Rabu, 29 Juni 2016

Posko Peduli Bencana PWNU Jateng Masih Buka Donasi

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Pos Komando (Posko) Peduli Bencana Alam Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng) masih membuka penerimaan donasi dari warga masyarakat untuk disalurkan kepada para korban banjir di Jawa Tengah.

Untuk donasi uang, telah dibuka rekening khusus di BRI dengan nomor 060901002642531 atas nama  Posko Peduli Bencana  Alama NU Jateng.  Bagi penyumbang yang menransfer, dimohon memberi konfirmasi  melalui SMS kepada endahara Posko, Rofiq Mahfudz di nomor  081326101101.

Posko Peduli Bencana PWNU Jateng Masih Buka Donasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Posko Peduli Bencana PWNU Jateng Masih Buka Donasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Posko Peduli Bencana PWNU Jateng Masih Buka Donasi

Koordinator Posko Peduli Bencana Alam PWNU M Puji Wibowo menuturkan, hingga Rabu, (5/2), sumbangan dalam bentuk barang dan uang masih terus mengalir, dan akan segera disalurkan ke pos yang ada di kantor Pengurus Cabang NU (PCNU) yang daerahnya mengalami bencana. Sekaligus melengkapi sumbangan masyarakat yang langsung dititipkan di PCNU.

Ribath Nurul Hidayah

“Data terakhir kami, uang masuk sebanyak Rp 12.814.000,-  baik melalui transfer maupun tunai di posko,” jelasnya.

Adapun bantuan barang, terangnya, telah  terkumpul  5,5 kwintal beras, 19 kardus mie instan, 9 dus biskuit, 19 dus pakaian, 3 dus perlengkapan mandi, dan 2 dus  minuman serbuk kopi jahe.

Ribath Nurul Hidayah

Bowo mengatakan, seluruh sumbangan akan diangkut dengan mobil ambulance milik PWNU Jateng ke lokasi pengungsian di Jepara, Kudus maupun Pati dalam minggu ini. Adapun jika masih ada tambahan sumbangan, akan diangkut dengan truk atau cara lain apabila barang yang harus dikirim berjumlah besar.

“Sambil terus mendata bantuan yang masuk, kami telah menyiapkan ambulance untuk mengangkut sumbangan yang telah masuk dan membelanjakan uang sumbangan untuk membeli barang kebutuhan pengungsi,” tuturnya Posko Bantuan Bencana Alam PWNU Jawa Tengah Jl. Dr. Cipto 180 Semarang.

Sementara itu,  badan otonom NU telah mengirim relawan dan menyalurkan bantuan langsung ke lokasi bencana. Diantaranya Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Pelajar NU, Ikatan Pelajar Putri NU, Muslimat NU, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan lain-lainnya.

“Kami memang mengimbau seluruh kader NU dan warga nahdliyin untuk membantu saudara-saudara yang sedang terkena musibah. Jika bisa datang langsung sangat bagus, bila tidak sempat, silakan  titip di Posko ini,” pungkas  wakil sekretaris PWNU Jateng yang juga tokoh senior GP Ansor ini. (M. Ichwan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Hadits, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 19 Juni 2016

Kader Muslimat NU Dilatih Olahan Makanan

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah?



Sedikitnya 25 orang kader Muslimat NU utusan dari masing-masing Pimpinan Anak Cabang (PAC) di Kabupaten Probolinggo mendapatkan pelatihan olahan makanan dari Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo, Selasa (7/2).

Kader Muslimat NU Dilatih Olahan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU Dilatih Olahan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU Dilatih Olahan Makanan

Pelatihan yang digelar di aula KPRI Prastiwi Kabupaten Probolinggo ini dihadiri oleh Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati, Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Probolinggo Andjar Noermala serta narasumber Aris Purnama Seta.

Selama pelatihan ini para pengurus dan anggota Muslimat NU ini dilatih proses pembuatan sempol daging ayam dan empek-empek dari ikan tongkol. Selain materi, mereka juga langsung melakukan praktek dengan beragam alat yang sudah disediakan.

Sementara Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Probolinggo Andjar Noermala mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan dan mengembangkan wirausaha baru dari kalangan Muslimat NU.

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan pelatihan ini saya mengharapkan nantinya mampu mengembangkan sendiri kemampuan yang dimilikinya serta bisa menularkan ilmu yang didapat kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya,” harapnya.

Sementara Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati mengungkapkan bahwa pelatihan olahan makanan ini bertujuan untuk melatih ekonomi kreatif serta menambah income keluarga.

“Setidaknya dengan pelatihan ini para pengurus dan kader Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo bisa memiliki bekal ketrampilan memasak yang memadai, minimal untuk keperluan keluarganya,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Melalui pelatihan ini Nurayati mengharapkan agar para kader Muslimat NU mampu memberdayakan diri agar mandiri dalam usaha ekonomi dan mengoptimalisasi kelompok-kelompok usaha di masing-masing PAC.

“Serta, bisa mengembangkan usaha-usaha ekonomi yang sesuai dengan potensi dan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Jika semua kader Muslimat NU memiliki ketrampilan tentunya akan mampu mewujudkan kesejahteraan individu dan masyarakat,” pungkasnya. (Wan/Fie/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Kebangkitan Umat Islam

Buku berjudul “Kebangkitan Umat Islam dan Peranan NU di Indonesia” ini adalah dokumentasi diskusi yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surabaya. Mereka menyelenggarakan diskusi ini untuk menyambut abad ke-15 Hijriah.

Buku tersebut terbit pada Jumadil Awal 1400 H atau April 1980. Menurut almanak Hijriah, buku dan diskusi telah berumur 35 tahun atau 34 tahun menurut penanggalan Masehi. Apa yang menarik dari tema ‘Kebangkitan Umat Islam’ yang terangkum dalam buku tersebut? Saya punya dua jawaban, mungkin saja menarik.

Kebangkitan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Umat Islam

Pertama, buku atau diskusi tersebut bicara Islam, Islam secara umum, besar, luas, lintas madzhab, politik, ataupun bangsa. Tersurat ataupun tersirat, semua pembicara dalam diskusi tersebut mengaku penyesalan umat Islam yang bertengkar tanpa akhir, kemunduran yang akut, wawasan yang sempit, pergaulan yang terbatas. Mereka bilang, memasuki abad ke-15 ini, umat Islam akan kembali bangkit, jaya, dan menang.

Tetapi bagi saya, setelah abad ke-15 ini berjalan 35 tahun, utamanya di dalam dunia politik, Islam masih kelam. Kenapa? Ya karena negara-negara Muslim masih begitu. Begitu kenapa? Ya begitu. Mesir, Arab Saudi, Irak, Palestina, Sudan, Banglades, Libia, dan lain-lain, masih begitu. Mereka tenang sebentar beberapa belas tahun. Sekarang? Tersuruk. Bunung-membunuh, hina-menghina, cekal-mencekal, sudah biasa. Kenyamanan berbeda madzhab di negeri-negeri itu saja seperti ilusif, apalagi politik.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, buku ini mencatat pernyataan al-magfurlah KH Ahmad Siddiq tentang “jama’ah”. Beliau mengatakan jama’ah itu soko guru NU. Kiai Ahmad Siddiq menlontarkan pernyataan tersebut ketika menjadi moderator dan mengantarkan sebelum al-magfurlah KH Saifuddin Zuhri menyampaikan materinya.

Ribath Nurul Hidayah

“....tentu nanti akan diungkapkan secara keseluruhan, baik NU sebagai jam’iyah, sebagai wadah yang lahir pada tahun 1926, maupun NU sebagai jama’ah yang lebih dulu lahirnya daripada wadah itu sendiri. Dan jama’ahlah yang menjadi soko gurunya NU.”

Begitu yang dilontarkan Kiai Ahmad Siddiq, mantan Rais Aam PBNU. Tak ada penjelasan lebih lanjut atas pernyataan itu, mungkin karena beliau hanya duduk sebagai moderator. Tetapi, saat ini, mengulas dan merefleksikan NU secara ‘jama’ah’ ini penting dilakukan. Di tengah-tengah semangatnya orang NU menguatkan jam’iyah, secara bersamaan, terdengar nada-nada, gurauan-guruan, bahkan lontaran-lontaran dalam podium resmi,  yang menyepelekan jama’ah.

Terjadi semacam stereotif terhadap jama’ah: tidak teratur, kelas bawah, tidak disiplin, mbalelo. Bahkan suka terdengar, bagi warga NU yang begini dan begitu, oleh kalangan tertentu dianggap keluar dari NU, alias tidak NU lagi.

Itulah selintas sorotan saya dalam buku tersebut. Poin pertama memang menjadi tema dalam diskusi berjudul “Perkembangan dan perjuangan Umat Islam Dunia” dengan pembicara KH Ahmad Syaikhu dan Dr. H. Ruslam Abdulgani dengan moderator H.M. Chalid Mawardi.

Sementara poin kedua yang saya sampaikan di atas, dalam buku atau diskusi tersebut cuma “kembang-kembangnya” moderator, bukan sajian utama berjudul “Peranan NU dalam Pengembangan Islam dan Membela Tanah Air”, dengan pembicara KH Saifuddin Zuhri dan KH Usman Mansur.

Dua poin itulah yang patut kita refleksikan hari ini, setelah buku tersebut dilupakan, setelah pembicara sudah banyak yang wafat, setelah abad ke-15 H memasuki lebih dari sepertiga abad. Adakah kebangkitan umat Islam jika antargolongan baku bunuh? Apakah NU punya peran, sementara pandangan terhadap jama’ahnya saja begitu? (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Pesantren, News Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 Juni 2016

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo dan PC IPNU-IPPNU Kota Kraksaan bekerja sama dengan Kader Anti Narkoba Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi pemuda anti narkoba kader desa di 30 desa se-Kabupaten Probolinggo, Senin hingga Rabu (26-28/9).

Dalam kesempatan tersebut IPNU-IPPNU memberikan pelatihan program pencegahan bahaya destruktif narkoba berbasis pemuda pedesaan sebagai bentuk perang terhadap narkoba. Sebagai narasumber, IPNU-IPPNU menggandeng anggota Polri dari Polres Probolinggo dan Polres Probolinggo Kota.

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Perangi Narkoba

Di setiap desa, kegiatan ini diikuti oleh 20 orang pemuda desa berusia antara 17 hingga 30 tahun. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pemuda yang ada di desa untuk bersama-sama mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang sudah sangat meresahkan masyarakat,” kata Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati.

Menurut Nur Hakimah Ismawati, kegiatan ini sangat penting dilakukan mengingat pemuda adalah aset penting calon estafet pemimpin masa depan bangsa Indonesia. Sehingga pemuda ini harus senantiasa dijaga dari hal-hal yang dapat merusak masa depannya, terutama dari pengaruh narkoba.

“Kemajuan masa depan bangsa sangat bergantung dari pemuda yang ada saat ini. Kalau pemudanya saja sudah terpengaruh hal-hal yang negatif tentunya akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Ika Vita Nurjanah. Perempuan yang juga tergabung dalam Kader Anti Narkoba Kabupaten Probolinggo ini mengharapkan agar pemuda yang ada di Kabupaten Probolinggo bisa terbebas dari pengaruh narkoba.

“Peredaran narkoba saat ini sudah sangat mengkhawatirkan para orang tua. Karena sasarannya bukan lagi para remaja dan dewasa, tetapi juga sudah mulai menyerang anak-anak yang masih usia belia. Oleh karena itu, peran pemuda sangat dibutuhkan demi penyelamatan generasi muda masa depan bangsa,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni) ?

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 Juni 2016

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan

Pernikahan dipandang sebagai satu momen penting dalam kehidupan. Oleh sebab itu, masalah pernikahan ini diatur cukup ketat dan detil, bahkan dalam Al-Quran karena menyangkut banyak pihak. Tujuan yang diharapkan dari pernikahan bagi dua insan tentu saja sebagaimana tersebut Surat Ar-Rum ayat 30, “Supaya tercipta ketenangan bagi kalian, serta dijadikan rasa cinta dan kasih sayang...”

Salah satu ketentuan yang dibahas dalam fiqih pernikahan adalah kafa’ah. Kafa’ah secara harfiah artinya persamaan, atau kesebandingan. Dalam fiqih, kafa’ah diartikan sebagai persamaan derajat antara suami dan istri, dengan harapan tercipta keharmonisan rumah tangga dan pasangan yang ideal.

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kriteria Kesetaraan atau Sekufu dalam Perkawinan

Di satu sisi, tentu hal ini sangat baik. Tetapi di sisi lain, bagi sebagian orang, penentuan pasangan yang sepadan baginya ini bisa sangat sulit. Tetapi muncul pertanyaan-pertanyaan, “Apakah gadis/pria itu pantas untukku?” Lalu banyak pertimbangan yang diambil sehingga seorang pemuda atau pemudi resah saat akan menikah.

Ulama fiqih banyak berkomentar terkait hal tersebut. Satu bisa disimak dalam Bughyatul Mustarsyidin karya Sayyid Ba’alawi Al-Hadhrami disebutkan empat pendapat yang bisa dipertimbangkan untuk memahami parameter kafa’ah.

Ribath Nurul Hidayah

Pertama, pendapat yang dipegang oleh Imam An-Nawawi, Imam Ar-Rafi’i, serta Ibnu Hajar. Parameter kafa’ah calon pasutri adalah nasab, kredibilitas, status merdeka (bukan budak), ketokohan dalam ilmu dan kesalehan, serta sikap dan wawasan keislaman. Menurut pendapat ini, jika calon suami atau nenek moyangnya lebih unggul dari calon istri dalam parameter ini, maka sudah bisa dianggap setara. Sebaliknya, jika dari segi parameter tadi baik calon istri maupun leluhurnya lebih mulia dari lelaki, maka tidak bisa dikategorikan sederajat.

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, pendapat yang meletakkan parameter nasab, kredibilitas, status merdeka, ketokohan dalam ilmu dan kesalehan, kepemimpinan, serta pekerjaan. Menurut Ibnu Qadli, pendapat ini diunggulkan oleh Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i, tetapi tidak dijadikan pegangan. Selain itu, pendapat kedua ini tidak mensyaratkan kesederajatan sebagaimana pendapat pertama. Bahkan bila kalah unggul dalam satu aspek atau lebih, masih bisa dianggap sekufu.

Pendapat ketiga, sebagaimana diunggulkan oleh Al-Adzra’i dan Ibnu Rif’ah, bahwa parameter kafa’ah sebagaimana di atas terkait kredibilitas, pekerjaan, ilmu, kesalehan, status merdeka, juga kepemimpinan. Hal itu benar-benar hanya didasarkan pada keadaan calon suami dan istrinya. Maka dalam pendapat ketiga ini faktor kemuliaan nasab ditangguhkan, sebagaimana tradisi zaman dahulu. Demikian kurang-lebih keterangan Al-‘Amudy dalam Bughyatul Mustarsyidin.

Keempat, parameter yang sama pada nasab, kredibilitas, juga keilmuan, dan ketokohan sebagaimana pendapat pertama atau kedua. Hanya menurut pendapat ini, kriteria kafa’ah dapat saling melengkapi bagi calon pasutri. Artinya, jika ada kriteria pada calon suami atau calon istri ini yang tidak terpenuhi dan kurang unggul dibanding pasangannya, asalkan keduanya saling mengungguli dan melengkapi dalam kriteria-kriteria yang ada, maka juga dianggap sederajat.

Demikianlah pandangan sebagian ulama terkait status kafa’ah dalam pernikahan. Tentu saja selain dalam bingkai agama, tradisi setempat juga amat menentukan bagaimana pandangan tentang kesamaan derajat calon pasangan suami dan istri ini dipertimbangkan. Pendapat ulama tentang kesepadanan calon suami dan istri ini disampaikan agar kesalahpahaman yang mungkin terjadi dalam keluarga dapat diminimalisasi. Dengan demikian, keharmonisan dan kerukunan antarsanak famili suami dan istri tetap terjaga.

Semoga Anda sekalian yang bermaksud menikah, bisa mendapatkan kedamaian sehingga tercipta cinta dan kasih sayang dalam keharmonisan keluarga. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 02 Juni 2016

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Brussel, Ribath Nurul Hidayah?

Bagaimanakah rasanya menjalani ibadah puasa di negera minoritas Islam seperti Belgia? Tentu jauh berbeda dengan yang biasa kita alami di Indonesia. Ibadah puasa di Belgia harus dijalani hingga 19 jam lamanya. Hal ini terjadi karena bulan Ramadhan di Belgia saat ini bertepatan dengan musim panas, sehingga waktu siang lebih panjang dari pada waktu malam. Untuk itu sahur di Belgia dilakukan pada pukul 3 pagi, dan buka puasa baru bisa dilakukan pada pukul 10 malam. Sungguh puasa yang amat panjang.

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Berpuasa saat musim panas di Belgia juga memiliki tantangan lainnya. Seperti cuaca yang panas yang membuat rasa haus lebih terasa dibandingkan pada musim lainnya. Selain itu, musim panas ini juga dijadikan kesempatan bagi warga Belgia untuk berjemur dengan berpakaian ala musim panas untuk dapat menikmati sinar matahari. Aurat tidak tertutup sempurna, sehingga pemandangan pun jadi terasa ‘panas’ menggoda. Itulah beberapa tantangan bagi kaum muslim di Belgia untuk berpuasa total, puasa makan dan minum sekaligus menjaga pandangan mata.

Suasana puasa Ramadhan di tanah air tentu sangat terasa. Berbagai macam kegiatan keagamaan dilaksanakan hampir di semua tempat-tempat ibadah. Termasuk juga di mal-mal dan tempat perbelanjaan. Tak lupa tanyangan-tayangan spesial Ramadhan selalu menghiasi layar kaca televisi. Gaung adzan tanda waktu berbuka puasa yang selalu dirindukan dapat dengan mudah dikumandangkan. Tentu suasana puasa Ramadhan tersebut tidak dapat dirasakan di negara minortas Islam seperti di Belgia.?

Namun berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan kaum Muslim untuk menjalani ibadah puasa Ramadhan. Tentu karena Ramadhan ini adalah bulan spesial, bulan penuh berkah. Maka kesempatan ibadah selama Ramadhan ini tidak disia-siakan. Justru tantangan tersebut dimaknai sebagai ujian keimananan dan ketaqwaan, demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Nanang Suprayogi, alumni Pondok Gontor yang kini menjadi ketua Tanfidziah PCINU Belgia.

Ribath Nurul Hidayah

Kesempatan Ramadhan ini juga sekaligus digunakan sebagai momen untuk berdakwah di Belgia. Dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk saat berinteraksi dengan komunitas warga non muslim Belgia. Misalnya saja, saat ngobrol santai, kemudian dia menawarkan makan/minum, maka kami katakan bahwa kami kaum muslim sedang menjalani ibadah puasa. Kemudian mereka bertanya lebih lanjut tentang apa itu puasa, mengapa kita berpuasa, dan sebagainya. Nah kita jelaskan puasa yang kita jalani sesuai dengan ketentuan Islam.?

Mereka terkejut sekaligus salut kepada kaum Muslim yang dapat menjalani ibadah puasa hingga 19 jam lamanya. Semoga penjelasan kami tentang puasa dan beberapa ibadah lainnya dapat menjadi informasi baik buat mereka dalam melihat ajaran Islam. Selama ini berita yang mereka terima tentang Islam masih kurang utuh, karena kerap dikaitkan dengan tindakan terorisme. Mereka perlu mendapatkan informasi tentang Islam yang sesungguhnya, Islam yang Rahmatan lil alamin.

Selain itu, kepada sesama kaum Muslim, dakwah dilakukan dalam bentuk pengajian dan buka puasa bersama. Kegiatan ini dilakukan untuk lebih mengeratkan silaturahim sekaligus menambah ilmu dan pengetahuan tentang keislaman. Kesempatan pengajian dan buka puasa bersama ini dimanfaatkan bagi para hadirin untuk saling bertemu sapa dan menikmati sajian buka puasa.

Ribath Nurul Hidayah

Alhamdulillah kegiatan keagamaan ini juga mendapat dukungan di pihak KBRI Brussel. Bahkan pada hari pertama puasa, Bapak Duta Besar RI, Bapak Yuri Thamrin berkenan mengundang para kaum muslim Indonesia untuk berbuka puasa di kediamannya. Pada kesempatan itu hadir pula kaum Muslim yang berkewarganegaraan lain, seperti Maroko, Belanda dan Belgia, yang juga di undang oleh bapak Duta Besar. Acara buka puasa dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah.

Selain itu, diadakan juga kegiatan pesantren Ramadhan bagi anak-anak dan remaja. Pesertanya ada anak Indonesia dan juga anak Belgia. Kegiatan pesantren Ramadhan ini dilaksanakan pada tanggal 3-4 Juni bertempat di Aula KBRI.?

Pada kesempatan itu, para santri belajar membaca al-Qur’an, sholat berjamaah, serta mendapatkan materi-materi keislaman yang tidak dapat mereka dapatkan di sekolahnya. Kegiatan pesantren ini dilakukan dengan kerjasama KBRI dan komunitas Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Belgia yang saat ini diketuai Bapak Lanang Seputro.

Ramadhan selalu membawa keberkahan, tentu kita semua berharap dapat menerima keberkahannya. Semoga semua amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah Subhanahu wa ta’ala, taqabbalallahu minna wa minkum, siyaman wa syamakum. Salam hangat dari Belgia. (Nanang Suprayogi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah