Rabu, 24 Desember 2014

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

Palembang, Ribath Nurul Hidayah. Ida Fauziah, Ketua Umum Fatayat NU mendesak IPPNU-IPPNU untuk menyediakan media ke-NU-an bagi para pelajar. Ketersediaan media NU bagi pelajar menurutnya menjadi satu kebutuhan mendasar bagi pelajar-pelajar NU saat ini.

Ida Fauziyah menyampaikan tuntutannya dalam sebuah seminar yang dihadiri peserta kongres IPPNU-IPNU di Gedung Serbaguna Asrama Haji, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) petang.

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

“Media seperti website yang memenuhi kebutuhan pelajar ini penting untuk digarap IPPNU dan IPNU. Kalau hal ini diabaikan, maka para pelajar akan beralih kepada website Islam radikal yang kini menjamur,” tutur Ida Fauziyah.

Ribath Nurul Hidayah

Para pelajar Indonesia saat ini, menurutnya, akan dengan mudah mengakses media online yang menyediakan kebutuhan mereka. Sayangnya, menurut Ida, media seperti digarap oleh gerakan-gerakan Islam fundamentalis.

Ribath Nurul Hidayah

“Keniscayaan itu sangat tinggi karena pelajar-pelajar itu tidak melihat adanya media Islam alternatif yang sesuai dengan visi pelajar NU,” tegas Ida di hadapan sedikitnya empat ratus peserta kongres yang menghadiri seminar.

Untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, para pelajar hanya menemukan situs Islam garis keras di internet. Menurut Ida, IPPNU dan IPNU harus membidik sarana internet sebagai medan perjuangan visi NU.

Ida mengimbau IPPNU dan IPNU mendayagunakan media online untuk mengawal visi Islam yang rahmatan lil alamin. Kalau bukan IPPNU dan IPNU sebagai basis NU di kalangan pelajar yang memanfaatkan peluang dari teknologi-informasi, tidak mustahil para pelajar Indonesia akan terpengaruh oleh ajaran Islam garis keras yang bertebaran di internet, tegasnya.?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 19 Desember 2014

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

Tegal, Ribath Nurul Hidayah - Keputusan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 terus menuai penolakan di berbagai daerah. Penolakan tersebut kali ini datang dari Kabupaten Tegal dengan menggelar aksi damai pada Jumat, (25/8) di Taman Rakyat Slawi Kabupaten Tegal.

Pada rangkaian kegiatan aksi, turut hadir Bupati Tegal Enthus Susmono yang juga ikut berorasi di depan puluhan ribu massa. Dalam orasinya, ia mengatakan tidak meminta mencopot Pak Menteri.



Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Full Day School, Bupati Tegal Siap Cium Kaki Jokowi

(Baca: Pengamat Pendidikan: Masalah FDS Tak Hanya Menimpa NU)


Ribath Nurul Hidayah

“Saya tidak meminta mencopot Pak Menteri. Itu hak panjenengan. Namun, Sampean bisa memberikan keputusan supaya semua nyaman dan aman,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan siap menerima konsekuensi apa pun sebagai Bupati dalam menolak lima hari sekolah.

Ribath Nurul Hidayah

“Konsekuensi saya sebagai bupati, saya siap menerima apa pun ketika saya menolak lima hari sekolah. Jika dipecat sebagai Bupati, tidak masalah. Nyalon lagi,” ujarnya disertai gelak tawa dan tepuk tangan peserta aksi.

Di tengah-tengah orasi, ia memperagakan berdialog dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan menarik salah satu orang yang diibaratkan sebagai Jokowi. Hal itu, menurutnya, karena sebagai bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk membatalkan Permendikbud adalah jalan tengah.

“Bapak Presiden, saya tidak bisa menghadap langsung dengan Panjenengan. Tetapi kami bangsa Jawa sudah terbiasa kontak dengan batin. Keputusan kami adalah jalan tengah, tawasuth. Supaya tidak terjadi keributan di bawah,” ungkapnya.



(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)


Di akhir orasinya, pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini mengatakan bahwa ia siap “menyembah” Jokowi dengan memperagakan kepada orang yang diibaratkan sebagai Jokowi.

“Tetapi menyembah kaya Seni Ketoptak loh ya. Bukan menyembah kaya ke Allah,” tambahnya.

Bahkan, jika ia juga disuruh mencium kaki Presiden, akan ia lakukan.

“Tetapi kakinya diganti kaki ayam, kemudian diopor. Saya cium, lalu saya makan Pak,” pungkasnya.

Lelucon itu disambut gelak tawa oleh para peserta aksi yang berasal dari berbagai organisasi seperti Forum Komunikasi Diniyah Takbilitah, MWCNU se-Kabupaten Tegal, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. (M. Ilhamul Qolbi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Olahraga, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Desember 2014

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Kisah tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang berkeinginan untuk belajar kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam begitu sering disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai di berbagai forum kajian ilmu. Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan Nabi Musa sampai tiga kali mempertanyakan perbuatan Nabi Khidir yang dinilainya melanggar syariat Allah. Pada akhir perjalanannya, Nabi Khidir menjelaskan perihal perbuatannya tersebut.

Salah satu perbuatan yang dipertanyakan tersebut adalah mana kala Nabi Khidir membangun sebuah rumah yang hampir roboh di sebuah desa. Nabi Musa mengusulkan kepada Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk desa atas kesediaannya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh itu. Padahal sebelumnya ketika kedua nabi itu memasuki desa tersebut dan meminta makanan kepada penduduknya mereka menolak memberi makanan tersebut.

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah hingga Tujuh Turunan

Dalam hal ini Nabi Khidir menjelaskan sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi ayat 82:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

“Adapun tembok rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua anak yatim di desa itu di mana di bawahnya terdapat simpanan harta bagi keduanya. Orang tua kedua anak itu adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu berkehendak keduanya mencapai dewasa dan akan mengeluarkan harta simpananya.”

Ribath Nurul Hidayah

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim menjelaskan bahwa kedua anak yatim itu dijaga sebab kesalehan orang tuanya dan tidak disebutkan kesalehan kedua anak itu. Antara kedua anak yatim dan orang tua yang saleh itu ada selisih tujuh generasi leluhur. Jadi yang dimaksud “orang tua yang saleh” pada ayat tersebut adalah kakek pada generasi urutan ketujuh dari anak yatim tersebut, bukan orang tua yang melahirkan keduanya.

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa seorang yang saleh akan dijaga keturunannya dan keberkahan ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan akhirat. Dengan syafaatnya di akherat kelak keturunannya akan diangkat derajatnya di surga hingga derajat tertinggi sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi orang yang saleh tersebut.

Dalam hal ini Tajudin Naufal dalam Hadiqatul Auliya’-nya mengatakan, bila ketakwaan kakek yang ketujuh saja dapat memberikan kemanfaatan bagi keturunannya yang ke tujuh, lalu bagaimana pendapat kita dengan ketakwaan orang tua kandung? Tak dapat disangkal, pohon yang baik pasti berbuah baik. Orang yang memakannya tak akan berhenti dan tetap kekal kebaikannya dengan ijin Allah Ta’ala.

Dari inilah banyak para ulama yang menganjurkan kepada para orang tua untuk terus giat dan istiqamah dalam beribadah. Karena keberkahan ibadah itu tidak hanya akan dinikmati oleh diri sendiri tapi juga oleh anak-anak keturunannya baik di dunia maupun di akherat kelak. (Yazid Muttaqin)

Referensi:

Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim, Imam Ibnu Katsir

Hadiqatul Auliya’, Syaikh Tajudin Naufal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 Oktober 2014

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

Beijing, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memenuhi undangan dari Komunitas Muslim Tiongkok. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama rombongan disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok Wung Zuoan di kantornya di Beijing, Rabu (20/4)

Wung Zuoan mengaku sangat tertarik dengan Islam di Indonesia khususnya NU. "Kami salut dengan perkembangan Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Islam yang ramah, toleran dan moderat. Tentunya NU sebagai ormas Islam terbesar mempunyai peranan yang sangat penting. Kami sangat tertarik untuk belajar dari Islam di Indonesia dan juga kepada NU," pungkasnya.

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiongkok Mengaku Salut dengan Islam Moderat di Indonesia

"Hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia yang telah lama bersentuhan diawali ketika datangnya Laksamana Cheng Ho ke Nusantara dengan membawa pasukan Muslim, yang kemudian membangun kota Semarang," kata Kang Said, sapaan akrab ketum PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

PBNU mendorong agama Islam dapat berkembang pesat di Tiongkok. Menurutnya, ada persamaan pandangan antara Indonesia dan Tiongkok bahwa Islam agama yang damai, model Islam seperti ini yang harus dijaga dan dilestarikan.

Ribath Nurul Hidayah

Kang Said juga menyinggung soal munculnya ekstremisme. Fenomena tersebut, katanya, menyebar ke mana-mana dan mesti diwaspadai seberapa pun kecilnya. “Dan salah satu cara agar Islam tetap moderat dan tidak ekstrim adalah dengan jalan pendidikan," jelas Kang Said

KH Said Aqil Siroj juga berharap konflik berdarah yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman tidak sampai merembet ke Indonesia dan Tiongkok. Ia berdoa agar kerusuhan itu segera berakhir. “Mungkin kita merasa perlu adanya tukar menukar pandangan seperti ini, untuk menyamakan persepsi, demi terwujudnya Islam yang damai, moderat, toleran, antiradikalisme dan terorisme," tuturnya

Dalam kesempatan ini PBNU mengundang ulama Tiongkok untuk hadir dalam acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diinisiasi PBNU. Forum internasional ini akan diadakan 5-9 Mei 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh sekitar 100 pemimpin negara dan organisasi Islam dari seluruh dunia serta para pengurus NU dari tingkat wilayah. (Junaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 02 September 2014

Masjid Membina ke-Kita-an

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi berpendapat, masjid adalah tempat pembelajaran dan pembinaan umat. Juga tempat melebur ke-ana-an (ke-aku-an) dalam ke-nahnu-an (ke-kita-an).

“Dengan nahnu, kita akan kuat!” katanya saat membuka Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) para Imam, khotib, ta’mir masjid Pengurus Cabang LTMNU Kabupaten Banyuwangi, bertempat di aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy, Ahad, (24/2).  

Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Membina ke-Kita-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Membina ke-Kita-an

Ia kemudian mengutip salah satu bait Al-fiyah ibn Malik, Lirofi wa nasbi wajarina shalah, Ka’rif bina fainnana nilnal minah. Nahnu itu ketika disuruh rafa’, nasab, dan jar, tetap kuat.  

Ribath Nurul Hidayah

“NU rapuh, karana kenahnuannya masih labil dan membentuk kenahnuan sendiri,” tambahnya.  

Kiai kelahiran Purwokerto 1954 juga mengatakan, di masjid pula, umat belajar mengikuti aturan main dalam jamaah (organisasi).

Siapapun imam, makmum harus mengikuti, ruku, sujudnya imam. Bahkan jika imam itu jabatannya lebih rendah dari makmum. “Tidak ada kekuatan, tanpa berjamaah,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai  pusat pemberdayaan umat” tersebut, difasilitasi PP LTMNU dan PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 September 2014

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Masjid bagi umat Islam tidak hanya sebatas tempat beribadah, tetapi juga berfungsi untuk tempat belajar agama, sosialisasi, musyawarah, dan kegiatan sosial lainnya. Pada masa Rasul pun masjid digunakan untuk berbagai kepentingan selama tidak melanggar aturan syariat. Banyak hadits mengisahkan bahwa masjid dijadikan tempat tinggal, belajar, dan diskusi oleh sebagian sahabat.

Kendati masjid multifungsi, namun perlu diingat bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah. Adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang berada di masjid menghormati fungsi utama masjid ini dengan cara menjaga adab dan tidak melakukan hal-hal lain yang dapat menganggu kenyaman orang beribadah.

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Ngobrol dan Bergurau di Dalam Masjid

Pada sebagian masjid misalnya, seringkali setelah shalat berjamaah ataupun sebelum shalat, sebagian orang mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid. Obrolan mereka pun tidak hanya berkaitan dengan urusan agama atau ibadah, tetapi juga membahas persoalan dunia dan terkadang mereka pun bergurau dan tertawa.?

Imam An-Nawawi dalam Al-Majemuk Syarahul Muhadzdzab mengatakan:

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dibolehkan membicarakan sesuatu yang diperbolehkan (mubah) di dalam masjid, baik urusan dunia maupun maupun urusan mubah lainnya, meskipun pembicaraan tersebut mengundang ketawa, selama masih terkait dengan perkara mubah. Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak beranjak dari tempat shalatnya pada waktu shubuh sampai terbit matahari. Beliau baru beranjak dari tempat shalat setelah matahari terbit. Jabir berkata, ‘Ketika itu mereka membicarakan banyak hal termasuk persoalan yang terjadi pada masa Jahiliyyah sehingga membuat mereka tertawa dan tersenyum’.”

Merujuk pada hadits riwayat Jabir ini, Imam An-Nawawi membolehkan mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid, walaupun membahas persoalan dunia atau permasalahan yang tidak berhubungan langsung dengan ibadah. Tidak hanya itu, tertawa dan tersenyum secukupnya pun dibolehkan ketika berada di dalam masjid. Meskipun dibolehkan, tentu selayaknya seorang Muslim tetap menjaga etika dan adab di dalam masjid.

Di antara adab yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membicarakan perkara maksiat dan dosa, ataupun sesuatu yang mengundang kemudharatan, dan tidak tertawa keras-keras ketika bergurau agar tidak menganggu kenyaman orang lain beribadah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Agustus 2014

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Madinah, Ribath Nurul Hidayah. Sejurus kemudian semuanya hening, tanpa suara. Seorang demi seorang, kerumunan mulai mengundurkan diri. Orang-orang mulai kembali ke jalanan beton ketika, mungkin beberapa anggaota keluarga jenazah yang baru saja dikubur, mulai menghitung-hitung dan menandai lokasi makam baru tersebut. Beberapa di antara mereka menunjuk-nunjuk dan menghitung jendela hotel terdekat tertentu yang posisinya lurus dengan makam tersebut. Sebagian yang lainnya menghitung celah dan urutan makam dari jalan beton.   

Setelah puas mengitung, beberapa orang naik ke jalan berbeton dan kembali terjadi kerumunan berjubel di dalam gelap. Ya kondisi gelap, meski sebenarnya mata sudah mulai terbiassa dengan kegelapan. Lampu dua mobil yang berada di jalan rupanya telah dimatikan. Tinggal sebuah lampu yang diletakkan pada tiang di dekat liang pemakaman. Lampu ini tetap menyala, mungkin untuk menolong para pelayat agar tidak terperosok ke lubang-lubang lain di sekitar lubang yang baru saja ditimbuni tadi.

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengikuti Upacara Pemakaman di Baqi, Maqbaroh para Syuhada (3)

Ya, pihak pengelola makam memang telah menyiapkan banyak lubang di beberapa blok, sebelum ada orang meninggal. Sangat mungkin penyiapan banyak lobang ini dikarenakan hampir setiap waktu sholat, terutama di Musim haji, selalu ada jenazah yang di kubur di pemakaman baqi ini. Seperti juga para pekerja cleaning service di Masjid Nabawi yang bukan dari warga negara Arab Saudi, maka demikian pun untuk pekerjaan penggali makam ini, nampak di bawah sorot lampu, kebanyakan mereka berwajah dan kulit muka seperti orang-orang Bangladesh. Merekalah yang sangat mungkin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penggalian makam ini.

Ribath Nurul Hidayah

Tentu ini berbeda dengan budaya orang Jawa yang akan mengatakannya sebagai "Ngalup" (seolah mendoakan kematian pada seseorang), jika kita siapkan lobang pemakamannya sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Sekedar catatan, orang Cina juga memiliki budaya menyiapkan lobang lahat bagi keluarga yang masih hidup. Rupanya, karena menghindari lubang-lubang yang ditutup dengan kayu triplek inilah, para peziarah berjalan zig-zag ketika turun tari jalan beton tadi.

Saya pun akhirnya penasaran, ada apa di tengah kerumunan berjubel dalam gelap tersebut. Setelah berusaha mendekat, maka semuanya menjadi jelas. Ternyata para pelayat sedang antri berpeluk-pelukan bergantian dengan keluarga yang kini berbaris di jalanan beton. Para pelayat yang sudah berpelukan dan saling mengucapkan pesan kesabaran segera meninggalkan lokasi, dan kembali berjalan pulang.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah memperhatikan agak lama, rupanya banyak pula orang yang sekedar bersalaman. Mungkin mereka tidak saling kenal, bahkan mungkin juga orang yang tidak kenal siapa jenazah yang baru saja dikuburkan dan siapa keluarganya, mungkin kira-kira seperti saya. Maka saya pun segera mengambil sikap yang sama. masuk ke dalam antrian dan bersalaman dengan keluarga. Ya sekedar bersalaman, saya juga tidak pernah mengenal siapa yang baru saja turut saya iringkan untuk dikebumikan dan siapa pula keluarganya.

Dalam perjalanan pulang seusai bersalaman, saya mencoba mengamati sekeliling. Bagaimana sebenarnya kondisi Makam yang sangat terkenal ini. Makam yang memeluk nyaman mereka yang telah sejak pertama dimakamkan. Menurut ceritanya, orang yang pertama dimakamkan di sini adalah ‘Utsman bin Mazh‘un, seorang sahabat dari kalangan Muhajirun yang terkenal saleh dan hidup sederhana, yang meninggal dunia pada 5 H/626 M. Sedangkan Ibrahim, putra pasangan suami-istri Rasul Saw. dan Mariyah Al-Qibthiyyah yang berasal dari Mesir, adalah orang kedua yang dimakamkan di sini.

Di makam ini pula terdapat makam para istri Rasul Saw: Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq, Saudah binti Zam‘ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah binti Abu Umayyah, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan Shafiyyah binti Huyai. Sedangkan keluarga beliau yang dikebumikan di sini, selain putra-putri beliau, antara lain Abbas bin Abdul Muththalib, Hasan bin Ali, dan Ali Zainal Abidin.

