Jumat, 29 September 2017

Ekonomi Syariah Dekatkan Umat Islam dengan Bidang Bisnis

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Keberadaan ekonomi syariah mampu mendekatkan psikologi umat Islam dengan dunia bisnis. Mereka yang sebelumnya enggan untuk melakukan transaksi perbankan karena dianggap riba, kini tidak ada alasan lagi untuk menolaknya.

Ekonomi Syariah Dekatkan Umat Islam dengan Bidang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Syariah Dekatkan Umat Islam dengan Bidang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekonomi Syariah Dekatkan Umat Islam dengan Bidang Bisnis

Marsudi Syuhud, sekjen PBNU yang juga peraih doktor dalam bidang ekonomi syariah ini menjelaskan produk keuangan syariah kini semuanya sudah lengkap, baik perbankan, asuransi sukuk, dan lainnya.

Ia menjelaskan, NU sebagai kelompok Islam mayoritas di Indonesia juga menjadi salah satu motor pengembangan ekonomi syariah. Figur seperti Kiai Makruf Amin telah menjadi penggerak agar ekonomi syariah semakin maju. Ia sendiri terlibat aktif dalam Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS).

Ribath Nurul Hidayah

“Keterlibatan NU dalam industri ini tidak pernah ketinggalan,” katanya di gedung PBNU baru-baru ini.

Di masa mendatang, peran warga NU dalam bidang ekonomi syariah semakin besar seiring dengan menjamurnya perguruan tinggi di lingkungan NU yang membuka jurusan Perbankan Syariah. 

Ribath Nurul Hidayah

“Nanti kalau ekonomi ini bergerak dan orang Islamnya terus bergerak. Sekarang tokoh-tokoh ekonomi konvensional pun sudah mulai banyak yang masuk,” paparnya. 

Mengenai banyaknya kritik yang menyatakan pelaksanaan ekonomi syariah belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai Islam, ia menilai hal ini bagus-bagus saja karena kritik perlu untuk untuk memperbaiki kondisi karena segala sesuatunya terus berkembang seiring dengan zaman. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Fragmen, Humor Islam, Doa Ribath Nurul Hidayah

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah selama ini dianggap belum mampu mencegah munculnya sikap dan perilaku radikal di tengah masyarakat. Beberapa pelaku teror di Tanah Air, sebelumnya bahkan tercatat pernah mengikuti program deradikalisasi.

"Santoso yang (melakukan teror) di Poso itu juga merupakan hasil program deradikalisasi yang tidak berhasil," ungkap KH Salahuddin Wahid dalam Sarasehan Bela Negara yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (7/4/2017).

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Dalam sarasehan yang dihadiri ratusan pengasuh pesantren di Jombang itu, Gus Sholah mengungkapkan beberapa hal yang memicu kegagalan program deradikalisasi. Antara lain, program deradikalisasi cenderung bersifat insidental dan tidak terukur capaiannya. Juga, tidak adanya instrumen khusus dari negara dalam penanganan terorisme dan buruknya perlakuan terhadap para pelaku terorisme.

"Penjahat tidak mengenal kata jera. Demikian juga para pelaku terorisme. Sejumlah pelaku terorisme yang keluar dari penjara ternyata kembali melakukan aksi serupa setelah keluar dari penjara," ujar mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Gus Sholah, program pembinaan para napi menjelang masa bebas yang dijalankan oleh lembaga pemasyarakatan juga tidak padu dengan langkah kepolisian. "Saat narapidana menjalani asimilasi dan cuti menjelang bebas, BNPT masih melakukan monitoring secara terbuka, sehingga mengganggu para napi," tandasnya.

Untuk mengatasi hal itu, perlu dilakukan sinkronisasi dan memadukan langkah aparat yang terkait dengan penanganan terorisme. Demikian juga penanganan mantan kombatan yang ingin kembali hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka tidak kembali ke tengah masyarakat dari titik nol, tapi dari titik minus. Karena itu, harus mendapatkan dukungan dari semua pihak," tegas adik kandung Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid ini.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI Laksamana Pertama Muhammad Faisal, Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar, Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Roudhotu Tahfidzil Quran KH Masduqi Al-Hafidz, dan para pengasuh pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Pertandingan, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 September 2017

Gus Hamim Pimpin Yayasan RSI Gondanglegi

Malang, Ribath Nurul Hidayah - KH Hamim Kholili yang dikenal dengan sapaan Gus Hamim terpilih menjadi ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (RSI) Gondanglegi, Malang, Jawa Timur. Ia menggantikan H Sanusi yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Malang. Keduanya termasuk Pembina Ikatan Pelajar NU (IPNU) Gondanglegi masa khidmah 2012-2014.

Terpilihnya Gus Hamim Sabtu (6/2) lalu sudah disepakati dalam rapat Pembina, pengurus dan pengawas yayasan RSI Gondanglegi. Pelayanan yang mengedepankan attitude (akhlak) kepada masyarakat adalah moto dari rumah sakit yang berdiri tahun 1986 ini.

Gus Hamim Pimpin Yayasan RSI Gondanglegi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Hamim Pimpin Yayasan RSI Gondanglegi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Hamim Pimpin Yayasan RSI Gondanglegi

“Ini adalah tanggung jawab yang berat bagi saya, semoga saya bisa amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab ini serta mampu memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat umumnya,” katanya kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (8/2).

Ia mengaku membutuhkan kerja sama yang solid dan profesional baik dari pihak rumah sakit maupun pasien. Gus Hamim berkomitmen memprioritaskan akhlakul karimah sebagaimana moto rumah sakit ini.

Ribath Nurul Hidayah

RSI Gondanglegi yang terletak di Jalan Hayam Wuruk Nomor 66 Kecamatan Gondanglegi merupakan Rumah Sakit Swasta satu-satunya yang ada di Kecamatan Gondanglegi dan juga menjadi rumah sakit rujukan dari puskesmas-puskesmas yang ada di Malang selatan dan sekitarnya. (Ansori/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, PonPes Ribath Nurul Hidayah

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Kombes Pol Rikwanto menyebut cikal bakal dari terorisme dan radikalisme adalah ketiadaan sikap toleransi terhadap sesama. Dalam seminar nasional yang diselenggarakan PP IPPNU, Rikwanto mengatakan, dari sikap intoleransi ini pada tingkat ekstremnya melahirkan paham radikal dan paham terror.

“Cikal bakal radikalisme itu dimulai dari intoleransi,” kata Rikwanto dalam seminar bertajuk Youth: Terorism dan Tolerance di Pusat Kebudayaan Amerika, Lantai 3 Gedung Pacific Place, Jakarta Kamis, (14/4).

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Dia Cikal Bakal Terorisme dan Radikalisme

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa salah satu cara para teroris melakukan kaderisasi adalah cuci otak. Menurutnya, ada oknum-oknum tertentu yang mengintai dan mengawasi orang yang dianggap memiliki potensi dan kecenderungan untuk bergabung bersama kelompok radikal.

“Jadi dari intoleransi, radikalisme kemudian muncul terorisme. Inilah problematika bangsa kita,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Terorisme, lanjut Rikwanto, memiliki dampak besar antara lain merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi perekonomian, dan merebaknya intoleransi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

“Menurut ahli-ahli di luar negeri, seharusnya Indonesia sudah terpecah belah. Negara Papua sendiri, Sulawesi sendiri, Sumatera sendiri. Kita tidak pecah karena masih ada orang-orang baik di kita dan Tuhan belum meridhai, tapi potensi untuk pecah besar sekali kita,” kata laki-laki yang pernah menjabat sebagai Kapolres Klaten tersebut.

Sementara narasumber lainnya H As’ad Said Ali menilai bahwa gerakan terorisme dan radikalisme bukanlah masalah agama, tapi masalah politik. “Ada pesantren menjadi tempat terorisme itu salah. Karena pesantren NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya itu tidak ada yang mengajari santri (untuk menjadi) teroris,” ungkapnya.

As’ad mengatakan bahwa ada permasalahan yang lebih besar yaitu intoleransi. “Terorisme sebenarnya masalahnya lebih kecil, ada masalah yang lebih besar yaitu hancurnya toleransi,” jelas mantan Wakil Kepala BIN ini.

“Pertama memang terorisme harus dihancurkan lebih dulu. Kedua, kelompok yang berpaham radikal. Tidak semua yang radikal pakai teroris, tapi (menggunakan jalan) politik. Inilah mereka yang menghendaki negara di luar Pancasila. Ini yang bikin radikal,” lanjutnya.

Untuk meredam itu semua, As’ad? mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali pada nilai-nilai keindonesiaan, Pancasila, dan Islam moderat. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 27 September 2017

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

Banyumas, Ribath Nurul Hidayah. Bulan suci ramadhan membawa keberkahah sendiri bagi para pedagang di Pasar Kalitapen. Pasar kecil yang beralamat di Jalan Raya Ajibarang-Purwojati KM 8 Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati, Kebupaten Banyumas, Jawa Tengah itu, sejak awal ? bulan ramadhan terlihat menjadi ramai ? pengunjung.?

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

"Jika dibandingkan bulan-bulan biasanya, bulan puasa yang lumayan ramai," kata Jasmin tukang parkir pasar.?

Meningkatnya jumlah pengunjung pasar tersebut, tentunya meningkat pula jumlah pendapatan para pedagang. Seperti diungkapkan Burhan, penjual ayam potong yang setiap hari menjajakan daganganya di Pasar Kalitapen. Burhah mengatakan, sejak memasuki bulan ramadan omset pejualanya meningkat.?

"Kalau hari-hari biasa menjual 10-15 kilogram ayam saja sudah alhamdulillah," kata Burhan.?

Ribath Nurul Hidayah

"Namun sejak memasuki bulan puasa, pagi ini saja sudah habis 15 kilo, sehari bisa sampe 27 kiloan yang saya jual," lanjut burhan ketika ditemui di lapaknya, Jumat (2/6) pagi.?

Selain Burhan, hal senada juga dirasakan oleh Adi dan Dasilah sepasang suami istri penjual sayuran dan buah-buahan. Adi mengungkapkan, jika dihari-hari biasa paling banyak ? satu hari dapat 1 juta lebih. Namun sejak bulan puasa pendapatan satu hari bisa 2-3 jutahan. "Alhamdulilah, ini mungkin berkah di bulan ramadhan," kata Dasilah istri Adi.?

Ribath Nurul Hidayah

Meningkatnya jumlah pengunjung di pasar Kalitapen rata-rata didominasi oleh kaum ibu-ibu. Mereka sengaja ke pasar untuk membeli bahan makanan dan lauk pauk untuk berbuka puasa.?

Para ibu-ibu berharap semoga harga sembako atau bahan makanan pokok tetap stabil dan tidak naik. Karena biasanya setiap mendekati lebaran, harga bahan kebutuhan pokok biasanya naik. ?

"Naik ya boleh asal jagan banyak-banyak," kata Bu Kasem pembeli di pasar. "Tapi lebih baik tidak naik," tandasnya. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa Ribath Nurul Hidayah

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah - Pergantian tahun baru sebaiknya digunakan untuk berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak cara bisa dilakukan seperti khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lainnya.

Demikian disampaikan oleh Ketua JQHNU Sidoarjo H Imam Mukozali kepada Ribath Nurul Hidayah, Jumat (30/12).

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Tahun Baru, JQHNU Ajak Nahdliyin Tingkatkan Amal Ibadah

"Kami mengajak dan mengimbau masyarakat dalam menyemarakkan pergantian tahun baru masehi 2017 dengan menghindari hura-hura. Masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan alternatif seperti pengajian, khotmil Quran, istighotsah, shalawat nabi atau kegiatan lain yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik di masjid dan mushalla," kata Imam.

Ia menjelaskan, apabila akhir dan awal tahun ini dilakukan dengan baik, insya Allah bangsa Indonesia akan mendapatkan ketentraman dan kebaikan. Dengan melakukan kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah akan mendapat keberkahan dan hidayah di tahun yang akan datang.

Ribath Nurul Hidayah

"Kebiasaan hura-hura dan pemborosan adalah hal yang tidak baik dan mubadzir serta tidak akan menambah keberkahan pada negara kita. Seyogianya kita bermunajat kepada Allah. Kalau ini dilakukan oleh setiap orang, maka akan mengurangi kejahatan dan kecelakan di luar sana," kata H Imam yang juga Ketua LTMNU Sidoarjo itu. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Budaya, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Satkoryon Ketanggungan Kabupaten Brebes, untuk pertama kalinya merekrut anggota dari kaum hawa. Anggota putri di Banser Brebes tersebut dinamakan Fatayat Serba Guna (Fatser). Rekrutmen Fatser, dilakukakan saat pendidikan latihan dasar (Diklatsar) Banser Satkoryon Banser (23-25/12) lalu di MTs Negeri Ketanggungan.

“Diklatsar Banser Satkoryon Ketanggungan menjadi catatan sejarah baru. Selain mencetak rekor peserta terbanyak, juga untuk kali pertama Diklatsar Fatser,” ujar ? Kepala Bidang Kaderisasi Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Ketanggungan Ahmad Fauzan El Azizi.

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama Kali Banser Ketanggungan Rekrut Anggota Putri, Disebut Fatser

Mereka, kata Fauzan, digembeleng secara fisik dan mental untuk menemukan jatidiri dan kecintaan terhadap NKRI. Apalagi sekarang patriotisme dan nasionalisme generasi muda makin digerogoti terbukti sudah banyak yang tindakan intoleran.

“Penggemblengan fisik dan mental bagi kader-kader muda NU diwilayah ketanggungan dan sekitarnya, mutlak diperlukan untuk membuktikan cinta NKRI,” tegas Fauzan yang juga Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan (Ka Rolitbang) Satkorcab Banser Brebes.?

Ribath Nurul Hidayah

Diklatsar Banser dibuka Camat Ketanggungan Rejeh Juanda dan dihadiri oleh jajaran Muspika dan PC Ansor serta jajaran Satkorcab.

Ketua Panitia Diklatsar Arif Rahman merasa bangga karena perhelatan Diklatsar kali ini sangat meriah dengan peserta 314 Banser dan 19 Fatser.?

Ketua PAC GP Ansor Ketanggungan Ujang Shofiil Anam Al Hafidz menambahkan, Dilkatsar atau pengkaderan ini bisa berkelanjutan sehingga Banser Ketanggungan bisa lebih maju. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 24 September 2017

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Perjalanan rumah tangga KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama Nyai Hajjah Siti Fatma telah berlangsung menjelang setengah abad. Gus Mus resmi menikahi putri Kiai Basyuni ini pada 19 September 1971.

Dalam rentang itu kiai yang kini menjadi Mustasyar PBNU itu merasakan berbagai lika-liku hidup berkeluarga: susah senang dilalui bersama. Hingga akhirnya, Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB di RSUD Rembang, Jawa Tengah, Nyai Fatma mendahului Gus Mus pulang ke rahmatullah.

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma

“Selera kami sering berbeda. Tapi kami selalu menghargai selera masing-masing,” tutur Gus Mus melalui akun facebook pribadinya, A Mustofa Bisri, pada 3 April 2016 lalu.

Sebelumnya, dua hari setelah hari pernikahan ke-44, Gus Mus juga bercerita terang-terangan perihal kehidupan bersama istrinya tersebut. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini di dinding facebooknya pada 21 September 2015.

Ribath Nurul Hidayah

"Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan "Qabiltu nikãhahã..." ketika Kiai Abdullah Chafizh --Allahu yarham-- mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan puterinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Ribath Nurul Hidayah

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan.

Selama itu --hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu-- seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: "I love you", "Aku cinta padamu", "Anä bahebbik", "Aku tresno awakmu", atau kata-kata mesra sejenis. Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara serius tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius.

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada.

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘alã kulli hãl.."



(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Makam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 September 2017

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Ciganjur Jakarta selatan menggelar seleksi untuk calon santri baru. Seleksi gelombang pertama ini diikuti puluhan calon santri, Ahad, (26/2/2017).

"Gelombang pertama ini kebanyakan diikuti calon santri dari Jakarta, sedangkan selksi gelombang ke dua pada Maret banyak dari daerah," kata panitia seleksi Irfan.

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Tsaqafah Gelar Seleksi Calon Santri Baru

Pesantren asuhan Ketua Umum PBNU Kiai Said Siroj ini memiliki visi menjadi lembaga pendidikan pesantren yang unggul dan terkemuka di tingkat nasional dan internasional dalam pengintegrasian dan pengembangan studi keislaman dan peradaban.

Kepala MTS M Sofwan Yahya yang akrab disapa Gus Sofwan mengatakan, "pesantren ini memiliki visi untuk menjadi pesantren yang unggul di tingkat nasional dan internasional. Salah satu misi kami mengembangkan wawasan keislaman dan keilmuan yang tawassuth, tawazun, tasamuh dan itidal," paparnya

Ribath Nurul Hidayah

Dalam berbagai ajang perlombaan, Pesantren Al Tsaqafah ini sering menyabet juara "Alhamdulillah lomba kitab kuning juara II, pidato juara I, pidato bahasa Arab dan Inggris semuanya di tingkat provinsi, dan sains juara I tingkat provinsi se-Jabodetabek," kata Gus Sofwan

"Tiga santri kita juga mendapatkan beasiswa sekolah ke Maroko, semoga tahun ini ada yang mengikuti," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 20 September 2017

PMII Jember Serahkan Donasi Rp28 Juta untuk Rohingya

Jember, Ribath Nurul Hidayah - Malam seribu doa untuk etnis Rohingya yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember di alun-alun kota Jember, Jumat (8/9) malam berjalan khidmat. Puluhan anggota PMII dan sejumlah pengurus NU Cabang Jember, tampak khusyuk memanjatkan doa untuk keselamatan etnis Rohingya.

Usai panjatan doa, dilakukan penyerahan donasi sebesar Rp28 juta oleh Ketua PC PMII Jember Adil Satria Putra kepada Ketua NU Care-LAZISNU Jember H. Sanusi Mochtar Fadilah, guna diteruskan kepada pengungsi etnis Rohingya. Bantuan tersebut adalah hasil aksi penggalangan dana di delapan titik yang dilakukan oleh kader-kader PMII Jember selama 3 hari terakhir.

PMII Jember Serahkan Donasi Rp28 Juta untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jember Serahkan Donasi Rp28 Juta untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jember Serahkan Donasi Rp28 Juta untuk Rohingya

Menurut Adil, Indonesia dan dunia harus bersuara lantang untuk menghentikan aksi genosida militer Myanmar terhadap etnis Rohingya di

Rakhine State. Sebab, kekejaman militer Myanmar dan kelompok agama terhadap warga Rakhine, sungguh melapaui batas. “Atau kalau perlu Myanmar dikasih sangsi,” ujarnya kepada Ribath Nurul Hidayah.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan, selain bertindak kongkrit untuk menyetop kekejaman militer Myanmar, Indonesia juga perlu sesegera mungkin menggalang kekuatan negara negara-negaa Islam untuk hal yang sama. Sebab, semakin lama dibiarkan, akan semakin banyak korban yang berjatuhan, dan semakin lama pula penderitaan pengungsi.

Ribath Nurul Hidayah

“Apalagi saat ini India dan Bangladesh sudah ancang-ancang untuk mendeportasi pengungsi Rohingya. Ini sangat memprihatinkan,” tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 September 2017

Rais Syuriyah PCNU Belu Tutup Usia

Kupang, Ribath Nurul Hidayah - Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)? Kabupaten Belu KH Kamali meninggal dunia pada usia 70? tahun pada pukul 20:15 Wita, Sabtu (21/1). Kiai Kamali dimakamkan pada hari ini, Ahad (22/1) di Belu, Nusa Tenggara Timur.

Pengurus harian PWNU NTT dan PCNU se-NTT, GP Ansor, PMII, IPNU menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya KH Kamali.

Rais Syuriyah PCNU Belu Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCNU Belu Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCNU Belu Tutup Usia

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Atambua, Belu, Provinsi NTT adalah satu-satunya tokoh yang mendirikan pondok pesantren di wilayah perbatasan dengan Timor Leste.

Pantuan Ribath Nurul Hidayah di berbagai grup WA PWNU, PW Ansor dan IKA PMII NTT, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian salah satu tokoh? NU Belu dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

Ribath Nurul Hidayah

Almarhum adalah satu-satunya pejuang yang membesarkan NU di kelompok mayoritas dan berdiri pesantren di wilayah dekat perbatasan NKRI-RTDL. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 16 September 2017

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Kegiatan Gowes yang dilanjut tanam pohon sebagai rangkaian peringatan satu abad dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang berlangsung sukses.

"Alhamdulillah seribu lebih peserta ikut berpartisipasi pada kegiatan ini," kata panitia devisi Gowes, Muslimin Abdilla, Ahad (22/5).

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda

Dari antusias peserta tersebut, menginspirasi agar di pesantren ini juga dibudayakan bersepeda. "Bisa dilaksanakan setiap bulan, seminggu sekali atau sesuai kesepakatan," katanya.

Bahkan sangat memungkinkan kalau di PPBU juga dibentuk komunitas bersepeda di setiap unit pendidikan. "Yang ada dan berjalan efektif sementara adalah komunitas di MAN Tambakberas," kata Cak Muslimin, sapan akrabnya.

Menurut alumnus Muallimin-Muallimat PPBU ini, banyak manfaat dari bersepeda. "Disamping murah, juga menyehatkan," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kegiatan ini, pihak panitia menyediakan 4 sepeda gunung, kulkas, televisi dan barang elektronik serta kebutuhan rumah tangga. Bahkan tahun depan akan ditambah hadiah umrah oleh Wakil Bupati Jombang.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum pengundian hadiah, dilakukan penanaman pohon di sekitar kampus Unwaha. Para peserta gowes juga mendapatkan bibit tanaman untuk dibawa pulang. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 15 September 2017

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Solo, Ribath Nurul Hidayah. Di kalangan masyarakat sekitar pabrik gula (PG) Tasikmadu dikenal tradisi temu temanten tebu atau perayaan buka giling. Tradisi tersebut mungkin juga berlaku hampir di seluruh pabrik gula yang ada di Nusantara. Temu temanten tebu ini meupakan perlambang syukur kepada Allah SWT.

“Acara ini juga dimaknai sebagai harapan, agar di masa penggilingan ini, baik pabrik maupun petani mendapatkan hasil produksi tebu yang melimpah,“ tutur Adinistratur PG Tasikmadu, Agus Hananto.

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Temu Temanten Tebu, Ungkapan Syukur

Agus menjelaskan, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda pada 1871 silam. Pada masanya, tradisi pesta dalam ritual tebu temanten dianggap sebagai pencapaian kejayaan ekonomi. Sebuah perlambang akan pesta besar yang digelar hanya menjelang masa menjelang penggilingan tebu.

Ribath Nurul Hidayah

“Dulu, tradisi ini digelar Belanda untuk membuat penduduk lokal tertarik. Mereka akan giat bekerja dalam memproduksi gula,” lanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada acara Selamatan Giling, Jumat (19/4) kemarin, diawali dengan pemberangkatan tebu temanten, yakni Bagus Madu Pastika dan Roro Palastri, dari rumah dinas kepala tanaman menuju Besaran. Selanjutnya tebu temanten diiring oleh puluhan karyawan dan ribuan masyarakart setempat menuju stasiun gilingan. Acara dinyatakan selesai setelah pasangan tebu dimasukkan bersama-sama dengan tebu pengiring di stasiun gilingan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Habib, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 14 September 2017

Tes Penerimaan Mahasiswa Baru UNU NTB Masuk Gelombang Kedua

Mataram, Ribath Nurul Hidayah. Unversitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat menggelar tes gelombang kedua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di kampus utama jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram Rabu (12/8). Sebanyak seratus lebih calon mahasiswa tampak mengerjakan soal yang diujikan di lokasi seleksi.

Tes Penerimaan Mahasiswa Baru UNU NTB Masuk Gelombang Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)
Tes Penerimaan Mahasiswa Baru UNU NTB Masuk Gelombang Kedua (Sumber Gambar : Nu Online)

Tes Penerimaan Mahasiswa Baru UNU NTB Masuk Gelombang Kedua

"Jumlah peserta yang ikut tes sebanyak 133 orang dari semua jurusan yang tersedia," kata Wakil Ketua Panitia Pelaksana Jamiluddin.

Materi yang diujikan, kata jamil, hanya tes tulis yang ? meliputi materi Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, dan Pendidikan Agama.

Ribath Nurul Hidayah

"Dari keseluruhan yang mengikuti tes PMB ini yang paling diminati adalah jurusan Farmasi Kesehatan. Selebihnya terbagi pada 10 prodi yang tersedia," katanya.

Gelombang kedua ini merupakan gelombang terakhir. Pihak penyelenggara tidak membuka gelombang tes penerimaan selanjutnya.

Ribath Nurul Hidayah

“Karena, tanggal 26-28 Agustus sudah mulai ospek. Per 1 September nanti proses perkuliahan sudah dimulai,” terangnya. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Lomba Ribath Nurul Hidayah

LPTI Walisongo Kobarkan Nasionalisme pada Ribuan Jamaah

Way Kanan, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Lembaga Persatuan Tokoh Islam (LPTI) Walisongo Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, KH Rofiul Bashori mengingatkan masyarakat daerah itu untuk cinta kepada tanah air agar mendapat Ridho dari Allah subhanahu wata’ala.

LPTI Walisongo Kobarkan Nasionalisme pada Ribuan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTI Walisongo Kobarkan Nasionalisme pada Ribuan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTI Walisongo Kobarkan Nasionalisme pada Ribuan Jamaah

"Kita berbeda-beda tetapi tetap satu juga. NKRI harga mati!" ujar Pengasuh Ponpes Roudhotul Mutaqin itu di Serdang Kuring, Bahuga, Way Kanan, Selasa (7/4).

Setelah menyerukan kalimat lazim warga Nahdlatul Ulama (NU) "NKRI Harga Mati!" itu, putra KH Nashikin Asnawi tersebut mengajak jamaah pengajian yang memenuhi sekitar 150 tenda untuk berdiri.

Ribath Nurul Hidayah

"Yang tidak cinta tanah air semoga tidak dirodhoi Allah. NKRI Harga Mati! Silakan Kapolsek Bahuga memimpin kita untuk menyanyikan Indonesia Raya," ujar KH Rofiul Bashori pada kegiatan dihadiri ribuan warga NU itu.

Ribath Nurul Hidayah

Kapolsek Bahuga AKP Maryadi tidak menolak permintaan tersebut dan segera maju lalu memimpin ribuan masyarakat yang menghadiri pengajian menghadirkan KH Anwar Zahid yang dilahirkan di Dukuh Patoman, Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

"Kita bela Aswaja. Islam kita bukan bidah," ujar Kiai Bashori seusai lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan.

Setelah itu, Kiai Bashori yang juga Rais Syuriah PCNU Kabupaten Way Kanan ini meminta KH Supandri menyampaikan mengenai Islam Aswaja. Seperti apakah orang yang belajar ilmu agama diharuskan melalui guru yang bersanad atau mempunyai silsilah keilmuan.

"Berdasarkan kitab Sirojul Muridin halaman 80 dan Qoul Syeikh Abdul Qodir Al Jazari itu harus, karena belajar melalaui guru yang bersanad adalah salah satu cara agar ilmu yang dipelajari tetap terjaga kemurniannya," papar KH SUpandri di depan ribuan jamaah LPTI.

Hadir pada kegiatan itu tokoh dan pejabat Way Kanan, Ketua PCNU KH Nur Huda, Ketua PC GP Ansor Gatot Arifianto, Ketua DPRD Raden Adipati Surya, Ketua TP PKK Dr Rina Marlina, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gino Vanollie.

"Peran NU cukup jelas untuk negara ini, mengajak masyarakat berahklak baik melalui pengajian serta mengingatkan kebhinekaan yang harus diterima sebagaimana disampaikan Gus Dur, keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya," ujar Gatot menambahkan. (Dian Firasta/Mahbib)

Foto: Kapolsek Bahuga Polres Way Kanan AKP Maryadi didampingi KH Rofiul Bashori memimpin jamaah pengajian menyanyikan lagu Indonesia Raya. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tegal, Pahlawan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 12 September 2017

Apa Manfaat Keanggotaan Dewan Keamanan PBB bagi Saudi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Untuk pertama kalinya, Saudi Arabia pada Kamis lalu menduduki anggota non permanen Dewan Keamanan PBB bersama dengan Chad, Chile, Lithuania dan Nigeria yang memperoleh kursi melalui sebuah pemilihan.

Apa Manfaat Keanggotaan Dewan Keamanan PBB bagi Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Manfaat Keanggotaan Dewan Keamanan PBB bagi Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Manfaat Keanggotaan Dewan Keamanan PBB bagi Saudi

Namun demikian, hanya beberapa jam setelah kemenangan tersebut, Menlu Arab Saudi mengumumkan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak akan menerima keanggotaan Dewan Keamanan selama dua tahun tersebut, sambil menyebutkan kegagalan badan PBB ini dalam mengatasi sejumlah permasalahan regional seperti pembunuhan massal di Suriah dan ketidakmampuan untuk membersihkan wilayah ini dari senjata pemusnah massal.

Bahkan sebelum pengumuman dari pemerintah Saudi, seorang pakar yang berbicara pada Al Arabiya News ? menyebutkan, bahwa meskipun memiliki pengaruh besar dalam bidang agama dan ekonomi, Saudi akan menghadapi banyak hambatan di Dewan Keamanan. Semua dari lima anggota sementara hanya memiliki kekuatan terbatas karena tidak memiliki hak veto, yang secara eksklusif hanya dimiliki oleh lima anggota Dewan Keamanan yang permanen, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan China.

Ribath Nurul Hidayah

Afshin Molavi, seorang peneliti di the New America Foundation, sebuah lembaga pemikiran dan kebijakan publik yang berbasis di Washington mengatakan “Dalam berbagai isu besar seperti masalah Iran, Suriah dan senjata kimia, saya pikir lima besar masih dapat bertindak dalam berbagai cara.”

Ribath Nurul Hidayah

Meskipun demikian, kursi dari 15 anggota dewan masih dinilai berharga karena para anggota dapat mempengaruhi perdebatan dalam masalah internasional seperti krisis Suriah dan sanksi pada Iran dan Korea Utara.

“Pengaruh Saudi masih dapat dipertimbangkan karena pertimbangan ekonomi dan politik di Timur Tengah dan isu ekonomi di dunia,” kata David Ottoway, ilmuwan senior di Woodrow Wilson Center di Washington, D.C pada Al Arabiya News.

Pengaruh terbatas

Namun demikian, seberapa besar pengaruh yang didapat Saudi Arabia, jika dia tetap bertahan di Dewan Keamanan- jika mempertimbangkan hanya memiliki satu kursi diantara 15 anggota lainnya.

Untuk meloloskan sebuah resolusi, Dewan Keamanan harus memperoleh persetujuan dari sembilan anggota, termasuk lima anggota permanen.

Ottoway menegaskan bahwa kekuatan dari anggota non permanen seperti Saudi Arabi “benar-benar terbatas”.

“Setiap anggota Dewan Keamanan dapat memunculkan isu-isu yang spesifik tetapi harus mendapat persetujuan dari seluruh anggota tetap dan ini tidaklah mudah,” tambahnya.

Lippman memberi catatan bahwa lima anggota tetap berusaha “mendominasi” atas anggota lainnya.? “Jika 14 anggota setuju, tetapi Rusia tidak, tak akan berarti apa-apa,” kata Lippman.

Alon Ben-Meir, seorang professor di Center for Global Affairs New York University percaya bahwa kekuatan Saudi di Dewan Keamanan mungkin dari kemampuannya membentuk aliansi dengan negara-negara lain yang terpilih.

Empat negara lain, Nigeria, Lithuania dan Chile “Dapat saling bekerjasama dengan Saudi,” kata Ben-Meir pada Al Arabiya News.

“Sehingga mereka dapat membentuk sebuah kelompok dan sebagai satu kelompok, mereka dapat memiliki penaruh yang lebih besar pada musyawarah di Dewan Keamanan,” kata Ben-Meir. (mukafi niam)

Foto: Huffingtonpost

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Budaya, Doa Ribath Nurul Hidayah

Pramuka Ma’arif NU Diharapkan Lahirkan Kader Pemimpin

Sumedang, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama yang diwakili sekretaris umum Muhsin Ibnu Djuhan bersama Ketua Kwartir Gerakan Pramuka Kabupaten Sumedang H Atje Arifin Abdullah mengukuhkan Pengurus Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Maarif NU Kabupaten Sumedang. Pengurus Sako Pramuka Maarif NU ini dibentuk oleh Pengurus Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) Kabupaten Sumedang.

Pramuka Ma’arif NU Diharapkan Lahirkan Kader Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Ma’arif NU Diharapkan Lahirkan Kader Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Ma’arif NU Diharapkan Lahirkan Kader Pemimpin

Pengukuhan dilaksanakan dalam acara Pembukaan Kemah Terpadu Maarif pada Jumat (5/6) di Bumi Perkemahan Cobolang Desa Kebon Kalapa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang.

Muhsin Ibnu Djuhan yang menjabat juga sebagai kepala Sako Pramuka Maarif Nasional mengatakan bahwa dengan dikukuhkannya kepengurusan Sako Pramuka Maarif NU Kabupaten Sumedang diharapkan kegiatan pengaderan terhadap generasi muda di lingkungan LP Maarif NU bisa dilaksanakan lebih kreatif dan inovatif.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, pembinaan dan pengawasan gerakan pramuka harus dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah atau madrasah yang berada di lingkungan LP Maarif NU Kabupaten Sumedang paling banyak se-Jawa Barat. Ini merupakan prestasi yang harus dipertahankan dan ditingkatkan. “Pembentukan kepengurusan Sako Pramuka Maarif NU Kabupaten Sumedang dan kegiatan Kemah Terpadu Maarif juga yang pertama se-Jawa Barat. Apresiasi yang sangat tinggi kami sampaikan untuk pengurus LP Maarif NU Kabupaten Sumedang,” lanjut Muhsin.

Ribath Nurul Hidayah

Ke depan pihknya berharap ada kader-kader pemimpin yang lahir dari Pramuka Sako Maarif NU. Di pramuka banyak pengetahuan dan keterampilan yang bisa dipelajari. Contoh sederhana saja, di pramuka ada tentang tali temali. “Tali temali itu kelihatan sederhana tapi nilai filosofinya sangat tinggi. Seseorang membuat tali temali, dan talinya tidak diikat dengan kuat maka bisa mencelakakan orang. Begitu juga dengan sebuah lembaga, kalau pengelolaannya dibuat secara asal-asalan maka lembaga tersebut akan cepat rusak dan hancur,” ujarnya.

“Pengurus Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Sumedang harus diisi oleh orang-orang yang mumpuni supaya bisa menghasilkan kader-kader yang luar biasa,” lanjut Muhsin.

Sementara Atje Arifin Abdullah dalam sambutannya mengucapan terima kasih kepada pengurus Sako Pramuka Maarif Kabupaten Sumedang yang telah terpanggil untuk mengembangkan gerakan pramuka di Kabupaten Sumedang. “Semoga gerakan pramuka di Sumedang lebih maju lagi dan bisa berbicara di kancah nasional dan internasional,” tutup Atje. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 10 September 2017

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Brebes, Ribath Nurul Hidayah

Gencarnya penggunaan media online dan media sosial tentang berbagai aktivitas masyarakat disikapi anggota Muslimat NU Kabupaten Brebes dengan cara bijak. Sebanyak 60 aktivis Muslimat NU Brebes menggunakan sejumlah media sosial terutama untuk memotivasi para pasangan usia subur agar ikut Keluarga Berencana (KB).

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Mereka mengikuti pendidikan di Hotel Grand Dian Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Rabu-Jumat (13-15/1). “Mereka mendapatkan pelatihan mengenai metode kontrasepsi dan penggunaan teknologi modern untuk sosialisasi KB dengan cara Islami di tengah masyarakat,” kata Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM) Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah.

Selama 10 tahun ke belakang, kata Nurhalimah, peningkatan capaian KB di Indonesia sangat rendah. Di sisi lain tingkat kematian ibu karena melahirkan juga masih tinggi. Ia menyebut kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik sebagai salah satu penyebab kematian ibu. Hal ini semakin memperkuat urgensi untuk segera melakukan inovasi dalam bekerja di lapangan.?

Keluarga Berencana di Indonesia sudah dilaksanakan sejak 40 puluh tahun lalu dan sudah mencapai hasil yang sangat baik yang diakui oleh dunia internasional keberhasilannya. Meski demikian, dalam setiap hal pasti akan ada saatnya dimana dibutuhkan cara kerja baru. Di tengah dinamika lingkungan yang sudah berbeda, seperti dinamika kemajuan teknologi, dinamika budaya dan sosial yang sudah berubah diperlukan inovasi agar dapat terus mempertahankan apa yang sudah dicapai dan meningkatkan ke arah yang lebih baik lagi.

Ketua Muslimat NU Dra Hj Chulasoh menambahkan, Kabupaten Brebes memiliki jumlah penduduk terbanyak se-Jawa Tengah. Ia berharap ledakan jumlah penduduk dapat dicegah. “Muslimat NU terpanggil untuk berperan aktif mengatur jumlah kelahiran,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Di sisi lain, kata Chulasoh, saat ini hampir 80% orang di Brebes memiliki akses terhadap telepon genggam. Sebagian besar di antaranya sudah memiliki koneksi internet di teleponnya. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, membaca berita, atau menggunakan sosial media. Hampir 90% masyarakat Brebes memilliki fesbuk.

Statistik ini didapatkan berdasarkan studi terakhir di tahun 2015 yang dilakukan oleh Johns Hopkins Center for Communication Program bekerja sama dengan Universitas Indonesia di 11 kabupaten kota wilayah kerja program Pilihanku, dengan total responden lebih dari 20,000 Pasangan Usia Subur (PUS).

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan media sosial dan instant messaging saya sekarang dapat terkoneksi dengan seluruh orang di dunia,” tambah Soimah salah seorang peserta.?

Ketua Pelaksana Program Pilihanku Muslimat NU Hj Kusnia Nasser menjelaskan, Muslimat NU bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Johns Hopkins Center for Communication Program (CCP) melihat potensi yang sangat besar untuk menjangkau masyarakat dengan informasi akurat tentang Keluarga Berencana melalui pemanfaatan teknologi online dan media sosial.?

“Muslimat NU sejak tahun 1967 setuju dengan Keluarga Berencana dan bahkan aktif mengumpulkan para ulama NU untuk diajak diskusi tentang KB ditinjau dari perspektif Islam sehingga pada tanggal 25 September 1969 menghasilkan 8 Fatwa PB Syuriah NU berupa Pedoman Pokok tentang KB untuk jam’iyah NU”, jelasnya.?

Cara-cara Islami yang dimaksud adalah yang sesuai dengan delapan fatwa ulama Syuriyah PBNU. Pertama, KB harus diartikan sebagai pengaturan penjarakkan kehamilan untuk kesejahteraan dan bukan pencegahan untuk pembatasan kehamilan. Kedua, KB harus dijelaskan dalam kepentingan kesejahteraan Ibu dan Anak dan bukan karena takut miskin. Ketiga, KB tidak boleh dilakukan dengan pengguguran kandungan. Keempat, tidak boleh merusak dan menghilangkan bagian tubuh. Kelima, KB adalah masalah perseorangan dan sukarela. Keenam, KB harus mendapat persetujuan suami dan istri. Ketujuh, KB tidak boleh bertentangan dengan hukum agama Islam. Kedelapan, KB jangan disalahgunakan untuk kepentingan maksiat.

Motivator yang rata-rata tinggal di pedesaan dari 17 Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Brebes itu diberi bekal cara menggunakan media komunikasi tablet yang sudah dilengkapi dengan aplikasi tentang Keluarga Berencana. “Alhamdulillah, saya bisa mengoperasikan tablet yang biasa digunakan anak saya,” tuturnya.

Tablet yang menjadi hak milik para peserta pelatihan tersebut, juga dilengkapi aplikasi perencanaan keluarga yang diberi nama SKATA ? (berasal dari Seiya Sekata bersama pasangan) kini sudah dapat diunduh dari Google Play dan App Store. SKATA adalah aplikasi baru tentang perencanaan keluarga yang dapat diunduh secara gratis oleh pengguna Android atau IOS (iPhone). Selain itu SKATA juga dapat diakses di www.skata.info bagi mereka yang memiliki operating system berbeda, seperti misalnya Blackberry.

Dengan mengunduh SKATA atau melihat websitenya masyarakat dapat memperoleh informasi tentang perencanaan keluarga lewat artikel yang ditulis oleh para ahli. SKATA memberikan penjelasan mendetail tentang masing-masing metode kontrasepsi seperti IUD dan implan, metode kontrasepsi jangka panjang yang memberikan perlindungan 3-12 tahun yang dapat dihentikan pemakaiannya sewaktu-waktu atau berbagai jenis metode kontrasepsi yang cocok bagi ibu yang baru melahirkan. Melalui SKATA juga dapat diperoleh lokasi bidan terdekat untuk konsultasi. SKATA memberikan kuis-kuis untuk mengetes pengatahuan dan bahkan dapat digunakan menjadi menjadi agenda pribadi perencanaan keluarga seperti pengingat imunisasi, kalender menstruasi, kalender kontrasepsi, dan lain-lain.

Hal ini dilakukan agar tiap keluarga di Indonesia memiliki inspirasi untuk merencanakan keluarganya dan merencanakan kebahagiannya sehingga setiap keluarga di Indonesia adalah keluarga yang sejahtera, harmonis, dan berdaya saing tinggi untuk Indonesia yang lebih baik. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf

Saudara-saudara seiman, di bulan Zulhijjah ini kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah haji bagi mereka yang melaksanakan. Sebagaimana kita maklumi bersama, tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka‘bah sebanyak 7 kali putaran sebagaimana tertuang dalam ayat Al-Qur’an.

? ? ? [?: 29

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf

Artinya, “Hendaknya mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah),” (Surat Al-Hajj ayat 29).

Ribath Nurul Hidayah

Syarat Tawaf

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika melakukan tawaf, Musthafa Said Al-Khin dan Musthafa Diyeb Al-Bagha dalam Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz I, halaman 396 menjelaskan syarat-syarat tersebut.

1. Melaksanakan semua syarat sah shalat, yaitu suci, niat, menutup aurat, dan lain-lain, kecuali dalam tawaf, kita masih diperkenankan berkomunikasi dengan orang lain, sebagaimana hadits Nabi.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tawaf mengelilingi Baitullah itu sama seperti shalat, hanya saja, Allah memperbolehkan berbicara di dalam tawaf.”

2. Pundak kiri lurus terus ke arah kiblat, tidak menoleh ke arah lainnya. Hal ini ditegaskan oleh Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i (Damaskus: Darul Qalam, 1992), juz I, halaman 403.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i dalam pendapat terbaru berkata, ‘Wajib menolehkan sekujur badan, karena yang diwajibkan dalam hal ini adalah menolehkan badan ke arah Baitullah, maka wajib menolehkannya sekujur badan sebagaimana kewajiban menghadap Ka‘bah dalam shalat.’”

3. Putaran berlawanan arah jarum jam, dan dimulai dari titik hajar aswad

4. Putaran dilakukan sebanyak 7 kali.

Jenis Tawaf

Selanjutnya, dalam tawaf, kita mengenal ada jenis tawaf yang hukum dan waktu pelaksanaannya berbeda-beda, yakni,

1. Tawaf Qudum (tawaf kedatangan), yakni tawaf yang dilakukan oleh pelaksana haji ifrad atau qarin saat memasuki Mekkah, sebelum melaksanakan wuquf. Bagi pelaksana haji tamattu’, tawaf ini tercakup ke dalam tawaf umrah. Hukum melaksanakan tawaf qudum ini ialah wajib sehingga jika tidak dilaksanakan, maka wajib membayar dam.

2. Tawaf Ifadhah. Tawaf ini merupakan rukun haji sehingga jika tidak dilaksanakan akan dapat membatalkan haji. Waktu pelaksanaan tawaf ini, yang utama ialah pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah melempar jumrah aqabah dan tahallul. Sedangkan waktu lainnya ialah sesudah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah keluarnya matahari di tanggal 10 Dzulhijjah. Tidak ada batasan waktu untuk akhir pelaksanaan tawaf ini, tetapi sebaiknya dilaksanakan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

3. Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Tawaf ini dilaksanakan sebelum jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Hukumnya wajib.

Selebihnya, bagi siapa saja yang menginginkan untuk melaksanakan tawaf, maka hukumnya adalah sunah sepanjang waktu.

Kesunahan dalam Tawaf

Pada saat melaksanakan tawaf, kita disunahkan melakukan hal-hal berikut.

1. Sebaiknya tawaf dilakukan dengan berjalan kaki, kecuali bagi mereka yang lemah.

2. Mencium hajar aswad, atau isyarat mencium hajar aswad setiap kali melintasinya.

3. Berjalan cepat saat putaran 1-3 dan berjalan biasa saat putaran 4-7.

4. Shalat sunah dua rakaat sesudah tawaf di belakang makam Ibrahim.

Demikian penjelasan singkat tawaf pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Makin Tinggi Ilmu Seseorang, Makin Tak Gampang Menyalahkan

Pesawaran, Ribath Nurul Hidayah. Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler Banyumas KH Zuhrul Anam mengatakan bahwa saat ini banyak orang yang dengan gampang menyalahkan orang lain. Orang yang sering berbuat seperti itu sesungguhnya menunjukkan sempitnya ilmu yang dikuasai sehingga melihat sesuatu menurut sudut pandangnya sendiri.

"Orang kalau ilmunya tinggi tidak gampang menyalahkan orang lain. Sama saja kalau kita duduk di bawah, maka tidak akan memiliki pandangan yang luas. Tapi kalau duduk di,atas kita akan melihat dengan lebih luas," jelas kiai yang akrab dipanggil Gus Anam saat menjadi pembicara pada Khatmil Qur’an wal Kutub Pondok Pesantren Al Hidayat Pesawaran Lampung, Ahad (21/5).

Makin Tinggi Ilmu Seseorang, Makin Tak Gampang Menyalahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makin Tinggi Ilmu Seseorang, Makin Tak Gampang Menyalahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makin Tinggi Ilmu Seseorang, Makin Tak Gampang Menyalahkan

Karenanya, menantu KH Maimun Zubair ini mengharapkan kepada para santri pondok pesantren yang diasuh KH Mashum Abror untuk giat dan sungguh-sungguh memperdalam ilmu sehingga akan betul-betul memiliki ilmu yang mumpuni.

"Mondok itu minimal harus 20 tahun, sama dengan jika seseorang ingin menjadi profesor," kata Gus Anam pada acara yang dihadiri Rais Syuriyah PBNU Ahmad Ishomuddin dan Bupati Pesawaran Dendi Romadhona tersebut.

Lamanya proses "nyantri" di pesantren merupakan bentuk perjuangan karena memang menuntut ilmu memerlukan perjuangan dan pengorbanan.?

Ribath Nurul Hidayah

"Santri itu harus rekoso (berjuang). Menuntut ilmu adalah pekerjaan yang mulia," katanya.

Selain perlu kerja keras, keberkahan ilmu juga sangat penting dalam proses mencari ilmu. Salah satu hal yang penting untuk mendapatkan keberkahan ilmu adalah dengan menghormati guru.?

"Pingin ilmu barakah, hormati gurumu. Sopan kepada para guru adalah di atas segala-galanya. Kalau ada yang meremehkan guru, orang itu terhinakan oleh Allah SWT," ujarnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh para wali santri dan masyarakat Kabupaten Pesawaran tersebut juga dibarengkan dengan Haul KH Abrori Akwan yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Al Hidayat tersebut. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 September 2017

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memastikan akan menghadiri prosesi pelantikan presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Senin, 20 Oktober. Hal ini disampaikan setelah menerima undangan yang secara langsung diantar oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan bersama rombongan.

“Insyaallah saya datang,” kata Kiai Said dengan nada meyakinkan.

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PBNU Hadiri Pelantikan Presiden

Zulkifli menjelaskan pelantikan presiden kali ini merupakan upaya untuk menjalin persatuan dan langkah maju berdemokrasi di Indonesia. Untuk pertama kalinya pelantikan kali ini akan dihadiri oleh presiden terpilih dan mantan presiden yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju. 

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said mengapresiasi perkembangan demokrasi di Indonesia yang bisa berjalan dengan baik. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, negara lain bisa belajar berdemokrasi di Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

“Kalau belajar agama kita ke Timur Tengah, tetapi mereka harus belajar kehidupan berbangsa dan bernegara dari Indonesia,” kata Kiai Said yang merupakan lulusan doktor dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Kestabilan demokrasi di Indonesia salah satunya karena adanya peran ormas Islam, yang menjadi perekat dan dan menjaga kekompakan berbangsa dan bernegara. Karena itu, ia berharap, negara memberi perhatian terhadap ormas.

Zulkifli Hasan setuju dengan pernyataan dari Kiai Said tersebut dan akan memfasilitasi ormas untuk menyampaikan aspirasinya. 

“MPR akan memfasilitasi dialog-dialog kebangsaan, seperti amandemen UU Pilkada,” kata mantan Menteri Kehutanan ini. 

Kedua tokoh tersebut juga prihatin dengan keberadaan ormas Islam yang menjalankan dakwah dengan cara-cara kekerasan, yang malah menimbulkan citra negative terhadap umat Islam. 

Bendahara PBNU H Bina Suhendra dalam kesempatan berharap MPR membersihkan nama Gus Dur yang dianggap oleh sebagian orang lengser karena korupsi. Dalam hal ini Zulkifli menegaskan, semua presiden Indonesia terhormat. Semua foto mantan presiden berjajar terpasang rapi di Istana. 

Hadir menemani Zulkifi Hasan wakil ketua MPR Oesman Sapta, EE Mangindaan, dan Hidayat Nur Wahid. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah RMI NU, Budaya, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Sebagai upaya untuk meneladani para tokoh pendiri NU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih, Rabu (30/4).

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladani Tokoh NU, IPNU Sumberasih Nobar Sang Kiai

Nobar film Sang Kiai ini diikuti oleh seluruh pengurus dan kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Sumberasih. Mereka berbaur dengan Nahdliyin menyaksikan tayangan film di layar lebar dengan menggunakan LCD.

Hadir dalam nobar Sang Kiai tersebut Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono, Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim serta para Ketua Ranting dan komisariat IPNU se Kecamatan Sumberasih.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua PAC IPNU Sumberasih Lukman Hakim mengungkapkan bahwa nobar Sang Kiai ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan para tokoh dan ulama yang berjasa dalam sejarah berdirinya NU. Dengan demikian, para kader IPNU tahu perjuangan ulama dalam mendirikan organisasi terbesar di Indonesia ini.

“Kami ingin memperkenalkan lebih dalam bagaimana sejarah tokoh NU, terutama KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama di Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang mana pada saat itu melahirkan sebuah resolusi jihad,” ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Lukman, nobar Sang Kiai ini sangat penting bagi kader IPNU untuk masa depan perjuangan NU. Sebab selama ini banyak Nahdliyin yang hanya mengetahui sejarah berdirinya NU dari buku-buku dan cerita saja.

“Mudah-mudahan dengan nobar Sang Kiai ini ada semacam inspirasi dan motivasi serta semangat untuk berjuang demi membesarkan organisasi NU. Sebab dengan menonton langsung, para kader tentunya akan tahu seberapa besar pengorbanan para ulama untuk bisa mendirikan NU,” tegasnya.

Nobar Sang Kiai ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono. Menurutnya, langkah ini merupakan sebuah cara yang positif dan efektif supaya para kader IPNU bisa meneladani figur pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari yang sangat gigih berjuang demi merebut kemerdekaan Indonesia.

“Semoga sosok dari Kiai Hasyim Asy’ari ini bisa menjadi teladan dan inspirasi para kader IPNU dan Nahdliyin agar tidak berputus asa dalam mengkader pelajar NU yang nantinya akan menjadi estafet penerus perjuangan di organisasi NU beberapa tahun mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Makam, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut

Garut, Ribath Nurul Hidayah - Semenjak Presiden Amerika Donald Trump menyatakan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, kecaman para pemimpin dan aksi dari umat Muslim di seluruh dunia bermunculan. Masyarakat Indonesia di seluruh penjuru Nusantara terus melakukan aksi baik dengan mengumpulkan sumbangan, maupun doa bersama untuk kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Indonesia yang terkenal dengan negara muslim terbanyak didunia, juga keberagamannya mendukung sepenuh hati akan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, baik Muslim maupun non-Muslim Indonesia.

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut

Masyarakat Garut yang dimotori oleh DKM Masjid Agung dan PCNU Kabupaten Garut menggelar Doa Bersama Peduli Palestina yang dihadiri oleh ratusan mustami dari berbagai elemen dan organisasi yang peduli terhadap kemerdekaan Palestina.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami mengharapkan rakyat Palestina yang sekarang sedang mengalami musibah diberi ketabahan dan jalan keluar atas masalah yang menerpa mereka, terutama mendapatkan pengakuan dari semua pihak akan kemerdekaan dan kedaulatan negara Palestina yang wilayahnya dianggap sebagai wilayah Israel," tutur KH A Mimar Hidayatullah selaku Ketua DKM Masjid Agung Garut yang juga merupakan Mustasyar PCNU Kabupaten Garut.

Doa bersama dihadiri pula oleh Kapolres Garut, Dandim 0611 Garut, Ketua MUI Garut, perwakilan Kantor Kemenag Kabupaten Garut, KH Manarul Hidayat, Ketua PCNU KH A Abdul Wahid, serta tokoh ormas lainnya. (Muhammad Salim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Keberagamaan umat Islam di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami yang cukup signifikan. Tahun 1990-an ke bawah, tidak banyak masyarakat muslimah Indonesia yang mengenakan jilbab dan hijab. Apalagi cadar. Tapi, saat ini muslimah Indonesia yang berjilbab, berhijab, dan bahkan bercadar semakin marak.

Selain itu, istilah syar’i dan hijrah juga semakin mengemuka ke tengah-tengah masyarakat belakangan ini, terutama di kalangan artis dan publik figur. Contoh kecil, kerudung dianggap syar’i manakala memiliki ukuran yang lebar hingga menutupi seluruh badannya. Sedangkan, kerudung kecil dianggapnya kurang –bahkan tidak- syar’i. Itu baru segi pakaian. Masih ada hal-hal lainnya yang dilabeli dengan istilah syar’i.

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Begitupun dengan hijrah. Terma ini semakin ngehits dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan para publik figur yang berkecimpung di dunia pertelevisian pun cukup vokal dalam mengkampanyekan istilah hijrah ini. Diantara indikator yang disematkan untuk hijrah adalah –misalnya- berkerudung syar’i atau bercadar, berjenggot lebat, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. 

Lalu, Bagaimana pola keberagamaan umat Islam saat ini? Apakah hijrah berarti sebagaimana yang digambarkan di atas? Bagaimana melihat fenomena syar’i yang berkembang seperti sekarang ini? Bahkan ada beberapa institusi perguruan tinggi yang dilaporkan melarang dosen ataupun mahasiswanya untuk mengenakan cadar atau niqab. Bagaimana melihat fenomena seperti itu.

Jurnalis Ribath Nurul Hidayah, A. Muchlishon Rochmat, mewawancarai Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Umam, terkait dengan hal-hal tersebut di atas. Ia juga diamanati untuk menjadi Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Berikut wawancaranya:

Keberagamaan umat Islam di Indonesia saat ini seperti apa, Pak Umam?

Ribath Nurul Hidayah

Secara umum ada perubahan pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Perubahan itu belum tentu substantif, tetapi perubahan itu kelihatan dari sisi luarnya dan kemasannya. Sekarang, simbol-simbol Islam itu semakin jelas. Simbol-simbol tersebut belum tentu mencerminkan kualitas kesalehan masyarakatnya. Dulu jilbab jarang dipakai orang, tetapi sekarang banyak sekali yang memakai jilbab. 

Apa yang menyebabkan seperti itu? Maksudnya maraknya simbol-simbol keislaman tersebut?

Ribath Nurul Hidayah

Televisi, media cetak, dan maraknya media-media sosial telah membantu untuk memperlihatkan perubahan-perubahan tersebut. Dan itu mau tidak mau juga ikut mempengaruhi perilaku umat Islam Indonesia. Ada yang sekedar ikut tren karena jilbab menjadi tren. Meskipun ada seseorang yang berubah karena kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari ajaran Islam.

Jadi, grafik keberagamaan kita semakin naik?

Kita belum memiliki data yang valid untuk menggambarkan sebarapa jauh dan meningkatnya perubahan itu. Tetapi secara umum kita bisa melihat dari jumlah pengajian, masjid dan mushola yang terus bertambah, semakin maraknya lembaga-lembaga amil zakat karena dipicu oleh kesadaran berzakat yang semakin meningkat. Itu menunjukkan ada tren keberagamaan itu meningkat lebih baik. 

Tapi di sisi lain, ada tren-tren baru perlu mendapatkan perhatian. Ada orang yang hanya berhenti kepada simbol-simbol agama semata. Misalnya kalau mau dianggap islami maka kenakanlah jilbab model ini atau berpakaian tertentu. Padalah agama tidak hanya itu. Yang lebih substantif adalah dari segi isi keberagamaan itu. Simbol itu penting juga, tetapi jangan berhenti pada simbol karena simbol itu mudah dihilangkan dan dilepaskan.

Memang ada perubahan dalam keberagamaan ini, tetapi masih belum terlalu yakin bahwa perubahan itu sudah mengubah juga substansi para pemeluknya itu. Yang saya lihat masih sebatas pada simbol luarnya. Kita lihat kejadian-kejadian sosial yang tidak sesuai dengan ajaran agama seperti korupsi. Di satu sisi, itu menerangkan bahwa tampilannya sudah menunjukkan seolah-olah dia pengamal agama yang baik tetapi di sisi lain ternyata tidak demikian.

Belakangan ini, marak istilah syar’i di kalangan umat Islam misalnya ada istilah hijab syar’i. Bagaimana Anda melihat itu?

Kalau niatnya baik itu patut diapresiasi tetapi saya khawatir ini hanya tren sesaat. Jangan lupa bawa dibalik tren syar’i itu juga ada kepentingan ekonomi yang besar. Misalnya industri garmen semakin menguat dengan adanya tren syar’i ini. 

Kalau niatnya adalah supaya orang sadar akan ajaran agama, saya kira itu bagus. Tetapi jangan sampai berhenti di situ dan jangan terjebak kepada jargon-jargon sesaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah menata perilaku sehingga sesuai dengan ajaran syariat Islam. Tidak berhenti di pakaian saja. 

Ada yang ‘memanfaatkan’ tren syar’i ini secara ekonomi?

Kritikan saya seperti ini, di balik jargon syar’i itu jelas ada kepentingan ekonomi. Apapun yang terkait dengan syar’i itu dikampanyekan dengan market. Di bisnis garmen, makanan, penerbangan itu kan ada pemain-pemain lama. Kemudian ada pemain baru yang ingin mendapatkan ‘kue’ ekonomi itu. Sehingga kalau misalnya mereka bersaing di sektor lama mereka tidak akan berhasil. Sehingga hal-hal yang sifatnya syar’i ini menjadi jargon marketing yang luar biasa. 

Orang terdorong untuk melakukan sesuatu karena itu adalah bagian dari implementasi agama. Pada tataran pelakunya mungkin mereka sadar ingin berubah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang memanfaatkan itu tadi. 

Bukankah itu bagus untuk mendorong ekonomi baru?

Sebetulnya ini positif untuk mengembangkan ekonomi. Salah satu yang mendorong ekonomi adalah bagaimana orang membelanjakan uangnya itu. Di satu sisi seperti itu. Tetapi jangan kemudian menganggap bahwa Indonesia lebih islami dengan adanya tren seperti itu. Karena indikator yang lain di luar tampilan fisik itu belum terpenuhi.

Lalu, apa saja indikator yang menunjukkan bahwa itu islami?

Misalnya kejujuran, tidak korupsi, adil terhadap semua orang, dan lainnya. Sampai saat ini, saya masih belum sepenuhnya yakin bahwa jargon syar’i itu adalah indikasi masyarakat Indonesia secara umum itu menjadi lebih islami.

Selain Syar’i, istilah hijrah juga ngehits saat ini. Hijrah diidentikkan misalnya dengan bercadar, bercelana cingkrang, berkening hitam, dan berjenggot lebat. Apakah hijrah memang seperti itu?

Hijrah tidak hanya sekedar itu. Itu hanya bagian luar dan tidak substantif. Kalau mau hijrah ya harus total. Tidak hanya tampilan luarnya saja, tetapi juga harus disertai dengan perubahan perilaku, sikap, dan cara berpikir ke arah yang lebih baik.

Ini kan korban dari kampanye dari televisi dan media sosial. Jangan menyimplifikasi agama misalnya kalau sudah mengubah cara berpakaian maka kemudian menjadi lebih islami. 

Mungkin betul bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melarang seseorang yang berpakaian terlalu panjang dan melebihi mata kaki. Tetapi konteksnya kan berbeda. Saat itu, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu ada kesombongan maka kemudian Nabi melarang itu.

Sekarang di balik, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu apakah mereka ada kesombongan. Jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya; orang yang berpakaian cingkrang itu ada dirinya merasa lebih baik dari pada orang lain. Kalau begitu, berarti dia yang sombong. Karena mereka merasa lebih islami, mengikuti hadis Nabi, dan merasa lebih dekat dengat Tuhan. Berarti kan ada kesombongan itu.

Begitupun yang berkening hitam. Jangan sampai mereka yang berjidat hitam merasa lebih lama sujudnya dari orang lainnya. Menghitamkan kening itu mudah. Saya memiliki banyak kiai yang ahli sujud, tetapi keningnya tidak hitam. Justru wajahnya bersih-bersih. 

Berarti titik tekan dari hadis Nabi Muhammad tersebut pada ada tidaknya kesombongan dalam berpakaian?

Konteks larangan hadis tersebut adalah agar orang tidak sombong. Sekarang itu harus dikaji lagi. Saat ini yang sombong siapa? apakah orang yang bercelana melebihi mata kaki itu? Ataukah orang yang bercelana cingkrang?

 

Kalau kebiasaan atau ‘urf itu menunjukkan bahwa berpakaian melebihi mata kaki itu baik dan tidak ada kesombongan sama sekali, lalu kenapa harus dirubah dan dikampanyekan untuk bercelana cingkrang.

Makanya, agama itu jangan disimplifikasikan dengan penampakan pakaian saja. Mari kita ukur; apakah mereka berbuat baik dengan tetanga, apakah mereka peduli dengan orang miskin. 

Ada institusi pendidikan yang melarang mahasiswinya memakai cadar. Bagaimana itu?

Ajaran agama itu muncul berdasarkan tantangan lokasi dan waktu tertentu. Cadar itu muncul di negara padang pasir untuk melindungi dari pasir. Cadar itu kan bukan pakaian islami yang absolut. Pakaiaan itu adalah budaya. Yang menjadi kewajiban bagi muslim dan muslimah adalah menutup aurat. Dan batasan-batasan aurat sendiri itu kan juga menjadi perdebatan ulama hingga melahirkan pendapat yang berbeda. 

Kalau kita merujuk pendapat yang menyatakan bahwa aurat yang harus ditutupi adalah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak ada keharusan untuk mengenakan cadar.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyesuaikan pakaian dengan budaya setempat. Bukankah ada kaidah fikih yang menyebutkan bahwa al-‘adah muhakkamah (adat itu bisa dijadikan hukum). Selagi kebiasaan sebuah masyarakat tidak bertentangan dengan agama dan agama tidak mengatur, maka itu tidak ada masalah.

Terkait dengan larangan bercadar di kampus, pak?

Ketika institusi negara melarang orang bercadar itu mungkin ada alasan untuk mengenali dan mengetahui seseorang itu. Karena orang tidak bisa mengenali orang yang bercadar dengan pasti. Sementara di sebuah institusi itu perlu kepastian bahwa seseorang yang dimaksudkan adalah benar-benar si A dengan identitas yang disebutkan itu.

Bagaimana menguji seseorang kalau hanya lewat cadar. Kalau semuanya tertutup, tidak ada alat untuk memastikan bahwa dia memang nama yang tertulis itu. 

 

Dalam konteks ini, wajar kalau sebuah institusi meminta kepada mereka yang bercadar itu untuk melepasnya. At least dalam waktu-waktu yang dibutuhkan untuk mengkorfirmasi identitas seseorang tadi. Hal itu berbeda kalau mereka di luar institusi, silahkan saja mereka mengenakan cadar.  

Sebuah pernyataan dari Prof Azyumardy Azra bahwa Islam Indonesia yang dikenal ramah, moderat, adaptif terhadap budaya setempat itu is too big to fail. Apakah sepakat dengan statement itu atau bagaimana?

Saat ini, Islam Nusantara is too big to fail iya benar. Karena mayoritas masyarakat muslim Indonesia masih mengamalkan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi setempat.

Tetapi kalau tren konservatifme Islam tidak diantisipasi oleh semua pihak dan dibiarkan menguat -misalnya pola keberagamaan ala Saudi dibiarkan bebas, dikampanyekan, diajarkan sehingga membid’ah-bid’ahkan yang lainnya- maka model Islam Indonesia seperti saat ini akan berubah lima puluh seratus tahun ke depan.

Maka saya baik secara pribadi maupu secara institusi merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia secara umum, NU, Muhammadiyah, untuk bekerjasama dan melakukan upaya-upaya yang lebih konstruktif dalam mengimbangi dakwah Islam model kaku seperti itu. Model yang mungkin cocok di Arab, tetapi menurut saya itu tidak pas diterapkan di Indonesia.

Kalau dakwah-dakwah model salafi wahabi itu dibiarkan, maka dalam jangka panjang itu akan mengubah keberagamaan Indonesia. Sekarang kan sudah kita temukan fakta-fakta di lapangan bahwa orang seperti ini semakin banyak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Jadwal Kajian, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 08 September 2017

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya ketika memimpin perang shifin. Padahal sebagai panglima, baju itu sangat dibutuhkannya. Maka alangkah gembirannya Ali beberapa hari kemudian tatkala ada yang memberi tahu bahwa baju itu berada di tangan pedagang beragama Yahudi.

Kepada pedagang itu Ali menegur, ”Baju besi yang kautawarkan itu kepunyaanku. Dan seingatku, tidak pernah kuberikan atau kujual kepada siapa pun.”

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Yahudi itu menjawab, ”Tidak baju besi ini milikku sendiri. Aku tak pernah diberi atau membelinya dari siapapun.”

Ribath Nurul Hidayah

Saling klaim kepemilikkan terjadi berlarut-larut, hingga mereka sepakat membawa perkara itu ke meja hijau. Yang menjabat kedudukan hakim kala itu adalah sahabat Ali yang setia bernama Syuraikh.

Ali mengadu,”Tuan hakim, aku menuntut orang Yahudi ini karena telah menguasai baju besi milikku tanpa sepengetahuanku.”

Ribath Nurul Hidayah

Syuraikh menoleh ke arah si pedagang Yahudi da bertanya, ”Betulkah tuduhan Ali tadi bahwa baju besi yang berada di tanganmu itu miliknya?”

”Bukan. Baju besi ini kepunyaanku,” sanggah Yahudi berkeras.

”Bohong dia,” ucap Ali agak marah. ”Baju besi itu milikku. Masak aku seorang panglima tidak mengenali baju besiku sendiri?”

Syuraikh menengahi agar Ali tidak berpanjang-panjang. ”Begini, Saudara Ali bin Abi Thalib. Yang terlihat, baju besi itu kini berada dalam penguasaan Yahudi ini. jadi, kalau engkau mengklaim baju besi itu milikmu, engkau harus mengajukan dua saksi atau bukti-bukti lainnya.

”Ada aku punya saksi.”

”Siapa mereka?”

”Anakku Hasan dan Husain,” jawab Ali.

Syuraikh memotong, ”Maaf. Kesaksian anak kandung berapa pun jumlah mereka, tidak sah menurut hukum yang berlaku. Jadi, kalau tidak ada bukti-bukti lain, tuduhanmu itu batal dan baju besi ini mutlak kepunyaan Yahudi ini.”

Vonis dijatuhkan. Tuduhan sang panglima yang juga kepala negara dibatalkan pengadilan. Sementara Yahudi yang tak seagama dengan hakim itu pun memenangkan perkara.

Ketika Syiraikh ditanya mengapa ia tidak memberi keputusan yang menguntungkan Khalifah yang juga orang dekatnya itu, ia menjawab:

”Maaf. Kita ini penggembala. Dan setiap penggembala akan ditanya tentang tanggung jawab penggembalaannya (kullukum raa’in wa kullukum mas-ulun ’an ra’iyyatih).”

Mahbib Khoiron

Disadur dari Hikmah Keprihatinan (KH Abdurrahman Arroisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai Ribath Nurul Hidayah

Mengaji Pilkada Melalui Buku Wasekjen PBNU

Bandar Lampung, Ribath Nurul Hidayah

Buku karya Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Dr Muhammad Aqil Irham berjudul "Demokrasi Muka Dua: Membaca Ulang Pilkada di Indonesia" dibedah, Senin (13/6), di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Hukum Unila sebagai upaya menelaah ulang demokrasi di Indonesia, khususnya dari sudut pandang pertarungan politik di sekitar pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Mengaji Pilkada Melalui Buku Wasekjen PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengaji Pilkada Melalui Buku Wasekjen PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengaji Pilkada Melalui Buku Wasekjen PBNU

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Lampung Fatikhatul Khoiriyah menyebut kegiatan yang diselenggarakan Pusat Studi Hukum dan Pembangunan (PUSHIBAN) dan Himpunan Mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unila tersebut sebagai mengaji Pilkada sehubungan akan ada sejumlah pesta demokrasi untuk beberapa kabupaten di Provinsi Lampung.

Professor of Asian Studies, Asia Institute, The University of Melbourne, Vedi Hadiz dalam pengantarnya menyatakan karya Dr Aqil merupakan upaya memadukan teori sosial dengan analisis empiris sehingga memberi sumbangan pemikiran berbeda dari sebagian penulis yang cenderung hanya menawarkan deskripsi tentang seluk-beluk pertarungan Pilkada.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Hadiz pula, karya Sekjend PP GP Ansor di era Nusron Wahid itu merupakan? upaya menelaah ulang demokrasi di Indonesia, khususnya dari sudut pandang pertarungan politik di sekitar Pilkada.

Berkaitan dengan kegiatan bedah buku tersebut, sejumlah aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung seperti Iwan Satriawan dan Fatikhatul Khoiriyah yang juga Ketua Bawaslu Lampung mengajak publik untuk menghadiri acara tersebut melalui akun media sosial mereka. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Nahdlatul Ulama Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 06 September 2017

Vatikan Akui Palestina sebagai Negara

Roma, Ribath Nurul Hidayah. Vatikan telah merampungkan dokumen perjanjian yang berisi pengakuan terhadap Negara Palestina.? Wakil Menteri Luar Negeri Vatikan, Antoine Camilleri, menjelaskan diharapkan perjanjian tersebut akan membantu mewujudkan apa yang disebut sebagai "solusi dua negara" guna mengakhiri konflik dengan Israel. Demikian dilaporkan oleh BBC Indonesia.

Pemerintah Israel mengatakan kecewa dengan langkah Vatikan dengan mengatakan keputusan tersebut akan mengganggu perundingan bilateral.

Vatikan Akui Palestina sebagai Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Vatikan Akui Palestina sebagai Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Vatikan Akui Palestina sebagai Negara

Wartawan BBC di Roma mengatakan Paus Fransiskus berupaya memperkuat kehadiran Kristen di Timur Tengah di saat ratusan ribu pemeluk agama ini menyelamatkan diri dari tindakan agresif kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan rencana pengakuan tersebut, Vatikan menambah panjang daftar negara Eropa yang mengakui Palestina.

Tahun lalu, Parlemen Eropa, Inggris, Republik Irlandia, Spanyol, dan Prancis menyetui mosi mendukung Negara Palestina.

Ribath Nurul Hidayah

Swedia sementara itu mengambil langkah lebih tegas dengan secara formal mengakui Palestina sebagai negara. (mukafi niam) foto NBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Tokoh, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 September 2017

Camat Patean Minta NU Beri Masukan dalam Musrenbang

Kendal,Ribath Nurul Hidayah

Pengurus NU di tingkat ranting (desa) diminta memberikan masukan atau usulan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di desa masing-masing di kecamatan Patean, Kendal, Jawa Tengah.

Camat Patean Minta NU Beri Masukan dalam Musrenbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Camat Patean Minta NU Beri Masukan dalam Musrenbang (Sumber Gambar : Nu Online)

Camat Patean Minta NU Beri Masukan dalam Musrenbang

Permintaan itu disampaikan Camat Patean, Yanuar Fatoni, saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Konferensi MWCNU Patean di Pondo Pesantren Salafiyah Annahdliyah Curugsewu Patean, Sabtu (7/1).

"Saya minta pengurus NU di desa masing-masing di kecamatan Patean dapat memberikan masukan dan usulan dalam acara Musrenbang desa demi kemajuan pembangunan di kecamatan Patean," pinta Yanuar Camat muda yang tetap bertahan dalam mutasi pejabat 3 Januari lalu.

Ribath Nurul Hidayah

Musrenbang di kecamatan Patean, tambah Yanuar, sudah dimulai awal Januari di beberapa desa dan terus bergilir sampai akhir Januari. Dikatakan,? program yang diusulkan di desa yang sudah melaksanakan Musrenbang sebagian besar masih berupa fisik.

Munurutnya perlu juga diusulkan program yang bersifat pengembangan sumber daya manusia seperti pelatihan-pelatihan.

Ribath Nurul Hidayah

"Oleh karenanya saya minta pengurus NU ditingkat desa harus aktif memberikan masukan yang positif dalam Musrenbang di desanya."

Disampaikan juga bahwa struktur organisasi pemerintahan desa juga akan mengalami perampingan. Salah satunya adalah mengurangi ketergantuan peran Modin dalam mengurusi orang meninggal dunia. (Ahmad Fahroji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, Jadwal Kajian Ribath Nurul Hidayah