Rabu, 28 Februari 2018

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Bahtsul masail, salah satu rangkaian menyambut Peringatan Haul Al-Marhumin Sesepuh dan Warga Buntet Pesantren Cirebon diawali doa bersama untuk almarhum Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh Pesantren Kempek Cirebon yang wafat hari Selasa (1/4). Doa bersama berlangsung khidmat di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (3/4) malam.

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Buntet Pesantren Doakan Buya Ja’far

Sebelum membuka acara, KH Amirudin Abkari yang didaulat untuk memberikan sambutan atas nama dewan sesepuh Buntet Pesantren mengatakan, Buya Ja’far merupakan sosok yang banyak berjasa bagi masyarakat pesantren dan warga Cirebon secara umum.

“Selain sebagai salah tokoh pesantren di Cirebon, almarhum merupakan orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap warga Cirebon secara keseluruhan. Beliau juga memaksimalkan peran selama hidup sebagai Ketua MUI Kabupaten Cirebon secara tulus,” ungkap Kiai Amir.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Amir juga menyebutkan bahwa Buya Ja’far merupakan sosok yang dengan penuh semangat mendorong kemajuan pesantren. Hal ini, menurut Kiai Amir, yang membuat Buya Ja’far akan selalu dikenang banyak orang.

Ribath Nurul Hidayah

“Mari kita mengirimkan Fatihah secara khusus untuk Buya KH Ja’far Aqil Siroj, sosok yang patut dikenang dan diteladani,” pungkasnya.

Setelah mengirimkan doa dan berbela sungkawa atas meninggalnya Buya Ja’far, ratusan peserta bahtsul masail yang terdiri dari para tokoh sepuh dan kiai muda se-Wilayah III Cirebon ini mulai membahas dan memecahkan masalah kontemporer melalui pandangan fiqih, di antaranya ialah pembahasan soal hukum pemburuan macan Sumatra dan hukum eksploitasi Gunung Ciremai oleh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengundang kontroversi belakangan ini. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 27 Februari 2018

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung usul amendemen kelima terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang disampaikan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pernyatan tersebut dikemukakan Gus Dur di hadapan anggota DPD di Ruang GBHN di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (21/5) kemarin.

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Acara bertajuk Diskusi Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Kelompok DPD di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu dipandu Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita didampingi para Wakil Ketua DPD, Irman Gusman dan Laode Ida serta Ketua Kelompok DPD di MPR Bambang Soeroso.

Gus Dur menyatakan, ia tidak berkeinginan mogok atau berhenti mendorong DPD menggolkan usulan amendemen kelima tersebut.

"Saya mendukung teman-teman DPD yang ingin mengadakan amendemen terhadap UUD. Saya juga tidak ingin mogok, berhenti. Ya nggak," kata Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Kendati MPR sejak tahun 1999 sampai tahun 2002 masih membahas amendemen UUD 1945, Gus Dur berpendapat perubahan konstitusi yang dilakukan kurang lama dirembug. Akibatnya, tidak semua kalangan rakyat Indonesia mengetahui bahwa UUD 1945 telah empat kali diamendemen. "Tidak semua (rakyat Indonesia) tahu. Bahasa menterengnya, sosialisasinya kurang," katanya.

Membandingkan UUD 1945 dengan UUD Amerika Serikat (AS), Gus Dur menyatakan sejak Thomas Jefferson yang Deklarator Kemerdekaan (1776) serta bapak pendiri AS menjabat sebagai Presiden AS yang ketiga (tahun 1801 hingga tahun 1809), perdebatan mengenai perubahan konstitusi hanya dibatasi pada dua pandangan, yakni hak-hak individu dan hak-hak negara bagian. Dari masa itu hingga kini, perdebatan mengenai amendemen UUD hanya dibatasi pada dua pandangan saja.

Melalui perbandingan tersebut, UUD 1945 yang telah diamendemen empat kali bagus sekali. Meski demikian, amendemen kelima UUD 1945 tetap dipersilakan digagas DPD jika membuat UUD 1945 semakin lebih bagus lagi. "Kalaupun toh di-amendemen (kembali) nanti, silakan. Tentu sesuatu yang lebih baik akan kita terima," kata Ketua Umum Dewan Syura Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) itu. (ant/rif)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Februari 2018

HPN Berharap Pengusaha NU Masuk Jajaran Orang Terkaya

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik mengatakan, selama ini sebagian para pengusaha Nahdlatul Ulama tumbuh dan berkembang tanpa fasilitas dari pemerintah.?

“Sebagian besar bukan karena fasilitas (pemerintah),” katanya saat memberika laporan dalam acara Sarasehan Pengembangan Ekonomi Umat dan Kemaritiman Indonesia yang diselenggarakan HPN dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Jakarta, Kamis (6/4).

HPN Berharap Pengusaha NU Masuk Jajaran Orang Terkaya (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN Berharap Pengusaha NU Masuk Jajaran Orang Terkaya (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN Berharap Pengusaha NU Masuk Jajaran Orang Terkaya

Maka dari itu, saat acara sarasehan ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi itu, ia mengaku sangat senang sekali karena ini akan menjadi modal awal untuk mensinergikan antara pengusaha Nahdliyin dengan pemerintah.?

“Insyaallah perhatian yang Bapak berikan kepada para pengusaha Nahdlatul Ulama ini insyaallah penting,” jelasnya.?

Ia berharap, dengan pembinaan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Menteri Perhubungan para pengusaha NU bisa menjadi jajaran orang terkaya di Indonesia, bahkan dunia. “Insyaallah dalam lima sepuluh tahun ke depan bisa mewarnai daftar orang terkaya seratus di majalah? Forbes,”urainya.?

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Zainal Effendi menjelaskan, maksud dan tujuan diadakannya acara sarasehan ini adalah untuk menyusun langkah-langkah konkrit HPN ke depan yang meliputi jadwal waktu, tujuan, dan rencana-rencana lainnya.?

“Sehingga keluar dari ruangan ini kita sudah bisa mau ngapain, kapan, dan goal-nya apa? Ini tugas kita bersama,” paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, tema yang diangkat dalam acara sarasehan ini menitik beratkan kepada dua hal. Pertama adalah pengembangan ekonomi umat. Baginya, dengan jumlah warga sembilan puluh satu juta orang, NU memiliki potensi yang sangat kaya.?

“Kedua, kemaritiman. Sumber daya alam NKRI ini bergantung dari kemaritiman,” terangnya.

Oleh karena itu, ia mengatakan, acara ini adalah upaya untuk mensinergikan antara usia produktif dari Nahdliyin dengan potensi kemaritiman Indonesia yang begitu besar. “Dalam bentuk kerja sama dan sinergi,” katanya.

Bahkan, ia memperkirakan, jumlah Nahdliyin yang sedang kuliah di luar negeri pada strata doktor ataupun yang setara itu ada lima ratusan orang. “Bukan islamic study, tetapi bidang-bindang yang strategis untuk mengembangkan ekonomi umat,” jelasnya.?

Acara sarasehan ini dibagi ke dalam dua sesi. Narasumber di sesi pertama adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Kelautan dan Perikanan Era Presiden Megawati Rokhmin Dahuri. Sementara di sesi kedua, narasumbernya adalah Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ronggo Kuncahyo. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 23 Februari 2018

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Belum selesai dengan permasalahan senjata kimia, kini muncul bukti baru bahwa Suriah secara sistematis menyiksa dan mengeksekusi sekitar 11.000 tahanan sejak awal pemberontakan.

Sebuah laporan yang dibuat oleh tiga mantan jaksa kejahatan perang menyebut kepada BBC bahwa ada bukti keterlibatan pemerintah. Namun Damaskus telah membantah klaim ini.

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Suriah Dituduh Siksa Keji Ribuan Tahanan

Para peneliti mengamati ribuan gambar tahanan yang mati dan dilaporkan diselundupkan keluar dari Suriah oleh para pembelot.

Ribath Nurul Hidayah

Laporan ini muncul sehari sebelum perundingan damai dimulai di Swiss.

Ribath Nurul Hidayah

Konferensi di kota resor Montreux dipandang sebagai upaya diplomatik terbesar untuk mengakhiri konflik tiga tahun ini.

Lebih dari 100.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat perang.

Sistematis

Foto-foto mencakup periode dari awal pemberontakan tahun 2011 sampai Agustus tahun lalu.

Penyidik mengatakan sebagian besar tubuh dalam foto itu kurus, banyak yang telah dipukuli atau dicekik.

Salah satu penulis laporan, Profesor Sir Geoffrey Nice mengatakan kepada BBC bahwa skala dan konsistensi pembunuhan memberikan bukti kuat keterlibatan pemerintah yang dapat mendukung dilakukannya tuntutan pidana.

Ahli patologi forensik Stuart Hamilton juga memeriksa bukti-bukti ini dan mengatakan kepada BBC bahwa dalam gambar ia melihat sejumlah besar tahanan menderita kelaparan.

Dia mengatakan bahwa banyak dari mereka seolah-olah dalam keadaan terikat.

"Ada banyak tahanan yang dipukuli. Dan sejumlah lain yang jelas dicekik," katanya.

Wartawan BBC di Beirut, Jim Muir, mengatakan jika hal ini bisa dipercaya, laporan ini juga menunjukkan adanya dokumentasi sistematis dari mayat-mayat yang masing-masing diberi nomor.

Pemerintah Suriah belum mengomentari laporan itu, tapi membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia selama 34 bulan konflik. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 22 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Ribath Nurul Hidayah - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Warta, Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo KH Moh. Zuhri mengatakan seorang santri tidak hanya dituntut tekun belajar saja, tapi lebih dari itu dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang dihasilkan ? sebagai bentuk pelatihan sebelum pulang ke masyarakat.

"Dibentuknya Forum Komunikasi Santri (FKS) adalah sebagai wadah para santri ketika libur pesantren dalam menerapkan ilmunya. Belajar berhikmad kepada masyarakat," katanya dalam acara peringatan Nuzulul Quran di Masjid Al-Ghozali Gambiran Lumajang (12/7).?

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Diharap Berkhidmad kepada Masyarakat

FKS merupakan wadah pembelajaran santri aktif dalam berorganisasi berbasis kemasyarakatan. Karenanya tidak hanya mengadakan ? kegiatan keagamaan, akan tetapi bermacam-macam kegiatan pada umumnya seperti seminar, pondok Ramadhan, lomba-lomba dan lain sebagainya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga memberi penghargaan kepada Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ Lumajang) ? dan Ibu-ibu PKK Gambiran yang telah bersedia bekerjasama dengan FKS-L dan menjadi pembimbing para santri.

Acara yang dihadiri lebih tiga ratus jamaah meliputi santri aktif, alumni, dan masyarakat berlangsung cukup meriah.

? "Saya senang sekali sebagai alumni melihat santri-santri yang masih berproses di pondok, namun mampu mengadakan kegiatan semeriah ini," ungkap Amin, alumni sekaligus mantan ketua FKS-L masa ibadah 2008-2009.

Ribath Nurul Hidayah

Adapun acara peringatan Nuzulul Quran dimulai sejak pukul 07.00 WIB, dengan khotmil quran, istighosah, pengajian umum dan ditutup dengan buka bersama.? (Andika Dika/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Jakarta, NU online

Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Isyroqi Nur Muhammad Limiroji, santri Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojokerto untuk mengikuti perlombaan Musabaqoh Hifzhul Quran Tingkat Nasional ketiga di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Darunnajah

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Santri penyandang tunanetra berusia 17 tahun yang kini masih duduk di kelas 3 Aliyah itu semenjak kecil bercita-cita menjadi seperti ayahnya yang juga seorang hafiz. Selain cita-cita tersebut wasiat sang ayah sebelum meninggal agar ia menjadi seorang penghafal Al-Quran, semakin menumbuhkan semangatnya.

"Saya mulai menghafal Al-Quran ketika saya berumur 8 tahun dan alhamdulilah selesai di umur 13. Saya ingin mengamalkan wasiat ayah saya yang telah berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu. Saya ingin menjadi seorang hafiz seperti almarhum ayah saya yang juga seorang hafiz. Dulu almarhum pernah menjadi juara tahfiz di Jakarta," kata Isyroqi, Ahad (29/10).

Perjuangannya untuk mampu menghafal Al-Quran tidaklah mudah. Metode yang ia tempuh adalah metode simaah. Ia harus mendengarkan ibunya membacakan kalimat per kalimat ayat- ayat Al-Quran. Ia juga menggunakan rekaman suara untuk menghafalkan ayat-ayatnya. 

Ribath Nurul Hidayah

“Ketika saya sedang malas-malasnya, ibu tetap memaksa saya untuk tetap menghafal, hingga akhirnya saya menghafalkan Al-Quran sambil menangis," lanjut Isyroqi.

Isyroqi berpesan kepada generasi penerus bangsa untuk selalu bersemangat dalam menghafal Al-Quran dan selalu mengimbangi antara usaha dan doa. 

"Saya berpesan agar mereka selalu bersemangat dalam menghafal quran, jangan mudah menyerah, dan imbangi selalu antara usaha dan doa, serta usahakan bukan hanya sekedar menghafal, namun juga lancar dalam menghafalkan Al-Quran," tukas Isyroqi. (Red: Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam jangka panjang, yang menjadi penentu dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat adalah masyarakat itu sendiri, bukan pemimpin keagamaan. Karena itu, pilihan negara Islam menjadi sangat tidak tepat.

“Bukan lagi kiai yang menentukan. Karena itu, almarhum Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ary dan KH. Wahid Hasyim itu berfikir ya sudah negara ini jangan dijadikan negara Islam,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di depan para puluhan peserta pengajian Ramadhan di Pesantren Ciganjur, Jakarta (1/10).

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Kenapa kita menjadi negara Pancasila? Menurut Gus Dur, dalam masa depan pluralitas itu sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia yang beragama. Islam sendiri tidak memungkiri adanya pluralitas itu.

“Maka mau tidak mau jangan negara Islam. Kalau saya sih ikut Mbah Hasyim saja (KH. Hasyim Asy’ary: Red), karena kenyataannya memang begitu,” kata Gus Dur.

Konsekuensi dari negara Pancasila adalah adanya pemisahan yang tegas antara agama dan negara. “Karena itu undang undang seperti Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) harus dihindarkan, nah karena itu berarti UU berarti pemerintah campatr tangan,” kata Gus Dur yang sejak awal berbeda dengan PBNU dalam soal APP.

Dalam negara Pancasila, dikatakan Gus Dur, pemerintah tidak dapat menentukan apakah sebuah intitusi dalam masyarakat telah mengganggu ketentraman umum atau tidak. Gus Dur mencontohkan, pemerintah yang diwakili oleh pihak kepolisian sempat berencana menutup pesantren Nguki Solo yang dipimpin oleh Ustadz Ba’asyir karena dinilai meresahkan masyarakat dan diklam sebagai sarang penggemblengan para teroris.

Ribath Nurul Hidayah

“Waktu itu hanya saya yang berani membantah. Saya katakan, bahwa negara tidak punya urusan untuk menutup pesantren. Masyarakat yang berhak menutup, bukan kepolisian. Apalagi kepolisian kan hanya menjalankan perintah saja, tidak berhak menentukan apakah melanggar kepentingan umum atau tidak,” kata Gus Dur. (nam)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 21 Februari 2018

Sibuk Bisnis, Negara Timur Tengah Ini Minta Imam Masjid ke Indonesia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Kementerian Agama RI mengirimkan 14 imam masjid ke Timur Tengah atas permintaan negara Uni Emirat Arab. Tahun depan, pengiriman imam masjid akan ditingkatkan menjadi 100 orang.

Menurut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Muhammadiyah Amin, 14 imam masjid itu diberangkatkan pada bulan ini, beberapa minggu lalu. Mereka saat ini telah bekerja sesuai dengan kontraknya. ?

Sibuk Bisnis, Negara Timur Tengah Ini Minta Imam Masjid ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sibuk Bisnis, Negara Timur Tengah Ini Minta Imam Masjid ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sibuk Bisnis, Negara Timur Tengah Ini Minta Imam Masjid ke Indonesia

“Mereka sudah tiba dan dipasangin baju besar. Jadi orang Arab yang kecil,” katanya di Jakarta, Kamis (24/8). ?

Menurut dia, para imam masjid itu, ketika tiba di Abu Dhabi disambut Menteri Wakaf negara tersebut. Kemudian mereka ditempatkan sesuai daerah yang ditentukan. Selama mereka menjalankan tugas itu, tiap bulan, mendapatkan upah sekitar 20-30 juta rupiah.? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Muhammadiyah menambahkan, para imam yang dikirim ke negara tersebut harus hafal Al-Qur’an antara 20 sampai 30 juz. ?

Ribath Nurul Hidayah

Ketika ditanya sebab negara Timur Tengah itu sampai meminta imam ke Indonesia, Muhammadiyah memperkirakan, di negara tersebut bukan karena kekurangan imam masjid, tapi mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis.

Kedua, kata dia, Indonesia dikenal juga sebagai pembaca-pembaca dan penghafal Al-Qur’an yang fasih dan merdu.Sehingga mereka tertarik memilih imam dari Indonesia.

“Ini satu kebanggaan buat kita,” lanjutnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah

Upaya Perdamaian Tak Boleh Berhenti pada Wacana

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Panitia Global Peace Festival Slamet Effendi Yusuf menyatakan acara Global Peace Leadership Conference merupakan upaya melakukan dialog dalam rangka mewujudkan perdamaian.



Upaya Perdamaian Tak Boleh Berhenti pada Wacana (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Perdamaian Tak Boleh Berhenti pada Wacana (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Perdamaian Tak Boleh Berhenti pada Wacana

Hal ini disampaikan ketika menyampaikan laporan dalam pembukaan Global Peace Leadership Conference yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (16/10). Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Global Peace Festival Foundation dan PBNU.

“Namun demikian, upaya mendorong perdamaian ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana,” katanya.

Ia menjelaskan, acara ini diikuti oleh sekitar 100 peserta dari luar negeri yang merupakan perwakilan dari 17 negara, diataranya dari Australia, Albania, Iran, Jepang, Kenya, Korea, Pakistan, China, Taiwan, Amerika dan lainnya. Sementara peserta dari dalam negeri meliputi 200 orang, termasuk para pengurus wilayah NU.

Ribath Nurul Hidayah

Acara Global Peace Festival terdiri dari berbagai rangkaian acara. Selain acara konferensi, hari ini terdapat aksi bakti sosial yang dilakukan oleh para pemuda dan mahasiswa sebanyak 3000 orang di seputaran Jakarta. Aksi serupa sebelumnya sudah dilakukan di Penjaringan Jakarta dan Solo.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan lainnya adalah pengumpulan dana melalui program power of rupiah untuk membantu mereka yang miskin. “Aksi ini tidak bermaksud untuk melakukan penggalangan dana, tetapi lebih pada memberdayakan jutaan umat manusia,” katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Februari 2018

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak umat Islam untuk memusatkan segala aktivitas ibadah di dalam masjid, bukan di jalanan. Pihak PBNU mengharapkan umat Islam tetap menjaga ketertiban umum dan terutama hak-hak masyarakat lain pengguna jalanan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/11) malam.

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Umat Islam Fokuskan Ibadah di Masjid, Bukan di Jalanan

Imbauan ini disampaikan menyusul rencana aksi gelar sajadah oleh sekelompok umat Islam yang dengan sengaja mengagendakan shalat Jumat di jalan protokoler di Jakarta pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang.

“Pada zaman dahulu Masjid Nabawi itu kecil. Dahulu daya tampungnya agak terbatas. Shalat Jumat pun dilakukan di situ. Rasulullah SAW tidak pernah melakukan shalat Jumat di jalanan. Tetapi Masjid Nabawi zaman sekarang cukup besar,” kata Kiai Moqsith.

Ribath Nurul Hidayah

Kalau umat Islam menggunakan jalanan sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat Jumat, maka itu akan cukup merepotkan. Kebutuhan akan jalanan seperti di Ibu Kota Jakarta, atau jalanan di kota-kota besar lainnya Medan, Surabaya, dan Semarang, sangat tinggi.

Umat Islam, menurut Moqsith, cukup mendayagunakan masjid-masjid yang masih tersedia di kota-kota tersebut sebagai fasilitas untuk beribadah.

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan demikian, seharusnya umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas ibadah, seperti aktivitas ibadah tidak perlu dialihkan ke jalanan yang berpotensi menggangu orang lain. Dan setiap orang mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jalanan,” kata salah seorang dosen pengampu mata kuliah tafsir di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Humor Islam, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri”

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Rabithah Maahid al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Cabang Kendal menggelar "Mlaku Bareng Santri", Kamis (22/10). Garis start dan finish berada di alun-alun kabupaten Kendal. Sebanyak kurang lebih 3000 santriwan-santriwati se-kabupaten Kendal berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tidak hanya santri pondok pesantren salaf saja yang turun memeriahkan acara ini, pelajar yang berbasis pesantren pun larut di dalamnya.

Acara ini diresmikan para masyayikh pondok pesantren Kendal ini diantaranya KH. Makhzunun Irja (Pesantren Miftahul Ulum), KH. Sholahuddin Khumaidullah (pesantren APIK), KH. Baduhun Badawi (Pesantren Miftahul Huda) dan KH. Suyuthi (Pesantren Mambaul Hikmah) memberikan motivasi kepada para santriwan-santriwati. 

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, RMI NU Kendal Gelar “Mlaku Bareng Santri”

"Kita berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo atas pengakuan terhadap perjuangan kaum santri dalam menegakkan kemerdekaan RI," ungkap KH. Sholahuddin. Pengasuh pesantren APIK Kaliwungu ini juga menceritakan, bahwas santri ini merupakan elemen bangsa yang konsisten melawan kolonialisme di Indonesia. 

Ribath Nurul Hidayah

"Dari pesantren, Nahdlatul Ulama, kiai, dan santri untuk NKRI", tambah Kiai Sholah. Santri juga konsisten dengan pola pikir moderat dan menyebarkan Islam yang ramah. Banyak nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari dunia pesantren. Akhlak al-karimah, sopan-santun, kedisiplinan, kekeluargaan dan sebagainya. 

Sebelum gerak jalan dimulai, Kiai Sholah mengajak santriwan-santriwati untuk mengirim surat al-Fatihah kepada para kiai-ulama dan pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemeredekaan Indonesia.  

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum "Mlaku Bareng Santri", sehari sebelumnya (21/10) telah diadakan Halaqah Kebangsaan dengan tema meneguhkan Semangat Santri untuk Menjaga Tradisi dan Keutuhan NKRI dan lomba rebana se-kabupaten Kendal. Dalam kegiatan "Mlaku Bareng Santri" ini, para santri wajib mengenakan sarung, kaos dan peci sebagai seragam. Tagline atau slogan yang diangkat dari rangkaian acara ini adalah ‘Santri Kendal, Iso Opo Wae, Opo Wae Iso’ (Bisa apa saja, apa saja bisa). (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Nasional, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Jumat pagi (8/3), warga Nahdliyyin di kota Konya, Turki, menemani Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama beberapa kiai berkunjung ke kota Maulana Jalaluddin Rumi.

Rombongan PBNU sudah selesai memenuhi undangan konferensi perdamaian untuk Afganistan yang diselenggarakan pada 4-5 Maret 2013 di Istanbul, dan memenuhi beberapa undangan di Ankara. Sejak pagi buta kiai yang akrab dipanggil Kang Said itu beserta rombongan langsung menuju kota Konya menaiki kereta cepat.

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Niatan yang tadinya hanya ingin berziarah ke beberapa makam auliya di kota ini, ternyata disambut antusias oleh para ulama di Konya. Sukru Ozbugday, yang merupakan Mufti Konya langsung mengutus Mufti Meram, Ahmet Ozkan untuk mengundang rombongan dan menemani selama di Konya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain menceritakan tentang apa itu NU, Kang Said juga menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan antara Turki dan Indonesia. “Kami sangat senang dapat mengunjungi kota Konya. Maulana Jalaluddin Rumi sangat populer di kalangan Nahdliyyin. Alhamdulillah kami sekarang akan berziarah ke makam beliau. Walaupun waktu kami di Konya sangat terbatas, kami berharap hubungan ini akan terus berlanjut,” Kang Said.

Pertemuan ini begitu hangat, apalagi mustasyar PCINU Turki Dr. Seyit Bahcivan yang juga teman sekelas dengan KH. Said Aqil Siroj sewaktu dulu bersama-sama belajar di Ummul Qura University Mekkah juga hadir dalam pertemuan ini dan ikut menemani rombongan. Seakan ingin bernostalgia, DR. Seyit Bahcivan yang sejak awal lengket dengan sahabat lamanya ini pun diisengi oleh Kang Said.

Ribath Nurul Hidayah

“Ya Seyit, dimana janggutmu yang panjangnya se dada itu?. Mengapa sekarang kamu tak berjanggut?” canda Kang Said. Semua yang ada diruangan itu pun tertawa sembari melihat Dr. Seyit Bahcivan yang sudah tak berjanggut lagi.

Di akhir pertemuan singkat itu, Sukru Ozbugday memberikan cendera mata berupa hiasan seni bergambar bunga mawar yang merekah.

“Di Konya, bunga mawar adalah simbol cinta kepada Rasulullah SAW, Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah dapat mempersatukan kita dan umat muslim seluruhnya. Ujar Sukru Ozbugday berharap.

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam beberapa auliya. Maulana Rumi dan gurunya Syamsuddin at-Tibrizi atau yang lebih dikenal dengan Semsi Tebriz menjadi tempat pertama yang diziarahi.

KH Said Aqil Siroj sendiri yang langsung memimpin pembacaan tahlil dan doa. Rombongan juga menyempatkan berziarah ke makam seorang wali yang hidup sezaman dengan Rumi yaitu Sadruddin al-Konawi. Menyadari waktu singkat Kang Said di Konya, di sela-sela ziarah inilah pengurus PCINU Turki berdialog ringan dan menjelaskan kegiatan-kegiatan warga NU di Konya.

“Walaupun usia PCINU Turki masih dibilang baru terbentuk, Alhamdulillah kami istiqomah mengadakan kagiatan-kegiatan diniyyah. Termasuk sebulan yang lalu Alhamdulillah warga NU di Turki berkumpul di Konya untuk mengadakan kagiatan Maulid Nabi dan Harlah NU. Mohon doa dan dukungan kiyai supaya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat kami jalankan secara istiqamah dan bernilai barokah,” papar Abdul Ghaffar Chodri, wakil sekretaris Tanfidziyyah PCINU Turki.

“Kegitan-kegiatan positif seperti itu tentu saya dukung. Tapi yang paling penting ya itu tadi, teman-teman disini bisa mengerjakannya dengan istiqomah. Salam saya untuk teman-teman semua ya,” ujar Kang Said.?

Sebelum kembali ke Istanbul dan terbang ke Indonesia, rombongan juga sempat membeli aksesoris berupa kucuk kur’an (Al-Qur’an super mini yang di Indonesia sering disebut Qur’an Istanbul). Nampaknya, bukan hanya para ulama Konya yang menghormati rombongan ini, pedagang yang menjual aksesoris ini pun sangat senang ketika tahu bahwa mereka adalah rombongan kiai dari Indonesia. Ini terbukti pedagang tersebut langsung memberikan 30 kucuk kur’an yang semuanya bersampul hijau sebagai hadiah.

Walaupun hanya tiga jam Kang Said dan rombongan berada di kota Konya, namun ini menjadi saat yang membahagiakan dan tak terlupakan bagi warga NU di kota Darwis ini.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Abdul Ghaffar Chodri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Syariah, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Februari 2018

Mendakwahkan Islam ke Dunia Global

“Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena sempat menemukan Islam sebelum sempat bertemu dengan orang-orang Islam.” Syekh Hamzah Yusuf, seorang Imam Amerika keturunan Irlandia dan juga Presiden Zaituna Institute.

Islam adalah agama yang damai dan mengajarkan kedamaian, toleran dan mengajarkan toleransi, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan hanya untuk manusia saja.   

Mendakwahkan Islam ke Dunia Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendakwahkan Islam ke Dunia Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendakwahkan Islam ke Dunia Global

Disebutkan juga bahwa Islam adalah agama yang di atas dan tidak ada agama yang ‘di atas’ Islam. Di Al-Qur’an disebutkan bahwa umat Islam adalah sebaik-baiknya umat (khoiru ummah) diantara umat manusia lainnya. Islam juga sangat menghargai peran seorang wanita dan menjunjung tinggi kehormatannya. Dalam Islam, yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa kepada-Nya, bukan didasarkan pada status sosial atau ras dan etniknya. Singkatnya, Islam adalah agama yang komplit, yang semuanya diatur di dalamnya.

Tapi, apakah nilai-nilai Islam tersebut sesuai dengan realita yang ada di lapangan? Apakah hal-hal tersebut di atas berbanding lurus dengan situasi dan kondisi yang terjadi di komunitas atau negara-negara mayoritas umat Islam?

Lebih tragis lagi, banyak masyarakat Barat yang menganggap Islam sebagai sumber dari segala permasalahan, terorisme, kemiskinan, keterbelakangan, kesemrawutan, dan stigma negatif lainnya. Bahkan, ada yang menyangka kalau Islam itu adalah ancaman dari peradaban Barat.

Ribath Nurul Hidayah

Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam merespon hal itu?

Melalui bukunya ini, Imam Shamsi Ali mengutarakan pengalaman-pengalamannya saat mendakwahkan Islam di negeri Barat, Amerika Serikat. Di sini, dia juga merespon tuduhan-tuduhan negatif tentang Islam dengan jawaban-jawaban yang cerdas dan mengena. Sehingga tidak sedikit orang ‘yang menyerangnya’ tersebut kemudian masuk Islam, tentunya tidak langsung namun membutuhkan waktu.

Buku yang terdiri dari kumpulan artikel pendek ini lebih banyak membahas bagaimana strategi dan acara mendakwahkan Islam ke dunia global seperti Amerika Serikat. Dia memaparkan banyak trik dan tips bagaimana seharusnya dakwah itu di jalankan. Pertama kali sekali ia menekankan bahwa dakwah itu mengajak. Dakwah jangan dipahami sebagai upaya untuk mengislamkan orang. Bukan kah Nabi Muhammad juga hanya sebatas menyampaikan ajaran Islam. Adapun orang tersebut masuk Islam atau tidak, itu adalah hak prerogatif Allah.

Ribath Nurul Hidayah

Agar dakwah Islam itu diterima dimanapun berada, Imam Shamsi Ali membagikan beberapa resep. Diantaranya adalah dakwah harus menggunakan bahasa kaum (bi lisaani qaumih). Maksudnya, di dalam dakwah yang terpenting adalah bagaimana menggunakan metode dakwah yang kekinian dan inovatif, di samping konten dakwah yang bernas.

Terkait hal ini, ia mencontohkan salah seorang bule yang hendak masuk Islam. Namanya Jennifer, seorang remaja keturunan Kolombia. Ia tertarik dan cinta dengan Islam namun tak kunjung memeluk Islam karena ketakutan. Iya, Jennifer takut karena dia tidak bisa merubah gaya pakaiannya seperti perempuan Arab. Awalnya, ia memahami bahwa orang Islam harus berpakaian seperti orang Arab, menggunakan jubah bagi laki-laki dan gamis bagi perempuan. Setelah mendapatkan penjelasan dari Imam Shamsi Ali bahwa kriteria pakaian seorang Muslim itu adalah menutup aurat, sedangkan model, gaya, warna, dan lainnya itu bisa disesuaikan dengan budaya setempat, maka kemudian Jennifer mantap memeluk Islam. 

Dakwah juga harus mengedepankan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Dakwah tidak melulu dengan ucapan, bisa dengan menunjukkan akhlak yang mulia dan biasanya ini lebih efektif. Seandainya Islam diserang, maka umat Islam harus tetap mengedepankan akhlak. Jangan malah membalasnya dengan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai Islam.  

Selanjutnya, membangun narasi agama yang benar. Para pendakwah harus membuat narasi bahwa agama itu sumber perdamaian, harmoni, keadilan, kemakmuran, persaudaraan, peradaban, dan kerja sama. Hal ini untuk meng-counter narasi agama yang ada saat ini, yaitu agama dianggap sebagai sumber kekerasan, terorisme, aksi pengrusakan peradaban, dan lainnya. 

Karena hanya kumpulan artikel-artikel pendek, maka pembahasan di dalam buku ini kurang begitu komprehensif dan banyak repetisi. Terlepas dari itu semua, buku ini cocok dibaca bagi setiap Muslim agar mereka tahu bagaimana seharusnya berdakwah. Bukankah Nabi Muhammad mengatakan; sampaikan lah dariku walau hanya satu ayat (ballighuu ‘anni walau ayat)?

Identitas buku . Judul : Telling Islam to the World

Penulis : Imam Shamsi Ali

Penerbit         : Quanta

Cetakan         : 2017 

ISBN : 978-602-04-3164-2

Tebal : 186 halaman

Peresensi : A Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu

Nganjuk, Ribath Nurul Hidayah. Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (Staida) Krempyang, Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menggelar wisuda untuk kedua kalinya, Selasa (26/5). Perguruan tinggi yang berlokasi di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in ini mewisuda 94 wisudawan.

“Sebanyak 56 wisudawan dari jurusan Tarbiyah dan 38 wisudawan jurusan Syari’ah,” kata ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah.

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu

Hadir di deretan tamu undangan adalah sekretaris Kopertais IV Surabaya M. Nuril Huda, direktur pascasarjana IAIN Tulungagung Dr. Asy’aril Muhajir dan forpimda kabupaten Nganjuk. Tampak hadir pula ketua PCNU Nganjuk KH. Hamam Ghozali, sekretaris H. Hasyim Afandi dan ketua PC Muslimat Hj. Sri Minarni.

Saat menyampaikan sambutan, KH. Hamam Ghozali menggarisbawahi bahwa nilai seorang sarjana terletak kepada sifat baik yang dimiliki. “Baik dari sisi lahir maupun batin, tidak cuma tampilannya saja,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai yang akrab disapa Gus Hamam ini berharap agar lulusan Staida yang diwisuda mampu memiliki semangat jihad dalam membangun masyakarat. “Jihad tidak berarti harus mengangkat senjata, tapi berkontribusi positif bagi pembangunan masyarakat melalui ilmu yang dimiliki dengan berdasarkan akhlaqul karimah,” ucapnya.

Pria yang juga ketua Yayasan Islam Al-Ghozali ini juga menjelaskan latar belakang pendirian Staida di lingkungan Pondok Krempyang. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, lanjutnya, harus dicarikan jawaban.

Ribath Nurul Hidayah

“Terlebih fenomena yang dihadapi masyarakat sekarang semakin kompleks, seperti wacana yang menyatakan bahwa wanita tidak perlu masa iddah, transaksi online, penafsiran al-Qur’an yang seenaknya sendiri dan sebagainya,” ujarnya.

Saat memberikan sambutan, sekretaris Kopertais IV M. Nuril Huda lebih banyak memotivasi para wisudawan. Prosesi wisuda, menurutnya, adalah momentum tepat untuk saling memahamkan antara pihak kampus dengan stakeholder. “Terutama dalam memaparkan visi misi dan keunggulan yang dimiliki,” ujarnya.

Alumni Pascasarjana Unesa ini menandaskan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi yang mampu menghadapi tantangan globalisasi, Staida harus berbenah diri secara konsisten. Pembangunan citra lembaga (institutional branding) mutlak harus dilakukan.

“Itu dilakukan agar Staida dikenal dunia luar, tidak hanya di Nganjuk, Jawa Timur dan Indonesia, tapi kalau bisa sampai ke luar negeri,” katanya.

Sebagai contoh adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan Staida bernama Pikir. Meski baru setahun terbit, nama jurnal ini ternyata sudah dikenal dengan baik di lingkup Kementerian Agama RI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta. “Saat saya menemui narasumber workshop untuk e-journal di Kemenag RI di Jakarta sana, yang ditanyakan malah jurnal Pikir, bukan kampus Staida. Nah, tugas ini yang menjadi tanggung jawab bersama agar nama kampus juga dikenal, tidak hanya nama jurnalnya saja,” imbuhnya.

Di samping itu, lanjutnya, sebuah kampus juga harus membangun personal branding. Hal ini terkait erat dengan kesiapan modal personal yang ada di dalam kampus. Terutama dari unsur dosen dan mahasiswa. “Alumni harus bangga sebagai lulusan Staida, itu adalah modal awal dari syarat kedua ini,” ucapnya.

Modal intelektual adalah hal pertama yang harus disiapkan alumni sebelum terjun ke masyarakat. Interaksi sosial yang baik dengan berbagai elemen masyarakat juga penting dilakukan. “Modal ketiga baru berbicara ketersediaan dana,” katanya.

Ditemui usai acara wisuda, ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah menambahkan bahwa pada tahun akademik 2014/2015, banyak kemajuan yang telah diraih. Di tingkat mahasiswa, dari 373 mahasiswa yang menimba ilmu di Staida, terdapat 22 mahasiswa yang memperoleh beasiswa dari Pemprov Jawa Timur.

Kampus yang berdiri sejak 2009 ini memiliki dua program studi. Yaitu manajemen pendidikan Islam (MPI) dan hukum perdata Islam (AS). “Kualifikasi dosen yang mengabdi di sini sudah lulus jenjang S-2 semua, dengan rincian 16 dosen tetap dan 4 dosen tidak tetap,” ungkapnya.

Program ke depan, Staida mencanangkan peningkatan kualifikasi akademik dari para dosen. “Tahun kemarin sudah ada dua dosen Staida yang memperoleh beasiswa penuh dari Kemenag untuk melanjutkan S-3 di UIN Sunan Ampel Surabaya dan satu dosen memperoleh beasiswa serupa untuk menempuh S-2 di UIN Malang,” ujaarnya.

Kelebihan kampus ini adalah berlokasi di Pondok Krempyang, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Nganjuk. “Para dosen di sini juga rata-rata masih muda, sehingga sangat membantu dalam mentransformasikan ilmu dan nilai yang dimiliki kepada para mahasiswa,” imbuhnya.

“Mohon doa restu dari semua pihak, tahun ini ada tujuh dosen Staida yang akan mengikuti seleksi beasiswa penuh dari Kemenag untuk jenjang S-3,” pungkasnya. (Mukani/Mahbib)

?

Foto: Prosesi wisuda Staida

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Syariah Ribath Nurul Hidayah

KH Wahab Pembangkit Gelora Perlawanan untuk Indonesia Merdeka

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. KH Wahab Hasbullah dikenal sebagai pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama. Sebelum mendirikan organisasi terbesar di Indonesia bahkan di dunia, Kiai karismatik ini membangkitkan gelora kaum muda untuk cinta tanah air dan melawan penjajah dalam rangka menuju Indonesia merdeka.

KH Wahab Pembangkit Gelora Perlawanan untuk Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Pembangkit Gelora Perlawanan untuk Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Pembangkit Gelora Perlawanan untuk Indonesia Merdeka

Doktrin cinta tanah air ditanamkan KH Wahab kepada para santrinya yang menjadi muridnya di sekolah Nahdlatul Wathon yang didirikan pada 1916, jauh sebelum kemerdekaan.

"Sekolah ini untuk menyiapkan kader bangsa untuk berusaha keras mencapai Indonesia merdeka. Sekolah ini dikhususkan untuk pemuda usia 15-25 tahun," ujar Choirul Anam ang kini sedang menyelesaikan buku KH Wahab Chasbullah sebagai narasumber sarasehan di pesantren Bahrul Ulum, Rabu (3/9).

Ribath Nurul Hidayah

Salah satu doktrin itu, dikatakan Cak Anam, dituangkan KH Wahab dalam bentuk sya’ir berbahasa Arab “Hubbul Wathon" yang artinya cinta tanah air.

Sya’ir ini dipercaya membangkitkan gelora pemuda melawan penjajah Belanda. Lagu cinta tanah air ini, bahkan menjadi lagu wajib kalangan santri khususnya di sekolah Nahdlatul Wathon, kata Anam.

Ribath Nurul Hidayah

KH Abdul Adhim Dimyati, salah satu santri Bahrul Ulum mengatakan, selain lagu Hubbul Wathon Mbah Wahab juga menciptakan lagu pengobar semangat anak muda Ansor dengan syair bahasa jawa untuk melawan penjajah.

"Dodor dodor dodor, Barisane dowo# Kalung Baju Ijo, Melaku ne Toto# eh la iko#, Ansor e Teko,Yen di Takoni# Arep e Mbrontak Londo# tuk wak tuk wak. (Berjajar baris memanjang, dengan memakai Baju hijau berjalan rapi# Ya itu, pasukan Banser datang# Ketika ditanya, Jawabannya akan memerangi Belanda, Satu dua, satu dua)," ujar Kiai Adhim menceritakan lagu ini diajarkan orang tuanya saat dirinya baru umur 10 tahun menjelang mondok di Bahrul Ulum.

Dengan melantunkan lagu ini, barisan Ansor dari Magetan, Madiun, Mojokerto, Jombang berangkat menuju Surabaya untuk berperang melawan belanda. "Jadi semua lagu itu ditambah ijazah atau amalan dengan hanya menggunakan bambu runcing, para santri berani melawan penjajah belanda," tandas mantan aktifis Ansor ini menambahkan.?

Choirul Anam mengatakan, ketokohan KH Wahab tidak bisa dipungkiri. Pertempuran di Surabaya 10 Nopember, KH Wahab ikut memimpin pasukan Mujahidin yang bermarkas di Sidoarjo. Sedangkan Laskar Hizbullah dipimpin Zaenal Arifin dan Laskar Sabillah dipimpin Kiai Masykur yang bermarkas di Malang.

"Bagi Mbah Wahab Kemerdekaan Indonesia akan benar-benar terwujud tidak cukup dengan perjuangan di meja perundingan atau diplomasi, tetapi harus pula disiapkan angkatan perang yang siap menghadapi segala bentuk petempuran," tandas Anam. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 18 Februari 2018

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah jajaran syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki, bertandang ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam. Mereka bermaksud meminta SK. dari PBNU atas kepengurusan PCI Turki yang baru terbentuk.

Sebelum mendatangi kantor sekretariat PBNU di lantai tiga, rombongan ini singgah di Kantor Ribath Nurul Hidayah, lantai lima Gedung PBNU. Keempatnya aktif menceritakan kondisi sosial, akademik, dan keagamaan masyarakat Turki.

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jajaran pengurus PCINU Turki, terdiri dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang melanjutkan studi di Turki. Mereka berasal dari kampus berbeda. Bahkan kampus tiap pengurus terletak di kota yang berjauhan.

Para pengurus juga berasal dari latar belakang akademik yang berbeda. Sebagian mereka mengambil studi Sastra Arab, Politik, atau Teknik Sipil. Mereka tidak melulu berasal dari jurusan ‘Ilahiyat’, sebutan bagi studi ilmu-ilmu keislaman di Turki.

“Pembentukan kepengurusan PCI kami, sesuai dengan keputusan Muktamar Makassar lalu; 40 anggota sebagai batas minimal,” kata Ahmad Faiz, Rois Syuriah PCI NU Turki kepada Ribath Nurul Hidayah di Kantor redaksi lantai lima Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Proses pembentukan PCINU Turki, cukup unik. Perkumpulan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Turki, berinisiatif membentuk kepengurusan setelah saling mengetahui bahwa mereka adalah warga NU, imbuh Faiz, yang tengah mengambil studi Sastra Arab di Universitas Konya, Turki.

Menurut M. Syaukillah, Katib Syuriyah PCINU Turki, kepengurusan PCINU Turki didukung oleh tokoh masyarakat setempat. Mereka menyambut baik pembentukan kepengurusan Cabang Istimewa NU. Sejumlah tiga orang profesor di Turki, bersedia menjadi pengurus Mustasyar PCINU Turki.

 

Ribath Nurul Hidayah

Redaktur: Ulil Hadrawy

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Kiai, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 17 Februari 2018

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam?

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah KH Muhammad Hanif Muslih mengutip kalimat KH Muslih Abdurrahman Al-Maroqy dan Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliky.

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad “Hadir” Saat Mahallul Qiyam?

“Rasullullah Muhammad SAW akan selalu hadir, ruh dan jasadnya, saat mahallul qiyam pada pembacaan maulid,” kutipnya pada pembukaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak pada Jumat malam (16/1).

Peringatan tersebut merupakan Safari Maulid Majelis Al Muqorrobin pimpinan Habib Farid Abdillah bin Masyhur, Habib Fauzi bin Masyhur, dan Habib Muhammad Firdaus bin Masyhur. Ketiganya merupakan penerus majelis ta’lim Muqorrobin yang dididirkan Habib Masyhur bin Toha Al Munawar.

Ribath Nurul Hidayah

Ribuan santri dan masyarakat hadir pada kesempatan itu. juga para ulama, habaib, pejabat pemerintah dari sipil maupun kepolisian. Hadir pula Habib Ali bin Hasan Bafaqih dari Tarim Yaman. Beliau mengajak kepada masyarakat untuk selalu meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ribath Nurul Hidayah

“Diutusnya Baginda Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia adalah sebuah rahmat yang agung, maka menjadi sebuah keniscayaan bagi kita umat Islam untuk selalu meneladani akhlak mulia beliau,” katanya dalam mauidhoh berbahasa Arab yang diterjemahkan KH Helmi Wafa. (Ben Zabidy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Meme Islam, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 16 Februari 2018

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja

Banda Aceh, Ribath Nurul Hidayah. Para ulama yang tergabung dalam Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) menyatakan aspirasi mereka terhadap pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Mereka menghendaki masjid di kota serambi Mekkah ini menerapkan paham mayoritas umat Islam Aceh, yakni Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja

Aspirasi ini menjadi perbincangan serius dalam Musyawarah Besar? HUDA I berakhir Ahad (1/12) kemarin. Salah seorang peserta musyawarah, Tgk Nasruddin Jinieb menegaskan, Masjid Raya harus dikembalikan sebagaimana yang termaktub dalam Qanun Meukuta Alam, yakni Ahlussunnah Waljamaah dalam hal i’tiqad (akidah) dan mazhab Syafii dari segi amalan fiqih.

Hal ini dinilai relevan mengingat Masjid Raya Baiturrahman yang berada di pusat kota Banda Aceh tersebut merupakan kebanggaan dan simbok eksistensi masyarakat di Aceh. “Insyaallah kami siap untuk menjalankannya,” ujar Tgk Nasruddin yang disambut teriakan takbir peserta Mubes.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada juga disampaikan Tgk Syeh Muhajir yang menginginkan agar rekomendasi tentang pengelolaan Mesjid Raya disebutkan secara tegas dan terbuka.

Ribath Nurul Hidayah

“Berikan limit waktu paling lama satu bulan agar Masjid Raya dapat diterapkan amaliyah sesuai mazhab Syafi’i, baik dalam hal muwalat khutbah, azan dua kali, tarawih dua puluh rakaat dan hal-hal lainnya,” katanya.

Pelaksana tugas Ketua HUDA Waled Nuruzzahri selaku pimpinan sidang mengharapkan agar kaum muda bersabar dulu dan menunggu instruksi dari para Ulama sepuh.

Selain pemilihan kepengurusan baru, para ulama dayah juga membahas beberapa persoalan yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat, termasuk mengenai penegakan syariat Islam yang terkesan kurang serius dijalankan pemerintah. Pengesahan qanun jinayat dinilai selalu tertunda.

Dalam forum tersebut, Abu MUDI terpilih sebagai ketua umum untuk periode ini bersama Tu Bulqaini sebagai sekretaris jendral. Abu MUDI terpilih secara aklamasi melalui musyawarah para ulama sepuh Aceh yang tergabung dalam ahlul halli wal ‘aqdi.

Waled Nuruzzahri berharap, agar HUDA dapat lebih maju dan tetap eksis dalam mempertahankan syariat Islam di Aceh. (M. Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Pameran Media NU di Arena Munas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Para peserta Munas-Konbes di Kempek-Cirebon pertengahan September mendatang akan disuguhi karya-karya para penulis NU berupa media-media yang pernah terbit dan masih diterbit. Dari mulai Soeloeh Nadlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, hingga Ribath Nurul Hidayah.

"Sekarang kami masih koordinasi dengan para pengelola media dan para pemegang dokumen media yang ada," kata inisiator pameran media NU, Hakim Jayli yang dihubungi Ribath Nurul Hidayah melalui telepon, tadi malam, Rabu (5/9).

Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Media NU di Arena Munas

Dia mengatakan, saat ini sekurang-kurangnya ada enam media cetak yang terbit di lingkungan NU dan dikelola oleh organanisasi di lingkungan NU.

Ribath Nurul Hidayah

"Tashwirul Afkar diterbitkan PP Lakpesdam NU, majalah Aula yang diterbitkan PWNU Jawa Timur, Risalah NU yang diterbitan PBNU, Duta Masyarakat, tabloid Suara NU oleh PWNU Jawa Tengah, buletin Jumat oleh LDNU," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk media elektronik ada TV9 di Surabaya dan Ribath Nurul Hidayah di Jakarta. Sebetulnya ada banyak radio dan website, tapi kalau dikumpulin semua tidak muat tempatnya," tambah Hakim yang juga direktur TV9.

Hakim berharap, dengan dipamerkannya media-media itu, warga NU bisa terlibat aktif untuk menghidupkan media di lingkungannya. 

"NU ini punya kekuatan yang dahsyat di dunia kepenulisan, sejarahnya juga panjang. Jurnal Afkar itu jurnal langka di negeri ini. Hayo mana ada jurnal keislaman yang terbit nasional. Afkar itu sudah lebih dari 12 tahun eksis. Majalah Aula itu sudah terbit sejak tahun 86, sekarang masih terbit. Apa tidak hebat?" ungkap Hakim.

Hanya saja Hakim mengingatkan, dunia penerbitan ini cenderung menurun, NU harus mengantisipasi. "Tapi jangan semua terjun ke online. Kasihan yang tidak bisa akses internet, karena jumlahnya lebih banyak, apalagi warga NU, kebanyakan di desa. Untuk itu kami akan membicarakannya di arena Munas nanti. Media harus menjadi perhatian bersama. Kita mesti berjamaah agar terus terbit," jelasnya.

Selain memamerkan media-media yang masih terbit, pameran juga akan menyuguhkan media-media lama, seperti Soeloeh NO, Chazanah, Berita NO, Warta NO, LINO, Risalah Islamiyah, Oetoesan NO, Berkala Sarbumusi, dan sebagainya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Februari 2018

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Jeddah, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan pengurus Masjid Indonesia Jeddah mengadakan pengajian rutin setiap Jumat pagi hingga menjelang Jumatan. Pengajian dengan pembacaan kitab "Nashoihul Ibad" ini diasuh tokoh NU di Jeddah Ustadz H Arsyad Hidayat, Jumat (14/11).

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Ustadz H Arsyad Hidayat mengupas muqaddimah kitab Nashoíhul Ibad. Ia juga menyampaikan kepada para jamaah agar tidak memberikan sisa-sisa untuk Islam.?

“Ketika ada kepentingan sesuatu, Islam dibawa-bawa. Kalau kepentingan sudah dicapai, Islam ditinggalkan. Inilah tujuan mengaji agar tetap istiqomah memakmurkan dan mempererat tali silaturahmi sesama WNI TKI di luar negeri,” kata Ustadz Arsyad.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCINU Arab Saudi Ir Ahmad Fuad merespon dan mengajak seluruh jamaah untuk datang lagi pada Jumát depan.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Ketua pengajian masjid Indonesia Jeddah Shaleh Maryono mengimbau agar jamaah mengajak sanak famili dan handai taulan untuk mengaji serta mencari ridha Allah dengan mendatangi majelis taklim yang diagendakan rutin Jumat pagi. (Ahmad Thabib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan

Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali korban yang harus dipertaruhkan oleh bangsa Indonesia. Tak terhitung lagi korban yang telah dipersembahkan demi sebuah kemerdekaan. Bukan sekedar harta dan nyawa, namun juga perasaan terhinakan karena terus dikejar-kejar dan terusir dari kampung halaman. Namun tentu saja banyak sekali para pahlawan yang justru memanfaatkannya untuk berjuang di dua ranah, yakni perjuangan fisik dengan mengangkat senjata dan perjuangan dakwah dengan mendidik generasi penerus bangsa.

Salah satu di antara sekian banyak para pahlawan bangsa yang berjuang di dalam dua medan perjuangan sekaligus ini adalah KH Dimyati Banyuwangi. Seorang ulama kharismatik yang telah memiliki banyak jasa bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Beliau adalah salah satu di antara para ulama Nahdlatul Ulama dengan andil besar dalam perjuangan fisik yang berpuncak pada meletusnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan

?

Salah satu bentuk sumbangsih nyata bagi perjuangan fisik merebut kemerdekaan adalah fatwa Beliau yang berbunyi, “seluruh santri santri di daerah Banyuwangi selatan (kawasan Blambangan lama) wajib masuk Hizbullah.” Fatwa ini memiliki konsekwensi yang cukup besar bagi santri-santri di kawasan Banyuwangi selatan. Dengan adanya fatwa ini, para santri memiliki tugas ganda. Pada malam hari mereka harus mengendap-endap untuk menyerang pos-pos keamanan tentara Belanda dan Jepang.

Sementara pagi harinya mereka kembali memeluk kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran agama. Walhasil sebenarnya mereka belajar di atas timbunan amunisi dan mesiu hasil rampasan dari tentara penjajah. Memang secara struktural, KH Dimyati adalah Komandan Hizbullah (laskar pejuang yang berafiliasi ke NU) untuk wilayah Blambangan selatan.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan ganda semacam ini di jalani oleh KH Dimyati bersama dengan santri-santrinya di Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab. Bukan tanpa resiko, selain menantang bahaya pada malam hari, mereka juga selalu diintai bahaya pada keesokan hari ketika mereka sedang mengaji. Banyaknya intel penjajah yang berkeliaran membuat keselamatan mereka selalu dipertaruhkan setiap saat.

Ribath Nurul Hidayah

Selain mengasuh Pondok Pesantren Nahdlatut Thullab, KH Dimyati juga dipercaya sebagai Rois Suriyah I Nahdlatul Ulama cabang Blambangan (saat itu Banyuwangi selatan). Sementara pada waktu tersebut Pengurus Tanfidiyah dipercayakan kepada K Syuja’i. Keduanya, bersama para ulama lain, bahu membahu memimpin penduduk di sana untuk melawan penjajahan. Baik secara fisik maupun melawan terhadap segala dampak buruk penindasan Belanda dan Jepang, termasuk kebudayaan negatif yang dibawa oleh setiap pemerintah penjajah.

Keadaan ini berlangsung terus hingga masa-masa setelah kemerdekaan. Dalam mempertahankan kemerdekaan, para santri terus melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pos-pos tentara Belanda pada malam hari.? Maka benar saja, lama kelamaan perlawanan mereka pun tercium oleh Belanda. Sehingga pondok pesantren yang dipimpinnya pun digerebek oleh tentara Belanda.

Seluruh bangunan dibakar, termasuk bangunan pesantren dan tempat tingaal KH Dimyati diratakan dengan tanah oleh Belanda. Seluruh kitab-kitab Beliau sebanyak dua lemari besar pun habis di makan api. Karena di bawah bangunan pesantren banyak tertanam amunisi dan mesiu hasil rampasan para santri ketika bergerilya malam hari, maka akibat pembakaran semakin menjadi-jadi. Mesiu-mesiu ini mengakibatkkan api yang melalap gedung pesantren semakin menyala menjadi-jadi dan menimbulkan ledakan-ledakan hebat.

Meski para santri telah diperintahkan menyingkir dan berpencar, salah seorang santri bernama Muhammad Fadlan tertembak dan gugur pada penyerangan Belanda tersebut. Muhammad Fadlan kemudian dikuburkan sebagai syuhada dan dipindahkan ke Makam Pahlawan Banyuwangi pada tahun 1962.

Sementara KH Dimyati ditangkap oleh Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Komandan Hizbullah Blambangan selatan ini sebenarnya sudah hampir dieksekusi oleh Belanda. Namun menurut beberapa cerita, ketika menjelang hari-hari eksekusi, dokumen-dokumen pidananya oleh Belanda ternyata hilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Sehingga eksekusi tidak pernah benar-benar dilaksanakan, sampai waktunya ia dibebaskan karena kekalahan-kelahan Belanda di Indonesia.

Lahan untuk para Santri. Setelah keluar dari tahanan Belanda dan bangsa Indonesia kembali menata kehidupannya dengan merdeka, maka KH Dimyati kembali membangun pesantrennya.

Pada tahun 1950 KH Dimyati mengumpulkan para tokoh agama di wilayah Banyuwangi selatan, dan pada tahun 1951 beliau secara resmi mengasuh Pesantren Nahdlatut Thullab kembali.

?

Pada tahun 1957 Beliau dan keluarganya mendirikan Yayasan Nahdlatut Thullab. Beberapa saudara-saudara dan relasi keluarga KH Dimyati kemudian mengajukan permohonan kepada Presiden Soekarno di Jakarta. Rupanya pengajuan ini berhasil dan mendapatkan dana yang cukup untuk membangun kembali kompleks pesantren yang telah dibumihanguskan Belanda tersebut.

Dana dari Presiden Soekarno ini rupanya diirit-irit oleh panitia pembangunan, sehingga memiliki sisa yang cukup untuk dibelikan sawah seluas 5 hektare yang kemudian dikelola oleh para santri untuk menunjang kehidupan mereka selama mondok di Pesantren Nahdlatut Thullab.?

Metode penggarapan sawah oleh santri ini merupakan perluasan manfaat yang didapatkan oleh KH Dimyati dari pengalamannya selama Beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren di Jawa Timur.

Menurut ceritanya, dahulu sewaktu KH Dimyati menginjak masa-masa remaja, ia ingin menuntut ilmu ke luar dari wilayah Blambangan (Banyuwangi). Maka, ia pun mengutarakan maksudnya ini kepada ibundanya. Namun sang ibu menyatakan bahwa keluarganya sedang tidak memiliki bekal yang cukup untuk membiayai keinginannya. Keluarga di Banyuwangi hanya memiliki tanah persawahan yang tidak dapat diharapkan banyak karena sulitnya zaman akibat penjajahan.

Namun Dimyati nampaknya telah teguh dengan keinginannya. Ia menginginkan untuk menjual sawah yang menjadi bagain warisannya kelak ketika dewasa. Kendati terheran-heran dan ham[ir tak percaya, Ibunya pun kemudian menyangupi ketika melihat tekad bulat anaknya ini. Ibunya lebih heran lagi ketika melihat bahwa semua uang hasil penjualan sawah satu satu hektar bagiannya, ternyata seluruhnya dibelikan kitab. Saking herannya ibunya bahkan sempat mengatakan, ”Makan tuh kitab.”

Walhasil Dimyati pun segera meninggalkan rumahnya untuk modok ke Pesantren Termas, di Pacitan. Karena seluruh uangnya telah dibelikan kitab, maka ia hanya dibekali oleh ibunya dengan sekarung cengkaruk/karak campur jagung. Bahan makanan ini berupa bahan yang? menunjukkan betapa sebenarnya keluarga Dimyati di banyuwangi juga sama-sama susah akibat penjajahan Belanda.

Namun rupanya dengan bekal hanya sekarung cengkaruk ini, Dimyati mampu bertahan hingga tiga tahun di Pesantren Termas. Rupanya ia bertahan di Termas dengan cara bekerja ke sawah untuk mencukupi kebutuhannya selama mondok. Karenanya KH Dimyati kemudian menerapkan metode ini di pesantrennya yang telah ia bangun kembali.

Selama mondok Dimyati memang terkenal sebagai santri yang tekun, konon ia adalah santri kesayangan sang pengasuh Pesantren Termas. Pada saat itu pondok Termas berada di bawah bimbingan KH. Hafidz Dimyati. Karena saking sayangnya, di sinilah Dimyati berganti namanya menjadi Dimyati, nama yang digunakannya hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, nama lahirnya adalah Muhibbut Thobari. Maka setelah boyongan dari Pesantren Termas, ia pun menggunakan nama Dimyati. Sementara nama lahirnya, Muhibbut Thobari, tak lagi digunakan.

Dalam pandangan KH Dimyati, para santri sah-sah saja bekerja selama menimba ilmu di pesantren, karena justru akan membantu mereka untuk mandiri sejak dini dan tidak membebani orang tua di rumah. Pesantren dapat menyediakan lahan yang digunakan oleh para santri untuk bercocok tanam atau membuka usaha, asalkan tidak mengesampingkan tugas utamanya, yaitu belajar ilmu agama. Dengan demikian para santri dapat menopang sendiri hidupnya, sehingga tidak perlu dikirim oleh orangtua dari rumah.

Begitulah yang dijalaninya selama mengaji di tiga pesantren, yakni Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Cemoro di bawah asuhan KH Abdullah Fakih dan Pesantren Idham Sari, Genteng di bawah bimbingan KH Abdullah Syuja’. Kedua pesantren yang terakhir berada di wilayah Banyuwangi sendiri.

Maka demikian pun ia mempraktekkan ilmunya ketika telah mengasuh pesantren. Para santri di Nahdlatut Thullab tidak harus membawa bekal atau dibekali oleh orang tuanya dari rumah. Asalkan santrinya bekerja keras tentu dapat menopang kehidupan dan membiayai pendidikannya selama di pesantren. Karenanya, dana pembangunan pesantren yang dari Presiden Soekarno disisakan untuk membeli lahan, agar para santri tidak membebani orang tua masing-masing.

Kenyataan ini adalah yang sebenarnya, karena entah kebetulan atau tidak, jumlah santrinya tidak pernah lebih dari kapasitas lahan yang tersedia untuk menopang kehidupan dan kebutuhan belajar mereka. Sehingga KH Dimyati dapat benar-benar mendidik mereka dengan seksama, termasuk ketika harus membina mereka sebagai laskar Hizbullah pada kegelapan malam. Mengendap-endap dan menyergap musuh, untuk merangkul kitab kuning pagi harinya di pesantren.

Sorogan Tak-langsung dan Pendidikan Bilfili. Dalam sistem pendidikan di pesantrennya, KH Dimyati mengandalkan lebih mengandalkan sistem sorogan. Sistem ini menjadikan santri-santrinya menyimak dengan seksama. Karena sorogan yang dipakai oleh KH Dimyati adalah "sorogan tak langsung”. Artinya para santri mengulangi membaca kitab yang telah dibaca oleh sang kyai beberapa hari sebelumnya. Jadi para santri secara otomatis akan mendengarkan dengan seksama ketika sang kyai sedang membacakan, karena mereka harus mengulanginya secara terjadwal.

Sementara cara lain yang digunakan oleh KH Dimyati di Pesantrennya adalah metode bandongan. Dalam mekanisme bandongan sang kyai bebas menerangkan agar para santri mengerti maksud-maksud tersirat dari teks-teks kitab yang sedang dipelajari. Cara ini lazim digunakan di madrasah-madrasah Blambangan selatan sebagaimana juga pesantren-pesantren Nusantara lainnya.

? ? ?

Selama mengasuh pesantren, selain terlibat dalam perjuangan fisik secara langsung di malam hari, KH Dimyati juga sempat membuat karangan tentang akhlak (karakter) yang semestinya dimiliki oleh para remaja Islam. Karangan ini berbentuk nadzam (semacam pantun dalam bahasa Arab, yang menggunakan susunan rima ab ab. Nadzam karangan KH Dimyati ini berjudul Muidzotus Syibyan (Nasehat untuk para Remaja).

Pesantren Nahdlatut Thullab sendiri sangat mengutamakan penguasaan ilmu alat, nahwu dan shorof. Meski tentu saja kitab2 tafsir juga menjadi kajian utama para santrinya. Menurut beberapa santri yang sempat menimba ilmu kapada KH Dimyati, kehebatan Pesantren Nahdlatut Thullab adalah dalam pengembangan aqoid 50-nya. Melalui pembinaan Aqoid 50 ini para santri yang telah boyongan dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah ketuhanan kepada masyarakat di daerah alumni itu sendiri.

Beberapa santri bahkan menyatakan ilmu-ilmu tersebut dapat mereka kuasai secara ”ladunni”. Artinya, dulu ketika diajar langsung terkadang mereka tidak memahami pelajaran saat itu juga, namun setelah kelaur dan mengabdi untuk masyarakat, mereka tiba-tiba teringat dan mengerti maksud penjelasan KH Dimyati sewaktu di pesantren dahulu.

Metodenya pembelajaran KH Dimyati sebenarnya sangat sederhana sekali. Namun karena keyakinan tinggi dari para santrinya, maka mereka mendapatkan semacam pencerahan. Hal pertama yang ditancapkan kepada para santri adalah Al-Qur’an. Para santri diwajibkan senantiasa mendawamkan membaca Al-Qur’an di sepanjang hari, di setiap aktifitas mereka. Kemudian barulah didoktrin dengan Aqoid 50 dan baru belajar nahwu shorof serta ilmu-ilmu lainnya.

Hal penting lain yang diajarkan KH Dimyati adalah pendidikan bilhal/bifi’li. Yakni pendidikan praktek langsung, bukan hanya teori. KH Dimyati terkenal suka mengajak para santrinya untuk bersilaturrahim. Hal ini adalah salah satu aspek pendidikan yang terus tertanam di hati para santrinya sepanjang hidup mereka.

Beberapa santri bahkan menyatakan, sifat kewiraan KH. Dimyati banyak menitis/menurun kepada anak didiknya. Mereka sering didatangi oleh KH Dimyati jika malakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran KH Dimyati. Jika mereka mengalami hambatan atau kendala dalam kehidupan, kemudian bertawassul kepada KH Dimyati, maka biasanya mereka kemudian segera menemukan solusi dari permasalahan mereka.

”Semasa masih di pondok, para santri seakan tidak merasakan keistimewaan menimba ilmu kepada KH Dimyati, namun setelah mereka kembali pulang ke daerahnya masing-masing, barulah mereka mengerti keistimewaan tinggal di pondok ini. Kebanyakan para santri baru menyadari manfaat menimba ilmu pesantren Nahdlatut Thullab, Kaliogoro Kepundungan Srono Banyuwangi, ini setelah berdakwah di rumah,” demikian diungkapkan KH Syaifullah Ali Subagiono, Pengasuh Pondok Pesantren al-Hikmah, Ketapang Banyuwangi.

Berbagi Relasi untuk para Santri. Menurut Subagiono, KH Dimyati benar-benar menjadikan hidupnya sebagai pengabdian sepenuhnya kepada sesama, termasuk kepada orang-orang dari tanah kelahirannya, Yogyakarta. Di manapun para alumni berada, biasanya mereka mendapatkan solusi terkait relasi yang ditunjukkan oleh KH Dimyati. Hal ini dikarenakan KH Dimyati yang berasal dari keluarga Yogyakarta memang memiliki banyak relasi di Jakarta, Yogyakarta dan daerah-daerah lain.?

Luasnya jaringan relasi di kalangan para pemimpin bangsa, dibuktikan oleh kunjungan berkala dari ketiga menteri agama Republik Indoensia yangd ari NU, yakni KH A. Wahid Hasyim, KH Syaifuddin Zuhri dan KH Ahmad Dahlan, termasuk KH Ahmad Syaikhu. Meski sudah menjadi pejabat negara di tingkat pusat, namun tamu-tamu ini tetap bersikap santai di pesantren. Mereka biasa tiduran dan bercengkerama dengan santri di pendopo pesantren.

Terpenting KH Dimyati selalu menanamkan jiwa ke-NU-an di hati anak didiknya. Beliau menyatakan ingin hidup sebagai orang NU dan kelak jika meninggal pun sebagai orang NU. KH Dimyati mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan NU.? Sementara untuk urusan anak-anaknya, ia menyatakan, toh mereka bisa mencari hidup sendiri-sendiri.

Tokoh Kharismatik dari Blambangan selatan ini, terlahir pada tahun 1912 dan dibawa pindah ke kawasan Blambangan selatan oleh keluarganya, yang berasal dari Wonokromo Yogyakarta, sekitar tahun 1915-an dan boyongan dari pesantren untuk mendirikan pesantren dan berdakwah di daerah Blambangan selatan pada tahun 1936. pada tahun 1959 setelah usai merampungkan pembangunan gedung pesantrennya dan menyediakan cukup lahan untuk para santrinya menopang kehidupan dan biaya belajar selama di sana, KH Dimyati berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Namun di sanalah rupanya Beliau datang untuk menghadap kepada Rabb-nya pada usia 47 tahun. Sebuah pemakaman tanpa penghormatan militer, meskipun Beliau selalu berada di garis terdepan dalam pertempuran melawan tentara-tentara Belanda. Selamat jalan Komandan Hizbullah Blambangan selatan. Semoga generasi masa kini dapat meneruskan perjuanganmu mengusir imperialisme dari bumi Nusantara (Puji Utomo/Syaif)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Oleh: Nine Adien Maulana



Salah satu potensi ekonomis umat Islam yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan antara kaum kuat dan lemah adalah pengelolaan zakat, infak dan sedekah secara profesional dan amanah. Zakat adalah kewajiban umat Islam yang telah mencapai syarat ketentuan tertentu. Ia adalah bagian dari syariat Islam. Infak dan sedekah adalah perbuatan mulia yang sangat dianjurkan; hukumnya adalah sunnah. Ini adalah bagian dari ibadah, sehingga setiap umat Islam pada waktunya pasti akan tergerak untuk menunaikannya. ?

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Karena zakat terikat syarat dan ketentuan khusus, maka diperlukan waktu untuk melakukan dakwah oleh lembaga amil agar para wajib zakat tahu kewajibannya dan mau mengeluarkan zakatnya itu. Meskipun secara tekstual, kita mengetahui bahwa kita diperintahkan untuk memungut zakat dari harta-harta mereka, namun dalam praktiknya hal itu tidak bisa dilakukan secara lugas oleh lembaga amil. Lembaga amil tidak bisa secara langsung menyasar kepada para pihak wajib zakat (muzakki) untuk memungut zakat darinya. Proses sosialisasi, persuasi dan edukasi kepada para calon muzakki perlu dilakukan, sehingga akhirnya mereka mau mengalkulasi wartanya dan mengeluarkan zakatnya baik disalurkan secara mandiri maupun melaui lembaga amil. ?

Infak dan sedekah tidak terikat syarat dan ketentuan khusus sebagaimana zakat. Hal ini menjadi peluang kreativitas lembaga amil bisa langsung menyasar kepada seluruh lapisan umat Islam. Di ranah inilah berbagai lembaga amil berlomba-lomba dalamnya kreativitas (fastabiqul khairaat) menarik simpati calon donaturnya.

Ada banyak kreativitas yang bisa ditawarkan kepada mereka untuk menunaikan infaq dan sedekah. Misal, ada lembaga amil zakat yang langsung menawarkan penyaluran infak sedakah uang tanpa jumlah minimal atau maksimal yang akan disalurkan untuk beasiswa pendidikan kaum lemah, santunan langsung anak-anak yatim yang lemah, bantuan kesehatan bagi dhuafa dan lain-lain. Ada juga yang menawarkan penyaluran sedekah nasi bungkus harian bagi siapa saja yang bersedia. Lembaga amil akan mendatangi rumahnya untuk mengambil nasi bungkus itu, kemudian menyalurkannya kepada kaum lemah di daerah-daerah pinggiran yang tertinggal. Ada juga yang menawarkan donasi dengan cara potong pulsa. Ada juga yang bekerja sama dengan toko-toko modern untuk menerima donasi dari uang kembali belanja, biasanya dalam bentuk pecahan kecil. Masih ada banyak lagi kreativitas penjaringan dana ummat dalam bentuk infak dan sedekah ini. ? ?

Ribath Nurul Hidayah

UPZISNU-LAZISNU Jombang telah mendeklarasikan gerakan Jombang Bersedekah. Salah satu tawaran programnya adalah membagikan kaleng-kaleng sedekah kepada semua warga, khususnya kaum Nahdliyin Jombang untuk menjadi donatur dan menyisihkan koin Rp500,00 tiap hari ke dalam kaleng tersebut. Dalam kurun waktu tertentu petugas akan mengambilnya dan mengelolanya secara kreatif, profesional dan amanah.

Setelah berhasil membuat jaringan dan branding yang positif di tingkat kabupaten, kini Lembaga Amil ini menyasar langsung ke tingkat kecamatan dan desa. Salah satunya adalah membuat proyek percontohan UPZISNU berbasis desa. Desa Pacarpeluk Kecamatan Megaluh menjadi desa pertama yang menyambut dengan antusias program ini. Bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pacarpeluk Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk mendeklarasikan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah.

Gerakan ini menjadi energi penggerak jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Pacarpeluk.Warga desa dari beragam organisasi, menyambut positif gerakan ini. Dalam waktu tidak sampai dua minggu, telah ada hampir 400 warga yang bersedia menjadi donatur. Masyarakat sadar bahwa ini adalah gerakan positif yang bisa langsung dirasakan oleh warga untuk meningkatkan kesejahteraan dan ibadah kepada Allah SWT.

Jika semua Ranting Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Jombang bisa digerakkan mengikuti jejak Pacarpeluk, maka gerakan Jombang Bersedekah benar-benar akan terasa gaung dan manfaatnya. Kemandirian dan aksi nyata Nahdlatul Ulama kepada warganya benar-benar bisa diwujudkan. Nahdlatul Ulama tidak akan mudah terkooptasi oleh penguasa atau berbagai kekuatan politik atau pemodal besar dalam menjalankan program-program khidmat kemaslahatan kepada umat.

Ribath Nurul Hidayah

Kemandirian ini bukanlah hal yang mustahil, karena Nahdlatul Ulama telah memiliki aset dan potensi yang besar. Semuanya harus disinergikan dalam suatu tata kelola yang kreatif, profesional dan amanah, sehingga jamaah memiliki kepercayaan (trust) kepada jamiyyah dan sebaliknya jamiyyah bisa memberikan khidmat nyata kepada jamaah. Sudah waktunya jamiyyah sekarang menghidupi jamaah dengan khidmat nyata, sehingga jamaah dengan rela hati, suka cita dan penuh kebanggaan menghidupi jamaah.?

Janji-janji normatif surgawi tidaklah cukup untuk menggerakkan jamaah untuk menghidupi jamiyyah, jika jamaah tidak pernah merasakan kemanfaatan dan khidmat jamiyyah secara langsung dan praktis. Atas dasar itulah pengelolaan zakat, infak dan sedekah menjadi peluang dan sarana nyata jamiyyah menghadirkan kemanfaatan dan khidmat, apalagi jamiyyah telah memiliki banyak aset dan lembaga atau infrastruktur yang bisa disinergiskan. ?

Lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama bisa disinergikan dengan pengurus ranting yang telah mengelola zakat, infak dan sedekah di desa. Lembaga-lembaga itu akhirnya bisa hidup dan menghidupi warga Nahdliyin. Inilah hubungan timbal balik saling memberi dan menerima kemaslahatan. Memang sudah waktunya kemandirian jamaah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama tidak lagi disampaikan sekadar retorika normatif semata, tapi benar-benar nyata bisa diwujudkan. Salah sata caranya adalah menggerakkan jamaah dan jam’iyyah ini melalui pengelolaan dan pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah secara kreatif, profesional dan amanah.?

Penulis adalah ketua tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Makam Ribath Nurul Hidayah

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyatakan bahwa usia-usia anak muda menjadi sangat rentan untuk gabung dengan organisasi terorisme dan radikalisme. Mereka yang bergabung dengan kelompok teror lebih dominan adalah mereka yang berusia remaja menuju dewasa.

“Berdasarkan usia, orang Indonesia yang rentan jadi teroris adalah usia 21 sampai 30 tahun dengan persentase 47 persen. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan adalah anak-anak SMA dengan persentase 63 persen (dari penelitian yang dilakukan),” kata Hamidin dalam pertemuan internasional yang diinisiasi NU, International Summit of Moderate Islamic Leaders di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5) siang.

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Usia Potensial Seseorang Tertarik Kelompok Teroris

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa para anak muda tersebut bisa bergabung dan menjadi seorang teroris. “Bisa karena mencari identitas, membutuhkan rasa kebersamaan, ingin memperbaiki apa yang dianggap sebagai ketidakadilan, serta mencari sensasi dan heroik,” paparnya.

Namun demikian, ia menganggap bahwa Indonesia adalah negara yang mampu mengidentifikasi aksi-aksi dan jaringan terorisme sehingga gerakan-gerakan radikal tersebut tidak meluas. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini ada seribu lebih teroris yang sudah ditangkap dan direhabilitasi.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa jumlah teroris yang tertangkap tentu tidak akan mengurangi jumlah teroris yang ada.

Ribath Nurul Hidayah

“Malah semakin bertambah,” tegas Gus Yahya.

Ia meyakini bahwa hal tersebut terjadi karena dua hal. Pertama, strategi yang digunakan untuk menaggulangi terorisme selama ini mengandung kelemahan-kelemahan. “Di antaranya adalah pengingkaran bahwa di dalam terorisme ini ada elemen-elemen Islam yang mempengaruhi dan membuat mereka seperti itu,” katanya.

Kedua, para teroris menggunakan strategi yang canggih, massif, dan belum tertandingi sehingga mereka beraksi tanpa ada hadangan seperti tanpa ada halangan yang berarti.

“Gelombang yang tertarik terhadap terorisme tidak berkurang. Kita harus membangun strategi yang sama kuatnya untuk menghadapi terorisme,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah