Minggu, 31 Desember 2017

PCNU Depok Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyatul Hilal

Depok, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok menggelar pelatihan hisab dan rukyatul hilal di sekretariat PCNU Kota Depok, Jl. Raya Kalimulya No, 5 B Kalimulya, Kec, Cilodong- Kota Depok, Rabu ? (17/5).

PCNU Depok Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Depok Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyatul Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Depok Gelar Pelatihan Hisab dan Rukyatul Hilal

Sekretaris PCNU Kota Depok Ust. Nasihun Syahroni menyatakan pelatihan tersebut sangat tepat karena bersamaan waktunya dengan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dalam penetapan awal puasa. Menurutnya, warga Nahdliyin mengetahui bahwa penetapan awal bulan komariyah yang digunakan NU dengan menggunakan metode rukyatul hilal. Namun, lanjutnya, masih banyak yang belum mengetahui prosesnya seperti apa.?

Pihaknya menyelenggarakan pelatihan tersebut untuk pengurus NU, badan otonom seperti: IPNU-IPPNU, GP Ansor NU, Fatayat NU, Muslimat NU, Lazisnu, JQH NU, LTM NU dan lainnya.?

"Sebagai narasumber adalah KH M. Yusuf Hidayat, yang juga katib syuriah PCNU Kota Depok. Ini adalah kegiatan perdana di Depok dan selanjutnya, akan menyusul," ujarnya.

Menurutnya, dari pelatihan tersebut diharapkan agar peserta yang ? mengikuti pelatihan bisa mengenal dan menghitung bagaimana cara melakukan hisab dan rukyatul hilal. Paling tidak, lanjutnya, memahami metode ini dalam menentukan awal dan akhir bulan puasa.?

Ribath Nurul Hidayah

"Tidak hanya memahami saja, tapi secara sederhana bisa mengikuti metode dan dipelajari di situ. Tentunya, tidak berhenti sampai di sini saja tapi ada tingkatan lanjutan untuk lebih dalam lagi," paparnya.?

Sementara itu, Yusuf Hidayat mengungkapkan bahwa peserta mendapatkan beragam materi seputar metode hisab dan rukyatul hilal. Menurutnya, materi diambil dari ilmu falak.

Kursus singkat hisab dan rukyatul hilal (metode 2 jam) menghitung awal bulan komariyah, terjemahan dari Kitab Fathul Rauf Al-Mannan Syeikh Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Qudus.

Ribath Nurul Hidayah

"Materi memang disusun untuk memudahkan bagi peserta dikarenakan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada bagan falak dan buku panduannya. Diharapkan, ilmu yang sebagian orang susah memahaminya dengan pelatihan ini bisa dengan mudah dan mampu," harapnya. (Aan Humaidi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 30 Desember 2017

Ansor Rembang Beri Penghargaan Tiga Peserta Diklatsar Kaliori

Rembang, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Rembang memberikan penghargaan kepada tiga peserta Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan tiga kategori di antaranya peserta tertua, peserta termuda, dan peserta terbaik.

Ansor Rembang Beri Penghargaan Tiga Peserta Diklatsar Kaliori (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Rembang Beri Penghargaan Tiga Peserta Diklatsar Kaliori (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Rembang Beri Penghargaan Tiga Peserta Diklatsar Kaliori

Penghargaan tersebut disampikan langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Rembang Hanies Cholil Barro usai pembaiaatan 99 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dinyataakan lulus pada Diklatsar yang selenggarakan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah, Senin (28/3).

Apresiasi tersebut disampaikan sebagai penghargaan dari pimpnan cabang atas partisipasi yang diberikan kepada mereka dan juga prestasi selama mengikuti Diklatsar.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami sangat mengapresiasi kepada Sahabat semua yang sudah mau bersedia menjadi bagian dari dari Ansor dan Banser. Kami berharap, bukan hanya pada Diklatsar kali ini saja, tetapi juga pada Diklatsar yang akan datang dan juga semua kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Ansor dan Banser selanjutnya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu penerima penghargaan sebagai peserta termuda adalah Muhammad Ainul Huda dari Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Babadan dengan usia 15 tahun. Sedangkan penghargaan peserta tertua diberikan kepada Sumijan asal Pimpinan Ranting GP Ansor Karangsekar dengan usia 58 tahun, serta peserta terbaik diberikan kepada Dwi Hasan Basyari dari Kecamatan Sedan. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Hari Kartini yang selalu diperingati setiap 21 April lebih dari sekadar berkebaya ria atau perayaan sejenis lainnya. Hari Kartini adalah momentum menghayati, meneladani, dan meneruskan perjuangan RA Kartini yang telah mengangkat harkat dan martabat wanita Indonesia.

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Demikian rangkuman dari pandangan beberapa? pelajar madrasah NU di Kudus yang dihubungi Ribath Nurul Hidayah terkait makna hari peringatan Hari Kartini yang tahun ini jatuh pada hari Selasa (21/4) kemarin.

Menurut pelajar SMANU Al-Maruf Riska Rahayu Lestari, hari kartini bukan hanya sebagai hari penghormatan pahlawan emansipasi wanita ini namun juga merupakan momen dimulainya revolusi kedudukan kaum wanita.

Ribath Nurul Hidayah

"Munculnya RA Kartini, wanita mulai diberi kesempatan yang? lebih luas untuk menggenggam dunianya, khususnya lewat pendidikan yang menjadi aspek penentu kedudukan seseorang," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Pimpinan Komisariat (PK) IPPNU Al-Maruf ini menegaskan, Hari Kartini telah menjadi semangat baru wanita Indonesia untuk menyuarakan kedudukan dan perannya, bukan sebagai konco wingking (di belakang) kaum lelaki. Wanita mempunyai impian untuk menggenggam dunia dengan cara mereka sendiri.

?

"Namun tetap digarisbawahi bahwa hari kartini bukan hari di mana kodrat wanita lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi lebih? kepada wanita punya tangan sendiri," kata Riska.

?

Siswi MANU Muallimat Inas Arna Ramaddhani mengutarakan, kemeriahan Hari Kartini bermakna mengenang jasa tokoh kelahiran Jepara yang telah memperjuangakan kaum wanita dengan mengembalikan harkat dan martabatnya.

?

"Hal itu juga bagian untuk instrospeksi diri apakah kita ini sudah mampu? untuk menjadi Kartini masa kini? atau tidak, termasuk siapkah sebagai Kartini-Kartini sejati di masa depan?" ujar Inas yang juga ketua Forkapik IPNU-IPPNU Kudus.

?

Senada dengan Inas, siswi MANU Nurussalam Besito Gebog Amalia Sholikhah menilai RA Kartini telah menjadikan wanita tidak dipandang remeh. Adik RM Sosrokartono itu mampu menjadikan wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.

?

"Seperti halnya dulu wanita hanya di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tetapi berkat jasa RA Kartini sekarang banyak wanita yang berkarir," katanya.

?

Jaga martabat wanita

?

Sementara siswi MANU Ibtidaul falah Samirejo Dawe Aang Riana Dewi mempunyai pandangan berbeda. Menurutnya, makna Kartini bukan terdapat pada perayaannya tetapi penghayatan atas perjuangannya.

"Sebab, RA Kartini telah memang memperjuangkan derajat wanita. Tetapi fenomena yang terjadi (sekarang) wanita (masih) cenderung dilecehkan.Terbukti dari banyaknya kasus kriminal yang menimpa kaum hawa," ungkapnya.

?

Lantas bagaimana meneladani perjuangan RA Kartini dalam konteks kekinian? Riana berpandangan kaum wanita harus menjaga harkat dan martabatnya seraya tidak merendahkan diri. ?

?

"Wanita harus menjaga pergaulannya, tidak terlalu bebas dan berlebihan. Dengan begitu, tidak akan diremehkan apalagi dilecehkan," kata wakil ketua OSIS MA Ibtidaul Falah ini.

?

Sedangkan Riska menyatakan, meneladani perjuangan RA Kartini mungkin sangat sulit. Tetapi sebagai pelajar, harus senantiasa memanfaatkan kesempatan pendidikan yang ada dan yang telah diperjuangkan RA Kartini guna mengembangkan dunia yang lebih luas.

?

"Pelajar wanita harus berpikir proaktif untuk perkembangan pendidikan ke depan dengan senantiasa berkarya? untuk memanfaatkan pendidikan. Pelajar wanita harus punya prinsip, belajar bukan karena formalitas tapi kebutuhan,"tandas siswi kelas XI SMANU AL-Maruf ini. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah?



Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Muhammad Herindra menanggapi pemberitaan bahwa Indonesia saat ini sudah dikuasai China. Menurut dia, pemberitaan tersebut bohong adanya. Ia menyampaikan bantahan tersebut pada Safari Ramadhan ke Kota Tasikmalaya di lapangan Makodim 0612, Senin (5/6).

"Tidak mungkin pemerintah akan menyengsarakan rakyatnya. Itu semua berita bohong, menyesatkan dan harus diwaspadai. Memang investasi negara Chna besar, namun Pemerintah tidak akan gegabah, semua ada kalkulasinya. Pemerintah saat ini berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan ditempuh dengan berbagai cara."

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China

Pangdam meminta kepada seluruh pihak agar mewaspadai akan bahaya terorisme, diperlukan langka-langkah untuk mengantisipasi pergerakannya, termasuk upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah.?

Ribath Nurul Hidayah

"Wajib kita menangkal terorisme sedini mungkin. Jangan sampai tumbuh dan berkembang di kota ini, termasuk musuh negara yang saat ini menentang Pancasila sebagai dasar negara. TNI ini aparat negara yang getol mengkampanyekan nilai Pancasila, ini final, sudah disepakati pendiri bangsa sehingga jika ada organisasi yang bertentangan, ya dibubarkan," ujar jenderal kelahiran Blitar 20 Oktober 1964 ini.?

Masih dalam sambutannya, Pangdam berbicara tentang hubungan TNI dan masyarakat. Ia meminta kepada seluruh jajaran TNI untuk lebih dekat dengan masyarakat.?

Ribath Nurul Hidayah

"Kemanunggalan TNI dan rakyat tidak terbantahkan. TNI lahir dari rakyat. Tanpa rakyat, TNI tak ada apa-apanya. Saya perintahkan agar semua unsur TNI selalu dekat dengan rakyat karena rakyat adalah ibu kandung TNI, dan memisahkan TNI dengan rakyat sama halnya memisahkan ikan dari air," tegas Mayjen bintang dua tersebut.?

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya Ricky Assegaf sependapat dengan apa yang dikemukakan Pangdam Siliwangi, terlebih yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh bangsa saat ini.?

"Ansor komitmen menjaga keutuhan NKRI, kalau TNI bergerak dalam pencegahan dan penindakan, Ansor di samping pencegahan, juga meluruskan pemahaman keliru tentang jihad serta ikut serta dalam pengamanan. Ormas anti-Pancasila juga bagian yang kami tentang saat ini, apa pun namanya harus dibubarkan. Terima kasih Pangdam telah bersama kami," ungkap Ricky seusai acara.?

Ia menambahkan, berita bohong, fitnah harus terus lawan oleh segenap masyarakat karena hal itu tidak mencerdaskan, bahkan jadi penyebab pertengkaran sesama anak bangsa, dan merusak sendi-sendi bernegara.?

“Bikin gaduh saja. Mari budayakan tabayyun,” tegasnya. ?

Selain Ketua GP Ansor, Safari Ramadhan Pangdam tersebut dihadiri Walikota Budi Budiman, Ketua MUI KH Acep Noor Mubarok, Kapolresta AKBP Adi Nugraha, serta Dandim se-Priangan Timur. (A. Arif/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Di Jombang, Ratusan Pelajar Ikuti Seleksi Pesantren Kilat

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang Jawa Timur menggelar tes tulis masuk kegiatan pesantren kilat (Satlat) bagi pelajar yang baru lulus pendidikan tingkat SMA/SMK/MA. Pada tes yang berlangsung di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Selasa (13/5) ini diikuti oleh 450 peserta.

Di Jombang, Ratusan Pelajar Ikuti Seleksi Pesantren Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jombang, Ratusan Pelajar Ikuti Seleksi Pesantren Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jombang, Ratusan Pelajar Ikuti Seleksi Pesantren Kilat

Ketua PC GP Ansor Jombang, H. Zulfikar Damam Ikhwanto mengungkapkan, kegiatan Sanlat merupakan ikhtiyar GP Ansor beserta sejumlah elemen muda Nahdlatul Ulama, seperti PMII, ISNU, Fatayat NU dan IPNU serta IPPNU, guna menyongsong pemenuhan kebutuhan kader NU di masa datang. "Tujuannya untuk mengatasi kebutuhan kader NU di masa mendatang," katanya.

Dia menjelaskan, ratusan peserta tes yang datang dari wilayah Jombang, Kediri, Mojokerto dan Nganjuk itu akan diseleksi menjadi 60 peserta yang akan terlibat dalam pesantren kilat. Keenam puluh peserta Sanlat akan menjalani masa pemondokan selama satu bulan dan menerima pembekalan, baik materi akademik maupun non-akademik.

Ribath Nurul Hidayah

Pada materi non-akademik, peserta Sanlat digembleng dengan materi tentang NU dan Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan, pembekalan akademik diorientasikan pada materi untuk menyongsong pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri. "Salah satu targetnya, para santri Sanlat bisa lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri," kata Zulfikar.

Masa pemondokan bagi santri Sanlat, tambahnya, akan dilaksanakan di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Gemblengan bagi santri Sanlat, diharapkan bisa membantu para santri untuk menjadi tenaga profesional yang memiliki ikatan dengan Nahdlatul Ulama. "Ini untuk memenuhi kebutuhan kader NU yang profesional dari berbagai disiplin ilmu," tandas karyawan Pemkab Jombang ini. (Syafullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 Desember 2017

Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi

Oleh KH MA Sahal Mahfudh

Berbicara tentang posisi umat Islam di Indonesia—apalagi bila dikaitkan dengan proses demokratisasi—tidaklah mudah. Hal itu tidak mungkin ditelaah hanya dari sudut pandang mikro-sinkronis. Sudut pandang ini akan sulit menemukan posisi yang tepat, yang selalu berkaitan erat secara simbiosis dengan kondisi dan situasi obyektif yang terjadi. Namun bila hal itu di telaah dari sudut pandang makro-historis tentu akan memerlukan pembahasan yang panjang. Tentu saja hal itu sulit diformulasikan dalam tulisan yang singkat ini. Tulisan ini hanya mencoba melihat berbagai fenomena yang timbul akibat perkembangan partisipasi umat Islam dalam politik, yang tentu juga akan beppengaruh terhadap umat Islam dalam aspek-aspek kehidupan lainmya.

Kita “umat Islam" meskipun dipahami dalam konotasi yang sama, namun seringkali nengalami penyempitan dan pemekaran cakupan dalam penerapannya sebagai subyek mau pun obyek politik. Perubahan ini berjalan mengikuti luas dan sempitnya wawasan gerakan-gerakan Islam yang ada. Pada abad-abad lalu, ketika masyarakat suku-suku bangsa Indonesia masih dijajah oleh pemerintah kolonial, umat Islam hanya meliputi sesama kaum muslimin yang tinggal di sebuah kawasan tertentu, meski masih ada perbedaan antara muslim santri dan muslim nonsantri.

Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi

Ketika Indonesia telah merdeka berubah liputannya menjadi kaum muslimin yang membentuk nasion Indonesia. Liputan ini menyempit lagi, ketika mulai muncul kepentingan-kepentingan politik yang berbeda dari banyak faksi. Umat Islam pada saat itu ditujukan hanya kepada mereka yang masuk -atau dimasukkan ke dalam- gerakan-gerakan formal Islam yang bersikap sektarian di kalangan kaum muslimin sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Perubahan-perubahan seperti itu penting maknanya, dalam spektrum strategi perjuangan lebih luas. Siapa yang dimasukkan ke dalam kategori "umat Islam"? Konsep keumatan yang berbeda-beda itu setidaknya mengacu pada munculnya dua alternatif, apakah perjuangan umat Islam itu sebagai bagian dari sebuah perjuangan umum kemanusiaan atau justru akan merombak visi kemanusiaan menjadi lebih luas dan global yaitu keislaman.

Ribath Nurul Hidayah

Perbedaan pilihan dari dua alternatif di atas tentu mempengaruhi tujuan dan strategi, yang berdampak pada munculnya perilaku sosial dari gerakan-gerakan Islam yang meletakkan diri dalam situasi dikotomis, antara definisi “kita” dan "mereka", dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan. Dampak lain yang timbul adalah perbednan garapan, struktur kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, juga tawaran bentuk-bentuk kemasyarakatan yang hendak dibangun.

Dalam hal ini, kasus pertentangan warga NU yang oleh keadaan seperti karena menjadi anggota KORPRI tidak mungkin menjadi pendukung PPP di satu pihak, dan kawan-kawan seorganisasi induk yang mendukung PPP di lain pihak, adalah contoh menarik untuk ditelaah. Ketika format perjuangan NU diubah oleh Muktamarnya yang ke-27 di Situbondo, yaitu ketika dinyatakan bahwa NU tidak lagi mempunyai kaitan organisatoris dengan organisasi politik manapun. Perubahan besar dalam hubungan kedua belah pihak lalu terjadi dengan dampak-dampak tersendiri.

***

Kekuatan umat Islam di tingkat elit politik sempat bergulat hebat ketika menentukan bentuk negara antara Islam dan non-Islam, yang akhirnya diselesaikan dengan rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini sebenarnya merupakan simbolisasi besarnya kekuatan ideologis Islam. Namun kekuatan itu tak mampu memegang dominasi percaturan tingkat atas, karena kurang memperoleh dukungan luas dari massa Islam di tingkat bawah. Secara hipotetis, bila dukungan dari bawah cukup besar, tentu umat Islam tidak begitu saja menerima bentuk kompromistik yang dicapai oleh kalangan elit kepemimpinan Islam waktu itu.

Kenyataan inilah yang barangkali masih belum tuntas dipahami oleh sebagian umat Islam Indonesia saat ini. Bahwa kesadaran berbangsa sebagai penggerak utama bagi cita-cita kehidupan masyarakat sebagai bangsa, adalah sesuatu yang harus diterima sebagai fakta obyektif yang tuntas. Meskipun secara bertahap tapi pasti, penerimaan atas kenyataan ini telah berlangsung makin mantap di kalangan umat Islam, utamanya setelah diberlakukannya UU kepartaian dan UU keormasan dengan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Malahan NU dalam Muktamarnya yang ke-27 di Situbondo menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final bagi kaum muslimin Indonesia.

Ketidakmampuan membaca perkembangan kesadaran politik kenegaraan kaum muslimin ini akan berakibat jauh, karena munculnya pandangan yang terlalu idealistik tentang hubungan Islam dan negara. Ajaran Islam -sebagai komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat warga negara Indonesiaseharusnya diperankan sebagai faktor komplementer.

Bagi komponen-komponen lain, bukannya sebagai faktor tandingan yang berfungsi disintegratif terhadap kehidupan bangsa secara keseluruhan. Islam dalam hal ini difungsikan sebagai kekuatan integratif yang mendorong tumbuhnya partisipasi penuh dalam upaya membentuk Indonesia yang kuat, demokratis dan penuh keadilan.

Meskipun tidak menutup kemungkinan adanya sebagian umat Islam idealis yang memandang Islam tidak hanya berfungsi komplementer terhadap ideologi kenegaraan lain, namun secara sepintas dapat dilihat bahwa massa Islam sudah berdamai dengan ideologi negara dan sekaligus masih mampu mempertahankan kehidupan mereka pada konteks "Islami" tersendiri secara aplikatif. Mereka nampaknya puas dengan sikap akomodatif yang dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah sebagai perwakilan terpenting kaum muslimin Indonesia, untuk menerima fungsi komplementer Islam dalam kehidupan berbangsa. dan bemegara. Ini terbukti dengan dukungan mereka terhadap kegiatan-kegiatan organisasi tersebut mau pun dengan luasnya jangkauan keanggotaan keduanya.

Pada permulaan Orde Baru, Bung Hatta pernah mengambil inisiatif mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia dengan tujuan mendidik umat Islam dalam berpolitik Gagasan ini tidak sampai direalisasikan. Malahan pada akhirnya beliau memandang tradisi politik Islam dari sudut yang positif, menawarkan jalan Islam yang lentur, jika ingin menjalankan peran penting menuju masyarakat yang adil dan makmur. Nampaknya Bung Hatta dengan pendirian terakhir ini lebih melihat ke belakang, sebagai sikap koreksi atas kelemahan politik umat Islam, sekaligus mengantisipasi perkembangan permasalahan politik di masa mendatang.

Kelemahan umat Islam dalam bidang politik bersumber pada perbedaan persepsi tentang hubungan Islam dan politik, diikuti dengan sikap politik yang berbeda pula. Ada sikap menolak terhadap garis yang dianggap menyimpang dari garis vertikal Islam. Ada pula yang tidak hanya menggunakan garis lurus ke atas, akan tetapi juga bersikap mendatar dan kompromi terhadap kekuasaan. Sikap ini lalu mempermudah perilaku akomodatif sepanjang tak mengganggu prinsip yang diyakini. Masih ada lagi sikap lain, misalnya menolak sama sekali kaitan Islam dengan politik, kecuali hanya bersifat kultural.

Dengan persepsi dan sikap yang berbeda tentang hubungan Islam dan politik itu, kiranya dapat dipahami, posisi umat Islam dalam politik dan dalam proses demokratisasi. Bila persepsi yang dominan adalah yang kedua dengan konsekuensi logisnya bersikap akomodatif kritis, maka posisi mereka di dalam pergumulan politis paling tidak adalah sebagai promotor yang dituntut kemampuannya menjadikan Islam sebagai kekuatan integratif yang diaplikasikan ke dalam sikap dan perilaku masyarakat Pancasilais. Tetapi untuk menarik umat Islam dari posisi pinggiran (marginal) diperlukan juga keluasan pandangan keislaman para elite politik Islam sendiri, sekaligus juga keluasan cakrawala umat di luar kekuatan politik Islam, dalam mengarahkan proses kehidupan bangsa.

***

Demokratisasi adalah proses yang mencakup seluruh aspek kehidupan bangsa. Suatu proses dapat berjalan -lancar atau tidak- akan tergantung pada sistem, mekanisme, power dan sasaran. Bila yang diproses adalah "demokrasi" agar menjadi sikap dan perilaku masyarakat, maka bagi umat Islam yang memiliki persepsi dominan tentang kaitan Islam dan politik, memerlukan konsensus yang didasarkan pada kesadaran pluralistik, yang sebenarnya telah dirumuskan dalam konsep “Bhineka Tunggal Ika".

Kesadaran pluralistik itu berimplikasi pada kesadaran toleransi dan saling menghargai antara berbagai kelompok yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam proses itu, karena pada dasarnya demokrasi tidak mungkin tanpa sikap toleran dan saling menghagai antar pihak-pihak yang bersangkutan. Ini berarti bahwa demokratisasi memerlukan keberanian untuk menjauhkan sektarianisme yang sering merancukan watak toleran dan saling menghargai. Pada gilirannya tidak ada dominasi kekuatan oleh yang besar untuk mengalahkan yang kecil. Kepentingan bersama dianggap lebih afdhol daripada kepentingan sekte tertentu, mengalahkan watak sektarianisme -atau dengan konotasi lain “golonganisme—yang selalu lebih mengutamakan sektenya.

Terlepas dari apapun bentuk demokrasi yang dimiliki bangsa Indonesia, pengertian demokrasi merupakan norma yang diberlakukan dalam tatanan politik dengan ciri dasar: dari, oleh dan untuk rakyat bersama, mendorong adanya partisipasi rakyat secara penuh pada semua aspek kehidupan, tanpa paksaan dan ancaman. Meski pada tingkat elementer, demokrasi sering dikonotasikan sebagai kemerdekaan atau kebebasan menyampaikan aspirasi, kemauan dan konsepsi-konsepsi politik mau pun kemasyarakatan, meskipun pada batas-batas tertentu harus sesuai dengan konsensus yang dihasilkan.

Partisipasi penuh itu sendiri banyak ditentukan oleh sejauh mana umat menyadari sepenuhnya akan hak dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu tidak cukup hanya dengan menyadari dan melaksanakan kewajiban secara sepihak. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah, sudahkah umat Islam di negeri tercinta ini mengetahui, menyadari, menerima, melakukan dan mengembangkan hak dan kewajibannya, sehingga bersikap dan berperilaku partisipatif dalam semua aspek kehidupan atas dorongan watak demokrasi?

Floating mass memang berjalan dengan dampak positifnya, berupa gairah membangun di kalangan umat bawah dan dicapainya stabilitas. Namun diakui atau tidak, di pihak lain umat Islam di pedesaan menjadi asing dan terasingkan dari arti kegiatan politik yang sebenarnya. Di kalangan mereka terjadi proses depolitisasi yang bermuara pada adanya sikap keawaman di bidang politik, sikap masa bodoh terhadap demokratisasi dan sikap antagonistik pada kegiatan politik yang dianggap mengganggu kepentingannya.

Kalau toh mereka menggunakan hak pilihnya dan mengikuti kampanye dalam pemilu, hanyalah didorong oleh keengganan menghadapi tuduhan menghambat pembangunan, tidak Pancasilais, tidak berpartisipasi dan kadang karena sungkan dengan tetangga atau teman sejawat. Kalau mereka dengar atau memabaca kalimat demokrasi Pancasila, demokrasi ekonomi, demokrasi pendidikan dan seterusnya, mereka akan hanya berhenti di situ saja tanpa menampakkan apresiasi yang sungguh-sungguh untuk mengetahui, apalagi menanggapi lebih jauh.

Ini memang bukan indikasi bagi kegagalan pendidikan politik di kalangan umat Islam di bawah. Akan tetapi paling tidak menghambat proses mengetengahkan umat Islam dalam pergumulan politik dan menjauhkan kesadaran penuh mereka atas hak dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Akan tetapi apa pun yang terjadi, komitmen umat Islam atas bangsa dan negaranya tidak akan berubah karena telah terpatri oleh patriotisme yang tinggi, yang telah tertanam secara inhern dalam dirinya seperti pendahulu-pendahulunya. Oleh karenanya, kita harus bersyukur kepada Allah atas karuniaNya berupa hasil pembangunan yang telah kita rasakan bersama, sehingga pada gilirannya akan menambah karunia yang lebih memenuhi harapan dan cita-cita.

 

 

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS), dengan judul “Islam dan Demokratisasi”. Judul “Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi” merujuk pada makalah asli sebagaimana pernah disampaikan pada Forum Silaturrahim PPP Jawa Tengah di Semarang, 5 September 1992.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai Ribath Nurul Hidayah

Santri Pesantren Juga Harus Bisa Pencak Silat

Gresik, Ribath Nurul Hidayah. Pondok pesantren sejak awal berdirinya merupakan tempat penggemblengan hidup bagi para santri. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian dalil-dalil nash, tetapi juga penggemblengan fisik berupa kemampuan pencak silat atau ilmu kanuragan.

Santri Pesantren Juga Harus Bisa Pencak Silat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Juga Harus Bisa Pencak Silat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Juga Harus Bisa Pencak Silat

Pendiri Pencak Silat NU Pagar Nusa KH Suharbillah mengatakan, beberapa pesantren sejak masa sebelum KH Hasyim Asyari bahkan sengaja didirikan di pusat kemaksiatan. Dan untuk melawan kemaksiatan, kiai dan para santrinya harus kuat fisik, beladiri.

“Maka dari itu pondok pesantren juga memberikan bekal kemampuan fisik,” kata sesepuh Pagar Nusa itu saat menghadiri pembukaan Kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar se-Kabupaten Gresik dan Lamongan yang digelar di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kec. Dukun, kab. Gresik, Rabu (19/6) siang.?

Ribath Nurul Hidayah

Memang dalam perkembangannya hanya beberapa pondok pesantren saja yang memberikan pengajaran ilmu kanuragan, terutama karena padatnya pendidikan pesantren, apalagi pesantren yang telah membuka cabang sekolah formal.

Ribath Nurul Hidayah

Maka beberapa kejuaraan Pagar Nusa yang diselenggarakan di pondok pesantren diharapkan dapat membangkitkan kembali tradisi pengajaran pencak silat di pesantren.?

“Pencak Silat menjadi parameter mencari ilmu di pesantren. Tapi yang menang jangan sombong,” pesan Pengasuh Pesantren Ihyaul Ulum KH Mahfud Ma’shum yang juga Rais Syuriyah PCNU Gresik.

Kejuaraan di Pesantren Ihyaul Ulum itu digelar dalam dalam rangka peringatan haul ke-50 pendiri pesantren, KH Ma’shum Shufyan.?

Wakil Sekjen Pimpinan Pusat Pagar Nusa Muhammad Muadz yang menghadiri pembukaan kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar se-Kabupaten Gresik dan Lamongan mengatakan, pihaknya saat ini sedang merapikan tata organisasi Pagar Nusa. Tututan zaman mengharuskan Pagar Nusa lebih tertib dalam berorganisasi.

Langkah itu juga dilakukan PP Pencak Silat Pagar Nusa menyusul kasus pencatutan logo Pagar Nusa dalam satu kegiatan ormas tertentu yang mengembangkan pemikiran yang justru bertentangan dengan NKRI yang diperjuangkan oleh NU dan Pagar Nusa.

Kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar di Pesantren Ihyaul Ulum itu akan berlangsung hingga Jum’at (216) besok. Sekitar 350 pendekar yang merupakan utusan Ranting/Rayon Pagar Nusa se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan memerebutkan “KH. Ma’shum Sufyan Cup 2013” untuk beberapa kategori dan kelas.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Miftah Wahyudi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

3 Hari, IPNU-IPPNU Jepara Gelar Latihan Kepemimpinan

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU kabupaten Jepara menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Pelajar dan Santri (LDKPS) bertempat di pesantren Balekambang, Nalumsari, Jum’at-Ahad (8-10/2). Kegiatan yang diikuti 80-an peserta berasal dari delegasi Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU dan pesantren se-Kabupaten Jepara.

3 Hari, IPNU-IPPNU Jepara Gelar Latihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
3 Hari, IPNU-IPPNU Jepara Gelar Latihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

3 Hari, IPNU-IPPNU Jepara Gelar Latihan Kepemimpinan

Ketua IPNU Jepara, Chusni Maulana mengatakan, kegiatan bertujuan untuk menyiapkan kader pemimpin masa depan. Menurutnya pemuda yang kreatif kelak yang akan meneruskan tonggak kepemimpinan. 

KH Wildan mewakili PCNU Jepara memberikan pesan-pesan kepada peserta. Pertama, ahkamus syariyya, hukum-hukum syar’i harus tetap dijalankan hingga kapan pun. Kedua, pentingnya addakwah waidharul islam. Dakwah, mengajak kebaikan dan syiar Islam. 

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, perlunya belajar kemasyarakatan. Kiai Wildan menegaskan kader IPNU-IPPNU perlu belajar siyasah (politik). Baginya orang yang tidak tahu politik akan termakan oleh politik. “Ada politik kebangsaan yang tujuannya tidak lain untuk menjaga keutuhan NKRI, politik praktis dan masih banyak lagi siyasah yang lain,” tegasnya. 

Ribath Nurul Hidayah

Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya menyampaikan kegiatan merupakan bentuk penggodokan mental dan spiritual. Kegiatan tersebut lanjutnya sudah jarang dilakukan oleh ormas maupun orsospol. “Jika tidak diiringi dengan semangat keikhlasan kegiatan seperti ini tidak mungkin dilaksanakan,” imbuhnya. 

Marzuqi mengajak peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Namanya latihan apabila ada kekurangan dan diingatkan kemudian mau berubah merupakan keberhasilan dari latihan. 

Sementara itu pengasuh pesantren Balekambang KH Makmun Abdullah yang diwakili KH Miftakhuddin dalam tausiyahnya memaparkan ditangan pemuda perkara umat dipegang. Ditelapak kaki pemuda jua kehidupan akan berjalan. 

Kiai Miftakh menambahkan kesemangatan yang sudah ada perlu dijaga. Semangat yang dimiliki saat mengikuti IPNU-IPPNU juga perlu dibawa saat mengikuti Fatayat, Ansor, Muslimat maupun NU. “Kader IPNU-IPPNU harus berpijak kepada agama Islam ala NU,” kata kiai Miftakh. 

Ia menghimbau kepada peserta yang kelak akan meneruskan studi ke perguruan tinggi agar senantiasa berhati-hati kepada kelompok-kelompok islam yang tidak sejalan dengan NU. Kiai Miftkah mengharapkan kader IPNU-IPPNU agar cerdas memilih yang tepat. 

Dalam kegiatan yang berlangsung 3 hari peserta memperoleh materi IPNU-IPPNU sebagai Pengawal Aswaja, Kepemimpinan dalam Islam, Manajemen Organisasi, Problem Solving dan Public Relation.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Berita Ribath Nurul Hidayah

Media, Sastra, dan Kita

Oleh: Dedik Priyanto

“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang.? Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”?

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”?



Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Media, Sastra, dan Kita

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Ribath Nurul Hidayah

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Ribath Nurul Hidayah

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup. ? Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.?

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.?

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa ? memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.?

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita. ? ?

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.?

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.?

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.?

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.?

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu. ? Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik. ?

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.?

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.?

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban. ?

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan. Ketiganya laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.?

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja, ? tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”

Dedik Priyanto, Kord. Piramida Circle Jakarta. Bergiat di Senjakala dan angkringanwarta.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya dengan sungguh-sungguh (Q.S. Al-Ahzab ayat 56)

Semua sudah maklum, bahwa shalawat memiliki berbagai macam fadlilah (keutamaan). Diantaranya adalah hadis riwayat Amr ibn Ash

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa

Sesungguhnya Amr bin Al Ash RA mendengar Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali”

?

Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy Syadzily berkata

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW, aku bertanya “Ada hadis yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian Nabi menjawab “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”

Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan do’a kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Terlebih jika ia membaca dengan hati hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdo’a tidak dimulai dengan memuja Allah Ta’ala, tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Baginda Nabi mendengar ada seseorang yang sedang berdo’a tapi tidak dibuka dengan memuja Allah ta’ala dan tanpa membaca shalawat, Nabi berkata “orang ini terburu-buru”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kemudian Baginda Nabi mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati “jika diantara kalian berdo’a, maka harus diberi pujian kepada Allah SWT, membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki”

Apalagi jika bertepatan pada hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Sabda Rasulullah SAW “Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepangkuanku”.

?

Ulama’ sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW. Ada penyair yang berkata

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bacalah shalawat selalu, sebab shalawat pasti diterima.

Adapun amal yang lain mungkin saja diterima dan mungkin ditolak, kecuali shalawat. Shalawat pasti diterima.?

?

Supaya doa berhasil dan terkabul maka saat berdoa kita harus dengan adab dan tata cara yang tepat yaitu dimulai dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat.?

(Ulil/disarikan dari tulisan KH.Shofie Baedlowi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional Ribath Nurul Hidayah

IPNU-IPPNU Rawalo Gelar Makesta Kubro

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 250 pelajar mengikuti makesta yang diselenggarakan IPNU-IPPNU Rawalo kabupaten Banyumas, Sabtu (21/6) malam. Di kantor MWCNU Rawalo, mereka yang datang dari sembilan kelurahan ini menerima sejumlah materi ke-Aswajaan dan kebangsaan.

Makesta Kubro bertema “Menciptakan Kader NU Berkualitas serta Loyal terhadap NU dan NKRI” ini masuk dalam rangkaian peringatan Gebyar Harlah ke-91 NU dan Harlah ke-81 GP Ansor yang diselenggarakan MWCNU Rawalo.

IPNU-IPPNU Rawalo Gelar Makesta Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rawalo Gelar Makesta Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rawalo Gelar Makesta Kubro

Ketua IPNU Rawalo M Shonhaji dalam sambutannya mengimbau peserta kaderisasi untuk serius mengikuti makesta kubro. “Kader IPNU-IPPNU harus menjadi kader berkualitas serta loyal terhadap NU. Jangan hanya sekadar ikut-ikutan.”

Ribath Nurul Hidayah

Shonhaji mengingatkan peserta makesta untuk menanamkan kesadaran dalam diri sebagai penerus perjuangan NU ke depan. “Terlebih lagi tantangan NU ke depan lebih kompleks.”

Kepada Ribath Nurul Hidayah, Shonhaji mengatakan makesta kubro terbilang menarik. Berkat silaturahmi dengan para orang tua dan sosialisasi rutin tiap ranting, kami mendapat mandat untuk melaksanakan makesta kubra perdana di Rawalo dengan jumlah peserta cukup besar, ujar Shonhaji. (Azka Miftahuddin/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

Gus Tutut Buka Rakornas Banser

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah - Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) akan membuka Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser di Tulungagung. Rapat dengan? tema Menyamakan Gerak dan Langkah Guna Mempekokoh NKRI ini akan berlangsung mulai 5-7 Agustus di Pendapa Agung Mandiri, Tulungagung.

Beberapa agenda akan dibahas dalam perhelatan? melibatkan semua personel Satkornas Banser yang datang? dari berbagai wilayah Indonesia itu.

Gus Tutut Buka Rakornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Tutut Buka Rakornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Tutut Buka Rakornas Banser

“Inti dari rapat koordinasi ini untuk menyamakan persepsi semua pengurus Satkornas dari masing-masing satuan, beserta program kerjanya. Ini dilakukan untuk kemajuan Banser dan keutuhan NKRI ke depan,” ungkap Kasatkornas Banser H Alfa Isneini kepada Ribath Nurul Hidayah tadi sore.

Gus Tutut juga dijadwalkan akan memberi pengarahan khusus kepada para pengurus Satkornas Banser. Mengingat padatnya acara, pengarahan akan disampaikan secara terpisah dari acara pembukaan.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

“Untuk pengarahan ketum kita tempatkan di Kantor Sekretariat Ansor Tulungagung. Lokasinya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 200 meter dari lokasi acara,” katanya.

Pada kesempatan itu, Gus Tutut juga akan melantik pengurus Badan Ansor Anti Narkoba? (Baanar) GP Ansor Tulungagung pimpinan Hariyadi. “Mumpung ada ketua umum, kita nunut acara pelantikan,” kata Ketua GP Ansor Tulungangung Sahrul Munir.

Dari pantauan di lapangan, beberapa personel pengurus Satkornas sudah berdatangan. Ada yang dari Riau, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan, Yogyakarta, Jateng, Papua, dan lainnya. Mereka langsung menuju penginapan yang dipersiapkan oleh panitia.

“Meski pembukaan baru besok sore. Beberapa personel Satkornas sudah banyak yang berdatangan,” tambah Munir. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Antusiasme 15.000 Nahdliyin Lombok Ikuti Pawai Ta’aruf Munas dan Konbes NU

Mataram, Ribath Nurul Hidayah. Persiapan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2017 di Lombok, NTB ditandai dengan kegiatan pawai ta’aruf. Pelepasan pawai yang digelar tepat di depan Islamic Center Lombok ini diikuti oleh sekitar 15.000 warga NU (Nahdliyin).

Antusiasme 15.000 Nahdliyin Lombok Ikuti Pawai Ta’aruf Munas dan Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusiasme 15.000 Nahdliyin Lombok Ikuti Pawai Ta’aruf Munas dan Konbes NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusiasme 15.000 Nahdliyin Lombok Ikuti Pawai Ta’aruf Munas dan Konbes NU

“Sebanyak 15.000 nahdliyin ikut dalam pawai ta’aruf ini,” ujar Sekretaris Panitia Munas dan Konbes NU H Ulil Hadrawi sesaat sebelum pelepasan pawai, Rabu (22/11) di Mataram.

Sebelum pelepasan yang dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Menpora Imam Nahrawi, peserta pawai dan warga NU di Lombok terlihat memadati jalan di sekitar Islamic Center.

Antusiasme warga terlihat ketika mereka juga memboyong sanak famili untuk ikut menyaksikan pawai menjelas Munas yang bakal dibuka Presiden Joko Widodo pada Kamis (23/11) besok ini.

Peserta pawai ta’aruf didominasi oleh pelajar se-Kota Mataram. Pembina OSIS MTsN 3 Mataram Lalu Irwandi menjelaskan, pihaknya telah mengirim sekitar 250 peserta dalam pawai tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami telah menyiapkan peserta pawai Munas ini sekitar seminggu sebelum kegiatan dimulai,” Irwandi.

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa lembaga pendidikan termasuk pondok pesantren yang terlibat dalam pawai ini, mereka menyiapkan marching band, di antaranya dari MAN 1 Praya, Lombok.

Baiq Nina, salah seorang anggota marching band MAN 1 Praya mengaku bangga bisa ikut meramaikan perhelatan Munas. Ia mengatakan sekitar 60 personel marching band Gita Bahana Mansaraya MAN 1 Praya ikut berpartisipasi.

Antusiasme pawai ta’aruf ini juga tidak hanya terlihat dari yang muda, tetapi juga dari ibu-ibu kader Muslimat NU Nusa Tenggara Barat. Dengan gerak langkah penuh semngat, mereka berbaris rapi menuju titik akhir pawai di Taman Sengkareang Mataram.

Pelepasan pawai ta’aruf ini dihadiri oleh Wali Kota Makassar Ahyar Abduh, Kepala Kanwil Kemenag NTB Nasaruddin, Kapolres Mataram AKBP Muhammad, Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Ketua Panitia Munas Robikin Emhas, dan tokoh lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Kyai Ribath Nurul Hidayah

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Oleh Munawir Aziz

Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya?

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Dari panggung perjuangan republik, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan barisan militer yang terdiri dari pemuda santri dan kiai pesantren. Dari tapak jejak mereka, mobilisasi dukungan dari kaum santri dan warga sekitar menjadi menggema. Terlebih, kaum santri berjuang dengan tekad bulat, serta niatan ikhlas untuk menegakkan kemerdekaan di bumi Indonesia. Laskar Hizbullah, dipimpin oleh KH Zainul Arifin Pohan, seorang ahli diplomasi dan pejuang militer dari tanah Barus. Sedangkan, Laskar Sabilillah dikomando oleh Kiai Masykur (1904-1994), sosok alim dari Malang.

Siapakah Kiai Zainul Arifin? Sejarah hidup Zainul Arifin membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terdiri dari kiprah para kiai dan tokoh Islam asal Jawa. Kiai Zainul, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal Barus, menjadi catatan nyata. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul Balita, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian berdiam di Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan Hollands Indische School (HIS) serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Pada usia 16 tahun, Zainul Arifin merantau ke Batavia (Jakarta). Di kota ini, dengan berbekal ijazah HIS, dia diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) Pejompongan, Jakarta Pusat. Setelah keluar dari Gementee, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat. Balai pendidikan ini, bertempat di kawasan Masteer Cornelis (Jatinegara). Keahilan diplomasi dan kepiawaian bahasa Belanda, juga mengantar Zainul sebagai pemberi Bantuan Hukum bagi orang Betawi, yang saat itu dinamakan Pokrol Bambu.

Karirnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik (1917-1970), seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda Nahdlatul Ulama. Dari Anshor, karena keahlian berdiplomasi dan kecerdasan komunikasi, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Mahfud Shiddiq (1906-1944), Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid. Selang beberapa waktu, Zainul Arifin kemudian menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara (Masteer Cornelis), serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia, hingga masuknya Jepang pada 1942.

Ribath Nurul Hidayah

Pencetus sistem RT

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, strategi politik ormas Islam berubah haluan. Jika dengan Belanda, posisi ormas Islam berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Jepang menggunakan strategi berbeda dengan mendekati pemimpin-pemimpin ormas Islam. Jepang mengajak ormas Islam sebagai bagian dari pendukung Nippon, sebagai saudara tua di Asia. Inilah startegi politik dan militer Jepang untuk mencengkeram kawasan Asia, terutama Asia Tenggara dalam perang melawan Sekutu.

Di bawah kendali Jepang, terjadi perombakan struktur politik serta ritme organisasi Islam. Pada waktu itu, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika itu, Jepang memberi kewenangan organisasi Islam untuk melebarkan sayap dan lebih aktif dalam pemerintahan. Kiai Zainul Arifin, mengusulkan pembentukan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga. Pada awalnya, tonarigumi dibentuk di Jatinegara, kemudian melebar untuk diadopsi ke sebagian besar desa di Jawa. ? Kiai Zainul Arifin dengan jeli melihat pentingnya sistem komunikasi antarwarga setingkat RT. Dengan demikian, kultur dan hubungan komunikasi antar warga terjaga dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, mereka membutuhkan dukungan pasukan untuk menguatkan militer di kawasan Asia. Semula, Pemerintah Jepang, melalui Abdul Hamid Nobuharu Ono, meminta agar Kiai Wahid Hasyim mengerahkan santri-santri masuk ke Heiho, sebagai tentara cadangan yang akan dikirimkan ke Birma dan Kepualaun Pasifik. Akan tetapi, Kiai Wahid tidak menerima tawaran itu. Untuk menampik permintaan Jepang, Kiai Wahid dengan startegi diplomasinya mengusulkan tawaran cerdas: Pertama, latihan kemiliteran yang diberikan kepada santri lebih baik untuk pertahanan dalam negeri. Kiai Wahid merasa bahwa, mempertahankan tanah air negeri sendiri, akan lebih meningkatkan semangat pemuda santri.

Kedua, pertempuran yang menghadapi tentara sekutu, lebih baik dihadapi oleh prajurit profesional, yakni tentara Dai Nippon. Sedangkan, jika menggunakan tentara yang tidak profesional hanya akan menyulitkan tentara Jepang sendiri. Ketiga, jika PETA (Pembela Tanah Air) ditunjukkan untuk pemuda nasionalis, sudah semestinya ada wadah bagi pemuda santri untuk latihan kemiliteran (Zuhri, 1974; 1987). Sedangkan, Hairus Salim ? (2004: 41) menambahkan satu alasan diplomatis dari Kiai Wahi Hasyim, terutama mengapa harus ada satu wadah untuk latihan kemiliteran bagi santri, yakni adanya kewajiban berperang untuk mempertahankan agama Allah (jihad fi sabilillah).

Pada latihan awal, pemuda santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah digembleng oleh Kapten Yanagawa, yang juga melatihan PETA. Latihan ini berlangsung di Cibarusah, Jawa Barat. Latihan militer pemuda santri, berlangsung selama tiga bulan, yang dipimpin oleh para Sydanco PETA. Kemudian, setelah latihan usai, 500 kader ini kemudian kembali ke desa masing-masing, untuk melatih kader-kader pemuda santri di kawasan setempat. Salim (2004), mencatat bahwa hingga akhir rezim Jepang di Indonesia, tercatat sekitar 50.000 angota laskar Hizbullah yang telah mendapatkan latihan militer.

Latihan perdana Laskar Hizbullah, tanggal 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Jepang, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Raja dan pejabat terkait ? diumumkan betapa misi Hizbullah adalah untuk berjuang bersama Dai Nippon, melawan musuh yang zalim. Gunseikan, dalam pidatonya, menegaskan bahwa:

"Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka masa sekarang adalah masa yang amat penting yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu telah bangkit segenap umat Islam di Jawa, serta berjanji akan berjuang "luhur bersama dan lebur bersama" dengan bala tentara Dai Nippon. Buktinya, ialah pembentukan barisan musa Islam yang bernama Hizbullah. Dengan demikian lahirkan tujuan untuk menghancurkan musuh yang zalim dan perjuangan dengan segenap jiwa dan raga, maka saya sangat gembira membuka latihan pusat Barisan Hizbullah ini... (Latif, 1995: 20, Salim, 2004: 42).

Dengan demikian, yang dimaksud oleh pemerintah Jepang bahwa musuh bersama dari bangsa Indonesia dan Jepang, merupakan tentara sekutu yang berusaha menjajah Asia. Jepang merasa sebagai pembebas bangsa Asia, hingga menyebut diri sebagai "Saudara Tua" bangsa Asia. Oleh Kiai Wahid Hasyim, pelatihan militer dimaksudkan untuk menguatkan barisan santri jika nantinya Indonesia sudah saatnya menjemput kemerdekaan. Benar saja, pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, disusul dengan peristiwa demi peristiwa yang membutuhkan konsolidasi dan kekuatan militer, di antaranya pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengabdi untuk negeri

Ketika para pemimpin bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda tidak rela atas keputusan politik ini. Hindia Belanda tetap ingin menguasai Indonesia sebagai ladang ekonomi dan jajahan politik. Keinginan Belanda, terbukti dengan hadirnya tentara Sekutu, serta tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administrative). Tentu saja, kedatangan tentara ini membuat warga Indonesia marah. Kota Surabaya dan beberapa kota lain menjadi saksi kemarahan warga ketika tentara Sekutu mengintimidasi. Pada 19 September 1945, terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini, sekaligus menjadi tanda kemarahan rakyat atas invasi tentara sekutu dan NICA.

Situasi negeri menjadi kacau dan warga menjadi tersulut kemarahan karena intimidasi tentara Sekutu. Situasi pertahanan negara sedang diuji, apalagi ketika negara Indonesia baru saja merdeka. Sistem birokrasi, pemerintahan dan barisan militer masih sangat lemah. Pada saat itulah, laskar-laskar santri memainkan peran penting untuk mengkonsolidasi kekuatan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, para kiai menyatakan rumusan tentang Resolusi Jihad. Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk menggemakan Resolusi Jihad. Fatwa Kiai Hasyim inilah yang kemudian melecut semangat santri dan warga di kawasan Jawa Timur, dan kawasan lainnya untuk berjuang melawan penjajah. ?

Pada 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di Surabaya. Pasukan Sekutu di kota Surabaya, terdiri atas 5000 pasukan dari kesatuan 49 Infanteri di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby (1899-1945). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Api semangat kaum santri dan warga membara, dengan dukungan para kiai dan kuatnya jaringan laskar. Puncaknya, 10 November 1945, pemuda santri dan warga sekitar Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, dengan tewasnya Jendral AWS Mallaby pada peristiwa sebelumnya, 30 Oktober 1945. ?

Kiai Zainul Arifin memainkan peran besar pada episode perjuangan bangsa Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Perjuangan laskar Hizbullah yang dikomando Kiai Zainul Arifin pada peristiwa November 1945 di Surabaya dikenang sebagai peristiwa heroik. Masa setelah kemerdekaan menjadi ujian bagi pejuang negeri. Kiai Zainul Arifin terus bergerak untuk mengomando laskar santri, barisan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan tentara pimpinan Jendral Soedirman (1916-1950). ?

Dalam catatan Saifuddin Zuhri (2001: 355), beberapa pemimpin cabang Laskar Hizbullah sering berkumpul bersama di Yogyakarta, karena panggilan rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (parlemen). Kiai Zainul Arifin, sebagai Ketua Markas Tertinggi Hizbullah, juga sering bertandang ke Yogyakarta untuk rapat. Selain itu, ada juga Wahib Wahab (Hizbullah Surabaya), Abdullah Siddiq (Hizbullah Jember), Amir (Hizbullah Malang), Bakrin (Hibzullah Pekalongan), Munawar (Hizullah Solo) dan Saifuddin Zuhri (Hizbullah Magelang). Mereka berkumpul untuk mengabdi pada negeri, sekaligus mengonsolidasi barisan laskar santri.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja, pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada masa ini, Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasi laskar-laskar militer untuk membantu tentara untuk bergerilya di bawah komando Jendral Soedirman.

Ketika kondisi sudah aman, serta pemerintah RI memegang kendali, terjadi penyatuan seluruh elemen laskar militer ke dalam satu wadah ? Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kiai Zainul Arifin dipercaya sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI, karena jasa besarnya pada masa perjuangan. Akan tetapi, ketika banyak mantan anggota Hizbullah yang tidak bisa diterima sebagai anggota TNI karena alasan ijazah formal serta tidak mendapat pendidikan modern, Zainul memilih mengundurkan diri. Inilah jiwa besar Kiai Zainul Arifin dalam berjuang untuk mengomando pasukan pemuda santri.

Kiai Zainul Arifin memilih jalan pengabdian, ia berkiprah di jalur politik sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS, lalu wakil Partai Nahdlatul Ulama pada 1952. Pda 1953, Kiai Zainul Arifin menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955). Prestasi besar Kiai Zainul Arifin, pada 1955 ketika Pemilu, berhasil mengantarkan Partai NU menjadi sebagai tiga besar pemenang, dengan mendapat 45 kursi, dari sebelumnya 8 kursi. Kiai Zainul Arifin bersama Kiai Wahab Chasbullah dan beberapa kiai lain, bekerja keras untuk mengerahkan stategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren.

Sebagai pemimpin laskar militer santri, dengan keahlian diplomasi, dukungan politik dan luasnya jaringan, Kiai Zainul Arifin juga dekat dengan presiden Soekarno. Pada 1955 ia pernah bersama Soekarno pergi haji ke tanah suci. Sebagai tamu kenegaraan, Kiai Zainul Arifin diberi hadiah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi.

Pasca pemilu 1955, Kiai Zainul Arifin juga mendapat amanah menjabat anggota Majelis Konstituante. Lembaga ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959 karena gagal merumuskan UUD baru. Setelah dekrit dikeluarkan Soekarno, konsitusi Indonesia dinyatakan kembali pada UUD 1945. Pada masa inilah, dikenal sebagai Demokrasi Terpimpin, dengan kekuasaan pada diri Soekarno, yang bersikeras menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) pada satu barisan politik. Di tengah situasi ini, suhu politik meningkat karena pengaruh kelompok yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno, terutama pihak partai Islam yang menolak PKI.

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi, ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, Kiai Zainul Arifin tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi.

Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU, peneliti Islam Nusantara. (Twitter: @MunawirAziz) ?

Referensi:

Ario Helmy. KH. Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass. 2015.

Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU. Yogyakarta: LKIS. 2004.

M. Hasyim Latief. Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU, 1995.

Saifuddin Zuhri. Guruku Orang-Orang Pesantren. Yogyakarta: LKIS. 2001

Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah: Divisi Sunan Bonang. Yayasan Bhakti Utama. 1997.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Sejarah, Kiai Ribath Nurul Hidayah

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama

Ternate, Ribath Nurul Hidayah?

Gerakan Pemuda Ansor Kota Ternate, Maluku Utara menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser di Sanggar Kegiatan Belajar Kota Ternate.?

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama

Di kota yang terletak dibawah kaki gunung Gamalama tersebut, sebanyak 60 Banser dilatih serta dididik untuk menjadi kader yang berkualitas. Mereka menerima materi di dalam ruangan maupun lapangan selama 4 hari, mulai (19/1) sampai (22/1).

Di antara materi ruangan pada Dikalatsar itu adalah ke-Aswaja-an, keindonesiaan, ke-NU-an, pendidikan pendahuluan bela negara, peraturan organisasi dan lain-lain. Sedangkan materi lapangan meliputi kerja sama, pembentukan karakter, PBB dan TUB.

Dikalatsar tersebut juga diwarnai dengan apel Kesetiaan terhadap ? Pancasila dan NKRI yang dihadiri PWNU, PCNU, TNI dan Polri serta elemen masyarakat yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan aksi donor darah.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami atas nama Pimpinan Wilayah GP Ansor Maluku Utara, mengapresiasi PC GP Ansor Kota Ternate yang mengadakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar,” ungkap Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Maluku Utara Salim.

Menurut Salim, Banser yang sangat dibutuhkan di masyarakat untuk berbuat dan berkarya nyata membangun, mengembangkan dan menjaga visi misi organisasi serta NKRI.?

Ribath Nurul Hidayah

“Banser adalah pasukan inti GP Ansor yang memiliki fungsi stabilisator, dinamisator, katalisator serta kaderisasi, sehingga mutlak diperlukan untuk memberi manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.?

Salim menambahkan, sekarang banyak gerakan Islam yang radikal, sehingga diharapkan Banser ini mampu, membimbing, mencerdaskan, serta menjaga keberlangsungan Aswaja an-nahdhiyyah dan NKRI.

Sementara Ketua PC GP Ansor Kota Ternate Rahdi Anwar mengatakan, Diklatsar tersebut merupakan angkatan pertama dan akan terus diadakan agar GP ANsor semakin berkembang di kota Ternate khususnya, serta Provinsi Maluku Utara pada umumnya."?

"Enam puluh kader angkatan pertama ini akan menjadi pionir kaderisasi. Selanjutnya akan merekrut anggota baru. Diharapkan 2 bulan yang akan datang Diklatsar angkatan kedua dilaksanakan," harapnya.?

Personalia Asrendiklat Satkornas Banser Sujani sebagai instruktur kegiatan tersebut mengatakan menyebutkan, peserta Diklatsar Ternate tersebut serius mengikuti tiap materi yang diberikan.

“Diskusi pun kami lakukan di dalam maupun lapangan untuk mencari kualitas kader. Apalagi banyak juga peserta yang masih berstatus mahasiswa sehingga pola dan daya pikirnya banyak gagasan dan ide untuk mengembangkan organisasi,” pungkasnya. (Herry Budi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Hadits Ribath Nurul Hidayah

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), K.H Nuril Huda mengaku kecewa dengan sejumlah elite partai politik (Parpol) yang berupaya mengintervensi Kongres PMII ke XVIII, dengan praktik politik uang. Kongres PMII XVIII berlangsung di Asrama Haji Jambi, Jumat 30 Mei-Kamis 5 Juni.

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

“Bangsa ini sedang krisis moral. Bukan krisis ekonomi. Kalau generasi mudanya dirusak juga sangat disayangkan. PMII ini anak-anak muda yang masih bersih, idealis. Kalau ada Parpol yang mengintervensi Kongres apalagi mengajari money politik, pertanggungjawabannya sampai akhirat,” tandas Kiai Nuril, Sabtu (31/5).

Keprihatinan pendiri PMII itu disampaikan saat mendengar adanya indikasi intervensi Parpol melalui calon tertentu dengan menghalalkan politik transaksional. Menurut Kiai Nuril, Parpol dan elite politik lain hanya boleh membantu pelaksanaan kongres, sebatas bantuan kepada panitia. Bantuan itu pun harus tanpa syarat.

Ribath Nurul Hidayah

Ia mengajak para alumni dan simpatisan PMII yang berada di lintas Parpol dan lintas profesi, untuk menyadari pentingnya regenerasi di tubuh organisasi Mahasiswa penggerak ahlu sunnah wal jam’ah (Aswaja) itu dan membantu pelaksanaan kongres, tanpa harus mengintervensi apalagi mengajarkan praktik money politik yang? bertentantang dengan prinsip Aswaja.

“Kalau sekedar membantu, tanpa syarat tak mengapa. Tapi kalau mengintervensi ini merusak.? PMII ini tempat latihan para calon pemimpin nasional. Ini satu-satunya organisasi Mahasiswa yang konsisten memperjuangkan nilai Aswaja, toleran, berkeadilan, moderat dan yang terpenting kejujuran. Jangan merusak idealism anak-anak muda ini,” paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Nuril mengungkapkan, selama ini ia bersama para kiai sepuh, pendiri PMII dan sejumlah alumni yang memilih melanjutkan perjuangan di ranah akademik dan pesantren,? selalu mendoakan PMII, lahir dan bathin.

“Lahir bathin kami selalu berdoa agar generasi muda Aswaja ini bisa melanjutkan estafet keulamaan, yang arif, bijaksana dan bermanfaat bagi ummat dan bangsa ini. Di manapun alumni PMII berkiprah harus berpikir untuk kemaslahatan ummat. Jangan malah melanggar nilai etis dan menghancurkan ummat,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Addin Jauharuddin, menyerukan agar para peserta Kongres tidak terjebak pada politik transaksional dan melanggar nilai idealisme Aswaja.

“Kontestan calon ketua umum harus bersaing secara sportif dengan mengunggulkan prestasi, gagasan dan program kerja bagi seluruh kader PMII di berbagai kampus di Indonesia. Hilangkan praktik-praktik transaksional dan politik uang yang diback up oleh partai-partai politik tertentu, terutama partai politik yang selalu mengklaim mengatasnamakan pejuang ahlu sunnah wal jamaah," tandas Addin, seperti dikutip Fajar Online, Jumat (30/5).

Addin mengungkapkan, kader PMII tidak dibenarkan mendukung calon ketua umum PB PMII yang terindikasi terlibat praktik politik uang dan disokong oleh partai politik tertentu. Terutama partai politik yang mengklaim pejuang Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Addin juga menyadari, pelaksanaan Kongres PMII kali ini berada dalam momentum yang cukup riskan, karena berlangsung beriringan di antara Pemilu dan Pilpres. Oleh karenanya, cukup banyak godaan serta intervensi pihak-pihak luar yang berkepentingan terhadap organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini.

"Namun kami mempunyai sikap yang jelas, bahwa kami merupakan organisasi mahasiswa yang independen. Kongres ke XVIII di Jambi, akan menghasilkan rekomendasi berupa gagasan, pemikiran terbaik mahasiswa yang akan kami tawarkan kepada capres-cawapres terbaik. Sebagai uji kelayakan dan kecakapan mereka sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara Indonesia," tambahnya.

PMII menyerukan kepada kader-kadernya di seluruh Indonesia untuk tidak memilih capres-cawapres yang di dukung oleh politisi busuk dan terbukti melakukan intervensi dengan agenda-agenda politiknya pada kongres PMII XVIII di Provinsi Jambi.

Untuk menghindari berbagai intervensi tersebut, PMII akan menyiapkan langkah-langkah antisipatif serta respon gerakan terhadap setiap usaha intervensi agenda politik pihak-pihak luar, baik perseorangan maupun dari lembaga dan partai politik.

"Kepada semua pihak dan seluruh elemen bangsa Indonesia agar saling menghormati dan menjunjung etika dalam setiap proses berbangsa dan bernegara, khususnya dalam pilpres 2014," ujar Addin. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Desember 2017

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia

London, Ribath Nurul Hidayah - Mantan ibu negara Ny Hj Sinta Nuriyah masuk dalam daftar perempuan-perempuan berpengaruh di dunia versi New York Times. Istri mendiang KH Abdurrahman Wahid ini dinilai sebagai feminis yang aktif menyebarluaskan toleransi.

New York Times dalam situsnya merinci 11 nama perempuan dari berbagai belahan dunia dan menyebutnya “11 Powerful Women We Met Around the World in 2017.” Daftar tersebut dipublikasikan pada 15 Desember 2017.

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah Masuk Daftar 11 Perempuan Hebat di Dunia

Ia menyebut perempuan yang akrab disapa Bu Sinta tersebut aktif menyelenggarakan acara-acara lintas agama serta sukses membangun jaringan pesantren yang progresif untuk perempuan dan anak.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang masuk daftar tak disyaratkan memiliki kriteria sebagai pejabat publik atau bintang film tersohor. Menurut New York Times, para perempuang yang dipilih kebanyakan mungkin belum terkenal secara internasional namun memiliki cerita kehidupan yang menarik, melakukan sesuatu yang luar biasa, atau baru saja melewati pengalaman yang luar biasa.

Sejak didirikan pada tahun 2002, Saturday Profile bertujuan untuk menghadirkan pembaca orang-orang The New York Times di seluruh dunia yang mungkin belum pernah mereka dengar, tapi yang telah menjalani kehidupan yang menarik dan melakukan hal-hal yang spektakuler, atau mungkin baru saja melewati sebuah pengalaman yang luar biasa.

Ribath Nurul Hidayah

Di jajaran 11 nama tersebut antara lain ada aktivis hak-hak perempuan Arab Saudi Manal al-Sharif, Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallström, penyair Tiongkok Yu Xiuhua, fotografer Letizia Battaglia, dan lainnya.

Nyai Sinta Nuriyah merupakan pendiri sekaligus pengelola Puan Amal Hayati, sebuah lembaga sosial-kemanusiaan yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan kaum perempuan dan anak. Lembaga yang didirikan di Jakarta 3 Juli 2000 ini banyak fokus pada kampanye dan upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustad, saya mau nanya mengenai hajinya perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suami. Karena saya mendengar bahwa perempuan yang masih dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh pergi haji. Padahal dia sudah menunggu antrian ini selama tujuh tahun, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun ketika mau berangkat suami meninggal dunia. Apakah ada pandangan yang memperbolehkan perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suaminunya pergi haji? Atas penjelasannya saya sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Wulan/Kalbar)

 

Jawaban

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam, dan diwajibkan sekali seumur hidup bagi orang yang sudah mampu melaksanakannya. Momen pergi haji adalah merupakan momen yang sangat dinanti-nanti dan diharapkan setiap Muslim, tak terkecuali penduduk Muslim Indonesia.

Pergi haji bahkan sudah menjadi dambaan setiap Muslim. Tetapi untuk bisa menunaikan rukun Islam tersebut harus butuh perjuangan dan kesabaran yang luar biasa. Terbatasnya kuota haji menyebabkan calon jamaah haji Indonesia harus bersabar menunggu antrian minimal lima tahun sampai sepuluh tahun, bahkan lebih.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana semuanya sudah dipersiapkan sejak lama baik material maupun non-material. Namun tiba-tiba pas mau berangkat ternyata terhalang iddah yang belum selesai. Padahal belum tentu juga tahun depan bisa mendapatkan kesempatan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa iddah seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt berikut ini:

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -?: 234

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Q.S Al-Baqarah [2]: 234)

Mayoritas ulama menyatakan bahwa perempuan yang menjalani iddah karena ditinggal mati selama menjalani masa iddahnya harus tinggal di rumahnya. Karenanya ia tidak boleh keluar untuk pergi haji dan lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Secara global perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh perg haji dan selainnya. Pandangan ini diriwayatkan dari sayyidina ‘Umar ra dan ‘Utsman ra. Pandangan ini kemudian dikemukakan oleh Sa’id bin al-Musayyab, al-Qasim, Malik, asy-Syafi’i, Abu ‘Ubaid, kalangan rasionalis (pengikut Madzhab Hanafi, pent) dan ats-Tsauri” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Bairut-Dar al-Fikr cet ke-1, 1405 H, juz, 9, h. 184)

Mereka berdalil dengan perintah Rasulullah saw kepada Furai’ah binti Malik bin Sinan yang ditinggal mati suaminya, agar tetap tinggal di rumahnya sampai selesai masa iddahnya. Lantas ia pun menjalani iddahnya selama empat bulan sepuluh hari.

  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?. “Tinggallah di rumah suamimu dimana datang di dalam rumah tersebut berita duka kematiannya kepadamu sampai selesai masa iddah. Maka aku pun menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari di rumah tersebut” (H.R. Ahmad).

Namun ada pandangan lain yang memperbolehkan seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya untuk menjalankan ibadah haji. Di antara yang berpandangan demikian adalah ‘Atha` dan al-Hasan al-Bashri. Hal ini sebagaimana didokumentasikan dalam kitab al-Muhalla oleh Ibnu Hazm.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dari jalur Isma’il Ibn Ishaq telah mengkabarkan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah telah mengkabarkan kepadku ‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi dari Habib al-Mu’allim, saya pernah bertanya kepada ‘Atha` tentang perempuan yang ditalak tiga kali (talak bain) atau perempuan yang ditinggal mati suaminya, apakah keduanya boleh menunaikan ibadah haji ketika masih dalam masa iddahnya? ‘Atha` pun menjawab, ya (boleh). Dan al-Hasan al-Bashri juga berpandangan sama dengan ‘Atha’. (Ibnu Hazm, al-Muhalla, Mesir-Idarah ath-Thiba’ah al-Munirah, cet ke-1, 1352 H, juz, 10, h. 285).

Salah satu dalil yang dijadikan rujukan pandangan kedua adalah kasus sayyidah ‘Aisyah yang keluar bersama saudaranya yaitu Ummu Kultusm ketika suaminya (Ummu Kultsum) Thalhah bin ‘Ubaid menuju Makkah untuk melakukaun umrah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“’Abdurrazzak mengatakan, Ma’mar telah menceritkan kepada kami dari az-Zuhri dari ‘Urwah ia berkata, sayyidah ‘Aisyah ra pernah keluar dengan saudara perempuannya yaitu Ummi Kultsum ketika Thalhah bin ‘Ubaidillah suami Ummi Kultsum terbunuh, ke Makkah untuk melakukan umrah. Dan sayyidah ‘Aisyah telah memfatwakan kebolehan keluar rumah bagi seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya.”. (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1963, juz, 3, h. 177)  

Di antara kedua pandangan yang kami kemukakan, yang dianggap kuat (rajih) adalah pandangan mayoritas ulama karena didukung dalil sahih dan kuat. Namun dalam sebuah kaidah fikih dikatakan:   

? ? ? ? ? ? ? ?

“Pandangan lain yang masih diperselisihkan tidak boleh serta merta diingkari, sementara pandangan yang telah disepakati ulama tidak boleh diingkari dengan yang sebaliknya”. (Jalaluddin as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-Dar al-Fikr, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H, h. 158).

Apa yang kami kemukakan, jika ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka pada dasarnya mengenai persoalan boleh-tidaknya perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suami adalah persoalan yang masih diperselisihkan di antara para ulama. Ada yang mengatakan tidak boleh, dan ada yang mengatakan boleh.

Meskipun pandangan kedua dianggap lemah (marjuh), namun tidak dengan serta merta dapat dinafikan begitu saja. Karenanya hemat kami pandangan kedua bisa diambil sebagai rujukan dengan pertimbangan hajat, seperti sudah membayar ongkos naik haji dan biaya-biaya lainnya yang tidak sedikit.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukan. Semoga bermanfaat, dan saran kami untuk yang ditinggalkan suami, bersabarlah, dan banyak-banyak berdoa. Dan yakinlah bahwa setelah kesukaran pasti akan ada kemudahan. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)     

 

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ada tradisi unik yang masih bertahan di Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah dan beberapa desa sekitarnya utamanya dalam hal mengaji dan metode belajar warganya dalam usaha memahami ajaran agama Islam untuk diamalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Barangkali tradisi tersebut bisa dikategorikan sebagai salah satu ekspresi dari budaya Islam Nusantara meski masyarakat setempat tidak menyadarinya.

Di daerah ini setelah anak-anak mengkhatamkan mengaji Al-Quran 30 juz bin nadhar di rumah para ustadz atau kiai desa setempat, mereka umumnya melanjutkan pelajaran ke jenjang berikutnya dengan materi kitab-kitab kajian keislaman, mulai fiqih, tauhid hingga tasawuf secara gradual. Uniknya kitab yang dipakai untuk mengaji bukan kitab kuning sebagaimana lazimnya di pesantren, bukan pula buku berbahasa Indonesia sebagaimana di madrasah formal. Melainkan kitab-kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon. Orang-orang sering menyebutnya dengan nama "kitab ireng", karena sampulnya memang berwarna hitam. Dalam salah satu kitab yang berjudul Riayatul-Himmah, tertulis di halaman pembuka begini:

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ikilah kitab nazhom Riayatul-Himmah namane, tarajumah ilmu syariat telung perkoro: usul, fiqih, tasawuf. Saking Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabe, Ahlu Sunni Toriqote.

(Inilah kitab Riayatul-Himmah namanya, terjemah ilmu syariat meliputi tiga macam ilmu:  usul, fiqih dan tasawuf. Dari Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabnya. Ahlussunnah haluannya).

Ribath Nurul Hidayah

Kitab-kitab tersebut merupakan karya KH. Ahmad Rifai yang berjumlah belasan buah kitab dengan ragam cabang ilmu keislaman. KH A Rifai adalah ulama yang hidup pada masa penjajahan Belanda dan akhirnya dibuang ke Ambon, Maluku, sampai akhir hayatnya. Ulama kelahiran Kendal itu kini telah diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Kitab-kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon tersebut selain digunakan sebagai materi mengaji usia anak-anak, juga kerap dipakai sebagai rujukan dalam pengajian-pengajian majelis taklim yang diikuti orang dewasa baik yang diadakan mingguan ataupun selapanan. Pendek kata, anak-anak dan sekelompok orang dewasa tadi mempelajari Islam melalui guru tidak melalui sumber-sumber asli yang berbahasa Arab, tapi melalui sumber terjemahan yang sudah menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa.

Dan sebenarnya kitab-kitab yang dipergunakan tersebut dapat pula dikategorikan sebagai kitab kuning bila mengikutu definisi kitab kuning yang diberikan oleh Prof. Azyumardi Azra. Karena Azyumardi Azra mendefinisikan kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab, Melayu, Jawa atau bahasa-bahasa lokal lain di Indonesia dengan menggunakan aksara Arab, yang selain ditulis oleh ulama di timur tengah, juga ditulis oleh ulama indonesia sendiri. (Azyumardi Azra, 2000).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih dari sekadar mendengarkan penjelasan guru, anak-anak dan orang dewasa peserta majelis taklim di atas,  mereka juga masing-masing memiliki macam-macam kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon itu sehingga mereka selain dapat menyimak materi yang disampaikan kiai di tempat pengajian, mereka juga dapat memutolaah atau mempelajari kembali melalui kitab-kitab tersebut di rumah masing-masing bahkan tidak sedikit yang menghafalkannya.

Selain dijadikan materi mengaji untuk memahami ajaran Islam, kitab-kitab berbahasa Jawa itu juga lazim dijadikan bacaan untuk pujian setelah azan, yaitu jeda waktu sebelum shalat jamaah didirikan sembari menunggu berkumpulnya jamaah. Jadi saat pujian itu mereka menukil dari kitab-kitab Jawa di atas misalnya membaca materi syarat dan rukunnya shalat, hal-hal yang membatalkan wudhu, dan semacamnya. Misalnya yang dikutip seperti syair di bawah ini yang membahas air yang sah untuk berwudzu:  

Utawi banyu kang sah ginawe sucine iku banyu papitu werno wilangane

Banyu udan banyu segoro banyu kaline banyu sumur banyu sumberan tinemune

Banyu bun banyu burud iku kinawaruhan lamon durung paham mongko wajib pitakonan


Meskipun kitab-kitab yang dijadikan rujukan belajar dan pujian di atas merupakan terjemahan, namun penulisnya, KH A Rifai,  juga selalu menyertakan sumber-sumber teks asli yang umumnya dinukil dari literatur yang tergolong mutabar. Menjadi ciri khas dalam kitab tersebut untuk teks-teks asli baik berupa dalil Al-Quran, hadis maupun qaul ulama tertulis menggunakan tinta merah, dan untuk terjemahan bahasa Jawanya tertulis dengan tinta hitam. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Ulama Ribath Nurul Hidayah