Sementara di antara para sahabat yang dimakamkan di sini ialah Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas‘ud, Abdurrahman bin Auf, dan Saad bin Abu Waqqash. Di antara Imam empat mazhab, hanya Malik bin Anas yang dimakamkan di sini.

Namun jangan pernah Anda membayangkan dapat melihat nisan-nisan mereka semua, bahkan salah satu di antara nissan mereka. Kini sejauh mata memandang di seluruh tanah makam seluas 174.962 meter persegi dengan dikitari dinding setinggi empat meter sepanjang 1.724 meter ini, hanya ada gundukan dengan sepasang nisan dari batu, tanpa nama.

Sekarang ini siapa pun yang meninggal di Madinah dimakamkan di sini termasuk jamaah umrah dan haji dari berbagai negara. Tetap dengan ketentuan yang sama, hanya ada nisan dari batu, sekali lagi tanpa nama. (min/bersambung/Laporan Langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)  Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Agustus 2014

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan

Tak banyak yang tahu siapa perempuan yang menjadi Ketua Muslimat NU pertama. Dialah, Chadijah Dahlan, perempuan kelahiran? tahun 1912 di Pasuruan itu berkesempatan menjadi pemimpin Muslimat NU perdana. Kepemimpinannya dimulai saat Muslimat NU lahir di Kota Purwokerto, Jawa Tengah tepatnya tahun 1946. Kala itu, Muslimat NU memproklamirkan kelahirannya dan menjadi titik awal kebangkitan perempuan NU dalam berorganisasi.

Nyai Chodijah memimpin ketika Muslimat NU masih bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM). Artinya, saat itu Muslimat tak lain lembaga organik yang menjadi bagian dari NU. Muslimat NU baru menjadi badan otonom setelah mendapat pengakuan dari forum Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952. Sayangnya, pemberian otonomi itu tak sempat disaksikan Nyai Chadijah yang wafat pada 1948 atau dua tahun masa kepemimpinan di Muslimat NU.

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Ketua Pertama Muslimat NU, Nyai Chadijah Dahlan

Nya Chodijah tumbuh di Pasuruan yang dikenal dengan daerah santri. Pemikirannya tergolong merdeka dan sangat maju untuk ukuran zamannya. Terutama menyangkut permasalahan peran serta perempuan dalam organisasi yang kala itu dinilai termarginalkan.

Ribath Nurul Hidayah

Pokok pemikiran tentang ketidakadilan terhadap perempuan tercantum jelas dalam tulisan pendahuluan (mukaddimah) yang ditulisnya sebagai Ketua Muslimat NU pertama yang juga masuk dalam peraturan Chususi NU bagian Muslimat NU. Dengan tegas, Nyai Chadijah menyuarakan peran perempuan yang dianggap subordinat dan inferior. Karena itu dia memotivasi perempuan-perempuan turut serta tumbuh maju bersama kaum laki-laki.

Ribath Nurul Hidayah

“Memang rupanya soal perempuan kurang sekali dipedulikan, bukan saja anggapan umum demikian, tetapi pemimpin-pemimpin juga masih kurang memperhatikan kaum wanita itu. Sikap demikian itu salah belaka dan harus dilenyapkan...”



Dia juga dengan tegas menyatakan:“Anggapan-anggapan orang yang mengatakan bahwa kaum wanita itu harus tinggal di dapur saja ternyata keliru dan berbahaya sekali bagi kemajuan pergaulan hidup manusia.”

Pemikiran-pemikiran itu sebagai bentuk jiwa organisatoris yang dimiliki Nyai Chadijah. Dia belajar semangat berorganisasi dari didikan suaminya Muhamad Dahlan yang saat itu juga sebagai Ketua Thanfidizah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). Suaminya pulalah yang turut serta menyuarakan pentingnya organisasi perempuan NU sebagai wadah tanggung jawab perempuan NU untuk berdakwah turut mengembangkan Islam. Dalam sejarahnya, KH Muhamad Dahlan tercatat sebagai sosok pria utama di balik kelahiran Muslimat NU.

Sejak terbentuknya Muslimat NU, sebagaimana PBNU yang berpusat di Surabaya, Muslimat NU juga dipusatkan di Kota Pahlawan. Baru ketika terjadi revolusi tanggal 10 November, karena pertimbangan banyak hal saat itu, Kantor Pusat PBNU dan juga Muslimat dipindahkan ke Pasuruan yang tak lain adalah? tempat domisili Nyai Chadijah. Pasca revolusi 10/November terjadi Clash I yang membuat KH Muhamad Dahlan dan keluarga pindah ke Madiun. Bersamaan itu pula, Kantor PBNU dan Muslimat NU dipindah ke kota itu. Namun, tak selang beberapa waktu terjadi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso dan memakan korban para ulama dan kaum muslimin. Tepat sebulan pasca terjadi pemberontakan, Nyai Chadijah Dahlan pulang ke hadirat Allah.

Berdasarkan riwayat hidupnya, Nyai Chadijah Dahlan merupakan tokoh Muslimat pertama yang memberikan pidato resmi sejak Muslimat menjadi organisasi dalam forum kongres pertama di Purwokerto. Bahkan, pidatonya dijadikan salah satu masukan dalam penyusunan peraturan Chususi NU bagian Muslimat. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News Ribath Nurul Hidayah

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus PC IPNU Kota Surabaya menyatakan keberatan atas hasil Raperda Pansus Pengendalian dan Pengawasan Penjualan Minuman Beralokohol DPRD Kota Surabaya yang mengizinkan penjualan minuman beralkohol di pasar swalayan yang ada di Surabaya. Mereka meminta DPRD agar meninjau kembali Perda yang memperbolehkan penjualan minuman keras itu di Kota Surabaya.

“Semestinya Pemkot Surabaya dan DPRD melarang peredaran minuman keras itu di minimarket, supermarket dan hypermarket. Karena tempat-tempat itu juga dikunjungi oleh anak-anak. Jangan sampai mereka juga berasumsi bahwa minuman itu boleh untuk dikonsumsi karena dijual secara bebas dan umum,” kata Ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan.

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Pasalnya anggota dewan tidak mungkin memberikan jaminan atas kemungkinan akses minuman keras itu oleh anak-anak di bawah umur. Berapa pun kadar kandungan alkhoholnya, ujar Agus.

Sementara Wakil Ketua IPNU Kota Surabaya M Najih mengatakan bahwa semestinya keadaan Surabaya sekarang yang melarang penjualan minuman keras di minimarket dan sejenisnya dipertahankan.

Ribath Nurul Hidayah

DPRD dan Pemkot Surabaya lebih baik fokus terhadap hal lain yang lebih penting dan memiliki manfaat bagi masyarakat seperti masalah Pengambilalihan kewenangan SMA dan SMK dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat provinsi yang mengakibatkan biaya pendidikan di SMA/SMK di Surabaya mulai tahun depan tak lagi gratis.

Ia juga menjelaskan, semestinya DPRD dan Pemkot melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan kesehatan dan jiwa mereka. Jadi dengan regulasi perizinan penjualan miras ini berarti mereka membiarkan dan tidak melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan mereka khususnya para pelajar.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah merelaksasi Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A yang memberi keleluasaan bagi kepala daerah untuk menentukan lokasi penjualanan miras termasuk di minimarket. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Agustus 2014

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan sejumlah ustadz di kabupaten Waykanan bersiap memasuki sekolah guna mengaji bersama pelajar setempat. Mereka telah melakukan pertemuan dengan sejumlah sekolah di Waykanan.

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

"Kami menjajaki kemungkinan tersebut, berbincang dengan sejumlah guru, kepala sekolah juga ustadz dan mendapat respon positif bahwa mengaji di sekolah ialah suatu yang mungkin," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad (13/9).

Mengaji, demikian penggiat Gusdurian Lampung itu menambahkan, bukan persoalan tempatnya, apalagi konsumsinya, namun bagaimana ketersampaiannya.

Ribath Nurul Hidayah

"Pengajian di sekolah-sekolah akan kami sambangi melibatkan pelajar untuk ikut tampil, membaca kitab suci Al-Quran, puisi hingga menyanyi sesuai tema diangkat. Hal itu bertujuan agar pelajar mendapat ruang berkreativitas," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Ribath Nurul Hidayah

Pengajian akan digelar di sejumlah sekolah tersebut maksimal berdurasi 90 menit dan di luar atau selepas jam pelajaran. Tema diangkat sesuai dengan keyakinan NU, seperti NKRI harga mati, Pancasila Jaya hingga kewirausahaan. Nama program ini, kata Gatot yang merupakan alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) III Yayasan Satunama Yogyakarta itu menambahkan, ialah Maslahat (Mengaji Bersama Pelajar Indonesia Hebat).

"Kami akan menyambangi SMA sederajat terlebih dahulu, sudah ada dua sekolah yang siap untuk bekerja sama pada September ini. Tema-tema kebangsaan, kemanusiaan dan kewirausahaan akan kami usung sembari mengampanyekan peningkatan pendidikan, menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN Yayasan Mata Air," papar Gatot lagi.

Perihal pemilihan nama Maslahat untuk program itu, Gatot menyatakan NU memang harus bergerak memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan.

"Kita harus memotivasi diri, jika kita, bangsa Indonesia, memiliki pelajar-pelajar hebat, mempunyai generasi bangsa yang tangguh. Inilah tugas kemanusiaan, tugas kebangsaan NU," ujar alumni Pendidikan Kader Penggerak NU itu pula.

Adapun modal untuk merealisasikan program itu, Gatot mengatakan ada puluhan miliar. "Saya mengamini pemikiran Bob Sadino. Satu dengkul tidak mungkin dilepas dengan harga Rp500 juta, karena itu, dengan dua dengkul setiap aktivis atau warga NU telah memiliki modal Rp1 miliar. Warga NU harus menggerakkan dengkulnya mewujudkan harapan kemanusiaan dan kebangsaan para pendiri NU dan Indonesia, cita-cita itu hanya akan tercapai dengan bergerak, bukan berwacana," demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Kyai, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 15 Agustus 2014

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

Subang, Ribath Nurul Hidayah?

Diantara ulama nusantara yang lahir di tanah pasundan adalah KH Ahmad Zakariya atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Rende Bandung dan KH Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur Purwakarta. Kedua ulama karismatik ini punya kisah menggelitik sebagaimana diungkapkan KH Nawawi, Pabuaran, Subang.

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

"Waktu mesantren di Mekkah, Mama Rende seniornya Mama Sempur," ungkap Kiai Nawawi beberapa waktu yang lalu.

Suatu hari, kata Kiai Nawawi, Mama Sempur hendak mempelajari sebuah kitab, namun sayangnya ia tidak mempunyai kitab tersebut. Hingga akhirnya Mama Sempur sowan kepada Mama Rende. "Di sana Mama Sempur menemukan kitab yang dicari, akhirnya Kitab tersebut dipinjam oleh Mama Sempur," tambah mantan Rais PCNU Subang itu.?

Suatu hari, kata dia, Mama Rende hendak membaca kitab ini, ia baru ingat bahwa kitabnya masih dipinjam oleh Mama Sempur, hingga akhirnya Mama Rende mengajak santrinya bernama Mansur untuk silaturahim ke Sempur, Purwakarta.

"Sampai Sempur sudah malam, Mama Rende tidur di bawah bedug. Santri Mama Sempur kaget karena saat hendak menabuh bedug subuh, ada seseorang yang tidak dikenal, barulah diketahui bahwa orang tersebut adalah Mama Rende, sahabatnya Mama Sempur," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ditambahhkannya, usai shalat subuh keduanya mengobrol, Mama Rende mengeluarkan bako mole, melinting lalu merokok. Sesaat kemudian sambil guyon Mama Sempur menyindir Mama Rende karena merokok.

"Masih merokok, ajengan?" kata Kiai Nawawi meniru pertanyaan Mama Sempur.

Ribath Nurul Hidayah

Pertanyaan tersebut dianggap cukup menohok, karena diketahui Mama Sempur bukanlah perokok aktif, tanpa pikir panjang, Mama Rende pun akhirnya menjawab. "Lebih baik merokok daripada pinjam kitab tapi tidak dipulangkan," jawab Mama Rende.

Usai saling melontarkan sindiran, kedua ulama tersebut kemudian melanjutkan obrolan namun tetap dalam susana keakraban. "Saya tahu cerita ini dari ajengan Mansur, dulu dia sering ke sini, dia santri yang ikut mengantar Mama Rende ke Pesantren Sempur,” kata Kiai Nawawi menutup kisahnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 14 Agustus 2014

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Madrasah yang diidentik dengan aktivitas keagamaan, bisa ditepis dengan menonjolkan kegiatan olahraga dan seni. Sehingga prestasi di kedua bidang tersebut, akan mengangkat citra madrasah di mata masyarakat dan sekolah pada umumnya.?

“Capailah prestasi yang terbaik tidak hanya dibidang agama, tetapi juga bidang olah raga dan seni,” tutur Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes H Moh Aqso saat membuka ajang kompetesi seni dan olahraga (Aksioma) tingkat MTs se Kabupaten Brebes di MTs Negeri Model Brebes, Sabtu (27/3) lalu.

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prestasi Olahraga dan Seni Angkat Citra Madrasah

Menurut Aqso, mutu dan daya saing pendidikan madrasah perlu dioptimalkan dengan ditopang dari prestasi peserta didik maupun madrasah yang bersangkutan. Siswa harus diberi ruang gerak kreativitas dan aktivitas positif sehingga bisa berprestasi sesuai dengan bakat dan minatnya. “Santri juga bisa berolahraga dan berkesenian dengan matang,” tuturnya.

Madrasah, lanjutnya, harus menjadi pusat pengembangan rohani, jasmani, skill dan intelektualitas. Tentu saja, kualitas siswa MTs akan lebih meningkat bila pengembangan empat pilar tersebut bisa diujudkan di masing-masing madrasah. “Mari bergerak, jangan bertopang dagu untuk mewujudkannya,” ajak Aqso.?

Korwil Bangbayang Jawara Aksioma

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Panitia Penyelenggara Maspau MPd menjelaskan, Kordinator wilayah (korwil) Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MTs Bangbayang berhasil menjadi juara umum dalam Aksioma 2017. Bangbayang berhasil mendulang 6 emas, 4 perak dan 4 perunggu dari 51 medali yang diperebutkan.?

Maspau merinci, KKM Bangbayang mendapatkan 6 emas dari cabang pidato bahasa Arab putra (pa), Kaligarafi (pa), MTQ (pa), Tenis meja (pa), dan Bola volley (pa,pi). Untuk 4 perak dari cabang Kaligrafi putri (pi), MTQ (pi), Hadroh (pi), dan bulutangkis (pi). Kemudian untuk 4 perunggu didapat dari cabang Pidato bahasa Arab (pi), Tahfidz (pa, pi), dan hadroh (pa)

Ribath Nurul Hidayah

Sementara untuk juara 2 Korwil Ketanggungan dengan 4 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Sedang juara 3 korwil Brebes dengan 3 emas, 4 perak dan 2 perunggu.

Aksioma yang mengusung tema sehat, unggul dan berdaya saing global tersebut mempertandingkan cabang olahraga Bulu Tangkis, Bola Volley, Tenis Meja dan Futsal. Cabang seni meliputi MTQ, Pidato Bahasa Arab, Kaligrafi, Tahfidz dan Hadroh. Mereka berlaga secara tersebar di MTs N Brebes, Gedung Batminton 33 dan Futsal Adaba Pasarbatang.

Para juara pertama, lanjutnya, akan dikirim pada lomba yang sama di tingkat provinsi Jawa Tengah pada bulan Juli, dan tingkat Nasional pada Agustus di Jogjakarta. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Agustus 2014

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Yogyakarta menyelenggarakan shalawatan, zikir dan doa bersama ? di Masjid Sultoni, Komplek Kepatihan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jumat, 28 April 2017 pukul 20.00-22.00 WIB.

Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta yang juga sekaligus sebagai Ketua Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus, yakni H. Nunuk Ridjodjo Adi mengatakan bahwasannya kegiatan ini merupakan agenda perdana yang diselenggarakan Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus. Mulai saat ini dan ke depannya kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 28 pada tiap bulannya.

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus Gelar Agenda Perdana

"Agenda ini merupakan kegiatan perdana Majelis Shalawatan Muhyin Nufuus. Bulan depan dan seterusnya kita akan selenggarakan pada tanggal 28. Informasi ini sekaligus jadi undangan agar seluruh hadirin dapat hadir kembali pada bulan berikutnya. Jangan lupa ajak semua warga yang belum berkesempatan hadir pada saat ini," beber Nunuk Ridjodjo Adi usai acara majelis shalawatan berakhir sembari para hadirin mencicipi kudapan ringan dan makanan yang disediakan panitia.?

Salah satu pengurus Lazisnu Kota Yogyakarta M. Jamil yang juga ikut hadir dalam acara itu merasa senang dan bangga menjadi bagian dari majelis itu.

"Saya senang mengikuti acara ini, suasana hati menjadi tentram. Akan sangat bagus lagi apabila seluruh masjid di kota Yogyakarta diselenggarakan dan dihidupkan dengan acara seperti ini. Acara semacam ini merupakan agenda wajib warga NU yang bersendikan paham Ahlusunnah wal Jamaah. Dengan adanya kegiatan seperti ini mampu menghalau paham-pahan masyarakat yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45," cetus M. Jamil.?

Ribath Nurul Hidayah

Kurang lebih 100 orang masyarakat yang hadir memadati Masjid Sultoni. Hadir juga dalam kegiatan tersebut diantaranya, ketua Wirausaha Muda Kota Yogyakarta Rochmad, pengurus LP Maarif Kabupaten Gunung Kidul Arif Kusnadi, Banser Kota Yogyakarta Dawam. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, PonPes, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 12 Juli 2014

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Santri yang tergabung dalam Pengurus Pusat Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Timur-Tengah mendesak PBNU untuk membentuk Komite Jazirah. Hal ini disebabkan melihat kondisi beberapa negara di Timur Tengah yang bertahun-tahun terus dilanda konflik berkepanjangan.?

