Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah jajaran syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki, bertandang ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam. Mereka bermaksud meminta SK. dari PBNU atas kepengurusan PCI Turki yang baru terbentuk.

Sebelum mendatangi kantor sekretariat PBNU di lantai tiga, rombongan ini singgah di Kantor Ribath Nurul Hidayah, lantai lima Gedung PBNU. Keempatnya aktif menceritakan kondisi sosial, akademik, dan keagamaan masyarakat Turki.

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jajaran pengurus PCINU Turki, terdiri dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang melanjutkan studi di Turki. Mereka berasal dari kampus berbeda. Bahkan kampus tiap pengurus terletak di kota yang berjauhan.

Para pengurus juga berasal dari latar belakang akademik yang berbeda. Sebagian mereka mengambil studi Sastra Arab, Politik, atau Teknik Sipil. Mereka tidak melulu berasal dari jurusan ‘Ilahiyat’, sebutan bagi studi ilmu-ilmu keislaman di Turki.

“Pembentukan kepengurusan PCI kami, sesuai dengan keputusan Muktamar Makassar lalu; 40 anggota sebagai batas minimal,” kata Ahmad Faiz, Rois Syuriah PCI NU Turki kepada Ribath Nurul Hidayah di Kantor redaksi lantai lima Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Proses pembentukan PCINU Turki, cukup unik. Perkumpulan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Turki, berinisiatif membentuk kepengurusan setelah saling mengetahui bahwa mereka adalah warga NU, imbuh Faiz, yang tengah mengambil studi Sastra Arab di Universitas Konya, Turki.

Menurut M. Syaukillah, Katib Syuriyah PCINU Turki, kepengurusan PCINU Turki didukung oleh tokoh masyarakat setempat. Mereka menyambut baik pembentukan kepengurusan Cabang Istimewa NU. Sejumlah tiga orang profesor di Turki, bersedia menjadi pengurus Mustasyar PCINU Turki.

 

Ribath Nurul Hidayah

Redaktur: Ulil Hadrawy

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Kiai, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Senin, 12 Februari 2018

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan

New York, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Luar Negeri Kuba Felipe Perez Roque menyerang-balik Presiden AS George W. Bush, Rabu (26/9), dengan mengatakan Bush adalah polisi global yang ugal-ugalan dan membuat keamanan dunia jadi terancam.

Sehari setelah ia meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum PBB ketika Bush merujuk kepada Presiden Kuba, yang belum sehat, Fidel Castro sebagai seorang "diktator kejam" yang kekuasaannya mendekati akhir, utusan Kuba menyatakan Presiden AS tersebut tak memiliki hak untuk menuntut perubahan rejim di negara berdaulat melalui perang dan sanksi.

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuba Serang Balik Bush, Sebut Dia Polisi Ugal-Ugalan

"Itu adalah pertunjukan yang memalukan, pikiran tak waras seorang polisi dunia, mabuknya kekuatan imperial, yang ditaburi sifat sedang-sedang saja dan sinisme," kata Perez Roque mengenai pidato Bush, Senin lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Bush mencerca Iran, Korea Utara, Kuba, Myanmar dan negara lain karena "menginjak-injak" hak asasi rakyat mereka.

Ia mengatakan PBB "harus mendesak bagi terwujudnya" kebebasan berbicara dan pemilihan umum di Kuba, sementara negara yang dikuasai Komunis itu memasuki masa peralihan setelah Castro menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul, pada 31 Juli 2006.

Ribath Nurul Hidayah

Perez Roque menyatakan Bush tak memiliki hak untuk berbicara mengenai demokrasi karena ia memangku jabatan melalui kecurangan dan penipuan dalam pemilihan umum kontroversial pada 2000.

"Kita mestinya melewati kehadirannya kemarin dan mestinya mendengarkan Presiden Al Gore berbicara mengenai perubahan iklim dan resiko terhadap spesies kita," kata Menteri Kuba tersebut.

Perez Roque menyalahkan Bush atas kematian 600.000 warga sipil dalam perang Irak dan mengatakan Presiden AS itu tak memiliki dasar moral untuk berbicara mengenai hak asasi manusia di negara lain setelah ia mensahkan penggunaan penyiksaan terhadap tahanan di pangkalan Angkatan Laut Guantanamo dan penjara Abu Ghraib di Irak.

"Ia telah menjadi politikus paling ugal-ugalan dan egois yang pernah kita saksikan," katanya mengenai Bush. "Ia mesti bertanggung-jawab kepada dunia atas semua kejahatannya."

Sumber Reuters melaporkan, Perez Roque memulai pernyataannya dengan berbicara atas nama 116 negara berkembang Gerakan Non-Blok, yang saat ini diketuai oleh Kuba.

Ia menyatakan ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia hari ini adalah penggunaan dalih seperti perang melawan teror atau dorongan demokrasi yang banyak dikumandangkan untuk menyerang negara yang dicap sebagai "negara merah" oleh segelintir negara maju. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Habib, Khutbah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 10 Februari 2018

GP Ansor NTT Sambut Baik Partisipasi Pengamanan Pemuda Hindu di Bulan Ramadhan

Kupang, Ribath Nurul Hidayah. GP Ansor Nusa Tenggara Timur menerima baik itikad Parisada Hindu Dharma Indonesia kota Kupang untuk menciptakan suasana aman dan damai demi kenyamanan ibadah puasa umat Islam Kupang di bulan Ramadhan. Kerja sama demikian dalam menghadirkan suasana damai memang diharapkan.

GP Ansor NTT Sambut Baik Partisipasi Pengamanan Pemuda Hindu di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Sambut Baik Partisipasi Pengamanan Pemuda Hindu di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Sambut Baik Partisipasi Pengamanan Pemuda Hindu di Bulan Ramadhan

Demikian dinyatakan Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis kepada Ribath Nurul Hidayah, Kamis, (26/6) sore. Terkait partisipasi pengamanan PHDI kota Kupang dan pemuda Hindu di bulan Ramadhan, GP Ansor NTT mengucapkan terima kasih.

Muis menekankan, “Kebersamaan ini perlu dijaga agar ke depan terus menyatu partisipasi pengamanan hari-hari besar keagamaan yang ada di Nusa Tenggara Timur. Karena, pada prinsipnya GP Ansor dan pemuda keagamaan lainnya berharap NTT tetap damai selalu.”?

Ribath Nurul Hidayah

Sebelumnya, Rabu (25/6), Ketua PHDI kota Kupang Nyoman Mahayasa mewakili umat Hindu menyatakan dukungannya kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa. Nyoman berharap pelaksanaan ibadah puasa selama Ramadhan berjalan aman dan lancar. Ia juga berharap, pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan tidak terganggu di tengah hiruk-pikuk kampanye pilpres.

Ribath Nurul Hidayah

“Jika keamanan dan kenyamanan pelaksanaan puasa Ramadhan bagi umat Islam di kota Kupang terganggu, PHDI dan Pemuda Hindu Dharma siap membantu,” ujar Nyoman kepada Ribath Nurul Hidayah di Kupang, Rabu (25/6). (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Mimika, Ribath Nurul Hidayah. Memasuki malam 16 Ramadhan tahun ini, kegiatan Buka Bersama dan Safari Ramadhan PCNU Mimika diselenggarakan di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Semeru SP6 Naeba Muktipura, Distrik Iwaka, Mimika.

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Mimika Manfaatkan Ramadhan dengan Gelar Safari

Wakil Ketua PCNU, Sugiarso dan Ketua JQH Ust Hasyim Asyari dan Tim Safari Ramadhan PCNU Mimika lainnya mengawali kegiatan dengan berkunjung di rumah Ketua Takmir, Hasyim Asyari.?

"Hari ini dua Hasyim Asyari bertemu semoga bisa meneladani pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Tafaulan nama semoga barokah untuk NU," urai Sugiarso. Berbagai hal masalah ke-NU-an dibicarakan menunggu waktu Magrib. Akhirnya diusulkan untuk melakukan kegiatan NU yang rutin

"Bekerja itu tidak perlu terlalu ngoyo di ladang atau di pasar. Kita ini kurang keseimbangan dengan doa sehingga hidup kita ini begini begini saja," tegas Ketua Takmir, Hasyim Asyari.

Ribath Nurul Hidayah

"Karena itu kita mulai rutinan istigotsah tiap malam Ahad legi. Ini usaha kita untuk meminta agar urusan kita dan keaswajaan kita semakin mudah," lanjutnya.

Selanjutnya pada acara ceramah tarawih di Mushalla Ikhlasul Amal Kampung Sugiarso mengingatkan jamaah agar tidak sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak anak

"Jangan kita terpengaruh opini orang sekolah ini favorit karena mahal ada ini-itu, namun kita tak ? meneliti pahamnya serta orang orangnya. Yang paling aman bersekolah di Al Maarif karena ini milik NU," terang Sugiarso.

Sementara itu, ust Hasyim Asyari mengingatkan jangan sampai anak melawan orang tua. "Kita sedekah buka bersama dan ngaji ini dibilang haram, bahaya. Anak tidak mau diajak tahlilan, bahaya.”

Dijelaskannya, sekarang dunia digenggaman. HP ini isinya lengkap. Ngaji yang keras tinggal klik saja. “Mari kita berjamaah dalam NU agar selamat dunia akhirat karena NU ini didirikan ulama warid yang sanadnya sambung ke Rasulullah Saw," urai ust Hasyim. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Pesantren, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 02 Februari 2018

Santri Mranggen Semarakkan Hari Santri Nasional

Mranggen, Ribath Nurul Hidayah. Sangat semarak. Itulah yang tergambar dari kegiatan pawai Hari Santri Nasional dan peringatan tahun baru Islam. Ribuan santriyyin dan santriyyat tampak berbaris rapi sambil bershalawat melakukan pawai melintasi Jalan Raya Mranggen, pada Ahad Sore (25/10). 

Start pawai diawali dari Pondok Pesantren Al Badriyyah Suburan Mranggen, menyusuri jalan Brumbungan hingga kembali finish ke Pesantren KH. Murodi. Pemberangkatan dilepas oleh KH Muhibbin Muhsin Al hafidz, didampingi Prof Dr KH Abdul Hadi, MA.

Santri Mranggen Semarakkan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Mranggen Semarakkan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Mranggen Semarakkan Hari Santri Nasional

Sekitar 3.000an santri terlihat riang dalam pawai tersebut. Mereka berasal dari Pesantren Al Badriyyah, Darul Ma’wa, KH Murodi, An Nur, Al Anwar, Roudlatul Muttaqin, Al Izzah dan pesantren lainnya. mereka juga membawa berbagai atribut seperti spanduk dan poster yang menyatakan kebahagiaan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Ribath Nurul Hidayah

"Kita senang karena presiden bikin Hari Santri Nasional. Ini (pawai) ekspresi kegembiraan kita," ucap Lublubatus sakdiyah, salah seorang santri yang ikut dalam pawai.

Walaupun penetapan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober telah berlangsung yang tertuang lewat Keputusan Presiden (Keppres) No 22 Tahun 2015, namun tidak mengurangi antusiasme para santri Mranggen untuk merayakannya.

Ribath Nurul Hidayah

"Pawai dan kirab ini adalah upaya mengingatkan kembali bangsa ini akan perjuangan para santri. Sudah banyak santri yang mengabdi untuk negeri ini. Pawai ini juga bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai dan gelora perjuangan para kiai dan santri serta mengingatkan kembali nasionalisme pada rakyat negeri ini,” terang panitia pengarah pawai, H Badrul Munir.

Para santri yang melakukan pawai mendapat pengawalan dari jajaran Polsek Mranggen. Sebab, mereka melakukan longmarch menyusuri jalan utama Semarang-Purwodadi.

Sesekali, para pelajar juga menyerukan bacaan shalawat dan gerakan semangat menjadi santri sejak dini. "Ayo mondok, ayo menjadi santri!," teriak para peserta.

"Selamat Hari Santri 22 Oktober. Dari Santri untuk Negeri," demikian tertulis dalam sebuah spanduk yang dibentangkan 3 santri yang berbaju gamis dan bersorban. Mereka dari Pondok Pesantren Al Badriyyah Suburan Mranggen. (Ben Zabidy/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Kajian Sunnah, Doa Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 25 Januari 2018

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Kiai Arwani Amin, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, beliau tak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan para putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Lutfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini Habib Lutfi tak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.

“Nggak apa-apa,” kata beliau kemudian. “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”

Ribath Nurul Hidayah

“Cemburu bagaimana, Habib?” mereka tak memahami.

Ribath Nurul Hidayah

“Allah memberi kasyaf kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, bapak kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.

Ketika para putra Kiai Arwani sampai kembali di rumah mereka menyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat bapakmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal? (Yazid Muttaqin)

Cerita ini dikisahkan KH Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 18 Januari 2018

Membangun Spiritualitas, Kompak Sumenep Tradisikan Ziarah Kubur

Sumenep, Ribath Nurul Hidayah

Berupaya menguatkan nilai spritualitas anggotanya, Komunitas Pemuda Anti Korupsi atau Kompak Sumenep  melakukan ziarah kubur ke sejumlah makam ulama. Mereka melakukan ziarak ke makam KH Ahmad Basyir AS yang bertempat di Pondok Pesantren  Annuqayah Guluk-Guluk.

Imam Hanafi selaku ketua umum Kompak mengemukakan ziarah kubur merupakan salah satu pendongkrak semangat membangun spritualitas anggota. "Mengingat akan pentingnya menanam dan memperdalam tingkat pemahaman keilmuan keagamaan, maka melalui ziarah kubur ke makam para ulama dengan mencontoh dan melihat kepribadian serta sikap semasa hidupnya dalam berkehidupan, merupakan salah satu langkah memperdalam keagamaan," katanya, Kamis (28/12).

Membangun Spiritualitas, Kompak Sumenep Tradisikan Ziarah Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Spiritualitas, Kompak Sumenep Tradisikan Ziarah Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Spiritualitas, Kompak Sumenep Tradisikan Ziarah Kubur

Lebih lanjut Imam Hanafi menyatakan bahwa agenda ziarah kubur akan berkelanjutan. "Rutinitas Kompak ke depannya ziarah kubur selain yang sudah ada dalam program kerja," ungkapnya

Meskipun ada golongan yang anti ziarah kubur, menurut Nashudi hal tersebut tidak mengendorkan semangat dan keyakinan."Kompak harus bisa menepis pernyataan keharaman ziarah kubur dari berbagai golongan,” kata salah seorang dewan pembina. Sebab banyak makna yang terkandung dalam ziarah kubur seperti mengharap berkah, meneladani perjuangan ulama, dan tentu ikatan emosional antar anggota pun terbangun, lanjutnya.

Moh Masrul juga memberikan nasehat bahwa berorganisasi pun kita harus bisa menyeimbangkan antara kebutuhan sosial, intelektual, dan kedalaman spritual. "Banyaknya organisasi yang acuh akan kebutuhan spritual keagamaan menjadikan gerakannya hancur berantakan,” katanya. Maka dari itu dirinya menginginkan di Kompak harus seimbang antara gerakan sosial kemasyarakatan, intelektual, dan keagamaan. (Faiq/Ibnu Nawawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Senin, 08 Januari 2018

Orientasi Pengurus Baru, PP IPPNU Gelar Diskusi Perspektif Gender

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) masa khidmah 2016-2021 mengelar diskusi perspektif gender dalam konteks hubungan mubadalah antara laki-laki dan perempuan di Jakarta, Sabtu (26/3). Diskusi ini sengaja digelar untuk menyamakan visi gender di kalangan pengurus baru PP IPPNU.

Diskusi dipandu oleh KH Faqihuddin Abdul Kodir dan Maimunah yang merupakan penggerak kesetaraan gender di Fahmina Institute. Hubungan mubadalah adalah hubungan secara timbal balik antara laki-laki dan perempuan.

Orientasi Pengurus Baru, PP IPPNU Gelar Diskusi Perspektif Gender (Sumber Gambar : Nu Online)
Orientasi Pengurus Baru, PP IPPNU Gelar Diskusi Perspektif Gender (Sumber Gambar : Nu Online)

Orientasi Pengurus Baru, PP IPPNU Gelar Diskusi Perspektif Gender

Ketua Umum PP IPPNU Puti Hasni menjelaskan, arti penting dilaksanakan diskusi adalah untuk menyatukan frekuensi tentang perspektif gender bagi pengurus PP IPPNU.

Ribath Nurul Hidayah

"Jelas sekali pemahaman tentang gender harus dipahami bersama oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini IPPNU sebagai organisasi basis massa perempuan perlu secara tegas mengawal hak dan kewajiban yang harus dilakukan," paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Puti berharap dengan dihadirkan perspektif gender kita paham akan hak dan kewajiban masing-masing, saling menghargai, dan saling mengayomi.

Kiai Faqihuddin juga menambahkan bahwa perspektif gender akan kuat jika memahami hubungan “saling”.

"Keduanya baik laki-laki punya hak yang sama yang harus dipenuhi. Perlu ditekankan baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak menuntut ketika haknya tidak dikabulkan," pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

KBIH An-Nahdliyah Bekasi Memulai Bimbingan Manasik Haji 2011

Bekasi, Ribath Nurul Hidayah. Kelompok Bimbingan Ibadah (KBIH) An-Nahdliyah Kota Bekasi  mulai menggelar bimbingan manasik untuk jemaah calon haji (calhaj) 2011 di Kantor Kementerian Agama (Kemnag) Kota Bekasi,  Ahad (29/5).

Pembukaan bimbingan manasik calhaj 2011 itu dihadiri Ketua Yayasan An-Nahdliyah Fuad Noor Yusuf MPd,  Ketua KBIH  An-Nahdiyah Paray Said MBA, Ketua Kemenag Kota Bekasi KH Abdul Rosyid MPd, dan Ketua PCNU Dr Zamakhsyari A Majid.

KBIH An-Nahdliyah Bekasi Memulai Bimbingan Manasik Haji 2011 (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH An-Nahdliyah Bekasi Memulai Bimbingan Manasik Haji 2011 (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH An-Nahdliyah Bekasi Memulai Bimbingan Manasik Haji 2011

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Bekasi Abdul Rosyid mengatakan, minat orang Islam untuk menunaikan ibadah haji di Kota Patriot ini  cukup tinggi, bahkan setiap hari  tercatat 80 orang yang mendaftar ke Kantor Kemenag. Alhamdulillah, Kota Bekasi tahun 2011, mendapat jatah 3.138 kursi, peringkat kedua setelah Bogor.

Ribath Nurul Hidayah

Berbicara tentang ibadah haji, Mustasyar PCNU Kota Bekasi itu meminta kepada jemaah cahhaj 2011 mempersiapkan ibadah hajinya dengan ilmu. “Ini penting, tanpa ilmu ibadah kita tidak sempurna,” katanya.

Lanjutnya, dia berharap setiap calhaj memperbanyak latihan manasik haji. Bagi jemaah calhaj bisa mengikuti latihan manasik di KUA wilayah kecamatan masing-masing, selain mereka juga mengikuti bimbingan manasik KBIH-nya.

Ribath Nurul Hidayah

“Itu bagian dari mencari ilmu. Harus ulet dan sabar menjalankannya. Mekkah saat puncak ibadah haji bagaikan miniatur Padang Maghsar,” kata Ketua Panitia Pembangunan NU Centre El Sa’id, Kota Bekasi itu.

Sementara itu, Ketua Yayasan An-Nahdliyah Fuad Noor menjelaskan, KBIH An-Nahdliyah Kota Bekasi semakin diminati umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji. Dari tahun  ke tahun terus bertambah. Tahun ini, diperkirakan 71 orang yang akan berangkat melalui KBIH An-Nahliyah. 

Fuad Noor berpesan setiap calon haji sejak sekarang harus mempersiapkan mental dan fisik yang  baik. Mental harus kuat dan belajar yang sesabar-sabarnya.

“Di  sana (Mekkah, Red) sangat berbeda dengan keadaan di negara kita ,  di rumah kita, di majelis-majelis kita dan lain-lain,” kata Ketua Bazda Kota Bekasi itu.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Zainuri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Kajian Sunnah, Doa Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Oleh Munawir Aziz

Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya?

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Dari panggung perjuangan republik, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan barisan militer yang terdiri dari pemuda santri dan kiai pesantren. Dari tapak jejak mereka, mobilisasi dukungan dari kaum santri dan warga sekitar menjadi menggema. Terlebih, kaum santri berjuang dengan tekad bulat, serta niatan ikhlas untuk menegakkan kemerdekaan di bumi Indonesia. Laskar Hizbullah, dipimpin oleh KH Zainul Arifin Pohan, seorang ahli diplomasi dan pejuang militer dari tanah Barus. Sedangkan, Laskar Sabilillah dikomando oleh Kiai Masykur (1904-1994), sosok alim dari Malang.

Siapakah Kiai Zainul Arifin? Sejarah hidup Zainul Arifin membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terdiri dari kiprah para kiai dan tokoh Islam asal Jawa. Kiai Zainul, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal Barus, menjadi catatan nyata. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul Balita, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian berdiam di Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan Hollands Indische School (HIS) serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Pada usia 16 tahun, Zainul Arifin merantau ke Batavia (Jakarta). Di kota ini, dengan berbekal ijazah HIS, dia diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) Pejompongan, Jakarta Pusat. Setelah keluar dari Gementee, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat. Balai pendidikan ini, bertempat di kawasan Masteer Cornelis (Jatinegara). Keahilan diplomasi dan kepiawaian bahasa Belanda, juga mengantar Zainul sebagai pemberi Bantuan Hukum bagi orang Betawi, yang saat itu dinamakan Pokrol Bambu.

Karirnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik (1917-1970), seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda Nahdlatul Ulama. Dari Anshor, karena keahlian berdiplomasi dan kecerdasan komunikasi, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Mahfud Shiddiq (1906-1944), Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid. Selang beberapa waktu, Zainul Arifin kemudian menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara (Masteer Cornelis), serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia, hingga masuknya Jepang pada 1942.

Ribath Nurul Hidayah

Pencetus sistem RT

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, strategi politik ormas Islam berubah haluan. Jika dengan Belanda, posisi ormas Islam berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Jepang menggunakan strategi berbeda dengan mendekati pemimpin-pemimpin ormas Islam. Jepang mengajak ormas Islam sebagai bagian dari pendukung Nippon, sebagai saudara tua di Asia. Inilah startegi politik dan militer Jepang untuk mencengkeram kawasan Asia, terutama Asia Tenggara dalam perang melawan Sekutu.

Di bawah kendali Jepang, terjadi perombakan struktur politik serta ritme organisasi Islam. Pada waktu itu, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika itu, Jepang memberi kewenangan organisasi Islam untuk melebarkan sayap dan lebih aktif dalam pemerintahan. Kiai Zainul Arifin, mengusulkan pembentukan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga. Pada awalnya, tonarigumi dibentuk di Jatinegara, kemudian melebar untuk diadopsi ke sebagian besar desa di Jawa. ? Kiai Zainul Arifin dengan jeli melihat pentingnya sistem komunikasi antarwarga setingkat RT. Dengan demikian, kultur dan hubungan komunikasi antar warga terjaga dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, mereka membutuhkan dukungan pasukan untuk menguatkan militer di kawasan Asia. Semula, Pemerintah Jepang, melalui Abdul Hamid Nobuharu Ono, meminta agar Kiai Wahid Hasyim mengerahkan santri-santri masuk ke Heiho, sebagai tentara cadangan yang akan dikirimkan ke Birma dan Kepualaun Pasifik. Akan tetapi, Kiai Wahid tidak menerima tawaran itu. Untuk menampik permintaan Jepang, Kiai Wahid dengan startegi diplomasinya mengusulkan tawaran cerdas: Pertama, latihan kemiliteran yang diberikan kepada santri lebih baik untuk pertahanan dalam negeri. Kiai Wahid merasa bahwa, mempertahankan tanah air negeri sendiri, akan lebih meningkatkan semangat pemuda santri.

Kedua, pertempuran yang menghadapi tentara sekutu, lebih baik dihadapi oleh prajurit profesional, yakni tentara Dai Nippon. Sedangkan, jika menggunakan tentara yang tidak profesional hanya akan menyulitkan tentara Jepang sendiri. Ketiga, jika PETA (Pembela Tanah Air) ditunjukkan untuk pemuda nasionalis, sudah semestinya ada wadah bagi pemuda santri untuk latihan kemiliteran (Zuhri, 1974; 1987). Sedangkan, Hairus Salim ? (2004: 41) menambahkan satu alasan diplomatis dari Kiai Wahi Hasyim, terutama mengapa harus ada satu wadah untuk latihan kemiliteran bagi santri, yakni adanya kewajiban berperang untuk mempertahankan agama Allah (jihad fi sabilillah).

Pada latihan awal, pemuda santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah digembleng oleh Kapten Yanagawa, yang juga melatihan PETA. Latihan ini berlangsung di Cibarusah, Jawa Barat. Latihan militer pemuda santri, berlangsung selama tiga bulan, yang dipimpin oleh para Sydanco PETA. Kemudian, setelah latihan usai, 500 kader ini kemudian kembali ke desa masing-masing, untuk melatih kader-kader pemuda santri di kawasan setempat. Salim (2004), mencatat bahwa hingga akhir rezim Jepang di Indonesia, tercatat sekitar 50.000 angota laskar Hizbullah yang telah mendapatkan latihan militer.

Latihan perdana Laskar Hizbullah, tanggal 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Jepang, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Raja dan pejabat terkait ? diumumkan betapa misi Hizbullah adalah untuk berjuang bersama Dai Nippon, melawan musuh yang zalim. Gunseikan, dalam pidatonya, menegaskan bahwa:

"Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka masa sekarang adalah masa yang amat penting yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu telah bangkit segenap umat Islam di Jawa, serta berjanji akan berjuang "luhur bersama dan lebur bersama" dengan bala tentara Dai Nippon. Buktinya, ialah pembentukan barisan musa Islam yang bernama Hizbullah. Dengan demikian lahirkan tujuan untuk menghancurkan musuh yang zalim dan perjuangan dengan segenap jiwa dan raga, maka saya sangat gembira membuka latihan pusat Barisan Hizbullah ini... (Latif, 1995: 20, Salim, 2004: 42).

Dengan demikian, yang dimaksud oleh pemerintah Jepang bahwa musuh bersama dari bangsa Indonesia dan Jepang, merupakan tentara sekutu yang berusaha menjajah Asia. Jepang merasa sebagai pembebas bangsa Asia, hingga menyebut diri sebagai "Saudara Tua" bangsa Asia. Oleh Kiai Wahid Hasyim, pelatihan militer dimaksudkan untuk menguatkan barisan santri jika nantinya Indonesia sudah saatnya menjemput kemerdekaan. Benar saja, pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, disusul dengan peristiwa demi peristiwa yang membutuhkan konsolidasi dan kekuatan militer, di antaranya pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengabdi untuk negeri

Ketika para pemimpin bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda tidak rela atas keputusan politik ini. Hindia Belanda tetap ingin menguasai Indonesia sebagai ladang ekonomi dan jajahan politik. Keinginan Belanda, terbukti dengan hadirnya tentara Sekutu, serta tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administrative). Tentu saja, kedatangan tentara ini membuat warga Indonesia marah. Kota Surabaya dan beberapa kota lain menjadi saksi kemarahan warga ketika tentara Sekutu mengintimidasi. Pada 19 September 1945, terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini, sekaligus menjadi tanda kemarahan rakyat atas invasi tentara sekutu dan NICA.

Situasi negeri menjadi kacau dan warga menjadi tersulut kemarahan karena intimidasi tentara Sekutu. Situasi pertahanan negara sedang diuji, apalagi ketika negara Indonesia baru saja merdeka. Sistem birokrasi, pemerintahan dan barisan militer masih sangat lemah. Pada saat itulah, laskar-laskar santri memainkan peran penting untuk mengkonsolidasi kekuatan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, para kiai menyatakan rumusan tentang Resolusi Jihad. Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk menggemakan Resolusi Jihad. Fatwa Kiai Hasyim inilah yang kemudian melecut semangat santri dan warga di kawasan Jawa Timur, dan kawasan lainnya untuk berjuang melawan penjajah. ?

Pada 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di Surabaya. Pasukan Sekutu di kota Surabaya, terdiri atas 5000 pasukan dari kesatuan 49 Infanteri di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby (1899-1945). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Api semangat kaum santri dan warga membara, dengan dukungan para kiai dan kuatnya jaringan laskar. Puncaknya, 10 November 1945, pemuda santri dan warga sekitar Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, dengan tewasnya Jendral AWS Mallaby pada peristiwa sebelumnya, 30 Oktober 1945. ?

Kiai Zainul Arifin memainkan peran besar pada episode perjuangan bangsa Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Perjuangan laskar Hizbullah yang dikomando Kiai Zainul Arifin pada peristiwa November 1945 di Surabaya dikenang sebagai peristiwa heroik. Masa setelah kemerdekaan menjadi ujian bagi pejuang negeri. Kiai Zainul Arifin terus bergerak untuk mengomando laskar santri, barisan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan tentara pimpinan Jendral Soedirman (1916-1950). ?

Dalam catatan Saifuddin Zuhri (2001: 355), beberapa pemimpin cabang Laskar Hizbullah sering berkumpul bersama di Yogyakarta, karena panggilan rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (parlemen). Kiai Zainul Arifin, sebagai Ketua Markas Tertinggi Hizbullah, juga sering bertandang ke Yogyakarta untuk rapat. Selain itu, ada juga Wahib Wahab (Hizbullah Surabaya), Abdullah Siddiq (Hizbullah Jember), Amir (Hizbullah Malang), Bakrin (Hibzullah Pekalongan), Munawar (Hizullah Solo) dan Saifuddin Zuhri (Hizbullah Magelang). Mereka berkumpul untuk mengabdi pada negeri, sekaligus mengonsolidasi barisan laskar santri.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja, pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada masa ini, Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasi laskar-laskar militer untuk membantu tentara untuk bergerilya di bawah komando Jendral Soedirman.

Ketika kondisi sudah aman, serta pemerintah RI memegang kendali, terjadi penyatuan seluruh elemen laskar militer ke dalam satu wadah ? Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kiai Zainul Arifin dipercaya sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI, karena jasa besarnya pada masa perjuangan. Akan tetapi, ketika banyak mantan anggota Hizbullah yang tidak bisa diterima sebagai anggota TNI karena alasan ijazah formal serta tidak mendapat pendidikan modern, Zainul memilih mengundurkan diri. Inilah jiwa besar Kiai Zainul Arifin dalam berjuang untuk mengomando pasukan pemuda santri.

Kiai Zainul Arifin memilih jalan pengabdian, ia berkiprah di jalur politik sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS, lalu wakil Partai Nahdlatul Ulama pada 1952. Pda 1953, Kiai Zainul Arifin menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955). Prestasi besar Kiai Zainul Arifin, pada 1955 ketika Pemilu, berhasil mengantarkan Partai NU menjadi sebagai tiga besar pemenang, dengan mendapat 45 kursi, dari sebelumnya 8 kursi. Kiai Zainul Arifin bersama Kiai Wahab Chasbullah dan beberapa kiai lain, bekerja keras untuk mengerahkan stategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren.

Sebagai pemimpin laskar militer santri, dengan keahlian diplomasi, dukungan politik dan luasnya jaringan, Kiai Zainul Arifin juga dekat dengan presiden Soekarno. Pada 1955 ia pernah bersama Soekarno pergi haji ke tanah suci. Sebagai tamu kenegaraan, Kiai Zainul Arifin diberi hadiah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi.

Pasca pemilu 1955, Kiai Zainul Arifin juga mendapat amanah menjabat anggota Majelis Konstituante. Lembaga ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959 karena gagal merumuskan UUD baru. Setelah dekrit dikeluarkan Soekarno, konsitusi Indonesia dinyatakan kembali pada UUD 1945. Pada masa inilah, dikenal sebagai Demokrasi Terpimpin, dengan kekuasaan pada diri Soekarno, yang bersikeras menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) pada satu barisan politik. Di tengah situasi ini, suhu politik meningkat karena pengaruh kelompok yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno, terutama pihak partai Islam yang menolak PKI.

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi, ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, Kiai Zainul Arifin tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi.

Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU, peneliti Islam Nusantara. (Twitter: @MunawirAziz) ?

Referensi:

Ario Helmy. KH. Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass. 2015.

Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU. Yogyakarta: LKIS. 2004.

M. Hasyim Latief. Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU, 1995.

Saifuddin Zuhri. Guruku Orang-Orang Pesantren. Yogyakarta: LKIS. 2001

Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah: Divisi Sunan Bonang. Yayasan Bhakti Utama. 1997.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Sejarah, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 Desember 2017

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustad, saya mau nanya mengenai hajinya perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suami. Karena saya mendengar bahwa perempuan yang masih dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh pergi haji. Padahal dia sudah menunggu antrian ini selama tujuh tahun, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun ketika mau berangkat suami meninggal dunia. Apakah ada pandangan yang memperbolehkan perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suaminunya pergi haji? Atas penjelasannya saya sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Wulan/Kalbar)

 

Jawaban

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Perempuan Haji dalam Masa Iddah Setelah Ditinggal Mati Suami

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam, dan diwajibkan sekali seumur hidup bagi orang yang sudah mampu melaksanakannya. Momen pergi haji adalah merupakan momen yang sangat dinanti-nanti dan diharapkan setiap Muslim, tak terkecuali penduduk Muslim Indonesia.

Pergi haji bahkan sudah menjadi dambaan setiap Muslim. Tetapi untuk bisa menunaikan rukun Islam tersebut harus butuh perjuangan dan kesabaran yang luar biasa. Terbatasnya kuota haji menyebabkan calon jamaah haji Indonesia harus bersabar menunggu antrian minimal lima tahun sampai sepuluh tahun, bahkan lebih.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana semuanya sudah dipersiapkan sejak lama baik material maupun non-material. Namun tiba-tiba pas mau berangkat ternyata terhalang iddah yang belum selesai. Padahal belum tentu juga tahun depan bisa mendapatkan kesempatan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa iddah seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt berikut ini:

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -?: 234

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (Q.S Al-Baqarah [2]: 234)

Mayoritas ulama menyatakan bahwa perempuan yang menjalani iddah karena ditinggal mati selama menjalani masa iddahnya harus tinggal di rumahnya. Karenanya ia tidak boleh keluar untuk pergi haji dan lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Secara global perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditinggal mati suaminya tidak boleh perg haji dan selainnya. Pandangan ini diriwayatkan dari sayyidina ‘Umar ra dan ‘Utsman ra. Pandangan ini kemudian dikemukakan oleh Sa’id bin al-Musayyab, al-Qasim, Malik, asy-Syafi’i, Abu ‘Ubaid, kalangan rasionalis (pengikut Madzhab Hanafi, pent) dan ats-Tsauri” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Bairut-Dar al-Fikr cet ke-1, 1405 H, juz, 9, h. 184)

Mereka berdalil dengan perintah Rasulullah saw kepada Furai’ah binti Malik bin Sinan yang ditinggal mati suaminya, agar tetap tinggal di rumahnya sampai selesai masa iddahnya. Lantas ia pun menjalani iddahnya selama empat bulan sepuluh hari.

  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?. “Tinggallah di rumah suamimu dimana datang di dalam rumah tersebut berita duka kematiannya kepadamu sampai selesai masa iddah. Maka aku pun menjalani masa iddah selama empat bulan sepuluh hari di rumah tersebut” (H.R. Ahmad).

Namun ada pandangan lain yang memperbolehkan seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya untuk menjalankan ibadah haji. Di antara yang berpandangan demikian adalah ‘Atha` dan al-Hasan al-Bashri. Hal ini sebagaimana didokumentasikan dalam kitab al-Muhalla oleh Ibnu Hazm.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dari jalur Isma’il Ibn Ishaq telah mengkabarkan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah telah mengkabarkan kepadku ‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi dari Habib al-Mu’allim, saya pernah bertanya kepada ‘Atha` tentang perempuan yang ditalak tiga kali (talak bain) atau perempuan yang ditinggal mati suaminya, apakah keduanya boleh menunaikan ibadah haji ketika masih dalam masa iddahnya? ‘Atha` pun menjawab, ya (boleh). Dan al-Hasan al-Bashri juga berpandangan sama dengan ‘Atha’. (Ibnu Hazm, al-Muhalla, Mesir-Idarah ath-Thiba’ah al-Munirah, cet ke-1, 1352 H, juz, 10, h. 285).

Salah satu dalil yang dijadikan rujukan pandangan kedua adalah kasus sayyidah ‘Aisyah yang keluar bersama saudaranya yaitu Ummu Kultusm ketika suaminya (Ummu Kultsum) Thalhah bin ‘Ubaid menuju Makkah untuk melakukaun umrah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“’Abdurrazzak mengatakan, Ma’mar telah menceritkan kepada kami dari az-Zuhri dari ‘Urwah ia berkata, sayyidah ‘Aisyah ra pernah keluar dengan saudara perempuannya yaitu Ummi Kultsum ketika Thalhah bin ‘Ubaidillah suami Ummi Kultsum terbunuh, ke Makkah untuk melakukan umrah. Dan sayyidah ‘Aisyah telah memfatwakan kebolehan keluar rumah bagi seorang perempuan yang dalam masa iddah karena ditinggal mati suaminya.”. (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Kairo-Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet ke-2, 1384 H/1963, juz, 3, h. 177)  

Di antara kedua pandangan yang kami kemukakan, yang dianggap kuat (rajih) adalah pandangan mayoritas ulama karena didukung dalil sahih dan kuat. Namun dalam sebuah kaidah fikih dikatakan:   

? ? ? ? ? ? ? ?

“Pandangan lain yang masih diperselisihkan tidak boleh serta merta diingkari, sementara pandangan yang telah disepakati ulama tidak boleh diingkari dengan yang sebaliknya”. (Jalaluddin as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-Dar al-Fikr, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H, h. 158).

Apa yang kami kemukakan, jika ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka pada dasarnya mengenai persoalan boleh-tidaknya perempuan yang sedang menjalani iddah karena ditinggal mati suami adalah persoalan yang masih diperselisihkan di antara para ulama. Ada yang mengatakan tidak boleh, dan ada yang mengatakan boleh.

Meskipun pandangan kedua dianggap lemah (marjuh), namun tidak dengan serta merta dapat dinafikan begitu saja. Karenanya hemat kami pandangan kedua bisa diambil sebagai rujukan dengan pertimbangan hajat, seperti sudah membayar ongkos naik haji dan biaya-biaya lainnya yang tidak sedikit.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukan. Semoga bermanfaat, dan saran kami untuk yang ditinggalkan suami, bersabarlah, dan banyak-banyak berdoa. Dan yakinlah bahwa setelah kesukaran pasti akan ada kemudahan. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)     

 

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 Desember 2017

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Muslim Kamboja fokus memberdayakan umatnya melalui bidang pendidikan. Selain belajar di universitas dalam negeri, mereka mengirim anak mudanya untuk menimba ilmu di luar negeri seperti Malaysia dan Indonesia. 

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

Demikian disampakain Nos Sles, atau dalam bahasa Indonesia bisa dipanggil Nuh Saleh. Ia adalah Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja yaitu Cambodian Muslim Development Foundation.

Ribath Nurul Hidayah

Nos Sles mengatakan, Muslim Kamboja sudah memiliki lima lembaga pendidikan. Satu didirikan Muslim kamboja sendiri, sisanya bantuan dari luar negeri.  

Ribath Nurul Hidayah

“Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah,” ucap Nos Sles, diungkapkan seorang penerjemah, di kantor redaksi Ribath Nurul Hidayah, gedung PBNU, Jakarta, Jumat, (5/10). 

Menurut Nos Sles, Indonesia adalah negara Muslim terbesar dan bertetangga dengan Kamboja, “Sangat mungkin bekerjasama dalam pendidikan.” 

Karena itulah, mewakili Muslim Kamboja, ia berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan di Indonesia. Di antaranya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah Jakarta. 

Ia berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja. 

Nos Sles mengaku baru pertama kali mewakili lembaganya berkeliling ke Indonesia, “Persoalannya adalah biaya perjalanan. Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan,” jelasnya. 

Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. “Kami minoritas, sekitar 4 persen dari 14 juta penduduk Kamboja. Tersebar di masing-masing provinsi, dan muslim terbesar di daerah Campa.”

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Tokoh, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 21 Desember 2017

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar jalan sehat dengan rute Monumen Nasional (Monas)-Bundaran HI-Monumen Nasional, Ahad (22/12) dengan jarak sekitar 2.5 km.

Kader-kader Fatayat berseragam pakaian olah raga putih hijau khas Fatayat secara bergelombang memenuhi sisi selatan Silang Monas. Tak sedikit diantaranya datang bersama keluarga, suami dan anak. Rekreasi sekaligus olah raga bersama. Dan jika beruntung, siapa tahu dapat hadiah door prize.

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Sekitar jam 6 pagi, mereka melakukan pemanasan dengan senam aerobik dipandu oleh beberapa instruktur senam diiringi dengan musik yang ceria.

Ribath Nurul Hidayah

Menteri BUMN Dahlan Iskan yang energik, turut datang dalam acara ini. Ia naik ke panggung dan mengajak peserta untuk sehat dengan berolah raga senam.

Ribath Nurul Hidayah

Hujan rintik-rintik yang membasahi monas sejak subuh tidak menghalangi para anggota Fatayat untuk ikut senam dan bergembira bersama.

Mantan Wapres Jusuf Kalla bersama istrinya Mufida Jusuf Kalla ikut hadir dan bergembira serta menyampaikan Selamat Hari Ibu. Kedatangannya disambut meriah oleh ibu-ibu muda Fatayat NU. Ia mengajak hadirin membacakan surat Al-Fatihah secara bersama-sama untuk mendoakan figur Ibu, yang telah berkorban membesarkan anak-anaknya. 

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah bersama dengan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud melepas rombongan jalan kaki dengan mengibarkan bendera dan melepaskan balon ke udara.

Panitia menyediakan sejumlah hadiah menarik, termasuk dua umrah bersama dengan NRA tour and travel, kulkas, sepeda gunung dan sejumlah hadiah hiburan lainnya.

Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Ida Fauziyah menjelaskan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penyegaran kembali dan menumbuhkan semangat berorganisasi serta rasa bangga bagi anggota Fatayat di tengah beragam organisasi masyarakat belakangan ini. Disamping itu,  Fatayat NU sebagai bagian dari perempuan Indonesia memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan keluarga. 

"Keberhasilan seorang pria, begaimana pun hebatnya kesuksesan mereka itu karena peran besar yang diberikan oleh perempuan. Oleh karena itu peran perempuan  yang besar itu patut dihargai. Kita juga tidak akan lupa bahwa sejarah bangsa kita telah membuktikan bahwa kaum ibu lah yang telah menjadi inspirasi pergerakan perempuan Indonesia, sehingga saatnya kaum Ibu bangkit dari keterbelakangan di segala bidang baik di bidang pengetahuan, sosial, politik dan ekonomi serta bidang lainnya,” katanya.(mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kiai, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 Desember 2017

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi



agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

dan kembali seperti sediakala

Ribath Nurul Hidayah

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Ribath Nurul Hidayah

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Santri Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 Desember 2017

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) malam.

Hadir pada peluncuran ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum (Waketum) PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Rudiantara, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain.

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan Lima Aplikasi, Kiai Said Ajak Nahdhiyin Wujudkan Kedaulatan Digital

Kiai Said mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra NU Mobile, yaitu pihak yang telah membantu menyukseskan aplikasi ini.

Ribath Nurul Hidayah

Ia pun berharap kerja sama dengan para mitra dapat menjadi benteng dan kedaulatan Indonesia juga meningkatkan masyarakat dan kemakmuran bangsa.

"Mari sama-sama berjuang dan mendukung pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan data dan informasi Indonesia," ajaknya.

Ribath Nurul Hidayah

Di tengah peluncuran Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui layar yang ada di panggung sempat memberikan ucapan selamat atas peluncuran aplikasi oleh PBNU. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 16 Desember 2017

KH Sya’roni Ahmadi, Nasihatnya Selalu Dinantikan Warga

KH Sya’roni Ahmadi dari Kudus, namanya tidak asing bagi warga Nahdliyin. Ia merupakan salah satu kiai sepuh yang multitalent. Nasihat-nasihatnya selalu diterima berbagai lapisan masyarakat baik dari kalangan NU maupun di luar NU.

Di samping kemampuan kiai yang menjadi murid sekaligus besan KH Arwani Amin ini di bidang spiritual dan intelektual, ia juga dianggap selalu tepat dalam bersikap, maka produk fatwa-fatwanya bisa tampil moderat.

“Mbah Kiai Sya’roni itu saat baca sab’ah bagai qori’ yang tak ada duanya, saat menjelaskan tafsir, seperti mufassir yang ilmunya seluas lautan, begitu pula saat Beliau bicara fiqih, falak dan lain sebagainya, namun yang juga patut diperhatikan bahwa beliau tidak pernah berperilaku kontroversial, maka ia diterima siapa saja,” ungkap KH. M. Shofy Al Mubarok Baedlowie, pengasuh pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan Jawa Tengah.

Lebih lanjut, kiai muda ini menjelaskan bahwa salah satu mustasyar PBNU yang berasal dari kota kretek itu merupakan sosok yang tidak terjun secara struktural dalam kancah politik praktis. Ini merupakan elemen penting? yang patut dipertimbangkan secara matang bagi public figur sekelas Kiai Sya’roni untuk masuk sebagai Ahlul Halli wal Aqdi.

KH Sya’roni Ahmadi, Nasihatnya Selalu Dinantikan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Sya’roni Ahmadi, Nasihatnya Selalu Dinantikan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Sya’roni Ahmadi, Nasihatnya Selalu Dinantikan Warga

“Mbah Sya’roni itu piantun (orang) yang lepas dari agenda kepentingan politik praktis. Politik yang dipakai beliau adalah politik kemasyarakatan dan kerakyatan, jadi Beliau bisa mengayomi serta diterima semua pihak,” imbuhnya

Dalam hal bernegara, ulama kharismatik ini termasuk orang yang bersuara lantang menyuarakan pentingnya nasionalisme bagi warga NU. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai orasi ceramahnya di berbagai tempat.

Ribath Nurul Hidayah

"NU harus membela NKRI selamanya. Jika tidak, ? NU bisa dikatakan sebagai pengkhianat terhadap resolusi jihad," contoh kata tegas Kiai Sya’roni saat menyampaikan mauidzoh hasanah dalam acara grand launching Kartu Tanda Anggota (Kartanu) di Kudus beberapa waktu lalu. (Ahmad Mundzir/Anam)

?

Ribath Nurul Hidayah

Foto: KH Syaroni Ahmadi saat bersama Habib Syech

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Kiai, Makam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 Desember 2017

Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio

Taiwan, Ribath Nurul Hidayah. Kekuatan ruhani lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan rasio. Artinya hubungam karena ilmu agama lebih kuat jika dibandingkan ilmu pengetahuan lain. “Kalau tiap lebaran kita pasti silaturahmi dengan kiai, santri dengan kiai. Namun adakah mahasiswa atau siswa yang sowan dosen atau gurunya?” terang KH Musthofa Aqiel di depan jamaah tabligh akbar di Taichung, Taiwan, 6 Februari 2011.



Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekuatan Ruhani Lebih Kuat Daripada Kekuatan Rasio

Tabligh Akbar kerjasama Pengurus Cabang Istimewa (PCI NU) Taiwan dengan Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT) terlebih dahulu diawali dengan tahlil dan istighotsah untuk melestarikan tradisi NU. “Ini adalah tradisi yang harus kita lestarikan,” ujar Imam Buchori, Ketua Tanfidziyyah PCI NU Taiwan.

Dalam ceramahnya, kiai yang akrab dipanggil Kang Muh ini juga menceritakan sejarah singkat berdirinya NU. Para ulama NU dalam mengajak masyarakat menggunakan cara-cara yang baik dan beradaptasi dengan tradisi.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, sambutan atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama disampaikan oleh H. Arvin Hakim Thoha. "Saya menyampaikan salam dari Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang tidak bisa hadir di sini karena akan berkunjung ke Libya," kata Arvin.

Arvin juga mengingatkan para TKI agar tidak melupakan tujuan utamanya bekerja di Taiwan. “Anda semua di sini niatnya bekerja mencari nafkah untuk keluarga di Indonesia. Ingat tujuan utama itu dan niatilah karena Allah,” kata Arvin.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan ini, Imam Masjid Taichung, Abdullah, selaku tuan rumah menyerahkan cindera mata yang diterima langsung oleh KH Musthofa Aqiel sebagai kenang-kenangan.

Malam sebelumnya, KH Musthofa Aqiel juga sempat berdialog dengan para TKI seputar hukum Islam. Kang Muh mengajarkan bahwa istighfar adalah doa yang paling mujarab. “Ketika Nabi Adam dikeluarkan dari surga dan mencari Siti Hawa, Allah memerintahkan Nabi Adam untuk bersistighfar,” jelas Pengasuh Ponpes. Kempek ini. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 03 Desember 2017

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, beserta Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Bupati Sidoarjo, Kepala BNNK Sidoarjo, dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, mendeklarasikan perlawanan terhadap narkoba. Deklarasi tersebut dilakukan di aula SMP Negeri 1 Sidoarjo, Ahad (17/7).

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Mafia Sasar Anak-anak, Muslimat Diimbau Terdepan Lawan Narkoba

Khofifah menegaskan, Muslimat NU harus berada di garda terdepan dalam melawan narkoba. Pasalnya, yang menjadi sasaran mafia narkoba saat ini adalah anak-anak. Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh elemn masyarakat untuk terus memberantas peredaran narkoba.

"Saat ini banyak anak-anak yang menjadi kurir narkoba. Apabila tertangkap, anak itu tidak di hukum seumur hidup. Karena hukuman anak itu di bawah hukuman orang dewasa maksimal 10 tahun. Setelah itu, anak-anak bebas bersyarat dan menjalani hukuman sekitar 5 tahun. Belum lagi mendapatkan remisi sekitar 3 hingga 4 tahun," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PP Muslimat NU ini mengaku prihatin atas peredaran narkoba yang menyerang anak-anak. Untuk itu, pihaknya mengajak kepada seluruh masyarakat agar terus memberantas peredaran barang haram tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Anak yang sudah keluar dari penjara itu masih dipantau oleh bandar narkoba. Untuk itu, kita juga harus memantau kembali keberadaan bandar narkoba, agar anak-anak yang sudah tereksploitasi tidak mengulangi perbuatannya lagi," tegasnya.

Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo, Ainun Jariyah berharap, dengan diadakannya deklarasi antinarkoba ini, generasi penerus bangsa terhindar dari peredaran narkoba. "Narkoba itu membawa sengsara. Semoga anak-anak dijauhkan dari narkoba," harapnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Pesantren, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Desember 2017

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah - Kemajuan teknologi memudahkan setiap orang untuk mengakses berbagai berita dan informasi. Kemajuan teknologi bisa melahirkan banyak jurnalis, atau penulis berita yang aktif mengirim rilis ke media massa. Tetapi banyak pula penulis berita itu yang kurang memperhatikan kode etik jurnalistik.

Demikian dikatakan Ketua Lembaga Ta`lif wan Nasyr ( LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung Ila Fadilasari saat menyampaikan materi pelatihan jurnalistik untuk pelajar putra-putri NU Lampung.

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Penulis Berita Abaikan Kode Etik Jurnalistik

Kegiatan yang bertajuk Ma`had Sohafiyah, Jurnalisme untuk Syiar Islam Aswaja itu digelar sehari penuh di Kantor PWNU, Jalan Cut Mutia Bandar Lampung, Ahad (4/6).

Ribath Nurul Hidayah

"Sekarang banyak orang dengan mudah menjadi penulis berita atau jurnalis, tetapi kurang atau bahkan tidak memperhatikan etika jurnalistik," katanya.

Ia berharap pelatihan jurnalistik untuk pelajar NU ke depan akan mampu melahirkan insan-insan jurnalis yang memahami kode etik serta kaidah jurnalistik sehingga apa ditulis dan di-share ke publik bukan sebuah kebohongan dan merugikan masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

"Kode etik itu sesuatu yang sangat penting bagi seorang jurnalis, karena kode etik tersebut menjadi sandaran utama dalam menulis berita atau membuat rilis," kata mantan jurnalis salah satu media arus utama di Jakarta.

Sementara itu Ketua Panitia Erzal Syahreza Aswir mengharapkan kader-kader IPNU-IPPNU dari berbagai kabupaten dan kota di Lampung itu mampu mempublikasikan kegiatan lembaganya di media massa, atau setidaknya di website PWNU Lampung.

"Selain itu kader IPNU-IPPNU diharapkan mampu menulis artikel yang bisa mewarnai pemikiran orang banyak dan memanfaatkan media publikasi Islam sebagai sarana dakwah yang damai," katanya.

Pelatihan jurnalistik yang digelar LTN NU Lampung itu diikuti oleh 35 peserta perwakilan pengurus IPNU-IPPNU dari beberapa daerah se-Lampung. Kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber yaitu ketua LTN NU Ila Fadilasari yang menyampaikan pengantar jurnalistik dan teknik menulis berita. Satu pembicara lagi yaitu Safwanto, editor website nu-lampung.or,id? yang menyampaikan materi teknik menulis artikel. Di akhir materi, peserta juga mengikuti sesi praktik atau menulis berita. (Suna/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, AlaSantri, News Ribath Nurul Hidayah

Senin, 27 November 2017

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD

Rembang, Ribath Nurul Hidayah - Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mendorong aktivis bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama mengalihkan perhatian pada UU, Perda, APBN, dan APBD. Menurutnya, semua itu merupakan program yang hasilnya nyata, konkret, dan bersifat stretegis.

Norma-norma berupa UU dan Perda adalah regulasi yang mengatur kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara oleh pemerintah. Baik burukya rakyat dan pemerintah, tergantung peraturan perundang-undangan tersebut. Jadi ini sangat strategis.

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Selama Ini Bahtsul Masail NU Belum Banyak Evaluasi APBN dan APBD

Ia menjelaskan, satu-satunya pintu masuk mewarnai dan menentukan bagaimana penyelanggaraan negara adalah lewat UU dan Perda. Jadi wajib hukumnya untuk diperhatikan oleh NU.

"Jika NU selama ini mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin harus dibuktikan dengan mempengaruhi isi UU dan Perda. Jadi tidak hanya motto atau slogan," kata Kiai Masdar ketika membuka forum Bahtsul Masail dalam Rangka Harlah Ke-94 NU yang diadakan oleh PWNU Jawa Tengah di Pesantren Roudlotut Tholibin Leteh, Rembang, Senin (1/5).

Ribath Nurul Hidayah

Lebih tegas ia menyebutkan, NU harus memastikan setiap pemerintah daerah dan pemerintah RI benar-benar menjalankan amanah menjamin kesejahteraan rakyat. “Itu berarti harus memelototi APBD dan APBN, apakah benar-benar prorakyat atau tidak. Membawa maslahat atau tidak.”

Ribath Nurul Hidayah

Apabila kepala daerah atau pemerintah berkata, “prorakyat,” tapi anggaran untuk rakyat sedikit atau tidak adil, maka itu jelas kebohongan. Dan NU harus mencegah dusta konstitusional itu.

"Ayo awasi APBN, kuliti APBD. Bahtsul masail harus masuk ke sana," ia mengajak dan memotivasi.

Konsekuensi dari program itu, Masdar menambahkan, NU perlu memproduksi para sarjana bidang bidang nonagama, mendidik para ahli hokum, atau pembuat regulasi. Hasilnya nanti, DPR dan DPRD harus meminta restu NU sebelum menetapkan setiap UU atau Perda.

UU atau Perda yang sudah disetujui NU, akan sangat kuat legitimasinya karena telah didukung para ulama. Produk hukumnya menjadi tidak sekadar buatan umara dan wakil rakyat, tetapi juga dari unsur ulama.

"Di sinilah semestinya fungsi organisasi kita menjaga negara yang merupakan kontrak atau kesepakatan antarkomponen bangsa ini," ujarnya bersemangat disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Kiai Masdar mengulang-ulang statemennya tersebut. Ia lebih dari tiga kali mengulang kalimat tersebut agar PCNU dan PWNU segera memprogramkan bahsul masail Qonuniyah yang membahas regulasi.

"Bapak-bapak kiai dan ibu-ibu nyai yang saya hormati. Apabila kita sudah membuat bahtsul masail Qonuniyyah seperti yang saya jelaskan tadi, pasti panjenengan semua akan sangat sibuk. Mungkin bahtsul masail tidak diadakan setiap tiga atau enam bulan seperti selama ini, tapi bisa jadi setiap minggu. Bahkan satu bahtsul masail bisa sampai berhari-hari. Sebab UU itu jumlahnya ratusan, Perda juga puluhan atau ratusan di setiap Pemda," kata Kiai Masdar yang kini tercatat sebagai pengurus DMI. (Ichwan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Amalan Ribath Nurul Hidayah