Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 



Ada kabar yang cukup membanggakan dari Liga Santri Nusantara (LSN). Di tahun ketiga penyelenggaraannya, Liga Santri ternyata sudah berhasil menarik perhatian internasional. 

Kali ini perhatian datang dari pesohor bola Amerika Serikat, Ethan Zohn. Mantan pemain Timnas Amerika Serikat yang kini aktif di kegiatan amal dan kegiatan komunitas itu tertarik untuk memantau antusiasme kaum santri dalam sepakbola. Bahkan Ethan Zohn berencana untuk berkunjung langsung ke pesantren yang memiliki interest pada sepakbola.

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri

Deputy Cultural Attache Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia, Jed Taro Dornburg, menggelar pertemuan dengan jajaran Direksi LSN, Selasa (12/9). 

"Ethan akan berkunjung ke Indonesia selama 7-15 Oktober ini. Dia sangat tertarik untuk melihat bagaimana para santri bermain bola. Dia ingin berkunjung langsung ke pesantren dan berinteraksi dengan para santri di tengah-tengah lawatannya," terang Jed.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti diketahui, Ethan Zohn adalah co-founder Grassroot Soccer (GRS). Grassroot Soccer merupakan organisasi nirlaba yang menggunakan sepakbola untuk memperkuat masyarakat, terutama kaum muda, termasuk pelatihan sepakbola untuk anak-anak.

Sementara itu, Cornelius Ariyanto, salah seorang Direktur Liga Santri menyatakan apresiasinya ataa kunjungan tersebut. 

Ribath Nurul Hidayah

"Ini merupakan reward bagi Liga Santri dan kalangan pesantren. Sekaligus membuktikan bahwa Liga Santri sudah mulai diperhitungkan. Kalau tahun kemarin kita sudah menghasilkan alumni di Timnas Garuda Nusantara, alhamdulillah tahun ini kita mulai dilirik pemain profesional dunia."

Terkait dengan rencana kuniungan bintang bola Amerika ini, Irham Saifuddin, Direksi lainnya di Liga Santri menyatakan, tujuan utama Liga Santri bukan hanya mencetak pemain bola profesional untuk nantinya berkhidmah pada tanah air saja.

“Alasan utama Liga Santri merupakan media untuk mengkomunikasikan dunia santri kepada dunia luar, termasuk kalangan internasional. Bahwa pesantren merupakan kekayaan khazanah keislaman dan secara tulus terbuka terhadap sekat-sekat agama, etnisitas, ras atau pun sekat primordialistik lainnya. Liga Santri adalah merupakan media diplomasi kebudayaan kita, kaum santri, kepada dunia global," pungkas Irham. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Nusantara, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 30 Januari 2018

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, tidak menjadi persoalan jika bendera "Bintang Kejora" ingin dijadikan simbol kultural Papua.

"Bintang kejora bendera kultural. Kalau kita angggap sebagai bendera politik, salah kita sendiri," kata Gus Dur kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (6/7).

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Bintang Kejora Itu Lambang Kultural

Gus Dur, yang saat menjabat presiden mengabulkan permintaan masyarakat Irian Jaya (waktu itu) untuk menggunakan sebutan Papua, justru menuding polisi tidak berpikir mendalam ketika melarang pengibaran bendera "Bintang Kejora".

"Ketika polisi melarang, tidak dipikir mendalam. (tim) sepak bola saja punya bendera sendiri. Kita tak perlu ngotot sesuatu yang tak benar," katanya.

Menurut Gus Dur, kalau pengibaran bendera itu dianggap separatis, maka ujung-ujungnya adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menurut dia sudah tidak ada lagi.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau dianggap separatis harus dilanjutkan apa alasannya? Ujung-ujungnya kan OPM. Tapi sejak dua tahun lalu (OPM) sudah tinggalkan situ (Papua). Tak perlu kita curiga pada saudara sendiri," katanya.

Sebelumnya, sejumlah pihak meminta agar dihindari penggunaan bendera "Bintang Kejora" sebagai lambang kultural Papua karena bendera itu telanjur menjadi simbol gerakan separatis OPM.

Ketika ditanya soal diundangnya aktivis OPM oleh Senat Amerika Serikat beberapa waktu lalu, Gus Dur juga tidak terlalu mempermasalahkannya, walau Senat tidak mengundang pemerintah Indonesia untuk menjelaskan persoalan yang sama. "Pemerintah tidak diundang, wong pendiriannya sudah tahu," katanya.

Sementara, menyangkut penyusupan aktivis kelompok gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada acara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon beberapa waktu lalu, Gus Dur menyebutnya sebagai keteledoran.

"Itu keteledoran, tak perlu dibenarkan, agar tahu ada yang teledor. Biarkan saja, tapi jangan sampai terulang di masa depan," katanya. (rif)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Senin, 22 Januari 2018

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah mengeluarkan ikhbar bahwa tanggal 1 Rajab 1437 hijriah jatuh pada Sabtu, 9 April 2016.

Ketua LF PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengatakan, keputusan ini berdasarkan hasil istikmal atau penyempurnaan jumlah tanggal bulan menjadi 30 hari, setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU tak melihat hilal pada Kamis (7/4) petang.

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April

Kesimpulan tersebut sudah sesuai dengan prediksi hasil hisab atau penghitugan astronomis sebagaimana yang tercatat dalam almanak resmi Lembaga Falakiyah. Berdasarkan hisab awal bulan markaz Jakarta, 1 Rajab terjadi pada (malam) Sabtu Wage, 9 April 2016. Ijtima atau konjungsi terjadi pada Kamis Pahing (7/4), pukul 18:24, dengan tinggi hilal 00 22 19 di bawah ufuk.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan demikian, bagi umat Islam yang hendak melaksanakan puasa Rajab bisa memulainya Sabtu (8/4) besok. Rajab termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam di samping Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan tentu saja Ramadlan.

Bulan Rajab juga menandai persiapan perayaan hari lahir Nahdlatul Ulama yang lahir pada 16 Rajab 1344 H. Meski sering pula diperingati pada 31 Januari, acara tahunan ini juga kerap diselenggarakan menurut kalender hijriah sesuai amanat Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 2010. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Olahraga, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Bojonegoro, Ribath Nurul Hidayah. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan konferensi, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2013-2018, secara resmi dilantik di kantor MWC NU setempat, Jumat (31/1).

Selain pelantikan, rangkaian acara juga meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara pelantikan dilanjutkan dengan musyawarah kerja (Musker) MWC NU Balen.

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Panitia pelantikan, Mulazim, menjelaskan, sebelum pelantikan Jumat siang ini, tahtimul Quran lebih dulu digelar Kamis (30/1) malam di kantor MWC NU Balen.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PC NU Bojonegoro, Cholid Ubed berpesan kepada seluruh pengurus hinga tingkat ranting, termasuk jajaran badan otonom NU, baik IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor, untuk tetap memegang sikap kejujuran.

"Kuncinya jujur, karena kejujuran merupakan pondasi yang tidak akan pernah terkalahkan. Serta orang yang mau mengurusi, baik meengurusi NU maupun organisasi dan masyarakat," sambung dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ditambahkan, kebersamaan, kejujuran dan kepedulian perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat bisa bersatu dan tidak terjadi konflik sosial.

Rais Syuriyah MWC NU Balen Abdullah Hilmi Al-Jumadi mengajak para undangan dalam acara pelantikan, untuk meneladani sosok Gus Dur. Pasalnya presiden keempat RI itu tidak pernah diskriminatif di tengah keragaman budaya dan agama di Tanah Air.

"Kita orang Indonesia yang beragama islam, bukan islam yang hidup di makkah," ujar Kepala KUA Kecamatan Malo, Bojonegoro ini. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Nusantara, Berita Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 17 Januari 2018

Ratusan Banser Jatim Akan Digembleng di Pasuruan

Pasuruan, Ribath Nurul Hidayah

Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) terus melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Setelah melakukan pelatihan khusus Banser Tanggap Bencana (Bagana) di Surabaya,? Satkorwil Banser Jatim? 29 Juli-1 Agustus 2016 mendatang, menyelenggarakan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan ) di Pasuruan.

Sebanyak 131 Banser lulusan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) ikut dalam pelatihan berjenjang tersebut. Mereka datang dari berbagai? Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) di wilayah Jawa Timur.

Ratusan Banser Jatim Akan Digembleng di Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser Jatim Akan Digembleng di Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser Jatim Akan Digembleng di Pasuruan

”Kita akan terus tingkatkan pendidikan anggota mulai dari pendidikan berjenjang dan juga pendidikan khusus,’’ ungkap Kepala Satkorwil Banser Jatim, dr H Umar Usman kepada Ribath Nurul Hidayah Sabtu pagi (30/7).

Ribath Nurul Hidayah

Ia menjelaskan, pelatihan? Bagana yang kerja sama dengan Kementerian Sosial di Surabaya awal bulan lalu, diikuti 60 peserta dan Susbalan di Pasuruan ini diikuti 131 peserta.” Mereka datang dari beberapa Satkorcab di Jatim,’’ kata Umar yang kini juga menjabat sebagai Kepala Satuan Khusus Banser Husada (kesehatan) Satkornas Banser itu.

Beberapa materi disampaikan kepada peserta mulai Kebanseran? Tahap II, Kepemimpinan, Managemen Organisasi, Tata Administrasi Banser, Problem Solving, Dasar-Dasar Intelegent, Propaganda, PBB, TUP dan Caraka Malam. “Jadi di pelatihan Susbalan ini, banyak prakteknya dari pada teorinya. Mayoritas mendalami materi yang sudah disampaikan di Diklatsar,’’ tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H.Rudi Tri Wahid. Menurutnya, Susbalan ini merupakan pelaksanaan program jangka menengah Satkorwil Banser Jatim. “Setelah ini Jawa Timur akan melaksanakan Kursus Banser Tanggap Bencana (Bagana) di Trenggalek. Kalau di Surabaya dulu yang punya gawe Satkornas. Kalau yang di Trenggalek kegiatan Satkorwil Banser Jatim,’’ terangnya.

Tidak hanya Banser saja pelatihan dan pendidikan guna peningkatan SDM anggota.Tapi juga dilakukan untuk anggota Ansor. ”Kita juga akan segera menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan.? Acara sudah kami agendakan,’’ tambahnya. (imam kusnin ahmad/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 10 Januari 2018

Belajar Al-Fatihah Selama 3 Bulan

Suatu ketika dalam rangka mengisi pengajian haul KH Abdul Qodir Munawwir, Gus Mus, yang juga alumni Krapyak, mengisahkan pengalaman dan interaksinya ketika nyantri dengan Kiai Qodir.

Kepada Kiai Qodir, Gus Mus belajar surat al-Fatihah selama tiga bulan. Gus Mus sampai sakit hati, karena santri-santri lain sudah khatam Fatihah dalam waktu yang tidak lama, tetapi surat Fatihah saja ngajinya begitu lama. 

Belajar Al-Fatihah Selama 3 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Al-Fatihah Selama 3 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Al-Fatihah Selama 3 Bulan

Karena merasa penasaran dengan lamanya waktu, Gus Mus akhirnya mencari tahu.Setelah dicari asal-usulnya, ternyata waktu itu, sang ayah (KH. Bisri Mustofa) menitipkan Gus Mus kepada Romo Kiai Qodir secara sungguh-sungguh.    

Ribath Nurul Hidayah

“Kiai, hari ini saya titip anak saya kepada Kiai. Tolong ajari anak saya bagaimana caranya membaca Al-Fatihah yang baik dan benar. Tapi ingat Kiai, kalau nanti shalat anak saya sampai tidak diterima oleh Allah subhaanahu wa ta’ala lantaran Fatihah yang Kiai ajarkan, saya akan tuntut Kiai nanti di Yaumil Hisab.” ujar Kiai Bisri kepada Kiai Qodir, rahimahumallah. (Rokhim) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda

Boyolali, Ribath Nurul Hidayah. Pesantren Al-Huda Doglo Cepogo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan ini (7-9/2), menggelar peringatan setengah abad berdirinya pesantren.

Salah satu putra pengasuh pondok, Gus Aunullah A’la, menerangkan acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan.

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda

“Rangkian acara peringatan setengah abad Pondok Pesantren Al-Huda, mulai dari Jumat, dengan acara Haul Masyayikh dan Pemutaran Film Sang Kiai,” terang pria yang akrab disapa Gus A’la itu.

Ribath Nurul Hidayah

Sehari setelahnya, kegiatan akan berlanjut dengan pementasan seni daerah Rodad dan Reog. ? Gus A’la menambahkan, pada hari yang sama juga akan digelar lomba hadrah.

Puncak acara peringatan setengah abad Pesantren Al-Huda, diadakan pada Ahad (9/2), yang ditandai dengan kirab Santri dan pagelaran seni barongsai. Rangkaian acara tersebut akan ditutup dengan pengajian akbar bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Mengantisipasi paham radikal yang kian marak, khususnya di kalangan pelajar, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU Institut Zainul Hasan (Inzah) Genggong memberi pemahaman terhadap calon penerus bangsa tentang ideologi dan identitas NU.

Kegiatan yang digelar, Rabu-Jumat (4-6/1) di MI Nurudz Zholah Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ini dikemas dalam bentuk Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Dimana tema yang diangkat adalah “Meneguhkan Ideologi, Menegaskan Identitas untuk Membentuk Kader Muda yang Bervisi Kebangsaan dan Berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah”.?

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU

Sekretaris PKPT IPNU Inzah Genggong Rifqi Maulana mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kader muda yang siap menjaga keutuhan NKRI dan berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.?

“Seperti dawuh KH. Hasyim Asy’ari ? bahwa “Agama dan Nasionalisme tidak boleh dipisahkan karena agama saja belum mampu untuk menyatukan umat. Teringan pesan beliau, kami ingin kader IPNU-IPPNU mampu menciptakan bangsa yang damai karena cita-cita para pendiri NU adalah menciptakan Darus Salam bukan Darul Islam,” katanya.

Kegiatan yang diikuti oleh 30 orang peserta dari mahasiswa baru, siswa, santri bahkan sarjana ini dihadiri oleh pengurus PKPT IPNU-IPPNU Inzah Genggong serta pengurus Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kota Kraksaan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kami mengharapkan kegiatan ini mampu membentuk kader muda yang militannya tidak diragukan dan yang mampu menjalin ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Khutbah, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Desember 2017

Lagi, NU Bagikan 700 Paket Bantuan untuk Rohingya di Balukhali

Bangladesh, Ribath Nurul Hidayah - Tim Delegasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk Rohingya untuk yang kesekian kalinya menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Rohingya yang ada di Balukhali Coxs Bazar Bangladesh, Senin (2/10).

Jika dibandingkan dengan sebelumnya, pendistribusian kali ini paling tertib karena melibatkan tentara yang bertugas mulai dari proses pengantrean hingga penyaluran bantuan melibatkan unsur tentara, selain dengan mitra lokal yang menjadi partner.

Lagi, NU Bagikan 700 Paket Bantuan untuk Rohingya di Balukhali (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, NU Bagikan 700 Paket Bantuan untuk Rohingya di Balukhali (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, NU Bagikan 700 Paket Bantuan untuk Rohingya di Balukhali

Koordinator Tim NU untuk Rohingya Muhammad Wahib menyebutkan, jumlah bantuan yang disalurkan pada hari ini adalah tujuh ratus paket.

"Yang berisi bahan dan peralatan memasak," kata Wahib kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menerangkan, hingga saat ini yang paling dibutuhkan oleh pengungsi Rohingya adalah bahan makanan dan juga peralatan untuk memasaknya. Karena mereka datang ke Bangladesh tanpa membawa sesuatu kecuali yang menempel di bajunya.

Ribath Nurul Hidayah

"Semua yang mereka miliki ditinggal semua di Myanmar," jelasnya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah menyalurkan bantuannya untuk Rohingya melalui Nahdlatul Ulama (NU).

Wahib menjelaskan, bersama dengan lembaga yang tergabung dengan Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) NU berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya selama enam bulan ke depan.

"Kita memiliki program bantuan jangka panjang," ucapnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 30 November 2017

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah - Sejumlah program yang dapat direalisasikan Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur dibahas intensif pada Ahad (17/1). Diharapkan dari koordinasi ini banyak peluang dan kegiatan yang bisa menyapa warga serta manfaatnya dapat dirasakan khalayak.

"Ada 5 program yang telah disepakati pada rapat yang berlangsung sejak pagi hingga petang kemarin," kata Ahmad Najib AR kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (18/1). Kelima program tersebut dari mulai menejemen organisasi, media informasi dan publikasi, pembinaan dan kepustakaan, penerbitan dan usaha, serta riset dan pengembangan, lanjutnya.

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Gus Najib, sapaan akrabnya juga menandaskan bahwa di menejemen organisasi bersifat konsolidasi internal, memanfaatkan jaringan dengan kepengurusan di kota dan kabupaten se Jawa Timur hingga memanfaatkan koordinasi dengan kepengurusan di tingkat PP LTN NU di Jakarta.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk media informasi dan publikasi ada dua pekerjaan besar yang dilakukan yakni mengoptimalkan keberadaan website kitabkuning.net serta workshop media sosial," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam waktu dekat, PW LTN NU Jatim yang dipandegani oleh program pembinaan dan kepustakaan akan melangsungkan lomba karya tulis ilmiah. "Temanya sedang kami persiapkan," katanya. Dari kegiatan ini diharapkan juga akan lahir buku sebagai bunga rampai gagasan peserta lomba, lanjutnya.

Pertengahan tahun depan juga sudah disiapkan usaha penerbitan sekaligus percetakan sebagai penopang kebutuhan keuangan lembaga. "Yang pasti, untuk penerbitan sudah disepakati," kata Gus Najib. Sedangkan untuk percetakan karena membutuhkan mesin yang memadai, masih menunggu kepastian dari sejumlah pihak yang telah menyediakan kesempatan tersebut, lanjutnya.

Sedangkan terakhir adalah terkait dengan riset dan pengembangan yang mendapat sejumlah masukan dari peserta rapat. "Kegiatan ini memang penting sebagai sarana menghimpun dan mengkonsolidir intelektual dan peneliti NU yang berorientasi pada kemajuan jamiyah," terangnya. Devisi ini juga akan mengakomodir keinginan kuat para tenaga pendidik dan dosen yang membutuhkan jurnal sebagai media untuk menyampaikan gagasan demi memperbaiki kondisi yang lebih baik.

Yang membanggakan, pada rapat yang berlangsung di aula PWNU Jatim tersebut, sejumlah pengurus berkenan hadir. "Walau ada yang dari luar kota, antusias mereka sangat membanggakan," kata Gus Najid. Termasuk kehadiran mantan Ketua PW LTN NU periode sebelumnya yakni? Dr H Syahid yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Santri, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember akan diperingati besar-besaran di Surabaya. Acara dipusatkan di areal Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Kali ini acara besar itu akan diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Jam’iyatul Qura’ wal Huffadz (JQH) Jawa Timur, bekerjasama dengan MUI, PWNU, Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim.

Direncanakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa menteri dan gubernur di seluruh Indonesia akan turut hadir dalam perhelatan besar itu. “Semua undangan sudah kami sampaikan, dan dipastikan sudah sampai di tangan masing-masing yang kami undang,” kata KH Drs Abdullah Faqih, SH, Ketua Panitia Haul Pahlawan Nasional kepada Ribath Nurul Hidayah di Surabaya, Selasa (6/11).

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

JQH Mantapkan Persiapan Haul Pahlawan Nasional

Ustadz Faqih menuturkan, dalam pelaksanaan nanti pihaknya akan melibatkan 1945 hafidz (penghafal Al-Quran putra) dan hafidzah (penghafal Al-Quran putri). Pengambilan jumlah itu disesuaikan dengan tahun terjadinya peristiwa hari bersejarah di Surabaya itu.

Para Qori’ adalah para anggota JQH di seluruh Jawa Timur. Faqih menyatakan, pihaknya tidak kesulitan mencari penghafal Al-Quran sebanyak itu di wilayah kerjanya, sebab tidak kurang dari 9.000 anggota JQH Jatim adalah seorang hafidz/hafidzah.

“Itu yang sudah terdaftar resmi hafal 30 juz, yang belum terdaftar masih banyak,” tutur alumnus Pondok Pesantren Langitan itu. Ia menuturkan, dalam rapat pleno persiapan yang dilakukan pada awal November lalu, sudah ada 3.900 orang yang mendaftar. “Ya nanti kita bagi, selebih dari 1945 orang, sisanya sebagai mustami’in saja,” imbuh Sekretaris JQH Jawa Timur itu.

Ribath Nurul Hidayah

Di tempat yang sama, H Ahid Sufiaji, Wakil Majelis Ilmi JQH Jatim menjelaskan, acara akan dimulai pukul 06.00 WIB pagi dengan khatmil Quran bil ghaib oleh 1945 orang penghafal Al-Quran di 114 majelis. Setiap majelis berada di dalam masjid, hanya 9 di antaranya adalah majelis besar yang berada di areal Monumen Tugu Pahlawan.

Penggunaan angka 9 disesuaikan dengan angka keramat NU. Jam 11.00 WIB berarti Al-Quran telah dikhatamkan sebanyak 114 kali. Angka itu adalah angka seluruh jumlah ayat yang ada dalam Al-Quran.

Setelah itu akan dilakukan pelantikan pengurus baru PW JQH Jatim, disusul dengan pembacaan istighosah dan do’a bersama untuk para pahlawan. Baru setelah itu dilakukan sambutan-sambutan, termasuk di dalamnya amanat presiden dan ceramah umum yang akan disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH A Hasyim Muzadi. Sedangkan doa penutup akan disampaikan oleh DR KH MA Sahal Mahfudh.?

Ribath Nurul Hidayah

Anggota FKB DPRD Jatim itu menuturkan, tidak kurang dari 4.000 undangan telah diedarkan. Mereka adalah para penghafal Al-Quran, para pengurus Ormas Islam, partai politik, para kepala daerah tingkat II se-Jatim, gubernur se-Indonesia, veteran, seniman, budayawan, banom-banom dan lembaga NU, para calon gubernur, dan lain-lain.

“Pokoknya acara ini sekaligus sebagai ajang menjalin silaturahmi untuk mempererat persaudaraan bangsa,” tutur H Ahid, yang duduk di dewan penasehat kepanitiaan.

Ia menjelaskan, perayaan Hari Pahlawan kali ini sengaja dibuat besar-besaran, karena jasa para pahlawan yang meletakkan kemerdekaan negeri ini juga besar. Sebenarnya ide semacam itu sudah muncul 3 tahun lalu, namun baru kali ini bisa dilaksanakan. “Semoga kali ini tidak ada lagi gangguan di tengah jalan,” ujarnya berharap. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Nusantara, Quote Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah. Setelah berjibaku dalam medan pelatihan selama empat hari, para Dosen Muda peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda Gerakan Pemuda Ansor menelorkan Piagam Tulungagung. Piagam ini ditetapkan menjelang penutupan pelatihan.

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

?

Latar belakang munculnya Piagam Tulungagung dilandasi keprihatinan betapa NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia sedang berada dalam ancaman. Para dosen muda itu menyoroti bahwa terdapat upaya sistematis yang merongrong dan berusaha memecah belah NKRI.?

Upaya-upaya itu dilatarbelakangi politik sektarian berbasis perbedaan suku, ras, agama, dan golongan. Dampaknya, benih-benih disintegrasi mulai muncul di mana-mana.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, para dosen muda itu berpandangan bahwa perbedaan adalah sebuah fakta yang tak mungkin dihilangkan. Karena sejatinya perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bukanlah laknat.?

Tinggal bagaimana segenap komponen bangsa dengan beragam perbedaan itu mampu merawat persatuan dan kesatuan. Sehingga, NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia masih tetap utuh dan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Piagam Tulungagung itu, Dosen Muda GP Ansor menyampaikan sikap:

1. Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk dan menumbuh-kembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan adalah rahmat dan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.

2. Mengajak segenap komponen bangsa untuk terus berperan aktif dalam mengkampanyekan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam setiap lini kehidupan.

3. Melawan radikalisme yang mulai berkembang di berbagai lapisan masyarakat dan membahayakan bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Menjadikan kampus/perguruan tinggi sebagai basis perjuangan dalam upaya melawan berkembangnya radikalisme.

5. Mendorong pemerintah untuk menindak tegas kelompok/golongan yang melakukan gerakan merongrong kedaulatan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adung Abdul Rochman, Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor menyampaikan apresiasi atas ditelorkannya Piagam Tulungagung. “Kami menyampaikan penghargaan terhadap para Dosen Muda yang telah menelorkan Piagam Tulungagung, ini merupakan upaya tepat dan langkah awal melawan radikalisme yang berkembang di perguruan tinggi,” tegas pria asal Jombang tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Adung, komitmen para civitas akademika sangat penting dalam melawan infiltrasi gerakan radikal yang hari-hari ini mengalami eskalasi di berbagai tempat. "Kampus harus menjadi pusat moderasi bagi tumbuhnya Islam yang terbuka, damai dan toleran" kata Adung Abdul Rochman

Sebagaimana diketahui, 148 Dosen Muda GP Ansor mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor. Pelatihan ini dilaksanakan di Kampus IAIN Tulungagung dibuka pada Kamis, 30 Maret 2017 dan ditutup pada Ahad, 2 April 2017. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Bahtsul Masail, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menjelang perkuliahaan tahun akademik 2017/2018, Pascasarjana Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar orientasi studi, Kamis (7/9) di Gedung PBNU Jakarta.

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara Unusia Gelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru

Dalam orientasi studi itu, Pascasarjana Unusia menghadirkan Wakil Rektor III Unusia KH Mujib Qulyubi, dan dua asisten Direktur Pascasarajana Muhammad Ulinnuha serta Hamdani.

Kiai Mujib mendorong mahasiswa baru untuk menyelesaikan studi tepat waktu dua tahun alias empat semester. Kiai Mujib juga mendorong mahasiswa untuk melakukan riset tesisnya tidak hanya mengkaji tentang Indonesia

“Bisa tentang Thailand, Malaysia dan negara-negara tetangga lainnya,” ujar Kiai Mujib kepada seluruh mahasiswa Pascasarajana yang hadir memadati ruang acara.

Sebab menurut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini, serpihan-serpihan Islam Nusantara baik dari sisi naskah, tradisi dan budaya negara-negara di Asia Tenggara memiliki keterkaitan dengan Indonesia.  

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ulinnuha, Asdir Keuangan menyoroti soal ketepatan melakukan administrasi bagi mahasiswa reguler. Ia juga menyinggung soal komitmen untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam Nusantara yang menurutnya penting dilakukan secara bersama-sama. 

Ribath Nurul Hidayah

“Hanya dengan mengenali jati diri, bangsa ini bisa maju. Salah satu caranya adalah dengan kerja akademik melalui Pascasarjana Unusia.

Senada dengan Ulinnuha, Hamdani mendorong mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris akan diajak mengikuti berbagai riset dan konferensi-konferensi akademik baik nasional maupun internasional. 

“Tahun ini salah satu mahasiswa Pascasarjana Unusia juga ada yg mengikuti diskusi panel di AICIS, sebuah konferensi tahunan yang digelar oleh Kementerian Agama,” ujar Hamdani.

Hamdani juga menyampaikan cakupan topik penelitian Islam Nusantara itu luas. Bisa berkaitan dengan budaya/tradisi, pemikiran, gerakan, manuskrip, arsitektur, dan topik sosial keagamaan lainnya. 

Dalam penulisan akademik, mahasiswa juga harus memperhatikan penggunaan bahasa akademik dan tata cara penulisan menurut sistem yang sudah ditentukan.                        

Mahasiswa baru Pascasarjana UNU Indonesia tahun akademik 2017/2018 berjumlah 45 orang dengan komposisi 25 mahasiswa reguler dan 20 mahasiswa beasiswa kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Purwakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Oktober 2017

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar lima ribu massa dari Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Diniyah (For-Madin) menduduki gedung DPRD Jepara, Rabu (9/1). Ribuan massa yang berkumpul dari gedung NU Jepara terdiri dari berbagai elemen, antara lain Qiroati, Yanbua, RMI, Lakpesdam, Ansor dan IPNU-IPPNU.

Dalam aksi longmarch dari gedung NU menuju gedung DPRD massa hendak menyampaikan aspirasi kepada dewan terkait digagalkannya Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan Diniyah dalam rapat paripurna DPRD 26 Desember 2012 lalu. 

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

“Digagalkannya Perda Diniyah merupakan bukti bahwa wakil rakyat kita tidak peka terhadap aspirasi masyarakat. DPRD Jepara telah mempermainkan agama untuk kepentingan politik mereka,” kata Achmad Makhalli koordinator umum aksi sembari membacakan testimoni suara masyarakat Jepara. 

Ribath Nurul Hidayah

Ranperda Diniyah merupakan perda inisiatif dari DPRD. Makhalli menyayangkan Ranperda yang diproses dan dikaji Panitia Khusus (Pansus) yang harapannya sesuai dengan kehendak rakyat malah ditolak sendiri oleh Pansus dan Fraksi di DPRD. 

“Ini artinya DPRD melakukan tindakan yang “sembrono” karena selain pemborosan anggaran juga berakibat kepada pendidikan diniyah di kabupaten Jepara,” sambung Makhalli. 

Ribath Nurul Hidayah

H Anas Arbaani dari PCNU mengungkapkan munculnya pro-kontra Ranperda dari masyarakat dan DPRD berdalih belum sempurna dan perlu disempurnakan maka masyarakat tidak perlu terkecoh. Masyarakat lanjut Anas yakin digagalkannya Ranperda tersebut berkiatan dengan pertarungan politik elit dan “kue politik” 2014. 

Karenanya, For-Madin, imbuh Anas, menyatakan sikap menolak politisasi agama untuk kepentingan sesaat, DPRD harus menghilangkan dikotomi pendidikan formal dan non formal, DPRD harus segera menyempurnakan dan mengesahkan Ranperda pendidikan diniyah paling lambat 31 Januari 2013 dan For-Madin akan melakukan pengawalan terhadap proses finalisasi Perda dan Pebup pendidikan Diniyah. 

Dalam aksi sebelum berjalan menuju gedung dewan diawali dahulu dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan shalawat serta menyuarakan yel-yel. Didepan gedung dewan secara bergantian menyampaikan orasi dengan lagu, syiiran maupun suara nan lantang. 

“Hai wakil rakyat elengono naliko mlarat/ saiki wes sugih ojo nganti nekad/ ngelengono/ ngelengono besok bakal dadi tanggungan akherat.” Begitu salah satu syiir dari salah satu orator. 

Karena perwakilan dari For-Madin yang tak kunjung keluar akhirnya massa merangsek ke gedung dewan. Meski demikian aksi tidak diwarnai dengan anarkis melainkan doa bersama sekaligus mengakhiri aksi siang itu. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 27 Oktober 2017

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  Hasyim Muzadi mengatakan, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi tidak bisa disamakan dengan Eropa, karena dimensinya berbeda.

"Kalau Eropa, dimensinya bisnis, keamanan, atau dimensi politik. Tapi, kalau dengan Arab Saudi hubungan Indonesia dimensi agamis," kata Hasyim usai seminar bertajuk Amandemen UUD 1945 di kantor PBNU Jakarta, Kamis.

Hasyim mengatakan, mengenai wacana larangan terbang terhadap maskapai penerbangan Indonesia ke Arab Saudi tidak perlu ditangapi dengan keras. "Indonesia cukup melakukan penjelasan, tidak usah keras. Kalau memang harus ada yang diperbaiki dari Garuda, ya diperbaiki," katanya.

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubungan Indonesia-Arab Tak Bisa Disamakan dengan Eropa

Hasyim menegaskan, dalam hal ini yang lebih terlihat adalah pihak Arab Saudi yang ingin mendapatkan keterangan dari pihak Indonesia. "Belum ada larangan, saya juga belum yakin itu larangan. Saudi cuma ingin penjelasan, kenapa itu terjadi di Eropa," ujarnya.

Lebih lanjut Hasyim yakin, posisi Arab Saudi tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan sesuai amanah yang diembannya. "Saya yakin posisi Arab sesuai namanya dalam bahasa Arab "Qodimun Haromain" itu, sesungguhnya pengabdi haji. Maka dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip yang ia lakukan," katanya.

Disinggung adanya boikot haji, Hasyim menegaskan hal itu tidak perlu dilakukan. "Saya kira itu tidak perlu. itu, hanya, karena kaget saja," demikian Hasyim Muzadi.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Menteri Agama Maftuh Basyuni menegaskan bahwa pemerintah Arab Saudi belum melarang penerbangan Indonesia ke Arab Saudi. Semua yang berkembang saat ini baru wacana.

"Pemerintah Arab Saudi baru mempertanyakan keputusan Uni Eropa yang melarang penerbangan Indonesia ke Eropa. Utusan dari sana (Arab Saudi) telah diminta datang ke Indonesia untuk memperoleh penjelasan langsung mengenai kondisi penerbangan di Indonesia," katanya.

Menag berharap pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini tidak sampai terjadi.(sbr)

Ribath Nurul Hidayah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Senin, 16 Oktober 2017

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Perkembangan Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran Hijaz (Makkah dan Madinah). Hijaz, sejak zaman zaman Rasulullah SAW menjadi primadona bagi orang yang ingin mendalami wahyu dan Hadist an-Nabawi. Sempat, banyak ilmuwan Islam meninggalkan Hijaz disebabkan karena adanya pembantaian massal yang dilakukan oleh Hajaj bin Yusuf yang mensyahidkan Abdullah bin Zubair, ulama yang sangat disegani dari sisa-sisa sahabat Rasulullah SAW. Setelah simpuh darah membanjiri Masjidil Haram, banyak ilmuwan Muslim yang pindah menuju Baghdad, Syam dan Mesir serta Yaman. Hingga, ketika situasi Hijaz sudah stabil lagi, ia diserbu para thâlabah yang ingin mencari ilmu dan keberkahan beribadah di Masjidil Haram dan Masjid an-Nabawi yang pahalanya dilipatgandakan sebagaimana yang disabdakan baginda Nabi Muhammad SAW.

Dari Hijaz, terpancarlah sinar Islam hingga menjulang ke seantero dunia, termasuk Nusantara (Indonesia). Indonesia terkena sinar keislaman Hijaz pada abad 1 Hijriyah/ 7 Masehi, yaitu pada masa Khalifah Ustman bin Affan. Sinar itu semakin bercahaya pada abad 18, 19 dan 20. Banyak ulama asal Nusantara yang mendatangi Hijaz, baik untuk berdagang, menuntut ilmu atau untuk menjalankan ritual ibadah haji. Dari banyaknya animo umat Islam asal Nusantara ini, maka terbentuklah Kampung al-Jawi yang barada di Syami’ah, dekat Pasar Seng. Kampung al-Jawi ini, bukan hanya dihuni oleh bangsa Indonesia, melainkan umat Islam Asia Tenggara, banyak yang bertempat tinggal di sana.

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Mulanya, umat Islam yang belajar di Hijaz, terutama di Masjidil Haram mendapatkan celaan dan hinaan. Namun, dengan penuh kesabaran mereka tetap semangat untuk selalu belajar dan beristifâdah kepada para syeikh yang mengajar di Masjidil Haram. Buahnya, Hijaz dibanjiri oleh pengajar dan thâlabah yang datangnya dari Nusantara dari generasi ke generasi. Ulama-ulama dari Nusantara banyak memainkan peranan penting dalam akademik keulamaan. Prestasi mereka banyak yang mengungguli ulama-ulama yang asli orang Arab, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi, dan Syaikh Yasin al-Fadani.

Buku Amirul Ulum ini menerangkan tentang biografi 26 ulama Aswaja asal Nusantara yang mempunyai prestasi gemilang (seperti menjadi imam, khatib dan pengajar di Masjidil Haram) yang dapat membawa nama baik Nusantara (Indonesia) hingga go internasional. Ulama-ulama tersebut yaitu, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Makki, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Mahfudz at-Turmusi al-Makki, Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi al-Makki, Syaikh Muhsin al-Musawa al-Palimbani al-Makki, Syaikh Abdullah Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi al-Makki, Syaikh Baqir bin Muhammad Nur al-Jukjawi al-Makki, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, Syaikh Ahmad bin Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Makki, Syaikh Ismail al-Khalidiyah al-Minangkabawi al-Makki, Syaikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Makki, Syaikh Junaid al-Batawi, Syaikh Abdul Karim al-Bantani al-Makki, Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari al-Makki, Syaikh Muhammad  Ahyad bin Muhammad Idris al-Bughuri al-Makki, Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi al-Makki, Syaikh Jinan Muhammad Thayyid al-Sariaki al-Makki, Syaikh Asy’ari bin Abdurrahman al-Baweani al-Makki,  Syaikh Abu Bakar bin Syihabudin at-Tambusi al-Makki, Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi al-Makki, Syaikh Muhammad Zainudin al-Baweani al-Makki, Syaikh Abdul Qadir al-Mindili al-Makki, Syaikh Abdullah bin Hasan al-Jawi al-Makki, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Jawi al-Makki, Syaikh Marzuki al-Jawi al-Makki dan Syaikh Muhammad bin Umar al-Sumbawi al-Makki.

Ribath Nurul Hidayah

Di dalam buku ini telah dikupas biografi langka dari sirah ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh di Negeri Hijaz. Mungkin buku yang semacam ini baru pertama kali di Nusantara yang ditulis memakai huruf latin. Sebuah prestasi langka yang mengagumkan meskipun hanya ditulis oleh santri lulusan pesantren (lulusan Pesantren Al-Anwar asuhan KH Maimoen Zubair, sesepuh Nahdlatul Ulama). Sebenarnya Amirul Ulum dalam muqadimahnya, ingin menulis lebih dari 26  tokoh. Akan tetapi, karena minimnya data, terpaksa ia mencukupkan tokohnya menjadi 26. Menilik statemen Syaikh Yasin al-Fadani sebagaimana yang dikutip penulis bahwa ada sekitar 130 pakar hadist yang transmisi keilmuannya diriwayatkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani yang kesemuanya tidak lepas dari Hijaz. Sehingga, dari statemen ini, bisa diambil sebuah kesimpulan, bahwa ulama-ulama asal Nusantara yang mempunyai peranan penting dalam kontak dan jaringan keilmuan di Hijaz itu lebih dari 130. Sebab, kutipan itu hanya dalam masalah Hadist, belum cabang keilmuan yang lainnya seperti Fiqih, Teologi, Gramatika Arab dan Tasawuf.

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa kelebihan buku karya Amirul Ulum ini, ada juga beberapa kekurangannya, misalnya tokoh urutan 22 sampai 26 itu ditulis hanya beberapa lembar saja. Ada yang dua lembar dan ada yang tiga. Akan tetapi, kekurangan yang sedikit itu tidaklah mengurangi sumbangsih besar penulis yang dapat mengungkap sesuatu kekayaan sejarah ulama Nusantara di Hijaz sehingga membuat keislaman Nusantara terpancar hingga ke seantero dunia melalu mediator Makkah dan Madinah.

Saya berharap ke depan, dengan lahirnya buku ini, akan menginspirasi lahirnya buku-buku yang membahas tentang prestasi ulama Nusantara, bukan hanya di Hijaz, melainkan merambah ke Yaman, Mesir, Syam dan Negara Islam lainnya. Semua itu adalah khazanah yang luar biasa, yang membuat nama Nusantara kita harum semerbak di mata dunia. Semoga penulis buku ini mau melanjutkan studinya sehingga tokoh yang ditulis tidak hanya 26. Semoga bermanfaat.

Judul Buku : Ulama Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz

Kategori : Sejarah Islam Nusantara

Penulis : Amirul Ulum

Kata Pengantar : Prof. Dr. Abdul Karim, M.A., M.A. (Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga asal Bangladesh, India)

Penerbit : Pustaka Musi Yogyakarta 

Tebal : xxvi + 332 Halaman 

No ISBN : 602-14832-5-1

Cetakan I : 17 Maret 2015

Harga : Rp. 76.000,- 

Peresensi : Dwi Oktaviani Kurniawati, peminat kajian Sejarah Islam Nusantara asal Kota Jambi, Sumatra

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Nusantara, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 02 Agustus 2017

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Perilaku dan tindakan ekstrem atas nama agama kerap menjadi stigma bagi masyarakat dunia (baca: Barat) untuk menjustifikasi bahwa Islam adalah agama teroris. Brand ini bukan tanpa alasan karena yang seringkali melakukan teror mematikan dengan menggunakan bom, dan lain-lain tidak lain adalah seorang Muslim.

Tentu tindakan tersebut hanya dilakukan oknum, baik dalam bentuk kelompok, organisasi, maupun individu. Namun, sebagian orang Barat nampaknya memmukul rata (generalisir) untuk menjustifikasi orang Islam sehingga mereka pun terkadang mengalami diskriminasi di negara-negara Barat atas perbuatan segelintir oknum yang nyata-nyata membuat wajah Islam tidak baik di mata dunia.

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Pada prinsipnya, kelompok-kelompok ekstrem (tatharruf) kerap menggunakan ayat-ayat pedang (qital) untuk melegitimasi aksi kejinya atas nama jihad menegakkan agama Allah, perjuangan mendirikan negara Islam, dan sejumlah argumentasi utopia lainnya.?

Kelompok paling nyata yang sering mempropagandakan kekejaman teror atas nama agama adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dengan mendeligitimasi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Kajian serius tentang ISIS yang keliru dan melenceng dalam menggunakan Hadits dikupas secara mendalam oleh M. Najih Arromadloni dalam bukunya, Bid’ah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits.

Awalnya buku ini merupakan penelitian Tesisnya yang berhasil ia pertahankan di depan para penguji di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Buku setebal 202 halaman ini juga bukan hanya mengkaji penistaan ISIS terhadap hadits, tetapi juga berupaya mengenalkan lebih jauh tentang ISIS kepada para pembaca. Seperti apa sepak terjang ISIS semenjak dideklarasikan pada tahun 2014 lalu, namun jauh sebelum itu, yakni ketika veteran perang Afghanistan mulai menciptakan embriologinya di tahun 1990-an.

Dalam pandangan penulis buku, ISIS sebagaimana organisasi radikal lain yang berlabel agama tidak lebih dari sekadar organisasi politik yang menggunakan dan menyajikan ayat-ayat pedang dengan dalih menegakkan agama Allah untuk tujuan pendirian Daulah Islamiyah. Gerakan ini secara berkelindan membuat ISIS sering memahami hadits secara politis atau dengan kata lain melakukan politisasi hadits.

Ribath Nurul Hidayah

Buku ini juga menerangkan secara jelas mana hadits-hadits yang sering terpolitisir oleh paham ekstrem-radikal Abu Bakar Al-Baghdadi dan kroni-kroni kejinya di ISIS. Mereka bukan hanya melenceng jauh dari konteks diturunkannya nash, tetapi juga tidak mampu memahami bahwa keberadaan Al-Qur’an maupun Hadits tidak berdiri sendiri melainkan saling bertautan. Tautan antara ayat satu dengan yang lain dan hadits satu dengan hadits lain mewujudkan pemahaman agama secara mendalam, tidak dangkal dan radikal seperti tampak dalam nalar kelompok ISIS.

Salah satu yang disebut dalam buku ini mengenai ISIS adalah merupakan kelompok takfiri radikal. Artinya mereka tidak hanya mudah mengafirkan dengan hadits-hadits yang dieksploitir secara politis, tetapi juga berlaku brutal dengan cara kekerasan, merampas, hingga membunuh orang lain yang dianggap kufur oleh mereka. Bahkan sampai menghalalkan seorang perempuan untuk dijadikan budak seks dan dijual bebas.

Di era teknologi informasi yang terbuka bebas dan serba cepat, ISIS memanfaatkan betul kecanggihan tersebut, utamanya melalui media sosial. Tercatat pada tahun 2014 lalu, mereka menciptakan sekitar 50.000 akun lebih di media sosial untuk melakukan propaganda radikalnya. Nampaknya, mereka sengaja menciptakan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat dunia lewat aksi kejinya seperti memberondong dengan tembakan kepada sejumlah orang secara hidup-hidup, membakar, hingga menggorok secara tidak berperikemanusiaan dan diunggah di media sosial? You Tube.?

Lebih keji lagi, korban mereka tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari agama dan kelompok-kelompok lain seperti Yahudi, Kristen, Katolik, Sunni, Syiah, dan kelompok serta suku-suku lainnya. Artinya, keberadaan mereka seperti tanda-tanda akhir zaman dengan hadirnya fitnah kubro (fitnah besar untuk seluruh manusia), seseorang atau sekelompok orang yang tidak sepaham dan tidak mau mengikuti ISIS, maka jaminannya adalah nyawa yang siap melayang dengan cara keji. Wallahu a’lam bisshowab.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam buku tersebut juga dijelaskan, pada awal April 2014 lalu, salah seorang juru bicara ISIS Abu Muhammad al-‘Adnani menyatakan, Nabi Muhammad adalah seorang yang diutus untuk mengemban pedang sebagai Rahmat bagi alam semesta. (Halaman 18)

Ia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah hadits berikut: Nabi SAW bersabda, “Aku diutus dengan pedang, menjelang datangnya hari kiamat, sampai Allah disembah secara esa bayang-bayang busurku dan akan ditimpakkan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi aturanku, dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka.” (HR Ahmad dalam al-Musnad dari Ibnu Umar dan dijadikan Shahid oleh al-Bukhori)

Hadits di atas bukan hanya dieksploitir untuk melegalkan aksi keji mereka, tetapi mereka juga tidak berupaya memahami konteks diturunkannya (asbabul wurud) hadits tersebut. Di titik ini, ISIS atau kelompok ekstrem sejenis hanya menghadirkan ayat-ayat pedang atau perang, padahal ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa Islam adalah agama kedamaian, rahmat, dan toleran tidak kalah banyaknya. Lantas, mengapa mereka hanya memilih ayat-ayat perang dalam memanifestasikan keagamaan mereka?

Sebetulnya ISIS merupakan salah satu kelompok yang mewujudkan ekstrem radikalnya melalui tindakan langsung secara keji yang berawal dari radikalisme. Jika digambarkan secara jelas, radikalisme bisa dibagi menjadi tiga, bertindak secara radikal (melakukan teror), radikalisme pemikiran, dan radikalisme secara pemahaman. Konteks Indonesia sendiri, saat ini eskalasi penguatan radikalisme ada pada aspek pemikiran dan pemahaman. Yang jelas, muara dari semua itu adalah tindakan teror.

Kajian holistik yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami ISIS hingga ke akar-akarnya. Pembaca dapat memahami ISIS secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh utama beserta jaringan organisasinya juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan kitab-kitab secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mendasarkan diri dari Majalah Dabiq yang disebarluaskan ISIS di internet ini, penulis buku berupaya menganalisis penistaan Hadits yang dilakukan oleh ISIS tentang khilafah, jihad, hijrah, Iman, dan al-Malahim. Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku: Bidah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Penulis : M. Najih Arromadloni

Tebal: 202 halaman

Cetakan : Pertama, Maret 2017

Penerbit : Daulat Press Jakarta

ISBN : 9786021813157

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Daerah, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Juni 2017

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at

Memperbanyak shalawat termasuk bagian dari ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mengamalkan sunah Nabi dengan mencontoh pakaian dan bentuk fisiknya misalnya tidak cukup tanpa menghadiahkan shalawat kepada kanjeng Nabi. Semasa hidupnya, Nabi pernah mengatakan, “Orang pelit itu adalah orang yang disebut namaku tapi dia tidak mau bershalawat kepadaku,” (HR Ahmad).

? ? ? ? ? ? ? ?

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Imam Syafii Perihal Shalawat di Hari Jum’at

Artinya, “Orang bakhil adalah orang yang bila disebut namaku, dia tidak bershalawat kepadaku.”

Ribath Nurul Hidayah

Meskipun Nabi sudah tiada, kita tetap masih bisa menyampaikan salam kepada Beliau. Nabi pun akan mendengar setiap salam yang disampaikan umatnya. Bagaimana caranya? Tiada jalan lain kecuali dengan memperbanyak shalawat. Setiap shalawat yang dilantunkan umatnya didengar oleh Nabi SAW. Abdullah Ibnu Mas’ud pernah mendengar Nabi SAW bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, “Allah SWT memiliki malaikat yang berkunjung ke bumi, mereka senantiasa menyampaikan salam dari umatku,” (HR Ahmad).

Hadits ini dapat dipahami bahwa setiap shalawat yang kita lantunkan didengar oleh Nabi SAW melalui perantara malaikat. Membaca shalawat dianjurkan kapanpun dan di manapun. Namun memperbanyaknya sangat dianjurkan pada hari Jum’at, baik siang maupun malamnya.

Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan, “Saya suka memperbanyak shalawat kepada Nabi di setiap waktu, tapi pada hari Jum’at dan malamnya, saya membacanya lebih banyak karena ada kesunahan.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Saya suka membaca shalawat sebanyak-banyaknya kapanpun, tapi saya lebih banyak membacanya di hari Jum’at dan malamnya, karena disunahkan.”

Pendapat Imam As-Syafi’i ini diperkuat oleh hadits riwayat Aws Ibn Aws, seperti yang dikutip Abu Bakar Al-Maruzi dalam Al-Jum’ah wa Fadhluha bahwa Nabi bersabda.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jum’at merupakan hari yang paling mulia, sebab pada hari itu Nabi Adam diciptakan dan dicabut nyawanya, dan sangsakala Kiamat juga ditiup pada hari Jum’at. Karenanya, perbanyaklah shalawat kepadaku. Sejatinya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

Kami berkata, “Bagaimana bisa sampai kepadamu padahal Engkau telah tiada? Bukankah jasadmu telah hancur?” tambah sahabat lainnya. “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi untuk menghancurkan tubuh para nabi,” jawab Nabi.

Berdasarkan hadits dapat dipahami bahwa jasad para nabi termasuk Nabi Muhammad SAW tidak hancur ditelan bumi. Mereka dapat mendengar shalawat yang kita lantunkan setiap saat. Karenanya perbanyaklah shalawat terutama pada hari Jum’at. Dalam Dalilul Falihin disebutkan, Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa Nabi SAW mendengar dengan kedua telinganya setiap shalawat yang dilantunkan umatnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Juni 2017

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Oleh Suwendi



Pada 28 April 2017 yang lalu, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengeluarkan “Seruan Ceramah di Rumah Ibadah” yang terdiri atas 9 (sembilan) butir. Seruan Menteri Agama ini mengajak dan meminta kepada seluruh eleman bangsa bersama-sama mensyukuri dan merawat persatuan umat dan bangsa yang telah dibina selama ini. Persatuan hanya dapat direalisasikan pada saat kondisi kedamaian dan kerukunan umat beragama dan negara dapat berlangsung dengan baik. Tentu, seruan ini membuat kita menjadi tenteram dan damai.

Seruan Menteri Agama, dalam pandangan penulis, memiliki makna yang sangat strategis, terutama dalam beberapa hal berikut.

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan yang Mendamaikan Umat dan Bangsa

Pertama, secara konteks sosial dan politik, bangsa Indonesia dihadapkan dengan semakin menjamurnya pemahaman keagamaan radikal, bukan hanya pada Islam saja tetapi juga di sebagian agama lainnya, yang justru atas nama agamanya mengajarkan kebencian dan merendahkan harkat martabat kemanusiaan. Ujaran kebencian dan saling mengkafir-bid’ahkan antarsesama umat beragama jamak terdengar dan terlihat di mimbar-mimbar keagamaan, hatta khutbah Jumat yang sakral pun tak luput dari umpatan kebencian ini.

Kepentingan untuk meraih target politik-pun sering terlihat dalam mimbar agama itu, apapun agamanya. Alih-alih untuk mencerdaskan dan membimbing umat ke kondisi yang damai, jamaah seringkali digiring pada penanaman benih kebencian dan caci-maki antar lawan politik. Jika dalam koteks pilkada DKI Jakarta saja sudah sedemikian dahsyatnya energi bangsa ini dalam menetralisasi persoalan politisasi agama, maka tidak ayal jika kekuatan politisasi agama ini pun akan semakin kembali mencuat terutama menjelang pilpres 2019, yang sebentar lagi akan dimulai. Oleh karenanya, menurut hemat penulis, seruan ini mendapatkan momentumnya yang sangat pas agar umat beragama dapat menggunakan fasilitas keagamaannya itu secara dewasa dan cerdas.

Kedua, seruan Menteri Agama itu mengingatkan kembali kepada seluruh anak bangsa terhadap hakikat dirinya, baik sebagai orang yang beragama maupun sebagai warga negara-bangsa Indonesia. Agama dan kebangsaan keduanya tidak dapat dilepaskan dalam diri anak negeri ini. Sebagai seorang yang beragama, ia harus mampu menjaga nama baik agamanya yang mengajarkan agar menghormati kepada umat agama selainnya, yang sama-sama mempercayai akan kebaikan-kebaikan dalam keyakinan agamanya. Sebagai warga negara Indonesia, ia menyadari betul bahwa Indonesia ini adalah gugusan kesatuan yang terdiri atas aneka ragam budaya, bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda. Keanekaragaman itu menjadi ciri khas Indonesia. Indonesia adalah Indonesia, bukanlah negara di belahan dunia lainnya, Timur atau Barat. Semua keaneragaman itu menjadi kekuatan yang dirakit dalam satu ideologi kebangsaan, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karenanya, amatlah tepat bahwa ceramah agama harus mampu memberikan pencerahan tidak hanya spiritual, intelektual, dan emosional, tetapi juga multikultural.

Ribath Nurul Hidayah

Seruan Menteri Agama itu bukan hanya diserukan kepada salah satu agama saja, tetapi seluruh agama dan umatnya di Indonesia. Sebagai Menteri Agama, ia tidak hanya berkewajiban untuk mengelola salah satu agama tertentu saja, tetapi ia harus mampu menjalankan kewajibannya dalam memelihara agama-agama lainnya. Ia adalah menteri untuk semua agama. Dalam konteks itu, semua agama dalam ceramahnya diminta untuk tidak mempersoalkan atau menyajikan materi yang bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat konsensus bangsa Indonesia ini merupakan harga mati bagi semua orang yang ingin hidup di negeri Nusantara ini. Siapapun yang menggugat kembali atas empat pilar bangsa itu artinya ia berhadapan dengan seluruh eleman bangsa ini. ?

Ketiga, seruan Menteri Agama ini memberikan evaluasi bagi seluruh umat beragama bahwa ceramah agama mau tidak mau, suka dan tidak suka, harus disampaikan oleh penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama. Jika diibaratkan, penceramah agama itu sama halnya dengan dokter. Dokter baru bisa memiliki izin praktek dan mampu memberikan resep dan dosis obat ? yang tepat jika ia telah memiliki pengetahuan dan pendidikan yang memadai. Jika ada dokter yang tidak berkompeten, niscaya akan berakibat fatal pada pasiennya. Demikian halnya dengan penceramah agama, tanpa pengetahuan yang memadai maka dapat dipastikan umat yang ceramahinya akan mendapatkan wawasan keagamaan yang kurang tepat. Bukannya kedamaian yang diperoleh, tetapi kegelisahan dan persengketaan sosial yang didapat.?

Sebagai penceramah yang memiliki pengetahuan keagamaan yang baik, tentu ia akan memiliki bahan bacaan yang matang dan bersumber dari literatur-literatur keagamaan valid. Bukanlah penceramah agama yang handal jika ia hanya hafal ? satu-dua ayat berdasarkan pada pemahaman sepintas dari terjemahan, apalagi searching di google, dengan tanpa memiliki seperangkat metodologi ilmu keagamaan yang baik. Oleh karenanya, perlu saatnya untuk melakukan otokritik dari lembaga agama dan keagamaan dan desain yang disepakati untuk membangun penceramah agama yang mumpuni.

Seruan ini agaknya juga memberikan koreksi kepada seluruh penyelenggara dan pemangku kebijakan pendidikan, bahwa guru dan dosen yang mengajarkan mata-mata pelajaran agama harus diberikan oleh guru dan dosen-dosen yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang baik. Jika tidak demikian, niscaya yang terjadi adalah pendangkalan agama sehingga sangat mudah terbawa oleh pemikiran dan gerakan radikalisasi agama. ?

Ribath Nurul Hidayah

Keempat, sebagai Menteri yang bertanggung jawab di bidang agama, tentu ia tidak dapat melakukan peran-peran di luar batas kewenangannya. Sebagai Menteri Agama ia berkewajiban untuk menciptakan kondisi umat agama dan kerukunan umat beragama agar dapat berjalan dengan baik. Adapun persoalan hukum dan tindakan tegas yang berimplikasi secara hukum tentu itu menjadi domain dari lembaga penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan lembaga peradilan. Menteri Agama bukanlah menteri sapu jagat yang memiliki kekuatan super-power, apapun bisa dilakukannya. Namun demikian, Menteri Agama mendesak agar penceramah agama harus tunduk dan taat pada ketentuan hukum yang berlaku baik yang terkait dengan penyiaran keagamaan maupun penggunaan rumah ibadah, sebagaimana tercermin dalam seruan Menteri Agama itu. Sejumlah perangkat dan noram-norma hukum terkait dengan penceramah yang berlawanan secara hukum tentu dapat ditindaklanjuti dan diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian, seruan ini memang tepat sesuai koridor dan batas kewenangan Menteri Agama.

‘Ala kulli hal, seruan Menteri Agama ini perlu untuk diamini dan dipedomani oleh semua pihak. Sebab, secara substantif, seruan ini mengajak kita semua untuk melakukan kedamaian melalui mimbar agama. ? Jadikanlah mimbar-mibar agama yang suci itu sesuai dengan tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan peradamaian umat manusia, jangan dikotori dengan umpatan dan caci makian yang justeru menghilangkan kesucian mimbar dan hakikat agama itu sendiri. Semoga.

Penulis adalah doktor pendidikan islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, AlaSantri, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 20 April 2017

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah. Ratusan jamaah dalam kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor  Arjosari, Pacitan, Jawa Timur membaca shalawat di Masjid Al-Mubarok Dusun Kulak, Desa Tremas, Arjosari, Sabtu Malam (19/3).

Jamaah yang terdiri dari Masyarakat, pengurus GP Ansor dan Anggota Banser ini dengan penuh khidmat melakukan pembacaan Ratib al Haddad karya Al-Habib Abdullah bin alwi bin muhammad Al-Haddad. Kegiatan ini digelar pertama kalinya oleh PAC GP Ansor Arjosari seusai terbentuk kepengurusan Rijalul Ansor pada awal bulan maret ini.

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Arjosari Ajak Masyarakat Kembali ke Masjid

Ketua GP Ansor Arjosari, H Hamka Hakim dalam sambutanya menyampaikan beberapa keutamaan bagi pengamal atau pembaca Ratib Al Haddad, di antaranya akan terhindar dari mara bahaya, memanjangkan umur dan mempermudah memperoleh rizqi. Ratib al Haddad, katanya, diamalkan sebagai salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ribath Nurul Hidayah

“Mari melalui kegiatan ini, kita niat ingsung (berniat), bismillah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga sebagai caranya kita nguri-uri (menjaga) ideologi Ahlussunnah wal-Jamaah. Karena tanpa kita yang peduli, terus siapa lagi yang akan peduli,” jelas lulusan univeritas Al Azhar Mesir itu.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, Hamka Hakim menyampaikan keperihatinanya atas kondisi masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yang mulai meninggalkan masjid dan mushala sebagai pusat kegiatan keagamaan. Menurutnya, telah terjadi pergeseran nilai dan budaya yang diakibatkan oleh kemajuan zaman.

“Zaman dahulu para remaja tidur di masjid atau mushala adalah suatu kenikmatan. bagaimana kita dididik dan dibina tumbuh dalam lingkungan masjid dan mushalla.” kata dosen Staifa Kikil Pacitan itu.

Namun kondisi yang terjadi sekarang sangat memperihatinkan. Seusai waktu magrib, para remaja dan anak-anak mulai menjauh dari kegiatan keagamaan di masjid atu mushala. Mereka banyak yang tidak mau belajar mengaji, justru memilih dan mendatangi tempat-tempat seperti tempat tongkrongan dan tempat permainan lainya.

“Ini kehawatiran kita kalau imbas dari kemajuan zaman ini justru menggerus terhadap moral dan nilai yang baik dalam generasi muda kita,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, GP Ansor Arjosari hadir dengan sayapnya Rijalul Ansor untuk memberikan kontribusi dan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya kembali ke masjid sebagai tempat kegiatan keagamaan. Rijalul Ansor menggelorakan ajakan kembali ke masjid sebagai sarana membentengi generasi muda dari pengaruh zaman.

Sementara itu Pembina GP Ansor Arjosari, Ust Zafri Wicaksana meminta kegiatan Rutinan Rijalul Ansor semacam ini harus tetap berjalan, bagimanapun kondisinya. GP Ansor tidak boleh kalah semangat dengan Fatayat dan Muslimat NU yang telah lama berjalan dengan pengajian dan seaman Al-Qur’anya.

“Bukan maksud Ansor bersaing dengan Fatayat atau muslimat. Namun bagaimana caranya kita bersama-sama berjuang dan menguatkan ideologi Ahussunnah wal-Jamaah di tengah-tengah masyarakat pedesaan,” tandasnya.

Kegiatan Majelis Ratib dan Shalawat Rijalul Ansor ini akan digelar rutin sekali dalam satu bulan. Yakni tiap malam Sabtu Pon atau Ahad Wage. Rutinan akan digelar dari desa ke desa di seluruh kecamatan Arjosari dengan menggandeng takmir masjid dan pengurus karang taruna. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Olahraga Ribath Nurul Hidayah