Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kunjungan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ke Sumatera Barat, Sabtu (9/1), mendapat sambutan meriah dari warga NU setempat. Ia dikawal oleh para anggota Barisan Ansor Serbaguna Kabupaten Padang Pariaman sejak mendarat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Kabupaten Lima Puluh? Kota.

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengatakan, di Kabupaten Lima Puluh? Kota, Kiai Said menghadiri kegiatan peringatan Peristiwa Situjuah. Selanjutnya menuju Pondok Pesantren Maarif As Saadiyah, Batu Nan Limo, Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Datang ke Sumbar, Ketum PBNU Kunjungi Pesantren-pesantren

Di pesantren yang dipimpin oleh Sudirman Syair Datuak Simulo Nan Balopiah itu Ketum PBNU dan rombongan berdialog dengan pengasuh Pesantren, PWNU Sumatera Barat, dan pengurus NU lainnya di Kabupaten Lima Puluh? Kota.

Ribath Nurul Hidayah

Dari sana? Kiai Said menuju Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan di Kabupaten Padang Pariaman. Di sini ia juga disambut setidaknya lima puluh kader GP Ansor berseragam lengkap.

Menurut Zeki Aliwardana, pengawalan oleh Banser ini langsung dikomandoi H Candra dari Satkorcab Banser Padang Pariaman dan merupakan? pertama dilakukan Pimpinan Cabang Ansor Padang Pariaman terhadap kunjungan Ketum PBNU ke Sumatera Barat.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena beliau mendarat di Kabupaten Padang Pariaman dan salah satu acaranya di Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Padang Pariaman, maka pengawalan dilakukan sejak kedatangan hingga ke berangkatan kembali ke Jakarta di BIM," kata Zeki Aliwardana, mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Kiai Said mengapresiasi kiprah GP Ansor Padang Pariaman. Ia juga memberikan semangat dan nasihat kepada organisasi pemuda NU ini agar istiqamah dalam berperan di tengah masyarakat.

"Walaupun singkat, tapi sebagai kader Ansor bersama Ketum PBNU seharian dalam mengiringi kegiatannya memiliki kesan sendiri. Mudah-mudahan mampu menambah spirit kader Ansor di Padang Pariaman untuk lebih meningkatkan perannya dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa," tambah Zeki Aliwardana. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 23 Februari 2018

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Belum selesai dengan permasalahan senjata kimia, kini muncul bukti baru bahwa Suriah secara sistematis menyiksa dan mengeksekusi sekitar 11.000 tahanan sejak awal pemberontakan.

Sebuah laporan yang dibuat oleh tiga mantan jaksa kejahatan perang menyebut kepada BBC bahwa ada bukti keterlibatan pemerintah. Namun Damaskus telah membantah klaim ini.

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan

Para peneliti mengamati ribuan gambar tahanan yang mati dan dilaporkan diselundupkan keluar dari Suriah oleh para pembelot.

Ribath Nurul Hidayah

Laporan ini muncul sehari sebelum perundingan damai dimulai di Swiss.

Ribath Nurul Hidayah

Konferensi di kota resor Montreux dipandang sebagai upaya diplomatik terbesar untuk mengakhiri konflik tiga tahun ini.

Lebih dari 100.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat perang.

Sistematis

Foto-foto mencakup periode dari awal pemberontakan tahun 2011 sampai Agustus tahun lalu.

Penyidik mengatakan sebagian besar tubuh dalam foto itu kurus, banyak yang telah dipukuli atau dicekik.

Salah satu penulis laporan, Profesor Sir Geoffrey Nice mengatakan kepada BBC bahwa skala dan konsistensi pembunuhan memberikan bukti kuat keterlibatan pemerintah yang dapat mendukung dilakukannya tuntutan pidana.

Ahli patologi forensik Stuart Hamilton juga memeriksa bukti-bukti ini dan mengatakan kepada BBC bahwa dalam gambar ia melihat sejumlah besar tahanan menderita kelaparan.

Dia mengatakan bahwa banyak dari mereka seolah-olah dalam keadaan terikat.

"Ada banyak tahanan yang dipukuli. Dan sejumlah lain yang jelas dicekik," katanya.

Wartawan BBC di Beirut, Jim Muir, mengatakan jika hal ini bisa dipercaya, laporan ini juga menunjukkan adanya dokumentasi sistematis dari mayat-mayat yang masing-masing diberi nomor.

Pemerintah Suriah belum mengomentari laporan itu, tapi membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia selama 34 bulan konflik. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 12 Februari 2018

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rukyatul Hilal atau melihat bulan di waktu petang pada tanggal 29 kalender Hijriyah selain dimaksudkan untuk menentukan awal bulan Hijriyah apakah terjadi besok atau lusa, juga bernilai ibadah (taabbudi) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazalie Masroeri kepada Ribath Nurul Hidayah di Jakarta, Selasa (9/8). "Namun rukyatul hilal harus dilakukan dengan ilmu," katanya.

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyatul Hilal sebagai Ibadah yang Ilmiah

Dikatakan, rukyatul hilal dapat mencapai kesempurnaan jika dipadukan dengan prinsip ilmiah (taaquli). Dalam hal ini rukyatul hilal akan dipandu dengan disiplin ilmu hisab (astronomi) dengan tingkat akurasi tinggi. "Sama dengan penentuan arah kiblat pun perlu ilmu," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada saat dilakukan rukyatul hilal, ilmu hisab berfungsi untuk menentukan kapan terjadinya konjungsi (ijtima’), yakni saat bulan berada antara matahari dan bumi, maka terjadi bulan baru (new-moon) atau bulan mati, dan wajahnya menjadi tidak nampak. Peristiwa ijtima merupakan batas secara astronomis antara bulan Hijriyah yang sedang berlangsung dengan bulan yang baru.

Ribath Nurul Hidayah

Ilmu hisab juga berfungsi untuk menentukan letak matahari terbenam, memperkirakan berapa derajat ketinggian, kedudukan, dan keadaan hilal, lama hilal diatas ufuk dan besaran cayayanya.

Hilal itu sendiri adalah bulan sabit atau dalam istilah astronomi disebut crescent, yakni bagian dari bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi.

Dikatakan Kiai Ghazalie, karena sifatnya sebagai ilmu, hisab akan terus berkembang dari masa ke masa. "Tidak ada itu istilah kitab hisab yang muktabarah," katanya.

Nah, rukyatul hilal bisa disebut sebagai observasi ilmiah yang juga berfungsi untuk menetapkan sebatas mana teori-teori dalam ilmu hisab tetap dipertahankan sembari merencanakan penemuan-penemuan baru.(nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 10 Februari 2018

2018 NU Award Jawa Timur Ikut Sertakan MWCNU

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Pelaksanaan NU Award yang dilakukan sejak tahun 2016 lalu terus berbenah. Tahun 2017 ini, dari 45 cabang NU se Jatim hanya 14 cabang yang siap mengikuti tahap seleksi. Setelah dilakukan verifikasi oleh tim, ada 10 cabang yang lolos dan masuk grand final.

Tahun lalu hanya kategori umum dan tahun ini ada lima kategori khusus yaitu pendidikan, kesehatan, pengkaderan, aspirasi politik dan ekonomi keumatan.

2018 NU Award Jawa Timur Ikut Sertakan MWCNU (Sumber Gambar : Nu Online)
2018 NU Award Jawa Timur Ikut Sertakan MWCNU (Sumber Gambar : Nu Online)

2018 NU Award Jawa Timur Ikut Sertakan MWCNU

Banyak cabang yang belum siap mengikuti beberapa tahap NU Award. Maka dari itu, di tahun 2018 akan diperpanjang waktunya. Pengumuman akan disebar bulan Jumadil Akhir, Rajab melakukan persiapan dan Syaban tim ferivikasi akan melakukan tugasnya sehingga Ramadhan bisa diumumkan pemenenang NU Award.

Masih banyak PCNU yang memiliki potensi, tapi tidak ikut serta NU Award dengan alasan waktu yang terlalu mendesak.?

"Misalnya PCNU Kabupaten Malang yang memiliki rumah sakit serta perguruan tinggi yang cukup baik," kata KH Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim dalam sambutannya di gedung PWNU Jatim, Jl Masjid Al-Akbar Timur no 9 Surabaya.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya itu, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini menyampaikan, tahun 2018 mendatang NU Award akan mengikutisertakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) atau NU tingkat kecamatan.?

Ribath Nurul Hidayah

"Setiap cabang mengirimkan MWC NU terbaik untuk diikut sertakan dan mengikuti proses NU Award serta akan menjadikan MWC NU terbaik se Jawa Timur," terangnya.

NU Award ini bagian upaya PWNU Jatim memberikan apresiaisi kepada PCNU yang telah melakukan kerja organisasi dan mencapai prestasi. Pengabdian di tengah masyarakat juga dilakukan dengan berbagai program yang telah disepakati lalu disosialisasikan. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan

Judul: Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur

Penulis: Abdurrahman Wahid

Penerbit: LKiS, Yogyakarta.

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan

Cetakan: I, Januari 2010

Tebal: xx + 134 halaman

Peresensi: Akhmad Kusairi

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai seorang anak bangsa, sosok Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur dalam perjalanan hidupnya telah banyak menyumbangkan tenaga maupun pikiran bagi berlangsungnya Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagian orang sudah tidak asing lagi dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama, politik dan sosial kemasyarakatan. Namun tahukah orang bahwa Gus Dur juga bisa menjadi sejarawan yang menguasai berbagai literatur tentang sejarah.

Hal ini lah yang membuat menarik hadirnya buku *Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur * ini. Dengan analisisnya yang jeli, kritis, unik, dan terbilang nakal, Gus Dur membuat dugaan-dugaan terhadap fakta-fakta sejarah masa lalu yang terjadi di Indonesia (baca: Nusantara). Orang mungkin akan terkaget atau setidaknya tergelitik membaca tafsir dan spekulasinya terhadap suatu peristiwa sejarah yang selama ini mungkin sudah umum dipercayai sebagai kebenaran sejarah, tiba-tiba digoyangnya sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang pun akan melakukan peninjauan ulang.

Ribath Nurul Hidayah

Penguasaan Gus Dur atas bentangan sejarah nusantara dibuktikan dengan perhatian atas berbagai lakon sejarah, dari Sriwijaya, hingga ke masyarakat Tapanuli Selatan di Medan. Tema-tema pilihan Gus Dur juga beragam dari kekuasaan, toleransi agama, etnisitas, demokrasi, bahasa, gerakan politik, gerakan agama, pertanian, LSM, gender, maritim, dan moralitas.

Penguasaan materi ini tentu dimiliki Gus Dur dengan pembelajaran intensif melalui pembacaan buku, diskusi, atau kunjungan ke pelbagai situs sejarah. Gus Dur dalam sisi ini tampil sebagai intelektual yang peka terhadap sejarah. Modal ini memberikan kontribusi untuk proyek penulisan sejarah nusantara secara komprehensif.

Kejelian dan keberanian Gus Dur dalam menganalisis terlihat misalnya dalam Cerita mengenai pasukan China yang bersama-sama Raden Wijaya mengalahkan pamannya Jayakatwang. Dalaam buku ini Gus Dur menulis bahwa Bukan Kubilai Khan dan pasukannya yang menyerang Jayakatwang yang dibantu Raden Wijaya, melainkan Raden Wijayalah yang dibantu pasukan China di bawah perwira-perwira angkatan laut yang beragama Islam (sebagai-mana Laksamana Ma Chengho/Ma Zenghe, pendiri Singapura). Pendirian ini pun masih harus ditambah dengan perbedaan yang lain, yaitu tentang motivasi penyerangan: balas dendam, perluasan kekuasaan, soal agama, atau yang lain. Dalam kasus ini Gus Dur mengingatkan betapa pentingnya membaca sejarah lama kita dengan berbagai macam-macam versi, versi agamakah atau versi pertentangan akibat ambisi pribadi? (hal 21)

Dalam soal kaum modernis yang cenderung memaksakan perubahan Gus Dur mencontohkan betapa di tanah Batak bagaimana gereja Kristen Protestan di tanah Batak yang mengusulkan agar seorang pemimpin adat, yaitu Sisingamangaraja XII agar diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Di sini tampak penghargaan dari sebuah gerakan agama, Gereja untuk menghargai seorang Raja adat. Menurut Gus Dur, dalam kasus di atas terlihat jelas hubungan simbiotik antara Raja Adat dan gerakan keagamaan, karena keduanya adalah institusi yang berakar menjadi tradisi yang kemudian menjadi satu kesatuan dalam hubungan saling mendukung dan memberikan legitimasi. (hal 118)

Melihat analisinya yang cerdas sepertinya Gusdur sudah sangat familiar dengan sumber-sumber bacaan semacam, *Nagara Kertagama*-nya Prapanca*, Serat Centhini, Serat Cebolek, Babad Tanah ]awi, Babad Diponegoro, Kidung Kebo, Pakem Kajen. *Di samping itu pendapat ahli-ahli sejarah semacam Dr Taufik Abdullah, Yan Romien (Belanda), Charles Issawi (Libanon), Mohamad Yamin, Kuntowijoyo, hingga ahli purbakala, R. Boechori. Tentunya di sini ditambah dengan hasil olah pikirannya sendiri.

Ada cerita tentang asal usul kedatangan orang Arab dan China ke Indonesia; tentang Pangeran Diponegoro; tentang Kerajaan Banten; tentang penyerangan Sultan Agung ke Batavia, dan masih banyak lagi. Tapi yang lebih menarik, di samping melakukan penafsiran-penafsiran, Gus Dur hampir selalu bisa mengaitkan cerita-cerita sejarah lama itu dengan kehidupan masa kini; seperti mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan per-kembangan PKB (yang dipimpinnya), mengaitkan pemerintahan Mesir Kuno zaman Pharao/ Firaun dengan kejadian di pemerintahan Jepang di bawah PM Kaizumi dan soal otonomi daerah; mengaitkan kisah Jaka Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat.Cerita-cerita sejarah masa lalu semacam itu masih banyak lagi dilihat dan diceritakan Gus Dur.

Dan Gus Dur bukanlah Gus Dur bila dalam ber-bicara tidak menyelipkan kritik. Maka kita tak heran bila di sana-sini, dalam tulisan-tulisannya, kita temu-kan saja kritik-kritiknya yang tajam yang umumnya juga tidak melenceng dari prinsip-prinsip dasar yang diyakininya. Misalnya, dia dengan tajam terus meng-kritik pemerintah: mengkritik politisi yang hipokrit dan mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok-nya, mengkritik pejabat-pejabat korup, mengkritik sikap keberagamaan yang terlalu formalitas, dan sudah barang pasti mengkritik MPR/DPR yang dianggapnya melanggar UUD 1945 dengan menyelenggarakan SI untuk melengserkannya kemarin.

Gus Dur dalam kapasitast sebagai seorang ilmuan yang *melek* sejarah merasa ada keganjilan ketika harus mengisahkan sejarah tanpa jejak literatur. Keterbatasan ini mungkin diakibatkan oleh ketidaksadaran penulisan sejarah pada masa lalu. Konsekuensi dari kealpaan ini adalah pelacakan dan penyingkapan sejarah melalui sumber-sumber lisan.

Memang secara ilmiah kesahihan sumber lisan ini bisa diragukan, tapi juga membuka kemungkinan untuk memunculkan perbandingan kritis dengan sumber tertulis walaupun sedikit. Usulan ini diajukan karena Gus Dur sadar ada kemiskinan sumber sejarah untuk lebih mengetahui kebenaran yang sudah terlepas dari bau dongeng atas sebuah pristiwa sejarah.

Terlepas dari semua kekurangannya, buku ini tetep merupakan sumbangan terpenting Gus Dur untuk bangsa Indonesia untuk lebih mengenal lagi kisah masa lalu. Publik harus mengapresiasi warisan esai ini secara konstruktif dan kritis. wacana sejarah Gus Dur sangat gamblang dan memukau, tapi ada esai-esai tertentu mengesankan keterbatasan Gus Dur dalam mengolah sumber informasi dan tidak lihai dalam analisis.

Akhirnya Buku ini harus dibaca sebagai refleksi kritis terhadap sejarah kita. Usaha Gus Dur dalam menulis kumpulan esai ini menjadi bukti keunggulan Gus Dur dalam membongkar wacana-wacana yang sudah telanjur menjadi dongeng.

*Akhmad Kusairi adalah peneliti pada The Al-Falah Institute YogyakartaDari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Persaudaraan

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah . Istilah halal bihalal banyak digunakan masyarakat Indonesia saat berkumpul dengan sanak saudara dan kerabat seusai perayaan Idul Fitri. Meskipun mengandung unsur bahasa Arab, kata halal bihalal tidak ditemukan dalam kamus Arab modern maupun klasik.

“Halal bihalal hanya merupakan penyebutan khusus terhadap sebuah tradisi yang dikembangkan secara mandiri? oleh masyarakat muslim Indonesia, dengan makna menguraikan kekusutan tali persaudaraan,” ungkap KH Niamillah Aqil, pengasuh Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (Khas) Kempek Cirebon pada acara Halal Bihalal Ke-9 Ikatan Santri dan Alumni Astanajapura (Istajap) di Halaman Madrasah Diniyah Wathoniyah Desa Rawaurip Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Sabtu (2/8) malam.

Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Persaudaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Persaudaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Persaudaraan

Kiai Niam melanjutkan, kata halal bihalal bisa disasarkan pada asal bahasa halla-yahallu-hallan, dengan makna terurai atau terlepas. Dengan arti, halal bihalal merupakan sebuah media untuk mengurai kekusutan hubungan persaudaraan dengan saling memaafkan pada saat hari raya Idul Fitri.

Ribath Nurul Hidayah

“Misal saja, selama setahun sebelum Idul Fitri di tengah-tengah kita terjadi kesalahpahaman, atau banyak kesalahan-kesalahan lain yang dilakukan secara sengaja maupun tidak di antara sesama, maka halal bihalal ini adalah waktu untuk menguraikan keruwetan yang tentu mengganjal hati tersebut. Dengan cara meminta maaf dan juga memaafkan,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan mengapa istilah halal bihalal hanya berlaku setelah Idul Fitri, Kiai Niam menambahkan, hal tersebuut juga karena memiliki hubungan kuat dengan makna lafal Idul Fitri, yakni perayaan kembalinya manusia pada kesucian.

Idun berarti suatu perayaan yang diulang-ulang, sedangkan fitri bermakna suci. Maka Idul Fitri merupakan perayaan kembalinya manusia terhadap kesucian yang itu hanya bisa diraih dengan memperoleh ampunan dari Allah swt, dan mendapatkan maaf dari sesama manusia,” ujar Kiai Niam.

Selain Kiai Niam,? hadir pula KH Muhammad Bin ja’far yang menyampaikan sambutan atas nama Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Menurut Obid Qobidurrizki, Ketua Panitia, acara yang dihadiri ratusan santri, alumni dan warga setempat ini merupakan sebuah wahana siaturrahmi sekaligus media syiar kepesantrenan secara langsung di tengah-tengah masyarakat. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Ini Perbedaan Aswaja NU dengan Aswaja yang Lain

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. KH Ahmad Nadlif Mujib menyatakan perbedaan antara Aswaja NU dengan Aswaja yang lain. Menurut kiai muda yang kerap disapa Gus Nadlif itu antara Aswaja NU dengan yang lain sama-sama menyatakan ummatan wasathan (umat moderat).?

“ISIS juga mengklaim dirinya moderat,” paparnya dalam Apel Siaga Banser Jepara yang berlangsung di Pesantren Hadziqiyah, Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Sabtu (13/5) siang lalu.?

Di samping itu, kata Instruktur Nasional PP GP Ansor, Aswaja NU dengan yang lain sama mengaku golongan yang selamat yakni Ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja).?

Ini Perbedaan Aswaja NU dengan Aswaja yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Perbedaan Aswaja NU dengan Aswaja yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Perbedaan Aswaja NU dengan Aswaja yang Lain

Ada pun sisi perbedaannya urai Gus Nadlif, Aswaja NU punya manhaj (cara) atau metodologi yang jelas. Kiai asal Pati itu mengajak Banser agar tidak membedakan kiai NU dengan ustad kelompok yang lain.?

“Jangan bedakan Mbah Moen dengan ustad muallaf dong,” tegasnya yang enggan menyebut nama ustadz tersebut.?

Ribath Nurul Hidayah

Mbah Moen paparnya, sanad dan keilmuan di bidang Al-Quran dan hadist jelas. Sedangkan ustadz yang bilang nasionalisme tidak ada dalilnya, sebut Gus Nadlif hanya berpedoman pada terjemahan.?

Dalam apel yang dihadiri oleh ratusan Banser se-Kabupaten Jepara juga KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara sebagai komandan apel, pengasuh pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu Pati ini menambahkan perbedaan yang ketiga adalah berkaitan soal mayoritas.?

“Aswaja NU kita ini adalah kelompok mayoritas tetapi mereka (aswaja yang lain, red) berusaha mengganti mayoritas di dunia internet,” ungkapnya penuh keprihatinan.?

Untuk itu pihaknya di jajaran pengurus pusat terus memutar otak agar Aswaja NU mayoritas di dunia nyata juga di dunia maya. (Syaiful Mustaqim/Zunus)?

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Pemurnian Aqidah, Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Mashum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Di Desa Gandrirojo dulu terkenal dengan budaya joget (tarian Melayu tradisional), kelompok pemain joget pun berdatangan untuk menghibur masyarakat pada saat itu. Dan pada suatu hari di jalan perempatan desa setempat ada kelompok joget yang datang, kemudian Mbah Dimyathi menghampiri, dan kemudian gendang/kendang (instrumen dalam gamelan) ditendang oleh beliau sambil berkata "Lereni nang mire!" (berhenti dan bubar). Spontan penonton bubar dan pemain joget bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa terucap satu kata pun.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam sebuah cerita menyebutkan, bahwa Mbah Dimyathi merupakan orang yang gampangan (mudah) jika dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan hanya di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan saja yang merasakan jasa beliau, melainkan juga masyarakat luar daerah.

Beberapa peninggalan yang masih dapat diketahui hingga saat ini adalah Masjid Jami Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masjid yang berada di tengah desa tersebut berdiri begitu kokoh dengan arsitek kuno yang begitu mencolok.

Ribath Nurul Hidayah



Menuntut Ilmu hingga ke Makkah


Ulama yang satu ini memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.

Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa? Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).

Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau. Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.

Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).



Punya Santri dari Kalangan Jin


Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH Mawardi Gandrirojo, KH Ghozali Gandrirojo, KH Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH Sidiq Narukan, KH Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH Suyuti Menoro, KH Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH Darkum Gambiran, KH Maskur Galengan, KH Shodiq Ngroto, KH Mastur Lemahputih, Kiai Nuh Dadapan, Kiai Mawardi Macanireng, Kiai Barhud Bonang, KH Joned Bonang, KH Sendang Agung Pamotan, dan lain sebagainya.

Pada masa puncak keemasannya, Mbah Dimyathi memiliki 1000 santri dari berbagai penjuru, sehingga rumah beliau dibuat sekat-sekat kamar untuk menginap santri-santrinya. Ada yang menceritakan, Mbah Dimyathi juga memiliki santri dari kalangan jin. Jin tersebut merupakan bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Beberapa jin yang menolak ajakan beliau untuk masuk Islam pergi dari tempat tersebut, dan sebagian lagi mengikuti ajakan beliau.



Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur


Menguak kealiman dan kesohoran ilmu beliau tidak akan pernah luput dari proses belajar beliau di beberapa pesantren ternama di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang. Di sanalah Mbah Dimyathi mendalami pendidikan ilmu agama kepada ulama besar Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari.

KH Hasyim Asyari yang merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Nusantara juga turut menularkan loyalitas beliau dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Pernah dua kali KH Hasyim Asyari berkunjung ke rumah Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo, yang pertama karena rasa penasaran beliau tentang sosok karismatik dan alimnya Mbah Dimyathi. Kemudian kunjungan yang kedua oleh KH Hasyim Asyari adalah saat akan dilaksanakannya seuah pertemuan di Blora kira-kira tahun 1927/1928 M. Mbah Hasyim mengajak sang murid untuk mengikuti acara tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua dengan ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yakni Mbah Mashum.

Mbah Dimyathi termasuk salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Ia? bersama dengan adiknya (Mbah Mashum) juga pernah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu. (Aan Ainun Najib)

Sumber :

1. Catatan KH Sahlan M Nur, hasil cerita dari KH Mawardi Alm (menantu Mbah Dimyathi)

2. Wawancara KH Sahlan M Nur (27 Januari 2016)

3. Wawancara KH Muhdi Mawardi, cucu Mbah Dimyathi (27 Agustus 2016)

4. Wawancara KH Saefuddin (27 Agustus 2016)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Senin, 08 Januari 2018

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah”

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengadilan tertinggi Malaysia menolak gugatan atas pelarangan penggunaan kata "Allah" yang merujuk ke Tuhan bagi umat Kristen.

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah”

Gugatan itu dilayangkan oleh Gereja Katolik yang selama ini paling keras bersuara mengenai larangan penggunaan kata "Allah". Demikian dilansir oleh situs BBC Indonesia.

Tetapi, Pengadilan Federal mengatakan pelarangan yang menguatkan putusan Pengadilan Rendah pada 2013 lalu merupakan keputusan yang benar.

Ribath Nurul Hidayah

Kasus mengenai penggunaan kata "Allah" bermula ketika Kementerian Dalam Negeri Malaysia melarang surat kabar Katolik berbahasa Melayu, The Herald, menggunakan kata "Allah" yang merujuk Tuhan pada 2007 silam.

Ribath Nurul Hidayah

Pada 2009, Pengadilan Tinggi memutuskan umat Kristen dan Katolik berhak menggunakan kata tersebut tatkala merujuk Tuhan.

Namun, pada 2013, Pengadilan Rendah mengubah putusan tersebut sehingga umat Kristen dan Katolik kembali tidak diperbolehkan menggunakan kata "Allah".

Kontroversi

Kasus yang kontroversial ini sempat memicu debat dan juga serangan terhadap masjid dan gereja.

Umat Kristen berpendapat mereka dapat menggunakan kata "Allah" dalam bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab untuk menyebut Tuhan. Pelarangan justru melanggar hak mereka.

Namun, otoritas Malaysia mengatakan jika kata Allah digunakan oleh umat Kristen, umat muslim akan bingung dan menyebabkan sejumlah orang pindah menjadi pemeluk Kristen.

Umat muslim di Malaysia merupakan mayoritas, mencapai dua pertiga dari seluruh populasi negara tersebut. Meski demikian, komunitas Hindu dan Kristen cukup besar. (mukafi niam) 

foto: Reuters

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Ribath Nurul Hidayah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

Ribath Nurul Hidayah

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Pemurnian Aqidah, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Kebebasan agama dan gerakan takfir (eks-komunikasi) adalah dua hal yang sangat berbeda bahkan bertentangan. Kebebasan agama mensyaratkan pengakuan akan hak pribadi seluruh orang untuk meyakini dan tidak meyakini sebuah ajaran agama. Sementara takfir merupakan upaya menjaga integritas keimanan umat beragama.

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama

Hal tersebut dikatakan Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim saat memberi sambutan pada seminar "Kebebasan Beragama, Gerakan Takfir, dan Deradikalisasi" di lantai 8 Gedung PBNU, Senin (22/2) siang.

"Dalam konteks negara teokratis, kebebasan agama biasanya dijamin oleh negara dalam batas-batas konstitusi mereka," ujar Syafiq yang juga pengurus LBM PBNU ini.

Di Saudi Arabia, lanjut dia, orang-orang non-Muslim dibolehkan untuk mempraktikkan agama mereka namun kebebasan mereka diatur oleh Konstitusi Saudi Arabia yang berasas lslam.

Ribath Nurul Hidayah

"Artinya, yang dijadikan standar adalah iman negara bersangkutan. Di negara sekuler, kebebasan agama dijamin sepenuhnya. Orang tidak hanya dijamin untuk berbeda agama, namun juga berbeda keyakinan. Di Jerman, warga Ahmadiyah memiliki hak setara dengan kaum Sunni dan Syiah kendati kalangan mayoritas tidak bisa menerima sepenuh hati," paparnya.

Menurut dia, seminar tersebut hendak mencari proyeksi-proyeksi ke depan tentang pilihan hubungan antara agama dan negara dalam kebebasan beragama serta peran apa yang bisa dimainkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Ribath Nurul Hidayah

Seminar yang digelar dalam dua sesi ini menghadirkan beberapa narasumber. Untuk sesi pagi, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud, dan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.

Untuk sesi sore, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, peneliti LIPI Jaleswari Pramodhawardhani, Direktur Rumah KITAB Lies Markus, dan Ketua Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SeJuk) Ahmad Djunaidi. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Wonosobo, H Kholiq Arif mengingatkan tentang sejarah Resolusi Jihad yang berujung dengam disepakati menjadi Hari Santri, ia mngatakan, Hari Santri menjadi tolak ukur bagaimana perjuangan santri hari ini sudah mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Hari Santri menjadi salah satu penghargaan atas perjuangan para santri.?

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

"Santri dalam sejarahnya memiliki peran besar dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, Santri menjadi garda terdepan dalam memerangi penjajah, Alhamdulillah sekarang para kaum santri sudah mendapatkan apresiasi dari pemerintah, ujarnya dalam orasi ilmiahnya di Gedung Adipura Wonosobo, Senin (26/10/2015).

Ia menambahkan, "kaum sarungan" hari ini harus tetap berjuang dan berjihad, pasalnya, tantangan globalisasi ke depan semakin kompleks. Untuk itu para santri dituntut cakap dalam segala hal, bukan hanya soal agama, tetapi politik, teknologi bahkan tantangan sosial.

Ribath Nurul Hidayah

Bupati yang berakhir 30 Oktober 2015 mendatang, mengungkapkan, bahwa santri harus mampu bersikap moderat dan toleran dengan semakin banyaknya penjajah yang ingin merongrong lesatuan dan lersatuan umat Islam.?

Ribath Nurul Hidayah

"Jihadnya kaum santri, tidak merasa benar sendiri dan tidak mengkafirkan, mengfitnah dan menghasut orang yang berbeda pendapat dengan kita," katanya kepada ribuan santri.

Untuk itu, ia berharap, ke depan kaum santri mampu menjadi mujtahid, yang selalu berjihad dalam konteks agama, sosial, politik bahkan ekonomi. Hal ini dipandang penting mengingat tantangan zaman semakin kompleks.

Hal senada diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Wonosobo, KH Abdul Halim yang mengungkapkan, santri hari ini harus mampu terbuka atas segala kemungkinan, oleh karenanya santri harus mampu menerapkan prinsip Aswaja.

"Santri harus mampu menerapkan konsep tawazun, tawasuth, tasamuh, dan taadul agar santri tidak terjerumus saling sesat menyesatkan bahkan mengkafirkan."

Akhmad Fadlun, ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah ( FKDT) Wonosobo, mengingatkan melalui Ikrar Santri, menurutnya dengan dibacakanya Ikrar Santri diharapakan mampu mendarah daging terkait perjuangan kaum santri yang telah berjuang merebut NKRI dari penjajah,?

"Dengan mengucapkan Ikrar Santri, diharapkan mampu menjadi sumber kekuatan bagi kaum santri untuk selalu setia kepada NKRI, taat kepada Pancasila dan UUD 1945," katanya. (Alfan Nurngain/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Desember 2017

Perihal Masa Depan yang Misterius (III)

Oleh Mh Nurul Huda

Berbicara tentang masa depan atau menyatakan Islam agama yang berorientasi masa depan, betapapun dilakukan secara relatif seksama dan hati-hati, tampaknya bukanlah tanpa “risiko”. Berbeda halnya bila kita membicarakan hal ini dalam praktik hidup sehari-hari, atau dalam ilmu-ilmu sosial, atau dalam lingkup yang sedapat mungkin bersifat holistik.

Perihal Masa Depan yang Misterius (III) (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Masa Depan yang Misterius (III) (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Masa Depan yang Misterius (III)

Risiko tak dapat dihindari dalam hidup. Tetapi budayawan Dr Mohamad Sobari mengingat kita arti sebuah keberpihakan: Anda harus bersikap arif dalam memandang kehidupan; Anda mungkin saja “tidak benar” tetapi yang pasti Anda tidak boleh salah. Pesan ini amat berharga, meski terdengar ambigu seperti ambigunya kenyataan-kenyataan hidup yang kita alami dan terpaksa kita terima.

Dalam kenyataan yang hidup, kita dapat menyaksikan baik perseorangan maupun lembaga modern (entah yang bersifat umum ataukah keagamaan) giat membuat perencanaan-perencanaan di awal tahun kerja untuk masa depannya. Diantara mereka mungkin sedang berada dalam kondisi krisis dan tak menentu, lalu muncul kehendak kolektif dan sadar untuk mengatasi keadaan yang dialami. Mereka mengelola dan mengantisipasi perubahan-perubahan serta merencanakan masa depan-masa depan alternatif yang mereka inginkan (preferable futures) dan diinginkan lembaga atau masyarakatnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mahasiswa pengantar sosiologi di kelas saya mengetahui hal itu via Dalil Thomas yang mengatakan: If men define situations as real, they are real in their consequences. Bila orang menafsirkan sebuah situasi dalam gambaran tertentu yang kemudian membimbing tindakannya, maka konsekuensi gambaran itu menjadi nyata. Kisah Karyati yang perempuan, tua renta dan orang kecil dalam esai ini dihadirkan sebagai salah satu kasus.

Perihal Masa Depan yang Misterius (II)

Ribath Nurul Hidayah



Karyati adalah contoh individu, tetapi ini juga berlaku pada masyarakat atau komunitas. Masyarakat yang tanpa tujuan, tanpa impian masa depan, akan hanyut terseret arus dari masa depan yang tak diinginkannya menuju masa depan berikutnya yang kurang lebih serupa. Begitu pula komunitas yang terus-menerus sekadar bereaksi terhadap satu perubahan ke perubahan berikutnya akan berjalan hidup dari krisis ke krisis. Terus menerus demikian tertimpa krisis hingga akhirnya putus asa dan fatalis.

Sebelum ada demarkasi dalam ilmu sosial, ilmu pengetahuan (science) belum berpisah jalan dengan filsafat dan filsafat belum cerai dari teologi, demikian kata sejarawan dan sosiolog terkemuka Fernad Braudel dan Immanuel Wallerstein, para pemikir kuno (filsuf) biasa berkonsultasi dengan teks-teks keagamaan dan kearifan-kearifan tradisi lisan. Maka ijinkanlah sekarang saya berkonsultasi dengan salah satu tradisi itu, yakni ajaran dan pandangan dunia Islam, tentang kesadaran masa depan.

Al-Quran mengingatkan kita pemeluknya untuk menyadari sejarah orang-orang terdahulu dan masa depan mereka. Ittaquu maa baina aidiikum wa maa khalfakum la’allakum turhamuun, berhati-hatilah mengenai apa yang ada di hadapanmu dan apa yang datang supaya engkau mendapatkan rahmat (Surat Yasin, Ayat 45). Tak syak lagi di sini Al-Qur’an juga mengandung gagasan mengenai masa depan dan terkait erat dengan konsep “akhirat”.

Akhirat adalah konsep waktu dalam Islam, kata Ziauddin Sardar, tetapi bukan konsep waktu yang berjalan maju secara linear seperti dipikirkan oleh filsafat rasionalis dan materialistik. Waktu dalam Islam adalah suatu hamparan di mana waktu duniawi dan waktu abadi terjalin bersama. Hidup kita sekarang adalah waktu dunia yang sementara, sedangkan akhirat adalah waktu abadi.

Semua muslim meyakini, kehidupan ini tidak berakhir setelah kematian. Semua perbuatan di dunia fana akan berdampak pada kehidupan kemudian. Kelak mereka harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Ini berarti waktu masa depan dalam Islam adalah (1) mencakup waktu dunia dan waktu akhirat; dan (2) masa depan adalah waktu pertanggungjawaban (akuntabilitas).

Nabi Muhammad adalah contoh yang baik mengenai pentingnya kesadaran masa depan. Ketika memutuskan hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia melakukannya dalam rangka mengantisipasi aneka kemungkinan masa depan yang akan dihadapinya dan para pengikutnya. Kita belajar bagaimana ia memahami benar situasi mutakhirnya waktu itu, baik yang dialaminya secara internal (di tinggal wafat sang paman yang setia melindunginya) maupun lingkungan sekitarnya (permusuhan dan ancaman kaum Quraish yang mengeras). Hijrah itu direncanakan secara seksama, jalurnya diamati selama beberapa bulan dan dipastikan aman dari hadangan tentara Quraish. Seorang pemimpin punya tanggung jawab.

Terkait dengan akuntabilitas dan masa depan, kita memiliki konsep khalifah fil ardl. Manusia diberikan hak menjadi “pengganti Allah” atau wakil Allah di muka bumi. Tentang tanggung jawabnya, Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa khalifah adalah:

“. . . [F]ungsi kemasyarakatan yang mengharuskan kaum muslimin untuk senantiasa memperjuangkan dan melestarikan cita hidup kemasyarakatan yang mampu menyejahterakan manusia itu sendiri secara keseluruhan dan tuntas. . . diharuskan untuk menentang pola kehidupan bermasyarakat yang eksploitatif, tidak manusiawi serta tidak berasaskan keadilan dalam artian yang mutlak” (tambahan cetak miring dari saya sendiri).

Di tempat lain, Gus Dur mengatakan kehidupan adalah amanah yang dianugerakan Allah kepada manusia. Dan karena itu sudah sepantasnya manusia memelihara amanah tersebut (himayah). Itulah mengapa kelestarian bumi dan kesejahteraan umat manusia harus diwujudkan untuk generasi masa depan dalam keadaan yang baik, bahkan bila mungkin lebih baik, daripada sebelumnya. Seperti dinyatakan dalam Al-Quran: Wa an-laisa lil-insani illa ma sa’aa. Dan bahwa seorang tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (An-Najm, ayat 39).

Belajar dari kisah-kisah ini, baik kisah orang kecil maupun orang besar, ada sesuatu yang dapat kita pelajari (ini juga berlaku bagi diri penulis sendiri). Jembatan antara masa lampau dan masa depan bukanlah sekadar gambaran mengenai masa depan dan tindakan masa kini (sekarang dan disini), melainkan juga suatu etika, tanggung jawab dan akuntabilitas. [bersambung]

Penulis adalah Dosen Sosiologi UNU Indonesia, Jakarta



Perihal Masa Depan yang Misterius (I)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Nasional, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Desember 2017

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Berkaitan dengan banyaknya pernikahan usia dini, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Sholeh mengatakan anak-anak memiliki hak-hak yang masih perlu diperhatikan, meliputi kesehatan fisik, mental dan reproduksi.

Demikian disampaikannya saat dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Kamis (28/4) lalu. Menurut Asrorun Niam, pernikahan tidak sekadar memenuhi kebutuhan seksual, tetapi ada tanggung jawab di dalamnya. Untuk itulah diperlukan usia kecakapan menikah.?

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.?

Walaupun ? pada Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan mengatur usia minimum anak perempuan untuk menikah ialah 16 tahun, karena masih di bawah 18 tahun, maka ia tetaplah anak yang harus dilindungi oleh keluarganya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu menurut Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan, ”Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak,” jelas mantan aktivis IPNU ini.

Pernikahan pada usia dini juga akan menyebabkan beberapa dampak, di antaranya dampak buruk pada kesehatan, terhentinya pendidikan, terbatasnya kesempatan ekonomi, terhambatnya perkembangan pribadi anak, tingginya angka perceraian. (Kendi Setiwan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Kajian Islam, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan NU tidak anti dengan adanya konglomerat. Sebaliknya, ia mengatakan NU bersyukur dengan banyaknya konglomerat di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Kiai Said sebelum dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara NU dengan tiga kementerian yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (23/2) sore.

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: NU Tidak Antikonglomerat

“NU bersyukur dengan para konglomerat di Indonesia yang melakukan pemerataan ekonomi, menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia, termasuk warga NU,” kata Kiai Said.

Sementara dari pihak warga NU, lanjut Kiai Said, memiliki karakter mudah bersyukur dengan memiliki pekerjaan. Sehingga para pengusaha, pemerintah, dan BUMN dapat memberdayakan warga NU dalam pengembangan ekonomi.

Ribath Nurul Hidayah

Namun demikian, menurut Kiai Said, warga NU juga masih dihadapkan dengan beberapa persoalan perekonomian. Salah satu persoalan ekonomi yang dihadapi petani di Indonesia, yaitu bila musim panen, hasil panen mereka dibeli dengan harga yang murah. Selain itu, pemberian subsidi pupuk juga sering salah sasaran.

Dalam kewajiban pembayaran pajak, Kiai Said menilai warga NU sangat taat pajak. "Warga NU semuanya taat pajak. Sosialisasi tentang pajak paling gampang mengajak NU. Karena sudah biasa bayar zakat, infak, dan sedekah," tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Makam, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 November 2017

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

Makassar, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan menggelar lailatul ijtima di gedung NU Sulsel jalan Perintis Kemerdekaan Km 9 nomor 29, Kamis (6/11). Pada kesempatan ini mereka menyosialisasikan hasil Munas-Konbes NU 2014 awal Nomvember kemarin yang meliputi tiga sidang komisi.

Tampak hadir Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta Sanusi Baco, A Rahman Idrus, Ruslan, Iskandar Idy, Arfin Hamid, Rektor UIM Andi Majdah M Zain, dan para sepuh NU Sulsel Naharuddin Tinulu, Ridwan AR, KH Abdurrahman, beserta segenap pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom.

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

“Menurut NU model Khilafah adalah produk sejarah, bukan perintah agama. Sehingga NU memandang, Islam mengakui eksistensi Negara bangsa dan tidak mengharuskan penganutnya untuk mendirikan negara agama, termasuk sistem Khilafah,” kata Katib Syuriyah NU Sulsesl Ruslan yang mengikuti sidang komisi Bahtsul Masail.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah pemaparan hasil Munas dan Konbes NU, Anre Gurutta Sanusi Baco menyampaikan taushiyahnya perihal kebersihan. Menurutnya manusia akan mendapat siksa langsung akibat pelanggaran hukum Allah di ala mini.

Ribath Nurul Hidayah

“Misalnya agama menganjurkan menjaga kebersihan, lantas kita mengotori. Hukumannya adalah kita akan terkena penyakit diakibatkan manusia tidak menjaga kebersihan. Yang kedua siksaan akhirat akibat pelanggaran hukum syariah yang termaktub dalam Al-Quran dan As-Sunah,” kata Gurutta Sanusi.

Ia juga prihatin dengan adanya dua kubu di DPR antara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Ia mengibaratkan perpecahan di parlemen seperti ungkapan "Kelompok salah yang terorganisir akan mengalahkan kelompok benar tetapi tidak terorgansir". (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Oktober 2017

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Para santri Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar aksi damai pada Hari Perdamaian Internasional di tiga tempat, Ahad (21/9). Mereka membubuhkan tanda tangan dan menuliskan harapan perdamaian dunia di sebuah spanduk besar.

Kepada Ribath Nurul Hidayah, Noor Ridho salah satu pengurus pondok menuturkan acara serupa juga diselenggarakan beberapa pesantren di daerah lain. Dengan mengusung “Peace 360:Peace Leader in Action”, melakukan aksi yang sama.

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

“Kita berharap dari acara ini, masyarakat lebih memahami makna perdamaian,” ujar Ridho.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut pengajar SMP Al-Muayyad itu, perdamaian tidak hanya sebatas aman dari perang, tapi juga bagaimana membangun perdamaian dalam konteks antarumat beragama dan sebagainya.

Faqih, seorang siswa kelas XI SMA Al-Muayyad menuliskan harapannya akan perdamaian. “Hari ini, hari esok, hari nanti, damai sepanjang hari,” kata Faqih mengutip salah satu lsyair pada sebuah lagu. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 September 2017

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Kombes Pol Rikwanto menyebut cikal bakal dari terorisme dan radikalisme adalah ketiadaan sikap toleransi terhadap sesama. Dalam seminar nasional yang diselenggarakan PP IPPNU, Rikwanto mengatakan, dari sikap intoleransi ini pada tingkat ekstremnya melahirkan paham radikal dan paham terror.

“Cikal bakal radikalisme itu dimulai dari intoleransi,” kata Rikwanto dalam seminar bertajuk Youth: Terorism dan Tolerance di Pusat Kebudayaan Amerika, Lantai 3 Gedung Pacific Place, Jakarta Kamis, (14/4).

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa salah satu cara para teroris melakukan kaderisasi adalah cuci otak. Menurutnya, ada oknum-oknum tertentu yang mengintai dan mengawasi orang yang dianggap memiliki potensi dan kecenderungan untuk bergabung bersama kelompok radikal.

“Jadi dari intoleransi, radikalisme kemudian muncul terorisme. Inilah problematika bangsa kita,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Terorisme, lanjut Rikwanto, memiliki dampak besar antara lain merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi perekonomian, dan merebaknya intoleransi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

“Menurut ahli-ahli di luar negeri, seharusnya Indonesia sudah terpecah belah. Negara Papua sendiri, Sulawesi sendiri, Sumatera sendiri. Kita tidak pecah karena masih ada orang-orang baik di kita dan Tuhan belum meridhai, tapi potensi untuk pecah besar sekali kita,” kata laki-laki yang pernah menjabat sebagai Kapolres Klaten tersebut.

Sementara narasumber lainnya H As’ad Said Ali menilai bahwa gerakan terorisme dan radikalisme bukanlah masalah agama, tapi masalah politik. “Ada pesantren menjadi tempat terorisme itu salah. Karena pesantren NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya itu tidak ada yang mengajari santri (untuk menjadi) teroris,” ungkapnya.

As’ad mengatakan bahwa ada permasalahan yang lebih besar yaitu intoleransi. “Terorisme sebenarnya masalahnya lebih kecil, ada masalah yang lebih besar yaitu hancurnya toleransi,” jelas mantan Wakil Kepala BIN ini.

“Pertama memang terorisme harus dihancurkan lebih dulu. Kedua, kelompok yang berpaham radikal. Tidak semua yang radikal pakai teroris, tapi (menggunakan jalan) politik. Inilah mereka yang menghendaki negara di luar Pancasila. Ini yang bikin radikal,” lanjutnya.

Untuk meredam itu semua, As’ad? mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali pada nilai-nilai keindonesiaan, Pancasila, dan Islam moderat. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 September 2017

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah - Pergantian tahun baru sebaiknya digunakan untuk berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak cara bisa dilakukan seperti khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lainnya.

Demikian disampaikan oleh Ketua JQHNU Sidoarjo H Imam Mukozali kepada Ribath Nurul Hidayah, Jumat (30/12).

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

"Kami mengajak dan mengimbau masyarakat dalam menyemarakkan pergantian tahun baru masehi 2017 dengan menghindari hura-hura. Masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan alternatif seperti pengajian, khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lain yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik di masjid dan mushalla," kata Imam.

Ia menjelaskan, apabila akhir dan awal tahun ini dilakukan dengan baik, insya Allah bangsa Indonesia akan mendapatkan ketentraman dan kebaikan. Dengan melakukan kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah akan mendapat keberkahan dan hidayah di tahun yang akan datang.

Ribath Nurul Hidayah

"Kebiasaan hura-hura dan pemborosan adalah hal yang tidak baik dan mubadzir serta tidak akan menambah keberkahan pada negara kita. Seyogianya kita bermunajat kepada Allah. Kalau ini dilakukan oleh setiap orang, maka akan mengurangi kejahatan dan kecelakan di luar sana," kata H Imam yang juga Ketua LTMNU Sidoarjo itu. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 08 Agustus 2017

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

Bogor, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga dan Deradikalisasi Agama Bagi Dewan Mahasiswa/BEM dan Ustadz Muda Pondok Pesantren Se-Indonesia.

Acara di buka oleh M. Guntur Hamzah Sekretaris Mahkamah Konstitusi, dihadiri oleh Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah Suwendi, Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Ruchman Basori, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitudi MK Ardiansyah Salim, dan sejumlah tamu undangan lain dan nara sumber yang telah hadir.

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

“Tepat sekali kalau hari ini Kementerian Agama RI bersama Mahkamah Konstitusi menjalin kerjasama sinergis untuk memperkuat bangunan solidaritas, membuka kesadaran konstitusi warga negara dan menanggulangi masalah-masalah kekerasan berbasis agama,” kata Guntur, Bogor, Kamis (21/04) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Di hadapan Pimpinan Mahasiswa (Dewan Mahasiswa/BEM) dan Ustadz Muda Pondok Pesantren yang merupakan calon pimpinan bangsa, Guntur menekankan pentingnya Dewan Mahasiswa di lingkungan PTKI (UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) dan Pondok Pesantren menjadi aktor-aktor penebar damai, tolaran, keterbukaan dan taat berkonstitusi.

Menurutnya, salah satu akar masalah yang dihadapi Idonesia saat ini adalah masalah kepemimpinan, khususnya terkait keteladanan. Kepemimpinan adalah keteladanan, yang termanisfestasi dari perilaku.?

Ribath Nurul Hidayah

Selain soal keteladanan, masalah lainnya ? terkait rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan hak-hak konstitusi kenegaraannya. Guntur merasa solidaritas antar masyarakat mulai mengendor, ketaatan pada peraturan rendah, rasa hormat menghormati dan empati sosial pun menurun.?

Ribath Nurul Hidayah

“Kita sering lupa siapa diri kita sebagai mahluk sosial yang harus saling menghargai dan menghormati,”katanya.

Suwendi, Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah DitPdpontren Kementerian Agama mengatakan hasil riset LIPI dan Balitbang Kementerian Agama menunjukan bahwa 25-40% para siswa dan guru SMA sudah menganggap Pancasila tidak relevan lagi untuk bangsa ini. Data ini menunjukan bahwa sudah ada pergeseran yang serius di kalangan anak-anak muda level SMA yang harus disikapi dengan pemahaman agama yang inklusif, damai, dan toleran bukan idiologi keras..

Suwendi mengapresiasi MK yang berkenan menjalin kerjasama dengan Kementerian Agama khususnya Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam dalam pendidikan hak konstitusional dan deradikalisasi agama. ?

Ardiansyah Salim, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK melaporkan kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 21-23 April 2016 di Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK. Sinergi antar Kementerian dan Lembaga menjadi penting bahkan niscaya ketika masalah-masalah kebangsaan dan kemasyarakatan semakin komplek.?

“Pengabaian atas konstitusi yang menyebabkan hilangngya konstitusi warga negara menjadi keprihatinan tersendiri. Ditambah dengan maraknya gerakan radikal yang kian subur mengharuskan kita bergandengan tangan untuk menangkalnya,” katanya. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah