Rabu, 25 Desember 2013

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial

Bogor, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis dan sunatan massal belum lama ini. Tidak kurang dari 1000 orang yang mendaftar sebagai Pasien dalam kegiatan yang berlangsung di halaman kantor Desa Cibadak Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor.

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial

“Kami merasa senang dengan bisa melaksanakan kegiatan ini, sebab ini menunjukkan bahwa kehadiran NU bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Mad Hofi , ketua panitia, yang juga sebagai Ketua MWC NU Kec.Tanjungsari

“Hari ini yang sudah mendaftar dan mengantri sudah 754 orang untuk pengobatan, dan tetap akan kami buka sampai jam dua siang nanti,” imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara koordinator program dari Badan Sosial Lintas Agama, Pendeta Aria Hadiwinata dari Gereja Maranatha mengatakan, “Kami senang bekerjasama dengan PCNU Kabupaten Bogor dalam hal nilai-nilai Kemanusiaan, dan ini adalah wujud kebersamaan kita akan nasib rakyat, dan Kami ingin member contoh bahwa kami bisa hidup berdampingan tanpa membedakan SARA.”

KH.Zaenal Abidin, Ketua Presidium Basolia mengatakan bahwa keberadaan Basolia tidak terlepas dari peran NU sebagai ormas yang sangat peduli terhadap kepentingan rakyat.

Ribath Nurul Hidayah

“Kelahiran Basolia tidak lepas dari peran serta dan ide KH.Said Aqil Siroj yang saat itu masih menjabat sebagai Katib Aam PBNU, dan Alhamdulillah Kami masih bisa menjalankan amanah itu sampai saat ini,” terangnya.

Selain pengobatan gratis, diadakan juga kegiatan berupa sunatan massal yang diikuti sekitar 47 anak.

“Acara ini didukung oleh 4 tenaga dokter, 13 tenaga medis dan 24 relawan dari kalangan mahasiswa, dan ini merupakan acara periodik yang diadakan 4 bulan sekali, berikutnya kami akan mengadakan di daerah Sentul Bogor, “ kata Akhsan Ustadhi, seketaris PCNU Kabupaten Bogor, “dan Baksos saat ini adalah yang Ke-lima” imbuh Akhsan.

Saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di lokasi Baksos, Ketua PCNU Kabupaten Bogor, KH.Romdon mengatakan bahwa apa yang dilakukan PCNU saat ini adalah "bentuk sebuah perintah nabi Muhammad SAW yaitu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya, jadi NU siap bekerjasama dengan pihak manapun dalam hal urusan kemanusiaan, tanpa membedakan Suku , Ras dan Agamanya.”

Acara ini juga dihadiri oleh KH.Aim Zaimudin ( Katib Syuriah PCNU kabupaten Bogor), Romo Benyamen Sudarto dari Katedral Bogor, Pendeta Aria Hadikusuma dari Gereja Maranatha Jonggol, Victorianus Phang dari Katolik dan Rois Syuriah MWCNU Desa Tanjungsari KH. Apang Sumarna.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Akhsan Ustadhi


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 18 Desember 2013

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Oleh Ahmad Naufa Kh. F.

Isu ketahanan dan kedaulatan pangan secara umum tidak menjadi wacana utama yang banyak dibicarakan atau diperjuangkan baik kalangan mahasiswa, pejabat ataupun politisi. Meski demikian, ketahanan pangan adalah isu yang layak mendapat perhatian dikalangan luas, utamanya mahasiswa sebagai kaum pendobrak. Mengapa pangan? Karena pangan merupakan kebutuhan primer (dloruri) yang dibutuhkan seleuruh elemen masyarakat Indonesia.

Secara definitif, makna "ketahanan" dengan "kedaulatan" itu berbeda. Secara sederhana, misalnya, jika ada sebuah keluarga yang kehabisan beras lalu menutupinya dengan membeli di pasar atau hutang kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah dikatakan memiliki "ketahanan" pangan. Meski demikian, keluarga itu belum bisa dikatakan "berdaulat". Lebih dari itu, kedaulatan pangan adalah upaya yang sistematis untuk menentukan, kebijakan dan kebutuhan pangan secara merdeka atas keluarganya sendiri, seperti menanam padi sendiri, membeli dengan keluarga sendiri dan membuat harga sendiri. Dalam konteks ini adalah Indonesia yang terjadi hari ini masih berkutat pada "ketahanan" pangan, belum memiliki "kedaulatan" pangan.

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Ironis memang, Indonesia yang begini subur dengan laut dan alamnya yang melimpah ruah masih terbelenggu dalam berbagai hal. Negeri yang disebut "penggalan sorga" ini begitu seksi dan diperebutkan banyak orang untuk mengambil sumber daya alamnya yang memang belum bisa dan mungkin tak ada niat untuk bisa mengelola alamnya sendiri. Berbagai perusahaan asing tertancap disini, dengan profit sharing yang tak masuk akal. Kue pembangunan pun hanya dijadikan rayahan orang-orang yang miskin nasionalisme dan pragmatis. Rakyat kecillah yang menjadi korban kebiadaban rezim dan system dengan segala problematikanya.

Mantan Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie mencatat, 92 persen perusahaan dan aset-aset negara yang didapat melalui alam, sudah dikuasai dan dikendalikan oleh asing. Juga penelitian Michael Backman (1995) tentang kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia, Backman menemukan 73 persen total kapitalisasi pasar dimiliki oleh etnis Tionghoa. Belum lagi pasar yang dikendalikan konglomerat-konglomerat penghisap keringat rakyat yang memiskinkan petani dan pedagang kecil tumbuh subur dengan panglimanya para wakil rakyat yang dengan seenaknya mengamandemen undang-undang sesuai pesanan. Bagaimana mungkin ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan dapat ditegakkan?

Islam sebagai Pendobrak

Ribath Nurul Hidayah

Islam sebagai ideologi hendaknya juga memiliki signifikansi sebagai pendobrak sosio-kultural. Perlawanan dan penghapusan terhadap ketidakadilan sebenarnya secara substansi bukan barang baru. Islam yang dibawa nabi pada zaman klasik sudah membuktikan bagaimana ia tumbuh sebagai ideologi yang membebaskan dari dikotomi ekonomi, ketimpangan sosial dan penyembelihan hak-hak asasi manusia. Ajaran Islam jelas, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api" dalam hal ini termasuk pula Emas, Gas, Energi, dan Batubara adalah untuk kemakmuran rakyat. Namun pada faktanya, asset-aset tersebut lari keluar dan memiskinkan penduduk pribumi. Kini, hanya untuk membeli segelas air putih, kita harus membeli ke Barat.

Tahu dan tempe sebagai hal yang paling membantu peningkatan gizi kaum menengah kebawah harus import dengan membunuh petani kedelai. Kebaikan tuhan memberi laut yang luas disia-siakan dan dikufuri dengan impor garam yang juga membunuh petani. Jutaan hektar ladang sawah dengan kerja gigih petani dari pagi sampai sore hari harus diinjak-injak kartel yang tak bertanggungjawab. Setiap butir nasi yang kita makan sungguh sebuah proses panjang yang menyangkut jutaan orang. Media yang dipesan konglomerat dengan bantuan pejabat miskin nasionalisme untuk membuat opini publik bahwa pangan serba kekurangan, membuat kebijakan impor digulirkan. Tentu dengan tangan panjang dan antek-antek kapitalisme global yang mengepung Senayan.

Lalu, dalam konteks Indonesia, bagaimana arah gerakan kita yang masih minim pengetahuan tentang hukum dan ekonomi secara makro? "Untuk mengatasi dan mengamankan undang-undang, anda tak butuh ahli ekonomi. Anda tak butuh ahli tata-bahasa. Yang anda butuhkan hanyalah berpikir logis dan kemauan kuat dan keberanian untuk berdaulat, dengan mengamankan undang-undang dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat" kata Prof Maksum, Ketua PBNU, guru besar pertanian UGM.

Sebagai contoh, dalam amandemen UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 berbunyi: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Ayat 4: “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional. Ayat 5: "Ketentuan lebih lanjut mengenai pasal ini diatur dalam Undang-Undang.”

Dengan amandemen ini muncul berbagai Undang-Undang prokapitalis yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Pasal 33 Ayat 3 secara otomatis, telah di-nasikh ayat 4 yang merupakan pesanan asing dengan corong para wakil rakyat yang menggadaikan negerinya. Perubahan ini, bisa dilogika dan dinalar secara awam. Meski sudah diuji materikan oleh beberapa pihak yang masih peduli kedaulatan NKRI, utamanya PBNU, antek-antek asing selalu saja merubah dan mempermainkan kata dan kucing-kucingan.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu ada beberapa UU liberal pesanan asing yang membunuh kedaulatan rakyat seperti: UU Migas (No 22 Th 2001), UU BUMN (No 19 Th 2003), UU SD AIR (No 7 Th 2004), UU Perikanan(No 31 Th 2004), UU Pen. Modal (No 25 Th 2007), UU Kewilayahan (No 27 Th 2007), UU Minerba (No 4 Th 2009), UU Tenaga Listrik(No 30 Th 2009), UU Cagar Budaya (No 11 Th 2010), UU. Mata Uang ( No 7 Th 2011), UU. OJK (No 21 Th 2011) UU Pertanahan (No 2 Th 2012).

Inilah tugas dan proyek besar mahasiswa, sebagai generasi muda dan pemilik sah masa depan bangsa ini. Dasar teologis sudah jelas, saatnya kita berpikir 10-20 tahun kedepan, bagaimana bisa memiliki kedaulatan pangan; menentukan sendiri, memproduksi sendiri dan menikmati sendiri potensi alam untuk kemakmuran rakyat yang merupakan amanat undang-undang dasar 1945. Saatnya membuka mata, wacana, cakrawala dan berbuat hal-hal yang kongkrit. Mahasiswa dan generasi muda Indonesia jangan justru terjebak pada pragmatisme politik dan wacana kampus yang menyesatkan. Hal-hal yang tak penting dan lebay. Mahasiswa harus segera berbenah diri, menganalisa kawan dan lawan dan berpikir cerdas untuk melakukan perubahan. Karena, selain kepada mahasiswa dan generasi muda, kemana akan lagi nasib masa depan bangsa ini diserahkan?

?

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Wakil Ketua PW IPNU Jateng, Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 17 Desember 2013

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Hari lahir (harlah) ke-89 NU yang jatuh hari ini, Sabtu (31/1), diperingati secara sederhana di halaman kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla dijadwalkan datang pada acara tahunan ini.

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini

“Berdasarkan kunjungan kami ke Kantor Wakil Presiden, beliau (Jusuf Kalla) yakin akan hadir. Pak JK bilang ‘Insyaallah’. Sekitar pukul 19.30 WIB beliau tiba di lokasi acara,” terang Ketua Panitia Harlah ke-89 NU, H Abdul Manan A Ghani.

Perhelatan ini sekaligus menjadi ajang peluncuran perdana Muktamar ke-33 NU yang rencananya berlangsung pada 1-5 Agustus 2015 mendatang di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Prosesi peluncuran secara resmi dilakukan Wakil Presiden dengan ditandai pemukulan beduk.

Ribath Nurul Hidayah

Selain memberi kata sambutan, Mustasyar PBNU itu dijadwalkan akan menandatangani “Prasasti Universitas Nahdlatul Ulama” yang menjadi simbol bagi puluhan perguruan tinggi NU yang berdiri selama periode kepengurusan PBNU kali ini.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum acara puncak pada malam nanti, di tempat yang sama pihak panitia menggelar istighotsah dan khataman al-Qur’an dari pagi hingga siang nanti. Sejumlah persiapan telah rampung, baik dari segi keamanan maupun sarana prasarana.

Panitia telah menyebar sekitar 400 undangan, antara lain kepada para kiai NU, para pejabat tinggi negara, perwakilan ormas Islam, gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, dan utusan dari lintas agama.

Menteri yang akan hadir di antaranya Menteri Sosial, Menteri Agama; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; serta Dirut Perum Perhutani. PBNU akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan lembaga tinggi negara tersebut. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 05 Desember 2013

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah

Memasuki tahun ajaran baru, pengurus komisariat PMII Sepuluh Nopember ITS mengadakan pelatihan gerak mahasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari ini sejak Sabtu, (15/8) hingga Senin, (17/8), berhasil menarik minat mahasiswa baru ITS, PENS maupun PPNS.?

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Dalam acara pembekalan hari pertama, terdapat tiga sesi. Sesi pertama adalah bagaimana cara Bertransformasi dari Siswa Menjadi Mahasiswa, materi ini disampaikan oleh Dr Agus Zainal Arifin Skom Mkom, salah satu dosen Teknik Informatika ITS yang juga pembina dari PMII Sepuluh Nopember maupun CSSMoRA ITS.?

Sesi kedua diisi oleh Zahra S. Arfenti, Mawapres ITS. Dalam sesi ini, ia memaparkan kiat bagaimana menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurutnya prestasi mahasiswa tidak ? hanya dalam hal akademis saja, masih ada berprestasi di non akademis semisal PKM. Selain itu, dirinya juga menjelaskan tentang bagaimana cara mengelola waktu, bagaimana cara mencari tim PKM atau keilmiahan lain, bagaimana cara membuat life-mapping dan masih banyak lagi lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sesi ketiga merupakan sesi sharing antara peserta dengan anggota PMII Sepuluh Nopember yang berhasil menorehkan berbagai prestasi. Dalam sesi ini ada lima anggota yang membagikan pengalamannya dan tips bagaimana prestasinya berhasil menghampirinya. Mereka yang berlima adalah Mutawalli Alfin, Rizki Mendung, Iklil Muna, Misbahul Munir dan Deni Setiawan.?

Dalam sesi ini ternyata mampu menarik minat dari peserta untuk menanyakan berbagai hal. Salah satunya adalah bagaimana cara menjadi penghafal Al-Qur’an. “Kuncinya adalah istiqomah,” ujar Rizki Mendung kepada para hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya angkatan 2015 saja, pelatihan ini ternyata mampu menarik minat dari angkatan lain, ada dari 2014 bahkan ada salah seorang peserta yang berasal dari angkatan 2012. Menurut salah satu peserta 2014, Rizal, “Pelatihan yang sangat recommended banget buat para mahasiswa dan atau calon mahasiswa,” ungkapnya pada panitia.?

“Tidak hanya ilmu tapi juga motivasi yang mampu menjadikan siswa menjadi mahasiswa yang rahmatan lil alamin,” imbuhnya mahasiswa jurusan TMJ ITS 2014 itu. (Ahmad Hanan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, Kiai, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah