Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi?

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sebagian besar masyarakat masih belum menbedakan antara kontra radikalisasi dan deradikalisasi. Tiap kali dilangsungkan pertemuan antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan yang komitmen memerangi tindakan radikalisasi, nyaris selalu disalahkan.

Demikian penegasan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamidin, saat menjadi pembicara dalam "Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media, OKP, dan Ormas"di hotel Millenium, Jakarta, Kamis (23/3).

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Perbedaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi?

"Seperti workshop kali ini, terdapat kelompok yang menyatakan bukan bagian dari deradikalisasi," tegas Hamidin.

Diterangkan, deradikalisasi lebih pada pencegahan lewat pendekatan kekeluargaan, sementara kontra radikalisasi berupa mengajak semua stakeholder guna memerangi radikalisme.

Ribath Nurul Hidayah

"Seperti yang kita lakukan saat ini, termasuk kontra radikalisasi. Sebab, kita sepakat dan sama-sama berkomitmen memerangi radikalisasi,"paparnya.

Sementara itu, deradikalisasi tercermin dari upayanya melakukan pendekatan kepada pelaku terorisme yang dibui. Polanya berupa pendekatan kekeluargaan dan bersentuhan langsung dengna pelaku radikalisasi.

Ribath Nurul Hidayah

"Saya sering bermakmum kepada para pelaku teroris yang di penjara. Saya jadi makmum saat shalat berjamaah dengan mereka. Selanjutnya, saya sisipkan pencerahan supaya mereka tidak lagi terbelenggu pada paham radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme," ujar Hamidin.

Hamidin menegaskan, perkembangan teknologi mengarah pada nilai positif dan negatif. Media, OKP, dan ormas harus berperan besar dalam mencegah terjadinya terorisme.

Dalam kesempatan itu, Hamidin mengungkap banyak hal berkenaan dengan terorisme yang digalang ISIS. Mulai dari perencanaan strategisnya, polarisasi organisasinya, sistem kaderisasinya, dan manajemen konflik dan isu yang dilakukan secara massif.

Hamidin berharap media dan masyarakat berperan positif terhadap mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. Karena bila diasingkan, potensi untuk kembali jadi teroris tergolong besar. (Hairul Anam/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial RI, H Khofifah Indar Parawansa, melepas 14 balita dan anak kepada orang tua angkat masing-masing. Pelepasan balita dan anak ini dilakukan di kantor UPT PSAB Dinas Sosial Jatim di Sidoarjo, Kamis (2/3). Anak dan balita tersebut sebelumnya ditampung di UPT Pelayanan Sosial Anak Balita (PSAB) Dinas Sosial (Dinsos) Jatim di Sidoarjo.

Menteri Sosial Ri Khofifah Indar Parawansa mengatakan, syarat untuk bisa mengadopsi anak diantaranya pasangan harus sudah berstatus menikah minimal 5 tahun dan usia pernikahan maksimal 45 tahun. Selain itu pasangan harus melengkapi berkas tertulis dari dokter ahli bahwa pasangan sudah tidak memungkinkan memiliki anak kandung.

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Lepas 14 Anak kepada Orang Tua Angkat Masing-masing

"Balita yang sudah mendapatkan orang tua angkat usianya bervariasi, ? mulai dari usia paling kecil empat bulan hingga balita usia 3 tahun, namun rata–rata balita yang dilepas usianya di bawah 1 tahun. Latar belakang keluarga yang mengadopsi juga beragam, mulai dari pasangan PNS, Polri, dari keluarga dokter, bidan dan wiraswasta," kata Ketum Muslimat itu.

Terkait dengan ijin adopsi anak, prosedur administrasinya harus mengurus di kantor Dinas Sosial tingkat propinsi, sedangkan untuk warga Negara asing apabila ingin mengadopsi anak prosedur yang dilewati harus mendapatkan ijin dari kementerian sosial RI, diantaranya syaratnya harus mendapatkan ijin dari Negara asal pemohon.

Ribath Nurul Hidayah

Prosedur ijin untuk mengadopsi anak angkat menjadi perhatian pemerintah karena untuk menjaga jangan sampai terjadi kembali persoalan-persoalan sosial muncul, seperti halnya kekerasan pada anak.

Sugeng Hari, salah satu orang tua asuh, mengaku akan merawat anak yang diadopsi dengan sebaik mungkin. Karena anak-anak itu juga anugrah dari Tuhan. "Kami akan merawat anak ini dengan sebaik-baiknya. Karena anak ini juga anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syafuddin, berpesan kepada para orang tua angkat, supaya ikhlas dan sabar dalam merawat anak. Dan yang paling penting, kata Wabup, adalah memberikan kasih sayang penuh hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

Pria yang akrab disapa Cak Nur menjelaskan, sebelum memutuskan untuk mengadopsi anak, tentu orang tua angkat sudah melakukan persiapan–persiapan seperti kondisi ekonomi serta kesiapan mental dalam mengasuh anak. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah News, Ulama, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Nasaruddin Umar: NU Jaga NKRI, PMII Jaga NU

Makassar, Ribath Nurul Hidayah. Wakil Menteri Agama KH Nasaruddin Umar mengatakan, eksistensi Indonesia yang majemuk dan kokoh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga kini tidak lepas dari sumbangsih Nahdlatul Ulama (NU). Tapi peran ormas terbesar di Indonesia ini tak lepas dari kontribusi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“NU akan selalu setia menjaga NKRI, dan produk intelektual NU berasal dari PMII. Merekalah yang akan menjaga NU dan NKRI,” jelas pria berdarah Bugis ini dalam acara silaturahim Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKAPMII) Sulawesi Selatan di Balai Diklat Kemenag, Makassar, Ahad malam (10/8).

Nasaruddin Umar: NU Jaga NKRI, PMII Jaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasaruddin Umar: NU Jaga NKRI, PMII Jaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasaruddin Umar: NU Jaga NKRI, PMII Jaga NU

Nasaruddin memuji, peran menonjol mereka adalah sebagai perekat dalam menjaga harmonisasi bangsa. Sehingga kondisi bangsa ini tidak dalam ancaman disintegrasi. “Itu karena PMII yang tetap menjaga sikap kebangsaan,” jelas mantan Katib Aam PBNU

Ribath Nurul Hidayah

Ketua IKAPMII Sulsel Kadir Ahmad menuturkan, pelaksanaan silaturahim ini sangat strategis, utamanya dalam menyikapi berbagai tantangan kebangsaan dan keagamaan.

“Alumni PMII Sulsel berkhidmah dan tersebar di lintas profesi, tentu membutuhkan ruang dalam mendiskusikan berbagai persoalan agar sumber daya yang dimiliki alumni dapat dituangkan dalam perjuangan gerakan sosial-keagamaan di tengah perubahan-perubahan kedepan,” tandas Kadir Ahmad.

Ribath Nurul Hidayah

Silaturahim ini dihadiri ratusan alumni PMII Se-Sulel lintas generasi, lintas cabang dan kampus. Turut hadir Ketua MUI Sulsel AGH Sanusi Baco LC, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel HM Gazali Suyuti, Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr Masrurah Mochtar, Ketua Yayasan Badan Wakaf UMI Prof? Dr Mochtar Noor Jaya, serta sejumlah tokoh senior PMII Sulsel, seperti Arfah Siddiq, Rahman Idrus, Abdurrahman K, Mukhlis Latif, Ketua GP Ansor Sulsel, M Tonang Cawidu, Ketua PMII Sulsel, Ismail Mangngaga. (Ahmad Arfah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan

Tulunggaung, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Cabang Tulungagung, resmi mendirikan Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar). Badan ini secara khusus membidangi masalah penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat ? di Kabupaten Tulungagung.

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar Tulungagung Segera Dideklarasaikan

Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Tulungagung, Sahrul Munir mengatakan, Ansor secara struktural telah membentuk Baanar dari tingkat pusat sampai daerah. Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor yang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) telah memerintahkan pada pengurus di daerah untuk membentuk badan ini.

“Saat ini penyalahgunaan narkotika sudah darurat, sama bahayanya dengan terorisme. Sesuai data setiap hari sekitar 45 orang meninggal gara-gara Narkoba. Kita semua warga Ansor punya kewajiban yang sama untuk membantu Kepolisian dan BNN untuk mencegahnya,” ungkap Sahrul Munir kepada Ribath Nurul Hidayah, Jumat (5/8) pagi di arena Rakernas Banser di Tulunggung.

Munir mengatakan, kader GP Ansor berusia antara 30-40 tahun. Sedangkan pengguna narkoba rata-rata di usia produktif. Maka GP Ansor sebagai Badan Otonom Nahdlatu Ulama (NU), punya kewajiban yang sama, terlebih Ansor memiliki struktural sampai tingkat Kelurahan/Desa.

“Kepengurusan Ansor Tulungagung ada 19 anak Cabang Kecamatan dan 271 ? desa dan kelurahan. Maka ini sangat efektif untuk perang lawan narkoba,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk menangani organisasi ini,lanjut Munir, ia telah menunjuk Hariadi mantan Komandan Banser periode sebelumnya untuk menjabat sebagai Kepala Baanar Kabupaten Tulungagung.

“Saya yakin dengan pengalaman dilapangan Cak Hariadi. Organisasi ini akan efektif dan bisa berjalan. Apalagi ? terkait ini kita harus selalu koordinasi dengan Polres dan BNN Daerah,” tandasnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Karena ada momen Rakernas Banser. Maka saya nunutkan deklarasinya. Mumpung Ketua Umum Gus Yaqut hadir di Tulungagung,” kata Munir. (Imam Kusnin/Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Ahlussunnah, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 10 Januari 2018

RMINU Mantapkan Program Kerja 2015-2016

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Pusat Rabithah Maahad Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU kembali membahas program kerja yang telah dirumuskan dalam rapat kerja (raker) pada 3-4 Desember 2015.

RMINU Mantapkan Program Kerja 2015-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Mantapkan Program Kerja 2015-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Mantapkan Program Kerja 2015-2016

Hal ini sebagai langkah pemantapan dan penjabaran atas sejumlah butir program yang belum sempat dibahas secara detail dan teknis pada forum raker.

Pembahasan kali ini berlangsung di Gedung PBNU, Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (14/1). Forum dihadiri para pengurus harian RMINU dan pengurus dari seluruh divisi.

Ribath Nurul Hidayah

RMINU periode ini membagi kepengurusan dalam lima divisi, antara lain Divisi Advokasi Kelembagaan, Divisi Taqwimul Ulama, Divisi Kemandirian Pesantren, Divisi Media dan Data, serta Divisi Jaringan dan Kerja Sama. Kelima departemen ini menjadi motor bagi seluruh program kerja yang telah dirancang.

Ribath Nurul Hidayah

"Divisi-divisi ini bukan pemisahan tapi pemilahan. Semua bekerja dalam satu tujuan untuk kemaslahatan pesantren sebagai sasaran program RMINU," kata Sekretaris PP RMINU.

Di antara program kerja yang sedang berjalan adalah pendirian Pusat Grosir Pesantren (PGP) Nusantara yang dibidangi Divisi Kemandirian Pesantren. Program ini memfasilitasi pesantren untuk mendapatkan barang dengan harga langsung dari produsen. Dengan memperpendek rantai distrubusi barang, pesantren diharapkan menjadi pemain pasar, setidaknya sebagai distributor.

Program-program lain yang sudah dirumuskan di antaranya mendirikan asosiasi mahad ali, pengawalan revisi UU Sisdiknas, pengembangan kurikulum Aswaja, pengumpulan database pesantren, optimalisasi media, penerbitan buku, lokakarya, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.

Ketua PP RMINU KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, program kerja RMINU banyak yang beririsan dengan program kerja lembaga-lembaga lain di lingkungan PBNU. "Karena itu, saya kira kita perlu membangun budaya sinergitas khususnya dengan internal PBNU sendiri," tuturnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

Gaza, Ribath Nurul Hidayah. Pembentukan pemerintahan nasional bersatu di Palestina masih tersendat-sendat. Pertemuan antara Presiden Mahmud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyah untuk membahas susunan pemerintahan koalisi di Gaza, sejak Ahad (4/3) malam hingga dinihari, tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.

Kedua pemimpin Palestina itu menyelesaikan pertemuan mereka lewat tengah malam, tanpa memberikan komentar pada para wartawan yang sudah menunggu. Juru bicara kabinet Hamas, Ghazi Hamad hanya mengatakan, pembahasan belum selesai dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

"Mereka berharap sudah bisa mengumumkan pemerintahan koalisi di akhir tenggat waktu yang diberikan pada Haniyah, yang akan berakhir dua minggu lagi," kata Hamad.

Pertemuan antara Abbas dan Haniyah di Gaza berlangsung selama tiga jam. Sebelum pertemuan, juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh mengatakan, tugas untuk menentukan posisi-posisi dalam pemerintahan koalisi yang dibebankan pada Haniyah, harus selesai dalam satu minggu ini.

"Pemerintahan berjalan dengan baik. Tidak ada masalah serius dalam konsultasi itu," tukas Rudeineh.

Ribath Nurul Hidayah

Abbas dan Haniyah rencananya akan melanjutkan pertemuan di Gaza sampai hari Selasa besok untuk membahas sejumlah persoalan yang masih belum disepakati oleh kedua belah pihak. Salah satunya adalah penentuan orang yang akan menjabat sebagai menteri dalam negeri. Hamas sudah mengajukan dua calon untuk posisi itu, tapi keduanya ditolak oleh Abbas. Posisi menteri dalam negeri adalah salah satu posisi strategis dalam kabinet, karena menteri dalam negerilah yang akan memegang kontrol seluruh aparat keamanan di Palestina.

Haniyah dan Abbas juga belum sepakat tentang siapa yang akan memegang jabatan deputi perdana menteri. Tapi tampaknya, posisi itu masih akan dipegang oleh Salam Fayyad karena dianggap cukup moderat dan diharapkan bisa membantu melonggarkan embargo finansial negara-negara Barat terhadap pemerintahan Hamas di Palestina.

Penunjukkan Ziad Abu Amar sebagai Menteri Luar Negeri, juga masih menjadi perdebatan antara Hamas dan Fatah. Hamas menginginkan penunjukkan Amar adalah bagian penunjukkan menteri-menteri dari kalangan independen, sementara Fatah menginginkan sebaliknya. (era/rif)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa

Palopo,Ribath Nurul Hidayah. Universitas Islam Makassar (UIM) bekerja sama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (IPMIL) menyelenggarakan try out Ujian Nasional bagi Siswa-Santri SMA/SMK/MA di Gedung Kesenian Lagaligo Kota Palopo, Kamis (19/2).

Pembantu Rektor IV UIM Dr. Nur Taufiq Sanusi membuka kegiatan tersebut. Pada pembukaan ia mengatakan, dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, UIM melakukan kerja sama dengan berbagai pihak.

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa

Kerja sama itu, tambah dia, tak hanya dilakukan dengan pihak dalam negeri, tapi juga luar negeri. Hal itu sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan akses para alumni salah satu perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Makassar tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut putra Gurutta KH Sanusi Baco, try out tersebut sebagai bentuk kepeduliaan UIM santri dan siswa agar kelulusan mereka meningkat.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir ribuan pelajar dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Kabupaten/Kota Palopo, Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Desember 2017

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ada tradisi unik yang masih bertahan di Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah dan beberapa desa sekitarnya utamanya dalam hal mengaji dan metode belajar warganya dalam usaha memahami ajaran agama Islam untuk diamalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Barangkali tradisi tersebut bisa dikategorikan sebagai salah satu ekspresi dari budaya Islam Nusantara meski masyarakat setempat tidak menyadarinya.

Di daerah ini setelah anak-anak mengkhatamkan mengaji Al-Quran 30 juz bin nadhar di rumah para ustadz atau kiai desa setempat, mereka umumnya melanjutkan pelajaran ke jenjang berikutnya dengan materi kitab-kitab kajian keislaman, mulai fiqih, tauhid hingga tasawuf secara gradual. Uniknya kitab yang dipakai untuk mengaji bukan kitab kuning sebagaimana lazimnya di pesantren, bukan pula buku berbahasa Indonesia sebagaimana di madrasah formal. Melainkan kitab-kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon. Orang-orang sering menyebutnya dengan nama "kitab ireng", karena sampulnya memang berwarna hitam. Dalam salah satu kitab yang berjudul Riayatul-Himmah, tertulis di halaman pembuka begini:

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ikilah kitab nazhom Riayatul-Himmah namane, tarajumah ilmu syariat telung perkoro: usul, fiqih, tasawuf. Saking Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabe, Ahlu Sunni Toriqote.

(Inilah kitab Riayatul-Himmah namanya, terjemah ilmu syariat meliputi tiga macam ilmu:  usul, fiqih dan tasawuf. Dari Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabnya. Ahlussunnah haluannya).

Ribath Nurul Hidayah

Kitab-kitab tersebut merupakan karya KH. Ahmad Rifai yang berjumlah belasan buah kitab dengan ragam cabang ilmu keislaman. KH A Rifai adalah ulama yang hidup pada masa penjajahan Belanda dan akhirnya dibuang ke Ambon, Maluku, sampai akhir hayatnya. Ulama kelahiran Kendal itu kini telah diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Kitab-kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon tersebut selain digunakan sebagai materi mengaji usia anak-anak, juga kerap dipakai sebagai rujukan dalam pengajian-pengajian majelis taklim yang diikuti orang dewasa baik yang diadakan mingguan ataupun selapanan. Pendek kata, anak-anak dan sekelompok orang dewasa tadi mempelajari Islam melalui guru tidak melalui sumber-sumber asli yang berbahasa Arab, tapi melalui sumber terjemahan yang sudah menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa.

Dan sebenarnya kitab-kitab yang dipergunakan tersebut dapat pula dikategorikan sebagai kitab kuning bila mengikutu definisi kitab kuning yang diberikan oleh Prof. Azyumardi Azra. Karena Azyumardi Azra mendefinisikan kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab, Melayu, Jawa atau bahasa-bahasa lokal lain di Indonesia dengan menggunakan aksara Arab, yang selain ditulis oleh ulama di timur tengah, juga ditulis oleh ulama indonesia sendiri. (Azyumardi Azra, 2000).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih dari sekadar mendengarkan penjelasan guru, anak-anak dan orang dewasa peserta majelis taklim di atas,  mereka juga masing-masing memiliki macam-macam kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon itu sehingga mereka selain dapat menyimak materi yang disampaikan kiai di tempat pengajian, mereka juga dapat memutolaah atau mempelajari kembali melalui kitab-kitab tersebut di rumah masing-masing bahkan tidak sedikit yang menghafalkannya.

Selain dijadikan materi mengaji untuk memahami ajaran Islam, kitab-kitab berbahasa Jawa itu juga lazim dijadikan bacaan untuk pujian setelah azan, yaitu jeda waktu sebelum shalat jamaah didirikan sembari menunggu berkumpulnya jamaah. Jadi saat pujian itu mereka menukil dari kitab-kitab Jawa di atas misalnya membaca materi syarat dan rukunnya shalat, hal-hal yang membatalkan wudhu, dan semacamnya. Misalnya yang dikutip seperti syair di bawah ini yang membahas air yang sah untuk berwudzu:  

Utawi banyu kang sah ginawe sucine iku banyu papitu werno wilangane

Banyu udan banyu segoro banyu kaline banyu sumur banyu sumberan tinemune

Banyu bun banyu burud iku kinawaruhan lamon durung paham mongko wajib pitakonan


Meskipun kitab-kitab yang dijadikan rujukan belajar dan pujian di atas merupakan terjemahan, namun penulisnya, KH A Rifai,  juga selalu menyertakan sumber-sumber teks asli yang umumnya dinukil dari literatur yang tergolong mutabar. Menjadi ciri khas dalam kitab tersebut untuk teks-teks asli baik berupa dalil Al-Quran, hadis maupun qaul ulama tertulis menggunakan tinta merah, dan untuk terjemahan bahasa Jawanya tertulis dengan tinta hitam. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 15 Desember 2017

Hukum Kejahatan Plagiat

Secara hakiki segala yang diam dan bergerak di muka bumi baik daratan maupun lautan memang milik Allah. Kalau secara hakiki ini diterapkan dalam keseharian, kehidupan mendadak chaos karena siapa saja merasa khalifatullah. Namun, secara majazi hak milik Allah bisa diidhofahkan kepada siapa saja agar kehidupan jadi terang dan terus berjalan.

Allah sendiri mengakui adanya antara lain hak milik (haqqul milk) dan hak guna (haqqul intifa’) hamba-Nya. Dengan hak milik dan hak guna ini, segala makhluq bisa bergerak secara fungsional, tidak bebas semaunya. Lalu bagaimana dengan plagiat menurut fiqih?

Hukum Kejahatan Plagiat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Kejahatan Plagiat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Kejahatan Plagiat

Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan plagiat sebagai “Pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.”

Ribath Nurul Hidayah

Lembaga Fatwa Mesir, Darul Ifta Al-Mishriyyah melansir keterangan berikut melalui websitenya yang diakses pada Kamis, 5 Maret 2015. http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=426

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Hak karya tulis dan karya-karya kreatif, dilindungi secara syara’. Pemiliknya memunyai hak pendayagunaan karya-karya tersebut. Siapapun tidak boleh berlaku zalim terhadap hak mereka. Berdasarkan pendapat ini, kejahatan plagiasi terhadap hak intelektual dan hak merk dagang yang terregistrasi dengan cara mengakui karya tersebut di hadapan publik, merupakan tindakan yang diharamkan syara’. Kasus ini masuk dalam larangan dusta, pemalsuan, penggelapan. Pada kasus ini, terdapat praktik penelantaran terhadap hak orang lain; dan praktik memakan harta orang lain dengan cara batil.

Melihat dari keterangan di atas, sudah semestinya setiap orang mengapresiasi karya orang lain dan menghargainya dengan tidak melakukan plagiasi. Setidaknya kalau tidak bisa izin, menyebutkan sumber lengkap dengan nama pembuatnya kalau mau mengutip semisal karya apa saja mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, sastra, karya jurnalistik, atau temuan budaya lokal lainnya. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Desember 2017

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir

Sampang, Ribath Nurul Hidayah. Untuk membantu meringankan penderitaan korban banjir di kabupaten Sampang, yang sejak hari Senin (08/04/2013) dilanda banjir bandang, NU Sampang ikut berpartisipasi untuk menggalang bantuan dan menyalurkannya ke berbagai titik banjir.  

Pada awal terjadinya bencana ini, NU Sampang sudah menyalurkan bantuan berupa makanan dan minuman yang tak kurang dari 1800 paket, Kamis (18/4) kemarin, NU Sampang kembali menyalurkan bantuan berupa perlengkapan alat tulis sekolah yang disalurkan ke berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang terkena musibah banjir, baik negeri atau swasta dari berbagai tingkatan. 

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir

"Untuk kali ini, kami fokus untuk menyalurkan bantuan ke sekolah-sekolah, walaupun hanya berupa peralatan sekolah sekadarnya, tapi kami berharap, dengan pemberian bantuan ini, diharapkan bisa menjaga psikologis anak agar tetap baik dan semangat untuk tetap belajar dan  sekolah  walaupun Sampang saat ini sedang dilanda bencana banjir berkali-kali," ujar Rochman Rochim, salah satu tim relawan NU yang ikut serta dalam penyaluran bantuan ini. 

Ribath Nurul Hidayah

Dalam proses penyaluran bantuan ini, sekitar 640 paket peralatan alat tulis yang berisi buku tulis, bolpen, pensil, dan penghapus disalurkan langsung ke berbagai lembaga pendidikan di desa Panggung, Pasiyan, Kamoning dan Tanggumung yang memang kondisinya sangat membutuhkan bantuan. 

Sebagai gambaran, kondisi di desa Pasiyan sangat memperhatikan, sisa-sisa lumpur banjir yang pertama pun belum selesai dibersihkan, para korban banjir di desa tersebut  sudah kedatangan banjir lagi. Begitu pun dengan kondisi akses jalan menuju pedalaman desa Pasiyan, sangat sulit dilalui, karena jalan masih terendam lumpur yang licin, dan kondisi ini menjadi sulit dijangkau, sehingga tak ayal warga belum tersentuh bantuan apapun. 

Ribath Nurul Hidayah

"Tapi Alhamdulillah, pada awal banjir, bantuan dari NU Sampang yang berupa makanan dan minuman nyampek ke kita, dan sekarang NU Sampang kembali mengirimkan bantuan berupa alat-alat tulis, kami tentunya sangat berterima kasih kepada NU Sampang yang peduli kepada kami di pelosok," kata Ust Nawawi, salah satu tokoh dusun Lembung Pasiyan yang juga pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam ini. 

Sedangkan menurut Moch Syamsuddin Abd Muin, salah satu tim relawan NU Sampang "Kami akan terus menggalang bantuan semampu kami, dan mulai dari awal hingga saat ini, semua bantuan yang kami salurkan ini murni dari infaq dan sedekah teman-teman, baik dari Sampang, maupun dari luar Madura, yang kami galang dari jejaring sosial yang kami miliki". 

Hingga berita ini diturunkan, Jumat (19/4), kota Sampang kembali terjadi banjir yang kondisi air terus meninggi yang cukup membuat gelisah warga Sampang dikhawatirkan akan lebih besar dari pada yang terjadi pada Senin (8/4) lalu.

Redaktur    : Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Desember 2017

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah aturan yang ada di negeri ini kerap berubah. Para wakil rakyat dan pemerintah, tidak jarang membuat aturan baru yang tentunya mengikat warga masyarakat. Hal ini menjadi pekerjaan tersendiri dalam bahtsul masail, pembahasan masalah keagamaan di lingkungan NU.

Di antara permasalahan yang tengah marak terjadi di masyarakat adalah pernikahan hasil "kecelakaan". Dalam artian, sepasang anak muda beda kelamin melakukan hubungan intim sehingga hamil. Padahal antara keduanya belum diikat oleh perjanjian pernikahan.

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

"Sejumlah berita di media sangat marak akan hal ini," kata Muhammad Maruf Khozin saat dikonfirmasi Ribath Nurul Hidayah, Kamis (2/10). Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Jawa Timur ini merasa sangat prihatin atas kian tidak terkendalinya pergaulan antar anak muda lain jenis.

Ribath Nurul Hidayah

Pengaruh media massa, alat komunikasi dan pergaulan dengan lingkungan turut memperparah keadaan tersebut. "Sehingga kehamilan di luar nikah semakin marak terjadi," terang Wakil Katib PCNU Surabaya ini. Dan keadaan tersebut bukan semakin menyusut, malah cenderung mengalami peningkatan jumlah kasus yang terjadi.

"Di luar keprihatinan terhadap berbagai tindakan dekadensi moral tersebut, LBM mendapat masukan pertanyaan dari masyarakat terhadap kasus ini," tandas alumnus Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini. Karena itu dalam bahtsul masail tingkat Jawa Timur nantinya persoalan ini akan mendapatkan perhatian.

Ribath Nurul Hidayah

"Bagaimana status pernikahan yang dilakukan pasangan yang telah hamil namun belum mendapatkan surat nikah, inilah antara lain yang akan dibahas," ungkapnya.

Demikian juga yang akan dibahas para aktifis bahtsul masail dari berbagai kota se Jawa Timur ini adalah penerapan BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Apalagi pemerintah telah mewajibkan seluruh masyarakat untuk mengikuti program ini," katanya. Dalam satu sisi, keberadaan BPJS tentunya sangat bermanfaat bagi penduduk. Namun dengan sejumlah problem pelaksanaan teknis yang kerap muncul di permukaan, hal ini tentu harus mendapatkan pembahasan.

"Wajib dalam pandangan pemerintah atau hukum positif tersebut apakah juga sama dan sebangun dengan wajib dalam pandangan hukum Islam," sergahnya. Dengan demikian, hasil dari pembahasan masalah ini akan memberikan panduan kepada banyak kalangan termasuk pemerintah dalam mengeluarkan aturan, lanjutnya.

Dalam pandangan Ustadz Khozin, sapaan kesehariannya, bahwa kian dinamisnya peraturan serta perundangan yang ada di negeri ini memaksa para pegiat agama khususnya LBM untuk memberikan respon atas masalah yang muncul.

"Ini menjadi pekerjaan berat bagi kami untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan umat terhadap berbagai masalah yang terus berkembang," katanya.

Pelaksanaan bahtsul masail tingkat Jawa Timur ini akan dilangsungkan di Pondok Pesantren Tremas Pacitan pada tanggal 9-10 Nopember 2014. Sejumlah peserta telah menyatakan kesediaan bergabung. Mereka adalah utusan dari sejumlah pondok pesantren dan perwakilan PC LBM NU di masing-masing kota dan kabupaten se Jawa Timur. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.

Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

Ribath Nurul Hidayah

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.

Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.

Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”

Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, IMNU, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Perlu Ketegasan Sikapi TKI

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Anggota DPR RI yang juga Ketua Umum Fatayat NU Hj Maria Ulfah Anshar meminta pemerintah untuk memberikan perlindungan dalam berbagai kasus yang dihadapi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

"TKI ini bisa mendatangkan devisa bagi Indonesia, sehingga perlu jaminan dan perlindungan yang jelas. Kasus tindakan kriminalitas masih sering terjadi hingga sekarang," katanya dalam beda buku berjudul "Nalar Politik Perempuan Pesantren" yang digelar Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Cirebon di Pusdiklatpri, Sabtu (17/3).

Perlu Ketegasan Sikapi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Ketegasan Sikapi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Ketegasan Sikapi TKI

Menurut dia, masalah TKI begitu kompleks. Sebut saja mulai dari kasus penganiayaan TKI, pemulangan secara paksa oleh Pemerintah Malaysia bahkan sampai pada ancaman hukuman mati yang dialami TKI di Arab Saudi.

“Ini dapat dianalisa secara seksama mengapa permasalahan TKI terus mencuat ke permukaan? Itu akibat ketersediaan lapangan kerja di dalam negeri terbatas," ujarnya.

Maria Ulfah menjelaskan, melihat permasalahaan-permasalahan yang ada maka dapat disimpulkan permasalahan TKI di luar negeri bukan semata-mata datang dari TKI itu sendiri, tetapi juga melibatkan banyak pihak. Untuk itulah diperlukan aturan yang jelas, khususnya dari negara hingga menjadi aturan umum yang harus dipatuhi secara bersama.

Ribath Nurul Hidayah

Aturan-aturan itu kata dia, juga harus didukung oleh para aparat penegak hukum, sehingga benar-benar dapat dipatuhi oleh pihak-pihak yang terkait dengan masalah pengaturan TKI. Dengan aturan itu ungkap dia, diharapkan kasus-kasus penganiayaan, pelecehan, dan lainnya terhadap TKI di luar negeri dapat dihindari.

Bedah buku tersebet berlangsung semarak, sedikitnya seratusan undangan hadir. Tampak di antara mereka sejumlah tokoh NU Cirebon, tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cirebon, aktivis muda seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ansor, Muslimat, Fatayat, ISNU dan para dosen STAIN Cirebon.(kalil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

Bom di Universitas Aleppo Tewaskan 15 Orang

Beirut, Ribath Nurul Hidayah. Lima belas orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam dua ledakan yang mengguncang Universitas Aleppo.

Bom di Universitas Aleppo Tewaskan 15 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bom di Universitas Aleppo Tewaskan 15 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bom di Universitas Aleppo Tewaskan 15 Orang

Ledakan menghantam pada hari Selasa  (15/1) di daerah dekat asrama universitas dan fakultas arsitektur, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, lapor AFP. Universitas Aleppo merupakan lembaga pendidikan tinggi terkemuka yan ada di Suriah Utara.   

"Sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan cedera dalam dua ledakan itu," kata pengawas.

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan penyebab ledakan itu tidak segera diketahui, namun sumber lainnya memberikan laporan yang kontradiktif.

"Ledakan itu menyebabkan korban di antaranya dua mahasiswa pada hari pertama mereka ujian, dan orang-orang mengungsi dari daerah kota yang rusak oleh serangan teroris dan yang mencari suaka di kompleks universitas," kantor berita SANA.

Ribath Nurul Hidayah

Televisi pemerintah mengatakan "teroris meluncurkan dua roket" di kompleks universitas, sedangkan para aktivis anti-rezim menyalahkan serangan udara.

Seorang pejabat militer di Aleppo mengatakan pada AFP bahwa hal itu disebabkan oleh pemberontak yang meluncurkan rudal tetapi gagal untuk mencapai target mereka.

Sumber lain mengatakan serangan bom mobil berada di balik ledakan itu. 

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 November 2017

Malam Ini, Kiai Slamet Bakal Dikirab

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Bagi Anda yang penasaran dengan nama Kiai Slamet, Anda dapat menyaksikannya langsung di acara Kirab malam 1 Suro yang digelar Keraton Surakarta, Senin (4/11) malam ini. Kiai Slamet ini bukanlah nama seorang kiai atau ulama top di Solo, melainkan nama kerbau milik Keraton Surakarta.

Menurut Wakil Pengageng Sasana Prabu Keraton Solo, K.R.M.H. Suryo Kusumo Wibowo, Kerbau Kiai Slamet, rencananya akan dikirab mulai pukul 00.00 WIB, berangkat dari Kori Kamandungan menuju Brojonolo. Kemudian dilanjutkan menuju arah Pasar Klewer.

Malam Ini, Kiai Slamet Bakal Dikirab (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Ini, Kiai Slamet Bakal Dikirab (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Ini, Kiai Slamet Bakal Dikirab

“Sebelum kirab, akan ada wilujengan atau doa bersama di bangsal Maligi pada pukul 21.00 WIB. Pukul 23.30 WIB, Pengageng Sentono Dalem, K.G.P.H Puger akan memanggil para pembawa pusaka hingga menjelang kirab berlangsung,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Dari Pasar Klewer, selanjutnya rombongan akan menuju ke arah Alun-alun Utara dilanjutkan ke arah Jl. Jenderal Sudirman, dan seterusnya ke rute yang lain, hingga kembali lagi menuju ke Kori Kamandungan melalui jalan Alun-alun Utara yang diperkirakan sampai pada pukul 04.00 WIB.

Ribath Nurul Hidayah

Pada saat prosesi kirab nanti, warga yang ikut menyaksikan, biasanya akan berebut untuk mendapatkan kotoran kerbau. Mereka percaya kotoran tersebut mendapatkan berkah.

Terkait hal tersebut, ulama muda Solo, Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi mengatakan tradisi kirab tersebut, selama tidak bertentangan dengan syari’at maka diperbolehkan. “Tapi kalau ngalap berkah dari kerbau itu yang saya kurang setuju, masyarakat menganggap kerbau bawa berkah, tapi ikut ulama tidak pernah,” terangnya.

Oleh karena itu, kita juga perlu bersikap bijak mengenai tradisi semacam ini. Di satu sisi, perlu kita lestarikan karena ini merupakan kekayaan khazanah tradisi yang perlu kita lestarikan. Namun, di sisi lain semestinya kita mesti tepat di dalam mengambil wasilah untuk mendapat keberkahan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah

Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).?

Yang membuat banyak kalangan nahdliyin semakin hormat kepada sosok ini adalah kesediaannya untuk tetap mengaji kepada kiai, dengan cara antri sebagaimana santri kebanyakan, meskipun beliau sendiri sudah memimpin pesantren dan diangkat sebagai Mursyid Tarekat. ? Keaktifannya di NU tidak menghalangi sosok ini untuk akrab kepada semua pihak dari beragam latar belakang.

Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai. Ketika berbicara dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik

Menjadi Mursyid Usia 19 tahun

Mbah Salman adalah anak laki-laki tertua dari KH M Mukri bin KH Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari KH M Manshur, pendiri pesantren Al Manshur. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman muda memang dipersiapkan oleh sang kakek, KH M Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai wali, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuda lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya, Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, KH M Mukri.

Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Popongan Setelah Kepergiannya

Ribath Nurul Hidayah

Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.

Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian : pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya. Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan pada bulan-bulan tertentu.

Sampai hari-hari terakhir menjelang masuk ke rumah sakit beliau tetap mengajar, meskipun santri yang ada di hadapan beliau hanya satu orang. Demikianlah sosok yang di dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah karya Martin van Bruinessen, termasuk tokoh tarekat yang disebut dalam mata rantai KH M Manshur dari KH Muhammad Hadi Girikusumo, Mranggen, Demak ini, dia tidak membedakan sedikit banyaknya santri yang belajar.

Santri mukim yang belajar kepada kiai sepuh ini jumlahnya ratusan orang setiap angkatan. Dan jika dihitung sudah mencapai lebih dari 100 ribu orang yang pernah nyantri kepada Almarhum.

Almarhum meninggalkan seorang isteri, Hj Siti Aliyah dan delapan anak, yaitu Musta’anatussaniyah, Umi Muktamirah, Munifatul Barroh, Murtafiah Mubarokah, Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Miftahul Hasan, Multazam Al-Makki, dan Marzuqoh Maliya Silmi. Yang tidak menyertai suami di luar Klaten juga membantu mengasuh di pesantren yang Almarhum pimpin. Para menantunya juga mengasuh pesantren di Krapyak Yogyakarta (KHM Najib Abdul Qodir); Al-Ishlah Kediri (KH Zubaduz Zaman), Al-Muayad Windan (KHM Dian Nafi’).

?

(Ajie Najmuddin/ dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah?

Pengurus Ranting Muslimat NU Desa Karangrejo mengadakan pengajian "khotmil Quran" sebulan sekali. Bulan ini dilaksanakan di masjid Darul Falah, lingkungan Karang Anom, kelurahan Karangrejo, kabupaten Banyuwangi pada Jumat (2/12) siang.?

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran setiap orang satu juz, dilanjutkan dengan acara tahlil, pencerahan rohani dan program muslimat yang disampaikan ketua.

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Menurut Ketua Ranting Muslimat NU karangrejo, Hj. Un Istianah, kegiatan ini penting dilakukan sebagai wadah silaturahmi dan memanjatkan doa bersama.

"Jujur merasa bangga atas kegiatan rutinan ini. Tiap bulan mengalami peningkatan anggota. Awalnya anggota kita berjumlah 90 dan saat ini kehadiran peserta mencapai 110 orang. Ini wadah bagi kita untuk silaturahmi," ungkapnya.

Dia menambahkan, selain wadah silaturahmi di sini juga sebagai peningkatan kualitas dan kuantitas amal sholeh. Selain adanya pembacaan yasin tahlil juga ada siraman rohani setiap bulan.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pebutup sambutannya, ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah guna keselamatan saudara dan bangsa.

Salah seorang anggota Muslimat, Saimah, merasa bahagia mengikuti rutinan tiap bulan sekali. Menurut warga Karangrejo, kegiatan tersebut sebagai ranah menambah amal dan ilmu di dalamnya. (M. Sholeh kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 19 Oktober 2017

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ulama Ahli Tafsir H Muhammad Quraish Shihab mengatakan, hijrah di masa sekarang harus dimaknai sebagai upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang, bukan untuk berperang apalagi membunuh sesama manusia.

"Hijrah itu meninggalkan yang buruk menuju yang baik," kata Quraish Shihab di Jakarta, Senin, menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriyah yang akan jatuh pada Ahad, 2 Oktober 2016.

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Nilai Penting Hijrah Nabi Menurut Quraish Shihab

Menurut Penulis Tafisr Al-Misbah ini, hijrah adalah ungkapan cinta tanah air yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagi bangsa Indonesia hijrah harus dimaknai untuk lebih mencintai tanah air demi menciptakan negeri yang adil, damai, dan sejahtera.

Pernyataan itu sekaligus meluruskan pengertian hijrah yang digunakan kelompok ISIS dalam menjalankan misinya. ISIS menjadikan hijrah sebagai alat propaganda untuk menarik pengikutnya pindah ke Suriah untuk mendirikan khilafah. 

Menurut mantan Menteri Agama ini, hijrah dipilih untuk Tahun Baru Islam karena hijrah memiliki tiga nilai penting yang harus dipahami umat Muslim. Pertama, ada kaitan antara hijrah dengan keamanan karena pada waktu itu terjadi teror atau ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Itu pun, kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Rasulullah menunggu perintah Allah. Sebelum perintah hijrah turun, sahabat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengajak Rasulullah untuk hijrah, tetapi ajakan itu tidak dilaksanakan.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, meskipun hijrah perintah langsung dari Allah, namun Rasulullah tetap melakukan perencanaan sebelum melakukan hijrah ke Madinah. Menurutnya, sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah lebih dulu hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia, red), meski negeri itu dipimpin seorang raja beragama Nasrani.

"Namun, karena raja itu baik dan adil, Rasulullah memerintahkan hijrah ke Habasyah, sebelum kemudian hijrah lagi ke Madinah. Dari situ dipetik makna bahwa dalam hijrah harus ada optimisme," ujar Guru Besar Tafsir itu.

Nilai ketiga, lanjut Quraish Shihab, dalam hijrah terdapat kebersamaan karena pada waktu itu terdapat anak, remaja, dan orang tua. Ia menegaskan, Tahun Baru Islam dimulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW, bukan pada waktu Nabi meraih kemenangan. 

"Karena kalau dasarnya kemenangan, orang biasanya akan merasa puas," tandasnya. (Red: Fathoni)

Source: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 15 Oktober 2017

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember

Jember, Ribath Nurul Hidayah

Para personel Banser Tanggap Bencana (Baga) Gerakan Pemuda Ansor Jember bahu-membahu bersama anggota TNI dan Polri melakukan sterilisasi pasca banjir dan longsor di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Sabtu (28/01).

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser, Polri, TNI Bahu-membahu Bantu Korban Longsor di Jember

Tidak kurang dari 80 personel Bagana diturunkan. Sebelumnya, Pimpinan Cabang GP Ansor Jember HM.Ayub Junaidi dihubungi camat setempat yang meminta bantuan agar menurunkan personel Bagana untuk melakukan sterilisasi material longsor setinggi 20 meter dan menutup jalur irigasi di Dusun Rayap Desa Kemuning Lor.

Dalam aksi sosial tersebut tampak beberapa pengurus dari Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser Jember, di antaranya Wakasatkorcab Banser Jember Alfin Kurnia Elfani, Kasetma Banser M. Sholeh Huddin, Kabiro Bagana Muhammad Lefand, dan Kabiro Logistik Moch. Rhasidy.

Ribath Nurul Hidayah

"Bagana Jember akan selalu siap sedia memantau keadaan di lapangan, bahkan tak segan untuk turun langsung baik diminta ataupun tidak," kata Sekretaris PC GP Ansor Jember H Kholidi Zaini yang saat itu turun langsung memimpin jalannya aksi. (Red: Mahbib)



Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 29 Agustus 2017

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah



Ketua Lrmbaga Bahtsul Masail Provinsi Lampung KH Munawir mengatakan bahwa pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Pemerintah Republik Indonesia sudah tepat. Hal ini tentunya telah melewati berbagai macam kajian komprehensif dengan pertimbangan yang sudah matang.

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat di Indonesia

"HTI tidak sesat. Tapi tidak tepat di Indonesia," tegasnya seraya mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah darul Islam (Negara Islam), tapi darussalam (negara keselamatan), Rabu (10/5).

Ia mengingatkan juga bahwa HTI selama ini tidak memiliki peran dan sumbangsih ikut berjuang melawan penjajah di zaman kemerdekaan. Mereka bukan seperti ormas lainnya seperti NU yang telah jelas nyata mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

"Begitu mudahnya mereka datang tidak ikut berjuang, tiba-tiba ingin mengganti ideologi Indonesia dengan sistem khilafah yang sudah dilarang di banyak negara," katanya.

Ia menegaskan bahwa Pancasila dan NKRI adalah harga mati dan sudah final. Menurutnya tidak perlu ada wacana-wacana khilafah di Indonesia. "Jangankan di Indonesia, di negara Timur Tengah HT itu sudah ditolak," tegasnya sembari menilai bahwa pelarangan HTI di Indonesia ? terlambat dibanding negara-negara lain.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Gus Nawir mengatakan bahwa Hizbut Tahrir secara ekstrem mewajibkan khilafah dan apabila tidak menggunakan sistem tersebut adalah dosa besar. Sementara kajian lain dari Imam Ghazali dalam Al-Iqtishad fi Al-Itiqad halaman 200 menyebutkan bahwa kajian tentang khilafah tidak penting, dan lebih selamat tidak mengkajinya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Ulama, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah