Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan

New York, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Luar Negeri Kuba Felipe Perez Roque menyerang-balik Presiden AS George W. Bush, Rabu (26/9), dengan mengatakan Bush adalah polisi global yang ugal-ugalan dan membuat keamanan dunia jadi terancam.

Sehari setelah ia meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum PBB ketika Bush merujuk kepada Presiden Kuba, yang belum sehat, Fidel Castro sebagai seorang "diktator kejam" yang kekuasaannya mendekati akhir, utusan Kuba menyatakan Presiden AS tersebut tak memiliki hak untuk menuntut perubahan rejim di negara berdaulat melalui perang dan sanksi.

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan

"Itu adalah pertunjukan yang memalukan, pikiran tak waras seorang polisi dunia, mabuknya kekuatan imperial, yang ditaburi sifat sedang-sedang saja dan sinisme," kata Perez Roque mengenai pidato Bush, Senin lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Bush mencerca Iran, Korea Utara, Kuba, Myanmar dan negara lain karena "menginjak-injak" hak asasi rakyat mereka.

Ia mengatakan PBB "harus mendesak bagi terwujudnya" kebebasan berbicara dan pemilihan umum di Kuba, sementara negara yang dikuasai Komunis itu memasuki masa peralihan setelah Castro menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, pada 31 Juli 2006.

Ribath Nurul Hidayah

Perez Roque menyatakan Bush tak memiliki hak untuk berbicara mengenai demokrasi karena ia memangku jabatan melalui kecurangan dan penipuan dalam pemilihan umum kontroversial pada 2000.

"Kita mestinya melewati kehadirannya kemarin dan mestinya mendengarkan Presiden Al Gore berbicara mengenai perubahan iklim dan resiko terhadap spesies kita," kata Menteri Kuba tersebut.

Perez Roque menyalahkan Bush atas kematian 600.000 warga sipil dalam perang Irak dan mengatakan Presiden AS itu tak memiliki dasar moral untuk berbicara mengenai hak asasi manusia di negara lain setelah ia mensahkan penggunaan penyiksaan terhadap tahanan di pangkalan Angkatan Laut Guantanamo dan penjara Abu Ghraib di Irak.

"Ia telah menjadi politikus paling ugal-ugalan dan egois yang pernah kita saksikan," katanya mengenai Bush. "Ia mesti bertanggung-jawab kepada dunia atas semua kejahatannya."

Sumber Reuters melaporkan, Perez Roque memulai pernyataannya dengan berbicara atas nama 116 negara berkembang Gerakan Non-Blok, yang saat ini diketuai oleh Kuba.

Ia menyatakan ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia hari ini adalah penggunaan dalih seperti perang melawan teror atau dorongan demokrasi yang banyak dikumandangkan untuk menyerang negara yang dicap sebagai "negara merah" oleh segelintir negara maju. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Habib, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Sarbumusi: Buruh Indonesia Perlu Regulasi Jelas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Wakil Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPP K Sarbumusi) Nahdlatul Ulama, Sukitman Sudjatmiko, di Jakarta, Ahad (31/7) menyatakan, persoalan buruh di Indonesia bisa diurai dengan regulasi jelas yang berpihak pada buruh sebagaimana petani Thailand dan Jepang mendapat proteksi dari pemerintah mereka.

"Persoalan perburuhan saat ini selain perjuangan dan kondisi hak normatif yang terus dilanggar oleh pengusaha adalah buruh Indonesia menghadapi persoalan perburuhan. Kalau kita petakan, ada sekitar lima," kata dia.

Sarbumusi: Buruh Indonesia Perlu Regulasi Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Buruh Indonesia Perlu Regulasi Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Buruh Indonesia Perlu Regulasi Jelas

Pertama, persoalan ekonomi kapitalisme digital. Kedua terkait penerapan teknologi informasi digital yang berimbas pada hubungan kerja lebih fleksible dan menyebabkan posisi tawar buruh terhadap pemilik teknologi menjadi lemah sehingga hak-hak normatif buruh terlanggar. Ketiga, implementasi masyarakat ekonomi ASEAN atau MEA yang secara prinsip, pemerintah Indonesia tidak melindungi buruh.

Ribath Nurul Hidayah

"Malah paket kebijakan ekonomi diarahkan meliberasi buruh, contoh diizinkannya outsourcing (alih daya) tenaga kerja asing di Indonesia dengan izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sementara ini, izin perusahaan outsourcing Indonesia ada di Dinas Tenaga Kerja (Dsinaker) Provinsi," ujar dia lagi.

Pertanyaannya, imbuh Sukitman, siapa yang mengawasi? Permenaker 19/2015 dan Permenaker 35/2015 yang lebih fleksible terhadap tenaga kerja asing dan PP pengupahan sebagai kebijakan upah murah?

Ribath Nurul Hidayah

"Itu sama saja Indonesia melepas buruhnya di pangsa pasar MEA, analoginya seperti menghadapkan anak ayam dengan harimau. Keempat tidak seriusnya pemerintah dalam merevitalisasi fungsi balai latihan kerja di seluruh Indonesia yang tidak dibarengi dengan dukungan anggaran (APBN) memadai," paparnya.

Persoalan kelima adalah Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) yang masih dipaksakan otonomi daerah terhadap Disnaker. Hal tersebut membuat kontrol Kemnaker terhadap Disnaker dalam fungsi pengawasan yang sama sekali tidak maksimal dan terkoordinasi dengan baik.

"Fakta di lapangan, penyelesaian perselisihan hubungan industrial terkendala carut marut politik lokal sehingga Kepala Disnaker lebih tunduk pada bupati/walikota daripada Menteri Tenaga Kerja. Persoalan-persoalan tersebut bisa diurai dengan regulasi jelas yang bisa melindungi dan memproteksi buruh," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

Kapan Nikah?

Menjelang mudik Lebaran, Dulkirom, seorang anggota Banser, dak-dik-duk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” dari segenap pintu rumah kerabat yang bakal ia kunjungi. Baginya, usia 34 tahun belum ijab-qabul adalah aib, bahkan bid’ah bagi sekelompok orang.

Benar. Serangan yang ia khawatirkan pun tiba.

Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nikah?

“Kapan nikah, Nak?” Pertanyaan meluncur dari Pak Leknya (paman).

Ribath Nurul Hidayah

“Wah, KUA Lebaran gini masih tutup, Pak Lek,” jawabnya ngeles.

Ribath Nurul Hidayah

Pertanyaan serupa muncul dari anggota keluarga lain dan sahabat-sahabatnya dan dijawab dengan alasan yang sama. Terus berulang dari pintu ke pintu hingga sembilan kali.

“Terus kalau KUA sudah buka, tanggal berapa mau kawin?” Tanya salah satu bibinya.

Jawaban tak mungkin sama. Sambil melirik saudara sepupunya, si Banser sok berkonsultasi, “Enaknya, punya rumah dulu atau mobil dulu ya sebelum nikah?”

“Kalau menurutku, ya mesti punya calon dulu,” balas rekannya sambil ngelonyor. (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Habib Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Israel Hancurkan Mimpi Pendidikan Anak Gaza

Kota Gaza, Ribath Nurul Hidayah. Meskipun hari pertama sekolah biasanya ditandai dengan sukacita dan kegembiraan, perang Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza telah menyebabkan sekitar setengah juta anak-anak Palestina tidak bisa sekolah setelah mereka dipaksa untuk berlindung di sekolah-sekolah PBB dengan keluarga mereka.?

"Saya tidak mau harus tinggal di sekolah," kata Amin al-Kilani, 11 tahun, yang keluarganya diusir dari rumah mereka di Beit Hanun di utara Gaza setelah Israel membombardir daerah tersebut, kepada Agence France Presse (AFP) pada hari Senin, 25 Agustus.?

Israel Hancurkan Mimpi Pendidikan Anak Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Israel Hancurkan Mimpi Pendidikan Anak Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Israel Hancurkan Mimpi Pendidikan Anak Gaza

"Saya ingin belajar di sini, kemudian pulang ke rumah," katanya.?

Ribath Nurul Hidayah

Al-Kilani berbaris di hari Ahad pagi dengan puluhan rekan-rekannya di tempat bermain sebuah sekolah PBB untuk membuat sambutan simbolis tahun ajaran baru dengan menyanyikan lagu kebangsaan Palestina.?

Ribath Nurul Hidayah

Di ruang kelas yang penuh sesak dengan keluarga pengungsi, seorang siswa Gaza utara membaca surat pembuka Al-Quran Al-Fatihah untuk ribuan martir yang tewas dalam agresi Israel terbaru tentang terkepung Jalur Gaza.?

"Kelas akan tetap ditutup di Jalur Gaza selama dilanda konflik yang menyebabkan hampir 500.000 anak kehilangan hak mereka untuk pendidikan," kata UNICEF dalam sebuah pernyataan yang diperoleh OnIslam.net.?

Tahun ajaran baru diawali dengan berbagai acara simbolis termasuk membaca puisi dan lagu-lagu populer Palestina oleh ribuan siswa yang kecewa.?

"Saya berharap mulai ke sekolah lagi sehingga saya bisa menyelesaikan ujian tawjihi (ijazah SMA Palestina)," kata 17 tahun Wujud Zayeda.?

"Tahun ini berbeda. Salah satu teman saya terluka dalam serangan di dekat rumahnya. Saya benar-benar marah, kami hanya ingin belajar."

Selama 48 hari operasi militer Israel terhadap Gaza, lebih dari 219 sekolah telah rusak, dengan 22 hancur total dan tidak dapat digunakan lagi, ungkap UNICEF.?

Menurut UNICEF, terdapat sekitar 330.000 warga Palestina pengungsi yang berlindung di 103 sekolah UNRWA, 50% dari mereka adalah anak-anak.?

Perbaikan sekolah?

Prihatin dengan masa depan anak-anak Palestina yang terlantar, Save the Children, UNICEF dan UNESCO mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Ahad, mendesak adanya gencatan senjata yang mampu bertahan lama untuk membantu memulai tahun ajaran dalam beberapa minggu.?

"Kembali ke sekolah berarti membawa kembali kehidupan normal pada anak-anak. Untuk ini kita perlu gencatan senjata yang bertahan lama, dan kami harus memenuhi kebutuhan yang paling mendesak untuk pemulihan yang cepat dari sistem pendidikan," kata Lodovico Folin Calabi, Plt Kepala Kantor UNESCO di Ramallah.?

Organisasi trio ini mengatakan bahwa siswa Gaza harus diberi kesempatan untuk "sembuh dari trauma" kehilangan orang yang dicintai dan menghadapi serangan udara harian Israel.?

"Ini adalah waktu ketika anak-anak harus berada di sekolah untuk belajar, bukan untuk mencoba dan bertahan dalam konflik bersenjata," kata David dan Paulette Hassel, Direktur co-country Save the Children, yang bersama-sama dengan UNICEF memimpin koordinasi tindakan kemanusiaan di sektor ini.?

"Ini adalah musim panas yang berbahaya bagi anak-anak Palestina di Gaza, yang bahkan tidak bisa pergi ke luar untuk bermain. Sekolah adalah garis hidup penting untuk anak-anak yang mengalami trauma, yang memainkan peran penting dalam penyembuhan mereka," tambah Hassells.?

Anak-anak bukan satu-satunya sektor yang terkena dampak agresi Israel yang sedang berlangsung.?

Untuk ibu-ibu Gaza, perang telah menyebabkan adanya perasaan tidak mampu melindungi anak-anak mereka atas hak kehidupan yang aman dan pendidikan.?

"Bahkan hak anak-anak kita untuk belajar ditolak," kata Hanan Matar, 48, yang tinggal di sebuah sekolah PBB dengan sembilan anak-anaknya.?

Israel meluncurkan serangan udara telah tanpa henti terhadap Gaza sejak 8 Juli di mana lebih dari 2.100 telah tewas dan ribuan terluka.?

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sekitar 80% dari kematian di Gaza adalah warga sipil, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan.?

Skala besar pemusnah massal di Gaza telah menyebabkan sekitar 5.510 rumah hancur dan sekitar 31.000 rusak sebagian, memaksa puluhan ribu meninggalkan rumah mereka yang terperangkap dalam serangan udara Israel. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Habib, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’

Pangkajene Kepulauan, Ribath Nurul Hidayah 

Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) Ibnu Hazein mengungkapkan bahwa generasi muda adalah tumpuan para pendahulu untuk memperjuangkan Islam dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari kelompok-kelompok yang ingin memecah belahnya. 

Demikian disampaikan Ibnu dihadapan lima puluh peserta yang mengikuti  Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (6/12).

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’ (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’ (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Jangan Sampai Masjid jadi Tempat Bikin Bom’

"Jangan sampai masjid sebagai tempat bikin bom yang mengancam keutuhan NKRI," katanya. 

Oleh karena itu, katanya, menjaga masjid dan pesantren dari paham-paham radikalisme merupakan salah satu agenda penting yang selalu diusung PBNU. 

Pada kegiatan yang terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) ini, Ibnu juga juga mengungkapkan pentingnya menjaga pesantren. Nahdliyin harus menjaga masjid dan pesantren agar tidak dibajak oleh kelompok ekstremis.

Ribath Nurul Hidayah

"Dua ini (masjid dan Pesantren) jangan sampai lepas karena NU memiliki andil terbesar mendirikan negara Indonesia," tegasnya. (Husni Sahal/Muchlishon)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Anti Hoax, Habib Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

Gus Tutut Buka Rakornas Banser

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah - Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) akan membuka Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser di Tulungagung. Rapat dengan? tema Menyamakan Gerak dan Langkah Guna Mempekokoh NKRI ini akan berlangsung mulai 5-7 Agustus di Pendapa Agung Mandiri, Tulungagung.

Beberapa agenda akan dibahas dalam perhelatan? melibatkan semua personel Satkornas Banser yang datang? dari berbagai wilayah Indonesia itu.

Gus Tutut Buka Rakornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Tutut Buka Rakornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Tutut Buka Rakornas Banser

“Inti dari rapat koordinasi ini untuk menyamakan persepsi semua pengurus Satkornas dari masing-masing satuan, beserta program kerjanya. Ini dilakukan untuk kemajuan Banser dan keutuhan NKRI ke depan,” ungkap Kasatkornas Banser H Alfa Isneini kepada Ribath Nurul Hidayah tadi sore.

Gus Tutut juga dijadwalkan akan memberi pengarahan khusus kepada para pengurus Satkornas Banser. Mengingat padatnya acara, pengarahan akan disampaikan secara terpisah dari acara pembukaan.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

“Untuk pengarahan ketum kita tempatkan di Kantor Sekretariat Ansor Tulungagung. Lokasinya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 200 meter dari lokasi acara,” katanya.

Pada kesempatan itu, Gus Tutut juga akan melantik pengurus Badan Ansor Anti Narkoba? (Baanar) GP Ansor Tulungagung pimpinan Hariyadi. “Mumpung ada ketua umum, kita nunut acara pelantikan,” kata Ketua GP Ansor Tulungangung Sahrul Munir.

Dari pantauan di lapangan, beberapa personel pengurus Satkornas sudah berdatangan. Ada yang dari Riau, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan, Yogyakarta, Jateng, Papua, dan lainnya. Mereka langsung menuju penginapan yang dipersiapkan oleh panitia.

“Meski pembukaan baru besok sore. Beberapa personel Satkornas sudah banyak yang berdatangan,” tambah Munir. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Oleh Munawir Aziz

Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya?

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Dari panggung perjuangan republik, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan barisan militer yang terdiri dari pemuda santri dan kiai pesantren. Dari tapak jejak mereka, mobilisasi dukungan dari kaum santri dan warga sekitar menjadi menggema. Terlebih, kaum santri berjuang dengan tekad bulat, serta niatan ikhlas untuk menegakkan kemerdekaan di bumi Indonesia. Laskar Hizbullah, dipimpin oleh KH Zainul Arifin Pohan, seorang ahli diplomasi dan pejuang militer dari tanah Barus. Sedangkan, Laskar Sabilillah dikomando oleh Kiai Masykur (1904-1994), sosok alim dari Malang.

Siapakah Kiai Zainul Arifin? Sejarah hidup Zainul Arifin membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terdiri dari kiprah para kiai dan tokoh Islam asal Jawa. Kiai Zainul, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal Barus, menjadi catatan nyata. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul Balita, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian berdiam di Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan Hollands Indische School (HIS) serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Pada usia 16 tahun, Zainul Arifin merantau ke Batavia (Jakarta). Di kota ini, dengan berbekal ijazah HIS, dia diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) Pejompongan, Jakarta Pusat. Setelah keluar dari Gementee, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat. Balai pendidikan ini, bertempat di kawasan Masteer Cornelis (Jatinegara). Keahilan diplomasi dan kepiawaian bahasa Belanda, juga mengantar Zainul sebagai pemberi Bantuan Hukum bagi orang Betawi, yang saat itu dinamakan Pokrol Bambu.

Karirnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik (1917-1970), seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda Nahdlatul Ulama. Dari Anshor, karena keahlian berdiplomasi dan kecerdasan komunikasi, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Mahfud Shiddiq (1906-1944), Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid. Selang beberapa waktu, Zainul Arifin kemudian menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara (Masteer Cornelis), serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia, hingga masuknya Jepang pada 1942.

Ribath Nurul Hidayah

Pencetus sistem RT

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, strategi politik ormas Islam berubah haluan. Jika dengan Belanda, posisi ormas Islam berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Jepang menggunakan strategi berbeda dengan mendekati pemimpin-pemimpin ormas Islam. Jepang mengajak ormas Islam sebagai bagian dari pendukung Nippon, sebagai saudara tua di Asia. Inilah startegi politik dan militer Jepang untuk mencengkeram kawasan Asia, terutama Asia Tenggara dalam perang melawan Sekutu.

Di bawah kendali Jepang, terjadi perombakan struktur politik serta ritme organisasi Islam. Pada waktu itu, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika itu, Jepang memberi kewenangan organisasi Islam untuk melebarkan sayap dan lebih aktif dalam pemerintahan. Kiai Zainul Arifin, mengusulkan pembentukan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga. Pada awalnya, tonarigumi dibentuk di Jatinegara, kemudian melebar untuk diadopsi ke sebagian besar desa di Jawa. ? Kiai Zainul Arifin dengan jeli melihat pentingnya sistem komunikasi antarwarga setingkat RT. Dengan demikian, kultur dan hubungan komunikasi antar warga terjaga dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, mereka membutuhkan dukungan pasukan untuk menguatkan militer di kawasan Asia. Semula, Pemerintah Jepang, melalui Abdul Hamid Nobuharu Ono, meminta agar Kiai Wahid Hasyim mengerahkan santri-santri masuk ke Heiho, sebagai tentara cadangan yang akan dikirimkan ke Birma dan Kepualaun Pasifik. Akan tetapi, Kiai Wahid tidak menerima tawaran itu. Untuk menampik permintaan Jepang, Kiai Wahid dengan startegi diplomasinya mengusulkan tawaran cerdas: Pertama, latihan kemiliteran yang diberikan kepada santri lebih baik untuk pertahanan dalam negeri. Kiai Wahid merasa bahwa, mempertahankan tanah air negeri sendiri, akan lebih meningkatkan semangat pemuda santri.

Kedua, pertempuran yang menghadapi tentara sekutu, lebih baik dihadapi oleh prajurit profesional, yakni tentara Dai Nippon. Sedangkan, jika menggunakan tentara yang tidak profesional hanya akan menyulitkan tentara Jepang sendiri. Ketiga, jika PETA (Pembela Tanah Air) ditunjukkan untuk pemuda nasionalis, sudah semestinya ada wadah bagi pemuda santri untuk latihan kemiliteran (Zuhri, 1974; 1987). Sedangkan, Hairus Salim ? (2004: 41) menambahkan satu alasan diplomatis dari Kiai Wahi Hasyim, terutama mengapa harus ada satu wadah untuk latihan kemiliteran bagi santri, yakni adanya kewajiban berperang untuk mempertahankan agama Allah (jihad fi sabilillah).

Pada latihan awal, pemuda santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah digembleng oleh Kapten Yanagawa, yang juga melatihan PETA. Latihan ini berlangsung di Cibarusah, Jawa Barat. Latihan militer pemuda santri, berlangsung selama tiga bulan, yang dipimpin oleh para Sydanco PETA. Kemudian, setelah latihan usai, 500 kader ini kemudian kembali ke desa masing-masing, untuk melatih kader-kader pemuda santri di kawasan setempat. Salim (2004), mencatat bahwa hingga akhir rezim Jepang di Indonesia, tercatat sekitar 50.000 angota laskar Hizbullah yang telah mendapatkan latihan militer.

Latihan perdana Laskar Hizbullah, tanggal 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Jepang, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Raja dan pejabat terkait ? diumumkan betapa misi Hizbullah adalah untuk berjuang bersama Dai Nippon, melawan musuh yang zalim. Gunseikan, dalam pidatonya, menegaskan bahwa:

"Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka masa sekarang adalah masa yang amat penting yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu telah bangkit segenap umat Islam di Jawa, serta berjanji akan berjuang "luhur bersama dan lebur bersama" dengan bala tentara Dai Nippon. Buktinya, ialah pembentukan barisan musa Islam yang bernama Hizbullah. Dengan demikian lahirkan tujuan untuk menghancurkan musuh yang zalim dan perjuangan dengan segenap jiwa dan raga, maka saya sangat gembira membuka latihan pusat Barisan Hizbullah ini... (Latif, 1995: 20, Salim, 2004: 42).

Dengan demikian, yang dimaksud oleh pemerintah Jepang bahwa musuh bersama dari bangsa Indonesia dan Jepang, merupakan tentara sekutu yang berusaha menjajah Asia. Jepang merasa sebagai pembebas bangsa Asia, hingga menyebut diri sebagai "Saudara Tua" bangsa Asia. Oleh Kiai Wahid Hasyim, pelatihan militer dimaksudkan untuk menguatkan barisan santri jika nantinya Indonesia sudah saatnya menjemput kemerdekaan. Benar saja, pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, disusul dengan peristiwa demi peristiwa yang membutuhkan konsolidasi dan kekuatan militer, di antaranya pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengabdi untuk negeri

Ketika para pemimpin bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda tidak rela atas keputusan politik ini. Hindia Belanda tetap ingin menguasai Indonesia sebagai ladang ekonomi dan jajahan politik. Keinginan Belanda, terbukti dengan hadirnya tentara Sekutu, serta tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administrative). Tentu saja, kedatangan tentara ini membuat warga Indonesia marah. Kota Surabaya dan beberapa kota lain menjadi saksi kemarahan warga ketika tentara Sekutu mengintimidasi. Pada 19 September 1945, terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini, sekaligus menjadi tanda kemarahan rakyat atas invasi tentara sekutu dan NICA.

Situasi negeri menjadi kacau dan warga menjadi tersulut kemarahan karena intimidasi tentara Sekutu. Situasi pertahanan negara sedang diuji, apalagi ketika negara Indonesia baru saja merdeka. Sistem birokrasi, pemerintahan dan barisan militer masih sangat lemah. Pada saat itulah, laskar-laskar santri memainkan peran penting untuk mengkonsolidasi kekuatan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, para kiai menyatakan rumusan tentang Resolusi Jihad. Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk menggemakan Resolusi Jihad. Fatwa Kiai Hasyim inilah yang kemudian melecut semangat santri dan warga di kawasan Jawa Timur, dan kawasan lainnya untuk berjuang melawan penjajah. ?

Pada 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di Surabaya. Pasukan Sekutu di kota Surabaya, terdiri atas 5000 pasukan dari kesatuan 49 Infanteri di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby (1899-1945). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Api semangat kaum santri dan warga membara, dengan dukungan para kiai dan kuatnya jaringan laskar. Puncaknya, 10 November 1945, pemuda santri dan warga sekitar Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, dengan tewasnya Jendral AWS Mallaby pada peristiwa sebelumnya, 30 Oktober 1945. ?

Kiai Zainul Arifin memainkan peran besar pada episode perjuangan bangsa Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Perjuangan laskar Hizbullah yang dikomando Kiai Zainul Arifin pada peristiwa November 1945 di Surabaya dikenang sebagai peristiwa heroik. Masa setelah kemerdekaan menjadi ujian bagi pejuang negeri. Kiai Zainul Arifin terus bergerak untuk mengomando laskar santri, barisan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan tentara pimpinan Jendral Soedirman (1916-1950). ?

Dalam catatan Saifuddin Zuhri (2001: 355), beberapa pemimpin cabang Laskar Hizbullah sering berkumpul bersama di Yogyakarta, karena panggilan rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (parlemen). Kiai Zainul Arifin, sebagai Ketua Markas Tertinggi Hizbullah, juga sering bertandang ke Yogyakarta untuk rapat. Selain itu, ada juga Wahib Wahab (Hizbullah Surabaya), Abdullah Siddiq (Hizbullah Jember), Amir (Hizbullah Malang), Bakrin (Hibzullah Pekalongan), Munawar (Hizullah Solo) dan Saifuddin Zuhri (Hizbullah Magelang). Mereka berkumpul untuk mengabdi pada negeri, sekaligus mengonsolidasi barisan laskar santri.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja, pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada masa ini, Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasi laskar-laskar militer untuk membantu tentara untuk bergerilya di bawah komando Jendral Soedirman.

Ketika kondisi sudah aman, serta pemerintah RI memegang kendali, terjadi penyatuan seluruh elemen laskar militer ke dalam satu wadah ? Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kiai Zainul Arifin dipercaya sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI, karena jasa besarnya pada masa perjuangan. Akan tetapi, ketika banyak mantan anggota Hizbullah yang tidak bisa diterima sebagai anggota TNI karena alasan ijazah formal serta tidak mendapat pendidikan modern, Zainul memilih mengundurkan diri. Inilah jiwa besar Kiai Zainul Arifin dalam berjuang untuk mengomando pasukan pemuda santri.

Kiai Zainul Arifin memilih jalan pengabdian, ia berkiprah di jalur politik sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS, lalu wakil Partai Nahdlatul Ulama pada 1952. Pda 1953, Kiai Zainul Arifin menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955). Prestasi besar Kiai Zainul Arifin, pada 1955 ketika Pemilu, berhasil mengantarkan Partai NU menjadi sebagai tiga besar pemenang, dengan mendapat 45 kursi, dari sebelumnya 8 kursi. Kiai Zainul Arifin bersama Kiai Wahab Chasbullah dan beberapa kiai lain, bekerja keras untuk mengerahkan stategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren.

Sebagai pemimpin laskar militer santri, dengan keahlian diplomasi, dukungan politik dan luasnya jaringan, Kiai Zainul Arifin juga dekat dengan presiden Soekarno. Pada 1955 ia pernah bersama Soekarno pergi haji ke tanah suci. Sebagai tamu kenegaraan, Kiai Zainul Arifin diberi hadiah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi.

Pasca pemilu 1955, Kiai Zainul Arifin juga mendapat amanah menjabat anggota Majelis Konstituante. Lembaga ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959 karena gagal merumuskan UUD baru. Setelah dekrit dikeluarkan Soekarno, konsitusi Indonesia dinyatakan kembali pada UUD 1945. Pada masa inilah, dikenal sebagai Demokrasi Terpimpin, dengan kekuasaan pada diri Soekarno, yang bersikeras menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) pada satu barisan politik. Di tengah situasi ini, suhu politik meningkat karena pengaruh kelompok yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno, terutama pihak partai Islam yang menolak PKI.

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi, ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, Kiai Zainul Arifin tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi.

Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU, peneliti Islam Nusantara. (Twitter: @MunawirAziz) ?

Referensi:

Ario Helmy. KH. Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass. 2015.

Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU. Yogyakarta: LKIS. 2004.

M. Hasyim Latief. Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU, 1995.

Saifuddin Zuhri. Guruku Orang-Orang Pesantren. Yogyakarta: LKIS. 2001

Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah: Divisi Sunan Bonang. Yayasan Bhakti Utama. 1997.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Sejarah, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional (LKS Tripnas) menggelar rapat tentang fungsi dan peran pengawas ketenagakerjaan pada 5 Oktober 2016. Ada enam kesepakatan dihasilkan pada pertemuan resmi forum tersebut. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslim Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU) menanggapi kesepatan tersebut.

Wakil Presiden DPP K Sarbumusi NU Sukitman Sudjatmiko di Jakarta, Rabu (12/10) mengapresiasi kesepakatan tersebut. Namun ia menyarankan empat hal.?

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Pertama, pengawas harus bergelar sarjana hukum agar lebih profesional. Kedua, pejabat pemerintah daerah tidak boleh mengganti personil atau memindah tugaskan ke posisi lain. Ketiga, nota pengawas harus ditindaklanjuti ke pengadilan untuk eksekusi bila para pihak tidak mengindahkan nota pengawasan. Keempat, mempertegas kode etik dan sanksi bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang tidak profesional.

Hasil rapat LKS Tripnas adalah, pemerintah diharapkan menambah jumlah pengawas ketenagakerjaan dikarenakan rasio perbandingan antara jumlah perusahaan dengan jumlah pengawas ketenagakerjaan masih tidak memadai. Komposisi ideal 1:5.

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya, peningkatan standarisasi dan kompetensi bagi pengawas ketenagakerjaan. Berikutnya, perlu menyusun standar operasional prosedur pelaksanaan pengawasan dan penanganan kasus ketenagakerjaan sehubungan dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2014 yang mengatur kewenangan pengawas ketenagakerjaan ditarik ke provinsi. Termasuk didalamnya pembagian tugas yang jelas antara fungsi-fungsi pengawas ketenagakerjaan dengan fungsi ketenagakerjaan yang lainnya.

LKS Tripnas juga menyepakati, pemerintah daerah khususnya provinsi tidak memindahkan PPNS ke bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan pengawas ketenagakerjaan. Lalu perlunya peningkatan fungsi penegakan hukum oleh pengawas ketenagakerjaan.?

Kesepakatan terakhir, melibatkan fungsi Tripartit dalam pelaksanaan sosialisasi dan implementasi pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan.

Untuk diketahui, anggota LKS Tripnas ialah forum dialog resmi tiga pihak dari asosiasi pengusaha, serikat buruh, dan pemerintah yang setiap unsur diwakili 15 orang. Diangkat berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia dan mempunyai tugas untuk memberikan pertimbangan, saran dan pendapat kepada presiden dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan secara nasional. ? DPP K Sarbumusi NU mempunyai satu perwakilan di forum tersebut.?

Empat rumus digunakan oleh pemerintah untuk menentukan serikat mana saja yang dapat menjadi wakil dalam LKS Tripartit Nasional adalah, pertama, mempunyai anggota di atas 50.000 orang/buruh. Kedua, minimal tersebar di 20 persen provinsi di seluruh Indonesia. Ketiga, minimal tersebar di 20 persen kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan keempat mempunyai 150 serikat buruh tingkat pabrik. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, IMNU, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Desember 2017

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang akan memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 dengan berbagai macam kegiatan. Puncak kegiatan HSN dipusatkan di Lapangan Pancasila Simpang Lima pada Ahad (22/10) pukul 06.00 sampai 11.00 WIB.

"Sebelum berkumpul di Simpang Lima, ribuan santri akan mengadakan tahlil di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dan dilanjutkan Kirab Santri menuju Simpang Lima" kata Ketua Tanfidziyah PCNU KH Anasom dalam rilisnya (17/10).

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Santri Semarang Berhadiah Umroh dan Sepeda Motor

Tahlil kebangsaan akan dipimpin oleh Habib Umar Muthohar dan akan dihadiri oleh seluruh ulama, umaro dan masyarakat Semarang. "Kita akan berdoa bersama untuk kemakmuran bangsa Indonesia dan kesejahteraan masyarakat Semarang dengan tetap hidup damai dan rukun," ungkap Anasom.

Pondok pesantren, sekolah, kampus, santri, tokoh lintas agama dan masyarakat umum sangat antusias untuk mengikuti Kirab Santri ini. Pesan dari kirab santri ini adalah mengawal 99 bendera merah putih sebagai lambang kebulatan tekad menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan disintegrasai bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah lapangan Simpang Lima yang menjadi kebanggaan Jawa Tengah, para santri akan memekikkan cinta tanah air dan kejayaan Pancasila. "Negeri ini sudah besar dan damai, maka harus dijaga secara bersama-sama jangan sampai hancur," tegas dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini.

Kirab santri ini juga akan dimeriahkan dengan parade budaya Nusantara, barongsai, drum band, rebana, dan atraksi pencak silat Pagar Nusa. "Bagi peserta kirab disediakan ratusan hadiah yang berasal dari infaq para donatur yang berasal dari Pemerintah, DPR, pengusaha dan masyarakat" jelasnya. Ada hadiah utama berupa tiket umroh dari PT Kaisa Lil Haj dan sepeda motor dari Walikota Semarang.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti Kirab Santri dapat segera mendaftar ke nomer WA Puji 081226461146 atau WA Olla 08993010930. Kupon undian hadiah akan dibagikan di Taman Makam Pahlawan pada 22 Oktober 2017 pukul 06.00 WIB. (M Rikza Chamami/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Habib Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Direktur Eksekutif Global Fund Kunjungi PBNU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Direktur Eksekutif The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GFATM) Michel Kazatchkine melakukan kunjungan ke kantor PBNU, Kamis (24/6). Kunjungan ini merupakan bagian dari kerjasama yang sudah lama dijalin antara PBNU dengan Global Fund.



Direktur Eksekutif Global Fund Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Direktur Eksekutif Global Fund Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Direktur Eksekutif Global Fund Kunjungi PBNU

Kerjasama terbaru hasil yang dikerjakan adalah penanganan HIV/AIDS dalam program Indonesia Response to HIV/AIDS: Government and Civil Society Partnership in 21 Provinces.



Wakil ketua PBNU H As’ad Ali menyatakan kegembiraan atas kepercayaan yang diberikan Global Fund untuk menjalankan sejumlah program kepada NU. “Sebagai organisasi keagamaan, NU tidak hanya berusaha menjalankan ibadah, tetapi juga membantu menyelamatkan kehidupan manusia,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu Kazatchkine menjelaskan Global Fund merupakan organisasi berskala global yang membantu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat bekerjasama dengan berbagai fihak.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini merupakan hasil dari kerjasama semua fihak, tanggung jawab semua fihak, dan kesuksesan semua fihak,” tandasnya.

Wakil ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Wan Nedra Komaruddin menjelaskan kerjasama yang sudah dilakukan dengan Global Fund melalui LKNU adalah program pencegahan malaria dan tuberculosis (TBC).

“Dalam kerjasama untuk penanganan HIV/AIDS kali ini, LKNU berkesempatan menjadi principal resipient atau menjadi penerima donor utama, bersanding dengan pemerintah, yaitu Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS,” katanya.

Dijelaskannya, prevelensi HIV di Indonesia sekitar 0.17 persen dari keseluruhan populasi, sedangkan prevelensi dari 21 propinsi yang menjadi saasaran program pada putaran 9 (round 9) adalah 0.14 persen.

Data demografi menunjukkan kebanyakan penderita HIV/AIDS adalah pengguna jarum suntik bekas pakai, pada narapidana, wanita penjaja seks komersial, kaum waria, homoseksual, hubungan seksual tanpa proteksi pada orang yang kerap berganti pasangan.

Berdasarkan informasi dari kementerian tenaga kerja dan perindustrian, prevelensi HIV diantara pekerja pabrik masih cukup rendah, yaitu sekitar 0.03 persen.

Wan Nedra menjelaskan, program ini mampu memutuskan mata rantai penyakit ini dan mengurangi insiden Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). “Stigma dan diskriminasi terhadap ODH juga menjadi sasaran program ini,” terangnya.

Propinsi yang menjadi sasaran target adalah Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatra Barat, DIY, Lampung, NTT, NTB, Sulawesi Utara, Maluku, Jambi, Sulawesi Tengah, Bangka Belitung, Aceh, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Gorontalo.

Hadir dala pertemuan tersebut perwakilan dari Kementeria Kesehatan RI, Yayasan Spiritia, Yayasan Pelita Ilmu, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, PP Aisyiyah, AusAID dan lainnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 Desember 2017

Ribuan Peserta Semarakkan Parade Hadrah Solo 2017

Solo, Ribath Nurul Hidayah - Ribuan peserta dari berbagai daerah se-Soloraya ikut menyemarakkan gelaran Festival Parade Hadrah 2017, Senin (24/4) sore.

Parade dengan rute dari lapangan Kota Barat menuju Stadion Sriwedari Solo tersebut merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Pemkot Kota Surakarta bersama majelis dzikir dan sholawat di daerah Solo dan sekitarnya.

Ribuan Peserta Semarakkan Parade Hadrah Solo 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Peserta Semarakkan Parade Hadrah Solo 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Peserta Semarakkan Parade Hadrah Solo 2017

Ketua Panitia Festival Parade Hadrah 2017, Samachin, menerangkan Festival Parade Hadrah 2017 kali ini diikuti oleh 213 kelompok peserta. “Masing-masing kelompok minimal terdiri dari 15 orang dan maksimal 50 orang,” kata dia.

Ribath Nurul Hidayah

Ditambahkan Samachin, para peserta yang berjalan kaki membawakan 4 lagu wajib, seperti Ya Hanana dan Turi Putih. “Lima kelompok terbaik, berhak membawa pulang hadiah masing-masing Rp2 juta,” imbuhnya.

Pengumuman juara disampaikan, bersamaan acara pengajian dan sholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf dan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus di Stadion Sriwedari Solo, pada malam harinya.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 10 Desember 2017

Munas-Konbes NU 2017 Juga Bahas Dinamika Keislaman Arab Saudi

Mataram, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Panitia Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes) 2017 Robikin Emhas mengatakan, acara Munas dan Konbes NU juga akan membahas dinamika yang terjadi di Arab Saudi akhir-akhir ini, terutama soal Islam moderat.

Belum lama ini dunia dihebohkan dengan sepak terjang Putera Mahkota Muhammad bin Salman. Setelah ditunjuk menjadi orang kedua di Arab Saudi, Muhammad bin Salman menerapkan beberapa kebijakan yang radikal seperti mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi.

Dia menambahkan, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia dipastikan hadir dalam acara Munas dan Konbes NU 2017 ini. Ini bisa menjadi ajang untuk memberikan pemahaman kepada Duta Besar terkait dengan praktik-praktik Islam moderat seperti yang diusung NU.

Munas-Konbes NU 2017 Juga Bahas Dinamika Keislaman Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas-Konbes NU 2017 Juga Bahas Dinamika Keislaman Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas-Konbes NU 2017 Juga Bahas Dinamika Keislaman Arab Saudi

Robikin menceritakan, beberapa waktu lalu Pemerintah Arab Saudi melalui Duta Besarnya untuk Indonesia bersilaturahim ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mereka bertanya soal Islam Nusantara. 

“Setelah kita jelaskan isinya adalah Islam wasatiyah seperti yang ada dalam Al-Qur’an,” katanya.

Robikin menjelaskan, pihak Saudi memang betul-betul ingin menerapkan Islam moderat. Bagi dia, keseriusan Arab Saudi dalam menerapkan Islam moderat bisa dilihat nanti pada saat musim ibadah Haji.

Ribath Nurul Hidayah

“Kita tahu ada salah satu amaliyah tertentu ketika kita lakukan disana dibilang haram, bid’ah dan sebagainya,” ucapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Umum PBNU itu menegaskan, jika Arab Saudi ingin betul-betul menerapkan Islam moderat maka semua madzhab harus boleh dipraktikkan di sana baik madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i ataupun Hanbali.

“Jangan ada larang-larangan,” tegasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah. Mudir (Direktur) Mahad Aly Attarmasi Pacitan KH Luqman Harits Dimyathi mengatakan, ada atau tidak adanya Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang satuan pendidikan Mahad Aly, lembaga perguruan tinggi berbasis pesantren ini harus terus berkembang dan istiqamah dalam mencetak kader-kader ulama.

Hal tersebut dikatakanya saat menanggapi pertanyaan dari salah seorang Mahasantri Mahad Aly Tebuireng Jombang saat acara Halaqah Kunjungan Studi Banding ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan, Sabtu (31/10) lalu.?

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Terkait belum disahkanya PMA tentang satuan pendidikan Mahad Aly, Kiai Luqman memberi pesan bahwa sebenarnya undang-undang atau regulasi merupakan sebuah perantara dalam proses pendidikan. Artinya, Mahad Aly tanpa regulasi pun sebenarnya mampu berjalan baik dalam mencetak kader yang siap berkontribusi untuk pembangunan umat.

Ribath Nurul Hidayah

Namun demikian, para pengasuh pesantren yang mengelola Mahad Aly sepakat sebagai lembaga pendidikan yang berbasis kitab kuning perlu segera diberikan regulasi yang jelas. "Kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, regulasi terus kita perjuangkan. Karena ini merupakan hak kita," jelas Katib Syuriah PBNU itu.

Ribath Nurul Hidayah

PMA yang diperjuangkan oleh pengelola Mahad Aly nantinya merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang juga mendapatkan afirmasi dari Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.?

Menanggapi seperti apa idealnya Mahad Aly yang dikembangkan dipesantren, Kiai Luqman memaparkan bahwa Mahad Aly harus mempunyai spesialis khusus pada bidang kajian tertentu, seperti kajian Fiqh dan Ushul Fiqh, Ilmu Falak dan Hadits. Ma’had Aly harus berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, semacam UIN, IAIN, Sekolah Tinggi Agama. "Mahad Aly Is Mahad Aly," ujarnya.

Kunjungan Studi banding yang diikuti oleh seratusan Mahasantri Mahad Aly Tebuireng ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan merupakan kunjungan balasan dari kunjungan ke Tebuireng yang dilakukan oleh Mahasantri Pondok Tremas beberapa tahun lalu. Turut mendampingi dalam kunjungan kali ini, KH Nur Hanan, Mudir Mahad Aly Tebuireng.?

Mahad Aly Attarmasi dan Mahad Aly Tebuireng sama-sama mengembangkan Kajian Fiqh dan Ushul Fiqh. Kedua lembaga ini pun telah mewisuda mahasantrinya dengan gelar Syahadah Alimiyah atau SA. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Habib, Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 27 November 2017

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI

Oleh Aris Adi Leksono

? ? ?

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Versus Nafsu Keserakahan: Refleksi 71 HUT RI

Bung Karno



Nasionalisme berasal dari kata ‘nation’ yang berarti bangsa. Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, sehingga mereka merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri. Dengan demikian Nasionalisme Indonesia pada konteks kekinian adalah rasa cinta yang mendalam bangsa Indonesia untuk menjaga dan mewujudkan cita-cita kemendekaan.

Ribath Nurul Hidayah

Sekadar mengingatkan dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam bahasa lain nasionalisme diungkapkan dengan hubbul wathan, cinta tanah air. Bahkan dalam menurut alim ulama pejuang kemerdekaan Indonesia yang dimotori KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Tentu salah satu dasarnya adalah tidak mungkin umat beragama akan mampu menjalankan imannya, kalau negara dalam kondisi tidak aman. Maka mempertahankan keamanan dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Negara merupakan bagaian dari aktifitas menjaga iman dalam beragama.



Lintasan Nilai Nasionalisme


Dalam cacatan sejarah tumbuhnya nasionalisme bangsa Indonesia ditandai dengan munculnya berbagai gerakan kesadaran pentingnya kemerdekaan, berdaulat, kemakmuran dan kesekahteraan. Seperti lahirnya gerakan Budi Utomo (20 Mei 1908) yang menitikberatkan perjuangan kemerdekaan melalui dunia pendidikan. Karena pendidikan akan membuka kedasaran modern untuk bersama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Pada perkembangan berikutnya nasionalisme bangsa ditandai dengan tumbuhnya organisasi sosial-keagamaan dan social-kemasyarakatan seperti Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Keduanya telah terbukti telah mampu menjadi organisasi besar di Indonesia. Dalam lintasan sejarah keduanya selalu menyerukan kekuatan civil society untuk terus menjaga Negara Kesatuan Republik Indoensia. Muhammadiyah membuktikan gerakan nasionalismenya pada peran kemasyarakatan berupa memajukan pengajaran dan kesejahteraan para anggotanya dengan cara mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Sedangkan Nadlatul Ulama (NU) sejak awal berdirinya NKRI, selalu menjadi garda depan dalam memberla keutuhannya. Dengan jargon NKRI harga mati, Pancasila Harga Mati, Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI, serta peran sosial lainnya.

Pada era reformasi, nasionalisme ditandai dengan gerakan kebangkitan nasional ditetapkannya hari kebangkitan nasional (20 Mei 1998). Merupakan reaksi protes atas tirani, hegemoni, dan otoriterisme rezim orde baru. Reformasi merupakan suatu gerakan yang bertujuan untuk melakukan perubahan dan pembaruan, terutama perbaikan tatanan perikehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan social.

Pada kesimpulannya, semua gerakan sosial yang merupakan pancaran nilai nasionalisme tersebut memiliki cita-cita yang sama. Bagi generasi awal yang satu zaman dengan Boedi Oetomo, cita-cita merdeka dari penjajah telah terwujudkan, dengan adanya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Begitu juga dengan cita-cita pemuda ‘98 yang telah berhasil menurunkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 gunu terwujudnya masyarakat Indonesia yang demokratis, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Nafsu Keserakahan Berbangsa dan Benegara



Ironis memang kata-kata yang berkonotasi nagatif harus muncul di tengah perjuangan nasionalisme yang terus digelorakan. Memang seharusnya “nafsu keserakahan” di usia kemerdekaan Indonesia ke-71 sudah terkubur. Alasannya, sejarah nasionalisme bangsa ini sudah sangat panjang, lintasan rintangan dan tantangan sudah mampu dilewati dengan kemerdekaan dan usaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Artinya, harusnya semakin tua usia, semakin kuat rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Tapi realita menunjukkan sebaliknya, nasionalime terkikis oleh fakta “kerakusan” individu elite pemerintah dan partai politik, kerakusan kelompok atas nama agama, kerakusan atas nama demokrasi dan HAM, kerakusan atas nama perjuangan kerakyatan, dan kerakusan lainnya.

Jika keserakahan diartikan sebagai keinginan yang sangat besar untuk memiliki kekayaan, barang atau benda bernilai abstrak, dengan maksud menyimpannya untuk dirinya sendiri atau kelompoknya, jauh melebihi kenyamanan dan kebutuhan dasar untuk hidup yang berlaku pada umumnya. Pada pengertian lain keserakahan juga diterapkan pada keinginan yang besar dan mencolok dalam upaya mengejar kekayaan, status sosial, dan kekuasaan. Maka kondisi Negara Indonesia pada usianya yang ke-71 dipenuhi dengan makna keserahana tersebut.

Sebagai buktinya, semakin merajalelanya kasus korupsi setiap tahunnya. Tahun 2015 sebagaimana data yang dirili Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan total kerugian keuangan negara akibat tindak pidana korupsi sepanjang 2015 mencapai Rp. 31,077 triliun. Sedangkan jabatan tersangka yang paling banyak selama 2015 adalah pejabat atau pegawai pemda/kementerian, disusul direktur dan komisaris pegawai swasta, kepala dinas, anggota DPR/DPRD serta kepala desa/lurah dan camat. Sementara tahun 2014 lebih kerugian Negara lebih kecil, yakni; jumlah kasus 629 kasus, jumlah tersangka 1328 orang dan kerugian negara sebesar Rp. 5,29 triliun.

Bukti keserakahan pada sektor ekonomi adalah munculnya keinginan sebagaian kelompok untuk menghegemoni kekayaan alam Nagera. Kasus perpanjangan kontrak PT Freeport yang telah menyerat banyak oknum masuk ke dalam bui, bahkan petinggi kementerian ESDM. Kasus lain yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan publik yaitu reklamasi pantai utara Jakarta. Kelihatan betul bagaimana koorporasi bermain dengan sejumlah elit pemerintah dalam proyek tersebut. Bahkan sudah menyeret korban dari Anggota DPRD DKI Jakarta dan jajaran direksi ke rumah prodeo. Tentu masih banyak lagi praktik manipulasi dalam percaloan bisnis yang berimplikasi kepada kerugian Negara. Kalau nasionalisme itu tidak terkalahkan dengan keserakahan ekonomi segelintir oknum, maka cita-cita kemerdekaan ekonomi itu bukan mimpi.

Pada ranah idelogi kebangsaan, keserakahan sebagian golongan ditunjukkan dengan keinginan menghegemoni atau mengarahkan idelogi bangsa menjadi mengikuti faham agama atau aliran tertentu. Sebut saja kelompok yang selalu menyuarakan tegaknya “khilafah” di bumi nusantara. Gerakan yang dilakukan bahkan sampai mengarah pada issu sarah, yang dapat merusak hubungan horizontal sebagai anak bangsa. Munculnya gafatar, kelompok gerakan santoso, serta gerakan separatis lainnya. Kalaulah dalam dada mereka masih menyala nilai nasionalisme, maka mereka akan memaknai nilai agama juga terkandung dalam ideologi kebangsaan. Bernegara dengan mengarusutamankan nilai agama dan kpercayaannya masing-masing, bukan fomalistik cara ber-agama. Kalau lah pilihan agamanya adalah Islam, maka Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Merdekakan Nasionalisme dari Nafsu Keserakahan



Ulasan di atas adalah dua kutub berlawanan yang salah satunya cenderung mendegradasi makna kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara. Ini semakin? membuktikan kebenaran pidato Bung Karno 70 tahun silam, bahwa "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Maka tidak ada pilihan di HUT RI yang ke 71, 17 Agustus 2016, kecuali segenap komponen bangsa bersama berjuang untuk kemerdekaan yang hakiki, lahir dan batin. Merdeka dari penjajah kapitalis dan merdeka dari keserakahan oknum atau golongan yang mengatasnamakan perjuangan kebangsaan.

Ikhtiar itu dibuktikan dengan memerdekakan keinginan untuk menguasai sistem berbangsa dan bernegara. Merdeka secara ekonomi berarti betindak jujur, tidak KKN, tidak mencuri kekayaan Negara untuk diri kelompoknya, apalagi menjual adet Negara pada pihak asing. Merdeka secara politik dibuktikan tidak melalukan skenario hegemoni kekuasaan birokrasi atau pemerintahan. Salah satunya dengan mengusung calon kepala daerah yang memang memiliki kompetensi kepemimpinan, serta berpihak kepada kepentingan rakyat. Bukan kepala daerah yang bertindak atas kepentingan koorporasi dan kelompok tertentu.

Merdeka secara idiologi salah satunya adalah membebaskan bangsa dan negara dari gerakan yang menyerukan “khilafah”, anti pancasila, anti NKRI, dan gerakan separatis lainya. Karena hakikatnya mereka telah melanggar UUD ’45, merusak konsensus para pendiri bangsa, bahkan pemerintah harus bertindak tegas untuk gerakan “bughat” semacam ini.

Akhirnya goresan tulisan yang tidak berarti ini dibuat untuk membuktikan bahwa memang pidato Bung Karno itu teruji kebenarannya. Kemerdekaan hakiki yang diimpikan ternyata malah dijajah oknum bangsa dari dalam negara sendiri. Maka tidak ada pilihan kecuali memperkuat kembali rasa cinta tanah air yang imlikasi pada kuatnya nasionalisme berbangsa dan bernegara. Teladan itu bisa disaksikan dari pemimpin dunia, Nabi Muhammad SAW, meskipun tanah makkah telah berhasil beliau taklukkan, beliau tetap kembali ke madinah sebagai bukti cinta beliau kepada tanah air madinah, cintanya kepada rakyat madinah, dan tentu berbuat lebih banyak kebaikan untuk penduduk madinah. Melepaskan ego individu, partai, kelompok agama, korporasi yang berujung pada keserakahan adalah kebutuhan untuk kemerdekan Indonesia yang hakiki.

Sangat relevan, HUT RI ke-71 kembali meneladani semangat perjuangan dr. Soetomo (pendiri perkumpulan Budi Oetomo) dan Bung Karno (Proklamor Kemerdekaan):

dari pada hidup seorang diri dalam surga, lebih baik ke neraka bersama dengan rakyat. Jadilah hamba keadilan dan kebenaran, bekerja dan berusaha dengan ketetapan hati, melintasi menuju Indonesia kita”, kita sejak kecil hingga keluar dari sekolah tinggi, bisa mendapatkan pengajaran, karena biaya yang dipungut dari keringat bangsa kita yang melarat dan hidup dalam kegelapan. Karena itu kaum terpelajar harus menyediakan pikiran dan tenaga untuk keperluan dan kesejahteraan rakyat”

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali"
. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno).

* Penulis adalah Ketua PW Persatuan Guru NU (Pergunu) DKI Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Para alumni Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya memperingati haul ke-27 pendiri pesantren tersebut, KH Mukhtar Syafa’at bin Abdul Ghafur.

Acara ini digelar di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (1/4). Acara yang rutin digelar tiap tahun ini tak hanya dihadiri alumni dan simpatisan, namun juga 30 keluarga Kiai Syafa’at dari Banyuwangi.

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Peringatan haul itu diawali dengan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada 1000 anak yatim yang didatangkan dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. Acara santunan ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Yang didaulat sebagai penceramah pada acara ini adalah KH. Syarif Rahmat. Pada kesempatan ini, kiai yang selalu memakai blangkon ini mengatakan bahwa fungsi ulama adalah seperti gunung. “Gunung selalu membuat daerah sekitarya sejuk. Ulama pun demikian,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qurra’, Pondok Cabe ini juga mengingatkan pentingnya kita mencari berkah kepada petilasan para salafussalih, seperti kuburan, dan lain-lain.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya berharap, alumni Blokagung ini, meskipun telah memperingati haul kiainya, untuk menyempatkan ziarah ke makam Kiai Syafa’at di Banyuwangi sana,” tambahnya.

Kiai Syarif juga mengingatkan akan pentingnya regenerasi para ulama, karena jika ulama telah tiada, maka bumi akan menjadi “panas”.

Acara itu juga dihadiri pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar. Kiai Nur Muhammad dipercaya untuk memimpin doa di akhir acara. (M. Nurul Huda/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 20 November 2017

Tiga Cara Penyaluran Zakat Produktif

Pati,Ribath Nurul Hidayah

Zakat tidak boleh hanya berkutat secara konsumtif, sekali diberikan langsung habis, tapi harus dikembangkan menjadi produktif, artinya mampu meningkatkan kemandirian ekonomi kalangan fakir-miskin dan golongan lain yang membutuhkan.

Rais Syuriyah PCNU Kabpaten Pati KH M Aniq Muhammadun mengatakan, zakat produktif bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, dengan menjadikannya sebagai investasi produktif. Hal ini harus dengan izin orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq).

Tiga Cara Penyaluran Zakat Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Cara Penyaluran Zakat Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Cara Penyaluran Zakat Produktif

“Kedua, memberikan modal kerja bagi mustahik yang menjadi pedagang dan memberikan alat-alat kerja bagi mereka yang membutuhkan alat tersebut untuk kerja,” tambahnya dalam acara seminar “Manajemen Zakat Produktif” yang diadakan Prodi Manajemen Zakat Wakaf Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pati, di Pati, Jawa Tengah.

Ketiga, lanjut Kiai Aniq Muhammadun, usaha-usaha produktif yang dilakukan terlebih dahulu mengambil utang kemudian orang yang berutang berhak menerima zakat untuk membayar utangnya atas nama gharim (orang yang berutang) dengan syarat utangnya untuk kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah). Cara ketiga ini dilakukan dalam hal-hal yang benar-benar menjadi kebutuhan umum, misalnya membangun rumah sakit khusus fakir-miskin.

Supaya tiga cara zakat produktif ini berjalan dengan sukses, maka dibutuhkan manajemen yang transparan, akuntabel, dan professional. Peran lembaga amil zakat, infak dan sedekah dalam hal ini sangat urgen guna menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Mumu Mubarak, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pati dan Direktur LKS Arta Mas Abadi, lembaga amil zakat, infak dan sedekah harus memastikan bahwa sumber dana dan alokasi dana berjalan secara transparan, akuntabel, dan efektif. Orang-orang yang memberikan zakat (muzakki) membutuhkan laporan keuangan secara berkala, detail, transparan, dan akuntabel.

“Lembaga amil zakat ini harus berisi orang-orang yang jujur (amin) dan ? memahami betul hal-hal yang terkait dengan zakat. Integritas dan kapabilitas lembaga amil zakat ini sangat menentukan kesuksesan lembaga ini di tengah bobroknya moral bangsa sekarang,” ujarnya.

Dalam konteks ini, katanya, lembaga amil zakat, infak dan sedekah (Lazis) perlu belajar kepada lembaga yang sudah teruji rekam jejaknya, seperti Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Kedua lembaga ini mampu mendapatkan dana filantropi (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) dalam jumlah yang sangat besar sehingga bisa melaksanakan banyak program strategis, seperti memberikan beasiswa pendidikan, santunan fakir-miskin, pelatihan kewirausahaan, modal kerja, mendirikan rumah sakit, dan lain-lain yang bermanfaat pada kalangan lemah.

Prodi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa sudah menjalin kerja sama dengan FOZ (Forum Organisasi Zakat), Lazisnu PBNU, dan Dompet Dhu’afa di bidang beasiswa, riset, dan magang untuk memberikan kompetensi professional kepada para mahasiswa. (Red: Mahbib)

?

Ribath Nurul Hidayah

?

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Amalan, Hadits, Habib Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 17 November 2017

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Acara Musabaqah Kitab Kuing (MKK)? ini mendapatkan momentumnya di tengah kegairahan keagamaan yang tinggi sekaligus di tengah kebutuhan untuk meningkatkan kualitas kedalaman ilmu agama di masyarakat.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP-PKB) H Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) saat membuka MKK The Finals 2017 tingkat ula dan ulya di Graha Gus Dur DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (21/7).

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Hubungan Musabaqah Kitab Kuning dan Kondisi Keberagamaan Indonesia

Menurut Cak Imin, hari-hari ini umat Islam Indonesa selain gairah yang tinggi diuji kedewasaaan di dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Diuji kematangan di dalam memahami ilmu-ilmu agama sehingga bisa beradaptasi dan mengisi dakwah kita dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Acara MKK ini juga mendapatkan momentum untuk menggairahkan para santri-santri kita di tanah air dan siap menjadi garda terdepan bagi kemajuan Islam di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

“Apalagi sebagai santri, kita ini dengan Musabaqah Kitab Kuning akhirnya mulai percaya diri, bukan hanya Anda, kami, kita semua yang di Jakarta akhirnya berbangga, bersyukur. Insya Allah regenerasi ulama Ahlussunah wal Jamaah, regenerasi ilmu-ilmu agama, regenerasi pejuang-pejuang Nahdlatul Ulama tidak akan putus dan akan abadi selamanya,” terangnya dengan bangga.

Ribath Nurul Hidayah

Ia berharap, keilmuan dan tradisi-tradisi pesantren yang terbangun dengan sangat sistematis dan sangat mengakar ini menjadi modal yang besar buat Islam Indonesia untuk tumbuh menjadi kekuatan keagamaan bukan saja untuk bangsa Indonesia tapi juga untuk dunia.

Acara MKK the finals sendiri diselenggarakan pada Jumat-Sabtu (21-22/7/). Kitab yang diperlombakan ialah Fathul Qarib, dan Nadham Imrithi untuk tingkat ula, dan Kitab Ihya Ulumiddin dan Nadham Alfiyah Ibnu Malik untuk tingkat ulya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Nahdlatul Ulama, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 15 November 2017

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Meningkatnya jumlah pondok pesantren dengan membuka sekolah formal hendaknya tidak menggeser tradisi yang telah mapan. Bahkan, lembaga pendidikan tersebut seharusnya justru memperkokoh tradisi yang sudah ada.

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr KH Imam Suprayogo saat mengisi seminar nasional “Eksistensi Pendidikan Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (11/3).

Bagi Imam, dalam perjalanannya pesantren ternyata tidak bisa menutup mata dengan perkembangan baru yang mengitari. Jika dahulu pesantren hanya sebagai tempat mengaji ilmu agama memalui sistem sorogan, wetonan dan bandongan, maka saat ini telah membuka pendidikan sistem klasikal. “Bahkan program baru yang berwajah modern dan formal seperti madrasah, sekolah dan bahkan universitas juga ada di pesantren,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim ini mengatakan, “Adaptasi adalah bentuk keniscayaan tanpa mengilangkan ciri khas yang dimiliki pesantren.”

Ribath Nurul Hidayah

Apa hal yang tidak boleh hilang dalam tradisi di pesantren? Yakni pengajaran agama secara utuh. “Sejak awal, pesantren diorientasikan kepada bagaimana para santri dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara baik. Pendidikan pesantren adalah pendidikan Islam yang berusaha mengantarkan para santri menjadi alim dan shalih, bukan menjadi pegawai atau pejabat,” terangnya.

Hal lain yang menarik dari pesantren adalah tidak dikenalnya tradisi menyontek, apalagi memalsu daftar nilai, ijazah, dan membuat program yang berorientasi kepada aspek formal dengan menanggalkan aspek substansial.”Karena itu cukup rasional kalau pesantren tidak mengenal program kelas jauh dan kelas eksklusif berupa kuliah Sabtu-Minggu yang dikhawatirkan dapat memerosotkan kualitas pendidikannya,” ungkap Prof Imam.

Pada saat yang bersamaan, pesantren senantiasa diisi dengan nilai keikhlasan, ridha, tawadhu’, karamah, barakah dan semacamnya. “Inilah letak perbedaan antara pesantren dengan pendidikan modern, termasuk sekolah dan universitas,” katanya.

Dengan menyitir pandangan Prof H A Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, Prof Imam mengingatkan ungkapan bahwa pesantren adalah pesantren, dan tidak akan pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.

Karena itu, Prof Imam sangat menyayangkan bila ada seseorang atau kelompok yang mengecilkan arti pesantren. “Pesantren adalah satu-satunya institusi yang berhasil melakukan transmisi Islam dan bahkan bagi kemajuan bangsa ini,” katanya. “Sebab kemuliaan pesantren terletak bukan semata kepada orientasi materi, tetapi keberadaannya lebih diorientasikan kepada memperkaya ilmu dan keluhuran budi,” lanjutnya.

Disamping Prof Imam, seminar ini menghadirkan DR H Suwendi dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dan DR KH Salahuddin Wahid selaku Rektor Unhasy. (Syaifullah/Mahbib)?

?

foto ilustrasi: .net

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 14 November 2017

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Pangkalan Bun, Ribath Nurul Hidayah?

Demi menjalin keakraban serta konsolidasi di antara warga Nahdliyyin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah mengadakan acara bertajuk Halal Bihalal dan Silaturrahmi Akbar. Acara yang diselenggarakan di lapangan sepak bola Desa Lada Mandalajaya SP 2 Kecamatan Pangkalan Lada tersebut dihadiri 50 pengurus Ansor se-Kabupaten Kobar, yang terdiri dari PC GP Ansor Kabupaten dan PAC GP Ansor Kecamatan Pangkalan Lada.?

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Hadir pula Fatayat dan muslimat dan 250 Banser yang telah mengikuti Diklatsar tiga angkatan. Angkatan 1 pada tahun 2015, angkatan 2 tahun 2016 dan Diklatsar angkatan 3 pada bulan januari tahun 2017. Disamping itu pula dalam acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat SKPD Kabupaten Kotawaringin Barat serta sejumlah warga ikut memeriahkan acara tersebut.?

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat Abdul Sahel dalam pidatonya menyampaikan, warga Nahdlatul Ulama (NU) hendaknya mampu menjaga kerukunan antarumat beragama. Banser harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

"Mari pererat ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah bayariyah. Banser haruslah mampu ikut menjaga keamanan NKRI, serta mampu menjadi jembatan agar terciptanya suasana yang kondusif sesuai ajaran agama Islam yang rahmatal lil alamin, " tandas Abdul Sahel pada acara yang berlangsung , Sabtu (29/7) lalu.?

Maraknya kabar tidak sedap, lanjut Sahel, di berbagai media cetak dan elektronik yang tidak berdasar sumbernya, sangat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan itu saja, menjamurnya organisasi masyarakat yang mengatasnamakan kelompok-kelompok Islam dengan pembelajaran yang disinyalir aliran garis keras atau radikal akan menjadi ancaman serius bagi NKRI.?

"Kita jangan mau dibodohi dengan pemberitaan yang tidak jelas asal-usulnya. Kita mesti waspada atas pergerakan kelompok organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun kaidah-kaidahnya tidak sesuai ajaran agama Islam," tegasnya.?

Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) A. Rozikin, Z, dalam pidatonya mengajak seluruh anggota Banser agar selalu siaga demi manjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat beragama.?

"Saya berharap Banser selalu memberikan yang terbaik dalam menciptakan iklim yang sejuk dan aman bagi semua umat beragama. Banser harus siap mendedikasikan dirinya demi keutuhan NKRI," ucap Rozikin.?

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, Banser sebagai prajurit dibawah komando para ulama NU harus mampu membawa nama baik serta mampu mengabdikan dirinya demi NKRI. Bahkan, Banser harus siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

"Banser harus siap dalam setiap kondisi. Sebagai prajurit Nahdlatul Ulama sejengkal pun Banser pantang mundur dalam membela kebenaran, " Tegas Rozikin dalam pidatonya. (Suhud Masud/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 19 Oktober 2017

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. MTs Negeri Model Brebes berhasil menjadi juara 3 tingkat Jawa Tengah sebagai sekolah yang menerapkan pendidikan Karakter. Meski harus mengakui keunggulan SMP N 1 Kudus yang menjadi juara 1 dan SMK Negeri Surakarta yang menjadi juara 2. 

MTs yang terletak di Jalan Yos Sudarso (Kompleks) Islamic Centre itu berhasil menyisihkan 46 peserta finalis lainnya.  

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Terapkan Sistem Pesantren, MTs Juara Pendidikan Karakter

“Alhamdulillah, MTs model meraih juara 3 tingkat Jateng,” tutur Drs Muntoyo MPd saat dihubungi di ruang kerjanya, Jumat (8/2).

Ribath Nurul Hidayah

Keunggulan MTs dalam penerapan pendidikan karakter, lanjutnya, yaitu dengan menerapkan pendidikan sistem pondok pesantren. 

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Muntoyo, memadukan sistem pendidikan umum dan pesantren benar-benar akan menjadikan peserta didik lebih unggul dibandingkan dengan yang konvensional. Karakter anak didik bisa terbangun karena perubahan pembiasaan. 

“Yang dulunya bersifat dan bersikap kurang baik menjadi baik. Perubahan perilaku dibentuk karena karakter yang kuat dari peserta didik,” tuturnya.

Di dalam kesehariannya, kata Muntoyo, sekolah yang memiliki siswa 1306 ini memberi pelajaran tambahan kitab kuning, muhadasah (percakapan bahasa Arab) dan bahasa Inggris. Pembelajaran kehidupan ala santri pondok pesantren diterapkan dengan penuh, termasuk di dalamnya sholat berjamaah, tadarus dan kajian kitab-kitab lainnya. 

Untuk pembelajaran kitab kuning, sekolah mengambil Imam Besar Masjid Agung Brebes KH Rosyidi, Pengasuh Majelis Taklim Al Ikhlas Pasarbatang KH Jarukhi dan Ulama Limbangan Wetan dan KH Khalimi. 

“Dengan sentuhan dari para Kiai itu, alhamdulillah bisa menguatkan karakter siswa dalam kehidupannya,” kata Muntoyo.

Agar tidak menimbulkan kerisauan, tambahnya, bagi kelas IX juga diberi bekal pendalaman materi pelajaran yang di UN-kan. 

“Kalau karakternya terbangun, tidak ada rasa khawatir menghadapi Ujian Nasional, maka Insya Allah out put nya akan positif,” pungkasnya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah