Sabtu, 25 Desember 2010

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Seperti tahun sebelumnya, Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur selalu menyembelih hewan kurban. Tidak semata dinikmati para santri dan tetangga sekitar pesantren, sebagian daging kurban juga diberikan ke sejumlah keluarga kurang mampu di pelosok desa.

Lewat Lembaga Sosial Pesantren Tebuirteng atau LSPT, sejumlah daging kurban tersebut disalurkan ke beberapa lokasi yakni beberapa desa di Kecamatan Diwek, Gudo, serta Mojowarno.

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

"Prinsipnya kami ingin berbagi kebahagiaan dengan warga masyarakat kurang mampu di Jombang," kata Khoirur Rozak, Selasa (13/9). Direktur LSPT tersebut menandaskan bahwa cukup banyak masyarakat di kota santri ini yang belum bisa menikmati daging. Karena itu, momentum Idul Adha menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dengan mereka, lanjutnya.

Ahmad Fanani yang mengedarkan daging dari LSPT ke sejumlah warga di Desa Kedungturi Kecamatan Gudo bahkan bertemu dengan Mbah Mur. "Yang memprihatinkan, kakek berusia seratus tahun tersebut dalam kesehariannya hidup sebatang kara," kata Fanani yang juga donatur service di LSPT.

Ribath Nurul Hidayah

Sambutan hangat diterima tim LSPT ketika menebar daging kurban di Dusun Tegalsari dan Desa Catakgayam Kecamatan Mojowarno. "Meski jumlah daging tidak banyak, namun tidak mengurangi rasa bahagia dari warga yang menerima," kata Nasrullah. Bahkan Anas, sapaan akrabnya mengemukakan kalau warga yang diberi daging memang dipilih mereka yang secara ekonomi cukup terbelakang.

Slamet Santoso membagi daging bantuan LSPT di dusun Mejono dan Cikar Desa Keras Kecamatan Diwek juga harus selektif. "Diprioritaskan warga kurang mampu dan hidup prihatin," kata Mbah Met, sapaan kesehariannya.

Ribath Nurul Hidayah

Puluhan bungkus daging kurban juga diserahkan kepada warga di kawasan Bandung Krajan, Bandungsari, Pengkol, dan Sukopuro. "Seluruhnya berada di Kecamatan Diwek," kata Rahmat Hidayat.

Bantuan daging kurban tersebut diberikan kepada sejumlah karyawan LSPT di daerah masing-masing. "Dengan demikian, mereka yang lebih tahu mana warga yang memang layak menerima daging," kata Khoirur Rozak.

Apalagi pembagian dilakukan di hari kedua Idul Adha, maka sekaligus bisa melakukan pemantauan terhadap warga yang belum mendapatkan pembagian kurban dari takmir masjid atau mushalla setempat. "Dengan demikian warga yang menerima benar-benar layak mendapatkan daging kurban tersebut," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 Desember 2010

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Pelawak Cak Lontong menguraikan pengalamannya bersinggungsn dengan tradisi, tokoh, dan warga NU. Menurut dia, orang NU itu santai, tidak ribet, dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Dan tentu saja sangat kental dengan nuansa budaya.

Hal itu dikemukakannya beberapa saat sebelum tampil di peringatan Hari Lahir NU ke-91 di halaman gedung PBNU, Jakarta, 31 Januari lalu, sembari memilih batik NU yang cocok untuk dikenakannya.

Berikut wawancara lengkap Cak Lontong dengan Abdullah Alawi dari Ribath Nurul Hidayah:

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Sejak kapan Anda mengenal NU?Saya dari dulu suporter NU memang, mulai zaman kuliah.?

Ribath Nurul Hidayah

Maksudnya suporter itu bagaimana?

Oh iya, saya kan Gusdurian. Zaman Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999) lawan siapa dulu, Abu Hasan, zaman Orde Baru itu, zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru, penggemar Gus Dur, mulai itu. Tahun berapa itu?

Ribath Nurul Hidayah

Tahun 1994, Muktamar Cipasung

Iya, betul, saya manut sampeyan. Sampeyan lebih tahu.?

Pada 1994 Anda berpihak ke Gus Dur, cara pandang Anda waktu itu bagaimana?

Sebenarnya kan tahun 1994 itu saya mahasiswa. Pada tahun 1994 itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah. Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa, tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu.?

Yang menarik dari Gus Dur itu apa?

Secara kulturnya adalah orang Jawa, Jawa Timur, kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal sebenarnya.?

Sebelumnya 1994 sama sekali tidak mengenal NU?

Bukan sama sekali, saya kan kenal Gus Ipul (H Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur), sudah lama, rektor saya Pak Nuh, orang NU, dulu kuliah.

Oh ya, tadi Anda bilang sebagai supporter NU. Akan sampai kapan menjadi supporter NU?

Ya terus dong. Masa mau pindah ke MU.

Supporter dalam bentuk apa?

Apa ya, kalau orang merasa cocok, karena saya juga, satu, saya kan orang Jawa.

Masa kecil tidak pernah dengar NU?

Udah. Dulu saya punya topi banyak tak bordir, topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA, kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida. Tetangga saya dulu modin.

Kesan bersinggungan dengan orang-orang NU bagaimana?

Nyantai, nyantai tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai. Menurut saya, orang NU itu bisa mengurus dirinya sendiri, tidak ngerepoti. Kalau ada acara, yang datang tak mau ngerepoti tuan rumahnya.?

Ada kritik untuk NU?

Wah, kalau itu saya tidak perlu.





Ke anak-anak Cak Lontong pernah memperkenalkan NU?

Oh anak saya tahu NU. Anak saya yang SMA dan SMP tahu NU. NU tahu. Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 Desember 2010

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Tubaba, Ribath Nurul Hidayah

Jamaaah Yasin Muslimat NU Tiyuh Makarti dan Sumber Rejo mengadakan santunan kepada yatim piatu di Masjid Nurul Iman Tiyuh Makarti Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat, Sabtu (30/9).

Kegiatan yang berangkaian dengan peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriah menghadirkan penceramah KH Ahmad Junaedi dari Lampung Tengah.

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Ia mengajak jamaah jamaah selalu ingat akan pentingnya puasa dan bersedekah pada tanggal 10 Muharram.

“Agar rizki yang telah dimiliki dapat ditambah oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia  menuturkan pahala sedekah akan dilipatgandakan. Pahala bagi yang menyantuni satu anak yatim sama dengan seisi jagat raya. Sementara bagi yatim piatu sedekah yang kita berikan akan mengurangi penderitaan.

"Maka mari kita selalu peduli terhadap anak yatim dan yatim piatu agar penderitaan mereka sedikit berkurang," pungkasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Turut hadir anggota DPRD Gunawan Agung Kuncoro,  Mapolsek Tulang Bawang Udik Erwan, serta tokoh agama setempat. (Gati Susanto/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Doa, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 November 2010

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh Fathoni Ahmad

Matahari tidak pernah berhenti menyinari alam semesta meskipun mendung. Jika pun alam bergerak menggelap, itu hanya tertutup mendung dan awan. Namun pada hakikatnya, matahari tetap bersinar. Semangat ini tidak pernah pudar bagi Pendidikan Islam untuk selalu menyinari dunia dengan mencetak manusia berakhlak mulia nan cerdas dari generasi ke generasi.

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

Pendidikan Islam berupaya mengangkat perjuangan para santri dan siswa madrasah untuk selalu memumpuk mimpi agar terus bersinar meskipun berbagai hambatan kerap kali datang. Ini membuktikan, selain memiliki kecerdasan akal dan nurani, generasi pendidikan Islam juga mempunyai mental kokoh untuk bergelut dengan perubahan zaman yang makin tak terbendung kemajuannya.

Potensi yang ada pada diri setiap santri dan siswa madrasah harus mampu menyinari diri di setiap usaha yang dibangun sehingga mimpi dapat mudah terwujud. Dalam hal ini, filosofi matahari yang tak pernah berhenti bersinar harus menjadi palu godam ampuh bagi generasi pendidikan Islam untuk meraih mimpi dan cita-cita setinggi langit demi mengabdi pada negeri.

Historisitas bangsa Indonesia tidak terlepas dari jasa menawan para generasi pendidikan Islam, terutama pesantren. Karena lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini terbukti mampu mencetak tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, sebut saja Pangeran Diponegoro, RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Wahid Hasyim, HOS Tjokroaminoto, Buya Hamka hingga tokoh fenomenal KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur.

Ribath Nurul Hidayah

Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya para pemikir, tetapi juga penggerak perubahan di tengah masyarakat. Pandangan mereka mampu menembus batas tebalnya zaman yang kerap tidak pernah terpikirkan oleh orang pada umumnya. Di titik inilah membumikan mimpi mempunyai peran penting untuk mengikuti jejak para founding fathers dalam menuntun zaman ke arah yang lebih harmonis sekaligus humanis.

Para tokoh pendidikan Islam tidak hanya menginspirasi perjuangan para anak bangsa untuk meraih mimpi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah turut memiliki peran besar melalui berbagai layanan pendidikan dalam bentuk beasiswa yang dapat diakses oleh anak-anak negeri hingga meraih pendidikan setinggi-tingginya. Fasilitas pemerintah ini membutuhkan kerja keras dan cerdas dari para generasi muda untuk bisa mengaksesnya.

Cukuplah para pejuang dan generasi emas yang lahir dari pendidikan Islam dapat membumikan mimpi anak bangsa. Modal berharga yang amat dibutuhkan untuk membumikan mimpi tidaklah mudah, namun juga tidak sulit. Karena semangat dan kemauan yang tinggi untuk maju sangat diperlukan oleh generasi muda dalam rangka menyinari potensi menjadi kebanggaan negeri.

Pesantren: life long education? . Pola pendidikan pesantren tidak terbatas waktu, karena ia memahami sekaligus menerapkan prinsip thuluz zaman (berkelanjutan). Dalam teori pendidikan modern, konsep ini dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat (life long education). Konsep ini mempunyai makna bahwa pendidikan tidak sebatas yang ada di kelas, memahami materi pelajaran, dan mampu melahap soal-soal ujian.?

Ribath Nurul Hidayah

Namun, pendidikan sepanjang hayat membuat anak didik tidak pernah berhenti belajar di mana pun ia berada dan kapan pun dia melihat peristiwa sebagai dasar pembangun rasionalitas-ilmiahnya. Anak didik mungkin dengan gampang memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Tetapi, apakah mereka mengerti makna dari perhitungan ilmiah tersebut? Bagaimana guru atau pendidik agar fakta ilmiah tersebut bermakna (meaningful) bagi peserta didik?

Di titik itulah rasionalitas ilmiah harus dibangun dengan moral kokoh melalui pendidikan bermakna. Mereka harus dipahamkan bahwa dua merupakan hasil dari penjumlahan satu ditambah satu, tidak kurang atau pun lebih. Artinya, generasi bangsa perlu dididik kejujuran sehingga tidak mudah terpengaruh perilaku korup yang sering menambah atau mengurangi jumlah. Tentu ini karakter sederhana yang perlu terus menerus dievaluasi kepada anak didik, meskipun pada praktiknya banyak pendidik yang menemukan kesusahan.

Lalu, apa korelasinya dengan prinsip thuluz zaman-nya pesantren? Penulis ingin menyampaikan bahwa pendidikan pesantren tidak sebatas memahami kitab dan berbagai literatur klasik, tetapi juga mampu memberi makna dan mempraktikannya di tengah kehidupan masyarakat yang plural. Dalam hal ini, pesantren sering kali disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang mampu mendidik santri akan keberagaman bangsanya sehingga muncul sikap toleransi tinggi dan nasionalisme yang kokoh.

Pesantren juga tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan menara gading, artinya tertutup bagi masyarakat dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan mereka. Pesantren membangun koloni dengan tradisi dan budaya masyarakat, tidak soliter sehingga lulusan pesantren tidak akan mudah tercerabut dari akar sosial masyarakatnya. Karakter ini diperlukan dalam dunia pembangunan karena sudah barang tentu lulusan pesantren akan dengan mudah membangun masyarakatnya sebab memiliki ikatan sosial yang kuat.

Itu bukti bahwa pendidikan pesantren mampu menciptakan generasi pembelajar sepanjang hayat sebagai buah dari konsep thuluz zaman. Belajar dari pesantren, dunia pendidikan Indonesia hendaknya tidak lepas dari akar tradisi dan budaya masyarakatnya. ? Ini penting untuk mewujudkan generasi yang mampu memberikan solusi konkret terhadap setiap persoalan yang melilit masyarakat. Tidak dengan konsep dan teori yang terlalu mengawang-awang. Apalagi dengan ceramah kosong yang hanya berisi hujatan dan larangan terhadap tradisi dan budaya yang jelas-jelas menciptakan harmoni di tengah kehidupan masyarakat.

Pesantren dan pendidikan Islam pada umumnya memandang bahwa sasaran ilmu agama tidak lain adalah masyarakat sehingga pemahaman agama harusnya tidak bersifat tertutup (eksklusif) melainkan harus terbuka atau inklusif terhadap segala yang berkembang di tengah masyarakat. Eksklusivisme hanya akan membuat agama Islam sebagai rahmat dengan mudah akan tertolak oleh masyarakat. Sehingga alih-alih membuat masyarakat sadar akan limpahan rahmat Tuhannya, yang terjadi justru bersikap apatis terhadap agamanya. Ini poin penting agar lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi masa depan agar tidak menjauhkan diri dari akar sosial masyarakatnya.***

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 16 Oktober 2010

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Ribath Nurul Hidayah

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang

Ribath Nurul Hidayah



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Ubudiyah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Oktober 2010

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk

Makassar, Ribath Nurul Hidayah



Sejawat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Anre Gurutta Haji (AGH) Sanusi Baco, di Makassar, Senin (27/3), mengisahkan kehebatan Presiden RI ke 4 tersebut dalam menghibur untuk menghilangkan kejenuhan.

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Gus Dur tentang Orang Buta dan Bungkuk

Bersama Gus Dur dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus), AGH Sanusi Baco menuju Kairo, Mesir untuk belajar di Universitas Al Azhar. Dengan menggunakan kapal, waktu menuju Mesir dari Indonesia memakan waktu sebulan.

"Selama tiga puluh hari di kapal, cerita almarhum selalu berbeda, selalu ada hiburan dilontarkan. Saya kasih tahu satu. Mau?" tanya AGH Sanusi kepada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV, di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI).

Setelah peserta menyatakan mau, AGH Sanusi mengisahkan perjalanannya menuju Mesir.

Ribath Nurul Hidayah

"Kalau saya sudah duduk pagi-pagi, Gus Dur datang menghampiri. Biar tidak rindu orang tua, Sanusi saya kasih cerita beda orang beda buta dan orang bungkuk," kata AGH Sanusi mengenang Gus Dur.

AGH Sanusi yang tertarik merespon penawaran Gus Dur. "Ceritanya bagaimana?" ujar AGH Sanusi.

Gus Dur menceritakan orang bungkuk mengajak orang buta makan kelapa muda. Setiba di pohon kelapa. Orang bungkuk meminta orang buta untuk memanjat.

Ribath Nurul Hidayah

Orang buta tentu saja menolak sebab tidak bisa melihat. Kemudian ia meyakinkan orang bungkuk untuk memanjat dan dia akan bertugas menghitung kelapa jatuh.

"Setiap medengar suara bug (bunyi kelapa jatuh), orang buta selalu menghitung. Bug, satu. Bug, dua. Bug, tiga. Bug, empat. Si bungkuk lalu bilang, empat apa, orang saya yang jatuh," ujar AGH Sanusi disambut tawa seluruh hadirin di ruangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nasional, Pendidikan, AlaNu Ribath Nurul Hidayah

Senin, 30 Agustus 2010

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara

Jepara, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara merasa prihatin terhadap kabar yang dirilis sebuah media Senin (6/7) terkait kasus video porno.

Dalam koran tersebut seorang ABG yang diduga warga Batealit Jepara melakukan aksi masturbasi yang terekam di ponsel pribadinya. Ponsel pribadinya dijual. Kabar pun semakin melebar akhir Juni kemarin tatkala video tersebut diupload di Youtube oleh orang tak dikenal identitasnya. ?

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kasus Video Porno, IPNU-IPPNU Jepara Angkat Bicara

Mengetahui kabar ini ketua PC IPPNU Jepara, Hidayatun Nikmah angkat bicara. “Pada intinya PC IPNU-IPPNU mengimbau kepada generasi muda agar menggunakan teknologi dengan bijak,” tulisnya sebagaimana rilis yang diterima Ribath Nurul Hidayah, Kamis (09/07).

Ribath Nurul Hidayah

Perkembangan teknologi, baginya, memiliki dua sisi positif dan negatif. Agar selamat sebaiknya menggunakan teknologi untuk kebaikan. Nikmah menambahkan, dalam memilih teman juga harus selektif. Jangan sampai memilih teman yang malah menjerumuskan ke dalam jurang yang merusak kehidupan.

Menurutnya, yang dibutuhkan generasi muda saat ini adalah bekal agama yang kuat. “Dengan ilmu agama yang kuat insyaAllah akan kita mampu mengontrol diri serta mampu menjaga diri dari perilaku yang menyimpang dari agama maupun norma-norma yang berlaku,” kata? alumnus Unisnu Jepara ini. ?

Ribath Nurul Hidayah

Agar perilaku generasi muda tidak menyimpang sangat perlu aktif dalam kegiatan positif. Salah satu cara ialah bergabung dalam IPNU-IPPNU. “Ikut IPNU-IPPNU 100 persen kegiatannya positif,” jelas Muhammad Khoironi, Ketua PC IPNU Jepara.

Dengan mengikuti kegiatan positif ini, generasi muda akan memperoleh banyak kegiatan baik sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun agama. Di samping itu, lanjut Khoironi, tiga aspek pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan harus saling bersinergi.

Keluarga dan sekolah mempunyai tugas untuk mendidik dan mengontrol perilaku anak. Sedangkan lingkungan yang menjadikan anak menjadi baik dan buruk. “Karena itu pilihlah lingkungan yang positif,” pungkas Khoironi. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 01 Agustus 2010

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Bangka, Ribath Nurul Hidayah. Upaya pendampingan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Kementerian Sosial RI. Kali ini Kemensos memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk mempermudah pendampingan sosial dengan meresmikan dua aplikasi yaitu Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa, Rabu (5/4) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung ke Bangka untuk meresmikan aplikasi penanganan ibu hamil dan pengembangan desa tersebut.?

“Kami di sini untuk meresmikan aplikasi Bumil Resti dan aplikasi Kembang Desa,” ujar Khofifah.

Dia menerangkan, Aplikasi Bumil Resti atau Sistem Informasi Ibu Hamil Resiko Tinggi merupakan inisiatif Pemkab Bangka dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil dan ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

“Ini adalah sebuah inovasi yang bisa menjadi role model bagi daerah lain. Lewat aplikasi ini Pemkab Babel memburu atau mencari ibu-ibu hamil yang beresiko tinggi sampai ke pelosok desa,” jelas perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini.

Ribath Nurul Hidayah

Khofifah juga menerangkan, aplikasi ini menguatkan peran bidan dan dokter spesialis kandungan dalam pemantauan secara terus menerus terhadap Bumil Resti.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi program perburuan anak putus sekolah untuk mendapatkan kejar paket serta perburuan lansia terlantar untuk mendapatkan respon cepat.

Sementara aplikasi "Kembang Desa" atau Kesejahteraan Masyarakat Bangka dengan Sistem dan Aplikasi merupakan sistem yang dibangun dengan mengedepankan Rumah Tangga Sasaran (RTS).?

Aplikasi tersebut menurutnya, merupakan sistem informasi pengelolaan data kemiskinan yang paling lengkap di Indonesia dan paling mudah diakses oleh masyarakat luas.

Ribath Nurul Hidayah

“Sistem ini memiliki keunggulan tidak hanya merekam data kemiskinan by name by address, tetapi juga terdapat foto dan profil lengkap RTS. Bahkan sampai titik koordinat alamat individu RTS,” tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, AlaSantri Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 21 Juli 2010

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Solo, Ribath Nurul Hidayah. IAIN Surakarta pada Kamis (20/12) malam, sedikit berbeda. Betapa tidak, kampus yang biasanya sudah sepi di sore hari, karena kelarnya proses perkuliahan, malam itu dibanjiri setidaknya dua ribu jamaah.

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Bakda sembayang Isya, kira-kira pukul delapan, jamaah dari wilayah Surakarta dan sekitarnya mulai memenuhi aula besar IAIN Surakarta. Mereka datang dengan mengenakan busana beragam untuk menghadiri dzikir dan Shalawat sekaligus peluncuran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH Al-Wustho IAIN Surakarta. 

Acara dimulai dengan pembacaan syair-syair yang ada dalam kitab al-Barjanzi, diiringi rebana, alat musik pukul, yang salah satu jenisnya dikenal dengan sebutan hadroh. Dipimpin grup Hadroh JQH Al-Wustho, para jama’ah khusuk mengumandangkan syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad SAW

Ribath Nurul Hidayah

Dilanjutkan dengan peresmian Unit Kegiatan Mahasiswa Jamiatul Qurra wal Huffadz (UKM JQH) Al-Wustho IAIN Surakarta. UKM tersebut didirikan untuk menjadi ruang kreasi mahasiswa dalam bidang seni, khususnya shalawat, tilawatil Qur’an, dan kaligrafi.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika sesi ceramah tiba, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengawali tausiah dengan meminta grup hadrah yang ada dihadapannya membawakan lagu Aa Gym yang pernah populer beberapa tahun lalu, Jagalah Hati. Noval minta lagu tersebut diiringi dengan rebana, namun para pemusik grup hadroh JQH Al-Wustho canggung, belum pernah mengiringi lagu tersebut dengan rebana.

Saat itulah, Noval mengatakan bahwa musik, khususnya rebana, merupakan bagian yang sangat penting dari kebudayaan umat Islam.

"Musik khususnya rebana merupakan thariqah, salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membawa anjasah atau munsyid ke manapun beliau pergi. Rasulullah juga menampakkan kegembiraannya ketika seorang wanita menunaikan nadzarnya dengan menabuh rebana di hadapan beliau," begitu pimpinan Majlis Dzikir dan Ilmu Ar-Raudhoh, Solo, memaparkan tentang rebana. 

Dia mengingatkan, karena rebana dan shalawat itu penting, para penabuh rebana dan vokalis shalawat seharusnya tidak bersenda gurau atau bercakap-cakap ketika bershalawat. "penabuh rebana dan vokalis jangan bercanda saat membawakan shalawat," ujarnya.

Pemusik, kata Noval, harus menghadirkan rasa dan hati, membayangkan seolah sosok Rasulullah Muhammad SAW hadir di hadapannya. 

"Bayangkan kegembiraan masyarakat Madinah al-Munawarah saat menyambut hijrah Rosululloh. Dengan begitu, hadirin juga akan terbawa ke dimensi yang berbeda. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Kedekatan dengan Sang Khalik dan kekasih-Nya yang menyebabkan air mata tidak terbendung, mulut ingin berteriak lantang memuji kebesaran Rasulullah Muhammad. Jika sudah seperti itu, maka nur Illahiah akan lebih mudah masuk di dalam hati," lanjutnya.

Selain berbicara musik, malam itu Noval mengupas tentang pentingnya cinta dalam kehidupan. 

Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Pekik Nursasongko

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Anti Hoax Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 20 Juli 2010

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setiap menjelang penetapan jatuhnya hari raya atau lebaran, atau penetepan awal puasa yang dilakukan pemerintah melalui sidang istbat, masyarakat selalu ramai menunggu dengan memelototi media televisi maupun media online.

Dalam menentukan awal puasa dan jatuhnya hari lebaran bagi kaum muslim itu, pemerintah juga menunggu laporan berbagai petugas, ormas maupun tim yang berada di lapangan untuk melakukan rukyatul Hilal.

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemburu Hilal Itu adalah Jurnalis

Di samping tim falak, ada sekelompok orang dari awak media yang ikut berperan dalam perburuan hilal, bulan sabit tanda awal bulan hijriyah. Mereka adalah kaum jurnalis. Para wartawan ini juga berperan besar menyampaikan kabar tentang keberadaan hilal melalui media masing masing, baik televisi, radio maupun online.

Ribath Nurul Hidayah

Tugas para wartawan ini sering kali luput dari pantauan, meski sering dipandang miring oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk berburu warta soal hilal, mereka seperti tidak mengenal lelah, rela meninggalkan rumah, anak istri keluarga untuk memberitakan fakta.? Sedangkan masyarakat bisa menunggu kabar keberadaan hilal, di depan televisi, radio, mapun hanya menggemgam telepon seluler.

Jurnalis pemburu iilal ini harus ikut menuju lokasi di mana tim rukyat dari lembaga falak Kementerian Agama, MUI, maupun ormas seperti NU dan Muhamadiyah yang biasanya sangat jauh dari kota. Terkadang di pinggir pantai, dan tidak jarang di puncak dataran tinggi.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan mebawa peralaan yang cukup berat, berupa kamera dan yang lainnya, rasa nyaman bisa berkumpul dengan keluarga, rasa? haus, lapar terkesampingkan, demi memberikan kabar baik yang sudah ditunggu ribuan bahkan jutaan masyarakat Muslim di penjuru Nusantara dan juga dunia.

Di akhir bulan puasa Ramadhan yang sangat mulia, kita semua bisa berdoa, mereka awak media, wartawan pekerja media diberi kekuatan diberi keberkahan. Sehingga puasanya amal ibadahnya diterima Allah SWT dan menjadikannya? memudahkan untuk masuk surga. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sunnah, Khutbah, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 14 Juli 2010

Saat Banser Mencabut Katana

Oleh Teguh Kurniawan





Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Banser Mencabut Katana (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Banser Mencabut Katana

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Indonesia beruntung memiliki NU. Ormas yang oleh Muhammad Rizieq Syihab dalam video ceramah di madinah di sebutnya sebagai kelompok tradisionalis. Berbicara komitmen terhadap bangsa, NU terbukti ikut berdarah mendirikan bangsa ini. 

Berbicara jumlah massa dan khazanah keilmuan Islam, saya bertaruh anak-anak muda NU yang belajar di Pondok Pesantren itu jauh lebih mumpuni dibanding Felix Siauw. Mereka belajar Islam dari sumber babon, ilmu tafsir, bahasa arab dan gramatikalnya, kitab fiqih lintas madzhab, ilmu hadits hingga sex education adalah makanan mereka sehari hari di Pondok Pesantren.

Kematangan pengetahuan agama, militansi jamaah, jumlah anggota, dan memiliki garis komando jelas adalah keunggulan NU yang sulit di tandingi oleh organisasi Islam manapun. Tetapi NU tidak jumawa, komitmennya selaras dengan amanah pendiri bangsa ini menjadi negara bangsa bukan negara agama. Dengan segala kelebihannya, NU adalah benteng akhir pertahanan bangsa ini. Dan ruh itu yang di jaga NU, digaungkan dalam marsnya Ya lal wathon :

Ribath Nurul Hidayah

 

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon/ Hubbul Wathon minal Iman/ Wala Takun minal Hirman/ Inhadlu Alal Wathon / Indonesia Biladi / Anta ‘Unwanul Fakhoma / Kullu May Ya’tika Yauma/ Thomihay Yalqo Himama/ Pusaka Hati Wahai Tanah Airku/ Cintaku dalam Imanku/ Jangan Halangkan Nasibmu/ Bangkitlah Hai Bangsaku/ Indonesia Negriku/ Engkau Panji Martabatku/ Siapa Datang Mengancammu/ Kan Binasa di bawah dulimu

Belakangan ini situasi tanah air mengharuskan kekuatan NU untuk kembali bangkit. Selama ini NU lebih banyak diam ketika dalam banyak kesempatan kelompok Islam anyaran seperti HTI terus-menerus menuding kaum selain mereka sebagai kafir. Dengan seenaknya mereka memvonis negeri ini sebagai negeri thoghut dan kafir, tidak pakai hukum Allah. Gerakan Islam Nusantara dihujat, NU sebagai jamaah liberal, penyembah kubur, tukang bid’ah, bahkan gelombang fitnah dialamatkan pada pucuk pimpinan NU, tetapi NU masih bersabar.  

Ribath Nurul Hidayah

Namun saat provokasi ini mengancam integrasi bangsa dan eksistensi Pancasila, maka anak muda NU saatnya bergerak. Mereka bangkit melawan, musuh mereka adalah kelompok unyu-unyu pemimpi basah khilafah dan kelompok penebar benih radikalisme. Banser dan GP Ansor menunjukkan kekuatannya menjadi penjaga NKRI. Di Makassar mereka bentrok dengan HTI. Di Bogor dan Jakarta mereka menolak forum internasional khilafah HTI.

Di Jombang, Tulungagung, Jember, Sidoarjo dan Surabaya sudah menyatakan dengan keras tidak memberi ruang bagi HTI dan ormas anarkis di Jatim. Di Cilacap, Banser dan GP Ansor menyerukan HTI untuk kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Di Semarang mereka menolak perilaku ormas anarkis. Di Takalar GP Ansor dan Banser, gagalkan konvoi HTI. Di Bandung, mereka menolak deklarasi HTI. Di Purbalingga, GP Ansor dan Banser hampir saja bentrok dengan HTI. Di Rembang sikapnya sama usir kelompok pemimpi khilafah

Berpuluh tahun NU menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dalam kerangka agama yang sejuk dan berwibawa. NU ibarat klan keluarga Samurai Katsumoto dalam film The Last Samurai. Mereka adalah orang orang yang tidak pernah melupakan cikal bakal mereka, mereka setia pada tanah kelahiran, adat istiadat, dan juga leluhur mereka. Jika kemudian NU melalui Ansor dan Banser sudah bergerak mengangkat Katana-nya, artinya isyarat bangsa sedang terdzolimi. Benih radikalisme, bibit disintegrasi bangsa, sikap intoleran, ungkapan kebencian berjamur di mana-mana. 

Bukan Banser jika hanya diam, mereka bergerak serentak menunjukan taringnya. Hal itu yang kemudian membuat orang yang membenci Pancasila dan memimpikan negara Islam merengek, lebih tepatnya mengembik. Mereka melancarkan gelombang Fitnah pada Banser, video dan beragam fitnah dilancarkan dengan masif. 

Banser berjuang sendiri, dengan kesederhanaannya. Saya membayangkan saat orang seperti Kang Nen membubarkan konvoi khilafah mungkin dikantungnya hanya ada dua batang rokok dan uang untuk beberapa liter bensin, tapi untuk Indonesia Kang Nen melakukan dengan gembira. 

Ancaman terhadap NKRI sudah begitu nyata, kelompok radikalis dan pro khilafah telah masuk dengan masif hingga sekolah menengah, saat ini Banserlah pilar yang tersisa ketika gelombang virus radikalisme menyerbu negeri ini. Menyatukan kelompok pro khilafah ini dengan NU, rasanya tidak mungkin. Keislaman NU berakar pada tradisi, sedang mereka beragama dengan insting menaklukan. 

Satunya-satunya jalan negara harus memilih, NU yang telah terbukti komitmennya atau mereka yang ingin mengganti ideologi negara. Berharap anak-anak muda NU untuk mundur mengalah, tidak ada cerita Banser mundur perang. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah gambaran keberanian Banser. Pada masa ini HTI dan ormas yang mempunyai kecenderungan anarkis lahir saja belum.  

Namun membiarkan Banser berjuang sendiri rasanya tidak bijak. Kita harus hadir berdiri bersama mereka. Kita tidak ingin adegan terakhir dalam film The Last Samurai terjadi. Teringat sebuah adegan dalam Film itu saat Nathan Algreen memberikan Katana dari klan Samurai Katsumoto yang gugur di medan perang.

Pada saat menerima Katana itu Kaisar baru menyadari bahwa pemerintah telah mengorbankan hal paling berharga dari bangsanya yaitu akar budayanya sendiri. Kita tidak ingin menitikkan air mata saat menyaksikan Katana Banser Samurai terakhir penjaga bangsa ini diserahkan. 

Saatnya kita berdiri bersama Banser ikut menjaga bangsa ini melawan radikalisme dan intoleransi. Membantu sebisa kita jangan biarkan Banser sendiri, bergandengan tangan nengucapkan kalimat Kaisar dalam film The Last Samurai, "We can be modern country, we are wearing western clothes, we have railway, but we cannot forget WHO WE ARE."  Kang Nen, salam hangat secangkir kopi untukmu.

Ini adalah bagian dari artikel lama saya yang saya potong. Tulisan ini saya buat hampir setahun lalu berjudul "Banser The Last Samurai" seiring maraknya gelombang fitnah untuk Banser pasca insiden kaburnya Felix Siauw yang menolak menandatangani surat pernyataan setia pada Pancasila. Saya rasa tulisan ini relevan.

Penulis adalah Konsultan Media dan Aktivis Sosial.

*) Atas persetujuan penulis, tulisan opini di atas telah mengalami pengeditan di beberapa paragraf yang menyebut kata FPI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 14 Maret 2010

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa

Cianjur, Ribath Nurul Hidayah. Dengan menghadirkan pemerintah daerah dan perbankan yang menjadi mitra Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, Pameran potensi desa ke IV yang diselenggarakan di Cianjur diharapkan bisa meningkatkan investasi ke desa-desa.

Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Anwar Sanusi menjelaskan, bahwa pameran potensi desa merupakan ajang promosi dan sosialisasi, sebagai ajang pembangunan potensi di daerah perdesaan.

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Potensi Desa Bisa Tingkatkan Investasi ke Desa

"Dengan adanya pameran potensi desa ini, secara tidak langsung akan ada interaksi dan komunikasi antar-daerah dan beberapa perbankan yang menjadi mitra kementerian, sehingga  bisa berdampak positif pada masyarakat desa," ujar Anwar Sanusi dalam sambutannya di Cianjur, Kamis (15/10).

Ribath Nurul Hidayah

Dari beberapa pameran potensi desa yang sudah diselenggarakan, imbuh Anwar, sudah banyak beberapa daerah yang merasakan efek positif dari pameran yang diselenggerakan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi.

Ribath Nurul Hidayah

"Ini pameran yang keempat, dari pameran-pameran sebelumnya sudah ada beberapa desa yang berhasil menarik investor untuk berinvestasi di desa," tandasnya.

Anwar juga menjelaskan alasan kenapa Cianjur dipilih sebagai tuan rumah pameran potensi desa Ke-4 di tahun 2015 ini. "Cianjur memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, perkebunan, peternakan,  dan industri kerajinan. Dan Cianjur juga merupakan salah satu lumbung padi di Indonesia," papar Anwar.

Sementara itu, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh berharap dengan adanya pameran potensi desa, desa-desa yang ada di Cianjur bisa mengembangkan potensi secara mandiri. Pasalnya, di masa akan datang desa akan menjadi garda depan dalam pembangunan wilayah.

"Oleh karena itu, masyarakat desa di dorong untuk menginisiasi, memprakarsai pembangunan desa secara langsung dengan mengacu keberagaman potensi desa yang menjadi kekuatan pendukung dalam pembangunan desa," ujar Tjetjep.

Potensi unggulan kabupaten Cianjur, menurut Tjetjep didominasi sektor pertanian yang mencapai 37 persen tanaman pangan. "Selain itu ada juga sektor pariwisata, perkebunan dan industri kreatif," imbuhnya.

Sebagai informasi, pameran potensi desa ke IV yang diselenggarakan di Cianjur diikuti oleh beberapa pemerintah kabupaten seperti, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Kendal, Kabupaten Klaten, Kabupaten Dogiyai, Papua, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Sulawesi Utara yang mengkordinir 10 Peserta yang terdiri atas Mitra Kabupaten, Kabupaten Boltim, Kabupaten Bolmong, Kabupaten Minut, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Minahasa, Kota Manado, dan Kotamobagu.

Selain dari pemerintah daerah, peserta pameran potensi desa juga datang dari sektor perbankan mitra kementerian yaitu Bank BTN, juga UMKM dari Jawa Timur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 13 Maret 2010

Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PWNU Jateng H Moh Adnan menghimbau kepada jajaran PCNU hingga ranting di Brebes agar meningkatkan aktivitas kegiatan organsasi. Sebab esensi dari kepemimpinan yang kuat terbukti dengan adanya aktivitas yang membawa barokah.



Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan Konferensi Sebagai Program Unggulan

“Esensi jiwa leadership, terbukti dengan aktivitas yang membawa barokah,” ungkap Adnan saat membuka Konfercab NU Brebes Sabtu malam (26/7) di pondok pesantren modern Al Falah Sofwaniyah Desa Jatirokeh Kec. Songgom Brebes.

Adnan berharap, pemimpin NU juga memiliki jiwa sensitif kepada keinginan anggota, bukan keinginan pribadi pemimpin itu. Di samping itu juga harus memiliki responsibility yang tinggi terhadap semua elemen NU.

Ribath Nurul Hidayah

Adnan menekankan kepada jajaran NU Brebes agar meningkatkan program pendidikan, pengembangan ekonomi dan dakwah islamiyah yang aswaja. “Jangan sampai, konferensi dijadikan program unggulan. Sementara program lainnya tidak ada,” ungkapnya disambut tertawa hadirin.

Ribath Nurul Hidayah

Adnan sangat bangga manakala momentum konferensi dijadikan ladang penanaman solidaritas antar PC hingga ranting bahkan sampai ke nahdliyin per individu. Pasalnya, gejala menurunnya sikap taawun (tolong menolong) dan itihad mulai meluntur. “Semangat ukhuwah nahdliyah, Islamiyah, wathoniyah, basyariyah dan insaniyah, kini mulai luntur,” ucap Adnan yang selanjutnya memukul Bedug sebagai tanda Konfercab di buka.

Senada dengan Adnan, Wakil Bupati Brebes H Agung Widiyantoro saat memberi sambutan juga menghimbau agar perhelatan konfercab mampu menguatkan peran NU di masyarakat bukannya sabagai pemecah belah. Sehingga jatidiri NU bisa terbukti. “Tunjukan jatidiri NU kokoh, meski warga NU ada di dalam kendaraan politik yang berbeda-beda,” ujarnya.

Lewat konfercab, Wabup juga berharap agar terjapai sistem manajemen yang tangguh, sehat, profesional. Untuk mewujudkannya, diera sekarang diperlukan transparansi, akuntabilitas yang dilandasi akhlakul karimah. “Dengan baju seragam NU, segala pikiran, perilaku kita seragamkan untuk kebesaran NU,” ajaknya..

Pun demikian dengan Athoillah, berharap agar konfercab NU bisa dijadikan sarana silaturokhmi antara pengurus dan anggota NU se Brebes. Dan yang lebih utama, mampu memberi dampak positif. “Jangan sampai Konfercab ini malah jadi ajang perseteruan atau perselisihan. Pasalnya bisa merugikan NU secara institusional maupun individu,” ungkap Atho mengingatkan.

Dia mencontohkan, perselisihan PKB Gus Dur dan Muhaimin. “Bahkan Gus Dur kini tidak lagi membaca asmaul husna sampai 99 tapi cuma 98 karena Ya...Muhaimin-nya ditinggal,” seloroh Athoillah disambut tertawa hadirin.

Konfercab diikuti 309 utusan ranting dari 346 ranting yang ada, dan 16 ranting dari 17 ranting ada. “37 Ranting dan 1 MWC tidak memiliki hak suara dan hanya sebagai peninjau akibat belum memiliki SK Kepengurusan yang definitif,” ungkap Ketua Panitia H. Asmuni. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 08 Maret 2010

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat

Jember, Ribath Nurul Hidayah - Salah satu tantangan  terbesar  masyarakat  dewasa ini adalah keterbelakangan ekonomi. Sejak lama, hal tersebut menjadi tantangan dan  perhatian banyak kalangan, namun belum juga  teratasi. Indikasinya, warga yang  berada di bawah garis  kemiskinan, masih cukup bejibun, termasuk di Jember.

Demikian diungkapkan Pembina Pelopor Kabupaten Jember H Misbahus Salam saat memberikan sambutan dalam  Sarasehan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Pendopo Kecamatan Kaliwates, Sabtu (6/1).

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keterbelakangan Ekonomi, Tantangan Besar Masyarakat

Menurut H MIsbah, untuk mengatasi keterbelakangan ekonomi tersebut, kreativitas dan kejelian  masyarakat dalam membaca peluang bisnis sangat diperlukan.

Ribath Nurul Hidayah

"Selain itu, pemerintah juga wajib memperioritaskan program-program kerakyatan yang bersifat pemberdayaan," ucap Wakil Ketua PCNU Jember itu.

Ketua Pelopor Jember H Fathorrozi menegaskan, pihaknya menyambut baik 22 program Bupati Jember yang beberapa di antaranya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat, misalnya warung berjaringan, kampung industri dan sebagainya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, peluang tersebut perlu disikapi dan ditangkap dengan baik oleh masyarakat. Bagi  warga yang jeli dan punya inisiatif tidak ada alasan untuk tidak menangkap peluang tersebut.

"Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada, dan kami siap  memfasilitasi," jelas Ketua Parga Nusa Kabupaten Jember itu.

Sarasehan yang dihelat oleh Pelopor Jember itu menampilkan pembicara yang kompeten di bidangnya. Di antaranya adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten  Jember, Anas Maruf. Pesertanya adalah masyarakat umum dan puluhan pelaku Usaha Kecil Mengah (UKM). (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 Januari 2010

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Global Unity Forum (GUF) 2016, adalah pertemuan pemuda dan tokoh lintas agama. Diinisiasi oleh PP GP Ansor, digelar di Jakarta, Kamis (12/5).

Forum ini diselenggarakan atas dasar keprihatian GP Ansor melihat terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama, yang masih saja terjadi di era ini. Juga merupakan langkah awal PBNU dalam merealisasikan isi Deklarasi NU hasil International Summit of The Moderate Leaders (Isomil).

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

GUF 2016 Bahas Peran Pemuda dalam Upaya Perdamaian Dunia

Baca: http://www.nu.or.id/post/read/68146/soal-perdamaian-dunia-gus-yahya-sebut-islam-moderat-jalan-menuju-cahaya

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, H Yaqut Cholil Coumas (Gus Tutut) dalam pidato sambutan menyampaikan bahwa agama mengandung paradoks, di satu sisi sebagai alat perdamaian, tetapi di sisi lain ada yang menggunakan agama sebagai alat penghancuran.?

Sepanjang sejarah, sebut Gus Tutut, nilai-nilai luhur agama telah menjadi inspirasi bagi kemanusiaan dan peradaban. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa agama dapat digunakan sebagai alat yang efektif bagi sebuah keserakahan dan penaklukan. Sejarah Islam, demikian juga Krisren, menunjukkan bukti dari fakta tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Peristiwa Rohingnya di Myanmar, dan perilaku Jepang saat terjadi Perang Dunia II, memberikan gambaran bagaimana agama Budha dan Shinto telah digunakan untuk tujuan yang sama. Demikian juga Hindu, pada kasus Mahatma Gandhi, tokoh yang mengajarkan perdamaian di India, dibunuh oleh penganut Hindu garis keras.

Menurut Gus Tutut, konflik atas nama agama berakar dari sifat manusia, dan kecenderungan pemeluk agama melihat diri mereka sebagai kelompok eksklusif, yang berbeda dan lebih unggul dari agama lain.

Jika kita ingin mengakhiri siklus kekerasan primordial atas nama agama, lanjut Gus Tutut, kita harus mengakui, banyak tradisi keagamaan yang mendorong pengikutnya untuk memahami agama secara sempit, dan diskriminasi terhadap orang lain.?

Ribath Nurul Hidayah

Bagian dari masyarakat yang harus dilindungi adalah para pemuda. Adalah tidak mungkin bisa melindungi para pemuda dari ajakan ektremisme dan kekerasan tanpa mengubah persepsi tentang agama itu sendiri.?

GUF 2016 menghadirkan pembicara KH Luthfi Thomafi (NU, Indonesia), Aisha Virginia Gray Hanry (Founder dan Director Fons Vitae, Amerika Serikat), Samuel Tadros (Coptic Christian, Senior Fellow at the Hudson Institute’s Center for Religious Freedom)), dan Rabbi Mordechai Avtzon (The Chabad of Hong Kong and China Region).?

Ada pun peserta antara lain perwakilan pemuda dari GP Ansor, Pemuda Katolik, Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), dan Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi). (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Kyai, Santri Ribath Nurul Hidayah