

"Indonesia menjamin kebinekaan yang ada. Keberadaan NKRI  tidak terlepas dari himpunan perbedaan-perbedaan namun memiliki rasa kebangsaan yang dikuatkan dengan Pancasila sebagai dasar konsensus bersama. Oleh karena itu, perlu upaya untuk membangun interaksi dan dialog diantara anggota masyarakat yang berbeda agar bisa saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain. Keragaman bukanlah sumber konflik tetapi dapat dikelola sebagai sumber kekayaan untuk kemajuan bersama," paparnya.

Kemampuan mengakomodasi keragaman sebagai sumber kemajuan dan kesejahteraan bersama ini seringkali dihadapkan dengan kesenjangan yang berujung konflik. 

Oleh karena itu, kata dia menambahkan, perlu mengembangkan  semangat toleransi berbasis komunitas yang beragam sehingga perbedaan tersebut bisa dikelola dengan baik untuk kedamaian bersama.

Hadir dalam diskusi itu, diantaranya adalah  Ketua PC GP Ansor Yogyakarta, Saifudin, Pendeta Indrianto dari Omah Pirukun dan pihak kepolisian dari sektor Depok Barat, Yogyakarta yang didapuk sebagai narasumber untuk mengungkap berbagi gagasan dalam mewujudkan kedamaian dan kerukunan di Babarsari, Tambakbayan.

Ribath Nurul Hidayah

Pengembangan kebersamaan antar masyarakat yang beragam dengan bahasa kebudayaan dan kemanusiaan di Babarsari Tambakbayan sekaligus bertujuan untuk menghilangkan bebaya (malapetaka) dengan menumbuhkan kembali budi daya dan toleransi sehingga kawasan tersebut dapat mencerminkan Indonesia mini, yang penuh warna tetapi dapat menjaga kedamaian hidup bersama. (Gatot Arifianto / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

Pojok Gus Dur Tingkatkan Daftar Dokumentasi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sejak diluncurkan secara resmi oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, 11 Agustus 2011, Pojok Gus Dur hingga sekarang terus mengembangkan jumlah dokumentasi berupa tulisan, buku, video, foto, rekaman yang berkenaan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Di samping sebagai tempat diskusi berbagai persoalan, Pojok Gus Dur juga ditujukan sebagai pusat rujukan bagi para peneliti atau masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dalam Presiden ke-4 RI ini. Melaluinya diharapkan proses desiminasi dan pengembangan pemikiran dan perjuangan Gus Dur dapat berjalan.

Pojok Gus Dur Tingkatkan Daftar Dokumentasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pojok Gus Dur Tingkatkan Daftar Dokumentasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pojok Gus Dur Tingkatkan Daftar Dokumentasi

“Sekarang mulai terkumpul beberapa bendel kliping berita dan wacana Gus Dur di media,” kata Athaillah, salah satu pustakawan “Little Museum” yang terletak di lantai 1 Gedung PBNU, Jakarta Pusat ini, Rabu (25/7). 

Ribath Nurul Hidayah

Kliping tersebut, di antaranya, meliputi kegiatan Gus Dur selama menjabat presiden, keterlibatannya dalam NU, serta gerakannya saat bersinggungan dengan kekuasaan Soeharto.

Pojok Gus Dur adalah bekas kantor Gus Dur sejak menjadi Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut (1984-1999) hingga wafat. Atas dasar penghargaan dan pemanfaatan ruangan, PBNU merestui menjadikannya perpustakaan, ruang diskusi, serta pusat dokumenasi di bawah pengelolaan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid.

Ribath Nurul Hidayah

Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur yang sekaligus Sekretaris Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, menyatakan, Pojok Gus Dur adalah salah satu upaya mendorong lahirnya pemikir-pemikir kritis dan bijaksana, yang bisa membawa perspektif Gus Dur dalam membela rakyat untuk tujuan mulia, yaitu bangsa.

“Pojok itu adalah sudut di mana beliau berkarya memberikan banyak manfaat, tidak hanya untuk NU tapi bangsa Indonesia,” tandasnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis     : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Tim Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terdiri dari 9 kiai khos mengadakan sidang untuk memilih Rais Aam PBNU. Sebelum sidang penentuan Rais Aam, Gus Mus menulis surat resmi yang menyatakan ketidaksediaannya untuk dipilih menjadi Rais Aam PBNU.

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Tim Ahwa Pilih Gus Mus Meski Dirinya Menolak Jadi Rais Aam

Dengan kenyataan seperti ini, justru salah satu anggota Ahwa, KH Maimun Zubair menyatakan sebaliknya. Mbah Mun menilai, bahwa menolak ingin dipilih inilah yang menjadi alasan utama Tim Ahwa untuk memilih KH Mustofa Bisri menjadi Rais Aam PBNU.

“Justru surat ketidaksediaan Gus Mus inilah yang menjadi alasan kami memilih Gus Mus. Dia layak menjabat pemimpin tertinggi NU karena dia tawadhu serta tidak punya nafsu dan ambisi secara kekuasaan,” ujar pemimpin sidang, KH Ma’ruf Amin menyampaikan pesan Mbah Maimun dari hasil sidang Tim Ahwa dihadapan Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang yang berada di komplek Alun-alun Jombang, Jawa Timur.

Ribath Nurul Hidayah

KH Ma’ruf Amin sendiri ditetapkan sebagai Wakil Gus Mus melalui sidang Tim Ahwa tersebut. Sebelumnya, dalam sambutan di sidang pleno tata tertib yang sempat kurang kondusif, Gus Mus memang berharap tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam PBNU. “Semoga Saya sekian saja jadi Rais Aam,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Hingga berita ini ditulis, sedang berlangsung rapat pleno pemilihan Ketua Umum PBNU di tempat yang sama. Sidang yang dipimpin oleh PWNU Jawa Timur, Prof Akh Muzakki ini telah memenuhi kuorum. “Dari 508 peserta pemilik hak suara, telah hadir di forum sebanyak 378 orang, jadi rapat pleno ini telah memenuhi kuorum,” terangnya dalam paparan pembuka. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Oleh Fathoni Ahmad

Dewasa ini tidak bisa dipungkiri bahwa dunia maya, era di mana interaksi sosial terjadi melalui koneksi internet melekat kepada dua generasi sekaligus, yakni Digital Native dan Digital Immigrant. Peran dua generasi tersebut saling melengkapi ketika generasi sekarang (Digital Native) mengisi dunia maya dengan berbagai ekspresi kekinian yang kerap kali disebut alay, kemudian dinetralkan oleh generasi tua yang baru beralih ke dunia internet (Digital Immigrant) dengan postingan yang berupaya menginternalisasi nilai-nilai luhur zaman dulu, terutama melalui media sosial.

Media sosial dalam berbagai bentuk atau channel, baik Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, WhatsApp, Google Plus, Youtube, dan lain sebagainya digunakan oleh Netizen (masyarakat dunia maya) untuk melakukan interaksi sosial, baik berbagi informasi atau sekadar menyampaikan keluh kesah dan kegalauan. Proses interaksi sosial lewat dunia maya ini terjadi setiap detik. Bahkan salah satu analis media sosial mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan interaksi sosial tertinggi di dunia per detik dalam penggunaan dunia maya khususnya media sosial.

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Dunia Maya, Puasa dan Razia

Lalu konten materi apa yang sering menjadi lalu lintas terpadat di dunia maya? Penulis mencatat bahwa mayoritas Netizen menyukai tulisan inspiratif dan konten keagamaan. Kurangnya pengetahuan agama dan keagamaan kerap kali membuat masyarakat dunia maya terjebak sehingga tidak jarang berdampak pada watak keras, sikap radikal, mudah menyalahkan, membatasi diri dari kehidupan sosial hingga pada titik kulminasi melalukan tindak kekerasan atas nama agama.?

Terkait dengan konten keagamaan yang terus menjadi primadona dalam kehidupan media sosial, momen Ramadhan atau bulan puasa juga dijadikan instrumen menyebarkan berbagai inspirasi keagamaan hingga wacana kontroversi berbagai hal yang berkaitan dengan puasa. Level dunia maya yang tadinya lekat (inheren) dengan religiusitas naik intensitasnya menjadi lebih religius.?

Namun demikian, kondisi inheren ini tidak dibarengi dengan koherensi, yakni usaha mewujudkan keseimbangan sosial dengan sikap saling menghormati. Seakan pemahaman agama seseorang berdiri sendiri sehingga seolah berhak melakukan tindakan semena-mena dengan dalih menghormati bulan Ramadhan seperti aksi sweeping, melarang orang berjualan di siang hari yang dapat mengganggu kekhusyuan puasa umat muslim, dan tindakan-tindakan serupa. Materi ini yang menjadi salah satu menu di dunia maya tiap momen Ramadhan tiba. Selain dialektika penetapan awal puasa dengan metode rukyat maupun hisab.

Soal warung buka di siang hari yang dianggap bisa membuat orang tergoda, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi wejangan bahwa “jika kita merasa Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Puasa maupun tidak puasa merupakan pilihan setiap individu karena urusannya langsung kepada Allah. Namun, Gus Dur juga menekankan kepada setiap muslim agar tetap menyampaikan dakwah yang baik, artinya dakwah yang mengajak, bukan mengejek apalagi menginjak. Hal ini justru dapat memberikan refleksi penyadaran diri kepada setiap individu bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terkena kewajiban berpuasa.

Ribath Nurul Hidayah

Kewajiban puasa merupakan ranah agama yang dibebankan kepada setiap individu yang sudah mukallaf. Mukallaf ini bukan tidak tahu hukum jika tidak melakukan puasa, tetapi dia memilih untuk tidak berpuasa tentu dengan menanggung kewajiban tersebut. Sebab itu, harus dihormati oleh individu lain sebagai sebuah pilihan karena tanggungan orang yang tidak melakukan puasa langsung berkaitan dengan Allah. Jadi jika ada warung yang buka di siang hari, lalu dirazia oleh pemerintah dalam hal ini Satpol PP, tentu langkah seperti ini justru di luar koridor pemerintah.?

Jika berjualan di siang hari dapat menuai kesejahteraan bagi si penjual, pemerintah wajib mendukung jika mempunyai misi mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan malah merazia karena alasan mengganggu orang yang sedang berpuasa. Perlu dicatat, seseorang yang sungguh-sungguh berniat puasa, tidak akan tergoda sedikitpun meski warung atau restoran ramai-ramai memamerkan menu makanannya tanpa ditutup tirai.

Media sosial dan kebaikan puasa?

Ribath Nurul Hidayah

Kembali ke dunia maya, momen bulan puasa tetap harus menjadi renungan bersama terkait aktivitas di media sosial atau di berbagai channel dunia maya secara keseluruhan. Hal ini tentu mempunyai korelasi bahwa kehidupan media sosial yang mempunyai karakter liar dan anarkis karena faktor interaksi sosial tidak langsung (indirect social interaction). Interaksi jenis ini kerap menimbulkan konflik horisontal yang berdampak pada kehidupan nyata karena media sosial juga dapat menciptakan kondisi nyata dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok.

Netizen sebagai warga dunia maya juga mempunyai peran menciptakan kondisi yang baik dan tenang di bulan puasa. Perspektif dunia maya yang dapat menciptakan inspirasi dan gerakan di dunia nyata ini dapat dijadikan ladang dakwah oleh setiap individu untuk menciptakan ketenteraman di bulan puasa. Media sosial dan dunia maya tidak sepatut dan selayaknya didominasi oleh informasi dan berbagai konten negatif secara tekstual maupun verbal. Hal ini tentu harus diwujudkan setiap hari tidak hanya pada momen bulan puasa sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium).

Untuk dapat meniciptakan kondisi tersebut, harus ada upaya dari setiap individu sebagai subjek dunia maya untuk setia pada informasi-informasi positif. Misal dengan mengakses berbagai channel dan portal dari berbagai media, baik cetak, online, visual, dan audio visual yang menyediakan konten-konten positif untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut. Paradigma ini persis seperti ngaji pasaran yang dilakukan di berbagai pesantren, madrasah, majelis taklim, masjid, dan mushola. Bedanya pengakses media sosial bisa langsung membagikan informasi positif tersebut ke sesama pengguna secara viral.

Jangan dikira menciptakan kebaikan di media sosial tidak diganjar pahala, karena terbukti interkasi di dunia maya dapat menciptakan kondisi di dunia nyata. Di titik inilah kebaikan bulan puasa dapat kita wujudkan secara menyeluruh (komprehensif) di berbagai media kehidupan, termasuk di media sosial agar ibadah puasa tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mampu menciptakan dampak (impact) positif di tengah kehidupan digital maupun natural (nyata).***

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, PonPes, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Upaya Perkuat Karakter Siswa Madrasah dengan Pembiasaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?

Di madrasah, pendidikan yang diterapkan juga menuntut untuk dimaksimalkannya kemampuan kognitif. ? Dengan demikian ada hal lain dari anak atau siswa, yang tak kalah penting, yaitu memberikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif.?

Upaya Perkuat Karakter Siswa Madrasah dengan Pembiasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Perkuat Karakter Siswa Madrasah dengan Pembiasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Perkuat Karakter Siswa Madrasah dengan Pembiasaan

Pendidikan karakter juga menjadi dasar dalam pembentukan kualitas bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang perlu dipelihara terkait dengan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan menghormati.

Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan tercapai. Metode pembelajaran yang sesuai adalah keteladanan, ? pembiasaan, pujian, dan hukuman.?

Pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang, baik dilakukan secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Hal tersebut juga akan menghasilkan kompetensi.?

Dari penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016), di MTsN Bukit Raya ditemukan pembiasakan perilaku positif tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan karakter melalui pembiasaan ini dapat dilakukan secara terjadwal atau tidak terjadwal baik di dalam maupun di luar kelas.?

Ribath Nurul Hidayah

Penguatan lainnya, berupa pengembangan tradisi Melayu, dilakukan dengan diwajibkannya siswa pada hari Jumat untuk memakai pakaian Melayu yang juga sangat dekat jiwa islami. Siswa juga dibiasakan untuk bertindak sesuai dengan karakter budaya Melayu yaitu sopan, ramah, dan sangat memuliakan tamu.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping itu, budaya di MTsN Bukit Raya yang turut membantu penguatan nilai-nilai pendidikan agama adalah budaya salam ketika siswa sampai di madrasah, pemutaran musik islami setiap pagi sebelum masuk kelas, berbaris sebelum masuk kelas, berdoa ketika akan memulai belajar, kepedulian lingkungan dengan kebersihan dan penghijauan, pelaksaan shalat duhur berjamaah, membaca zikir dan doa selesai shalat berjamaah, membaca Yasin dan doa setiap Jumat pagi, saling menghargai karya dan prestasi ? sesama guru, pemberian penghargaan bagi siswa dan guru yang berprestasi, bermusyawarah dalam membuat keputusan, keterbukaan dalam penggunaan anggaran.

Bentuk penguatan lainnya yang sekaligus dapat menjadi tempat syiar Islam, MTsN Bukit Raya juga melaksanakan ibadah kurban, pengumpulan dan pembagian zakat, pawai dan peringatan hari besar Islam, shalat Dhuha, shalat Jumat. Ditambah dengan lomba seni baca Quran, shalawat, tahfiz Quran, zikir, doa, dan asmaul husna.

Gerakan penghijaun yang dilakukan sejak lima tahun ini, sudah dirasakan manfaatnya. Suasana MTsN Bukit Raya terlihat rindang, indah dipandang mata dan terasa sejuk udaranya. Penghijauan ini didukung oleh orangtua siswa, dengan menyumbang tanaman untuk ditanam di lingkungan madrasah. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Nahdlatul, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Desember 2017

Forum Komisariat PMII Se-Jombang Gelar Dialog Interaktif Kepahlawanan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) se-Jombang yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komisariat Jombang (FKKJ) menggelar dialog intraktif kepahlawanan, Selasa (10/11) lalu di halaman makam KH Wahab Hasbullah (Mbah Wahab), Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Forum Komisariat PMII Se-Jombang Gelar Dialog Interaktif Kepahlawanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Komisariat PMII Se-Jombang Gelar Dialog Interaktif Kepahlawanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Komisariat PMII Se-Jombang Gelar Dialog Interaktif Kepahlawanan

Ketua Komisariat PMII Ya’qub Husein STIT Al-Urwatul Wutsqo, Rif’atuz Zuhro mengatakan, kegiatan tersebut untuk memperingati hari pahlawan serta mendalami pengetahuan terkait perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan Indonesia khususnya. “Untuk merefleksikan semangat dan perjuangan tokoh pahlawan di hari pahlawan ini, salah satunya tokoh Mbah Wahab,” katanya kepada NU online saat dihubungi, Selasa (10/11).

Sementara konsep dialog tersebut, Ririf, sapaan akrabnya menjelaskan, tidak hanya membincangkan sejarah perjuangan para pahlawan, namun lebih dari itu indikatornya memberikan gambaran perjuangan pahlawan melawan penjajah pada zamannya. Sehingga lebih bisa menanamkan semangat pemuda dalam meneruskan perjuangan mereka.?

Ribath Nurul Hidayah

“Kami membuat konsep seperti itu tdk hanya ingin membicarakan sejarah perjuangan, tapi juga dapat memberikan gambaran yg jelas bagaimana perjuangan melawan penjajah pada saat itu. Sehingga refleksinya nyata membakar semangat kaum pemuda,” tambahnya.?

Ribath Nurul Hidayah

Dengan demikian, lanjutnya, acara yang bertajuk “Reaktualisasi Nilai-Nilai Patriotisme Dalam Jiwa Pemuda Bangsa Indonesia” ini bisa membangun kesadaran pemuda khususnya untuk terus menjunjung tinggi terhadap nilai-nilai kepahlawanan, sebab kemerdekaan Indonesia ini tidak lepas dari perjuangan mereka.

“Kami berharap setelah acara refleksi ini kaum pemuda dapat menyadari bahwa peran pemuda islam ataupun para santri sangat penting dan sangat besar. Pemuda Islam juga harus menjadi komando terdepan untuk tetap mengawal cita-cita kemerdekan Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai pembicara pada dialog ini, pihaknya mendatangkan KH Fadlullah Abdul Malik, Waka Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang juga sebagai PW GP Ansor Jawa Timur. Acara ini diikuti oleh perwakilan dari komisariat se-Jombang dan PC PMII Jombang. Hadir juga beberapa santri Bahrul Ulum. Sebelumnya, para aktivis ini sempatkan membaca tahlil, istighotsah bersama dan tabur bunga di makam Mbah Wahab. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, News, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 13 Desember 2017

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA Helmy Faishal Zaini menyoroti pernyataan Mendikbud Muhadjir Effendy. Melalui akun twitter pribadinya @Helmy_Faishal_Z, pria kelahiran Cirebon ini menulis “Mendikbud enyar ora paham nawacita”.?

Saat dikonfirmasi mengenai pernyatannya tersebut, Sekjen menjelaskan bahwa dua pernyataan dan gagasan Mendikbud akhir-akhir sangat patut disayangkan. Gagasan mengenai full day school dan juga pola pikir sektarian yang mengunggulkan pendidikan kelompok tertentu dengan menegasikan lembaga pendidikan lain menurut Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut? adalah gagasan dan juga sekaligus pernyataan yang tidak semestinya dikeluarkan.

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen: Mendikbud Tidak Paham Nawacita

“Gagasan yang prematur dan juga pernyataan yang cenderung tidak didasari semangat kemajemukan bangsa yang tidak mengunggul-unggulkan satu pihak sembari menegasikan pihak lain, sudah seharusnya tidak diungkapkan oleh seorang Menteri,” jelas Helmy.

Banyak pihak menaruh rasa kecewa terhadap kinerja dan pernyataan Mendikbud. Ketua Lakpesdam NU, Rumadi Ahmad melalui akun twitternya @Rumadi04 menulis, “Mendikbud ini blm jelas prestasi dan kerjanya. Pagi2 sudah bikin gaduh.”

Sementara itu wartawan senior Putu Setia via akun twitter pribadinya @mpujayaprema juga menyoroti Mendikbud. Ia menulis “Saya gagal paham. Katanya full day school isinya tak belajar melulu, tp ada ekrakurikuler. Jadi belajar radikal?” (Fariz Alniezar)

?

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Nahdlatul, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama

Gorontalo, Ribath Nurul Hidayah

Provinsi Gorontalo kekurangan tenaga guru agama yang tersebar di semua sekolah di daerah itu, sehingga pemerintah provinsi (Pemprov) setempat segera mencarikan solusinya.

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Rabu, menjelaskan bahwa banyak guru-guru serta orang tua murid yang mengeluhkan ketersedian guru agama di sekolah, sehingga rencananya Pemprov Gorontalo akan menambah jumlah tenaga guru tersebut di setiap sekolah.

"Ini tentu memprihatinkan jika sekolah kekurangan guru agama, sebab ahlak siswa pun juga wajib dibentuk," kata Gubernur.

Ia menambahkan, Pemprov sudah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Gorontalo untuk segera mendatangi kampus IAIN Gorontalo untuk mencari guru agama.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah data kebutuhan guru agama diperoleh, lanjutnya, akan dilakukan perekrutan.

"Saya sudah meminta kepada Kepala dinas terkait untuk segera buat konsep dan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk mendata kebutuhan guru agama, termasuk koordinasi dengan Kanwil Agama Gorontalo," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Gorontalo Weny Liputo menjelaskan, pihaknya akan merekrut tenaga guru agama baik Islam maupun non Muslim dan kepada mereka akan diberikan status honorer.

"Namun terkait persyaratan formal perekrutan guru agama, kami akan tetap koordinasi dengan Kementerian Agama Gorontalo," katanya.

Mengenai jumlah kebutuhan guru agama, ia menjelaskan bahwa dibutuhkan ratusan tenaga guru untuk tingkat SMA/SMK serta SLB. Jika ditambahkan dengan kebutuhan untuk tingkat SD-SMP maka jumlahnya akan lebih banyak lagi. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Nahdlatul, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Konferensi cabang ke-III yang memunculkan nama Ori Sativa Sakban sebagai Ketua terpilih GP Ansor kota Pariaman masa bakti 2014-2017, menunjukkan semangat baru bagi Ansor Pariaman. Kalau sebelumnya ketua Ansor hanya ditunjuk, kini Ansor Pariaman sudah melangsungkan konferensi yang dihadiri utusan anak cabang.

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Ketua Baru, GP Ansor Pariaman Mulai Bangkit

Demikian dikatakan Bendahara PW GP Ansor Sumatra Barat Armaidi Tanjung dalam sambutan penutup konferensi di aula pesantren Nahdlatul Ulum desa Kajai kecamatan Pariaman Timur kota Pariaman, Sumatera Barat, Ahad (12/1) petang.

“Keterlibatan semua anak cabang GP Ansor di kota Pariaman menandai kebangkitan GP Ansor Pariaman, terlebih lagi ketua terpilih sudah aktif sebelumnya di organisasi pelajar dan kemahasiswaan. Sehingga, ia diharapkan lebih aktif mengembangkan Ansor di Kota Pariaman,” terang Armaidi seperti pers rilis kiriman GP Ansor Sumbar, Senin (13/1).

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan Ori Sativa mengungkapkan, banyak hal bisa dilakukan GP Ansor terutama bagaimana membesarkan NU dan GP Ansor. Selama di Ansor kita harus berproses sehingga bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

Ribath Nurul Hidayah

“Setiap kader dan pengurus ? Ansor harus dijiwai nilai-nilai Islam. Dengan demikian berproses di Ansor tidak hanya sekedar berorganisasi, namun menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat,” kata Ori dalam sambutannya setelah terpilih.

Menutup sambutannya, Ori yang juga mantan Ketua PC PMII Pariaman mengharapkan dukungan dan kekompakan jajarannya dalam menjalankan amanah organisasi.

Konfercab dihadiri Asisten I Pemko Pariaman Lukman Syam, Ketua LAZISNU Sumbar Febby Dt Bangso Nan Putih, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Ahlussunnah, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Desember 2017

Ansor Optimistis Paus Baru Tingkatkan Toleransi Antaragama

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Terpilihnya Paus Fransiskus I sebagai pemimpin Katolik se-dunia memunculkan optimisme dengan semakin kuatnya kerja sama dan persaudaraan antarumat beragama terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

"Paus Fransiskus I berasal dari negara berkembang. Dia berpengalaman sebagai individu yang berasal dari negara yang cenderung tertinggal dari Barat sehingga akan lebih mengerti tentang negara seperti di Asia Tenggara," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid, Jumat.

Ansor Optimistis Paus Baru Tingkatkan Toleransi Antaragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Optimistis Paus Baru Tingkatkan Toleransi Antaragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Optimistis Paus Baru Tingkatkan Toleransi Antaragama

Saat dihubungi melalui telepon di Jakarta, ketua organisasi kepemudaan Islam Nahdlatul Ulama (NU) itu mengatakan terpilihnya Paus baru dari daratan Amerika Selatan menjadi menarik karena kawasan tersebut memiliki sejarah yang mirip dengan negara berkembang layaknya Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Di negara tersebut perjalanan demokrasi berasal dari penjajahan yang tidak jauh dengan negara berkembang lainnya. Begitu juga dengan kelas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang hampir serupa, kata anggota Komisi XI DPR itu.

Nusron mengharapkan kepemimpinan Paus bernama asli Jorge Bergoglio itu mampu memberikan manfaat yang baik terhadap dunia Timur terlebih dalam kerukunan antarumat beragama.

Ribath Nurul Hidayah

"Selama ini sejumlah Paus banyak berasal dari Barat atau negara-negara maju. Saya menilai Fransiskus I memiliki rasa kepekaan terhadap dunia Timur yang lebih baik dari Paus sebelumnya. Terutama kepekaan terhadap mereka yang kurang mampu," kata dia.

Kesederhanaan Jorge Bergoglio memang diakui banyak pihak ketika dia memilih naik kendaraan umum dibanding menaiki mobil limosin yang telah disediakan untuknya.

Lebih lanjut, dia mengharapkan dalam semangat terpilihnya Paus yang baru di Vatikan memberikan semangat toleransi antarumat beragama yang lebih baik lagi.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.

Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

Ribath Nurul Hidayah

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.

Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.

Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”

Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, IMNU, Ulama Ribath Nurul Hidayah