Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja

Banda Aceh, Ribath Nurul Hidayah. Para ulama yang tergabung dalam Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) menyatakan aspirasi mereka terhadap pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Mereka menghendaki masjid di kota serambi Mekkah ini menerapkan paham mayoritas umat Islam Aceh, yakni Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Dayah Hendaki Masjid Baiturrahman Aceh Terapkan Aswaja

Aspirasi ini menjadi perbincangan serius dalam Musyawarah Besar? HUDA I berakhir Ahad (1/12) kemarin. Salah seorang peserta musyawarah, Tgk Nasruddin Jinieb menegaskan, Masjid Raya harus dikembalikan sebagaimana yang termaktub dalam Qanun Meukuta Alam, yakni Ahlussunnah Waljamaah dalam hal i’tiqad (akidah) dan mazhab Syafii dari segi amalan fiqih.

Hal ini dinilai relevan mengingat Masjid Raya Baiturrahman yang berada di pusat kota Banda Aceh tersebut merupakan kebanggaan dan simbok eksistensi masyarakat di Aceh. “Insyaallah kami siap untuk menjalankannya,” ujar Tgk Nasruddin yang disambut teriakan takbir peserta Mubes.

Ribath Nurul Hidayah

Hal senada juga disampaikan Tgk Syeh Muhajir yang menginginkan agar rekomendasi tentang pengelolaan Mesjid Raya disebutkan secara tegas dan terbuka.

Ribath Nurul Hidayah

“Berikan limit waktu paling lama satu bulan agar Masjid Raya dapat diterapkan amaliyah sesuai mazhab Syafi’i, baik dalam hal muwalat khutbah, azan dua kali, tarawih dua puluh rakaat dan hal-hal lainnya,” katanya.

Pelaksana tugas Ketua HUDA Waled Nuruzzahri selaku pimpinan sidang mengharapkan agar kaum muda bersabar dulu dan menunggu instruksi dari para Ulama sepuh.

Selain pemilihan kepengurusan baru, para ulama dayah juga membahas beberapa persoalan yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat, termasuk mengenai penegakan syariat Islam yang terkesan kurang serius dijalankan pemerintah. Pengesahan qanun jinayat dinilai selalu tertunda.

Dalam forum tersebut, Abu MUDI terpilih sebagai ketua umum untuk periode ini bersama Tu Bulqaini sebagai sekretaris jendral. Abu MUDI terpilih secara aklamasi melalui musyawarah para ulama sepuh Aceh yang tergabung dalam ahlul halli wal ‘aqdi.

Waled Nuruzzahri berharap, agar HUDA dapat lebih maju dan tetap eksis dalam mempertahankan syariat Islam di Aceh. (M. Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 05 Februari 2018

Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Komisi Yudisial perlu segera menggalang dukungan rakyat antara lain melalui kerja sama yang bertindaklanjut untuk mencapai tujuan besarnya dengan tokoh-tokoh ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dan bahkan dengan tokoh-tokoh berpengaruh lintas agama.

Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin yang akrab disapa Gus Ishom sesaat setelah melakukan pertemuan dengan Komisi Yudisial di Jakarta, Rabu (6/12).

"Seluruh rakyat Indonesia yang cinta penegakan keadilan dan cinta tanah air berkewajiban membantu aparat hukum khususnya Komisi Yudisial agar tidak ragu dan takut menjalankan tugas wajibnya demi tegaknya hukum di negara kita," katanya.

Gus Ishom menilai, saat ini banyak kasus hukum yang diperjualbelikan. Suap menyuap aparat penegak hukum, menurutnya menjadi hal yang sering didengar. 

"Keadilan, akhlak, etika dan rasa malu yang diajarkan agama di negeri kaum beragama yang sejatinya di atas hukum hanyalah cerita pemanis bibir, hanya teori dan belum banyak yang wujud dalam kenyataan," paparnya.

Ribath Nurul Hidayah

                                                                                        

Hal itu terbukti bahwa saat ini sering dijumpai orang yang bersalah dibebaskan, sedangkan yang tidak bersalah dipenjarakan. (Orang) yang besar kesalahannya dihukum ringan, sedangkan yang kecil kesalahannya dihukum berat oleh tangan-tangan jahat yang main hakim sendiri di negara hukum ini.

                                                                                

Ribath Nurul Hidayah

"Masyarakat sudah banyak yang tahu dan sudah banyak yang mencicipi kecurangan dan kebobrokan aparat penegak hukum," ungkapnya.

                                                                                 

Saat ini, lanjutnya, semakin banyak hakim yang tertangkap tangan menerima suap. Oleh KPK mereka diseragamkan berpakaian orange sama persis dengan baju kebanggaan para koruptor.

                                                                                  

"Para penegak hukum seperti hakim yang jujur, tegas, independen dan berani yang jumlahnya sangat langka justru menjadi musuh bersama di antara para aparat hukum sendiri dan dihindari oleh orang-orang jahat yang sedang berperkara," ujarnya.

Menurutnya Indonesia berada di ambang kehancuran jika aparat hukum menjadi rakus, menyembah hawa nafsunya dan tunduk kepada gemerlapnya duniawi. 

Mereka (aparat penegak hukum) diberi amanat agar menegakkan keadilan di antara manusia. Namun mereka bertindak sebaliknya, berkhianat sehingga satu manusia menzalimi manusia yang lain.

"Keadilan menjadi barang langka yang sangat mahal harganya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Kajian Islam, Pendidikan Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Kudus, Ribath Nurul Hidayah - Guna mengangkat martabat kaum santri, Rabithah Mahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) mengajak pondok pesantren menjalin kebersamaan. Pesantren harus menyatu, saling menopang? antarsesama dalam menghadapi tantangan dunia global.

Demikian disampaikan Sekretaris Pengurus Pusat RMI NU KH Miftah Faqih saat membuka puncak peringatan Satu Abad Qudsiyyah di Lapangan Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi Kudus, Senin (1/8).

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Menurutnya, kebersamaan merupakan salah satu alat meningkatkan martabat pesantren. Untuk menuju ke arah itu, pesantren harus bisa menanggalkan ego sektoralnya. Sebab, manusia yang ego pikirannya stagnan atau mati.

"Pesantren harus bersama-sama menggerakkan kekuatan dan potensi dengan saling mempromosikan. Bukan malah saling memotong,” kata Kiai Miftah.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Imbauan ini didorong oleh banyaknya tantangan yang belakangan ini dihadapi pesantren. Kondisi semacam ini sangat membutuhkan ketajaman membaca realitas masa kini. Kaum pesantren jangan hanya terpaku pada masa lalu, tetapi bisa fokus pada masa sekarang.

"Sebuah bait arab menyebutkan bahwa ketika mata kita fokus tertuju masa lalu, maka harus direkonstruksi. Kemudian dihimpun atau dikembangkan pada saat ini yang ada manfaatnya. Terkadang, kita lebih banyak bangga sebagai penikmat sejarah masa lalu, tetapi lupa tidak membuat sejarah masa kini," ujar Miftah.

Kepada insan-insan pesantren, Kiai Miftah mengajak supaya tidak berkecil hati. Sebab, pesantren Indonesia sangat menghargai kutubus salaf dan lainnya. Pesantren juga selalu ramah keberagaman dan menghargai tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.

"Pesantren akan luwes karena sudah dicetak sedemikian rupa melalui pengajaran kitab-kitab salaf maupun kitab kuning yang penuh makna," tegasnya.

Di akhir sambutannya, Kiai Miftah mengharapkan santri tidak hanya menjadi penonton. Santri harus bisa menjadi saksi yang terlibat dalam masyarakat.

Acara puncak bertemakan Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa ini berlangsung mulai 1-7 Agustus di lapangan Qudsiyah Jalan KHR Asnawi Kudus. Pada hari pertama usai pembukaan, kegiatannya adalah halaqah santri mandiri dan pementasan seni budaya.

Kegiatan juga disemarakkan pameran kaligrafi dan beberapa kitab turats serta stan ekspo UMKM. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Olahraga, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 19 Januari 2018

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Bondowoso, Ribath Nurul Hidayah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bondowoso mengadakan tahlilan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kantor PCNU setempat, Jalan KH Agus Salim Nomor 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Rabu malam ( 21/10)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Ketua Tanfidziah PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam menjelaskan, kegiatan tahlil ini merupakan acara rutinan warga NU setempat yang dilaksanakan setiap Selasa malam. Agar bersamaan mendekati tanggal 22 Okteber 2015 yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional maka pengurus NU setempat mengundur jadwal menjadi Rabu malam atau malam Kamis.

Abdul Qodir Syam menambakan, Kamis (22/10) ini delegasi santri dari Pondok Pesantren Se-Bondowoso akan mengikuti Apel Santri. Kegiatan tersebut di bawah koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Bondowoso, Lembaga Pendidikan Maarif NU Bondowoso, dan Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso.

Ribath Nurul Hidayah

“Nantinya yang menjadi Inspiktur upacara Apel Santri adalah Drs. H. Salwa Arifin (Wakil Bupati Bondowoso) yang akan dilaksanakan di depan Kantor PCNU Bondowoso," imbuhannya.

Ribath Nurul Hidayah

Salwa Arifin yang hadir dalam acara tahlilan itu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam peringatan Hari Santri Nasional. Mustasyar PCNU Bondowoso ini menambahkan, tidak berlebihan NU menyambut antusias Hari Santri, termasuk dengan tahlilan.

Ia mengatakan, NU tak suka dengan perpecahan, NU tawaduk. “Kenapa demikian? Karena NU adalah ‘pesantren besar’ di dalamnya ada pondok pesantren dan NU indentik dengan pesantren. Begitu pula pesantren indentik dengan NU dan itu tidak bisa dipisahkan itu berpaham Ahlusunnah wal Jamaah.” (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 18 Januari 2018

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

Lumajang, Ribath Nurul Hidayah - Keharuan terpancar dari wajah Sawari saat Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang Mortamin Syah dan Divisi Marketing M Misto, menyerahkan uang kepada salah satu warga dusun Karangsejati RT 005 RW 007 Desa Dadapan Kecamatan Gucialit, Lumajang, Jawa Timur.

Janda tua penjual rujak itu sudah lama menutup warungnya karena menderita sakit. Niat kembali membuka usaha terganjal ketiadaan modal.

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

“Saya sangat bersyukur sekali sampai meneteskan air mata karena bantuan dari NU Care-LAZISNU Peduli. Saya akan menjalankan dengan baik modal ini sampai warung saya berkembang,” kata Sawari, .

Selain Sawari ada dua warga lainnya yang hari itu menerima bantuan modal yang diserahkan pada tahap ketiga. Mereka adalah Hari, pemilik warung kopi dan gorengan di Desa Selok Gondang: dan Hasan Adiman, pemilik warung kopi dan gorengan Kelurahan Kepuharjo.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Ketiganya merupakan warga penerima bantuan modal pemberdayaan ekonomi dari NU Care LAZISNU Lumajang.

Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang, Mortamin Syah mengungkapkan program Ekonomi Mandiri NU Care-LAZISNU Lumajang menyasar 10 warga dan baru pertama kali dilaksanakan.

Besarnya bantuan modal bervariasi bagi masing-masing penerima. Ada yang Rp500 ribu, Rp300 ribu, atau Rp250 ribu.

“Disesuaikan modal awal kulakan (belanja) warung tersebut, misalnya warung kopi, pangkalan bakso, rujak, atau lainnya,” kata Mortamin.

Setiap penerima modal tidak diwajibkan mengembalikan uang bantuan.

“Ini dana hibah modal dari NU Care-LAZISNU tanpa harus mengembalikan. Kalau usahanya sudah lancar, baru kami anjurkan menjadi donatur NU Care dengan mengisi kaleng ZIS yang dititipkan kepada mereka,” ujarnya.

Pihaknya berharap bantuan tersebut dapat memberikan sumbangsih pengembangan usaha, sehingga nantinya warung-warung akan menjadi donatur NU Care-LAZSINU yang memutus rantai kemiskinan. Selain itu juga dapat menjadi uswah keshalehan sosial bagi kaum duafa lainnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 06 Januari 2018

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda

Boyolali, Ribath Nurul Hidayah. Pesantren Al-Huda Doglo Cepogo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan ini (7-9/2), menggelar peringatan setengah abad berdirinya pesantren.

Salah satu putra pengasuh pondok, Gus Aunullah A’la, menerangkan acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan.

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentas Rodad dan Reog Meriahkan Setengah Abad Pesantren Al-Huda

“Rangkian acara peringatan setengah abad Pondok Pesantren Al-Huda, mulai dari Jumat, dengan acara Haul Masyayikh dan Pemutaran Film Sang Kiai,” terang pria yang akrab disapa Gus A’la itu.

Ribath Nurul Hidayah

Sehari setelahnya, kegiatan akan berlanjut dengan pementasan seni daerah Rodad dan Reog. ? Gus A’la menambahkan, pada hari yang sama juga akan digelar lomba hadrah.

Puncak acara peringatan setengah abad Pesantren Al-Huda, diadakan pada Ahad (9/2), yang ditandai dengan kirab Santri dan pagelaran seni barongsai. Rangkaian acara tersebut akan ditutup dengan pengajian akbar bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 Januari 2018

Pangdam III Siliwangi Minta Kiai Bantu TNI

Cirebon,Ribath Nurul Hidayah. Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Herindra turut hadir pada pertemuan tokoh agama dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kota Cirebon, Subang, dan Karawang di Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat. Mereka membahas radikalisme agama yang kian berkembang di Jawa Barat.

Herindra menganggap, paham radikalisme di Jawa Barat bisa mengancaman stabilitas keamanan. Oleh karena itu, ia meminta kepada kiai dan santri, membantu menangkal paham tersebut. “Kalau saya kan bukan ahlinya. Jadi, saya minta kepada para kiai dan santri, untuk membantu kami menangkal paham-paham tersebut,” ujar Herindra pada pertemuan Selasa (18/10) itu.

Pangdam III Siliwangi Minta Kiai Bantu TNI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangdam III Siliwangi Minta Kiai Bantu TNI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangdam III Siliwangi Minta Kiai Bantu TNI

Menurut pria yang baru menjabat sebagai Pangdam III Siliwangi tersebut, silaturrahim ini merupakan salah satu penguat hubungan TNI dan tokoh agama di Jawa Barat.

Ribath Nurul Hidayah

Mantan Danjen Kopassus ini menambahkan sinergitas yang dilakukan para tokoh agama dan TNI, menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kondusivitas di Jawa Barat. “Kita jangan lengah. Karena ancaman itu akan selalu ada,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Karena, lanjutnya, dikhawatirkan, paham-paham tersebut nantinya berkembang menjadi aksi terorisme. Sehingga, sudah seharusnya, paham-paham tersebut harus segera dieliminir.

Walaupun meminta para kiai dan santri untuk menangkal paham radikalisme, namun TNI juga tidak akan tinggal diam. Jika nantinya orang yang bergabung dengan pahamradikalisme sudah melakukan ancaman keamanan, maka nanti TNI yang akan bertindak.

“Kalau berbicara masalah paham-paham, kiai ahlinya. Tapi kalau sudah menebar ancaman apalagi menggunakan senjata, nanti TNI yang akan turun tangan,” pungkasnya. (Rofahan-Arief/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah. Siswa SMA Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo sukses membuat alat kontrol saklar listrik jarak jauh. Cara kerja alat ini dikendalikan melalui pesan singkat telpon genggam. Di samping sangat mudah dan praktis, karya siswa ini dapat membantu menghemat daya pakai listrik.

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMA Nurul Jadid Ciptakan Alat Kontrol Jarak Jauh

Inovasi ini diciptakan oleh siswa jurusan Sains Matematika SMA Nurul Jadid Paiton. Idenya berawal karena maraknya penggunaan lampu di ruang sekolahnya yang setiap hari tidak pernah dimatikan walaupun sedang tidak digunakan.

Koordinator pembuat alat kontrol hemat listrik jarak jauh Muhammad Nur Ilham Mubarok mengatakan, inovasi ini berawal dari banyaknya pemborosan energi listrik. “Kemudian kami buat sebuah terobosan untuk mencari aplikasi yang tepat sebagai upaya penghemat energi,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Hebatnya, jelas Ilham, inovasi ini dibuat dengan menggunakan komponen bekas dari alat-alat elektronik yang sudah tidak terpakai. Alat utamanya adalah Print Circuit Board (PCB), yang berfungsi sebagai wadah komponen eletronika. Selain itu terdapat micro sebagai otak pengendali, relai sebagai saklar otomatis, modem untuk mengantarkan sms serta serial yang menjadi penghubung antara micro dan modem.

“Komponen yang dibutuhkan di antaranya transistor, kapasitor Kristal serta tombol swicth on off. Dari seluruh komponen ini, hanya modem berikut nomor operator selular yang dibeli. Selebihnya merupakan komponen alat elektronik bekas dengan biaya tak lebih dari 500 ribu rupiah,” jelasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut Ilham, cara kerja alat ini adalah dengan mengirim sms ON9 ke nomor operator modem, otomatis lampu listrik sudah bisa dihidupkan. Sebaliknya sms OF9 berfungsi mematikan daya listrik. Sementara tarif sms disesuaikan dengan ketentuan operator seluler.

“Teknologi ini juga dapat mengendalikan saklar perangkat elektronik lain seperti kipas angin, televisi, bahkan kran air dengan kekuatan maksimal 8 ampere, baik aliran listrik bersistem paralel maupun seri,” terangnya.

Sementara guru pembina Affandi mengungkapkan bahwa saat ini warga maupun pelaku usaha dapat mengendalikan pemakaian listrik dari jauh tanpa harus ke saklar langsung, sepanjang masih terjangkau sinyal operator seluler. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Humor Islam, Kyai Ribath Nurul Hidayah

Senin, 18 Desember 2017

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Oleh Fathoni Ahmad

Ijtihad para ulama pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memang patut di acungi jempol. Terutama ketika bangsa Indonesia terancam perpecahan dan disintegrasi antar-anak bangsa sendiri. Perhatian para kiai memang begitu besar terhadap kerharmonisan kehidupan bangsa selama ini. Dasar negara Pancasila salah satu buah pikir para ulama yang menautkan nilai-nilai kental religiusitas sebagai pondasi persatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia.

Pun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945, namun justru ancaman pemberontakan dan disintegrasi bangsa muncul di mana-mana, antara lain pemberontakan yang dilakukan DI/TII dan PKI di Madiun pada tahun 1948. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi mengungkapkan gagasan salah seorang Pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menggelar halal bihalal untuk seluruh tokoh bangsa atas permintaan Bung Karno.

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Historis dan Filosofis Halal Bihalal

Dari riwayat yang diceritakan Kiai Masdar itu, pada tahun 1948 yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

?

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

Ribath Nurul Hidayah

"Itu gampang,” kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahim yang diberi judul halal bihalal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah istilah halal bihalal gagasan Kiai Wahab lekat dengan tradisi bangsa Indonesia pasca-lebaran hingga kini.

?

Begitu mendalam perhatian seorang Kiai Wahab Chasbullah untuk menyatukan seluruh komponen bangsa yang saat itu sedang dalam konfik politik yang berpotensi memecah belah bangsa. Hingga secara filosofis pun, Kiai Wahab sampai memikirkan istilah yang tepat untuk menggantikan istilah silaturrahim yang menurut Bung Karno terdengar biasa sehingga kemungkinan akan ditanggapi biasa juga oleh para tokoh yang sedang berkonflik tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Kini, halal bihalal yang dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia lebih dari sekadar memaknai silaturrahim. Tujuan utama Kiai Wahab untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang. Begitu pun dengan orang yang dimintai maaf agar secara lapang dada pula memberikan maaf sehingga maaf-memaafkan mewujudkan Idul Fitri itu sendiri, yaitu kembali pada jiwa yang suci tanpa noda bekas luka di hati.

Dengan demikian, ditegaskan bahwa bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.

Istilah khas Indonesia

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadis sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah itu memang khas Indonesia. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan paham ajaran agama dan bahasa Arab. Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh Kiai Wahab untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an asal Indonesia Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut. Pertama, dari segi hukum. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa acara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

?

Masih dalam tinjauan hukum. Menurut para pakar hukum, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala. Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak cenderung memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bihalal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antarsesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbaga bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu.?

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bihalal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimugnkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturrahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesan bahwa halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan. Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah di atas lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan di antara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Sebab itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif. Wallahu ‘alam bisshowab.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pertandingan, Daerah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 17 Desember 2017

Jasa NU Supaya Umat Islam Kurban Tanpa Pajak Belanda

Betul juga apa yang dikatakan kolumnis berjuluk pendekar pena, H. Mahbub Djunaidi (1933-1995), bahwa pemerintah tak ubahnya seperti nyonya rumah tangga, perlu nafkah. Barangsiapa yang punya anjing, dia mesti bayar pajak. Barangsiapa punya perabot, dia mesti bayar pajak. Barangsiapa kerja, mesti pula menyisihkan gajinya buat pemerintah. (Bisnis Kuburan, 1977).

Begitu juga ulah orang Belanda di Nusantara ini. Entah dari mana datangnya, kemudian mereka yang mengaku beradab itu merasa mempunyai hak untuk memerintah di negeri orang.  

Jasa NU Supaya Umat Islam Kurban Tanpa Pajak Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Jasa NU Supaya Umat Islam Kurban Tanpa Pajak Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Jasa NU Supaya Umat Islam Kurban Tanpa Pajak Belanda

Namun, masak iya menyembelih hewan kurban saja harus ada pajaknya? Tak boleh dong. Mungkin begitu pikir NU pada masa penjajahan Belanda. Enak saja, mereka melancong dari Eropa sana, datang ke sini, lalu meminta pajak hewan kurban. Yang benar saja. 

Berikut pemberitahuan NU di majalah Berita Nahdlatoel Oelama:

Ribath Nurul Hidayah



Harap menjdjadi perhatian



Ribath Nurul Hidayah

Oentuk kepentingan cabang NU khususnya dan untuk umat Islam di Indonesia pada umumnya, yang berhubungan dengan penyembelihan chewan-chewan, yang akan digunakan untuk hari Idul Qurban maka kita turunkan di sini surat, yang telah kita terima dari Adviseur voor Inlandsche Zaken berkenaan dengan soal tersebut di atas.

Berikut surat balasan dari pemerintah Hindia Belanda yang mengabulkan upaya NU agar pemotongan hewan kurban di waktu itu tidak dikenakan pajak.Adviseur voor Inlandsche Zaken                          Batavia, 29 April ‘38

Nr. 590/E/7



Berhubung dengan permohonan bebasnja beja sembelih (slachtbelasting) jg oleh pemerintah telah didjawab dengan soeratnja tg. 18 Januari ’38 Nr 145/A, maka bersama ini saja perma’lumkan kepada Hoofdb. NO, bahwa dengan besluit pemerentah tg. 14 boelan April ini (Nr (Staatsblad 174) telah ditetapkan, bahwa oentoek menjembelih chewan goena qoerban pada hari Idil Qoerban, dibebaskan dari pembajaran (slachtbelasting) Oentoek dapat kebebasan beja itoe, lebih doeloe haroes diminta seboeah soerat keterang Bestuur itoe soerat keterangan bolehnja diberikan, kalau soedah terang bahwa itoe chewan akan disembelih boeat qoerban pada hari Idil Qoerban, dan dagingnja tidak akan diberikan kepada orang lain dengan pembajaran, dengan apa joega.



Soerat keterangan terseboet sebeloemnja chewan itoe disembelih, haroes dipasrahkan kepada seseorang, jg diwadjibkan oleh Bestuur berhadlir pada waktoenja menjembelih (memotong).Lain tidak ma’loem djoega adanja.





Salam dan hormat





(wg.) G F. Pyper

(Adviseur voor Inlandsche Zaken)  

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 07 Desember 2017

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Berkaitan dengan banyaknya pernikahan usia dini, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Niam Sholeh mengatakan anak-anak memiliki hak-hak yang masih perlu diperhatikan, meliputi kesehatan fisik, mental dan reproduksi.

Demikian disampaikannya saat dihubungi Ribath Nurul Hidayah, Kamis (28/4) lalu. Menurut Asrorun Niam, pernikahan tidak sekadar memenuhi kebutuhan seksual, tetapi ada tanggung jawab di dalamnya. Untuk itulah diperlukan usia kecakapan menikah.?

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Asrorun Niam Sholeh Soal Pernikahan Dini

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.?

Walaupun ? pada Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan mengatur usia minimum anak perempuan untuk menikah ialah 16 tahun, karena masih di bawah 18 tahun, maka ia tetaplah anak yang harus dilindungi oleh keluarganya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu menurut Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan, ”Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak,” jelas mantan aktivis IPNU ini.

Pernikahan pada usia dini juga akan menyebabkan beberapa dampak, di antaranya dampak buruk pada kesehatan, terhentinya pendidikan, terbatasnya kesempatan ekonomi, terhambatnya perkembangan pribadi anak, tingginya angka perceraian. (Kendi Setiwan/Fathoni)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pemurnian Aqidah, Kajian Islam, Kajian Sunnah Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 24 November 2017

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq

Bantul, Ribath Nurul Hidayah. Pondok pesantren pesantren mempunyai tugas besar menyiapkan generasi masa depan bangsa yang berakhlaq. Santri yang berakhlaq menjadi tumpuan Indonesia masa depan.

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Siapkan Generasi Berakhlaq

Demikian dikatakan KH Ikhsanudin di Pesantren Binaul Ummah, Wonolelo Pleret Bantul, Selasa (26/3).

Menurut, Kiai Ikhsan, generasi pesantren harus berperan aktif. Akhlaq yang ditempa di pesantren itulah yang menjadi bekal utama dalam berperan di masyarakat. 

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan akhlaq, generasi santri akan menjadi penentu Indonesia kita.” tegasnya. 

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, Kiai Ikhsan juga menjelaskan, pesantren juga bertugas mengembangkan ilmu-ilmu agama yang sesuai dengan ahlusunnah wal jamaah.

“Keilmuan yang sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah sudah diwariskan para ulama dan kiai kita. Mari kita jaga dengan sebaik mungkin,” lanjutnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 14 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Rembang, Ribath Nurul Hidayah. Sedikitnya seratus anak yatim mengikuti buka puasa bersama yang diselenggarakan Komisariat IPNU-IPPNU MA Yayasan Sosial Pendidikan Islamiyah Syafiiyah (YSPIS) desa Gandrirojo kecamatan Sedan kabupaten Rembang di aula sekolah setempat, Sabtu (11/7) sore. Usai berbuka puasa, mereka pulang dengan membawa paket santunan yang disediakan penyelenggara.

"Kami sengaja mengundang 100 anak yatim untuk mengikuti buka bersama ini. Bukan hanya buka bersama, kami juga berbagi santunan kepada mereka," tutur Kepala MA YSPIS Muhtar Nur Halim kepada Ribath Nurul Hidayah.

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gandrirojo Santuni 100 Anak Yatim

Tampak hadir seluruh civitas dan siswa-siswi MA YSPIS. Turut mengundang jajaran pengurus MWCNU Sedan. Terlihat hadir Mustasyar PCNU Rembang KH Sahlan M Nur. Saat memberikan sambutan, Muhtar mengatakan, jangan bersedih, jangan berkecil hati, bapak kalian (anak yatim, red.) adalah Rasulullah SAW.

Ribath Nurul Hidayah

Pihaknya berharap tahun depan dapat bekerja sama dengan Lazisnu agar bisa lebih banyak lagi mengundang anak yatim. "Dengan begitu, kami bisa mengundang minimal 500 anak yatim untuk mengikuti acara rutinitas sekolah kami ini," harap Muhtar yang juga menjabat Ketua MWCNU Sedan itu.

Ribath Nurul Hidayah

Acara ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah yang diikuti oleh seluruh siswa dan undangan. Sementara doa bersama dipimpin oleh KH Sahlan untuk kemajuan civitas akademik yang ada di bawah naungan Yayasan Badan Pelaksana Pendidikan Maarif NU (BPPM-NU). (M Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Bahtsul Masail, Pesantren Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 09 September 2017

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut

Garut, Ribath Nurul Hidayah - Semenjak Presiden Amerika Donald Trump menyatakan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, kecaman para pemimpin dan aksi dari umat Muslim di seluruh dunia bermunculan. Masyarakat Indonesia di seluruh penjuru Nusantara terus melakukan aksi baik dengan mengumpulkan sumbangan, maupun doa bersama untuk kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Indonesia yang terkenal dengan negara muslim terbanyak didunia, juga keberagamannya mendukung sepenuh hati akan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, baik Muslim maupun non-Muslim Indonesia.

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama Peduli Palestina dari Garut

Masyarakat Garut yang dimotori oleh DKM Masjid Agung dan PCNU Kabupaten Garut menggelar Doa Bersama Peduli Palestina yang dihadiri oleh ratusan mustami dari berbagai elemen dan organisasi yang peduli terhadap kemerdekaan Palestina.

Ribath Nurul Hidayah

"Kami mengharapkan rakyat Palestina yang sekarang sedang mengalami musibah diberi ketabahan dan jalan keluar atas masalah yang menerpa mereka, terutama mendapatkan pengakuan dari semua pihak akan kemerdekaan dan kedaulatan negara Palestina yang wilayahnya dianggap sebagai wilayah Israel," tutur KH A Mimar Hidayatullah selaku Ketua DKM Masjid Agung Garut yang juga merupakan Mustasyar PCNU Kabupaten Garut.

Doa bersama dihadiri pula oleh Kapolres Garut, Dandim 0611 Garut, Ketua MUI Garut, perwakilan Kantor Kemenag Kabupaten Garut, KH Manarul Hidayat, Ketua PCNU KH A Abdul Wahid, serta tokoh ormas lainnya. (Muhammad Salim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 September 2017

Siswa MA Ungulan Nuris Juara 1 Baca Kitab Kuning Jawa Timur

Jember, Ribath Nurul Hidayah - Prestasi membanggakan kembali diukir? anak didik MA Unggulan Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur. Kali ini, Ahmad Fauzan berhasil meraih juara 1 dalam lomba membaca kitab kuning di ajang Osmana (Olimpiade Maulidun Nabi) yang dihelat di Pondok Pesantren An-Nur 2 Al Murtadlo Bulu Lawang, Malang, belum lama ini.

Cabang lomba ini diikuti oleh 33 peserta, yang merupakan? utusan beberapa pesantren ternama di Jawa Timur seperti dari Lumajang, Probolinggo, Malang, Surabaya, Kediri dan sebagainya. “Namun alhamdulillah, saya berhasil, berkat doa guru dan? orang tua,” kata Fauzan kepada Ribath Nurul Hidayah di Kompleks Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Rabu (21/12).

Siswa kelas XI? MA “Unggulan” Nuris ini? menambahkan, kitab kuning yang dilombakan (untuk dibaca) adalah Fathul Qarib. Dikatakannya, juri memilih sendiri bab atau fashal-fashal dalam kitab tersebut untuk disodorkan kepada peserta lomba. Kemudian peserta disuruh membaca dengan benar sesuai kaidah nahwu dan sharraf-nya.

Setelah dibaca, lalu diartikan dengan bahasa Indonesia sekaligus dijelaskan maksudnya. “Pertanyaan seputar nahwu sharraf? juga detail oleh juri. Syukurlah, tidak ada kendala yang berarti. Dan saya yakin bahwa Allah memberi ridho kepada saya,” ungkapnya.

Siswa MA Ungulan Nuris Juara 1 Baca Kitab Kuning Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA Ungulan Nuris Juara 1 Baca Kitab Kuning Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA Ungulan Nuris Juara 1 Baca Kitab Kuning Jawa Timur

Capaian gemilang dari Fauzan tersebut diapresiasi oleh Kepala MA Unggulan Nuris Balqis Al Humairo’. Menurutnya, prestasi yang dicapai Fauzan cukup membanggakan. Lebih-lebih karena dia adalah siswa sekolah formal yang di dalamnya terdapat begitu banyak mata pelajaran yang harus ditempuh.

Ia berharap agar Fauzan dapat menginspirasi rekan-rekannya agar lebih giat? mempelajari kitab kuning.? “Saya sangat bangga dengan pencapaian Fauzan yang meraih juara 1 lomba Baca Kitab kemarin dan dialah salah satu siswa yang berkompeten, semoga dia juga menjadi contoh untuk teman-temannya,” katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pahlawan, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 15 Juni 2017

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

Ribath Nurul Hidayah

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Santri Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 09 Juni 2017

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Kehadiran Presiden Joko Widodo di Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8) malam, menyedot perhatian banyak pihak. Puluhan ribu warga dari berbagai daerah memadati alun-alun Jombang, menyaksikan orang nomor satu ini membuka secara resmi perhelatan akbar NU.

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

Satu hal yang unik dari Jokowi malam itu adalah penampilannya yang lain dari biasanya. Jika pada tiap kunjungan di forum formal ia mengenakan kemeja putih, jas, lengkap dengan celana hitam, pada Muktamar NU kali ini ia memakai jas, peci hitam, dan sarung merah tua bermotif kotak-kotak.

“Sarung ini dibelikan istri saya,” katanya di hadapan muktamirin yang sontak disambut tawa.

Ribath Nurul Hidayah

Mantan walikota Solo ini lalu bercerita, sarung tersebut ia kenakan saat berada di hotel beberapa saat sebelum prosesi acara pembukaan muktamar berlangsung, lantas meluncur ke alun-alun menggunakan mobil.

Ribath Nurul Hidayah

Mantan Presiden Megawati yang juga hadir menyapanya begitu Jokowi turun dari mobil, “Sarungnya bagus.”

“Apanya, Bu?” Gerrr kembali berderai. Hadirin seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Warnanya,” jawab Megawati sebagaimana ditirukan Jokowi.

Tapi yang membuat terkesan Jokowi bukan pertanyaan ketua umum PDI-P itu. Ia mengaku justru kaget tatkala memasuki arena Muktamar dan menyaksikan pengurus NU ternyata banyak yang tak mengenakan sarung seperti dirinya.

“Begitu turun mobil ternyata banyak yang pakai jas (tak pakai sarung, red). Untung saya ditemani Gus Mus.” Mata Jokowi melirik Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri di depannya.

Penampilan Jokowi ini juga tak luput dari komentar Ketua PBNU H Saifullah Yusuf. Ia bersyukur Presiden bersedia mengenakan pakaian khas pesantren tersebut. Tapi anehnya, wakil gubernur Jatim ini justru tidak bersarung alias memakai celana.

“Pak presiden pakai sarung karena ingin menghormati NU, saya pakai celana karena ingin menghormati presiden.” Gerrrr... (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Doa, Kajian Islam, Meme Islam Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 17 Mei 2017

PBNU Siap Tampung 1.000 Anak Aceh

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) siap menampung 1.000 anak Aceh korban gempa dan gelombang tsunami yang akan disalurkan di 14 pesantren NU yang ada di propinsi tersebut. "PBNU siap menampung 1.000 anak untuk dididik di pesantren. Karena kebijakan sementara pemerintah melarang anak-anak Aceh dibawa ke luar Aceh maka kemampuan PBNU baru sejumlah itu," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa.

Dikatakannya, di Aceh terdapat hampir 100 pesantren, namun akibat bencana yang melanda propinsi itu maka kini pesantren yang masih bisa beroperasi tinggal 14 pesantren dan itu pun masih harus dibenani bangunannya. Oleh karena itu, kata Hasyim, selain menyiapkan dana untuk biaya hidup anak-anak yang akan ditampung di pesantren, PBNU juga akan mengupayakan rehabilitasi bangunan pesantren yang ditunjuk tersebut dengan mencoba bekerja sama dengan Departemen Sosial dan Departemen Pendidikan Nasional.

Kalau pemerintah mengizinkan anak-anak Aceh dibawa keluar, kata Hasyim, maka PBNU mampu menampung sekitar 5.050 anak untuk dididik di pesantren-pesantren NU, terutama di Jawa, yang sudah menyatakan kesanggupannya. "Kenapa yang kita siapkan pesantren? Karena di pesantren anak-anak itu nanti bersekolah sekaligus dididik dengan agama serta dilindungi kehidupannya, termasuk rehabilitasi mental untuk mengatasi trauma," katanya.

Jika bisa bekerja sama dengan lembaga lain, seperti forum panti asuhan, kata Hasyim, maka jumlah anak yang dapat ditampung jauh lebih besar lagi, yakni bisa mencapai dua kali lipat. "Sekarang tergantung pada pemerintah apakah peluang itu akan dimanfaatkan atau tidak," kata Hasyim dan menambahkan, langkah PBNU tersebut dilakukan semata-mata demi menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh korban bencana sehingga tidak terputus pendidikannya.

Menurut Hasyim, pendidikan anak-anak Aceh di pesantren tersebut bisa berlangsung terus, yakni dari SD hingga SLTA, atau sementara sambil menunggu pembangunan kembali sekolah-sekolah yang hancur akibat bencana. "Yang penting anak-anak tidak terputus pendidikannya. Kalau menunggu rehabilitasi sekolah sampai kapan, di Maluku dan Ambon saja hingga sekarang belum selesai rehabilitasinya," kata Hasyim.

Saat ini PBNU telah menugaskan pengurus wilayah NU Aceh untuk menginventarisasi anak-anak yang bersedia ditampung di pesantren. Anak-anak yang mau atau keluarga korban yang berminat menitipkan anaknya untuk dididik di pesantren diminta menghubungi pengurus NU setempat. Sementara untuk menangani anak-anak usia 1-2 tahun, PBNU menyarankan pemerintah membangun penampungan darurat dan sepakat dengan aturan yang ditetapkan mengenai pelaksanaan adopsi terhadap anak-anak tersebut.

Terkait dengan bencana di Aceh dan Sumatera Utara, PBNU telah mengirim sejumlah bantuan pangan, pakaian, dan obat-obatan serta relawan dan dalam waktu dekat juga akan memberangkatkan lagi empat truk bantuan lewat darat. Sebanyak tiga pengurus wilayah NU Aceh diketahui meninggal akibat bencana alam tersebut, sementara untuk pengurus cabang belum diketahui pasti jumlahnya, namun diperkirakan antara 30 hingga 50 persen. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pondok Pesantren, Aswaja, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

PBNU Siap Tampung 1.000 Anak Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Tampung 1.000 Anak Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Tampung 1.000 Anak Aceh

Sabtu, 08 April 2017

Pasukan Jin dan Malaikat

Istilah tersebut yang sangat dikenal oleh kalangan pesantren dan NU. Pasukan yang siap didatangkan oleh beberapa paranormal yang berpromosi mampu mengamankan acara Rapat Akbar NU kepada Ketua Panitia almarhum Abu Hasan.

Tawaran dari paranormal itu mendorong Abu Hasan untuk menanyakan kepada Wakil Sekjen PBNU H. Ahmad Bagdja. Namun, Ahmad Bagdja tidak menolak ide tersebut, walaupun ia menyanggupi untuk mencari jalan yang lebih bagus.

Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasukan Jin dan Malaikat

Konon beberapa kiai memiliki santri yang terdiri dari para jin, bahkan di antaranya menjadi khadam (pelayan) kiai. Banyak kiai yang tidak mau berurusan dengan jin. Namun demikian, mereka mengenalnya dengan baik walau mereka belum pernah menyaksikannya.

Urusan pasukan jin yang ditawarkan oleh paranormal kemudian diserahkan kepada Ahmad Bagdja. Isu itu juga ramai diberitakan media massa. Pemerintah dan masyarakat terkejut mendengarnya. Baru pada saat itulah wacana tentang jin muncul dalam perbincangan politik di tengah publik.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Rapat Akbar rencananya bakal menghadirkan satu juta warga NU. Masyarakat terkejut mendengar rencana ini. Begitu juga aparat keamanan dan Menteri Dalam Negeri.

Polisi mengaku akan kesulitan mengamankan massa yang jumlahnya sangat besar. Sedangkan Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa secara teknis sulit mengatur, memberikan konsumsi, dan menyediakan toilet untuk peserta acara.

Pemerintah kemudian membujuk NU agar mengurungkan niatnya. Pemerintah tidak berani melarang secara tegas karena tujuan Rapat Akbar itu adalah doa bersama dan apel kesetiaan pada Pancasila. Dengan acara ini, NU sendiri tidak bisa lagi dituduh tidak setia atau anti-Pancasila .

Abu Hasan menyatakan bahwa Banser NU harus berkoordinasi dengan “pasukan besar” yang dipimpin Ahmad Bagdja. Di tengah rasa penasaran mengenai “pasukan besar” itu, Ahmad Bagdja hanya tersenyum. 

Namun, ia setidaknya mampu meyakinkan bahwa dengan adanya pasukan jin maka NU siap menghadapi tekanan pemerintah. Pasukan jin itu bisa menguatkan niat NU dan membuat grogi aparat yang akan mengganggu acara. Seperti halnya Ahmad Bagjda, KH Abdurrahman Wahid hanya tersenyum ketika ditanya mengenai adanya pasukan jin tersebut.

Turunnya dana pengamanan untuk pembiayaan pasukan jin justru membuat Ahmad Bagdja geli. Ia sama sekali tidak mengenal paranormal, apalagi jin.

Maka, setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh NU, dana itu digunakan untuk melakukan doa di berbagai masjid dan surau di Jakarta. Tujuannya memohon keselamatan kepada Allah Swt. Dengan doa itu para pengurus NU yakin bahwa Allah akan menurunkan pasukan malaikat untuk melindungi mereka.

Panitia Rapat Akbar kemudian membeli ribuan tasbih dan mencetak ribuan eksemplar buku Surat Yasin dengan logo PBNU. Selama dua minggu, orang-orang di berbagai masjid dan surau melakukan doa bersama untuk kesuksesan dan keselamatan Rapat Akbar NU. 

Sejak Revolusi 1966, belum ada model mobilisasi massa yang berskala besar di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan merasa kerepotan dengan pelaksanaan Rapat Akbar NU. 

Namun, doa bersama yang diinisiasi oleh panitia telah membuat NU semakin percaya diri. Gus Dur sendiri tidak mau mundur dari rencana tersebut. Padahal, pemerintah terus memberi tekanan untuk membatalkan acara. Para pengamat politik pun meremehkan acara tersebut dan menganggapnya sebagai show of force yang tak berarti.

Ketika Rapat Akbar NU akhirnya berlangsung di Lapangan Timur Senayan, Jakarta, pada 1 Maret 1992, banyak orang mengira acara itu dijaga pasukan jin. Sedangkan kalangan NU merasa berada di bawah lindungan Allah karena mereka selalu memanjatkan doa di sepanjang acara berlangsung. Namun demikian, Gus Dur masih kurang puas karena merasa beberapa peserta dari luar kota dihadang oleh aparat keamanan sehingga mereka tidak bisa menghadiri acara besar tersebut. (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 Februari 2017

Pendapat Banser Atas Polisi Asmaul Husna di Demo 4 November

Garut, Ribath Nurul Hidayah - Hadirnya pasukan Asmaul Husna dari Satuan Brimob Polri saat aksi 4 November lalu mendapat perhatian tersendiri dari publik. Namun tidak bagi Banser Garut, Jawa Barat.

Pasalnya pasukan tersebut sudah digunakan Kepolisian Resort Garut saat pengamanan Pilkada 2013, Pilleg dan Pilpres 2014, termasuk Pilkada Pangandaran 2015

Pendapat Banser Atas Polisi Asmaul Husna di Demo 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendapat Banser Atas Polisi Asmaul Husna di Demo 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendapat Banser Atas Polisi Asmaul Husna di Demo 4 November

Eks Dansatkorcab Banser Kabupaten Garut yang kini Dansatkorwil Banser Jabar, Yudi Nurcahyadi menjadi saksi teredamnya emosi demonstran ketika berhadapan dengan pasukan Asmaul Husna.

Pasukan yang tugasnya mengumandangkan zikir dan melafalkan nama-nama Allah SWT terbukti sangat efektif menyejukan suasana yang cenderung panas ketika demonstrasi berlangsung.

Ribath Nurul Hidayah

"Kala itu 2013 Pilkada Garut sampai dua putaran. Demonstrasi hampir tiap hari. Berkat Pasukan Asmaul Husna itulah suasana Garut Kondusif," kata Yudi, Ahad (6/11).

Menurut Yudi, ide pasukan Asmaul Husna dari mantan Kapolres Garut, AKBP H. Arif Rachman SIK MTCP yang kini Wakapolres Jakarta Timur. Arif dikenal sebagai pegiat ESQ di Garut yang dekat dengan Pesantren NU dan Ansor/Banser Garut.

Ribath Nurul Hidayah

"Maka ketika lihat tivi ada pasukan Asmaul Husna, saya yakin demo ratusan ribu itu akan bisa disejukan. Karena tameng polisi terdepan dengan zikir bukan pentungan," ujarnya.

Yudi pun berharap, pasukan Asmaul Husna dijadikan pasukan unggulan Kepolisian karena terbukti mengajak demonstran berkomunikasi dengan hati, bukan lagi emosi. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kajian Islam, Halaqoh, Nahdlatul Ribath Nurul Hidayah