Jumat, 25 Januari 2013

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Jombang, Ribath Nurul Hidayah

Setelah bertahun-tahun vakum, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur kembali berupaya menghidupkan kaderisasi kembali dengan pagelaran Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) di Madrasah Diniyah Miftahul Jannah, Karangtengah Gudo.

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertahun-tahun Vakum, Pelajar NU Gudo Kembali Hidupkan Kaderisasi

Upaya ini, nantinya diharapkan memiliki generasi penerus NU yang konsisten memperjuangkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah. Meskipun perdana digelar, tampak sejumlah pelajar setempat antusias mengikuti acara ini. Kurang lebih sekitar 83 peserta mengikuti acara hingga rampung.

Selama kegiatan, mereka disuguhi beberapa materi? dan upaya mengakrabkan satu sama lain, di antaranya Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) , ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan, dan aksi bersih-bersih area sekitar.

Ribath Nurul Hidayah

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dimulai dari tanggal 23 - 25 Juni 2016 itu mendapat banyak dukungan dari beberapa elemen masyarakat dan badan otonom (Banom) NU setempat.

"Dengan semangat dan silaturahim yang dirasa cukup Makesta ini digelar awalnya hanya dengan bermodalkan bismillah, dan kemudian dengan kalimat alhamdulillah. Soalnya banyak donatur dari alumni dan banom-banom yang menjadi bapak, ibu, kakak dari Lembaga IPNU-IPPNU ini. Dari PC (Pengurus Cabang) juga sangat antusias membantu jalannya acara kami," Papar Lila, Ketua PAC IPPNU Gudo, Sabtu (25/6).

Ribath Nurul Hidayah

Lila menambahkan bahwa kegiatan tersebut selain sebagai ajang silaturahim antarranting, juga salah satu bentuk implementasi dari visi IPNU-IPPNU, yakni 3B, (belajar, berjuang dan bertaqwa). "Ya semoga dengan adanya Makesta ini seluruh kader kami dapat kembali kepada visi kami semula," katanya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Pesantren, Amalan Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 23 Januari 2013

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) 1 Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan madrasah yang diajarkan supaya peserta didik mempunyai pemahaman agama yang baik dan benar, berakhlakul karimah, serta mandiri dalam berbagai hal. Madrasah ini juga terus berupaya agar peserta didiknya mempunyai daya kreatif dan inovatif. Hal ini dibuktikan dengan adanya kursus bercocok tanam, menjahit, dan menyulam.

Madrasah yang didirikan tahun 2000-an ini memfasilitasi siswa untuk merambah dunia kerja dan dunia usaha di negara Malaysia dan Korea Selatan. Untuk menunjang program tersebut, MANU 1 Losari mengadakan mata pelajaran Bahasa Korea. Bahasa ini diajarkan oleh guru yang sudah berpengalaman hidup di Korea. 

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

MANU 1 Losari Bekali Siswa Keahlian Bahasa Korea

Selain itu, untuk menunjang program ini, madrasah juga memfasilitasi siswanya dengan menggandeng Perbankan untuk membiayai sekolah ini supaya siswa mudah mendapatkan kesempatan bekerja di Korea tanpa biaya yang memberatkan. MANU 1 Losari telah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan di Malaysia untuk menampung peserta didik yang mau bekerja di perusahaan Malaysia tersebut.

Komitmen Aswaja NU

Ribath Nurul Hidayah

Secara geografis, madrasah ini terletak di Kecamatan Losari tepatnya di belakang Polsek Losari. Letak madrasah ini cukup representatif untuk belajar mengajar karena agak jauh dari pemukiman warga. Namun demikian, MANU 1 Losari tidak lepas dari berbagai aktivitas yang terjadi di masyarakat sekitarnya. 

Seperti sekolah-sekolah di Kecamatan Losari pada umumnya, MANU 1 Losari terletak di daerah pesawahan. Tempat ini sejuk, aman, dan tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, masyarakat tidak terganggu oleh kebisingan siswa sedang belajar. Tetapi, peserta didik diajarkan komitmen tentang Aswaja NU sehingga siswa selalu siap berbaur dengan masyarakat untuk merawat dan tradisi dan budaya lokal.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala MANU 1 Losari, Drs M Zaini yang juga Pengurus Pondok Pesantren Al-Mumajjad Losari Brebes menuturkan, hidup berkarya aja reka-reka (tidak perlu neko-neko) yang artinya siswa harus berkarya tanpa mengusik orang lain. Tapi tetap ikut berperan aktif di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

“MANU 1 Losari ini juga terintegrasi dengan Pesantren Al-Mumajjad. Peserta didik diwajibkan untuk ikut mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik juga termasuk santri,” ujar Kiai Zaini, sapaan akrabnya.

Integrasi madrasah dengan pesantren ini dilakukan agar nilai-nilai Aswaja NU yang diberikan di sekolah bisa menjadi lebih kaya dengan aktif mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik tidak cukup hanya belajar di madrasah, tetapi juga harus diperkaya dengan pemahaman agama yang baik dan benar sesuai prinsip-prinsip Aswaja NU.

Hal ini diamini oleh salah satu guru MANU 1 Losari, Khaerun Yongki, SpdI. Dia berpendapat dengan program integrasi ini, madrasah akan mampu mendidik siswanya agar memahami Aswaja NU seperti yang di anjurkan oleh para pendiri NU. Hal ini juga menjadi bagian untuk menjaga NU. “Pendiri NU, KH Hasyim Asyari dahulu telah mengatakan, bahwa ‘siapa yang mengurus dan menjaga NU, maka akan bertemu aku di akhirat sana’. Dengan adanya motivasi tersebut, peserta didik diharuskan mengetahui atau mendalami tentang Aswaja NU,” jelas Khaerun.

Sejarah singkat MANU 1 Losari

Berangkat dari kegelisahan untuk merawat paham Aswaja NU di kalangan pelajar, para pengurus NU Losari bertujuan mendirikan Madrasah Aliyah, karena Madrasah Tsanawiyah sudah ada. Di awal pengesahannya menjadi madrasah, MANU 1 Losari masih menginduk di sekolah lain. Hal ini sempat menjadi keprihatinan warga NU di Losari sehingga mereka berduyun-duyun membantu pendanaan untuk membangun gedung secara mandiri.

Para pengurus NU di tingkat ranting yang telah mempunyai komitmen menjaga Aswaja NU di kalangan pelajar, mengadakan penggalangan dana. Sehingga satu-satunya MA NU di Brebes bagian barat ini berdiri di atas tanah warga NU yang diwakafkan untuk pendirian madrasah.

Setelah beberapa tahun sejak pendiriannya, madrasah NU kebanggaan warga Losari ini dikunjungi oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj pada tahun 2010 di awal kepengurusannya sebagai Ketua Umum. Kang Said, sapaan akrabnya, memberikan taushiyah kepada warga NU yang berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru. Acara yang diprakarsai oleh MWCNU dan MANU 1 Losari ini berhasil menyedot warga untuk tahu lebih jauh tentang keberadaan MANU. (Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Meme Islam, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 18 Januari 2013

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf meminta pemerintah bijak dalam mensikapi masalah uang yang diterima oleh penghulu ketika menikahkan di rumah penduduk.

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Bijak Sikapi Penghulu

“Jangan terlalu menggunakan bahasa-bahasa yang keras seperti gratifikasi karena penghulu oleh masyarakat juga diperlakukan sebagai tokoh agama yang memberikan khotbah nikah sampai dengan membacakan doa,“ katanya, Senin (23/12).

Mereka yang menjadi penghulu, menurutnya juga memiliki kemampuan yang memadai dalam menjalankan peran sebagai tokoh agama, mampu membaca Qur’an dengan baik dan memberi nasehat pernikahan secara tepat.

Ribath Nurul Hidayah

“Dari dulu penghulu sudah memiliki peran seperti itu dan uang yang diberikan ini dinamakan bisyaroh. Mereka memiliki wibawa besar di masyarakat.”

Ribath Nurul Hidayah

Jika diperlakukan sebagai petugas pencatat nikah, fungsinya seperti di catatan sipil, yang hanya mencatat dan mengecek orang yang sebelumnya sudah menikah di gereja.?

“Tetapi penghulu ya jangan sampai menyebut angka dalam perannya sebagai tokoh agama ini,” tandasnya.

Jika pemerintah berniat melarang para penghulu menerima uang dari pengantin, Slamet meminta agar pemerintah menyediakan uang lembur bagi mereka, ketika bertugas di hari libur atau memberi biaya transportasi jika pernikahan diselenggarakan di luar kantor. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Quote, RMI NU, Tokoh Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 12 Januari 2013

Hal-hal Penting Saat Bersuci Setelah Buang Air

Islam merupakan agama yang mengajarkan penganutnya menjalankan ajarannya secara detil dan lengkap. Mulai dari bangun tidur, seharian penuh, sampai hendak tidur kembali, seluruh kaum Muslim, perlu mengetahui bagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi teladan dalam banyak hal. Teladan dari Nabi Muhammad, sebagaimana banyak kita tahu, bukan hanya soal hal-hal yang besar seperti kepemimpinan, ibadah, berekonomi, mendidik keluarga.

Hal sederhana yang patut kita amalkan adalah bersuci. Pernahkah Anda bayangkan, ternyata bersuci adalah soal penting dan mendesak dalam ibadah Muslim. Contoh dalam pelaksanaan shalat, ada syarat-syarat yang memenuhi sahnya shalat, yaitu badan, pakaian dan tempat suci dari najis; suci dari hadats kecil maupun besar; shalat menghadap kiblat; mengetahui masuk waktu shalat; menutup aurat untuk perempuan maupun laki-laki; mengetahui hal-hal yang wajib (rukun) dalam shalat.

Hal-hal Penting Saat Bersuci Setelah Buang Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Hal-hal Penting Saat Bersuci Setelah Buang Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Hal-hal Penting Saat Bersuci Setelah Buang Air

Di sini sehubungan dengan syarat sah shalat, mengetahui tentang aspek bersuci dari kotoran menjadi sangat penting. Mengapa? Karena shalat yang tidak terpenuhi syarat sahnya ini, maka ia tidak sah dilaksanakan ataupun batal. Lagipula, shalat adalah amaliah harian Muslim.

Ribath Nurul Hidayah

Bersuci, dalam istilah fikihnya istinja, adalah usaha membersihkan diri dari najis yang menempel setelah buang air. Najis, atau kotoran yang masih tersisa di badan setelah buang air dibersihkan dengan air, atau jika merujuk pada keadaan darurat, bisa digunakan batu. Meski sudah bersih, sebelum menuju shalat, seseorang perlu berwudhu untuk menghapus hadats kecil akibat buang air tadi.

Beberapa hal penting diperhatikan terkait bersuci, baik dalam rangka menghilangkan hadats maupun najis, keterangan  ini disarikan dari Fathul Qarib dan kitab Safinatun Naja, dua kitab fikih dasar yang banyak dipelajari di pesantren bahkan masyarakat umum. Berikut penjelasannya:

Ribath Nurul Hidayah

-Terampil

Terampil dalam bersuci ini hendaknya menjadi kebiasaan dan budaya, serta berhati-hati dalam langkahnya. Jangan sampai cara bersuci yang kurang rapi, menyebabkan tidak sahnya ibadah. Bisa karena pakaian yang terkena najis/kotoran, atau masih tersisanya kotoran di badan.

Sisa kotoran yang tidak terampil dan dibersihkan dengan baik, bisa menjadi tempat persemaian penyakit, terutama terkait saluran kemih dan pencernaan. Juga bisa menyingkirkan aroma maupun ketidaknyamanan saat mengenakan pakaian.

Selain itu, dalam masalah terampil bersuci ini kita perlu ketahui pula tatacaranya. Tatacara berwudu yang benar, serta mengenali jenis-jenis najis baik mukhaffafah, mutawassithah, atau mughallazhah, agar bisa dihati-hati betul persiapan kita menuju ibadah terutama shalat. Contohnya, berhati-hatilah dengan percikan air kencing saat berkemih, siapa tahu ada yang terkena di pakaian.

-Tepat Guna

Meski zaman sudah maju, kita tetap perlu pertimbangkan kebutuhan manusia akan air bersih untuk bersuci. Safinatun Naja menyebutkan bahwa menggunakan air untuk bersuci adalah hal yang lebih utama, karena lebih bisa menghilangkan rupa, warna, dan rasa kotoran setelah buang air lebih baik dari benda yang lain. Perlu diingat, seperti sering dipasang di mushalla dan masjid sekitar kita: Gunakan Air Seperlunya. Bersuci tidak harus banyak air, tetapi, sekali lagi, harus hati-hati dan secukupnya. Maksimalkan supaya bersuci benar-benar bersih, dan hilang bentuk, warna, bau kotoran saat buang air.

-Tuntas

Jangan segera beranjak setelah buang air, jika terasa saat buang air belum cukup tuntas. Apakah masih ada kotoran yang terasa bersisa di saluran kemih maupun dubur, itu patut diperhatikan. Dalam salah satu anjuran berkemih, dikenal istilah istibra, yakni mengurut daerah perut bawah atau alat kemaluan seraya berdehem untuk mengeluarkan sisa kencing. Ketuntasan buang hajat ini, selain membuat nyaman, juga menghindarkan terjadinya percikan kotoran yang mengenai pakaian, yang bisa membuat shalat tidak sah.

-Tempat yang Sesuai

Kitab fikih seperti Fathul Qarib mengatakan bahwa ada beberapa tempat yang tidak boleh dibuat sebagai lokasi buang air: lubang galian yang tidak difungsikan untuk penampungan, di bawah pohon yang berbuah, di tempat berteduh, serta di air yang menggenang. Tentu saja selain berkaitan dengan keberadaan orang lain atau hewan, hal itu turut berhubungan dengan menjaga lingkungan agar tetap bersih sehat.

Terlebih konsep kesehatan dewasa ini mencanangkan “jamban sehat”. Dengan tidak buang hajat di sembarang tempat, hal itu akan berdampak pada lingkungan yang nyaman dan menyehatkan, serta membuat ibadah Anda lebih tenang.

Patut diperhatikan juga detail pembuatan kamar mandi sehingga kekhawatiran terkena najis bisa dikurangi. Posisi lantai kamar mandi, perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan air tergenang dan tidak masuk saluran pembuangan. Selain menyebabkan kumuh dan bau tak sedap, hal itu juga menjaga keselamatan di kamar mandi agar tidak terpeleset.

Jangan lupa, bersuci itu penting, jangan terburu-buru saat bersih diri setelah buang air. Mari dibiasakan, dihati-hati tatacaranya, serta menjaga agar ibadah tetap sah dan berkualitas. Semoga dengan pengetahuan kita tentang fikih, ibadah kita lancar dan diterima, lingkungan pun lebih bersih dan sehat. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Sholawat, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 11 Januari 2013

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting

Pekalongan, Ribath Nurul Hidayah. Banyaknya tantangan yang akan dihadapi Nahdlatul Ulama ke depan, terutama pada masalah kesolidan organisasi, membuat Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar kunjungan ke ke seluruh Pengurus Ranting NU (PRNU) se-Kota Pekalongan.

Agenda turun ke bawah (Turba) ini dibagi dalam 15 kali pertemuan dimulai sejak tanggal 23 Februari sampai dengan 9 Maret 2014. Turba dihadiri seluruh jajaran pengurus harian PCNU Kota Pekalongan, pengurus harian Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU), dan seluruh pengurus ranting serta pengurus badan otonom NU setempat.

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Pekalongan Turba ke Ranting-ranting

"Persoalan yang sangat krusial di ranting-ranting adalah masalah kepemilikan tanah dan bangunan masjid dan musholla yang hingga kini belum dilakukan sertifikasi wakaf," ujar KH Romadlon Abdul Jali, Katib Syuriyah PCNU Kota Pekalongan yang juga koordinator tim turba seusai kunjungan tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Dikatakan, berbagai persoalan yang mengemuka dalam turba telah berhasil dipetakan oleh tim turba antara lain masalah tanah wakaf, pendidikan dan pengkaderan di tingkat ranting. 

Romadlon meminta kepada PCNU untuk segera menindaklanjuti temuan temuan di lapangan sehingga kekayaan Nahdlatul Ulamayang belum bersertifikat tanah wakaf dapat segera diselesaikan dengan baik.

Ribath Nurul Hidayah

Sementara itu, Sekretaris PCNU Kota Pekalongan H. Muhtarom kepada Ribath Nurul Hidayah mengatakan, kegiatan turba merupakan agenda organisasi dalam rangka konsolidasi internal, sehingga tidak benar bahwa turba dicurigai sebagai upaya menggalang kekuatan menjelang Pemilu.

Menurut Muhtarom, turba kali ini merupakan bagian dari kegiatan besar NU, yakni peringatan Hari Lahir yang akan dilakukan pada bulan Mei 2014 mendatang dan merupakan agenda yang sudah lama dicanangkan PCNU Kota Pekalongan.

Dirinya menyadari, di internal warga Nahdliyyin di Kota Pekalongan banyak perbedaan pandangan dalam berpolitik, akan tetapi secara jamiyyah NU tetap solid dan kompak. Hal ini terbukti dari animo dan semangat pengurus cabang, wakil cabang, dan ranting NU se-Kota Pekalongan yang menyambut baik kegiatan turba.

Berbagai temuan di lapangan akan dikaji dan ditindaklanjuti oleh PCNU Kota Pekalongan terutama masalah pendidikan dan perwakafan serta kaderisasi di tingkat ranting yang dinilai sangat mendesak untuk direspon. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Syariah, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah