Rabu, 27 Juli 2016

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro

Oleh Fathan Subchi



Istighotsah kubro tak hanya meninggalkan kekaguman sebab ratusan ribu orang berjubel dari berbagai kalangan. Kegiatan itu pun tak sekadar eksistensi sebuah jam’iyah yang menuntut perubahan radikal dan penuh paksaan. Istighotsah kubro ialah perenungan dan pencarian jawaban atas segala persoalan baik sosial, politik, agama yang berhubungan dengan negara dan kepentingan kebangsaan. Istighotsah kubro menyisakan pesan perdamaian, persatuan dalam bingkai perbedaan.

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro

Ketika seseorang telah mengakui diri sebagai Muslim tentu melekat pada dirinya kepercayaan bahwa semua (kekacauan) yang terjadi tidak lepas dari ketentuan Allah SWT sebagai Tuhan. Dari situ muncul kesadaran untuk merenungi segala persoalan secara arif tanpa memunculkan kekacauan dibidang lainnya. Maka, sikap intoleransi yang mewujud dalam berbagai bentuk, semisal, menyesatkan, mengkafirkan bukanlah suatu yang dibenarkan.

Ribath Nurul Hidayah

Merujuk pemikiran Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bahwa dalam berdakwah kita tidak diperkenankan menggunakan cara yang keras. Di zaman Rasulullah, larangan itu muncul ketika ada seorang sahabat yang mengancam akan membunuh anaknya jika tidak masuk Islam. Kemudian turunlah ayat la ikraha fiddin, yaitu jangan ada paksaan dalam agama (Islam) (www.nu.or.id).

Ribath Nurul Hidayah

Ulama NU paham betul ayat ini sehingga Istighotsah kubro tidak dilaksanakan secara sporadis dan memanaskan tensi kenyamanan publik. Kegiatan dalam rangka Harlah ke-94 Nahdlatul Ulama yang digagas oleh PWNU Jawa Timur itu sekaligus meneguhkan kesadaran bahwa ritual keagamaan tidak selayaknya dimanfaatkan sebagai eksistensi belaka. Buktinya tidak banyak media yang “membesar-besarkan” peristiwa tersebut dalam produk jurnalistiknya. Itu murni sebagai sarana berdoa, menjalin kemesraan dengan Tuhan secara berjamaah bersama jutaan makhluq-Nya.

Meminjam istilah KH Musthofa Bisri, pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, peristiwa sakral pada Ahad (09/04) lalu merupakan manifestasi wajah Islam yang saleh ritual dan saleh sosial. Yaitu sebuah sikap yang mampu mengadopsi semua kepentingan tanpa mencederai pihak lain. Sebuah ritual keagamaan yang dilandasi dengan balutan komitmen saling mengasihi sesama dan menghargai aneka perbedaan.

Merujuk pada artikel Fathurrahman Ghufron di harian Kompas (12/04/17) bahwa dalam kondisi perbedaan, rasa saling memahami (mutual understanding) akan membuat kita supaya selalu waspada diri untuk mencegah cara otoritarian dan despotik dalam menyampaikan ajaran agama. Dengan itu kita juga akan sadar untuk tidak mencaci dan memaki orang lain hanya karena berbeda pendangan atau kepercayaan. Sebab sajian yang seperti itu hanya akan memperbesar konflik horizontal yang mengancam keutuhan NKRI.

Dalam hal ini, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang keagamaan tetapi juga kenegaraan yang wajib kita jaga demi satu keutuhan. Demikian bisa kita lihat dalam maklumat yang dibacakan di dalamnya. (1) Menjaga agama dari hal-hal yang merusak (hifdzud din amma yufsid) adalah wajib, sebagaimana sebelumnya dilakukan oleh para ulama. (2) Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan (hifdzud daulah amma yufsid) adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini. (3) Menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran (amr bil-maruf wa nahy anil munkar) wajib ditegakkan secara bijaksana untuk menjunjung tinggi marwah agama dan martabat manusia demi kemajuan bangsa dan negara ini.

Tiga poin pertama gagasan syuriah PWNU Jawa Timur itu telah menegaskan bahwa (gagasan) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harta terbesar bangsa dan negara. Yang wajib dirawat dan dipertahankan sebagai ideologi dengan semangat keagamaan yang menyertainya. Selanjutnya itu disokong oleh tiga point berikutnya agar berbagai kepentingan harus dilaksanakan demi sebuah kesejahteraan untuk umat yang mashlahat.

Yaitu, (4) Seluruh pemimpin bangsa dan negara ini wajib menjalankan amanah dan menegakkan keadilan secara bersamaan sebagai prinsip untuk mencapai kebajikan bersama. (5) Menjaga umat (riayatul ummah) dari kebangkrutan moral adalah tanggung jawab yang wajib ditunaikan oleh seluruh pemimpin agama, bangsa, dan negara ini. (6) Seluruh komponen umat wajib untuk semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah sebagai bentuk tanggung jawab pribadi dan keumatan.

Terlihatlah bahwa Islam sesungguhnya tidak melulu tentang ibadah syar’i yang mengharuskan kita agar mengabaikan yang lainnya. Ibarat bangunan Islam adalah batu terakhir sebagai penyempurna suatu pondasi. Ia merupakan komponen untuk menciptakan kearifan yang penuh dengan damai dan ketentraman untuk tatanan kehidupan nyaman.

Maklumat Istighotsah Kubro mengingatkan kita pada amanat yang tidak disadari akan hilang. Yaitu berupa akal, kemampuan dan badan yang harusnya dibalut dengan akhlaq mulia. Sebagaimana diajarkan oleh Rasul dan para sahabatnya, yang rela hidup sengsara untuk kepentingan umat dan negaranya. Ada keseimbangan hubungan baik dengan Tuhan maupun antar sesama manusia. []

Penulis adalah Wasekjend DPP PKB dan Anggota F-PKB DPR RI



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren, Budaya, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

Rasa malu berkaitan erat dengan keberadaan orang lain. Rasa bersalah berkaitan erat dengan hati nurani atau iman dalam diri sendiri. Jika kita memiliki rasa? malu kepada orang lain tetapi tidak memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri, pastilah kita suka slintat-slintut alias berperilaku munafik.

Orang dengan tipe seperti itu tentu suka membangun image yang baik di depan orang lain karena malu dilihat jeleknya. Maksudnya bukan malu berbuat jelek, tetapi? merasa malu jika perbuatan jeleknya diketahui orang lain. Maka ketika tak ada orang lain, ia bisa berbuat apa saja tanpa perasaan malu karena ia berpikir tak ada orang lain yang melihat.

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Rasa Malu dan Rasa Bersalah

Perasaan bersalah juga tidak muncul dalam diri seseorang yang hati nuraninya tumpul karena tak pernah diasah. Atau imannya lemah karena tak pernah dipupuk. Hal ini bisa terjadi jika gagasan bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar hanyalah sebuah pengetahuan belaka yang tidak pernah diinternalisasikan dan? diaktualisasikan dalam diri seseorang. ?

Sikap terbaik tentu saja adalah seseorang harus memiliki rasa malu terhadap orang lain sekaligus memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri dalam arti positif. Hal ini seperti yang terjadi pada diri Rasulullah SAW sehingga beliau sebagaimana dikisahkan dalam kitab Al-Barzanji disebut syadidal haya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sebutan syadidal haya secara harfiah kebahasaan berarti “sangat pemalu”.? Secara konseptual psikologis sebutan itu berarti memiliki “rasa malu kepada orang lain sekaligus rasa bersalah? dalam diri sendiri”? karena kuatnya iman kepada Allah SWT. Dari perspektif tasawuf, Rasulullah SAW pastilah ma’rifah? billah sehingga selalu melihat Allah dimanapun berada. Jadi dalam hal? ini, syadidal haya”? bisa berarti tidak saja memiliki rasa malu kepada manusia, tetapi terlebih kepada Allah SWT.

Dalam kaitan dengan teori psikologi, Joseph Burgo dalam artikelnya berjudul The Difference between Guilt and Shame yang ditayangkan dalam situs psychologytoday.com pada tahun 2013, memberikan penjelasan tentang ketidaksamaan antara rasa? malu (shame) dan rasa bersalah (guilt) sebagai berikut:

“Guilt involves the awareness of having done something wrong; it arises from our actions (even if it might be one that occurs in fantasy). Shame may result from the awareness of guilt but apparently is not the same thing as guilt. Its a painful feeling about how we appear to others (and to ourselves) and doesnt necessarily depend on our having done anything.”



(Rasa bersalah menyertai kesadaran telah melakukan perbuatan salah; ia timbul dari tindakan-tindakan kita [bahkan bisa jadi kesalahan itu hanya dalam khayalan]. Perasaan malu mungkin muncul dari kesadaran akan perasaan bersalah tetapi? sebenarnya perasaan malu tidak sama dengan perasaaan bersalah. Rasa malu merupakan perasaan tidak nyaman tentang bagaimana kita dilihat orang lain (dan bagaimana kita dilihat oleh diri sendiri) dan hal itu tidak selalu bergantung telah melakukan sesuatu].

Dari penjelasan Joseph Burgo di atas jelaslah bahwa rasa bersalah bisa dibedakan dengan rasa malu dimana rasa malu terkait? dengan keberadaan orang lain termasuk keberadaan diri sendiri. Artinya rasa malu bisa tertuju pada orang lain, dan bisa pula sekaligus tertuju pada diri sendiri. Dalam konteks inipun, sebutan syadidal haya’ menemukan relevansinya karena menunjukkan rasa malu tingkat tinggi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya rasa malu merupakan bagian dari iman.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya: “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa rasa malu dan rasa bersalah yang bersumber dari iman saling berkaitan dan selalu ada secara bersama. Jika tidak, maka rusaklah kepribadian seseorang. Sebagai contoh adalah sebagaimana diuraikan di atas bahwa jika seseorang memiliki rasa malu kepada orang lain tetapi tidak memiliki perasaan bersalah dalam diri sendiri, pastilah ia? suka slintat-slintut. Ia bisa berbuat apa saja di belakang orang banyak tanpa perasaan malu karena ia berpikir tak ada orang lain yang melihat. Dalam hal ini ia mengingkari imannya bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Melihat petingnya rasa malu dan rasa bersalah dalam perilaku seseorang, maka pendidikan karakter, baik di rumah maupun di? sekolah,? harus memperhatikan kedua hal di atas. Artinya, seorang anak harus selalu dididik untuk memiliki perasaan malu kepada orang lain – dalam arti positif - sehingga mampu mengurungkan niatnya untuk berbuat jelek. Itulah sebabnya anak-anak harus selalu dicegah ketika memilih telanjang atau tidak bersedia mengenakan pakaian di depan umum sebab ini merupakan pendidikan terkait rasa malu. ?

Selain itu, ia juga harus dilatih memiliki perasaan bersalah – iman yang kuat -? di dalam dirinya sehingga ketika hendak berbuat kejelekan atau kemaskiatan mampu mengurungkannya meski tidak diketahui oleh siapapun karena meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan mendengar apapun yang dilakukannya. Itulah sebabnya anak-anak dilatih berpuasa dengan tidak makan dan minum meski tak seorangpun melihatnya ketika nekat berbuka sebelum waktunya. ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Tegal, Quote Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 Juli 2016

Sambut Maulid Nabi, Siswa MTs Ini Baca Shalawat Sebelum Ujian

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah 



Ada hal yang menarik saat pelaksaan ujian akhir sekolah (UAS) yang dilakukan oleh siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) YPM 1 Wonoayu Sidoarjo ini. Pasalnya, sebelum ujian dimulai, para siswa serentak berdiri tegap di dalam kelas. Bukan tanpa sebab, melainkan mereka sedang membaca Shalawat Nabi.

 

Sambut Maulid Nabi, Siswa MTs Ini Baca Shalawat Sebelum Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Maulid Nabi, Siswa MTs Ini Baca Shalawat Sebelum Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Maulid Nabi, Siswa MTs Ini Baca Shalawat Sebelum Ujian

Menurut Kepala MTs YPM 1 Wonoayu, Suhardi, shalawat dibaca mulai awal ulangan karena ada intruksi dari Yayasan MTs YPM Sepanjang, bahwa dalam rangka menyambut Maulid Nabi sampai peringatan Maulid Nabi pada 1 Desember mendatang, para siswa dan guru dihimbau agar bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Ribath Nurul Hidayah

"Pada kegiatan belajar atau ulangan ini, anak-anak membaca shalawat sambil berdiri. Harapannya anak-anak cinta kepada Nabi Muhammad, mau meneladani akhlak Nabi, sekolahnya jadi barokah karena sering membaca shalawat dan tentu di akhirat mendapatkan syafaat dari Rasulullah, Nabi Muhammad SAW," kata Suhardi, Kamis (23/11).

 

Ia menambahkan, setiap hari siswa MTs YPM 1 Wonoayu juga membaca surat Yasin dan membaca doa yang telah diberikan oleh yayasan yaitu doa sebelum belajar. Selain siswa, para guru juga dihimbau agar mengkisahkan perjuangan Rasulullah kepada umatnya. Agar para siswa tumbuh kecintaan kepada Nabi Muhammad.

Ribath Nurul Hidayah

  

"Untuk menyambut Maulid Nabi, Yayasan menginsturksikan kepada kami supaya memperbanyak membaca shalawat. Dan tanggal 9 Desember mendatang, ada peringatan Maulid Nabi di masjid-masjid," pungkasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Juli 2016

Foke harus Nonaktif Setelah Resmi di KPU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PWNU DKI Jakarta Dr. Ing Fauzi Bowo (Foke) yang saat ini mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta harus non aktif setelah ada pendaftaran secara resmi di KPUD. Pencalonan oleh beberapa parpol sifatnya masih internal dan belum resmi.

“Nanti setelah resmi terdaftar di KPUD kita non aktifkan, karena siapa tahu, pencalonannya belum tentu memenuhi persyaratan di KPUD,” tutur Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja kepada Ribath Nurul Hidayah, Selasa (6/3).

Foke harus Nonaktif Setelah Resmi di KPU (Sumber Gambar : Nu Online)
Foke harus Nonaktif Setelah Resmi di KPU (Sumber Gambar : Nu Online)

Foke harus Nonaktif Setelah Resmi di KPU

Beberapa parpol yang memiliki kesamaan pandang untuk mencalonkan Fauzi Bowo adalah Partai Golkar, PDS, dan PPP. Saat ini juga masih terdapat lobi dengan berbagai parpol yang belum menentukan sikap seperti DPIP untuk mendukung Foke.

Untuk menghindari konflik of interest, PBNU melarang adanya rangkap jabatan dengan jabatan politik atau jabatan sebagai pengurus harian partai politik. Jika ada pengurus NU yang mencalonkan diri dalam pilkada, mereka diharuskan untuk non aktif selama masa pencalonan tersebut.

Bagdja menjelaskan jika Fauzi Bowo memenangkan pemilihan gubernur DKI maka ia diberi waktu selama sebulan untuk mengundurkan diri. “Jika terpilih sebagai gubernur DKI, Ia diberi kesempatan untuk memilih jabatan sebagai ketua PWNU atau sebagai gubernur,” tandasnya.

Jika Foke yang merupakan putra Betawi ini memilih jabatan sebagai gubernur, maka ia harus mengundurkan diri atau diberhentikan dengan hormat lalu diadakan proses pergantian antar waktu atau melalui konferensi wilayah untuk meneruskan kepemimpinan NU di DKI.

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskan oleh Bagdja bahwa aturan ini tak bisa ditawar-tawar meskipun pengurus wilayah menyetujuinya secara aklamasi. Ia memberi contoh Bupati Bone Bolango Drs Ismet Mile MM yang terpilih sebagai ketua PWNU Gorontalo. “Meskipun ia terpilih secara aklamasi, tapi tidak disetujui oleh PBNU karena melanggar Peraturan Organisasi (PO). Jadi harus diganti dengan orang lain,” paparnya.

Kasus yang sama juga telah terjadi di beberapa cabang dan PBNU tidak memberikan konpromi. Namun larangan rangkap jabatan ini tidak berlaku untuk jabatan struktural birokrasi seperti menjadi dirjen atau sekjen departemen tertentu. (mkf)



Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional Ribath Nurul Hidayah