Sabtu, 25 Desember 2010

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

Jombang, Ribath Nurul Hidayah. Seperti tahun sebelumnya, Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur selalu menyembelih hewan kurban. Tidak semata dinikmati para santri dan tetangga sekitar pesantren, sebagian daging kurban juga diberikan ke sejumlah keluarga kurang mampu di pelosok desa.

Lewat Lembaga Sosial Pesantren Tebuirteng atau LSPT, sejumlah daging kurban tersebut disalurkan ke beberapa lokasi yakni beberapa desa di Kecamatan Diwek, Gudo, serta Mojowarno.

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tebuireng Sebarkan Daging Kurban hingga Pelosok Desa

"Prinsipnya kami ingin berbagi kebahagiaan dengan warga masyarakat kurang mampu di Jombang," kata Khoirur Rozak, Selasa (13/9). Direktur LSPT tersebut menandaskan bahwa cukup banyak masyarakat di kota santri ini yang belum bisa menikmati daging. Karena itu, momentum Idul Adha menjadi waktu yang tepat untuk berbagi dengan mereka, lanjutnya.

Ahmad Fanani yang mengedarkan daging dari LSPT ke sejumlah warga di Desa Kedungturi Kecamatan Gudo bahkan bertemu dengan Mbah Mur. "Yang memprihatinkan, kakek berusia seratus tahun tersebut dalam kesehariannya hidup sebatang kara," kata Fanani yang juga donatur service di LSPT.

Ribath Nurul Hidayah

Sambutan hangat diterima tim LSPT ketika menebar daging kurban di Dusun Tegalsari dan Desa Catakgayam Kecamatan Mojowarno. "Meski jumlah daging tidak banyak, namun tidak mengurangi rasa bahagia dari warga yang menerima," kata Nasrullah. Bahkan Anas, sapaan akrabnya mengemukakan kalau warga yang diberi daging memang dipilih mereka yang secara ekonomi cukup terbelakang.

Slamet Santoso membagi daging bantuan LSPT di dusun Mejono dan Cikar Desa Keras Kecamatan Diwek juga harus selektif. "Diprioritaskan warga kurang mampu dan hidup prihatin," kata Mbah Met, sapaan kesehariannya.

Ribath Nurul Hidayah

Puluhan bungkus daging kurban juga diserahkan kepada warga di kawasan Bandung Krajan, Bandungsari, Pengkol, dan Sukopuro. "Seluruhnya berada di Kecamatan Diwek," kata Rahmat Hidayat.

Bantuan daging kurban tersebut diberikan kepada sejumlah karyawan LSPT di daerah masing-masing. "Dengan demikian, mereka yang lebih tahu mana warga yang memang layak menerima daging," kata Khoirur Rozak.

Apalagi pembagian dilakukan di hari kedua Idul Adha, maka sekaligus bisa melakukan pemantauan terhadap warga yang belum mendapatkan pembagian kurban dari takmir masjid atau mushalla setempat. "Dengan demikian warga yang menerima benar-benar layak mendapatkan daging kurban tersebut," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sholawat Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 12 Desember 2010

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Pelawak Cak Lontong menguraikan pengalamannya bersinggungsn dengan tradisi, tokoh, dan warga NU. Menurut dia, orang NU itu santai, tidak ribet, dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Dan tentu saja sangat kental dengan nuansa budaya.

Hal itu dikemukakannya beberapa saat sebelum tampil di peringatan Hari Lahir NU ke-91 di halaman gedung PBNU, Jakarta, 31 Januari lalu, sembari memilih batik NU yang cocok untuk dikenakannya.

Berikut wawancara lengkap Cak Lontong dengan Abdullah Alawi dari Ribath Nurul Hidayah:

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Sejak kapan Anda mengenal NU?Saya dari dulu suporter NU memang, mulai zaman kuliah.?

Ribath Nurul Hidayah

Maksudnya suporter itu bagaimana?

Oh iya, saya kan Gusdurian. Zaman Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999) lawan siapa dulu, Abu Hasan, zaman Orde Baru itu, zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru, penggemar Gus Dur, mulai itu. Tahun berapa itu?

Ribath Nurul Hidayah

Tahun 1994, Muktamar Cipasung

Iya, betul, saya manut sampeyan. Sampeyan lebih tahu.?

Pada 1994 Anda berpihak ke Gus Dur, cara pandang Anda waktu itu bagaimana?

Sebenarnya kan tahun 1994 itu saya mahasiswa. Pada tahun 1994 itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah. Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa, tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu.?

Yang menarik dari Gus Dur itu apa?

Secara kulturnya adalah orang Jawa, Jawa Timur, kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal sebenarnya.?

Sebelumnya 1994 sama sekali tidak mengenal NU?

Bukan sama sekali, saya kan kenal Gus Ipul (H Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur), sudah lama, rektor saya Pak Nuh, orang NU, dulu kuliah.

Oh ya, tadi Anda bilang sebagai supporter NU. Akan sampai kapan menjadi supporter NU?

Ya terus dong. Masa mau pindah ke MU.

Supporter dalam bentuk apa?

Apa ya, kalau orang merasa cocok, karena saya juga, satu, saya kan orang Jawa.

Masa kecil tidak pernah dengar NU?

Udah. Dulu saya punya topi banyak tak bordir, topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA, kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida. Tetangga saya dulu modin.

Kesan bersinggungan dengan orang-orang NU bagaimana?

Nyantai, nyantai tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai. Menurut saya, orang NU itu bisa mengurus dirinya sendiri, tidak ngerepoti. Kalau ada acara, yang datang tak mau ngerepoti tuan rumahnya.?

Ada kritik untuk NU?

Wah, kalau itu saya tidak perlu.





Ke anak-anak Cak Lontong pernah memperkenalkan NU?

Oh anak saya tahu NU. Anak saya yang SMA dan SMP tahu NU. NU tahu. Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Habib Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 Desember 2010

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Tubaba, Ribath Nurul Hidayah

Jamaaah Yasin Muslimat NU Tiyuh Makarti dan Sumber Rejo mengadakan santunan kepada yatim piatu di Masjid Nurul Iman Tiyuh Makarti Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat, Sabtu (30/9).

Kegiatan yang berangkaian dengan peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriah menghadirkan penceramah KH Ahmad Junaedi dari Lampung Tengah.

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Junaedi Paparkan Pentingnya Sedekah Yatim di Peringatan Muharam

Ia mengajak jamaah jamaah selalu ingat akan pentingnya puasa dan bersedekah pada tanggal 10 Muharram.

“Agar rizki yang telah dimiliki dapat ditambah oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ribath Nurul Hidayah

Ia  menuturkan pahala sedekah akan dilipatgandakan. Pahala bagi yang menyantuni satu anak yatim sama dengan seisi jagat raya. Sementara bagi yatim piatu sedekah yang kita berikan akan mengurangi penderitaan.

"Maka mari kita selalu peduli terhadap anak yatim dan yatim piatu agar penderitaan mereka sedikit berkurang," pungkasnya.

Ribath Nurul Hidayah

Turut hadir anggota DPRD Gunawan Agung Kuncoro,  Mapolsek Tulang Bawang Udik Erwan, serta tokoh agama setempat. (Gati Susanto/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah PonPes, Doa, Ulama Ribath Nurul Hidayah