Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Sistem dan konsep kaderisasi Gerakan Pemuda (GP) masih perlu perbaikan. Fakta riil Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang merupakan organisasi pemuda justru banyak diisi kader berusia di atas 40-an.

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda

Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto hal itu menyebabkan kesenjangan antara kader tua dan yang muda. Dan banyak kader Ansor maupun Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang enggan masuk ke NU.

Ia mengusulkan pada Kongres nanti ada pembahasan dan setrategi khusus dalam menyelesaikan kondisi demikian. Setidaknya dengan menghidupkan Pandu Ansor dapat memberikan solusi dalam menyelesaikan kesenjangan kaderisasi tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Pandu Ansor dapat menjadi magnet sendiri di kalangan para pemuda untuk tertarik masuk ke dalam Ansor atau NU. Pandu Ansor juga termasuk salah satu organisasi kepanduan di Indonesia yang diakui, bahkan pernah menjadi kontingen dalam Jambore Pandu Dunia,” katanya kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin pagi (23/11). ?

Menurut pandangan Gus Antok, sapaan akrabnya keberlangsungan organisasi selain ditunjang oleh kekuatan ideologisasi juga ditunjang oleh adanya sistem kaderisasi yang peka zaman dan tertib. Kaderisasi adalah upaya regenerasi secara sempurna, organisai tanpa regenerasi akan mengalami stagnasi dan entropi (pembusukan).

Ribath Nurul Hidayah

“Maka harus ada upaya untuk membenahi permasalahan-permasalahan kaderisasi itu. Sistem kaderisasi di Ansor yang sudah ada sudah cukup baik, hanya perlu ada penekanan kembali pada kader muda yang baru hadir di Ansor, agar semangatnya tetap menggelora dan Ansor menjadi wadah yang menarik untuk diikuti dan beraktualisasi diri,” ungkapnya.

Sampai saat ini PC GP Ansor Jombang tengah merumuskan beberapa upaya untuk menghidupkan Pandu Ansor dengan intensif, mereka bertekad menyampaikan dan memperjuangkan buah hasil pikirannya mengingat organisasi kepanduan sangat dibutuhkan ke depan.

“Bahwa Pandu Ansor, juga merupakan gerakan yang sadar dan bertanggung jawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” tuturnya.

Upaya menghidupkan Pandu Ansor ini untuk mengembalikan kaderisasi Ansor pada jenjang-jenjang usia tertentu. Hal ini dirasa sangat efektif menjawab permasalahan kaderisasi di tubuh Ansor.

“Pandu Ansor merupakan sebutan bagi kader dan anggota GP Ansor, yang meliputi usia? 18-25 tahun. Pada kelompok kader atau anggota usia di atas 25 tahun dapat tersebar dalam struktural Ansor maupun Banser di semua tingkatan,” terangnya.

Sementara proses pendidikan kepanduan Ansor ini mulai dikenalkan di lingkungan sekolah, kampus dan masyarakat umum sebab Pandu Ansor adalah sistem kaderisasi untuk pemula yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat.

Terahir Gus Antok menegaskan bahwa Pandu Ansor adalah jawaban atas problematika anak-anak muda kita, mengembalikan pada jati diri keislaman dan keindonesiaan, agar tidak tergerus pengaruh arus idelogi liberal, Wahabi, komunisme dan ideologi yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara kesatuan republik Indonesia. (Syamsul/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 11 Februari 2018

Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Sebagai upaya pengkaderan pengurus secara berjenjang, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) di Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimien di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, Sabtu (31/10) hingga Ahad (1/11).

Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud IPPNU Probolinggo Bahas Penguatan Aswaja NU

Lakmud yang digelar untuk menyambut Konferensi Cabang (Konfercab) PC IPPNU Kota Probolinggo ini diikuti oleh 75 orang peserta se-Kota Probolinggo. Menariknya, Lakmud ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus badan otonom (banom) PCNU Kota Probolinggo.

Sekretaris PC IPPNU Kota Probolinggo Imro’atul Azizah mengatakan, bahwa Lakmud merupakan jenjang pengkaderan yang ada di dalam organisasi IPPNU. Dimana tujuan utamanya adalah untuk menanamkan ilmu-ilmu ke-IPPNU-an lebih dalam lagi ke kader-kader IPPNU se Kota Probolinggo.

Ribath Nurul Hidayah

“Setidaknya melalui Lakmud ini nantinya dapat memberikan pemahaman kepada seluruh pengurus bagaimana kader IPPNU itu mampu mengerti ciri khas NU dan memperdalam serta memperkuat keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) NU di kalangan pelajar,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Lakmud ini para peserta diberikan beberapa materi untuk memantapkan pemahaman terhadap organisasi IPPNU. Meliputi ke-NU-an, ke-IPPNU-an, ke-Aswaja-an, Leadership, teknik persidangan dan ke-organisasi-an.

“Dengan Lakmud ini diharapkan agar para kader IPPNU tidak hanya bisa bergerak menjalankan roda organisasi saja, tetapi mampu berfikir secara kreatif dan inovatif demi kemajuan roda organisasi ke depannya,” harapnya.

Selain dihadiri jajaran pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo, Lakmud ini juga dihadiri oleh Khoirun Nisa’ dari Pimpinan Wilayah (PW) IPPNU Provinsi Jawa Timur. Dimana dia merupakan mantan Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo periode 2011-2013 lalu. Sehingga mampu memberikan motivasi kepada pengurus agar bisa lebih berkhidmat memajukan organisasi.

“Melalui kegiatan ini saya berharap kader IPPNU mampu dan mengerti bagaimana sebenarnya hidup dan bergerak yang selalu sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ungkap Ririn, panggilan akrab Khoirun Nisa’. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Mimika, Ribath Nurul Hidayah. Memasuki malam 16 Ramadhan tahun ini, kegiatan Buka Bersama dan Safari Ramadhan PCNU Mimika diselenggarakan di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Semeru SP6 Naeba Muktipura, Distrik Iwaka, Mimika.

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Wakil Ketua PCNU, Sugiarso dan Ketua JQH Ust Hasyim Asyari dan Tim Safari Ramadhan PCNU Mimika lainnya mengawali kegiatan dengan berkunjung di rumah Ketua Takmir, Hasyim Asyari.?

"Hari ini dua Hasyim Asyari bertemu semoga bisa meneladani pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Tafaulan nama semoga barokah untuk NU," urai Sugiarso. Berbagai hal masalah ke-NU-an dibicarakan menunggu waktu Magrib. Akhirnya diusulkan untuk melakukan kegiatan NU yang rutin

"Bekerja itu tidak perlu terlalu ngoyo di ladang atau di pasar. Kita ini kurang keseimbangan dengan doa sehingga hidup kita ini begini begini saja," tegas Ketua Takmir, Hasyim Asyari.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena itu kita mulai rutinan istigotsah tiap malam Ahad legi. Ini usaha kita untuk meminta agar urusan kita dan keaswajaan kita semakin mudah," lanjutnya.

Selanjutnya pada acara ceramah tarawih di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Sugiarso mengingatkan jamaah agar tidak sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak anak

"Jangan kita terpengaruh opini orang sekolah ini favorit karena mahal ada ini-itu, namun kita tak ? meneliti pahamnya serta orang orangnya. Yang paling aman bersekolah di Al Maarif karena ini milik NU," terang Sugiarso.

Sementara itu, ust Hasyim Asyari mengingatkan jangan sampai anak melawan orang tua. "Kita sedekah buka bersama dan ngaji ini dibilang haram, bahaya. Anak tidak mau diajak tahlilan, bahaya.”

Dijelaskannya, sekarang dunia digenggaman. HP ini isinya lengkap. Ngaji yang keras tinggal klik saja. “Mari kita berjamaah dalam NU agar selamat dunia akhirat karena NU ini didirikan ulama warid yang sanadnya sambung ke Rasulullah Saw," urai ust Hasyim. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Pesantren, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Februari 2018

Konsep Aurat dan Larangan Berwudhu Telanjang Bulat

Bagi sebagian orang, wudhu merupakan salah satu laku ibadah yang telah merasuk menjadi rutinitas. Setiap kali bersentuhan dengan air, seketika itu pula ia berwudhu. Ini adalah suatu kebaikan, karena berusaha mengkondisikan diri dalam keadaan suci.

Namun demikian perlu diperhatikan bahwasannya berwudhu haruslah dalam keadaan aurat tertutup. Minimal aurat depan (qubul) dan belakang (dubur). Walaupun sebenarnya menutup aurat bukanlah termasuk syarat sah wudhu. Akan tetapi, ini berhubungan dengan tata cara dan hukum menutup aurat ketika sendirian (khalwat) yang batasannya berbeda dengan aurat ketika shalat dan ketika bersosialisasi di depan umum.

Menurut Az-Zarkasyi sebagaimana tercantum dalam Nihayatul Muhtaj, bahwa aurat yang wajib ditutup ketika sendirian (khalwat) adalah dua kemaluan saja bagi laki-laki (qubul dan dubur), dan antara pusar dan lutut bagi perempuan.

قال الزركشى: والعورة التى Ù? جب سترها فى الخلوة السوأتاÙ? فقط Ù…Ù? الرجل ومابÙ? Ù? السرة والركبة Ù…Ù? المرأة

Konsep Aurat dan Larangan Berwudhu Telanjang Bulat (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Aurat dan Larangan Berwudhu Telanjang Bulat (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Aurat dan Larangan Berwudhu Telanjang Bulat

Azzarkasyi berkata bahwa aurat yang wajib ditutup ketika khalwat adalah dua kemaluan saja bagi laki-laki (qubul dan dubur), dan antara pusar dan lutut bagi perempuan.

Bahwasannya ? ada dua macam aurat khusus. Pertama aurat ketika sendirian (khalwat) dan kedua aurat ketika di hadapan orang yang boleh memandang kepadanya seperti istri dan budak perempuan (sesuai perkembangan zaman, konsep perbudakan kini sudah tidak ada lagi). Keduanya memiliki tata cara yang berbeda seperti diterangkan dalam kitab Fathul Muin bahwa:

Ribath Nurul Hidayah

وجاز تكشف له اى للغسل فى خلوة او بحضرة Ù…Ù? Ù? جوز Ù? ظره الى عورته كزوجة او أمة والستر افضل وحرم اÙ? كاÙ? ثم Ù…Ù? Ù? حرم Ù? ظره الÙ? ها كماحرم فى الخلوة بلاحاجة وحل فÙ? ها لأدÙ? Ù‰ عرض كما Ù? أتى

Boleh membuka aurat (telanjang bulat) ketika mandi karena khalwat (sendirian), atau (boleh juga membuka aurat) di depan orang yang diperbolehkan memandang auratnya seperti istri atau budak perempuannya. Namun menutup aurat lebih afdhal. Dan haram membuka aurat jika di sana ada orang yang terlarang (tidak diperbolehkan) melihatmya. Seperti halnya diharamkan membuka aurat ketika sendirian tanpa ada keperluan apa-apa.

Dari keterangan di atas dapat difahami bahwa seseorang hanya diperbolehkan membuka aurat atau bertelanjang bulat ketika mandi sendirian atau ketika hanya berhadapan hadapan dengan istri. Karena mandi harus meratakan air ke seluruh tubuh, dan ini tidak bisa tercapai tanpa harus membuka semua penutupnya. Maka dibolehkan bertelanjang bulat ketika mandi.

Ini berbeda dengan kasus wudhu, karena keperluan wudhu dalam meratakan air tidak seperti mandi, maka berwudhu harus dengan menutup auratnya, minimal aurat depan (qubul) dan belakang (dubur). Dengan kata lain, jika mandi memang perlu bertalanjang, sedang wudhu tidak perlu bertelanjang. Maka dilarang berwudhu dengan bertelanjang bulat tanpa menutup aurat walaupun sendirian tanpa sesuatu keperluan apapun.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh Karena itu, ketika seseorang selesai mandi dan ingin mengakhiri mandinya dengan berwudhu, sebaiknya terlebih dahulu menutup auratnya. Walaupun hanya dengan celana dalam ataupun handuk yang melingkar di badan. Wallahu a’lam. Ulil Hadrawy

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Kudus, Ribath Nurul Hidayah - Guna mengangkat martabat kaum santri, Rabithah Mahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) mengajak pondok pesantren menjalin kebersamaan. Pesantren harus menyatu, saling menopang? antarsesama dalam menghadapi tantangan dunia global.

Demikian disampaikan Sekretaris Pengurus Pusat RMI NU KH Miftah Faqih saat membuka puncak peringatan Satu Abad Qudsiyyah di Lapangan Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi Kudus, Senin (1/8).

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Menurutnya, kebersamaan merupakan salah satu alat meningkatkan martabat pesantren. Untuk menuju ke arah itu, pesantren harus bisa menanggalkan ego sektoralnya. Sebab, manusia yang ego pikirannya stagnan atau mati.

"Pesantren harus bersama-sama menggerakkan kekuatan dan potensi dengan saling mempromosikan. Bukan malah saling memotong,” kata Kiai Miftah.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Imbauan ini didorong oleh banyaknya tantangan yang belakangan ini dihadapi pesantren. Kondisi semacam ini sangat membutuhkan ketajaman membaca realitas masa kini. Kaum pesantren jangan hanya terpaku pada masa lalu, tetapi bisa fokus pada masa sekarang.

"Sebuah bait arab menyebutkan bahwa ketika mata kita fokus tertuju masa lalu, maka harus direkonstruksi. Kemudian dihimpun atau dikembangkan pada saat ini yang ada manfaatnya. Terkadang, kita lebih banyak bangga sebagai penikmat sejarah masa lalu, tetapi lupa tidak membuat sejarah masa kini," ujar Miftah.

Kepada insan-insan pesantren, Kiai Miftah mengajak supaya tidak berkecil hati. Sebab, pesantren Indonesia sangat menghargai kutubus salaf dan lainnya. Pesantren juga selalu ramah keberagaman dan menghargai tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.

"Pesantren akan luwes karena sudah dicetak sedemikian rupa melalui pengajaran kitab-kitab salaf maupun kitab kuning yang penuh makna," tegasnya.

Di akhir sambutannya, Kiai Miftah mengharapkan santri tidak hanya menjadi penonton. Santri harus bisa menjadi saksi yang terlibat dalam masyarakat.

Acara puncak bertemakan Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa ini berlangsung mulai 1-7 Agustus di lapangan Qudsiyah Jalan KHR Asnawi Kudus. Pada hari pertama usai pembukaan, kegiatannya adalah halaqah santri mandiri dan pementasan seni budaya.

Kegiatan juga disemarakkan pameran kaligrafi dan beberapa kitab turats serta stan ekspo UMKM. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Olahraga, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 23 Januari 2018

Kopiah Jokowi dan Syam’agh Raja Salman, Simbol Internasionalisasi Tradisi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud tiba di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Rabu siang, untuk melakukan kunjungan kenegaraan di Indonesia.?

Kopiah Jokowi dan Syam’agh Raja Salman, Simbol Internasionalisasi Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopiah Jokowi dan Syam’agh Raja Salman, Simbol Internasionalisasi Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopiah Jokowi dan Syam’agh Raja Salman, Simbol Internasionalisasi Tradisi

Raja Salman turun dari pesawat menggunakan eskalator disambut oleh Presiden Joko Widodo. Raja Salman menggunakan pakaian khas Arab yang disebut dengan thoub, sebangsa gamis berwarna putih dengan krah model kemeja dan berlengan panjang dengan manset. Ia memakai kerudung segi empat, berwarna merah-putih yang disebut syam’agh. Jokowi menyambut dengan pakaian resmi jas dengan kopiah hitam yang menghiasi kepalanya. Masing-masing kepala negara tersebut tetap memegang ciri tradisi negara yang dipadu dengan cara berpakaian ala internasional.

Penyambutan berlangsung hangat. Raja Salman dan rombongan saling bersalaman dan bercakap-cakap sebentar.

Sejumlah pejabat negara yang turut menyambut kedatangan Raja Salman antara lain Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Panglima Komando Daerah Militer Jaya/Jayakarta Mayjen (TNI) Jaswandi, dan Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) M Iriawan.

Setelah itu, Raja Salman masuk ke mobil yang sudah disiapkan, dan didampingi oleh Menteri Agama, untuk menuju ke Istana Bogor melakukan berbagai kegiatan.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Presiden Jokowi memasuki mobil yang berbeda untuk menuju Istana Bogor, Jawa Barat.

Kemudian, Presiden Jokowi berangkat lebih dulu ke Istana Bogor, diikuti rangkaian delegasi, dan rangkaian ketiga yakni Raja Salman.

Kunjungan Raja Salman ini adalah yang pertama bagi raja Saudi setelah hampir 47 tahun ini tidak ada kunjungan ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung,Raja membawa rombongan 1.500 anggota delegasi, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.?

Kedatangan raja yang berusia 81 tahun itu pun disambut dengan luar biasa. Masjid Istiqlal telah menyiapkan lift dan toilet khusus untuk Raja Salman yang rencananya akan melaksanakan Salat Jumat pada Jumat (3/3).

Ribath Nurul Hidayah

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, mengerahkan 50 ribu pelajar se-Kota Bogor, untuk menyambut kedatangan Raja Arab saat ke Istana Bogor, Rabu siang.

TNI dan Polri menyiapkan 18.161 personel untuk mengamankan kunjungan Raja, termasuk lebih dari 1.000 personel gabungan yang mengamankan kunjungan Raja beserta rombongan ke Pulau Dewata, 4-9 Maret 2017 untuk berlibur.

Sementara itu, sebanyak 150 koki disiapkan oleh Aerofood Catering Service (ACS), anak perusahaan maskapai Garuda Indonesia, untuk membantu menjamu rombongan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud selama berkunjung di Indonesia.?

Istana Kepresidenan Bogor menyediakan lahan khusus untuk Al-Saud Garden membentang di depan gedung Serbaguna istana tersebut khusus untuk menyambut kehadiran Raja Salman bersama pangeran di Istana tersebut. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 12 Januari 2018

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Saat ini dunia maya tengah viral oleh adanya penceramah agama yang dinilai tidak kompeten di salah satu televisi nasional. Terlihat dalam tayangan itu seorang ustadzah yang menulis ayat Al-Quran  dengan kesalahan yang sangat fatal. 

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Hal tersebut mengundang keprihatinan Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Maman Imanulhaq.

Kiai Maman menegaskan bahwa televisi adalah media yang efektif ditonton dan memengaruhi pola pikir  masyarakat umum. Apabila tayangan ceramah keagamaan yang berkualitas dengan materi dakwah yang transformatif dan aktual disuguhkan oleh penceramah yang kompeten, maka akan mengukuhkan nilai agama yang menjadi semangat perubahan dan perdamaian.

"Sebaliknya bila materi ceramah yang hanya tekstual, tidak komprehensif dikarenakan tidak memiliki kompentensi, dan cenderung menyalahkan kelompok yang berbeda akan mempengaruhi masyarakat untuk saling membenci dan akan membingungkan umat,” ujarnya, Selasa (5/12).

Kejadian tersebut bukan pertama kali. Beberapa acara keagamamaan di televisi membuat resah umat diantaranya karena cenderung menyalahkan tradisi dan ritual yang dilakukan sebagian besar umat Islam di Indonesia. 

Ribath Nurul Hidayah

Untuk mengantisipasi kejadian serupa Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahldatul Ulama (LD-PBNU) dan LTNNU akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara berkala. 

Hasil dari FGD akan dikomunikasikan dengan statsiun-statsiun TV melalui program visit media. 

Selain itu, juga akan memberikan daftar profil 30 ustad muda NU kepada stasiun televisi. Para dai muda NU yang  nantinya direkomdasikan dipastikan adalah penceramah yang berkompeten. Penceramah juga mampu membawakan materi dakwah yang jadi solusi keagamaan bernilai kasih sayang serta memberikan dampak sosial serta membawa perbaikan bagi peradaban.

Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) LTN PBNU, Hari Usmayadi, mengatakan pihaknya telah membuat kompilasi penceramah yang memiliki kompetensi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang membutuhkan, termasuk stasiun televisi.

Ribath Nurul Hidayah

“Pada saat ini telah disediakan dan terus dikembangkan website layanan Syiar Digital Nahdlatul Ulama dengan alamat www.nahdlatululama.id yang menyediakan daftar profil ustad dari berbagai provinsi dengan beragam keilmuan agama. Versi videonya ditampilkan di kanal video http://youtube.com/nahdlatululama, sehingga memudahkan masyarakat perkotaan dan perkantoran dalam mencari ustad,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Usma ini. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Tegal, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Sekilas tak ada yang istimewa dari pemuda ini. Pria asal Makassar yang hijrah ke Mamuju pada tahun 2008 karena ikut tinggal di rumah sang istri. Ia menjalani rutinitas sebagai petani coklat, guru ngaji, dan kini memimpin Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Yang membuatnya tak biasa adalah kepekaannya menangkap keadaan lingkungan barunya di Dusun Salukue, Desa Kolanding, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ketika para remaja usia SMP di daerah lain tiap pagi mengalungkan tas menuju sekolah, kebanyakan anak di kampung itu justru sibuk bermain, sekadar diam di rumah, atau ikut orangtua bekerja di perkebunan atau lainnya.

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pelosok, Pemuda NU Ini Berjuang Dirikan Madrasah

Selain masih minimnya kesadaran warga tentang pentingnya pendidikan, keadaan lah yang memaksa putra-putri mereka malas melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.? Kendala ada pada infrastruktur dan sarana prasarana di kecamatan setempat yang tergolong rendah. Jarak menuju sekolah belasan kilometer, jumlah kendaraan umum sangat terbatas, sementara sekolah jejang menengah pertama di kampung sendiri belum tersedia. Kawasan pelosok membuat akses pendidikan dan interaksi dengan dunia luar menjadi serbarepot.

Ribath Nurul Hidayah

Apalagi persoalan ekonomi ikut menjadi faktor. Mayoritas penduduk mengandalkan penghasilan sehari-hari dari hasil pertanian coklat di perkebunan dan padi di sawah. Ada juga beberapa yang menjalani profesi sebagai buruh tani, dan profesi pelayanan jasa lainnya. Kebanyakan para petani itu berpikir akan lebih “masuk akal” bila anak-anak ikut membantu pekerjaan orang tua di kebun atau sawah ketimbang berseragam sekolah, lalu menyusuri jalan menuju kecamatan yang melelahkan. Lagi pula tak setiap penduduk Kolanding berekonomi mapan. Bantuan sang anak akan menjadi energi tambahan dalam meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Di mata Zahril, nama pemuda itu, kondisi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Hanya butuh setahun sebagai warga pendatang di Dusun Salukue, ia lantas mendirikan madrasah tsanawiyah dengan segenap rintangan dan keterbatasan. Ia rangkul tokoh dan masyarakat setempat, dan mengajaknya bersama-sama memikirkan masa depan pendidikan anak-anak desa.

Cita-citanya mendirikan MTs mendapat sambutan antusias. Zahril beruntung sudah mengawali tinggal di desa mertuanya tersebut dengan mengajar ngaji. Artinya, kepercayaan warga akan perjuangan Zahril di sektor pendidikan sedikit banyak sudah muncul. Atas dasar semangat gotong-royong, warga pun membangun madrasah itu dari kayu yang mereka kumpulkan. Tak lupa, rumah untuk Zahril turut mereka bangunkan dengan suka rela.

Ribath Nurul Hidayah

Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) dan Madrasah Diniyah yang sudah ia rintis pun akhirnya berkembang. Keguyuban warga dan mulai tumbuhnya kesadaran mereka akan pendidikan bagi generasi berikutnya membuat Desa Kolanding kini memiliki madrasah baru. Sekolah yang kemudian disepakati bernama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama itu menjadi “pelepas dahaga” bagi anak-anak yang dilanda langkanya lembaga pendidikan di daerah pedalaman. Tak ada masalah sekolah masih beralaskan tanah dan berdinding papan.

Awal pendirian MTs Maarif NU diisi hanya oleh dua guru, Zahril dan istrinya; sementara sekarang telah bertambah menjadi enam orang. Meski cuma dua pendidik, periode awal relatif bisa diatasi karena jumlah murid saat itu sembilan orang. Kini MTs Maarif NU Kolanding memiliki 42 siswa, dan telah mewisuda beberapa siswa. Selain dari Desa Kolanding, para murid berasal dari Desa Tanambuah, Desa Tembes, dan Desa Pantaraan. Hanya Zahril dan istrinya guru yang berasal dari Kolanding, sementara sisanya dari desa-desa tetangga.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama diselenggarakan tanpa membebani peserta didik dengan biaya alias gratis. Biaya operasional disangga dari hasil patungan warga dan para dermawan, serta zakat pertanian. Zahril mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah.

Pada 2012, MTs Maarif Nahdlatul Ulama genap berusia tiga tahun. Siswa angkatan pertama yang berjumlah sembilan orang pun wisuda. Sebagai sebuah kesinambungan pembelajaran, Zahril menyusulnya dengan mendirikan Madrasah Aliyah Maarif Nahdlatul Ulama. Bagi Zahril, tak memberikan wadah pendidikan aliyah bagi para lulusan tersebut sama saja membiarkan mereka kembali putus sekolah. Sekarang total siswa MA Maarif NU Kolanding ada 22 anak dari berbagai desa dan latar belakang ekonomi. Tahun ini MA Maarif NU meluluskan angkatan pertama.

Zahril yang perah belajar di Pondok Pesantren Madinah Makassar selama tiga tahun mewarnai sistem pembelajaran di MTs dan MA yang ia dirikan dengan tradisi akademik dan kultur pesantren. Selain ada latihan seni hadrah sebagai kegiatan ekstrakurikuler, peserta didik juga sangat dianjurkan mengaji dengan sejumlah materi seperti hafalan al-Qur’an dan pelajaran-pelajaran ala madrasah diniyah lainnya pada sore dan malam harinya.

Sekarang madrasah rintisan telah berkembang. Enam piala sebagai bukti prestasi siswa dalam berbagai ajang lomba tingkat kabupaten juga sudah ada dalam genggaman. Zahril bersyukur bisa bermanfaat bagi orang lain, dan berharap kelak makin banyak orang yang turut menghidupkan. “Semoga berkah!” tuturnya. (Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Sekjen PBNU: Pilkada DKI Jakarta Bukti Kedewasaan Berdemokrasi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kontestasi Pilkada DKI Jakarta telah kita lewati bersama. Berdasarkan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, pasangan Anis Baswedan dan Sandiaga Uno unggul atas pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Sekjen PBNU: Pilkada DKI Jakarta Bukti Kedewasaan Berdemokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU: Pilkada DKI Jakarta Bukti Kedewasaan Berdemokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU: Pilkada DKI Jakarta Bukti Kedewasaan Berdemokrasi

Menanggapi hal itu, yang penting untuk dikedepankan adalah sikap kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi hasil Pilkada.

Hal itu disampaikan Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini, Rabu (19/4) di Jakarta. Menurut pria kelahiran Cirebon ini, pilkada sangat menyita perhatian publik, bahkan menguras energi. 

"Pilgub DKI terbilang sangat istimewa, bukan hanya menyita perhatian publik nasional bahkan publik internasional pun ikut menyimak setiap tahapan demi tahapan serta keramaian yang menyertainya," jelas Helmy.

Lebih jauh, lanjut Helmy, ajang Pilkada DKI Jakarta bisa dijadikan momentum untuk menggunakan serta merawat akal sehat dan rasionalitas dalam menentukan pilihan. 

Ribath Nurul Hidayah

"Orang yang dewasa itu selalu bisa mempertanggung jawabkan pilihannya. Akal sehat harus digunakan dengan baik," tambahnya.

Saat dimintai tanggapan soal hasil hitung cepat, Helmy mengatakan yang berhasil menjadi pemenang tentu saja disebabkan oleh kerja keras, keuletan, keitikamahan, dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk merebut simpati rakyat. 

Ribath Nurul Hidayah

"Selamat kepada pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Yang paling penting dan harus dilakukan adalah secepat mungkin merangkul dan bersikap dewasa agar rakyat tidak semakin terpolarisasi," tambah Helmy mengakhiri. (Fariz Aliniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, beserta Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Bupati Sidoarjo, Kepala BNNK Sidoarjo, dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, mendeklarasikan perlawanan terhadap narkoba. Deklarasi tersebut dilakukan di aula SMP Negeri 1 Sidoarjo, Ahad (17/7).

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba

Khofifah menegaskan, Muslimat NU harus berada di garda terdepan dalam melawan narkoba. Pasalnya, yang menjadi sasaran mafia narkoba saat ini adalah anak-anak. Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh elemn masyarakat untuk terus memberantas peredaran narkoba.

"Saat ini banyak anak-anak yang menjadi kurir narkoba. Apabila tertangkap, anak itu tidak di hukum seumur hidup. Karena hukuman anak itu di bawah hukuman orang dewasa maksimal 10 tahun. Setelah itu, anak-anak bebas bersyarat dan menjalani hukuman sekitar 5 tahun. Belum lagi mendapatkan remisi sekitar 3 hingga 4 tahun," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PP Muslimat NU ini mengaku prihatin atas peredaran narkoba yang menyerang anak-anak. Untuk itu, pihaknya mengajak kepada seluruh masyarakat agar terus memberantas peredaran barang haram tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Anak yang sudah keluar dari penjara itu masih dipantau oleh bandar narkoba. Untuk itu, kita juga harus memantau kembali keberadaan bandar narkoba, agar anak-anak yang sudah tereksploitasi tidak mengulangi perbuatannya lagi," tegasnya.

Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo, Ainun Jariyah berharap, dengan diadakannya deklarasi antinarkoba ini, generasi penerus bangsa terhindar dari peredaran narkoba. "Narkoba itu membawa sengsara. Semoga anak-anak dijauhkan dari narkoba," harapnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Pesantren, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

Jember, Ribath Nurul Hidayah

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Jember H. Hobri Ali Wafa menyatakan mendukung dan siap melaksanakan instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bahwa hari masuk sekolah tetap enam hari, mulai Senin hingga Sabtu.

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

“Kami siap mengikuti apa pun perintah PBNU. Kalau memang diinstruksikan tetap 6 hari sekolah, maka sekolah-sekolah di bawah LP Maarif di Jember, ya tetap 6 hari, dan mungkin juga Maarif di seluruh Indonesia sama,” jelasnya.

Kamis (15/6), PBNU secara eksplisit menolak kebijakan baru Kemendikbud tentang pemangkasan hari sekolah yang berakibat penambahan durasi belajar pelajar menjadi delapan jam sehari.

Ribath Nurul Hidayah

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj berpandangan, daripada membuat kebijakan baru yang merugikan, Kemendikbud sebaiknya fokus pada peningkatan kualitas sistem pendidikan yang sudah ada. PBNU bahkan mengancam melakukan boikot bila kebijakan baru tersebut dipaksakan berlaku secara nasional.

Ribath Nurul Hidayah

(Baca: Pernyataan Resmi PBNU Menolak Kebijakan Sekolah 5 Hari)



Kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk memberlakukan 8 jam pelajaran perhari atau 40 jam dalam seminggu juga mendapat reaksi keras dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jember, Akhmad Taufiq. Ahad (11/6), Dosen Universitas Jember itu mengeluarkan rilis menyikapi keputusan sang menteri yang? kontroversial tersebut.

Menurutunya, kebijakan tersebut terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia, dan cenderung dipaksakan, karena belum mempertimbangkan secara seksama karakter? dan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam. “Mestinya, aspek nasionalitas keindonesiaan menjadi pertimbangan utama dalam segala bentuk kebijakan pendidikan yang dilakukan (Muhadjir Effendy),” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau penerapan 5 hari sekolah itu dilandaskan pada alasan untuk memenuhi minimal 40 jam pelajaran dalam seminggu, sungguh merupakan alasan yang tidak mendasar. Alasan tersebut baru pada tataran normatif dan prosedural semata. Sedangkan pada? tataran substantif tidak memenuhi derajat orientasi visional pendidikan nasional. “Karena itu kami menyerukan? agar keputusan 5 hari sekolah itu dibatalkan demi stabilitas dan kondusivitas pendidikan nasional yang sedang berjalan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susianah Affandi mengatakan, kelompok ekstremis menyasar anak-anak sebagai target perekrutan. Alasannya, anak-anak dinilai masih polos dan belum bisa menyaring mana konten yang mengandung unsur ektrimisme-radikalisme dan mana yang tidak.

“Karena mereka kan masih polos dan mereka tidak bisa menolak,” kata Susianah selepas mengisi acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Jakarta, Selasa (29/8).

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi kepada para orang tua tentang ideologi radikalisme dan ekstremisme. Sehingga mereka sadar dan mawas diri akan bahaya gerakan-gerakan yang mengarah kepada terorisme.

“Yang harus dilakukan adalah penguatan ketahanan keluarga,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) itu menyebutkan, anak-anak yang terpapar radikalisme biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah seperti orang tuanya bercerai, keluarganya tidak harmonis, dan keluarga yang miskin.

Selain itu, kelompok ekstremis dan radikalis, imbuh Susianah, melakukan propaganda kepada anak-anak dengan menyuguhkan pengertian jihad yang keliru. Mereka menafsirkan jihad dengan dengan perang melawan non-muslim. Maka dari itu, yang paling rentan terhadap radikalisme adalah anak-anak.

“Nilai-nilai itu (pengertian jihad yang keliru) hanya bisa masuk secara mudah kepada orang-orang yang belum punya filter pendidikan, pengalaman, dan sosio kultur,” ucapya. ?



Ribath Nurul Hidayah



Anak sudah terpapar radikalisme

Susianah menjelaskan, seandainya ada anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme maka pemerintah seharusnya tidak melakukan upaya-upaya yang represif dan menggunakan pendekatan hukum.?

“Jadi bukan pendekatan represif. Kalau menggunakan represif maka akan menularkan virus dendam kepada anak,” jelasnya.

Ia lebih sepakat apabila pemerintah melakukan program rehabilitasi dan kesejahteraan kepada anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme, yaitu dengan menanamkan pemahaman Islam yang damai.

Di lain pihak, masyarakat juga harus diberikan pendidikan terkait dengan anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme. Sehingga masyarakat juga bisa ikut serta dalam proses rehabilitasi terhadap anak yang sudah terpapar tersebut. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Pesantren Ribath Nurul Hidayah