Sabtu, 11 Januari 2014

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali

Denpasar, Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU ) dan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Provinsi Bali mengadakan sosialisasi dan pembentukan pengurus Pimpinan Wilayah Bali periode 2017-2019.

Kegiatan yang berlangsung di Aula kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, Jl. Pura Demak ll, Denpasar Bali, Ahad (05/11), dihadiri perwakilan Pimpinan Pusat IPPNU dan IPNU, Ketua PWNU IPPNU Bali, Ketua PC IPPNU Denpasar, Badung, Karangasem, serta puluhan pelajar Lembaga Maarif.

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbentuk, Pengurus Wilayah Pelajar Putri Bali

Pembentukan pengurus IPNU dan IPPNU Wilayah Bali ini dipandu oleh perwakilan Pimpinan Pusat IPPNU, Rosiana Fitri; dan IPNU, Usman Hasyim, dilakukan secara terpisah.

Ketua Umum IPPNU Puti Hasni menyampaikan selamat dan sukses atas pembentukan PW IPNU dan PW IPPNU Bali. Ia berharap setelah dibentuk, akan menambah semangat untuk ber-IPPNU di Bali.

"Jadilah pengurus yang bisa menjadi teladan bagi kader dan calon kader. Teladan itu tentu saja dari aktivitas kader, keaktifannya, militansinya, loyalitasnya, penguatan kaderisasinya di pesantren, sekolah Maarif, sekolah Islam di Bali, serta kaderisasi dan membuka komisariat-komisariat baru di sekolah-sekolah tersebut," urai Puti.

Ribath Nurul Hidayah

Puti menjelaskan, tugas utama sebagai pengurus IPNU dan IPPNU adalah kaderisasi, yaitu khidmah atau melayani pelajar nusantara untuk mengenal NU dan nilai-nilainya, juga mengenalkan IPNU dan IPPNU sebagai badan otonom NU.

"Rekan dan Rekanita di sini pasti mampu berperan aktif sebagai kader IPNU dan IPPNU yang handal dan ikut memperjuangkan nilai-nilai Nahdlatul Ulama," kata dia.

Kaderisasi IPNU dan IPPNU di Bali tentu punya cara, teknik, dan metode tersendiri dibanding di daerah lain.?

“Silahkan melakukan kaderisasi sekreatif dan sefleksibel mungkin agar banom pelajar NU ini dapat diterima, dikenal, dan menjadi rahmat bagi masyarakat Bali secara umum, terutama bagi para pelajarnya," pungkasnya. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Budaya Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 Januari 2014

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Buku “Muhammadiyah Itu NU!” dibedah di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (05/06).

Hadir sebagai pembicara, Mochammad Ali Shodiqin, yang merupakan penulis buku; Kiai Muzammil, mewakili tokoh NU Yogyakarta; dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, mewakili PP Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta.

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Muhammadiyah Itu NU!” Dibedah di Yogya

Mochammad Ali Shodiqin selaku penulis terlebih dahulu mengungkapkan alasan mengapa judul buku yang ditulisnya bukan NU Itu Muhammadiyah. “Awalnya dulu memang sempat mau diberi judul itu oleh penerbit, namun ternyata di buku ini ditemukan bahwa yang berubah adalah Muhammadiyah, bukan NU. Makanya judulnya seperti itu,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia lalu menyampaikan bahwa perubahan di tubuh Muhammadiyah mulai terjadi sepeninggal pendirinya, KH Ahmad Dahlan, sampai sekarang.  

Pembicara kedua, Kiai Muzammil, mengimbau bahwa orang Muhammadiyah jangan terpancing dengan judul buku tersebut. Karena, penulis dalam hal ini hanya ingin merobohkan ‘tembok’ yang selama ini membelah NU dan Muhammadiyah.

Ribath Nurul Hidayah

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi umat Islam sekarang yang lebih menonjolkan atribut. “Kalau kita memang bersaudara jangan menonjolkan atribut. Seakan Islam itu sekarang tenggelam dalam atribut NU dan Muhammadiyah,” kata Pengasuh Pesantren Rohmatul Umam, Kretek, Bantul ini.

“Persatuan umat ini sangat mahal, harus diperjuangkan,” tambah Kiai Muzammil.

Sementara itu, Wawan Gunawan Abdul Wahid memberikan kritik bahwa jika memang buku tersebut merupakan karya ilmiah, referensinya harus diperjelas. Karena ia menilai masih banyak referensi yang tidak jelas di buku tersebut.

“Misalkan buku ini skripsi, saya akan susah memberikan nilai mumtaz, tapi saya akan memberikan nilai maqbul,” ungkap Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga siang itu.

Diskusi dan Bedah Buku tersebut juga dihadiri oleh KH Tholhah Abdurrahman, Mustasyar PWNU DIY sekaligus Ketua MUI DIY. (Dwi Khoirotun Nisa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian, Nahdlatul, Santri Ribath Nurul Hidayah