Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Korea, Mencoba Menawarkan Konsep Wisata Muslim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Tekanan hidup yang keras dan persaingan yang semakin sengit untuk menjadi yang terbaik menyebabkan semakin tingginya kebutuhan melakukan relaksasi otak. Tokoh agama seperti kiai, atau profesor yang ahli dalam sebuah bidang ilmu, juga butuh keluar dari rutinitas sehari-hari.

Ribath Nurul Hidayah mendapat kesempatan mengikuti pengenalan paket perjalanan Wisata Muslim Korea hasil kerjasama antara Garuda Indonesia, Korean Tourism Organization pada 20-26 November 2013. Diantara yang ikut dalam rombongan tersebut adalah Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, Wakil Direktur Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Suwito dan Rektor Universitas Mathla’ul Anwar Banten Prof Dr Bambang Pranowo. Mengingat semakin besarnya minat masyarakat Indonesia ke Korea dan adanya keinginan konsep wisata dengan makanan halal dan ketersediaan waktu sholat, maka dibentuklah konsorsium Wisata Muslim. Kunjungan ini merupakan pengenalan dan para tokoh agama tersebut diajak untuk melihat, apakah konsep yang ditawarkan ini sudah memenuhi kebutuhan Muslim. Korea sendiri juga menginginkan peningkatan jumlah wisata dari negara-negara Muslim.

Korea, Mencoba Menawarkan Konsep Wisata Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Korea, Mencoba Menawarkan Konsep Wisata Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Korea, Mencoba Menawarkan Konsep Wisata Muslim

Anggota rombongan berjumlah 27, orang, 20 orang diantaranya berasal dari biro wisata. Kami berangkat dengan menggunakan Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Seoul, yang berangkat pukul 11.30 WIB dan tiba di bandara Incheon, Seoul pukul 8.30 waktu setempat, yang lebih cepat 2 jam dibandingkan dengan waktu Jakarta. Pilihan waktu ini sangat pas karena penumpang bisa istirahat selama perjalanan, dan sudah segar begitu tiba di Korea Selatan. Garuda memiliki dua jalur penerbangan ke Seoul, dari Jakarta sekali dan dari Denpasar sekali setiap hari.

Ribath Nurul Hidayah

Bandara Incheon, yang dibuka tahun 2001 sangat bersih dan rapi dengan fasilitas yang serba canggih. Dari tempat pendaratan, kami turun menaiki kereta bawah tanah menuju ruang penjemputan. Sambil berjalan, saya menengok ke sebuah banner di langit-langit, bandara ini secara berturut-turut selama 8 kali, dari tahun 2005-2013 dinobatkan sebagai bandara terbaik oleh Airports Council International. Di bandara ini, tersedia fasilitas lapangan golf, spa, ruang tidur, ice skating, taman dalam ruangan dan Museum Budaya Korea. Hebat sekali Korea Selatan. Kini mereka telah menjadi salah satu negara maju di Asia, berhasil melakukan transformasi dari sebuah negara miskin menjadi salah satu macan Asia.

Di luar, kami sudah ditunggu tur guide dari Sam Tour,  Dennis Gong, yang bisa berbahasa Indonesia dan pemilik Sam Tour Mr Sam MY Lee. Mereka mengingatkan, di luar udara sangat dingin agar jangan lupa memakai jaket dan sarung tangan, mengingat November ini, musim dingin sudah tiba. Benar saja, begitu keluar ruangan, badan rasanya sudah menggigil. Udara dingin dan angin kencang membuat kulit terasa kering.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak ada kepadatan di bandara ini. Berlokasi 48 km (30) mil dari Seoul, bandara ini dihubungkan dengan jalur kereta api bus umum, dan taksi sehingga penumpang bisa dengan nyaman bergerak. Banyak pilihan transportasi sehingga penumpang tidak terkonsentrasi di satu tempat.

Tujuan pertama dalam tur ini adalah pulau Jeju, pulau resort di Korea Selatan. Karena bandara Incheon dikhususkan untuk penerbangan internasional, kami harus pindah ke Bandara Gimpo, bandara internasional Seoul yang lama, yang berjarak 33.5 km (21) mil dari Incheon. Dengan menggunakan sebuah bus dan melalui jalan tol, jalur tersebut bisa dilalui sekitar 30 menit. Tak ada kemacetan sama sekali dan kendaraan yang lalu lalang di tol tersebut cukup jarang.

Gimpo, selain melayani penerbangan domestik, juga menjadi menjadi tujuan penerbangan ke China, Jepang dan Taiwan, negara-negara yang berdekatan dengan Korea. Suasana bandara juga lapang. Setelah check in bagasi untuk penerbangan menuju pulau Jeju, kami sarapan di restoran bandara dengan menu Bimbimbab atau nasi campur Korea. (bimbim=dampur bab= nasi) yang terdiri dari nasi ditambah sayur-sayuran segar dan ditengahnya ada telor dadar setengah matang yang diletakkan diatas sebuah mangkuk besar.

Kami hanya terdiam penunggu, tidak tahu cara makannya. Lalu tur guide mengajari cara makannya dengan mengaduk-aduk seluruh makanan tersebut, dicampur dengan saus pasta. Beberapa anggota rombongan yang tidak biasa makan sayur hanya mencicipi saja. Bagi rakyat Korea, makanan ini sangat populer sebagai makanan sehari-hari. harga makanan ini antara 7.000-8.000 won atau 70.000-80.000 ribu rupiah. Dennis mengatakan, “makanan ini bukannya tidak enak, hanya belum terbiasa saja.”

Makanan wajib bagi rakyat Korea adalah Kimchi, asinan hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. kebanyakan dibuat dari sawi putih dan lobak. rasanya mirip asinan Bogor. Kemana-mana, orang Korea selalu membawa Kimchi seperti orang Indonesia tak bisa ketinggalan makan sambal. Dalam sejarahnya, ketika musim dingin, tidak ada sayuran yang tumbuh. Karena itu, Kimchi menjadid andalan selama musim dingin ini. Dulu, ketika musim dingin, dibuat lubang khusus dibawah tanah agar Kimchi ini tidak beku. sekarang, setiap keluarga di Korea memiliki kulkas khusus untuk tempat Kimchi. 

Kiai Masdar, Prof Bambang dan Prof Suwito selalu duduk bertiga dan kemana-mana bergerombol. Tampaknya mereka sudah kenal lama. Kami yang muda-muda masing sungkan dengan mereka. Kecuali Kiai Masdar, saya belum kenal dengan yang lain. (mukafi niam)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Berita Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Mimika, Ribath Nurul Hidayah. Memasuki malam 16 Ramadhan tahun ini, kegiatan Buka Bersama dan Safari Ramadhan PCNU Mimika diselenggarakan di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Semeru SP6 Naeba Muktipura, Distrik Iwaka, Mimika.

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Wakil Ketua PCNU, Sugiarso dan Ketua JQH Ust Hasyim Asyari dan Tim Safari Ramadhan PCNU Mimika lainnya mengawali kegiatan dengan berkunjung di rumah Ketua Takmir, Hasyim Asyari.?

"Hari ini dua Hasyim Asyari bertemu semoga bisa meneladani pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Tafaulan nama semoga barokah untuk NU," urai Sugiarso. Berbagai hal masalah ke-NU-an dibicarakan menunggu waktu Magrib. Akhirnya diusulkan untuk melakukan kegiatan NU yang rutin

"Bekerja itu tidak perlu terlalu ngoyo di ladang atau di pasar. Kita ini kurang keseimbangan dengan doa sehingga hidup kita ini begini begini saja," tegas Ketua Takmir, Hasyim Asyari.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena itu kita mulai rutinan istigotsah tiap malam Ahad legi. Ini usaha kita untuk meminta agar urusan kita dan keaswajaan kita semakin mudah," lanjutnya.

Selanjutnya pada acara ceramah tarawih di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Sugiarso mengingatkan jamaah agar tidak sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak anak

"Jangan kita terpengaruh opini orang sekolah ini favorit karena mahal ada ini-itu, namun kita tak ? meneliti pahamnya serta orang orangnya. Yang paling aman bersekolah di Al Maarif karena ini milik NU," terang Sugiarso.

Sementara itu, ust Hasyim Asyari mengingatkan jangan sampai anak melawan orang tua. "Kita sedekah buka bersama dan ngaji ini dibilang haram, bahaya. Anak tidak mau diajak tahlilan, bahaya.”

Dijelaskannya, sekarang dunia digenggaman. HP ini isinya lengkap. Ngaji yang keras tinggal klik saja. “Mari kita berjamaah dalam NU agar selamat dunia akhirat karena NU ini didirikan ulama warid yang sanadnya sambung ke Rasulullah Saw," urai ust Hasyim. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Pesantren, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Bahtsul Masail Pesantren Buntet Cirebon Soroti Kasus Suap Sistemik

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Pesantren Buntet Cirebon menggelar bahtsul masail yang dihadiri oleh puluhan tokoh sepuh dan kiai muda di masjid jami’ Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (4/4).

Bahtsul masail yang merupakan bagian dari rangkaian acara dalam menyambut haul al-marhumin sesepuh dan masyarakat Buntet pesantren ini mengetengahkan isu-isu yang dirasakan lebih dekat dan nyata dalam keseharian masyarakat, seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Muthohar, moderator bahtsul masail.

Bahtsul Masail Pesantren Buntet Cirebon Soroti Kasus Suap Sistemik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Pesantren Buntet Cirebon Soroti Kasus Suap Sistemik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Pesantren Buntet Cirebon Soroti Kasus Suap Sistemik

Bahtsul masail tahun ini sengaja memunculkan hal-hal yang paling krusial dan dekat dengan masyarakat, semisal sistem suap dalam peluang-peluang pekerjaan yang sudah begitu sistemik, dalam forum bahtsul masail tadi terjadi perdebatan menarik tentang hukum penyuap dan penerima suap.?

Ribath Nurul Hidayah

“Beberapa pendapat dengan ta’bir yang kuat menunjukkan bahwa jika seseorang memang kompeten, layak, mampu, dan secara hak dia harus menerima pekerjaan tersebut namun terganjal oleh sistem suap yang sudah mengakar dalam instansinya, sehingga mau tidak mau dia harus menggelontorkan sekian nominal, maka yang dihukumi haram adalah apa yang dilakukan oleh penerimanya,” jelas Muthohar.

Ahmad Muthohar menambahkan, selain tentang kasus suap yang mengakar di sebagian besar instansi di Indonesia, masalah-masalah penting lain juga diangkat dalam bahtsul masail yang dihadiri oleh ratusan santri dari pelbagai wilayah Cirebon tersebut, antara lain tentang hukum menanam rambut untuk mengatasi kebotakan, hukum juru parkir liar, hukum pemberian dana yayasan yatim piatu untuk anak yang tidak yatim piatu namun kurang mampu, serta hukum memelihara jenggot dan memendekkan celana sehingga berimplikasi menyerupai golongan yang berseberangan dengan ahlussunnah wal jama’ah.

Ribath Nurul Hidayah

“Ada beberapa masalah menarik yang diangkat dalam bahtsul masail kali ini, hanya saja yang paling dianggap penting dan ramai perdebatan adalah hukum memelihara jenggot dan bercelana pendek sehingga menyerupai kelompok-kelompok yang bersebrangan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah,” tandasnya.

Sayangnya, dua tema aktual tersebut berakhir mauquf (tunda.red), karena kapasitas forum tidak dapat menjangkau untuk keputusan itu, harus digelar secara nasional.

“Untuk masalah ini akan kami rekomendasikan untuk bahtsul masail tingkat PBNU,” tambah Muthohar.

Menurut Moh. Hamdi, ketua panitia bahtsul masail, para peserta bahtsul masail terdiri dari perwakilan 26 pesantren se-wilayah Cirebon, serta dihadiri oleh ratusan santri dan masyarakat umum. Untuk kelanjutannya hasil bahtsul masail ini selain ? dipublikasikan di tengah masyarakat juga akan dibukukan bersamaan dengan hasil bahtsul masail tahun-tahun sebelumnya, dan untuk beberapa poin masalah yang penting akan direkomendasikan ke PBNU melalui pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Cabang Kab. Cirebon.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Sohib Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nadlatul Ulama (LAZISNU) yang dipimpin KH Masyhuri Malik bekerjasama dengan Extrajoss memberdayakan  warga di komplek Pergudangan Bandara Emas, Neglasari, Kota Tangerang, Banten pada Kamis, (14/6) lalu melalui program NUpreneur. 

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur

Demikian disampaikan Direktur Pelaksana LAZISNU H. Amir Ma’ruf, di kantor LAZISNU, Lantai II gedung PBNU, Jakarta, Senin, (18/6). 

Menurut Amir, pemberdayaan melalui NUpreneur itu dilaksanakan oleh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kaisar Nusantara.

Ribath Nurul Hidayah

“NUPreneur ini merupakan program yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, karena program ini sangat memberikan efek yang berkelanjutan dalam pemberdayaan umat. Mereka disarankan untuk menyicil hasil usahanya. Kemudian setelah terkumpul, uang itu digunakan untuk memberdayakan warga yang lain,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemberdayaan melalui program NUPreneur, sambung Amir, yaitu program dalam bentuk pinjaman modal usaha kepada masyarakat. Program ini merupakan program unggulan Lazisnu tahun 2012 ini. 

Sementara itu, Manager Fundraising Lazisnu Nur Rahman menjelaskan lebih rinci. pemberdayaan masyarakat yang berlangsung di Pergudangan Bandara Emas itu, dengan menyumbangkan sepeda, alat jualan seperti: termos es, tempat air dari PT. Bintang Toejoe sebagai produsen Extrajoss. 

“Mereka bersemangat sekali berjualan. Dengan demikian, program LAZISNU ini sangat membantu dan ditunggu-tunggu masyarakat,” jelas Nur Rahman.

Menurut Nur Rahman, meski sangat berdekatan dengan Jakarta, masyaraka di daerah itu sangat memprihatinkan. Melalui UPZ, yang merupakan perpanjangan tangan dari LAZISNU, berupaya mempercepat gerak pemberdayaan masyarakat. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Internasional, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak

Dalam Kitâb al-Kharâj karya Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari (w. 798 M), sahabat dan murid utama Imam Abu Hanifah, terdapat sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar bin Khattab dan seorang Yahudi tua. Dalam kitab itu diceritakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Khalifah Umar Bebaskan Yahudi dari Kewajiban Pajak

Sayyidina Umar bin Khattab ra melintasi pintu rumah suatu kaum dan menemukan seorang peminta-minta tua yang penglihatannya telah terganggu. Beliau menepuk punggungnya dari belakang dan bertanya: “Tuan dari ahli kitab golongan manakah?”

Ia menjawab: “Yahudi.”

Ribath Nurul Hidayah

Khalifah Umar bertanya lagi: “Apa yang memaksa tuan melakukan apa yang aku lihat ini?”

Ribath Nurul Hidayah

“Aku meminta-minta agar dapat membayar jizyah, memenuhi kebutuhan hidup, dan karena usia tua (sehingga tidak mampu lagi bekerja),” jawabnya.

Khalifah Umar menggenggam lengannya. Beliau membawa laki-laki tua itu pulang ke rumahnya (Umar) danmemberikan sesuatu dari rumahnya kepadanya. Kemudian beliau membawanya kepada penjaga Baitul Mal dan berkata: 

“Uruslahorang ini dan orang-orang yang sepertinya. Demi Allah, kita tidak berlaku adil karena kita telah memakan jerih payah masa mudanya (membayar jizyah), kemudian kita mengabaikannya ketika dia telah mencapai usia tua.”

Lalu Khalifah Umar menyitir sebuah ayat dalam al-Qur’an dan menjelaskan tafsirnya (Q.S. al-Taubah [9]: 60): “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin....” Orang-orang fakir itu adalah kaum muslimin, dan orang ini adalah orang miskin dari golongan ahli kitab.”

Kemudian Khalifah Umar melepaskan beban jizyah darinya dan dari orang-orang yang memiliki keadaan yang sama dengannya. (Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari, Kitab al-Kharaj, Beirut: Darul Ma’rifah, 1979, hlm 126).

Kemurahan hati dan keadilan Sayyidina Umar ra telah masyhur dan banyak diceritakan oleh umat Islam dari generasi ke generasi. Kisah-kisahnya memberikan inspirasi luar biasa, mengandung banyak makna dan arti yang perlu digali lebih dalam. Ia dijuluki al-faruq oleh Nabi Muhammad Saw karena kemampuannya dalam farraqa baina al-haq wa al-bathil (membedakan antara yang hak dan yang batil). 

Ia adalah khalifah kedua setelah Sayyidina Abu Bakar ra dan satu-satunya khalifah yang dimasukkan Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah). Ia menduduki ranking ke-52, di atas Thomas Jefferson, Julius Caesar dan Sigmund Freud. 

Sayyidina Umar menerapkan keadilan tanpa pandang bulu, tidak perduli latar belakang, suku, kedudukan maupun agamanya. Jika orang itu bersalah, Ia akan menghukumnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika orang itu benar, Ia akan mendukungnya sepenuh hati. 

Karena itu, ketika Ia berjumpa dengan pengemis tua Yahudi yang meminta-minta kesana-kemari agar mampu membayar jizyah (pajak dzimmi), memenuhi kebutuhan hidup karena usianya yang telah menua, Sayyidina Umar membawanya pulang, memberinya makan. Kemudian Ia membawanya ke Baitul Mal dan memerintahkan orang yang bertugas untuk mengurus pengemis tua itu, bukan di saat itu saja, tapi selama pengemis tua itu hidup.Tidak berhenti sampai di situ, Sayyidina Umar membuat kebijakan baru, jizyah dihapuskan untuk orang yang keadaanya sama dengan pengemis tua itu.

Ia memandang hal itu tidak adil, ketika kaum dzimmi itu masih muda dan mampu menghasilkan upah untuk membayar jizyah, pemerintah mengambil dan menikmatinya. Kemudian, ketika mereka telah tua dan tak lagi produktif, pemerintah menelantarkannya. Tidak hanya itu, pemerintah masih memaksa mereka untuk membayarnya, tanpa memperdulikan keadaan mereka. 

Hal ini menjelaskan bahwa keadilan dankemurahan hati Sayyidina Umar saling melengkapi dan mengisi satu sama lainnya. Keadilannya berasal dari kemurahan-hatinya dan kemurahan-hatinya berasal dari keadilannya. Karena alasan itu, Ia selalu berhati-hati dalam memutuskan dan memandang sesuatu. Sayyidina Abdullah bin Abbas ra menggambarkan khalifah Umar seperti burung yang selalu waspada di setiap langkahnya dari perangkap dunia—kana ka al-thair al-hidzri alladzi kana lahu bi kulli thariqin syarakan. (Ibnu Jauzi, Manaqib Umar bin Khattab, hlm 153).

Di samping itu, kisah di atas memberikan gambaran bahwa jizyah adalah pajak biasa yang jumlahnya seringkali lebih rendah dari zakat. Diwajibkan hanya untuk yang mampu membayarkannya. Jumhur ulama dari golongan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa la jizyata ‘ala al-faqir al-‘ajiz ‘an ada’iha—tidak ada jizyah untuk kaum dzimmi fakir yang tidak mampu membayarnya. (Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, Riyadl: Darul ‘Alim al-Kutub, juz 13, hlm 219).

Dengan demikian, jizyah adalah pajak yang dibayarkan untuk kemajuan bersama, tidak hanya dinikmati oleh umat Islam, tapi seluruh warga negara yang tinggal di bawah kekuasaan Nabi dan Khulafa’ al-Rasyidin.

Semoga kita pada umumnya dan para pemimpin kita pada khususnya dapat meneladani keluhuran budi dan ketegasan pekerti Khalifah Umar bin Khattab. Wallahu a’lam.

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 19 Januari 2018

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bondowoso mengadakan tahlilan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kantor PCNU setempat, Jalan KH Agus Salim Nomor 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Rabu malam ( 21/10)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Ketua Tanfidziah PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam menjelaskan, kegiatan tahlil ini merupakan acara rutinan warga NU setempat yang dilaksanakan setiap Selasa malam. Agar bersamaan mendekati tanggal 22 Okteber 2015 yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional maka pengurus NU setempat mengundur jadwal menjadi Rabu malam atau malam Kamis.

Abdul Qodir Syam menambakan, Kamis (22/10) ini delegasi santri dari Pondok Pesantren Se-Bondowoso akan mengikuti Apel Santri. Kegiatan tersebut di bawah koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Bondowoso, Lembaga Pendidikan Maarif NU Bondowoso, dan Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso.

Ribath Nurul Hidayah

“Nantinya yang menjadi Inspiktur upacara Apel Santri adalah Drs. H. Salwa Arifin (Wakil Bupati Bondowoso) yang akan dilaksanakan di depan Kantor PCNU Bondowoso," imbuhannya.

Ribath Nurul Hidayah

Salwa Arifin yang hadir dalam acara tahlilan itu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam peringatan Hari Santri Nasional. Mustasyar PCNU Bondowoso ini menambahkan, tidak berlebihan NU menyambut antusias Hari Santri, termasuk dengan tahlilan.

Ia mengatakan, NU tak suka dengan perpecahan, NU tawaduk. “Kenapa demikian? Karena NU adalah ‘pesantren besar’ di dalamnya ada pondok pesantren dan NU indentik dengan pesantren. Begitu pula pesantren indentik dengan NU dan itu tidak bisa dipisahkan itu berpaham Ahlusunnah wal Jamaah.” (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Januari 2018

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi mengungkapkan, peringatan Haul penting dilaksanakan dan perlu untuk dilestarikan. Sebab Nabi Muhammad SAW pun menjalankan ritual tahunan tersebut.

Demikian diungkapkannya dalam peringatan Haul KH Muslim ke-35 di maqbarah (makam) desa Robayan kecamatan Kalinyamatan, Sabtu sore (15/12). 

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Syaroni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan

Menurut Kiai Sya’roni, Nabi Muhammad setiap setahun sekali melaksanakan ziarah ke makam para suhada perang Uhud. Jarak kediaman Nabi ke makam kira-kira 6 km. Waktu itu beliau setiap kesana dengan naik khimar, keledai kadang-kadang jalan kaki. 

Dalam kitab Syarah Nahjil Balaghah, Imam Allaqiti pernah mengatakan setiap tahun sekali Nabi Muhammad menziarahi sejumlah 70 sahabat. 

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Meski demikian Kiai Sya’roni menghimbau kepada hadirin agar waspada pada kitab Syarah Nahjil Balaghah sebab ada yang dikarang ulama Sunni ada pula yang dikarang golongan wahabi. Dalam Nahjil Balaghah karya Ulama Sunni jelas Haul dilaksanakan juga oleh kanjeng Nabi. Sedangkan menurut kitab yang sama karya golongan Wahabi jelas-jelas diharamkan. 

Kitab Fatkhul Majid yang ia dapatkan dari perguruan tinggi di Madinah tahun 1982 silam pun demikian. Dalam kitab karya versi Wahabi tersebut ia menemukan fasal yang menerangkan tentang pengkufuran pembuat burdah yang dianggap terlalu mengagung-agungkan Nabi Muhammad SAW. Hal itu tentu berbeda dengan Syarah Fatkhul Majid karya Imam Nawawi Al-Banteni. 

Untuk itu, kitab-kitab wahabi tersebut ia taruh di madrasah agar para guru membacanya dan bisa membedakan dengan kitab-kitab karangan ulama Sunni. “Saya menghimbau kepada para santri agar berhati-hati saat mengaji kitab-kitab kuning saat ini,” himbaunya.   

Berkenaan dengan Haul kiai sepuh asal Kudus melansir sabda Nabi Muhammad yang menyatakan mauidloh ada 2. Mauidloh yang bisa berbicara yaitu Al-Qur’an dan asshamit, mauidloh yang berupa kematian. 

Karenanya Haul sambungnya merupakan kegiatan peringatan. “Bersamaan dengan Haul KH Muslim keluarga maupun kita yang ditinggalkan perlu miker-miker kelak kita juga akan menyusulnya,” imbuhnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 Januari 2018

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Momen yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya datang juga. KH Raden Asad Syamsul Arifin (1890-1990 M) Asembagus Situbondo, Jawa Timur ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pemberian anugerah Pahlawan Nasional tersebut berlangsung di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/11) oleh Presiden RI Joko Widodo.

“Kami, para santri beliau ikut senang dan bangga dengan penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang santri Kiai As’ad lewat keterangan tertulisnya kepada Ribath Nurul Hidayah, Rabu (9/11).

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Menurutnya, Kiai Asad memang pantas mendapatkan gelar ini. Beliau berperang mengusir para penjajah dari tanah air. Memimpin pasukan, keluar masuk hutan, membangun kekuatan melawan para penjajah. Para penjajah yang menguasai daerah eks keresidenan Besuki seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo akhirnya bisa dipukul mundur.

“Namun, pada hemat saya, Kiai Asad layak mendapatkan gelar pahlawan bukan hanya karena ikut berperang merebut kemerdekaan, tetapi ia juga berjuang melalui pendidikan. Pesantren yang didirikan bersama ayahandanya sejak tahun 1914 telah lama menjadi lembaga pendidikan murah bahkan gratis buat masyarakat tidak mampu,” urai Kiai Moqsith yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

Kini di pesantrennya tak kurang dari lima belas ribu santri yang belajar di sana, dari paling bawah seperti TK hingga perguruan tinggi. Para santri tak hanya belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti kelautan, informatika, dan pertanian.

Tak hanya itu, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, ketika banyak ulama ragu-ragu untuk menerima Pancasila, bersama sejumlah ulama lain Kiai Asad menegaskan pentingnya merujuk Pancasila terutama untuk mengatasi soal-soal kebangsaan dan kenegaraan.

“Suatu waktu Kiai Asad bercerita bahwa dirinya menerima surat kaleng dari orang-orang yang anti Pancasila. Tapi, Kiai Asad tak menghiraukannya. Bagi Kiai Asad, Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahkan, menurutnya, sila pertama Pancasila merupakan cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam,” ungkapnya.

Semangat berjuang membela negara dan memperbaiki pendidikan umat itu terus diinjeksikan pada para santrinya. Empat tahun menjadi santrinya, Moqsith sering mendengar ceramah-ceramahnya terkait kebangsaan dan kenegaraan, di samping soal keislaman.

Mendengar ceramah-ceramah Kiai Asad seperti membaca buku-buku sejarah. Ini karena beliau salah seorang pelaku sejarah. Namun, di ujungnya pidatonya, Kiai Asad biasanya berpesan agar kisah perjuangannya tak dituliskan.?

Ribath Nurul Hidayah

“Bahkan, ketika salah seorang intelektual NU menawarkan diri untuk menulis biografinya, Kiai Asad marah. Ia merasa, perjuangannya tak pantas untuk dicatat,” terang kiai yang juga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menandaskan, tentu gelar kepahlawanan ini bukanlah cita-citanya. Semua gerak langkahnya hanya diniatkan untuk memperoleh Ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh anugerah duniawi seperti ini. Tapi, seperti dikatakan banyak orang, negara besar adalah negara yang pandai menghargai para pejuangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Kajian, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Telekonferensi, Peserta Sanlat Ansor Berdialog dengan Dua Menteri

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Para peserta Pesantren Kilat Bimbingan Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) dari 12 kota se-Indonesia melangsungkan telekonferensi audio visual dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kegiatan sebagai sarana menambah semangat kepada peserta dalam menempuh pendidikan tinggi di kampus ternama.

Telekonferensi, Peserta Sanlat Ansor Berdialog dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Telekonferensi, Peserta Sanlat Ansor Berdialog dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Telekonferensi, Peserta Sanlat Ansor Berdialog dengan Dua Menteri

"Teleconference ini adalah kegiatan live video conference antara Mataair, GP Ansor dan PT Telkom Indonesia yang diselenggarakan Jumat lalu," kata Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto, Sabtu (30/5).

Gus Antok, samaan kesehariannya, mengemukakan bahwa kegiatan merupakan dialog secara langsung antara kedua menteri dengan peserta Sanlat di 12 kota di Indonesia. Kota-kota tersebut antara lain Bandung, Yogyakarta, Cirebon, Serang, Semarang, Kudus, Karanganyar, Jombang, Surabaya, Malang, Ngawi, dan Pontianak, lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Pada kegiatan tersebut peserta Sanlat yang difasilitasi GP Ansor dapat berbicara secara langsung dengan Bapak Anis Baswedan selaku Menteri Pendidikan, Bapak M Nasir yang juga Menristek Dikti serta Alex J Siaga yang menjadi Dirut PT Telkom," kata Gus Antok.

Ribath Nurul Hidayah

Khusus di Jombang, para peserta didampingi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Wazir Aly selaku Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel Denanyar, H Jauharul Afif Pengasuh Pesantren Sunan Ampel Mambaul Maarif Denanyar, penasehat Ansor Jombang, ISNU, wali santri, para alumni Sanlat dari tahun 2011 hingga 2014.

Sedangkan para pengurus PC GP Ansor yang ikut menyaksikan kegiatan teleconference ini antara lain, Muizzun Hakam (sekretaris), Farid Al-Farisi (bendahara), serta Hafis Muaddab (ketua panitia sanlat).

Pada kesempatan tersebut bapak menteri memberikan semangat kepada para peserta untuk terus giat belajar. Terkait kelulusan peserta untuk masuk perguruan tinggi harapan, tentu sangat bergantung dengan kemampuan yang dimiliki. Kendati demikian, bapak menteri akan memberikan perhatian terhadap kelanjutan studi peserta.? ?

Sejumlah kejadian menarik tampak terlihat dari kegiatan ini. "Para peserta menyempatkan membuat tulisan i love you di depan kamera, " kata Gus Antok sembari tertawa. Demikian juga antar peserta dari sejumlah kota ini saling beradu yel-yel sesuai daerah setempat, lanjutnya.

Usai teleconference, acara dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepakatan atau (MoU) dukungan program pendidikan Mataair BPUN. Kegiatan yang bertemakan education for a better future ini berlangsung sekitar dua jam dan berakhir jelang jam 21.00. Tampak wajah penuh keceriaan dari para peserta sanlat maupun para panitia serta undangan yang hadir. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 09 Januari 2018

Jadi Model Desa Mandiri, Mendes PDTT Dukung JATP

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, mendukung program Jogja Agro Techno Park (JATP) yang digagas oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X. Program tersebut dirancang untuk menjadi model desa mandiri terintegrasi yang ditargetkan selesai dalam 2 tahun. Menteri Eko mengatakan, JATP akan menjadi pusat pelatihan bagi desa-desa mandiri yang terintegrasi secara vertikal. Menurutnya, JATP sudah memanfaatkan teknologi yang diyakini mampu meningkatkan nilai tambah bagi desa.

?

"Pak Sultan (Gubernur DIY) punya ide untuk membuat satu tempat percontohan yang dinamakan Jogja Agro Techno Park. Di situ benar-benar ada mulai dari pembibitannya, peternakannya, pertanian, embung, sehingga itu akan benar-benar menjadi contoh buat satu model desa-desa mandiri yang terintegrasi," ujarnya usai pertemuan dengan Gubernur DIY di Kantor Kemendes PDTT, Kalibata, Jakarta, Rabu (14/6).

Jadi Model Desa Mandiri, Mendes PDTT Dukung JATP (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Model Desa Mandiri, Mendes PDTT Dukung JATP (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Model Desa Mandiri, Mendes PDTT Dukung JATP

?

Selain itu, lanjutnya, JATP yang rencananya berlokasi di Desa Wijilan, Kabupaten Kulonprogo tersebut dan dekat dengan area bandara, akan bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Menteri Eko mengatakan dirinya juga akan melibatkan beberapa kementerian terkait untuk pengembangannya.

?

Ribath Nurul Hidayah

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menjelaskan, JATP adalah tempat pembelajaran bagi para petani untuk mengembangkan potensinya di tanah sendiri atau secara berkelompok. Menurutnya, konsep yang diaplikasikan dalam JATP tersebut adalah pengembangan nilai baru di sektor pertanian.

?

"Jadi di sini (Jogja Agro Techno Park) terjadi transformasi budaya dan memanfaatkan teknologi. Harapan saya, nanti kalau Indonesia memasuki masyarakat industri, dia sudah tidak kaget karena sudah terjadi transformasi budaya," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

?

Menurutnya, kepemilikan tanah di Yogyakarta relatif sempit membutuhkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas petani. Teknologi tersebut meliputi peralatan sarana pascapanen, benih, dan teknologi lain yang juga meliputi sektor perikanan dan peternakan.

?

"Jumlah investasi kasar mencapai Rp 68 miliar. Ini masih bisa bertambah, karena belum masuk training dan riset. Kalau semua pihak mendukung, akan kita bicarakan bentuk kerjasamanya," terangnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman

Padangpariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kepala sekretariat pesantren Nurul Yaqin kecamatan Pakandangan kabupaten Padangpariaman M Asyraful Anam Tuanku Bagindo  memimpin ratusan  santri melepas keberangkatan dua santri alumninya untuk melanjutkan pendidikan ke University Al-Ahqaff, Yaman, Senin (20/10).

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Nurul Yaqin Lepas Dua Alumninya Belajar ke Yaman

Pelepasan ini dihadiri juga oleh pimpinan pesantren, dewan guru, dan staf tata usaha pesantren Nurul Yaqin. 

Masing-masing alumni yang akan berangkat ialah Rismandianto Tuanku Parmato Marajo Nan Alim dan Irvan Eko Juanda Tuanku Malin Palito Nan Sati.

Ribath Nurul Hidayah

Rismandianto yang lahir pada 1989 di Aripan, Solok, masuk Nurul Yaqin tahun 2002. Selepas menamatkan pendidikannya pada 2008, ia mengajar di pesantren Nurul Yaqin. Sementara Irvan Eko lahir pada 1993 di Sungai Tarab kabupaten Tanah Datar.

Menurut Risman, ia akan mengikuti perkuliahan jurusan Syariah wal Qanun (hukum tata negara) pada Fakultas Syariah University Al-Ahqaff.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, mereka mengikuti tes di Palembang pada 1 Mei 2014. Mereka mengetahui nama mereka lolos pada pemberitahuan kelulusan pada 10 Juni 2014.

"Insya Allah Kamis ini (23/10) kita berangkat ke Yaman dari Jakarta bersama calon mahasiswa lainnya. Kami dikumpulkan di pesantren As-Shiddiqiyah II Tangerang. Informasi yang kami terima, hanya 2 orang dari Padangpariaman," kata Risman. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Desember 2017

Harlah Ke-91 NU, PCINU Turki Ziarahi Makam Nabi Yusya AS

Istanbul, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki mengadakan rangkaian kegiatan di kota Istanbul Turki dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) ke 91 Nahdlatul Ulama, Rabu (2/2). Dalam peringatan harlah NU kali ini, Istanbul menjadi pilihan warga Nahdliyin Turki sebagai tempat refleksi kesyukuran hari lahir NU.

Kumpul bersama mendengar taushiyah, membaca tahlil dan berdoa untuk bangsa yang dipimpin langsung? oleh Rais Syuriah PCINU Turki Ustadz Amirullah Asyari mengawali kegiatan bertajuk? ‘Menjaga Tradisi dan Berdoa untuk Negeri demi Keutuhan NKRI’ ini. Nahdliyin dari beberapa kota hadir seperti Ustadz Ridho Assidqi dari Kota Ankara.

Harlah Ke-91 NU, PCINU Turki Ziarahi Makam Nabi Yusya AS (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-91 NU, PCINU Turki Ziarahi Makam Nabi Yusya AS (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-91 NU, PCINU Turki Ziarahi Makam Nabi Yusya AS

Karena bangsa kita sedang goyang ketua LDNU Turki Deo Adinda Pramadhan dalam sambutannya meminta agar Nahliyin di Turki sepulangnya ke Indonesia untuk bersikap dengan mengambil contoh dari Rumi, itu dikarenakan pesan-pesan Rumi tentang cinta dan perdamaian yang disampaikan dalam konteks konflik dan perpecahan golongan pada zamannya, sangat relavan dengan kondisi saat ini tambah Deo yang sedang menyelesaikan Studi Teologi Islam di Universitas ?nönü Turki.

Di samping itu, Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCINU Turki (2016-2018) yang turut serta menyemarakkan kegiatan ini melanjutkan kegiatan dengan melakukan napak tilas Ziarah ke Makam Nabi Yusya AS. Nabi Yusya AS yang seorang pengikut setia Nabi Musa AS mempunyai makam dengan panjang yang tak lazim, yakni 17 meter. Makamnya berada di area Beyköz , Istanbul bagian Asia, tepatnya di bukit Yusya yang menghada langsung ke selat bosporus.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam peringatan kali ini, Nahdliyin Turki diajak untuk terus merawat dan melestarikan warisan tradisi NU. Membaca tahlil dan doa bersama khas Nahdliyin melengkapi rangkaian kegiatan kesyukuran hari lahir NU ke 91. ‘’Kerinduan suasana tahlilan dan ziarah kubur di Indonesia terobati dengan acara seperti ini. Kami ingin merawat tradisi-tradisi NU meskipun jauh dari Tanah Air,’’ kata ketua panitia, Ahmad Zuhdi, melalui siaran pers. (Red: Abdullah Alawi)? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Cerita, Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah?



Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpanan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Bondowoso periode 2017-2022 dilantik di pendopo Bupati Bondowoso Jawa Timur pada Ahad (12/3). Pelantikan tersebut dikemas dengan seminar dan lokakarya.?

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama H Saihan dalam sambutannya berharap setelah dilantik, Pergunu Bondowoso menjadi langkah baru untuk memajukan pendidikan, khususnya di Bondowoso.

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

“Kami Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Bondowoso terus terang berasa haru, merasa bangga dengan gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Pergunu Kabupaten Bondowoso,” katanya.

Gebrakan yang baik itu, kata dia, harus diteruskan dengan menata organisasi Pergunu ini. ? Karena, banom NU para guru itu merupakan organisasi profesi yang mesti di kelolah secara profesional.

Lanjut Saihan, banyak guru yang berafiliasi ke Nadlatul Ulama baik yang ada di Kemendikbud atau di Kementerian Agama. Dengan demikian, Pergunu harus betul-betul menggali potensi para guru tersebut. Untuk itu, kata dia, Pergunu Bondowoso harus mempunyai data guru-guru Nahdlatul Ulama.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Pergunu H Rudolf Chrysoekamto mengatakan, Pergunu meski sudah didirikan sejak tahun 50-an, tapi aktif kembali enam tahun belakangan ini.?

Setelah kongres kedua di Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, kata dia, Pergunu memantapkan untuk kemandirian organisasi, peningkatan kualifikasi dan kompentensi guru-guru di seluruh Indonesia, khususnya berbasis Nahdliyin.

Ribath Nurul Hidayah

"Itu yang paling mendesak di samping konsolidasi organisasi kemudian peningkatan kualitas," katanya.

Ia menambahkan, Pergunu juga akan meningkatkan program-program yang bisa menetaskan kemampuan guru di Indonesia, khususnya NU. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, AlaNu, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 Desember 2017

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) malam.

Hadir pada peluncuran ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum (Waketum) PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Rudiantara, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain.

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital

Kiai Said mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra NU Mobile, yaitu pihak yang telah membantu menyukseskan aplikasi ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ia pun berharap kerja sama dengan para mitra dapat menjadi benteng dan kedaulatan Indonesia juga meningkatkan masyarakat dan kemakmuran bangsa.

"Mari sama-sama berjuang dan mendukung pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan data dan informasi Indonesia," ajaknya.

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah peluncuran Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui layar yang ada di panggung sempat memberikan ucapan selamat atas peluncuran aplikasi oleh PBNU. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 Desember 2017

Cara Hj Sinta Nuriyah Kenalkan Kebangsaan ke Anak-anak

Gresik, Ribath Nurul Hidayah

Kehadiran Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid sudah ditunggu-tunggu anak-anak yatim piatu dan ibu-ibu janda serta para dhuafa, fakir, miskin yang hadir di gedung Wisma Jenderal Ahmad Yani Gresik, Jumat (1/6).

Cara Hj Sinta Nuriyah Kenalkan Kebangsaan ke Anak-anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Hj Sinta Nuriyah Kenalkan Kebangsaan ke Anak-anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Hj Sinta Nuriyah Kenalkan Kebangsaan ke Anak-anak

Dalam kesempatan ini, Sinta Nuriyah mengajak anak-anak secara aktif memahami empat pilar kebangsaan. Dengan sabar dan jiwa keibuan, Sinta mengajak anak-anak untuk memahami apa itu Indonesia. "Saya sadar, kita tinggal di negara apa? Dasar negaranya apa? Lalu apa semboyannya?" kata Sinta melempar pertanyaan kepada anak-anak dan ibu-ibu.

Tak sedikit anak-anak menjawab dengan pelan tapi pasti. Secara perlahan anak-anak menjawab kita tinggal di negera Indonesia. "Lalu apa dasar negaranya?" tanya Sinta berlanjut. Mereka menjawab Pancasila.

Ribath Nurul Hidayah

"Pancasila ada berapa?”

“Ada lima.”

Ribath Nurul Hidayah

“Siapa yang bisa menjawab akan dikasih hadiah sama Pak Direktur Semen Indonesia," pancing Sinta.

"Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata para hadirin dengan suara kompak.

Lalu yang terkahir, “Semboyannya negara Indonesia apa?” “Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu jua.”

“Yang beda apanya?" lanjut ibu negara ke-4 RI ini melontarkan pertanyaan. "Berbeda agamanya, sukunya, bahasanya, budayanya, adat istiadatnya, dan makanannya," kata anak-anak sambil dituntun oleh Sinta Nuriyah.

Terbawa kata makanan, istri almarhum Gus Dur ini rupanya mengetes anak-anak makanan di daerahnya. "Makanan khas Gresik apa saja?" “Nasi krawu, pudak, dan otak-otak bandeng.”

"Nanti Bu Sinta apa dibawakan pudak nggak?” Tanya Sinta dengan rasa senang karena anak-anak sudah tahu makanan khas daerahnya. Spontan anak-anak menjawab “Iya”.

Di penghujung acara Sinta membagikan satu persatu hadiah yang telah disediakan oleh PT Varia Usaha kepada anak-anak yang aktif dan merespon setiap pertanyaan. Di antara hadiah tersebut adalah tiga sepeda gunung, televisi, kulkas, kompor gas, dan lain-lain. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Hikmah, Warta Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 23 November 2017

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Untuk membantu meringankan beban bagi siswa-siswi miskin yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Wonosobo melalui program Nusmart memberikan bantuan kepada lima belas siswa-siswi di sekolah yang berada di Kabupaten Wonosobo.

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Berikan Bantuan Pendidikan Siswa Kurang Mampu

“Menjelang tahun pelajaran baru, dalam program Nusmart kami memberikan bantuan beruapa uang kepada siswa-siswi yang kurang mampu di 15 Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo. Bantuan itu sebagai upaya untuk meringankan beban  mereka ketika masuk sekolah,” terang Arif Alwashim Manager LAZISNU Wonosobo di kantornya, Selasa (23/7) lalu.

Agar panyalurannya benar-benar tepat sasaran, bantuan tersebut diberikan tidak kesembarangan siswa. Sebab siswa penerima bantuan mempunyai kriteria tertentu. “Kriteria penerima bantuan itu adalah siswa yang kurang mampu dan berprestasi. Karena dua kriteria itu bagi kami sangat penting. Sehingga mereka benar-benar merasakan akan manfaatnya,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Disebutkan, dari lima belas penerima bantuan dalam program numsart itu dibagi menjadi tiga. Untuk jumlah penerima SD ada lima siswa, Siswa SMP ada 5 siswa, kemudian untuk siswa SMA ada 5 siswa. Pembagian tersebut sudah dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Lazisnu.

“Nominal yang diberikan kepada siswa SD Rp. 200ribu, Siswa SMP Rp. 300ribu dan siswa SMA Rp. 400ribu. Jumlah itu sudah disesuaikan dengan kebututuhan siswa jelang masuk sekolah,” terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo Arifin Shidiq mengatakan, ptogram nusmart tersebut merupakan layanan beasiswa yang diberikan oleh LAZISNU kepada siswa, santri dan mahasiswa yang tidak mampu. Nusmart itu untuk memaksimalkan bantuan kepada siswa yang kurang mampu di bidang pendidikan.

“Setidaknya dengan diberi uang santuanan maka dapat membantu membeli perlengkapan buku ketika masuk sekolah. Karena kebutuhan jelang masuk sekolah itu cukup banyak, dan bagi siswa yang kurang mampu sangat membantu,” jelasnya.

 Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Tokoh, Warta Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

Agar Mudah Dikenali, Jamaah Diimbau Selalu Bawa Identitas Haji

Madinah, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah kejadian menimpa calon jamaah haji dari Indonesia. Seperti terpisah dari rombongan, hingga tersesat. Karenanya, menggunakan identitas haji sangatlah penting agar mudah tertolong dan bisa segera kembali ke penginapan.

"Kita berharap agar jamaah calon haji selalu memakai identitas haji," kata H Farmadi Hasyim kepada media, Jumat (4/9) pagi. Ia menceritakan ada salah seorang jamaah yang usianya sudah sepuh ternyata tersesat dan tidak bisa kembali ke asrama tempat menginap. Hal ini terjadi lantaran yang bersangkutan memang awam kondisi di Madinah, juga tidak mengenakan identitas seperti gelang maupun tas paspor.

Agar Mudah Dikenali, Jamaah Diimbau Selalu Bawa Identitas Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Mudah Dikenali, Jamaah Diimbau Selalu Bawa Identitas Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Mudah Dikenali, Jamaah Diimbau Selalu Bawa Identitas Haji

"Ketika yang bersangkutan ditanya, malah menjawab gelang dan tas paspornya sengaja disimpan di kamar karena takut hilang," kata Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya. Yang agak memprihatinkan, baik gelang dan tas paspor sengaja ia simpan lantaran akan diberikan kepada anaknya saat di tanah air. "Yang bersangkutan hanya membawa KTP, padahal itu bukan identitas yang bisa memudahkan bila terjadi hal yang tidak diinginkan selama proses haji," kata Kasi Haji Kementerian Agama Kota Surabaya ini.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping harus memakai identitas haji ke mana saja pergi, selama di Makkah dan Madinah calon jamaah juga harus memperbanyak minum dan mengonsumsi buah. "Cuaca di Madinah cukup panas berkisar 45 derajat selsius, karenanya banyak yang mimisan dan dehidrasi," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menghadapi cuaca yang demikian ekstrim tersebut, para jamaah juga diimbau untuk memanfaatkan botol kecil yang telah diberikan gratis selama di asrama. "Botol itu nantinya harus diisi air dan disemprotkan ke wajah, agar terhindar dari cuaca yang sangat panas, masker juga harus dikenakan jamaah selama berada di luar ruangan,” lanjut Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur ini.

Menaati sejumlah anjuran dan aturan saat disampaikan ketika manasik dan membaca buku panduan adalah di antara hal yang harus dilakukan jamaah. "Dan yang tidak kalah penting adalah doa dari keluarga dan masyarakat di Tanah Air," kata kandidat doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Karena meskipun telah mengikuti panduan yang ada, bukan jaminan jamaah dapat mengikuti rangkaian ibadah haji dengan baik dan sempurna.

"Jangan capek mendoakan kami yang sedang menunaikan ibadah haji," harapnya. Di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima, para jamaah juga diharapkan mampu merengkuh titel sebagai haji yang mabrur. "Ini penting demi kebaikan diri, keluarga, masyarakat bahkan bangsa Indonesia karena para penduduknya memiliki perilaku yang baik," pungkasnya. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Berita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 November 2017

Sufi Ajarkan Cinta dan Perdamaian

Nicosia, Ribath Nurul Hidayah. Dalam upaya menghidupkan ajaran Islam yang toleran, komunitas sufi di Siprus telah menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya dengan menyampaikan pesan perdamaian dan cinta untuk mengoreksi miskonsepsi tentang keyakinan mereka.

Sufi Ajarkan Cinta dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Sufi Ajarkan Cinta dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Sufi Ajarkan Cinta dan Perdamaian

“Ini merupakan ajaran Islam yang lebih fleksibel, dengan pandangan yang dapat diterima,” ? kata Thierry Zarcone, seorang sejarawan Perancis dan memiliki spesialisasi dalam bidang sufisme, kepada Agence France Presse (AFP) Ahad (3/11).

“Pada waktu yang sama, ? (Sheikh Nazim) berupaya menurunkan radikalisme di Amerika Serikat dan Eropa… dengan menunjukkan sufisme sebagai salah satu instrumen untuk melawan radikalisme.”

Ribath Nurul Hidayah

Kota Lefke di Siprus telah menjadi tujuan bagi ratusan orang Islam dimana, Sheikh Nazim ? (91) mursyid sufi Naqshbandiah menyampaikan dakwah tentang cinta sebenarnya kepada Allah.

“Dalam setiap agama, cinta merupakan kekuatan utama. Ketika anda mencintai, maka anda akan menghormati, kata Nazim dalam bukunya yang berjudul “Love”.

Ribath Nurul Hidayah

“Jika anda mencintai manusia, pada alam, dan pada binatang, ini berarti anda sudah berada di jalan yang benar,” kata putra syeikh Nazim, Bahauddine.

Komunitas Syeikh Nazim berasal dari Jerman, Turki, Swiss, AS, Turki dan Siprus. Banyak diantara mereka merupakan muallaf.

“Kami merupakan Muslim sejak lahir, sebagian merupakan muallaf. Kami tidak melakukan pemisahan,” kata Bahauddine.

Tarekat Naqshbandi-Haqqani, yang dipimpin oleh Sheikh Nazim juga berada di Istambul, Los Angeles dan Michigan, sedangkan komunitas yang paling aktif berada di Eropa, khususnya di London, tambah Bahauddine.

Pada 1990, tarekat Naqshbandi secara luas diperkenalkan oleh Sheikh Hisham Kabbani, salah satu menantunya.

Pada 2005, Kabbani memimpin pendirian sebuah dewan Sufi setelah terjadinya serangan London untuk menyampaikan suara mayoritas diam yang menentang kekerasan.

“Kami harus menjelaskan Islam kepada orang asing khususnya pada hari itu ketika banyak sekali ide tentang kekerasan,” kata Bahauddine.

“Jika anda melihat sejarah Islam ke belakang, apa yang diperintahkan, kita tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak, atau membakar rumah. Tidak ada alasan bunuh diri dalam Islam.? ?

“Ini adalah agama kami. Ini merupakan agama yang paling indah,tetapi berada di tangan yang salah.saya meminta maaf dengan sangat atas kejadian tersebut,” tambahnya.

Komunitas Sheikh Nazim menarik banyak Muslim yang mencari pencerahan jiwa dan ajaran Islam moderat.

Pada 2010, Sheikh Nazim menarik perhatian dunia ketika mendekati mantan Paus, Benedict XVI, selama kunjungannya ke Siprus, memeluknya sambil mengucapkan baik. Baik.”?

Dia juga mengatakan pada Benedict “Semoga tuhan memberkati Anda”, dan memintanya mendoakan dirinya “Doakan saya, saya sudah sangat tua.”

Dengan kedipan mata, Paus menjawab “saya juga sudah tua”.

Negara Siprus-Turki diperkirakan memiliki komunitas Muslim sekitar 300 ribu dengan aliran Sunni. Sufisme memiliki pengaruh yang kuat sebagai warisan dan perkembangan Islam disana. (onislam/mukafi niam)

Foto: Onislam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 24 Oktober 2017

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA

Karanganyar, Ribath Nurul Hidayah. Citra pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang ramah, toleran, dan menghargai budaya lokal dapat menjadi ikon pendidikan Islam pada masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini ditegaskan Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah, KH Abdul Ghaffar Rozin, pada acara rapat kerja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (17/4).

Menurutnya problema menguatnya radikalisme dan sikap intoleransi telah menjadi masalah bersama masyarakat ASEAN. Munculnya kelompok-kelompok radikal dan transnasional telah menjadikan suasana kehidupan beragama menjadi kaku, saling curiga, dan mengancam identitas kebangsaan. Hal demikian karena kelompok-kelompok tersebut cenderung menerapkan pemahaman tekstualis, mudah menyesatkan, dan tidak ramah terhadap budaya lokal.

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: Pesantren NU Bisa Jadi Ikon Pendidikan Islam di Era MEA

"Pesantren NU mempunyai peran strategis karena dalam kurun yang panjang mampu menunjukkan sebagai pusat pendidikan yang melahirkan kader-kader yang toleran, ramah terhadap budaya, sehingga menempatkan agama Islam sebagai rahmatan lil alamin," kata kiai muda yang biasa disapa Gus Rozin ini. 

Oleh karena itu model pendidikan pesantren NU saat ini banyak dilirik oleh negara-negara ASEAN untuk dikembangkan di negara masing-masing. Hal demikian setidaknya dapat dilihat semakin banyaknya santri-santri di pesantren NU dari negara-negara ASEAN tersebut.

Kondisi ini jika diantisipasi dengan baik, melalui dukungan berbagai pihak bukan tidak mungkin pesantren NU menjadi ikon pendidikan Islam pada era MEA. Bahkan sistem pendidikan pesantren NU dapat diduplikasi dan dikembangkan di berbagai kawasan ASEAN. Namun demikian, Gus Rozin mengingatkan, jika pesantren-pesantren NU tidak berbenah secara internal justru bisa saja sistem ini diambil dan dikembangkan negara-negara ASEAN yang lain dan kita tertinggal seperti kondisi yang terjadi pada sistem pendidikan non pesantren. 

Ribath Nurul Hidayah

"Dahulu negara-negara ASEAN belajar kepada kita, saat ini justru kita banyak tertinggal dengan pendidikan mereka. Oleh karena itu pesantren perlu meningkatkan tata kelola manajemen, kemandirian, dan citra lembaga yang bersih dan sehat, sehingga layak dijadikan rujukan pendidikan Islam negara kawasan ASEAN," terangnya.

"RMI NU sebagai asosiasi pesantren NU terus berusaha menjembatani kebutuhan dan meningkatkan daya dukung pesantren NU ini baik dari segi regulasi, pengembangan lembaga, manajemen agar pesantren NU dapat menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara," tegas Gus Rozin yang juga Rektor Institut Pesantren Matholiul Falah Pati. (M.Zulfa/Abu Choir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 September 2017

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah selama ini dianggap belum mampu mencegah munculnya sikap dan perilaku radikal di tengah masyarakat. Beberapa pelaku teror di Tanah Air, sebelumnya bahkan tercatat pernah mengikuti program deradikalisasi.

"Santoso yang (melakukan teror) di Poso itu juga merupakan hasil program deradikalisasi yang tidak berhasil," ungkap KH Salahuddin Wahid dalam Sarasehan Bela Negara yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (7/4/2017).

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Dalam sarasehan yang dihadiri ratusan pengasuh pesantren di Jombang itu, Gus Sholah mengungkapkan beberapa hal yang memicu kegagalan program deradikalisasi. Antara lain, program deradikalisasi cenderung bersifat insidental dan tidak terukur capaiannya. Juga, tidak adanya instrumen khusus dari negara dalam penanganan terorisme dan buruknya perlakuan terhadap para pelaku terorisme.

"Penjahat tidak mengenal kata jera. Demikian juga para pelaku terorisme. Sejumlah pelaku terorisme yang keluar dari penjara ternyata kembali melakukan aksi serupa setelah keluar dari penjara," ujar mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Gus Sholah, program pembinaan para napi menjelang masa bebas yang dijalankan oleh lembaga pemasyarakatan juga tidak padu dengan langkah kepolisian. "Saat narapidana menjalani asimilasi dan cuti menjelang bebas, BNPT masih melakukan monitoring secara terbuka, sehingga mengganggu para napi," tandasnya.

Untuk mengatasi hal itu, perlu dilakukan sinkronisasi dan memadukan langkah aparat yang terkait dengan penanganan terorisme. Demikian juga penanganan mantan kombatan yang ingin kembali hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka tidak kembali ke tengah masyarakat dari titik nol, tapi dari titik minus. Karena itu, harus mendapatkan dukungan dari semua pihak," tegas adik kandung Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid ini.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI Laksamana Pertama Muhammad Faisal, Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar, Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Roudhotu Tahfidzil Quran KH Masduqi Al-Hafidz, dan para pengasuh pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Pertandingan, Cerita Ribath Nurul Hidayah