Jumat, 13 April 2012

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, terpilih masuk dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat di Universitas Indonesia (UI), dan siap membersihkan kampus tersebut dari aliran Islam radikal. Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dinilai sangat berbahaya jika terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal. 

"Mahasiswa itu calon pemimpin bangsa, jangan sampai mereka terus menerus dicekoki ajaran Islam radikal," tegas Kiai Said di Jakarta, Selasa (27/4). 

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Biarkan Mahasiswa Dicekoki Ajaran Islam Radikal

Di kampus UI, lanjut Kiai Said, sebagaimana lokasi perkuliahan umum lainnya saat ini diindikasikan tengah dikuasai oleh aliran Islam radikal. Salah satu indikasinya adanya banyaknya liqa atau pertemuan-pertemuan di luar kampus yang mengajarkan aliran Islam radikal. 

Ribath Nurul Hidayah

"Sudah banyak laporan yang saya terima. Dan pada kenyataannya memang di kampus-kampus umum seperti UI yang banyak di

temukan. Di Universitas islam ada, tapi tidak sebanyak di kampus-kampus umum," urai Kiai Said. 

Ribath Nurul Hidayah

Untuk merealisasikan keinginan membersihkan kampus UI dari aliran Islam radikal, Kiai Said akan mengusulkan diperbanyaknya kegiatan ekstra kampus yang bernafaskan Ahlussunnah wal Jamaah. 

Kiai Said masuk ke dalam Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat setelah dipilih oleh Senat Akademik Universitas Indonesia (UI), Kamis (26/4). Terdapat 5 nama lain selaing Kiai Said, masing-masing mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Alwi Abdurrahman Shihab, Anugrah Pekerti, Bagir Manan, Endriartono Sutarto. 

Sebagai bagian dari Majelis Wali Amanat perwakilan masyarakat, Kiai Said dan sejumlah tokoh lainnya memiliki tugas memberikan nasehar, masukan dan ide-ide baru sebagai gagasan untuk pengembangan UI ke arah yang lebih bagis. Terdapat 3 program yang ingin diterapkannya, yaitu menjadikan UI sebagai universitas yang bisa diandalkan di Indonesia, serta bisa bersaing secara regional maupun internasional. 

Kedua adalah membersihkan kampus UI dari kelompok Islam radikal, sementara yang ketiga adalah melaksanakan pemilihan pejabat setingkat rektor, wakil rektor, guru besar, dekan, kepala jurusan dan jabatan-jabatan lainnya secara objektif, bersih dan demokratis. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Senin, 09 April 2012

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) jadi presiden, semua orang telah mafhum. Gus Dur sudah mengetahui dirinya kelak akan jadi presiden, banyak orang yang sudah memberi testimoni. Tapi ternyata jika dirunut lebih ke belakang lagi, proses kepresiden Gus Dur ada di masa orang tuanya, KH Wahid Hasyim.?

Salah satu tradisi warga NU, jika mempunyai cita-cita tinggi atau tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu, selain melakukan usaha secara lahir, juga melakukan sejumlah riyadhoh atau upaya-upaya yang bersifat spiritual seperti puasa, sholat tahajjud, merutinkan bacaan ayat tertentu, membaca Dalail dan lainnya.

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Presiden karena Tirakat Sang Ayah

KH Hasib Wahab, pengasuh pesantren Tambak Beras Jombang, yang juga putra KH Wahab Hasbullah suatu ketika pernah mendapat cerita dari ayahnya bahwa KH Wahid Hasyim memiliki cita-cita besar menjadi pemimpin bangsa, entah menjadi presiden atau perdana menteri. Oleh seorang kiai sepuh, ia diminta melakukan sebuah tirakat, tetapi risikonya besar, jika gagal menjalaninya sampai akhir, bisa meninggal. Riyadhoh yang harus dijalani adalah melakukan puasa selama lima tahun penuh, di luar hari tasyrik atau hari-hari besar yang dilarang menjalankan puasa.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh Kiai Wahid Hasyim, riyadhoh tersebut dijalaninya dengan baik. Setiap hari ia melakukan puasa, apapun kondisinya. Dalam buku biografinya, dikisahkan, Kiai Wahid sampai berpura-pura makan bersama tamu untuk menghormatinya. Puasa tersebut bisa dijalaninya selama 3 tahun 8 bulan ketika ia mengalami kecelakaan di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun.

Ia meninggal belum sempat menyelesaikan riyadhohnya atau mencapai cita-citanya? tetapi yang berhasil mencapai adalah putra pertamanya, Abdurrahman Wahid yang kita kenal sebagai Gus Dur yang berhasil menjadi presiden ke-4 RI.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam suatu kesempatan di istana ketika Gus Dur masih menjadi presiden, Gus Hasib pernah menahkikkan atau di cek ulang kebenaran cerita dari Mbah Wahab tersebut, Gus Dur mengiyakan.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 April 2012

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Johor Bahru, Ribath Nurul Hidayah

Nuris United FC Jember, juara Liga Santri Nusantara 2015 akhirnya memenuhi target juara di kejuaraan sepakbola U-18 Malindo Cup 2016, dalam partai final setelah membungkam tuan rumah Sekolah Sukan Tunku Mahkota Malaysia 2-1 di Stadion Sekolah Sukan Tunku Mahkota Ismail (Sabtu 21 Mei 2016 petang)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara Liga Santri Nusantara Menang di Final Malindo Cup 2016

Setelah peluit panjang dimulai, tim Nuris langsung memimpin permainan dan membuahkan gol yang dilakukan oleh Muhammad Kevy yang memanfaatkan dengan baik umpan silang dari Richard Rahmad.

Ditinggal 1-0 tim tuan rumah mulai memperbaiki performa permainan dan tampil menekan. Serangan demi serangan dilakukan dari lapangan tengah dan pemain sayap. Pada menit ke-40, tim tuan rumah membalas ketertinggalan dengan tendangan bebas M Ramlan (9) ke gawang Nuris FC. Kedudukan akhirnya imbang 1-1 sampai babak turun minum selesai.

Ribath Nurul Hidayah

Pada babak kedua pertarungan makin ketat kedua tim saling membuka serangan. Namun Nuris United kemudian memimpin lagi permainan. Pada pertengahan babak kedua, tepatnya pada menit ke-50, terjadi handball di kotak terlarang.

Ribath Nurul Hidayah

Kesempatan melesatkan tendangan penalti tak disia-siakan tim Nuris. Richard Rachmad, pemain nomor punggung 10 dipercaya mengeksekusi tendangan dan akhirnya menghasilkan gol dengan kedudukan 2-1.

Di menit-menit akhir tim tuan rumah terus mengancam gawang Nuris tetapi penjaga gawang Nuris FC selalu berhasil menghadang serangan tuan rumah. Sampai babak kedua selesai, kedudukan masih sama 2-1. Tanda kemengan bagi Nuris FC

Begitu peluit panjang berbunyi, pelatih Nuris United, Sutikno bersama official berhamburan masuk ke lapangan memeluk pasukannya merayakan kemenangan. Begitu pula pengamat sepakbola Mohamad Kusnaeni yang ikut mendampingi tim Nuris sebagai konsultan bersama Husni Mubarok dan Mukafi Makki.

"Ini kemenangan yang sangat membanggakan bagi Nuris," kata Sutikno. "Anda lihat sendiri beberapa pemain kami mulai kram pada babak kedua. Tapi mereka tetap fight terus sampai akhirnya menang," ungkap Pelatih asal Jember Jawa Timur itu

Berita keberhasilan Nuris itu disambut hangat M. Arifin Majid, Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kemenpora yang membidangi kegiatan Liga Santri Nusantara.

"Ini membuktikan bahwa potensi sepakbola di kalangan santri memang menjanjikan," ujarnya. "Jadi, dukungan yang diberikan Pemerintah selama ini melalui Liga Santri Nusantara sudah tepat," ia menegaskan.? (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 06 April 2012

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Sleman, Ribath Nurul Hidayah 

Adalah Samsul, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada malam takbiran, mementaskan wayang Ma’el Gugat di aula sekretariat PMII Komisariat Wahid Hasyim Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman, Yogyakarta, pada Senin malam (14/10). 

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembelihan Gusti Allah Bernama Ismail

Pentas yang dimulai pukul 20.00 tersebut, menceritakan anak bernama Ma’el. Ia mendapat titah atau tugas untuk ngawula (mengabdi). 

Alkisah, di Kahyangan terjadi kebakaran. Ma’el turun tangan untuk membangunnya kembali. Pada kenyataannya, kebijakan-kebijakan kerajaan tidak sesuai dengan kemaslahatan. Maka Ma’el berupaya untuk mengembalikan kebijakan sesuai nilai Tuhan. 

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah pergulatan itu, ia dihadapkan pada cobaan besar yang turun dari Kahyangan lewat ayahandanya, Brehem. 

Sebelumnya, pada suatu malam, ketika Brehem sedang bertapa di bukit Nuun, ia ditemui kakek jelmaan Sang Hyang Ismaya. Kakek itu membawa kabar bahwa anak laki-lakinya telah usai menjalankan tugas di muka bumi dan Kahyangan. Sudah saatnya anaknya itu kembali menghadap Sang Hyang Moho Tunggal. Singkat kata, kakek itu menyuruh Brehem untuk membunuh anaknya, Ma’el.  

Ribath Nurul Hidayah

Akhirnya, Ma’el menyadari, untuk menyempurnakan titahya sebagai ngawulo, diserahkanlah raga dan nyawanya untuk membuktikan kengawuloannya sebagai hamba. Ma’el pun menusukkan keris ayahnya ke dadanya sendiri dengan diiringi tangis Brehem, ayah yang sangat mencintainya. 

Setelah Dalang Samsul menyelesaikan perjalanan cerita pewayangannya, ia mengajak hadirin untuk mengumandangkan kalimat takbir khas lebaran yang telah menjadi suatu kebiasaan, atau mungkin sudah bisa dibilang sebagai kebudayaan. 

Kemudian, lantunan takbir tersebut disambut dengan parade tadarus puisi beberapa kader PMII UII. Di antara mereka, membawakan puisi-puisi tokoh terkenal seperti karya Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan WS. Rendra. 

Kegiatan tersebut juga diisi dengan tahlilan singkat yang dipimpin Imron Rosyadi. Kemudian dilanjutkan lagi dengan lantunan gema takbir. Lalu, peserta dipersilakan untuk ikut mengisi dan mempersembahkan puisi untuk menyemarakkan malam tadarus puisi malam itu dengan puisi pribadi atau puisi-puisi yang telah disediakan oleh panitia.

Pementasan puisi PMII Komisariat Wahid Hasyim UII tersebut berjudul “Ma’el Beleh-belehaning Gusti Allah” menjadi acara puncak tadarus puisi pada malam itu. Puisi tersebut diciptakan dan dibawakan Muhammad Najih. 

Puisi itu menggambarkan penderitaan Ummu Hajar ketika berjuang melawan tekanan saat ditinggal sendiri bersama anaknya yang baru lahir di tanah gersang Mekkah. Juga ketegaran Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih anaknya sendiri yang lama ia tinggalkan dan keikhlasan Ismail menerima perintah penyembelihannya.

Acara tersebut merupakan acara yang diadakan oleh kader-kader PMII UII untuk mengisi malam takbiran Idul Adha dengan warna baru, yang diekspresikan melalui lantunan puisi dan pementasan-pementasan berbau kebudayaan lain. 

Pada kesempatan itu diadakan peluncuran komunitas Cadas (cinarito ing kabudayan sandiworo) yang baru saja dibentuk oleh kader-kader PMII UII untuk mewadahi potensi kader dalam bidang seni dan budaya. (Muhammad Najih-Samsul Ariski/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Sejarah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah