Selasa, 31 Mei 2016

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka mendorong sukses bisnis para pengusaha muda, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar pelatihan dan diskusi “Rahasia Internet Marketing”, Jumat ? (18/11), di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan.?

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pekalongan Latih Pengusaha Muda Marketing Online

Menurut Kautsar Alwi, Wakil Ketua Bidang Ekonomi PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, kegiatan ini sebagai tindak lanjut Ansor Expo yang dilaksanakan beberapa waktu lalu. Sedangkan tujuannya adalah mewujudkan kemandirian kader sebagai langkah menuju kemandirian organisasi GP Ansor.?

"Melalui pelatihan ini, para pengusaha muda Ansor ini akan diajak membongkar seluk-beluk bisnis online, bagaimana menjual dengan tepat sasaran, bagaimana memenangkan persaingan serta teknik dan cara memaksimalkan internet agar terkenal," ujar Alwi yang juga pengusaha dan desainer Bordir Komputer ini.

Pelatihan ini direncanakan berlangsung dalam 2 sesi. Pada sesi awal yang berlangsung Jumat (18/11) kemarin menghadirkan pembicara Muhammad Burhan, praktisi marketing online yang telah berkecimpung dan malang melintang dalam rimba bisnis online. Burhan, yang juga wakil ketua ISNU Kabupaten Pekalongan ini memaparkan materi "Mengulik Peta Bisnis Online".?

Menurutnya, sekarang ini eranya di mana orang hidup selalu terhubung dengan internet. Untuk itu pengusaha perlu memahami peta bisnis online tersebut yang meliputi produk, pemasaran, perangkat yang digunakan.

Ribath Nurul Hidayah

Peserta juga dikenalkan bagaimana melakukan riset pasar dengan memanfaatkan google trends dan google adwords serta praktik melakukan SEO (search engine optimation) dengan trik dan tips untuk mengoptimalkan akun/web hingga berada di peringkat teratas pada mesin pencarian. Hal ini akan sangat berguna untuk memaksimalkan promosi produk.

?

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini dalam waktu dekat Ansor akan melaunching Busines Center Ansor sebagai wadah transaksi bisnis sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kader dan organisasi yang bermain baik secara offline maupun online. (Red: Mahbib) ?

Ribath Nurul Hidayah





Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Khutbah, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 25 Mei 2016

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional

Pematangsiantar, Ribath Nurul Hidayah. ? Kader-kader muda ? Nahdlatul Ulama (NU) Kota Pematangsiantar menanggapi gembira penetapan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 terkait penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Negara melalui Keppres itu telah mengakui saham kalangan pesantren dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

“Kita mengapresiasi langkah tepat Presiden. Ini merupakan sebuah pengakuan negara terhadap 22 Oktober sebagai hari bersejarah terkait fatwa bela tanah air,” kata Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar (Arjuna) menanggapi keluarnya Keppres nomor 22 tahun 2015, Ahad (18/10) siang.

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Pematangsiantar Sambut Gembira Hari Santri Nasional

Sebagaimana diketahui, Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kantor Presiden pada Kamis (15/10) menyatakan bahwa penetapan Hari Santri Nasional diusulkan oleh internal kabinet dan pihak masyarakat. Penetapan Hari Santri Nasional merupakan pemenuhan janji kampanye pilpres Jokowi pada 2014.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut keterangan Pramono, 22 Oktober tidak diliburkan. Hanya saja sejumlah pihak mungkin merayakannya. Sejalan dengan hal tersebut Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar mengajak kepada seluruh kader-kader muda Nahdlatul Ulama, khususnya sahabat-sahabat Gerakan Pemuda Ansor dan Banser untuk sama-sama memanjatkan do’a kepada Allah SWT semoga hari yang bersejarah ini menjadi momentum kebangkitan GP Ansor.

Ribath Nurul Hidayah

Sebagai kader muda NU, Arjuna, yang juga pernah menjadi Sekretaris PC PMII Kota Pematangsiantar, ? Sekretaris PC IPNU Kota Pematangsiantar, dan Wakil Sekretaris PC NU Kota Pematangsiantar menyebutkan bahwa tanggal ? 22 Oktober juga hari yang bersejarah bagi warga Nahdiyin, hal ini merujuk pada fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH M Hasyim Asy’ari.?

Ia menyatakan bahwa sesungguhnya kelahiran dan perjuangan Gerakan Pemuda Ansor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita Nahdlatul Ulama untuk berkhidmat kepada perjuangan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju terwujudnya masyarakat yang demokratis, adil, makmur dan sejahtera berdasarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Karena 22 Oktober ini hari bersejarah, GP Ansor Kota Pematangsiantar akan menjadikan momentum ? penting kebangkitan untuk melaksanakan 3 visi GP Ansor sebagaimana GP Ansor, yaitu: 1) Revitalisasi Nilai dan Tradisi, 2) Penguatan Sistem Kaderisasi, 3) Pemberdayaan Potensi Kader.

"Mempertahankan NKRI adalah harga mati untuk warga NU. Kita warga NU ikut mendirikan negara Indonesia, maka NU harus tetap menjaga keutuhan NKRI, dengan dasar Negara Pancasila," katanya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 08 Mei 2016

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, Ribath Nurul Hidayah. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

Ribath Nurul Hidayah

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

Ribath Nurul Hidayah

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 03 Mei 2016

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Berbeda dengan para pemikir lain yang hanya berkutat pada level pengembangan wacana, Gus Dur mampu mengaplikasikannya pada dunia praksis. Pemikiran yang diyakini benar diejawantahkan dalam dunia aksi.



Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat politik Kacung Marijan dalam diskusi buku pemikiran dan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhamin Iskandar akhir pekan lalu.

“Gus Dur yakin demokrasi dan pluralisme sangat penting untuk Indonesia, karena itu Gus Dur melakukan aksi untuk mewujudkan itu, yang lainnya juga yakin, tetapi tidak melakukannya,” katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, pemikiran Gus Dur yang sangat kuat adalah bagaimana membangun Indonesia yang demokratis, termasuk membangun relasi agama dan politik. Ia sangat meyakini Islam agama paripurna, tetapi memahami bahwa Islam harus kontekstual di Indonesia yang sangat plural.

Dijelaskannya oleh Ben Andersen, salah seorang intelektual Barat menyebut Indonesia yang sangat plural ini sebagai disebut imagined community, sebuah komunitas yang dicita-citakan, yang sampai sekarang belum tercapai betul. Didalamnya ada banyak kelompok kepentingan yang bersama-sama membangun. Orang tidak saling kenal, tetapi membayangkan adanya satu komunitas yang diakui bersama.

Ribath Nurul Hidayah

“Bayangan apa yang dikatakan Andersen tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Gus Dur, meskipun lahir dari pesantren, tapi meyakini Indonesia bukan hanya milik orang pesantren atau milik umat Islam, tetapi milik bersama. Ini yang hendak dicapai, dan Gus Dur berusaha mempertahankan itu melalui aksinya, salah satunya melalui pembentukan PKB,” paparnya.

Pendirian partai ini awalnya ada yang meminta, khususnya sejumlah kiai menginginkan PKB berasaskan ahlusunnah wal jamaah, tetapi Gus Dur secara terang-terangan menolak. PKB harus menjadi partai yang inklusif, kalau aswaja berarti menjadi partai eksklusif. Ini ditiru PKS, walaupun mendua, ingin punya kader, disisi lain punya anggota. Ada pembedaan, kader eksklusif, kader inklusif sehingga ngak nyambung.

“Bagi Gus Dur keduanya bukan hal yang berbeda, kader maupun anggota yang sama-sama inklusif, ini yang agak berbeda dengan pemikiran PKS. Ini sangat tepat untuk konteks Indonesia,” imbuhnya.

Meskipun secara intelektual tak jauh beda dengan yang lainnya, tetapi Gus Dur memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain sehingga pemikirannya bisa ditransformasikan pada level grassroot, yaitu kemampuannya melakukan silaturrahmi yang luar biasa. Ketika terdapat kontraversi dalam pemikirannya bisa cepat selesai karena melalui silaturrahmi ini, Gus Dur mampu menjelaskan substansi pemikiran yang dimilikinya. Ini tentu berbeda dengan para intelektual NU lain yang hanya hidup di awing-awang dan tak masuk ke level bawah sehingga pada akhirnya banyak ditentang oleh komunitas pesantren, meskipun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gus Dur.

Silaturrahmi Gus Dur bukan hanya kepada yang hidup, Gus Dur juga dikenal sangat rajin berziarah ke makan-makan para ulama. Tak heran, meskipun sudah meninggal, ia akhirnya mendapatkan ganjaran, warga NU tak henti-hentinya menziarahi makamnya.

Kelebihan lainnya adalah darah biru yang mengalir dalam dirinya memudahkan Gus Dur melakukan komunikasi baik dalam komunitas NU maupun di luar NU.

Sejumlah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain tersebut hanya bisa diimbangi dengan melakukan kerja kolektif. PKB atau NU bisa melakukan komunikasi secara efektif dari pusat sampai grassroots sehingga seluruh potensi bisa tersentuh.

Kacung mengibaratkan Gus Dur seperti perusahaan multinasional yang memiliki cabang dimana-mana, yang tak mungkin bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan kecil. “Gus Dur harus dikeroyok untuk menandinginya. Kalau Gus Dur bisa sendiri, PKB dan NU harus melakukan aksi kolektif,” tandasnya.

Namun demikian, Kacung juga melihat Gus Dur bukan pribadi yang tanpa cela. Gus Dur gagal dalam mengaplikasikan sejumlah pemikiran dalam konteks praksis, salah satunya kegagalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan melalui BPR Nusumma, termasuk pengembangan pabrik yang berorientasi agrobisnis.

“Kegagalan ini, satu dikarenakan Gus Dur lebih pada konteks pemikiran, agama dan politik, pemikiran ekonomi mungkin tidak ada leverage yang lebih bawah, ini yang menjadikannya gagal karena tidak semua bisa ditangani langsung Gus Dur,” terangnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, Ulama, Warta Ribath Nurul Hidayah