Rabu, 25 Desember 2013

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial

Bogor, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis dan sunatan massal belum lama ini. Tidak kurang dari 1000 orang yang mendaftar sebagai Pasien dalam kegiatan yang berlangsung di halaman kantor Desa Cibadak Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor.

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bogor-Basolia Gelar Bakti Sosial

“Kami merasa senang dengan bisa melaksanakan kegiatan ini, sebab ini menunjukkan bahwa kehadiran NU bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Mad Hofi , ketua panitia, yang juga sebagai Ketua MWC NU Kec.Tanjungsari

“Hari ini yang sudah mendaftar dan mengantri sudah 754 orang untuk pengobatan, dan tetap akan kami buka sampai jam dua siang nanti,” imbuhnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara koordinator program dari Badan Sosial Lintas Agama, Pendeta Aria Hadiwinata dari Gereja Maranatha mengatakan, “Kami senang bekerjasama dengan PCNU Kabupaten Bogor dalam hal nilai-nilai Kemanusiaan, dan ini adalah wujud kebersamaan kita akan nasib rakyat, dan Kami ingin member contoh bahwa kami bisa hidup berdampingan tanpa membedakan SARA.”

KH.Zaenal Abidin, Ketua Presidium Basolia mengatakan bahwa keberadaan Basolia tidak terlepas dari peran NU sebagai ormas yang sangat peduli terhadap kepentingan rakyat.

Ribath Nurul Hidayah

“Kelahiran Basolia tidak lepas dari peran serta dan ide KH.Said Aqil Siroj yang saat itu masih menjabat sebagai Katib Aam PBNU, dan Alhamdulillah Kami masih bisa menjalankan amanah itu sampai saat ini,” terangnya.

Selain pengobatan gratis, diadakan juga kegiatan berupa sunatan massal yang diikuti sekitar 47 anak.

“Acara ini didukung oleh 4 tenaga dokter, 13 tenaga medis dan 24 relawan dari kalangan mahasiswa, dan ini merupakan acara periodik yang diadakan 4 bulan sekali, berikutnya kami akan mengadakan di daerah Sentul Bogor, “ kata Akhsan Ustadhi, seketaris PCNU Kabupaten Bogor, “dan Baksos saat ini adalah yang Ke-lima” imbuh Akhsan.

Saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di lokasi Baksos, Ketua PCNU Kabupaten Bogor, KH.Romdon mengatakan bahwa apa yang dilakukan PCNU saat ini adalah "bentuk sebuah perintah nabi Muhammad SAW yaitu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya, jadi NU siap bekerjasama dengan pihak manapun dalam hal urusan kemanusiaan, tanpa membedakan Suku , Ras dan Agamanya.”

Acara ini juga dihadiri oleh KH.Aim Zaimudin ( Katib Syuriah PCNU kabupaten Bogor), Romo Benyamen Sudarto dari Katedral Bogor, Pendeta Aria Hadikusuma dari Gereja Maranatha Jonggol, Victorianus Phang dari Katolik dan Rois Syuriah MWCNU Desa Tanjungsari KH. Apang Sumarna.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Akhsan Ustadhi


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 18 Desember 2013

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Oleh Ahmad Naufa Kh. F.

Isu ketahanan dan kedaulatan pangan secara umum tidak menjadi wacana utama yang banyak dibicarakan atau diperjuangkan baik kalangan mahasiswa, pejabat ataupun politisi. Meski demikian, ketahanan pangan adalah isu yang layak mendapat perhatian dikalangan luas, utamanya mahasiswa sebagai kaum pendobrak. Mengapa pangan? Karena pangan merupakan kebutuhan primer (dloruri) yang dibutuhkan seleuruh elemen masyarakat Indonesia.

Secara definitif, makna "ketahanan" dengan "kedaulatan" itu berbeda. Secara sederhana, misalnya, jika ada sebuah keluarga yang kehabisan beras lalu menutupinya dengan membeli di pasar atau hutang kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah dikatakan memiliki "ketahanan" pangan. Meski demikian, keluarga itu belum bisa dikatakan "berdaulat". Lebih dari itu, kedaulatan pangan adalah upaya yang sistematis untuk menentukan, kebijakan dan kebutuhan pangan secara merdeka atas keluarganya sendiri, seperti menanam padi sendiri, membeli dengan keluarga sendiri dan membuat harga sendiri. Dalam konteks ini adalah Indonesia yang terjadi hari ini masih berkutat pada "ketahanan" pangan, belum memiliki "kedaulatan" pangan.

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Kedaulatan Pangan Indonesia

Ironis memang, Indonesia yang begini subur dengan laut dan alamnya yang melimpah ruah masih terbelenggu dalam berbagai hal. Negeri yang disebut "penggalan sorga" ini begitu seksi dan diperebutkan banyak orang untuk mengambil sumber daya alamnya yang memang belum bisa dan mungkin tak ada niat untuk bisa mengelola alamnya sendiri. Berbagai perusahaan asing tertancap disini, dengan profit sharing yang tak masuk akal. Kue pembangunan pun hanya dijadikan rayahan orang-orang yang miskin nasionalisme dan pragmatis. Rakyat kecillah yang menjadi korban kebiadaban rezim dan system dengan segala problematikanya.

Mantan Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie mencatat, 92 persen perusahaan dan aset-aset negara yang didapat melalui alam, sudah dikuasai dan dikendalikan oleh asing. Juga penelitian Michael Backman (1995) tentang kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia, Backman menemukan 73 persen total kapitalisasi pasar dimiliki oleh etnis Tionghoa. Belum lagi pasar yang dikendalikan konglomerat-konglomerat penghisap keringat rakyat yang memiskinkan petani dan pedagang kecil tumbuh subur dengan panglimanya para wakil rakyat yang dengan seenaknya mengamandemen undang-undang sesuai pesanan. Bagaimana mungkin ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan dapat ditegakkan?

Islam sebagai Pendobrak

Ribath Nurul Hidayah

Islam sebagai ideologi hendaknya juga memiliki signifikansi sebagai pendobrak sosio-kultural. Perlawanan dan penghapusan terhadap ketidakadilan sebenarnya secara substansi bukan barang baru. Islam yang dibawa nabi pada zaman klasik sudah membuktikan bagaimana ia tumbuh sebagai ideologi yang membebaskan dari dikotomi ekonomi, ketimpangan sosial dan penyembelihan hak-hak asasi manusia. Ajaran Islam jelas, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api" dalam hal ini termasuk pula Emas, Gas, Energi, dan Batubara adalah untuk kemakmuran rakyat. Namun pada faktanya, asset-aset tersebut lari keluar dan memiskinkan penduduk pribumi. Kini, hanya untuk membeli segelas air putih, kita harus membeli ke Barat.

Tahu dan tempe sebagai hal yang paling membantu peningkatan gizi kaum menengah kebawah harus import dengan membunuh petani kedelai. Kebaikan tuhan memberi laut yang luas disia-siakan dan dikufuri dengan impor garam yang juga membunuh petani. Jutaan hektar ladang sawah dengan kerja gigih petani dari pagi sampai sore hari harus diinjak-injak kartel yang tak bertanggungjawab. Setiap butir nasi yang kita makan sungguh sebuah proses panjang yang menyangkut jutaan orang. Media yang dipesan konglomerat dengan bantuan pejabat miskin nasionalisme untuk membuat opini publik bahwa pangan serba kekurangan, membuat kebijakan impor digulirkan. Tentu dengan tangan panjang dan antek-antek kapitalisme global yang mengepung Senayan.

Lalu, dalam konteks Indonesia, bagaimana arah gerakan kita yang masih minim pengetahuan tentang hukum dan ekonomi secara makro? "Untuk mengatasi dan mengamankan undang-undang, anda tak butuh ahli ekonomi. Anda tak butuh ahli tata-bahasa. Yang anda butuhkan hanyalah berpikir logis dan kemauan kuat dan keberanian untuk berdaulat, dengan mengamankan undang-undang dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat" kata Prof Maksum, Ketua PBNU, guru besar pertanian UGM.

Sebagai contoh, dalam amandemen UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 berbunyi: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Ayat 4: “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional. Ayat 5: "Ketentuan lebih lanjut mengenai pasal ini diatur dalam Undang-Undang.”

Dengan amandemen ini muncul berbagai Undang-Undang prokapitalis yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Pasal 33 Ayat 3 secara otomatis, telah di-nasikh ayat 4 yang merupakan pesanan asing dengan corong para wakil rakyat yang menggadaikan negerinya. Perubahan ini, bisa dilogika dan dinalar secara awam. Meski sudah diuji materikan oleh beberapa pihak yang masih peduli kedaulatan NKRI, utamanya PBNU, antek-antek asing selalu saja merubah dan mempermainkan kata dan kucing-kucingan.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu ada beberapa UU liberal pesanan asing yang membunuh kedaulatan rakyat seperti: UU Migas (No 22 Th 2001), UU BUMN (No 19 Th 2003), UU SD AIR (No 7 Th 2004), UU Perikanan(No 31 Th 2004), UU Pen. Modal (No 25 Th 2007), UU Kewilayahan (No 27 Th 2007), UU Minerba (No 4 Th 2009), UU Tenaga Listrik(No 30 Th 2009), UU Cagar Budaya (No 11 Th 2010), UU. Mata Uang ( No 7 Th 2011), UU. OJK (No 21 Th 2011) UU Pertanahan (No 2 Th 2012).

Inilah tugas dan proyek besar mahasiswa, sebagai generasi muda dan pemilik sah masa depan bangsa ini. Dasar teologis sudah jelas, saatnya kita berpikir 10-20 tahun kedepan, bagaimana bisa memiliki kedaulatan pangan; menentukan sendiri, memproduksi sendiri dan menikmati sendiri potensi alam untuk kemakmuran rakyat yang merupakan amanat undang-undang dasar 1945. Saatnya membuka mata, wacana, cakrawala dan berbuat hal-hal yang kongkrit. Mahasiswa dan generasi muda Indonesia jangan justru terjebak pada pragmatisme politik dan wacana kampus yang menyesatkan. Hal-hal yang tak penting dan lebay. Mahasiswa harus segera berbenah diri, menganalisa kawan dan lawan dan berpikir cerdas untuk melakukan perubahan. Karena, selain kepada mahasiswa dan generasi muda, kemana akan lagi nasib masa depan bangsa ini diserahkan?

?

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Wakil Ketua PW IPNU Jateng, Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 17 Desember 2013

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Hari lahir (harlah) ke-89 NU yang jatuh hari ini, Sabtu (31/1), diperingati secara sederhana di halaman kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla dijadwalkan datang pada acara tahunan ini.

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Dijadwalkan Hadiri Peringatan Harlah NU Malam Ini

“Berdasarkan kunjungan kami ke Kantor Wakil Presiden, beliau (Jusuf Kalla) yakin akan hadir. Pak JK bilang ‘Insyaallah’. Sekitar pukul 19.30 WIB beliau tiba di lokasi acara,” terang Ketua Panitia Harlah ke-89 NU, H Abdul Manan A Ghani.

Perhelatan ini sekaligus menjadi ajang peluncuran perdana Muktamar ke-33 NU yang rencananya berlangsung pada 1-5 Agustus 2015 mendatang di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Prosesi peluncuran secara resmi dilakukan Wakil Presiden dengan ditandai pemukulan beduk.

Ribath Nurul Hidayah

Selain memberi kata sambutan, Mustasyar PBNU itu dijadwalkan akan menandatangani “Prasasti Universitas Nahdlatul Ulama” yang menjadi simbol bagi puluhan perguruan tinggi NU yang berdiri selama periode kepengurusan PBNU kali ini.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum acara puncak pada malam nanti, di tempat yang sama pihak panitia menggelar istighotsah dan khataman al-Qur’an dari pagi hingga siang nanti. Sejumlah persiapan telah rampung, baik dari segi keamanan maupun sarana prasarana.

Panitia telah menyebar sekitar 400 undangan, antara lain kepada para kiai NU, para pejabat tinggi negara, perwakilan ormas Islam, gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, dan utusan dari lintas agama.

Menteri yang akan hadir di antaranya Menteri Sosial, Menteri Agama; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; serta Dirut Perum Perhutani. PBNU akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan lembaga tinggi negara tersebut. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 05 Desember 2013

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah

Memasuki tahun ajaran baru, pengurus komisariat PMII Sepuluh Nopember ITS mengadakan pelatihan gerak mahasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari ini sejak Sabtu, (15/8) hingga Senin, (17/8), berhasil menarik minat mahasiswa baru ITS, PENS maupun PPNS.?

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh Nopember Bekali Mahasiswa Baru Hadapi Perkuliahan

Dalam acara pembekalan hari pertama, terdapat tiga sesi. Sesi pertama adalah bagaimana cara Bertransformasi dari Siswa Menjadi Mahasiswa, materi ini disampaikan oleh Dr Agus Zainal Arifin Skom Mkom, salah satu dosen Teknik Informatika ITS yang juga pembina dari PMII Sepuluh Nopember maupun CSSMoRA ITS.?

Sesi kedua diisi oleh Zahra S. Arfenti, Mawapres ITS. Dalam sesi ini, ia memaparkan kiat bagaimana menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurutnya prestasi mahasiswa tidak ? hanya dalam hal akademis saja, masih ada berprestasi di non akademis semisal PKM. Selain itu, dirinya juga menjelaskan tentang bagaimana cara mengelola waktu, bagaimana cara mencari tim PKM atau keilmiahan lain, bagaimana cara membuat life-mapping dan masih banyak lagi lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sesi ketiga merupakan sesi sharing antara peserta dengan anggota PMII Sepuluh Nopember yang berhasil menorehkan berbagai prestasi. Dalam sesi ini ada lima anggota yang membagikan pengalamannya dan tips bagaimana prestasinya berhasil menghampirinya. Mereka yang berlima adalah Mutawalli Alfin, Rizki Mendung, Iklil Muna, Misbahul Munir dan Deni Setiawan.?

Dalam sesi ini ternyata mampu menarik minat dari peserta untuk menanyakan berbagai hal. Salah satunya adalah bagaimana cara menjadi penghafal Al-Qur’an. “Kuncinya adalah istiqomah,” ujar Rizki Mendung kepada para hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya angkatan 2015 saja, pelatihan ini ternyata mampu menarik minat dari angkatan lain, ada dari 2014 bahkan ada salah seorang peserta yang berasal dari angkatan 2012. Menurut salah satu peserta 2014, Rizal, “Pelatihan yang sangat recommended banget buat para mahasiswa dan atau calon mahasiswa,” ungkapnya pada panitia.?

“Tidak hanya ilmu tapi juga motivasi yang mampu menjadikan siswa menjadi mahasiswa yang rahmatan lil alamin,” imbuhnya mahasiswa jurusan TMJ ITS 2014 itu. (Ahmad Hanan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, Kiai, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 26 November 2013

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Selasa (15/9) merupakan hari terakhir dari rangkaian “Pelatihan Menulis dan Program Kepemimpinan untuk Santriwati” di pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta. Pada penutupan pelatihan ini para santri berdialog aktif dengan Konsuler Kedutaan Amerika Judy A Moon.

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak

Selama setahun menjadi pejabat Kedutaan Amerika di Indonesia, ini merupakan pertama kalinya mengunjungi pesantren.

Judy memaparkan kepemimpinan khususnya bagi perempuan. Menurutnya, yang dibutuhkan seorang adalah dua hal, rasa penasaran dan terbuka. Dua hal itu yang menjadi kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam membawa anggotanya menuju sebuah tujuan.

Ribath Nurul Hidayah

Secara aktif peserta mengajukan pertanyaan yang semuanya dijawab dengan baik oleh Judy. Selain itu ia juga menyelipkan cerita pengalamannya dan contoh pengimplementasian kepemimpinan sehingga peserta dapat memahami dengan baik penjelasan darinya.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya senang karena kalian bertanya secara aktif dalam acara ini, karena itu menunjukkan rasa keingintahuan kalian akan sesuatu,” tuturnya kepada peserta di ruangan tersebut.

Rangkaian pelatihan ini ditutup dengan saling bertukar souvenir antara pesantren Krapyak, Kedutaan Amerika, dan Lentera Foundation. Pihak pesantren menghadiahkan Kamus Bahasa Arab-Inggris-Indonesia karya KH Atabik Ali sebagai bentuk promosi karya asli pondok pesantren.

Adapun pelatihan menulis sesi pertama diisi dengan pelatihan oleh Pemred KR Online Ahmad Luthfi. Pada sesi ini, peserta diajak memahami dan mempraktikkan materi wawancara, penulisan hingga pengeditan pascawawancara. Sementara sesi kedua berkaitan dengan pelatihan kepemimpinan dengan narasumber Wasingatu Zakiyah.

Pada pelatihan ini ia menjelaskan apa hakikat pemimpin serta bagaimana cara memimpin sebuah kelompok dengan baik. (Aminatun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Kiai, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 16 Oktober 2013

Konfercab, PCINU Yaman Minta Dosen Asal Suriah Bahas ISIS

Tarim, Ribath Nurul Hidayah. Panitia pelaksana Konfercab Istimewa III PCINU Yaman telah mengadakan rapat di musholla Universitas Al Ahgaff, Tarim selasa malam (30/12). Mereka menyepakati tema "Aktualisasi Konsep Aswaja; Meneguhkan Karakter Islam Nusantara".

Tema tersebut dikukuhkan langsung Ketua Tanfidz PCINU Yaman Dzuk Fahmi Kasto untuk konfercab III yang akan dihelat 8-10 Februari 2015 mendatang.

Konfercab, PCINU Yaman Minta Dosen Asal Suriah Bahas ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab, PCINU Yaman Minta Dosen Asal Suriah Bahas ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab, PCINU Yaman Minta Dosen Asal Suriah Bahas ISIS

Rapat yang yang berlangsung setelah isya waktu setempat itu turut dihadiri Ris Syuriyah Nuril Izza Muzakki beserta wakilnya Hasan Bashri Hayyi, sekretaris dan bendahara tanfidziyah Ade Nurul Badar dan Ali Burhan serta seluruh jajaran panitia pelaksana.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat yang dipimpin langsung oleh ketua panitia konfercab Abdul Rahman Malik itu membahas struktur kepanitiaan dan job description dari masing-masing bagian. Selain itu juga membahas tentang konsep acara pra dan inti konfercab.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk acara pra-Konfercab, seminar dan diskusi panel akan dikoordinir Lakpesdam. Sementara kegiatan bahsul masail akan dipegang kendali oleh LBM NU Yaman," ungkap Abdul Rahman membagi tugas kepanitiaan.

Pada kesempatan itu, Nur Kholis, selaku koordinator panitia bagian seminar dari Lakpesdam menyampaikan bahwa Syeikh Muhammad Ismail As Syuri, sebagai narasumber, siap hadir dengan mengusung judul seputar daisy (daulah islamiyah fi Syam) yang sedang gencar-gencarnya di Indonesia.

Hal ini, lanjut Kholis, bisa menjadi wacana penting dalam membentengi Islam Nusantara. "Terlebih sang narasumber adalah salah satu dosen Universitas Al Ahgaff yang berasal dari Suriah. Sudah tentu beliau lebih mengerti tentang subtansi dan pergerakan ISIS yang kita kenal di tanah air itu," tutur kholis.

Rais Syuriyah Nuril Izza turut memberikan arahan agar hajatan besar NU Yaman ini baiknya di beberapa acara seperti Seminar dan Bahsul Masail bisa mengajak kerja sama organisasi-organisasi besar lainnya seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Hadhramaut dan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) Al Ahgaff. "Hal itu akan menambah efisien kinerja dan bisa menarik animo warga Indonesia lebih besar untuk ikut serta dalam acara ini", ungkap Nuril. (Arman Maliky/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Budaya, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Politisi Lintas Partai Ramai-ramai Masuk ISNU

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah politisi lintas partai ikut maramaikan kepengurusan Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur periode 2012-2017. Hal ini tampak terlihat saat prosesi pelantikan di Hotel Empire Palace, Surabaya, Ahad (16/12).

Politisi Lintas Partai Ramai-ramai Masuk ISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Politisi Lintas Partai Ramai-ramai Masuk ISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Politisi Lintas Partai Ramai-ramai Masuk ISNU

Ketua PW ISNU Jatim sendiri adalah Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi. Prosesi pelantikan dipimpin langsung Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Moesa. Struktur kepengurusan PW ISNU Jatim periode ini berjumlah 128 orang.

Duduk di jabatan Dewan Penasehat adalah Prof Dr Shonhadji Sholeh (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang juga mantan Ketua ISNU Jatim), Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jatim), H Abdul Halim Iskandar (Ketua DPW PKB Jatim), Musyafak Noer (Ketua PPP Jatim), Arif Djunaidi (Ketua PKNU Jatim), Hasan Aminuddin (Ketua Nasdem Jatim), dan Sirmadji (Ketua PDI-P Jatim).

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, di jajaran dewan ahli juga duduk beberapa bupati dan walikota. Antara lain, Saiful Illah (Bupati Sidoarjo), M. Buchori (Walikota Probolinggo) dan Muhtaron (Bupati Madiun).

Acara pelantikan yang dirangkai dengan musyawarah kerja itu, selaian nama di atas, hadir juga Mendikbud Muhammad Nuh, Ketua Umum PP ISNU Dr Ali Masykur Moesa, Gubernur Jatim Soekarwo, Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah, Kepala Kantor Kemenag Jatim Sudjak, serta pengurus ISNU se-Jatim.

Ribath Nurul Hidayah

Sekretaris PW ISNU Jatim Muhammad Dawud mengatakan, ISNU merupakan wadah untuk berkumpul  bagi semua orang dan kader NU yang beraktivitas dan berkarir di berbagai lembaga.

"Dengan begitu, diharapkan ISNU dapat memberikan kontribusi yang positif bangsa dan negara ini," ujar Dawud yang juga anggota KPID Jatim ini.

Dalam pelantikan itu juga dianugerahkan "Santri Award 2012" yang diserahkan kepada tiga dari 42 santri yang dianggap sukses, yakni Aa Abdullah Al Kudus (santri sukses dalam bidang lingkungan), Suyadi (santri sukses dalam enterpreneurship/Presdir PT Perkasa, perusahaan perkapalan), dan Koperasi PP Sidogiri (kategori sukses dalam pemberdayaan pesantren).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Kiai, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 10 Oktober 2013

Hikmah Sabar dan Keutamaannya

Rasulullah saw pernah bersabda bahwasannya jika Allah swt mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. kalau orang itu sabar, maka Allah swt akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan jika ia ridha (rela) maka Allah swt akan menjadikannya sebagai orang pilihan yang istimewa (musthafa).

? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ?,  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ...

Hadirin Jama’ah Juma’ah Rahimakumullah

Hikmah Sabar dan Keutamaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikmah Sabar dan Keutamaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikmah Sabar dan Keutamaannya

Marilah dalam kesempatan ini kita bersama meniti ketaqwaan kita dan menigkatkannya sehingga kwalitas hidup ini semkin membaik. Sesungguhnya ketaqwaan itu adalah baro mater kesuksesan hidup ini. Dan hendaklah kita semua tetap berpegang kepada norma-norma syariat yang diajarkan Rasulullah saw. Sebagaimana beliau ajarkan pula cara bersabar menghadapi kehidupan ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tema khutbah jum’ah kali ini sebenarnya bersumber dari sebuah hadits pendek yang berbunyi:

? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

jika Allah swt mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. kalau orang itu sabar, maka Allah swt akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan jika ia ridha (rela) maka Allah swt akan menjadikannya sebagai orang pilihan yang istimewa (musthafa).

Jika diperhatikan dengan seksama maka sesungguhnya Allah swt mencintai kita. Hampir semua umat muslim di dunia ini selalu dalam ujian-Nya. Ada yang diuji dengan kegemerlapan dan kekayaan harta, ada yang diuji dengan kekurangan uang. Ada yang dicoba dengan jabatan. Ada pula yang diuji dengan kondisi keluarga. Dan masih banyak lagi ujian-ujian lainnya.

Namun demikian, jarang dari kita yang sadar bahwa segala fenomena di sekitar kita pada hakikatnya adalah cobaan yang berfungsi sebagai ujian kehidupan. Bagaimanakah seseorang menyelesaikan ujiannya? Bagaimanakah proses penyelesian itu. Sebagaian dari kita melenggang menyelesaikan ujian dengan caranya sendiri. Dan sebagian yang lain menyelesaikan ujian sesuai dengan petunjuk dan aturan syariah. Dan ada lagi yang malah menikmati ujian itu dengan membiarkannya tanpa ada usaha penyelesaian.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Ribath Nurul Hidayah

Hadits yang disebutkan di atas dengan jelas mengkatagorikan dua kelompok yang berbeda dalam penyelesaian ujian dan cobaan. Satu kelompok menghadapi cobaan itu dengan kesabaran dan satu kelompok menghadapinya dengan kerelaan. Mereka yang mampu menghadapi dengan kesabaran itulah para mujtaba dan mereka yang menghadapi dengan kerelaan itulah musthafa.

Secara teoritis istilah musthafa hanya layak disandang oleh Rasulullah saw. Dialah Nurul Musthafa cahaya pilihan, dialaha habibil musthafa, sayyidil musthafa, nabiyyil musthafa. Hanya Rasulullah saw lah al-musthafa. Manusia sempurna yang rela di lempar kotoran unta oleh kaumnya sendiri padahal dia memiliki pilihan untuk membalasnya sebagaimana ditawarkan oleh Jibril. Dialah nabi kita Muhammad saw yang rela menggembala kambing padahal dia adalah manusia paling berwibawa. Dia lah manusia yang rela diusir dari tanah airnya sendiri dalam hijrahnya menuju Madinah. Dialah yang rela menahan tentara untuk tidak menyerang Mekah dan memilihi perjanjian Hudzibiyyah. Sungguh al-Musthafa memang hanya layak disandang olehnya. Kemampuannya menanggung pengorbanan dan penghinaan padahal di satu sisi telah tersedia untuknya kemampuan melakukan perlawanan.

Jama’ah jum’ah yang berbahagia

Jika al-musthafa hanya layak untuk junjungan kita, Rasulullah saw maka sebagai umatnya tidaklah berlebihan jika kita ingin meneladaninya dengan berusaha menjadi al-mu’min al-mujtaba. Al-mujtaba sebagaimana dalam konteks hadits di atas adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian kehidupan. Sabar memiiki banyak rujukan kalimat dan makna. Seorang sufi mendefinisikan Sabar sebagai sebuah ketahanan diri menghadapi keadaan tanpa merasa gusar, tidak mengeluh apalagi bercerita kepada sesama. Baik keadaan itu senang ataupun susah. Al-Junaid al-baghdadi berkata dalam Risalah Qusyairiyah  sabar adalah meeguk kepahitan tanpa wajah cemberut “ ? ? ? ?” . Sementara Abu Usman berpendapat bahwa sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama dengan menjalani kenikmata.

Demikian, karena pada hakikatnya cobaan itu tidak hanya berbentuk kesulitan, namun kesenangan dan kebahagiaan juga sebuah ujian, kemasyhuran dan kehinaan juga cobaan.

Karena itu Ibn Abbas berkata sebagaimana dikutip oleh Imam Ghazali dalam Ihya ulumuddin bahwa sabar menurut al-Qur’an hanya ada tiga macam. Pertama, sabar kepada kewajiban-kewajiban Allah. Kedua, sabar menghindar dari larangan Allah swt. Ketiga, sabar terhadap musibah Allah swt. dan kesabaran ketiga inilah yang memiliki derajat paling luhur. Dari ketiga bentuk ini Imam al-Qusyairi dalam kitabnya meyebutkan bahwa sabar ada dua macam, yaitu sabar terhadap sesuatu yang sedang diupayakan dan sabar terhadap sesuatu yang ada tanpa diupayakan.

Sabar terhadap sesuatu yang diupayakan adalah sabar dalam meniti syariat yang diperintahkan Allah swt. dan menghindarkan diri dari larangannya. Diantara sabar dalam konteks ini adalah selalu menekuni fardhu yang lima pada setiap awal waktu. Bersabar menjalankan shalat sunnah dhuha, meskipun kondisi ekonomi belum menandakan perubahan. Tetap menadhulukan shalat berjama’ah meskipun teman sekitar mengajak makan siang. Ataupun juga berusaha menolak ajakan rekan untuk mencari kesenangan. Berusaha menghindarkan diri dari berjumpa kemaksiatan dan juga memilih hidup tetap sederhana dari pada berfoya-foya.

Mengenai hal ini kisah kesabaran Nabi Ibrahim dalam menyembelih anaknya merupakah tamsil yang sesuai. Bagaimana nabi Ibrahim sabar mentaati perintah Allah, dan Nabi Ismail sabar menghadapi hal yang tidak diinginkannya.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Sementara sabar terhadap apa yang tidak diupayakan adalah mengkondisikan diri tetap segar, bugar dan berseri menghadapi segala yang telah ditentukan oleh Allah swt.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Semoga kita menjadi bagian orang-orang yang sabar. Orang-orang yang tidak mudah mengeluh, kecuali hanya pada Allah. Orang-orang yang selalu bermuka riang dan orang-orang yang tidak mudah putus asa. Itulah tanda-tanda orang bersabar. Rasulullah saw sendiri pernah berkata ketika ditanyakan masalah iman kepanya, beliau menjawab:

? ? ?

Iman adalah keteguhan hati dalam bersabar dan murah hati

Dan yang pasti Allah swt telah meyiapkan posisi orang-orang sabar di atas standard dengan tiga ratus derajat untuk mereka yang sabar beribadah, enam ratus derajat untuk mereka yang sabar menghindar dari ma’shiat dan sembilan ratus derajat bagi mereka yang sabar atas musibah.  Sebagaimana dijelaskan dalam an-Nahl ayat 96 :

? ? ? ?

Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan 

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini, somoga dapat memberikan inspirasi kepada kita semua. Renungkanlah bagaimana kesabaran menjadi jalan alternatif dalam menyelasaikan kehidupan manusia.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

(ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 22 September 2013

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama (IPPNU) Jakarta Timur, sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik dan Medsos dengan mengusung tema Membangun Karakter Generasi Muda NU, Yang Kreatif, Inovatif di Era Milenial, Sabtu-Ahad, 28-29 Oktober 2017 di Pondok Pesantren Al Amiria Ciracas Jakarta Timur.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar oleh Pengurus Cabang IPNU IPPNU Jakarta Timur ini bersamaan dengan Makesta.

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta Jurnalistik Bekali IPNU IPPNU Jaktim

“Tujuannya untuk memberikan bekal dan pengetahuan tentang bagaimana pentingnya dunia informasi yang baik dan benar sesuai dengan ajaran NU," ujar Ismail Marzuki Ketua IPNU Jakarta Timur

Dalam kegiatan ini dihadirkan pemateri dari LTN NU DKI Jakarta Yusron Syarif, dan dari LTN NU Jakarta Jakarta Timur Syarif Cakhyono.

Di hari kedua acara, peserta diberikan kesempatan untuk membuat berita TV berupa liputan kegiatan pelatihan jurnalistik itu sendiri. Kegiatan ini berlangsung dengan seru dan lancar, dibuktikan dengan tingginya antusias peserta mendengarkan dan bertanya kepada pemateri.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua LTN NU Jakarta Timur, Syarif Cakhyono, berharap setelah pelatihan jurnalistik ini, para peserta rekan rekan IPNU dan IPPNU terus mengembangkan kreatifitasnya di bidang pembuatan berita audia visual.

Diharapkan dengan terlaksananya pelatihan jurnalistik ini, anggota IPNU bisa memproduksi informasi positif dalam bentuk audio visual.

Ribath Nurul Hidayah

“Nantinya bisa disebarkan melalui media sosial masing peserta,” tandas Syarif. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 15 September 2013

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kehidupan keagamaan yang semakin kompleks dan kerap memunculkan sikap intoleransi membuat Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Agama RI terus melakukan berbagai langkah agar kehidupan umat beragama berjalan harmonis di tengah perbedaan.?

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Balitbang Kemenag Gelar Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Untuk tujuan itu, Balitbang Kemenag mengadakan Simposium International Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life) bertajuk "Managing Diversity, Fostering Harmony", Rabu-Kamis (5-7/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Tokoh Agama dan intelektual dari berbagai mancanegara diantaranya, Amerika Serikat, Hongkong, Brunei, Singapura, Malaysia, dan negara lainnya.

Sebelum acara pembukaan, Balitbang terlebih dahulu menggelar Pra-Simposium di hotel tersebut, Selasa (4/10). Dalam kegiatan pra simposium ini, Balitbang menghadirkan mantan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Guru Besar Boston University USA Robert W. Hefner, Kepala Balitbang Kemenag Abdurrahman Mas’ud, dan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU yang juga Jurnalis senior GATRA Asrori S. Karni.

Diskusi pra simposium ini mengangkat tema “Definisi Agama di Indonesia: Rekognisi, Proteksi, dan Kepastian Hukum". Berbagai kekerasan yang kerap muncul mengatasnamakan agama membuat Balitbang kembali berupaya merumuskan definisi agama secara komprehensif dari berbagai aspek.

Menurut Abdurrahman Mas’ud, kekerasan agama juga kerap diakibatkan Islamofobia yang hingga kini terus menggelayuti sebagian umat beragama di dunia sebagai dampak radikalisme global. Rasa kekhawatiran atau ketakutan ini juga sebetulnya ada pada diri umat Islam terhadap kaum Barat sehingga seolah menimbulkan konflik yang tidak pernah ada ujung pangkalnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Kita harus jujur bahwa westernphobia juga menginggapi umat Islam sehingga menjadi agenda penting untuk diselesaikan,” ujar Abdurrahman Mas’ud.

Diskusi ini kembali menegaskan bahwa regulasi perlindungan umat beragama mempunyai posisi yang sangat penting untuk mewujudkan harmoni. Sebab di Indonesia sendiri selain mempunyai agama-agama yang resmi diakui negara, juga memiliki berbagai macam masyarakat adat yang masih memegang teguh keyakinan nenek moyang. Di titik inilah penegasan definisi agama menjadi persoalan yang sangat penting.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan Simposium internasional ini akan dibuka Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 04 September 2013

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

Waykanan, Ribath Nurul Hidayah - Imam Gereja Katolik Keluarga Kudus Baradatu Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung Romo Diosesan (RD) Thomas Metan Jamlean mengapresiasi komitmen GP Ansor dalam menghidupkan semangat nasionalisme. Penegasan tersebut disampaikan RD Thomas didampingi Ketua Yayasan Bakti Baradatu Markus Tri Cahyono dan aktivis Pemuda Katolik Andreas Natalis Sapta Aji di Blambangan Umpu, Selasa (31/5)..

"Ansor ini luar biasa, bisa menempatkan diri, mampu memilah mana agama dan negara. Semangat nasionalismenya luar biasa," ujar RD Thomas dalam sambutan pertemuan Saresehan Kesetiaan Pancasila dan NKRI yang akan dilangsungkan 1 Juni 2016.

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Katolik Apresiasi Nasionalisme Pemuda Ansor

RD Thomas juga mengaku menyukai keteladanan Gus Mus yang ditampilkan di acara Mata Najwa dalam edisi Panggung Gus Mus. Menurutnya, di tengah merosotnya moral sebagian pemimpin nasional yang tidak memikirkan bangsa, gerakan sosial dan keberagaman penting untuk terus dilakukan.

Ribath Nurul Hidayah

"Tidak hanya dalam acara resmi. Bisa juga seperti yang dilakukan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib yang beberapa tahun silam disiarkan televisi, sederhana tapi bermakna. Itu bagus," kata RD Thomas.

Ribath Nurul Hidayah

Markus menambahkan, semangat dan pelaksanaan pengakuan keberagaman sebagaimana amanat konstitusi negara yang dilakukan GP Ansor di Waykanan.

"Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pemuda Ansor selalu merangkul kami dan Pemuda Hindu untuk bersama-sama bicara masalah sosial dan kebangsaan yang belum dilakukan. Saya tidak memuji, tapi mengapresiasi fakta di lapangan, apalagi dewasa ini bermunculan gerakan-gerakan anti-Pancasila," kata Markus.

Berkaitan dengan keberagaman, GP Ansor Waykanan telah beberapa kali menggelar kegiatan bertema kebangsaan, seperti Riungan Kebangsaan dan Festival Bhineka Tunggal Ika.

Atas sejumlah upaya pemuda NU tersebut, di tahun 2015 Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Waykanan memberikan penghargaan keberagaman kepada GP Ansor. Diserahkan I Gede Klipz Darmaja selaku Ketua Peradah melalui Ketua NU Way Kanan KH Nur Huda disaksikan Ketua Ansor Gatot Arifianto dan Bendahara Abdullah Candra Kurniawan. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Habib, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Agustus 2013

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Banyumas melantik Pimpinan Anak Cabang (PAC) Banyumas dan PAC Somagede di pendapa Duplikat Sipanji Kompleks Kewedanaan Lama Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (3/9).

Pelantikan dihadiri lintas generasi GP Ansor. Sedikitnya 200 anggota peserta diklatsar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang baru mengikuti pelatihan Juli lalu.

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

PC GP Ansor Banyumas Lantik Dua PAC GP Ansor

Selain mereka, para pengurus-pengurus PAC GP Ansor se-Kabupaten Banyumas hingga para alumni eksponen Ansor di masa Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965) juga tampak hadir.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti pers rilis yang dikirim Sugeng Riyadi Syamsudien, Faisal Riza dilantik sebagai Ketua PAC Banyumas. Sementara Nur Imanuddin dilantik sebagai Ketua PAC Somagede.

Dalam orasinya, Ketua PC GP Ansor Banyumas Rudi Fathurrohman mengajak setiap anggota Ansor-Banser untuk meningkatkan sikap proaktif dan kepekaan lingkungan terkait gerakan-gerakan makar yang merapuhkan sendi-sendi bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

Setiap kader Ansor-Banser diimbau Rudi Fathurrohman untuk menguatkan solidaritas dan meningkatkan keamanan lingkungan. Selain itu, Rudi mendorong kader Ansor untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan keansoran dan kemasyarakatan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Agustus 2013

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, untuk ke sekian kalinya menyampaikan tidak ada agama di muka bumi yang mengajarkan kekerasan. Pemeluk suatu agam sudah menjadi semestinya untuk meninggalkan kekerasan dalam bentuk apapun. 

"Ayat la ikhraha fiddin maknanya tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan dalam beragama. Dibalik maknanya juga bisa, yaitu orang yang melakukan kekerasan tidak sedang menjalankan ajaran agama," ungkap Kiai Said di Jakarta, Jumat (4/5). 

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama Berarti Tidak Melakukan Kekerasan

Pernyataan yang sama juga disampaikan Kiai Said saat menjadi penceramah utama dalam perayaan hari jadi Kota Tual ke 81, Senin (30/4) lalu. Dalam kegiatan tersebut hadir jajaran Muspida, tokoh masyarakat dan perwakilan seluruh agama yang ada. 

Ribath Nurul Hidayah

"Saya lihat di sana toleransi bisa berjalan dengan baik. Itu yang harus dipertahankan dan harus dikembangkan agar semakin baik," tambah Kiai Said. 

Dalam ceramahnya Kiai Said menekankan pentingnya menjalankan toleransi dengan baik antar umat beragama. Setiap orang yang beragama, apapun agama yang dipeluknya, sudah menjadi kewajibannya untuk menghormati keberagaman yang ada di sekitarnya, serta bersama-sama menjalankan prinsip anti kekerasan dan anti radikalisme. 

Di kesempatan yang sama Kiai Said juga diangkat menjadi anggota keluarga istimewa Kerajaan Tanhir, kerajaan Islam tertua di Kota Tual. Kiai Said juga didaulat melakukan peletakan batu pertama pada pembangunan masjid di lokasi yang sama. 

Ribath Nurul Hidayah

"Islam Ahlussunnah wal Jamaah berjalan dengan sangat baik di Tual," tuntas Kiai Said. 

Penulis: Emha Nabil Haroen 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 04 Agustus 2013

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi. 

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita. 

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang  rakus dan tamak.

Ribath Nurul Hidayah

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang ‘Aalim yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Ribath Nurul Hidayah

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta. 

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan ‘kekacauan kreatif’.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar ma’ruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang ‘Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11. 

Dan selayaknyalah seorang ‘Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang ‘Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi?

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran. 

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Anti Hoax, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Juli 2013

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Nyai Hajjah Siti Fatma, istri Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri? (Gus Mus), Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno Rembang, Jawa Tengah.

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Bu Fatma Pejuang yang Patut Dicontoh

"Semoga Allah mengampuni seluruh kekhilafannya dan menerima amal-amal baiknya yang luar biasa," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kamis (30/6) malam, di Jakarta.

Menurutnya, Bu Fatma, panggilan akrab Nyai Hajjah Siti Fatma, telah banyak berkorban selama mendampingi KH A Mustofa Bisri baik ketika mengemban amanah sebagai wakil rais aam, pejabat rais aam PBNU, maupun pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Ribath Nurul Hidayah

"Beliau telah berjihad dengan penuh pengorbanan sebagai perempuan muminah, shalihah, mustaqimah, hingga Gus Mus berhasil dalam menjalankan kiprahnya di NU dan mengayomi umat secara luas. Beliau patut kita contoh," kesannya.

PBNU, kata Kiai Said, menginstruksikan kepada seluruh pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, anak cabang, hingga ranting untuk menggelar shalat ghaib dan tahlil sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Bu Fatma.

Ribath Nurul Hidayah

Jenazah Bu Fatma saat ini sudah berada di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Jalan KH Bisri Mutofa, Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Rencananya, jenazah akan dikebumikan pada Jumat (1/6), pukul 13.30 WIB, di Pemakaman Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang.

Bu Fatma meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit sejak Selasa (28/6/2016) pagi karena menderita sesak napas. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Budaya, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 18 Juni 2013

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Dalam catatan sejarah, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa memiliki peran memperjuangkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Pagar Nusa juga telah peran? sertanya mengisi kemerdekaan dan mempertahankan NKRI.

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk  NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI Minta Pagar Nusa Terus Mengabdi untuk NKRI

Hal ini disampaikan Panglima TNI Jendral Moeldoko melalui sambutan tertulis? yang dibacakan Asisten Teritorial Mayjen TNI Ngk. GD. Sugiartha G, SH dalam acara Apel Akbar Kesetiaan NKRI Pagar Nusa di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3).

?

"Saya berharap PN (Pagar Nusa) dapat terus melakukan pengabdiannya kepada? NKRI dalam menghadapi berbagai permasalahan baik sekarang maupun di masa yang akan datang," ajak Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Moeldoko, sebagai bagian dari komponen bangsa, Pagar Nusa harus mempunyai kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap kemajuan dan perkembangan bangsa.? Caranya dengan? memberdayakan sumber daya manusia melalui kegiatan menanamkan pondasi mental agama dengan akhlakul karimah sejak usia dini untuk menunjang masa dewasa.

?

"Peran ini sangat penting karena akan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai ketahanan yang kuat menghadapi tantangan ke depan, serta memberikan pola pikir positif terhadap pengaruh lingkungan yang sangat dinamis. Sehingga bangsa ini mempertahankan jati dirinya di masa kini dan masa depan," ujar Moeldoko.

?

Ribath Nurul Hidayah

Jenderal TNI ini mengatakan, era globalisasi membawa pengaruh baik dan buruk. Berbagai implikasi positif bisa dijadikan peluang kemajuan bangsa. Sebaliknya, implikasi negatif harus ditangkal sehingga tidak menjadi persoalan luas.

?

"Salah satu? dampak negatifnya, munculnya paham radikalisme dan terorisme dunia yang menembus bangsa Indonesia. Hal ini harus kita waspadai, kita cegah bahkan kita hadapi, supaya tidak merusak tatanan kehidupa bangsa Indonesia," tandasnya.

?

Saat ini, tutur dia, dunia telah dihadapkan adanya paham radikal yang perkembangannya sangat cepat. Misalnya, di Timur Tengah munculnya Arab Spring di Tunisia, serangan Israel di Gaza dan paham ISIS dengan? sepak terjangnya sangat keras dan kejam membunuh? setiap orang yang tidak sepaham.

?

"Paham ini telah meningkat signifikan baik secara kuantitas maupun kualitas dengan jaringan yang tersebar di seluruh dunia. Gerakan ini menjadi ancaman faktual bagi bangsa-bangsa dunia termasuk Indonesia," kata Moeldoko lagi.

?

Oleh karena itu, lanjut dia, keikutsertaan komponen bangsa termasuk Pagar Nusa sangat diperlukan ikut berperan aktif menangani paham radikalisme. Ia menegaskan segenap paham radikalisme dan ISIS adalah musuh bersama yang tidak boleh berkembang di Indonesia.

Menurutnya, untuk mencegah kondisi demikian, kehidupan kemasyarakat kita bina secara terpadu, dimulai dari lingkungan yang paling kecil. Yakni dengan meningkatkan hubungan persaudaraan yang kokoh dalam satu kesatuan kebersamaan tanpa membeda-bedakan.

“Tingkatkan kepedulian, kepekaan secara cepat dan profesional arif dan bijaksana sehingga terbangun hubungan yang baik antara umat Islam dan umat lain yang menjadi kunci persatuan dan kesatuan bangsa," harap Moeldoko yang pada kesempatan itu berhalangan hadir karena mendampingi Presiden Jokowi ke luar negeri. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Juni 2013

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel Kedung, Jepara, mengadakan kegiatan Masa Taaruf Siswa Baru (Matasba) sekaligus Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di madrasah setempat. Sasarannya adalah para peserta didik baru pada tahun ajaran ini.

Ketua PK IPNU MA Matholiul Huda Fauzan Marzuqi mengatakan, acara digelar untuk mengenalkan siswa baru pada madrasah yang berbasis Aswaja, juga mengenalkan organisasi IPNU-IPPNU sebagai wadah berhimpun, berkomunikasi, dan beraktualisasi para pelajar NU.

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siraman Kembang 7 Rupa Warnai Makesta IPNU-IPPNU di Jepara

Kegiatan yang berlangsung 28- 29 Juli 2015 itu merupakan realisasi progam dari PK IPNU-IPPNU MA Matholiul Huda Bugel periode 2015-2016. Matasba dan Makesta diikuti 400 murid baru yang terdiri dari 244 siswa putri dan 156 siswa putra.

Ribath Nurul Hidayah

“Materi dalam Makesta yang disampaikan oleh Pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara, dikenalkan sejarah lahirnya IPNU-IPPNU serta motivasi berorganisasi," tutur Shelly Anggita Putriyani ketua PK IPPNU MA Matholiul Huda.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Makesta juga terdapat prosesi pembaiatan. Setelah prosesi pembaiatan anggota diharuskan untuk bertanda tangan di atas kain putih yang terbentang didepan Madrasah dilanjutkan siraman air kembang tujuh rupa dan mencium bendera IPNU-IPPNU sebagai bentuk hormat dan siap menjadi kader NU dalam menjaga martabat NU, Aswaja, Islam, NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

"Air kembang 7 rupa memiliki filosofi bahwa kembang itu memberikan keharuman yang alami dan angka 7 itu memiliki arti pitulungan (pertolongan). Jadi kader IPNU-IPPNU siap mengharumkan NU dan NKRI dengan selalu mengharap pertolongan dari Allah SWT," tambah Afandi, wakil sekretaris PC IPNU Jepara.

Para Pembina IPNU-IPPNU setempat mendukung penuh kegiatan ini. Selain untuk menambah keakraban antarsiswa, juga untuk mengenalkan siswa baru tentang aturan-aturan yang harus ditaati bersama di madrasah ini. (Muhammad MS/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Lomba, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 Mei 2013

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Ansor dan Banser di semua tingkatan dalam melaksanakan programnya diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintahan. Tak terkecuali di tingkat Ranting banom NU harus bersinergi dengan pemerintahan Desa.

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karang Tengah: Kompak, Agar Program Organisasi Berjalan Lancar

Ketua PAC Ansor Karang Tengah Muh Bardi mengatakan, dalam bersinergi dengan pemerintah di setiap program organisasi tidak tumpang tindih atau asal asalan. Terlebih bidang garapannya adalah kepemudaan yang menjadi prioritas utama organisasi.

”Setelah dilantik, tolong segera buat program yang berorientasi ke anak anak remaja dan pemuda, serta harus bersinergi dengan pemerintah desa,” katanya saat sambutan pada pelantikan pengurus Ranting Ansor dan Banser Pidodo, Kecamatan Karang Tengah di halaman masjid Baitul Muttaqin pada Ahad (22 /1).

Selain pelaksanaan program yang sudah dicanangkan organisasi, Muh Bardi mengharapkan kader dan pengurus organisasi untuk selalu menjaga kekompakan sehingga program bisa berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi umat.

“Agar program sahabat sahabat berjalan dengan baik, organisasi juga sehat perlu kiranya selalu menjaga soliditas dan solidaritas. Makanya harus saling komunikasi dan silaturrahim” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tampak hadir pada pelantikan pengurus yang dikemas dengan peringatan Maulidurrasul dan haul Syaich Abdul Qodir Jailani itu, Ketua MWC Karang Tengah K Muchlas Zaen, kepala Desa serta tokoh masyarakat setempat serta pengurus PAC Ansor dan Banser. (A.Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 26 April 2013

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Bekasi, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (PP LTMNU) KH Abdul Manan A. Ghani mengatakan, melawan radikalisme agama bukan dengan berhadapan langsung dengan mereka, tapi dengan memperkuat masjid.

Menurut Kiai Manan, memperkuat masjid adalah menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan umat, “Masjid harus dipenuhi dengan program-program yang menyentuh keinginan jamaahnya,” katanya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di gedung PCNU Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/5).

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Radikalisme Agama dengan Perkuat Masjid

Untuk memperkuat masjid dengan program, LTMNU menawarkan tujuh aksi masjid berdasarkan keinginan jamaah. Keinginan itu tertuang dalam doa mereka selepas shalat. Allahuma ini asaluka salamatan fid din, wa ‘fiyatan fil jasad, wa ziyadatan fil ‘ilmy, wabarakatan fi rizqy, wa taubatan qablal maut, warahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut.

Ribath Nurul Hidayah

Doa orang di masjid itu sambung Kiai Manan, dijabarkan PP LTMNU periode 2010-2015 sebagai program dasar. Rinciannya adalah, peningkatan Ahlussunah wal-Jamaah ‘ala tahriqah Nahdliyah, wa Syari’ah ‘ala madzhabil arba’ah, wa thoriqah a’ala thoriqoti al-Imam Junaid al-Baghdadi wa Imam al-Ghazali.

Kedua, pelayanan kesehatan berbasis masjid, yaitu menjadikan masjid sebagai Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas), “Paling tidak, setiap masjid kecamatan diharapkan punya satu poliklinik di rumah obat,” harapanya di hadapan ratusan peserta yang terdiri imam, khotib, dan DKM tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Ketiga, peningkatan kualitas pendidikan berbasis masjid, baik pendidikan formal maupun nonformal. Keempat, pemberdayaan ekonomi jamaah; mulai dari informasi peluang usaha, pengkaderan enterpreneur, kerja sama kemitraan, sampai pembentukann wadah perekonomian seperti baitul mal masjid, Koperasi masjid NU Kopmasnu, dan lembaga keuangan syariah.

Kelima, pusat pertaubatan, yaitu menjadikan masjid sebagai wadah dan usaha membangun masyarakat husnul khotimah, “Untuk menjalan program itu, harus menciptakan aktivis masjid yang hatinya selalu terpaut kepada masjid. Orang seperti tersebut adalah salah satu dari 7 golongan yang akan dinaungi perlindungan Allah pada hari kiamat,” pungkasnya.

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat” tersebut diikuti para imam, khotib, dan DKM-DKM NU Kota Bekasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Ta’mir Masjid PCNU Kota Bekasi yang difasilitasi PP LTMNU bekerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa dan PT TOA.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 April 2013

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Hidmat NU atau Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim NU, adalah unit yayasan Muslimat NU yang melayani masyarakat di bidang dakwah. Hidmat NU terus meningkatkan kualitas para da‘iyah untuk membina umat, sementara pengembangan majelis taklim menjadi konsentrasi utama.

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidmat Muslimat NU Kembangkan Varian Dakwah

Paham Ahlussunah wal Jama’ah selalu menjiwai para da’iyah binaan Hidmat NU. Para da‘iyah menerima pembekalan khusus antara lain ketangguhan jiwa kader da‘iyah, keluasan wawasan, dan penanaman akhlakul karimah.

“Dakwah menemukan variannya dalam banyak hal, seperti dakwah bil hal (perilaku), bil lisan (ceramah), bil mal (sedekah), dan bil kitabah (tulisan),” ungkap Hj. Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum PP Muslimat NU dalam sambutan Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Hidmat di Gedung PBNU lt. 5, Senin (23/4) lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat kepengurusan ini sedikitnya dihadiri oleh 40 anggota Muslimat NU. Mereka yang tampak hadir adalah jajaran Dewan Pembina Hidmat NU, Dewan Pengawas Hidmat NU, Pengurus Hidmat NU, PP Muslimat NU, Ketua Bidang Dakwah PP Muslimat, dan Koorodinator Bidang Dakwah PP. Muslimat NU.

“Kader-kader Muslimat NU ini banyak sekali yang keluaran perguruan tinggi. Bahkan, kader Muslimat NU yang menyandang gelar doktoral pun tidak sedikit. Untuk membumikan Ahlussunnah wal Jama‘ah, mereka bisa mengambil media dakwah bil kitabah. Saya sendiri rutin mengisi kolom keagamaan tiap Sabtu di harian Duta Masyarakat,” tegas Hj. Khofifah.

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Permusyawaratan Kepengurusan Pusat Hidmat NU, membahas tentang pengembangan dakwah melalui majelis taklim dan upaya membumikan paham Ahlussunnah wal Jama‘ah di kalangan kaum ibu. Rapat ini dimaksudkan untuk menampung respons positif, masukan, dan kritik konstruktif dari Dewan Pembina dan peserta forum rapat.

Forum rapat kepengurusan ini memberikan kesempatan bagi jajaran pengurus Hidmat NU periode 2007-2011 untuk memberikan laporan pertanggungjawaban di masa baktinya. Laporan pertanggungjawaban pengurus Hidmat NU, disampaikan sendiri oleh Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, Ketua Hidmat NU. Untuk sementara, kepengurusan Hidmat NU periode 2007-2011 dinyatakan demisioner secara hukum sampai terbentuk struktur kepengurusan yang baru.

Rapat kepengurusan yang berisi evaluasi atas kinerja Hidmat NU 5 tahun terakhir, akan dijadikan rekomendasi untuk struktur kepengurusan Hidmat NU berikutnya. Hasil evaluasi ini menjadi penting sebagai acuan untuk meningkatkan kinerja kepengurusan Hidmat NU selanjutnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 Maret 2013

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Berita penangkapan jaringan penyedia prostitusi anak untuk laki-laki penyuka sesama jenis pada 30 Agustus oleh patroli cyber Polri di kawasan wisata Puncak Jawa Barat menunjukkan rentannya anak-anak Indonesia, terutama di lokasi wisata, untuk diperdagangkan menjadi penyedia jasa pemuas seksual. Anak-anak yang masih polos, yang menjadi harapan orangtuanya, dibujuk oleh para germo untuk melayani laki-laki dengan kelainan orientasi seksual. Rayuan untuk melakukan tindakan seks menyimpang ini bisa merubah orientasi seksual mereka saat dewasa kelak. Akhirnya mereka juga mengalami penyimpangan seksual dan kelak, mencari korban baru. Begitulah siklus yang sangat mengerikan terjadi. 

Bisa jadi apa yang terungkap saat ini hanya bagian puncak dari sebuah gunung es masalah prostitusi anak, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata di mana para turis ingin keluar dari peradaban dan kehidupan normal yang penuh aturan etika dan kesopansantunan, menuju pemenuhan hasrat penuh kebebasan. Berkembangnya jasa prostitusi merupakan bagian dari 3 S, sun, sex, and sea yang dijual dalam industri wisata. Indonesia, menurut laman therichest.com  menduduki posisi keempat dalam hal tujuan paling populer dalam wisata seks sedangkan peringkat tertinggi diduduki oleh Thailand. Di luar transaksi seks konvensional di lokalisasi atau melalui daring (online), di kawasan wisata Puncak dikenal adanya kawin kontrak, yaitu perkawinan yang dibatasi waktu hanya beberapa hari atau beberapa bulan, tergantung lamanya turis tinggal. Biasanya mereka yang terlibat dalam perkawinan yang menurut para ulama tidak sah ini datang dari turis Timur Tengah. Ini sebenarnya juga merupakan versi wisata seks dalam bentuk tersendiri. Para pria penyuka sesama jenis, juga berusaha mencari kenikmatan seks dengan mengincar anak-anak sebagai korban. Dan kini, mereka yang berorientasi seperti ini secara global terus meningkat.

Selain, Indonesia dan  Thailand, di Kawasan ASEAN, Kamboja dan Philipina menjadi tujuan wisata seks. Dengan adanya fakta seperti ini, para pemangku kepentingan jangan sampai menutup mata dengan hanya melihat pundi-pundi rupiah yang didapat tetapi mengabaikan dampak negatif yang memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam panjang. Apalagi, transaksi seks yang dilakukan secara daring yang bisa dilakukan dari mana saja dan menjangkau siapa saja, tak terbatas sebagaimana prostitusi tradisional yang biasanya di lokalisir di tempat-tempat tertentu saja. Tentu upaya pengawasan prostitusi daring ini juga harus diperketat.

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Anak-Anak dari Perangkap Prostitusi

Pada daerah-daerah yang rentan terhadap eksploitasi anak ini, para orangtua diharap semakin waspada dalam mengawasi perilaku putra-putrinya. Dalam banyak kejadian, orangtua baru tahu setelah kasus tersebut terungkap oleh pihak yang berwajib. Kebanyakan korban berlatar belakang keluarga miskin yang mana orangtua sibuk mencari penghasilan, sedangkan anak-anaknya yang kurang pengawasan ini mudah diiming-imingi uang untuk memenuhi keinginannya akan barang-barang mahal yang sebenarnya belum dibutuhkan. Dalam hal ini tokoh agama setempat juga harus dengan tekun membimbing masyarakat yang rentan terhadap pengaruh budaya negatif dari para pendatang.

Sebenarnya kesadaran masyarakat tentang perlindungan anak-anak dari cengkeraman prostisusi kini semakin meningkat. Penutupan sejumlah tempat prostitusi kini sebagian besar didasarkan pada alasan untuk melindungi anak-anak dari perdagangan seks. Di tempat tersebut, germo selalu mencari gadis muda untuk dijadikan penarik minat laki-laki hidung belang. Tentu, gadis-gadis tersebut hanya bisa dimasukkan dalam ladang prostitusi dengan berbagai tipu daya dan pemaksaan. Jika siklus ini bisa diputus, tentu prostitusi bisa dikurangi. Upaya penutupan lokalisasi tidak mudah karena banyak pihak yang mengais rejeki dari situ. Keberanian walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menutup lokalisasi Dolly bisa menjadi contoh bagi pemimpin daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu dengan tidak melupakan pendekatan kemanusiaan pada mereka yang selama ini mencari penghidupan dari situ.  

Bagi-anak-anak yang terjerat dalam persoalan prostitusi ini, pendampingan sangat diperlukan untuk memulihkan mereka dari trauma psikologis. Mereka perlu mendapat dukungan agar bisa hidup kembali dalam situasi normal dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Ribath Nurul Hidayah

Bagi germo dan pembeli jasa seks anak, tentu perlu ada hukuman seberat-beratnya sebagai efek jera bagi kemungkinan kejadian yang sama di masa mendatang. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Aswaja, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Maret 2013

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merasa heran terhadap Menteri Agama (Menag) Maftuh Basuni atas kasus keterlambatan katering makanan jamaah haji di Arofah dan Mina (Armina). Ia menilai, Menag seperti tak mau belajar dari pengalaman masa lalu dalam kaitannya penyelenggaraan ibadah haji.

"Maftuh itu kan orang lama belajar di Arab. Kok mau dibohongin orang Arab?" gugat Gus Dur usai Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1) kemarin.

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Tak Mau Belajar dari Pengalaman Soal Katering Haji

Pasca kasus keterlambatan katering Armina, sejumlah kalangan mendesak agar Maftuh segera mengundurkan diri. Kebijakan haji tahun ini yang mengalihkan katering dari Muasasah ke perusahaan Ana for Development (AFD) telah menyengsarakan jamaah.

Kegagalan katering tersebut merupakan bentuk kecelakaan manajemen dalam pendistribusian makanan. Departemen Agama pun memutuskan akan kembali menggunakan katering Muasasah pada musim haji 2007 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga merasa heran tentang misteri keberadaan AdamAir nomor penerbangan KI 574 yang hingga kini masih belum terkuak. Ia memertanyakan, dalam kondisi hutan Indonesia yang sudah gundul, mengapa masih pesawat nahas itu masih sulit ditemukan.

"Kok di tengah-tengah hutan Indonesia yang gundul, pesawat jatuh ke hutan nggak bisa keluar. Mari kita doakan agar pesawat itu bisa ditemukan," kata Gus Dur,” sindir Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Mengenai kesalahan informasi lokasi jatuhnya pesawat, menurut Gus Dur, disebabkan karena kurang koordinasi.

"Pesawat AdamAir sudah diberitahu letak jatuhnya, tapi waktu dilihat nggak ada. Saya lihat itu cuma kurang koordinasi saja. Tidak ada unsur kesengajaan, jadi tidak ada penyesatan. Kalau nggak tau ya mau diapain," pungkas Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Februari 2013

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

Banyuwangi, Ribath Nurul Hidayah. Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren (MMPP) kembali digelar untuk yang ke 159, kali ini bertempat di Pondok Pesantren Darul Abror, Sukorejo Bangorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/9). Ratusan jamaah memadati halaman Pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH. Thohir Syafi’i ini.?

Pengajian yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali tersebut diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kyai Masruri (MWC Pesanggaran) dan dilanjutkan pengajian Ihya Ulumuddin Juz III yang dibawakan oleh Wakil Syuriah PCNU Banyuwangi, Kyai Zainullah Marwan. Dilanjutkan dengan sambutan dari KH. Masykur Ali, Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Kiai Masykur berpesan kepada masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dengan memasukkan anak-anak ke pondok pesantren.

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Banyuwangi Bahas Permasalahan Umat dalam Forum MMPP

“Anak-anak zaman sekarang ini sudah sulit untuk dikendalikan. Sekolah-sekolah umum sudah tidak mampu untuk mendidik anak. Maka dari itu, putra putri njenengan-njenengan yang masih sekolah, sekolahkan di sekolah yang berbasis pondok pesantren. Untung kalau dipondokkan sekalian, Kita sebagai warga NU jangan sampai terlena dengan perkembangan zaman yang begitu pesat saat ini,” tegas Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Jalen ini.

Dalam sejarahnya, MMPP pertama kali dirintis oleh delapan tokoh ulama Banyuwangi. Diantaranya adalah KH. Dimyati Ibrahim dari PP. Mathali’ul Falah, Sepanjang, Glenmore, KH. As’adi Sufyan dan KH.Syam’ani dari PP. Nahdlatut Thullab, Sukonatar, Srono, KH. Syamsul Arifin dari PP. An-Nur, Sukomukti, Kebaman, Srono, KH. Imam Muhtadi dari PP. Raudlatul Muta’allimin, Simbar, Tampo, Cluring, KH. Zuhriddin dari Swaloh, Sumbersari, Srono, KH. Mas’ud Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi dan KH. Mukhtar Syafa’at dari PP. Darussalam, Blokagung, Tegalsari.

Dalam pertemuan pertama para kiai-kiai tersebut, KH. Mukhtar Syafa’at tidak dapat hadir. Namun, restu Kiai Mukhtar yang menjadi poin penting berdirinya MMPP. Kiai Mas’ud Hakim awalnya enggan untuk ikut serta merealisasikan kegiatan tersebut, sebelum ada restu dari Kiai Syafa’at yang saat itu tidak bisa hadir dalam rapat. Kemudian, ditemenai oleh Kiai Imam Turmudzi, Kiai Mas’ud berkunjung ke Blokagung.

Ribath Nurul Hidayah

Sesampainya di Blokagung, Kiai Mas’ud sebagai representasi pemerintah, mendapatkan keyakinan untuk mendeklarasikan MMPP pertama kalinya, setelah Kiai Syafa’at memberi restu. Sejak itulah dibentuk kepengurusan MMPP yang kala itu masih sebatas Banyuwangi Selatan. Yaitu wilayah Banyuwangi bagian selatan, terhitung dari Kecamatan Srono ke arah selatan.

Ribath Nurul Hidayah

Yang ditunjuk sebagai ketua pertama MMPP adalah KH. Dimyati Ibrahim yang akrab disapa Gus Dim Jadab. Namun, ditengah perjalanan sebagai ketua MMPP, Gus Dim terlebih dahulu dipanggil kehadiran Allah SWT. Saat itulah, KH. Mukhtar Syafa’at ditunjuk menjadi pengganti Gus Dim untuk memimpin MMPP.

Di bawah kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at, MMPP berkembang pesat. Jama’ahnya makin bertambah banyak dan secara keorganisasian makin tertata. Nomenklatur “selatan” yang sebelumnya menempel pada kata Banyuwangi, dihapus. Hal ini, bertujuan untuk menjadikan MMPP memiliki cakupan lebih luas.

Saat kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at ini, awal mula dirintisnya pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam rangkaian acara MMPP. Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dikaji khusus Juz III (tiga) saja. Menurut KH. Aly Machfud Syafa’at, putra KH. Mukhtar Syafa’at, pemilihan Juz III kitab Ihya’ Ulumuddin, bukan tanpa alasan. Ada alasan spiritual yang melatarbelakangi. Dalam pemahaman Kiai Mukhtar Syafa’at, hati (inti) dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ada pada juz III tersebut.

Dalam perkembangannya, MMPP resmi berada dibawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi semenjak tahun 2003, tepatnya hari Jum’at, 6 Juni. Kala itu, Rais PCNU Banyuwangi adalah KH. Hisyam Syafa’at, putra almarhum KH. Mukhtar Syafa’at. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Kajian, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Februari 2013

Keluarga Maslahah

Keluarga Maslahah adalah konsep untuk menyebut keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat kepada ajaran agama di lingkungan NU. Secara khusus, konsep keluarga maslahah ini dikembangkan oleh LKK-NU.

Maslahah berasal dari akar kata sha-lu-ha yang secara harfiah berarti baik, manfaat, dan penting. Maslahah adalah kepentingan pribadi (perorangan), keluarga, dan masyarakat, karena maslahah adalah terpeliharanya kebutuhan primer manusia, baik agama, jiwa, harta benda, keturunan, serta akal atau kehormatan. Oleh karena itu, maslahah merupakan cita-cita setiap orang atau kelompok, khususnya kaum muslimin.

Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Maslahah

Teori al-Maslahah telah dikemukakan oleh para pemikir hukum Islam, seperti asy-Syatibi dan al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, maslahah adalah ungkapan yang pada intinya guna meraih kemanfaatan atau menolak kesulitan. Yang dimaksud adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedangkan al-Khawarizmi mendefinisikan maslahah dengan ”memelihara tujuan hukum Islam dengan menolak bencana atau kerusakan yang merugikan makhluk.”

Dari pengertian di atas dapat ditarik pemahaman bahwa maslahah adalah sarana untuk menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan manusia yang bersendi pada prinsip menarik manfaat dan menolak mafsadat (kerusakan). 

Ribath Nurul Hidayah

Dilihat dari kandungannya, maslahah dibagi dua, yakni: maslahat umum (al-maslahat al-’am), yakni maslahat untuk kepentingan orang banyak, dan maslahat khusus (al-maslhat al-khash), yakni maslahat untuk kepentingan pribadi.

Ribath Nurul Hidayah

Keluarga maslahah adalah keluarga yang dapat memenuhi atau memelihara kebutuhan primer (pokok), baik lahir maupun batin. Terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan lahir dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari lilitan kemiskinan dan penyakit jasmani. Sedangkan terpenuhi atau terpeliharanya kebutuhan batin dimaksudkan bahwa keluarga tersebut terbebas dari kemiskinan akidah (iman), rasa takut, stres, dan penyakit-penyakit batin lainnya.

Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dan Pendidikan Kependudukan yang diterbitkan LKKNU dan BKKBN disebutkan, terpeliharanya keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin adalah:

1. Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak, seperti terjaminnya keselamatan jiwa dan raga ibu selama hamil, melahirkan, dan menyusui serta terjaminnya keselamatan anak sejak dalam kandungan.

2. Terpeliharanya keselamatan jiwa, kesehatan jasmani dan ruhani anak serta tersedianya pendidikan bagi anak.

3. Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

Adapun ciri dari kemaslahatan keluarga (mashalihul usrah) adalah keluarga yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut:  

1. Suami-istri yang saleh, yakni yang dapat mendatangkan manfaat dan faedah untuk dirinya, anak-anaknya dan lingkungannya, sehingga darinya tecermin perilaku dan perbuatan yang dapat menjadi suri teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya maupun orang lain.

2. Anak-anaknya baik (abrar), dalam arti berkualitas, berakhlak mulia, sehat ruhani dan jasmani. Mereka produktif dan kreatif sehingga pada saatnya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain atau masyarakat.

3. Pergaulannya baik. Maksudnya, pergaulan anggota keluarga itu terarah, mengenal lingkungan yang baik, dan bertetangga dengan baik tanpa mengorbankan prinsip dan pendirian hidupnya.

4. Berkecukupan rezeki (sandang, pangan, dan papan). Artinya, tidak harus kaya atau berlimpah harta, yang penting dapat membiayai hidup dan kehidupan keluarganya, dari kebutuhan sandang, pangan dan papan, biaya pendidikan, dan ibadahnya. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Pesantren, Habib Ribath Nurul Hidayah