Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Jaringan Gusdurian Indonesia menyoroti kasus kekerasan yang kembali pecah di tanah Papua menyusul tewasnya 7 warga Paniai dan belasan orang luka-luka, Senin (8/12) kemarin. Pemerintah Jokowi-JK harus mencari jalan lain di luar pendekatan keamanan.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid di Jakarta, Selasa (9/12) mengatakan, pihaknya mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan kepada warga Paniai Papua. Secara khusus ia meminta kepada Jokowi sebagai Presiden yang bertanggungjawab atas seluruh wilayah RI untuk tidak mengedepankan pendekatan keamanan dan represi dalam mengatasi berbagai persoalan di Papua.

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Papua, Gusdurian Minta Jokowi Tak Gunakan Pendekatan Keamanan

“Gusdurian juga meminta kepada semua pihak yang berkonflik di Papua untuk menahan diri dan mengedepankan dialog demi masa depan Papua yang damai, adil, dan sejahtera,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, kekerasan yang melibatkan aparat keamanan seringkali terjadi di Papua. Sudah sekian lama, masyarakat Papua mengalami diskriminasi dan represi. Seringkali, berbagai persoalan di Papua selalu dilihat dari kacamata keamanan semata sehingga pendekatan represi selalu dikedepankan.

Ribath Nurul Hidayah

Di sisi lain, kekayaan alam Papua yang disedot habis oleh korporasi multinasional, namun di sisi lain masyarakat Papua justru tertinggal secara sosial, ekonomi, dan politik hingga seolah menjadi warga negara Indonesia kelas dua. Pecahnya kerusuhan di Paniai berada dalam konteks? seperti itu. Kekerasan di Papua harus dihentikan dan keadilan ekonomi-politik di Papua harus ditegakkan.

“Gusdurian meminta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan diskriminasi sosial, politik, dan ekonomi terhadap warga Papua demi terciptanya keadilan di Papua,” kata Alissa.

Menurutnya, saat menjabat presiden Gus Dur selalu mengedepankan dialog dan upaya non-kekerasan dalam menghadapi masalah di Papua. Upaya-upaya non-militeristik dan dialog seharusnya juga dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi-JK dalam menangani berbagai persoalan di Papua. Sebagai pemimpin baru, Jokowi-JK sudah selayaknya mencari jalan lain di luar pendekatan keamanan dan militeristik yang selama ini selalu dilakukan.

Dalam keempatan itu Alissa menghimbau kepada seluruh Gusdurian untuk terus terlibat aktif dalam aksi dan kegiatan menegakkan keadilan sosial, ekonomi, dan politik. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Santri putri Ribath Al-Mubtadiin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang punya cara unik dalam memeriahkan HUT Ke-72 RI. Mereka mengisi kemerdekaan RI dengan mengadakan lomba-lomba ringan seperti makan kerupuk, memindahkan air dengan tangan, membawa tepung dan beberapa lomba lainnya, Ahad (20/8).

Lomba-lomba ini khusus santri putri dan dilakukan sejak pagi pukul 06.00 WIB hingga azan zuhur datang. Lokasi lomba berada di lahan kosong barat asrama putri Al-Mubtadiin. Panitianya juga perempuan. Mereka secara kreatif melakukan persiapan sendiri dan mengatur lomba sendiri.

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba

Pengasuh Ribath, Hj Maslachatul Ammah (Neng Laha), menyebutkan lomba-lomba kecil ini bertujuan mengisi libur santri dan meningkatkan kekompakan antarsantri. Oleh karenanya, kebanyakan perlombaan yang dilakukan di sini lebih menekankan kerja tim.

"Pengasuh berharap ini bisa menjadikan hiburan yang mendidik bagi santri putri kita. Dalam lomba-lomba ringan ini saya anjurkan untuk lebih fokus ke kerja sama kelompok," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Neng Laha mengaku membebaskan para santri memilih lomba yang mereka sukai dengan batasan harus ada nilai pendidikannya seperti pentingnya pemimpin, kerja sama, gotong royong, dan kesiagaan. Untuk hadiah perlombaan panitia juga menyiapkan berbagai hal unik lainnya.

Hadiah lomba bukan berupa uang tunai, melainkan makanan ringan yang dimasukan ke dalam kardus besar. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan lomba bukanlah hadiahnya melainkan proses lomba itu sendiri yang perlu dihayati. Meskipun begitu, para peserta tampak penuh ceria menjalani lomba yang disediakan panitia. Gelak tawa dan canda gurau terus mengalir deras selama proses lomba.

"Kita siapkan anggaran khusus buat lomba ini, itung-itung hiburan. Kasian anak-anak kalau libur sekolah dan ngaji hanya diisi dengan tidur di kamar," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Senin, 08 Januari 2018

Kiai Munawir Jelaskan Kedudukan Mahrom Haji Bagi Perempuan

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung KH Munawir mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan mahrom bagi perempuan yang melaksanakan ibadab haji.

Kiai Munawir Jelaskan Kedudukan Mahrom Haji Bagi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munawir Jelaskan Kedudukan Mahrom Haji Bagi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munawir Jelaskan Kedudukan Mahrom Haji Bagi Perempuan

Menurut Imam Syafii, perempuan boleh melakukan perjalanan jauh apabila bersama dengan perempuan muslimah, merdeka dan dapat di percaya. "Sedangkan menurut Wabah Zuhaili dalam Fiqhul Islam, perempuan boleh menunaikan ibadah haji sendirian, kalau dalam keadaan aman, tidak menimbulkan fitnah dan dapat menjaga dirinya," tambahnya

Sementara Imam Abu Hanifah menegaskan perempuan tidak boleh bepergian lebih dari tiga hari kecuali ada suami atau mahrom bersamanya.

Maka dari kedua pendapat ini, lanjutnya, dapat disimpulkan bahwa keberadaan mahrom bukan merupakan sarat mutlak, melainkan sarat yang di perlukan dalam perjalanan yang tidak terjamin keamanannya, baik dari kejahatan maupun fitnah lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sedangkan untuk masalah perempuan saat idah berhaji lanjut Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini, berdasarkan dalil syara secara tegas melarang perempuan yang dalam masa idah untuk keluar rumah.

"Namun sebagian ulama salaf ada yang memperbolehkan juga perempuan yang dalam masa idah menunaikan ibadah haji, hal ini berdasarkan hadis Nabi yang menjelaskan bahwa Aisyah RA dan Umi Kalsum berangkat ke Mekah untuk melaksanakan umroh," terangnya.

Walaupun perempuan yang masih dalam masa idah diperbolehkan untuk menjalankan ibadah haji dan umroh tetapi perempuan tersebut diwajibkan untuk ihdad atau melaksanakan aturan-aturan di masa idah seperti tidak boleh berhias dan lain lain.

Ribath Nurul Hidayah

Beberapa hal terkait Fiqh ini menjadi salah satu bahasan pada Mudzakarah Nasional Perhajian Indonesia tahun 2017 yang ia ikuti. Kegiatan yang bertemakan "Masail Waqiyah dan Fiqh Haji Wanita" ini dibuka oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta Jumat (28/4) lalu di Jakarta dan berlangsung selama 3 hari dari 28 sampai dengan 30 April 2017. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Doa, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Desember 2017

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustad, saya mau nanya mengenai hajinya perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suami. Karena saya mendengar bahwa perempuan yang masih dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh pergi haji. Padahal dia sudah menunggu antrian ini selama tujuh tahun, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun ketika mau berangkat suami meninggal dunia. Apakah ada pandangan yang memperbolehkan perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suaminunya pergi haji? Atas penjelasannya saya sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Wulan/Kalbar)

 

Jawaban

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam, dan diwajibkan sekali seumur hidup bagi orang yang sudah mampu melaksanakannya. Momen pergi haji adalah merupakan momen yang sangat dinanti-nanti dan diharapkan setiap Muslim, tak terkecuali penduduk Muslim Indonesia.

Pergi haji bahkan sudah menjadi dambaan setiap Muslim. Tetapi untuk bisa menunaikan rukun Islam tersebut harus butuh perjuangan dan kesabaran yang luar biasa. Terbatasnya kuota haji menyebabkan calon jamaah haji Indonesia harus bersabar menunggu antrian minimal lima tahun sampai sepuluh tahun, bahkan lebih.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana semuanya sudah dipersiapkan sejak lama baik material maupun non-material. Namun tiba-tiba pas mau berangkat ternyata terhalang iddah yang belum selesai. Padahal belum tentu juga tahun depan bisa mendapatkan kesempatan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa iddah seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt berikut ini:

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -?: 234

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Q.S Al-Baqarah [2]: 234)

Mayoritas ulama menyatakan bahwa perempuan yang menjalani iddah karena ditinggal mati selama menjalani masa iddahnya harus tinggal di rumahnya. Karenanya ia tidak boleh keluar untuk pergi haji dan lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Secara global perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh perg haji dan selainnya. Pandangan ini diriwayatkan dari sayyidina ‘Umar ra dan ‘Utsman ra. Pandangan ini kemudian dikemukakan oleh Sa’id bin al-Musayyab, al-Qasim, Malik, asy-Syafi’i, Abu ‘Ubaid, kalangan rasionalis (pengikut Madzhab Hanafi, pent) dan ats-Tsauri” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Bairut-Dar al-Fikr cet ke-1, 1405 H, juz, 9, h. 184)

Mereka berdalil dengan perintah Rasulullah saw kepada Furai’ah binti Malik bin Sinan yang ditinggal mati suaminya, agar tetap tinggal di rumahnya sampai selesai masa iddahnya. Lantas ia pun menjalani iddahnya selama empat bulan sepuluh hari.

  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?. “Tinggallah di rumah suamimu dimana datang di dalam rumah tersebut berita duka kematiannya kepadamu sampai selesai masa iddah. Maka aku pun menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari di rumah tersebut” (H.R. Ahmad).

Namun ada pandangan lain yang memperbolehkan seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya untuk menjalankan ibadah haji. Di antara yang berpandangan demikian adalah ‘Atha` dan al-Hasan al-Bashri. Hal ini sebagaimana didokumentasikan dalam kitab al-Muhalla oleh Ibnu Hazm.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dari jalur Isma’il Ibn Ishaq telah mengkabarkan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah telah mengkabarkan kepadku ‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi dari Habib al-Mu’allim, saya pernah bertanya kepada ‘Atha` tentang perempuan yang ditalak tiga kali (talak bain) atau perempuan yang ditinggal mati suaminya, apakah keduanya boleh menunaikan ibadah haji ketika masih dalam masa iddahnya? ‘Atha` pun menjawab, ya (boleh). Dan al-Hasan al-Bashri juga berpandangan sama dengan ‘Atha’. (Ibnu Hazm, al-Muhalla, Mesir-Idarah ath-Thiba’ah al-Munirah, cet ke-1, 1352 H, juz, 10, h. 285).

Salah satu dalil yang dijadikan rujukan pandangan kedua adalah kasus sayyidah ‘Aisyah yang keluar bersama saudaranya yaitu Ummu Kultusm ketika suaminya (Ummu Kultsum) Thalhah bin ‘Ubaid menuju Makkah untuk melakukaun umrah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“’Abdurrazzak mengatakan, Ma’mar telah menceritkan kepada kami dari az-Zuhri dari ‘Urwah ia berkata, sayyidah ‘Aisyah ra pernah keluar dengan saudara perempuannya yaitu Ummi Kultsum ketika Thalhah bin ‘Ubaidillah suami Ummi Kultsum terbunuh, ke Makkah untuk melakukan umrah. Dan sayyidah ‘Aisyah telah memfatwakan kebolehan keluar rumah bagi seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya.”. (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1963, juz, 3, h. 177)  

Di antara kedua pandangan yang kami kemukakan, yang dianggap kuat (rajih) adalah pandangan mayoritas ulama karena didukung dalil sahih dan kuat. Namun dalam sebuah kaidah fikih dikatakan:   

? ? ? ? ? ? ? ?

“Pandangan lain yang masih diperselisihkan tidak boleh serta merta diingkari, sementara pandangan yang telah disepakati ulama tidak boleh diingkari dengan yang sebaliknya”. (Jalaluddin as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-Dar al-Fikr, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H, h. 158).

Apa yang kami kemukakan, jika ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka pada dasarnya mengenai persoalan boleh-tidaknya perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suami adalah persoalan yang masih diperselisihkan di antara para ulama. Ada yang mengatakan tidak boleh, dan ada yang mengatakan boleh.

Meskipun pandangan kedua dianggap lemah (marjuh), namun tidak dengan serta merta dapat dinafikan begitu saja. Karenanya hemat kami pandangan kedua bisa diambil sebagai rujukan dengan pertimbangan hajat, seperti sudah membayar ongkos naik haji dan biaya-biaya lainnya yang tidak sedikit.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukan. Semoga bermanfaat, dan saran kami untuk yang ditinggalkan suami, bersabarlah, dan banyak-banyak berdoa. Dan yakinlah bahwa setelah kesukaran pasti akan ada kemudahan. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)     

 

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 Desember 2017

LAZISNU Harus Jadi Andalan Pemberdayaan

Sumenep, Ribath Nurul Hidayah. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) harus diaktifkan di NU hingga ke tingkat ranting sebagai andalan pemberdayaan umat.

 

LAZISNU Harus Jadi Andalan Pemberdayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Harus Jadi Andalan Pemberdayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Harus Jadi Andalan Pemberdayaan

Menurut Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik, hingga saat ini, NU masih abai dalam mengaktifkan lembaga ini. Padahal zakat, infaq, dan shadaqah sudah menjadi kegiatan warga Nahdliyin.

 

Contohnya, di sebuah kampung, berdiri sebuah masjid, pesantren, atau madrasah. Jika diteliti, biaya pembangunan itu berasal dari masyarakat sendiri melalui “urunan” atau bergotong-royong.  Kebiasaan semacam itu bisa koordinir dengan baik melalui lembaga zakat.

 

Ribath Nurul Hidayah

Setelah diadakan penelitian, LAZISNU mmenyimpulkan, karena hal yang berkaitan zakat, mau tidak mau harus diperlakukan sebagai lembaga keuangan.

Ribath Nurul Hidayah

 

“Yang namanya lembaga keuangan, kuncinya mau tidak mau adalah profesionalisme, akuntabilitas dan transparan,” katanya Kiai Masyhuri pada Rapimda LTM-PBNU di kantor PCNU Kabupeten Sumenep, Madura, pada Sabtu-Ahad (26-27/01).

 

Rapimda tersebut dalam rangka konsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan ta’mir masjid. Merupakan kegiatan LTM-PBNU bekerjasama dengan PCNU Kabupeten Sumenep dan minuman Larutan Penyegar cap Badak PT Sinde Budi Sentosa, denagn tema Wujudkan masjid sebagai pemberdayaan Umat.

 

Dengan memperlakukan zakat sebagai lembaga keuangan yang profesional; akuntabel, dan transparan, mendorong para muzakki (orang yang berzakat), munfiq (orang yang berinfaq), dan mutashodiq (orang yang bersedekah) lebih percaya.

 

“Tanpa itu, meskipun jujur, setidaknya akan dicurigai,” katanya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio

Taiwan, Ribath Nurul Hidayah. Kekuatan ruhani lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan rasio. Artinya hubungam karena ilmu agama lebih kuat jika dibandingkan ilmu pengetahuan lain. “Kalau tiap lebaran kita pasti silaturahmi dengan kiai, santri dengan kiai. Namun adakah mahasiswa atau siswa yang sowan dosen atau gurunya?” terang KH Musthofa Aqiel di depan jamaah tabligh akbar di Taichung, Taiwan, 6 Februari 2011.



Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio

Tabligh Akbar kerjasama Pengurus Cabang Istimewa (PCI NU) Taiwan dengan Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT) terlebih dahulu diawali dengan tahlil dan istighotsah untuk melestarikan tradisi NU. “Ini adalah tradisi yang harus kita lestarikan,” ujar Imam Buchori, Ketua Tanfidziyyah PCI NU Taiwan.

Dalam ceramahnya, kiai yang akrab dipanggil Kang Muh ini juga menceritakan sejarah singkat berdirinya NU. Para ulama NU dalam mengajak masyarakat menggunakan cara-cara yang baik dan beradaptasi dengan tradisi.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, sambutan atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama disampaikan oleh H. Arvin Hakim Thoha. "Saya menyampaikan salam dari Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang tidak bisa hadir di sini karena akan berkunjung ke Libya," kata Arvin.

Arvin juga mengingatkan para TKI agar tidak melupakan tujuan utamanya bekerja di Taiwan. “Anda semua di sini niatnya bekerja mencari nafkah untuk keluarga di Indonesia. Ingat tujuan utama itu dan niatilah karena Allah,” kata Arvin.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan ini, Imam Masjid Taichung, Abdullah, selaku tuan rumah menyerahkan cindera mata yang diterima langsung oleh KH Musthofa Aqiel sebagai kenang-kenangan.

Malam sebelumnya, KH Musthofa Aqiel juga sempat berdialog dengan para TKI seputar hukum Islam. Kang Muh mengajarkan bahwa istighfar adalah doa yang paling mujarab. “Ketika Nabi Adam dikeluarkan dari surga dan mencari Siti Hawa, Allah memerintahkan Nabi Adam untuk bersistighfar,” jelas Pengasuh Ponpes. Kempek ini. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Presiden DPP Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Saiful Bahri Anshori menyayangkan sikap sepihak PT Chevron Pasific Indonesia yang melakukan pengurangan karyawan dalam jumlah besar tanpa mekanisme yang berlaku dalam perundang-undangan. Saiful melihat sikap sepihak ini sebagai sebuah sikap semena-mena terhadap hukum yang berlaku.

"PT Chevron Pasific Indonesia sebagai perusahaan multi nasional dalam eksplorasi Migas dan pertambangan di Indonesia seharusnya menaati dan mengetahui bagaimana proses dan mekanisme hukum di Indonesia," ujar Saiful didampingi Sekretaris Jendral Sukitman Sudjatmiko di Jakarta, Kamis (4/2).

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Lihat PT Chevron Secara Sepihak Kurangi Karyawan Jumlah Besar

Menurut Saiful, PT Chevron Pasific Indonesia tanpa melakukan perundingan dengan melibatkan serikat buruh yang berada di perusahaan tersebut langsung melakukan sosialisasi kepada seluruh buruh dan karyawannya mengenai akan adanya pengurangan karyawan sebanyak 25 persen (sekitar 2.000 orang karyawan) dari jumlah seluruh karyawan yang ada sekitar 6.500 karyawan.

Atas dasar pandangan itu, pihak Sarbumusi menuntut Presiden Republik Indonesia untuk mengevaluasi seluruh perusahaan asing dan investor asing yang selama ini ditengarai tidak tunduk dan mau mengikuti peraturan perundang undangan yang berlaku di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Sarekat buruh NU ini juga mendesak Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk selalu melakukan pengawasan dan mengawal proses program reorganisasi di PT Chevron Pasific Indonesia agar sesuai dengan koridor perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Sarbumusi juga mengimbau pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia untuk tunduk dan patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan menyesuaikan seluruh kebijakan korporat dengan aturan di Indonesia.

Menurut Saiful, pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia sebaiknya mengedepankan komunikasi dan konsultasi yang baik dalam perundingan Bipartit agar dicapai solusi terbaik sehingga tidak diperlukan lagi pengunduran diri karyawan massal sebanyak 1.600 orang.

Sarbumusi meminta SKK Migas dan Kementerian ESDM RI memonitor dan melakukan evaluasi terhadap pihak Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia agar tidak melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Demikian pernyataan sikap DPP K Sarbumusi dalam rangka menegakkan peraturan dan mekanisme perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Sarbumusi menolak berbagai bentuk penindasan buruh dengan cara memperkuat persatuan dan solidaritas di antara sesama buruh dan rakyat Indonesia," pungkas Saiful. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jombang menggelar doa bersama di kantor PCNU setempat, Sabtu (20/8). Mereka mendoakan bangsa Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berintegritas untuk membangun persatuan.

Tak lupa, mereka juga mendoakan para pahlawan yang gugur sebab merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan. Bagi mereka, kemerdekaan Indonesia yang dirasakan oleh bangsa saat ini adalah hasil perjuangan berdarah para pahlawan saat mengusir penjajah dari tanah air ini.

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Abdul Haris, Ketua PC IPNU Jombang berharap kader IPNU-IPPNU dapat berkontemplasi dari sejumlah perjuangan yang telah ditorehkan para pahlawan kemerdekaan, termasuk para kiai yang juga berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia ini.

"Kami berharap setelah memperingati kemerdekaan ini, para kader IPNU-IPPNU se-Jombang dapat menghayati makna kemerdekaan yang kemudian dapat berprestasi untuk mengharumkan Indonesia," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Haris menambahkan, perjuangan para pahlawan saat itu tak bisa diganti dengan apapun oleh bangsa Indonesia saat ini, kecuali hanya bisa mendoakan agar perjuangan mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat dan tergolong para syuhada. Di samping berdoa, katanya, penting juga memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki bangsa saat ini.

Pada saat yang sama, pihaknya juga menggelar berbagai lomba untuk meriahkan HUT RI. Di antaranya lomba makan pisang, cari koin dalam tepung, dan juga sepak bola contong.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ini diawali apel sekaligus menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars organisasi IPNU-IPPNU serta lagu "Ya Ahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai penutupnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu itu dengan khidmat. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Senin, 27 November 2017

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rakernas Fatayat NU yang berlangsung pada 3-6 Mei di Puncak yang dihadiri oleh 25  Pengurus Wilayah se Indonesia memutuskan akan melakukan konsolidasi struktural dan kultural untuk mengatasi Islam transnasional yang kini berkembang di Indonesia.

Ketua Umum Fatayat NU Maria Ulfa Anshor ketika dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Senin, menjelaskan langkah kongrit yang akan dilakukan adalah menghidupkan Fatayat sampai ke tingkat ranting dan membuat anak ranting dengan berbasiskan masjid dan musholla.

Sebelumnya, dalam acara pembukaan, Maria Ulfa menjelaskan ia telah mendapatkan laporan bahwa Islam transnasional telah masuk sampai ke Bau Bau di Pulau Buton, daerah yang harus ditempuh beberapa jam dari Kendari Sulteng. MUI setempat yang dikuasai oleh Islam transnasional membidahkan tradisi tahlilan dan yasinan yang sudah diselenggarakan oleh nahdliyyin sejak lama.

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Perkuat Konsolidasi Struktural dan Kultural

Kader-kader Fatayat NU kini juga menjadi obyek yang ditarik-tarik oleh Islam transnasional untuk menjadi anggotanya. Neng Dara Afiah, salah satu ketua Fatayat menambahkan bahwa untuk mengatasi hal ini Fatayat akan memperkuat basisnya di majelit taklim, pengajian, dan pesantren yang menjadi basis Fatayat NU.

Sementara itu berkaitan dengan pendidikan, Fatayat NU akan berusaha meningkatkan kembali semangat pendidikan yang berlandaskan ahlusunnah wal jamaa. Lahirnya Fatayat NU dilandasi semangat pendidikan, disamping membenahi pendidikan yang ada, harus ada pengembangan pendidikan, mendirikan TK, SD dan lainnya,” tandas Neng Dara, Senin.

Untuk bidang keseahatan, Fatayat NU menyatakan rasa prihatin melihat kondisi kesehatan perempuan sangat mengkhawatirkan dan bahkan terburuk di Asia Tenggara mengalahkan Vietnam yang baru merdeka.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Fatayat akan mengoptimalkan kemandirian ekonomi dikalangan Fatayat NU. Kemandirian ekonomi bukan sesuatu yang baru dikalangan peremupan NU, namun harus terus dikembangkan.

Fatayat juga berharap agar perempuan bukan hanya sebagai legitimator dalam bidang politik, namun ditingkatkan dalam pengambilan keputusan publik yang mempengaruhi kepentingan perempuan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susianah Affandi mengatakan, kelompok ekstremis menyasar anak-anak sebagai target perekrutan. Alasannya, anak-anak dinilai masih polos dan belum bisa menyaring mana konten yang mengandung unsur ektrimisme-radikalisme dan mana yang tidak.

“Karena mereka kan masih polos dan mereka tidak bisa menolak,” kata Susianah selepas mengisi acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Jakarta, Selasa (29/8).

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi kepada para orang tua tentang ideologi radikalisme dan ekstremisme. Sehingga mereka sadar dan mawas diri akan bahaya gerakan-gerakan yang mengarah kepada terorisme.

“Yang harus dilakukan adalah penguatan ketahanan keluarga,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) itu menyebutkan, anak-anak yang terpapar radikalisme biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah seperti orang tuanya bercerai, keluarganya tidak harmonis, dan keluarga yang miskin.

Selain itu, kelompok ekstremis dan radikalis, imbuh Susianah, melakukan propaganda kepada anak-anak dengan menyuguhkan pengertian jihad yang keliru. Mereka menafsirkan jihad dengan dengan perang melawan non-muslim. Maka dari itu, yang paling rentan terhadap radikalisme adalah anak-anak.

“Nilai-nilai itu (pengertian jihad yang keliru) hanya bisa masuk secara mudah kepada orang-orang yang belum punya filter pendidikan, pengalaman, dan sosio kultur,” ucapya. ?



Ribath Nurul Hidayah



Anak sudah terpapar radikalisme

Susianah menjelaskan, seandainya ada anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme maka pemerintah seharusnya tidak melakukan upaya-upaya yang represif dan menggunakan pendekatan hukum.?

“Jadi bukan pendekatan represif. Kalau menggunakan represif maka akan menularkan virus dendam kepada anak,” jelasnya.

Ia lebih sepakat apabila pemerintah melakukan program rehabilitasi dan kesejahteraan kepada anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme, yaitu dengan menanamkan pemahaman Islam yang damai.

Di lain pihak, masyarakat juga harus diberikan pendidikan terkait dengan anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme. Sehingga masyarakat juga bisa ikut serta dalam proses rehabilitasi terhadap anak yang sudah terpapar tersebut. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Setumpuk Pengalaman dari Pelayaran Santri Bela Negara

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam pelayaran santri, kami mendapat pengalaman menarik untuk tergugah terhadap permasalahan negara. Seperti semboyan angkatan laut Indonesia “jalasveva jayamahe” yang artinya, justru di laut kita jaya. Semboyan itu bukan tanpa sebab, mengingat luas lautan Indonesia lebih besar dibanding luas daratan.

Setumpuk Pengalaman dari Pelayaran Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Setumpuk Pengalaman dari Pelayaran Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Setumpuk Pengalaman dari Pelayaran Santri Bela Negara

Jika berkaca dari sejarah masa lalu Indonesia, kerajaan besar yang mampu mempersatukan wilayah Nusantara, dibangun atas dasar poros kemaritiman, sebut saja kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kita sudah cukup lama tidak memikirkan tentang kelautan, pembangunan infrastruktur daratan justru lebih masif digalakkan dibanding lautan, pembangunan hotel lebih banyak dibanding membangun dermaga. Sebagai negara maritim, barang tentu kita sudah mengalami pergeseran dalam memaknai diri sendiri.

Pelayaran santri bela negara (PSBN) diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bersama Lembaga Persahabatan Ormas Islam. Kegiatan yang dikemas dalam pelayaran dibuat untuk menanamkan nilai cinta tanah air pada diri santri. Menggunakan KRI Banda Aceh, pelayaran menempuh jarak Jakarta Surabaya dan Surabaya Jakarta dengan diikuti 100 santri dari pelbagai daerah selama 7 hari, 20-26 Nopember 2015.

Ribath Nurul Hidayah

“Dari kegiatan ini, diharapkan para santri lebih memahami arti penting serta menambah wawasan tentang kelautan, kemaritiman dan cinta tanah air. Sehingga, ke depan mereka mampu menjaga dan membela negara dari kelompok yang ingin merusak Indonesia,” kata ketua panitia, Imam Pituduh.

Ribath Nurul Hidayah

Berkumpul untuk mendapat wawasan kemaritiman serta pengalaman berkenalan teman baru, berlatar organisasi keagamaan berbeda serta daerah, plus menikmati menaiki kapal perang adalah sedikit dari berjuta keuntungan bagi santri yang mengikuti pelayaran bela negara. Sampai juga mengunjungi Monumen Jaya Surabaya dan melihat kapal-kapal tempur Indonesia.

Meski hanya seminggu pelayaran, kami mendapat banyak kesempatan yang tidak semua santri Indonesia memilikinya. Misalnya bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, Panglima Komando Angkatan Perang RI Wilyah Timur Laksamana Muda Darwanto, sampai Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Momen tersebut sangat mengesankan bagi kami para santri, dari daerah kecil, pesantren terpelosok dapat bertemu dan bertanya dengan orang-orang penting. Pelayaran itu membuat kami tergugah arti penting laut, menjaga kedaulatan wilayah negara. Kami juga ingin menjadi bagian dari pembela negara bersama para TNI.

“Selama ini belum pernah ada kegiatan yang menyatukan para santri sebanyak kali ini, bahkan dari kota-kota kecil juga tidak saja satu ormas, tidak pernah aku lupakan,” ungkap Hilmi, santri utusan dari PCNU Subang.

Disadari atau tidak, bagi Muhammad Ammar, utusan PCNU Jakarta Pusat, pelayaran santri bela negara menunjukkan pesan pada sila ke tiga, Persatuan Indonesia. “Ini adalah Bentuk dari pengamalan santri di tengah perbedaan ormas dan daerah kita bisa bekerjasama selama kegiatan,” Ungkap santri yang pernah mondok di pesantren Buntet Cirebon. (Faridur Rohman)



Foto: Panglima Komando Angkatan Perang RI Wilayah Timur Laksamana Muda Darwanto didampingi Ketua PBNU Marsudi Suhud bersama para santri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Doa, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 08 November 2017

Mbah Mashum yang Mberkai

Ada cerita dari Ulil Hadrawi tentang almarhum Mbah Mashum (Kiai Haji Mashum Lasem). Suatu hari, ketika Mbah Mashum mengajar bertanya pada para santrinya.?

"Paham belum? Ada pertanyaan tidak?" tanya Mbah Mashum, ayahanda dari almarhum Kiai Ali Makshum Krapyak.

Mbah Mashum yang Mberkai (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Mashum yang Mberkai (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Mashum yang Mberkai

Semua santri diam saja. Tapi tiba-tiba, ada seorang santri di pojok belakang mengacungkan tangan.?

"Kulo Mbah.." kata santri

Ribath Nurul Hidayah

"Kulo Sinten?" tanya Mbah Mashum.

Ribath Nurul Hidayah

"Mashum.." jawab santri.?

"Mashum sinten?" Mbah Mashum mulai penasaran.

"Mashum Lasem.." jawab santri dengan santai.

Suasana pengajian menjadi tegang. Ada seorang santri berani-berani mengaku bernama Mashum di depan pemilik nama sebenarnya. Tak ada santri yang berani bergeser dari tempat duduknya, apalagi tertawa, tidak ada seorang pun. Mbah Mashum juga hanya diam.

Namun, sorang santri yang duduk di depan mendengar Mbah Mashum berdoa pelan-pelan, dengan bahasa Jawa, "Semoga jadi orang Saleh, ilmunya bermanfaat."

Di kemudian hari, doa Mbah Mashum Lasem terbukti, seorang santri yang didoakan itu jadi kiai yang disegani dan ahli fiqih. Santri tersebut bernama Kiai Haji Imron Hamzah, almarhum. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah

Perdamaian adalah syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk hidup makmur dan sejahtera. Dalam hidup bersama yang damai, terbuka kesempatan luas bagi suatu bangsa untuk berkembang membangun diri dan mencapai tujuan bersama. Situasi damai suatu bangsa membutuhkan relasi yang berkeadilan dalam berbagai aspek kehidupan dan mendasarkan diri pada relasi penuh kasih.

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Pengasuh Pondok Pesantren as-Salafiyah Mlangi, Gus Irwan Masduqi di Yogyakarta, Ahad (31/1/2016) menyatakan, gerakan radikalisme memakai dalil kitab suci sebagai legitimasi gerakan untuk membenarkan ideologi mereka. Masalah tafsir kitab suci juga memberi pengaruh cukup besar terhadap umat dalam memahami Islam.

"Jika perbedaan ini dijadikan sebagai dasar perpecahan bahkan menjadi dasar untuk melakukan kekerasan, tidaklah tepat. Rahmatan lil alamin tidaklah hanya kepada sesama umat muslim saja, melainkan kepada setiap orang, juga terhadap binatang dan tumbuh tumbuhan," ujar Gus Irwan pada acara bertajuk ‘Kenduri Kebangsaan: Islam Pelopor Perdamaian Indonesia-Yogya Istimewa Menolak Radikalisme’.

Ia mengungkapkan, di Yogyakarta saat ini banyak mengalir aliran dana untuk mendukung gerakan ISIS. Dana tersebut didistribusikan untuk mendoktrin paham radikal guna merekrut massa. Irwan juga menuturkan, Suriah beserta konfliknya sebenarnya bukanlah konflik agama, namun akhirnya memakai dalil agama sebagai alatnya. Jihad pada awalnya adalah untuk membela diri dari ancaman. Menolong orang miskin, memerangi kemiskinan, menolong orang lain itu juga termasuk Jihad.?

Ribath Nurul Hidayah

Di Yogya, lanjutnya, sudah bertebaran spanduk maupun baliho yang menyatakan bahwa Syiah bukan Islam. Setelah hal tersebut ditelisik ternyata sumber dananya berasal dari Arab Saudi yang tujuannya untuk mengadu domba aliran Syiah yang ada di Indonesia.

Islam masuk di Indonesia, imbuhnya, tidak melalui perang, melainkan melalui jalur budaya. Hal tersebut berbeda dengan Islam Wahabi yang menghancurkan situs-situs peninggalan peradaban nenek moyang.

"Kalau aliran Wahabi yang masuk di Indonesia maka Borobudur sudah lama hilang. Tapi marilah kita menjadikan Islam yang ada di Jogja ini sebagai Islam yang ramah, santun, menghargai budaya dan bukan Islam yang pemarah," ujar Wakil Sekretaris PP Lakpesdam NU itu. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Kediri, Ribath Nurul Hidayah

Untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Kediri yang didukung oleh Pemkot Kediri, PT Gudang Garam Tbk, Radio On, dan Kediri Jaya.com, menggelar kegiatan pameran lukisan Gus Dur dengan bahan dasar cekakik kopi.



Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Pameran resmi dibuka oleh Agus Sunyoto, Wakil Ketua Lesbumi NU, pada Ahad (25/7) kemarin, dan akan berlangsung hingga Rabu (28/7) di Musium Mastrip Perpustakaan Umum Kota Kediri JL Diponegoro.

Acara yang juga dihadiri Pendeta Kabul dari Gereja GBI Getsamani Kediri ini menarik perhatian publik khususnya warga Kota Kediri yang berduyun-duyun datang ke lokasi pameran.

Ribath Nurul Hidayah

“Ini sungguh luar biasa – saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Gus Dur adalah bapak bangsa dan perekat antar umat beragama,” kata Pendeta Kabul seperti dikutip www.kedirijaya.com.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam acara ini juga dilaksanakan demo melukis dengan menggunakan bahan dasar cekakik kopi oleh pengunjung.

Bertempatan dengan bulan Jadi Hari Kota Kediri yang ke-1131, 70 lukisan akan dipamerkan, termasuk koleksi lukisan cekakik konjen Jepang di Surabaya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 26 Oktober 2017

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Kekosongan organisasi kemahasiswaan yang bernaung secara struktural di bawah PBNU menjadi perbicangan hangat para aktivis mahasiswa NU, baik yang dari IPNU dan IPPNU maupun yang dari organisasi kemahasiswaan berideologi NU. Munas-Konbes NU 2014 juga menyepakati akan membahas isu ini pada forum musyawarah tertinggi NU, Muktamar ke-33 NU Agustus mendatang.

Ada wacana bahwa batas usia dan gerak di IPNU dan IPPNU yang kini memiliki jaringan di sekolah, pesantren, dan kampus, akan dipangkas hingga sebatas level pelajar. Sebagian aktivis IPNU-IPPNU keberatan dengan wacana kebijakan ini, mengingat tingkat kesulitan dan kesibukan proses kaderisasi di berbagai pelosok negeri yang dinilai susah jika hanya ditangani seorang pelajar sekolah.

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU, Pengurusnya Boleh Mahasiswa, Fokus Garapnya Tetap Pelajar

Kabar yang lain menyebutkan simpang siur status independensi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) tetap lepas atau akan masuk ke dalam Banom NU.

Ribath Nurul Hidayah

Menyikapi ini, Ketua Pengurus NU (PWNU) Jawa Tengah Abu Habsin menyatakan ide moderatnya. Menurutnya, bagaimanapun juga IPNU dan IPPNU harus tetap eksis mengakomodir para pelajar, agar saat menjadi mahasiswa, mereka tidak hanya kutu buku saja, tapi juga mampu mengatasi problem sosial yang dihadapi.

Ribath Nurul Hidayah

“Kalau anak sudah diantar IPNU-IPPNU, nanti di kampus sudah matang. Maka IPNU-IPPNU pun perlu kembali pada fungsinya, yakni mengakomodir pelajar. Tidak usah ada komisariat di kampus. Pengurus boleh mahasiswa, tapi garapannya tetap dipusatkan kepada para pelajar. Mahasiswa menjadi pengurus, yang akan membina para pelajar kita,” ujarnya kepada Ribath Nurul Hidayah saat ditemui di kantor PWNU Jawa Tengah, Semarang (2/5).

Hal ini sesuai dengan fakta bahwa KH Moh. Tolchah Mansur saat mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) juga adalah seorang mahasiswa. Sampai sekarang pun, pengurus IPNU dan IPPNU di pelbagai daerah adalah para mahasiswa.

Namun yang lebih menjadi sorotan bagi aktivis IPNU dan IPPNU adalah soal pemangkasan usia. Hal ini terkait erat dengan eksistensi organisasi yang tidak hanya di level pimpinan komisariat sekolah atau ranting di masing-masing desa. Sebab sebagai Banom NU, kepengurusan IPNU dan IPPNU pun meliputi pelbagai tingkatan dari pelosok desa hingga nasional.

Ini artinya semakin tinggi tingkat kepengurusan maka akan semakin tinggi pula frekuensi kesibukan mengurus bawahannya. Belum lagi masalah jarak tempuh yang khas dimiliki negara kita. Lebih dari itu, kepengurusan dan pengkaderan di IPNU maupun IPPNU juga berjenjang tertib. Maka ketika batasan usia ditetapkan pada usia pelajar saja, bisa dibayangkan betapa repotnya seorang pelajar tingkat SMA mengatasi pengkaderan teman seusianya di seluruh pelosok negeri. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Sholawat, Doa Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 12 Oktober 2017

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Tanger, Ribath Nurul Hidayah. Warga NU Maroko menggelar rangkaian acara peringatan hari lahir (Harlah) ke-92 NU yang jatuh pada bulan Rajab ini. Kegiatan berpusat di kota Tanger dan diawali dengan berziarah ke makam ulama Syekh Ibnu Ajibah yang berada di wilayah Gimmiche, sekitar 30 kilometer ke timur dari? kota Tanger, Maroko.

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, NU Maroko Ziarahi Makam Syekh Ibnu Ajibah

Syekh Ibnu Ajibah adalah seorang ulama besar pada abad ke-18. Selain sebagai seorang sufi, ia juga terkenal sebagai seorang penulis yang tekun. Buah pemikirannya hingga saat ini masih dinikmati oleh para pelajar dan menjadi rujukan warga setempat.

Durrotul Yatimah, panitia penyelanggara dari Pengurus Cabang Istmewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko, mengatakan, kota Tanger dipilih sebagai pusat peringatan Harlah kali ini lantaran memiliki jejak sejarah bagi NU di negara bermadzhab Maliki ini. Hal ini sekaligus menjadi momen napak tilas, mengingat pada 17 September 2011, KH Maimun Zubair meresmikan berdirinya PCINU Maroko di kota tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Sebenarnya rangkaian acara Harlah ini beragam, Senin lalu (11/5) kami adakan seminar tentang ekonomi syariah di KBRI? Rabat, lantas ziarah wali Ibnu Ajibah pada Jumat pagi (15/05),? disusul dengan diskusi pada sorenya dan ditutup ceramah isra mi’raj malam harinya," tuturnya, Jumat.

Diskusi yang digelar usai ziarah itu diisi dengan refleksi harlah NU yang dipandu oleh Sekretaris PCINU Maroko Fairuz Ainun Naim. Diskusi ini difokuskan pada perenungan kembali atas apa yang sudah dicapai NU di usianya yang sekarang, dan apa yang mesti dicapai NU di masa depan.

Ribath Nurul Hidayah

"Di sini anak-anak muda NU Maroko diharap mampu memberikan kontribusi positif karena mereka nanti yang akan menerima estafet kepengurusan NU," ujar Durrotul Yatimah.

Diskusi berlangsung hangat karena antusiasme peserta dalam mengungkapkan kegelisahan-kegelisahan mereka selama ini mengenai NU. Disepakati bahwa model kaderisasi yang cocok untuk massa NU adalah kaderisasi yang sifatnya kultural dan tidak menekankan pada militansi seperti yang dipilih oleh kebanyakan ormas.

Setelah jeda makan malam, kemudian dilanjutkan dengan ceramah memperingati Isra Miraj oleh Katib Syuriah PCINU Maroko Rifqi Maula dengan mengetengahkan topik kesabaran Nabi. Di akhir ceramahnya, tak lupa lulusan institut talim Atiq Imam Nafi Tanger ini memompa kembali semangat para kader yang lebih muda untuk terus belajar dan berkarya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Sholawat, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 September 2017

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Satkoryon Ketanggungan Kabupaten Brebes, untuk pertama kalinya merekrut anggota dari kaum hawa. Anggota putri di Banser Brebes tersebut dinamakan Fatayat Serba Guna (Fatser). Rekrutmen Fatser, dilakukakan saat pendidikan latihan dasar (Diklatsar) Banser Satkoryon Banser (23-25/12) lalu di MTs Negeri Ketanggungan.

“Diklatsar Banser Satkoryon Ketanggungan menjadi catatan sejarah baru. Selain mencetak rekor peserta terbanyak, juga untuk kali pertama Diklatsar Fatser,” ujar ? Kepala Bidang Kaderisasi Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Ketanggungan Ahmad Fauzan El Azizi.

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser

Mereka, kata Fauzan, digembeleng secara fisik dan mental untuk menemukan jatidiri dan kecintaan terhadap NKRI. Apalagi sekarang patriotisme dan nasionalisme generasi muda makin digerogoti terbukti sudah banyak yang tindakan intoleran.

“Penggemblengan fisik dan mental bagi kader-kader muda NU diwilayah ketanggungan dan sekitarnya, mutlak diperlukan untuk membuktikan cinta NKRI,” tegas Fauzan yang juga Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan (Ka Rolitbang) Satkorcab Banser Brebes.?

Ribath Nurul Hidayah

Diklatsar Banser dibuka Camat Ketanggungan Rejeh Juanda dan dihadiri oleh jajaran Muspika dan PC Ansor serta jajaran Satkorcab.

Ketua Panitia Diklatsar Arif Rahman merasa bangga karena perhelatan Diklatsar kali ini sangat meriah dengan peserta 314 Banser dan 19 Fatser.?

Ketua PAC GP Ansor Ketanggungan Ujang Shofiil Anam Al Hafidz menambahkan, Dilkatsar atau pengkaderan ini bisa berkelanjutan sehingga Banser Ketanggungan bisa lebih maju. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 26 Juli 2017

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar

Pekan ini, Muslim Indonesia menerima tamu kehormatan Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Muhammad Ahmed El Tayeb yang kedudukan di Mesir setara dengan perdana menteri. Sebagai tokoh agama ia diangkat seumur hidup. Dalam berbagai pernyataanya selama kunjungan ke sejumlah tempat di Indonesia, El Thayeb secara tegas telah menunjukkan sikap Islam moderatnya, sikap yang selama ini terus diperjuangkan oleh NU. Dengan adanya kesamaan tersebut, inilah saatnya untuk membangun sinergi dalam memperluas jejaring dan memperjuangkan Islam moderat di dunia.

Banyak aspek yang dapat dimanfaatkan dalam kunjungan ini. Mesir merupakan negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, saat sejumlah negara lain bahkan “memberi boncengan” untuk mendorong Belanda menduduki Indonesia. Ini adalah peristiwa sejarah yang patut dikenang. Dukungan moral dari Mesir tersebut telah membantu menjaga semangat para Pendiri Bangsa untuk terus berjuang. Indonesia dan Mesir merupakan dua negara dengan penduduk Muslim terbesar di kawasannya masing-masing. Dinamika yang terjadi di kedua negara tersebut pasti akan mempengaruhi wilayah di sekitarnya.?

Al-Azhar memiliki catatan sejarah akan kualitas dan kemampuannya bertahan menghadapi berbagai tantangan zaman, dari perubahan dinasti, era kololisasi sampai perubahan rezim di Mesir. Al-Azhar tetap mampu bertahan dan melahirkan pada tokoh yang membawa pencerahan bagi dunia Islam. Banyak pemuka agama Islam di Indonesia yang belajar di sana. Di lingkungan NU sendiri, KH Abdurrahman Wahib atau Gus Dur pernah belajar di sana. Demikian pula KH Musthofa Bisri menyelesaikan pendidikannya di institusi tersebut. Secara langsung pendidikan di Azhar membawa pengaruh kepada NU melalui tokoh-tokoh NU yang dididik di sana.?

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Kuatkan Islam Moderat dalam Kunjungan Grand Syekh Azhar

Di institusi tersebut, berbagai pemikiran dan aliran Islam dengan bebas dikaji. Dengan demikian, para mahasiswanya diajarkan untuk mengenal berbagai aliran dan pemikiran Islam. Jika pada akhirnya, dengan proses perenungannya menemukan sebuah pandangan yang dianggapnya lebih sesuai, maka itulah yang dipilih. Tetap terdapat proses penimbangan berbagai pandangan dan argumentasi yang menyertainya. Azhar tidak bersifat doktriner dalam pengajarannya. Model seperti inilah yang juga dilakukan di pesantren dengan membahas berbagai pandangan yang berbeda. Dari sinilah tradisi Islam moderat yang menghargai pandangan orang lain muncul.?

Sebagai sebuah institusi yang telah teruji kualitasnya, yang ditunjukkan oleh pengaruh besar dari para alumninya, tentu banyak hal yang bisa dipelajari dari Al-Azhar dan kemudian diterapkan pada pendidikan Islam di Indonesia. Saat ini ada ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di institusi tersebut. Tetapi akan lebih baik jika institusi pendidikan di Indonesia sendiri juga mampu menerapkan metode-metode atau tradisi kesuksesan tersebut sehingga semakin banyak umat Islam yang tercerahkan dengan pendidikan tinggi Islam yang moderat.?

Ribath Nurul Hidayah

Kondisi dunia Islam saat ini menghadapi tantangan akan radikalisme dan kekerasan yang telah menghancurkan peradaban yang sekian lama dibangun dan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Mesir sendiri sedang bergulat dengan tantangan internalnya yang hingga kini belum menemukan ujung penyelesaian.?

Dengan sejumlah kesamaan antara Mesir dan Indonesia, serta Al-Azhar dengan NU sebagai pengusung Islam moderat, sudah sangat selayaknya jika momentum kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama lebih lanjut guna memperjuangkan nilai-nilai Islam moderat yang telah menjadi perhatian yang sama. Jika dua kekuatan besar ini bergabung, akan banyak hal yang bisa diselesaikan. Banyak sumberdaya yang telah dimiliki, tinggal bagaimana mengelola dan mensinergikan kedua potensi tersebut untuk kebaikan umat Islam. (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Sholawat, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 18 Juli 2017

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan

Medan, Ribath Nurul Hidayah. Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Benny Rhamdani melakukan silaturahmi dengan pengurus Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor Pengurus Wilayah (PW) NU Sumatera Utara, Jalan Sei Batanghari Medan, Kamis (9/3). ?

Kunjungan Benny Rhamdani yang juga Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Utara (Sulut) itu diterima Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea, Wakil Ketua Jasrul Lubis, Kamil Lubis, Bendahara El-Suhaimi, mantan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Adrian Azhari Akbar Harahap.

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Ansor Pusat, Banom NU di Sumut Adakan Dialog Kebangsaan

Juga hadir mantan Ketua PW IPNU Sumut ? Gunawan Abdi Hasibuan, Sekretaris PW IPNU Sumut ? Aliaga Hasibuan, Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumut Bobby Dalimunthe, dan jajaran pengurus Banom NU Sumut lainnya.

Dalam silaturahmi yang dirangkai dengan dialog kebangsaan itu, Benny Rhamdani mengatakan, situasi dan kondisi bangsa saat penuh tantangan terutama dalam menangkal radikalisme guna menjaga keutuhan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

"Menjaga keutuhan NKRI merupakan tanggung jawab kita sebagai Badan Otonom NU. Karena sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU harus berada di garda terdepan dalam mewujudkan bangsa ini menjadi negeri yang damai," kata Wakil Ketua Komite Etik DPD RI ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskannya, sat ini merupakan momentum generasi muda terutama Banom NU dalam meraih kepemimpinan di negeri ini. "Namun semua itu dapat diperoleh bila saling bahu membahu untuk saling membesarkan dan memanfaatkan momentum yang ada," katanya.

Sementara itu, Mulia Banurea mengatakan, Banom NU di Sumut saat ini tengah gencar melakukan kaderisasi. Dengan banyaknya kader muda NU di Sumut, diharapkan sebagai tonggak pemersatu pemuda dan penentu bangsa ini.

"Dengan jumlah yang banyak dalam satu bingkai yang sama, tentu dapat menangkal radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI," kata Mulia yang juga Ketua KPU Sumut.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Jasrul Lubis mengatakan, kebersamaan dan persatuan-kesatuan Banom NU di Sumut selalu terjalin dengan baik. Tugas berat sekarang tinggal merumuskan kebersamaan ini menjadi satu kekuatan besar dalam menjaga NKRI dan meraih kemenangan dalam setiap momentum yang ada.

"Kesempatan ini harus kita mulai dari diri kita dan menjalin kebersamaan antarsesama dan selalu mengikuti nasihat-nasihat Kiai NU. Dengan demikian cita-cita kita akan tercapai," kata Jasrul. (Hamdani Nasution/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Sunnah, Fragmen Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 16 April 2017

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Departemen Agama (Depag) meminta tambahan anggaran Rp 46 miliar untuk pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk keperluan musim haji tahun ini. Anggaran itu untuk melengkapi total anggaran yang direncanakan sebelumnya yakni Rp 106 Miliar.

"Setelah mendapat laporan dari Depkes, Depkes menyatakan dana itu (Rp 106 Miliar) masih kurang. Kami meminta persetujuan DPR untuk merevisi anggaran sebanyak Rp 46 miliar," pinta Menteri Agama Maftuh Basyuni, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/5).

Angka itu, menurut Maftuh, akan dipergunakan untuk perbaikan pelayanan kesehatan, seperti halnya menyewa ambulans dan rujukan ke rumah sakit di embarkasi. Selain itu, juga untuk kegiatan pendukung operasional kesehatan di Tanah Air. "Kami ingin memberikan yang terbaik. Jika masih perlu kami harus meminta lagi," terangnya.

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Namun demikian, DPR tidak langsung mengangguk setuju. Anggota DPR Komisi VIII menyorot efektifitas penambahan anggaran itu.

"Anggaran itu kan sudah di Depkes. Itu sudah ada. Kenapa Depag juga ikut minta. Lagian, dari rincian kebutuhan kok nggak ada yang nyambung dengan kesehatan," seloroh pimpinan Komisi VIII DPR Farhan Hamid.

Dalam rancangan revisi itu, Menag menginventarisir kebutuhan di luar pos kesehatan, seperti yang disinyalir Farhan. Antara lain untuk penyusunan rancangan peraturan pemerintah sebagai pelaksana UU Haji, pengelolaan aset Ditjen Haji di pusat dan daerah, serta peningkatan SDM pengelola Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, tim khusus pencari penginapan bagi jamaah haji Indonesia terus bekerja. Hingga Rabu, 16 Mei 2007, tim bentukan Depag itu telah merampungkan 70 persen dari jumlah kebutuhan total 210.000 jamaah haji.

"Sampai tanggal 14 Mei, tim kami bekerja hingga 65 persen atau masih kurang 63.000 jamaah. Ini kami baru dapat laporan hingga hari ini, telah mencapai 70 persen atau kurang 60.000 jamaah lagi," kata Maftuh.

Ribuan pemondokan itu tersebar di berbagai wilayah seperti yang terbanyak di Misfalah (36.572 jamaah) dan Bahutmah. Keduanya berada di Mekah. Pemondokan itu diperlukan bagi jamaah haji Indonesia yang meningkat 5.000 jamaah dari tahun-tahun sebelumnya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami harap tim dari Depag memperhatikan persoalan penginapan. Harus benar-benar yang terbaik, jangan jauh dari Masjidil Haram ataupun tidak memakai lift dan AC," ujar salah satu anggota DPR Zulkarnaen Jabar menanggapi pemaparan Menag. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, News Ribath Nurul Hidayah