Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam?

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah KH Muhammad Hanif Muslih mengutip kalimat KH Muslih Abdurrahman Al-Maroqy dan Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliky.

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam?

“Rasullullah Muhammad SAW akan selalu hadir, ruh dan jasadnya, saat mahallul qiyam pada pembacaan maulid,” kutipnya pada pembukaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak pada Jumat malam (16/1).

Peringatan tersebut merupakan Safari Maulid Majelis Al Muqorrobin pimpinan Habib Farid Abdillah bin Masyhur, Habib Fauzi bin Masyhur, dan Habib Muhammad Firdaus bin Masyhur. Ketiganya merupakan penerus majelis ta’lim Muqorrobin yang dididirkan Habib Masyhur bin Toha Al Munawar.

Ribath Nurul Hidayah

Ribuan santri dan masyarakat hadir pada kesempatan itu. juga para ulama, habaib, pejabat pemerintah dari sipil maupun kepolisian. Hadir pula Habib Ali bin Hasan Bafaqih dari Tarim Yaman. Beliau mengajak kepada masyarakat untuk selalu meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ribath Nurul Hidayah

“Diutusnya Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia adalah sebuah rahmat yang agung, maka menjadi sebuah keniscayaan bagi kita umat Islam untuk selalu meneladani akhlak mulia beliau,” katanya dalam mauidhoh berbahasa Arab yang diterjemahkan KH Helmi Wafa. (Ben Zabidy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Meme Islam, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Februari 2018

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Jeddah, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan pengurus Masjid Indonesia Jeddah mengadakan pengajian rutin setiap Jumat pagi hingga menjelang Jumatan. Pengajian dengan pembacaan kitab "Nashoihul Ibad" ini diasuh tokoh NU di Jeddah Ustadz H Arsyad Hidayat, Jumat (14/11).

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Ustadz H Arsyad Hidayat mengupas muqaddimah kitab Nashoíhul Ibad. Ia juga menyampaikan kepada para jamaah agar tidak memberikan sisa-sisa untuk Islam.?

“Ketika ada kepentingan sesuatu, Islam dibawa-bawa. Kalau kepentingan sudah dicapai, Islam ditinggalkan. Inilah tujuan mengaji agar tetap istiqomah memakmurkan dan mempererat tali silaturahmi sesama WNI TKI di luar negeri,” kata Ustadz Arsyad.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCINU Arab Saudi Ir Ahmad Fuad merespon dan mengajak seluruh jamaah untuk datang lagi pada Jumát depan.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Ketua pengajian masjid Indonesia Jeddah Shaleh Maryono mengimbau agar jamaah mengajak sanak famili dan handai taulan untuk mengaji serta mencari ridha Allah dengan mendatangi majelis taklim yang diagendakan rutin Jumat pagi. (Ahmad Thabib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 07 Februari 2018

Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia NU (DPP K-Sarbumusi NU) mengajukan permintaan kepada Menteri ? Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja, Komisi Ombudsman Indonesia terkait Pemutusan Hubungan kerja (PHK) PT Chevron Pasific Indonesia terhadap 750 pegawainya atau setengah dari rencana yaitu sekitar 1.500 pegawai.

Presiden Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Rabu (20/4) menyatakan, pernyataan-pernyataan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas)SKK Migas yang disuarakan oleh Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro bukan memerankan sebagai pembuat kebijakan dan melaksanakan fungsi pengawasan dan penindakan sebagai bagian dari Pemerintah Indonesia yang merdeka dan berdaulat terhadap pelanggaran undang-undang yang dilakukan oleh PT. Chevron.

Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU Sikapi PHK 750 Pegawai Chevron

"Malah sebaliknya, memerankan dan memainkan fungsi sebagai corong dari perusahaan. Pernyataan saudara Elan Biantoro sebagai kepala humas SKK Migas di media sungguh sangat memalukan bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat dan mempunyai peraturan perundang-undangan terkait hubungan industrial," ujar Syaiful.

Berkaitan dengan itu, kata mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu menambahkan, DPP K-Sarbumusi NU menyatakan lima sikap.

Pertama, menuntut kepada Menteri ESDM mengevaluasi kelembagaan SKK Migas terhadap peran dan fungsinya.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, menuntut kepada Menteri ESDM untuk mengevaluasi Kepala Humas SKK Migas yang mengeluarkan pernyataan kontra produktif terhadap situasi hubungan industrial.

Ketiga, meminta kepada Ketua Komisi Ombudsman Indonesia untuk melakukan investigasi atas pelanggaran kebijakan yang dilakukan oleh SKK Migas.

Keempat, menuntut kepada PT Chevron Pasific Indonesia untuk mematuhi dan tunduk terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara berdaulat Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Kelima, menuntut kepada Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas dan menindak dengan tegas atas pelanggaran yang dilakukan oleh PT Chevron Pasific Indonesia.

Syaiful melanjutkan, Sarbumusi NU mengacu pada peraturan perundang-undangan sesuai dengan undang-undang no 13 tahun 2003 pasal 151 ayat 1. "Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja".

Ketentuan tersebut, imbuh Syaiful, dilanjutkan dalam ayat 2, yakni, "Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh".

Dalam hal perundingan dengan serikat pekerja/serikat buruh tidak mencapai kata sepakat maka ketentuan ayat 3 sebagai berikut "Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial".

"Namun demikian, peraturan perundang undangan yang ada di Indonesia yang mengamanatkan agar dibentuk forum LKS Bipartit sebagai komunikasi dan konsulatasi terkait hubungan industrial tidak pernah diindahkan sama sekali oleh perusahaan atau pihak manajemen," paparnya.

Senin (18/4), Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro di Kantor SKK Migas, Jakarta, Chevron Indonesia telah memutus hubungan kerja (PHK) terhadap 750 pegawainya. Jumlah itu setengah dari rencana yaitu sekitar 1.500 pegawai.

Elan menyebutkan, proses PHK sudah dilakukan secara dua tahap dan sejauh ini berjalan dengan baik. Pasalnya, anjloknya harga minyak dunia menjadi salah satu alasan Chevron Indonesia merampingkan organisasinya.

"Kan sudah tahap I early retirement. Tahap II seleksi. Organisasinya dia kecilin, ada sebagian enggak lulus tes. Sebagian dia tawarkan, tetap harus mutual juga. Masing-masing harus setuju. Dari tahap I dan tahap II itu sudah lumayan. Lebih dari setengah yang ditargetkan mereka," jelasnya.

Elan menuturkan, para pegawai Chevron Indonesia yang belum mendapat giliran PHK bagi para pegawai yang memiliki posisi penting di organisasi kepegawaian perusahaan minyak tersebut. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 31 Januari 2018

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Usai melantik 3 pimpinan komisariat pada Februari lalu, pengurus IPPNU kota Bandung komisariat baru. Kali ini sejumlah 15 santri dari pesantren Al-Afifiyah kecamatan Kopo, Kota Bandung, dilantik untuk masa khidmat 2015-2016 di halaman pesantren setempat, Ahad (8/3).

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah

Ketua terlantik PK IPPNU pesantren Al-Afifiyah Wenti Ahdiniyanti mengajak anggotanya supaya bersemangat dalam mengemban amanah organisasi. Ia bertekad kuat untuk mengenalkan IPPNU di tengah masyarakat.

“Ini awal pergerakan kita di IPPNU,” kata Wenti pada pelantikan dan rapat kerja yang dihadiri oleh alumni IPPNU kota Bandung, PCNU kota Bandung, dan juga pengasuh pesnatren Al-Afifiyah Wahyul Afif Al-Ghofiqi.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu Ketua IPPNU kota Bandung Dhilla Nuraeni Az-Zuhri menerangkan, pelantikan PK pesantren Al-Afifiyah tidak lepas dari usaha pengurus IPPNU yang melakukan roadshow konsolidasi ke setiap kecamatan dan pesantren di kota Bandung.

Ribath Nurul Hidayah

“Setelah dibentuk kepengurusan komisariat, maka segera kami lantik agar kepengurusan segera sah dan (kader) makin bersemangat,” terang Dhilla yang bertepatan dengan hari perempuan sedunia.

Menurut Dhilla, komisariat Al-Afifiyah memiliki daya tarik tersendiri. Hampir semua pengurus komisariat ini mempunyai bakat di bidang tarik suara sehingga terbersit dalam pemikiran pengurus IPPNU Bandung akan mengadakan semacam IPPNU Idol suatu saat nanti.

Ia berharap, PK pesantren Al-Afifiyah mampu mengemban amanah. Sehingga, mereka kelak bisa mengembangkan IPPNU di daerahnya masing-masing agar IPPNU lebih dikenal ? oleh para pelajar lain. “Semoga semangat mereka tidak hanya sampai pada hari ini saat dilantik, tetapi sampai mereka bisa meregenerasi kader,” harapnya.

Selama ini, lanjut Dhilla, PC IPPNU kota Bandung mengalami beberapa kendala dalam kaderisasi, sehingga dalam membentuk komisariat pihaknya mendahulukan pesantren yang notabene NU, sampai didukung penuh oleh pengasuh pesantren itu sendiri.

“Untuk kendala di setiap komisariat adalah para kadernya sendiri yang masih belajar untuk berorganisasi. Tapi lambat laun mereka akan terbiasa berorganisasi khususnya ber-IPPNU,” tambah mahasiswi lulusan Universitas Islam Nusantara itu.

IPPNU Bandung akan terus memantau komisariat yang sudah terbentuk. “Hingga apabila setiap komisariat mengadakan kegiatan pihak pengurus cabang sendiri akan terjun langsung memfasilitasi mereka bahkan membantu mereka,” tegas Dhilla. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak

Dalam Kitâb al-Kharâj karya Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari (w. 798 M), sahabat dan murid utama Imam Abu Hanifah, terdapat sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar bin Khattab dan seorang Yahudi tua. Dalam kitab itu diceritakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak

Sayyidina Umar bin Khattab ra melintasi pintu rumah suatu kaum dan menemukan seorang peminta-minta tua yang penglihatannya telah terganggu. Beliau menepuk punggungnya dari belakang dan bertanya: “Tuan dari ahli kitab golongan manakah?”

Ia menjawab: “Yahudi.”

Ribath Nurul Hidayah

Khalifah Umar bertanya lagi: “Apa yang memaksa tuan melakukan apa yang aku lihat ini?”

Ribath Nurul Hidayah

“Aku meminta-minta agar dapat membayar jizyah, memenuhi kebutuhan hidup, dan karena usia tua (sehingga tidak mampu lagi bekerja),” jawabnya.

Khalifah Umar menggenggam lengannya. Beliau membawa laki-laki tua itu pulang ke rumahnya (Umar) danmemberikan sesuatu dari rumahnya kepadanya. Kemudian beliau membawanya kepada penjaga Baitul Mal dan berkata: 

“Uruslahorang ini dan orang-orang yang sepertinya. Demi Allah, kita tidak berlaku adil karena kita telah memakan jerih payah masa mudanya (membayar jizyah), kemudian kita mengabaikannya ketika dia telah mencapai usia tua.”

Lalu Khalifah Umar menyitir sebuah ayat dalam al-Qur’an dan menjelaskan tafsirnya (Q.S. al-Taubah [9]: 60): “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin....” Orang-orang fakir itu adalah kaum muslimin, dan orang ini adalah orang miskin dari golongan ahli kitab.”

Kemudian Khalifah Umar melepaskan beban jizyah darinya dan dari orang-orang yang memiliki keadaan yang sama dengannya. (Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari, Kitab al-Kharaj, Beirut: Darul Ma’rifah, 1979, hlm 126).

Kemurahan hati dan keadilan Sayyidina Umar ra telah masyhur dan banyak diceritakan oleh umat Islam dari generasi ke generasi. Kisah-kisahnya memberikan inspirasi luar biasa, mengandung banyak makna dan arti yang perlu digali lebih dalam. Ia dijuluki al-faruq oleh Nabi Muhammad Saw karena kemampuannya dalam farraqa baina al-haq wa al-bathil (membedakan antara yang hak dan yang batil). 

Ia adalah khalifah kedua setelah Sayyidina Abu Bakar ra dan satu-satunya khalifah yang dimasukkan Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah). Ia menduduki ranking ke-52, di atas Thomas Jefferson, Julius Caesar dan Sigmund Freud. 

Sayyidina Umar menerapkan keadilan tanpa pandang bulu, tidak perduli latar belakang, suku, kedudukan maupun agamanya. Jika orang itu bersalah, Ia akan menghukumnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika orang itu benar, Ia akan mendukungnya sepenuh hati. 

Karena itu, ketika Ia berjumpa dengan pengemis tua Yahudi yang meminta-minta kesana-kemari agar mampu membayar jizyah (pajak dzimmi), memenuhi kebutuhan hidup karena usianya yang telah menua, Sayyidina Umar membawanya pulang, memberinya makan. Kemudian Ia membawanya ke Baitul Mal dan memerintahkan orang yang bertugas untuk mengurus pengemis tua itu, bukan di saat itu saja, tapi selama pengemis tua itu hidup.Tidak berhenti sampai di situ, Sayyidina Umar membuat kebijakan baru, jizyah dihapuskan untuk orang yang keadaanya sama dengan pengemis tua itu.

Ia memandang hal itu tidak adil, ketika kaum dzimmi itu masih muda dan mampu menghasilkan upah untuk membayar jizyah, pemerintah mengambil dan menikmatinya. Kemudian, ketika mereka telah tua dan tak lagi produktif, pemerintah menelantarkannya. Tidak hanya itu, pemerintah masih memaksa mereka untuk membayarnya, tanpa memperdulikan keadaan mereka. 

Hal ini menjelaskan bahwa keadilan dankemurahan hati Sayyidina Umar saling melengkapi dan mengisi satu sama lainnya. Keadilannya berasal dari kemurahan-hatinya dan kemurahan-hatinya berasal dari keadilannya. Karena alasan itu, Ia selalu berhati-hati dalam memutuskan dan memandang sesuatu. Sayyidina Abdullah bin Abbas ra menggambarkan khalifah Umar seperti burung yang selalu waspada di setiap langkahnya dari perangkap dunia—kana ka al-thair al-hidzri alladzi kana lahu bi kulli thariqin syarakan. (Ibnu Jauzi, Manaqib Umar bin Khattab, hlm 153).

Di samping itu, kisah di atas memberikan gambaran bahwa jizyah adalah pajak biasa yang jumlahnya seringkali lebih rendah dari zakat. Diwajibkan hanya untuk yang mampu membayarkannya. Jumhur ulama dari golongan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa la jizyata ‘ala al-faqir al-‘ajiz ‘an ada’iha—tidak ada jizyah untuk kaum dzimmi fakir yang tidak mampu membayarnya. (Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, Riyadl: Darul ‘Alim al-Kutub, juz 13, hlm 219).

Dengan demikian, jizyah adalah pajak yang dibayarkan untuk kemajuan bersama, tidak hanya dinikmati oleh umat Islam, tapi seluruh warga negara yang tinggal di bawah kekuasaan Nabi dan Khulafa’ al-Rasyidin.

Semoga kita pada umumnya dan para pemimpin kita pada khususnya dapat meneladani keluhuran budi dan ketegasan pekerti Khalifah Umar bin Khattab. Wallahu a’lam.

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Senin, 15 Januari 2018

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah - Dinas pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan. Selama 3 (tiga) hari mulai 15 hingga 17 Juni 2016, pesantren ini menjadi lokasi pelaksanaan Pondok Ramadhan Terpadu 1437 H.

Pondok Ramadhan Terpadu ini diikuti oleh 200 orang siswa dari sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK se-Kabupaten Probolinggo. Selama tiga hari tersebut, mereka diasramakan dan mendapat fasilitas makan minum untuk sahur dan buka puasa serta perlengkapan sholat.

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq

Rabu (15/6) sore, Pondok Ramadhan 1437 H ini dibuka oleh Bupati Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari. Pembukaan ini dihadiri oleh A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i dan sejumlah pejabat Pemkab Probolinggo.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Dispendik Probolinggo H Tutug Edi Utomo mengatakan Pondok Ramadhan Terpadu ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat sekolah selama bulan suci Ramadhan.

“Serta tali-temali antara proses dan hasil belajar dengan penilaian spiritual dan sosial peserta didik yang dilakukan oleh guru. Di samping juga sebagai wisata rohani dan wisata pendidikan di Pondok Pesantren Hati,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari mengungkapkan bahwa dalam Pondok Ramadhan Terpadu ini para siswa tidak hanya akan diberi materi agama dan mengaji saja, tapi juga ada narasumber dari unsur kepolisian yang akan menyampaikan tentang hukum dan kasus yang ditangani Polres Probolinggo.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat. Setelah selesai, apa yang didapat harus dibawa dan bagikan pada teman dan lingkungannya. Sebab kalian wajib menjadi agen-agen perubahan, khususnya yang berkaitan dengan kepemudaan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Aneka Lomba Sambut Hari Ibu Pelajar NU Tasikmalaya

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Tasikmalaya menggelar peringatan Hari Ibu, 20-23 Desember 2016, di di Gedung Dakwah Indonesia Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Acara yang dihadiri perwakilan Bakesbangpol dan Dinas Pendidikan setempat ini diawali dengan beberapa penampilan kreasi seni dari IPPNU. Paduan suara dikumandangkan para anggota Pimpinan Komisariat IPPNU Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) pada acara pembukaan.

Aneka Lomba Sambut Hari Ibu Pelajar NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Aneka Lomba Sambut Hari Ibu Pelajar NU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Aneka Lomba Sambut Hari Ibu Pelajar NU Tasikmalaya

Menurut Siti Saidah, ketua pelaksana kegiatan, acara berlangsung selama empat hari dan diisi dengan berbagai lomba, antara lain Pembacaan Teks Pancasila dan Lomba Mewarnai Tingkat TK, RA, serta Lomba Karaoke Lagu Ibu untuk SMA/Sederajat. Total peserta lomba saat ini sudah mencapai 114 orang.

“Acara ini bukan serta merta untuk memperingati Hari Ibu saja, akan tetapi untuk menciptakan sebuah rasa yang tertanam kepada seluruh pelajar untuk selalu mencintai ibu kita di mana pun kita berada,” ujar Siti.

Ribath Nurul Hidayah

H. Tedy perwakilan dari Dinas Pendidikan mengapresiasi kegiatan tersebut, apalagi dalam lomba peringatan Hari Ibu ini ada lomba Pembacaan Teks Pancasila tingkat TK/RA/Sederajat.

Ribath Nurul Hidayah

“Kepada IPPNU untuk mengikutsertakan lomba ini kepada pelajar SD dan SMP, sehingga Lomba ini lengkap dari tingkatan TK sampai SMA,” ucap Tedy.

Ia berharap, IPPNU terdepan dalam kepeduliannya terhadap para pelajar yang ada di Indonesia, dan menjadi kekuatan yang besar untuk mewujudkan Kota Tasik sebagai Kota Pendidikan.

Selain itu, hadir juga Wakil Ketua PC NU Kota Tasikmalaya, Ketua Fatayat NU, Ketua IPNU Kota Tasikmalaya dan para pengurus PAC, PR dan PK IPPNU serta mantan-mantan ketua PC IPPNU Kota Tasikmalaya. (Agum Gumilar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Halaqoh, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Ratusan Muslim NTT Doakan Gaza

Kota Kupang, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus NU dan sejumlah pemimpin ormas Islam di Nusa Tenggara Timur bersama ratusan warga kota Kupang menyayangkan tindakan brutal Militer Israel ke daerah sipil Palestina. Dalam kesempatan buka puasa bersama di aula kediaman Gubernur NTT, Senin (14/4), mereka melantunkan doa untuk perdamaian di Timur Tengah.

Ketua MUI NTT H Abdul Kadir Makarim mengatakan di hadapan tamu undangan, “Kita turut berduka atas apa yang dialami muslim di Gaza. Saat ini, operasi dan serangan Israel seperti hukuman missal bagi warga Gaza yang tidak berdosa.”

Ratusan Muslim NTT Doakan Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Muslim NTT Doakan Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Muslim NTT Doakan Gaza

Ia menilai PBB lamban merespon tindakan agresif Israel terhadap palestina. Pemerintah RI harus berperan aktif terhadap penyelesaian ini. Karena, bagaiamana pun Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia.

Ribath Nurul Hidayah

“Mari kita mendoakan saudara kita. Semoga Allah memberikan pertolongannya,” minta H Kadir kepada para hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut H Kadir, warga Gaza seperti terkurung di penjara di mana Israel sebagai pemegang kunci. Sehingga, ratusan korban tewas di kalangan anak dan wanita. Mereka mengalami luka berat dan luka ringan.

Kendati Gaza dan Palestina begitu jauh dari Indonesia, tetapi kita di sini merasakan pedih dan sakitnya penderitaan saudara-saudara kita di sana. Air mata jatuh menyaksikan anak kehilangan ayah dan ibu. Demikian sebaliknya, ujar H Kadir. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 21 Desember 2017

Ujian Fiqh di Banten Terkait Soal Khilafah Diulang

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam M. Nurkholis Setiawan menegaskan bahwa pihaknya sudah menginstruksikan kepada Kanwil Kemenag Banten agar dilakukan proses revisi soal mata pelajaran Fiqh pada ujian akhir semester (UAS) Madrasah Aliyah. Lebih dari itu, proses ujian yang sudah berlangsung Kamis (03/12) lalu juga diminta agar diulang pelaksanaannya dengan soal baru yang sudah direvisi.

“Saya sudah menginstruksikan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Banten untuk merevisi soal dan mengulang ujian tersebut untuk menghindari resistensi masyarakat yang berkelanjutan,” tegas M. Nurkholis Setiawan, Sabtu (05/12) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Ujian Fiqh di Banten Terkait Soal Khilafah Diulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ujian Fiqh di Banten Terkait Soal Khilafah Diulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ujian Fiqh di Banten Terkait Soal Khilafah Diulang

Daftar pertanyaan dan pilihan jawaban (multiple choice) mata pelajaran Fiqih pada UAS ? yang disusun oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah Negeri (KKMAN) Cilegon disoal karena dinilai mengandung pesan dan konsepsi khilafah yang anti NKRI dan Pancasila.

Ribath Nurul Hidayah

Pertanyaan dimaksud antara lain: secara etimologi kata “khilafah” berarti pengganti, sedangkan menurut istilah adalah… a. Struktur pemerintahan yang pelaksanaannya diatur berdasarkan UUD 1945; b. Struktur pemerintahan yang pelaksanaannya diatur berdasarkan syari’at Islam; c. Struktur pemerintahan yang pelaksanaannya diatur berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa; d. Struktur pemerintahan yang pelaksanaannya diatur berdasarkan kekuasaan pemerintah; e. Struktur pemerintahan yang pelaksanaannya diatur berdasarkan keadilan dan musyawarah.

Ribath Nurul Hidayah

Dari hasil ? verifikasi yang dilakukan Kanwil Kemenag Banten, diketahui bahwa ? soal disusun berdasarkan `silabus Fiqh Kelas XII KTSP 2006 dan buku ? FIQH MADRASAH ALIYAH ? Kelas XII, yg diterbitkan oleh Departemen Agama RI 1997/1998. Tim MGMP Fiqh KKMAN 1 CILEGON selaku penyusun soal mengatakan bahwa proses penyusunan murni berdasarkan silabus dan referensi resmi dan tanpa bermaksud memasukkan pemahaman yang anti ? Pancasila dan NKRI.?

Akan hal ini, M. Nurkholis menjelaskan bahwa pembahasan khilafah memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sejarah Islam. Namun demikian, pembahasan khilafah tidak boleh diajarkan dalam kerangka memperhadapkannya dengan ? Pancasila dan NKRI dalam konteks Indonesia.

Penerapan Kurikulum 2013 (K-13) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab, lanjut M. Nurkholis menjadi jawaban atas persoalan ini agar kejadian yang sama tidak terulang. Selain itu, M. Nurkholis juga akan mengevaluasi proses penyusunan soal, di mana Kelompok Kerja Madrasah (KKM) tidak lagi akan menjadi final drafter, tapi sebagai supporting drafter soal ujian. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Desember 2017

Doa Mensos Khofifah untuk Pernikahan Kahiyang dan Bobby

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengajak keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) untuk turut mendoakan putri Presiden Joko Widodo Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution yang pada Rabu (8/11) kemarin melangsungkan akad dan resepsi pernikahan di Solo, Jawa Tengah.

Doa Mensos Khofifah untuk Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Mensos Khofifah untuk Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Mensos Khofifah untuk Pernikahan Kahiyang dan Bobby

"Ibu-ibu di kesempatan yang sangat baik dan penuh barokah ini mari kita memanjatkan doa bersama untuk putri Bapak Presiden yaitu Mbak Kahiyang Ayu dan Mas Bobby Nasution. Semoga mereka dapat membangun keluarga yang tenang,  tenteram, bahagia dan sejahtera. Sakinah, mawaddah, warahmah," ujar Mensos seraya memimpin doa dengan membaca surat Al-Fatihah. 

Usai meninjau pencairan PKH, Mensos menuju ke resepsi pernikahan Kahiyang. Sepanjang jalan menuju lokasi resepsi yang ditempuh dengan jalan kaki sekira 150 meter, perempuan nomor satu di Kementerian Sosial ini mendapat sapaan dari warga sekitar. 

Saat mendapati sang menteri berjalan tanpa pengawalan, warga mendekat dan mengajak berfoto bersama. Suasana riuh dan ramai saat Mensos dengan sabar melayani setiap warga yang berdesakan ingin berfoto bersama. 

Demikian pula saat Mensos berada dalam antrean tamu yang akan memasuki lokasi resepsi, Mensos diserbu tamu undangan untuk berswafoto. 

Ribath Nurul Hidayah

"Alhamdulillah bisa bertemu langsung dengan Ibu Khofifah. Semoga sehat selalu ya bu. Sukses memimpin Kementerian Sosial," ujar seorang warga, Adinda usai berfoto dengan Khofifah. (Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

Indonesia Jadi Model Pemberdayaan Perempuan Negara Muslim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan Indonesia menjadi model bagi beberapa negara Muslim, salah satunya Afghanistan, ? yang berhasil menyukseskan dan memberdayakan perempuan.

"Kami menjadi model bagi negara Muslim lainnya yang mungkin masih belum berhasil membawa perempuan dan anak-anak, mereka boleh datang dan belajar di Indonesia. Dalam waktu dekat, kami mulai survei ke Afghanistan," katanya di rumah dinasnya, Rabu malam.

Indonesia Jadi Model Pemberdayaan Perempuan Negara Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Jadi Model Pemberdayaan Perempuan Negara Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Jadi Model Pemberdayaan Perempuan Negara Muslim

Yohana mengaku sudah bertemu dengan Menteri Perempuan Afghanistan untuk dimintai bantuan dan akan mengawali survei Februari nanti dalam membantu pemberdayaan perempuan dan anak-anak di negara itu.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatannya menghadiri rapat pertama UN Women tahun lalu, Yohana mengatakan kekerasan perempuan harus dihentikan, terlebih jika melihat kaum ekstremis yang menjadikan perempuan dan anak-anak korban.

"Kami mengadakan pertemuan secara rutin dan mereka dilibatkan berbagai program dari kami terutama dalam menekan angka kekerasan perempuan dan anak-anak serta memberdayakan perempuan," kata Yohana.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan Kementerian PP & PA terus fokus pada kesetaraan gender, apalagi Indonesia termasuk 10 besar negara representatif yang mengedepankan perempuan menurut UN Women.

"Kami juga berusaha mengantar perempuan Indonesia ke depan menuju gender equality pada tahun 2030," kata wanita kelahiran Manokwari ini. (Antara/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, News, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 16 November 2017

Kiat Komunitas Muslim Bertahan di Amerika Serikat

Upaya meyakinkan bahwa agama Islam membawa pesan kebaikan harus senantiasa didengungkan. Berikut catatan Achmad Murtafi Haris, MFil.I yang tengah menimba pengalaman sebagai research scholar di Hartford Seminary Connecticut USA. Selama hampir empat bulan ia melakukan kunjungan ke negara Paman Sam.

Terkait keberadaan atau kehadiran Islam di Amerika terdapat versi yang mengatakan bahwa Islam telah hadir sebelum kedatangan Christopher Columbus pada abad ke-15. "Sementara versi yang umum diketahui orang adalah bahwa Columbus orang yang pertama menemukan benua Amerika ketika diperintahkan oleh Raja Philip II untuk mencari kawasan perdagangan baru," kata bapak kelahiran Surabaya, 4 Maret 1970 ini.

Terlepas dari kemungkinan Islam telah hadir sebelum Columbus, di mana Islam setelah Rasulullah wafat dengat cepat melesat sampai ke Eropa dan bertahan di Spanyol lebih dari tujuh abad. Di mana dimungkinkan dalam rentang waktu itu ada yang berlayar ke dataran Amerika, namun sejarah kontemporer menunjukkan minimnya imigran muslim jika dibandingkan yang lain.

Kiat Komunitas Muslim Bertahan di Amerika Serikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiat Komunitas Muslim Bertahan di Amerika Serikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiat Komunitas Muslim Bertahan di Amerika Serikat

"Setidaknya dalam Musium Imigrasi yang ada di Ellis Island tidak nampak tayangan kehadiran warga muslim," kata Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nashr (LTN) NU Jatim ini. Yang nampak adalah mayoritas warga Eropa dan Tionghoa. Selain itu terdapat warga Sikh India dengan ciri khas udeng sebagai penutup rambutnya.

"Dengan demikian bisa dipastikan bahwa kedatangan umat muslim atau warga Arab terjadi pasca Perang Dunia II," kata dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Surabaya ini. Yaitu tatkala Amerika sebagai negara menjajikan lapangan kerja yang bagus bagi siapa saja, lanjutnya. Tidak mengherankan jika jumlah umat Islam Amerika terbilang kecil yaitu sekitar tujuh juta sesuai hitungan Hartford Seminary.

"Angka tersebut bukanlah data resmi pemerintah lantaran KTP di Amerika tidak mencantumkan agama sehingga untuk mengetahui jumlah penganut agama tertentu perlu penelitian tersendiri," tandas alumnus jurusan Shariah wal-Qanun, Fakultas Shariah wal-Qanun Universitas al-Azhar Cairo ini.

Melawan Stigma Buruk

Ribath Nurul Hidayah

Citra umat Islam amatlah buruk pasca tragedi 11 September 2001. Kejadian yang meruntuhkan dua gedung kembar WTC di New York itu serta merta menimbulkan stigma negatif terhadap umat Islam. "Gara-gara kejadian itu mereka harus menghindari kegiatan berkumpul di mana pun, seperti shalat berjamaah, dan sebagainya," terangnya. Untuk memulihkan citra, umat Islam berupaya mengubah pandangan buruk terhadap Islam.Yaitu pandangan yang mengidentikkan Islam dengan kekerasan.

"Hal ini sungguh bukanlah hal yang mudah melihat banyaknya konflik terjadi di negara-negara Islam," sergahnya. Ada dua kata yang menjadi bahan propaganda anti-Islam di Amerika, yaitu: Jihad dan Syariah. "Jihad diasosiasikan sebagai ajaran dalam Islam yang mengajak umatnya berperang secara militer," ungkap Haris. Sedangkan syariah diasosiasikan sebagai ajaran dalam Islam yang mengandung hukuman yang menakutkan yang harus diterapkan meski hal tersebut bertentangan dengan tradisi setempat, lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Dua hal ini dijawab oleh umat Islam Amerika dengan menampilkan Islam sebagai agama toleran dan bersahabat dengan agama lain. Dua hal tersebut juga menuntut adanya reinterpretasi terhadap teks-teks yang berpotensi mengandung nilai intoleransi dalam Islam. Untuk pemahaman teks tidak lagi bisa terlepas dari konteks. Jika dalam salah satu hadits disebutkan, bahwa manakala berjumpa dengan kaum kafir maka? fadltarruhu ila adlyaqihi, maka persempitkanlah ruang mereka. Hadits semacam ini tidak mungkin diterapkan secara tekstual. "Sebab jika demikian justru akan merugikan umat Islam yang minoritas," terang alumnus strata dua konsetrasi Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Bagaimana mungkin minoritas memper sempit ruang mayoritas atau penganut Kristiani di Amerika? Kecenderungan yang terjadi adalah sebaliknya, mayoritas mempersempit peluang minoritas. Dalam hal ini, apalagi pasca kejadian 9/11, terdapat sekolompok warga Amerika yang mendeskriminasikan mereka di banyak peluang. "Bahkan ada kelompok anti-Islam yang menginginkan umat Islam diusir dari Amerika," kata mantan koresponden Majalah Gatra untuk Timur Tengah ini menyanyangkan.

"Untuk itu pemaknaan ulang terhadap ajaran khususnya terkait hubungan antara muslim dan non-muslim menjadi sebuah keniscayaan," tandasnya. Hal ini bisa dilakukan dengan meletakkannya pada sudut pandang yang seimbang antara kondisi sebagai mayoritas dan minoritas. "Jika tidak, maka akan terjadi sikap yang merugikan umat Islam sendiri terutama ketika mereka berada pada posisi minoritas," terangnya.

Relasi hubungan muslim dan non-muslim haruslah diletakkan dalam konteks situasi yang netral atau damai. Hal ini berbeda dengan situasi di masa Rasulullah hidup atau di awal kedatangan Islam yaitu era peperangan dan era penindasan penguasa terhadap rakyat kecil.

"Sebagai kelompok minoritas, umat Islam Amerika terlibat aktif dalam dalam kegiatan dialog antar umat beragama dan kegiatan pluralism," katanya. Sebagai warga negara yang baik, mereka terlibat dalam kegiatan bakti negara (civic responsibility) seperti yang dilakukan oleh Jaye Starr, seorang muallaf lima tahun yang lalu yang juga mahasiswa S2 di Hartford seminary, yaitu proyek penanganan pengungsi.

Umat Islam Amerika juga tidak segan-segan meleburkan diri dengan mayoritas Kristen Amerika dan mengekspresikan cinta kasih mereka. Seperti melalui kaos yang digunakan oleh seorang pemuda Muslim bertuliskan: "I love Jesus". Suatu hal yang seolah bertentangan dengan akidah Islam, padahal tidak. "Sebab selain untuk menunjukkan hubungan baik lintas agama, Jesus adalah Nabi Isa yang memang dicintai oleh orang Islam," ungkapnya. Sehingga mencintai Jesus tidak harus dimaknai sebagai mempercayai Jesus sebagai Tuhan, tapi dengan makna yang sesuai keyakinan Islam, lanjut kandidat doktor UGM ini.

Untuk mempromosikan Islam damai, dalil-dalil pro perdamaian baik dari al-Quran maupun? Hadits sering mereka tampilkan. Seperti bahwa Islam berarti damai; tidak ada paksaan dalam beragama; dan penghargaan terhadap budaya lokal. "Untuk yang terakhir, ditampilkan kisah Rasulullah ketika sedang di rumah melihat ada sekelompok pemuda Afrika yang bernyanyi dan menari dan Siti Aisyah pun ikut melihat di belakang beliau dari balik jendela," katanya. Rasulullah berkomentar, bahwa ini adalah hari raya mereka dan bahwa semua bangsa memiliki hari raya. Tanggapan Rasulullah ini menjadi landasan akan penghargaan terhadap budaya asing atau lokal dan pengakuan terhadap keanekaragaman. "Hal ini tercantum dalam konsep pergaulan warga muslim Amerika," pungkas peneliti Centre for Social Research and Advocacy (CeSRA) Surabaya ini. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 14 November 2017

IPNU Sukoharjo Siap Perbanyak Komisariat di Sekolah

Sukoharjo, Ribath Nurul Hidayah. Usai terpilih dalam Konfercab PC IPNU-IPPNU KabupatenSukoharjo, Ahad (25/1) kemarin, ketua terpilih IPNU Sukoharjo Atsani Imam Ghozali mengatakan pihaknya akan tetap mempertahankan beberapa program kegiatan yang sudah berjalan dengan baik, serta menginisiasi pendirian komisariat di beberapa sekolah.

IPNU Sukoharjo Siap Perbanyak Komisariat di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Sukoharjo Siap Perbanyak Komisariat di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Sukoharjo Siap Perbanyak Komisariat di Sekolah

“Program kami ke depan, di antaranya tetap menyelenggarakan rutinan Germas, sebuah majelis kajian dan sholawat, yang telah dirintis pada kepengurusan sebelum kami. Insyallah kami juga akan berjuang dalam pendirian komisariat sekolah di Sukoharjo,” ungkap pemuda yang akrab disapa Sani itu.

Sani yang akan berduet bersama Nindia Aswaranti sebagai Ketua IPPNU Sukoharjo menambahkan, dalam mewujudkan programnya tersebut, pihaknya akan terus berkomunikasi dengan pengurus NU dan banom lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami tak akan sukses melangkah tanpa dukungan. Maka dari itu, kami selalu menantikan support dan motivasi dari berbagai pihak agar IPNU Sukoharjo menjadi lebih baik,” ujar dia.

Sementara itu, pihak PCNU Sukoharjo berharap, kepengurusan IPNU-IPPNU baru ini dapat lebih bergerak di kalangan pelajar. Menurut Sekretaris PCNU Sukoharjo, Lasimin, sasaran yang terdekat yakni untuk menjaring putra-putri pengurus NU.

Ribath Nurul Hidayah

“Yang paling penting, saat ini, yakni bagaimana menggandeng para pelajar, yang amaliahnya NU dan ortunya NU. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mendata dan mengajak mereka untuk bergabung,” papar Lasimin.

Hal lain terkait hubungan antara NU dan IPNU-IPPNU, agar selalu mengkomunikasikan program yang ada. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

Pontianak, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Kalimantan Barat menggembleng para kadernya melalui Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) II di Pondok Pesantren Darul Faizin, jalan Danau Sentarum Kota Pontianak, Kalbar, 12-15 Juni 2014. Para peserta didorong untuk setia membela tanah airnya.

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kalbar Gembleng Kader Setia NKRI

"Dengan pengkaderan ini akan muncul kader-kader militan yang siap menjaga keutuhan NKRI dan Islam Ahlussunah wal Jamaah, sebagai Islam rahmatan lil alamin," terang Ketua PW GP Ansor Kalbar M Nurdin, Senin (16/6).

Menurutnya, PKL merupakan kegiatan wajib bagi pengurus PW GP Ansor, sebagai proses pengkaderan di tingkat wilayah. Subro, Sekretaris PW GP Ansor Kalbar, mengatakan, ada 33 orang peserta yang dibaiat untuk tetap setia kepada NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

Subro menambahkan, ke-33 peserta tersebut berasal dari pengurus Pimpinan Wilayah GP Ansor Kalbar, dan utusan dari beberapa Pimpinan Cabang GP Ansor, antara lain Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya.

Kegiatan PKL ini mendapat sambutan positif dari pengasuh Pesantren Darul Faizin, Ust. Rudhy Abdullah Faiz. Ia berharap, dengan program ini hubungan antara GP Ansor dan pondok pesantren terus berlanjut dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya generasi mudanya.

Ribath Nurul Hidayah

Ungkapan serupa disampaikan Faisal Attamimi, instruktur PKL. Ia menekankan pentingnya kaderisasi bagi anggota GP Ansor di seluruh Indonesia.

"Ini juga menjadi syarat bagi sahabat-sahabat untuk menjadi pengurus GP Ansor dan mendapatkan pengesahan dari pimpinan pusat. Kalau ada pengurus belum ikut kaderisasi maka SK kepengurusannya tidak akan dikeluarkan," pesan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kepada para peserta PKL. (Yadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, RMI NU, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah?

Pengurus Ranting Muslimat NU Desa Karangrejo mengadakan pengajian "khotmil Quran" sebulan sekali. Bulan ini dilaksanakan di masjid Darul Falah, lingkungan Karang Anom, kelurahan Karangrejo, kabupaten Banyuwangi pada Jumat (2/12) siang.?

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran setiap orang satu juz, dilanjutkan dengan acara tahlil, pencerahan rohani dan program muslimat yang disampaikan ketua.

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Menurut Ketua Ranting Muslimat NU karangrejo, Hj. Un Istianah, kegiatan ini penting dilakukan sebagai wadah silaturahmi dan memanjatkan doa bersama.

"Jujur merasa bangga atas kegiatan rutinan ini. Tiap bulan mengalami peningkatan anggota. Awalnya anggota kita berjumlah 90 dan saat ini kehadiran peserta mencapai 110 orang. Ini wadah bagi kita untuk silaturahmi," ungkapnya.

Dia menambahkan, selain wadah silaturahmi di sini juga sebagai peningkatan kualitas dan kuantitas amal sholeh. Selain adanya pembacaan yasin tahlil juga ada siraman rohani setiap bulan.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pebutup sambutannya, ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah guna keselamatan saudara dan bangsa.

Salah seorang anggota Muslimat, Saimah, merasa bahagia mengikuti rutinan tiap bulan sekali. Menurut warga Karangrejo, kegiatan tersebut sebagai ranah menambah amal dan ilmu di dalamnya. (M. Sholeh kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 12 Oktober 2017

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Tanger, Ribath Nurul Hidayah. Warga NU Maroko menggelar rangkaian acara peringatan hari lahir (Harlah) ke-92 NU yang jatuh pada bulan Rajab ini. Kegiatan berpusat di kota Tanger dan diawali dengan berziarah ke makam ulama Syekh Ibnu Ajibah yang berada di wilayah Gimmiche, sekitar 30 kilometer ke timur dari? kota Tanger, Maroko.

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Syekh Ibnu Ajibah adalah seorang ulama besar pada abad ke-18. Selain sebagai seorang sufi, ia juga terkenal sebagai seorang penulis yang tekun. Buah pemikirannya hingga saat ini masih dinikmati oleh para pelajar dan menjadi rujukan warga setempat.

Durrotul Yatimah, panitia penyelanggara dari Pengurus Cabang Istmewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko, mengatakan, kota Tanger dipilih sebagai pusat peringatan Harlah kali ini lantaran memiliki jejak sejarah bagi NU di negara bermadzhab Maliki ini. Hal ini sekaligus menjadi momen napak tilas, mengingat pada 17 September 2011, KH Maimun Zubair meresmikan berdirinya PCINU Maroko di kota tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Sebenarnya rangkaian acara Harlah ini beragam, Senin lalu (11/5) kami adakan seminar tentang ekonomi syariah di KBRI? Rabat, lantas ziarah wali Ibnu Ajibah pada Jumat pagi (15/05),? disusul dengan diskusi pada sorenya dan ditutup ceramah isra mi’raj malam harinya," tuturnya, Jumat.

Diskusi yang digelar usai ziarah itu diisi dengan refleksi harlah NU yang dipandu oleh Sekretaris PCINU Maroko Fairuz Ainun Naim. Diskusi ini difokuskan pada perenungan kembali atas apa yang sudah dicapai NU di usianya yang sekarang, dan apa yang mesti dicapai NU di masa depan.

Ribath Nurul Hidayah

"Di sini anak-anak muda NU Maroko diharap mampu memberikan kontribusi positif karena mereka nanti yang akan menerima estafet kepengurusan NU," ujar Durrotul Yatimah.

Diskusi berlangsung hangat karena antusiasme peserta dalam mengungkapkan kegelisahan-kegelisahan mereka selama ini mengenai NU. Disepakati bahwa model kaderisasi yang cocok untuk massa NU adalah kaderisasi yang sifatnya kultural dan tidak menekankan pada militansi seperti yang dipilih oleh kebanyakan ormas.

Setelah jeda makan malam, kemudian dilanjutkan dengan ceramah memperingati Isra Miraj oleh Katib Syuriah PCINU Maroko Rifqi Maula dengan mengetengahkan topik kesabaran Nabi. Di akhir ceramahnya, tak lupa lulusan institut talim Atiq Imam Nafi Tanger ini memompa kembali semangat para kader yang lebih muda untuk terus belajar dan berkarya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Sholawat, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 September 2017

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memastikan akan menghadiri prosesi pelantikan presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Senin, 20 Oktober. Hal ini disampaikan setelah menerima undangan yang secara langsung diantar oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan bersama rombongan.

“Insyaallah saya datang,” kata Kiai Said dengan nada meyakinkan.

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden

Zulkifli menjelaskan pelantikan presiden kali ini merupakan upaya untuk menjalin persatuan dan langkah maju berdemokrasi di Indonesia. Untuk pertama kalinya pelantikan kali ini akan dihadiri oleh presiden terpilih dan mantan presiden yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju. 

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said mengapresiasi perkembangan demokrasi di Indonesia yang bisa berjalan dengan baik. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, negara lain bisa belajar berdemokrasi di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

“Kalau belajar agama kita ke Timur Tengah, tetapi mereka harus belajar kehidupan berbangsa dan bernegara dari Indonesia,” kata Kiai Said yang merupakan lulusan doktor dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Kestabilan demokrasi di Indonesia salah satunya karena adanya peran ormas Islam, yang menjadi perekat dan dan menjaga kekompakan berbangsa dan bernegara. Karena itu, ia berharap, negara memberi perhatian terhadap ormas.

Zulkifli Hasan setuju dengan pernyataan dari Kiai Said tersebut dan akan memfasilitasi ormas untuk menyampaikan aspirasinya. 

“MPR akan memfasilitasi dialog-dialog kebangsaan, seperti amandemen UU Pilkada,” kata mantan Menteri Kehutanan ini. 

Kedua tokoh tersebut juga prihatin dengan keberadaan ormas Islam yang menjalankan dakwah dengan cara-cara kekerasan, yang malah menimbulkan citra negative terhadap umat Islam. 

Bendahara PBNU H Bina Suhendra dalam kesempatan berharap MPR membersihkan nama Gus Dur yang dianggap oleh sebagian orang lengser karena korupsi. Dalam hal ini Zulkifli menegaskan, semua presiden Indonesia terhormat. Semua foto mantan presiden berjajar terpasang rapi di Istana. 

Hadir menemani Zulkifi Hasan wakil ketua MPR Oesman Sapta, EE Mangindaan, dan Hidayat Nur Wahid. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Budaya, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 Agustus 2017

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Judul: Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar

Penulis: Andre Moller

Tahun terbit: September, 2005

Halaman: xi+309

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosiologi Wulan Poso Wong Jowo

Penerbit: Nalar, Jakarta

Peresensi: Abu Khaer

Ribath Nurul Hidayah

‘Bapak Antropolog’ Indonesia, Koentjaraningrat, sebagaimana dikutip oleh Ceprudin (2010), pernah melukiskan mengenai kegiatan Ramadhan di Jawa dengan menyatakan “orang Jawa senang mencari kesusahan dan menderita ketaknyamanan dengan sengaja untuk tujuan agama.”

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pandangan Guru Besar Antropologi salah satu universitas negeri tersebut, memandang bahwa kesusahan dan penderitaan menjalankan ‘adat’ religius bagi masyarakat Jawa, justru dipandang sebagai kesenangan pribadi, bahkan sebenarnya lebih tepat lagi jika ia mengatakan sebagai suatu kebahagiaan tersendiri, termasuk ketika menyambut, melaksanakan, dan meneruskan tradisi agung umat Islam, shaum Ramadhan. Istilah shiyam ataupun shaum, bukan ‘barang’ atau ‘wacana’ baru bagi orang Jawa. Terlepas dari perbedaan makna shiyam atau shaum dan puasa, orang Jawa lebih memilih istilah sendiri dengan menggunakan istilah wulan puasa.

Bagi umat Islam, tak terkecuali di Jawa, percaya bahwa dengan menahan lapar selama satu bulan, ia akan mendapatkan ridho Allah. bagi orang Jawa, puasa, tirakat, bertapa, sudah menjadi adat tradisi yang berlangsung  turun-temurun sejak nenek-moyang dulu. Salah satu contoh, bagaimana puasa telah mengakar dalam kehidupan orang Jawa seperti tercantum dalam Serat Wulang Reh, “Dadiyo lakunireku, cegah dhahar lawan guling, lan aja asukan-sukan, anganggowa sawatawis, ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.” Orang Jawa sangat menjaga dan terus berusaha meningkatkan kualitas rohani. Seluruh nasihat dalam peribahasa Jawa yang ribuan itu pun, posisinya lebih sebagai ‘’fatwa rohani’’. Bukan rumus perhitungan untuk menyelesaikan persoalan praktis keduniawian, melainkan ajakan untuk menjalankan puasa dan tirakat setiap hari, sepanjang hayat. Jika direnungkan, makna dari cegah dhahar lawan guling, ana sethithik dipangan sethithik, ya jangane ya segane, adalah upaya untuk mengolah dan menata dunia batin manusia.

Puasa dan tirakat di Jawa memang berat, karena cenderung dilakukan setiap hari, setiap saat. Namun, seperti halnya orang yang telah terbiasa memikul beban berat, manakala benar-benar mendapat cobaan (beban kehidupan nyata) tentu akan lebih kokoh, tawakal, dan ikhlas menerimanya. Dengan demikian, beban hidup itu jadi terasa ringan.

Maka tidak mengherankan jika puasa yang dimaknai sebagai upaya pembersihan diri banyak diamalkan orang Jawa sebelum ajaran shiyam Ramadhan diperkenalkan oleh ajaran Islam. umat Islam di Jawa jauh-jauh hari menjelang bulan Ramadhan sudah melakukan ritus-ritus. biasanya diawali sejak bulan Ruwah atau roa (Syakban). Di bulan Ruwah, umat Islam menyibukkan dengan kegiatan atau pekerjaan yang memungkinkan diselesaikan (dipadatkan) pada bulan itu. Di Semarang ada Dugderan yang sangat terkenal dan erat kaitannya dengan Ramadhan di Jawa. Bahkan, dihampir seluruh wilayah pulau Jawa, terutama pedesaannya, pada pertengahan bulan roa, di malam harinya ramai-ramai mengadakan acara nisfu sya’banan, suatu ritus untuk berupaya semoga buku amal perbuatan manusia selama satu tahun di tutup dengan indeks prestasi ke-sholeh-an sebelum menghadapi ‘bulan panen’ amal kebajikan Ramadhan.

Lebih jauh lagi, seiring dengan perkembangan budaya Jawa aksesoris menjelang Ramadhan ada yang menggunakan secara simbol “politis”. Tujuan politis pada bulan Ramadhan dapat dipahami dalam konteks pemikiran yang menganggap Ramadhan sebagai sebuah “momentum”-nya umat Islam. Termasuk di dalamnya adalah kontroversi hisab-rukyat dalam menentukan satu syawal pun ikut mewarnai. Meskipun tidak terjadi kontras begitu serius.

Hal yang masih kontroversi dalam ritus menjelang Ramadhan yaitu nyekar. Nyekar adalah kegiatan berkunjung dan membersihkan makam-makam orang tua atau sanak saudara yang telah terlebih dahulu menghadap kehadirat Illahi biasanya dengan membawa bunga tujuh rupa (umba rampe) untuk ditaburkan di makam dan pembacaan do’a tahlil.  Pro-kontra ini terjadi antara Islam tradisional (pro) dan modernisme (kontra). Bagaimana pun juga umat Islam Jawa mayoritas percaya dan yakin terhadap nyekar sebagai bentuk lain dari perwujudan ziarah kubur, yang bertujuan ketika memasuki bulan Ramadhan diri dalam keadaan suci dan untuk ‘sekedar berusaha’ meringankan beban ukhrowi keluarganya yang telah wafat.

Memasuki bulan Ramadhan menurut orang Jawa harus benar-benar suci secara komprehensif, baik lahir maupun bathin. Dimulai dengan bebersih diri, beranjak sampai skup bebersih lingkungan, dimana ada tradisi bersih lingkungan. Di bulan Ramadhan, lingkungan harus bersih dari kotoran sampah dan juga dipahami bersih dari perbuatan amoral. Karena dianggap dalam bulan ramadhan lebih mengganggu aktifitas berpuasa.

Sebelum berpuasa, umat Islam pada malam hari disunnahkan untuk makan sahur. Alunan ‘musik’ ensambel perkakas dapur yang dimainkan anak-anak atau ta’mir mesjid yang mengumandangkan agar menyegerakan bersahur mengakibatkan suasana menjadi riang dan saling bergotong royong meski ala kadarnya menjadi semakin kuat, tak seperti malam-malam biasa. Pada siang harinya segala lapisan strata sosial, mulai anak-anak sampai dewasa, menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an (Tadarusan). Menjelang sore, sebagian ibu-ibu sibuk mempersiapkan menu untuk berbuka puasa, kaum remaja dan anak muda jalan-jalan sore (JJS) dengan berbagai ragam niatnya, dengan tertib menunggu waktu ifthor tiba.

Di malam hari selesai sholat Isya’ dilanjut dengan sholat tarawih. Sholat tarawih merupakan ritus paling penting sepanjang bulan Ramadhan. Dalam penentuan jumlah raka’at pun disini terjadi perbedaan antara Islam tradisional dan modernis. Meski akhir-akhir ini perdebatan itu sudah mulai mencair.

Malam-malam khusus yang diperingati pada bulan Ramadhan juga ikut meramaikan belantika wulan puasa Jawa. Di antaranya malam Lailatul Qodar dan Nuzulul Qur’an. Bisanya diisi dengan pengajian-pengajian yang berkaitan dengan turunnya al-Qur’an. Umat Islam dan Orang Jawa khususnya, percaya bahwa malam itu penuh dengan berkah dan kemuliaan dibanding dengan seribu bulan.

Ritus yang tidak kalah penting menurut orang Jawa yaitu I’tikaf. I’tikaf tidak begitu populer, biasanya kegiatan i’tikaf dilakukan pada hari-hari ganjil sepuluh hari akhir bulan Ramadhan. Ritus ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad sebagai sarana untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pada hari terakhir menjelang bergantinya bulan Ramadhan ke bulan Syawal (Idul Fitri) untuk menyempurnakan ibadah puasanya umat islam diwajibkan untuk berzakat fitrah (kesucian). Datangnya hari raya Idul Fitri itu diakhiri dengan berbuka puasa hari terakhir bulan Ramadhan dengan ditandai pemukulan beduk di musholla dan masjid setelah ada pengumuman resmi dari Pemerintah.

Pada malam hari ini umat muslim merayakan dengan sangat meriah. Paling banyak dilakukan adalah Takbiran. Ada yang melakukannya dengan sambil keliling kampung dengan menggemakan koor Takbir dengan berulang-ulang sambil membawa lampu ‘oncor’ yang terbuat dari bambu. Tua, muda, perempuan, laki-laki tumpah-ruah sama-sama memeriahkan malam hari ‘kemenangan’ Hari Raya Idul Fitri ini. Pagi harinya umat muslim berbondong-bondong menuju ke mesjid untuk melaksanakan Shalat Id. Tepatnya hari ini tanggal 1 syawal.

Selesai Sholat Id, umat Islam Jawa bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Tujuannya agar dosa sesama manusia selama berinteraksi pada hari itu bisa diampuni Allah. Setelah merasa lega dan puas bermaaf-maafan serta silaturahmi pada hari itu juga dilanjutkan dengan kumpul bareng keluarga sambil menyantap opor ayam dan ketupat bersama-sama keluarga. Acara Hari kemenangan lumrahnya diakhiri dengan kembali nyekar ke pekuburan keluarga. Nyekar disini substansinya sama dengan nyekar menjelang Ramadhan. Hanya bedanya ini dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan tentunya dengan busana pakaian yang baru dibeli.

Demikian gambaran Ramadhan berikut dengan aksesoris ritus yang dilakukan orang Jawa. Meskipun dari sisi materiil orang Jawa harus menyediakan lebih dibanding bulan biasanya, tapi semua itu tertutupi dengan senangnya kedatangan bulan suci Ramadhan.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karya penulis Swedia, Andre Moller ini menarik untuk kita renungkan terutama dalam momen-momen Ramadhan. Buku ini tidak melihat puasa semata-mata dari aspek teologis-normatif, tetapi lebih dari itu, pelaksanaan ibadah puasa dalam buku ini dilihat dari aspek aksesoris yang mengitarinya dan membuat ramadhan menjadi lebih meriah dari bulan-bulan lainnya.

*Koordinator social Karang Taruna PelitaIndonesia Banyuputih Wringin Bondowoso Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 21 Juli 2017

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

Jakarata, Ribath Nurul Hidayah. Lebih dari seribu calon pemudik memadati Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta ? Pusat, Senin (6/8). Mereka berbondong mengambil tiket pulang dengan arah tujuan bervariasi di sepanjang Pulau Jawa.

Pengambilan tiket ini merupakan tindak lanjut peserta mudik setelah pengisian formulir pendaftaran yang dibuka sejak Jumat (27/7). Dengan membawa bukti nomer tiket yang telah diterima, mereka akan mendapatkan kursi bus yang akan diberangkatkan pada 12 Agustus 2012 nanti.

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Pemudik Serbu Tiket Mudik Bareng NU

“Mengingat banyaknya peserta, panitia punya kebijakan, penukaran tiket dilakukansecara bertahap. Kita utamakan dari trayek paling jauh terlebih dahulu,” ujar Mujahidin, Kordinator Mudik Bareng NU 1433 H.

Ribath Nurul Hidayah

Program yang digelar PBNU melalu Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) ini menyediakan 26 bus mudik. Dengan jumlah tersebut, kira-kira 1.400 pemudik akan mendapat kesempatan mudik bareng NU secara gratis.

Ribath Nurul Hidayah

PP LTMNU telah menyiapkan 99 masjid sebagai posko mudik yang membentang dari Merak hingga Banyuwangi. Ini berarti para pemudik berkesempatan mendapatkan sarana istirahat lebih nyaman. Apalagi, selain melepas lelah, mereka yang mayoritas warga Nahdliyin ini dapat melaksanakan sembahyang dengan lebih tenang dan khusuk.

“Motto kami adalah mudik nyaman, aman, sampai tujuan,” tandas Mujahidin.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 27 Juni 2017

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I)

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Berat badan Hakam Mabruri cuma 45 kg dan tinggi badannya 160 cm. Sementara Rofingatul Islamiah 45 kg dengan tinggi 155 cm. Namun, berat dan tinggi badan bukan patokan besar dan tidaknya nyali. Pasangan suami istri itu bernyali besar. Mereka hendak berkeliling dunia tanpa uang sepeser pun dengan mengendarai sepeda.?

Mereka akan bersepeda melewati beberapa negara, mulai Singapura, Malaysia, Thailand, Neval, India, Yordania, Israel, Mesir, Sudan, Arab Saudi. Di negara terakhir tersebut, Hakam masih berpikir untuk mengunjungi beberapa negara tetangga Arab. Atau langsung pulang kembali ke tanah air. Kepulangan tersebut pun masih belum ditentukan caranya apakah kembali dengan sepeda atau naik pesawat.?

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (I)

Hakam dan istrinya telah bersepeda dari kampung halamannya, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa 10 Januari 2017. Selama beberapa bulan misinya terhenti karena mengurusi visa dan bekal selama di perjalanan.?

Setelah itu selesai, pada 21 Maret 2017, pasangan tersebut berangkat kembali. Mereka dilepas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dari kantor PBNU, Jakarta. Kiai Said mendoakan pasangan Gerakan Pemuda Ansor dan Fatayat NU asal Malang, Jawa Timur itu. Perjalanan kali ini mereka menumpangi kapal laut menjelajahi daerah-daerah di Sumatera untuk selanjutnya bersepeda ke negara tetangga sesuai rute yang telah disusun.

Selepas mghrib kedua pasangan itu kemudian bertolak ke Tanjung Priok. “Malam itu juga kami membeli tiket kapal laut KM Salvia yang dibantu oleh teman-teman Fedtruk, Komunitas Sepeda Federal Tanjung Priok. Suasana hujan mengiringi kami dari basecamp Fedtruk,” kata Hakam yang saat ini sedang berada di Bangka Belitung.?

Ribath Nurul Hidayah

“Jam 12 tertulis di tiket, tapi pada prakteknya, kami harus ngantre sampai menjelang pagi. Kisaran jam 2:30 WIB, kami baru masuk dan kapal pun berangkat jam 05:50 Wib. Perjalanan dalam via kapal kita lakukan selama kurang lebih 21 jam. Menjelang subuh tanggal 23 Maret kapal kami sandar di Pangkal Balam. Setelah kami turun kami pun langsung mencari masjid terdekat dan melakukan solat subuh sebelum mengatur rute awal kami selama di pulau bangka,” katanya.?

Kemudian pukul 07:30 WIB kami mencari sarapan sekadar mengganjal perut sambil mengontak teman-teman dari komunitas sepeda di Pangkal Pinang. Akhirnya, setelah kontak per telepon, kami pun ditawari mampir di toko teman itu. Kami pun akhirnya mampir di toko sepeda itu. Tapi karena brand merk sepeda kami besebrangan, mereka tidak bisa membantu kami lebih. Kami pun menyadari semua itu. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan ke arah Koba, Kabupaten Bangka Tengah.?

Siang hari, kami mampir di sebuah wrung untuk makan siang. Kami pun mulai sosialisai pada pengunjung warung, kami dari pulau Jawa untuk mengemban misi menyebarkan perdamaian antarumat beragama. Ternyata di pulau Bangka ini mereka menceritakan sangat toleran dalam beragama, pembauran sangat kental antaretnis dan mereka pun sangat menyambut gembira mendengar pihak PBNU mau memberangkatkan kami. Di setiap kami istirahat, kami selalu mengobrol dengan penduduk lokal yang sangat menjunjung tinggi asas ke kebhinekaan. Bersambung…(Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah News, RMI NU, Tokoh Ribath Nurul Hidayah