Kamis, 21 April 2016

Ikuti Kompetisi Film Pendek Dokumenter Hadiah Total 50 Juta

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?



Panitia Hari Santri 2016 bekerja sama dengan Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU menggelar kompetisi film pendek dokumenter. Kompetisi yang diperuntukan untuk umum tersebut menyediakan hadiah total Rp 50 juta. Juara pertama 25 juta. Juara kedua 15 juta. Juara ketiga 10 juta.

Panitia Kompetisi Film Masduki Baidlowi mengatakan kompetisi ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).?

Ikuti Kompetisi Film Pendek Dokumenter Hadiah Total 50 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Kompetisi Film Pendek Dokumenter Hadiah Total 50 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Kompetisi Film Pendek Dokumenter Hadiah Total 50 Juta

“Kompetisi tahun 2015 cukup sukses. Panitia menerima 83 karya dari sineas pelbagai daerah. Filmnya bagus-bagus. Para kiai senang melihatnya,” kata Masduki.

Lebih lanjut Masaduki menjelaskan bahwa film dokumenter menjadi pilihan panitia karena NU membutuhkan pengamatan riil yang terjadi di masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

“NU membutuhkan up date informasi peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat, baik peristiwa keagamaan, peristiwa kebangsaan dan lain-lain. Tapi di satu sisi, NU belum punya alat untuk menyerap informasi secara pasti. Nah, melalui film dokumenter tujuan menyerap informasi bisa didapatkan,” jelas Wakil Sekretaris Jenderal PBNU ini.

Panitia kompetisi tahun ini, kata Masduki, mengangkat tiga tema yang dapat dipilih para peserta. Pertama, Kita dan Pancasila. Kedua, Islam menerima Perbedaan. Ketiga, Pesantren dan Agenda Perubahan.

“NU ingin terus memberi pemahaman tentang sikap Islam atas perbedaan. NU ingin mengetahui dinamika masyarakat tentang Pancasila. Dan pesantren, sebagai basis utama tradisi keagamaan dan kaderisasi NU, harus terus menerus mengawal agenda perubahan. Itu sedikit latar belakang terkait tema,” jelasnya. ?

Pengiriman karya dialamatkan ke kantor Redaksi Ribath Nurul Hidayah, gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Sementara penerimaan karya dimulai dari 25 September hingga 5 November 2016. Adapun konfirmasi penerimaan karya bisa menghubungi nomor kontak 085813969216.

Penjurian kompetisi ini akan dilakukan di Jakarta oleh lima anggota juri, yaitu Masduki Baidlowi (PBNU), Bowo Leksono (pegiat Film Purbalingga), Susi Ivvaty (wartwan), Nurman Hakim (sutradara), dan Savic Ali (Direktur Ribath Nurul Hidayah). Sementara pengumuman pemenang akan disampaikan melalui NU tanggal 10 November 2016. (Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Kajian Sunnah, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Agama melalui Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan telah melakukan Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam sembilan bahasa daerah dalam beberapa tahun belakangan ini.

Program yang dimulai pada 2011 ini diawali dengan penerjemahan Qur’an dalam Bahasa Makassar (Sulawesi Selatan), Bahasa Kaili (Sulawesi Tengah), dan Bahasa Sasak (Nusa Tenggara Barat). Selanjutnya, pada tahun 2012 hingga 2015, dilakukan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Minang (Sumatera Barat), Bahasa Batak (Sumatera Utara), Bahasa Dayak (Kalbar, Kalteng, dan Kaltim), dan Bahasa Jawa Banyumasan (Jawa Tengah Bagian Barat, Lampung). Pada tahun 2013 hingga tahun 2016, dilakukan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Toraja dan Bolaang Mongondow.?

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah

Dalam laporan yang diterbitkan oleh Puslitbang Lektur (2015), disebutkan penerjemahan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat akan Al-Qur’an yang dapat dipahami dalam bahasa sehari-hari, sehingga diharapkan pesan-pesan yang terdapat dalam Al-Qur‘an lebih mudah terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sejalan arah kebijakan Kementerian Agama tahun 2010-2014 untuk peningkatan kualitas kehidupan beragama, dengan sasaran terwujudnya suatu kondisi keberagamaan masyarakat yang dinamis dan mampu mendukung percepatan pembangunan nasional.?

Ribath Nurul Hidayah

Al-Qur’an terjemah bahasa daerah ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperluas akses warga masyarakat dengan kitab suci umat Islam ini, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu berbahasa Indonesia. Masyarakat yang akrab dengan bahasa daerahnya diharapkan dapat pula menjadi akrab dengan Al-Qur’an, di samping sebagai media pelestari bahasa dan budaya lokal daerah tersebut. Dengan demikian kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur dan ditulis dalam bahasa daerah akan mudah dihayati dan membekas dalam masyarakat setempat.?

Penyelenggaraan program Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah memperoleh apresiasi “luar biasa” oleh masyarakat, terutama masyarakak penutur bahasa yang bersangkutan. Apresiasi mengemuka dikarenakan oleh 2 (dua) alasan kultural dan keagamaan. Pertama, Al-Qur’an terjemah sangat membantu untuk memberikan layanan keagamaan bagi masyarakat yang tidak bisa atau kurang akrab dengan bahasa Indonesia. Kehadiran terjemahan Al-Qur’an bahasa daerah ini sangat membantu untuk “memahami” isi Al-Qur’an yang diyakini sebagai pedoman hidup keseharian masyarakat.?

Kedua, secara politik budaya--menurut para tokoh dan pakar budaya, khususnya pakar bahasa—penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah sangat membantu dalam pelestarian bahasa daerah. Bahkan, penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah ini merupakan “instrumen kultural paling efektif” untuk melestarikan, mempertahankan atau mengawetkan “bahasa daerah” dari kepunahannya.?

Mencermati pentingnya penerjemahan Al-Qur’an tersebut, sejumlah pimpinan daerah (bupati, misalnya) memprakarsai untuk menggandakan “Al-Qur’an terjemahan” produk Puslitbang LKK, Badan Litbangdiklat, Kemenag, untuk didistribusikan sesuai kebutuhan warganya. (Mukafi Niam)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 April 2016

Ini Kriteria Ketum PBNU dan Rais Aam Menurut PCNU Sarolangun Jambi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menjelang Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur awal Agustus 2015 mendatang, NU cabang dan wilayah di seluruh Indonesia telah ramai menyuarakan hajatan besar lima tahunan tersebut. Suara-suara yang muncul terkait dengan harapan peyelenggaraan muktamar hingga pada kriteria calon ketua tanfidziyah dan syuriah periode berikutnya.

Ini Kriteria Ketum PBNU dan Rais Aam Menurut PCNU Sarolangun Jambi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kriteria Ketum PBNU dan Rais Aam Menurut PCNU Sarolangun Jambi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kriteria Ketum PBNU dan Rais Aam Menurut PCNU Sarolangun Jambi

Ketua PCNU Sarolangun Provinsi Jambi, Drs H Ahmad Zaidan (54) mengemukakan beberapa kriteria Ketua Umum PBNU dan Rais Aam untuk periode kepemimpinan mendatang dalam Muktamar tersebut.

“Bagi saya, Rais Aam itu laksana Raja dalam pemerintahan. Dalam tradisi NU, sudah pasti di harus seorang kiai yang ‘alim, pintar, berilmu, organisatoris, dan mempunyai kharisma,” ujar Zaidan saat berkunjung ke Redaksi Ribath Nurul Hidayah, Kamis (26/2) di Jakarta.

Ribath Nurul Hidayah

Diterangkannya, kaharisma yang dimaksud yakni mempunyai wibawa dalam kepribadiannya dan tidak memihak siapapun atau netral dalam pemilihan ketua tanfidziyah.

“Sedangkan Ketum PBNU seperti perdana menteri, dalam NU selain dia seorang kiai, juga mampu berkomunikasi dengan semua pihak,” ucap Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten Selangun Jambi ini.

Ribath Nurul Hidayah

Dia menambahkan, mampu berkomunikasi dengan semua pihak artinya ketua tanfidziyah harus mampu mengelola organisasi dan memberdayakan potensi NU yang ada sesuai dengan bidang tugas masing-masing.

“Oleh sebab itu, dia harus fokus di organisasi, bukan politisi ataupun mantan politisi,” tegasnya.

Terkait dengan tempat penyelenggaraan muktamar, alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Jambi ini, sebetulnya lebih setuju jika muktamar dilaksanakan di luar Jawa.

 “Jombang baik, karena di situ tempat lahirnya NU, tetapi saya dan tentunya pengurus NU di daerah cenderung setuju kalau di luar Jawa untuk mensyiarkan NU ke berbagai daerah,” tuturnya.

Jika muktamar NU diselenggarakan di luar Jawa, tambahnya, lebih bisa membangkitkan semangat kawan-kawan dalam mengabdi di NU. “Saya pikir kalau mukatamar dilaksanakan di Jawa, itu sudah biasa lah,” ujarnya sambil terkekeh.

Lebih jauh, harapannya, tempat penyelenggaraan muktamar untuk lima tahun ke depan kalau bisa ditetapkan secara bulat sehingga semua daerah mendapat kesempatan menjadi tuan rumah.

Dia menambahkan, sebenarnya kader-kader NU dan pengurus di daerah menginginkan input sumber daya yang mengarah pada pemberdayaan umat secara ekonomi. “PCNU dan PWNU yang mempunyai program bagus, silakan dikemukakan di muktamar sebagai ‘oleh-oleh’ untuk kami kembangkan, entah itu berupa koperasi, BMT, KBIH, keterampilan usaha, dan lain-lain,” pungkasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 April 2016

Konstitusi Indonesia Bisa Menjadi Model Negara Muslim Lain

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dengan prinsip pendekatan syariah yang sifatnya substantif serta memiliki model political accountabilitay, konstitusi Indonesia bisa menjadi model bagi negara muslim lainnya di dunia.

Demikian diungkapkan oleh ahli hukum Islam Dr. Nadhirsyah Hosen dalam diskusi Islam dan Negara di kantor Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Kamis (27/12).

Konstitusi Indonesia Bisa Menjadi Model Negara Muslim Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Konstitusi Indonesia Bisa Menjadi Model Negara Muslim Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Konstitusi Indonesia Bisa Menjadi Model Negara Muslim Lain

Dikatakan oleh Rais Syuriyah PCI NU Australia ini bahwa dalam Amandem UUD 1945, sama sekali tidak disebut Islam atau syariah sehingga Islam hanya dijadikan sebagai spirit. Konstitusi Indonesia bukanlah negara Islam, tetapi juga bukan negara sekuler.

“Menurut saya, ini lebih mendekati makoshidus syariah (tujuan-tujuan syariah) daripada berbicara secara detail tentang Isinya,” katanya.

 

Dijelaskannya, dalam negara-negara muslim yang moderat, terdapat dua pendekatan, yaitu yang memformalkan syariah dan menjadikannya sebagai satu-satunya atau salah satu sumber sedangkan pendekatan lainnya adalah syariah hanya sebagai spirit.

Ribath Nurul Hidayah

Negara yang menjadikan syariah sebagai satu-satunya sumber adalah Mesir melalui hasil amandemen pada tahun 1980. Namun hal ini pun tidak berhasil memberlakukan syariah Islam secara keseluruhan dalam kehidupan bernegara karena hal ini lebih pada upaya untuk menenangkan golongan Islam konservatif.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah pemberlakukan syariah Islam sebagai satu-satunya sumber, golongan pendukungnya berusaha untuk merubah hukum pidana yang mengadopsi hukum Perancis, namun oleh MK ditolak karena amandemen tersebut tidak berlaku surut sehingga seolah-olah amandemen tersebut tidak ada artinya.

Demikian pula di Afganistan, syariat Islam diperlakukan sebagai hukum formal, bahkan dengan tegas ditetapkan dengan menggunakan pendekatan Imam Hanafi dan untuk kasus-kasus individu memungkinkan penggunaan syiah.

Di Irak, syariat Islam menjadi salah satu sumber hukum utama, namun ada catatan bahwa hukum tersebut tidak boleh bertentangan dengan demokrasi dan HAM yang menunjukkan adanya kepentingan Amerika Serikat disana.

“Amandemen UUD 1945 benar-benar merupakan produk internal kita sementara konstitusi Irak dan Afganistan adalah hasil pemaksaan AS,” tandasnya. 



Dikatakan oleh Dosen Wollongong University Australia ini bahwa Amandemen UUD 1945 telah mengatur masa jabatan presiden dan bagaimana presiden diangkat dan diturunkan. Format seperti ini belum ada dalam khazanah hukum Islam.

“Dalam konteks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), khilafah menjabat seumur hidup. Pembahasan tentang pemilihan dan impeachment atau menurunkan presiden juga belum ada dalam khazanah fikih klasik, karena itu khalifah turun dengan dibunuh, diracun atau mati dengan sendirinya. Amandemen UUD 1945 telah mengatur semuanya,” katanya.

Mengapa konsep tentang pembatasan jabatan presiden ini belum ada, Hosen menjelaskan aturan pembatasan masa jabatan presiden ini baru ada antara tahun 1926 atau 1928 di Amerika Serikat sehingga rujukan sebelumnya belum ada.

Structur of political accountability inilah, mengutip pendapat Nathan J Brown, menjadi kelemahan konstitusi Islam seperti di negara-negara yang menggunakan Islam sebagai hukum formal seperti di Iran atau Afganistan.

Perjuangan Tujuh Kata Hanya Romantika Sejarah

Hosen juga berpendapat upaya sejumlah partai yang berusaha memasukkan 7 kata Piagam Jakarta yang mereka anggap sebagai simbol formalisasi Islam di Indonesia juga tak akan berarti. Ia berpendapat perjuangan ini hanyalah romantika karena beberapa kali mengalami kekalahan sehingga harus terus diperjuangkan.

“Ini adalah romantika sajarah, dulu pernah kalah dan berusaha lagi, mengapa tidak merubah pasal 29 saja seperti di Mesir, Syariat Islam menjadi salah satu sumber perundangan di Indonesia,” tandasnya.

Demikian pula, meskipun perjuangan mereka berhasil dan 7 kata Piagam Jakarta tersebut masuk dalam konstitusi Indonesia, malah akan terlihat timpang karena banyak sekali pasal lain yang sangat sekuler seperti masih digunakannya bunga dalam sistem perbangkan Indonesia. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 14 April 2016

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Terhitung mulai selepas matahari terbenam atau waktu maghrib, Senin (4/11) umat Islam telah memulai awal bulan Muharram atau pergantian tahun 1435 Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1425 H ditetapkan jatuh pada hari Selasa (5/11).

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Rukyat awal bulan Muharram 1435 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik strategis pada Ahad (3/11) kemarin atau bertepatan dengan tanggal 29 Dzulhijjah 1434 H tidak berhasil melihat hilal karena bulan masih berada di bawah ufuk.

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU menyebutkan, peristiwa ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Ahad (3/11) malam pukul 19.49 WIB. Sementara posisi bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama berada 2021’ di bawah ufuk sehingga hilal tidak mungkin terlihat.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami mengikhbarkan awal Muharram 1435 H Jatuh pada Selasa 5 November 2013 atau dimulai malam Selasa sebab rukyat Ahad kemarin tidak berhasil melihat hilal,” demikian disampaikan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A. Ghazalie Masroeri dalam pesan singkatnya kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Awal bulan muharram dengan demikian ditetapkan berdasarkan kaidah istikmal atau penyempurnaan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari, atau sampai Senin, dan hari Selasa baru ditetapkan sebagai awal bulan Muharram. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Pendidikan, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Sejak 2015, Jepara menjadi primadona bagi para investor baik skala nasional maupun internasional. Hal ini terlihat dari banyaknya pabrik besar yang beroperasional di Jepara dengan jumlah pekerja mencapai angka ribuan.?

Kenyataan di atas mendorong SARBUMUSI NU Jepara untuk secepatnya membentuk SARBUMUSI di tingkat pabrik, memperjuangkan kesejahteraan, memberikan perlindungan bagi buruh dan keluarganya.

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Tujuan Investor, Ini Arahan untuk SARBUMUSI NU Jepara

Hal itu yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Jepara, dalam Rapat Kerja Pertama SARBUMUSI Jepara, Ahad (5/2) di Gedung PCNU Jepara, Jl Pemuda 51 Jepara, Jawa Tengah.?

“SARBUMUSI Jepara juga diharapkan membangun kemitraan yang jelas dengan PMA maupun perusahaan dalam negeri dalam rangka penenuhan tenaga kerja dari asli orang Jepara sehingga dapat menekan pengangguran di Jepara,” tambah Hisyam melalui rilis yang dikirim kepada Ribath Nurul Hidayah.?

Dalam acara yang dihadiri seluruh pengurus SARBUMUSI Jepara, Hisyam juga mengemukakan hal penting yang harus dilakukan SARBUMUSI Jepara yakni memperjuangkan hak-hak buruh dan keluarganya melalui kenaikan gaji maupun jaminan keselamatan kerja, pendidikan, kesehatan dan pensiun. Selain itu membangun sinergitas dengan pemerintah daerah secara legal formal agar pemenuhan kebutuhan buruh dapat tercapai dan terlindungi secara konstitusional.

Dengan banyaknya jumlah perusahaan dan karyawan di Jepara yang dimungkinkan membawa dampak negatif sosial, SARBUMUSI Jepara juga diharapkan dapat mencegah dan mengantisipasi efek negatif tersebut seperti penyebaran penyakit HIV, narkoba, gaya hidup bebas, pelacuran dan minuman keras di sekitar pabrik dan rumah kos para buruh.

Ribath Nurul Hidayah

Hisyam menyebut beberapa perusahaan di Jepara di antaranya PT Sami (Jepang) bergerak di bidang perakitan kabel dengan jumlah karyawan mencapai 7000 orang; ? PT Bomin Permata Abadi bergerak di bidang garmen dengan jumlah karyawan 2500 orang; PT Kanindo bergerak di bidang pembuatan tas dengan jumlah karyawan 2000 orang. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 13 April 2016

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) ranting desa Klumpit kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memperingati Maulid Nabi dengan menggelar perlombaan kesenian pelajar.

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Lomba tersebut dilaksanakan pada Sabtu (3/1) di dua tempat terpisah, di Balai Desa Klumpit dan SD 01 Klumpit. Lomba untuk kalangan pelajar tingkat SLTA ke bawah tersebut antara lain lomba rebana sekabupaten Kudus, kaligrafi sekecamatan Gebog, Qiro’atul Qur’an sedesa Klumpit, dan mewarnai tingkat TK dan PAUD sedesa Klumpit.

Ketua Ranting IPNU Klumpit Muhammad Ridlwan mengatakan, agenda bertema “Meningkatkan Hubburrosul Melalui Seni Kreatif Kompetitif” ini dimaksudkan untuk membangun iklim kompetitif para generasi NU di lingkungan masyarakat. Juga sebagai wujud kreativitas dalam meneladani sifat-sifat Rasulullah.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini merupakan bagian dari usaha kami menciptakan momentum kreatif sebagai salah satu upaya membangun iklim kompetitif di lingkungan masyarakat. Khususnya bagi kader muda NU,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Juga, sambung Ridllwan, sebagai wujud realisasi perasaan cinta kepada Rasulullah, merayakan hari ulang tahunnya. “Rasulullah menyukai keindahan, maka kami pun merayakannya dengan mengadakan gebyar lomba kesenian ini,” ucapnya.

Ia menambahkan, mental kompetitif dan kreatifitas amat dibutuhkan untuk masa depan NU. Karenanya, IPNU-IPPNU sebagai gerbang awal bagi putra-putri NU, penting menanamkan jiwa kompetitif, kreatif dan berkesenian, setelah membekali diri dengan keilmuan,” lanjut Ridlwan.

Masih kata Ridlwan, Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Klumpit telah berperan serta mewujudkan fungsi organisasi di masyarakat. Salah satu program yang telah terlaksana adalah menyantuni yatim sedesa Klumpit pada bulan Muharram tahun kemarin. Serta bakti sosial pada bulan Juni 2014.

“Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat baik. Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Dan pada Rabi’ul Awwal ini, kami bermaksud kembali menyentuh masyarakat secara langsung pada gebyar perlombaan untuk pelajar, dalam rangka menyambut hari kelahiran Rasulullah,” terang mahasiswa STAIN Kudus ini.

Ridlwan menekankan bahwa selain mapan intelektualitas, pribadi pelajar NU juga harus kreatif dan kompetitif. Keduanya menyatu menjelma seni kehidupan agar tak statis dan dapat mengimbangi perkembangan zaman, namun tetap raligius. “Rasulullah pun mengajarkan keseimbangan dalam menapaki hidup, antara yang duniawi dan ukhrowi,” jelas Ridlwan.

Agenda perayaan ini ditutup dengan pengajian umum pada malam harinya di Balai Desa Klumpit. Pengajian menghadirkan Habib Husain bin Yahya Al Jufri dan ulama setempat sebagai penutur mauidhoh hasanah. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)?

Pelajar NU Klumpit Muludan dengan Kesenian

Kudus, Ribath Nurul Hidayah

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) ranting desa Klumpit kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memperingati Maulid Nabi dengan menggelar perlombaan kesenian pelajar.

?

Lomba tersebut dilaksanakan pada Sabtu (3/1) di dua tempat terpisah, di Balai Desa Klumpit dan SD 01 Klumpit. Lomba untuk kalangan pelajar tingkat SLTA ke bawah tersebut antara lain lomba rebana sekabupaten Kudus, kaligrafi sekecamatan Gebog, Qiro’atul Qur’an sedesa Klumpit, dan mewarnai tingkat TK dan PAUD sedesa Klumpit.

?

Ketua Ranting IPNU Klumpit Muhammad Ridlwan mengatakan, agenda bertema “Meningkatkan Hubburrosul Melalui Seni Kreatif Kompetitif” ini dimaksudkan untuk membangun iklim kompetitif para generasi NU di lingkungan masyarakat. Juga sebagai wujud kreativitas dalam meneladani sifat-sifat Rasulullah.

?

“Ini merupakan bagian dari usaha kami menciptakan momentum kreatif sebagai salah satu upaya membangun iklim kompetitif di lingkungan masyarakat. Khususnya bagi kader muda NU,” katanya.

?

Juga, sambung Ridllwan, sebagai wujud realisasi perasaan cinta kepada Rasulullah, merayakan hari ulang tahunnya. “Rasulullah menyukai keindahan, maka kami pun merayakannya dengan mengadakan gebyar lomba kesenian ini,” ucapnya.

?

Ia menambahkan, mental kompetitif dan kreatifitas amat dibutuhkan untuk masa depan NU. Karenanya, IPNU-IPPNU sebagai gerbang awal bagi putra-putri NU, penting menanamkan jiwa kompetitif, kreatif dan berkesenian, setelah membekali diri dengan keilmuan,” lanjut Ridlwan.

?

Masih kata Ridlwan, Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Klumpit telah berperan serta mewujudkan fungsi organisasi di masyarakat. Salah satu program yang telah terlaksana adalah menyantuni yatim sedesa Klumpit pada bulan Muharram tahun kemarin. Serta bakti sosial pada bulan Juni 2014.

?

“Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat baik. Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Dan pada Rabi’ul Awwal ini, kami bermaksud kembali menyentuh masyarakat secara langsung pada gebyar perlombaan untuk pelajar, dalam rangka menyambut hari kelahiran Rasulullah,” terang mahasiswa STAIN Kudus ini.

?

Ridlwan menekankan bahwa selain mapan intelektualitas, pribadi pelajar NU juga harus kreatif dan kompetitif. Keduanya menyatu menjelma seni kehidupan agar tak statis dan dapat mengimbangi perkembangan zaman, namun tetap raligius. “Rasulullah pun mengajarkan keseimbangan dalam menapaki hidup, antara yang duniawi dan ukhrowi,” jelas Ridlwan.

?

Agenda perayaan ini ditutup dengan pengajian umum pada malam harinya di Balai Desa Klumpit. Pengajian menghadirkan Habib Husain bin Yahya Al Jufri dan ulama setempat sebagai penutur mauidhoh hasanah. (Istahiyyah/Abdullah Alawi) ? .

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Senin, 11 April 2016

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah. Memiliki unit usaha adalah solusi mengatasi kendala pergerakan organisasi, demikian penegasan Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, di Bandar Lampung, Sabtu (16/7). Menurut Hidir, dalam berkiprah di masyarakat, Gerakan Pemuda Ansor memiliki hambatan tersendiri. Karena itu harus ada upaya nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Unit Usaha adalah Solusi Bagi Kendala Pergerakan Organisasi

Hasil Kongres XV GP Ansor Tahun 2015 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, yakni Gerakan Pemuda Ansor harus bisa mengembangkan kewirausahaan di kalangan pemuda baik secara individu maupun kelembagaan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat.

Mewujudkan hasil kongres itu, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, kata Hidir melanjutkan, telah memiliki aplikasi multiguna ekonomi digital. Aplikasi tersebut berisi berbagai konten seperti kumpulan berita hingga dompet digital yang bisa digunakan juga untuk penjualan pulsa.

Hidir menambahkan, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Lampung juga terus mendorong pimpinan cabang memiliki unit usaha, seperti membuat Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) atau usaha lain untuk menopang ekonomi organisasi yang tidak dipungkiri masih menjadi hambatan.

Ribath Nurul Hidayah

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto mengatakan, pihaknya telah mengupayakan gerakan-gerakan ekonomi bagi kader seperti penjualan madu, investasi alat cuci kendaraan bermotor bagi Satkoryon Banser Pakuan Ratu, membuka kewirausahaan sosial "Halal" atau hijamah/bekam sambil beramal yang baru terealisasi di PAC Pakuan Ratu dan Rebang Tangkas, serta dalam waktu dekat akan berlanjut ke tiga PAC lain, salah satu Negara Batin.

Dan untuk yang terbaru, kata Ketua Bidang Media dan Publikasi DPP Sarbumusi NU itu melanjutkan, adalah menabung 15 pohon buah di pesantren. Targetnya adalah 14 pesantren di 14 kecamatan di Way Kanan.

Saat ini baru terealisasi di tiga pesantren di tiga kecamatan setempat, yakni, Pesantren Al-Falakhussadah, Pakuan Ratu asuhan Kiai Zainal Maarif, Pesantren Darul Ulum, Negara Batin asuhan Ustadz Bayumi dan Pesantren Hidayatus Salafiyah, Negeri Agung asuhan Gus Yunus. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Amalan, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 April 2016

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal

Tegal, Ribath Nurul Hidayah - Sebuah komunitas yang menamakan diri Forum Silaturahmi Nusantara (FSN) menggelar peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) ke-7 dan HUT FSN yang ke-1 di Gedung Korpri Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (19/1).

Para pemuka agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan penganut kepercayaan leluhur berkumpul dalam acara tersebut. Kegiatan ini juga menjadi momen pengukuhan pengurus Muda-Mudi Forum Silaturahim Nusantara yang diharapkan memperkuat? persaudaraan antarumat beragama di segemen pemuda.

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintas Agama Peringati Haul Ke-7 Gus Dur di Tegal

Berbagai kesenian dari berbagai aliran agama ditampilkan, bahkan beberapa dikolaborasikan, yakni Paduan Suara dari Katholik dan Tim Hadrah dari agama Islam, yang menyanyikan “Tombo Ati.” Ditambah lagi dengan adanya sesi dialog dengan para pemuka agama makna dan urgensi toleransi.

“FSN menghadirkan ketenangan di Kabupaten Tegal. Gejolak yang ada di tingkat nasional tak berpengaruh sedikitpun di Kabupaten Tegal. Karena kami percaya bahwa damai itu indah.” cetus Ketua FSN H Muslih.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menyampaikan, FSN sudah memberikan satu aksi, kenyamanan, suasana yang kondusif dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Kabupaten Tegal. “Di HUT yang pertama ini, kami sungguh butuh masukan, butuh kritikan, pastinya masukan dan kritikan yang membangun demi FSN yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Was’ari yang dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan mewakili Bupati Tegal mengajak kepada semua pihak untuk bersatu padu membangun Bangsa.

“Saya berdiri di sini menikmati keindahan pelangi. Warna hijau bagus, biru baik, ungu tidak kalah baik. Ketika warna-warna itu diramu dijadikan satu maka akan dirasakan keindahannya. Inilah yang saya lihat pada malam hari ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada empat fungsi dari perngatan haul, antara lain minta ampunan, mengenang, meneladani, dan mengimplementasikan.

“Jika Gusdur masih hidup, dan melihat kondisi Nasional yang seperti ini, maka hanya satu kalimat yang akan terucap, Gitu Aja Kok Repot.” cetunya.

?

“Terakhir kami menyampaikan terima kasih kepada FSN yang telah memberikan kenyamanan, keamanan menuju Tegal yang di impikan. Semuga amal ibadah rekan-rekan semua diterima oleh Tuhan YME.” tambahnya.

Putri Gus Dur Inayah Wahid menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kita tidak bisa memaksakan kenyataan untuk sama. Inayah menganologikan dalam sebuah pertanyaan, “Jika dalam sebuah daerah, polisinya jadi petani, DPR-nya jadi petani, presidennya jadi petani, TNI-nya jadi petani, lalu petani jadi apa?”

Inayah dalam kesmepatan itu juga menyuguhkan dua puisi berjudul “Santri Bertanya pada Guru”? dan “Doa Seorang Milenial”.

Di sesi akhir, Gus Muwafiq dari Yogyakarta memberikan pencerahan kepada pengunjung, jika saja semua pihak mau belajar ke belakang, mengenal, memahami dan mengerti sejarah berdirinya bangsa Indonesia, sejarah munculnya agama, sejarah adanya manusia, maka tidak akan ada gejolak seperti yang belakangan terjadi. Karena sesungguhnya Allah SWT mencipatakan keberagaman agar manusia pandai bersyukur.

“Bila kau tak berkawan dengan orang Yahudi, mengajak bermusuhan dengan orang Yahudi, lantas apakah engkau berangkat haji dengan jalan kaki? Saya ceramah di sini, eh ternyata microphonnya buatan Jepang, Eh pakaian saya? made in China, eh HP saya buatan Firlandia, begitu pun dengan Anda. Maka Anda tidak boleh berkata ‘saya tidak perlu bersyukur kepada orang lain’.” tegasnya. (Moh. Ali Sukron/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 April 2016

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Buah-buahan dalam Muludan Tepat setelah shalat Isya’ ditunaikan, seluruh jamaah keluar ruang utama dalam masjid berbaris membentuk persegi panjang di jerambah masjid yang luas, terasa lebih luas terasnya daripada ruang dalam masjid.?

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buah-buahan dalam Kenduri Muludan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buah-buahan dalam Kenduri Muludan

Di tengah-tengah barisan tersebut tersuguh berbagai macam buah-buahan yang ditata memanjang berjajar empat, sepanjang sekitar 15 meter lebih.

Sementara jamaah putri berkumpul dan membentuk lingkaran tersendiri di tempat yang dikhususkan untuk mereka. Sebagaimana yang terjadi di jamaah laki-laki, di tengah-tengah lingkaran mereka juga tersuguh buah-buahan.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah semua dirasa sudah siap semua, seorang tokoh masyarakat yang sekaligus sebagai imam di masjid tersebut membuka acara. Dia melanjutkan pembiacaraannya dengan mengutip beberapa hadist Nabi SAW yang menceritakan tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dinukil dari kitab Habib Muhammad bin Alwi al Maliki al Makki.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Mulidud Diba’. Kitab yang bersisi tentang doa solawat dan salam serta cerita tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan keagungan. Lentingan pembawa syiir begitu membius seluruh jamaah, sehingga menimbulkan kekhusyukan yang mendalam.?

Ribath Nurul Hidayah

Acara di tutup dengan do’a dan pembagian suguhan (berkat) kepada seluruh orang-orang yang hadir. Karena sebelumnya suguhan buah-buahan sudah dikumpulkan dan dibagi secara merata maka tidak ada saling rebutan, karena masing-masing sudah ditempatkan di wadah yang isinya hampir sama. ? ? ? ?

Cerita di atas adalah kejadian yang ada dalam kenduri memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Nailul Falah desa Suwayuwo kecamatan Sukorejo Pasuruan, pada malam peringatan Mualid Nabi Muhammad pada Rabu (23/01/2013) yang bertepatan dengan malam 12 Rabiul Awal 1434 hijriyah.?

Namun berbeda dengan di daerah-daerah lain di Indonesia yang menyuguhkan makanan berupa nasi dan lauk-pauk, di wilayah ini, termasuk di hampir seluruh wilayah Pasuruan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati dengan suguhan (berkat) yang berupa buah-buahan.?

Sebagaimana jamak di ketahui dalam peringatan-peringatan hari besar Islam, kaum muslim khususnya yang memiliki latar belakang Nahdliyin, selalu memperingati dengan membawa atau menyediakan suguhan berupa nasi lauk terbaik.?

Menurut Husen, salah satu warga Suwayuwo yang menjadi pengurus takmir Masjid Nailul Falah, suguhan berupa buah-buahan saat kenduri peringatan Mualid Nabi Muhammad SAW sudah terjadi sejak dia masih kecil. “Saya tidak tahu bagaimana mula-mulanya, tetapi yang jelas sudah sejak dahulu, sejak jamannya kakek saya sudah dilakukan seperti ini,” katanya.?

Memang perlu ada riset tersendiri untuk mengetahui kenapa masyarakat di wilayah Jawa Timur sub-kultur Arek ini memperingat perayaan Maulid Nabi dengan suguhan buah-buahan. Namun menurut salah seorang warga Suwayuwo, hal tersebut untuk mensukuri atas hasil bumi yang biasanya akan berbuah saat bulan Muludan, Maulid atau Raibul Awal.

Namun dari buah yang disuguhkan dalam peringatan Maulid Nabi malam tersebut, buahan-buahan sudah bukan lagi hasil kebun mereka, karena desa yang berbatasan dengan salah satu pabrik rokok besar tersebut sudah jarang ditemui kebun buah yang luas. Justru dalam suguhan banyak terlihat buah-buahan impor, mulai dari jeruk, belimbing, kelengkeng dan anggur. ? ?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah