Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Januari 2018

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah 

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nadlatul Ulama (LAZISNU) yang dipimpin KH Masyhuri Malik bekerjasama dengan Extrajoss memberdayakan  warga di komplek Pergudangan Bandara Emas, Neglasari, Kota Tangerang, Banten pada Kamis, (14/6) lalu melalui program NUpreneur. 

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Berdayakan Umat Melalui NUPreneur

Demikian disampaikan Direktur Pelaksana LAZISNU H. Amir Ma’ruf, di kantor LAZISNU, Lantai II gedung PBNU, Jakarta, Senin, (18/6). 

Menurut Amir, pemberdayaan melalui NUpreneur itu dilaksanakan oleh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kaisar Nusantara.

Ribath Nurul Hidayah

“NUPreneur ini merupakan program yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, karena program ini sangat memberikan efek yang berkelanjutan dalam pemberdayaan umat. Mereka disarankan untuk menyicil hasil usahanya. Kemudian setelah terkumpul, uang itu digunakan untuk memberdayakan warga yang lain,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pemberdayaan melalui program NUPreneur, sambung Amir, yaitu program dalam bentuk pinjaman modal usaha kepada masyarakat. Program ini merupakan program unggulan Lazisnu tahun 2012 ini. 

Sementara itu, Manager Fundraising Lazisnu Nur Rahman menjelaskan lebih rinci. pemberdayaan masyarakat yang berlangsung di Pergudangan Bandara Emas itu, dengan menyumbangkan sepeda, alat jualan seperti: termos es, tempat air dari PT. Bintang Toejoe sebagai produsen Extrajoss. 

“Mereka bersemangat sekali berjualan. Dengan demikian, program LAZISNU ini sangat membantu dan ditunggu-tunggu masyarakat,” jelas Nur Rahman.

Menurut Nur Rahman, meski sangat berdekatan dengan Jakarta, masyaraka di daerah itu sangat memprihatinkan. Melalui UPZ, yang merupakan perpanjangan tangan dari LAZISNU, berupaya mempercepat gerak pemberdayaan masyarakat. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Lomba, Internasional, Cerita Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 20 Januari 2018

Jenis-jenis Sedekah Menurut Rasulullah SAW

Sedekah termasuk amalan yang bersifat sosial (al-muta’ddiyah). Artinya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, namun juga dirasakan oleh banyak orang lain. ? Selama ini sedekah dipahami sebatas pemberian sejumlah uang kepada orang miskin atau mereka yang tidak mampu. Sehingga, seakan-akan sedekah hanya “dimonopoli” oleh orang kaya atau kalangan tertentu yang mumpuni secara finansial semata.

Padahal sedekah bisa dilakukan oleh siapapun termasuk orang yang tak berpunya sekalipun. Sebab sedekah tidak selalu berati pemberian materi. Sedekah juga bisa bermakna pemberian yang bersifat non-materi. Semisal, membantu orang lain, menyingkirkan duri di jalan, berbicara dengan bahasa yang santun dan sopan, dan lain-lain. Pemahaman ini merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah berikut.

Jenis-jenis Sedekah Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenis-jenis Sedekah Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenis-jenis Sedekah Menurut Rasulullah SAW

? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? , ? ? ? , ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? " ? ? ?

Ribath Nurul Hidayah

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” HR Bukhari dan Muslim.

Ribath Nurul Hidayah

Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah yang dianjurkan, bukan sedekah wajib. Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari menambahkan bahwa manusia dianjurkan untuk senantiasa menggunakan anggota tubuhnya untuk kebaikan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Subhahanu wa Ta’ala.

Penulis kitab ‘Umdatul Qari Badruddin al-Ayni berpendapat bahwa segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, ganjaran pahalanya sama dengan pahala sedekah. Sebab itu, seluruh bagian dari anggota tubuh kita yang digunakan untuk kebaikan, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah berdasarkan hadis yang disebutkan di atas.

Bahkan dalam kitab? Adab al-Mufrad, al-Bukhari meriwayatkan, apabila seorang tidak mampu untuk melakukan perbuatan yang disebutkan di atas, minimal ia menahan dirinya untuk tidak menganggu orang lain. Karena secara tidak langsung, ia sudah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak.

Selama kita mampu melakukan banyak hal, peluang untuk bersedekah masih terbuka luas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga memanfaatkan anggota tubuh kita untuk orang banyak.

Para ulama mengatakan, amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis di atas hanya sekedar contoh, bukan membatasi. Penafsiran hadis ini masih bisa diperluas cakupannya.

Singkatnya, segala bentuk amalan yang dilakukan anggota tubuh kita, akan dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT bila dilakukan dengan penuh keikhlasan termasuk sembahyang Dhuha. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 12 Januari 2018

Ketua FKUB Bandarlampung: Tokoh Agama Harus Ngayomi dan Ngayemi

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Bandarlampung H. M. Afif Ansori menilai saat ini isu agama sering dimanfaatkan kelompok tertentu untuk memuluskan kepentingan mereka khususnya hasrat politik praktis. Kondisi ini menurutnya berimbas pada  munculnya dan meluasnya konflik sosial ditengah masyarakat.

"Di ranah inilah peran tokoh agama sangat signifikan untuk memberikan pemahaman ke masyarakat bahwa kita ini bersaudara. Dalam bahasa Jawa, tokoh agama harus bisa ngayomi (melindungi) dan ngayemi (menenangkan)," kata Afif dihubungi via telepon, Selasa (29/11) saat menghadiri Silaturahmi Nasional Tokoh Agama di Istana Negara Jakarta.

Ketua FKUB Bandarlampung: Tokoh Agama Harus Ngayomi dan Ngayemi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua FKUB Bandarlampung: Tokoh Agama Harus Ngayomi dan Ngayemi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua FKUB Bandarlampung: Tokoh Agama Harus Ngayomi dan Ngayemi

Peran signifikan dari tokoh agama yang ada dalam FKUB lanjutnya juga memiliki peran vital dalam ikut berkontribusi membangun harmonisasi kehidupan bermasyarakat. 

"Oleh karena itu Pemerintah Daerah harus dapat menjalin komunikasi intensif dan baik serta memberikan perhatian lebih kepada FKUB. Ini juga yang menjadi harapan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan pada acara ini," jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada kesempatan tersebut Afif juga mengapresiasi pernyataan Presiden Joko Widodo saat memberikan amanat pada acara yang dihadiri oleh perwakilan FKUB seluruh Indonesia ini.

Presiden menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara besar yang berpenduduk 260 juta jiwa dengan 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa lokal. Selama bertahun-tahun bisa hidup damai dengan penuh keragaman agama, etnis, bahasa dan budaya. Hal ini yang menjadikan perhatian dan kekaguman dunia internasional.

Ribath Nurul Hidayah

"Presiden menceritakan bahwa baru saja ia bertemu Perdana Menteri Denmark dan beberapa waktu yang lalu Presiden Afghanistan. Mereka mengagumi kerukunan kehidupan beragama di Indonesia. Anehnya sebagian masyarakat kita tidak sadar bahwa kita dikagumi bangsa lain. Hanya gara-gara pilkada kita mau pecah belah," kata Afif mengutip cerita Presiden Jokowi.

 

Presiden mencontohkan bagaimana kedua Presiden tersebut kagum terhadap bangunan Masjid Istiqlal yang dibangun berdampingan dengan Gereja Katedral.

Menurut Afif, Presiden Jokowi juga mengingatkan bahwa tahun 2018 merupakan tahun politik. Presiden berharap hendaknya jangan sampai pesta demokrasi twrsebut meretakkan kerukunan umat beragama. 

"Kita boleh berbeda dalam pilihan, tapi setelah terpilih harus rukun kembali, karena kita bersaudara," katanya mengutip pernyataan Presiden yang juga mengingatkan misi utama Forum Kerukunan Umat Beragama untuk mengeratkan tokoh-tokoh agama dan menjaga dari konflik horizontal. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional Ribath Nurul Hidayah

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Para petani kerap dilanda masalah klasik. Mereka tidak memiliki kekuatan. Ketidaktersediaan micro finance yang menopang mereka mulai dari proses penanaman hingga paska panen, adalah alasan utama. Ketidakberdayaan mereka dimanfaatkan oleh para pengijon dan rentenir yang meraup keuntungan dari keringat para petani.

“ISNU mencoba memotong mata rantai pengijon dan para lintah darat itu tadi,” ungkap Ali Masykur Musa, Ketua Umum ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) kepada Ribath Nurul Hidayah, seusai acara penanaman perdana padi di Desa Ragas Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (20/4) lalu.

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Ikut Selamatkan Petani dari Lintah Darat

Desa Ragas Masigit, Kec. Carenang adalah salah satu areal GP3K, (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi) yang diprogramkan BUMN untuk pengembangan dunia pertanian. Kec. Carenang adalah wilayah kantong pertanian terbesar di Kota dan Kabupaten Serang, Banten, tambah Camat Carenang.

Ribath Nurul Hidayah

Problem klasik, petani biasanya tidak memiliki modal awal untuk penanaman. Celah ini membuka masuknya para pengijon dan rentenir untuk menjerat para petani. Pada sisi yang lain, kelangkaan pupuk menjadikan harga pupuk meningkat tajam. Serangan hama pun menjadi ancaman tersendiri. Lepas panen, harga padi anjlok.

Ribath Nurul Hidayah

Acara penanaman padi perdana di areal GP3K oleh ISNU diadakan persis di tengah sawah dengan bernaung tenda sederhana. Lebih 200 warga yang mayoritas petani, memadati tempat yang ada. Mereka tampak antusias mengingat acara ini berhubungan erat dengan nasib mereka.

Pertunjukan silat Cimande Cabang Carenang dan tabuhan rebana Permas (Persatuan Remaja Masjid) turut menghibur hati para hadirin. Atraksi Debus khas Banten antara lain bermain-main dengan senjata tajam tanpa luka sedikit pun, tak mau ketinggalan menyambut rombongan ISNU. Suguhan berupa penganan lokal, singkong, dan kacang rebus, keluar sebagai hidangan khas pedesaan.

ISNU bersama PT. Shang Hyang Seri, turun tangan untuk membina dan memproteksi para petani mulai dari proses penanaman hingga pemasaran paska panen. Uluran tangan semacam ini sangat dibutuhkan oleh para petani Indonesia. Mereka merasa tidak sendiri dalam menghadapi kendala-kendala dalam pertanian.

Self organizing, kemampuan mengorganisir diri sendiri bagi petani adalah target utama ISNU. Kemampuan mengatur diri sendiri adalah bekal dasar petani untuk menghapus ketergantungan mereka dari para pengijon dan lintah darat. Sementara, PT. Shang Hyang Seri siap meminjamkan 5 juta rupiah untuk tiap hektarenya.

Sedangkan pembayarannya menggunakan sistem ‘Yarnen’, pengembalian modal di masa panen. Pengembalian modal saat panen dibayar oleh petani tanpa bunga. Sistem Yarnen ini sangat efektif untuk memutus mata rantai pengijon dan lintah darat, tandas Ali Masykur Musa.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional Ribath Nurul Hidayah

Senin, 01 Januari 2018

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Kebebasan agama dan gerakan takfir (eks-komunikasi) adalah dua hal yang sangat berbeda bahkan bertentangan. Kebebasan agama mensyaratkan pengakuan akan hak pribadi seluruh orang untuk meyakini dan tidak meyakini sebuah ajaran agama. Sementara takfir merupakan upaya menjaga integritas keimanan umat beragama.

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Fasilitasi Seminar Kebebasan Beragama

Hal tersebut dikatakan Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim saat memberi sambutan pada seminar "Kebebasan Beragama, Gerakan Takfir, dan Deradikalisasi" di lantai 8 Gedung PBNU, Senin (22/2) siang.

"Dalam konteks negara teokratis, kebebasan agama biasanya dijamin oleh negara dalam batas-batas konstitusi mereka," ujar Syafiq yang juga pengurus LBM PBNU ini.

Di Saudi Arabia, lanjut dia, orang-orang non-Muslim dibolehkan untuk mempraktikkan agama mereka namun kebebasan mereka diatur oleh Konstitusi Saudi Arabia yang berasas lslam.

Ribath Nurul Hidayah

"Artinya, yang dijadikan standar adalah iman negara bersangkutan. Di negara sekuler, kebebasan agama dijamin sepenuhnya. Orang tidak hanya dijamin untuk berbeda agama, namun juga berbeda keyakinan. Di Jerman, warga Ahmadiyah memiliki hak setara dengan kaum Sunni dan Syiah kendati kalangan mayoritas tidak bisa menerima sepenuh hati," paparnya.

Menurut dia, seminar tersebut hendak mencari proyeksi-proyeksi ke depan tentang pilihan hubungan antara agama dan negara dalam kebebasan beragama serta peran apa yang bisa dimainkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Ribath Nurul Hidayah

Seminar yang digelar dalam dua sesi ini menghadirkan beberapa narasumber. Untuk sesi pagi, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud, dan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.

Untuk sesi sore, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, peneliti LIPI Jaleswari Pramodhawardhani, Direktur Rumah KITAB Lies Markus, dan Ketua Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SeJuk) Ahmad Djunaidi. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 28 Desember 2017

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama

Ternate, Ribath Nurul Hidayah?

Gerakan Pemuda Ansor Kota Ternate, Maluku Utara menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser di Sanggar Kegiatan Belajar Kota Ternate.?

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Ternate Adakan Diklatsar Angkatan Pertama

Di kota yang terletak dibawah kaki gunung Gamalama tersebut, sebanyak 60 Banser dilatih serta dididik untuk menjadi kader yang berkualitas. Mereka menerima materi di dalam ruangan maupun lapangan selama 4 hari, mulai (19/1) sampai (22/1).

Di antara materi ruangan pada Dikalatsar itu adalah ke-Aswaja-an, keindonesiaan, ke-NU-an, pendidikan pendahuluan bela negara, peraturan organisasi dan lain-lain. Sedangkan materi lapangan meliputi kerja sama, pembentukan karakter, PBB dan TUB.

Dikalatsar tersebut juga diwarnai dengan apel Kesetiaan terhadap ? Pancasila dan NKRI yang dihadiri PWNU, PCNU, TNI dan Polri serta elemen masyarakat yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan aksi donor darah.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami atas nama Pimpinan Wilayah GP Ansor Maluku Utara, mengapresiasi PC GP Ansor Kota Ternate yang mengadakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar,” ungkap Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Maluku Utara Salim.

Menurut Salim, Banser yang sangat dibutuhkan di masyarakat untuk berbuat dan berkarya nyata membangun, mengembangkan dan menjaga visi misi organisasi serta NKRI.?

Ribath Nurul Hidayah

“Banser adalah pasukan inti GP Ansor yang memiliki fungsi stabilisator, dinamisator, katalisator serta kaderisasi, sehingga mutlak diperlukan untuk memberi manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.?

Salim menambahkan, sekarang banyak gerakan Islam yang radikal, sehingga diharapkan Banser ini mampu, membimbing, mencerdaskan, serta menjaga keberlangsungan Aswaja an-nahdhiyyah dan NKRI.

Sementara Ketua PC GP Ansor Kota Ternate Rahdi Anwar mengatakan, Diklatsar tersebut merupakan angkatan pertama dan akan terus diadakan agar GP ANsor semakin berkembang di kota Ternate khususnya, serta Provinsi Maluku Utara pada umumnya."?

"Enam puluh kader angkatan pertama ini akan menjadi pionir kaderisasi. Selanjutnya akan merekrut anggota baru. Diharapkan 2 bulan yang akan datang Diklatsar angkatan kedua dilaksanakan," harapnya.?

Personalia Asrendiklat Satkornas Banser Sujani sebagai instruktur kegiatan tersebut mengatakan menyebutkan, peserta Diklatsar Ternate tersebut serius mengikuti tiap materi yang diberikan.

“Diskusi pun kami lakukan di dalam maupun lapangan untuk mencari kualitas kader. Apalagi banyak juga peserta yang masih berstatus mahasiswa sehingga pola dan daya pikirnya banyak gagasan dan ide untuk mengembangkan organisasi,” pungkasnya. (Herry Budi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Hadits Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 26 Desember 2017

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa seorang perempuan boleh saja menjadi TKW dan bekerja di luar negeri asal terjamin keamanan, kehormatan dan keselamatannya.

“Boleh saja kerja di luar negeri, asal mereka harus mendapat perlindungan, terjaga kehormatannya termasuk mendapatkan haknya seperti gaji,” ungkapnya dalam acara “Halaqah Ulama dalam Upaya Pencegahan dan Perlindungan Korban Trafficking terhadap Perempuan dan Anak” yang diselenggarakan oleh Fatayat NU di Jakarta, Senin.

Halaqah ini merupakan bagian dari upaya untuk mencari masukan terhadap hukum trafficking yang merupakan salah satu masalah yang dibahas dalam munas alim ulama NU di Surabaya, 28-30 Juli lalu. Karena keterbatasan waktu, akhirnya masalah ini diserahkan ke PBNU untuk dibahas di Jakarta.

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin: Boleh Jadi TKW Asal Aman

Makruf Amin menjelaskan bahwa keputusan hukum yang akan dibuat ini untuk memberi pegangan dalam sosialisasi gerakan anti trafficking yang sudah dilaksanakan oleh kalangan NU, terutama Fatayat NU yang sudah lama bergerak dalam upaya pencegahan dan perlindungannya.

Sosialisasi kepada masyarakat menjadi sangat penting karena banyak orang yang belum faham arti dan makna trafficking sehingga secara tak sadar mereka terjun didalamnya. Sebelumnya Fatayat NU telah menyelenggarakan sosialisasi ini di berbagai kota dengan melibatkan pesantren sebagai partnernya.

Ribath Nurul Hidayah

Indonesia disinyalir merupakan sumber perdagangan perempuan dan anak. Diperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 700 ribu – 1 juta orang per tahun. Lebih dari 80 persen dari korban tersebut adalah perempuan dan anak-anak. 52 persen dieksploitasi sebagai pekerja rumah tangga dan 17.1 % dipaksa melacur.

 

Diakuinya bahwa masalah trafficking merupakan bagian dari masalah sosial akibat kemiskinan yang melanda masyarakat. Tingkat pendidikan yang rendah dan kemiskinan menyebabkan mudahnya mereka tertipu oleh para calo atau agen pencari TKI. Kejahatan ini sudah tersistem dengan rapi yang juga melibatkan oknum aparat pemerintah mulai tingkat RT dan RW dengan pemalsuan KTP dan akte lahir agar sesuai dengan umur dan syarat yang ditentukan.

Upaya untuk memberi perlindungan kepada buruh migran saat ini juga sedang dilakukan melalui UU yang saat ini draftnya sudah masuk ke DPR RI.

Sementara itu Ketua Umum Fatayat NU Maria Ulfa Anshor mengungkapkan bahwa Fatayat melalui jaringannya sampai dengan tingkat kecamatan dan desa akan melakukan aksi bersama untuk melakukan penyuluhan melalui komunitas waspada trafficking. Gerakan ini akan melibatkan tokoh masyarakat, guru, polisi dan relawan.

Ribath Nurul Hidayah

“Kejahatan ini sudah mencapai lintas negara. Kebanyakan korbannya adalah orang desa dan kita tahu sendiri bahwa yang tinggal di desa adalah warga NU,” tuturnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 Desember 2017

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai

Seperti biasa, selepas salat subuh, Amri mengikuti pengajian kitab yang dilaksanakan di masjid pesantrennya. Suatu pagi ia sangat ngantuk hingga baru beberapa menit pengajian dimulai, ia tertidur lelap.?

Amri terbangun ketika rekan-rekannya mulai beranjak dari tempat mereka mengaji, walau dengan mata yang masih terasa berat, akhirnya dia bergegas keluar dari masjid.

Sepulang dari masjid, Amri tidak langsung ke kamarnya, tetapi masih mencari makanan untuk sarapan. Dia merasa ada sesutu yang tidak beres saat tiba di depan kamar, karena di sana sudah ada salah seorang pengurus pondok yang sedang menunggunya.

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ditegur Ustadz, Ternyata Sandal Kiai

Benar saja, ketika Amri berada tepat di hadapannya, sang pengurus langsung menyapanya.

“Amri..., sandalnya..” sambil menunjuk ke arah kaki Amri.

Amri tersentak, kemudian menatap sandal yang ? ia pakai, lalu secara reflek melepaskan sandal itu sembari berucap,

Ribath Nurul Hidayah

“Astaghfirullah....., maaf Ustadz saya nggak sengaja ....”

Amri belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang pengurus,

“Ya..nggak apa-apa Amri, pak Kiai sudah mengikhlaskannya kok....”

“Haah.... sandal pak Kiai...,Ya Allah....Astaghfirullah..., maafkan Amri Kiai....”

Ribath Nurul Hidayah

Ketika itu pula keringat dingin terasa mengalir di sekujur tubuh Amri. Mungkin akibat kesadarannya yang masih belum sempurna, sehingga ketika turun dari masjid tadi, Amri tidak menyadari sandal siapa yang ia pakai, padahal sandalnya sendiri berada di samping masjid.

(Hosni Rahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Aswaja Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 01 Desember 2017

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Sejumlah aturan yang ada di negeri ini kerap berubah. Para wakil rakyat dan pemerintah, tidak jarang membuat aturan baru yang tentunya mengikat warga masyarakat. Hal ini menjadi pekerjaan tersendiri dalam bahtsul masail, pembahasan masalah keagamaan di lingkungan NU.

Di antara permasalahan yang tengah marak terjadi di masyarakat adalah pernikahan hasil "kecelakaan". Dalam artian, sepasang anak muda beda kelamin melakukan hubungan intim sehingga hamil. Padahal antara keduanya belum diikat oleh perjanjian pernikahan.

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

"Sejumlah berita di media sangat marak akan hal ini," kata Muhammad Maruf Khozin saat dikonfirmasi Ribath Nurul Hidayah, Kamis (2/10). Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Jawa Timur ini merasa sangat prihatin atas kian tidak terkendalinya pergaulan antar anak muda lain jenis.

Ribath Nurul Hidayah

Pengaruh media massa, alat komunikasi dan pergaulan dengan lingkungan turut memperparah keadaan tersebut. "Sehingga kehamilan di luar nikah semakin marak terjadi," terang Wakil Katib PCNU Surabaya ini. Dan keadaan tersebut bukan semakin menyusut, malah cenderung mengalami peningkatan jumlah kasus yang terjadi.

"Di luar keprihatinan terhadap berbagai tindakan dekadensi moral tersebut, LBM mendapat masukan pertanyaan dari masyarakat terhadap kasus ini," tandas alumnus Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini. Karena itu dalam bahtsul masail tingkat Jawa Timur nantinya persoalan ini akan mendapatkan perhatian.

Ribath Nurul Hidayah

"Bagaimana status pernikahan yang dilakukan pasangan yang telah hamil namun belum mendapatkan surat nikah, inilah antara lain yang akan dibahas," ungkapnya.

Demikian juga yang akan dibahas para aktifis bahtsul masail dari berbagai kota se Jawa Timur ini adalah penerapan BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Apalagi pemerintah telah mewajibkan seluruh masyarakat untuk mengikuti program ini," katanya. Dalam satu sisi, keberadaan BPJS tentunya sangat bermanfaat bagi penduduk. Namun dengan sejumlah problem pelaksanaan teknis yang kerap muncul di permukaan, hal ini tentu harus mendapatkan pembahasan.

"Wajib dalam pandangan pemerintah atau hukum positif tersebut apakah juga sama dan sebangun dengan wajib dalam pandangan hukum Islam," sergahnya. Dengan demikian, hasil dari pembahasan masalah ini akan memberikan panduan kepada banyak kalangan termasuk pemerintah dalam mengeluarkan aturan, lanjutnya.

Dalam pandangan Ustadz Khozin, sapaan kesehariannya, bahwa kian dinamisnya peraturan serta perundangan yang ada di negeri ini memaksa para pegiat agama khususnya LBM untuk memberikan respon atas masalah yang muncul.

"Ini menjadi pekerjaan berat bagi kami untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan umat terhadap berbagai masalah yang terus berkembang," katanya.

Pelaksanaan bahtsul masail tingkat Jawa Timur ini akan dilangsungkan di Pondok Pesantren Tremas Pacitan pada tanggal 9-10 Nopember 2014. Sejumlah peserta telah menyatakan kesediaan bergabung. Mereka adalah utusan dari sejumlah pondok pesantren dan perwakilan PC LBM NU di masing-masing kota dan kabupaten se Jawa Timur. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ulama, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

IPPNU Probolinggo Soroti Efek Tempat Hiburan Malam Terhadap Pelajar

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah

Kepengurusan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo periode 2015-2017 resmi dilantik, Senin (14/3). Mereka dilantik oleh Ketua PW IPPNU Provinsi Jawa Timur Erika Rosana Fitri.

Pelantikan PC IPPNU Kota Probolinggo yang mengambil tema “Terbitlah Pelajar Putri NU Bersama Mentari dengan Semangat Baru” ini dihadiri oleh Ketua PCNU Kota Probolinggo H Muhammad beserta segenap pengurus lembaga dan badan otonom (banom) se-Kota Probolinggo.

IPPNU Probolinggo Soroti Efek Tempat Hiburan Malam Terhadap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Probolinggo Soroti Efek Tempat Hiburan Malam Terhadap Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Probolinggo Soroti Efek Tempat Hiburan Malam Terhadap Pelajar

Usai dilantik, PC IPPNU Kota Probolinggo langsung menggelar dialog interaktif dengan tema “Pengaruh Maraknya Tempat-tempat Hiburan Malam Terhadap Pelajar”. Narasumbernya meliputi Ketua FKUB Kota Probolinggo H Halim, Ketua KPU Kota Probolinggo H Ahmad Hudri dan pemerhati pendidikan Romlah.

Dalam sambutannya Ketua PCNU Kota Probolinggo H Muhammad menyampaikan apresiasi kepada para pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo yang mampu mengemas pelantikan dengan baik dan diisi dengan dialog yang berkaitan dengan isu kekinian yang ada du Kota Probolinggo.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya bangga sebab inilah satu-satunya pelantikan IPPNU yang dikemas dengan performa yang bagus. Sehingga kesannya tidak hanya seremonial saja, tetapi mamou memberikan dampak yang positif terhadap pelajar yang ada di Kota Probolinggo,” katanya.

Sementara Ketua PW IPPNU Provinsi Jawa Timur Erika Rosana Fitri menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas dilantiknya pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo dengan harapan ke depan bisa lebih maksimal dan lebih baik dalam kepengurusan.

Ribath Nurul Hidayah

“Saya juga mendukung terhadap rencana penutupan tempat hiburan malam. Apalagi saat penutupan tempat hiburan di Kota Surabaya, para pengurus IPPNU Jawa Timur juga ikut andil di dalamnya,” ujarnya.

Sedangkan Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Nur Baiti As-Shiddiqy ? mengharapkan di awal ? priode ini bisa lebih kompak untuk menjadi yang lebih baik, lebih loyal dan total dalam berkhidmat dalam kepengurusan PC IPPNU Kota Probolinggo kedepan.

“Program yang kami prioritaskan adalah jenjang kaderisasi, khususnya yang ada di tingkatan komisariat supaya bisa lebih di sentuh dan diayomi bersama,” ungkapnya.

Terkait dengan dialog interaktif jelas Nur Baiti, kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan kepada para pelajar terhadap maraknya tempat hiburan malam supaya mereka dapat membentengi diri dan lebih berhati-hati agar tidak sampai merusak moral mereka.

“Kegiatan ini digelar karena di Kota Probolinggo ini tempat-tempat hiburan malam bukan hanya diminati oleh para orang dewasa saja, tetapi juga kaum muda dan pelajar. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan sebagai calon generasi depan bangsa. Oleh kerena itu kita mengadakan dialog ini untuk memberikan gambaran tentang dampak buruk dari keberadaan tempat hiburan malam,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 19 November 2017

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan, ada dua hal yang harus dilakukan untuk menangkal dan melawan kelompok-kelompok jihadis ekstremis yang terorganisir dengan sistematis. Pertama, membangun aliansi antar semua elemen bangsa, baik ormas Islam, LSM, dan elemen lainnya.

“Kemudian membangun kerja sama. Misalnya NU bekerjasama dengan Muhammadiyah, dengan komunitas lintas iman, dan dengan komunitas-komunitas lainnya yang senafas,” kata Alissa selepas acara diskusi Meredam Ekstremisme-Kekerasan dengan Buku di Cikini Jakarta, Senin (31/7).

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis

Kedua, membangun narasi-narasi Islam Indonesia. Menurut dia, ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya yang sejalan memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membuat dan mengkampanyekan model Islam Indonesia.

 

Ribath Nurul Hidayah

“Narasi Islam Indonesia itu yang seperti apa. Menjadi orang Islam di Indonesia itu seperti apa. Itu harus disiapin. Kalau tidak, kita tidak akan bisa menjawab tantangan narasi yang usung oleh gerakan Islamis radikal,” urainya.

   

Semangat yang diusung oleh gerakan Islam radikal, jelas Alissa, yaitu orang Islam harus bersatu untuk memperjuangkan sistem yang Islami melalui gerakan Islam politik. Ia tidak sepakat dengan narasi ini. Baginya, Islam menjadi kuat di Indonesia bukan karena lewat politik, tetapi tumbuh dari sosial masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

 

“Kalaupun gerakan politik, gerakan politiknya bukan Islam sebagai agama tetapi Islam sebagai semangat. Semangat keadilan sosial, semangat kemaslahatan umat,” terangnya.

Selain itu, lanjut Alissa, mengungkapkan ada dua narasi besar yang dikampanyekan oleh kelompok-kelompok jihadis. Pertama, umat Islam Indonesia sedang tertindas. Baginya itu tidak lah jelas karena orang Islam Indonesia memiliki ekspresi keagamaan yang besar di Indonesia.

  

“Yang kedua, hanya ada satu Islam yaitu Islam yang murni. Praktik Islam di Indonesia dianggap tidak murni dan harus dimurnikan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Putri Sulung KH Abdurrahman Wahid itu menyebutkan bahwa narasi-narasi tersebut berujung dan mengajak umat Islam untuk memusuhi demokrasi, masyarakat yang ada saat ini, dan sesama muslim yang tidak sejalan dengan mereka. Oleh karena itu, permusuhan antar sesama umat Islam tidak terhindarkan lagi. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 14 November 2017

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Pangkalan Bun, Ribath Nurul Hidayah?

Demi menjalin keakraban serta konsolidasi di antara warga Nahdliyyin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah mengadakan acara bertajuk Halal Bihalal dan Silaturrahmi Akbar. Acara yang diselenggarakan di lapangan sepak bola Desa Lada Mandalajaya SP 2 Kecamatan Pangkalan Lada tersebut dihadiri 50 pengurus Ansor se-Kabupaten Kobar, yang terdiri dari PC GP Ansor Kabupaten dan PAC GP Ansor Kecamatan Pangkalan Lada.?

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kobar Galang Silaturrahmi Akbar dan Halal Bihalal

Hadir pula Fatayat dan muslimat dan 250 Banser yang telah mengikuti Diklatsar tiga angkatan. Angkatan 1 pada tahun 2015, angkatan 2 tahun 2016 dan Diklatsar angkatan 3 pada bulan januari tahun 2017. Disamping itu pula dalam acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat SKPD Kabupaten Kotawaringin Barat serta sejumlah warga ikut memeriahkan acara tersebut.?

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kotawaringin Barat Abdul Sahel dalam pidatonya menyampaikan, warga Nahdlatul Ulama (NU) hendaknya mampu menjaga kerukunan antarumat beragama. Banser harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI.

Ribath Nurul Hidayah

"Mari pererat ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah bayariyah. Banser haruslah mampu ikut menjaga keamanan NKRI, serta mampu menjadi jembatan agar terciptanya suasana yang kondusif sesuai ajaran agama Islam yang rahmatal lil alamin, " tandas Abdul Sahel pada acara yang berlangsung , Sabtu (29/7) lalu.?

Maraknya kabar tidak sedap, lanjut Sahel, di berbagai media cetak dan elektronik yang tidak berdasar sumbernya, sangat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan itu saja, menjamurnya organisasi masyarakat yang mengatasnamakan kelompok-kelompok Islam dengan pembelajaran yang disinyalir aliran garis keras atau radikal akan menjadi ancaman serius bagi NKRI.?

"Kita jangan mau dibodohi dengan pemberitaan yang tidak jelas asal-usulnya. Kita mesti waspada atas pergerakan kelompok organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun kaidah-kaidahnya tidak sesuai ajaran agama Islam," tegasnya.?

Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) A. Rozikin, Z, dalam pidatonya mengajak seluruh anggota Banser agar selalu siaga demi manjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat beragama.?

"Saya berharap Banser selalu memberikan yang terbaik dalam menciptakan iklim yang sejuk dan aman bagi semua umat beragama. Banser harus siap mendedikasikan dirinya demi keutuhan NKRI," ucap Rozikin.?

Ribath Nurul Hidayah

Menurutnya, Banser sebagai prajurit dibawah komando para ulama NU harus mampu membawa nama baik serta mampu mengabdikan dirinya demi NKRI. Bahkan, Banser harus siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

"Banser harus siap dalam setiap kondisi. Sebagai prajurit Nahdlatul Ulama sejengkal pun Banser pantang mundur dalam membela kebenaran, " Tegas Rozikin dalam pidatonya. (Suhud Masud/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 11 November 2017

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo, Pencetak Ulama-ulama Pendiri NU

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asyari, KH AsyAd Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi (36), Kamis (25/6).

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

Ribath Nurul Hidayah

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asyari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi. 

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asyari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim. 

Ribath Nurul Hidayah

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asyari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu.

"Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asyari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim. (Moh Kholidun/Fathoni)

Keterangan foto: M Hasyim Fahrurozi menunjukkan lokasi kamar Hadlratussyaikh KH Hasyim Asyari di Pesantren al-Hamdaniyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Khutbah, Lomba, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman

Cirebon, Ribath Nurul Hidayah. Waktu baru menunjukkan pukul 2.00 WIB, waktu yang sebenarnya terbilang tanggung untuk santap sahur, belum terlalu lapar jika diukur seusai shalat tarawih kebanyakan orang baru memakan nasi beserta lauk pauknya.

Begitu juga, di jam-jam seperti ini waktu imsak masih lama, jangan-jangan jika memaksakan diri untuk bersantap di awal pagi, menahan haus dan lapar saat berpuasa akan semakin terasa lama.

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sega Jamblang”, Ramadhan dan Keberagaman

Tapi pertimbangan tersebut harus diabaikan jika ingin mendapatkan kesempatan bersantap sahur dengan menu nasi Jamblang,  warung-warung yang menjajakan makanan khas Cirebon, Jawa Barat tersebut sudah mulai tampak ramai dikunjungi calon pembeli semenjak jam 1 pagi, katanya, jika datang lewat jam 2, maka jangan harap bisa kebagian nasi berbungkus daun jati ini.

Ribath Nurul Hidayah

Demikian Mukhlis (19) saat mengisahkan pengalamannya berburu nasi Jamblang pada Ramadhan tahun lalu, di sebuah warung nasi jamblang favoritnya yang bernama “Ibu Nur”, ia rela untuk mengantre dua jam lebih sebelum tiba waktu sahur maupun waktu berbuka.

Ribath Nurul Hidayah

“Kini warung Ibu Nur sudah berpindah alamat di jalan Cangkring, dan kebetulan di dekat rumah saya juga ada warung sega Jamblang, jadi tidak usah jauh-jauh,” ungkapnya saat ditemui Ribath Nurul Hidayah di warung sega Jamblang “Mama Deyniz” yang terletak di perempatan Cipeujeuh kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, Ahad (28/7) pagi.

Abdul Hadi (38) menuturkan hal yang sama. Kegemarannya bersantap sahur dengan menu nasi Jamblang inilah yang memaksakan diri untuk memboyong istri dan kedua anaknya keluar rumah menuju salah satu warung di tepi perempatan jalan ini.

“Kami hampir seminggu sekali berkunjung ke sini, meskipun bukan asli warga Cirebon, tapi nasi Jamblang sudah begitu akrab dan dicari-cari oleh keluarga kami,” papar Hadi yang merupakan warga pindahan dari Semarang tersebut.

Sebenarnya, warung nasi Jamblang tidak hanya milik Mama Deyniz dan Ibu Nur saja, warung yang sejenis bisa dengan mudah ditemukan mulai dari ujung barat sampai ke timur kota Cirebon.  

Sejarah

Nasi jamblang merupakan salah satu dari sekian banyak makanan khas Cirebon, penamaan Jamblang berasal dari sebuah nama desa yang terletak di bagian barat kota Cirebon dan dari daerah tersebutlah penjual nasi Jamblang berasal. Aneka rupa lauk pauk biasa menemani makanan khas ini, dari mulai semur ati-ampela, sate kentang, perkedel, mie, telur dadar, tahu dan tempe goreng, ikan asin, sambal dan banyak lagi yang lainnya.

Raden Rafan S. Hasyim, budayawan Cirebon mengungkapkan bahwa di dalam sajian kuliner yang dulunya biasa dinikmati para kuli pelabuhan di sekitar daerah Pekalipan, Cirebon ini sebenarnya memendam nilai filosofi yang sangat tinggi.

Ia memposisikan nasi Jamblang sebagai simbol keberagaman sebagaimana yang menempel pada keberadaan Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon, masjid yang dibangun oleh para wali pada tahun 1480 masehi tersebut memiliki pengadopsian gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina, begitu juga akan keberadaan nasi Jamblang ini. 

Budayawan yang juga merupakan seorang filolog tersebut melanjutkan bahwa nasi Jamblang menunjukkan watak asli keberagamaan rakyat Cirebon, berbagai lauk pauk yang disandingkan bersamanya merupakan keterwakilan dari beberapa identitas yang memang ada sejak awal kehadirannya, seperti mie merupakan keterwakilan dari bangsa Cina, telur dadar merupakan keterwakilan dari kuliner Arab dan India, perkedel merupakan ciri khas dari pola masakan eropa, kemudian keberagaman lauk pauk tersebut terkumpul bersama nasi dalam satu  bungkus yang sama, yakni daun jati.

“Keberagaman dan banyak keterwakilan budaya tersebut kemudian dibungkus dalam status yang sama, yakni daun jati, di sanalah makna Islam dihadirkan oleh Sunan Gunung Jati, Islam sejati, Islam harus mampu mengayomi dan membungkus keberagaman yang ada,” jelas Raden Rafan S Hasyim yang akrab dipanggil Opan Safari. (Sobih Adnan/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Santri, Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah - Persatuan Sepakbola Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo tampil sebagai juara I Liga Santri Nusantara (LSN) Regional III Jawa Timur 2017. Ia lolos sebagai juara usai mengalahkan tim dari Pesantren Al-Yasini Pasuruan melalui drama adu pinalti 4-3 di Stadion Bayuangga Kota Probolinggo, Rabu (6/9) sore.

Tim Nurul Jadid Paiton langsung menguasai lapangan sejak wasit meniup pluit tanda dimulainya pertandingan. Permainan dari kaki ke kaki yang dimainkan oleh para santri dari Nurul Jadid membuat pertahanan tim Al-Yasini sempat kedodoran. Tim lawan juga merepotkan pertahanan tim Nurul Jadid.

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim

Meskipun sama-sama menyerang dan bertahan secara bergantian, tetapi tendangan kedua tim belum mampu menghasilkan gol dan skorpun tetap 0-0. Akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan drama adu pinalti dan dimenangkan oleh tim Nurul Jadid Paiton dengan skor 4-3.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid menyatakan sangat bersyukur atas prestasi dan capaian yang telah dipersembahkan oleh santri-santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton di kancah LSN Regional III Jawa Timur.

Alhamdulillah, pembinaan olahraga di Pondok Pesantren Nurul Jadid dapat menyumbangkan prestasi. Semoga ini menjadi bibit lahirnya prestasi-prestasi selanjutnya yang dapat menopang lahirnya atlet profesional di Indonesia,” harapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Atas keberhasilan ini, tim sepakbola Nurul Jadid Paiton akan mewakili LSN Regional III Jawa Timur untuk berlaga di jenjang antar-Regional se-Jawa Timur yang rencananya akan berlangsung di Lirboyo, Kediri.

“Turnamen ini memang sangat bagus karena tujuannya adalah untuk lebih memasyarakatkan olahraga sepakbola, khususnya kepada kaum santri. Dengan demikian, maka nantinya ada bibit-bibit olahraga sepakbola yang lahir dari pondok pesantren,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 04 November 2017

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggandeng Badan Narkotika Nasional provinsi tersebut untuk melaksanakan bimbingan teknis di lingkungan masyarakat. Hampir semua lembaga dan banom NU di lingkungan PWNU Jatim mengikuti acara yang diselengarakan di Kantor BNNP Jatim Jl Ngagel Madya V/22, Bratang, Surabaya Kamis (15/09).

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim dan BNN Kerja Sama Perangi Narkoba

"Kegiatan ini Ini adalah awal untuk pencegahan narkoba. Ini adalah awal yang sifatnya koordinatif untuk memerangi narkoba di Jawa Timur," kata Amrin Remico, Ketua BNNP Jawa Timur, saat memberikan sambutan dihadapan 30 peserta perwakilan PWNU Jatim.

Amir Remico berharap kepada ormas Islam terbesar di Indonesia ini, terus berkomitmen bersama BNNP Jatim menyuarakan bebas narkoba, mencegah lebih baik dari pada mengobati. "Kegiatan ini diharapkan bisa menyentuh pesantren dan bisa masuk pada materi khutbah Jumat," pintanya.

Ribath Nurul Hidayah

PWNU Jatim bertekad memerangi penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya. "Dari kita untuk keselamatan generasi bangsa," kata KH Hasan Mutawakkil Alalllah, Ketua PWNU Jatim.

Kiai Mutawakkil juga menegaskan bahwa narkoba tidak kalah bahayanya dengan teroris dan radikal. Narkoba ini musuh bersama semua elemen bangsa termasuk NU. "Semua agama mengharamkan penggunaan narkoba, apalagi sekarang narkoba sudah masuk pada generasi muda," tegasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hal serupa juga disampaikan atas nama NU Jawa Timur, akan terus mensosialisasikan pencegahan narkoba di pesantren, madrasah dan sekolah di lingkungan NU. "Hasil kegiatan ini terus kita kawal hingga nantinya akan melahirkan MoU, pembuatan buku saku (pedoman) kepada santri dan masyarakat umum di tahun depan," pungkasnya. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Aswaja, Warta, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 05 Oktober 2017

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menentang keputusan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, terkait pengosongan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). 

"Meski sifatnya sementara, itu tidak boleh dilakukan," kata Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU, Andi Najmi Fuaidi, di Jakarta, Jumat (7/11/2014).

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pengosongan Kolom Agama di KTP Bertentangan dengan Pancasila

Andi menjelaskan, Indonesia adalah negara berketuhanan sebagaimana tertuang dalam sila pertama Pancasila. Jika nantinya benar dilakukan, pengosongan kolom agama di KTP merupakan kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila.

Ribath Nurul Hidayah

 

"Yang harus diperhatikan oleh Pemerintah, semua Undang Undang pasti merujuk ke Pancasila. Oleh karena itu tidak boleh ada kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila," jelas Andi.

Ribath Nurul Hidayah

 

Lebih jauh Andi mengungkapkan, kebijakan pengosongan kolom agama di KTP sama artinya Pemerintah mentolerir adanya kelompok masyarakat yang tidak mengenal Tuhan. Kondisi ini dikhawatirkan justru mengakibatkan gejolak sosial di masyarakat.

Mengenai alasan Tjahjo Kumolo, yaitu menghormati hak masyarakat yang tidak menganut 6 agama sah di Indonesia, Andi menekankan hal tersebut tetap tidak boleh mengorbankan Pancasila. "Itu tugas Pemerintah untuk mencari solusinya, bukan dengan jalan pintas mengorbankan Pancasila. Harus diingat, Pancasila itu dasar negara," tegasnya.

 

PBNU, masih kata Andi, sedang mempelajari kemungkinan melayangkan protes resmi ke Pemerintah mengenai kebijakan pengosongan kolom agama di KTP.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, menilai kebijakan pengosongan kolom agama di KTP telah mencederai perasaan umat beragama di Indonesia.

 

"Terus terang saya kecewa dengan pernyataan (Mendagri) tersebut, karena ini mencederai perasaan umat beragama, tidak hanya Islam, tapi tentunya juga agama lain," ungkap Kiai Said.

 

Menurut Kiai Said, penulisan agama di KTP adalah identitas seorang warga negara yang penting dan harus dihormati. "Bukan untuk sombong-sombongan. Penulisan agama di KTP itu identitas yang menurut saya sangat penting," pungkasnya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Berita, Khutbah, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 17 Agustus 2017

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

Bantul, Ribath Nurul Hidayah. Setelah melewati hari-hari yang menengangkan dan melahkan selama kurang lebih 9 hari di Jambi, Senin sore (9/9) rombongan santri Pesantren Krapyak Yogyakarta, peserta lomba Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) V, akhirnya tiba di pesantren asal. Mereka disambut ratusan santri dengan penuh bahagia.

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)
Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V (Sumber Gambar : Nu Online)

Prestasi Pesantren Krapyak Meningkat di Ajang MQK V

KH. Hilmy Muhammad yang turut serta menemani para santri selama perlombaan menyampaikan syukur yang mendalam dan kebanggaannya atas jerih payah dan hasil maksimal yang dicapai oleh anak-anak santri.

"Alhamdulillah, Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta berhasil memperoleh berbagai prestasi membangakan di ajang Musabaqoh Qiraatil-Kutub (MQK) ke-5 di Jambi,” ujarnya sembari berharap capaian ini dapat diikuti para santri lainnya.

Ribath Nurul Hidayah

Mereka yang berprestasi tersebut adalah Ayyun Anniqo Rizqyana, juara 2 putri dan Ibnu Hajar Asqolani, juara 3 putra, masing2 di bidang tarikh (sejarah) tingkat Ulya, kitab Tarikh Ibni Hisyam; Rikza Aufarul Umam, juara 3 bidang ushul-fiqh ulya, kitab Ghayatul-Wushul; Nur Azka Inayatus Sahara, juara 3 bidang hadits wustha kitab Bulughul-Maram; dan Hamidatul Hasanah, juara harapan I bidang balaghah ulya, kitab Uqudul-Juman.

Ribath Nurul Hidayah

"Capaian prestasi tahun ini yang meraih 5 gelar, lebih baik daripada tahun lalu yang hanya meraih 2 gelar, yakni juara 3 lomba debat pidato bahasa Inggris putri dan juara harapan 2 ushul fiqh ulya di Sumbawa-NTB, karenanya kita patut berbangga dan bersyukur," lanjut KH. Hilmy Muhammad.

Sementara Ayyun Aniqo Rizkiyana, dalam sambutannya mewakili delegasi santri, menyampaikan terimakasih atas doa dan dukungan semua pihak. "Doa dan dukungan kalian semua sangat berarti bagi kami, jaakumullah ahsanal jaza, ujar mahasiswi D3 bahasa Mandarin UGM yang juga pembimbing putri ini dengan haru berkaca-kaca.

Pada ajang perlombaan kali ini, Pondok Pesantren Krapyak berhasil mengirimkan 15 santri terbaiknya bergabung dalam kafilah Provinsi DIY dalam ajang bergengsi tahunan kemeterian agama tersebut.

Secara keseluruhan, posisi DIY menjadi urutan ke enam dengan total perolehan medali 15 buah. Rincian medali yang diperoleh DIY yaitu juara 1 di cabang balaghah ulya putra, juara 2 dicabang fiqh ula putra, tafsir wustha putra dan tarikh ulya putri, juara 3 dicabang hadits wustha putri, hadits ulya putra, tarikh ulya putra dan ushul fiqh ulya putra. Juara harapan 1 diperoleh cabang nahwu ula putri, balaghah wustha putra, balaghah ulya putri dan ushul fiqh ulya putri. Sedangkan juara harapan 2 diperoleh dari cabang ushul fiqh wustha putri, tarikh ula putra dan nahwu ulya putri.

Urutan 10 besar MQKN V di Jambi ini adalah Jawa Timur dengan 37 medali, Jawa Tengah 32 medali, Jawa Barat 32 medali, Banten 15 medali, Kalimantan Selatan 22 medali, DIY 15 medali, DKI Jakarta 2 medali, Riau 8 medali, Nusa Tenggara Barat 8 medali dan Nangroe Aceh Darussalam 5 medali. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah AlaSantri, Internasional Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 15 Agustus 2017

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Ribath Nurul Hidayah

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Ribath Nurul Hidayah

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Daerah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 08 Agustus 2017

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

Bogor, Ribath Nurul Hidayah



Kementerian Agama bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga dan Deradikalisasi Agama Bagi Dewan Mahasiswa/BEM dan Ustadz Muda Pondok Pesantren Se-Indonesia.

Acara di buka oleh M. Guntur Hamzah Sekretaris Mahkamah Konstitusi, dihadiri oleh Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah Suwendi, Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Ruchman Basori, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitudi MK Ardiansyah Salim, dan sejumlah tamu undangan lain dan nara sumber yang telah hadir.

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Ustadz Pesantren Penting Pahami Hak Konstitusional Warga

“Tepat sekali kalau hari ini Kementerian Agama RI bersama Mahkamah Konstitusi menjalin kerjasama sinergis untuk memperkuat bangunan solidaritas, membuka kesadaran konstitusi warga negara dan menanggulangi masalah-masalah kekerasan berbasis agama,” kata Guntur, Bogor, Kamis (21/04) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Di hadapan Pimpinan Mahasiswa (Dewan Mahasiswa/BEM) dan Ustadz Muda Pondok Pesantren yang merupakan calon pimpinan bangsa, Guntur menekankan pentingnya Dewan Mahasiswa di lingkungan PTKI (UIN, IAIN, STAIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) dan Pondok Pesantren menjadi aktor-aktor penebar damai, tolaran, keterbukaan dan taat berkonstitusi.

Menurutnya, salah satu akar masalah yang dihadapi Idonesia saat ini adalah masalah kepemimpinan, khususnya terkait keteladanan. Kepemimpinan adalah keteladanan, yang termanisfestasi dari perilaku.?

Ribath Nurul Hidayah

Selain soal keteladanan, masalah lainnya ? terkait rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan hak-hak konstitusi kenegaraannya. Guntur merasa solidaritas antar masyarakat mulai mengendor, ketaatan pada peraturan rendah, rasa hormat menghormati dan empati sosial pun menurun.?

Ribath Nurul Hidayah

“Kita sering lupa siapa diri kita sebagai mahluk sosial yang harus saling menghargai dan menghormati,”katanya.

Suwendi, Kasi Kurikulum Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah DitPdpontren Kementerian Agama mengatakan hasil riset LIPI dan Balitbang Kementerian Agama menunjukan bahwa 25-40% para siswa dan guru SMA sudah menganggap Pancasila tidak relevan lagi untuk bangsa ini. Data ini menunjukan bahwa sudah ada pergeseran yang serius di kalangan anak-anak muda level SMA yang harus disikapi dengan pemahaman agama yang inklusif, damai, dan toleran bukan idiologi keras..

Suwendi mengapresiasi MK yang berkenan menjalin kerjasama dengan Kementerian Agama khususnya Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam dalam pendidikan hak konstitusional dan deradikalisasi agama. ?

Ardiansyah Salim, Kasubdit Program dan Evaluasi Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK melaporkan kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 21-23 April 2016 di Pusdik Pancasila dan Konstitusi MK. Sinergi antar Kementerian dan Lembaga menjadi penting bahkan niscaya ketika masalah-masalah kebangsaan dan kemasyarakatan semakin komplek.?

“Pengabaian atas konstitusi yang menyebabkan hilangngya konstitusi warga negara menjadi keprihatinan tersendiri. Ditambah dengan maraknya gerakan radikal yang kian subur mengharuskan kita bergandengan tangan untuk menangkalnya,” katanya. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah Ribath Nurul Hidayah