Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam jangka panjang, yang menjadi penentu dalam berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat adalah masyarakat itu sendiri, bukan pemimpin keagamaan. Karena itu, pilihan negara Islam menjadi sangat tidak tepat.

“Bukan lagi kiai yang menentukan. Karena itu, almarhum Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ary dan KH. Wahid Hasyim itu berfikir ya sudah negara ini jangan dijadikan negara Islam,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di depan para puluhan peserta pengajian Ramadhan di Pesantren Ciganjur, Jakarta (1/10).

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Saya Ikut Mbah Hasyim

Kenapa kita menjadi negara Pancasila? Menurut Gus Dur, dalam masa depan pluralitas itu sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia yang beragama. Islam sendiri tidak memungkiri adanya pluralitas itu.

“Maka mau tidak mau jangan negara Islam. Kalau saya sih ikut Mbah Hasyim saja (KH. Hasyim Asy’ary: Red), karena kenyataannya memang begitu,” kata Gus Dur.

Konsekuensi dari negara Pancasila adalah adanya pemisahan yang tegas antara agama dan negara. “Karena itu undang undang seperti Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) harus dihindarkan, nah karena itu berarti UU berarti pemerintah campatr tangan,” kata Gus Dur yang sejak awal berbeda dengan PBNU dalam soal APP.

Dalam negara Pancasila, dikatakan Gus Dur, pemerintah tidak dapat menentukan apakah sebuah intitusi dalam masyarakat telah mengganggu ketentraman umum atau tidak. Gus Dur mencontohkan, pemerintah yang diwakili oleh pihak kepolisian sempat berencana menutup pesantren Nguki Solo yang dipimpin oleh Ustadz Ba’asyir karena dinilai meresahkan masyarakat dan diklam sebagai sarang penggemblengan para teroris.

Ribath Nurul Hidayah

“Waktu itu hanya saya yang berani membantah. Saya katakan, bahwa negara tidak punya urusan untuk menutup pesantren. Masyarakat yang berhak menutup, bukan kepolisian. Apalagi kepolisian kan hanya menjalankan perintah saja, tidak berhak menentukan apakah melanggar kepentingan umum atau tidak,” kata Gus Dur. (nam)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Nasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Februari 2018

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Jeddah, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan pengurus Masjid Indonesia Jeddah mengadakan pengajian rutin setiap Jumat pagi hingga menjelang Jumatan. Pengajian dengan pembacaan kitab "Nashoihul Ibad" ini diasuh tokoh NU di Jeddah Ustadz H Arsyad Hidayat, Jumat (14/11).

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Ustadz H Arsyad Hidayat mengupas muqaddimah kitab Nashoíhul Ibad. Ia juga menyampaikan kepada para jamaah agar tidak memberikan sisa-sisa untuk Islam.?

“Ketika ada kepentingan sesuatu, Islam dibawa-bawa. Kalau kepentingan sudah dicapai, Islam ditinggalkan. Inilah tujuan mengaji agar tetap istiqomah memakmurkan dan mempererat tali silaturahmi sesama WNI TKI di luar negeri,” kata Ustadz Arsyad.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCINU Arab Saudi Ir Ahmad Fuad merespon dan mengajak seluruh jamaah untuk datang lagi pada Jumát depan.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara Ketua pengajian masjid Indonesia Jeddah Shaleh Maryono mengimbau agar jamaah mengajak sanak famili dan handai taulan untuk mengaji serta mencari ridha Allah dengan mendatangi majelis taklim yang diagendakan rutin Jumat pagi. (Ahmad Thabib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati harlah ke-81, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor NU Pringsewu menggelar istighotsah dan shalawat bersama 24/04/15 di gedung NU Pringsewu yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Cabang dan PAC GP Ansor dan Banser dari 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu.?

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pringsewu Peringati Harlah dengan Istighotsah dan Shalawatan

Dalam sambutannya Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan mengatakan bahwa di usia ke-81 ini GP Ansor Pringsewu bertekad untuk lebih menanamkan nilai nilai Ahlussunnah wal Jamaah kepada seluruh anggota Ansor dan Banser. Selain penanaman nilai-nilai Aswaja tersebut, kaderisasi juga merupakan salah satu program utama kepengurusan yang dinahkodainya.

Menurutnya kaderisasi sangat penting dalam rangka menjaga eksistensi sebuah organisasi. Oleh karena itu pada bulan mendatang PC GP Ansor akan merekrut anggota baru untuk dididik dalam Pendidikan Latihan Dasar untuk Ansor dan Banser.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami ingin para anggota Ansor dan Banser benar-benar menjadi pemuda yang tangguh dan militan dalam berorganisasi," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Nampak hadir pada kegiatan ini H Taufiqurrohim, ketua tanfidziyyah PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memimpin istighotsah dan doa bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Simtudduror yang bekerja sama dengan Repshol (Remaja Pecinta Sholawat) Pringsewu. (m faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 01 Februari 2018

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Semua hal selain Allah adalah kepalsuan. Tak setiap manusia menyadarinya. Inilah tugas berat para penempuh jalan tasawuf. Hati mereka dituntut bersih dari rasa bangga tak hanya atas kekayaan dan kedudukan tapi juga prestasi keagamaan.

Pesan ini muncul dalam pengajian rutin tasawuf yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang Ketua Umum PBNU sekaligus pengasuh pengajian KH Said Aqil Siraj, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (14/1) malam.

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Kang Said menjelaskan, Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi mendefinisikan tasawuf sebagai penggapaian Kebenaran Sejati dan keberpalingan diri dari semua bentuk kepalsuan. Namun, tak sedikit penghuni dunia ini cenderung berlaku sebaliknya, menduakan Tuhan dan asyik berkubang dalam ketidaksejatian.

Ribath Nurul Hidayah

”Padahal di dunia ini 99,9% palsu semua. Kepalsuan kita ada yang dibungkus dengan jas dan dasi; ini masih mending karena terlihat terang dan jelas. Ada yang dibungkus pakai sorban dan jenggot; ini yang paling sulit, karena tidak terasa,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Doktor Universias Umml Qura Mekah ini juga mendasarkan pendapat tersebut pada surat Luqman ayat (33) yang memperingatkan manusia untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan ketaatan beribadah. Kepalsuan, menurut Kang Said, meliputi banyak hal.

”Ada kepalsuan yang ditutupi dengan ilmu. Ada yang ditutup dengan kedudukan, jadi ketua umum PBNU. Ada yang ditutup dengan ibadah, jidatnya item. Ada yang ditutup dengan keturunan, jadi habib atau gus/lora (putra kiai). Ada juga yang ditutup dengan hafidz Qur’an dan hafidz hadits,” tambahnya.

Menurut Kang Said, para penempuh jalan tasawuf mempunyai kepribadian merdeka, karena hatinya senantiasa dipenuhi kesadaran akan Allah. Dengan kondisi jiwa semacam ini, mereka sanggup melepas berbagai gejala emosional, seperti rasa takut, marah, dan bangga.

Dalam kali kedua pengajian tasawuf PBNU dengan materi disertasi doktoralnya ini, Kang Said mengulas ragam definisi tasawuf menurut kaum sufi, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami, Sahl al-Tustari, dan sejumlah sufi lainnya. Menurut jadwal, pengajian akan digelar secara berkala setiap senin malam.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, AlaNu, Kajian Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 26 Januari 2018

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, umat Islam tidak boleh diam melihat kezaliman yang menimpa Palestina. Menurut dia, apa yang dilakukan Donald Trump yang mengklaim Yerusalem ibu kota negara Israel adalah adalah bentuk kezaliman dan menantang arus internasional demi keuntungan satu bangsa.

Membela tanah air, menurutnya, adalah menjalankan perintah agama karena tanah yang subur kaya-raya ini merupakan amanah Allah sehingga wajib mengembangkan dan membangunnya. 

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Palestina Dizalimi, Umat Islam Tak Boleh Diam

“Itu perintah agama, bukan perintah politik,” tegasnya pada pidato di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Pusat Fatayat NU di gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (16/12).  

Umat Islam, menurutnya, harus membela Palestina dan menolak Yerusalem sebagai ibu kota Israel karena itu adalah bentuk kezaliman terhadap tanah air sebuah negara. 

Ribath Nurul Hidayah

“Kita tak boleh diam terhadap kezaliman. Kita tak boleh berpangku tangan. Ini harus kita lawan. Kita harus membela Palestina. Kita harus berada di belakang Palestina,” serunya. 

Pada Jumat (15/12) Kiai Said mewakili tokoh-tokoh lintas agama untuk menyampaikan pernyataan sikap terhadap klaim sepihak Donald Trump itu. Juga mendukung sikap pemerintah Indonesia untuk menyuarakan kedaulatan Palestina. 

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Kiai Said, hal itu sebagai wujud implementasi diktum pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

“Maka kami mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk terus memperjuangkan dengan lantang tentang kedaulatan Palestina,” katanya. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, AlaNu, Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 23 Januari 2018

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Pamekasan, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Republik Indonesia H Ir Dian Faridz menyatakan salut atas spirit kemandirian yang tertanam kuat dalam kehidupan pesantren. Menurutnya, salah satu kelemahan generasi muda saat ini ialah terletak pada semangat kemandirian tersebut.

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Ia menyampakan hal itu saat mengunjungi Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/01). Dalam lawatannya tersebut, Faridz menghadiri maulid nabi Muhammad SAW dan milad ke-45 Pondok Pesantren Bustanul Ulum di Tagangser Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan.

"Dan harus diakui, pesantren mempunyai peran besar dalam menguatkan spirit kemandirian di tubuh bangsa ini. Dari pesantren lah generasi bangsa yang sangat tangguh bermunculan," akunya kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Ditegaskan, spirit kemandirian tersebut diharapkan tetap lestari. Jangan sampai ganasnya era globalisasi justru memasungnya. "Dan kami berkeyakinan, selagi langkah kiai tetap mengetengahkan nilai keislaman, ganasnya globalisasi tidak akan mampu menggerus nilai-nilai mulia kepesantrenan," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena pesantren mempunyai peran vital dalam membangun negeri ini, pihaknya menyatakan tidak akan mengabaikan keberadaannya. Tentu dengan memperhatikan perkembangan pesantren melalui program pemerintah yang pro-rakyat. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Senin, 15 Januari 2018

PP Muslimat NU Serahkan Bantuan Peralatan Pembelajaran Sosial Dasar

Bogor, Ribath Nurul Hidayah - Selain diwarnai pemaparan materi dan praktik, kegiatan Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar yang diselenggarakan PP Muslimat NU, juga dilengkapi dengan pemberian bantuan berupa alat-alat penunjang oleh PP Muslimat NU.

Penyerahan bantuan dilakukan di lokasi kegiatan, yakni Pondok Pesantren Sunanul Huda, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Senin (7/8).

PP Muslimat NU Serahkan Bantuan Peralatan Pembelajaran Sosial Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Serahkan Bantuan Peralatan Pembelajaran Sosial Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Serahkan Bantuan Peralatan Pembelajaran Sosial Dasar

Terdapat empat bidang yang diajarkan pada kegiatan tersebut, sehingga bantuan juga terkait dengan bidang-bidang yang diajarkan.

Untuk pelatihan guru PAUD bantuan adalah alat permainan edukatif (APE) yang diserahkan oleh Ketua IV PP Muslimat NU, Hj Siti Aniroh Slamet Effendy Yusuf. Bidang peningkatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan IT dan keorganisasian berupa komputer dan printer yang diserahkan oleh Sekretaris Umum PP? Muslimat NU Hj Ulfah Mashfufah.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Sementara bidang peningkatan usaha ekonomi produktif melalui pelatihan kewirausahaan berbasis kearifan lokal bantuan peralatan yakni? mesin jahit dan obras yang diserahkan oleh Bendahara Umum HJ Andi Nurhiyari Jamaro.

Khusus untuk peningkatan usaha gizi keluarga dan pelatihan kader kesehatan berupa dana pembangunan Posyandu Desa Kalong 1, dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, ditandai dengan penyerahan prasasti pembangunan Posyandu oleh HJ Nur Hayati Said Aqil Siroj.

Selain sebagai penunjang proses pembelajaran, bantuan tersebut diharapkan akan dimanfaatkan secara maksimal selepas kegiatan.

Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar dilaksanakan 7-9 Agustus, diikuti sedikitnya 80 peserta. Pengamatan Ribath Nurul Hidayah, selama kegiatan berlangsung para peserta mengikuti dengan antusias. Selain di Bogor Jawa Barat, kegiatan serupa juga akan akan dilakukan di Biring Ere, Sulawesi Selatan beberapa waktu mendatang. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Januari 2018

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Pringsewu, Ribath Nurul Hidayah

Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi mengupas makna Jihad dalam Refleksi Satu Tahun dilaksanakannya Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi), Ahad (21/02/16). Kegiatan yang dihadiri ratusan Jamaah yang datang dari segala penjuru Kabupaten Pringsewu ini dibarengkan dengan Launching Kegiatan Pra Harlah Ke-93 NU PCNU Kabupaten Pringsewu.

Baca:? Empat Kegiatan PCNU Pringsewu Sambut Harlah Ke-93 NU

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Dalam penjelasannya Abah Sujadi, biasa ia dipanggil, mengatakan bahwa mayoritas orang menafsirkan dan mengaitkan Jihad dengan peperangan. "Selain ditafsirkan dan dikaitkan dengan peperangan, pengembangan makna jihad menyentuh kepada perjuangan di jalan kebaikan atau sabilur khoir," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Kata Jihad dalam bahasa Arab terdiri dari 4 huruf yang masing-masing memiliki makna sesuai dengan tujuan jihad. "Jihad terdiri dari huruf Jim yaitu Juhdun wajihadun, huruf Ha yaitu hidayah, huruf Alif yaitu aman dan amanah dan huruf dzal yaitu dawam dan daulah," katanya mengutip Kitab Dalailul Falihin yang merupakan Syarah Kitab Riyadus Shalihin Jilid IV.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa setiap orang yang berjihad harus memiliki 4 rukun Jihad tersebut. "Rukun yang pertama adalah juhdun yaitu bersungguh sunguh. Dalam jihad kita harus bersusah payah namun tidak boleh merasa susah dan tidak boleh merasa payah," tegasnya dihadapan Jamaah yang memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Ribath Nurul Hidayah

Rukun yang kedua dalam berjihad menurutnya adalah hidayah yang bermakna petunjuk. "Dengan petunjuk ini kita akan mendapatkan hasil jihad yaitu berupa keberkahan. Dan keberkahan inilah yang diharapkan dalam kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Sujadi melanjutkan Rukun Jihad yang ketiga adalah Aman dan Amanah. Ia mengatakan bahwa keamanan adalah kunci dalam melaksanakan syariat Agama. "Jihad dilakukan dengan tidak merusak keamanan. Jika kondisi negara tidak aman maka kita akan merasa tidak tenang dan nyaman dalam melakukan Ibadah kita," ujar kiai yang juga Bupati Pringsewu ini.

Kemudian rukun jihad yang terakhir menurutnya adalah Dawam yaitu dilakukan secara terus menerus. " Jihad tidak bisa dilakukan secara instan. Jihad membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu dalam jihad tidak boleh memaksakan sesuatu berubah dengan cepat sesuai dengan keinginan kita," pungkasnya.

Sebagai rasa syukur atas sudah satu tahun Program Jihad Pagi pada diakhir acara dilakukan pemotongan Tumpeng oleh Abah Sujadi dan diberikan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan kader Fatayat NU dalam memegang peran keagamaan khususnya di kalangan anak-anak. Identitas ke-NUan seseorang, demikian kata Kang Said, justru terbentuk di masa anak-anak. Di sinilah Fayatat NU mengambil peran keagamaan itu.

“Di samping memainkan peran sosial, ekonomi, budaya, dan politik, Fatayat NU tidak boleh lengah pada peran keagamaan. Salah satunya, mengenalkan NU sejak dini kepada anak-anak,” kata Kang Said di hadapan seratus kader Fayatat NU dalam peringatan harlah ke-64 Fayatat NU di gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (24/4) siang.

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

Kalau Fatayat NU dalam konteks pendidikan agama anak-anak, tidak mengambil peran, maka kendali itu akan dipegang oleh orang bukan NU. Mereka, jelas Kang Said, akan menggarap ranah agama.

Ribath Nurul Hidayah

“Padahal mereka hanya memamerkan gamis dan jenggot. Mereka tidak memiliki metodologi dalam memahami Al-Quran, Hadis, hukum syariat. Mereka hanya ustadz karbitan. Modal pendidikan kilat agama bahkan hanya belajar dari terjemahan, mereka sudah percaya diri untuk mengajarkan agama,” imbuh Kang Said.

Ribath Nurul Hidayah

Apakah Fatayat NU akan menyerahkan garapan pendidikan agama anak-anak kepada mereka? tekan Kang Said.

Ia juga menyebutkan, siapa mengikut NU maka keislamannya dijamin benar. “Karena, NU mengikuti ulama madzhab yang menggunakan metodologi ilmiah dan teruji dalam memahami sumber agama. Ulama kita memakai asbabun nuzul, asbabul wurud, ushul fiqh, ulumul quran, ulumul hadits, dan sejumlah perangkat lainnya.”

“Karena itu, kendati banyak orang mencela amaliyah kita, Fatayat NU tidak boleh goyah. Kita mesti yakin berada di jalan yang benar,” tandas Kang Said di muka seratus kader Fatayat NU yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 Desember 2017

Media, Sastra, dan Kita

Oleh: Dedik Priyanto

“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang.? Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”?

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”?



Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Media, Sastra, dan Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Media, Sastra, dan Kita

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Ribath Nurul Hidayah

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Ribath Nurul Hidayah

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup. ? Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.?

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.?

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa ? memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.?

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita. ? ?

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.?

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.?

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.?

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.?

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu. ? Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik. ?

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.?

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.?

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban. ?

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan. Ketiganya laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.?

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja, ? tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”

Dedik Priyanto, Kord. Piramida Circle Jakarta. Bergiat di Senjakala dan angkringanwarta.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 Desember 2017

PMII: Jaga Ekologi Papua!

Jayapura, Ribath Nurul Hidayah. Sepuluh tahun pasca otonomi khusus diberlakukan di Papua, geliat pembangunan di Bumi Cendrawasih itu mulai terlihat dengan banyaknya pembangunan sejumlah pasar modern, dan pengembangan infrastruktur transportasi dan gedung-gedung.

Terkait dengan denyut pertumbuhan di Papua, Ketua Pengurus Besar PMII Bidang Kajian Pengembang SDA (KPSDA) Aidil Azhari mengingatkan bahwa industrialisasi di Papua harus memperhatikan ekologi dan kebutuhan masyarakat.?

PMII: Jaga Ekologi Papua! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Jaga Ekologi Papua! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Jaga Ekologi Papua!

Aidil mengatakan hal tersebut pada salah satu sesi dialog kebangsaan di acara Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Hotel Sentani, Jaya Pura, Kamis (13/12).

“Kembangkan saja pertanian dan perikanan. Jangan pertambangan. Perhatikan kondisi ekologi. Jayapura sebagai sentral Propinsi Papua jangan sampai rusak sementara masyarakatnya tak sejahtera,” tandasnya.?

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mengingatkan tentang dampak industrialisasi pada ketimpangan ekonomi masyarakat yang bakal melahirkan konflik baru di Papua. karenanya, Pemerintah dan kalangan industri menurutnya harus fokus pada peningkatan SDM lokal Papua.

Redaktur ? ? ? : Hamzah Sahal

Ribath Nurul Hidayah

Kontributor ? : Abdel Malik

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu Ribath Nurul Hidayah

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Semarang, Ribath Nurul Hidayah. Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat Walisongo Semarang menggenjot nalar kritis anggota melalui Sekolah Kader angkatan ke-4) di Pondok Pesantren Sabilul Huda Desa Wisata Kandri, Gunung Pati Kota Semarang (21-27/2).

Kegiatan bertema “Konstruksi Nalar Kritis Kader Guna Mentradisikan Laku Ilmiah” ini dibatasi 25 peserta, supaya lebih kondusif dan efektif. Peserta diberikan materi seputar filsafat dan ilmu sosial.

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Materi tersebut di antaranya, pengantar filsafat, filsafat modern, filsafat islam, filsafat pendidikan hingga filsafat sosial. Berbagai materi filsafat dan ilmu sosial tersebut disampaikan diantaranya oleh Dr. Tedi Kholiludin dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, kemudian Dr. Ilyas Supena Dosen Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kegiatan ini peserta Sekolah Kader juga diajak berdiskusi terkait materi yang telah diberikan lewat Focus Group Discussion (FGD). Ini memberikan kesempatan para peserta untuk dapat bertukar pikiran dan saling berdialektika terkait pemahaman mereka terhadap materi yang mereka dapatkan.

Dengan mengusung visi intelektual, Endah Kartika Ratnasari selaku direktur LkaP mengatakan, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi nalar kritis kader ke depannya, sesuai dengan tema yang kita usung.

Ribath Nurul Hidayah

Senada dengan Endah, Abdul Ghofar, ketua panitia, mengatakan, tujuan Sekolah Kader adalah upaya utuk menciptakan nalar berpikir ilmiah bagi kader-kader PMII. “Kami berharap tradisi berpikir kritis dapat diimplementasikan dalam laku sehari-hari alumni Sekolah ini”, imbuhnya

Agenda ini didukung penuh berbagai pihak terkait. Diantaranya dosen IAIN Walisongo yaitu DR. Mahfud Junaedi yang juga menjadi pemateri di Sekolah Kader menuturkan bahwa kegiatan seperti ini harus rutin dilaksanakan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para kader PMII untuk dapat berpikir kritis dan ilmiah. “Jangan sampai kuliah mengganggu kegiatan seperti ini. Kegiatan kuliah lancar, agenda seperti ini juga lancar,” tambahnya.

Dalam sekolah ini peserta tidak hanya diajak membaca, diskusi dan menulis. Para peserta juga diberikan tugas untuk  turun basis ke masyarakat sekitar untuk melakukan mapping persoalan sosial yang ada di wilyah Desa Kandri, turun basis ini bagian dari implementasi salah satu materi pada Sekolah Kader yaitu aplikasi filsafat sosial.

Agenda Sekolah yang dilaksanakan LKaP PMII Abdurrahman Wahid ini menurut salah satu peserta yakni, Baihaqi sangat bermanfaat. Dia sangat tertarik belajar filsafat. “Saya juga salut dengan panitia pelaksana yang begitu peduli dan tanggap akan kebutuhan peserta”, tambahnya.

Syafii, sebagai Ketua PMII Rayon Abdurrahman Wahid berharap kader-kader PMII ke depannya dapat menjadi lebih cerdas, kritis, berwawasan dan mampu memberi solusi atas permasalahan masyarakat.

Agenda yang sarat akan nilai intelektual ini tidak selesai begutu saja. Akan tetapi  ada rencana tindak lanjut untuk terus mengawal alumni Sekolah Kader ini. Adapun kegiatan sebagai follow up Sekolah Kader ini diantaranya Sekolah Nalar Kader, Diskusi Filsafat dan Pelatihan menulis.(Ria, Esty/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah?



Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpanan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Bondowoso periode 2017-2022 dilantik di pendopo Bupati Bondowoso Jawa Timur pada Ahad (12/3). Pelantikan tersebut dikemas dengan seminar dan lokakarya.?

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama H Saihan dalam sambutannya berharap setelah dilantik, Pergunu Bondowoso menjadi langkah baru untuk memajukan pendidikan, khususnya di Bondowoso.

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pergunu Bondowoso Diminta Miliki Data Guru NU

“Kami Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Bondowoso terus terang berasa haru, merasa bangga dengan gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang Pergunu Kabupaten Bondowoso,” katanya.

Gebrakan yang baik itu, kata dia, harus diteruskan dengan menata organisasi Pergunu ini. ? Karena, banom NU para guru itu merupakan organisasi profesi yang mesti di kelolah secara profesional.

Lanjut Saihan, banyak guru yang berafiliasi ke Nadlatul Ulama baik yang ada di Kemendikbud atau di Kementerian Agama. Dengan demikian, Pergunu harus betul-betul menggali potensi para guru tersebut. Untuk itu, kata dia, Pergunu Bondowoso harus mempunyai data guru-guru Nahdlatul Ulama.

Ribath Nurul Hidayah

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Pergunu H Rudolf Chrysoekamto mengatakan, Pergunu meski sudah didirikan sejak tahun 50-an, tapi aktif kembali enam tahun belakangan ini.?

Setelah kongres kedua di Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, kata dia, Pergunu memantapkan untuk kemandirian organisasi, peningkatan kualifikasi dan kompentensi guru-guru di seluruh Indonesia, khususnya berbasis Nahdliyin.

Ribath Nurul Hidayah

"Itu yang paling mendesak di samping konsolidasi organisasi kemudian peningkatan kualitas," katanya.

Ia menambahkan, Pergunu juga akan meningkatkan program-program yang bisa menetaskan kemampuan guru di Indonesia, khususnya NU. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, AlaNu, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 04 Desember 2017

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Bagi Ketua PWNU Jatim, KH Dr Ali Maschan Moesa, MSi, konsep khilafah atau kepemimpinan dalam negara Islam yang gencar dikampanyekan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan sepakbola, memiliki hubungan yang sangat erat.

Apa hubungannya? "Ibarat sepakbola, NU diserang terus dengan konsep khilafah dan formalisasi syariah yang gencar dikampanyekan HTI," kata Pria kelahiran Tulungagung, Jatim, 1 Januari 1956 itu.

Dosen IAIN Sunan Ampel yang beberapa bulan lalu memperolah gelar doktor politik dari Unair itu mengemukakan bahwa selama ini, NU sering bertahan dengan gencarnya kampanye khilafah hingga masuk ke kantong-kantong NU di tingkat bawah.

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Maschan Moesa, Khilafah dan Sepakbola

"Selama ini kami bertahan terus dan sekali-kali kan harus menyerang juga," kata pengasuh Pesantren Luhur "Al-Husna" Surabaya itu saat menjelaskan bahwa konsep khilafah akan menjadi bahasan dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jatim, 2 - 4 Nopember di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo.

Menurut kakak kandung politisi PKB Ali Masykur Moesa itu, meskipun kampanye HTI belum menjadi ancaman serius bagi NU yang memutuskan bahwa konsep NKRI sudah final, namun masalah itu tetap menjadi bahasan penting bagi ulama.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka menyebarkan selebaran mengenai konsep khilafah ke masjid-masjid NU dan banyak juga mushala serta masjid NU yang terpengaruh ajaran mereka," kata suami dari Mai Yetti yang aktivis Forum Lintas Agama (FLA) Jawa Timur itu.

Pada Konferwil nanti, kiai NU akan mencari landasan agar warga NU di tingkat bawah bisa berargumentasi saat berdialog mengenai konsep khilafah dengan NKRI. Dia mengaku bahwa warga NU di tingkat bawah saat ini tidak bisa beragumentasi untuk itu.

Ali Maschan melanjutkan bahwa seharusnya yang merespon masalah tersebut adalah negara, dalam hal ini pemerintah, DPR dan lembaga-lembaga lain. Namun karena pemerintah tidak pernah membicarakan masalah itu, maka NU sebagai komponen bangsa mencoba mencari solusi. (ant/eko)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 November 2017

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang IPNU–IPPNU Pangkah kabupaten Tegal menunjukan potensi SDM kepada Camat Pangkah Saidno Ap. Potensi SDM yang dimiliki pelajar NU Pangkah ini, dipaparkan saat buka puasa bersama dan audiensi dengan camat Pangkah di gedung Pertemuan Among Dwijo Pangkah, Tegal, Rabu (8/7).

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi

“Kami tidak tedeng aling-aling terhadap kemampuan para anggota sehingga kerja sama yang dijalin dengan pihak kecamatan nanti sesuai dengan kemampuan kami,” tutur Ketua IPNU Pangkah Mohammad Naenul Rizqoni.

Paparan ini juga disaksikan pimpinan ormas kepemudaan yang ada di kecamatan Pangkah. Naenul berharap audiensi dan buka puasa ini bisa menjadi wahana silaturahmi yang membawa kemaslahatan bersama.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menjelaskan keberadaan pelajar NU di kecamatan Pangkah mulai dari pimpinan ranting, komisariat sampai pimpinan anak cabang sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Secara detil Naenul menceritakan  sejarah berdirinya IPNU-IPPNU di Pangkah, sepak terjang di masyarakat, agenda kegiatan, prestasi yang telah dicapai.

“Alhamdulillah IPNU-IPPNU menjadi pusat perhatian masyarakat secara luas karena prestasi yang ditorehkannya,” paparnya.

Naenul mengibaratkan IPNU-IPPNU sebagai taman kota yang sangat indah dan nyaman. Karena terbukti IPNU–IPPNU menjadi organisasi yang unggul dalam segala bidang.

Paparan Naenul mendapat apresiasi IPNU-IPPNU Tegal yang diwakili Susy Priyatin. Susy menyampaikan bahwa IPNU–IPPNU Pangkah telah menampakan eksistensinya di hadapan khalayak dengan penuh tanggung jawab dan penuh komitmen.

Hal senada disampaikan Mas’atun dari Fatayat NU Pangkah. Ia menyampaikan bangga melihat semangat kader-kader muda NU. Gelora semangat yang dikobarkan dengan menggalang persatuan dan kekompakan menguatkan kelanjutan kaderisasi.

Pembina IPNU Pangkah Ajat Sudrajat menyampaikan rasa syukur atas bangkitnya kader-kader NU. Keberadaannya diharapkan bisa tampil sesuai dengan perkembangan zaman.

“Jangan lupa tetap kritis, mengikuti kemajuan IPTEK dan IMTAK dengan selalu membaca situasi dan peluang di masa yang akan datang,” pesan ajat.

Camat Pangkah Saidno sangat berharap IPNU-IPPNU bisa bersama-sama membangun dari tingkat desa hingga kecamatan. Ia mengajak bersama dirinya membangun daerah Pangkah menuju Pangkah Bersahaja.

“Mari satukan tekad membangun Pangkah dengan penuh semangat,” ajak Camat. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, AlaNu, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 02 November 2017

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah - Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui wakil bupati setempat,H Salwa Arifin, mengucapkan selamat hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama (NU). Ia memuji peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mewujudkan kehiudupan yang harmonis di masyarakat. Menurutnya, kiprah ini tak bisa disepelekan.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan kata sambutan dalam peringatan harlah ke-94 NU yang digelar Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Bondowoso, Kamis (13/4) sore.

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

“Saya harus ucapkan terimakasih kepada NU," ucapnya di alua pendopo kantor Bupati Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Ribath Nurul Hidayah

Baginya, peran NU terbesar adalah mempu menciptakan ketenteraman baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten.

PCNU Kabupaten Bondowoso memperingati harlah kali ini dengan Taushiyah Khusus Penguatan Kelembagaan. Kegiatan tersebut diikuti jajaran ketua, rais, seketaris, bendahara dari tingkatan Ranting, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), dan lembaga serta badan otonom NU se-kabupaten Bondowoso.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam mengatakan, kegiatan harlah ke-94 PCNU Bondowoso dimulai sejak keikutsertaannya dalam acara Istighotsah Kubro yang dihelat PWNU Jawa Timur di Sidoarjo. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 November 2017

Muludan, Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela Tampilkan Sejumlah Seni Pertunjukan

Mataram, Ribath Nurul Hidayah - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar organisasi siswa Nurul Islam NU Sekarbela Mataram di Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela Kabupaten Mataram dikemas secara meriah. Di sini para siswa mementaskan sejumlah kesenian yang menarik perhatian para hadirin.

Mereka menampilkan keterampilan yang mereka asah selama ini seperti seni teater, drama, hadrah dan beberapa tampilan lainnya. Pertunjukan ini membuat para tamu undangan cukup kagum.

Muludan, Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela Tampilkan Sejumlah Seni Pertunjukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela Tampilkan Sejumlah Seni Pertunjukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela Tampilkan Sejumlah Seni Pertunjukan

“Semua yang tampil itu anak-anak komisariat IPNU-IPPNU Nurul Islam,” kata pendiri Yayasan Pesantren Nurul Islam NU Hj Warti’ah kepada Ribath Nurul Hidayah di sela-sela acara, Ahad (17/1).

Ribath Nurul Hidayah

Tampak hadir pada peringatan maulid ini Kepala sekolah MA, MTS, dan para guru Pesantren Nurul Islam NU Sekarbela.

Menurut Hj Warti’ah, yayasan pesantren ini baru berjalan dua tahun, tetapi tidak kalah dengan pesantren lainnya baik dari segi agama, akhlak dan juga potensi santri. “Baru saja kita saksikan penampilan menarik, saya saja tidak tahu kapan latihan dan bagaimana persiapan. Rasanya tidak percaya kalau itu adalah santri kami,” kata Hj Warti’ah.

Ribath Nurul Hidayah

Itu artinya Pesantren Nurul Islam NU siap melahirkan generasi NU dan bangsa yang lebih baik dan bisa diharapakna ke depan.

“Ke depan, IPNU-IPPNU yang ada di Mataram maupun wilayah lain bisa membangun sinergi dengan komisariat yang ada di sini” pintanya.

Di temapat yang sama, Ketua IPNU NTB Syamsul Hadi yang turut hadir dengan beberapa jajarannya juga merespon baik keinginan ketua yayasan atas keterbukaannya terhadap IPNU-IPPNU untuk membina pelajar dan santri setempat. Karena itulah kami hadir untuk menunjukkan komitmen kami untuk membina siswa maupun santri.

“IPNU-IPPNU basis utama ada di sekolah, madrasah dan pesantren. karena itu salah satu fokus pengurus wilayah adalah membentuk komisariat di setiap sekolah dan madrasah. Kalau struktur sudah kuat, insya Allah yang lain akan menyusul,” kata Hadi. (Fauzan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaNu, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah kesempatan ceramah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menyatakan sungguh sayang jika kita hanya memiliki guru-guru yang masih hidup. Justru mereka, para kiai dan ulama yang telah lama wafat, adalah guru sejati kita. Sebab, menurut tokoh kelahiran Bone (Sulawesi Selatan) itu, mereka yang telah sumare kini tak memiliki kepentingan lagi. Dan baik buruknya seseorang hanya dapat diketahui saat ia telah tiada.

Pemikiran Nasaruddin di atas—juga banyak ulama yang mengatakan hal senada—membuat kami memutuskan untuk menziarahi para guru, ulama, dan kiai. Memanfaatkan hari libur beberapa waktu lalu, kami memulai ziarah tepat 8 pagi. Aroma basah jalanan sisa hujan semalam masih kuat terasa. Dari bilangan Krapyak, Bantul, kami berlima—rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY—langsung menuju makam Dongkelan, makam dari KH Moenawwir, KH Ali Maksum, dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak, Bantul. Bacaan tahlil kami lakukan sekitar 20 menit dan perjalanan dimulai lagi. Tepat Pukul 09.15 kami sampai di makam KH Nur Iman atau sering disebut BPH Sandiyo. Makam ini terletak di Mlangi, sekitar 200 meter dari ring road barat. Kalau saat momentum Ramadhan, kampung ini dikenal sebagai sentra mercon kota Yogya.

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)
Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Makam Mbah Kiai Nur Iman tepat berada di barat Masjid Pathok Negara Mlangi. Saat kami masuk, ada dua orang santri perempuan sedang khusyuk mengaji. Kedatangan kami tampaknya tak mengganggu mereka, terbukti bacaan Qur’an tetap nyaring, stabil dan terus mereka lantunkan.

Ribath Nurul Hidayah

Sunan Pandanaran

Ribath Nurul Hidayah

Pukul 10.00 kami meninggalkan Mlangi, kemudian bergegas menuju Bayat, Klaten. Maklum, momentum liburan dan kendaraan luar kota mulai padat memasuki Yogyakarta dari arah timur membuat kami mesti pintar-pintar estimasi waktu. Tujuan kami adalah Makam Sunan Pandanaran, atau Sunan Padang Aran, atau dikenal juga Sunan Bayat. Arah menuju makam cukup gampang. Anda tinggal menuju Klaten dan dari arah Yogya sudah ada papan plang penunjuk jalan menuju makam. Masuk sekitar 8 km dari jalan utama Yogya-Solo.

Makam Sunan Pandanaran terletak di Gunung Cokrokembang. Tak heran Anda mesti menaiki sekitar 250 anak tangga. Bagi yang jarang olahraga, pasti nafas akan cukup tersengal. Tapi Anda tak perlu khawatir, bagi yang tidak kuat, ojek motor siap mengantar Anda sampai atas dengan tarif Rp 7.000 sekali naik. Di samping kiri-kanan tangga terdapat para penjual cinderamata, pakaian, makanan khas, dan sarung termasuk aneka tasbih, cincin akik bahkan alat masak tradisional. Pokoknya komplit!

Semuanya laris dilihat dari banyaknya peziarah yang memborong. “Kiai besar itu sudah wafat saja masih menghidupi banyak orang, sedang kita yang masih hidup justru selalu mencelakakan orang,” tukas teman yang ikut ziarah. 

Sejak pintu kedatangan ada beberapa gapura yang langsung menyambut kedatangan kita. Dimulai dari Gapura Segara Muncar di depan parkiran, Gapura Dhuda yang menyapa di depan anak tangga pertama, Gapura Pangrantungan hingga Gapura Panemut, Pamuncar, Balekencur, Prabayeksa yang keempatnya berada di kompleks makam.

Di samping Gapura Dhuda Anda diwajibkan membayar retribusi masuk Rp 1.000/orang. Sedang di Gapura Pangrantungan Anda akan disambut abdi dalem diminta untuk mendaftarkan diri. Kata seorang abdi dalem yang berjaga, tiap hari ada 1.000 pengunjung yang datang ke sana. “Apalagi kalau bulan Ruwah dan Rejeb, bisa sampai 2.000 orang yang ziarah,” katanya lagi. Di gapura ini, terdapat masjid yang disediakan bagi peziarah sekadar melepas lelah dan untuk menegakkan sholat. Rasa lelah setelah naik tangga akan terbayar dengan pemandangan Kota Klaten dan Yogya dari atas yang sungguh elok rupa. Jajaran pegunungan seribu juga terlihat dan inilah yang disebut Jolosutra. Tempat di mana Sunan Kalijaga ‘menanam’ murid-muridnya untuk menyebarkan agama Islam, sekaligus membentengi masyarakat dari gangguan dari luar.

Kompleks Makam Sunan Bayat cukup eksotis. Bangunannya mirip pura atau Kerajaan Hindu. Didukung dengan masyarakat sekitar yang tampaknya sadar akan potensi ini, maka jadilah ziarah di Makam Sunan Bayat mampu menjadi magnet siapapun yang melakukan perjalanan wisata spiritual.

Saat kami tiba di makam, ternyata ratusan peziarah sedang melafalkan kalimat tahlil. Mereka datang dari Cilacap, Tuban dan Rembang. Pukul 13.30 kami akhiri dan bersegera menuntaskan ziarah hari itu. Keasyikan ziarah dan mengenang kembali jasa serta ajaran mereka yang telah sumare membuat kami lupa untuk santap siang. Kami memilih sebuah restoran di pinggir Jalan Raya Solo-Yogya. 

Tampaknya arus kendaraan yang berjejal ingin masuk ke Yogya sangat padat sekali. Rencana untuk ziarah ke makam KH Zainal Muttaqin, salah seorang putra Sunan Kalijaga yang berada di selatan Bong Supit Bogem terpaksa kami urungkan. Kami berbelok ke selatan menuju Dusun Jolosutro. Di sana terdapat makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga lainnya.

Sekitar Pukul 16.00 kami sampai di Dusun Jolosutro yang terelak 5 km di selatan Jalan Yogya-Wonosari km 14. Kami sholat ashar di Masjid Sunan Geseng dan naik menuju makam. Setelah memarkir kendaraan kami hendak jalan kaki menuju makam. Seorang penduduk mengingatkan kami, jalan kaki menuju makam menempuh jarak 1 km dan menghabiskan 30-40 menit. Terjal, naik dan siapapun yang tidak terbiasa akan kewalahan. Untungnya ada penduduk lainnya yang memberitahu, jalan menuju makam relatif mulus dan dapat dilalui kendaraan asal lewat jalur Patuk Gunungkidul. Kami menurut saja. Perkiraan waktu pulang dari makam selepas maghrib tentu tak nyaman jika harus menuruni bukit.

Putar haluan, kami menuju Patuk. Tepat di pos polisi Patuk kami ke selatan, ikuti jalan hingga ada bak air raksasa. Ambil kiri dan menapaki jalan hotmix yang berdasarkan papan keterangan dibangun oleh Pemkab Bantul, sampailah kami di makam Sunan Geseng. Benar saja, kendaraan dapat dibawa sampai kompleks makam. Di sana ada musholla kecil dan kamar mandi dengan air melimpah.

Sunan Geseng atau Pangeran Panggung adalah salah satu putra Brawijaya V yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Konon ada 99 makam Sunan Geseng di seluruh nusantara, tapi yang diyakini benar sebagai makamnya ada di tiga tempat: Tuban, Grabag, dan Jolosutro Piyungan. Gus Dur sendiri pernah ziarah di sini dan mengatakan yang paling tepat dari kemungkinan yang ada hanyalah yang di Jolosutro Piyungan.

Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk pulang. Seharian ziarah di kawasan DIY-Jateng tentu menguras tenaga. Namun, kami percaya bahwa mereka yang telah sumare itu memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Dan sepantasnya bagi kita untuk mendoakan mereka, berharap ikatan batin itu selalu terjaga. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Bahtsul Masail, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 07 Oktober 2017

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat mengadakan turnamen futsal se-DKI Jakarta. Kali ini turnemen tergolong unik, karena semua pesertanya adalah orang mini (cebol) yang tak asing lagi di layar televisi Indonesia.

Kebanyakan dari mereka adalah pemain sinetron, seperti Tarzan Betawi, Ronaldowati, dan  7 Manusia Harimau, yang sampai saat ini sinetronnya masih tayang. “Saya sendiri awalnya meragukan akan terlaksanannya turnamen ini. Mereka adalah pemain sinetron, terlebih ada yang bilang bahwa setelah futsal mau langsung menuju lokasi syuting di Cibubur,” ujar Yani Rahman, Ketua PC IPNU Jakarta Pusat.

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Turnamen yang digelar Sabtu (12/9) ini dihadiri langsung oleh Faisal dari Deputi 3 Kemenpora Republik Indonesia. Ia membuka turnamen ini dengan menendangkan bola dari tengah lapangan yang kemudian disahut gemuruh tepuk tangan para peserta dan panitia.

Ribath Nurul Hidayah

Faisal tampak terkejut dan senang ketika memasuki lapangan futsal, di kawasan Kwitang, Jalan Keramat 2, Jakarta Pusat itu. “Waw, ini merupakan suatu kegiatan yang beda dengan yang lain, tetap jaya olahraga Indonesia,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

PC IPNU Jakarta Pusat mengadakan turnamen ini karena menilai bahwa olahraga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gelak tawa yang tanpa henti mewarnai turnamen futsal tersebut. Semua larut dalam kebersamaan dan kegembiraan, termasuk bagi tim yang kalah. “Ini merupakan kemenangan kita bersama,” ujar Farly sesaat setelah menerima piala juara 1 turnamen futsal mini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 September 2017

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Jember, Ribath Nurul Hidayah. Umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, Jumat (19/1) tadi malam, memanjatkan doa keselamatan menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1428. Perpindahan tahun baru kali ini diharapkan juga berarti perpindahan atau hijrah dari yang tidak sempurna menuju ke tingkatan yang lebih sempurna, dari dosa dan salah menjadi pahala dan keutamaan.

Di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember, malam tahun baru Islam diisi dengan menggelar hataman Al Quran bersama para santri dan warga sekitar pesantren. Para jamaah membaca doa bersama dan membaca wirid, untuk keselamatan semua umat manusia dan warga yang tertimpa musibah seperti banjir lumpur Lapindo, kapal hilang, banjir, longsor dan serangan penyakit.

Pimpinan Ponpes Al Qodiri, KH Achmad Muzakky Syah, Jumat (19/1) malam, mengatakan, sebagai ummat manusia sudah saatnya melakukan kajian terhadap diri sendiri dengan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada Allah SWT.

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Diakui atau tidak, katanya, kita sering melakukan kesalahan baik kepada manusia maupun kepada Allah dengan tetap menganggap bahwa diri kita benar.  "Kalaupun belum dikabulkan maka kita terus meminta ampun pada Allah," ujarnya.

Warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga mengadakan hataman Al-Quran di Sekretariat Cabang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep.

Ribath Nurul Hidayah

"Selama ini gema pergantian tahun baru Islam hampir tidak pernah dirayakan, makanya MUI memulai dengan kegiatan menghatamkan Al-Quran," ujar Ketua MUI Sumenep, KH Safraji, Sabtu.

Kegiatan menghatamkan Al-Quran, kata Safraji, akan dijadikan kalender tahunan. Masyarakat diharapkan mengikuti acara tersebut, selain memanjatkan doa juga sebagai wahana silaturrahmi sesama muslim.

Malam Tahun Baru 1428 Hijriah di Semarang, Jawa Tengah, dirayakan secara sederhana dan bernuansa kontemplasi tanpa ada bunyi trompet dan konvoi kendaraan bermotor seperti ditemui setiap pergantian tarikh Masehi.

Menyambut datangnya bulan Muharam atau Sura, Kamis malam, warga Kota Semarang berkumpul untuk tirakatan yang diselenggarakan secara swadaya oleh warga tingkat RT, RW, maupun kelurahan.

Berbeda dengan pergantian tahun baru tarikh Masehi yang disambut gegap gempita, malam satu Sura ini disambut dengan segala kesederhanaannya. Aneka makanan yang disajikan semuanya bernuansa tradisional, termasuk nasi tumpeng. Kalau pun ada hiburan, berkaraoke bersama sudah mampu memberi kegembiraan warga.

Ribath Nurul Hidayah

Di  Yogyakarta umat Islam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 Hijriyah dengan melakukan berbagai kegiatan religius di antaranya pengajian maupun tadarus Al Quran di masjid-masjid, Jumat malam.

Di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tampak puluhan umat Islam dengan tekun melakukan kajian dan tadarus kitab suci Al-Quran dipimpin seorang ustadz.

Tadarus Al Quran yang diselenggarakan Takmir Masjid Gedhe itu, dimaksudkan agar jemaah Masjid Gedhe Kauman bisa mendalami isi Al Quran.

 "Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan umat Islam melakukan kegiatan di luar ajaran agamanya serta yang bisa menjauhkan dari keimanan mereka," kata salah seorang pengurus Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang enggan disebut namanya. (ant/fur/nam/han/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, AlaNu, Hikmah Ribath Nurul Hidayah