Demikian disampaikan Juru Bicara Kader LPTNU Muhammad Taufiq, Lc dalam jumpa pers, Selasa (4/8) siang, di Media Center Muktamar ke-33 NU. Taufiq menjelaskan Komite Jazirah sebagai langak PBNU untuk ikut serta dalam usaha mencari dan merealisasikan jalan rekonsiliasi Timur Tengah. Atas nama LPTNU, pelajar yang studi di Yaman itu menyampaikan lima poin resolusi pihaknya sampaikan untuk PBNU.

?

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Indonesia di Timur Tengah Desak PBNU Bentuk Komite Jazirah

Pertama, jalan rekonsiliasi yang dibangun di atas nilai-nilai sosial ke-NU-an dan berbekal pengalaman keterlibatan PBNU dalam proses rekonsiliasi konflik di Afganistan.?

Kedua, koordinator Komite Jazirah melibatkan kader-kader NU yang berpengalaman tentang latar belakang sosial, politik, agama dan budaya di Timur Tengah.?

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, Komiter Jazirah segera melakukan komunikasi dengan Rabhitah al-Alam al-Islamy dan Liga Arab atau organisasi lainnya di Timur Tengah.

Keempat, Komite Jazirah mengemban tugas tersampainya lima aspirasi tentang masalah toleransi, keadailan dan perdamaian antarkelompok, kebebasan melakukan ritual keagamaan, menjamin terpeliharanya situs-situs bersejarah di Timur Tengah, dan PBNU berusaha supaya Komite ini diterim oleh para pemimpin di Timur Tengah.

Kelima, PBNU diminta mendirikan Bait al-Tarjamah yang bertugas menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya masyayikh dan intelektual NU.?

"Saya mendesak PBNU semaksimal mungkin agar resolusi ini segera dilakukan sebagai salah satu upaya konflik di Timur Tengah," desak Juru Bicara LPTNU itu dihadapan puluhan wartawan.

Ribath Nurul Hidayah

Taufiq menambahkan ada lebih dari 1000 pelajar asal Indonesia studi di Yaman yang hingga ini masih diselimuti konflik. "Karena ada konflik, kemudian dipersulit dalam pembuatan visa sehingga belum bisa kembali ke sana (Yaman)," terang santri asal Madura itu.

?

Pihaknya masih mencari solusi bagaimana supaya pelajar yang tidak bisa kembali ke Timur Tengah itu bisa melanjutkan studi di dalam negeri. Sekarang sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sudah siap menerima mereka, di antaranya Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). (M. Zidni Nafi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Hadits, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 10 Juli 2014

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli

Sinar mentari pagi 1963, belum jatuh di bumi Jakarta. KH Muhamad Na‘im sudah memegang sapu lidi. Membersihkan halaman rumah, sudah menjadi kebiasaannya. Selain kebersihan rumah, pagi hari menjadi saat yang baik untuk menghirup udara segar.

Guguran daun yang tanggal dari dahan sebentar kemudian tersudut di pekarangan rumahnya di bilangan Cipete. Beberapa daun terlihat masih segar. Ada juga yang telah menguning tua. Sementara sebagian lembaran dari daun yang tampak menggunung, setengah lembab berselimut embun dan membusuk.

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Muhamad Naim Patuhi Akad Jual-Beli

“Far, kemari dah lu. Gua mau ngomong,” kata Guru Mad Na‘im, sebutan lumrah Guru Muhamad Na‘im Cipete dari balik pagar kepada Jakfar, seorang santrinya.

“Aya guru. Ada apa yah?” jawab Jakfar mencoba menghentikan sepedanya di depan pekarangan rumah Guru Mad Na‘im.

Ribath Nurul Hidayah

“Lah, lu lagi mau kemana nih?” tanya Guru Mad Na‘im meninggalkan tumpukkan sampah daun di sudut pekarangan yang baru saja dikumpulkan.

Ribath Nurul Hidayah

“Aya mau ke Pasar Baru guru,” sahut Jakfar.

“Kebeneran dah, carikan gua kerai bangbu. Lu lihat latar gua belah sonoh? Temboknya cuma sedengkul. Kalau siang tengah hari bengkak, panasnya bukan main. Kerainya kan baru satu. Walhal kerainya kurang bangsa dua gulung lagi. Nah, tuh kerai gua mau gantung di atasnya. Tempo-tempo panas, kan tuh kerai bisa diturunin,” ujar Guru Mad Na‘im.

“Wah, Pasar Baru kagak nyediakan barang macem begituan guru. Yang begituan, kudu pesan ama orang Pondok Pinang. Ntar dah aya pesan ke orang Pondok Pinang. Kebetulan aya kenal orang Pondok Pinang ngantor di Gajah Mada,” kata Jakfar yang langsung teringat kepada Hasbullah, orang Pondok Pinang yang menjadi pegawai Kejaksaan. Kantor Kejaksaan RI zaman orde lama, bertempat di jalan Gajah Mada.

“Pokoknya lu atur aja dah. Sampe sini, gua bayar tuh barang,” kata Guru Mad Na‘im. Ia teringat bahwa kepandaian orang-orang kampung Pondok Pinang adalah kerajinan aneka perabotan yang terbuat dari kayu dan sejenisnya. 

“Nah iya dah kalau begitu. Sekalian liwat, aya mampir di sonoh,” kata Jakfar seraya menyambar tangan Guru Mad Na‘im untuk pamitan.

Sepeda Jakfar menempuh jalanan belasan kilometer dari Cipete sampai Gajah Mada. Sejumlah kampung dilaluinya. Hampir di setiap kampung, ia mampir di warung sekadar menyulut rokok sebatang-dua sambil menyantap teh pagi. Ini juga yang membuat perjalanannya agak lama tiba di tujuan.

Menyusuri Sarinah, pusat perbelanjaan cukup bergengsi sebelum ada pasar Blok M dan Arion Plaza, Rawamangun, matahari mulai membakar punggungnya. Sampai di bawah Tugu Selamat Datang Hotel Indonesia yang tinggi menjulang, Jakfar tidak berhenti mengayuh dua roda sepedanya.

Di depan RRI, ia melewati seorang serdadu yang mematung di muka pos. Pikirnya, “Saking seriusnya dalam mematung, serdadu ini mungkin tidak sempat menghalau nyamuk Medan Merdeka Barat yang menyedot darahnya.”

Sampai di halaman kantor Kejaksaan, ia menyandarkan sepeda lalu masuk menemui Hasbullah. Kepadanya, Jakfar menyampaikan pesan Guru Mad Na‘im. Lepas berbasa-basi sedikit, ia mengarahkan sepedanya ke arah Timur, menuju Pasar Baru.

Merasa dapat amanah dari Guru Na‘im, seorang Kiai yang disegani di tanah Jakarta, Hasbullah memilih untuk membolos kerja keesokan harinya. Ia memanfaatkan hari bolosnya untuk mendatangi kampung Cipete, bagian timur kampungnya, Pondok Pinang.Usai Subuh, ia mendatangi tetangganya, pengrajin kerai bambu. Dua gulung kerai, dinaikkan di atas sepeda untuk dibawa pulang. “Bangsa siangan dikit dah, gua berangkat nanti,” katanya dalam hati.

Lepas Zuhur, ia menuntun sepedanya. Antara kampung Cipete dan Pondok Pinang, sebuah sawah membentang luas dan sebuah kampung; Gandaria. Sebagian berisi rawa-rawa berlumpur.

Dengan berlumur titik-titik lumpur sawah, ia tiba di pekarangan rumah KH. Muhammad Na‘im. Agak sedikit terkejut, Hasbullah melihat beberapa mobil dan belasan sepeda terparkir di pekarangan. Mobil pribadi masih merupakan pemandangan langka di tahun itu.

Sementara di pelataran rumah, para kiai dan aktivis partai NU dari pelbagai penjuru di Jakarta berkumpul. Kediaman KH. Muhammad Na‘im, menjadi salah satu tempat pertemuan saat kegiatan politik meningkat.

Dengan senyum, Guru Mad Na‘im menyambut pesanan kerainya. “Berapa duit nih dua?” kata KH. Muhammad Na‘im kepada Hasbullah.

“Kagak usah guru. Aya dah yang tutupin,” Jawab Hasbullah.

KH. Muhammad Na‘im mengerti bahwa Hasbullah takkan menerima uang pembelian kerai itu. Ia akhirnya putar akal. “Ya dah, lu taro sono aja. Jangan kemana-mana dulu. Gua ada bekal buat lubawa pulang ke rumah,” kata KH. Muhammad Na‘im dengan sedikit berlari ke dalam rumah.

Hasbullah akhirnya pulang dengan senang karena dapat memberikan sesuatu kepada seorang guru yang sangat disegani baik karena ilmu agama maupun ilmu silatnya. Ia membawa sebuah bungkusan berisi aneka kue basah yang kemudian diserahkan kepada istrinya.

Alangkah terkejutnya Hasbullah saat istrinya teriak menemukan duit di dalam bungkusan kue. “Yah, gua dah kata kagak usah dibayar tuh kerai, eh Guru Mad Na‘im selipin tuh duit di sini,” kata pegawai kejaksaan yang membolos hanya untuk mengantarkan pesanan guru terkulai lemas di balai panjangnya.Riwayat Singkat

KH Muhammad Na’im merupakan kiai dan aktivis NU yang lahir pada 1912. Ia adalah putra H. Na‘im, seorang juara (jawara Betawi) yang sangat disegani di Jakarta Selatan. Ia pun sempat mempelajari beberapa jurus silat. Tetapi perhatiannya lebih berat kepada pelajaran agama.

Pada tahung 1932, ia bermukim di Mekah. Dengan tekun ia menyerap ilmu agama dari guru-guru di sana. Pelajaran di Mekah adalah pendidikan lanjutannya setelah mengaji kitab kepada Guru Mughni, Kuningan dan Guru Makmun, menantu Guru Mughni.

Pulang mukim, ia cukup akrab dengan kiai NU lainnya; KH Abdul Wahid Hasyim, KH Idham Cholid, KH Syaifuddin Zuhri, KH Tohir Rohili, KH Mursyidi, KH Ahmad Syaikhu dan lain-lain. Posisinya sebagai salah satu pengurus Syuriah NU DKI Jakarta membuat ia sering menghadiri muktamar-muktamar NU di berbagai daerah.

Pada tahun 1949, bersama KH. Abdur Razaq Makmun (putra Guru Makmun), KH. Jumhur, ia menghadiri Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta. Pada kesempatan itu bersama Kiai Abdul Wahid Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Ahmad Dahlan ia menjadi saksi atas deklarasi Pemerintah Republik Indonesia Serikat.

Kiai Haji Muhammad Na’im meninggal dunia pada 13 Mei 1973 setelah dirawat empat hari di RSCM Jakarta karena mengidap penyakit Jantung. Seminggu sebelum wafat ia masih sempat meresmikan pembangunan mushola Baitun Na’im di daerah Pedurenan Jakarta Selatan. Kiai Muhammad Na’im dimakamkan di komplek Masjid Annur, jalan KH. Muhammad Na’im, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Alhafidz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Khutbah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 03 Juli 2014

Gara-gara Waswas

Ketika waktu dzuhur tiba, Kiai Utsman bergegas menuju masjid. Sebelum melaksanakan shalat dzuhur, ia melakukan shalat sunnah terlebih dahulu.

Ketika muadzdzin mengumandangkan iqamah, Kiai Utsman pun langsung menuju “pengimaman” untuk memimpin shalat dzuhur.

Gara-gara Waswas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Waswas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Waswas

Ushalli ...” terdengar suara berbisik Kiai Utsman ketika akan melaksanakan shalat. Lalu beliau pun bertakbir “Allahu Akbar”.

Karena dalam shalat dhuhur, fatihah dan surat yang dibaca oleh imam dilakukan secara berbisik, maka suasana masjid pun terasa hening dan khusyuk.

Ribath Nurul Hidayah

Keheningan masjid terusik oleh suara seorang makmum, yang kebetulan memiliki penyakit wawas. Dengan suara agak keras, dengan maksud untuk mematahkan waswasnya si makmum melafadzkan “ushalli fardhodh-dhuhri ...... mak-mu-man ...... (karena was-was, diulang lagi) .... mak-mu-man (beberapa kali)”

Ribath Nurul Hidayah

Kontan saja, suara makmum yang was was itu mengganggu kekhusyukan yang lain, lebih-lebih bagi Kiai Utsman, yang kebetulan tepat di depan makmum yang was was itu. Karena terus disebut “mak-mu-man” ia pun terpaksa membatalkan shalatnya, menoleh ke belakang, dan membentak sang makmum “Ada apa dengan emakku, he?”

Riuh rendahlah suasana masjid, dengan perasaan yang bercampur baur yang dialami oleh para makmum yang juga terpaksa membatalkan shalatnya. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Santri, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 29 Juni 2014

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana

Kubu Raya, Ribath Nurul Hidayah. Sebanyak 50 pemuda mengikuti Pelatihan Kader Dasar sebagai kaderisasi jenjang dasar di tubuh GP Ansor. Selama tiga hari, Jumat-Ahad (28-31/8), mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan kaderisasi di madrasah Miftahul Huda desa Sungai Malaye yang diadakan untuk pertama kali oleh GP Ansor Kubu Raya, Kalbar.

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kubu Raya Gelar PKD Perdana

Tampak hadir dalam pembukaan PKD ini ialah Pengurus NU Kubu Raya, Romawi Martien dari PP GP Ansor, Ketua GP Ansor Kalbar Nurdin, Ketua GP Ansor Mempawah Rajuini, Sekda Kubu Raya, Kepala Dinas Kemenag Kubu Raya, PMII Kubu Raya, serta para ulama Kubu Raya.

Selain dari Kubu Raya, peserta PKD juga berasal dari kabupaten Landak, Mempawah, Kota Pontianak, kata Ketua GP Ansor Kubu Raya Junaidi.

Ribath Nurul Hidayah

Junaidi mengharapkan peserta PKD kali ini meneguhkan diri sebagai pelanjut perjuangan ulama terdahulu.

Sementara Nurdin mengingatkan warga NU di Kalbar agar tidak terlena dengan kebesaran warga NU di Indonesia. “Meskipun NU sangat besar dibandingkan organisasi lainnya, hanyak kaderisasi yang bisa dijadikan ukuran kebesaran NU. Karenanya, kaderisasi sangat penting untuk digerakan setiap pengurus daerah.” (Firman/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Santri Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 10 Juni 2014

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara

Bogor, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 250 kader KMNU dari 12 perguruan tinggi negeri di Indonesia dan Malaysia siap meramaikan acara Nahdlatul Ulama-Science and Cultural Art Olympiade (NU-santara) pada 16-18 Oktober 2015 di Bogor, Jawa Barat. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dijadwalkan hadir dalam kegiatan berskala nasional ini.

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader KMNU dari 12 Kampus Siap Ramaikan Ajang NU-santara

Keduabelas perguruan tinggi yang dimaksud antara lain Universitas Lampung? (Unila), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia? (UI), Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN), Universitas Padjadjaran? (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi? Bandung (ITB), Univesitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri? Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas? Diponegoro (Undip),? dan International Islamic University Malaysia (IIUM).

Rangkaian acara terdiri? dari lomba hadrah dan esai. Selain? itu digelar pula? Pelatihan Nasional yang meliputi pendidikan ke-NU-an dan Ke-KMNU-an, administrasi keuangan, teknologi informasi, jurnalistik, dan? NU-Training. Forum Pembina KMNU Nasional serta Seminar Kebangsaan dan? Kontemplasi Budaya juga turut digelar dalam memeriahkan acara? Nusantara 2015.

Ribath Nurul Hidayah

Kiki dari bagian kesekretariatan mengatakan, antusiasme para kader KMNU sangat tinggi. Hal ini menunjukkan kader KMNU cukup militan? untuk belajar dan berlomba pada perhelatan NU-santara kali ini. “Kami selaku? panitia akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik guna menyambut? kader-kader tebaik KMNU,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Puguh, koordinator acara, menambahkan, seminar? kebangsaan dan kontemplasi budaya akan dihadiri oleh? Menteri Pemuda? dan Olahraga Imam Nahrowi, KH D Zawawi Imran, dan mantan ketua Lesbumi Sastro al-Ngatawi.

“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mewadahi dan? memfasilitasi pemikiran-pemikiran ilmiah para mahasiswa Nahdlatul? Ulama, potensi non-akademik bidang keagamaan dan pelestarian tradisi, serta sebagai bentuk apresiasi? terhadap prestasi para mahasiswa? Nahdlatul Ulama,” ujarnya. (Irfan Sofyan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 30 Mei 2014

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja

Bangkalan, Ribath Nurul Hidayah. Makin maraknya aliran dan pemahaman masyarakat yang tidak sepaham dengan ? Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama (Aswaja NU) dikhawatirkan akan memunculkan lahirnya gerakan radikal. Karenanya, generasi muda harus mendapatkan pembekalan pemahaman Islam yang benar.

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja

"Kalau disadari lebih mendalam, pemahaman dan tafsir yang salah terhadap ajaran agama juga akan dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (6/12). Karena itu sejak awal, para generasi muda khususnya kader NU harus dibekali dengan pemahaman yang benar terkait hal tersebut, lanjut Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian mengemukakan bahwa kemunculan gerakan radikal yang mengatasnamakan agama adalah bukti jelas bahwa ? terdapat pemahaman yang salah dan hal tersebut disebabkan antara lain lewat cara belajar agama Islam secara instan.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena itulah khusus di Bangkalan Madura, kami menggiatkan kembali daurah Aswaja secara berkala," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Kegiatan tersebut hasil kerjasama antara PCNU dan PC Aswaja NU Center Bangkalan dengan ? PW Aaswaja NU Center Jatim.

Peserta kegiatan yang berlangsung dua hari sejak Sabtu hingga Ahad (5-6/12) tersebut adalah pengurus MWC NU se-Bangkalan, termasuk pengurus lembaga dtambah dengan utusan dari sejumlah pesantren.

Ribath Nurul Hidayah

"Tabarukan, kegiatan daurah dilaksanakan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil yang diasuh KH Fachri Sychol," terang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Daurah menghadirkan empat narasumber yakni Ustadz Makruf Khozin, Ustadz Faris Choirul Anam, Ustadz Fathul Qadir, serta KH Abdurrahman Navis.

"Seperti layaknya modul yang sudah menjadi panduan dasar dalam kegiatan daurah, selama kegiatan para peserta menerima materi terkait dengan firqah dalam Islam. Demikian pula pengertian dan definisi Aswaja NU," kata Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini.?

Materi berikutnya adalah kekhasan dari Aswaja NU, fikrah nahdliyah, amalaiyah nahdliyah dan jawaban atas keraguan banyak kalangan terhadap amaliyah warga. "Seperti bagaimana keabsahan dalil dari tahlil, istigatsah, tawassul dan sebagainya yang tradisi tersebut telah menjadi amaliyah warga NU," pungkas Kiai Navis. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Mei 2014

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat menggelar kegiatan bertemakan “Tarawih Bersama MWC, Ranting dan Warga NU”.

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Ahad (12/6) malam, Tarawih bersama ini dilaksanakan di Masjid Darul Falah Desa Rejing Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini disambut dengan sangat antusias oleh warga NU. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jamaah yang hadir di masjid yang kebetulan ditempati acara tersebut tidak seperti biasanya.?

Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah mengatakan kegiatan ini diadakan dengan tujuan supaya ada silaturrahim antara pengurus MWCNU Tiris Barat dengan Pengurus Ranting NU dan warga NU, khususnya takmir masjid di setiap ranting yang ditempati.?

“Selain itu, supaya warga NU lebih faham tentang ibadah puasa yang mereka jalani, karena pada kegiatan ini juga diisi dengan ceramah dan dialog interaktif seputar Ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Tarawih,” katanya.?

Kegiatan ini dimulai dari sholat Isyak berjamaah dan dilanjutkan dengan sholat Tarawih yang dipimpin oleh tim Imam dari pengurus MWCNU Tiris Barat yang telah mendapat pelatihan Imam Tarawih.

Ribath Nurul Hidayah

“Secara tidak langsung kegiatan ini juga memberi pelatihan dan penyeragaman pada warga NU, khususnya para imam Tarawih di setiap Ranting agar tidak terjadi sholat Tarawih yang prosesnya tidak sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Dengan kegiatan ini Imron mengharapkan secara umum agar warga NU merasa dekat dan merasa diurusi oleh pengurus NU ditingkat MWCNU, sehingga akan muncul rasa emosional dan simpati yang tinggi terhadap organisasi NU secara keseluruhan. “Agar warga NU bangga terhadap organisasinya sendiri karena merasa didekati oleh NU secara organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 15 Mei 2014

Dan… Peziarah Gus Dur pun Membludak

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Selasa siang (4/8) usai adzan dzuhur dikumandangkan, makam Gus Dur di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur tiba-tiba penuh sesak manusia yang berdiri merapati pagar makam keluarga tersebut. Mereka berdiri lantaran tribun tempat duduk sudah penuh peziarah dari rombongan lain.

Dan… Peziarah Gus Dur pun Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)
Dan… Peziarah Gus Dur pun Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)

Dan… Peziarah Gus Dur pun Membludak

Usut punya usut, keluarga besar Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid dan komunitas Gusdurian sedang berziarah di makam Presiden ke-4 itu. Ziarah digelar bersamaan dengan peringatan hari lahir Gus Dur yang jatuh pada 4 Agustus 1940.

Kedatangan mereka sekaligus merayakan Muktamar ke-33 NU yang dihelat di empat pesantren di Kabupaten Jombang. Mereka memanjatkan doa bersama di pusara Gus Dur dipimpin Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badruddin asal Lombok, NTB.

Ribath Nurul Hidayah

Dari keluarga Gus Dur, hadir Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid ditemani keempat putrinya, Alissa Qotrunnada Munawwaroh (Alissa Wahid), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid), Anita Hayatunnufus (Anita Wahid) dan Inayah Wulandari (Inayah Wahid), menantunya dan para cucunya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami berziarah ke makam-makam para sesepuh setelah menggelar kegiatan diskusi di Unhasy. Gus Dur suka ziarah. Sebagai pengikutnya, kami jaga tradisi itu,” ujar Alissa Wahid di sela-sela ziarah.

Arnold (17), muallaf keturunan Tionghoa asal Jakarta yang sangat mengidolakan Gus Dur juga tampak khusyuk berdoa di pusara tokoh humanis ini. Ia didampingi kedua orang tuanya. Ibu Arnold menceritakan, Arnold, anak bungsunya akrab sekali dengan Gus Dur.

“Arnold tadi waktu di makam bilang kalau Gus Dur ada di antara peziarah. Beliau senang sekali katanya. Makanya, Arnold nggak mau beranjak. Dia malah nangis terus,” tutur Ibu Arnold.

Hingga berakhirnya ziarah, jamaah Gusdurian tetap bertahan di area makam sembari ber-selfie. Tentu yang menjadi objek foto adalah makam Gus Dur dan Hj Sinta Nuriyah. Para putri Gus Dur, khususnya Yenny Wahid, tak luput dari jepretan kamera wartawan dan ratusan peziarah. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 28 April 2014

Arif Rahman Nakhoda Baru GP Ansor Ketanggungan

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Arif Rahman, dipercaya sebagai nakhoda baru Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor Ketanggungan periode 2016-2019 setelah dalam sidang pemilihan pengurus mendapatkan suara terbanyak pada Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Ansor yang ? digelar di Aula MTsN Ketanggungan, Ahad (25/12) lalu.?

Arif mendapatkan 8 suara dari 13 suara yang diperebutkan pada sidang Konferancab yang dipimpin Bayu Rohmawan. Kandidat lain, masing masing mendapat 1 suara yakni Abdul azid, M Rizki Ubaidillah, Nahdudin, Mahali dan Mohammad Mamun.

Ketua demisioner PAC Ansor Ketanggungan Ujang Shofiil Anam Al Hafidz berharap, yang memimpin adalah kader Ansor murni, kader yang lahir dari bawah. Serta pernah melampaui berbagai perjalanan kehidupan Ansor, ditempa dengan berbagai kegiatan.bukan, bukan kader tumpangan.?

Arif Rahman Nakhoda Baru GP Ansor Ketanggungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Arif Rahman Nakhoda Baru GP Ansor Ketanggungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Arif Rahman Nakhoda Baru GP Ansor Ketanggungan

“Saya pengin Ansor dan Banser Ketanggungan kedepan lebih maju, serta lebih baik dari masa khidmat kami,” ujarnya.

Dalam Konferancab yang dibarengkan dengan Diklat Banser tersebut, selain pemilihan pengurus juga laporan pertanggungjawaban periode sebelumnya, dan penetapan program kerja tiga tahun mendatang. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Internasional, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 20 Maret 2014

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sidang Komisi Organisai Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang 1-5 Agustus nanti antara lain akan mengagendakan pembahasan mengenai perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD ART NU. Diantaranya, usulan penggantian semua Lajnah menjadi Lembaga dan pembentukan Badan Pelaksana Khusus.

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus

Pada pasal mengenai Perangkat Organisasi, dalam AD ART NU sebelumnya terdapat tiga perangkat yakni Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom. Sementara draft yang baru dalam buku materi muktamar ke-33 NU, pada Bab V ART tentang Perangkat Organisasi diusulkan semua lajnah diubah menjadi lembaga. Lalu perangkat organisasi ditambah satu lagi yakni, Badan Pelaksana Khusus.

“Inti lajnah dan lembaga adalah sama. Bahkan pembeda lajnah ini tidak jelas. Ada yang mengatakan lajnah itu di bawah syuriyah. Ada yang mengatakan lajnah itu ad hoc dan seterusnya. Jadi lajnah dan lembaga tidak jelas distingsinya jadi disamakan,” kata Ketua Komisi Organisasi Ajie Hermawan dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Sabtu (25/7).

Muktamar ke-32 di Makassar 2010 kemarin menyisakan dua lajnah dalam perangkat organisasi NU yakni Lajnah Ta’lif wan Nasyr dan Lajnah Falakiyah, serta penambahan satu lajnah baru yakni Lajnah Perguruan Tinggi NU. Jika pasar perubahan itu disetujui maka tiga lajnah itu akan berubah nama menjadi lembaga.

Sementara pada Bab V Pasal 18 ayat (1) disebutkan, Badan Pelaksana Khusus adalah perangkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang memiliki struktur secara nasional berfungsi sebagai pengelolaan, penyelenggaraan, dan pengembangan kebijakan Nahdlatul Ulama berkaitan dengan bidang tertentu.

Ribath Nurul Hidayah

“Badan Pelaksana Khusus muncul setelah koordinasi denga Komisi Program. Intinya adalah urgensi pembentukan badan pengelola untuk badan-badan, organisasi-organisasi yang memerlukan kesinambungan manajemen tanpa banyak terpengaruh perubahan kepengurusan. Utamanya lembaga yang menyatukan badan hukum sekolah, universitas, rumah sakit, dan badan hukum di bidang perekonomian,” kata Aji Hermawan yang juga salah seorang Wakil Sekjen PBNU

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, badan pelaksana yang diusulkan itu hanyalah wadah. Misalnya Badan Pelaksana Kesehatan, maka dia akan mengkoordinasi rumah sakit-rumah sakit dan layanan kesehatan NU.

“Yang sudah disarankan ada 3 badan yakni Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi. Itu pun kalau disetujui Muktamirin,” kata mantan Ketua PCINU Inggris itu. (A. khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Halaqoh, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 Maret 2014

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Banjir besar menerjang sedikitnya 8 desa di Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (20/2) dini hari. Sebanyak 1,5 rumah warga, sekolah hingga kantor Polsek setempat terendam. Meski demikian, makam salah satu auliya, Mbah Sayid Sulaiman di Betek-Mancilan Mojoagung masih aman dari musibah ini.

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

"Alhamdulillah, sejak banjir tadi malam saya memantau lokasi menuju makam tidak banjir, mungkin di sekitar makam. Tapi kalau makam tidak," ujar Skaroni, salah satu Anggota BPD Desa Mancilan saat ditemui usai shalat Jumat.

Dari pantauan Ribath Nurul Hidayah, Jumat siang tadi makam seluas lebih dari satu hektar di Dusun Rejoslamet Desa Mancilan itu tampak kering. Beberapa orang bahkan datang melakukan ziarah di makam yang berbatasan antara Mancilan–Betek tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Hal yang sama juga terlihat di makam Sayid Abdurrahman Al Maghrobi dan Sayid Ahmad Al Maghrobi. Makam yang berada di sebelah Masjid Agung Mojoagung itu juga terbebas dari banjir.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti diketahui, sejak Kamis (19/2) malam, banjir bandang akibat luapan sungai Gunting menerjang 8 Desa di Kecamatan Mojoagung, di antaranya Desa Kademangan, Janti, Mancilan, Kedunglumpang, Betek, Gambiran, serta Kauman.

"Dari 8 desa itu, sekitar seribu orang hari ini mengungsi. Pengungsi kita tampung di tiga lokasi, yakni Masjid Janti, Masjid Gambiran, serta RTH Mojoagung," kata Nur Huda ketika ditemui di RTH Mojoagung.

Nur Huda mengatakan, tingginya curah hujan yang terjadi Kamis malam mengakibatkan dua sungai yang melintas di Mojowarno dan Mojoagung meluap. Akibatnya sekitar 1500 pemukiman warga dan beberapa fasilitas pemerintah, seperti sekolah, polsek dan kantor Pos terendam.

"Ketinggian air rata rata 70 centimeter. Bahkan ketinggian air yang berada di pemukiman mencapai 2 meter lebih," ujarnya seraya mengatakan banjir mulai surut, namun hingga siang tadi, beberpa pemukiman waga masih terendam banjir. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Pahlawan, Quote Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 Maret 2014

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) kabah.

Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas kabah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas kabah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Demikian tempat-tempat yang dilarang untuk shalat. (Penulis: Fuad H Basya/ Redaktur: Ulil H).

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 Maret 2014

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Menado, Ribath Nurul Hidayah. Pujian dan apresiasi tentang keberhasilan kerukunan yang datang dari berbagai pihak, tidak boleh membuat Indonesia terlena, tetapi harus tetap mawas diri, karena kerukunan umat beragama bukan merupakan sesuatu yang stagnan dan final, kata Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Prof. Dr. H. Achmad Gunaryo, M.Soc.Sc.

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Gunaryo menyatakan hal itu di hadapan para pejabat Kementerian Agama se-Indonesia pada rapat Optimalisasi Program Kerja PKUB dan Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia di Manado beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kerukunan terus mengalami perubahan, kadang sangat sederhana tetapi pada kondisi tertentu sangat kompleks terkait dengan berbagai dinamika kehidupan sosial yang berkembang. Kepekaan terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat terkait kerukunan tersebut yang harus dimiliki oleh kita semua yang memiliki kepedulian dalam menjaga dan melestarikan kerukunan.

Ribath Nurul Hidayah

Tantangan terhadap kerukunan ternyata tidak semakin berkurang seiring dengan kondusifnya suasana kerukunan itu sendiri, melainkan justru makin bertambah. Selain permasalahan seputar rumah ibadat, penyiaran agama, penodaan agama.

Ribath Nurul Hidayah

"Secara nyata kita dapat menyaksikan merebaknya berbagai paham keagamaan yang keluar dari arus pemahaman arus utama yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap wajah kerukunan. Pada titik tertentu kondisi ini tidak menimbulkan masalah," ia menjelaskan.

Tetapi, ia melanjutkan, manakala ekspresi keagamaanya berbenturan dengan sistem dan paham keagamaan mainstream secara tajam baru akan menimbulkan permasalahan. Ekspresi keagamaan terbaru yang keluar dari arus utama setidaknya dapat digolongkan dalam dua kutub ekstrem, kutub pertama dikenal dengan kutub radikalisme dan kutub kedua adalah liberalisme.

Kutub radikal ditandai dengan berbagai sikap fanatisme, dan yang paling berat adalah kelompok yang selalu mengatakan bahwa di luar dirinya adalah salah secara mutlak. Ekspresi yang berlebihan dari sikap ini dapat berpotensi mengganggu kerukunan.

Kutub ekstrem lain dikenal dengan sebutan paham keagamaan liberal.

Corak keagamaan liberal pada dasarnya sangat menghargai kerukunan dan multikulturalisme tetapi terjerumus pada sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama tanpa kendali yang jelas, katanya.

Sementara sekulerisme dipahami dengan menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia maupun negara. Inklusifisme dipahamai secara sangat ekstrem dengan menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar," tuturnya.

Lebih-lebih lagi, ia mengatakan, faham pluralisme dipahami dengan menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis. Hal yang harus diwaspadai dalam corak keagamaan liberal ini adalah rusaknya nilai-nilai akidah dan sakralitas dari agama itu sendiri.

"Yang ingin kita tuju adalah kerukunan yang tidak perlu mengorbankan akidah dan kemurnian masing-masing agama," ujarnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Maret 2014

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Ketokohan KH Abdul Wahid Hasyim tentu sulit diingkari. Dalam usia 21 tahun, Wahid? muda sudah membuat terobosan-terobosan cemerlang di dunia pendidikan, utamanya pesantren.

Ketika bergabung di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), usianya baru genap 25 tahun. Namun setahun kemudian, Wahid justru mengetuai federasi organisasi massa dan partai Islam ini.

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Karir perjuangannya menanjak cepat. Wahid turut memimpin PBNU, menjadi anggota BPUPKI, dan akhirnya ditunjuk sebagai menteri agama. Artinya, selain berjihad menumpas kaum penjajah, Wahid terlibat aktif dalam segenap tahapan paling menentukan dalam proses pendirian negara.

Masa-masa hidup Wahid hampir dihabiskan seluruhnya dengan penuh manfaat. Ulama dan tokoh nasional ini tutup usia pada 19 April 1953, sebelum ulang tahunnya yang ke-38 diperingati. Berikut ini adalah sejumlah syair inspiratif pegangannya, yang sarat pesan perjuangan, kerja keras, penghargaan atas waktu, cita-cita, serta keinsafan tentang dinamika hidup.

?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Jangan remehkan siasat sesuatu yang (tampak) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh racun kalajengking. Ternyata, burung Hudhud sanggup menumbangkan singgasana ratu Bulqis, dan liang tikus mampu meruntuhkan bangunan kokoh.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ??

Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya.

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?


Begitulah waktu menentukan takdir untuk penghuninya (manusia). Musibah bagi sekelompok orang adalah keberuntungan bagi kelompok lain. Aku sudah mafhum dengan kelakuan zaman yang sekilas ini: keburukannya merupakan kritik, sedangkan kebaikannya hanyalah janji.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Ketika debu kavaleri berhamburan, aku justru menghirup keharuman yang melampaui wangi kemenyan. Semir mata pedang dan gelas-gelas di meja rapatku pun menjelma tengkorak para pembesar (musuh) yang rakus kejayaan.

?

? ? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ? ?


Semoga Allah melimpahkan kebaikan pada setiap manusia yang belum saling sayang dan saling kenal. Tak pernah aku mengeluh dan diterpa kesulitan kecuali dari orang yang sudah aku kenal.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?
. Saat bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria.

?

?

Mahbib Khoiron

Dikutip dan diterjemah ulang dari

KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama, Bandung: Mizan, 2011

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 02 Maret 2014

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah. Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada Ribath Nurul Hidayah di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

Ribath Nurul Hidayah

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah