Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Januari 2018

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Lombok Barat, Ribath Nurul Hidayah. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus berbenah menyiapkan perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Konbes NU) yang diagendakan berlangsung di? Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat 23-26 November mendatang.?

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan Pemda Lombok Barat Sambut Munas Konbes NU 2017

Hal tersebut disampaikan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid sata memimpin rapat persiapan bersama panitia daerah di Ruang Rapat Jayengrane, Kantor Bupati Lombok Barat, Selasa (07/11)?

Lalu Winengan, Sekretaris Nahdatul Ulama (NU) Provinsi NTB, Winengan selaku ketua panita menjelaskan, gelaran berskala nasional itu akan dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo di Islamic Center Mataram.?

"Rencananya, untuk penutupan akan digelar di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Kita harapkan Wakil Presiden yang hadir menutup," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

?

Dalam pertemuan itu, dirinya berharap kepada Pemkab Lombok Barat untuk dapat membantu secara maksimal. Dikatakannya, bantuan diharapkan seperti sarana prasarana termasuk kelengkapan tempat penginapan di masing-masing pondok.?

Di Lombok Barat, rencananya ada dua pondok pesantren yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Munas, yaitu Pondok Pesantren Al-Halimy Sesela; dan Darul Quran Bengkel. Masing-masing pesantren akan menampung 100 orang peserta.

Ribath Nurul Hidayah

Menanggapi hal itu, Bupati H. Fauzan Khalid mengatakan akan melakukan kajian bersama jajarannya.

"Kami akan adakan rapat dulu dengan asisten dan jajaran. Nanti kita informasikan, kemudian kita tinjau lokasi. Terkait pengamanan kita adakan rapat dengan Polres," jelas Fauzan.

Sementara itu, Sekretaris panitia H. Marinah Hadi menyampaikan, panitia juga sudah menyiapkan agenda kegiatan pra-acara.?

"Pada tanggal 22 November, panitia akan melaksanakan sunantan massal, kemudian ada pawai yang dimulai dari Islamic Center Mataram dan berakhir di depan Pendopo Gubernur NTB. Selanjutnya ada pasar murah atau bazar di lokasi pembukaan di Islamic Center," papar Marinah. (Hadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Doa, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 24 Januari 2018

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Santri putri Ribath Al-Mubtadiin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang punya cara unik dalam memeriahkan HUT Ke-72 RI. Mereka mengisi kemerdekaan RI dengan mengadakan lomba-lomba ringan seperti makan kerupuk, memindahkan air dengan tangan, membawa tepung dan beberapa lomba lainnya, Ahad (20/8).

Lomba-lomba ini khusus santri putri dan dilakukan sejak pagi pukul 06.00 WIB hingga azan zuhur datang. Lokasi lomba berada di lahan kosong barat asrama putri Al-Mubtadiin. Panitianya juga perempuan. Mereka secara kreatif melakukan persiapan sendiri dan mengatur lomba sendiri.

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Putri Bahrul Ulum Tambakberas Gelar Aneka Lomba

Pengasuh Ribath, Hj Maslachatul Ammah (Neng Laha), menyebutkan lomba-lomba kecil ini bertujuan mengisi libur santri dan meningkatkan kekompakan antarsantri. Oleh karenanya, kebanyakan perlombaan yang dilakukan di sini lebih menekankan kerja tim.

"Pengasuh berharap ini bisa menjadikan hiburan yang mendidik bagi santri putri kita. Dalam lomba-lomba ringan ini saya anjurkan untuk lebih fokus ke kerja sama kelompok," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Neng Laha mengaku membebaskan para santri memilih lomba yang mereka sukai dengan batasan harus ada nilai pendidikannya seperti pentingnya pemimpin, kerja sama, gotong royong, dan kesiagaan. Untuk hadiah perlombaan panitia juga menyiapkan berbagai hal unik lainnya.

Hadiah lomba bukan berupa uang tunai, melainkan makanan ringan yang dimasukan ke dalam kardus besar. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan lomba bukanlah hadiahnya melainkan proses lomba itu sendiri yang perlu dihayati. Meskipun begitu, para peserta tampak penuh ceria menjalani lomba yang disediakan panitia. Gelak tawa dan canda gurau terus mengalir deras selama proses lomba.

"Kita siapkan anggaran khusus buat lomba ini, itung-itung hiburan. Kasian anak-anak kalau libur sekolah dan ngaji hanya diisi dengan tidur di kamar," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Januari 2018

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Program pengembangan sumber daya nahdliyin di Kota Pasuruan yang dilakukan oleh Lakpesdam PCNU Kota Pasuruan pada 2016 telah diluncurkan, Jumat (12/2). Pemotongan tumpeng oleh Wakil Ketua PCNU Kota Pasuruan KH Muhammad Nailurrohman menandai peresmian program Lakpesdam Aswaja Bergerak. Program ini antara lain memperkenalkan layanan bimbingan belajar gratis bagi warga Pasuruan.

Peresmian ini disaksikan oleh para murid Lakpesdam Bimbel School (LBS), wali murid LBS, dan tokoh masyarakat Mandaran tempat LBS berdiri dan berkhidmah. Titik fokus program Lakpesdam Aswaja Bergerak adalah membangun dan memberdayakan warga Kota Pasuruan yang berjiwa santri, antiradikalisme dan antinarkoba.

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis

KH Nailurrohman memberikan apresiasi atas terlaksananya LBS sebagai program kelimuan yang memberikan ilmu bagi masyarakat khususnya mereka yang kurang mampu. Ia memberikan motivasi kepada anak murid untuk giat belajar, serta memberikan motivasi dan doa agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi NU yang siap berbakti pada negara dan Nahdlatul Ulama.

Ketua Lakpesdam PCNU Kota Pasuruan Waladi Imaduddin menyampaikan bahwa LBS adalah program yang dimaksudkan untuk meningkatkan SDM masyarakat pesisir di Kota Pasuruan. “Program ini diberikan secara gratis sebagai bentuk gerakan anfa‘uhum lin nas PCNU Kota Pasuruan melalui Lakpesdam setempat,” kata Waladi.

Ribath Nurul Hidayah

Program Lakpesdam Aswaja Bergerak di tahun ini merencanakan workshop deradikalisasi di sekolah, kampus dan masjid di Kota Pasuruan.

Ia berharap program ini didukung oleh Pemkot Pasuruan sebagai mitra strategis untuk bisa membangun masyarakat Kota Pasuruan yang berdaya dan bermartabat sebagai kota ber-Aswaja. (Red Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan kader Fatayat NU dalam memegang peran keagamaan khususnya di kalangan anak-anak. Identitas ke-NUan seseorang, demikian kata Kang Said, justru terbentuk di masa anak-anak. Di sinilah Fayatat NU mengambil peran keagamaan itu.

“Di samping memainkan peran sosial, ekonomi, budaya, dan politik, Fatayat NU tidak boleh lengah pada peran keagamaan. Salah satunya, mengenalkan NU sejak dini kepada anak-anak,” kata Kang Said di hadapan seratus kader Fayatat NU dalam peringatan harlah ke-64 Fayatat NU di gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (24/4) siang.

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

Kalau Fatayat NU dalam konteks pendidikan agama anak-anak, tidak mengambil peran, maka kendali itu akan dipegang oleh orang bukan NU. Mereka, jelas Kang Said, akan menggarap ranah agama.

Ribath Nurul Hidayah

“Padahal mereka hanya memamerkan gamis dan jenggot. Mereka tidak memiliki metodologi dalam memahami Al-Quran, Hadis, hukum syariat. Mereka hanya ustadz karbitan. Modal pendidikan kilat agama bahkan hanya belajar dari terjemahan, mereka sudah percaya diri untuk mengajarkan agama,” imbuh Kang Said.

Ribath Nurul Hidayah

Apakah Fatayat NU akan menyerahkan garapan pendidikan agama anak-anak kepada mereka? tekan Kang Said.

Ia juga menyebutkan, siapa mengikut NU maka keislamannya dijamin benar. “Karena, NU mengikuti ulama madzhab yang menggunakan metodologi ilmiah dan teruji dalam memahami sumber agama. Ulama kita memakai asbabun nuzul, asbabul wurud, ushul fiqh, ulumul quran, ulumul hadits, dan sejumlah perangkat lainnya.”

“Karena itu, kendati banyak orang mencela amaliyah kita, Fatayat NU tidak boleh goyah. Kita mesti yakin berada di jalan yang benar,” tandas Kang Said di muka seratus kader Fatayat NU yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 Januari 2018

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pro dan kontra tentang revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37/2006 dan pengembalian rapelan anggota DPRD masih menjadi isu hangat bagi Pimpinan Pusat Ikatan (PP) Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Organisasi berbasis masa pelajar dan santri NU itu, meminta agar presiden tetap melakukan revisi, meski banyak anggota DPRD yang menolak.

”Saya kira revisi tetap jalan terus. Meski demikian, anggota DPRD jangan dikambinghitamkan terus menerus. Namun, menyangkut uang rapelan itu juga harus dikembalikan kepada rakyat,” kata Ketua Umum PP IPNU Idy Muzayyad dalam sebuah diskusi di Kantor PP IPNU di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (14/2) lalu.

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan

Idy, demikian ia akrab disapa, dalam paparannya mengatakan, kalau memang rapelan dari anggota DPRD itu dikembalikan, maka uang tersebut harus fokus penggunaannya. Yakni itu untuk memenuhi kekurangan 20 persen anggaran pendidikan di masing-masing daerah. Dengan demikian, uang tersebut diharapkan akan lebih membawa manfaat bagi rakyat.

 

Gini lho, rapelan dari anggota DPRD itu dikembalikan ke kas pemerintah daerah. Lalu fokusnya untuk memenuhi 20 persen anggaran pendidikan yang belum terpenuhi hingga saat ini,” ungkap mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Idy menegaskan, pihaknya setuju uang rapelan anggota DPRD dikembalikan kepada pemerintah. Namun, penggunaan uang tersebut jangan sampai tidak jelas. Karena itu, IPNU mengusulkan agar difokuskan untuk biaya pendidikan. ”Sekolah di daerah-daerah terpencil kan banyak yang nggak layak. Nah, uang itu kan lumayan untuk pembangunan sarana pendidikan,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, tokoh muda NU asal Magelang, Jawa Tengah itu mengatakan, selain untuk membangun sarana pendidikan, dana tersebut juga bisa digunakan untuk beasiswa belajar anak-anak yang tidak mampu. Banyaknya angka putus sekolah, katanya, disebabkan rendahnya ekonomi rakyat.

Soal sikap ngotot anggota DPRD yang menolak revisi PP 37/2006 dan pengembalian rapelan, ia mendukung pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, bahwa untuk melihat masalah tersebut tidak bisa dilihat dari aspek hukum saja, tapi harus juga dilihat dari aspek moral.

Ribath Nurul Hidayah

”Apakah nggak ada cara lain, selain mereka harus datang ke Jakarta untuk melakukan demo? Saya kira masih banyak cara lain untuk menyampaikan aspirasi tetang kegelisahan mereka yang merasa nggak nyaman akibat PP itu,” ungkapnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 Desember 2017

Media, Sastra, dan Kita

Oleh: Dedik Priyanto

“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang.? Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”?

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”?



Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Media, Sastra, dan Kita

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Ribath Nurul Hidayah

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Ribath Nurul Hidayah

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup. ? Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.?

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.?

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa ? memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.?

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita. ? ?

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.?

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.?

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.?

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.?

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu. ? Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik. ?

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.?

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.?

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban. ?

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan. Ketiganya laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.?

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja, ? tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”

Dedik Priyanto, Kord. Piramida Circle Jakarta. Bergiat di Senjakala dan angkringanwarta.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Senin, 25 Desember 2017

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah - Orang pintar memiliki harga yang tinggi. Untuk meraih harga yang tinggi, seseorang harus rajin membaca. Suka membaca adalah syarat orang menjadi pintar.

Demikian diungkapkan oleh sastrawan Ahmad Tohari dalam acara Gerakan Budaya Baca Masyarakat Banyumas (Gebyarmas) yang diadakan oleh Fokus Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Kabupaten Banyumas, di Kampus IAIN Purwokerto, Jawa Tengah, Ahad (7/5).

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Sarjana Kurang Baca, Sarjana Pas-pasan

"Menteri luar negeri pertama Indonesia, Agus Salim. Dia bukan dari kalangan sekolah tinggi, tapi menguasai tujuh bahasa, belajar secara otodidak," kata pria asal Jatilawang, Kabupaten Banyumas ini.

Ahmad Tohari mengajak masyarakat untuk gemar membaca agar berpengetahuan luas. Sebab kurangnya pengetahuan, menurutnya, merupakan salah satu faktor orang kecil harganya.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau kurang membaca, meski dia sarjana, pasti jadi sarjana yang pas-pasan, harganya umum atau rata-rata," lanjutnya.

Selain itu, Ahmad Tohari juga menyoroti orang yang berpenghasilan pas-pasan tapi maniak rokok. "Seandainya uangnya buat membeli buku, itu investasi pengetahuan, memodali ilmu pengetahuan," tadasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Tohari juga berpesan kepada generasi muda untuk menggunakan teknologi informasi yang telah maju sebagi alat untuk melakukan pengembangan diri. Sedangkan bagi orang tua diharapkan bisa mencukupi kebutuhan bacaan anak-anak mulai sejak dini. (Kifayatul Akhyar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Pahlawan, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional (LKS Tripnas) menggelar rapat tentang fungsi dan peran pengawas ketenagakerjaan pada 5 Oktober 2016. Ada enam kesepakatan dihasilkan pada pertemuan resmi forum tersebut. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslim Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU) menanggapi kesepatan tersebut.

Wakil Presiden DPP K Sarbumusi NU Sukitman Sudjatmiko di Jakarta, Rabu (12/10) mengapresiasi kesepakatan tersebut. Namun ia menyarankan empat hal.?

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Pertama, pengawas harus bergelar sarjana hukum agar lebih profesional. Kedua, pejabat pemerintah daerah tidak boleh mengganti personil atau memindah tugaskan ke posisi lain. Ketiga, nota pengawas harus ditindaklanjuti ke pengadilan untuk eksekusi bila para pihak tidak mengindahkan nota pengawasan. Keempat, mempertegas kode etik dan sanksi bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang tidak profesional.

Hasil rapat LKS Tripnas adalah, pemerintah diharapkan menambah jumlah pengawas ketenagakerjaan dikarenakan rasio perbandingan antara jumlah perusahaan dengan jumlah pengawas ketenagakerjaan masih tidak memadai. Komposisi ideal 1:5.

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya, peningkatan standarisasi dan kompetensi bagi pengawas ketenagakerjaan. Berikutnya, perlu menyusun standar operasional prosedur pelaksanaan pengawasan dan penanganan kasus ketenagakerjaan sehubungan dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2014 yang mengatur kewenangan pengawas ketenagakerjaan ditarik ke provinsi. Termasuk didalamnya pembagian tugas yang jelas antara fungsi-fungsi pengawas ketenagakerjaan dengan fungsi ketenagakerjaan yang lainnya.

LKS Tripnas juga menyepakati, pemerintah daerah khususnya provinsi tidak memindahkan PPNS ke bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan pengawas ketenagakerjaan. Lalu perlunya peningkatan fungsi penegakan hukum oleh pengawas ketenagakerjaan.?

Kesepakatan terakhir, melibatkan fungsi Tripartit dalam pelaksanaan sosialisasi dan implementasi pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan.

Untuk diketahui, anggota LKS Tripnas ialah forum dialog resmi tiga pihak dari asosiasi pengusaha, serikat buruh, dan pemerintah yang setiap unsur diwakili 15 orang. Diangkat berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia dan mempunyai tugas untuk memberikan pertimbangan, saran dan pendapat kepada presiden dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan secara nasional. ? DPP K Sarbumusi NU mempunyai satu perwakilan di forum tersebut.?

Empat rumus digunakan oleh pemerintah untuk menentukan serikat mana saja yang dapat menjadi wakil dalam LKS Tripartit Nasional adalah, pertama, mempunyai anggota di atas 50.000 orang/buruh. Kedua, minimal tersebar di 20 persen provinsi di seluruh Indonesia. Ketiga, minimal tersebar di 20 persen kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan keempat mempunyai 150 serikat buruh tingkat pabrik. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, IMNU, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Desember 2017

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta

Bangkalan, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Bangkalan, Jawa Timur, menggelar reuni alumni Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Bangkalan.

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Bangkalan Reunian Makesta

Alumni Makesta PAC Kota Bangkalan, Rido’i, pada (13/12) mengatakan, berkomunikasi merupakan suatu kewajiban dalam berorganisasi? sebab dengan dari situ akan terlahir ide-ide dan informasi yang bermanfaat.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Bangkalan Mahsus R HM mengaku sangat senang kegiatan tersebut. Pada kesempatan tersebut, ia meminta bergabung dalam kajian bulanan PC.IPNU-IPPNU Bangkalan yaitu Cangkruan Bareng Sambil Mikir (Cangkir).

Ribath Nurul Hidayah

Pada reunian tersebut, diputuskan membentuk wadah komunikasi alumni bernama Al-Maba (Alumni Makesta Bangkalan). Melalui wadah tersebut mereka akan mengadakan pertemuan rutin bulanan. Tak hanya itu, mereka akan ikut andil dalam kajian rutin Cangkir. (Hafidzi/Dedi Hermanto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, AlaSantri, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Akademisi Pendidikan Islam Diajak Terus Berinovasi dan Berkarya

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam memberikan apresiasi atas kiprah dan prestasi yang diukir oleh para civitas akademikia, utamanya dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).?

Akademisi Pendidikan Islam Diajak Terus Berinovasi dan Berkarya (Sumber Gambar : Nu Online)
Akademisi Pendidikan Islam Diajak Terus Berinovasi dan Berkarya (Sumber Gambar : Nu Online)

Akademisi Pendidikan Islam Diajak Terus Berinovasi dan Berkarya

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan bahwa apresiasi ini merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap para dosen dan mahasiswa berprestasi agar mampu menghasilkan karya-karya monumental dan dibutuhkan masyarakat. Karenanya, Kamaruddin Amin mengajak civitas akademika untuk terus melakukan inovasi dan kreativitas di bidang pendidikan, utamanya Pendidikan Islam.

“Civitas akademika, jangan berhenti berkarya. Teruslah melakukan pengembangan diri, berinovasi dan kreatiflah. Teruslah menulis dan berkarya,” pesan Dirjen Pendis saat memberi sambutan pada Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam di Jakarta, Kamis (10/12) malam seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, ? Civitas Akademika yang bernaung dalam Kementerian Agama, mempunyai tak kurang dari 415 profesor, 3.000-an Doktor dan 30-an ribu dosen.?

Ribath Nurul Hidayah

“Saat ini ada sekitar 3.150 program studi (prodi) yang berada di 65 PTKIN dan sekitar 650 PTKIS. Bayangkan, berapa karya yang bisa dihasilkan jika para dosen dan profesor tersebut berkarya? Tanya Dirjen.

Dirjen mengaku, apresiasi yang diberikan ? Direktorat Pendidikan Tinggi Islam masih sangat kecil dan tidak sebanding dengan karya yang dihasilkan para kaum cerdik pandai tersebut. Namun demikian, apresiasi ini diharapkan dapat menjadi ? stimulus untuk terus berkarya dan berinovasi. ?

“Insentif yang tidak seberapa ini diharapkan ? mampu menjadi pemicu bagi para penerima penghargaan dan anggota civitas lainnya untuk terpacu melakukan perbaikan diri, berkarya dan berprestasi,” ? katanya.

Ada Tiga Kategori disiplin ilmu yang diperlombakan. Pertama tentang studi Islam, lalu Humaniora dan terakhir sciance tekhnologi. Para dosen berprestasi di tiga bidang tersebut diambil 9 besar pada masing-masing bidang, kemudian diadakan presentasi. Dari sembilan dosen tersebut, dipilihlah tiga besar. Juara pertama, mendapat insentif sebesar 40 juta sedang terbaik kedua ? 35 juta.

“Saya sangat bangga kepada Civitas Akademika kita, para rektor, dosen dan guru besar. Pesen saya, tolong jangan berhenti berkarya. Ingatlah, menjadi doktor (S-3) merupakan awal dari lawatan intelektual belaka, perjalanan masih jauh dan panjang,” tutur Dirjen.

Selain memberi apresiasi kepada dosen berprestasi, Kegiatan Apresiasi ini kali juga memberi penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, dan para pengelola Jurnal kampus. Mahasiswa mendapatkan uang pembinaan 15 juta tiap anak. Sedang para pengelola jurnal mendapatkan hadiah sebesar 200 juta per jurnal. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 15 Desember 2017

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Sidang Komisi Program Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang mengusulkan perangkat organisasi yang diberi nama Badan Khusus.

Tiga badan khusus yang dimaksud yaitu Badan Pelaksana Bidang Kesehatan NU (BPKB-NU), Badan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU (BP2M-NU), dan Badan Perekonomian NU (BPNU).

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program

Adapun kelembagaan Badan khusus terdiri dari Dewan Pengurus dan dan Pelaksana (eksekutif). Dewan Pengurus ditunjuk (berdasarkan keahlian dibidangnya), disahkan PBNU, Tingkat Provinsi ditunjuk oleh PWNU, di Kabupaten/Kota oleh PCNU dan disahkan oleh Dewan Pengurus.

Ribath Nurul Hidayah

“Satu periode kepengurusan selama lima tahun, masa jabatannya bersamaan dengan PBNU,” ujar Ketua Sidang Komisi Program, H Yahya Ma’shum, Selasa (4/8) di Aula Pesantren Darul Ulum Rejoso, tempat sidang berlangsung.

Kemudian, lanjut Yahya, struktur bdan terdiri dari tingkat pusat, provinsi, dan Kabupaten/Kota. Ditingkat Provinsi/Wilayah ditunjuk oleh PWNU, disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat. Sedangkan di tingkat Kabupaten/Kota ditunjuk oleh PCNU disahkan Dewan Pengurus Pusat.

Ribath Nurul Hidayah

Lalu, tambahnya, tugas dan tanggung jawan badan khusus yaitu, pertama, bertanggung jawab langsung kepada PBNU, hubungan koordinatif dan konsultatif dalam menjalankan mandat yang diberikan oleh PBNU. 

Pimpinan sidang dipimpin oleh H Yahya Ma’shum, H Arifin Djunaidi, dan H Iqbal Sulam. Sampai berita ini ditulis, sidang masih berlangsung dan masuk ke dalam pandangan-pandangan dari setiap PCNU dan PWNU seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 28 November 2017

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah

Sadar atas karunia Allah adalah salah satu kewajiban “waktu” yang harus dipenuhi. Tetapi orang yang menyadari kehadiran nikmat Allah ini tidak memiliki pilihan selain dua kondisi berikut. Sebagian orang menyadarinya ketika nikmat itu masih di genggaman tangan. Tetapi sebagian orang menyadarinya saat nikmat itu sudah “ke laut” karena waktu juga bergulir.

Syekh Ibnu Athaillah RA menyebut dua kondisi ini dalam Al-Hikam sebagai berikut.

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kerugian Telat Menyadari Nikmat Allah Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Artinya, “Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu sudah raib.”

Ribath Nurul Hidayah

Syekh Zarruq dalam menjelaskan hikmah ini menyebutkan contoh-contoh konkret.

?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?

Artinya, “Karena itu ada ulama mengatakan bahwa nikmat-nikmat Allah itu tidak disadari. Semua itu bisa disadari ketika sudah raib. Ada ulama mengatakan, anak durhaka yang ‘senang atau kebiasaan’ ditegur dan diomeli orang tua akan menyadari kadar nikmat kehadiran orang tua di hari kematian bapaknya. Ada lagi ulama mengatakan, orang yang menyadari kadar nikmat air adalah mereka yang kehausan di pedalaman Arab tandus, bukan orang yang ada di tepi sungai atau di lembah dengan aliran-aliran air,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 160).

Nikmat kesehatan, kemudahan fasilitas, kesempatan, usia muda, atau kelapangan rezeki merupakan nikmat Allah yang patut disadari sejak awal. Dengan kesadaran dini atas karunia itu, kita dapat bergerak leluasa dengan aktivitas-aktivitas positif.

Tetapi jangan pula dipahami secara hitam dan putih. Jangan diartikan bahwa orang yang telat menyadari nikmat Allah itu tidak bersyukur kepada-Nya. Orang yang telat menyadari nikmat Allah itu tetap dinilai sebagai orang yang bersyukur, tetapi tentu lain kualitasnya dengan mereka yang menyadarinya lebih dini sebagai disinggung Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nikmat Allah itu kadang disadari oleh mereka yang menghayatinya ketika nikmat itu sendiri masih di genggaman. Tetapi nikmat itu kadang disadari oleh mereka yang mengabaikannya ketika nikmat itu sendiri telah raib. Kesadaran mereka yang menghayatinya adalah bentuk syukur yang menuntut kelanggengan dan penambahan nikmat. Sementara kesadaran mereka yang mengabaikannya karena telah raib juga merupakan bentuk syukur yang menuntut kembali kehadiran nikmat tersebut,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam Al-Atha’iyyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 123).

Uraian terakhir ini jelas menyebutkan bahwa kedua macam orang dalam kaitannya dengan nikmat Allah ini sebenarnya sama-sama orang yang bersyukur. Hanya saja mereka yang telat menyadari nikmat Allah sejak dini mendapat sebuah kerugian yang pasti selain penyesalan, yaitu tidak dapat bergerak leluasa dibanding mereka yang sedari awal menyadarinya. Mau apa lagi? Kesehatan menurun, uang sudah tidak pegang, usia tidak lagi muda, kerepotan tambah, daya pikir berkurang, fasilitas minim, orang tua sudah tidak ada, saudara punya urusannya masing-masing. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 19 November 2017

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Banyak sekali kisah-kisah menarik tentang sosok pendiri yang mewarnai sejarah pesantren-pesantren di Indonesia. Salah satunya adalah KH Muhammad Said, pendiri pesantren Gedongan, Cirebon.?

Menurut Aghust Muhaimin, pengurus pesantren menceritakan bahwa Mbah Said pernah melakukan shalat padahal kondisi desa sedang mengalami banjir besar. Awalnya seperti biasa, Mbah Said dan para jama’ah melaksanakan shalat di sebuah langgar Gedongan, lalu tiba-tiba hujan besar datang dan menghasilkan banjir yang luar biasa dan membuat para jama’ah yang bermakmum ke Mbah Said terpaksa harus membubarkan diri.

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Said Shalat di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir

Anehnya Mbah Said tetap meneruskan shalatnya, hingga saat tiba pada rakaat terakhir dan salam, kondisi banjir sudah setinggi pundak Mbah Said, kemudian Mbah Said terheran saat menoleh ke belakang dengan kondisi jamaah yang kosong, tak lama warga kembali untuk menyelamatkan Mbah Said,

Ribath Nurul Hidayah

“Eh, kenapa kalian bubar?” tanya Mbah Said

“Kampung kebanjiran Kiai, jadi kami terpaksa bubar untuk menyelamatkan diri, tapi kiai tampak sedang khusyu sekali, kami kesulitan untuk mengingatkan Kiai,” jelas salah satu warga

Ribath Nurul Hidayah

“Loh, hujannya kapan? Tiba-tiba langsung banjir saja,” tanya Mbah Said terheran-heran.

Aghust Muhaimin menambahkan, cerita tentang kekhusyuan shalat Mbah Sa’id ini merupakan sebagian kecil dari pelbagai kisah yang sampai sekarang masih terasa lekat di hati masyarakat Gedongan. Masih terdapat banyak kisah lain yang sebenarnya mengandung amanat dan pesan yang baik bagi masyarakat dan keluarga besar pesantren.

“Kisah tersebut sudah saya konfirmasikan ke pengasuh pondok, KH Amin Siroj, beliau juga menyebutkan kisah-kisah lain yang juga penting untuk dipelajari pesan dan amanatnya,” pungkas pria yang kerap disapa Kang Aghust tersebut. Kamis (9/5).

Selain tentang kisah kekhusyuan shalat Mbah Said, masyarakat juga mencatat kisah-kisah lain yang juga terbilang menarik, diantaranya adalah kemampuan Mbah Said untuk memberhentikan kereta api jurusan Surabaya-Jakarta yang melintas ke tengah pesantren saat digelarnya pasar santri, serta kisah tentang pembuatan sumur kramat yang dilakukan oleh Mbah Said sendiri di beberapa pesantren, seperti di pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon dan Krapyak, Yogyakarta.

KH Muhammad Said yang telah berjasa mendirikan pesantren Gedongan Cirebon ? pada tahun 1880 ini diperingati haulnya pada hari Sabtu, 11 Mei 2013. (Sobih Adnan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, News, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 15 November 2017

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Meningkatnya jumlah pondok pesantren dengan membuka sekolah formal hendaknya tidak menggeser tradisi yang telah mapan. Bahkan, lembaga pendidikan tersebut seharusnya justru memperkokoh tradisi yang sudah ada.

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr KH Imam Suprayogo saat mengisi seminar nasional “Eksistensi Pendidikan Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (11/3).

Bagi Imam, dalam perjalanannya pesantren ternyata tidak bisa menutup mata dengan perkembangan baru yang mengitari. Jika dahulu pesantren hanya sebagai tempat mengaji ilmu agama memalui sistem sorogan, wetonan dan bandongan, maka saat ini telah membuka pendidikan sistem klasikal. “Bahkan program baru yang berwajah modern dan formal seperti madrasah, sekolah dan bahkan universitas juga ada di pesantren,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim ini mengatakan, “Adaptasi adalah bentuk keniscayaan tanpa mengilangkan ciri khas yang dimiliki pesantren.”

Ribath Nurul Hidayah

Apa hal yang tidak boleh hilang dalam tradisi di pesantren? Yakni pengajaran agama secara utuh. “Sejak awal, pesantren diorientasikan kepada bagaimana para santri dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara baik. Pendidikan pesantren adalah pendidikan Islam yang berusaha mengantarkan para santri menjadi alim dan shalih, bukan menjadi pegawai atau pejabat,” terangnya.

Hal lain yang menarik dari pesantren adalah tidak dikenalnya tradisi menyontek, apalagi memalsu daftar nilai, ijazah, dan membuat program yang berorientasi kepada aspek formal dengan menanggalkan aspek substansial.”Karena itu cukup rasional kalau pesantren tidak mengenal program kelas jauh dan kelas eksklusif berupa kuliah Sabtu-Minggu yang dikhawatirkan dapat memerosotkan kualitas pendidikannya,” ungkap Prof Imam.

Pada saat yang bersamaan, pesantren senantiasa diisi dengan nilai keikhlasan, ridha, tawadhu’, karamah, barakah dan semacamnya. “Inilah letak perbedaan antara pesantren dengan pendidikan modern, termasuk sekolah dan universitas,” katanya.

Dengan menyitir pandangan Prof H A Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, Prof Imam mengingatkan ungkapan bahwa pesantren adalah pesantren, dan tidak akan pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.

Karena itu, Prof Imam sangat menyayangkan bila ada seseorang atau kelompok yang mengecilkan arti pesantren. “Pesantren adalah satu-satunya institusi yang berhasil melakukan transmisi Islam dan bahkan bagi kemajuan bangsa ini,” katanya. “Sebab kemuliaan pesantren terletak bukan semata kepada orientasi materi, tetapi keberadaannya lebih diorientasikan kepada memperkaya ilmu dan keluhuran budi,” lanjutnya.

Disamping Prof Imam, seminar ini menghadirkan DR H Suwendi dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dan DR KH Salahuddin Wahid selaku Rektor Unhasy. (Syaifullah/Mahbib)?

?

foto ilustrasi: .net

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah. Setelah berjibaku dalam medan pelatihan selama empat hari, para Dosen Muda peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda Gerakan Pemuda Ansor menelorkan Piagam Tulungagung. Piagam ini ditetapkan menjelang penutupan pelatihan.

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

?

Latar belakang munculnya Piagam Tulungagung dilandasi keprihatinan betapa NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia sedang berada dalam ancaman. Para dosen muda itu menyoroti bahwa terdapat upaya sistematis yang merongrong dan berusaha memecah belah NKRI.?

Upaya-upaya itu dilatarbelakangi politik sektarian berbasis perbedaan suku, ras, agama, dan golongan. Dampaknya, benih-benih disintegrasi mulai muncul di mana-mana.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, para dosen muda itu berpandangan bahwa perbedaan adalah sebuah fakta yang tak mungkin dihilangkan. Karena sejatinya perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bukanlah laknat.?

Tinggal bagaimana segenap komponen bangsa dengan beragam perbedaan itu mampu merawat persatuan dan kesatuan. Sehingga, NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia masih tetap utuh dan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Piagam Tulungagung itu, Dosen Muda GP Ansor menyampaikan sikap:

1. Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk dan menumbuh-kembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan adalah rahmat dan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.

2. Mengajak segenap komponen bangsa untuk terus berperan aktif dalam mengkampanyekan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam setiap lini kehidupan.

3. Melawan radikalisme yang mulai berkembang di berbagai lapisan masyarakat dan membahayakan bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Menjadikan kampus/perguruan tinggi sebagai basis perjuangan dalam upaya melawan berkembangnya radikalisme.

5. Mendorong pemerintah untuk menindak tegas kelompok/golongan yang melakukan gerakan merongrong kedaulatan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adung Abdul Rochman, Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor menyampaikan apresiasi atas ditelorkannya Piagam Tulungagung. “Kami menyampaikan penghargaan terhadap para Dosen Muda yang telah menelorkan Piagam Tulungagung, ini merupakan upaya tepat dan langkah awal melawan radikalisme yang berkembang di perguruan tinggi,” tegas pria asal Jombang tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Adung, komitmen para civitas akademika sangat penting dalam melawan infiltrasi gerakan radikal yang hari-hari ini mengalami eskalasi di berbagai tempat. "Kampus harus menjadi pusat moderasi bagi tumbuhnya Islam yang terbuka, damai dan toleran" kata Adung Abdul Rochman

Sebagaimana diketahui, 148 Dosen Muda GP Ansor mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor. Pelatihan ini dilaksanakan di Kampus IAIN Tulungagung dibuka pada Kamis, 30 Maret 2017 dan ditutup pada Ahad, 2 April 2017. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Bahtsul Masail, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sebagian besar Muslim Suni radikal mengikuti ajaran Wahhabi. Namun, banyak organisasi Wahabi yang menentang kekerasan atas nama agama dan diskriminasi berbasis gender yang diajarkan ideologi Wahabi.

Sejumlah kelompok yang bisa diidentifikasi sebagai Wahabi menolak kekerasan, intoleransi, fanatisme, dan kebencian terhadap wanita. Sejumlah data menyebutkan adanya gerakan Wahabi yang tidak menyukai kekerasan.

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi

Demikian disampaikan pengajar UIN Sunan Kalijaga Dr Inayah Rohmaniyah dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (Label) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (18/11).

Ribath Nurul Hidayah

Penelitian disertasi Inayah mengambil judul "Multikulturalisme dalam Kebahagiaan dari Orang Towani Tolontang dan Orang Kajang di Sulawesi Selatan sampai Orang Wahabi di Jawa Tengah". Berlandaskan penelitiannya itu, ia menolak pandangan sempit terhadap ajaran Wahabi yang keras.

Peelitiannya di pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan, ajaran-ajaran Wahabi tidak selalu menyebabkan diskriminasi berbasis gender atau melahirkan sistem representasi di mana kebencian terhadap perempuan (misoginis) menjadi simbol dominasi dan kekuasaan maskulin.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Inayah, dalam proses pendidikan di Madrasah Wathoniyah Islamiyah ini, kaum perempuan juga terlibat dalam proses pendidikan, baik sebagai pengajar maupun pelajar. Bahkan siswa perempuan diperbolehkan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di ruang publik, tetapi dengan syarat memakai jilbab untuk mencegah kekerasan seksual.

"Habitus dan praktik yang berakar pada pemahaman Wahabi dapat berperan dalam rekonstruksi identitas individu dan kolektif dan praktik yang tanpa kekerasan, tentang hubungan antara kemanusiaan dan ke-Ilahian, nasionalisme Indonesia, dan budaya Islam Jawa", pungkas pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam itu. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh, Tokoh, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 November 2017

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah kesempatan ceramah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menyatakan sungguh sayang jika kita hanya memiliki guru-guru yang masih hidup. Justru mereka, para kiai dan ulama yang telah lama wafat, adalah guru sejati kita. Sebab, menurut tokoh kelahiran Bone (Sulawesi Selatan) itu, mereka yang telah sumare kini tak memiliki kepentingan lagi. Dan baik buruknya seseorang hanya dapat diketahui saat ia telah tiada.

Pemikiran Nasaruddin di atas—juga banyak ulama yang mengatakan hal senada—membuat kami memutuskan untuk menziarahi para guru, ulama, dan kiai. Memanfaatkan hari libur beberapa waktu lalu, kami memulai ziarah tepat 8 pagi. Aroma basah jalanan sisa hujan semalam masih kuat terasa. Dari bilangan Krapyak, Bantul, kami berlima—rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY—langsung menuju makam Dongkelan, makam dari KH Moenawwir, KH Ali Maksum, dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak, Bantul. Bacaan tahlil kami lakukan sekitar 20 menit dan perjalanan dimulai lagi. Tepat Pukul 09.15 kami sampai di makam KH Nur Iman atau sering disebut BPH Sandiyo. Makam ini terletak di Mlangi, sekitar 200 meter dari ring road barat. Kalau saat momentum Ramadhan, kampung ini dikenal sebagai sentra mercon kota Yogya.

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)
Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Makam Mbah Kiai Nur Iman tepat berada di barat Masjid Pathok Negara Mlangi. Saat kami masuk, ada dua orang santri perempuan sedang khusyuk mengaji. Kedatangan kami tampaknya tak mengganggu mereka, terbukti bacaan Qur’an tetap nyaring, stabil dan terus mereka lantunkan.

Ribath Nurul Hidayah

Sunan Pandanaran

Ribath Nurul Hidayah

Pukul 10.00 kami meninggalkan Mlangi, kemudian bergegas menuju Bayat, Klaten. Maklum, momentum liburan dan kendaraan luar kota mulai padat memasuki Yogyakarta dari arah timur membuat kami mesti pintar-pintar estimasi waktu. Tujuan kami adalah Makam Sunan Pandanaran, atau Sunan Padang Aran, atau dikenal juga Sunan Bayat. Arah menuju makam cukup gampang. Anda tinggal menuju Klaten dan dari arah Yogya sudah ada papan plang penunjuk jalan menuju makam. Masuk sekitar 8 km dari jalan utama Yogya-Solo.

Makam Sunan Pandanaran terletak di Gunung Cokrokembang. Tak heran Anda mesti menaiki sekitar 250 anak tangga. Bagi yang jarang olahraga, pasti nafas akan cukup tersengal. Tapi Anda tak perlu khawatir, bagi yang tidak kuat, ojek motor siap mengantar Anda sampai atas dengan tarif Rp 7.000 sekali naik. Di samping kiri-kanan tangga terdapat para penjual cinderamata, pakaian, makanan khas, dan sarung termasuk aneka tasbih, cincin akik bahkan alat masak tradisional. Pokoknya komplit!

Semuanya laris dilihat dari banyaknya peziarah yang memborong. “Kiai besar itu sudah wafat saja masih menghidupi banyak orang, sedang kita yang masih hidup justru selalu mencelakakan orang,” tukas teman yang ikut ziarah. 

Sejak pintu kedatangan ada beberapa gapura yang langsung menyambut kedatangan kita. Dimulai dari Gapura Segara Muncar di depan parkiran, Gapura Dhuda yang menyapa di depan anak tangga pertama, Gapura Pangrantungan hingga Gapura Panemut, Pamuncar, Balekencur, Prabayeksa yang keempatnya berada di kompleks makam.

Di samping Gapura Dhuda Anda diwajibkan membayar retribusi masuk Rp 1.000/orang. Sedang di Gapura Pangrantungan Anda akan disambut abdi dalem diminta untuk mendaftarkan diri. Kata seorang abdi dalem yang berjaga, tiap hari ada 1.000 pengunjung yang datang ke sana. “Apalagi kalau bulan Ruwah dan Rejeb, bisa sampai 2.000 orang yang ziarah,” katanya lagi. Di gapura ini, terdapat masjid yang disediakan bagi peziarah sekadar melepas lelah dan untuk menegakkan sholat. Rasa lelah setelah naik tangga akan terbayar dengan pemandangan Kota Klaten dan Yogya dari atas yang sungguh elok rupa. Jajaran pegunungan seribu juga terlihat dan inilah yang disebut Jolosutra. Tempat di mana Sunan Kalijaga ‘menanam’ murid-muridnya untuk menyebarkan agama Islam, sekaligus membentengi masyarakat dari gangguan dari luar.

Kompleks Makam Sunan Bayat cukup eksotis. Bangunannya mirip pura atau Kerajaan Hindu. Didukung dengan masyarakat sekitar yang tampaknya sadar akan potensi ini, maka jadilah ziarah di Makam Sunan Bayat mampu menjadi magnet siapapun yang melakukan perjalanan wisata spiritual.

Saat kami tiba di makam, ternyata ratusan peziarah sedang melafalkan kalimat tahlil. Mereka datang dari Cilacap, Tuban dan Rembang. Pukul 13.30 kami akhiri dan bersegera menuntaskan ziarah hari itu. Keasyikan ziarah dan mengenang kembali jasa serta ajaran mereka yang telah sumare membuat kami lupa untuk santap siang. Kami memilih sebuah restoran di pinggir Jalan Raya Solo-Yogya. 

Tampaknya arus kendaraan yang berjejal ingin masuk ke Yogya sangat padat sekali. Rencana untuk ziarah ke makam KH Zainal Muttaqin, salah seorang putra Sunan Kalijaga yang berada di selatan Bong Supit Bogem terpaksa kami urungkan. Kami berbelok ke selatan menuju Dusun Jolosutro. Di sana terdapat makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga lainnya.

Sekitar Pukul 16.00 kami sampai di Dusun Jolosutro yang terelak 5 km di selatan Jalan Yogya-Wonosari km 14. Kami sholat ashar di Masjid Sunan Geseng dan naik menuju makam. Setelah memarkir kendaraan kami hendak jalan kaki menuju makam. Seorang penduduk mengingatkan kami, jalan kaki menuju makam menempuh jarak 1 km dan menghabiskan 30-40 menit. Terjal, naik dan siapapun yang tidak terbiasa akan kewalahan. Untungnya ada penduduk lainnya yang memberitahu, jalan menuju makam relatif mulus dan dapat dilalui kendaraan asal lewat jalur Patuk Gunungkidul. Kami menurut saja. Perkiraan waktu pulang dari makam selepas maghrib tentu tak nyaman jika harus menuruni bukit.

Putar haluan, kami menuju Patuk. Tepat di pos polisi Patuk kami ke selatan, ikuti jalan hingga ada bak air raksasa. Ambil kiri dan menapaki jalan hotmix yang berdasarkan papan keterangan dibangun oleh Pemkab Bantul, sampailah kami di makam Sunan Geseng. Benar saja, kendaraan dapat dibawa sampai kompleks makam. Di sana ada musholla kecil dan kamar mandi dengan air melimpah.

Sunan Geseng atau Pangeran Panggung adalah salah satu putra Brawijaya V yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Konon ada 99 makam Sunan Geseng di seluruh nusantara, tapi yang diyakini benar sebagai makamnya ada di tiga tempat: Tuban, Grabag, dan Jolosutro Piyungan. Gus Dur sendiri pernah ziarah di sini dan mengatakan yang paling tepat dari kemungkinan yang ada hanyalah yang di Jolosutro Piyungan.

Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk pulang. Seharian ziarah di kawasan DIY-Jateng tentu menguras tenaga. Namun, kami percaya bahwa mereka yang telah sumare itu memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Dan sepantasnya bagi kita untuk mendoakan mereka, berharap ikatan batin itu selalu terjaga. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 14 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Rembang, Ribath Nurul Hidayah. Sedikitnya seratus anak yatim mengikuti buka puasa bersama yang diselenggarakan Komisariat IPNU-IPPNU MA Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) desa Gandrirojo kecamatan Sedan kabupaten Rembang di aula sekolah setempat, Sabtu (11/7) sore. Usai berbuka puasa, mereka pulang dengan membawa paket santunan yang disediakan penyelenggara.

"Kami sengaja mengundang 100 anak yatim untuk mengikuti buka bersama ini. Bukan hanya buka bersama, kami juga berbagi santunan kepada mereka," tutur Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim kepada Ribath Nurul Hidayah.

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Tampak hadir seluruh civitas dan siswa-siswi MA YSPIS. Turut mengundang jajaran pengurus MWCNU Sedan. Terlihat hadir Mustasyar PCNU Rembang KH Sahlan M Nur. Saat memberikan sambutan, Muhtar mengatakan, jangan bersedih, jangan berkecil hati, bapak kalian (anak yatim, red.) adalah Rasulullah SAW.

Ribath Nurul Hidayah

Pihaknya berharap tahun depan dapat bekerja sama dengan Lazisnu agar bisa lebih banyak lagi mengundang anak yatim. "Dengan begitu, kami bisa mengundang minimal 500 anak yatim untuk mengikuti acara rutinitas sekolah kami ini," harap Muhtar yang juga menjabat Ketua MWCNU Sedan itu.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah yang diikuti oleh seluruh siswa dan undangan. Sementara doa bersama dipimpin oleh KH Sahlan untuk kemajuan civitas akademik yang ada di bawah naungan Yayasan Badan Pelaksana Pendidikan Maarif NU (BPPM-NU). (M Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Bahtsul Masail, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 12 Oktober 2017

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Paniai tengah membangun madrasah di daerah setempat untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama Islam di kawasan pedalaman ini. Usaha tersebut ditandai dengan koordnasi antara PCNU Paniai dan PBNU.

Senin (27/7), rombongan PCNU Paniai bertandang ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan jajaran Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU. Sebelumnya, Sabtu, mereka bertemu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, didampingi Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra serta Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif H Arifin Junaidi.

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Kebutuhan Pendidikan Islam, NU Dirikan Madrasah di Paniai Papua

Menurut Ketua PCNU Paniai Shodiqin, ketersediaan lembaga pendidikan agama Islam di Papua sangat terbatas. Dalam kondisi ini, cabang NU yang baru menerima Surat Keputusan (SK) pada Desember lalu ini ingin berkontribusi nyata membantu pemerintah dalam bidang pendidikan.

Ribath Nurul Hidayah

“Maka PCNU Kabupaten Paniai beriktikad kuat untuk dapat mendirikan satuan pendidikan Islam yang bernaung di bawah NU," ujarnya.

Sekertaris PC LP Ma’arif NU Kabupaten Paniai Ahamd Syaiful Mujib menambahkan, ke depan pihaknya akan mendirikan madrasah ibtidaiyah yang bernaung di LP Maarif NU dengan tentap menyelngarakan pendidikan nonformal seperti TPQ dan Madin berbadan Hukum NU.

Ribath Nurul Hidayah

Pertemuan yang dilakukan di ruang kerja ketua umum PBNU berlangsung hangat. Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyampaikan keinginannya untuk datang ke Paniai dan membantu perkembangan NU di daerah pedalaman tersebut.

Turut hadir dalam pertemuan Rais Suriyah PCNU Kabupaten Paniai KH Dahlan Kader dan Wakil Ketua PCNU Kabupaten Paniai Ahmad Muslih. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 03 Oktober 2017

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Sudah menjadi kebiasaan mayoritas muslim di Indonesia pada momentum Lebaran tidak ketinggalan mengadakan tradisi yang dinamakan Halal bihalal. Acara yang rutin digelar oleh masyarakat di bulan Syawal sejak puluhan tahun silam ini diyakini sebagai tradisi yang selaras dengan ajaran Islam.

Masyarakat dari generasi ke generasi berupaya melestarikan tradisi Halal bihalal bukan tanpa sebab. Misal yang dijalani oleh keluarga besar keturunan Mbah Mastam dan Mbah Zonah. Pasangan yang wafat puluhan tahun silam itu pernah tinggal di desa Papringan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai 7 anak, kemudian hingga kini beranak pinak sampai melahirkan anak, cucu dan cicit yang jumlahnya sudah ratusan.

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.

Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.

"Kalau berkumpul seperti ini rasanya senang bukan? Rasanya kita ingin berlama-lama sebab setahun ada yang tidak bertemu," tutur kiai Masykuri di hadapan ratusan anggota keluarga Bani Mastam-Zonah, Jumat (8/7) siang, di salah satu kediaman keluarga di desa Daren, Jepara, Jawa Tengah.

Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.

"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, Nasional Ribath Nurul Hidayah