Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung usul amendemen kelima terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang disampaikan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pernyatan tersebut dikemukakan Gus Dur di hadapan anggota DPD di Ruang GBHN di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (21/5) kemarin.

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Acara bertajuk Diskusi Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Kelompok DPD di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu dipandu Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita didampingi para Wakil Ketua DPD, Irman Gusman dan Laode Ida serta Ketua Kelompok DPD di MPR Bambang Soeroso.

Gus Dur menyatakan, ia tidak berkeinginan mogok atau berhenti mendorong DPD menggolkan usulan amendemen kelima tersebut.

"Saya mendukung teman-teman DPD yang ingin mengadakan amendemen terhadap UUD. Saya juga tidak ingin mogok, berhenti. Ya nggak," kata Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Kendati MPR sejak tahun 1999 sampai tahun 2002 masih membahas amendemen UUD 1945, Gus Dur berpendapat perubahan konstitusi yang dilakukan kurang lama dirembug. Akibatnya, tidak semua kalangan rakyat Indonesia mengetahui bahwa UUD 1945 telah empat kali diamendemen. "Tidak semua (rakyat Indonesia) tahu. Bahasa menterengnya, sosialisasinya kurang," katanya.

Membandingkan UUD 1945 dengan UUD Amerika Serikat (AS), Gus Dur menyatakan sejak Thomas Jefferson yang Deklarator Kemerdekaan (1776) serta bapak pendiri AS menjabat sebagai Presiden AS yang ketiga (tahun 1801 hingga tahun 1809), perdebatan mengenai perubahan konstitusi hanya dibatasi pada dua pandangan, yakni hak-hak individu dan hak-hak negara bagian. Dari masa itu hingga kini, perdebatan mengenai amendemen UUD hanya dibatasi pada dua pandangan saja.

Melalui perbandingan tersebut, UUD 1945 yang telah diamendemen empat kali bagus sekali. Meski demikian, amendemen kelima UUD 1945 tetap dipersilakan digagas DPD jika membuat UUD 1945 semakin lebih bagus lagi. "Kalaupun toh di-amendemen (kembali) nanti, silakan. Tentu sesuatu yang lebih baik akan kita terima," kata Ketua Umum Dewan Syura Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) itu. (ant/rif)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 22 Februari 2018

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Jakarta, NU online

Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Isyroqi Nur Muhammad Limiroji, santri Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojokerto untuk mengikuti perlombaan Musabaqoh Hifzhul Quran Tingkat Nasional ketiga di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Darunnajah

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam 5 Tahun, Tunanetra Ini Hafal 30 Juz

Santri penyandang tunanetra berusia 17 tahun yang kini masih duduk di kelas 3 Aliyah itu semenjak kecil bercita-cita menjadi seperti ayahnya yang juga seorang hafiz. Selain cita-cita tersebut wasiat sang ayah sebelum meninggal agar ia menjadi seorang penghafal Al-Quran, semakin menumbuhkan semangatnya.

"Saya mulai menghafal Al-Quran ketika saya berumur 8 tahun dan alhamdulilah selesai di umur 13. Saya ingin mengamalkan wasiat ayah saya yang telah berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu. Saya ingin menjadi seorang hafiz seperti almarhum ayah saya yang juga seorang hafiz. Dulu almarhum pernah menjadi juara tahfiz di Jakarta," kata Isyroqi, Ahad (29/10).

Perjuangannya untuk mampu menghafal Al-Quran tidaklah mudah. Metode yang ia tempuh adalah metode simaah. Ia harus mendengarkan ibunya membacakan kalimat per kalimat ayat- ayat Al-Quran. Ia juga menggunakan rekaman suara untuk menghafalkan ayat-ayatnya. 

Ribath Nurul Hidayah

“Ketika saya sedang malas-malasnya, ibu tetap memaksa saya untuk tetap menghafal, hingga akhirnya saya menghafalkan Al-Quran sambil menangis," lanjut Isyroqi.

Isyroqi berpesan kepada generasi penerus bangsa untuk selalu bersemangat dalam menghafal Al-Quran dan selalu mengimbangi antara usaha dan doa. 

"Saya berpesan agar mereka selalu bersemangat dalam menghafal quran, jangan mudah menyerah, dan imbangi selalu antara usaha dan doa, serta usahakan bukan hanya sekedar menghafal, namun juga lancar dalam menghafalkan Al-Quran," tukas Isyroqi. (Red: Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Senin, 05 Februari 2018

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang mengadakan Wisuda Tahfidh XXVI Ahad (21/12) di Halaman Belakang pesantren tersebut. Ratusan santri mengukuti wisuda yang digelar setiap tahun ini.

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual

Dalam sambutannya, Gus Sholah berbicara soal bagaimana seorang yang sudah menghafal al-Qur’an tidak sekedar puas menjadi penghafal tapi masuk pada tataran memahami, beramal dan memanfaatkannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.?

“Kalau yang hafal-hafal gitu ya akeh tunggale (banyak jumlahnya)”, ungkapnya. Bahkan Gus Sholah menyarankan kalau sudah lulus Mts PPMQ bisa meneruskan di SMA Trensains Tebuireng II di Jombok, Ngoro, Jombang. Disana para santri dilatih dan dibimbing untuk menganalisis al-Qur’an dikaji dari sisi saintifiknya.

Ribath Nurul Hidayah

Dr. HM Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam orasinya memaparkan bagaimana mendidik anak, menghindarkan dari kekerasan, dan memberikan contoh yang baik bagi anak. Asrorun Niam yang juga kebetulan menjadi salah wali santri ini mengatakan bahwa memilihkan lembaga pendidikan anak tidak bisa dipandang dari kelas, fasilitas, fisik dari sebuah lembaga, tapi perlu ada analisis tentang lembaga tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua KPAI yang juga mantan aktivis IPNU tersebut memaparkan tentang bagaimana menghindarkan dari kekerasan, pelecahan seksual dan memilihkan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak. Dr. Asrorun mengaku tidak pernah memaksakan kehendak sang putra untuk memilih pesantren. “Setelah mengembara di beberapa pesantren, akhirnya jatuh hati di Pesantren Madrasatul Qur’an ini. Walau awalnya karena lapangannya luas dan ada kolam renangnya”, katanya.

“Belum tentu yang internasional school itu pasti bagus, itu yang IT-IT-an lebel internasional malah terjadi kekerasan seksual, kasus bully”, terangnya. Menurutnya memilih lembaga harus dengan melakukan analisis dan kontrol. “Malah ada anak pulang dari sekolah IT tiba-tiba mengkafirkan orang tuanya”, tambahnya. Para orang tua banyak yang melihat sekolah dengan lebel, lalu lepas kontrol dan sibuk bekerja. Baginya itu kesalahan besar.

Selain itu, Dr Asrorun juga memaparkan analisa hadits tentang pemukulan anak setelah umur 10 tahun masih belum berkenan shalat. Hadits tersebut menurutnya menjelaskan kebolehan bukan kewajiban setelah tiga tahun sejak tujuh sampai sepuluh tahun. “Dari tahun ke-7 sampai 10, tiga tahun adalah waktu yang lama dan menunjukkan ada proses. Bukan belum mencontohkan, memberikan bimbingan shalat, langsung dipukul”, terangnya.

“Kebanyakan dari orang tua baru memperintahkan tiga kali dua kali belum memberikan contoh sudah memukul, tiga tahun ibu-ibu bapak-bapak”, tambahnya di depan para wali santri. Menurutnya proses inilah yang sebenarnya sangat penting bukan menitik beratkan pada pembolehan memukul.

Untuk itu Dr. Asrorun menyarankan pesantren sebagai rujuan lembaga pilihan bagi anak. Dia menyarankan agar minimal satu dari empat anak atau dua dari sepuluh anak dalam suatu keluarga untuk menjadi hufadh. Baginya itu akan menjadi benteng keluarga ketika di dunia dan kelak di hadapan Sang Pencipta.

Total keseluruhan jumlah wisudawan adalah 340 dengan rincian 50 wisudawan tahfidh dan 290 wisudawan binnadhor maju satu persatu untuk melaksanakan prosesi upacara wisuda tahfidh XXVI ? dengan menggenakan pakaian batik biru tua. Dari sekian jumlah itu terpilih sebagai wisudawan terbaik adalah Hasan Aly Murtadlo santri kelas III Mts. Setelah acara tersebut para santri baik peserta wisuda maupun bukan, diperkenankan untuk pulang dalam rangka libur akhir semester gasal hinggal 06 Januari 2015 mendatang. (abror/mukafi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Senin, 29 Januari 2018

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah - Habib Luthfi mengatakan, tertib berlalu lintas di jalan raya adalah bentuk nyata dari bela negara. Pasalnya, dengan tertib berlalu lintas, di samping dapat menyelematkan diri sendiri juga dapat memperlancar aktivitas di jalan raya.

Demikian dikatakan Rais Am Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyyah (Jatman) pada acara ta’aruf peserta Konferensi Internasional Ulama Thareqah ‘Bela Negara’, Selasa (26/7) di rumahnya Pekalongan, Jawa Tengah.

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara

“Adalah keliru, jika bela negara hanya diartikan dengan memanggul dan mengangkat senjata, akan tetapi dengan tertib berlalu lintas di jalan raya, para guru, para dokter, petani serta para ahli lainnya menjalankan tugasnya dengan baik dan benar itu bentuk nyata dari bela negara,” ujarnya. (Baca juga: Tiap Tahun, Habib Luthfi Bantu Amankan Arus Mudik Lebaran)

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut dikatakan, dirinya memberikan kata sambutan pada acara ta’aruf yang dihadiri tamu-tamu dari luar negeri tidak menggunakan bahasa Arab atau Inggris akan tetapi tetap menggunakan bahasa Indonesia adalah bentuk kecintaan dirinya dan bela negara terhadap NKRI.

Sementara itu Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI Jendral Purn. Ryamizad Ryacudu dalam acara sambutan selamat datang peserta konferensi tersebut mengatakan, akhir akhir ini ada beberapa orang dan sekelompok orang salah mengartikan dalam menjalankan Islam dengan benar, akibatnya yang terjadi adalah dirinya dan kelompoknya menjadi yang merasa paling benar.

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan, jika hal demikian dibiarkan, maka yang terjadi adalah adanya friksi dan pertentangan di antara umat Islam sendiri, padahal Islam tidak demikian, Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang melindungi pemeluknya maupun kelompok pemeluk agama lainnya.

Konferensi Internasional Ulama Thariqah membahas bela negara yang diprakarsai JATMAN dibuka hari ini di Gedung Juned diikuti delegasi ulama dari 40 negara dan 1.500 utusan ulama thariqah dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk pelaksanaan konferensi, pihak panitia membagi dalam dua kelompok, yakni sebanyak 300 delegasi khusus dan tamu-tamu dari luar negeri akan membahas masalah bela negara di Hotel Santika, sedangkan delegasi lainnya dari berbagai daerah di Indonesia akan membahas dengan topik yang sama bertempat di Gedung Juned hingga Jumat mendatang.

Berbagai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik ‘Debu’, istighotsah, ta’aruf peserta konferensi dan istighotsah muslimat thariqiyah ikut mewarnai kegiatan konferensi bela negara. Beberapa narasumber yang direncanakan hadir antara lain KH Hasyim Muzadi, KH Maemoen Zubair, Menpora Imam Nahrawi, H As’ad Said Ali serta beberapa delegasi luar negeri ikut memberikan sumbangan pemikiran tentang bela negara.

Sebagaimana diketahui, kegiatan yang sama pernah digelar Jatman pada bulan Januari 2016 di Kota Pekalongan yang dihadiri ulama ulama Timur Tengah serta mufti dari Amerika dengan menghasilkan Sembilan rekomendasi. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Lombok Barat, Ribath Nurul Hidayah. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus berbenah menyiapkan perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Konbes NU) yang diagendakan berlangsung di? Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat 23-26 November mendatang.?

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Hal tersebut disampaikan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid sata memimpin rapat persiapan bersama panitia daerah di Ruang Rapat Jayengrane, Kantor Bupati Lombok Barat, Selasa (07/11)?

Lalu Winengan, Sekretaris Nahdatul Ulama (NU) Provinsi NTB, Winengan selaku ketua panita menjelaskan, gelaran berskala nasional itu akan dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo di Islamic Center Mataram.?

"Rencananya, untuk penutupan akan digelar di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Kita harapkan Wakil Presiden yang hadir menutup," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

?

Dalam pertemuan itu, dirinya berharap kepada Pemkab Lombok Barat untuk dapat membantu secara maksimal. Dikatakannya, bantuan diharapkan seperti sarana prasarana termasuk kelengkapan tempat penginapan di masing-masing pondok.?

Di Lombok Barat, rencananya ada dua pondok pesantren yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Munas, yaitu Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela; dan Darul Quran Bengkel. Masing-masing pesantren akan menampung 100 orang peserta.

Ribath Nurul Hidayah

Menanggapi hal itu, Bupati H. Fauzan Khalid mengatakan akan melakukan kajian bersama jajarannya.

"Kami akan adakan rapat dulu dengan asisten dan jajaran. Nanti kita informasikan, kemudian kita tinjau lokasi. Terkait pengamanan kita adakan rapat dengan Polres," jelas Fauzan.

Sementara itu, Sekretaris panitia H. Marinah Hadi menyampaikan, panitia juga sudah menyiapkan agenda kegiatan pra-acara.?

"Pada tanggal 22 November, panitia akan melaksanakan sunantan massal, kemudian ada pawai yang dimulai dari Islamic Center Mataram dan berakhir di depan Pendopo Gubernur NTB. Selanjutnya ada pasar murah atau bazar di lokasi pembukaan di Islamic Center," papar Marinah. (Hadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Doa, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 Januari 2018

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda? Ansor akan menggelar Halaqah Internasional di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tmabkberas, Jombang pada? Ahad hingga Senin (21-22/5). Kegiatan akan dipusatkan di GOR Hasbullah Said Bahrul Ulum.

Ketua Panitia Halaqah Internasional GP Ansor Sholahul Am Notobuwono mengatakan, kegiatan tersebut bertema "Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban".

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

"Berbagai persoalan wawasan keagamaan dunia Islam yang terjadi di berbagai negara itu, kami ingin mengetahui lebih detail melalui halaqah ini. Setelah mengetahui kondisinya, forum nanti kami harapkan bisa merumuskan peta jalan menuju rekontekstualisasi Islam demi perdamaian dan harmoni peradaban," ujarnya, Senin (15/5).

Ribath Nurul Hidayah

Pria akrab disapa Gus Aam menjelaskan, ada beberapa persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi Muslim dan non-Muslim. Disamping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.

"Terutama isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim di berbagai negara. Serta keberadaan negara-bangsa modern dan keabsahannya sebagai sistem politik yang mengikat kehidupan umat Islam.," imbuh Katib Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan.

Ribath Nurul Hidayah

Pada kegiatan tersebut, panitia mengundang perwakilan dari berbagai negara untuk menjadi pembicara dalam halaqah tersebut. Di antaranya Syekh Kabir Helminski (Kentucky USA), Shuhaib Benseikh (Marseille, Prancis), Ayeikh Ahmed (Abbadi, Maroko), C Holland Taylor (Bayt Ar Rahmah, USA), Magnus Ranstorp (Stockholm, Swedia), Syeikh Mohammed Abu El Fadl (Kairo, Mesir), Ash Shisty (India), Syeikh Amru Wardani (Kairo, Mesir), Mouhanad Khorchide (University Of Munster, Jerman), dan perwakilan dari Malaysia.

"Untuk undangan yang luar negeri, beberapa sudah konfirmasi kehadiran. Terutama Mesir sudah pasti datang. Komunikasi terus kita lakukan, sudah hampir semuanya memberi kepastian hadir. Kalau pembicara dari dalam negeri ada perwakilan dari Muhammadiyah, pemerintahan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara)," jelas Gus Aam.

Adapun peserta kegiatan ini diperkirakan sekitar 400 orang. Terdiri dari pengurus Ansor dari seluruh Indonesia, kiai-kiai pesantren, akademisi, Forum Musyawarah Ponpes, RMI (Rabitah Mahad Islamiyah), dan utusan Banom (Badan Otonom) NU. "Forum ini dialognya aktif. Jadi, nanti dari beberapa narasumber bisa saling menanggapi secara langsung. Begitupun peserta," bebernya.

Menurut Gus Aam, berbagai pembahasan yang dikaji dalam halaqah internasional itu akan direkomendasikan dibedah kembali di negaranya masing-masing.

"Karena bisa saja persoalan yang sudah dibahas disini nantinya akan relevan dengan yang terjadi di negara lain. Atau bisa saja hasil dari halaqah ini menjadi kesepakatan bersama lintas negara untuk perdamaian dunia dan harmoni peradaban," pungkasnya.

Untuk mensukseskan halaqoh ini, PP Pusat GP Ansor menggandeng Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan PC GP Ansor Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Aswaja, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Momen yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya datang juga. KH Raden Asad Syamsul Arifin (1890-1990 M) Asembagus Situbondo, Jawa Timur ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pemberian anugerah Pahlawan Nasional tersebut berlangsung di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/11) oleh Presiden RI Joko Widodo.

“Kami, para santri beliau ikut senang dan bangga dengan penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang santri Kiai As’ad lewat keterangan tertulisnya kepada Ribath Nurul Hidayah, Rabu (9/11).

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Menurutnya, Kiai Asad memang pantas mendapatkan gelar ini. Beliau berperang mengusir para penjajah dari tanah air. Memimpin pasukan, keluar masuk hutan, membangun kekuatan melawan para penjajah. Para penjajah yang menguasai daerah eks keresidenan Besuki seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo akhirnya bisa dipukul mundur.

“Namun, pada hemat saya, Kiai Asad layak mendapatkan gelar pahlawan bukan hanya karena ikut berperang merebut kemerdekaan, tetapi ia juga berjuang melalui pendidikan. Pesantren yang didirikan bersama ayahandanya sejak tahun 1914 telah lama menjadi lembaga pendidikan murah bahkan gratis buat masyarakat tidak mampu,” urai Kiai Moqsith yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Ribath Nurul Hidayah

Kini di pesantrennya tak kurang dari lima belas ribu santri yang belajar di sana, dari paling bawah seperti TK hingga perguruan tinggi. Para santri tak hanya belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti kelautan, informatika, dan pertanian.

Tak hanya itu, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, ketika banyak ulama ragu-ragu untuk menerima Pancasila, bersama sejumlah ulama lain Kiai Asad menegaskan pentingnya merujuk Pancasila terutama untuk mengatasi soal-soal kebangsaan dan kenegaraan.

“Suatu waktu Kiai Asad bercerita bahwa dirinya menerima surat kaleng dari orang-orang yang anti Pancasila. Tapi, Kiai Asad tak menghiraukannya. Bagi Kiai Asad, Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahkan, menurutnya, sila pertama Pancasila merupakan cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam,” ungkapnya.

Semangat berjuang membela negara dan memperbaiki pendidikan umat itu terus diinjeksikan pada para santrinya. Empat tahun menjadi santrinya, Moqsith sering mendengar ceramah-ceramahnya terkait kebangsaan dan kenegaraan, di samping soal keislaman.

Mendengar ceramah-ceramah Kiai Asad seperti membaca buku-buku sejarah. Ini karena beliau salah seorang pelaku sejarah. Namun, di ujungnya pidatonya, Kiai Asad biasanya berpesan agar kisah perjuangannya tak dituliskan.?

Ribath Nurul Hidayah

“Bahkan, ketika salah seorang intelektual NU menawarkan diri untuk menulis biografinya, Kiai Asad marah. Ia merasa, perjuangannya tak pantas untuk dicatat,” terang kiai yang juga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menandaskan, tentu gelar kepahlawanan ini bukanlah cita-citanya. Semua gerak langkahnya hanya diniatkan untuk memperoleh Ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh anugerah duniawi seperti ini. Tapi, seperti dikatakan banyak orang, negara besar adalah negara yang pandai menghargai para pejuangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Kajian, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah

Rombongan audiensi panitia Muktamar Jatman XII yang dipimpin Wakil Mudir Aam Jatman Abdul Hadi memohon dukungan sepenuhnya agar kegiatan Muktamar yang ketiga kalinya dilangsungkan di Pekalongan berjalan sukses.

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah

Bahkan untuk suksesnya perhelatan ini, pihak panitia juga melakukan koordinasi dengan instansi di tiga wilayah, yakni Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan dan Batang utamanya kepada Bupati, Walikota, Kapolres, Kodim dan Kemenag.

Hal ini dimaksudkan agar acara yang dihadiri tamu tamu utusan dari berbagai daerah, para mursyid tarekat serta delegasi ulama dari luar negeri bisa berlangsung aman dan sukses.

"Muktamar ke-12 telah dipersiapkan dan direncanakan secara matang, bahkan delegasi muktamar diperluas hingga ke mancanegara," ujar Guru Besar UIN Semarang, di Kantor Bupati Pekalongan di Kajen, Senin (04/12).



Ribath Nurul Hidayah



Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan, bebebapa isu penting seperti masalah kenegaraan dan kebangsaan telah menjadi agenda pembahasan komisi rekomendasi yang hasilnya disampaikan kepada pemerintah terkait serta delegasi mancanegara.

Dari data panitia, setiap daerah baik wilayah atau cabang dibatasi pengiriman peserta maksimal 20 peserta yang terdiri dari peserta Jatman, Muslimat Thoriqiyah dan Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyyah (MATAN). 

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan peserta akan datang lebih banyak dari kuota yang telah diberikan panitia, sehingga pihak panitia telah mengantisipasi dengan memperbanyak pemondokan peserta yang ditempatkan di rumah rumah penduduk yang tersebar di 8 kecamatan.

(Baca: Bupati Pekalongan Siap Fsilitasi Muktamar XII Jatman)

Pada kesempatan tersebut Bupati Pekalongan H. Asif Kholbihi menyatakan siap memfasilitasi kegiatan akbar Muktamar XII Jamiyyah Ahlih Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang akan berlangsung di Pekalongan. (Abdul Muiz/Kendi Setiawan).



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 Desember 2017

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai

Seperti biasa, selepas salat subuh, Amri mengikuti pengajian kitab yang dilaksanakan di masjid pesantrennya. Suatu pagi ia sangat ngantuk hingga baru beberapa menit pengajian dimulai, ia tertidur lelap.?

Amri terbangun ketika rekan-rekannya mulai beranjak dari tempat mereka mengaji, walau dengan mata yang masih terasa berat, akhirnya dia bergegas keluar dari masjid.

Sepulang dari masjid, Amri tidak langsung ke kamarnya, tetapi masih mencari makanan untuk sarapan. Dia merasa ada sesutu yang tidak beres saat tiba di depan kamar, karena di sana sudah ada salah seorang pengurus pondok yang sedang menunggunya.

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai

Benar saja, ketika Amri berada tepat di hadapannya, sang pengurus langsung menyapanya.

“Amri..., sandalnya..” sambil menunjuk ke arah kaki Amri.

Amri tersentak, kemudian menatap sandal yang ? ia pakai, lalu secara reflek melepaskan sandal itu sembari berucap,

Ribath Nurul Hidayah

“Astaghfirullah....., maaf Ustadz saya nggak sengaja ....”

Amri belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang pengurus,

“Ya..nggak apa-apa Amri, pak Kiai sudah mengikhlaskannya kok....”

“Haah.... sandal pak Kiai...,Ya Allah....Astaghfirullah..., maafkan Amri Kiai....”

Ribath Nurul Hidayah

Ketika itu pula keringat dingin terasa mengalir di sekujur tubuh Amri. Mungkin akibat kesadarannya yang masih belum sempurna, sehingga ketika turun dari masjid tadi, Amri tidak menyadari sandal siapa yang ia pakai, padahal sandalnya sendiri berada di samping masjid.

(Hosni Rahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 10 Desember 2017

Madin 28 Kabupaten di Jateng Ikuti Ajang Kreativitas FKDT

Kendal, Ribath Nurul Hidayah. Dewan pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyyah (FKDT) wilayah Jawa Tengah mengadakan Ajang Kreativitas Madrasah Diniyah Takmiliyyah (Akrimdita), Senin (29/9).

Madin 28 Kabupaten di Jateng Ikuti Ajang Kreativitas FKDT (Sumber Gambar : Nu Online)
Madin 28 Kabupaten di Jateng Ikuti Ajang Kreativitas FKDT (Sumber Gambar : Nu Online)

Madin 28 Kabupaten di Jateng Ikuti Ajang Kreativitas FKDT

Acara ini diisi dengan berbagai macam lomba, di antaranya hadrah, pengembangan media pembelajaran, cerdas cermat diniyah, puisisasi Al-Quran, Imla, ustadz favorit dan cerita Islami. Acara yang terpusat di masjid Al-Muttaqin Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, itu dihadiri sekitar delapan ratus peserta dari 28 kabupaten/kota se-Jawa tengah.

Akrimdita yang baru pertama kali terselenggara terbagi menjadi tiga kategori lomba. Pertama kelembagaan seperti tertib administrasi, buku induk, jurnal pembelajaran, dan seterusnya. Kedua dari unsur ustadz. Dan ketiga dari unsur santri. Tujuan dari pelaksanaan Akrimdita ini untuk, "Menjalin silaturahim antarmadrasah, ustadz, pengurus dan menunjukkan eksistensi madrasah diniyah kepada masyarakat," ungkap Ketua Dewan pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyyah (FKDT) wilayah Jawa Tengah Nur Syahid.

Ribath Nurul Hidayah

Madrasah diniyah takmiliyah telah masuk dalam peraturan menteri agama nomor 13 tahun 2014. Jadi, secara legalitas sudah ada rel yang menjadi landasannya tinggal kita melaksanakannya. Dalam rangkaian akrimdita ini juga dilaksanakan halaqah menggagas perda madin. Halaqah ini digelar untuk memantapkan peserta bahwa madin sebagai tempat belajar pendidikan dan moral bagi anak-anak kita.

Ribath Nurul Hidayah

Di antara pemenang yang menerima tropi sebagai berikut. Tropi Kakanwil Kemenag Jateng sebagai juara umum adalah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Kudus. Kedua, tropi FKDT sebagai juara favorit DPC Kbupaten Jepara. Ketiga, tropi sebagai madrasah diniyah unggulan MDPA Irsyadut Thalibin DPC kab. Kudus. Keempat, tropi Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI sebagai ustadz berprestasi adalah Ahmad Muhshon Kendal. Terakhir, penerima tropi Kasubdit Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah RI sebagai pameran terbaik adalah DPC FKDT Kabupaten Rembang. (M. Zulfa/Mahbib)

Foto: perwakilan pemenang sedang foto bersama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Lomba Sanitasi, Pesantren Assalam Wakili Pesantren se-Karesidenan

Grobogan, Ribath Nurul Hidayah. Kedisiplinan warga Pondok Pesantren Assalam Salafiyah Kradenan Grobogan, Jawa Tengah membuahkan hasil. Lembaga pendidikan ini terpilih mewakili pondok pesantren se-karesidenan untuk lomba sanitasi dari Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah.

Lomba Sanitasi, Pesantren Assalam Wakili Pesantren se-Karesidenan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Sanitasi, Pesantren Assalam Wakili Pesantren se-Karesidenan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Sanitasi, Pesantren Assalam Wakili Pesantren se-Karesidenan

Terpilihnya Assalam ini tidak luput dari partisipasi pengasuh dalam mewujudkan pesantren yang bersih dan nyaman.

“Meskipun di wilayah pedesaan, sedari awal pesantren ini terus mengampanyekan kebersihan dengan slogan BERASSSSS,” tutur pengasuh pesantren Assalam Salafiyah Grobogan KH Imam Sujoto, Senin (18/11).

Ribath Nurul Hidayah

BERASSSSS merupakan akronim dari bersih, rapi, semangat, santai, sehat, serasi dan selesai.

Pengasuh pesantren mengenakan denda bagi santri dan seluruh jajaran ustadz yang membuang sampah di sembarang tempat. Denda ditentukan sebesar lima ribu rupiah. Separuh untuk kas kebersihan pesantren dan sisanya untuk si pelapor pembuang sampah.

Ribath Nurul Hidayah

Bahkan pihak pengasuh menantang tim penilai bila melihat sampah berserakan akan memberikan denda. Denda dijatuhkan bukan hanya waktu penjurian, tetapi sampai kapan pun tantangan kepada tim penilai itu terus berlaku.

Piket harian pagi-sore terus dilakukan setiap hari. Sedangkan piket bersama dikerjakan pada hari Ahad. Kalau lingkungan bersih, belajar lebih nyaman dan menggairahkan, tegas KH Imam Sujoto.

Lomba sanitasi bertujuan memberi perhatian serius terhadap kebersihan pesantren. Selain itu, lomba ini menjadi upaya mengubah stigma yang beredar di masyarakat, ‘pesantren selalu identik dengan kondisi kumuh dan kotor’.

Melalui hasil dari lomba ini, pihak Kementrian Agama akan memberikan rekomendasi-rekomendasi penting guna progresifitas pesantren, utamanya di bidang kesehatan. (Hanif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Tegal, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jombang menggelar doa bersama di kantor PCNU setempat, Sabtu (20/8). Mereka mendoakan bangsa Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berintegritas untuk membangun persatuan.

Tak lupa, mereka juga mendoakan para pahlawan yang gugur sebab merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan. Bagi mereka, kemerdekaan Indonesia yang dirasakan oleh bangsa saat ini adalah hasil perjuangan berdarah para pahlawan saat mengusir penjajah dari tanah air ini.

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Abdul Haris, Ketua PC IPNU Jombang berharap kader IPNU-IPPNU dapat berkontemplasi dari sejumlah perjuangan yang telah ditorehkan para pahlawan kemerdekaan, termasuk para kiai yang juga berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia ini.

"Kami berharap setelah memperingati kemerdekaan ini, para kader IPNU-IPPNU se-Jombang dapat menghayati makna kemerdekaan yang kemudian dapat berprestasi untuk mengharumkan Indonesia," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Haris menambahkan, perjuangan para pahlawan saat itu tak bisa diganti dengan apapun oleh bangsa Indonesia saat ini, kecuali hanya bisa mendoakan agar perjuangan mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat dan tergolong para syuhada. Di samping berdoa, katanya, penting juga memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki bangsa saat ini.

Pada saat yang sama, pihaknya juga menggelar berbagai lomba untuk meriahkan HUT RI. Di antaranya lomba makan pisang, cari koin dalam tepung, dan juga sepak bola contong.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ini diawali apel sekaligus menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars organisasi IPNU-IPPNU serta lagu "Ya Ahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai penutupnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu itu dengan khidmat. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 19 November 2017

Kabut Asap Pembakaran Lahan, Pelajar NU Pontianak Bagikan Masker

Pontianak, Ribath Nurul Hidayah. Pelajar NU Kota Pontianak menggelar kegiatan “Gerakan 1000 Masker” di bundaran Untan jalan Ayani I dan persimpangan Tanjung Pura Kota Pontianak, Jumat (11/9). Di dua titik ini, mereka membagikan masker kepada pelajar dan masyarakat untuk melindungi mereka dari kabut asap akibat pembakaran lahan yang melanda Pontianak.

Dua titik ini dipilih sebagai lokasi aksi mengingat keramaiannya di pagi dan sore hari.

Kabut Asap Pembakaran Lahan, Pelajar NU Pontianak Bagikan Masker (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabut Asap Pembakaran Lahan, Pelajar NU Pontianak Bagikan Masker (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabut Asap Pembakaran Lahan, Pelajar NU Pontianak Bagikan Masker

Ketua IPNU Kota Pontianak Umar Dani mengatakan, kegiatan ini tidak lain bertujuan untuk membantu masyarakat agar memakai masker dan berhati-hati terhadap kabut asap yang sekarang sudah menguasai Pontianak ini.

Ribath Nurul Hidayah

“Kita tahu bahwa kabut asap ini sangat berbahaya terhadap kesehatan di mana kesehatan anugerah nomor satu yang diberikan oleh Allah,” kata Dani seraya mengajak masyarakat menggunakan masker.

Sementara Ketua IPPNU Kota Pontianak Mufadila mengatakan bahwa kegiatan hari ini karena didorong dengan maraknya kabut asap yang ditimbulkan dengan banyaknya kebakaran lahan serta tidak adanya hujan.

Ribath Nurul Hidayah

“Mudah-mudahan kegiatan ini berdampak positif bagi masyarakat Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak untuk saling menjaga kesehatan bersama,” kata Mufadila yang juga mahasiswi fakultas Pertanian Untan.

Koordinator Gerakan 1000 Masker ini Saiful menambahkan bahwa efek dari kabut asap sangat berbahaya. “Sebelum bahaya muncul maka kami melakukan kegiatan ini untuk masyarakat khususnya para pelajar yang ada di Kota Pontianak.”

Pihak pelajar NU Pontianak mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan Kota Pontianak dan Provinsi yang sudah bekerja sama pelajar NU. Mereka juga berterima kasih atas apresiasi gerakan ini dengan membantu penyediaan masker sebagai bahan sukses kegiatan ini. (Syam Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 November 2017

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Pamekasan,Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menggelar talk show keaswajaan dengan tema Mengokohkan Faham Aswaja di Tengah Benturan Peradaban (Tradisionalis, Modernis dan Kebangsaan pada Ahad (23/2).  

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Kegiatan yang diselenggarakan di Pendopo Kecamatan Tlanakan ini dihadiri oleh Pengurus MWC NU Tlanakan, lembaga, lajnah, Badan Otonom beserta seluruh jajaran Penguruss Ranting (PR) NU se-Kecamatan Tlanakan dan diikuti pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar.

Moh. Wahyudi, S.Pd Ketua PAC. GP. Ansor Tlanakan dalam sambutannya mengatakan, talk show ini dilaksanakan untuk membentengi kader NU, juga untuk mematahkan pendapat-pendapat Salafi Wahabi yang mengusung jargon berdiri diatas sunnah yang menganggap salah amaliah yang dilakukan oleh warga NU.

Ribath Nurul Hidayah

Acara tersebut dilaksanakan dalam dua sesi, pada sesi pertama hadir sebagai narasumber adalah Dr. H. Nor Hasan M.Ag (Dosen STAIN Pamekasan)yang memaparkan tentang sosio historis dan sumber ajaran aswaja An-Nahdliyah dan Drs. H. Zainol Hasan, M.Ag (Pengurus PC. NU Pamekasan) yang berbicara Aswaja dari sisi tradisionalis moderenis.

Pada sesi kedua, hadir sebagai pembicara adalah Badrut Tamam, S.Psi (Sekretaris F-KB DPRD 1 Jawa Timur) yang mengupas Aswaja dari sisi Kebangsaan. Dalam pemaparannya, Ra Badrut, begitu dia biasa disapa, mengharapkan supaya kader NU pada umumnya, dan Ansor pada khususnya bisa menjadi faktor kepemimpinan pada level kabupaten, propinsi hingga nasional dan bisa membawa misi kemakmuran untuk NKRI. (Ach. Mudani/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Warta Ribath Nurul Hidayah

Senin, 13 November 2017

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah

Subang, Ribath Nurul Hidayah. Pendidikan Pesantren Salafiyah adalah sistem pendidikan di Indonesia yang pertamakali lahir di Indonesia hal ini diakui oleh mayoritas warga Indonesia, namun sampai saat ini Pemerintah masih belum memperhatikan secara serius atas keberadaan pendidikan salafiyah itu.?

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Guru Salafiyah (IGS, red) ? Kabupaten Subang, Kiyai.Mujahid Jumat (4/1/2013)

"Tidak perhatianya pemerintah terhadap dunia pesantren bisa dilihat dari masih jauhnya kesejahteraan para guru-guru di Podok Pesantren serta sarana dan prasarana pesantren juga masih minim," ujar Mujahid.?

Ribath Nurul Hidayah

Padahal, tambah Mujahid tidak sedikit tokoh-tokoh besar di Indonesia yang terlahir dari dunia pesantren seperti Presiden Republik Indonesia ke IV KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi dan masih banayk tokoh-tokoh lainya.

"Bahkan di Kabupaten Subang sendiri tidak sedikit jebolan pesantren yang memberikan kontribusi besar untuk pembangunan Subang, seperti KH Musfieq Amrullah, KH Nawawi dan masih banyak yang lainya," ucapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karena itu, harusnya pemerintah bisa lebih memahami dan menyadari akan peran besar itu, caranya dengan lebih memperhatikan kesejahteraan para guru-guru serta lebih memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan ala Pesantren.

"Bisa dibayangkan jumlah Pesantren yang terdaftar dan teregistrasi di Kementerian Agama (Kemenag, red) di Kabupaten Subang mencapai 338 pesantren, belum lagi yang belum teregistrasi. Ini artinya pendidikan ala Pesantren sangat potensial secara sumberdaya manusianya," ujarnya.

Karena itu Mujahid meyakini kalau pemerintah bisa mengelola dengan baik Pesantren yang ada, maka kebutuhan sumber daya manusia yang siap memberikan kontribusi untuk Subang semakin banyak.

"Hasil SDM yang digodok di Pesantren, mempunyai karakter kuat terutama yang berkaitan dengan etika dan moral. Hari ini kita lihat tidak sedikit para pejabat pemerintah yang mengambil uang rakyat atau biasa disebut korupsi, sebenarnya itu disebabkan karena menatal yang tidak terlatih, kalau untuk para alumni Pesantren lebih terjaga atas hal-hal negatif seperti itu," terangnya.?

Lebih lanjut Mujahid menambahkan, di Kabupaten Subang sudah terbentuk Ikatan Guru Salafiyah, dan ini menjadi potensi untuk bisa terus mengembangkan dunia Pesantren di Kabupaten Subang.?

"Organisasi ini adalah jembatan untuk bisa menyampaikan aspirasi para guru Pesantren dan menggodok masalah-masalah kekinian dalam sudut pandang religius (agamis, red). Mulai dari permasalahan sosial sampai kepemimpinan," tembahnya.

Saat disinggung mengenai akan diselenggarakanya Pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Bupati Kabupaten Subang, Mujahid menyampaikan, siapapun yang menjadi pemimpin di Jawa Barat dan Kabupaten Subang, harus memperhatikan Pesantren.?

"Bagi Kami mudah saja, siapapun yang siap dan bisa memperhatikan dunia Pesantren itu yang layak menjadi pemimpin, karena hal lain pasti akan mengikuti, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan yang lainya," pungkasnya?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Aswaja, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Ketuhanan Abdul Wahid Hasjim

Oleh Yudi Latif

Cara mencari Tuhan dengan tegak lurus di jalan-Nya adalah trayek yang dilalui Abdul Wahid Hasjim. Ia tumbuh dalam lingkungan religius dan sejak kecil menunjukkan ketertarikan pada masalah-masalah keagamaan; lantas memperdalam ilmu-ilmu keagamaan dan berakhir sebagai pemimpin (tokoh) keagamaan.?

Ketuhanan Abdul Wahid Hasjim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketuhanan Abdul Wahid Hasjim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketuhanan Abdul Wahid Hasjim

Ia adalah "putra dari Bapaknya", Hadlratussyeikh KH Muhammad Hasjim Asjari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal sebagai pusat teladan dari modernisasi komunitas epistemik Islam tradisionalis.

Didirikan pada 1899, pesantren ini pada mulanya cenderung rejektif terhadap pengaruh modernitas dengan memilih strategi otentisasi berbasis tradisi lokal. Selama hampir dua puluh tahun pertama sejak pendiriannya, pesantren ini mempertahankan metode-metode pengajaran tradisional seperti sorogan dan wetonan.?

Pada 1916, Kiai Ma’sum (anak menantu pertama Kiai Asj’ari yang pernah belajar di Makkah) memperkenalkan sistem pendidikan madrasah di lingkungan pesantren, yang kelak pada 1919 dikenal sebagai madrasah “Salafiyah Syafi’iyah”. Sejak didirikan, madrasah ini telah mengadopsi sistem kelas berjenjang dan pengajaran dalam kelas. Namun, baru pada 1919, pelajaran-pelajaran umum mulai bisa diajarkan karena adanya resistensi yang kuat di dalam pesantren terhadap apa pun yang berbau modern (Dhofier, 1982: 104).

Ribath Nurul Hidayah

Upaya lebih jauh untuk memodernisasi madrasah ini dilakukan oleh Mohammad Iljas (lahir 1911, anak dari kakak perempuan istri Asj’ari). Latar belakang pendidikannya sungguh tak lazim untuk kalangan Muslim tradisional. Dia belajar di HIS di Surabaya (1918-1925), kemudian setelah menyelesaikan pendidikan modernnya ini, dia memilih untuk memperdalam pengetahuan keagamaan di Pesantren Tebuireng. Pada 1929, dia diangkat sebagai lurah di pesantren itu dan menjadi kepala sekolah madrasah “Salafiyah Syafi’iyah”. Di bawah kebijakannya, kurikulum madrasah tersebut memberikan lebih banyak penekanan terhadap pengajaran ilmu alat (bahasa Arab) dan yang lebih penting, mulai memperkenalkan pelajaran-pelajaran umum dan meningkatkan pengetahuan umum para siswa dengan memperkenalkan koran, majalah, dan buku-buku yang ditulis dalam huruf Latin (Soekadri, 1979: 56).

Kebijakan modernisasi ini dilanjutkan oleh sang "Putra Mahkota", ? Abdul Wahid Hasjim (1913-1953). Awalnya dia belajar di pesantren ayahnya dan pesantren-pesantren yang lain. Selain itu, ia juga belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris secara autodidak, serta membaca koran dan majalah baik yang ditulis dengan huruf Arab maupun huruf Latin, sebelum kemudian menghabiskan waktu setahun untuk belajar di Makkah (1932-1933).?

Saat kembali, dia mendirikan sebuah madrasah modern dalam lingkungan pesantren ayahnya yang diberi nama madrasah “Nidhomiyah”. Sekitar 70% dari kurikulum madrasah ini dicurahkan pada pelajaran-pelajaran umum, seperti bahasa Belanda dan bahasa Inggris, selain juga bahasa Arab. Selain itu, dia mulai mendirikan sebuah perpustakaan yang berlangganan berbagai koran dan majalah, terutama yang ditulis dengan huruf Latin. Pelajaran-pelajaran berpidato dalam bahasa Belanda dan Inggris, serta mengetik juga mulai diperkenalkan kepada para siswa (Dhofier, 1982: 106; Soekadri, 1979: 57).

Ribath Nurul Hidayah

Dengan ilmu keagamaan yang mendalam, serta wawasan pengetahuan umum yang relatif luas, Wahid Hasjim tampil sebagai ulama-intelek, yang memberinya modal sosial untuk tampil sebagai pemimpin muda yang meroket saat pendudukan Jepang. Dengan politik Jepang yang pada mulanya mencoba menarik simpati komunitas Islam pedesaan, posisi KH Hasjim Asjari sebagai pemimpin kharismatis secara fungsional praktis dijalankan oleh Wachid Hasjim.

Selama masa pendudukan Jepang, kendatipun Jepang berusaha untuk “mendekati” tokoh-tokoh Islam, Wahid Hasjim memperlihatkan dirinya sebagai sosok pemimpin Islam berintegritas yang “tak dapat dijepangkan”.?

Cerminan keberaniannya terlihat dalam kisah perjalanan naik kereta dari Stasiun Kroya menuju Jakarta menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, seperti yang diceritakan kembali oleh Saifuddin Zuhri:?

"Sudah beberapa hari saya dalam perjalanan bersama Alm KH A. Wahid Hasjim. Kereta-api malam berhenti agak lama di stasiun Banjarpatoman dekat Tasikmalaya. Sudah hampir jam setengah empat malam, padahal kami belum menyediakan sahur. Ketika itu sudah masuk bulan Ramadhan, menjelang bulan Agustus 1945. Dengan melalui penumpang-penumpang yang sangat padat bergelimpangan tidur di bordes, saya turun sebentar di peron stasiun untuk membeli apa akan saya beli; sudah kedahuluan dibeli orang lain yang barangkali perlu buat sahur, sehingga saya hanya berhasil memperoleh 4 butir telor ayam rebus. Ah lumayan juga buat sahur! Waktu akan dimakan dengat niat untuk sahur puasa wajib, Alm. K.H.A. Wahid Hasjim menanyakan mana air buat minum? Karena saya tidak berhasil memperoleh air minum, maka sambil kelakar saya menjawab: ‘Zonder minuman tak apa, toh besok pagi kita haus juga...!



....Sejak kami naik di stasiun Kroya, 3 orang opsir Jepang yang duduk bersama kami di kelas I itu senantiasa mengawasi gerak-gerik kami dengan pandangan mencemoohkan. Pada waktu kami memerlukan air minum buat sahur, mereka mengejek-ejek, seorang di antaranya membuang air tehnya yang masih panas dari persediaan termosnya. Itu waktu saya sudah mulai naik darah, tetapi Alm. K.H.A. Wahid Hasjim menenangkan hati saya sambil menasehati bahwa janganlah kita ributkan perkara kecil itu. Nanti akan datang saatnya kita membikin perhitungan dengan mereka secara besar-besaran dalam masalah yang besar, katanya sambil mengulang-ulang sabar, sabar!

Rupanya Jepang-Jepang itu tidak senang ada ‘genyuming-genyuming’ seperti kami berdua duduk di kelas I menyamai mereka, padahal seharusnya mereka tahu bahwa orang yang bisa duduk di kelas I menyamai mereka, padahal seharusnya mereka tahu bahwa orang yang duduk di kelas I di waktu itu bukanlah ‘genyuming’ sembarangan...! Caranya mencemoohkan kami diteruskan lagi yaitu ketika Alm KH A. Wahid Hasjim hendak mengembangkan baju mantelnya buat sajadah ketika kami hendak sembahyang Subuh di peron stasiun Cibatu; salah seorang opsir Jepang tadi meludah di lantai yang akan kami gunakan untuk sembahyang. Hati saya bertambah panas, tapi Alm KH A. Wahid Hasjim tetap tenang dan berkata bahwa peristiwa itu belum saatnya untuk memuntahkan amarah, katanya. Akan tetapi setelah terjadinya ‘peristiwa jendela’ rupanya beliau tidak bisa menjadi orang sabar terus-menerus. Peristiwa-jendela itu duduknya perkara demikian:

Kami berdua duduk bersanding menghadap arah jalannya kereta-api. Kereta-api yang berjalan di lereng-lereng pegunungan di daerah Priangan itu menyebabkan lokomotif mengeluarkan tenaga maksimalnya sehingga menyebabkan banyak menghamburkan abu dan api, memasuki tempat duduk. Karena abu dan api itu langsung mengenai kami berdua, maka Alm KH A. Wahid Hasjim lalu menutup jendela di samping kami. Melihat itu tiba-tiba dari mulut salah seorang Jepang yang duduk di muka kami itu keluar perkataan: ‘Kurang ajar, bakero!’ Almarhum menjawab kontan: ‘Tuan yang kurang ajar!’, ‘Ojo berani sama Nippon!’, kata Jepang itu. Tapi dengan cepat tangan almarhum memegang pedang samurai kepunyaan Jepang itu hendak direbutnya jikalau tidak dihalang-halangi oleh Jepang-Jepang yang lain. Suasana dalam kereta-api kelas I sudah hampir panik, akan tetapi tiba-tiba salah seorang Jepang yang lain segera mendekati kami sambil senyum kecut dengan katanya: ‘Kami minta maaf kepada Tuan, maaf maaf!’, sambil tangannya menahan tangan almarhum. Dengan sikap menguasai dirinya KH A. Wahid Hasjim berkata: ‘Tuan harus tahu, peristiwa ini akan saya bikin panjang, menjadi peristiwa antara bangsa dengan bangsa!’ Saya tidak tahu, apakah Jepang-Jepang itu mengerti arti perkataan yang tajam itu. Tetapi saya yakin, bahwa jiwa daripada kalimat-kalimat gagah yang dikeluarkan dengan penuh kesadaran dari jiwa yang besar tentu akan mempunyai dasar dan bekas yang sangat kuat. Entah karena akibat insiden itu atau memang menurut rencana, maka pada waktu kereta-api tiba di stasiun Bandung, Jepang-Jepang itu turun semua. Sambil mataku mengikuti langkah-langkah Jepang yang hendak meninggalkan kereta kita, dari mulut saya melompat kata-kata: ‘Rupanya Jepang-Jepang ini sedang menghadapi sekaratnya!’ Dengan muka geram, KH A. Wahid Hasjim menyambung: ‘Setan gundul’ sedang sekarat, tindakannya semangkin gila! Istilah ‘setan gundul’ atau ‘syayatin’ biasa digunakan beliau untuk mengganti nama Jepang yang sedang berkuasa di negeri kita di waktu itu (Aboebakar, 2011: 202-205).

Begitulah sosok Wahid Hasjim: teguh dalam pendirian, namun tetap mengembangkan semangat persaudaraan melintasi batas-batas ideologi dan agama. Tak heran, menjelang dan selama revolusi kemerdekaan, ia tampil sebagai sosok pemimpin muda Islam dengan peran kepemimpinan yang menonjol. Sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), ia terpilih sebagai anggota tim kecil panitia delapan bentukan resmi BPUPK; Ia juga menjadi anggota tim kecil Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta. Setelah itu, ia juga terlipih sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.?

Sebagai pemimpin Islam, semasa kontestasi ideologi yang sengit, wajar ? saja bila beliau memiliki agenda keislaman. Yang membuatnya istimewa, posisi pendapatnya masih bisa menerima argumentasi yang berbeda dalam proses permusyawaratan. Sekali mufakat dicapai, beliau komit pada kesepakatan bersama: mendukung negara persatuan yang mengatasi paham perseorangan dan golongan.

Wahid Hasjim punya andil besar dalam usaha perwujudan negara Indonesia sebagai negara religius yang inklusif; dengan "menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."

Setelah kemerdekaan, beliau terpandang sebagai tokoh Islam yang pernah memimpin kementerian agama dengan pergaulan yang luas dan luwes. Tokoh muda NU ini bisa berdiskusi berjam-jam sampai larut malam dengan orang yang disapa “Paman Husein” yang tak lain adalah Tan Malaka yang berhaluan kiri. Wachid Hasjim menghormati Tan Malaka, dan begitu juga sebaliknya. Perdebaan pandangan politik tidak membuat keduanya saling menjauh tetapi saling menghargai. “Sepanjang dia tidak mengganggu, tidak ada salahnya kita menjalin hubungan baik,” begitu dinyatakan Gus Dur mengutip ayahnya.?

Wahid Hasjim juga mengembangkan sikap toleransi yang positif dengan proaktif menjalin pergaulan lintas aliran, lintas ideologis. Seperti dikisahkan oleh anaknya yang lain, Salahuddin Wahid, bahwa ayahnya sering mengajak anak-anak berkunjung ke rumah Soebardjo, atau menyambangi tokoh Masyumi seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmita. Lebih dari itu, Wahid Hasjim juga rajin berkunjung ke rumah tokoh yang berbeda paham, misalnya Mohammad Yamin dan Mr. Sartono dari Partai Nasional Indonesia. Menurut Salahuddin, “Bapak hendak menunjukkan kepada kami, ia tidak pernah membeda-bedakan orang” (Tempo, 2011: 32).

?

Dalam mengembangkan sikap saling menghargai, Kiai Hasjim bisa menentukan secara dewasa kapan bisa berbeda, kapan bisa tetap bersaudara. Urusan politik tidak dicampuradukkan dengan urusan (hubungan pribadi). Beliau pernah menegur istrinya, Solehah, karena menolak memberi tumpangan kepada seorang anggota Konstituante yang menyudutkan Kiai Hasjim dalam sidang. Dengan jernih pak Kiai mengingatkan istrinya, “Urusan pekerjaan dan pribadi tak bisa dicampur-aduk,” ujarnya (Tempo, 2011: 58-59).?

Terhadap sesama tokoh Muslim sendiri, ia memperlihatkan semangat saling menghargai dan menghormati dengan memanjangkan tali ? silaturahim. Seusai shalat jumat di Masjid Matraman, Bung Hatta dan A. Wahid Hasjim biasa berbincang-bincang (Barton, 2012: 37). Wahid Hasjim yang NU, pada masa revolusi fisik menjadi penasihat pribadi Panglima Besar Soedirman yang tokoh Muhammadiyah. Bahkan Gus Dur, putra sulung Wahid Hasjim, ketika sekolah di Yogyakarta dititipkan pada tokoh Muhammadiyah, KH Juneidi yang anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Gus Wahid meninggal dalam usia yang relatif pendek (40 tahun), namun meninggalkan keteladanan yang panjang; jadi role model bagi generasi penerusnya: berislam yang kuat namun penuh welas asih, dengan menghargai dan melindungi yang berbeda.

Penulis adalah pemikir bidang keagamaan dan kenegaraan; penulis buku "Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila".

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Oleh H Sujatmiko Huda

Berjuta maaf saya sampaikan kalau tulisan ini jauh panggang dari api, jauh pena dari ilmu. Sebab, tulisan ini hanya kontemplasi diri atas fenomena di abad googleliyah ini. Refleksi diri yang awam dan jahil alias bodoh. 

Dulu (menurut cerita para orangtua), kenyamanan beribadah dan mencari ilmu (khususnya agama) agak sedikit terganggu. Terlebih kalau sudah masuk senja, hanya mengandalkan lampu tempel (yang minyaknya sangat dihemat-hemat), tapi semangat anak-anak kecil untuk mencari ilmu kepada seorang yang dianggap mumpuni keilmuannya sangatlah besar. Bahkan semangat yang besar itu seakan menjadi kobaran api yang mengalahkan kobaran obor yang dibawa mereka saat mencari ilmu. Karena buat mereka, menghilangkan kebodohan adalah awal dari kesuksesan.

Mereka amat semangat untuk mengaji agama kepada pak kiai, pak ustadz, guru, ajengan dan seterusnya, demi ilmu dan demi kesuksesan dunia akhirat. Tapi ternyata, bukan hanya ilmu yang mereka cari, bukan cuma impian sukses yang mereka harapkan, mereka pun belajar berakhlak yang baik, akhlak al karimah. Betapa mereka amat bergembira bila mencium telapak tangan ibu dan bapaknya ketika berangkat mengaji, lalu mencium telapak tangan gurunya ketika tiba di pengajian. Tidak berani membantah perkataan orangtua, perintah guru dan seterusnya. 

Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Fenomena Mengaji Agama di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Fenomena Mengaji Agama di Internet

Sekarang di zaman twitteriyah dan facebookiyah ini, entah fenomena apa yang sedang ku saksikan sebenarnya. Bada maghrib mereka kaum muda lebih senang buka facebook, google, yahoo messenger, twitter dan seterusnya hanya untuk post status, demi mengeluh dan mengadukan masalah-masalahnya ke semua teman mayanya. Dan yang lebih ironis serta kronis, yaitu mereka me-repost catatan-catatan keilmuan/keagamaan tanpa pernah memiliki guru yang membimbing. Mereka sudah merasa sangat pandai dan ‘alim bila me-repost/share link-link keagamaan tersebut atau tulisan keagamaan dari buku yang dia baca.

Bahwa mencari ilmu itu sebuah kewajiban bagi muslim adalah benar, tapi belajar kepada guru untuk mencari ilmu adalah keharusan dalam agama. Belajar tanpa guru, maka syaithan yang menjadi gurunya, begitu para ulama mengatakan.

Ribath Nurul Hidayah

Dan celakanya, mereka anggap internet itu adalah guru yang kompeten dan pakar dalam agama, akhirnya mereka melupakan dan mengacuhkan kitab-kitab yang dibawakan oleh para guru dalam sebuah majlis talim. Sehingga pantas jika mereka hanya memiliki kemampuan knowledge saja tapi tidak memiliki keunggulan dalam akhlak. Mereka senang menyalahkan perilaku orang lain, gemar menganggap orang lain itu salah, bahkan mereka berani mengatakan orang lain itu melakukan perbuatan syirik dan kafir, karena mereka menganggap orang lain itu melakukan sesuatu yang tidak diajarkan oleh agama. Padahal yang menurut mereka ajaran agama itu sebenarnya adalah ajaran internet. Mereka faham agama sebatas lisan dan mata, bukan kandungan dari agama itu sendiri.

Tidak terlarang mencari pengetahuan dari apapun termasuk dari eyang google dan sebangsanya, tapi yakinkan apa yang kita lihat dan pelajari itu adalah sesuatu yang haq dengan bimbingan seorang guru.

Lihatlah salah satu syarat dalam mencari ilmu, yaitu irsyadul ustadz atau bimbingan seorang guru. Dan perhatikanlah tujuan dari bitsaturrasul,yaitu li utammima makarimal akhlaq atau menyempurnakan akhlak yang baik.

Sujatmiko Huda, Santri Majelis al Musnid Bekasi

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Humor Islam, Quote Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 08 November 2017

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah

Perdamaian adalah syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk hidup makmur dan sejahtera. Dalam hidup bersama yang damai, terbuka kesempatan luas bagi suatu bangsa untuk berkembang membangun diri dan mencapai tujuan bersama. Situasi damai suatu bangsa membutuhkan relasi yang berkeadilan dalam berbagai aspek kehidupan dan mendasarkan diri pada relasi penuh kasih.

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Pengasuh Pondok Pesantren as-Salafiyah Mlangi, Gus Irwan Masduqi di Yogyakarta, Ahad (31/1/2016) menyatakan, gerakan radikalisme memakai dalil kitab suci sebagai legitimasi gerakan untuk membenarkan ideologi mereka. Masalah tafsir kitab suci juga memberi pengaruh cukup besar terhadap umat dalam memahami Islam.

"Jika perbedaan ini dijadikan sebagai dasar perpecahan bahkan menjadi dasar untuk melakukan kekerasan, tidaklah tepat. Rahmatan lil alamin tidaklah hanya kepada sesama umat muslim saja, melainkan kepada setiap orang, juga terhadap binatang dan tumbuh tumbuhan," ujar Gus Irwan pada acara bertajuk ‘Kenduri Kebangsaan: Islam Pelopor Perdamaian Indonesia-Yogya Istimewa Menolak Radikalisme’.

Ia mengungkapkan, di Yogyakarta saat ini banyak mengalir aliran dana untuk mendukung gerakan ISIS. Dana tersebut didistribusikan untuk mendoktrin paham radikal guna merekrut massa. Irwan juga menuturkan, Suriah beserta konfliknya sebenarnya bukanlah konflik agama, namun akhirnya memakai dalil agama sebagai alatnya. Jihad pada awalnya adalah untuk membela diri dari ancaman. Menolong orang miskin, memerangi kemiskinan, menolong orang lain itu juga termasuk Jihad.?

Ribath Nurul Hidayah

Di Yogya, lanjutnya, sudah bertebaran spanduk maupun baliho yang menyatakan bahwa Syiah bukan Islam. Setelah hal tersebut ditelisik ternyata sumber dananya berasal dari Arab Saudi yang tujuannya untuk mengadu domba aliran Syiah yang ada di Indonesia.

Islam masuk di Indonesia, imbuhnya, tidak melalui perang, melainkan melalui jalur budaya. Hal tersebut berbeda dengan Islam Wahabi yang menghancurkan situs-situs peninggalan peradaban nenek moyang.

"Kalau aliran Wahabi yang masuk di Indonesia maka Borobudur sudah lama hilang. Tapi marilah kita menjadikan Islam yang ada di Jogja ini sebagai Islam yang ramah, santun, menghargai budaya dan bukan Islam yang pemarah," ujar Wakil Sekretaris PP Lakpesdam NU itu. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 November 2017

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggandeng Badan Narkotika Nasional provinsi tersebut untuk melaksanakan bimbingan teknis di lingkungan masyarakat. Hampir semua lembaga dan banom NU di lingkungan PWNU Jatim mengikuti acara yang diselengarakan di Kantor BNNP Jatim Jl Ngagel Madya V/22, Bratang, Surabaya Kamis (15/09).

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

"Kegiatan ini Ini adalah awal untuk pencegahan narkoba. Ini adalah awal yang sifatnya koordinatif untuk memerangi narkoba di Jawa Timur," kata Amrin Remico, Ketua BNNP Jawa Timur, saat memberikan sambutan dihadapan 30 peserta perwakilan PWNU Jatim.

Amir Remico berharap kepada ormas Islam terbesar di Indonesia ini, terus berkomitmen bersama BNNP Jatim menyuarakan bebas narkoba, mencegah lebih baik dari pada mengobati. "Kegiatan ini diharapkan bisa menyentuh pesantren dan bisa masuk pada materi khutbah Jumat," pintanya.

Ribath Nurul Hidayah

PWNU Jatim bertekad memerangi penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya. "Dari kita untuk keselamatan generasi bangsa," kata KH Hasan Mutawakkil Alalllah, Ketua PWNU Jatim.

Kiai Mutawakkil juga menegaskan bahwa narkoba tidak kalah bahayanya dengan teroris dan radikal. Narkoba ini musuh bersama semua elemen bangsa termasuk NU. "Semua agama mengharamkan penggunaan narkoba, apalagi sekarang narkoba sudah masuk pada generasi muda," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal serupa juga disampaikan atas nama NU Jawa Timur, akan terus mensosialisasikan pencegahan narkoba di pesantren, madrasah dan sekolah di lingkungan NU. "Hasil kegiatan ini terus kita kawal hingga nantinya akan melahirkan MoU, pembuatan buku saku (pedoman) kepada santri dan masyarakat umum di tahun depan," pungkasnya. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Warta, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Oktober 2017

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Para santri Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar aksi damai pada Hari Perdamaian Internasional di tiga tempat, Ahad (21/9). Mereka membubuhkan tanda tangan dan menuliskan harapan perdamaian dunia di sebuah spanduk besar.

Kepada Ribath Nurul Hidayah, Noor Ridho salah satu pengurus pondok menuturkan acara serupa juga diselenggarakan beberapa pesantren di daerah lain. Dengan mengusung “Peace 360:Peace Leader in Action”, melakukan aksi yang sama.

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Santri Al-Muayyad di Hari Perdamaian

“Kita berharap dari acara ini, masyarakat lebih memahami makna perdamaian,” ujar Ridho.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut pengajar SMP Al-Muayyad itu, perdamaian tidak hanya sebatas aman dari perang, tapi juga bagaimana membangun perdamaian dalam konteks antarumat beragama dan sebagainya.

Faqih, seorang siswa kelas XI SMA Al-Muayyad menuliskan harapannya akan perdamaian. “Hari ini, hari esok, hari nanti, damai sepanjang hari,” kata Faqih mengutip salah satu lsyair pada sebuah lagu. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Aswaja Ribath Nurul Hidayah