Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Jumat pagi (8/3), warga Nahdliyyin di kota Konya, Turki, menemani Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama beberapa kiai berkunjung ke kota Maulana Jalaluddin Rumi.

Rombongan PBNU sudah selesai memenuhi undangan konferensi perdamaian untuk Afganistan yang diselenggarakan pada 4-5 Maret 2013 di Istanbul, dan memenuhi beberapa undangan di Ankara. Sejak pagi buta kiai yang akrab dipanggil Kang Said itu beserta rombongan langsung menuju kota Konya menaiki kereta cepat.

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Niatan yang tadinya hanya ingin berziarah ke beberapa makam auliya di kota ini, ternyata disambut antusias oleh para ulama di Konya. Sukru Ozbugday, yang merupakan Mufti Konya langsung mengutus Mufti Meram, Ahmet Ozkan untuk mengundang rombongan dan menemani selama di Konya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain menceritakan tentang apa itu NU, Kang Said juga menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan antara Turki dan Indonesia. “Kami sangat senang dapat mengunjungi kota Konya. Maulana Jalaluddin Rumi sangat populer di kalangan Nahdliyyin. Alhamdulillah kami sekarang akan berziarah ke makam beliau. Walaupun waktu kami di Konya sangat terbatas, kami berharap hubungan ini akan terus berlanjut,” Kang Said.

Pertemuan ini begitu hangat, apalagi mustasyar PCINU Turki Dr. Seyit Bahcivan yang juga teman sekelas dengan KH. Said Aqil Siroj sewaktu dulu bersama-sama belajar di Ummul Qura University Mekkah juga hadir dalam pertemuan ini dan ikut menemani rombongan. Seakan ingin bernostalgia, DR. Seyit Bahcivan yang sejak awal lengket dengan sahabat lamanya ini pun diisengi oleh Kang Said.

Ribath Nurul Hidayah

“Ya Seyit, dimana janggutmu yang panjangnya se dada itu?. Mengapa sekarang kamu tak berjanggut?” canda Kang Said. Semua yang ada diruangan itu pun tertawa sembari melihat Dr. Seyit Bahcivan yang sudah tak berjanggut lagi.

Di akhir pertemuan singkat itu, Sukru Ozbugday memberikan cendera mata berupa hiasan seni bergambar bunga mawar yang merekah.

“Di Konya, bunga mawar adalah simbol cinta kepada Rasulullah SAW, Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah dapat mempersatukan kita dan umat muslim seluruhnya. Ujar Sukru Ozbugday berharap.

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam beberapa auliya. Maulana Rumi dan gurunya Syamsuddin at-Tibrizi atau yang lebih dikenal dengan Semsi Tebriz menjadi tempat pertama yang diziarahi.

KH Said Aqil Siroj sendiri yang langsung memimpin pembacaan tahlil dan doa. Rombongan juga menyempatkan berziarah ke makam seorang wali yang hidup sezaman dengan Rumi yaitu Sadruddin al-Konawi. Menyadari waktu singkat Kang Said di Konya, di sela-sela ziarah inilah pengurus PCINU Turki berdialog ringan dan menjelaskan kegiatan-kegiatan warga NU di Konya.

“Walaupun usia PCINU Turki masih dibilang baru terbentuk, Alhamdulillah kami istiqomah mengadakan kagiatan-kegiatan diniyyah. Termasuk sebulan yang lalu Alhamdulillah warga NU di Turki berkumpul di Konya untuk mengadakan kagiatan Maulid Nabi dan Harlah NU. Mohon doa dan dukungan kiyai supaya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat kami jalankan secara istiqamah dan bernilai barokah,” papar Abdul Ghaffar Chodri, wakil sekretaris Tanfidziyyah PCINU Turki.

“Kegitan-kegiatan positif seperti itu tentu saya dukung. Tapi yang paling penting ya itu tadi, teman-teman disini bisa mengerjakannya dengan istiqomah. Salam saya untuk teman-teman semua ya,” ujar Kang Said.?

Sebelum kembali ke Istanbul dan terbang ke Indonesia, rombongan juga sempat membeli aksesoris berupa kucuk kur’an (Al-Qur’an super mini yang di Indonesia sering disebut Qur’an Istanbul). Nampaknya, bukan hanya para ulama Konya yang menghormati rombongan ini, pedagang yang menjual aksesoris ini pun sangat senang ketika tahu bahwa mereka adalah rombongan kiai dari Indonesia. Ini terbukti pedagang tersebut langsung memberikan 30 kucuk kur’an yang semuanya bersampul hijau sebagai hadiah.

Walaupun hanya tiga jam Kang Said dan rombongan berada di kota Konya, namun ini menjadi saat yang membahagiakan dan tak terlupakan bagi warga NU di kota Darwis ini.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Abdul Ghaffar Chodri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Syariah, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Senin, 19 Februari 2018

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu

Nganjuk, Ribath Nurul Hidayah. Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (Staida) Krempyang, Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menggelar wisuda untuk kedua kalinya, Selasa (26/5). Perguruan tinggi yang berlokasi di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in ini mewisuda 94 wisudawan.

“Sebanyak 56 wisudawan dari jurusan Tarbiyah dan 38 wisudawan jurusan Syari’ah,” kata ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah.

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Nganjuk Ingatkan Sarjana Berjihad dengan Ilmu

Hadir di deretan tamu undangan adalah sekretaris Kopertais IV Surabaya M. Nuril Huda, direktur pascasarjana IAIN Tulungagung Dr. Asy’aril Muhajir dan forpimda kabupaten Nganjuk. Tampak hadir pula ketua PCNU Nganjuk KH. Hamam Ghozali, sekretaris H. Hasyim Afandi dan ketua PC Muslimat Hj. Sri Minarni.

Saat menyampaikan sambutan, KH. Hamam Ghozali menggarisbawahi bahwa nilai seorang sarjana terletak kepada sifat baik yang dimiliki. “Baik dari sisi lahir maupun batin, tidak cuma tampilannya saja,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai yang akrab disapa Gus Hamam ini berharap agar lulusan Staida yang diwisuda mampu memiliki semangat jihad dalam membangun masyakarat. “Jihad tidak berarti harus mengangkat senjata, tapi berkontribusi positif bagi pembangunan masyarakat melalui ilmu yang dimiliki dengan berdasarkan akhlaqul karimah,” ucapnya.

Pria yang juga ketua Yayasan Islam Al-Ghozali ini juga menjelaskan latar belakang pendirian Staida di lingkungan Pondok Krempyang. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, lanjutnya, harus dicarikan jawaban.

Ribath Nurul Hidayah

“Terlebih fenomena yang dihadapi masyarakat sekarang semakin kompleks, seperti wacana yang menyatakan bahwa wanita tidak perlu masa iddah, transaksi online, penafsiran al-Qur’an yang seenaknya sendiri dan sebagainya,” ujarnya.

Saat memberikan sambutan, sekretaris Kopertais IV M. Nuril Huda lebih banyak memotivasi para wisudawan. Prosesi wisuda, menurutnya, adalah momentum tepat untuk saling memahamkan antara pihak kampus dengan stakeholder. “Terutama dalam memaparkan visi misi dan keunggulan yang dimiliki,” ujarnya.

Alumni Pascasarjana Unesa ini menandaskan bahwa untuk menjadi perguruan tinggi yang mampu menghadapi tantangan globalisasi, Staida harus berbenah diri secara konsisten. Pembangunan citra lembaga (institutional branding) mutlak harus dilakukan.

“Itu dilakukan agar Staida dikenal dunia luar, tidak hanya di Nganjuk, Jawa Timur dan Indonesia, tapi kalau bisa sampai ke luar negeri,” katanya.

Sebagai contoh adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan Staida bernama Pikir. Meski baru setahun terbit, nama jurnal ini ternyata sudah dikenal dengan baik di lingkup Kementerian Agama RI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta. “Saat saya menemui narasumber workshop untuk e-journal di Kemenag RI di Jakarta sana, yang ditanyakan malah jurnal Pikir, bukan kampus Staida. Nah, tugas ini yang menjadi tanggung jawab bersama agar nama kampus juga dikenal, tidak hanya nama jurnalnya saja,” imbuhnya.

Di samping itu, lanjutnya, sebuah kampus juga harus membangun personal branding. Hal ini terkait erat dengan kesiapan modal personal yang ada di dalam kampus. Terutama dari unsur dosen dan mahasiswa. “Alumni harus bangga sebagai lulusan Staida, itu adalah modal awal dari syarat kedua ini,” ucapnya.

Modal intelektual adalah hal pertama yang harus disiapkan alumni sebelum terjun ke masyarakat. Interaksi sosial yang baik dengan berbagai elemen masyarakat juga penting dilakukan. “Modal ketiga baru berbicara ketersediaan dana,” katanya.

Ditemui usai acara wisuda, ketua Staida M. Burhanuddin Ubaidillah menambahkan bahwa pada tahun akademik 2014/2015, banyak kemajuan yang telah diraih. Di tingkat mahasiswa, dari 373 mahasiswa yang menimba ilmu di Staida, terdapat 22 mahasiswa yang memperoleh beasiswa dari Pemprov Jawa Timur.

Kampus yang berdiri sejak 2009 ini memiliki dua program studi. Yaitu manajemen pendidikan Islam (MPI) dan hukum perdata Islam (AS). “Kualifikasi dosen yang mengabdi di sini sudah lulus jenjang S-2 semua, dengan rincian 16 dosen tetap dan 4 dosen tidak tetap,” ungkapnya.

Program ke depan, Staida mencanangkan peningkatan kualifikasi akademik dari para dosen. “Tahun kemarin sudah ada dua dosen Staida yang memperoleh beasiswa penuh dari Kemenag untuk melanjutkan S-3 di UIN Sunan Ampel Surabaya dan satu dosen memperoleh beasiswa serupa untuk menempuh S-2 di UIN Malang,” ujaarnya.

Kelebihan kampus ini adalah berlokasi di Pondok Krempyang, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Nganjuk. “Para dosen di sini juga rata-rata masih muda, sehingga sangat membantu dalam mentransformasikan ilmu dan nilai yang dimiliki kepada para mahasiswa,” imbuhnya.

“Mohon doa restu dari semua pihak, tahun ini ada tujuh dosen Staida yang akan mengikuti seleksi beasiswa penuh dari Kemenag untuk jenjang S-3,” pungkasnya. (Mukani/Mahbib)

?

Foto: Prosesi wisuda Staida

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Makam, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 10 Februari 2018

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tidak sepakat dengan wacana menghidupkan kembali poros tengah jilid dua yang menyatukan partai-partai Islam dalam satu koalisi.

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Sepakat Ide Poros Tengah Jilid II

“Kita tidak ingin ada dikotomi koalisi partai Islam dan non Islam, karena kesannya menjadi primordial. Yang penting kepentingan bangsa didahulukan, karena kalau negara maju, umat Islam sebagai mayoritas juga akan maju,” katanya di gedung PBNU, Sabtu (12/4).

Ia mencontohkan di Timur Tengah, hubungan antara agama dan negara belum menemukan titik temu sehingga sering sekali terjadi konflik antara agama dan negara. 

Ribath Nurul Hidayah

“Di Indonesia, persoalan mendasar kenegaraan tersebut sudah selesai, tinggal bagaimana mensejahterakan rakyat,” imbuhnya.

Ditanya mengenai apakah PBNU akan mengusulkan calon presiden atau wapres kepada partai politik, ia menjelaskan, PBNU tidak ikut dalam politik praktis.

Ribath Nurul Hidayah

“Itu urusan PKB, tetapi tentu dengan tidak meninggalkan PBNU dengan tetap menjaga komunikasi dan sharing pendapat,” tandasnya.

NU, katanya, memiliki agenda yang lebih besar dari partai politik karena urusan NU adalah kebangsaan, bukan politik praktis. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Syariah, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 06 Februari 2018

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Pada tulisan sebelumnya, lahirnya organisasi yang sekarang bernama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ini berawal dari gagasan hasil diskusi para pelajar putri di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta.

Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Panjang Terbentuknya IPNU Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Panjang Terbentuknya "IPNU Putri"

Gagasan ini menjadi semakin matang dengan diusulkannya pembentukan sebuah tim kecil oleh Ahmad Mustahal Masyhud, ketua IPNU cabang Surakarta saat itu, yang juga secara rajin memantau perkembangan gagasan nahdliyyat muda tersebut untuk membuat draf resolusi pendirian IPNU Putri.

Tim yang diketuai Nihayah dan sekretaris Atikah Murtadlo ini menyusun draf resolusi di kediaman Haji Alwi di daerah Sememen-Kauman-Surakarta dan memutuskan untuk memberitahukan adanya rencana resolusi tersebut kepada PP IPNU yang ? berkedudukan di Yogyakarta.

Ribath Nurul Hidayah

Tim juga menetapkan dua orang anggotanya yaitu Umroh Machfudzoh dan Lathifah Hasyim sebagai utusan untuk menemui PP IPNU di Yogyakarta. ? Selanjutnya utusan tersebut berangkat ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP IPNU, M. Tolchah Mansoer.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam pertemuannya, Umroh menyampaikan permintaan tim resolusi IPNU Putri agar PP IPNU dapat menyertakan cabang-cabang yang memiliki pelajar-pelajar putri untuk menjadi peserta/wakil putri pada Kongres I IPNU di Malang. Selanjutnya disepakati pula dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang nantinya dinamakan IPNU Putri.

Dalam Kongres di Malang, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari - 5 Maret 1955, ternyata keberadaan IPNU putri masih diperdebatkan secara alot. Rencana semula yang menyatakan bahwa keberadaan IPNU putri secara administratif menjadi departemen dalam organisasi IPNU. Namun, hasil pembicaraan dengan pengurus PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusifitas IPNU hanya untuk pelajar putra.

Melihat hasil tersebut, pada hari kedua kongres, peserta putri yang terdiri dari lima utusan daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan jajaran teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yakni PB Ma’arif (KH. Syukri Ghozali) dan PP Muslimat (Mahmudah Mawardi).

Dari pembicaraan tersebut menghasilkan keputusan yakni IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dari IPNU. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan-pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretaris Syamsiyah Mutholib.

Maka, sejak tanggal 2 Maret 1955 M/ 8 Rajab 1374 H, yang kemudian diperingati sebagai hari kelahirannya, organisasi pelajar putri NU itu resmi berdiri. Sedangkan Pengurus Pusat (PP) IPNU putri pada saat itu berkedudukan di Surakarta, Jawa Tengah. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Sumber: Wawancara terpisah dengan Umroh M., Nihayah Ahmad Siddiq, dan Mahmudah Nachrowi/ KMNU Mesir.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Antara Kami dan Mereka

Oleh Arrial Thoriq

Mbah Hasyim, ingin kami bercerita kepadamu

Tentang kami, santri-santrimu

Antara Kami dan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Kami dan Mereka (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Kami dan Mereka

Yang belajar di pondok-pondokmu

Dengan mereka, yang suka memaki kami

Yang belajar dari bayangan dan khayal

Tapi sukanya berlaga seperti ulama

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Mereka menyebut kami cucumu yang durhaka

Yang pantas masuk neraka

Padahal kami mengurus NU penuh suka

Lillahi ta’ala tanpa duka

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Kami syi’iran

Mereka mengkafirkan

Kami penuh kesabaran

Mereka penuh kebencian

Antara kami dan mereka

Terdapat parit lebar terbuka

Shalawat Nariyah kata mereka bid’ah

Slametan kata mereka tiada faedahnya

Nderek kyai kata mereka taqlid buta

Jadi santri kata mereka kolot belaka

Mereka boleh sesukanya menyakiti kami

Tapi kalau mereka sampai mengusik Pancasila

Dan menggoyang keutuhan NKRI

Kami, Banser, Fatayat, Muslimat, dan kader NU lainnya

Siap berjihad memenuhi fatwamu Mbah Hasyim

Jihad fi sabilillah mempertahankan Sang Dwiwarna

Di depan kan selalu kami nyanyikan :

Pusaka hati wahai tanah airku

Indonesia negeriku

Engkau panji martabatku

Siapa datang mengancammu

Kan binasa di bawah dulimu!

Arrial Thoriq Setyo Rifano, pelajar SMA Negeri 4 Malang, Jawa Timur



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke-17, Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta menggelar acara Festival Hadrah Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di halaman pesantren, Jumat (10/2).?

Festival hadrah se-DIY yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Ustadz Ahmad Roni juri vokal, Ustadz Anas Fahrudin juri adab, dan Ustadz Yazid Bustomi juri pakaian.?

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Pengasuh Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta, KH Naimul Wain dalam sambutannya mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk menjalin ukhuwah antar-pesantren.?

“Syukur-syukur, bukan hanya ukhuwah pesantren, bukan hanya saling kenal tapi juga bisa ada tindak lanjutnya. Awalnya kenal, tapi akhirnya ada tindak lanjutnya,” ujar Kiai Naim yang disambut sorak-sorai para santri putra dan putri.?

Selain itu, lanjut Kiai Naim, acara ini merupakan upaya kita untuk membangun muhibbin, cinta kepada Rasulullah SAW.

Ribath Nurul Hidayah

“Semakin aktif kita menyelenggarakan acara seperti ini, akan bermunculan para pecinta-pecinta yang mengagungkan cinta kepada Allah SWT, dan Rasulullah SAW,” tegas Kiai Naim yang merupakan suami dari Nyai Hj Siti Chamnah.?

Ribath Nurul Hidayah

Acara festival hadroh tersebut diramaikan oleh 19 grup hadroh dari berbagai pesantren, kampus, sekolah dan majelis taklim yang ada di DIY.?

19 grup hadroh yang ikut di antaranya adalah Ihwanul Qolbi, Azkiyya (Pesantren Nurul Ummah), Fi Hubbil Jalil (Majelis Ta’lim Al-Hidayah, Prambanan), Kasyiful Quroob (MAN 1 Yogyakarta), Al-Jauhar (Pesantren Al-Jauhar Gunung Kidul), Sunan Pandanaran Pi & Sunan Pandanaran Pa (MTs Sunan Pandanaran), al-Mahalli Junior & al-Mahalli Senior (Pesantren al-Mahalli, Bantul).

Taufiqurrahman, As-Sa’adah (Jamaah Masjid Anas bin Malik Sleman), Darul Muslihin (Pesantren Darul Muslihin, Bantul), El-Tsuroyya (Pesantren Muntasyirul Ulum), Darul Adzkiyya’ (MTsN 1 Yogyakarta), Nurani Insani (Pesantren Nurani Insani, Gamping), Tsamrotul Muna (Pesantren al-Munawwir Komplek Q), Syauqol Mujtaba (Pesantren an-Nur Ngrukem), Alba Nada (Pesantren al-Barakah), Al-Layyinah (UIN Sunan Kalijaga). (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Quote Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 Januari 2018

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda? Ansor akan menggelar Halaqah Internasional di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tmabkberas, Jombang pada? Ahad hingga Senin (21-22/5). Kegiatan akan dipusatkan di GOR Hasbullah Said Bahrul Ulum.

Ketua Panitia Halaqah Internasional GP Ansor Sholahul Am Notobuwono mengatakan, kegiatan tersebut bertema "Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban".

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumuskan Perdamaian Dunia, GP Ansor Gelar Halaqah Internasional

"Berbagai persoalan wawasan keagamaan dunia Islam yang terjadi di berbagai negara itu, kami ingin mengetahui lebih detail melalui halaqah ini. Setelah mengetahui kondisinya, forum nanti kami harapkan bisa merumuskan peta jalan menuju rekontekstualisasi Islam demi perdamaian dan harmoni peradaban," ujarnya, Senin (15/5).

Ribath Nurul Hidayah

Pria akrab disapa Gus Aam menjelaskan, ada beberapa persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi Muslim dan non-Muslim. Disamping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.

"Terutama isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim di berbagai negara. Serta keberadaan negara-bangsa modern dan keabsahannya sebagai sistem politik yang mengikat kehidupan umat Islam.," imbuh Katib Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan.

Ribath Nurul Hidayah

Pada kegiatan tersebut, panitia mengundang perwakilan dari berbagai negara untuk menjadi pembicara dalam halaqah tersebut. Di antaranya Syekh Kabir Helminski (Kentucky USA), Shuhaib Benseikh (Marseille, Prancis), Ayeikh Ahmed (Abbadi, Maroko), C Holland Taylor (Bayt Ar Rahmah, USA), Magnus Ranstorp (Stockholm, Swedia), Syeikh Mohammed Abu El Fadl (Kairo, Mesir), Ash Shisty (India), Syeikh Amru Wardani (Kairo, Mesir), Mouhanad Khorchide (University Of Munster, Jerman), dan perwakilan dari Malaysia.

"Untuk undangan yang luar negeri, beberapa sudah konfirmasi kehadiran. Terutama Mesir sudah pasti datang. Komunikasi terus kita lakukan, sudah hampir semuanya memberi kepastian hadir. Kalau pembicara dari dalam negeri ada perwakilan dari Muhammadiyah, pemerintahan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara)," jelas Gus Aam.

Adapun peserta kegiatan ini diperkirakan sekitar 400 orang. Terdiri dari pengurus Ansor dari seluruh Indonesia, kiai-kiai pesantren, akademisi, Forum Musyawarah Ponpes, RMI (Rabitah Mahad Islamiyah), dan utusan Banom (Badan Otonom) NU. "Forum ini dialognya aktif. Jadi, nanti dari beberapa narasumber bisa saling menanggapi secara langsung. Begitupun peserta," bebernya.

Menurut Gus Aam, berbagai pembahasan yang dikaji dalam halaqah internasional itu akan direkomendasikan dibedah kembali di negaranya masing-masing.

"Karena bisa saja persoalan yang sudah dibahas disini nantinya akan relevan dengan yang terjadi di negara lain. Atau bisa saja hasil dari halaqah ini menjadi kesepakatan bersama lintas negara untuk perdamaian dunia dan harmoni peradaban," pungkasnya.

Untuk mensukseskan halaqoh ini, PP Pusat GP Ansor menggandeng Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan PC GP Ansor Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Aswaja, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Ribath Nurul Hidayah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

Ribath Nurul Hidayah

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Pemurnian Aqidah, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Gelar Tuanku Dikukuhkan Untuk Ketua PMII Pariaman

Padangpariaman, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Pariaman Satria Efendi ditetapkan sebagai tuanku pada pengangkatan tuanku di pesantren Madrasah Miftahul Istiqamah (MMI) Sungai Asam kecamatan 2 X 11 VI Lingkungan, Padangpariaman, Sabtu (7/6). Satria dikukuhkan dengan gelar Tuanku Kuning.

Gelar Tuanku Dikukuhkan Untuk Ketua PMII Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Tuanku Dikukuhkan Untuk Ketua PMII Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Tuanku Dikukuhkan Untuk Ketua PMII Pariaman

Gelar Tuanku dikukuhkan setelah Satria Effendi menempuh pendidikan di MMI selama 6 tahun. Normalnya, gelar itu rata-rata dikukuhkan setelah santri menempuh pendidikan selama 10 tahun.

“Alhamdulillah saya menyelesaikannya lebih cepat. Ini berkat dukungan pimpinan pesantren MMI BuyaTuanku Musawir Tuanku Kuning, para guru senior, dan keluarga,” kata Satria Effendi menambahkan.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil pimpinan pesantren MMI Syafrizal Tuanku Bagindo  mengingatkan tuanku yang baru dikukuhkan ini agar selalu memperhatikan larangan bagi seorang tuanku. Di antaranya, ulama tidak boleh digaji, profesi yang harus dijalani dalam keseharian harus pula sesuai dengan status tuanku yang disandangnya. Tetap menjaga adab sebagai seorang tuanku. Pihak keluarga pun diminta menjaga muru’ah tuanku yang disandang anaknya.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini penting ditekankan kepada setiap tuanku yang sudah diangkat dan dikukuhkan. Jangan sampai sikap, perilaku, dan adabnya, sama saja dengan sebelum diangkat jadi tuanku. Kita berharap, para tuanku mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang dimilikinya di tengah masyarakat. Perannya sudah ditunggu untuk turut berperan memperbaiki akhlak umat,” kata Syafrizal Tuanku Bagindo.

Mantan Ketua PMII Kota Pariaman Zeki Aliwardana mengatakan, pengukuhan ini semakin memperkuat perjuangan PMII Kota Pariaman dalam mengawal nilai-nilai Islam Aswaja yang rahmatan lil alamin.

“PMII organisasi yang berpahamkan Aswaja memang harus banyak yang berbasis pesantren. Sehingga memudahkan kadernya untuk terus berkomunikasi dengan para tuanku, ulama khas Pariaman ini,” kata Zeki yang kini diamanahkan Ketua GP Ansor Padangpariaman.

Pengukuhan dihadiri pimpinan pesantren MMI Musawir Tuanku Kuning dan ratusan undangan yang terdiri atas alumni, orangtua, keluarga, dan masyarakat sekitar pesantren. Selain Satria,  3 rekan lain menerima gelar. Defri Tanjung bergelar Tuanku Marajo berasal dari Barangan, Lurah Ampalu. Fuad Jamal bergelar Tuanku Sidi berasal dari Bungo Tanjuang Sungai Geringging. Dedi Sulhendra bergelar Tuanku Sinaro berasal dari Sungai Putih Sungai Geringging. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 Desember 2017

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari

Niat ibadah sangat kuat dianjurkan oleh agama karena didasarkan pada hadits Rasulullah SAW. Saking kuatnya, niat ini sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan dalam sebuah ibadah termasuk puasa baik wajib maupun puasa sunah. Namun demikian ulama berbeda pendapat soal kedudukan niat.

Sebagian mereka menganggap niat itu sebagai syarat sah sebuah ibadah. Sementara sebagian lainnya mengatakan, bukan syarat. Di samping itu, mereka juga mempertanyakan kapan niat itu dilakukan. Semua pertanyaan berdampak panjang yang akhirnya menentukan sebuah ibadah seseorang.

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari

Dalam konteks puasa, kebsahan ibadah kita akan bergantung sekali pada niat di malam hari. lalu bagaimana dengan keesokan harinya? Apakah orang yang niat puasa sebulan penuh tidak perlu mengulang niatnya setiap malam Ramadhan? Lalu bagaimana orang lupa mengikrarkan niat puasa di malam hari?

Berikut ini merupakan keterangan Syekh Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyah Iqna’

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, disyaratkan menjatuhkan niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, “Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.

Ribath Nurul Hidayah

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Redaksi “maka tiada puasa baginya”, maksudnya tidak sah, bukan tidak sempurna. Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah. Karena menurut Syafi’iyah, menganulir keabsahan itu lebih dekat dengan menganulir puasa itu sendiri, dibandingkan hanya menganulir kesempurnaan puasa.

Sementara “Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah” karena Hanafiyah membolehkan niat di siang hari baik puasa wajib maupun puasa sunah.

Atas perbedaan pendapat di kalangan ulama ini, perlu kiranya kita belajar menenggang. Pasalnya mereka berdasar pada sumber hukum Islam yang sama, yaitu hadits dalam konteks ini.

Para ulama madzhab ini ialah orang-orang yang mendapat bimbingan dari Allah. Meminjam istilah Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni dalam Mizanul Kubro-nya, “Ula’ika ‘ala hudan min robbihim. Wa ula’ika humul muflihun.Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 November 2017

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Solo, Ribath Nurul Hidayah -

Ribuan jamaah membanjiri serambi Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19, Sabtu (24/12) malam. Pantauan Ribath Nurul Hidayah, kehadiran mereka bahkan ikut meluber hingga ke halaman masjid.

Dalam sambutannya, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, mengatakan sangat bergembira atas terselenggaranya peringatan ini.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Ini merupakan Harlah yang ke-19, sedangkan untuk penyelenggaraan di Masjid Agung, ini yang ke-7,” kata dia.

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Jateng, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng, dan para tokoh ulama dan pemerintahan di lingkup Kota Surakarta. “Terima kasih kepada bapak Gubernur, dalam kesibukannya, masih sempat ikut keliling shalawat, semoga Jateng tambah berkah dengan shalawat,” ujar Habib Syech.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, Syariah, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Sidoarjo menginginkan Ujian Nasional tingkat SMK/SMA yang akan di gelar 13-15 April dan SMP/MTs tanggal 4-7 Mei mendatang bisa lulus seratus persen.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua IPNU-IPPNU Sidoarjo pada acara doa bersama menjelang ujian nasional tingkat SMP/MTs sederajat yang di gelar di Masjid Agung Sidoarjo, Rabu (8/4) lalu.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Ketua IPNU Sidoarjo M. Syaikhul Maarif mengatakan tujuan digelarnya doa bersama ini untuk melatih spiritual dan mental para pelajar khususnya yang ada di Sidoarjo supaya siap dalam menghadapi Ujian Nasional.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk saat ini doa bersama diikuti oleh pelajar SMP/MTs sekitar 5 ribu peserta. Besok, Kamis (9/4) akan diadakan hal yang sama untuk tingkat SMA/SMK. Kami berharap supaya para pelajar yang mengikuti Ujian Nasional nantinya bisa lulus seratus persen dengan nilai yang memuaskan," kata Syaikhul Maarif kepada Ribath Nurul Hidayah usai menggelar doa bersama.

Hal senada juga diucapkan oleh Ketua IPPNU Sidoarjo Nur Yanti Afidah bahwa dengan dilaksanakannya doa ini nantinya para pelajar baik tingkat SMP atau MTs se-Kabupaten Sidoarjo dapat menyiapkan mental mereka.

Ribath Nurul Hidayah

"Beberapa hari yang lalu para pelajar sudah diberikan materi sebagai bahan pelatihan di sekolah. Maka hari ini kita berdoa bersama semoga mereka mendapatkan nilai yang memuaskan dan lulus seratus persen. Karena perjuangan itu harus disertai dengan doa," pungkas Nur Yanti Afidah.

Dalam pelaksanaan istighosah yang di pimpin langsung oleh Rais Syuriah PC NU Sidoarjo KH Rofiq Siroj dan ditutup dengan doa oleh Ketua PC NU Sidoarjo KH Abdi Manaf itu berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Para pelajar pun berdoa dengan penuh khusu. Mereka berharap pada ujian nanti bisa lulus dengan hasil yang memuaskan dan bisa diterima kejenjang sekolah menengah atas. (Moh Kholidun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Quote, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

"Ringkasnya, Al-Qur’an tampaknya tidak tertarik pada teori khas tentang negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Perhatian utama Al-Qur’an ialah agar masyarakat ditegakkan atas keadilan dan moralitas.” (hal. 24)

Saya kira buku yang ditulis Syafii Ma’arif ini menjadi rujukan penting terkait dengan perdebatan panjang penetapan dasar negara Indonesia. Bukan hanya itu, Buya Syafii juga menarik ke belakang hingga zaman Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, dan zaman kekhalifahan Islam. Ia menyoroti satu per satu rangkaian peristiwa politik mulai dari zaman nabi hingga saat ini, khususnya apa yang terjadi di Indonesia.

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

Buku ini terbagi menjadi 4 bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bab ini, ia menguraikan poin-poin di bab 2, 3, dan 4. Selain itu, alasan melakukan studi tentang Islam dan Pancasila sebagai sebagai dasar negara juga dijelaskan di bab ini, yaitu ia merasa belum adanya studi yang agak lengkap tentang masalah dasar negara Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Bab kedua adalah tentang Islam dan Cita-cita politik. Di sini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan pola pasti dalam mengelola negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Umat Islam bebas menentukan model yang mana, asal asas syuro (musyawarah) harus diterapkan di dalamnya. Karena asas syuro ini lah yang menjadi inti dari Al-Qur’an dalam hal mengatur suatu negara.

Ribath Nurul Hidayah

Praktik syuro (musyawarah) pertama adalah pertemuan di Balai Banu Saidah untuk menentukan pengganti (khalifah) Nabi Muhammad. Pertemuan ini melibatkan semua pihak; perwakilan dari Muhajiri dan Ansar. Setelah perdebatan yang panjang, maka terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

Namun sayang, praktik syuro (musyawarah) ini tidak berkembang pada zaman dinasti-dinasti Islam setelahnya. Mereka ‘mengaku’ sebagai kerajaan Islam, tetapi menggunakan sistem monarki dalam pergantian pemimpinnya, bukan pola musyawarah sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Bab tiga membahas tentang Islam Indonesia pada abad ke-20. Di bab ini, ia mencoba menguraikan peran dan kontribusi organisasi Islam modern yang bercorak sosio-kegamaan seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, organisasi Islam tradisional seperti NU, dan organisasi Islam politik seperti Sarekat Islam pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Perlawanan umat Islam kepada penjajah dijelaskan secara rinci dan detil pada bab ini. Ia juga menyinggung permbentukan Masyumi –sebuah partai yang menjadi payung besar ormas Islam- dan perpecahannya hingga membuat ormas Islam itu berjalan sendiri-sendiri.

Bab terakhir, Islam dan Dasar Negara Indonesia. Penulis buku ini menilai, meskipun para pengusung negara Islam tersebut banyak bicara tentang negara yang berdasakan Islam, namun mereka belum berhasil menyusun karya sistematis dan ilmuah tentang konsep negara Islam yang mereka cita-citakan. Mereka yang ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara Indonesia memandang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam dan Islam jauh lebih unggul dijadikan sebagai dasar negara daripada Pancasila ataupun ideologi lainnya. Maka dari itu, mereka menganggap Islam perlu diterapkan sebagai dasar di negara ini. Pada bab ini pula, penulis buku mengupas tuntas tentang konsep negara Islam yang digagas oleh M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, dan Muhammad Asad.

Antara mereka yang menjadi pendukung Pancasila dan yang mendukung Islam sebagai dasar negara saling serang. Bagi mereka yang mendukung Islam sebagai dasar negara menilai bahwa Pancasila itu sekuler karena sila-sila di dalamnya bukan berasal dari Allah, prinsip-prinsip Pancasila tidak memiliki kebulatan dan kesatuan yang logis, dan lainnya. Sementara yang pendukung Pancasila menolak bahwa Pancasila tidak memiliki kesatuan logika. Mereka juga menolak kalau Pancasila itu adalah sekuler karena mereka menganggap sumber pertama Pancasila adalah Islam.

Meski sudah disetujui bersama dalam sidang BPUPKI tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, namun nyatanya kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara masih saja terus ada hingga saat ini.

Sebetulnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1985 dan tahun 2006. Namun pada tahun 2017 ini, penerbit Mizan kembali menerbitkan buku ini. Saya rasa ini hal yang bagus dan perlu agar bisa menjadi referensi mengingat semakin maraknya kelompok yang ingin merobohkan pondasi Negara Indonesia.? ?

Pada kata pengantar, Buya Syafii menuturkan bahwa perdebatan soal Islam dan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah perkara yang sudah usang dan kedaluarsa. Lebih baik, energi yang terkurang untuk perdebatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan segala permasalahan mendasar bangsa ini dan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saya kira buku ini sangat bagus sekali karena kaya akan referensi. Selamat membaca.

Identitas buku

Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Penulis? ? ? ? ? ? : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit? ? ? ? : Mizan

Cetakan? ? ? ? ? : I, Maret? 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 312 hlm

ISBN? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-441-015-5

Peresensi? ? ? : A Muchlishon Rochmat



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Sejarah, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 November 2017

Masalah Donor Asi (1)

Mentri kesehatan menganjurkan untuk mendonorkan ASI (Air Susu Ibu) untuk bayi yang tidak memiliki ibu. Pertanyaannya: 1) Bolehkah menganjurkanuntuk mendonor ASI bagi orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui nasabnya? 2) Sampai batas manakah susuan itu bisa menyebabkan mahrom dari sisi kualitas dan kuantitas air susu dan dari batas-batas individu yang menjadi mahrom? 3) Bagaimanakah jika kelak terjadi pernikahan antar mahrom susuan? 4) Bagaimanakah struktur mahrom jika air susu yang diberikan kepada bayi-bayi itu adalah campuran ASI dari banyak ibu? 5) Bagaimana sikap NU menindak lanjuti anjuran mentri kesehatan di atas? (Choirul Anwar)

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Pertama-tama saya ingin memberikan apresiasi terhadap penanya. Pertanyaan yang diajukan hemat kami sungguh menarik dan menggugah kesadaran kami, terutama soal ASI. Ada lima pertanyaan yang diajukan kepada kami, dan dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan yang kedua terlebih dahulu untuk mempermudah jawaban atas pertanyaan yang lain.     

Masalah Donor Asi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Masalah Donor Asi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Masalah Donor Asi (1)

ASI merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam al-Quran sendiri terdapat anjuran untuk memberikan ASI kepada bayi yang baru lahir sampai berumur dua tahun.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang menghendaki menyusuinya secara sempurna” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

Pertanyaan kedua terkait dengan kualitas dan kuantitas ASI yang bisa menyebabkan terjadinya hubungan mahram. Kualitas ASI yang bisa menyebabkan adanya hubungan mahram memang kami belum menemukan jawaban yang memadai. Namun sepanjang yang kami ketahui dalam soal kualitas ASI yang menyebabkan adanya hubungan mahram tidak disyaratkan harus memiliki kualitas sebagaimana ketika keluar dari puting susu.

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, meskipun ASI tersebut mengalami perubahan misalnya sebab kemasaman atau mengental tetap saja jika diminumkan kepada bayi yang belum berusia dua tahun dan sampai ke dalam perut, menyebabkan hubungan mahram.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Dan tidak disyaratkan bagi berlakunya keharaman tetapnya ASI pada kondisi ketika terpisah dari payudara. Karenanya apabila ASI tersebut berubah karena kemasaman, mengental, terebus, atau menjadi keju, atau dadih kemudian diberikan kepada anak kecil (yang belum mencapai usia dua tahun) maka haram karena sampainya ASI ke dalam perutnya” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Raudlah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Bairut-al-Maktab al-Islami, 1405 H, juz, 9, h. 4)  

Ribath Nurul Hidayah

Penjelasan ini juga mengandung pemahaman bahwa tidak harus si bayi itu menetek secara langsung, tetapi bisa juga ASI itu dikeluarkan dahulu baru kemudian diminumkan kepada si bayi tersebut dan sampai ke dalam perutnya. Sedang dari sisi kuantitas ASI yang bisa menyebabkan adanya hubungan mahram adalah sekurang-kurangnya adalah lima kali.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Lalu makna lahiriah teks Fath al-Mu’in menyatakan (persusuan yang menjadikan hubungan mahram) itu cukup dengan sampainya air susu perempuan yang menyusui ke dalam perut anak yang disusui lima kali tahapan, meskipun air susu tersebut keluar dari tetek (payudara) sekali tahapan (saja). Dan yang benar bukan seperti itu. Namun air susu itu harus keluar dari tetek lima kali tahapan dan sampai ke perut anak yang disusui lima kali tahapan pula. (Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Mesir-at-Tijariyah al-Kubra, tt, juz, 3, h. 287)

 

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan  serius. Tetapi bagaimana jika susunya adalah campuran dari ASI banyak ibu. Hal ini tentunya akan menimbulkan kesemrawutan mahram. Lantas bagaimana jalan keluarnya, agar tidak terjadi kesemrawutan mahram?

Dalam salah satu keputusan Muktamar NU ke-25 tahun 1971 di Surabya mengenai Mengumpulkan Air Susu dari Beberapa Ibu untuk di Rumah Sakit, dijelaskan bahwa pengumpulan susu oleh rumah sakit dari kaum ibu yang diberikan pada bayi-bayi yang dirawat dalam rumah sakit tersebut bisa menjadikan mahram radha’ dengan syarat

Pertama, perempuan yang diambil air susunya itu masih dalam keadaan hidup, dan (kira-kira) berusia sembilan tahun qamariyah. Kedua, Bayi yang diberi air susu itu, belum mencapai umur dua tahun. Ketiga, Pengambilan dan pemberian air susu tersebut, sekurang-kurangnya lima kali. Keempat, air susu itu harus dari perempuan yang tertentu. Kelima,  semua syarat yang tersebut di atas harus benar-benar yakin (nyata).

Mengacu kepada hasil keputusan Muktamar maka donor ASI itu diperbolehkan dan konsekwensi akan menjadikan adanya hubungan mahram antara si bayi dengan pihak pendonor. Tetapi harus ada syarat-syarat yang dipenuhi sebagaimana yang telah diputuskan dalam Muktamar NU ke-23. Di samping itu ada juga syarat lain yang hemat kami harus dipenuhi, yaitu pihak bayinya itu harus dikenal atau jelas nasabnya. Hal ini tentunya untuk menghindari adanya kerancuan hubungan mahram. Penjelasan ini secara tidak langsung juga merupakan jawaban untuk soal yang pertama.

Tetapi hemat kami, pandangan ini sangat sulit untuk dipraktekkan karena harus menyeleksi dan mengetahui satu persatu pendonor ASI dan bayi yang akan diberi donor ASI agar kelak tidak terjadi kerancaun mahram dan terjadi perkawinan antar mahram susuan.

Sedang mengenai sikap NU secara kelembagaan terhadap anjuran donor ASI dari menteri kesehatan bukan kewenangan kami untuk menjelaskannya. Namun secara pribadi, kami tidak mempersoalkan anjuran tersebut jika terpenuhi syarat-syaratnya, dan ada jaminan dari kementerian kesehatan bahwa kelak tidak ada kerancuan mahram.

Demikian penjelasan yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami bagi ibu-ibu, jangan enggan untuk menyusui anak-anaknya sampai berusia dua tahun karena sangat penting bagi pertumbuhannya. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca. Pertanyaan lainnya akan kami jawab di kesempatan berikutnya, Insyaallah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 23 Oktober 2017

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Selasa, 27 Juni 2017

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur bertekad “melawan” narkoba yang telah menjangkiti anak-anak muda. Untuk itu, GP Ansor? akan mengadakan penyuluhan antinarkoba kepada anak-anak muda dan deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar), kemudian ikrar pemuda santri berprestasi Bondowoso antinarkoba.

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Narkoba, Ini Agenda Akhir Pekan GP Ansor Bondowoso

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada akhir pekan ini yaitu, Jumat- Sabtu (26-27/8) di Ijen View Hotel. Kegiatan tersebut rencananya diikuti 65 peserta; dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat NU, santri dan para Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bondowoso.

“Narasumber penyuluhan ini didatangkan dari Kementerian Sosial dan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor," kata Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di Kantor Markar Besar GP Ansor Bondowoso Selasa malam (23/8).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih rinci Muzammil menjelaskan, pada 27 Agustus, akan diadalan Deklarasi Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) dan Ikrar Pemuda-Santri Bondowoso Anti Narkoba di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Desa Tangsil Wetan, Kecamatan Wonosari. Kegiatan tersebut akan diikuti sekitar1500 orang dari unsur pemuda dan santri dan dihadiri Menteri Sosial RI Hj. Khafifah Indar Parawansa.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Muzammil kegiatan tersebut diadakan kerana akhir-akhir ini peredaran Narkoba sudah merambah ke pelosok-pelosok desa dan tentunya harus diantisipasi sejak dini.

GP Ansor, katanya, akan selalu memberikan penyadaran dan penyuluhan secara intensif kepada kader-kader Ansor agar tidak terpengaruh oleh benda-benda haram tersebut.

Ia juga berharap dengan diadakannya kegiatan terrsebut, ada antisipasi sejak dini yang dilakukan oleh semua pihak terutama pemangku kebijakan yang tergabung dalam Forpimda Kabupaten Bondowoso.

“Semua pihak harus terus memberikan support terhadap pemuda dan santri agar terhindar dari pengaruh benda haram (narkoba),” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Juni 2017

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Rencana pemerintah melalui Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Sofjan Djalil yang melakukan somasi terhadap tayangan Republik Mimpi di Metro TV mendapat perlawanan dari mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan Gus Dur sudah menyiapkan kuasa hukum dari DPP Partai Kebangkitan Bangsa untuk membela tayangan tersebut jika Sofjan Jalil serius melakukan somasi.

Demikian diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali Effendi Ghazali kepada wartawan, usai mengunjungi Gus Dur yang sedang menjalani perawatan di Ruang Cenderawasih Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (2/3) lalu.

Dikatakan Efendi, Gus Dur yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu mengaku terkejut dengan rencana Menkominfo yang melakukan somasi terhadap tayangan parodi tersebut. Pasalnya, para mantan presiden yang ditirukan dalam acara itu justru sama sekali tidak merasa terganggu.

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Gus Dur, seperti dituturkan Effendi sangat mendukung acara parodi politik. “Parodi politik yang merupakan humor politik itu relatif tidak ada batasnya,” ujar Effendi menirukan Gus Dur. Masih mengutip Gus Dur, Effendi mengatakan, pemimpin dan bangsa yang kuat adalah mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Menyoal dukungan yang diberikan Gus Dur, Effendi sendiri merasa terkejut. Karena, kata Effendi, ketika bertemu di rumah sakit Gus Dur tidak membicarakan soal bantuan kuasa hukum tersebut. “Setelah pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Pak Ikhsan Abdullah SH (kuasa hukum Gus Dur dan PKB, red) menelepon saya dan menyatakan siap membantu jika pemerintah serius melakukan somasi,” ungkap Effendi.

Ribath Nurul Hidayah

Munculnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari mantan presiden tersebut membuat Effendi dan kawan-kawan tetap bersemangat menelorkan kreatifitas yang memberikan proses pendidikan dalam melakukan komunikasi politik pada era demokrasi.

“Ini hadiah dari Gus Dur untuk kreatifitas dan dukungan keluarga news.com di seluruh Indonesia. Ini betul-betul surprise. Terima kasih patut kami sampaikan kepada Gus Dur, Ibu Mega dan keluarga Pak Harto yang bisa memahami dan menerima tayangan parodi politik itu,” imbuh Effendi.

Pemerintah Telinga Tipis

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, pendapat senada juga keluar dari mantan Presiden Megwati Soekarnoputri. Megawati, seperti dituturkan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Pramono Anung, tak mempermasalahkan penampilan tokoh Megakarti yang menirukan sosok Megawati. Menurutnya, hal itu masih dalam batas yang wajar.

“Ibu tidak pernah komentar dan senyum-senyum saja melihat tontonan yang menampilkan sosok Megakarti,” ungkap Pramono Anung kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jumat (2/3) lalu.

Rencana somasi itu, lanjut Pramono, menunjukkan betapa pemerintah memiliki telinga tipis dan tidak siap menerima kritik. “Ini konsekuensi pemimpin dan pemerintah yang lahir dalam era reformasi yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berekspresi. Para pemimpin itu harus siap menghadapi parodi politik seperti yang ditampilkan dalam tayangan Republik Mimpi,” papar Pramono.

Apalagi, lanjutnya, parodi yang ditampilkan itu mengungkapkan realitas yang selama ini dirasakan dalam masyarakat. Sebab itu, jika alasan somasi yang bakal diajukan pemerintah itu berkaitan dengan soal etis atau tidak etis, sebaiknya masyarakatlah yang memberikan penilaian. “Silakan tanya masyarakat dong, apa betul acara itu tidak etis. Masyarakat itu sudah pintar dan punya swa-sensor dalam dirinya untuk menentukan etis tidaknya sebuah tayangan televisi,” tandas Pramono. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 31 Mei 2017

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Danstakorwil Banser) Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi menyayangkan bentrokan antara FPI dan GMBI meluas hingga ke daerah di Jabar. Pasalnya segala bentuk anarkisme tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun dengan alasan apapun.

"Kami tak mau tanah Jawa Barat jadi arena peperangan. Urang Islam, urang Sunda mah teu kitu (orang Islam dan orang Sunda tidak seperti itu)," kata Yudi selepas menghadiri undangan Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Anton Carliyan, Jumat (13/1).

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Menurut Yudi, Banser Jabar juga mengkritik gaya yang dipakai FPI dalam mengawal Rizieq Shihab. Sebagai warga negara yang baik, tak perlu "abring-abringan" seperti itu karena siapa pun sama kedudukannya di mata hukum.

"Begitu juga ke GMBI. Serahkan saja kepada kepolisian kasus ini meski memang berdemonstrasi dijamin Undang-Undang," ujar Yudi yang menegaskan bahwa anarkisme kedua kelompok tersebut tidak dibenarkan.

Maka, tuturnya, kesan yang tersiar ke publik pemanggilan Rizieq Shihab sampai dikawal ribuan massa FPI seolah unjuk kekuatan sebagai intervensi hukum, dan adanya massa diluar FPI seolah menandingi gerakan FPI tadi.

Ribath Nurul Hidayah

"Ya jadi bentrok karena yang namanya kerumunan massa lebih dari dua orang akan menimbulkan keberanian yang tak akan terkendali. Coba kalau Rizieq Shihab datangnya biasa, dan massa GMBI juga menunggu respon kepolisian," ucapnya.

Atas insiden yang telah mencoreng Bumi Parahyangan ini, Banser Jabar mengintruksikan kepada Banser di Kota/Kabupaten se-Jabar untuk terus menjaga kenyamanan warga, terutama warga NU.

"Ada apa dibalik semua itu, kita harus jeli," kata Yudi.?

Sebelumnya buntut dari bentrokan di Jalan Soekarno Hatta Bandung, sejumlah Sekretariat GMBI diberbagai daerah seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis dirusak massa. (Nurjani/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Kajian, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Senin, 22 Mei 2017

Menangi Kompetisi Menulis, 2 Santri Ini Bakal Kunjungi Perpustakaan Terbaik ASEAN

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Setelah melalui tahap seleksi 50 orang dari 357 nominator 1st Santri Writer Summit yang digelar Kementrian Agama RI bersama Komunitas Santri Nulis dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2017 di UI Depok.

Sebagai pemenang, terpilih Annas Rolli Muchlisin, santri Pesantren Al Muhsin, Yogyakarta untuk kategori essay. 

Menangi Kompetisi Menulis, 2 Santri Ini Bakal Kunjungi Perpustakaan Terbaik ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Menangi Kompetisi Menulis, 2 Santri Ini Bakal Kunjungi Perpustakaan Terbaik ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Menangi Kompetisi Menulis, 2 Santri Ini Bakal Kunjungi Perpustakaan Terbaik ASEAN

Adapun predikat The Best Delegation (delegasi terbaik) diraih oleh Sidik Nur Thoha, santri perwakilan dari Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta. 

Setelah pemenang diumumkan panitia, oleh Saiful Falah, founder Komunitas Santri Nulis meminta kepada Anas yang juga alumni Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan dan Sidik, alumni Pesantren Ihya’ Ulumuddin, Kesugihan Cilacap ini untuk segera mengurus paspor.

Ribath Nurul Hidayah

“Tolong nanti segera urus paspornya ya!” kata Saiful. 

Lebih lanjut, Saiful langsung menanyakan “atau kalian sudah punya paspor?”

Ribath Nurul Hidayah

Ternyata dari dua pemenang ini masing-masing sudah mempunyai paspor lama, dan belum digunakan sama sekali. 

Kepada Ribath Nurul Hidayah, Anas mengaku, ia telah membuat paspor dua tahun silam setelah ia membaca buku Rhenald Kasali yang memberikan motivasi bagi pemuda siapapun yang ingin ke luar negeri, untuk membuat paspor terlebih dahulu.

 

“Saya sudah bikin paspor sejak dua tahun yang lalu setelah membaca artikel Prof Rhenald Kasali yang menganjurkan agar pemuda yang ingin ke luar negeri harus punya paspor terlebih dahulu. Saya bikin, dan setelah dua tahun paspor ini menanggur, alhamdulillah akan segera dapat digunakan untuk pergi ke Singapura,” tegasnya. 

Setali tiga uang, Sidiq yang membuat paspor beberapa waktu lalu pada semester ini mengaku, ia yakin, suatu saat nanti, ia akan dapat pergi ke luar negeri. Dan benar, kali ini ia mendapatkanya. 

“Saya bikin paspor karena punya cita-cita dan keyakinan kuat akan dapat kesempatan ke luar negri,” kata remaja kelahiran Purbalingga tersebut. 

Rencananya, mereka berdua akan diajak ke Perpustakaan Singapura, perpustakaan yang masuk kategori terbaik di ASEAN.

“Nanti akan saya ajak ke Perpustakaan Singapura. Perpustakaan ini adalah perpustakaan ramah anak. Jadi yang datang tidak hanya orang dewasa, tapi ada pula rombongan anak-anak,” jelas salah satu guru di Pesantren Darul Quro Leuwiliang yang akrab disapa Kang Falah ini. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Syariah, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Mei 2017

Yordania Akan Pasang CCTV di Kompleks Al Aqsa

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Juru Bicara Pemerintah Yordania, yang juga merangkap Menteri Negara untuk Urusan Media dan Komunikasi, Mohammad Momani, menyatakan, Yordania akan memasang kamera pengawas (CCTV) di kompleks Masjid Al Aqsa/ Al Haram Al Sharif.

Yordania Akan Pasang CCTV di Kompleks Al Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Yordania Akan Pasang CCTV di Kompleks Al Aqsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Yordania Akan Pasang CCTV di Kompleks Al Aqsa

Demikian pernyataan pers dari Kedutaan Besar Indonesia di Amman, Yordania, yang diterima di Jakarta, Kamis.

Momani, lebih lanjut menekankan bahwa Yordania berhak untuk melakukan hal ini karena Raja Yordania, Abdullah II, mempunyai hak perwalian Masjid Al Aqsa sesuai dengan ketentuan perjanjian damai Yordania-Israel yang ditandatangani pada 1994.

Pemasangan kamera pengawas memungkinkan 1,7 miliar umat Islam di seluruh dunia tetap terhubung dengan salah satu tempat suci utama Agama Islam dan juga melihat jamaah beribadah di sana.

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini seperti halnya masyarakat Muslim seluruh dunia melihat Masjidil Haram dari kamera dan disiarkan TV Saudi Arabia (KSA) selama 24 jam.?

Rekaman kamera pengawas di Masjid Al-Aqsa juga dapat memperlihatkan semua pelanggaran dan kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina, serta serangan terhadap tempat-tempat suci Islam yang dilakukan oleh tentara dan otoritas Israel.

Departemen Awqaf Palestina dan Kementerian Wakaf Yordania akan bertanggung jawab atas operasional kamera yang akan memantau area seluas 144 dunum, atau 144.000 meter persegi (1 Dunum Syam = 1.000 meter persegi).?

Pemasangan kamera pengawas ini menunjukan bahwa Yordania menekankan pentingnya penegakan hukum, moral, agama dan dukungan dari semua umat di dunia untuk menjaga tempat-tempat suci terhadap pelanggaran dan kesewenang-wenangan Israel. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Humor Islam, News Ribath Nurul Hidayah