Kamis, 29 Desember 2016

Pulang Rapat Maulid, Anggota Banser Dikeroyok Geng Motor

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jakarta Timur akan segera membuat laporan kepada kepolisian terkait salah seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) bernama Rahul Husna (18 tahun) yang menjadi korban pengeroyokan geng motor di Jalan H. Jusin, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Komandan Banser Jakarta Timur M Firdaus Ibond menyatakan, langkah hukum ini ditempuh untuk memberikan efek jera walaupun para pelaku masih berusia muda. Ia berharap warga Jakarta yang beraktivitas di malam hari mendapatkan jaminan ketenangan serta keamanan dari kepolisian.

Pulang Rapat Maulid, Anggota Banser Dikeroyok Geng Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pulang Rapat Maulid, Anggota Banser Dikeroyok Geng Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pulang Rapat Maulid, Anggota Banser Dikeroyok Geng Motor

"Kami sebagai bagian dari masyarakat harus melaporkan tindak kriminalitas oleh geng motor yang meresahkan warga, apalagi saat ini suasana di Jakarta sedang panasnya karena berbagai hal. Salah satunya karena keamanan serta kenyamanan warga terganggu karena aksi kriminalitas yang sering terjadi. Harapan kita kepada pihak kepolisian wajib menangkap dan memproses tindak kriminal ini,” katanya dalam siaran pers yang terima Ribath Nurul Hidayah, Rabu (21/12).

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, PC GP Ansor Jakarta Timur mendapatkan kabar bahwa pengeroyokan itu sepulang korban rapat persiapan Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman pengurus NU Ciracas pada hari Jumat malam. Saat itulah sekitar 30-an motor berusaha masuk ke dalam Jalan H. Jusin Kelurahan Susukan, dan menyerang korban yang kebetulan berada di sekitar lokasi.

Saat ini korban Rahul Husna dalam proses perawatan secara intensif karena mendapatkan tujuh luka tusukan di tubuhnya, salah satunya mengenai paru paru.

Di tempat terpisah Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Jakarta Timur H Mahmud Mudzofar berharap kepada kepolisian agar mampu menangkap pelaku kejahatan ini. "Kita doakan bersama, insyaallah kepolisian dapat menangkap para pelaku, agar kejadian ini tidak terulang lagi, agar masa depan pemuda Indonesia menjadi cerah," tutupnya. (Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 27 Desember 2016

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Pada Bulan Ramadhan, Allah menurunkan malam penuh dengan fadhilah dan barakah yang berjuluk malam seribu bulan yaitu malam lailatul qadar. Malam ini merupakan malam dimana diturunkan Al-Qur’an dan para Malaikat Allah ke muka bumi.

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

"Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW patut bersyukur karena malam spesial ini hanya diberikan kepada kita. Ummat sebelum Nabi Muhammad tidak memilikinya," ujar Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pringsewu KH Ridwan Syuaib saat menyampaikan materi Ngaji Ahad Sore (Jihad Sore), Ahad (26/6).

Berdasarkan beberapa Hadits yang termaktub pada Kitab Irsyadul Ibad, pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan Nabi Muhammad meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya bersama keluarganya.

"Nabi selalu beribadah dengan sungguh-sungguh di 10 hari terakhir dan mengamalkan ibadah yang tidak dilakukan beliau pada bulan lainnya," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut Abah Ridwan, begitu Ia biasa dipanggil, menjelaskan beberapa ciri datangnya lailatul qurban yang salah satunya adalah turun dimalam-malam ganjil pada 10 malam terakhir ramadhan.

"Rasul juga memberitahukan bahwa pada ciri lain Lailatu Qadar di antaranya suasana malam yang terang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung, tidak hujan dan berangin dan tidak ada bintang berjalan," rincinya. Pada siang harinya tambahnya, suasana cerah dan matahari bersinar namun tidak terasa panasnya.

Pada lailatul qadar, Abah Ridwan menghimbau seluruh ummat Islam untuk memburu malam yang hanya ada di Bulan Ramadhan. "Mari bersama-sama memburu, mengintai lailatul qadar dengan doa, shalat dan amalan-amalan ibadah lainnya," ajaknya.

Secara pribadi, Abah Ridwan dan Jamaah dilingkungannya sudah melakukan Program Tahunan untuk mendapatkan lailatul qadar. "Kita beritikaf di Masjid pada malam-malam ganjil sampai dengan shubuh dengan melakukan rangkaian amalan Ibadah," ujarnya.

Ibadah-ibadah tersebut meliputi Shalat Tahiyatul Masjid Shalat Sunnat Wudlu, Taubat, Hajat dan Tahajud. Setelah itu membaca Tasbih, Fatihah dan doa yang ditujukan untuk para Nabi, Guru, Orang Tua dan putera-puteri kita.

Ribath Nurul Hidayah

"Setelah membaca shalawat dan tahlil sebanyak 100 kali kegiatan ditutup dengan doa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 26 Desember 2016

Amalan Menyambut Ramadhan

Tidak terasa bulan Sya’ban telah bergulir hampir separuh perjalanan. Itu artinya waktu semakin mendekati bulan Ramadhan. Sudah maklum bagi kita semua keistimewaan bulan Ramadhan. Hal ini bisa terasakan pada kehidupan di sekitar kita.Tidak hanya harga sembako yang secara perlahan tapi pasti mulai beranjak naik, tetapi juga semangat beribadah semua orang dari anak-anak hingga nenek-nenekpun semakin bertambah. Bahkan masjid dan mushalla mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.

Lantas apa semua amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini?

Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.

Amalan Menyambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan Menyambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan Menyambut Ramadhan

Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:

Ribath Nurul Hidayah

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan".

Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35).

Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :

 Ø§ÙŽÙ„لَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ

Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah  Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.

Ketiga, saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;

 ...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

 Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)

Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).

Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan.

Redaktur: Ulil Hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 23 Desember 2016

Perdana, Kompetisi Sains Madrasah 2016 Diikuti Sekolah Umum

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam kembali menggelar Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2016. Ajang bertemunya siswa-siswa madrasah berprestasi dari masing-masing provinsi akan diselenggarakan di Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat 23-27 Agustus 2016.

Perdana, Kompetisi Sains Madrasah 2016 Diikuti Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdana, Kompetisi Sains Madrasah 2016 Diikuti Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdana, Kompetisi Sains Madrasah 2016 Diikuti Sekolah Umum

Penyelenggaraan KSM ke-5 Tahun 2016 akan berbeda dan ada sesuatu yang baru dibanding peyelenggaraan KSM tahun-tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional Ke-5 Tahun 2016 diikutsertakan siswa-siswa sekolah umum.

Hal ini dinyatakan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat Konferensi Pers KSM Ke-5 Tahun 2016 di Ruang Sidang Setjen Kemenag, Gedung Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Jumat (19/8).

"KSM ke-5 ini, selain diikuti oleh siswa-siswi madrasah, termasuk MAN IC, juga bisa diikuti oleh siswa siswa sekolah yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemenag telah sepakat dengan Kemendikbud, baik KSM yang diselenggarakan oleh Kemenag, maupun OSN (Olimpiade Siswa Nasional) yang dilakukan oleh Kemendikbud, dapat diikuti oleh siswa-siswa, baik dari Kemenag maupun Kemendikbud. Begitu pula lomba-lomba lainnya yang diselenggarakan oleh dua kementerian tersebut," terang Dirjen dilansir kemenag.go.id.

Dirjen melanjutkan, dalam KSM ini kali, selain sains, juga akan dilombakan soal-soal Agama Islam. Pada KSM ke-5 yang mengangkat tema: Mempersiapkan Generasi Unggul Berwawasan Global tersebut, setiap provinsi mengirim 11 peserta yang sebelumnya telah memenangi KSM tingkat provinsi. Selain siswa dan siswi madrasah, KSM ini juga akan diikuti oleh 17 MAN IC seluruh Indonesia. Total peserta pada KSM ini kali adalah 865 peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam KSM ini kali, selain kompetisi sains dan Agama Islam, ada beberapa kegiatan antara lain surta game online, matematika gasing, workshop motivasi pengembangan diri dan rembuk nasional bidang kesiswaan madrasah se Indonesia.

Untuk tingkat MI/SD, bidang yang dilombakan adalah Matematika dan Agama Islam, IPA dan Agama Islam. Sedang tingkat MTs/SMP, ada Matematika dan Agama Islam, Biologi dan Agama Islam serta Fisika dan Agama Islam. Sementara untuk tingkat MA/SMU, ada 6 bidang perlombaan, yakni Matematika dan Agama Islam, Biologi dan Agama Islam, Fisika dan Agama Islam, Kimia dan Agama Islam, Ekonomi dan Agama Islam serta Geogragfi dan Agama Islam.

Ribath Nurul Hidayah

Ikut mendampingi Dirjen Pendis dalam koprensi pers ini, Direktur Madrasah M. Nur Kholis Setiawan dan Pgs Kapus Pinmas Syafrizal. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 21 Desember 2016

Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial ? keagamaan selama ini punya andil besar dalam mendirikan bangsa Indonesia mulai dari zaman penjajah sampai kemerdekaan seperti sekarang ini. Untuk menjaga keutuhan perjuangan tersebut diperlukan eksistensi organisasi dari pengurus pusat sampai jajaran pengurus paling bawah yakni pengurus ranting dibawah kepemimpinan para ulama NU.

“Kesuksesan yang dibawa para pendiri negara yaitu Ulama NU, kita wajib meneruskan, tanggung jawab dipundak kita untuk menjaganya,” ujar Habib Thohir Al Kaff dari Tegal Jateng pada acara Istightsah kebangsaan, halal bihalal dan lailatul ijtima yang diselenggarakan PCNU Demak di Gedung IHM Muslimat NU Jl Yudomenggalan Bintoro Demak, Selasa (2/8).

Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Keutuhan Bangsa sebagai Warisan Para Ulama

Habib Thohir juga menegaskan untuk sukses dan terlaksananya tujuan tersebut, sangat di butuhkan pengorbanan dan sifat kejuangan yang tinggi demi kesolidan dan eksistensi semua pengurus untuk menjadikan organisasi lebih kuat dalam hal konsolidasi organisasi, sehingga apapun produk dan kebijakan organisasi akan didengarkan dan di perhatikan oleh anggota, umat, elemen masyarakat tak terkecuali pemerintah.

“NU akan tetap menjadi ? panutan masyarakat terutama pemerintah, makanya dibutuhkan pengorbanan yang tinggi, karena kalau kita tidak mau berkorban, pasti kita akan jadi korban, maka jadi pengurus harus siap berkorban,” tegas Habib Thohir.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif menjelaskan, lailatul ijtima dalam halal bihalal yang dikemas dengan istighotsah kebangsaan ini dimaksudkan untuk mendoakan bangsa dan negara agar senantiasa aman dan sejahtera.

“Halal bihalal ini sengaja kami isi dengan istighotsah kebangsaan, selain sebagai ajang konsolidasi organisasi, juga untuk mendoakan bagsa dan negara agar tetap aman sentosa,” tutur Musadad.

Lailatul ijtima yang dihadiri pengurus cabang hingga pengurus ranting tersebut selain diisi dengan ? istighotsah, halal bihalal juga diisi dengan ijazah hizib nashor oleh ketua JATMAN Jateng, KH Zaini Mawardi. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul Ulama, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Pelajar NU Cirebon Gelar Bedah Buku “Benturan NU-PKI”

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menggelar Bedah Buku “Benturan NU-PKI 1948-1965” karya H Abdul Mun’im DZ di Kampus Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC).

Bedah buku yang berlangsung Rabu (28/09) dihadiri oleh lebih dari 350 peserta yang terdiri dari kader Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU se-Kabupaten Cirebon, mahasiswa, serta tamu undangan. Tamu undangan yang hadir, di antaranya utusan dari berbagai kampus yang ada di kota Cirebon serta dari pengurus IPNU-IPPNU se-Wilayah III Cirebon, seperti Pengurus PC. IPNU- IPPNU Kota Cirebon, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Indramayu.

Pelajar NU Cirebon Gelar Bedah Buku “Benturan NU-PKI” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Cirebon Gelar Bedah Buku “Benturan NU-PKI” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Cirebon Gelar Bedah Buku “Benturan NU-PKI”

Hamdan Tsani Tyo selaku ketua pelaksana bedah buku ini mengaku bahagia karena acara berjalan dengan lancar, peserta yang hadir pun lebih dari target kami. Itu berarti, banyak orang yang merespon positif dan merasa penasaran mengenai sejarah NU dan PKI di masa lalu.

Ribath Nurul Hidayah

“Apalagi ini momen yang tepat untuk mengingat sejarah dulu mengenai PKI, yakni peristiwa yang terjadi pada akhir bulan September yang dikenal dengan peristiwa G 30 S PKI,” ungkap Hamdan.

Menurut Abdul Mun’im, yang tak lain adalah penulis buku “Benturan NU-PKI 1948-1965” menjelaskan bahwa buku ini menjelaskan beberapa rangkaian peristiwa bagaimana PKI melakukan propaganda, memprovokasi, meneror, dan menyerang NU serta pesantren.

Ribath Nurul Hidayah

“Dalam buku ini juga dikemukakan pelurusan tentang permintaan maaf Gus Dur terhadap para korban G 30 S PKI yang mengalami kesalahpahaman. Artinya dipahami secara salah. Selain itu, juga megungkapkan sikap NU terhadap propaganda PKI,” ,jelasnya.

Sementara Ketua PC IPNU Kabupaten Cirebon, Ayub Al Ansori mengatakan, dengan bedah buku ini kader NU khususnya IPNU-IPPNU bisa menggali sejarah mana yang sepaptutnya kita pegang sebagai panutan sejarah, bukan untuk membuka luka lama, sehingga timbul konflik baru, tetapi sebagai tabayun dan tarbiyah bagi kita bahwa ada penggalan yang musti kita ingat dan pelajari.

“Gus Dur pun pernah bilang, kita mesti memaafkan tapi tidak untuk melupakan,” tambah Ayub. (Nur Jannah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 18 Desember 2016

Kader Muda NU Bogor Kenalkan Moderasi di Bahrain

Bogor, Ribath Nurul Hidayah. Kader muda NU Kabupaten Bogor Ahmad Zulfiqor menegaskan bahwa nilai-nilai moderasi dan toleransi yang dianut oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia bisa menjadi prinsip acuan dalam mewujudkan perdamaian dunia.

“Akar permasalahan konflik di berbagai negara adalah ketiadaan ruang dialogis untuk menerima perbedaan. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia bisa menjadi contoh pergerakan dalam mewujudkan perdamaian yang dicita-citakan oleh seluruh bangsa,” katanya di hadapan ratusan delegasi dari berbagai Negara pada forum “International Youth Conference for Peace” yang dihelat di Gulf Convention Centre Manama Kerajaan Bahrain.

Kader Muda NU Bogor Kenalkan Moderasi di Bahrain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Bogor Kenalkan Moderasi di Bahrain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Bogor Kenalkan Moderasi di Bahrain

“Di dalam NU nilai-nilai tawazun, tawasuth, tasamuh dan i’tidal sangat dijunjung tinggi dan sudah menjadi prinsip perjuangan NU, sehingga tidak heran jika NU banyak dikenal sebagai organisasi yang sangat moderat dan sangat menghargai perbedaan,” tambah mantan Ketua PC IPNU itu.

Kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari dari tanggal 20-24 September 2013 digagas dan difasilitasi oleh Kerajaan Bahrain bekerjasama dengan PBB. Lima tema utama yang dibahas di forum ini yaitu Youth, Peace and economic development, Youth, peace and modern technology, Peace and Social Justice, Peace and Sportsmanship, Peace and Experiments Made on Peaceworldwide.

Hal yang paling disorot pada kegiatan konferensi ini adalah isu ‘Arab Springs’ dan Konflik antara Palestina dan Israel. Selain kedua isu tadi, para peserta konferensi juga menghujani forum dengan kritikan pedas atas kebijakan Amerika Serikat yang seringkali mengatasnamakan misi perdamaian pada beberapa invasi di Timur Tengah maupun kawasan lain, yang sejatinya aktifitas tersebut adalah sebuah peperangan dan sangat bertolak belakang dengan misi perdamaian dunia.

Ribath Nurul Hidayah

Konferensi yang dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Kerajaan Bahrain Syeikh Nasser bin Hamad Al Khalifa ini diharapkan menjadi ajang inisiasi dan penyatuan persepsi tentang hakikat perdamaian secara universal kepada para pemuda di seluruh dunia.

Diharapkan setelah kegiatan ini, para delegasi bisa menjadi duta-duta perdamaian serta mengkampanyekan nilai-nilai kebaikan di negaranya masing-masing.

Indonesia sendiri turut andil dalam kegiatan prestisius ini dengan mengirimkan dua orang delegasi. Pertama adalah Ahmad Zulfiqor  yang merepresentasikan NU dan Beni Pramula dari aktivis muda Muhammadiyah. (Akhsan Ustadhi/Anam)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Dari Kaleng Sedekah, Ranting NU Ini Gratiskan Biaya Kesehatan Warga

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Tanpa menunggu waktu lama, Unit Pengumpul Zakat Infak dan Sedekah NU (UPZISNU) Pacarpeluk segera meluncurkan program populis penyaluran dana sedekah yang dikumpulkan dari 400 kaleng koin sedekah di desa itu. Program itu bernama Kartu Pacarpeluk Sehat. Melalui kartu ini, pemiliknya bisa berobat jalan di BP Klinik Pratama Madinah Dusun Peluk tanpa harus mengeluarkan biaya lagi.

Dari Kaleng Sedekah, Ranting NU Ini Gratiskan Biaya Kesehatan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kaleng Sedekah, Ranting NU Ini Gratiskan Biaya Kesehatan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kaleng Sedekah, Ranting NU Ini Gratiskan Biaya Kesehatan Warga

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk telah menjalin kerja sama dengan BP Klinik Pratama Madinah yang telah sepakat memberikan layanan pengobatan jalan kepada pemilik Kartu Pacarpeluk Sehat. UPZISNU Pacarpeluk menanggung pembiayaannya yang dilakukan dengan model pasca bayar kepada lembaga itu.

Pada hari Jumat (7/7), lembaga yang berada dalam binaan NU Care-LAZISNU Jombang ini mulai melakukan pemotretan data diri calon penerima kartu jaminan kesehatan tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara serentak di tiap Rukun Tetangga (RT) se-Desa Pacarpeluk. Dengan bekerja sama Pemerintah Desa Pacarpeluk, sesi pemotretan 400 calon penerima Kartu Pacarpeluk Sehat ini dapat diselesaikan tidak sampai sehari.

Ribath Nurul Hidayah

“Penyaluran dana sedekah dengan model pemberian manfaat seperti ini berdampak positif bagi peningkatan jumlah donator (munfiq). Warga berbondong-bondong minta kaleng koin sedekah sebagai bukti kesediaan menjadi pendukung Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Hingga berita ini ditulis, jumlah donator telah mendekati angka 500,” jelas Ketua Tanfidziyyah PRNU Pacarpeluk Nine Adien Maulana.

Ribath Nurul Hidayah

Secara persuasif, aktivis NU yang juga Guru PAI SMAN 2 Jombang ini menegaskan, jika setiap pemilik kaleng mengisi minimal Rp15.000 maka setiap bulan akan terkumpul paling sedikit Rp7.500.000.

“Dengan dana itu, maka kehadiran Nahdlatul Ulama benar-benar bisa dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat luas. Kemandirian dan kesejahteraan warga bukan lagi hal yang normatif, namun benar-benar bisa diupayakan secara nyata,” paparnya.

Menurutnya, dilihat dari namanya, Kartu Pacarpeluk Sehat mungkin kurang inovatif karena telah jamak digunakan. Namun, dilihat dari proses operasional dan kemanfaatannya, hal ini merupakan terobosan dalam upaya pemberdayaan potensi ekonomi kaum Nahdliyyin di akar rumput, khususnya dalam pengelolaan zakat, infak dan sedekah. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 17 Desember 2016

Ribuan Orang Hadiri Haul KH Makky Syarbini Bangkalan

Bangkalan, Ribath Nurul Hidayah?



Ribuan warga menghadiri peringatan haul ke-39 pendiri Pondok Pesantren Asshomadiyah, almaghfurllah KH Makky Syarbini di Pondok Pesantren Asshomadiyah, Burneh, Bangkalan, Madura, Selasa (25/7). Mereka datang dari penjuru Jawa Timur.

Wakil Gubernur Jawa Timur H Syaifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul dalam mewakili keluarag besar KH Makky Syarbini mengatakan, antara kiai satu dengan yang lain saling berhubungan, baik hubungan keluarga maupun sanad keilmuan.

Ribuan Orang Hadiri Haul KH Makky Syarbini Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Orang Hadiri Haul KH Makky Syarbini Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Orang Hadiri Haul KH Makky Syarbini Bangkalan

Lebih lanjut Gus Ipul mengatakan bahwa tahlilan itu merupakan cerminan pancasila. “Bacaan tahlil wujud sila pertama. peserta tahlil tidak ada batasan, siapa saja boleh ikut, wujud sila kedua. Semua pserta tahlil dan kiainya duduk bersila bersama wujud sila ketiga. Para kiai saling berdiskusidan mempersilahkan yang lain ? untuk memimpin tahlil dan doa wujud sila ke empat. Dan semua peserta tahlil dapat makanan dan berkat adalah perwujudan sila kelima.” Papar Gus Ipul.

Selain Gus Ipul, haul KH Makky Syarbini tahun ini, dihadiri Hery Sudharmanto Sekretaris Jendral (Sekjen) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia bersama beberapa pejabat. Mereka semua mengapresiasi acara haul ini.

Ribath Nurul Hidayah

Seusai acara pengajian, kegiatan di isi Pagelaran Seni Budaya Islam se Jawa Timur dalam tajuk “Bangkalan Bershalawat” oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) NU se-Jawa Timur.?

Puluhan group Ishari hadir dari berbagai daerah di Jawa Timur melantunkan shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW diiringi dengan rebana. Pagelaran Ishari semalam suntuk, mulai usai pengajian hingga waktu subuh.?

Ribath Nurul Hidayah

Semasa Hidup Almaghfurllah KH. Makky Syarbini, beberapa pengurus PBNU sering ? berkunjung ke Asshomadiyah, di antaranya Almaghfurllah KH Idham Chalid, KH, Saifuddin Zuhri dan Subchan ZE. (Badiul Hadi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 16 Desember 2016

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Oleh Much. Ngisom Cholil



Hajatan besar Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) berupa Konferensi Ulama Internasional bela negara baru saja usai digelar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dari tangga 27 hingga 29 Juli 2016 di Kota Pekalongan berjalan sangat sukses, setidaknya dari segi pelaksanaan mulai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik Debu, taaruf peserta yang dihadiri Kemenhan RI hingga istighotsah semuanya berjalan dengan lancar.

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Sedangkan kegiatan utama berupa konferensi bela negara diikuti oleh ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri sendiri tercatat ada 1500 peserta hadir dari utusan pengurus thariqah cabang dan wilayah se Indonesia, akademisi, pesantren dan pengurus NU, kemudian dari luar negeri ada 69 delegasi dari 40 negara.

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya itu, forum konferensi ulama internasional juga berhasil merumuskan 15 konsensus atau kesepakatan tentang bela negara yang dibuat oleh para pembicara/nara sumber dan delegasi luar negeri sebagai rekomendasi resmi untuk ditujukan kepada pimpinan pemerintahan Indonesia dan negara asal delegasi. (Baca: Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara)

Ribath Nurul Hidayah

Ada satu hal yang menarik dalam proses perumusan konsensus, yakni jika selama ini perumusan konsensus atau kesepakatan bersama biasanya dibuat oleh Steering Committee (SC) atau tim perumus yan telah ditetapkan oleh panitia, kali ini justru pihak panitia sama sekali tidak "cawe-cawe" dalam pembuatan perumusan, semuanya diserahkan kepada delegasi asal luar negeri yang sebagian dari mereka menjadi pembicara dalam konferensi. Maka tidak heran ketika naskah perumusan dibacakan oleh Syech Mohammad Adnan Al Afyuni asal Damaskus masih asli tulisan berbahasa arab dan panitia maupun wartawan belum dapat kopiannya hingga acara pembacaan selesai.

Dari keseluruhan poin konsensus, Syekh Muhammad Rajab Dieb (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syiria) dalam pidato penutupan konferensi mengambil benang merah bahwa negara merupakan sebuah wilayah yang ditempati seluruh manusia dengan beragam keyakinan, suku, bangsa, bahasa dan lain-lain sehingga wajib dijaga oleh setiap individu dalam rangka menciptakan kesatuan, persatuan, dan perdamaian. “Untuk tujuan mulia itu, setiap individu atau kelompok yang tentunya mempunyai agama wajib menjaga dan membela tanah air atau negaranya. Dengan kata lain, membela negara merupakan kewajiban agama,” tegas Syekh Muhammad Rajab Dieb.

Syekh Muhammad juga menyampaikan, bangsa Indonesia harus bergembira bahwa negaranya merupakan referensi dunia jika berbicara tentang kecintaan pada tanah air. Oleh karena itu, ulama thariqah dunia yang terinspirasi oleh bangsa dan negara Indonesia menyepakati kewajiban membela negara yang harus dilakukan oleh setiap warganya.

Kewajiban membela negara juga disampaikan oleh Mursyid Thariqah dunia Habib Luthfi bin Yahya ketika berpidato dalam acara penutupan konferensi di tempat yang sama. Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN ini mampu membakar semangat ribuan masyarakat yang hadir saat itu ketika membacakan Ikrar Bela Negara.

"Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhmmadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar: BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB," tegas Habib Luthfi serempak diikuti ribuan masyarakat yang hadir. Dikatakannya, ikrar ini tentu disampaikan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Sukses gelaran acara bertaraf internasional baik pelaksanaan maupun hasil yang dicapai, tidak lepas dari sosok ulama kharismatik asal Pekalongan Jawa Tengah yang telah mendunia. Beliau adalah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Tamu-tamu asal luar negeri yang di negaranya menyandang gelar mufti besar atau mursyid thariqah pun selalu menaruh hormat dan tadzim kepada sosok yang sangat dekat dengan umat di segala lapisan ini.

Meski telah dinobatkan sebagai pimpinan thariqah mutabarah tingkat dunia, Rais Aam Idarah Aliyah Jatman selama tiga periode berturut-turut, menggelar pengajian rutin setiap Selasa malam, Rabu pagi maupun setiap Jumat Kliwon. Belum lagi berbagai aktivitas lainnya, membuat rumahnya di Jalan dr Wahidin Noyontaan Gang 7 tak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai losok tanah air.? ? ?

Seabrek jabatan yang diembannya, tak membuat Habib Luthfi merasa capek dan merasa berat memikul amanah. Saat ini saja Habib Luthfi Bin Ali Yahya dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Pekalongan untuk yang kedua kalinya dan pernah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Di samping? beliau seorang Mursyid Thariqah Syadzaliyah, juga sebagai Rais Aam dari Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah hasil Muktamar Thariqah ke-9 dan ke-10 yang digelar di Kota Pekalongan, serta ke-11 digelar di Kota Malang, Jawa Timur.

Bahkan tak jarang di antara mereka menyempatkan bertemu secara khusus di kediamannya meski harus antre berjam-jam untuk sekadar berkonsultasi problematika kehidupan sehari hari. Maka rumah mewah di belakang komplek Kanzus Sholawat yang cukup luas pun tak mampu menampung tamu-tamu Habib? yang datang silih berganti selama 24 jam. Itulah gambaran aktivitas rutin sehari hari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, seorang ulama besar yang lahir, dibesarkan dan hidup di Kota Pekalongan.

Berbincang-bincang dengan Abu Muhammad Bahaudin Muhammad Luthfi bin Ali Bin Hasyim bin Umar Bin Toha bin Yahya, nama lengkap dari Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya, sangat mengasyikkan, terutama persoalan kethariqahan. Menurutnya, sejak kepengurusan Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al? Mu’tabaroh An Nahdliyyah dia pegang sudah banyak kemajuan dibanding kepengurusan periode sebelumnya. Hingga saat ini saja telah terbentuk kepengurusan tingkat wilayah sebanyak 34 Pengurus Idarah Wustha, kemudian tingkat cabang sebanyak 350 lebih Pengurus Idarah Syu’biyah.

Perkembangan yang cukup pesat ini sungguh sangat menggembirakan, ujar Habib. Pasalnya hampir seluruh thariqah berjalan dengan baik, seperti Syadzaliyah, Kholidiyah, Naqsabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, Tijaniyah dan lain lain. Indikator lainnya ialah banyaknya kaum muda yang mulai aktif sebagai pengikut thariqah, “Padahal mereka sebelumnya kenal saja tidak apalagi menjadi pengikut, sehingga kesan bahwa thariqah hanya dapat diikuti oleh sekelompok manusia usia lanjut mulai terkikis”.

“Yang mesti dipahami ialah bahwa thariqah bukan alat berpolitik dan bukan untuk berpolitik, akan tetapi semata mata untuk mendidik kehidupan manusia agar berdekatan dengan Allah dan Rasul-Nya dan yang terpenting ialah meningkatkan kesadaran sebagai manusia apa kewajibannya sebagai hamba kepada Tuhan dan Rasul-Nya juga sesama manusia”, ujar suami dari Syarifah Salmah Binti Hasyim Bin Yahya. “Sekarang ini perkembangan thariqah di kalangan anak anak muda cukup menggembirakan, seperti yang saya hadapi di Pekalongan ini, justru yang paling banyak masuk thariqah dari anak anak muda”, ujarnya.

Bela negara yang menjadi tema Konferensi Ulama Internasional, menurut Abah panggilan Habib Luthfi sengaja dimunculkan menjadi tema sentral dalam perhelatan yang digelar Jatman. Mengingat bela negara selalu dimaknai dengan angkat senjata atau berperang. Padahal bela negara memiliki makna luas, yakni dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini.

“Jangan diartikan sempit, hanya sekadar angkat senjata saja. Bela negara bisa dimaknai dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini,” ucapnya. Tidak diragukan lagi bahwa yang berpayah-payah merebut kemerdekaan Indonesia adalah para ulama. Maka, sudah seharusnya ulama yang ikut bertanggungjawab mempertahankannya.

Habib Luthfi menyebut kolaborasi ulama dengan TNI adalah keharusan. Ini faktor penting pertahanan negeri. Di Indonesia TNI dan Polri menyatu dengan masyarakat dan terjun ke bawah. “Semoga di belahan dunia Islam lainnya demikian pula. Jika ulama dengan pemerintah bekerja sama secara baik akan memperkuat dan memperkokoh kemajuan bangsa,” pesannya. Bendera merah putih yang dimiliki bangsa ini tanpa huruf, hanya warna saja. Karena ini milik semua bangsa Indonesia. “Di dalam merah putih itu ada wibawa, ada kehormatan bangsa di situ, maka kita pun hormat kepadanya, kepada sang saka merah putih,” tegasnya.

Habib Luthfi mengaku salut dan kagum melihat apa yang terjadi dalam Konferensi Ulama Internasional tersebut. Di mana dia melihat unsur pemerintah, ulama, TNI, Polri dan masyarakat bisa hadir bersama dan bersatu padu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Puluhan ulama yang hadir dari berbagai negara, juga telah diikat oleh Islam sehingga bersedia hadir ke acara tersebut.

“Kalau di setiap negara bisa seperti ini, pemerintah, ulama TNI dan Polri bisa bersatu dan mau turun ke bawah ini bisa menjadi awal perdamaian dunia. Seluruh bangsa bisa melahirkan kedamaian. Untuk itu melalui niat baik ini, kami ingin mengajak dan menarik kepedulian kita semua untuk bersama menciptakan kedamaian di dunia karena tantangan bangsa semakin jauh akan semakin besar,” ucapnya.

Menurut KH. Zakaria Ansor Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan yang juga orang dekat Habib menjelaskan, banyak sudah prestasi yang ditorehkan Habib Luthfi selama menjadi pimpinan salah satu Badan Otonom NU, antara lain berhasil menata organisasi thariqah dari Sabang sampai Merauke, seperti perkembangan thariqah di Sumatera Utara dan Sulawesi sangat menggembirakan, bahkan beberapa waktu yang lalu dari Papua minta dikirimi buku-buku tentang? thariqah. Kemudian Habib juga berhasil menertibkan silsilah sanad thariqah, di samping itu juga berhasil menebas fanatisme thariqah yang berdampak kepada pengerdilan thariqah-thariqah yang lain dan yang lebih penting ialah kegiatan thariqah menjadi lebih terbuka, sehingga banyak kaum muda yang berminat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah alKarimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin

Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam? al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Baalawi.

Sementara nasab beliau dari jalur ayah: Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa An-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy —

Habib Hasan– Imam Yahya Ba’Alawy — Habib Ahmad — Habib Syekh — Habib Muhammad — abib Thoha — Habib Muhammad al-Qodhi — Habib Thoha — Habib Hasan — Habib Thoha — Habib Umar — Habib Hasyim — Habib Ali — Habib Muhammad Luthfi.

Masa Pendidikan

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya: Sayid Ahmad bin ‘Ali bin al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid? Habib Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.

Selanjutnya pada tahun 1959 M, Habib Luthfi melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menziarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi. Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus) dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tasawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah,? sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Habib Luthfi tidak saja menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Setiap menjelang Pilpres misalnya, Habib Luthfi kebanjiran tamu istimewa. Disebut istimewa pasalnya tamu-tamu yang menyempatkan hadir di rumah Habib Luthfi adalah para calon presiden maupun wakil presiden. Sebut saja Capres Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, Amin Rais, Puan Maharani (Putri Megawati), Hamzah Haz, Prabowo. Sedangkan cawapresnya Sholahudin Wahid dan Hasyim Muzadi. Dari semua yang hadir, rata rata mereka selalu berdalih hanya silaturrahmi biasa, tidak ada misi khusus berkaitan dengan kunjungannya. Akan tetapi aktifitas mereka selalu dibaca sebagai upaya untuk mohon do’a restu dan minta dukungan, apalagi di antara mereka ada yang berbicara empat mata dengan Habib, sehingga? mereka bisa diduga kehadirannya untuk keperluan pemilu yang baru saja digelar.

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Dengan tekun Habib Luthfi mendengarkan satu persatu? permasalahannya, kemudian beliau memberikan solusi sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Hal ini diakui mantan Wakil Wali Kota Pekalongan yang juga mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Abu Almafachir juga santri Habib Luthfi. Selama 40 tahun sebagai santrinya, ada satu hal yang sangat dikaguminya, yaitu dalam hal stamina. Beliau kuat duduk berjam-jam untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya, meski tamunya itu tidak beliau kenal, ujarnya. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit? meski aktifitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur”.

Disamping itu, Habib Luthfi tidak pernah membeda bedakan asal muasal tamu. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari hari jika Abah sedang berada di luar kota, ujar H. Fachir selalu memanggil Abah kepada Habib Luthfi.

Pernah suatu ketika, seorang bekas gali (geng pencuri) datang untuk bertobat dan minta diakui sebagai santrinya Habib, tanpa banyak pertanyaan, habib langsung membaiat gali tersebut dan kemudian diterima sebagai santrinya untuk menjadi salah satu murid thariqah.

Penulis adalah Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan dan kontributor Ribath Nurul Hidayah tinggal di Kota Pekalongan Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, IMNU, Warta Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Desember 2016

Pahala Wakaf KH Syaifuddin Zuhdi itu Tetap Mengalir

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sebidang tanah yang terletak di Jl Hang Tuah I No 12 yang diwakafkan oleh KH Syaifuddin Zuhdi kepada Muslimat NU sebagai pusat layanan kesehatan itu tak sia-sia. Sejak tahun 1966 sampai sekarang, nilai pahala dari amal tersebut terus mengalir meskipun yang mewakafkan sudah meninggal dunia.



Pahala Wakaf KH Syaifuddin Zuhdi itu Tetap Mengalir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pahala Wakaf KH Syaifuddin Zuhdi itu Tetap Mengalir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pahala Wakaf KH Syaifuddin Zuhdi itu Tetap Mengalir

Ny. Farida Salahuddin Wahid, Ketua Yayasan kesejahteraan Muslimat NU (YPTNU) menjelaskan tanah yang diwakafkan KH Syaifuddin Zuhri itu merupakan milik pribadi yang diserahkan pada Muslimat NU pada peringatan ulang tahun NU yang ke 40 tahun 1966 lalu.

Ide wakaf ini didasari oleh keprihatinan Mantan Menteri Agama era Bung Karno tersebut mengingat masih sulitnya pusat pelayanan kesehatan bagi ibu yang akan melahirkan. “Sepuluh anak beliau semuanya dilahirkan oleh dukun, karena itu ia tak ingin cucu-cucunya mengalami hal yang sama,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Tak heran, sebagian anak perempuannya memang melahirkan di klinik ini. Farida menjelaskan, entah bagaimana, setelah anak-anak KH Syaifuddin Zuhri sudah tidak ada yang melahirkan, kinerja klinik tersebut semakin menurun sehingga akhirnya dirubah menjadi klinik Hemodialisis Cipta Husada yang melayani cuci darah bagi penderita ginjal.

Ribath Nurul Hidayah

Bekerjasama dengan PT Masa Cipta Husada, rumah berlantai dua tersebut kini dirombak agar mampu mendukung pelayanan pasien. Nantinya, akan terdapat 15 kamar yang melayani pasien yang cuci darah, yang sementara ini baru terdapat 7 mesin.

Semua ruangan menggunakan pendingin udara dan terdapat TV bagi setiap pasien yang menemani mereka dalam proses cuci darah yang setiap kalinya memerlukan waktu sekitar 5 jam. Dokter ahli dan perawat bersertifikat akan melayani dengan sebaik-baiknya.

Di masa yang akan datang, fasilitas pendukung seperti laboratorium dan apotik juga akan dibangun. Semoga menjadi klinik yang “Bermutu, Aman, dan Nyaman” sesuai mottonya. 

Di seluruh Indonesia, Muslimat NU memiliki 58 klinik bersalin dan rumah sakit dan satu klinik hemodialisis. Klinik bersalin yang ada di Jl Hang Tuah ini dipindahkan ke daerah Pondok Cabe Ciputat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Desember 2016

Hj Shinta Nuriyah: Kebhinekaan, Modal Kekuatan Indonesia

Brebes, Ribath Nurul Hidayah - Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memandang kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia menjadi modal dasar yang tak mudah terpatahkan. Perbedaan justru menjadikan Indonesia kuat dan sentosa karena bangsa Indonesia dibangun di atas perbedaan.

Puasa menjadi jembatan persaudaraan yang sejati dengan saudara kita sendiri. Untuk itu, sebagai anak bangsa harus menjaga, membela, merawat kerukunan Indonesia.

Hj Shinta Nuriyah: Kebhinekaan, Modal Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hj Shinta Nuriyah: Kebhinekaan, Modal Kekuatan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hj Shinta Nuriyah: Kebhinekaan, Modal Kekuatan Indonesia

Demikian disampaikan Shinta Nuriyah saat sahur bersama di Aula Pendopo Bupati II, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Sabtu (3/6) dini hari.

Istri Presiden RI Ke-4 KH Abdulrahman Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Dur itu mengajak seluruh Muslim Indonesia dan dunia untuk saling menghargai, saling menyayangi, saling berbagi tanpa harus melihat latarbelakang orang yang kita beri.

Ribath Nurul Hidayah

“Bagaimana saudara kita banyak yang masih harus berjuang mencari sesuap nasi, maka kita harus berbagi, berbagi rezeki bukan berbagi suami,” ajaknya.

Ribath Nurul Hidayah

Persatuan di atas perbedaan, kata Bunda Shinta, telah diletakan oleh para tokoh kita terdahulu dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Juga telah membuat dasar falsafah NKRI yang mengayomi sebuah bentuk dasar Negara yang kita kenal Pancasila. Menjadi kewajiban kita untuk menjaga, merawat, mempertahankan keaslian Pancasila.

“Kalau tidak, maka bencana kehancuran akan melanda bangsa kita. Ketika ada yang berusaha merongrong Pancasila, menggantikan Pancasila dengan dasar Negara selain Pancasila wajib hukumnya kita lawan. Kita perjuangkan mati-matian dengan kekuatan lahir dan batin.”

Shinta melakukan perjalanan Saur Bersama sudah dilakoni belasan tahun dengn kaum marginal, kaum terpinggirkan, kaum tertindas. Merangkul mereka semua untuk merajut kebhinekaan agar terus kokoh Ibu Pertiwi. Shinta sudah sahur bersama kuli bangunan, tukang becak, penambang pasir, anak-anak jalanan, mbok bakul, di berbagai tempat seperti di tengah pasar, di bawah jembatan layang, di tengah alun-alun.

Shinta sadar, kalau dirinya hidup di sebuah Negara yang namanya Indonesia. Sebuah negara yang penduduknya sangat majemuk, kemajemukan yang kokoh dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang berbeda tetap satu juga. “Beda nusa, agama, pekerjaan, nasib, budaya, makanan, terasa indah di dalamnya,” ucapnya penuh senyum.

Kuliner makanan khas yang dimiliki dari masing-masing daerah, seperti komoditi makanan khas Brebes berupa telor asin, Yogyakarta gudeg, Jakarta soto Betawi, padang berupa rendang. Menjadi keindahan yang harus terus dirawat, dipertahankan dan dijadikan kebanggaan bersama.

“Dari perbedaan ini, tidak boleh saling menghina, saling fitnah dan jangan pula saling menghujat,” tandasnya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyampaikan pentingnya meneladani para pendahulu dan pejuang bangsa. Para pendahulu telah meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa untuk tetap menjaga kesatuan dan persatuan.

"Kehadiran Ibu Shinta Nuriyah ini juga akan memberi banyak manfaat bagi kita, terutama dalam meneladani pemikiran yang baik dari suami beliau, almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur," katanya.

Kegiatan sahur keliling bersama Ibu Hj Shinta Nuriyah dengan yatim piatu, kaum dhuafa, tukang becak, mantan narapidana, tokoh lintas agama, didukung Komando Keisapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Pemuda Pancasila, Pemda Brebes, dan Gusdurian Bumiayu Raya serta lainnya.

Tampak hadir Kompol Warsidin, Kapolres Brebes AKBP Luthfie Sulistiawan, Dandim 0713/Brebes Letkol Inf Ahmad Hadi Hariono, para kepala organisasi perangkat daerah, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama serta undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Ahlussunnah, Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 07 Desember 2016

Menyamakan Penanggalan Harlah NU

Brebes, Ribath Nurul Hidayah

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Brebes H Athoillah menegaskan, hari lahir NU agar diperingati setiap tanggal 16 Rajab. Hal ini didasarkan atas hasil sidang pleno Komisi Organisasi Muktamar ke-32 di Makasar dan Muktamar ke-33 di Jombang yang menetapkan harlah NU diperingati pada 16 Rajab, menggunakan penanggalan hijriyah bukan masehi.

“Dengan mengambil tahun hijriyah, maka peringatan akan diseragamkan dan sekaligus bisa menjadi rangkaian memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW,” kata Athoillah saat menyampaikan sambutan peringatan Harlah ke-93 NU di halaman SMA Walisongo Desa Ketanggungan Kecamatan Ketanggungan, Jumat (29/4).?

Menyamakan Penanggalan Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyamakan Penanggalan Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyamakan Penanggalan Harlah NU

Athoillah menjelaskan, NU lahir pada 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. Diusianya yang ke-93 tahun ini, NU sudah banyak berkiprah untuk bangsa, dan hasilnya bisa dirasakan tidak hanya untuk kalangan NU sendiri tetapi masyarakat Indonesia bahkan dunia.?

“NU telah lama mengabdi untuk umat dan bangsa. Jadi, saya prihatin dengan kondisi keagamaan di Indonesia yang masih saja membid’ahkan amalan-amalan NU,” kata Athoillah sambil mengingatkan agar warga NU selalu waspada dan bijak dalam menyikapi perbedaan pemahaman mereka.

Sikap yang perlu diambil, lanjut Athoillah adalah dengan tetap mempertahankan, tidak goyah dan tetap teguh memegang kuat dan mengamalkan tradisi-tradisi NU. Dia mengatakan, kalau bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, beretika, dan bermoral tinggi.? Islam di Indonesia ? telah mampu hidup secara damai tiada lain karena salah satu kontribusi nyata yang diberikan NU sebagai kelompok yang moderat dan toleran.

Ribath Nurul Hidayah

“Oleh karena itu, kita sebagai kader NU adalah penerus perjuangan ulama NU, maka sepantasnya kita tingkatkan khidmat dan perjuangan kita di dalam NU,” ajaknya.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Ketanggungan Brebes H Slamet Riyadi menjelaskan, Harlah NU tahun ini mengambil tema “Islam Nusantara menjaga Aset bangsa dan persatuan”. Selain halaqoh dan pengajian juga digelar bedah buku Tradisi dan Budaya Paham Perspektif Islam yang disampaikan oleh H Marhadi Muhayar.?

Ribath Nurul Hidayah

Harlah yang dihadiri ribuan pengunjung tersebut, diisi dengan ceramah agama oleh Dr KH Fariz El Haq Fuad Hasyim dari Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat. (Wasdiun/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah