Kamis, 20 Maret 2014

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sidang Komisi Organisai Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang 1-5 Agustus nanti antara lain akan mengagendakan pembahasan mengenai perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD ART NU. Diantaranya, usulan penggantian semua Lajnah menjadi Lembaga dan pembentukan Badan Pelaksana Khusus.

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan, Semua Lajnah Menjadi Lembaga dan Ada Badan Pelaksana Khusus

Pada pasal mengenai Perangkat Organisasi, dalam AD ART NU sebelumnya terdapat tiga perangkat yakni Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom. Sementara draft yang baru dalam buku materi muktamar ke-33 NU, pada Bab V ART tentang Perangkat Organisasi diusulkan semua lajnah diubah menjadi lembaga. Lalu perangkat organisasi ditambah satu lagi yakni, Badan Pelaksana Khusus.

“Inti lajnah dan lembaga adalah sama. Bahkan pembeda lajnah ini tidak jelas. Ada yang mengatakan lajnah itu di bawah syuriyah. Ada yang mengatakan lajnah itu ad hoc dan seterusnya. Jadi lajnah dan lembaga tidak jelas distingsinya jadi disamakan,” kata Ketua Komisi Organisasi Ajie Hermawan dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Sabtu (25/7).

Muktamar ke-32 di Makassar 2010 kemarin menyisakan dua lajnah dalam perangkat organisasi NU yakni Lajnah Ta’lif wan Nasyr dan Lajnah Falakiyah, serta penambahan satu lajnah baru yakni Lajnah Perguruan Tinggi NU. Jika pasar perubahan itu disetujui maka tiga lajnah itu akan berubah nama menjadi lembaga.

Sementara pada Bab V Pasal 18 ayat (1) disebutkan, Badan Pelaksana Khusus adalah perangkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang memiliki struktur secara nasional berfungsi sebagai pengelolaan, penyelenggaraan, dan pengembangan kebijakan Nahdlatul Ulama berkaitan dengan bidang tertentu.

Ribath Nurul Hidayah

“Badan Pelaksana Khusus muncul setelah koordinasi denga Komisi Program. Intinya adalah urgensi pembentukan badan pengelola untuk badan-badan, organisasi-organisasi yang memerlukan kesinambungan manajemen tanpa banyak terpengaruh perubahan kepengurusan. Utamanya lembaga yang menyatukan badan hukum sekolah, universitas, rumah sakit, dan badan hukum di bidang perekonomian,” kata Aji Hermawan yang juga salah seorang Wakil Sekjen PBNU

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, badan pelaksana yang diusulkan itu hanyalah wadah. Misalnya Badan Pelaksana Kesehatan, maka dia akan mengkoordinasi rumah sakit-rumah sakit dan layanan kesehatan NU.

“Yang sudah disarankan ada 3 badan yakni Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi. Itu pun kalau disetujui Muktamirin,” kata mantan Ketua PCINU Inggris itu. (A. khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Halaqoh, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 Maret 2014

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Banjir besar menerjang sedikitnya 8 desa di Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (20/2) dini hari. Sebanyak 1,5 rumah warga, sekolah hingga kantor Polsek setempat terendam. Meski demikian, makam salah satu auliya, Mbah Sayid Sulaiman di Betek-Mancilan Mojoagung masih aman dari musibah ini.

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

"Alhamdulillah, sejak banjir tadi malam saya memantau lokasi menuju makam tidak banjir, mungkin di sekitar makam. Tapi kalau makam tidak," ujar Skaroni, salah satu Anggota BPD Desa Mancilan saat ditemui usai shalat Jumat.

Dari pantauan Ribath Nurul Hidayah, Jumat siang tadi makam seluas lebih dari satu hektar di Dusun Rejoslamet Desa Mancilan itu tampak kering. Beberapa orang bahkan datang melakukan ziarah di makam yang berbatasan antara Mancilan–Betek tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Hal yang sama juga terlihat di makam Sayid Abdurrahman Al Maghrobi dan Sayid Ahmad Al Maghrobi. Makam yang berada di sebelah Masjid Agung Mojoagung itu juga terbebas dari banjir.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti diketahui, sejak Kamis (19/2) malam, banjir bandang akibat luapan sungai Gunting menerjang 8 Desa di Kecamatan Mojoagung, di antaranya Desa Kademangan, Janti, Mancilan, Kedunglumpang, Betek, Gambiran, serta Kauman.

"Dari 8 desa itu, sekitar seribu orang hari ini mengungsi. Pengungsi kita tampung di tiga lokasi, yakni Masjid Janti, Masjid Gambiran, serta RTH Mojoagung," kata Nur Huda ketika ditemui di RTH Mojoagung.

Nur Huda mengatakan, tingginya curah hujan yang terjadi Kamis malam mengakibatkan dua sungai yang melintas di Mojowarno dan Mojoagung meluap. Akibatnya sekitar 1500 pemukiman warga dan beberapa fasilitas pemerintah, seperti sekolah, polsek dan kantor Pos terendam.

"Ketinggian air rata rata 70 centimeter. Bahkan ketinggian air yang berada di pemukiman mencapai 2 meter lebih," ujarnya seraya mengatakan banjir mulai surut, namun hingga siang tadi, beberpa pemukiman waga masih terendam banjir. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Pahlawan, Quote Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 15 Maret 2014

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) kabah.

Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas kabah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas kabah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Demikian tempat-tempat yang dilarang untuk shalat. (Penulis: Fuad H Basya/ Redaktur: Ulil H).

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 Maret 2014

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Menado, Ribath Nurul Hidayah. Pujian dan apresiasi tentang keberhasilan kerukunan yang datang dari berbagai pihak, tidak boleh membuat Indonesia terlena, tetapi harus tetap mawas diri, karena kerukunan umat beragama bukan merupakan sesuatu yang stagnan dan final, kata Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Prof. Dr. H. Achmad Gunaryo, M.Soc.Sc.

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Gunaryo menyatakan hal itu di hadapan para pejabat Kementerian Agama se-Indonesia pada rapat Optimalisasi Program Kerja PKUB dan Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia di Manado beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, kerukunan terus mengalami perubahan, kadang sangat sederhana tetapi pada kondisi tertentu sangat kompleks terkait dengan berbagai dinamika kehidupan sosial yang berkembang. Kepekaan terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat terkait kerukunan tersebut yang harus dimiliki oleh kita semua yang memiliki kepedulian dalam menjaga dan melestarikan kerukunan.

Ribath Nurul Hidayah

Tantangan terhadap kerukunan ternyata tidak semakin berkurang seiring dengan kondusifnya suasana kerukunan itu sendiri, melainkan justru makin bertambah. Selain permasalahan seputar rumah ibadat, penyiaran agama, penodaan agama.

Ribath Nurul Hidayah

"Secara nyata kita dapat menyaksikan merebaknya berbagai paham keagamaan yang keluar dari arus pemahaman arus utama yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap wajah kerukunan. Pada titik tertentu kondisi ini tidak menimbulkan masalah," ia menjelaskan.

Tetapi, ia melanjutkan, manakala ekspresi keagamaanya berbenturan dengan sistem dan paham keagamaan mainstream secara tajam baru akan menimbulkan permasalahan. Ekspresi keagamaan terbaru yang keluar dari arus utama setidaknya dapat digolongkan dalam dua kutub ekstrem, kutub pertama dikenal dengan kutub radikalisme dan kutub kedua adalah liberalisme.

Kutub radikal ditandai dengan berbagai sikap fanatisme, dan yang paling berat adalah kelompok yang selalu mengatakan bahwa di luar dirinya adalah salah secara mutlak. Ekspresi yang berlebihan dari sikap ini dapat berpotensi mengganggu kerukunan.

Kutub ekstrem lain dikenal dengan sebutan paham keagamaan liberal.

Corak keagamaan liberal pada dasarnya sangat menghargai kerukunan dan multikulturalisme tetapi terjerumus pada sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama tanpa kendali yang jelas, katanya.

Sementara sekulerisme dipahami dengan menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia maupun negara. Inklusifisme dipahamai secara sangat ekstrem dengan menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar," tuturnya.

Lebih-lebih lagi, ia mengatakan, faham pluralisme dipahami dengan menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis. Hal yang harus diwaspadai dalam corak keagamaan liberal ini adalah rusaknya nilai-nilai akidah dan sakralitas dari agama itu sendiri.

"Yang ingin kita tuju adalah kerukunan yang tidak perlu mengorbankan akidah dan kemurnian masing-masing agama," ujarnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 08 Maret 2014

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Ketokohan KH Abdul Wahid Hasyim tentu sulit diingkari. Dalam usia 21 tahun, Wahid? muda sudah membuat terobosan-terobosan cemerlang di dunia pendidikan, utamanya pesantren.

Ketika bergabung di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), usianya baru genap 25 tahun. Namun setahun kemudian, Wahid justru mengetuai federasi organisasi massa dan partai Islam ini.

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (2)

Karir perjuangannya menanjak cepat. Wahid turut memimpin PBNU, menjadi anggota BPUPKI, dan akhirnya ditunjuk sebagai menteri agama. Artinya, selain berjihad menumpas kaum penjajah, Wahid terlibat aktif dalam segenap tahapan paling menentukan dalam proses pendirian negara.

Masa-masa hidup Wahid hampir dihabiskan seluruhnya dengan penuh manfaat. Ulama dan tokoh nasional ini tutup usia pada 19 April 1953, sebelum ulang tahunnya yang ke-38 diperingati. Berikut ini adalah sejumlah syair inspiratif pegangannya, yang sarat pesan perjuangan, kerja keras, penghargaan atas waktu, cita-cita, serta keinsafan tentang dinamika hidup.

?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Jangan remehkan siasat sesuatu yang (tampak) lemah. Terkadang, ular ganas mati oleh racun kalajengking. Ternyata, burung Hudhud sanggup menumbangkan singgasana ratu Bulqis, dan liang tikus mampu meruntuhkan bangunan kokoh.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ??

Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya.

?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?


Begitulah waktu menentukan takdir untuk penghuninya (manusia). Musibah bagi sekelompok orang adalah keberuntungan bagi kelompok lain. Aku sudah mafhum dengan kelakuan zaman yang sekilas ini: keburukannya merupakan kritik, sedangkan kebaikannya hanyalah janji.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? # ? ? ? ? ?


Ketika debu kavaleri berhamburan, aku justru menghirup keharuman yang melampaui wangi kemenyan. Semir mata pedang dan gelas-gelas di meja rapatku pun menjelma tengkorak para pembesar (musuh) yang rakus kejayaan.

?

? ? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ? ?


Semoga Allah melimpahkan kebaikan pada setiap manusia yang belum saling sayang dan saling kenal. Tak pernah aku mengeluh dan diterpa kesulitan kecuali dari orang yang sudah aku kenal.

?

? ? ? ? ? # ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ?
. Saat bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria.

?

?

Mahbib Khoiron

Dikutip dan diterjemah ulang dari

KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama, Bandung: Mizan, 2011

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 02 Maret 2014

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah. Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada Ribath Nurul Hidayah di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

Ribath Nurul Hidayah

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah