Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 



Ada kabar yang cukup membanggakan dari Liga Santri Nusantara (LSN). Di tahun ketiga penyelenggaraannya, Liga Santri ternyata sudah berhasil menarik perhatian internasional. 

Kali ini perhatian datang dari pesohor bola Amerika Serikat, Ethan Zohn. Mantan pemain Timnas Amerika Serikat yang kini aktif di kegiatan amal dan kegiatan komunitas itu tertarik untuk memantau antusiasme kaum santri dalam sepakbola. Bahkan Ethan Zohn berencana untuk berkunjung langsung ke pesantren yang memiliki interest pada sepakbola.

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bintang Bola Amerika Pantau Liga Santri

Deputy Cultural Attache Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia, Jed Taro Dornburg, menggelar pertemuan dengan jajaran Direksi LSN, Selasa (12/9). 

"Ethan akan berkunjung ke Indonesia selama 7-15 Oktober ini. Dia sangat tertarik untuk melihat bagaimana para santri bermain bola. Dia ingin berkunjung langsung ke pesantren dan berinteraksi dengan para santri di tengah-tengah lawatannya," terang Jed.

Ribath Nurul Hidayah

Seperti diketahui, Ethan Zohn adalah co-founder Grassroot Soccer (GRS). Grassroot Soccer merupakan organisasi nirlaba yang menggunakan sepakbola untuk memperkuat masyarakat, terutama kaum muda, termasuk pelatihan sepakbola untuk anak-anak.

Sementara itu, Cornelius Ariyanto, salah seorang Direktur Liga Santri menyatakan apresiasinya ataa kunjungan tersebut. 

Ribath Nurul Hidayah

"Ini merupakan reward bagi Liga Santri dan kalangan pesantren. Sekaligus membuktikan bahwa Liga Santri sudah mulai diperhitungkan. Kalau tahun kemarin kita sudah menghasilkan alumni di Timnas Garuda Nusantara, alhamdulillah tahun ini kita mulai dilirik pemain profesional dunia."

Terkait dengan rencana kuniungan bintang bola Amerika ini, Irham Saifuddin, Direksi lainnya di Liga Santri menyatakan, tujuan utama Liga Santri bukan hanya mencetak pemain bola profesional untuk nantinya berkhidmah pada tanah air saja.

“Alasan utama Liga Santri merupakan media untuk mengkomunikasikan dunia santri kepada dunia luar, termasuk kalangan internasional. Bahwa pesantren merupakan kekayaan khazanah keislaman dan secara tulus terbuka terhadap sekat-sekat agama, etnisitas, ras atau pun sekat primordialistik lainnya. Liga Santri adalah merupakan media diplomasi kebudayaan kita, kaum santri, kepada dunia global," pungkas Irham. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Sunnah, Nusantara, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Februari 2018

Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, PWNU Jakarta Masih Tidur

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Warga dunia di kawasan Asia Tenggara sebentar lagi menghadapi pasar baru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Kesiapan pengurus NU mendampingi warganya, belum merata di setiap tingkatan dan di setiap daerah. PWNU DKI Jakarta yang berada di salah satu pasar besar di Indonesia, belum terlihat berbuat sesuatu.

Demikian disampaikan Ketua PP Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) H Mustolihin Madjid pada rapat audit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan lajnah serta lembaga juga banom NU di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Selasa (14/10) sore.

Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, PWNU Jakarta Masih Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, PWNU Jakarta Masih Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015, PWNU Jakarta Masih Tidur

“Pasar bebas ASEAN 2015 ini sudah sebentar lagi. Kalau kita tidak serius bekerja, pedagang kecil kita bisa habis digulung produk dan tenaga kerja dari luar. Pasar tunggal ini mesti jadi perhatian kita bersama, terutama NU DKI yang hampir tidak berdenyut,” kata Mustolihin saat menyampaikan laporan keuangan LPNU untuk persiapan Munas-Konbes NU awal November 2014.

Ribath Nurul Hidayah

Di hadapan sejumlah pengurus pusat lajnah, lembaga, dan pengurus teras PBNU, Mustolihin mengingatkan banjirnya produk asing ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 belum dimulai. Bayangkan lima hingga sepuluh tahun mendatang akan seperti apa?

Ribath Nurul Hidayah

“Melalui ritel, produk asing sudah bisa menjangkau langsung konsumen kita melalui dua waralaba terkenal yang kini menggurita. Ini tidak main-main. Kita ini serius,” Mustolihin mempertanyakan peran advokasi PWNU Jakarta bagi nahdliyin yang membuka usaha kecil menengah dan memiliki keterampilan terbatas.

Warning ini, kata Mustholihin, juga peringatan bagi pengurus NU di lain wilayah dan cabang di seluruh Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 08 Februari 2018

Pelajar NU di Kudus Rapatkan Barisan

Kudus, Ribath Nurul Hidayah. Di tengah semakin maraknya paham radikalisme, para kader IPNU-IPPNU kecamatan Gebog Kudus terus merapatkan barisan. Setiap tanggal 15 bulan hijriyah, mereka yang notabene pelajar NU ini berkumpul dalam majlis pertemuan bertajuk "Padang Bulanan" yang bertempat di masjid desa secara bergilirian.

Dalam majlis itu, para kader membaca tahlil, bersholawat, membaca manaqib dan mendengarkan mauidhoh hasanah. Seperti Padang Bulanan di Masjid Husnul Khatimah dukuh Kebon Alas Besito Sabtu malam (4/4) yang bertepatan 15 Jumadil Akhir, mereka penuh semangat mengumandangkan sholawatan dengan iringan rebana yang dimainkan ratusan penabuh terbang kader IPNU.

Pelajar NU di Kudus Rapatkan Barisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Kudus Rapatkan Barisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Kudus Rapatkan Barisan

Ketua PAC IPNU Kecamatan Gebog Muhammad Noor Aris mengatakan Padang bulanan adalah salah satu wadah penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, penanaman amalan dan wawasan ke-NU-an dan kebangsaan bagi generasi muda NU.

Ribath Nurul Hidayah

"Di samping melaksanakan amalan aswaja seperti maulidan, tahlilan dan manaqiban, kader IPNU-IPPNU mendapat bekal wejangan ideologi dari tokoh NU maupun alumni IPNU yang kita hadirkan di majlis ini,"ujarnya kepada Ribath Nurul Hidayah, usai acara (4/4) lalu.

Dijelaskan, kegiatan padang bulanan ini merupakan program lanjutan IPNU-IPPNU Kecamatan Gebog periode sebelumnya. Pada periode kepemimpinannya, kata Aris, sudah memasuki putaran kedua setelah bergiliran di 11 desa di wilayah kecamatan Gebog.

Ribath Nurul Hidayah

"Kita sengaja bertempat di masjid dalam upaya mendekatkan kader NU dengan jamah dan rumah Allah ini. Termasuk berupaya menjaga masjid dari ancaman paham radikalisme,"ungkap Aris.

Mengapa namanya padang bulanan? Aris menjelaskan pelaksanaanya karena memanfaatkan tanggal !5 bulan hijriyah dimana malam itu bersamaan munculnya padang bulan purnama. "Yang jelas dengan adanya cahaya bulan purnama, bisa menjadi momentum yang mencerahkan buat kader IPNU-IPPNU,"imbuhnya.

Disamping itu, Padang Bulanan ternyata mampu sebagai sarana untuk konsolidasi organisasi dan berbagai informasi kegiatan rutinan yang dilaksanakan oleh IPNU-IPPNU Gebog. Begitu juga, dengan adanya rebana bisa menjaga syiar seni terbang tetap lestari.

"Semoga melalui kegiatan ini kader NU semakin bertambah mahabbahnya kepada Rasuluillah dan memperkuat syiar Islam Aswaja di kampung-kampung. Para kader juga mampu memaksimalkan kesempatan supaya kelak menjadi pewarna kebaikan di masyarakat seutuhnya," tandasnya. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, AlaSantri, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tangerang, Ribath Nurul Hidayah. Menjelang dilaksanakannya Konfercab IV Nahdlatul Ulama Kota Tangerang 20 Mei 2015. Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Kecamatan Jatiuwung menggelar Diklatsar Banser yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah. Pelatihan yang diadakan selama 3 hari (15-17 Mei) diikuti oleh 30 peserta.

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tentunya kegiatan ini sebagai bentuk regenerasi Banser di Kota Tangerang. Selama 3 hari mereka dibekali pengetahuan baik itu mengenai keorganisasian, ke-NU-an sampai materi-materi kemiliteran. 

“Sudah pasti ketika mereka berhasil dan lulus mengikuti kegiatan Diklatsar, mereka siap diterjunkan untuk pengamanan Konfercab IV NU Kota Tangerang sebagai tugas pertama mereka,” ujar Hartono ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatiuwung.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir memberikan motivasi H. Ahmad Imron (Ketua PW Ansor Banten). Dalam kesempatan itu Imron menyampaikan mengenai sejarah Ansor dalam menghantarkan kemerdekaan Indonesia dan berharap kader-kader baru Banser ini menjadi kader yang rahmatan lil ‘alamin, yang siap siaga menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk makar yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan Pancasila dan UUD 1945. (atho al farhan/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Lomba Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), K.H Nuril Huda mengaku kecewa dengan sejumlah elite partai politik (Parpol) yang berupaya mengintervensi Kongres PMII ke XVIII, dengan praktik politik uang. Kongres PMII XVIII berlangsung di Asrama Haji Jambi, Jumat 30 Mei-Kamis 5 Juni.

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril: Elite Parpol Jangan Rusak PMII

“Bangsa ini sedang krisis moral. Bukan krisis ekonomi. Kalau generasi mudanya dirusak juga sangat disayangkan. PMII ini anak-anak muda yang masih bersih, idealis. Kalau ada Parpol yang mengintervensi Kongres apalagi mengajari money politik, pertanggungjawabannya sampai akhirat,” tandas Kiai Nuril, Sabtu (31/5).

Keprihatinan pendiri PMII itu disampaikan saat mendengar adanya indikasi intervensi Parpol melalui calon tertentu dengan menghalalkan politik transaksional. Menurut Kiai Nuril, Parpol dan elite politik lain hanya boleh membantu pelaksanaan kongres, sebatas bantuan kepada panitia. Bantuan itu pun harus tanpa syarat.

Ribath Nurul Hidayah

Ia mengajak para alumni dan simpatisan PMII yang berada di lintas Parpol dan lintas profesi, untuk menyadari pentingnya regenerasi di tubuh organisasi Mahasiswa penggerak ahlu sunnah wal jam’ah (Aswaja) itu dan membantu pelaksanaan kongres, tanpa harus mengintervensi apalagi mengajarkan praktik money politik yang? bertentantang dengan prinsip Aswaja.

“Kalau sekedar membantu, tanpa syarat tak mengapa. Tapi kalau mengintervensi ini merusak.? PMII ini tempat latihan para calon pemimpin nasional. Ini satu-satunya organisasi Mahasiswa yang konsisten memperjuangkan nilai Aswaja, toleran, berkeadilan, moderat dan yang terpenting kejujuran. Jangan merusak idealism anak-anak muda ini,” paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Nuril mengungkapkan, selama ini ia bersama para kiai sepuh, pendiri PMII dan sejumlah alumni yang memilih melanjutkan perjuangan di ranah akademik dan pesantren,? selalu mendoakan PMII, lahir dan bathin.

“Lahir bathin kami selalu berdoa agar generasi muda Aswaja ini bisa melanjutkan estafet keulamaan, yang arif, bijaksana dan bermanfaat bagi ummat dan bangsa ini. Di manapun alumni PMII berkiprah harus berpikir untuk kemaslahatan ummat. Jangan malah melanggar nilai etis dan menghancurkan ummat,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Addin Jauharuddin, menyerukan agar para peserta Kongres tidak terjebak pada politik transaksional dan melanggar nilai idealisme Aswaja.

“Kontestan calon ketua umum harus bersaing secara sportif dengan mengunggulkan prestasi, gagasan dan program kerja bagi seluruh kader PMII di berbagai kampus di Indonesia. Hilangkan praktik-praktik transaksional dan politik uang yang diback up oleh partai-partai politik tertentu, terutama partai politik yang selalu mengklaim mengatasnamakan pejuang ahlu sunnah wal jamaah," tandas Addin, seperti dikutip Fajar Online, Jumat (30/5).

Addin mengungkapkan, kader PMII tidak dibenarkan mendukung calon ketua umum PB PMII yang terindikasi terlibat praktik politik uang dan disokong oleh partai politik tertentu. Terutama partai politik yang mengklaim pejuang Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Addin juga menyadari, pelaksanaan Kongres PMII kali ini berada dalam momentum yang cukup riskan, karena berlangsung beriringan di antara Pemilu dan Pilpres. Oleh karenanya, cukup banyak godaan serta intervensi pihak-pihak luar yang berkepentingan terhadap organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini.

"Namun kami mempunyai sikap yang jelas, bahwa kami merupakan organisasi mahasiswa yang independen. Kongres ke XVIII di Jambi, akan menghasilkan rekomendasi berupa gagasan, pemikiran terbaik mahasiswa yang akan kami tawarkan kepada capres-cawapres terbaik. Sebagai uji kelayakan dan kecakapan mereka sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara Indonesia," tambahnya.

PMII menyerukan kepada kader-kadernya di seluruh Indonesia untuk tidak memilih capres-cawapres yang di dukung oleh politisi busuk dan terbukti melakukan intervensi dengan agenda-agenda politiknya pada kongres PMII XVIII di Provinsi Jambi.

Untuk menghindari berbagai intervensi tersebut, PMII akan menyiapkan langkah-langkah antisipatif serta respon gerakan terhadap setiap usaha intervensi agenda politik pihak-pihak luar, baik perseorangan maupun dari lembaga dan partai politik.

"Kepada semua pihak dan seluruh elemen bangsa Indonesia agar saling menghormati dan menjunjung etika dalam setiap proses berbangsa dan bernegara, khususnya dalam pilpres 2014," ujar Addin. (Abdel Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Oleh Fathoni Ahmad

Ijtihad para ulama pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memang patut di acungi jempol. Terutama ketika bangsa Indonesia terancam perpecahan dan disintegrasi antar-anak bangsa sendiri. Perhatian para kiai memang begitu besar terhadap kerharmonisan kehidupan bangsa selama ini. Dasar negara Pancasila salah satu buah pikir para ulama yang menautkan nilai-nilai kental religiusitas sebagai pondasi persatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia.

Pun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945, namun justru ancaman pemberontakan dan disintegrasi bangsa muncul di mana-mana, antara lain pemberontakan yang dilakukan DI/TII dan PKI di Madiun pada tahun 1948. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengungkapkan gagasan salah seorang Pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menggelar halal bihalal untuk seluruh tokoh bangsa atas permintaan Bung Karno.

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Dari riwayat yang diceritakan Kiai Masdar itu, pada tahun 1948 yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

?

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

Ribath Nurul Hidayah

"Itu gampang,” kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahim yang diberi judul halal bihalal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah istilah halal bihalal gagasan Kiai Wahab lekat dengan tradisi bangsa Indonesia pasca-lebaran hingga kini.

?

Begitu mendalam perhatian seorang Kiai Wahab Chasbullah untuk menyatukan seluruh komponen bangsa yang saat itu sedang dalam konfik politik yang berpotensi memecah belah bangsa. Hingga secara filosofis pun, Kiai Wahab sampai memikirkan istilah yang tepat untuk menggantikan istilah silaturrahim yang menurut Bung Karno terdengar biasa sehingga kemungkinan akan ditanggapi biasa juga oleh para tokoh yang sedang berkonflik tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Kini, halal bihalal yang dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia lebih dari sekadar memaknai silaturrahim. Tujuan utama Kiai Wahab untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang. Begitu pun dengan orang yang dimintai maaf agar secara lapang dada pula memberikan maaf sehingga maaf-memaafkan mewujudkan Idul Fitri itu sendiri, yaitu kembali pada jiwa yang suci tanpa noda bekas luka di hati.

Dengan demikian, ditegaskan bahwa bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.

Istilah khas Indonesia

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadis sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah itu memang khas Indonesia. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab. Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh Kiai Wahab untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an asal Indonesia Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut. Pertama, dari segi hukum. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa acara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

?

Masih dalam tinjauan hukum. Menurut para pakar hukum, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala. Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak cenderung memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antarsesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbaga bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu.?

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimugnkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturrahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesan bahwa halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan. Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah di atas lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan di antara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Sebab itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif. Wallahu ‘alam bisshowab.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Daerah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 Desember 2017

Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Belakangan ini menyebar berita rumor bahwa ada anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang non-Muslim. Berita fiktif tersebut menyebar di berbagai media sosial dan menjadi bahan cemoohan para pengguna media sosial.

Kabar itu dipublikasikan bersamaan menampilkan foto kartu tanda anggota (KTA) Banser bernama Lie Tjin Kiong dengan nomor anggota XII-01.26.06.160003. Lie Tjin Kiong dituding sebagai non-Muslim China yang resmi menjadi anggota badan semiotonom Gerakan Pemuda Ansor NU itu.

Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser

Salah satu akun anonim di Instagram yang turut mempublikasikan hoax tersebut adalah @divisihumorpolitik. Dengan nada provokatif akun ini mengimbuhi foto tersebut dengan pernyataan, “Karena banser bukan hanya untuk orang islam.. Ahok pun dapat gelar santri Shalat kaga, sunat kaga banser itu kumpulan orang yg ga ada otaknya, idiot semua.”

Berdasarkan isi KTA tersebut, Lie Tjin Kiong resmi menjadi anggota Banser mulai 24 April 2016. KTA ditandatangani Ketua PW GP Ansor Jatim H Rudi Triwahid dan Kepala Satkorwil Banser Jatim dr H Umar Usman.

Ribath Nurul Hidayah

Rudi Triwahid meluruskan seputar hoax yang menyebar luas di dunia maya itu. Ia membenarkan isi KTA Lie Tjin Kiong namun membantah bahwa Lie adalah non-Muslim. "Benar KTA itu. Dia seorang mualaf. Dia ikut Diklatsar Banser pada tahun 2001. Siapa pun boleh menjadi anggota Banser," katanya sebagaimana dikutip Beritajatim.com.

Kepala Satkorwil Banser Jatim Gus Abid Umar menegaskan, Lie Tjin Kiong merupakan salah seorang pengurus Masjid Cheng Ho Surabaya yang telah mengikuti Diklatsar Banser. "KTA memang benar diteken oleh Kasatkorwil Banser Jatim yang lama, dr Umar Usman. Banser juga punya yang Londho. Tapi mereka beragama Islam," jelasnya. (Mahbib)

Ribath Nurul Hidayah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Meme Islam, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 05 Desember 2017

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama

Gorontalo, Ribath Nurul Hidayah

Provinsi Gorontalo kekurangan tenaga guru agama yang tersebar di semua sekolah di daerah itu, sehingga pemerintah provinsi (Pemprov) setempat segera mencarikan solusinya.

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gorontalo Kekurangan Tenaga Guru Agama

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Rabu, menjelaskan bahwa banyak guru-guru serta orang tua murid yang mengeluhkan ketersedian guru agama di sekolah, sehingga rencananya Pemprov Gorontalo akan menambah jumlah tenaga guru tersebut di setiap sekolah.

"Ini tentu memprihatinkan jika sekolah kekurangan guru agama, sebab ahlak siswa pun juga wajib dibentuk," kata Gubernur.

Ia menambahkan, Pemprov sudah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Gorontalo untuk segera mendatangi kampus IAIN Gorontalo untuk mencari guru agama.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah data kebutuhan guru agama diperoleh, lanjutnya, akan dilakukan perekrutan.

"Saya sudah meminta kepada Kepala dinas terkait untuk segera buat konsep dan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk mendata kebutuhan guru agama, termasuk koordinasi dengan Kanwil Agama Gorontalo," ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Gorontalo Weny Liputo menjelaskan, pihaknya akan merekrut tenaga guru agama baik Islam maupun non Muslim dan kepada mereka akan diberikan status honorer.

"Namun terkait persyaratan formal perekrutan guru agama, kami akan tetap koordinasi dengan Kementerian Agama Gorontalo," katanya.

Mengenai jumlah kebutuhan guru agama, ia menjelaskan bahwa dibutuhkan ratusan tenaga guru untuk tingkat SMA/SMK serta SLB. Jika ditambahkan dengan kebutuhan untuk tingkat SD-SMP maka jumlahnya akan lebih banyak lagi. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Nahdlatul, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menyatakan prihatin terhadap perusakan bangunan bersejarah Rumah Radio Bung Tomo yang ada di kawasan Surabaya tengah, tepatnya di Jalan Mawar Nomor 10 Kota Surabaya beberapa hari lalu.

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Protes Pembongkaran Situs Bersejarah Bung Tomo

"Kami prihatin atas perusakan salah satu situs bersejarah di Kota Surabaya yang terkait langsung dengan peristiwa besar nasional yakni perang 10 November 1945 (Hari Pahlawan) dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 (Hari Santri)," kata Ketua PCNU Surabaya H A Muhibbin Zuhri, kepada Ribath Nurul Hidayah saat dihubungi via WhatsApp.

Pembongkaran rumah radio Bung Tomo dianggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai sejarah bangsa dan perampasan atas hak warga Surabaya untuk menjaga sejarah dan melestarikan budaya bangsa. PCNU Surabaya juga menilai, pembongkaran rumah radio Bung Tomo tersebut sama halnya tidak menghargai perjuangan Bung Tomo yang juga santri KH Hasyim Asyari (pendiri NU) dan pejuang kemerdekaan lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Soal isu terakhir yang dibahas, yakni pelestarian cagar budaya Surabaya, Muhibbin Zuhri mengatakan pihaknya termasuk orang yang berkepentingan langsung. "Kami menempati, mengurus dan mengelola salah satu bangunan cagar budaya kelas A, yakni kantor HBNO (Hoofdbestuur Nahdlatoel Ulama) di Bubutan VI/2," jelas dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Menurutnya, tempat itu merupakan situs penanda Hari Santri Nasional, tempat dilahirkannya Resolusi Jihad yang meresonansi ke peristiwa Surabaya Battle (Hari Pahlawan). Bangunan ini terhubung dalam kesatuan peristiwa historis dengan Pahlawan Nasional Bung Tomo dan bangunan rumah radio yang dibongkar tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami siap bersinergi bersama elemen dan komunitas masyarakat Kota Surabaya yang juga intens memperjuangkan nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa di Surabaya untuk bersama menggugat pembongkaran rumah bersejarah tempat Bung Tomo mengobarkan semangat warga Surabaya pada pertempuran 10 november 1945," pungkas Muhibbin.

Seperti diberitakan sejumlah media, bangunan bersejarah tersebut dibongkar sebuah perusahaan alat kecantikan, PT Jayanata. Setelah rata dengan tanah, di lokasi itu akan berdiri sebuah galeri kecantikan. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, PonPes, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas

Gianyar, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, mengingatkan agar seluruh desa di Bali tetap fokus pada program prioritas yang telah ditetapkan pemerintah. Keempat program tersebut adalah menentukan produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades), mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membangun embung air desa, dan membangun sarana olahraga desa.

"Saya selalu mengingatkan agar dana desa yang telah digelontorkan dana desa diharapkan bisa difokuskan kepada empat program prioritas yang kita berikan," ujarnya. saat menghadiri The 4th Ubud Royal Weekend di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Sabtu (20/5).

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas

Menteri Eko menambahkan, agar desa dapat semakin mengembangkan potensinya, dirinya pun meminta untuk segera dibuat klasterisasi di desa baik di sektor pertanian, perikanan, maupun pariwisata. Dengan demikian, para pemangku kepentingan akan lebih mudah untuk menentukan pengembangan apa yang dapat dilakukan di desa tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Konsentrasi dan fokus pada produk unggulannya, Nanti kita akan kumpulkan kementerian terkait, dunia usaha, juga perbankan untuk membantu mengembangkan produk unggulan desa tersebut," katanya.

Sementara itu, Menteri Eko menilai Desa Ubud di Bali dapat menjadi salah satu model pengembangan desa wisata di Indonesia. Pembangunan embung pun dinilai potensial untuk semakin meningkatkan pengembangan pariwisata di lokasi ini.

"Untuk Ubud ini, karena pertanian masih sedikit, embung bisa untuk pariwisata atau perikanan yang dapat meningkatkan gizi masyarakat. Ini juga sejalan dengan program prioritas percepatan pembangunan desa," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, lanjut Menteri Eko, dirinya pun mengharapkan ada pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di kawasan ini. Dirinya juga meminta PT Mitra BUMDEs di kabupaten untuk turut membentuk mitra BUMDes di desa-desa sehingga ada pendampingan di tiap desa. Ke depan, standar yang diterapkan di BUMDes pun diharapkan dapat mengikuti perusahaan besar.

"Dengan begitu, bisa terjadi link and match antara perusahaan besar, UKM, dan pengusaha kecil di desa-desa. Karena yang selama ini menjadi problem UKM dan pengusaha kecil ini adalah mereka tak memiliki manajemen sumber daya manusia yang baik, distribusi, dan pemasaran," katanya.

Melalui link and match antara perusahaan besar dan UKM atau pengusaha kecil, lanjut sambungnya, nantinya UKM atau pengusaha kecil dapat menjadi pemasok bagi perusahaan-perusahaan besar. Para pelaku usaha pun tak lagi kesulitan untuk menemukan pasar bagi produk-produk unggulannya. (kemendesa.go.id/mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Kiai, Tegal Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia

Pada prinsipnya puasa sunah dianjurkan untuk dilaksanakan sebanyak mungkin mengingat puasa sarat keutamaan lahir dan batin. Karenanya agama Islam tidak akan menghalangi pemeluknya yang ingin mengejar banyak keutamaan melalui puasa selain pada hari-hari tertentu yang dilarang. Teristimewa pula puasa yang diperintahkan Rasulullah SAW seperti puasa Rajab, maka anjuran agama semakin kuat.

Abu Bakar bin M Al-Hishni dalam karyanya Kifayatul Akhyar menyebutkan.

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Rajab, Puasa di Bulan Mulia

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?: ?. ? ?: ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Dianjurkan sekali memperbanyak puasa sunah. Timbul pertanyaan, apakah makruh puasa sepanjang masa? Imam Baghowi berpendapat, makruh. Sementara Imam Ghozali mengatakan, itu justru disunahkan. Sedangkan mayoritas ulama menjelaskan, selagi khawatir akan mudharat tertentu atau melalaikan kewajiban karenanya, maka puasa sepanjang masa hukumnya makruh. Tetapi jika tidak membawa akibat-akibat tertentu, maka tidak makruh.

Ribath Nurul Hidayah

Di samping anjuran puasa sebanyak mungkin mengingat besarnya keutamaan ibadah jenis ini, Rasulullah SAW menekankan agar umatnya tidak melewatkan kesempatan puasa pada bulan-bulan Haram (mulia) sebagai kesempatan emas. Syekh Yahya Abu Zakariya Al-Anshori dalam Tahrir Tanqihil Lubab mengatakan sebagai berikut.

Ribath Nurul Hidayah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

Perintah berpuasa di bulan mulia tertera pada hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan imam lainnya. Dan yang paling utama dari semua bulan itu adalah Muharram seperti hadits riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa paling afdhal setelah Ramadhan itu dikerjakan pada bulan Muharram.”

Adapun perihal bulan-bulan mulia ini, ada baiknya kita mengamati keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in berikut ini.

? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Bulan paling utama untuk ibadah puasa setelah Ramadhan ialah bulan-bulan yang dimuliakan Allah dan Rasulnya. Yang paling utama ialah Muharram, kemudian Rajab, lalu Dzulhijjah, terus Dzulqa‘dah, terakhir bulan Sya‘ban.

Puasa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan, jelas puasa di bulan Muharram. Tetapi mana yang lebih utama setelah Muharram, ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan bulan Sya’ban jatuh setelah Muharram. Sementara Imam Royani memilih Rajab berada di posisi ketiga setelah Ramadhan dan Muharram. Keterangan ini dikutip dari Kifayatul Akhyar. Pendapat Imam Royani sejurus dengan keterangan sebelumnya di Fathul Mu‘in.

Dalam I‘anatut Tholibin, Sayid Bakri bin M Sayid Syatho Dimyathi mengemukakan sejumlah catatan soal Rajab sebagai salah satu bulan mulia di sisi Allah dan Rasulnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Rajab" merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashobb” karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Ia bisa juga dipanggil “Al-Ashomm” karena tidak terdengar gemerincing senjata untuk berkelahi pada bulan ini. Boleh jadi juga disebut “Rajam” karena musuh dan setan-setan itu dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Dari uraian di atas, kita memperoleh keterangan terkait bulan-bulan terhormat yang mana kita disunahkan untuk berpuasa pada bulan yang dimuliakan Allah SWT dan Rasulnya SAW itu. Wallahu A‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Pertandingan, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 29 September 2017

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah - Program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah selama ini dianggap belum mampu mencegah munculnya sikap dan perilaku radikal di tengah masyarakat. Beberapa pelaku teror di Tanah Air, sebelumnya bahkan tercatat pernah mengikuti program deradikalisasi.

"Santoso yang (melakukan teror) di Poso itu juga merupakan hasil program deradikalisasi yang tidak berhasil," ungkap KH Salahuddin Wahid dalam Sarasehan Bela Negara yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (7/4/2017).

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Kritik Kegagalan Program Deradikalisasi

Dalam sarasehan yang dihadiri ratusan pengasuh pesantren di Jombang itu, Gus Sholah mengungkapkan beberapa hal yang memicu kegagalan program deradikalisasi. Antara lain, program deradikalisasi cenderung bersifat insidental dan tidak terukur capaiannya. Juga, tidak adanya instrumen khusus dari negara dalam penanganan terorisme dan buruknya perlakuan terhadap para pelaku terorisme.

"Penjahat tidak mengenal kata jera. Demikian juga para pelaku terorisme. Sejumlah pelaku terorisme yang keluar dari penjara ternyata kembali melakukan aksi serupa setelah keluar dari penjara," ujar mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Gus Sholah, program pembinaan para napi menjelang masa bebas yang dijalankan oleh lembaga pemasyarakatan juga tidak padu dengan langkah kepolisian. "Saat narapidana menjalani asimilasi dan cuti menjelang bebas, BNPT masih melakukan monitoring secara terbuka, sehingga mengganggu para napi," tandasnya.

Untuk mengatasi hal itu, perlu dilakukan sinkronisasi dan memadukan langkah aparat yang terkait dengan penanganan terorisme. Demikian juga penanganan mantan kombatan yang ingin kembali hidup di tengah-tengah masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

"Mereka tidak kembali ke tengah masyarakat dari titik nol, tapi dari titik minus. Karena itu, harus mendapatkan dukungan dari semua pihak," tegas adik kandung Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid ini.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI Laksamana Pertama Muhammad Faisal, Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar, Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Roudhotu Tahfidzil Quran KH Masduqi Al-Hafidz, dan para pengasuh pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Pertandingan, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Juli 2017

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Padang Pariaman, Ribath Nurul Hidayah. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 tahun 2017 membuat pejuang kemerdekaan RI prihatin. Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda.

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Pejuang 45 Ini Prihatin Kurangnya Kesadaran Masyarakat Pasang Bendera

Demikian diungkapkan salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padang Pariaman, Labai Burhan, Jumat (18/8) di kediamannya kepada Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana yang mengunjunginya dalam suasana peringatan HUT RI ke-72.?

Burhan yang ditemani isterinya, Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Menurut Burhan, betapa sedihnya menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali.?

Ribath Nurul Hidayah

"Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol ? bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan tersebut, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat," kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan. Suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO di Pakandangan menyuruhkannya menjeput peluru ke Sicincin. Dengan seorang teman, berangkat ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda.?

“Kami sangat kuatir jika tentara Belanda menghunuskan senapan, pasti tewas. Agar tidak menarik perhatian tentara, tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan," kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun. Karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa ? dimajukan menjadi 15 April 1929 di KTP.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran. Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat.?

"Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan. Bahkan ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya. Akhirnya hingga kini tak jelas," kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak. Meski memiliki empat isteri, tapi tidak pernah isterinya di madu.

Sementara itu, ? Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana mengakui, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

"Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih ? banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut," kata Zeki yang didampingi Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Padang Pariaman Muhammad Zulfadli.

Menurut Zeki, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut, kata Zeki yang juga ? mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 30 Juni 2017

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sebagai Juara 1 Organisasi Kepemudaan Berprestasi Nasional tahun 2014.

Penghargaan diberikan dalam kepemudaan di Hotel Petagiri Palmerah Jakarta, Kamis (18/12) tadi malam.

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Juara 1 OKP Berprestasi 2014

Khairul Anam Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU yang juga putra daerah Sulawesi Selatan mengatakan, pernghargaan diterima oleh IPNU setelah melalui proses seleksi yang panjang dan ketat.

Ribath Nurul Hidayah

“Mewakili rekan-rekan pengurus tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para anggota Majelis Pembina, Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Anak Cabang, Ranting, Komisariat dan seluruh kader IPNU se Indonesia yang telah mendukung semua program PP IPNU dan tentunya penghargaan ini kita jadikan cambuk bagi rekan-rekan pengurus IPNU di daerah untuk semakin semangat dan konsisten mengawal pelajar Indonesia yang berprestasi,” ujarnya. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Daerah, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 11 Mei 2017

Tarekat sebagai Gerakan Progresif Revolusioner

Oleh Farid Dimyati

Mendengar kata tarekat, banyak orang beranggapan bahwa gerakan ini merupakan sebuah gerakan yang menjauhi hiruk pikuk kehidupan duniawi. Tidak ada kesan revolusioner, atau peduli terhadap kondisi sosial politik. Kebiasaan melakukan wirid-wirid tertentu dengan bimbingan seorang mursyid, membuat orang yang tidak terjun pada dunia tarekat menganggap bahwa gerakan ini hanya gerakan yang fokus pada tujuan akhirat semata. Harun Nasution mengatakan, tarekat berasal dari kata thariqah (jalan), yaitu jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi dalam tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Thariqah kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Tiap tarekat mempunyai syeikh, upacara ritual, dan bentuk dzikir sendiri (Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid II, 1985:89).

Tarekat sebagai Gerakan Progresif Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat sebagai Gerakan Progresif Revolusioner (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat sebagai Gerakan Progresif Revolusioner

Namun, jika kita menilik sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, gerakan tarekat jutsru yang mula-mula menjadi gerakan paling utama dalam menentang kolonialisasi penjajahan Belanda di bumi Nusantara. Pada masa penjajahan kolonial, gerakaan tarekat merupakan salah satu gerakan yang ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu. Semangat Pan-Islamisme yang menggelora di benak para pengikut tarekat, dibuktikan dengan aksi-aksi pemberontakan yang dipimpin oleh para ulama tarekat.

Ribath Nurul Hidayah

Agus Riyadi dalam Jurnal at-Taqaddum, Volume 6, Nomor 2, Nopember 2014 menyatakan bahwa tarekat dalam tataran fungsional, dapat mengembangkan fungsi-fungsi strategis yang bervariasi, misalnya, sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah Islam, lembaga ekonomi, dan bahkan lembaga sosial-politik yang menampung aspirasi para murid tarekat. Sebagai contoh konkret adalah kasus pemberontakan petani Banten, pada tahun 1888 M, yang disebabkan oleh ketidakpuasan para petani atas kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menindas. Melalui organisasi tarekat-sufi (Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah) di bawah bimbingan syekh tarekat, mereka menggalang kekuatan kolektif menjadi gerakan massa menentang pemerintah.

Ribath Nurul Hidayah

Buku Pemberontakan Petani Banten 1888, yang ditulis oleh Prof. Sartono Katodirjo, menyatakan bahwa latar belakang pemberontakan diawali dari kesenjangan sosial-ekonomi, beban pajak yang terlalu tinggi, masuknya budaya barat di kehidupan masyarakat Banten, sampai persoalan keagamaan. Namun, dari sekian motif yang dijadikan alasan pemberontakan, alasan keyakinan adalah yang paling menonjol. Pada saat itu, melalui residen A.J. Spaan (1881-1884) melarang warga setempat untuk melakukan acara-acara keagamaan. Ini yang kemudian menimbulakan reaksi negatif dari masyarakat pribumi terhadap pemerintah.

Peristiwa tersebut membuktikan bahwa gerakan tarekat mampu menjadi sebuah lembaga sosial-politik yang dapat menampung aspirasi pengikutnya atas ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif terhadap hal keyakinan beragama. Tarekat yang semula hanya digunakan sebagai jalan mencari kesalehan individual, ternyata mampu menjadi gerakan kolektif yang digunakan sebagai aksi politik dalam melawan penindasan kaum penjajah Belanda terhadap penduduk lokal pribumi.

Pemberontakan petani Banten pada tahun 1888 merupakan satu dari sekian banyak peristiwa pemberontakan terhadap penjajah Belanda di bumi Nusantara. Contoh lain pemberontakan dalam skala yang lebih luas adalah Perang Jawa tahun 1825-1830 atau yang dikenal dengan nama Perang Diponegoro. Perang Jawa yang berlangsung selama 5 tahun, membuat Pemerintah Hindia Belanda harus merugi sebesar 20 juta gulden pada saat itu. Pemberontakan ini dimotori oleh Pangeran Diponegoro yang notabene pengikut tarekat Syattariyah yang taat.

Gerakan tarekat yang progresif revolusioner juga terjadi di benua Afrika. Gerakan tarekat Sanusiyah bahkan melahirkan sebuah negara. Tarekat Sanusiyah yang dipimpin Syaikh Muhammad al-Sanusi al-Kabir dan putranya al-Mahdi mampu menjadi jaring pemersatu hingga melahirkan sebuah negara yang kini bernama Libya. Para mursyid tarekatlah yang langsung memimpin gerliya pemberontakan terhadap penjajah Italia. Semangat anti penindasan yang dilandaskan pada semangat Pan-Islamisme tersebut akhirnya membuat bangsa yang kaya akan minyak itu menjadi negara merdeka.

Melihat dari berbagai peristiwa diatas, maka gerakan tarekat selain hanya menjadi jalan menuju pendekatan diri kepada Tuhan, pada kondisi tertentu juga mampu menjadi sebuah lembaga sosial-politik yang mampu mendobrak tatanan atas ketidakadilan yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam hal ini, gerakan tarekat juga dapat dikatakan sebagai gerakan massa yang progresif revolusioner.



Penulis adalah warga Nahdliyin tinggal di Jakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 14 April 2017

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Sedikitnya 270 orang pengurus ranting Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari empat kecamatan yaitu Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kraksaan, MWCNU Pajarakan, MWC NU Krejengan dan MWC NU Besuk, Senin (7/1) mengikuti kegiatan workshop managemen organisasi dan pemahaman tentang Aswaja di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Kraksaan.

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

270 Pengurus Ranting NU Ikuti Workshop Managemen Organisasi

Kegiatan yang digagas oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kraksaan ini merupakan agenda rutin yang akan digelar di 13 MWC NU se PCNU Kraksaan selama bulan Januari 2013. Setiap Ahad, kegiatan ini diikuti oleh pengurus ranting NU dari 4 (empat ) MWC NU.

Dalam workshop ini, PC Lakpesdam NU Kraksaan mendatangkan dua orang pemateri. Mereka adalah Musafik selaku pengurus Aswaja Center Probolinggo dengan materi terkait keaswajaan dan Anas Naskhin yang menyampaikan materi terkait organisasi dan managemen ke-NU-an yakni mengupas seputar kontribusi NU dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ribath Nurul Hidayah

Hadir dalam workshop ini Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan H. Nasrullah Ahmad Suja̢۪i beserta segenap pengurus dan Ketua PC Lakpesdam NU Kraksaan Drs. Bahar MM beserta segenap pengurus.

Ribath Nurul Hidayah

Koordinator Departemen Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SDM pada PC Lakpesdam NU Kraksaan Muslimin Saba̢۪ mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penguatan tentang managemen organisasi NU terutama terkait administrasi dan surat menyurat oleh pengurus NU baik yang berada di tingkat MWC maupun ranting.

â€Å“Selama ini penyusunan administrasi maupun surat menyurat yang dilakukan pengurus NU sudah sangat bagus. Namun semua itu masih perlu ditingkatkan lagi. Oleh karenanya kami mencoba melakukan penguatan dan pemantapan agar lebih baik,” ungkapnya.

Muslimin yang memimpin langsung proses pelaksanaan pelatihan juga memberikan buku panduan administrasi (surat-menyurat) yang menjadi rujukan adminitrasi pengurus NU. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pemahaman tentang keaswajaan yang merupakan ruh dari perjuangan para ulama NU.

Peserta workshop terlihat sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan dengan sangat kritis kepada kedua pemateri.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pertandingan, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 25 Maret 2017

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945

Pasuruan, Ribath Nurul Hidayah. Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur menegaskan, bahwa dia akan tetap bertekad terus berupaya mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Hal itu diungkapkan Gus Dur pada Sarasehan Nasional dengan tema Mempertegas Eksistensi Pancasila Di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa Indonesia di Candra Wilwatikta Pandaan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis.

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Akan Pertahankan UUD 1945

Gus Dur memaklumi jika Pancasila dan UUD 1945 masih mengandung masalah. Namun apabila pemerintah akan mengembangkan sistem pemerintahan otonomi daerah tidak harus melakukan amandemen terhadap UUD 1945, tapi cukup dibuatkan undang-undang organiknya saja.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur memberi latar belakang munculnya gagasan dilakukannya amandemen terhadap UUD 1945 yang awalnya adalah untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang sifatnya Jakarta-Sentris.

Namun semangat reformasi tersebut berdampak terjadinya amandemen terhadap UUD 1945 hingga empat kali selama kurun waktu antara 1999 hingga 2002. Gus Dur menyebutnya amandemen tersebut dilakukan oleh para anggota DPRD "gadungan" pada periode tersebut.

Menurut Gus Dur, UUD 1945 yang telah diamandemen tersebut sebenarnya tidak berlaku, karena tidak diundangkan dalam lembaran negara. UUD 1945 yang telah diamandemen itu baru diundangkan dalam lembaran negara pada masa jabatan parlemen periode berikutnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal itu, katanya, membuat negara tidak mempunyai undang-undang dasar karena UUD 1945 yang diamandemen belum diundangkan dalam lembaran negara, sedangkan UUD 1945 sudah tidak diakui lagi.

Dalam acara yang sama, Akbar Tanjung berharap pemerintah sekarang tidak terburu-buru melakukan amandemen UUD 1945 lagi. "UUD 1945 yang telah diamandemen itu jalankan dulu, sambil dilakukan evaluasi," pesannya.

Ribath Nurul Hidayah

Akbar Tanjung menilai amandemen terhadap UUD 1945 bisa saja dilakukan, tapi dengan cara sangat hati-hati. Ia menyarankan lebih baik amandemen terhadap UUD 1945 hendaknya dilakukan sesudah Pemilu 2009. (ant/eko)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 Maret 2017

Universitas NU dan Masa Depannya (3)

Oleh Mh Nurul Huda

--Indonesia adalah negeri yang kaya, dengan aneka kebudayaan dan tradisi-tradisi agung masyarakatnya. Salah satunya yang penulis sebut adalah tradisi pesantrenlengkap dengan spirit trisakti-nya, bersama dengan tradisi-tradisi masyarakat kita lainnya, yang bersentuhan dengan tradisi-tradisi agung dunia. Tradisi ini berhasil menjadi inspirasi dan selanjutnya berpotensi memainkan peranan penting dalam kehidupan di masa depan.

Sulit disangkalbahwa modernitas Barat juga membawa rasiokita semakin matang. Dihantarkannya kemajuan sains dan teknologi, serta kematangan dalam hal pemahaman mengenai siapa diri kita. Tetapi, seperti dinyatakan seorang penyair William Blake, rasio sendiriandalam sejarah membawa kita dalam keputusasaan (oleh tragedi demi tragedi), oleh karena itulah kita perlu mengenalikembali sumber-sumber inspirasi dan harapan.

Universitas NU dan Masa Depannya (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU dan Masa Depannya (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU dan Masa Depannya (3)

Banyak orang bilang, di dunia modern tak ada yang abadi kecuali perubahan. Namun penyelidikan secara seksama dari satu era ke era lainnya menunjukkan bahwa ada banyak perubahan tetapi juga kesinambungan (continuity and change). 

Ribath Nurul Hidayah

Kesinambungan dalam kehidupan diantaranya berupa peranan universal agama dan/atau spiritualitas dalam kebudayaan-kebudayaan. Sedangkan bentuk perubahan evolutifnya terlihat dalam hal kematangan penghayatan dan pemahaman para pemeluknya seiring dengan perkembangan jaman, aneka perjumpaan kebudayaan dan pengalaman kesejarahan yang beragam. 

Ribath Nurul Hidayah

Sekali lagi,Indonesia bukanlah kekecualian. Agama dan/atau spiritualitas menjadi sumber ilmu dan inspirasi pemerdekaan sertasumber kearifan dan harapan di dalam mengarungi bahtera dunia kehidupan. Suatu dunia yang sulit diprediksi dan teramat kompleks (complex world), yang tunggang-langgang (run away world) danpenuh dengan risiko (world risk society)yang oleh para ahli dinyatakan sebagai gejala umum globalisasi. Ada juga yang menyebut kondisi itu “high modernity” yang ditandai oleh kepercayaan diri yang tinggi akan kemajuan sains dan teknologi serta ketergantungan umum padakeahlian para intelektual dan inovasisaintifik, yang membuatnya cenderung lebih bersifat elitis (teknokratik).

Para ilmuan sosial telah mengkritik kecenderungan-kecenderungan di atas. Namun demikian,betapapun usaha itu dilakukan, mereka juga tak dapatmenolaknya.Apa yang kemudian dapat dilakukan adalah mentransformasikannya, mengubah elemen-elemen distortifnya dari dalamdan memperbaikinya. Maka bila dengan berani kita menyatakan bahwa spirit pesantren mentransformasi universitas-universitas, perguruan tinggi-perguruan tinggi (sebagaimana kita tahu universitas, dan juga negara, adalah institusi modern), maka hal itu berarti suatu usaha yang dilakukan untuk tujuan yang dimaksud.

Kritik yang mendasar juga banyak dilontarkan terhadap wacana modernisme yang mau “menaklukkan” kehidupan dengan cara menciptakan pembelahan sosial dalam bentuk dikotomi-dikotomikonseptual yang sifatnya generik. Misalnya dikotomi “modern vs traditional”, “sekuler vs relijius”, “liberal vs illiberal” dan seterusnya, yang dalam episteme dominan pihak pertama mengklaim secara sepihak sebagai puncak kemajuan dan simbol keunggulan nilai, dan sementara yang terakhir adalah simbol keterbelakangan, kekunoan bahkan kedunguan. 

Seperti sudah kita ketahui, suatu tindak penamaan (the act of naming) macam konstruksi dikotomis seperti itu dapat merupakan suatu tricky game. Sedemikian rupa ia bila diawetkan berpotensi mendegradasi kemampuan kita sendiri untuk mengenali sesuatu atau seseorang yang berada diantara dua kutub berlawanan tersebut. Merekapunya sikap modern sekaligus tradisional, atau mereka mengaku relijius tapi sebagian prakteknya bersifat sekular, atau juga sebaliknya. 

Mereka yang “in between” itu bisa jadi merupakan “silent majority” (masyarakat kebanyakan yang diam) dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Jumlah mereka bisa berjuta-juta orang yangironisnya tak terkenali bahkan tak terpikirkan gara-gara pengkutuban dikotomis ataupun trikotomis. Dari segi jumlah merekadapat bertambah dan mungkin juga semakin berkurang seiring dengan dinamika yang berkembang di masyarakat.

Oleh karena itu, betapapun sulit menghindar dari tricky game konseptual macam diatas, kiranya penting artinya mendengarkan saran umum agar kita tidak terperangkap dalam kategori-kategori “di atas kertas”.Kita harus merdeka, sebagaimana ungkapan Kiai Abdurrahman Wahid, dalam membuat pengertian-pengertian kita sendiri tentang arti sebuah katadalam gelapnya Misteri Kata-Kata (2010). Dalam konteks tulisan ini berarti suatu doronganuntuk terlibat dan membuka percakapan langsung dengan “silent majority”(masyarakat kebanyakan yang diam) yang tak ternamai dalam kutub dikotomis, yang dapat diduga pula merupakan penghuni sektor-sektor sosial yang termarginalkandan yang suaranya tak ter(di)dengar. 

Percakapan (conversation, berbeda dari discourse) dilakukan demi jalannya dialog yang kaya, dari hati ke hati, menembus yang “diam”. Sebuah ruang percakapan yang tidak terperangkap oleh pandangan dunia yang diilmiahkan secara sempit (a narrow scientised-worldview) beserta matriks bahasa pendukungnya. Dialog itu terkoneksi dengan pengalaman, pandangan dunia, perasaan, keluh kesah, harapanserta “diam”-nya masyarakat sehari-hari; ia yang juga tidak dibatasi oleh pengalamannya orang-orang yang urusannya berpikir dan fasih berbahasa tulis saja. 

Seni mendengarkan (art of listening), pada akhirnya, semakin dibutuhkan. Universitas lalu kian terkoneksi dengan kebutuhan sebenarnya masyarakat kebanyakan. Pendidikan menjadi arena pemerdekaan. Selamat Hari Santri Nasional. (bersambung)

Mh Nurul Huda, Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 Maret 2017

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan. Menurutnya, penurunan ini terjadi setelah program pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan berjalan sesuai harapan.

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

“Secara bertahap, angka kemiskinan terus turun, dari 12,9 persen kini tinggal 11,25 persen. Dan kita targetkan penurunan itu bisa mencapai 10 persen,” ujarnya usai bersilaturrahmi dengan beberapa Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Selasa (15/7).

Hadir dalam acara kunjungan Menkokesra ini Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum KH Hasib Abdul Wahab, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid, serta Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterongan KH Dimyati Rimly. Bupati dan Wakil Bupati Jombang, Nyono Suharly dan Munjdiah Wahab, juga turut mendampinginya.

Ribath Nurul Hidayah

Meski telah mengalami penurunan, Agung mengakui, pada akhir-akhir ini program penanggulangan kemiskinan mengalami keterlambatan. Hal ini dikarenakan beberpa hal yang belum bisa berjalan maksimal. “Namun secara keseluruhan angka kemiskinan mengalami penurunan, termasuk angka penganguran juga mengalami penurunan,” imbuhnya.

Agung berharap, program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan kementriannya bisa dilanjutkan oleh presiden terpilih mendatang. Salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri (PNPM Mandiri).

Ribath Nurul Hidayah

”Siapapun presidennya, saya berharap PNPM ini bisa dilanjutkan,” pintanya seraya mengatakan, pihaknya sudah membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada presiden terpilih nanti.

Mengapa PNPM? Menko Kesra yang juga wakil ketua DPP Golkar ini mengungkapkan,  alasannya karena PNPM sangat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat khususnya dipedesaan. “Yakni untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, air, pembangunan ekonomi, dan juga sosial kemasyarakatan, dan proyeknya tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Apalagi, lanjutnya, dalam pelaksanaannya di lapangan, PNPM melibatkan masyarakat langsung dan secara nasional untuk angka kebocorannya sangat minim. “Secara nasional, angka kebocorannya  hanya 0,02 persen,” tandasnya.

Sementara itu, dalam safarinya ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Agung menyerahkan bantuan ke pesantren di antaranya untuk koperasi pesantren sebesar Rp 200 juta, sembako dari BAZNAS sebesar Rp 50 juta, serta sertifikat peserta BPJS untuk kalangan pesantren.

Menko Kesra juga menyerahkan sertifikat Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 33,05 miliar dari PNPM Mandiri, serta bantuan untuk pembangunan museum sebesar Rp 20 Miliar dari Dirjen Kebudayaan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Berita, Pertandingan Ribath Nurul Hidayah

Senin, 20 Februari 2017

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Rangkaian haul KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab yang ke-43 tahun ini diisi dengan sejumlah acara. Bahkan, ada tiga menteri yang siap hadir pada kegiatan yang akan berlangsung sejak tanggal 1 hingga 6 September tersebut.

Kepastian ini disampaikan H Mujtahidur Ridho yang didaulat sebagai panitia haul. "Ketiga menteri tersebut adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yakni M Nuh, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono," katanya saat dikonfirmasi Ribath Nurul Hidayah, Sabtu malam (30/8).

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Menteri Siap Hadiri Haul Mbah Wahab

Ketiga menteri tersebut akan hadir secara terpisah, kecuali Menteri Agama dan Menkokesra. M Nuh dijadwalkan akan hadir dan memberikan sambutan pada acara wisuda pertama Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah atau Unwaha. "Ini adalah wisuda pertama kampus setelah berubah menjadi universitas," kata mantan Ketua Umum PP IPNU ini.

Ribath Nurul Hidayah

"Kehadiran Mendikbud M Nuh tetentu menjadi nilai lebih bagi Unwaha sekaligus kebanggaan bagi para wisudawan dan orang tua mereka," terang Gus Edo. Dan Unwaha sendiri merupakan pengembangan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Bahrul Ulum atau Staibu. Kegiatan wisuda dan juga kehadiran Mendikbud? pada pagi hari Sabtu 6 September.

Sedangkan Menko Kesra akan hadir bersama dengan Menteri Agama pada acara puncak haul. "Kepastian kehadiran para menteri ini telah dikonfirmasi kepada panitia," kata Gus Edo, sapaan akrabnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menteri Agama dan menko Kesra akan memberikan sambutan pada acara puncak haul yakni tanggal 6 September malam bersamaan dengan pemberian anugerah "KH Abdul Wahab Chasbullah Award".

Rangkaian haul KH Abdul Wahab Chasbullah akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Sejumlah acara akan diselenggarakan saat haul dari mulai pameran dokumen, sarasehan, wisuda pertama Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), semaan Al-Quran, parade Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari), pemberian santunan kepada fakir miskin dan dhuafa, festival al-Banjari se Jawa Timur, serta puncaknya adalah pengajian umum yang mendatangkan KH Musthofa Bisri selaku pejabat Rais Aam PBNU dan pemberian KH Abdul Wahab Chasbullah Award. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan Ribath Nurul Hidayah