Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Jumat pagi (8/3), warga Nahdliyyin di kota Konya, Turki, menemani Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama beberapa kiai berkunjung ke kota Maulana Jalaluddin Rumi.

Rombongan PBNU sudah selesai memenuhi undangan konferensi perdamaian untuk Afganistan yang diselenggarakan pada 4-5 Maret 2013 di Istanbul, dan memenuhi beberapa undangan di Ankara. Sejak pagi buta kiai yang akrab dipanggil Kang Said itu beserta rombongan langsung menuju kota Konya menaiki kereta cepat.

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Ziarah Makam Rumi bersama Kang Said

Niatan yang tadinya hanya ingin berziarah ke beberapa makam auliya di kota ini, ternyata disambut antusias oleh para ulama di Konya. Sukru Ozbugday, yang merupakan Mufti Konya langsung mengutus Mufti Meram, Ahmet Ozkan untuk mengundang rombongan dan menemani selama di Konya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain menceritakan tentang apa itu NU, Kang Said juga menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan antara Turki dan Indonesia. “Kami sangat senang dapat mengunjungi kota Konya. Maulana Jalaluddin Rumi sangat populer di kalangan Nahdliyyin. Alhamdulillah kami sekarang akan berziarah ke makam beliau. Walaupun waktu kami di Konya sangat terbatas, kami berharap hubungan ini akan terus berlanjut,” Kang Said.

Pertemuan ini begitu hangat, apalagi mustasyar PCINU Turki Dr. Seyit Bahcivan yang juga teman sekelas dengan KH. Said Aqil Siroj sewaktu dulu bersama-sama belajar di Ummul Qura University Mekkah juga hadir dalam pertemuan ini dan ikut menemani rombongan. Seakan ingin bernostalgia, DR. Seyit Bahcivan yang sejak awal lengket dengan sahabat lamanya ini pun diisengi oleh Kang Said.

Ribath Nurul Hidayah

“Ya Seyit, dimana janggutmu yang panjangnya se dada itu?. Mengapa sekarang kamu tak berjanggut?” canda Kang Said. Semua yang ada diruangan itu pun tertawa sembari melihat Dr. Seyit Bahcivan yang sudah tak berjanggut lagi.

Di akhir pertemuan singkat itu, Sukru Ozbugday memberikan cendera mata berupa hiasan seni bergambar bunga mawar yang merekah.

“Di Konya, bunga mawar adalah simbol cinta kepada Rasulullah SAW, Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah dapat mempersatukan kita dan umat muslim seluruhnya. Ujar Sukru Ozbugday berharap.

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam beberapa auliya. Maulana Rumi dan gurunya Syamsuddin at-Tibrizi atau yang lebih dikenal dengan Semsi Tebriz menjadi tempat pertama yang diziarahi.

KH Said Aqil Siroj sendiri yang langsung memimpin pembacaan tahlil dan doa. Rombongan juga menyempatkan berziarah ke makam seorang wali yang hidup sezaman dengan Rumi yaitu Sadruddin al-Konawi. Menyadari waktu singkat Kang Said di Konya, di sela-sela ziarah inilah pengurus PCINU Turki berdialog ringan dan menjelaskan kegiatan-kegiatan warga NU di Konya.

“Walaupun usia PCINU Turki masih dibilang baru terbentuk, Alhamdulillah kami istiqomah mengadakan kagiatan-kegiatan diniyyah. Termasuk sebulan yang lalu Alhamdulillah warga NU di Turki berkumpul di Konya untuk mengadakan kagiatan Maulid Nabi dan Harlah NU. Mohon doa dan dukungan kiyai supaya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat kami jalankan secara istiqamah dan bernilai barokah,” papar Abdul Ghaffar Chodri, wakil sekretaris Tanfidziyyah PCINU Turki.

“Kegitan-kegiatan positif seperti itu tentu saya dukung. Tapi yang paling penting ya itu tadi, teman-teman disini bisa mengerjakannya dengan istiqomah. Salam saya untuk teman-teman semua ya,” ujar Kang Said.?

Sebelum kembali ke Istanbul dan terbang ke Indonesia, rombongan juga sempat membeli aksesoris berupa kucuk kur’an (Al-Qur’an super mini yang di Indonesia sering disebut Qur’an Istanbul). Nampaknya, bukan hanya para ulama Konya yang menghormati rombongan ini, pedagang yang menjual aksesoris ini pun sangat senang ketika tahu bahwa mereka adalah rombongan kiai dari Indonesia. Ini terbukti pedagang tersebut langsung memberikan 30 kucuk kur’an yang semuanya bersampul hijau sebagai hadiah.

Walaupun hanya tiga jam Kang Said dan rombongan berada di kota Konya, namun ini menjadi saat yang membahagiakan dan tak terlupakan bagi warga NU di kota Darwis ini.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Abdul Ghaffar Chodri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Syariah, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Februari 2018

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menggenjot pemahaman Islam Ahlussunah wal-Jamaah di tingkat Ranting-ranting. Kegiatan tersebut akan digelar tiap dua minggu sekali secara bergiliran.

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosobo, Slamet Nurochman mengatakan, kegiatan rutin yang akan digelar tiap Jumat malam tersebut diformat dengan agenda mujahadah, kajian kitab kuning, dan diskusi.

Tujuannya, Slamet menerangkan, sebagai silaturahim antar-anggota dan pengurus, sehingga komunikasi lebih efektif dan up to date, “Dalam pertemuan itu, peserta bebas mengutarakan unek-unek, juga membicarakan program yang sedang dan akan dijalankan,” katanya kepada NU Online di kediamannya, Senin (13/5).

Ribath Nurul Hidayah

Salamet menambahkan, kegiatan tersebut akan dipusatkan di masjid sebagai tindak lanjut Rakornas GP Ansor yang mewajibkan pengkaderan digelar di tiap-tiap masjid, “Kegiatan ini adalah turba (turun ke bawah) yang akan dimulai minggu depan. Pengurus PAC siap diterjunkan secara bergiliran,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Upaya lain menggenjot Aswaja, sambung Slamet, dalam waktu dekat akan menggelar pelatihan kader NU. Kegiatan tersebut intinya adalah pemantapan pemahaman dan penanaman Aswaja An-Nahdhiyyah supaya melekat di hati kader, “Kita tak ingin kader sekadar cashing, tapi bisa berguna untuk kemajuan NU secara jamaah dan jamiyyah," pungkasnya.

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? : Budi BH

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Tokoh, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 31 Januari 2018

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Usai melantik 3 pimpinan komisariat pada Februari lalu, pengurus IPPNU kota Bandung komisariat baru. Kali ini sejumlah 15 santri dari pesantren Al-Afifiyah kecamatan Kopo, Kota Bandung, dilantik untuk masa khidmat 2015-2016 di halaman pesantren setempat, Ahad (8/3).

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Bandung Kukuhkan Komisariat Pesantren Al-Afifiyah

Ketua terlantik PK IPPNU pesantren Al-Afifiyah Wenti Ahdiniyanti mengajak anggotanya supaya bersemangat dalam mengemban amanah organisasi. Ia bertekad kuat untuk mengenalkan IPPNU di tengah masyarakat.

“Ini awal pergerakan kita di IPPNU,” kata Wenti pada pelantikan dan rapat kerja yang dihadiri oleh alumni IPPNU kota Bandung, PCNU kota Bandung, dan juga pengasuh pesnatren Al-Afifiyah Wahyul Afif Al-Ghofiqi.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu Ketua IPPNU kota Bandung Dhilla Nuraeni Az-Zuhri menerangkan, pelantikan PK pesantren Al-Afifiyah tidak lepas dari usaha pengurus IPPNU yang melakukan roadshow konsolidasi ke setiap kecamatan dan pesantren di kota Bandung.

Ribath Nurul Hidayah

“Setelah dibentuk kepengurusan komisariat, maka segera kami lantik agar kepengurusan segera sah dan (kader) makin bersemangat,” terang Dhilla yang bertepatan dengan hari perempuan sedunia.

Menurut Dhilla, komisariat Al-Afifiyah memiliki daya tarik tersendiri. Hampir semua pengurus komisariat ini mempunyai bakat di bidang tarik suara sehingga terbersit dalam pemikiran pengurus IPPNU Bandung akan mengadakan semacam IPPNU Idol suatu saat nanti.

Ia berharap, PK pesantren Al-Afifiyah mampu mengemban amanah. Sehingga, mereka kelak bisa mengembangkan IPPNU di daerahnya masing-masing agar IPPNU lebih dikenal ? oleh para pelajar lain. “Semoga semangat mereka tidak hanya sampai pada hari ini saat dilantik, tetapi sampai mereka bisa meregenerasi kader,” harapnya.

Selama ini, lanjut Dhilla, PC IPPNU kota Bandung mengalami beberapa kendala dalam kaderisasi, sehingga dalam membentuk komisariat pihaknya mendahulukan pesantren yang notabene NU, sampai didukung penuh oleh pengasuh pesantren itu sendiri.

“Untuk kendala di setiap komisariat adalah para kadernya sendiri yang masih belajar untuk berorganisasi. Tapi lambat laun mereka akan terbiasa berorganisasi khususnya ber-IPPNU,” tambah mahasiswi lulusan Universitas Islam Nusantara itu.

IPPNU Bandung akan terus memantau komisariat yang sudah terbentuk. “Hingga apabila setiap komisariat mengadakan kegiatan pihak pengurus cabang sendiri akan terjun langsung memfasilitasi mereka bahkan membantu mereka,” tegas Dhilla. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, RMI NU Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 09 Januari 2018

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Demak, Ribath Nurul Hidayah. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak warga NU untuk menengok dan mengingat kembali sejarah awal dibentuknya NU sesuai yang tertera dalam Anggaran Dasar Aggaran Rumah Tangga AD/ART NU.

Menurutnya, NU satu kesatun dengan bangsa Indonesia, dan tak terpisahkan. “NU didirikan itu salah satu tujuannya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin demi terwujudnya bangsa Indonesia. Mari kita lihat AD/RT NU, maka dari itu, NU tidak bisa pisah dari bangsa Indonesia,” katanya di hadapan ribuan Muslimat NU di alun-alun Masjid Agung Demak pada Ahad (2 /4) pada puncak Harlah NU ke 91, Harlah Muslimat NU ke 71 dan Hari Jadi Demak ke 514.

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Gus Yahya begitu dia akrab dipanggil, menegaskan, selaku salah satu elemen pendiri bangsa Indonesia, NU secara otomatis ? mempunyai ? kewajiban menjaga bangsanya dari orang maupun kelompok pengacau, pengganggu, merongrong kewibawaan bangsa serta mengganggu keutuhan Negara Kesatua Republilk Indonesia.

“Setiap pengacau yang mengganggu Indonesia, maka akan berhadapan dengan NU. Bagi NU, NKRI harga mati yang tak hisadi tawar lagi,” tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Muslimat NU Demak Hj Utami Musadad mengatakan,kegiatan tersebut dimuli dengan bacaan Al-Qur’an bil ghoib (hafalan) sebanyak 500 kali, membaca Al-Qur’an bi nadhor sbanyak 500 kali, manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 400 kali, istighotsah, maulidurrasul serta pengajian,

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan khidmat, khataman Al-Qur’an baik bil ghoib maupun bi nadhor, manaqib semua khatam,” tutur Hj Utami Sadad.

Puncak acara harlah, selain dihadiri warga Muslimat, juga dihadiri Bupati Demak H M Natsir, Waub Joko Sutanto, ketua DPRD H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Demak Wakil ketua PW Muslimat Jateng yang ? juga anggota FKB DPRD Jateng Hj Ida Nurs Sa’adah, Katib ‘Aam Jatman KH Zaini Mawardi, pengurus NU dari Cabang sampai Ranting. (A.Shiddiq Sugirto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Ubudiyah, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Semarang, Ribath Nurul Hidayah - Manusia adalah hamba Allah (abdullah) di muka bumi ini, yang salah satu tugasnya, selain sebagai khalifah, adalah beribadah. Ibadah dari kata abd, yang berarti hamba. Beribadah adalah menghamba kepada Allah, sedangkan inti dari ibadah adalah berdoa, karena dengan doa ada ketergantungan dari makhluk kepada sang khaliq (pencipta).

Demikian disampaikan KH Munif Muhammad Zuhri atau yang akrab disapa Mbah Munif, dalam acara mujahadah rutin yang diselenggarakan di rumah dinas H. Sukirman SS, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Rabu (23/11) malam.

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Munif Jelaskan tentang Doa dan Silaturahim

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Munif menyampaikan pentingnya berdoa bagi kaum muslimin. "Addua muhhul ibaadah, doa itu instisari ibadah. Dengan berdoa, kita selalu memiliki ketergantungan kepada Allah selaku pencipta alam semesta," terangnya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, kiai kharismatik NU ini juga menekankan pentingnya silaturrahmi dan persatuan di organisasi. Silaturrahmi atau pertemuan-pertemuan, hematnya, akan menjadikan sebuah ikatan yang melahirkan kekuatan.

Ribath Nurul Hidayah

"Jika ada orang mau berjuang, tetapi tidak mau ikut terlibat dalam organisasi bisa dianggap sia-sia. Ini karena musuh-musuh kita juga bersatu dan terorganisir dengan baik," terangnya. "Jika kita tidak bersatu, kita akan sangat mudah dikalahkan," imbuhnya.

Menurut shahibul bait H. Sukirman dalam sambutannya, mujahadah kali ini dikhususkan untuk mendoakan bangsa Indonesia. "Kita tahu, suhu politik di Ibu Kota dewasa ini memanas yang dampaknya kemana-mana. Salah satu ikhtiar kita agar semua baik-baik saja adalah dengan berdoa," ungkapnya.

Acara mujahadah ini digelar secara rutin dan diikuti kaum muslimin dari Semarang, Demak, Kendal dan sekitarnya. Menurut salah satu peserta, Amir Mustofa Zuhdi, mujahadah seperti ini sangat positif untuk terus digelar dan diikuti, khususnya generasi muda, agar terbiasa bergantung hanya kepada Allah SWT.

"Selain mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita juga mendapat berbagai nasehat dari ulama yang begitu murni, teduh dan mencerahkan," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Pemurnian Aqidah, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 30 Desember 2017

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Hari Kartini yang selalu diperingati setiap 21 April lebih dari sekadar berkebaya ria atau perayaan sejenis lainnya. Hari Kartini adalah momentum menghayati, meneladani, dan meneruskan perjuangan RA Kartini yang telah mengangkat harkat dan martabat wanita Indonesia.

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Demikian rangkuman dari pandangan beberapa? pelajar madrasah NU di Kudus yang dihubungi Ribath Nurul Hidayah terkait makna hari peringatan Hari Kartini yang tahun ini jatuh pada hari Selasa (21/4) kemarin.

Menurut pelajar SMANU Al-Maruf Riska Rahayu Lestari, hari kartini bukan hanya sebagai hari penghormatan pahlawan emansipasi wanita ini namun juga merupakan momen dimulainya revolusi kedudukan kaum wanita.

Ribath Nurul Hidayah

"Munculnya RA Kartini, wanita mulai diberi kesempatan yang? lebih luas untuk menggenggam dunianya, khususnya lewat pendidikan yang menjadi aspek penentu kedudukan seseorang," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ketua Pimpinan Komisariat (PK) IPPNU Al-Maruf ini menegaskan, Hari Kartini telah menjadi semangat baru wanita Indonesia untuk menyuarakan kedudukan dan perannya, bukan sebagai konco wingking (di belakang) kaum lelaki. Wanita mempunyai impian untuk menggenggam dunia dengan cara mereka sendiri.

?

"Namun tetap digarisbawahi bahwa hari kartini bukan hari di mana kodrat wanita lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi lebih? kepada wanita punya tangan sendiri," kata Riska.

?

Siswi MANU Muallimat Inas Arna Ramaddhani mengutarakan, kemeriahan Hari Kartini bermakna mengenang jasa tokoh kelahiran Jepara yang telah memperjuangakan kaum wanita dengan mengembalikan harkat dan martabatnya.

?

"Hal itu juga bagian untuk instrospeksi diri apakah kita ini sudah mampu? untuk menjadi Kartini masa kini? atau tidak, termasuk siapkah sebagai Kartini-Kartini sejati di masa depan?" ujar Inas yang juga ketua Forkapik IPNU-IPPNU Kudus.

?

Senada dengan Inas, siswi MANU Nurussalam Besito Gebog Amalia Sholikhah menilai RA Kartini telah menjadikan wanita tidak dipandang remeh. Adik RM Sosrokartono itu mampu menjadikan wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.

?

"Seperti halnya dulu wanita hanya di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tetapi berkat jasa RA Kartini sekarang banyak wanita yang berkarir," katanya.

?

Jaga martabat wanita

?

Sementara siswi MANU Ibtidaul falah Samirejo Dawe Aang Riana Dewi mempunyai pandangan berbeda. Menurutnya, makna Kartini bukan terdapat pada perayaannya tetapi penghayatan atas perjuangannya.

"Sebab, RA Kartini telah memang memperjuangkan derajat wanita. Tetapi fenomena yang terjadi (sekarang) wanita (masih) cenderung dilecehkan.Terbukti dari banyaknya kasus kriminal yang menimpa kaum hawa," ungkapnya.

?

Lantas bagaimana meneladani perjuangan RA Kartini dalam konteks kekinian? Riana berpandangan kaum wanita harus menjaga harkat dan martabatnya seraya tidak merendahkan diri. ?

?

"Wanita harus menjaga pergaulannya, tidak terlalu bebas dan berlebihan. Dengan begitu, tidak akan diremehkan apalagi dilecehkan," kata wakil ketua OSIS MA Ibtidaul Falah ini.

?

Sedangkan Riska menyatakan, meneladani perjuangan RA Kartini mungkin sangat sulit. Tetapi sebagai pelajar, harus senantiasa memanfaatkan kesempatan pendidikan yang ada dan yang telah diperjuangkan RA Kartini guna mengembangkan dunia yang lebih luas.

?

"Pelajar wanita harus berpikir proaktif untuk perkembangan pendidikan ke depan dengan senantiasa berkarya? untuk memanfaatkan pendidikan. Pelajar wanita harus punya prinsip, belajar bukan karena formalitas tapi kebutuhan,"tandas siswi kelas XI SMANU AL-Maruf ini. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 23 Desember 2017

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional (LKS Tripnas) menggelar rapat tentang fungsi dan peran pengawas ketenagakerjaan pada 5 Oktober 2016. Ada enam kesepakatan dihasilkan pada pertemuan resmi forum tersebut. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslim Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU) menanggapi kesepatan tersebut.

Wakil Presiden DPP K Sarbumusi NU Sukitman Sudjatmiko di Jakarta, Rabu (12/10) mengapresiasi kesepakatan tersebut. Namun ia menyarankan empat hal.?

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU Tanggapi Hasil Rapat LKS Tripartit Nasional

Pertama, pengawas harus bergelar sarjana hukum agar lebih profesional. Kedua, pejabat pemerintah daerah tidak boleh mengganti personil atau memindah tugaskan ke posisi lain. Ketiga, nota pengawas harus ditindaklanjuti ke pengadilan untuk eksekusi bila para pihak tidak mengindahkan nota pengawasan. Keempat, mempertegas kode etik dan sanksi bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang tidak profesional.

Hasil rapat LKS Tripnas adalah, pemerintah diharapkan menambah jumlah pengawas ketenagakerjaan dikarenakan rasio perbandingan antara jumlah perusahaan dengan jumlah pengawas ketenagakerjaan masih tidak memadai. Komposisi ideal 1:5.

Ribath Nurul Hidayah

Selanjutnya, peningkatan standarisasi dan kompetensi bagi pengawas ketenagakerjaan. Berikutnya, perlu menyusun standar operasional prosedur pelaksanaan pengawasan dan penanganan kasus ketenagakerjaan sehubungan dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2014 yang mengatur kewenangan pengawas ketenagakerjaan ditarik ke provinsi. Termasuk didalamnya pembagian tugas yang jelas antara fungsi-fungsi pengawas ketenagakerjaan dengan fungsi ketenagakerjaan yang lainnya.

LKS Tripnas juga menyepakati, pemerintah daerah khususnya provinsi tidak memindahkan PPNS ke bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan pengawas ketenagakerjaan. Lalu perlunya peningkatan fungsi penegakan hukum oleh pengawas ketenagakerjaan.?

Kesepakatan terakhir, melibatkan fungsi Tripartit dalam pelaksanaan sosialisasi dan implementasi pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan.

Untuk diketahui, anggota LKS Tripnas ialah forum dialog resmi tiga pihak dari asosiasi pengusaha, serikat buruh, dan pemerintah yang setiap unsur diwakili 15 orang. Diangkat berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia dan mempunyai tugas untuk memberikan pertimbangan, saran dan pendapat kepada presiden dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan secara nasional. ? DPP K Sarbumusi NU mempunyai satu perwakilan di forum tersebut.?

Empat rumus digunakan oleh pemerintah untuk menentukan serikat mana saja yang dapat menjadi wakil dalam LKS Tripartit Nasional adalah, pertama, mempunyai anggota di atas 50.000 orang/buruh. Kedua, minimal tersebar di 20 persen provinsi di seluruh Indonesia. Ketiga, minimal tersebar di 20 persen kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan keempat mempunyai 150 serikat buruh tingkat pabrik. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, IMNU, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 21 Desember 2017

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban

Bandung, Ribath Nurul Hidayah. Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran para pahlawan yang berjasa dalam merebut kemerdekaan untuk Indonesia. Karena itu, makna hari pahlawan sangat tinggi nilainya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat juang perlu dijadikan perhatian utama setiap kali peringatan hari pahlawan.

Demikian disampaikan Katib Syuriah PWNU Jawa Barat KH Rachmat Syafe’I di pesantren Al-Wafa’, kota Bandung, Ahad (9/11).

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar: Hari Pahlawan Ingatkan Semangat Berkorban

Kiai Rachmat menerangkan, makna hari pahlawan terdapat suatu ikhtiar atau perbuatan dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Ribath Nurul Hidayah

“Makna yang pokok adalah bagaimana kita mempunyai jiwa seperti para pahlawan melalui jiwa patriotisme mempertahankan hak asasi manusia, kebebasan bernegara, dan kebebasan berbuat kebaikan,” tuturnya saat ditemui Ribath Nurul Hidayah, Ahad (9/11) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, semangat jiwa untuk berkorban bisa ditujukan demi kebaikan diri, keluarga dan lingkungan. Bagi kiai Rachmat, berkorban itu bukan hanya dalam keadaan berperang, tetapi dalam keadaan damai bisa juga berkorban dalam bentuk semangat untuk menjaga diri mengembangkan diri, keluarga. “Jangan sampai menyimpang dari aturan-aturan hukum dan agama,” tambahnya.

Ketua bidang fatwa MUI Jabar ini mengakui, saat itu pahlawan memang lebih banyak muslim. Tetapi ia mengajak masyarakat muslim untuk tidak mengabaikan pahlawan dari non-muslim karena sama-sama berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia.

“Karenanya, orang Islam sekarang harus sadar bagaimana supaya mampu meneladani mereka untuk berbuat baik, sehingga menjadi orang besar manfaatnya, terutama untuk kemanusiaan,” terang KH Rachmat Syafe’i.

Selain itu, ia juga mendorong kepada generasi muda khususnya kalangan pelajar supaya meningkatkan semangat jihad dalam mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Kiai Rachmat memperkuatnya dengan semboyan Hibrul qalam, asyhadu minad dam (tulisan ilmu lebih suci daripada darah pejuang perang).

Hakikat manusia, lanjut Kiai Rachmat, pada hakikatnya ingin berbuat baik. Karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia dapat menjaga keinginan suci tersebut. Agar, ke depannya dapat merealisasikan sesuai fungsi masing-masing dengan sekuat tenaga untuk mencapai kemuliaan dalam berbangsa dan bernegara. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, IMNU, Doa Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Pacitan, Ribath Nurul Hidayah. Mudir (Direktur) Mahad Aly Attarmasi Pacitan KH Luqman Harits Dimyathi mengatakan, ada atau tidak adanya Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang satuan pendidikan Mahad Aly, lembaga perguruan tinggi berbasis pesantren ini harus terus berkembang dan istiqamah dalam mencetak kader-kader ulama.

Hal tersebut dikatakanya saat menanggapi pertanyaan dari salah seorang Mahasantri Mahad Aly Tebuireng Jombang saat acara Halaqah Kunjungan Studi Banding ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan, Sabtu (31/10) lalu.?

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Terkait belum disahkanya PMA tentang satuan pendidikan Mahad Aly, Kiai Luqman memberi pesan bahwa sebenarnya undang-undang atau regulasi merupakan sebuah perantara dalam proses pendidikan. Artinya, Mahad Aly tanpa regulasi pun sebenarnya mampu berjalan baik dalam mencetak kader yang siap berkontribusi untuk pembangunan umat.

Ribath Nurul Hidayah

Namun demikian, para pengasuh pesantren yang mengelola Mahad Aly sepakat sebagai lembaga pendidikan yang berbasis kitab kuning perlu segera diberikan regulasi yang jelas. "Kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, regulasi terus kita perjuangkan. Karena ini merupakan hak kita," jelas Katib Syuriah PBNU itu.

Ribath Nurul Hidayah

PMA yang diperjuangkan oleh pengelola Mahad Aly nantinya merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang juga mendapatkan afirmasi dari Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.?

Menanggapi seperti apa idealnya Mahad Aly yang dikembangkan dipesantren, Kiai Luqman memaparkan bahwa Mahad Aly harus mempunyai spesialis khusus pada bidang kajian tertentu, seperti kajian Fiqh dan Ushul Fiqh, Ilmu Falak dan Hadits. Ma’had Aly harus berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, semacam UIN, IAIN, Sekolah Tinggi Agama. "Mahad Aly Is Mahad Aly," ujarnya.

Kunjungan Studi banding yang diikuti oleh seratusan Mahasantri Mahad Aly Tebuireng ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan merupakan kunjungan balasan dari kunjungan ke Tebuireng yang dilakukan oleh Mahasantri Pondok Tremas beberapa tahun lalu. Turut mendampingi dalam kunjungan kali ini, KH Nur Hanan, Mudir Mahad Aly Tebuireng.?

Mahad Aly Attarmasi dan Mahad Aly Tebuireng sama-sama mengembangkan Kajian Fiqh dan Ushul Fiqh. Kedua lembaga ini pun telah mewisuda mahasantrinya dengan gelar Syahadah Alimiyah atau SA. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Habib, Sejarah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 04 Desember 2017

50 Kiai Jateng Ziarahi Makam Sesepuh NU Wonosobo

Wonosobo, Ribath Nurul Hidayah. Sebagai bentuk penghormatan, sekurangnya 50 kiai asal Jawa Tengah (Jateng) meziarahi makam ulama NU Kabupaten Wonosobo, Syekh KH Asy’ari dan putranya KH Muntaha, yang terletak di Dero, Mojotengah, Wonosobo, Jateng, Ahad (2/6) pagi.

Para peziarah merupakan peserta Diklat Muharrik Masjid se-Jateng yang digelar Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) bekerja sama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU (Lakpesdam NU) selama tiga hari. Keberangkatan menuju makam dipimpin langsung Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani selepas shalat shubuh.

50 Kiai Jateng Ziarahi Makam Sesepuh NU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Kiai Jateng Ziarahi Makam Sesepuh NU Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Kiai Jateng Ziarahi Makam Sesepuh NU Wonosobo

”Tujuan ziarah kali ini adalah untuk meneladani semangat perjuangan ulama terdahulu. Mereka adalah  para muharrik (penggerak) di wilayahnya,” ujar Manan.

Syekh Asy’ari merupakan tokoh Wonosobo yang aktif mendidik masyarakat setempat melalui pesantren di Kalibeber, Mojotengah. Di zaman Belanda, ia terpaksa mengungsi sekitar 5 kilometer ke Desa Dero dan wafat di sana. Untuk sampai di tempat itu, peziarah harus melewati dua bukit dengan jalan berkelok dan curam.

Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Halim menuturkan, sepeninggal Syekh Asy’ari pesantren ditangani KH Muntaha. Kiai penghafal al-Qur’an ini pernah memimpin jabatan syuriyah dan tanfidziyah PCNU Wonosobo dan Mustasyar PWNU Jateng.

Ribath Nurul Hidayah

”Beliau juga salah seorang penggagas berdirinya Unsiq (Universitas Sains al-Qur’an) Wonosobo,” imbuh santri KH Muntaha ini.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 29 November 2017

Ajengan

Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.

Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, bertarumpah, bertongkat waregu.

Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Ribath Nurul Hidayah

Sebelum dia tahu siapa aku, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang sudah jangkung.

Ribath Nurul Hidayah

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mesantren dulu zaman Jepang di Ajengan...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap,”Laa ilaha ilallah, ini Aden?” Tentu, Den. Masya Allah, maaf Aden, maaf. Mama** lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, dimana Aden? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita ajengan selalu berdecak, sambil tak henti masya Allah, alhamdulillah terus.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Ibu ajengan (istrinya) sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana, kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menentunya) jadi pemimpin gerombolan***, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. “Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. katanya, “Pak Aden, mama berdoa semoga dekat dengan rezeki, jauh dari balahi. Semoga menjadi orang yang diridoi Tuhan lahir batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Cuma amal saleh yang bisa dipakai untuk di alam kelanggengan. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur...”

Aku terenyuh ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.

Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.

Aku ingat ketika masiih di pesantren...

Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek-nenek tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum, katanya, “Jangan menangis, meski di dunia sudah nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu tidak menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar dia sering berkata cawokah (mesum). Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah. “Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”

Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. “Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. Katanya, “Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.      

*Ajengan= panggilan kiai di Sunda.

**Mama= bapak. Kemungkan berasal dari kata rama.

***Gerombolan=untuk menyebut pengacau keamanan DI/TII waktu itu

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, IMNU, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 18 November 2017

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi

Brebes, Ribath Nurul Hidayah. Pimpinan Anak Cabang IPNU–IPPNU Pangkah kabupaten Tegal menunjukan potensi SDM kepada Camat Pangkah Saidno Ap. Potensi SDM yang dimiliki pelajar NU Pangkah ini, dipaparkan saat buka puasa bersama dan audiensi dengan camat Pangkah di gedung Pertemuan Among Dwijo Pangkah, Tegal, Rabu (8/7).

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Depan Camat, Pelajar NU Pangkah Presentasikan Profil Organisasi

“Kami tidak tedeng aling-aling terhadap kemampuan para anggota sehingga kerja sama yang dijalin dengan pihak kecamatan nanti sesuai dengan kemampuan kami,” tutur Ketua IPNU Pangkah Mohammad Naenul Rizqoni.

Paparan ini juga disaksikan pimpinan ormas kepemudaan yang ada di kecamatan Pangkah. Naenul berharap audiensi dan buka puasa ini bisa menjadi wahana silaturahmi yang membawa kemaslahatan bersama.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menjelaskan keberadaan pelajar NU di kecamatan Pangkah mulai dari pimpinan ranting, komisariat sampai pimpinan anak cabang sendiri.

Ribath Nurul Hidayah

Secara detil Naenul menceritakan  sejarah berdirinya IPNU-IPPNU di Pangkah, sepak terjang di masyarakat, agenda kegiatan, prestasi yang telah dicapai.

“Alhamdulillah IPNU-IPPNU menjadi pusat perhatian masyarakat secara luas karena prestasi yang ditorehkannya,” paparnya.

Naenul mengibaratkan IPNU-IPPNU sebagai taman kota yang sangat indah dan nyaman. Karena terbukti IPNU–IPPNU menjadi organisasi yang unggul dalam segala bidang.

Paparan Naenul mendapat apresiasi IPNU-IPPNU Tegal yang diwakili Susy Priyatin. Susy menyampaikan bahwa IPNU–IPPNU Pangkah telah menampakan eksistensinya di hadapan khalayak dengan penuh tanggung jawab dan penuh komitmen.

Hal senada disampaikan Mas’atun dari Fatayat NU Pangkah. Ia menyampaikan bangga melihat semangat kader-kader muda NU. Gelora semangat yang dikobarkan dengan menggalang persatuan dan kekompakan menguatkan kelanjutan kaderisasi.

Pembina IPNU Pangkah Ajat Sudrajat menyampaikan rasa syukur atas bangkitnya kader-kader NU. Keberadaannya diharapkan bisa tampil sesuai dengan perkembangan zaman.

“Jangan lupa tetap kritis, mengikuti kemajuan IPTEK dan IMTAK dengan selalu membaca situasi dan peluang di masa yang akan datang,” pesan ajat.

Camat Pangkah Saidno sangat berharap IPNU-IPPNU bisa bersama-sama membangun dari tingkat desa hingga kecamatan. Ia mengajak bersama dirinya membangun daerah Pangkah menuju Pangkah Bersahaja.

“Mari satukan tekad membangun Pangkah dengan penuh semangat,” ajak Camat. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ahlussunnah, AlaNu, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 17 November 2017

Islam Nusantara, Alternatif Baru Kiblat Dunia Islam (1)

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Islam nusantara sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam perjalanan peradaban dunia islam, sebab sejarah telah membuktikan bahwa ulama-ulama Nusantara mampu menembus pusat Islam yang ada di Mekkah.

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta berkomitmen melanjutkan perjalanan para ulama nusantara dengan membentuk Pascasarjana Program Magister Prodi Sejarah Kebudayaan Islam dengan Konsentrasi Islam Nusantara.

Islam Nusantara, Alternatif Baru Kiblat Dunia Islam (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Alternatif Baru Kiblat Dunia Islam (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Alternatif Baru Kiblat Dunia Islam (1)

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Pascasarjana Program Magister STAINU Jakarta, Prof. DR. Ishom Yusqi, MA di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur Jakarta, Jum`at (1/11)

Ribath Nurul Hidayah

Dalam kesempatan itu Prof. Ishom menyebutkan paling tidak ada empat point penting yang membuat Islam Nusantara perlu digemakan, ia memulainya dengan kondisi Timur Tengah yang saat ini dilanda konflik.

“Timur Tengah sedang dilanda krisis politik, kita tidak bisa mengandalkan Timur Tengah, Iran? Iran belum sepenuhnya diterima masyarakat Islam dunia, nah Islam Nusantara ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan mampu menjadi alternatif kiblat dan kebanggaan dunia Islam, Mesir itu Negara Islam paling produktif menulis dibandingkan yang lain, kalau konfliknya tidak selesai apa lagi sampai hancur-hancuran, habis peradaban Islam itu,” tegasnya

Ribath Nurul Hidayah

Kedua, lanjut Prof. Ishom, saat ini organisasi transnasional sudah mulai tumbuh dan berkembang, jika hal ini tidak dibendung dampaknya adalah akan mengikis habis nilai-nilai kenusantaraan yang sudah ditanam oleh para pendiri bangsa Indonesia.

“Dulu ada transnasional di Indonesia, PKI (Partai Komunis Indonesia), tapi kemudian saat itu bergejolak, nah sekarang ada HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang sudah masuk ke lapisan masyarakat bawah sampai atas, melalui halaqah-halaqah, masuk ke sekolah-sekolah dan kampus, buku, demokrasi itu sistem kafir, taghut dan seterusnya, padahal ulama nusantara sudah sepakat bahwa Indonesia itu tidak perlu daarul islam, tapi darusalam,” imbuhnya

Selain HTI, Prof. Ishom pun menyebut Ikhwanul Muslimin yang sudah masuk ke Indonesia dengan “chasing” yang berbeda, hal ini dapat dilihat dari referensi atau bacaan wajib mereka, yaitu buku Ma’tsurat-nya Hasan Al-Bana.

Selanjutnya Prof. Ishom menyebutkan point ketiga pada unsur empat pilar (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945) yang saat ini berada dalam ancaman kelompok yang hendak membuang dan menggantinya dengan ideologi dan ajaran yang dibawa oleh mereka.

Terakhir, Prof. Ishom menyebutkan ciri-ciri dan Islam Nusantara, yaitu Keindonesiaan, Keislaman dan Keaswajaan dengan prinsip attasamuh, attawasuth, al-I’tidal dan attawazun.

“Islam Nusantara itu orang Indonesia yang beragama Islam, Identitas Indonesianya ditunjukan, jangan kemudian belajar ke Arab, Yaman, Pakistan dan lainnya, Indonesianya jadi hilang, kalau tinggalnya disana ya tidak apa-apa, tapi kalau KTP-nya masih Indonesia ya tidak bisa, tidak bisa meng-Arab-kan Indonesia, Me-Yaman-kan Indonesia atau mem-Pakistan-kan Indonesia, jadi mesti meng-Indonesia. Begitu juga sebaliknya, jangan kemudian pulang dari Inggris atau Eropa disini cium pipi kanan-kiri, dan sebagainya” ungkapnya

Untuk itu Islam nusantara ini mesti bangkit dan terus dikaji, Prof. Ishom pun mengakui bahwa sebenarnya umat Islam Indonesia yang berkualitas dan produktif cukup banyak jumlahnya, namun kendala yang dihadapi adalah Bahasa Indonesia tidak diakui PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai bahasa Internasional, berbeda dengan Bahasa Arab yang diakui oleh PBB sebagai bahasa Internasional, namun kendala itu tidak terlalu mengganggu untuk membangkitkan Islam Nusantara ini. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Doa Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 16 November 2017

Lembaga Dakwah PWNU Jateng Gelar Pelatihan Dakwah Transformatif

Batang, Ribath Nurul Hidayah. Selama dua hari, Sabtu-Ahad (3/9-4/9) Lembaga Dakwah PWNU Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Dakwah Transformatif. Kegiatan yang dihelat di Pendopo Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini dihadiri 60 muballigh NU dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, KH Syamani Syarani, Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jateng mengapresiasi langkah Lembaga Dakwah PBNU dalam mengembangkan potensi dan kompetensi Pengurus Wilayah NU di Jawa Tengah. ?

Lembaga Dakwah PWNU Jateng Gelar Pelatihan Dakwah Transformatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah PWNU Jateng Gelar Pelatihan Dakwah Transformatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah PWNU Jateng Gelar Pelatihan Dakwah Transformatif

"Alhamdulillah akhirnya kegiatan ini bisa terselenggara dengan dukungan berbagai pihak, khususnya Pemkab Batang. Terima kasih kepada Kiai Wahfiudin telah mengajak Bupati Batang, H. Yoyok Riyo Sudibyo turut mendukung acara ini," jelas Kiai Syam’ani.

Kabag Kesra Pemkab Batang, A. Handy Hakim, sangat mendukung program ini. "Pak Yoyok mohon maaf tidak bisa bergabung karena sedang tugas ke luar kota. Pemkab Batang sangat terbantukan dengan dakwah yang disampaikan oleh dai-dai NU," ujarnya mewakili Bupati.?

Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abu Hafsin mengutarakan jika dai NU harus mampu menjadi agen perubahan. "Dunia dakwah memerlukan dai yang spiritual. Maka kita perlu belajar tasawuf," pungkasnya saat diminta membuka pelatihan.

Ribath Nurul Hidayah

Turut hadir dalam pembukaan, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU, KH. Wahfiudin Sakam; Dandim Batang, Kapten Purbo Suseno; Wakapolres Batang, Inspektur Polisi Satu Marsono serta Ketua Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya Korwil Jawa Tengah, KH. Anhari. (Nugraha Romadhan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 November 2017

Kompetisi Madrasah Tingkat Nasional Siap Digelar

Subang, Ribath Nurul Hidayah. Setelah melewati kompetisi di tingkat Kabupaten dan Provinsi se-Indonesia, para pelajar madrasah yang jadi pemenang di masing-masing provinsi akan segera mengikuti kegiatan Kompetisi Madrasah tingkat nasional di Palembang, Sumatera Selatan. Senin-Jumat (3-7/8)

Kompetisi Madrasah Tingkat Nasional Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompetisi Madrasah Tingkat Nasional Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompetisi Madrasah Tingkat Nasional Siap Digelar

Basnang Said salah seorang panitia nasional mengungkapkan bahwa kegiatan ini terbagi menjadi 4 kelompok.

"KSM (Kompetensi Sains Madrasah), Aksioma (Ajang Kompetensi Seni dan Olahraga Madrasah), LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) dan Ekspo Madrasah," katanya melalui pesan elektronik, Senin (3/8) malam.

Ribath Nurul Hidayah

Kasi Kurikulum Madrasah Kemenag RI ini melanjutkan, para peserta dalam kegiatan ini akan diikuti oleh 3000 pelajar terbaik se-Indonesia mulai dari tingkat MI (Madrasah Ibtidaiyah), MTs (Madrasah Tsanawiyah), dan MA (Madrasah Aliyah).

Ribath Nurul Hidayah

"Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama," ujar Basnang yang juga Ketua LP Maarif NU Sulawesi Barat ini.

Dosen STAINU Jakarta ini menambahkan, beberapa kegiatan yang akan dilombakan diantaranya terdiri dari berbagai macam cabang olahraga, MTQ, pidato bahasa Arab dan Inggris, kesenian, hadrah, dan beberapa mata pelajaran sekolah. Ia juga menyatakan bahwa semua kegiatan perlombaan antar pelajar madrasah swasta dan negeri ini sudah matang dan siap digelar. (Aiz Luthfi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 08 November 2017

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah

Perdamaian adalah syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk hidup makmur dan sejahtera. Dalam hidup bersama yang damai, terbuka kesempatan luas bagi suatu bangsa untuk berkembang membangun diri dan mencapai tujuan bersama. Situasi damai suatu bangsa membutuhkan relasi yang berkeadilan dalam berbagai aspek kehidupan dan mendasarkan diri pada relasi penuh kasih.

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Pengasuh Pondok Pesantren as-Salafiyah Mlangi, Gus Irwan Masduqi di Yogyakarta, Ahad (31/1/2016) menyatakan, gerakan radikalisme memakai dalil kitab suci sebagai legitimasi gerakan untuk membenarkan ideologi mereka. Masalah tafsir kitab suci juga memberi pengaruh cukup besar terhadap umat dalam memahami Islam.

"Jika perbedaan ini dijadikan sebagai dasar perpecahan bahkan menjadi dasar untuk melakukan kekerasan, tidaklah tepat. Rahmatan lil alamin tidaklah hanya kepada sesama umat muslim saja, melainkan kepada setiap orang, juga terhadap binatang dan tumbuh tumbuhan," ujar Gus Irwan pada acara bertajuk ‘Kenduri Kebangsaan: Islam Pelopor Perdamaian Indonesia-Yogya Istimewa Menolak Radikalisme’.

Ia mengungkapkan, di Yogyakarta saat ini banyak mengalir aliran dana untuk mendukung gerakan ISIS. Dana tersebut didistribusikan untuk mendoktrin paham radikal guna merekrut massa. Irwan juga menuturkan, Suriah beserta konfliknya sebenarnya bukanlah konflik agama, namun akhirnya memakai dalil agama sebagai alatnya. Jihad pada awalnya adalah untuk membela diri dari ancaman. Menolong orang miskin, memerangi kemiskinan, menolong orang lain itu juga termasuk Jihad.?

Ribath Nurul Hidayah

Di Yogya, lanjutnya, sudah bertebaran spanduk maupun baliho yang menyatakan bahwa Syiah bukan Islam. Setelah hal tersebut ditelisik ternyata sumber dananya berasal dari Arab Saudi yang tujuannya untuk mengadu domba aliran Syiah yang ada di Indonesia.

Islam masuk di Indonesia, imbuhnya, tidak melalui perang, melainkan melalui jalur budaya. Hal tersebut berbeda dengan Islam Wahabi yang menghancurkan situs-situs peninggalan peradaban nenek moyang.

"Kalau aliran Wahabi yang masuk di Indonesia maka Borobudur sudah lama hilang. Tapi marilah kita menjadikan Islam yang ada di Jogja ini sebagai Islam yang ramah, santun, menghargai budaya dan bukan Islam yang pemarah," ujar Wakil Sekretaris PP Lakpesdam NU itu. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sholawat, Aswaja, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Senin, 23 Oktober 2017

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Sabtu, 09 September 2017

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Keberagamaan umat Islam di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami yang cukup signifikan. Tahun 1990-an ke bawah, tidak banyak masyarakat muslimah Indonesia yang mengenakan jilbab dan hijab. Apalagi cadar. Tapi, saat ini muslimah Indonesia yang berjilbab, berhijab, dan bahkan bercadar semakin marak.

Selain itu, istilah syar’i dan hijrah juga semakin mengemuka ke tengah-tengah masyarakat belakangan ini, terutama di kalangan artis dan publik figur. Contoh kecil, kerudung dianggap syar’i manakala memiliki ukuran yang lebar hingga menutupi seluruh badannya. Sedangkan, kerudung kecil dianggapnya kurang –bahkan tidak- syar’i. Itu baru segi pakaian. Masih ada hal-hal lainnya yang dilabeli dengan istilah syar’i.

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Begitupun dengan hijrah. Terma ini semakin ngehits dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan para publik figur yang berkecimpung di dunia pertelevisian pun cukup vokal dalam mengkampanyekan istilah hijrah ini. Diantara indikator yang disematkan untuk hijrah adalah –misalnya- berkerudung syar’i atau bercadar, berjenggot lebat, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. 

Lalu, Bagaimana pola keberagamaan umat Islam saat ini? Apakah hijrah berarti sebagaimana yang digambarkan di atas? Bagaimana melihat fenomena syar’i yang berkembang seperti sekarang ini? Bahkan ada beberapa institusi perguruan tinggi yang dilaporkan melarang dosen ataupun mahasiswanya untuk mengenakan cadar atau niqab. Bagaimana melihat fenomena seperti itu.

Jurnalis Ribath Nurul Hidayah, A. Muchlishon Rochmat, mewawancarai Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Umam, terkait dengan hal-hal tersebut di atas. Ia juga diamanati untuk menjadi Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Berikut wawancaranya:

Keberagamaan umat Islam di Indonesia saat ini seperti apa, Pak Umam?

Ribath Nurul Hidayah

Secara umum ada perubahan pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Perubahan itu belum tentu substantif, tetapi perubahan itu kelihatan dari sisi luarnya dan kemasannya. Sekarang, simbol-simbol Islam itu semakin jelas. Simbol-simbol tersebut belum tentu mencerminkan kualitas kesalehan masyarakatnya. Dulu jilbab jarang dipakai orang, tetapi sekarang banyak sekali yang memakai jilbab. 

Apa yang menyebabkan seperti itu? Maksudnya maraknya simbol-simbol keislaman tersebut?

Ribath Nurul Hidayah

Televisi, media cetak, dan maraknya media-media sosial telah membantu untuk memperlihatkan perubahan-perubahan tersebut. Dan itu mau tidak mau juga ikut mempengaruhi perilaku umat Islam Indonesia. Ada yang sekedar ikut tren karena jilbab menjadi tren. Meskipun ada seseorang yang berubah karena kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari ajaran Islam.

Jadi, grafik keberagamaan kita semakin naik?

Kita belum memiliki data yang valid untuk menggambarkan sebarapa jauh dan meningkatnya perubahan itu. Tetapi secara umum kita bisa melihat dari jumlah pengajian, masjid dan mushola yang terus bertambah, semakin maraknya lembaga-lembaga amil zakat karena dipicu oleh kesadaran berzakat yang semakin meningkat. Itu menunjukkan ada tren keberagamaan itu meningkat lebih baik. 

Tapi di sisi lain, ada tren-tren baru perlu mendapatkan perhatian. Ada orang yang hanya berhenti kepada simbol-simbol agama semata. Misalnya kalau mau dianggap islami maka kenakanlah jilbab model ini atau berpakaian tertentu. Padalah agama tidak hanya itu. Yang lebih substantif adalah dari segi isi keberagamaan itu. Simbol itu penting juga, tetapi jangan berhenti pada simbol karena simbol itu mudah dihilangkan dan dilepaskan.

Memang ada perubahan dalam keberagamaan ini, tetapi masih belum terlalu yakin bahwa perubahan itu sudah mengubah juga substansi para pemeluknya itu. Yang saya lihat masih sebatas pada simbol luarnya. Kita lihat kejadian-kejadian sosial yang tidak sesuai dengan ajaran agama seperti korupsi. Di satu sisi, itu menerangkan bahwa tampilannya sudah menunjukkan seolah-olah dia pengamal agama yang baik tetapi di sisi lain ternyata tidak demikian.

Belakangan ini, marak istilah syar’i di kalangan umat Islam misalnya ada istilah hijab syar’i. Bagaimana Anda melihat itu?

Kalau niatnya baik itu patut diapresiasi tetapi saya khawatir ini hanya tren sesaat. Jangan lupa bawa dibalik tren syar’i itu juga ada kepentingan ekonomi yang besar. Misalnya industri garmen semakin menguat dengan adanya tren syar’i ini. 

Kalau niatnya adalah supaya orang sadar akan ajaran agama, saya kira itu bagus. Tetapi jangan sampai berhenti di situ dan jangan terjebak kepada jargon-jargon sesaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah menata perilaku sehingga sesuai dengan ajaran syariat Islam. Tidak berhenti di pakaian saja. 

Ada yang ‘memanfaatkan’ tren syar’i ini secara ekonomi?

Kritikan saya seperti ini, di balik jargon syar’i itu jelas ada kepentingan ekonomi. Apapun yang terkait dengan syar’i itu dikampanyekan dengan market. Di bisnis garmen, makanan, penerbangan itu kan ada pemain-pemain lama. Kemudian ada pemain baru yang ingin mendapatkan ‘kue’ ekonomi itu. Sehingga kalau misalnya mereka bersaing di sektor lama mereka tidak akan berhasil. Sehingga hal-hal yang sifatnya syar’i ini menjadi jargon marketing yang luar biasa. 

Orang terdorong untuk melakukan sesuatu karena itu adalah bagian dari implementasi agama. Pada tataran pelakunya mungkin mereka sadar ingin berubah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang memanfaatkan itu tadi. 

Bukankah itu bagus untuk mendorong ekonomi baru?

Sebetulnya ini positif untuk mengembangkan ekonomi. Salah satu yang mendorong ekonomi adalah bagaimana orang membelanjakan uangnya itu. Di satu sisi seperti itu. Tetapi jangan kemudian menganggap bahwa Indonesia lebih islami dengan adanya tren seperti itu. Karena indikator yang lain di luar tampilan fisik itu belum terpenuhi.

Lalu, apa saja indikator yang menunjukkan bahwa itu islami?

Misalnya kejujuran, tidak korupsi, adil terhadap semua orang, dan lainnya. Sampai saat ini, saya masih belum sepenuhnya yakin bahwa jargon syar’i itu adalah indikasi masyarakat Indonesia secara umum itu menjadi lebih islami.

Selain Syar’i, istilah hijrah juga ngehits saat ini. Hijrah diidentikkan misalnya dengan bercadar, bercelana cingkrang, berkening hitam, dan berjenggot lebat. Apakah hijrah memang seperti itu?

Hijrah tidak hanya sekedar itu. Itu hanya bagian luar dan tidak substantif. Kalau mau hijrah ya harus total. Tidak hanya tampilan luarnya saja, tetapi juga harus disertai dengan perubahan perilaku, sikap, dan cara berpikir ke arah yang lebih baik.

Ini kan korban dari kampanye dari televisi dan media sosial. Jangan menyimplifikasi agama misalnya kalau sudah mengubah cara berpakaian maka kemudian menjadi lebih islami. 

Mungkin betul bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melarang seseorang yang berpakaian terlalu panjang dan melebihi mata kaki. Tetapi konteksnya kan berbeda. Saat itu, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu ada kesombongan maka kemudian Nabi melarang itu.

Sekarang di balik, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu apakah mereka ada kesombongan. Jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya; orang yang berpakaian cingkrang itu ada dirinya merasa lebih baik dari pada orang lain. Kalau begitu, berarti dia yang sombong. Karena mereka merasa lebih islami, mengikuti hadis Nabi, dan merasa lebih dekat dengat Tuhan. Berarti kan ada kesombongan itu.

Begitupun yang berkening hitam. Jangan sampai mereka yang berjidat hitam merasa lebih lama sujudnya dari orang lainnya. Menghitamkan kening itu mudah. Saya memiliki banyak kiai yang ahli sujud, tetapi keningnya tidak hitam. Justru wajahnya bersih-bersih. 

Berarti titik tekan dari hadis Nabi Muhammad tersebut pada ada tidaknya kesombongan dalam berpakaian?

Konteks larangan hadis tersebut adalah agar orang tidak sombong. Sekarang itu harus dikaji lagi. Saat ini yang sombong siapa? apakah orang yang bercelana melebihi mata kaki itu? Ataukah orang yang bercelana cingkrang?

 

Kalau kebiasaan atau ‘urf itu menunjukkan bahwa berpakaian melebihi mata kaki itu baik dan tidak ada kesombongan sama sekali, lalu kenapa harus dirubah dan dikampanyekan untuk bercelana cingkrang.

Makanya, agama itu jangan disimplifikasikan dengan penampakan pakaian saja. Mari kita ukur; apakah mereka berbuat baik dengan tetanga, apakah mereka peduli dengan orang miskin. 

Ada institusi pendidikan yang melarang mahasiswinya memakai cadar. Bagaimana itu?

Ajaran agama itu muncul berdasarkan tantangan lokasi dan waktu tertentu. Cadar itu muncul di negara padang pasir untuk melindungi dari pasir. Cadar itu kan bukan pakaian islami yang absolut. Pakaiaan itu adalah budaya. Yang menjadi kewajiban bagi muslim dan muslimah adalah menutup aurat. Dan batasan-batasan aurat sendiri itu kan juga menjadi perdebatan ulama hingga melahirkan pendapat yang berbeda. 

Kalau kita merujuk pendapat yang menyatakan bahwa aurat yang harus ditutupi adalah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak ada keharusan untuk mengenakan cadar.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyesuaikan pakaian dengan budaya setempat. Bukankah ada kaidah fikih yang menyebutkan bahwa al-‘adah muhakkamah (adat itu bisa dijadikan hukum). Selagi kebiasaan sebuah masyarakat tidak bertentangan dengan agama dan agama tidak mengatur, maka itu tidak ada masalah.

Terkait dengan larangan bercadar di kampus, pak?

Ketika institusi negara melarang orang bercadar itu mungkin ada alasan untuk mengenali dan mengetahui seseorang itu. Karena orang tidak bisa mengenali orang yang bercadar dengan pasti. Sementara di sebuah institusi itu perlu kepastian bahwa seseorang yang dimaksudkan adalah benar-benar si A dengan identitas yang disebutkan itu.

Bagaimana menguji seseorang kalau hanya lewat cadar. Kalau semuanya tertutup, tidak ada alat untuk memastikan bahwa dia memang nama yang tertulis itu. 

 

Dalam konteks ini, wajar kalau sebuah institusi meminta kepada mereka yang bercadar itu untuk melepasnya. At least dalam waktu-waktu yang dibutuhkan untuk mengkorfirmasi identitas seseorang tadi. Hal itu berbeda kalau mereka di luar institusi, silahkan saja mereka mengenakan cadar.  

Sebuah pernyataan dari Prof Azyumardy Azra bahwa Islam Indonesia yang dikenal ramah, moderat, adaptif terhadap budaya setempat itu is too big to fail. Apakah sepakat dengan statement itu atau bagaimana?

Saat ini, Islam Nusantara is too big to fail iya benar. Karena mayoritas masyarakat muslim Indonesia masih mengamalkan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi setempat.

Tetapi kalau tren konservatifme Islam tidak diantisipasi oleh semua pihak dan dibiarkan menguat -misalnya pola keberagamaan ala Saudi dibiarkan bebas, dikampanyekan, diajarkan sehingga membid’ah-bid’ahkan yang lainnya- maka model Islam Indonesia seperti saat ini akan berubah lima puluh seratus tahun ke depan.

Maka saya baik secara pribadi maupu secara institusi merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia secara umum, NU, Muhammadiyah, untuk bekerjasama dan melakukan upaya-upaya yang lebih konstruktif dalam mengimbangi dakwah Islam model kaku seperti itu. Model yang mungkin cocok di Arab, tetapi menurut saya itu tidak pas diterapkan di Indonesia.

Kalau dakwah-dakwah model salafi wahabi itu dibiarkan, maka dalam jangka panjang itu akan mengubah keberagamaan Indonesia. Sekarang kan sudah kita temukan fakta-fakta di lapangan bahwa orang seperti ini semakin banyak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU, Jadwal Kajian, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 31 Agustus 2017

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tanggamus, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tanggamus menggelar Musyawarah Kerja Cabang di Kantor NU setempat, Tanggamus, Lampung, Ahad (27/9). Muskercab pertama ini dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Tanggamus, Syamsul Hadi.

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati Buka Muskercab Pertama PCNU Tanggamus

Tampak hadir di dalam aula gedung yang terletak di Kecamatan Gisting ini seluruh pengurus PCNU Tanggamus dan MWCNU dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Peserta Muskercab juga terdiri dari seluruh ketua dan sekretaris badan otonom NU, seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, ISNU, dan Pagar Nusa.

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Tanggamus, H. Amir Harun, dalam Muskercab tersebut terdapat dua komisi yang masing-masing membahas materi berbeda. Komisi A membidangi organisasi dan program kerja dan Komisi B membahas Rekomendasi," jelas Amir melalui akun Facebook miliknya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia menambahkan bahwa dalam Muskercab kali ini juga disampaikan materi dari beberapa Dinas Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus. Dinas yang menyampaikan materi antara lain dari Bappeda, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, serta Dinas Peternakan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Fragmen, IMNU Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 04 Agustus 2017

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur gelar Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang terakhir di auditorium Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Pterongan, Jombang. Ahad (8/5/2016).

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Muskercab, PCNU Jombang Sikapi Radikalisme Global

Dalam Muskercab ini, segenap pengurus cabang akan melihat serta mengevaluasi sejumlah program yang telah dilaksanakan, juga yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan (2017).

Untuk program yang akan dilaksanakan, di samping bersifat merampungkan program kerja yang telah ditentukan sebelumnya, PCNU setempat juga berupaya membaca situasi dan kondisi yang menurutnya penting untuk disikapi melalui perumusan program-program kembali.

Misalnya, paham Islam garis keras yang kian hari semakin massif di sejumlah daerah. Menurut KH Isrofil Amar, Ketua PCNU Jombang, belakangan ini sudah terdapat simbol-simbol dari paham tersebut, baik dari penyebaran video di internet ataupun gambar-gambar yang memicu terhadap kelompok terkait.

Ribath Nurul Hidayah

"PCNU Jombang sudah beberapa kali mendapat video-video yang berbau paham Islam radikal," katanya saat menyampaikan sambutannya di hadapan tamu undangan dan peserta Muskercab.

Hal ini, tentu menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia, terutama warga nahdliyin di Tanah Air. Sebab paham tersebut mengancam ketentraman tatanan kebangsaan dan kebhinekaan. Untuk itu, Kiai Isrofil mengimbau kepada masyarakat NU untuk merapatkan barisan menyikapi kondisi demikian.

Ribath Nurul Hidayah

"Nahdlatul ulama akan merapatkan barisan rerkait isu-isu yang pada akhirnya seperti partai komunis, karena NU tetap akan setia pada NKRI dan Pancasila," terangnya. .

Ia menambahkan, upaya untuk menghalau gerakan tersebut, NU akan berkoordinasi dengan pihak pemerintah. Kerjasama tersebut dipandang sangat efektif daripada melakukan gerakan secara mandiri. "Nahdlatul Ulama tidak berdiri sendiri namun harus juga dengan pemerintah," imbuhnya.

"Mudah-mudahan pada Musker ini dapat memberikan pencerahan-pencerahan..Sekali NU kita tetap NU, kita terus akan melanjutkan perjuangan ulama, terutama para pendiri Nahdlatul Ulama," lanjutnya. (Syamsul Arifin/Fathoni) . Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah IMNU Ribath Nurul Hidayah