Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah



Pemerintah Indonesia telah menetapkan kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa setelah maraknya tindakan kriminal itu di Indonesia.

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Tetapkan Kekerasan Seksual Kejahatan Luar Biasa

"Karena itu penanganannya harus dengan cara-cara yang juga luar biasa dan juga sikap dan tindakan kita pemerintah juga harus luar biasa," kata Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers di Istana Negara pada Selasa sore.

Menurut Presiden, pemerintah sedang menyiapkan hukuman yang lebih berat untuk mencegah tindak kriminal tersebut.

Jokowi mengatakan telah mengarahkan Kementerian Hukum dan HAM, Polri, serta Kejaksaan Agung untuk menindaklanjuti proses jenis hukuman yang tepat secara cepat.

Ribath Nurul Hidayah

"Perppu-nya baru diproses, undang-undangnya nanti juga akan kita ajukan revisi, tetapi yang paling penting tadi bahwa penanganannya harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa," kata Presiden terkait rencana hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara itu, Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan lembaganya akan mempelajari segala aturan hukum yang berlaku untuk mengefektifkan penanganan perkara kejahatan kekerasan seksual terhadap anak.

Ribath Nurul Hidayah

Selama ini, ujar Prasetyo, penegak hukum hanya menjerat pelaku kekerasan seksual terhadap anak menggunakan pasal 35 tahun 2012 dengan hukuman 10 tahun penjara.

"Bahkan kalau dilakukan disertai dengan pembunuhan, kita tidak hanya tuduhkan perkosaan tapi juga pidana pembunuhan," jelas Prasetyo.

Selain rencana pengkebirian terhadap pelaku kejahatan seksual, pemerintah berencana memberikan sanksi sosial dengan mengumumkan identitas dan gambar wajah pelaku kepada masyarakat umum.

"Kalau revisi mungkin lama. Karena sekarang terdesak dan sekarang UU sanksi tak memadai ini jadi dasar Perppu Perlindungan Anak khususnya kekerasan seksual terhadap anak," kata Prasetyo. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nahdlatul, Olahraga, Makam Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 27 Januari 2018

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Kudus, Ribath Nurul Hidayah - Guna mengangkat martabat kaum santri, Rabithah Mahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) mengajak pondok pesantren menjalin kebersamaan. Pesantren harus menyatu, saling menopang? antarsesama dalam menghadapi tantangan dunia global.

Demikian disampaikan Sekretaris Pengurus Pusat RMI NU KH Miftah Faqih saat membuka puncak peringatan Satu Abad Qudsiyyah di Lapangan Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi Kudus, Senin (1/8).

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Tantangan, RMI Ajak Pesantren Jalin Kebersamaan

Menurutnya, kebersamaan merupakan salah satu alat meningkatkan martabat pesantren. Untuk menuju ke arah itu, pesantren harus bisa menanggalkan ego sektoralnya. Sebab, manusia yang ego pikirannya stagnan atau mati.

"Pesantren harus bersama-sama menggerakkan kekuatan dan potensi dengan saling mempromosikan. Bukan malah saling memotong,” kata Kiai Miftah.

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

Imbauan ini didorong oleh banyaknya tantangan yang belakangan ini dihadapi pesantren. Kondisi semacam ini sangat membutuhkan ketajaman membaca realitas masa kini. Kaum pesantren jangan hanya terpaku pada masa lalu, tetapi bisa fokus pada masa sekarang.

"Sebuah bait arab menyebutkan bahwa ketika mata kita fokus tertuju masa lalu, maka harus direkonstruksi. Kemudian dihimpun atau dikembangkan pada saat ini yang ada manfaatnya. Terkadang, kita lebih banyak bangga sebagai penikmat sejarah masa lalu, tetapi lupa tidak membuat sejarah masa kini," ujar Miftah.

Kepada insan-insan pesantren, Kiai Miftah mengajak supaya tidak berkecil hati. Sebab, pesantren Indonesia sangat menghargai kutubus salaf dan lainnya. Pesantren juga selalu ramah keberagaman dan menghargai tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.

"Pesantren akan luwes karena sudah dicetak sedemikian rupa melalui pengajaran kitab-kitab salaf maupun kitab kuning yang penuh makna," tegasnya.

Di akhir sambutannya, Kiai Miftah mengharapkan santri tidak hanya menjadi penonton. Santri harus bisa menjadi saksi yang terlibat dalam masyarakat.

Acara puncak bertemakan Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa ini berlangsung mulai 1-7 Agustus di lapangan Qudsiyah Jalan KHR Asnawi Kudus. Pada hari pertama usai pembukaan, kegiatannya adalah halaqah santri mandiri dan pementasan seni budaya.

Kegiatan juga disemarakkan pameran kaligrafi dan beberapa kitab turats serta stan ekspo UMKM. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pesantren, Olahraga, Kajian Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 22 Januari 2018

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah mengeluarkan ikhbar bahwa tanggal 1 Rajab 1437 hijriah jatuh pada Sabtu, 9 April 2016.

Ketua LF PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengatakan, keputusan ini berdasarkan hasil istikmal atau penyempurnaan jumlah tanggal bulan menjadi 30 hari, setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU tak melihat hilal pada Kamis (7/4) petang.

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ikhbarkan Awal Rajab 9 April

Kesimpulan tersebut sudah sesuai dengan prediksi hasil hisab atau penghitugan astronomis sebagaimana yang tercatat dalam almanak resmi Lembaga Falakiyah. Berdasarkan hisab awal bulan markaz Jakarta, 1 Rajab terjadi pada (malam) Sabtu Wage, 9 April 2016. Ijtima atau konjungsi terjadi pada Kamis Pahing (7/4), pukul 18:24, dengan tinggi hilal 00 22 19 di bawah ufuk.

Ribath Nurul Hidayah

Dengan demikian, bagi umat Islam yang hendak melaksanakan puasa Rajab bisa memulainya Sabtu (8/4) besok. Rajab termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam di samping Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan tentu saja Ramadlan.

Bulan Rajab juga menandai persiapan perayaan hari lahir Nahdlatul Ulama yang lahir pada 16 Rajab 1344 H. Meski sering pula diperingati pada 31 Januari, acara tahunan ini juga kerap diselenggarakan menurut kalender hijriah sesuai amanat Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 2010. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Kyai, Olahraga, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 21 Januari 2018

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Mashum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Dimyathi, Santri Hadratussyekh Hasyim Asyari dari Sedan

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Di Desa Gandrirojo dulu terkenal dengan budaya joget (tarian Melayu tradisional), kelompok pemain joget pun berdatangan untuk menghibur masyarakat pada saat itu. Dan pada suatu hari di jalan perempatan desa setempat ada kelompok joget yang datang, kemudian Mbah Dimyathi menghampiri, dan kemudian gendang/kendang (instrumen dalam gamelan) ditendang oleh beliau sambil berkata "Lereni nang mire!" (berhenti dan bubar). Spontan penonton bubar dan pemain joget bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa terucap satu kata pun.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam sebuah cerita menyebutkan, bahwa Mbah Dimyathi merupakan orang yang gampangan (mudah) jika dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan hanya di Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan saja yang merasakan jasa beliau, melainkan juga masyarakat luar daerah.

Beberapa peninggalan yang masih dapat diketahui hingga saat ini adalah Masjid Jami Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Masjid yang berada di tengah desa tersebut berdiri begitu kokoh dengan arsitek kuno yang begitu mencolok.

Ribath Nurul Hidayah



Menuntut Ilmu hingga ke Makkah


Ulama yang satu ini memiliki segudang ilmu dengan sejarah nyantri yang cukup panjang. Di Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, beliau mengaji hingga 10 tahun lamanya. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, selama 3 tahun. Setelah 13 tahun di Pulau Jawa, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Di Makkah beliau menuntut ilmu selama 6 tahun.

Di sela-sela senggang waktu mengaji, ia memanfaatkan waktunya untuk nderes (membaca kitab berulang-ulang). Selain itu, sesekali beliau juga membacakan kitab kepada beberapa santri yang ada di sana. Salah satu santri Mbah Dimyathi adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho (yang makamnya sekarang berada di Desa? Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang).

Enam tahun telah dilalui beliau untuk belajar ilmu agama di Makkah, sekembalinya dari Makkah Mbah Dimyathi mendirikan sebuah masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung sebagai tempat mengaji bersama santri-santrinya di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho yang merupakan salah satu santri beliau saat di Makkah datang ke tanah Jawa. Sayyid Hamzah Asy-Syatho hendak menengok keadaan sang guru, dan ingin mengetahui keadaan kediaman beliau. Sesampainya Sayyid Hamzah Asy-Syatho di Desa Gandrirojo, maka bertemulah dengan sang guru. Saat melihat keadaan masjid kecil yang terbuat dari kayu panggung (Joglo) tersebut, Sayyid Hamzah Asy-Syatho tidak rela akan hal itu, karena Sayyid Hamzah Asy-Syatho mengaggap bahwa Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang mempunyai ilmu besar dan mampu untuk menjadi panutan. Ia pun minta izin kepada Mbah Dimyathi untuk mendirikan Masjid yang lebih besar lagi.

Dengan upaya dan jerih payah Sayyid Hamzah Asy-Syatho dalam mewujudkan keinginannya tersebut, terwujudlah bangunan masjid yang megah dan berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Masjid Desa Gandrirojo yang posisinya diapit oleh dua pondok, pondok yang diasuh oleh KH Sahlan M Nur (sebelah selatan) dan pondok yang diasuh oleh KH Fahrurrozi Almarhum (sebalah utara).



Punya Santri dari Kalangan Jin


Sepulang dari Makkah, Mbah Dimyathi mengajarkan ilmu agama kepada beberapa santri yang ada di pesantrennya. Kitab-kitab yang diajarkan terdiri dari semua aspek ilmu agama, mulai dari ilmu fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang telah menunjukkan kiprahnya di antaranya KH Mawardi Gandrirojo, KH Ghozali Gandrirojo, KH Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH Tamlihan Pamotan, Kiai Syuaib Plawangan, KH Sidiq Narukan, KH Marzuki Sendangwaru, Kiai Syamsuri Sendangmulyo, Kiai Mashum Kopek, Kiai Suhini Menoro, KH Suyuti Menoro, KH Maskur Jambeyan, Kiai Abdul Rohim Kumbo, KH Darkum Gambiran, KH Maskur Galengan, KH Shodiq Ngroto, KH Mastur Lemahputih, Kiai Nuh Dadapan, Kiai Mawardi Macanireng, Kiai Barhud Bonang, KH Joned Bonang, KH Sendang Agung Pamotan, dan lain sebagainya.

Pada masa puncak keemasannya, Mbah Dimyathi memiliki 1000 santri dari berbagai penjuru, sehingga rumah beliau dibuat sekat-sekat kamar untuk menginap santri-santrinya. Ada yang menceritakan, Mbah Dimyathi juga memiliki santri dari kalangan jin. Jin tersebut merupakan bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Beberapa jin yang menolak ajakan beliau untuk masuk Islam pergi dari tempat tersebut, dan sebagian lagi mengikuti ajakan beliau.



Pendiri NU di Wilayah Rembang Timur


Menguak kealiman dan kesohoran ilmu beliau tidak akan pernah luput dari proses belajar beliau di beberapa pesantren ternama di Pulau Jawa, di antaranya Pesantren Tebuireng Jombang. Di sanalah Mbah Dimyathi mendalami pendidikan ilmu agama kepada ulama besar Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari.

KH Hasyim Asyari yang merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Nusantara juga turut menularkan loyalitas beliau dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Pernah dua kali KH Hasyim Asyari berkunjung ke rumah Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo, yang pertama karena rasa penasaran beliau tentang sosok karismatik dan alimnya Mbah Dimyathi. Kemudian kunjungan yang kedua oleh KH Hasyim Asyari adalah saat akan dilaksanakannya seuah pertemuan di Blora kira-kira tahun 1927/1928 M. Mbah Hasyim mengajak sang murid untuk mengikuti acara tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua dengan ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yakni Mbah Mashum.

Mbah Dimyathi termasuk salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Ia? bersama dengan adiknya (Mbah Mashum) juga pernah dipercaya untuk mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu. (Aan Ainun Najib)

Sumber :

1. Catatan KH Sahlan M Nur, hasil cerita dari KH Mawardi Alm (menantu Mbah Dimyathi)

2. Wawancara KH Sahlan M Nur (27 Januari 2016)

3. Wawancara KH Muhdi Mawardi, cucu Mbah Dimyathi (27 Agustus 2016)

4. Wawancara KH Saefuddin (27 Agustus 2016)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Jumat, 05 Januari 2018

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pro dan kontra tentang revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37/2006 dan pengembalian rapelan anggota DPRD masih menjadi isu hangat bagi Pimpinan Pusat Ikatan (PP) Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Organisasi berbasis masa pelajar dan santri NU itu, meminta agar presiden tetap melakukan revisi, meski banyak anggota DPRD yang menolak.

”Saya kira revisi tetap jalan terus. Meski demikian, anggota DPRD jangan dikambinghitamkan terus menerus. Namun, menyangkut uang rapelan itu juga harus dikembalikan kepada rakyat,” kata Ketua Umum PP IPNU Idy Muzayyad dalam sebuah diskusi di Kantor PP IPNU di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (14/2) lalu.

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Uang Rapelan DPRD Untuk Pendidikan

Idy, demikian ia akrab disapa, dalam paparannya mengatakan, kalau memang rapelan dari anggota DPRD itu dikembalikan, maka uang tersebut harus fokus penggunaannya. Yakni itu untuk memenuhi kekurangan 20 persen anggaran pendidikan di masing-masing daerah. Dengan demikian, uang tersebut diharapkan akan lebih membawa manfaat bagi rakyat.

 

Gini lho, rapelan dari anggota DPRD itu dikembalikan ke kas pemerintah daerah. Lalu fokusnya untuk memenuhi 20 persen anggaran pendidikan yang belum terpenuhi hingga saat ini,” ungkap mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Idy menegaskan, pihaknya setuju uang rapelan anggota DPRD dikembalikan kepada pemerintah. Namun, penggunaan uang tersebut jangan sampai tidak jelas. Karena itu, IPNU mengusulkan agar difokuskan untuk biaya pendidikan. ”Sekolah di daerah-daerah terpencil kan banyak yang nggak layak. Nah, uang itu kan lumayan untuk pembangunan sarana pendidikan,” tuturnya.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, tokoh muda NU asal Magelang, Jawa Tengah itu mengatakan, selain untuk membangun sarana pendidikan, dana tersebut juga bisa digunakan untuk beasiswa belajar anak-anak yang tidak mampu. Banyaknya angka putus sekolah, katanya, disebabkan rendahnya ekonomi rakyat.

Soal sikap ngotot anggota DPRD yang menolak revisi PP 37/2006 dan pengembalian rapelan, ia mendukung pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, bahwa untuk melihat masalah tersebut tidak bisa dilihat dari aspek hukum saja, tapi harus juga dilihat dari aspek moral.

Ribath Nurul Hidayah

”Apakah nggak ada cara lain, selain mereka harus datang ke Jakarta untuk melakukan demo? Saya kira masih banyak cara lain untuk menyampaikan aspirasi tetang kegelisahan mereka yang merasa nggak nyaman akibat PP itu,” ungkapnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 04 Januari 2018

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa

Palopo,Ribath Nurul Hidayah. Universitas Islam Makassar (UIM) bekerja sama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (IPMIL) menyelenggarakan try out Ujian Nasional bagi Siswa-Santri SMA/SMK/MA di Gedung Kesenian Lagaligo Kota Palopo, Kamis (19/2).

Pembantu Rektor IV UIM Dr. Nur Taufiq Sanusi membuka kegiatan tersebut. Pada pembukaan ia mengatakan, dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, UIM melakukan kerja sama dengan berbagai pihak.

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Laksanakan Tridharma, UIM Bikin Try Out Santri dan Siswa

Kerja sama itu, tambah dia, tak hanya dilakukan dengan pihak dalam negeri, tapi juga luar negeri. Hal itu sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan akses para alumni salah satu perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Makassar tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

Menurut putra Gurutta KH Sanusi Baco, try out tersebut sebagai bentuk kepeduliaan UIM santri dan siswa agar kelulusan mereka meningkat.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir ribuan pelajar dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Kabupaten/Kota Palopo, Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 30 Desember 2017

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China

Tasikmalaya, Ribath Nurul Hidayah?



Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Muhammad Herindra menanggapi pemberitaan bahwa Indonesia saat ini sudah dikuasai China. Menurut dia, pemberitaan tersebut bohong adanya. Ia menyampaikan bantahan tersebut pada Safari Ramadhan ke Kota Tasikmalaya di lapangan Makodim 0612, Senin (5/6).

"Tidak mungkin pemerintah akan menyengsarakan rakyatnya. Itu semua berita bohong, menyesatkan dan harus diwaspadai. Memang investasi negara Chna besar, namun Pemerintah tidak akan gegabah, semua ada kalkulasinya. Pemerintah saat ini berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan ditempuh dengan berbagai cara."

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangdam Siliwangi Bantah Indonesia Dikuasai China

Pangdam meminta kepada seluruh pihak agar mewaspadai akan bahaya terorisme, diperlukan langka-langkah untuk mengantisipasi pergerakannya, termasuk upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah.?

Ribath Nurul Hidayah

"Wajib kita menangkal terorisme sedini mungkin. Jangan sampai tumbuh dan berkembang di kota ini, termasuk musuh negara yang saat ini menentang Pancasila sebagai dasar negara. TNI ini aparat negara yang getol mengkampanyekan nilai Pancasila, ini final, sudah disepakati pendiri bangsa sehingga jika ada organisasi yang bertentangan, ya dibubarkan," ujar jenderal kelahiran Blitar 20 Oktober 1964 ini.?

Masih dalam sambutannya, Pangdam berbicara tentang hubungan TNI dan masyarakat. Ia meminta kepada seluruh jajaran TNI untuk lebih dekat dengan masyarakat.?

Ribath Nurul Hidayah

"Kemanunggalan TNI dan rakyat tidak terbantahkan. TNI lahir dari rakyat. Tanpa rakyat, TNI tak ada apa-apanya. Saya perintahkan agar semua unsur TNI selalu dekat dengan rakyat karena rakyat adalah ibu kandung TNI, dan memisahkan TNI dengan rakyat sama halnya memisahkan ikan dari air," tegas Mayjen bintang dua tersebut.?

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya Ricky Assegaf sependapat dengan apa yang dikemukakan Pangdam Siliwangi, terlebih yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh bangsa saat ini.?

"Ansor komitmen menjaga keutuhan NKRI, kalau TNI bergerak dalam pencegahan dan penindakan, Ansor di samping pencegahan, juga meluruskan pemahaman keliru tentang jihad serta ikut serta dalam pengamanan. Ormas anti-Pancasila juga bagian yang kami tentang saat ini, apa pun namanya harus dibubarkan. Terima kasih Pangdam telah bersama kami," ungkap Ricky seusai acara.?

Ia menambahkan, berita bohong, fitnah harus terus lawan oleh segenap masyarakat karena hal itu tidak mencerdaskan, bahkan jadi penyebab pertengkaran sesama anak bangsa, dan merusak sendi-sendi bernegara.?

“Bikin gaduh saja. Mari budayakan tabayyun,” tegasnya. ?

Selain Ketua GP Ansor, Safari Ramadhan Pangdam tersebut dihadiri Walikota Budi Budiman, Ketua MUI KH Acep Noor Mubarok, Kapolresta AKBP Adi Nugraha, serta Dandim se-Priangan Timur. (A. Arif/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah News, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 21 Desember 2017

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar jalan sehat dengan rute Monumen Nasional (Monas)-Bundaran HI-Monumen Nasional, Ahad (22/12) dengan jarak sekitar 2.5 km.

Kader-kader Fatayat berseragam pakaian olah raga putih hijau khas Fatayat secara bergelombang memenuhi sisi selatan Silang Monas. Tak sedikit diantaranya datang bersama keluarga, suami dan anak. Rekreasi sekaligus olah raga bersama. Dan jika beruntung, siapa tahu dapat hadiah door prize.

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ibu, Fatayat Gelar Jalan Sehat di Monas

Sekitar jam 6 pagi, mereka melakukan pemanasan dengan senam aerobik dipandu oleh beberapa instruktur senam diiringi dengan musik yang ceria.

Ribath Nurul Hidayah

Menteri BUMN Dahlan Iskan yang energik, turut datang dalam acara ini. Ia naik ke panggung dan mengajak peserta untuk sehat dengan berolah raga senam.

Ribath Nurul Hidayah

Hujan rintik-rintik yang membasahi monas sejak subuh tidak menghalangi para anggota Fatayat untuk ikut senam dan bergembira bersama.

Mantan Wapres Jusuf Kalla bersama istrinya Mufida Jusuf Kalla ikut hadir dan bergembira serta menyampaikan Selamat Hari Ibu. Kedatangannya disambut meriah oleh ibu-ibu muda Fatayat NU. Ia mengajak hadirin membacakan surat Al-Fatihah secara bersama-sama untuk mendoakan figur Ibu, yang telah berkorban membesarkan anak-anaknya. 

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah bersama dengan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud melepas rombongan jalan kaki dengan mengibarkan bendera dan melepaskan balon ke udara.

Panitia menyediakan sejumlah hadiah menarik, termasuk dua umrah bersama dengan NRA tour and travel, kulkas, sepeda gunung dan sejumlah hadiah hiburan lainnya.

Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Ida Fauziyah menjelaskan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penyegaran kembali dan menumbuhkan semangat berorganisasi serta rasa bangga bagi anggota Fatayat di tengah beragam organisasi masyarakat belakangan ini. Disamping itu,  Fatayat NU sebagai bagian dari perempuan Indonesia memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan keluarga. 

"Keberhasilan seorang pria, begaimana pun hebatnya kesuksesan mereka itu karena peran besar yang diberikan oleh perempuan. Oleh karena itu peran perempuan  yang besar itu patut dihargai. Kita juga tidak akan lupa bahwa sejarah bangsa kita telah membuktikan bahwa kaum ibu lah yang telah menjadi inspirasi pergerakan perempuan Indonesia, sehingga saatnya kaum Ibu bangkit dari keterbelakangan di segala bidang baik di bidang pengetahuan, sosial, politik dan ekonomi serta bidang lainnya,” katanya.(mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Humor Islam, Kiai, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 19 Desember 2017

Peringati Harlah Pesantren, Luqmaniyah Khataman Al-Qur’an 17 Kali

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Dalam rangka memperingati hari lahir ke-17, Pondok Pesantren Luqmaniah Yogyakarta menggelar khataman Al-Qur’an sebanyak 17 kali. Khataman al-Qur’an tersebut dimulai setelah subuh dan berakhir menjelang maghrib.?

Santri pondok Luqmaniyah, Charismanto menuturkan bahwa khataman Al-Qur’an pada , Kamis (9/2) ini melibatkan seluruh santri Luqmaniyah, baik putra maupun putri.

Peringati Harlah Pesantren, Luqmaniyah Khataman Al-Qur’an 17 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah Pesantren, Luqmaniyah Khataman Al-Qur’an 17 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah Pesantren, Luqmaniyah Khataman Al-Qur’an 17 Kali

“Jadi setiap kamar santri, mendapatkan jatah untuk membaca Al-Qur’an sebanyak 6 Juz,” kata Charis.?

Setelah Al-Qur’an berhasil dikhatamkan sebanyak 17 kali sebelum maghrib, malam harinya diadakan doa bersama khatam Al-Qur’an dan shalawatan.?

Kegiatan tersebut merupakan satu rangkaian memperingati hari ulang tahun pesantren Luqmaniyah. Selain acara tersebut, ada juga turnamen futsal santri se-DIY dan Festival hadroh se-DIY yang akan diselenggarakan pada Jumat siang.?

Ribath Nurul Hidayah

Luqmaniyah merupakan pesantren di Yogyakarta yang didirikan H. Luqman Jamal Hasibuan tahun 1999 dan diresmikan KH Salimi, tokoh agama asal Mlangi pada tanggal 9 Februari 2000.?

Selanjutnya, PPLQ diasuh KH Najib Salimi, putera kedua dari KH Salimi, alumni dari API Tegalrejo Magelang asuhan KH Abdurrahman Chudlori. Ketika KH Najib Salimi wafat tahun 2011, Pondok Pesantren Luqmaniyah hingga kini diasuh ? istri Kiai Najib, Nyai Hj. Siti Chamnah Najib dengan dibantu keluarga. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)?

Ribath Nurul Hidayah

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 02 Desember 2017

65 Dosen Se-Jawa Timur Ikuti Pelatihan Analisis Data di UNU Sidoarjo

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Sekitar 65 dosen yang berasal dari 31 perguruan tinggi di bawah naungan LPTNU Jawa Timur mengikuti pelatihan analisis data penelitian kuantitatif di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo, Rabu-Kamis (10-11/8).

Ketua pelaksana pelatihan, Agus Suharsono mengatakan, pelatihan ini digelar oleh Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) berkerja sama dengan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jawa Timur dan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

"Pelatihan ini merupakan agenda rutin ITS yang dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini, kami bekerja sama dengan LPTNU Jatim dan UNU Sidoarjo. Untuk mengikuti pelatihan tersebut para peserta harus menyerahkan proposal penelitian kepada panitia terlebih dahulu," kata Agus yang juga ketua PPM ITS itu.

65 Dosen Se-Jawa Timur Ikuti Pelatihan Analisis Data di UNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
65 Dosen Se-Jawa Timur Ikuti Pelatihan Analisis Data di UNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

65 Dosen Se-Jawa Timur Ikuti Pelatihan Analisis Data di UNU Sidoarjo

Menurut pria yang akrab dengan panggilan Doktor Agus itu, proposal yang diserahkan peserta dijadikan sebagai bukti keseriusan mengikuti pelatihan dan akan melaksanakan penelitian.

"Saat mendaftar sebagai peserta pelatihan, mereka wajib membuat proposal sebagai bahan evaluasi akan melakukan penelitian," terang Agus.

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut, memiliki kesan tersendiri bagi panitia dan pemateri. Sebagian besar dosen-dosen aktif mengajukan pertanyaan terkait penelitian kuantitatif dan konsep metodologi basic statistic, sehingga waktu yang disediakan panitia sedikit diperpanjang. (Moh Kholidun/Zunus)

Ribath Nurul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Halaqoh Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir

Sampang, Ribath Nurul Hidayah. Untuk membantu meringankan penderitaan korban banjir di kabupaten Sampang, yang sejak hari Senin (08/04/2013) dilanda banjir bandang, NU Sampang ikut berpartisipasi untuk menggalang bantuan dan menyalurkannya ke berbagai titik banjir.  

Pada awal terjadinya bencana ini, NU Sampang sudah menyalurkan bantuan berupa makanan dan minuman yang tak kurang dari 1800 paket, Kamis (18/4) kemarin, NU Sampang kembali menyalurkan bantuan berupa perlengkapan alat tulis sekolah yang disalurkan ke berbagai lembaga-lembaga pendidikan yang terkena musibah banjir, baik negeri atau swasta dari berbagai tingkatan. 

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sampang Salurkan Bantuan Korban Banjir

"Untuk kali ini, kami fokus untuk menyalurkan bantuan ke sekolah-sekolah, walaupun hanya berupa peralatan sekolah sekadarnya, tapi kami berharap, dengan pemberian bantuan ini, diharapkan bisa menjaga psikologis anak agar tetap baik dan semangat untuk tetap belajar dan  sekolah  walaupun Sampang saat ini sedang dilanda bencana banjir berkali-kali," ujar Rochman Rochim, salah satu tim relawan NU yang ikut serta dalam penyaluran bantuan ini. 

Ribath Nurul Hidayah

Dalam proses penyaluran bantuan ini, sekitar 640 paket peralatan alat tulis yang berisi buku tulis, bolpen, pensil, dan penghapus disalurkan langsung ke berbagai lembaga pendidikan di desa Panggung, Pasiyan, Kamoning dan Tanggumung yang memang kondisinya sangat membutuhkan bantuan. 

Sebagai gambaran, kondisi di desa Pasiyan sangat memperhatikan, sisa-sisa lumpur banjir yang pertama pun belum selesai dibersihkan, para korban banjir di desa tersebut  sudah kedatangan banjir lagi. Begitu pun dengan kondisi akses jalan menuju pedalaman desa Pasiyan, sangat sulit dilalui, karena jalan masih terendam lumpur yang licin, dan kondisi ini menjadi sulit dijangkau, sehingga tak ayal warga belum tersentuh bantuan apapun. 

Ribath Nurul Hidayah

"Tapi Alhamdulillah, pada awal banjir, bantuan dari NU Sampang yang berupa makanan dan minuman nyampek ke kita, dan sekarang NU Sampang kembali mengirimkan bantuan berupa alat-alat tulis, kami tentunya sangat berterima kasih kepada NU Sampang yang peduli kepada kami di pelosok," kata Ust Nawawi, salah satu tokoh dusun Lembung Pasiyan yang juga pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Tanwirul Islam ini. 

Sedangkan menurut Moch Syamsuddin Abd Muin, salah satu tim relawan NU Sampang "Kami akan terus menggalang bantuan semampu kami, dan mulai dari awal hingga saat ini, semua bantuan yang kami salurkan ini murni dari infaq dan sedekah teman-teman, baik dari Sampang, maupun dari luar Madura, yang kami galang dari jejaring sosial yang kami miliki". 

Hingga berita ini diturunkan, Jumat (19/4), kota Sampang kembali terjadi banjir yang kondisi air terus meninggi yang cukup membuat gelisah warga Sampang dikhawatirkan akan lebih besar dari pada yang terjadi pada Senin (8/4) lalu.

Redaktur    : Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Ulama Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 26 November 2017

Bupati Bogor: Pemerintah dan Ulama Penyangga Pembangunan

Bogor, Ribath Nurul Hidayah?

Sinergitas antara pemerintah dan ulama harus dijaga agar pembangunan berjalan dengan kondusif dan harmonis. Demikian dikatakan Bupati Bogor Nurhayanti pada Pengajian Selasa Keliling di Pondok Pesantren Al-istianah Kecamatan Cileungsi pada Selasa, (14/3).

"Sinergitas antara pemerintah dan ulama salah satu penyangga pembangunan," katanya.

Bupati Bogor: Pemerintah dan Ulama Penyangga Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Bogor: Pemerintah dan Ulama Penyangga Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Bogor: Pemerintah dan Ulama Penyangga Pembangunan

Lebih lanjut ia menyampaikan terimakasih atas antusias masyarakat dan OKP dalam kegiatan itu. Serta mengingatkan pentingnya pendidikan anak dilakukan sejak dini dan dilakukan dari rumah oleh keluarga, karena keluarga merupakan madrasah pertama.

"Pendidikan anak penting dimulai sejak dini dan dari rumah karena merupakan madrasah pertama," ungkapnya.?

Ribath Nurul Hidayah

Pimpinan Pondok Pesantren Al-istianah KH Asep Saepudin menyampaikan rasa terima kasih bangga kepada bupati yang berkenan mngadakan agenda rutin ke pesantren yang dipimpinnya.?

Sementara Ketua PAC GP Ansor Cileungsi Angga Gunaepi menyarankan agar Bupati Kabupaten Bogor untuk lebih memperhatikan Organisasi Kepemudaan terlebih yang fokus di bidang keagamaan yang tetap solid dalam mempertahankan keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan ini terlihat aktif Satkoryon Banser Cileungsi Enjay dan anggota mengawal dan mendampingi bupati selama kegiatan berlangsung.

Seperti diketahui, Pengajian Selasa Keliling adalah salah satu program unggulan Pemda Bogor dalam menyerap aspirasi masyarakat serta diisi tausiah tokoh masyarakat.

Ribath Nurul Hidayah

Hadir pada kesempatan itu, anggota DPRD Junaidi Sirait, Ketua MUI Kecamatan Cileungsi, Kepala KUA, Kapolsek, Danramil, para Kepala Desa, ulama dan habaib se-Kecamatan Cileungsi. (Azis Syahputra/Dhamiry/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Sejarah, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an

Di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, masyhur dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an. Nama-nama pondok Al-Muayyad, Al-Qur’aniyy, begitu tersohor hingga ke luar daerah. Bila waktu subuh maupun maghrib, dari pondok tersebut, sering pula kita dengarkan lantunan syahdu para santri yang tengah mendaras Kalamullah. Belum lagi ditambah para ustaz serta ustazah di langgar maupun masjid, yang selalu setia menemani para santri mengaji Kitab Suci.

Di daerah penghasil batik itu, terdapat sejumlah tokoh ulama ahlul-Qur’an. Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan, KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), KH Ahmad Asy’ari, KH Asfari (Mbah Bei), dan masih banyak lagi nama yang kiranya dapat disebutkan.

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an

Termasuk di dalamnya, yakni KH Muhammad Tolhah bin Sulaiman, seorang ulama Ahlul-Qur’an yang tinggal di daerah Tegalsari, Kelurahan Bumi, Laweyan. Pribadi yang memiliki sifat lemah lembut ini dikenang sebagai sosok yang rendah hati.

“Beliau Bicaranya halus, tidak pernah ingin jadi yang di depan,” kenang Ketua Yayasan Ta’mirul Masjid Tegalsari, KH Idris Shofawi, saat ditemui As-Shofwah di kediamannya, belum lama ini (16/5).

Kiai Idris juga masih ingat pesan singkat yang diberikan KH Muhammad Sulaiman, kala dirinya hendak pergi haji, tahun 1991 silam. “Dadiya lemah, lemah diidak meneng tapi akeh manfaate (Jadilah seperti tanah, yang diam meski selalu diinjak, di sisi lain memiliki banyak manfaat,-red.)

Ribath Nurul Hidayah

Produktif Menulis

Di sela-sela kesibukannya mengajar, KH Muhammad Sulaiman juga produktif dalam menghasilkan karya tulisan. Salah satu yang cukup populer yakni kitab tafsir al-Quran berbahasa Arab : Jami’ul Bayaan. Sebuah ringkasan dari berbagai kitab tafsir, yang konon populer dan dicetak hingga ke luar negeri.

Ribath Nurul Hidayah

Selain kitab tafsir tersebut, Mbah Muhammad yang pernah berguru kepada KH Dimyathi Tremas, KHR Munawwir Krapyak, dan lainnya itu menulis beberapa buku antara lain : Khulasoh Min Shuwaril Qur’an (1992), Asmaul Husna dan Syarahnya (1991), Bukti Al-Quran Sebagai Wahyu (1989).

Ia juga memiliki jadwal rutin mengajar di Masjid Tegalsari, yakni pengajian Tafsir Jalalain (Selasa pagi) serta Shahih Bukhari, di serambi masjid. Sepeninggalnya, rutinan ini dilanjutkan KH Naharussurur, kemudian estafet berpindah sampai ke KH Abdul Halim Naharussur yang berjalan hingga sekarang.

Begitulah, sosok kiai panutan umat ini, tutup usia pada Sabtu Pon 28 Shofar 1412 H atau bertepatan dengan 7 September 1991 pukul 13.30 WIB di RS Kasih Ibu. Jenazahnya dikebumikan keesokan harinya, di Makam Pulo Laweyan, berdekatan dengan makam KH Ahmad Shofawi. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Humor Islam Ribath Nurul Hidayah

Senin, 13 November 2017

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah

Subang, Ribath Nurul Hidayah. Pendidikan Pesantren Salafiyah adalah sistem pendidikan di Indonesia yang pertamakali lahir di Indonesia hal ini diakui oleh mayoritas warga Indonesia, namun sampai saat ini Pemerintah masih belum memperhatikan secara serius atas keberadaan pendidikan salafiyah itu.?

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Ikatan Guru Pesantren Salafiyah

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Guru Salafiyah (IGS, red) ? Kabupaten Subang, Kiyai.Mujahid Jumat (4/1/2013)

"Tidak perhatianya pemerintah terhadap dunia pesantren bisa dilihat dari masih jauhnya kesejahteraan para guru-guru di Podok Pesantren serta sarana dan prasarana pesantren juga masih minim," ujar Mujahid.?

Ribath Nurul Hidayah

Padahal, tambah Mujahid tidak sedikit tokoh-tokoh besar di Indonesia yang terlahir dari dunia pesantren seperti Presiden Republik Indonesia ke IV KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi dan masih banayk tokoh-tokoh lainya.

"Bahkan di Kabupaten Subang sendiri tidak sedikit jebolan pesantren yang memberikan kontribusi besar untuk pembangunan Subang, seperti KH Musfieq Amrullah, KH Nawawi dan masih banyak yang lainya," ucapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Oleh karena itu, harusnya pemerintah bisa lebih memahami dan menyadari akan peran besar itu, caranya dengan lebih memperhatikan kesejahteraan para guru-guru serta lebih memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan ala Pesantren.

"Bisa dibayangkan jumlah Pesantren yang terdaftar dan teregistrasi di Kementerian Agama (Kemenag, red) di Kabupaten Subang mencapai 338 pesantren, belum lagi yang belum teregistrasi. Ini artinya pendidikan ala Pesantren sangat potensial secara sumberdaya manusianya," ujarnya.

Karena itu Mujahid meyakini kalau pemerintah bisa mengelola dengan baik Pesantren yang ada, maka kebutuhan sumber daya manusia yang siap memberikan kontribusi untuk Subang semakin banyak.

"Hasil SDM yang digodok di Pesantren, mempunyai karakter kuat terutama yang berkaitan dengan etika dan moral. Hari ini kita lihat tidak sedikit para pejabat pemerintah yang mengambil uang rakyat atau biasa disebut korupsi, sebenarnya itu disebabkan karena menatal yang tidak terlatih, kalau untuk para alumni Pesantren lebih terjaga atas hal-hal negatif seperti itu," terangnya.?

Lebih lanjut Mujahid menambahkan, di Kabupaten Subang sudah terbentuk Ikatan Guru Salafiyah, dan ini menjadi potensi untuk bisa terus mengembangkan dunia Pesantren di Kabupaten Subang.?

"Organisasi ini adalah jembatan untuk bisa menyampaikan aspirasi para guru Pesantren dan menggodok masalah-masalah kekinian dalam sudut pandang religius (agamis, red). Mulai dari permasalahan sosial sampai kepemimpinan," tembahnya.

Saat disinggung mengenai akan diselenggarakanya Pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Bupati Kabupaten Subang, Mujahid menyampaikan, siapapun yang menjadi pemimpin di Jawa Barat dan Kabupaten Subang, harus memperhatikan Pesantren.?

"Bagi Kami mudah saja, siapapun yang siap dan bisa memperhatikan dunia Pesantren itu yang layak menjadi pemimpin, karena hal lain pasti akan mengikuti, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya dan yang lainya," pungkasnya?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Aswaja, Ahlussunnah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 09 November 2017

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

Tulungagung, Ribath Nurul Hidayah. Setelah berjibaku dalam medan pelatihan selama empat hari, para Dosen Muda peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda Gerakan Pemuda Ansor menelorkan Piagam Tulungagung. Piagam ini ditetapkan menjelang penutupan pelatihan.

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen Muda GP Ansor Deklarasikan Piagam Tulungagung

?

Latar belakang munculnya Piagam Tulungagung dilandasi keprihatinan betapa NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia sedang berada dalam ancaman. Para dosen muda itu menyoroti bahwa terdapat upaya sistematis yang merongrong dan berusaha memecah belah NKRI.?

Upaya-upaya itu dilatarbelakangi politik sektarian berbasis perbedaan suku, ras, agama, dan golongan. Dampaknya, benih-benih disintegrasi mulai muncul di mana-mana.

Ribath Nurul Hidayah

Lebih lanjut, para dosen muda itu berpandangan bahwa perbedaan adalah sebuah fakta yang tak mungkin dihilangkan. Karena sejatinya perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bukanlah laknat.?

Tinggal bagaimana segenap komponen bangsa dengan beragam perbedaan itu mampu merawat persatuan dan kesatuan. Sehingga, NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia masih tetap utuh dan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam Piagam Tulungagung itu, Dosen Muda GP Ansor menyampaikan sikap:

1. Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk dan menumbuh-kembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan adalah rahmat dan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.

2. Mengajak segenap komponen bangsa untuk terus berperan aktif dalam mengkampanyekan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam setiap lini kehidupan.

3. Melawan radikalisme yang mulai berkembang di berbagai lapisan masyarakat dan membahayakan bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Menjadikan kampus/perguruan tinggi sebagai basis perjuangan dalam upaya melawan berkembangnya radikalisme.

5. Mendorong pemerintah untuk menindak tegas kelompok/golongan yang melakukan gerakan merongrong kedaulatan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adung Abdul Rochman, Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor menyampaikan apresiasi atas ditelorkannya Piagam Tulungagung. “Kami menyampaikan penghargaan terhadap para Dosen Muda yang telah menelorkan Piagam Tulungagung, ini merupakan upaya tepat dan langkah awal melawan radikalisme yang berkembang di perguruan tinggi,” tegas pria asal Jombang tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Adung, komitmen para civitas akademika sangat penting dalam melawan infiltrasi gerakan radikal yang hari-hari ini mengalami eskalasi di berbagai tempat. "Kampus harus menjadi pusat moderasi bagi tumbuhnya Islam yang terbuka, damai dan toleran" kata Adung Abdul Rochman

Sebagaimana diketahui, 148 Dosen Muda GP Ansor mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor. Pelatihan ini dilaksanakan di Kampus IAIN Tulungagung dibuka pada Kamis, 30 Maret 2017 dan ditutup pada Ahad, 2 April 2017. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Nusantara, Bahtsul Masail, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Sidoarjo, Ribath Nurul Hidayah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Sidoarjo menginginkan Ujian Nasional tingkat SMK/SMA yang akan di gelar 13-15 April dan SMP/MTs tanggal 4-7 Mei mendatang bisa lulus seratus persen.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua IPNU-IPPNU Sidoarjo pada acara doa bersama menjelang ujian nasional tingkat SMP/MTs sederajat yang di gelar di Masjid Agung Sidoarjo, Rabu (8/4) lalu.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sidoarjo Inginkan Pelajar Lulus Ujian Nasional 100 Persen

Ketua IPNU Sidoarjo M. Syaikhul Maarif mengatakan tujuan digelarnya doa bersama ini untuk melatih spiritual dan mental para pelajar khususnya yang ada di Sidoarjo supaya siap dalam menghadapi Ujian Nasional.

Ribath Nurul Hidayah

"Untuk saat ini doa bersama diikuti oleh pelajar SMP/MTs sekitar 5 ribu peserta. Besok, Kamis (9/4) akan diadakan hal yang sama untuk tingkat SMA/SMK. Kami berharap supaya para pelajar yang mengikuti Ujian Nasional nantinya bisa lulus seratus persen dengan nilai yang memuaskan," kata Syaikhul Maarif kepada Ribath Nurul Hidayah usai menggelar doa bersama.

Hal senada juga diucapkan oleh Ketua IPPNU Sidoarjo Nur Yanti Afidah bahwa dengan dilaksanakannya doa ini nantinya para pelajar baik tingkat SMP atau MTs se-Kabupaten Sidoarjo dapat menyiapkan mental mereka.

Ribath Nurul Hidayah

"Beberapa hari yang lalu para pelajar sudah diberikan materi sebagai bahan pelatihan di sekolah. Maka hari ini kita berdoa bersama semoga mereka mendapatkan nilai yang memuaskan dan lulus seratus persen. Karena perjuangan itu harus disertai dengan doa," pungkas Nur Yanti Afidah.

Dalam pelaksanaan istighosah yang di pimpin langsung oleh Rais Syuriah PC NU Sidoarjo KH Rofiq Siroj dan ditutup dengan doa oleh Ketua PC NU Sidoarjo KH Abdi Manaf itu berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Para pelajar pun berdoa dengan penuh khusu. Mereka berharap pada ujian nanti bisa lulus dengan hasil yang memuaskan dan bisa diterima kejenjang sekolah menengah atas. (Moh Kholidun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Quote, Syariah Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 07 November 2017

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website

Surabaya, Ribath Nurul Hidayah. Kesadaran para pimpinan pesantren dan santri untuk memanfaatkan dunia maya untuk media dakwah kian menggembirakan. Ribuan website pesantren dan madrasah serta laman yang yang menyediakan konten keislaman kian mudah ditemukan. Namun hanya sedikit yang bisa menjaga konsistensi. Kendala utama adalah soal biaya.

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Jatim Selenggarakan Ngaji Optimalisasi Website

"Ini juga yang menjadi catatan kami atas kian berkembangnya website berbasis agama," kata Ketua PW Lembaga Talif wan Nasyr NU Jatim, Ahmad Najib AR, Kamis (23/6) malam. Sehingga dengan tampilnya para penulis santri yang di dunia maya, maka akan semakin memberikan alternatif bacaan dan kajian terkait Islam di tanah air, lanjutnya.

Kian menjamurnya website agama tersebut ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menjaga konsistensi. "Baik dari keajegan menjaga isi atau konten, maupun kemampuan dalam mengelola website secara baik," kata Gus Najib, sapaan akrabnya.

Karena itu, dengan menghadirkan narasumber Kiai Maruf Khozin dan Dodik Ariyanto, PW Lebaga Talif wan Nasyr NU Jatim mengajak para pegiat website dan sosial media untuk belajar mengoptimalkan peluang dan tantangan tersebut. Kegiatan ini bertemakan Tips dan Trik Mengelola Media Dakwah Online yang Populer dan Provitable.

Ribath Nurul Hidayah

"Bukan tidak mungkin, dengan mendengarkan dan berbagi pengalaman dari sejumlah praktisi dunia maya ini, maka pengetahuan kita terhadap internet semakin komprehensif," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel ini.

Kiai Maruf Khozin dikenal sebagai tokoh muda yang mampu berdakwah di media sosial dan memanfaatkan aplikasi untuk menjembatani kelas menengah kota yang ingin mendalami agama. "Sehingga umat semakin terpandu untuk memperoleh kajian keislaman yang dapat dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Pada acara yang akan berlangsung Jumat sore (24/6) di ruangan Salsabila PWNU Jatim tersebut, panitia juga menghadirkan Dodik Ariyanto.. "Mas Dodik diharapkan bisa berbicara banyak terkait optimalisasi website untuk mendapatkan income bagi kesejahteraan pengelola," ungkap salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini.

Gus Najib tidak dapat memungkiri bahwa banyak website islami yang hidupnya kembang kempis lantaran tidak mampu menyejahterakan pengelola. "Hal ini berakibat pada updating konten yang tidak konsisten lantaran terkendala dengan pembiayaan," katanya.

"Diharapkan lewat kegiatan ini, para peserta menemukan ? formula bagi upaya mengoptimalkan keberadaan website dan media sosial untuk kegiatan dakwah. "Sekaligus memperoleh tambahan income bagi kesejahteraan pengelolanya," tandasnya.

Bagi peminat dapat bergabung usai Shalat Ashar di PWNU Jatim, jalan Masjid Al-Akbar Timur, Surabaya. Kegiatan juga sebagai launching website www.halaqoh.net yang dikelola PW LTN NU Jatim dan dipungkasi buka bersama. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Senin, 06 November 2017

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim

Probolinggo, Ribath Nurul Hidayah - Persatuan Sepakbola Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo tampil sebagai juara I Liga Santri Nusantara (LSN) Regional III Jawa Timur 2017. Ia lolos sebagai juara usai mengalahkan tim dari Pesantren Al-Yasini Pasuruan melalui drama adu pinalti 4-3 di Stadion Bayuangga Kota Probolinggo, Rabu (6/9) sore.

Tim Nurul Jadid Paiton langsung menguasai lapangan sejak wasit meniup pluit tanda dimulainya pertandingan. Permainan dari kaki ke kaki yang dimainkan oleh para santri dari Nurul Jadid membuat pertahanan tim Al-Yasini sempat kedodoran. Tim lawan juga merepotkan pertahanan tim Nurul Jadid.

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Paiton Juara LSN Regional III Jatim

Meskipun sama-sama menyerang dan bertahan secara bergantian, tetapi tendangan kedua tim belum mampu menghasilkan gol dan skorpun tetap 0-0. Akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan drama adu pinalti dan dimenangkan oleh tim Nurul Jadid Paiton dengan skor 4-3.

Ribath Nurul Hidayah

Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid menyatakan sangat bersyukur atas prestasi dan capaian yang telah dipersembahkan oleh santri-santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton di kancah LSN Regional III Jawa Timur.

Alhamdulillah, pembinaan olahraga di Pondok Pesantren Nurul Jadid dapat menyumbangkan prestasi. Semoga ini menjadi bibit lahirnya prestasi-prestasi selanjutnya yang dapat menopang lahirnya atlet profesional di Indonesia,” harapnya.

Ribath Nurul Hidayah

Atas keberhasilan ini, tim sepakbola Nurul Jadid Paiton akan mewakili LSN Regional III Jawa Timur untuk berlaga di jenjang antar-Regional se-Jawa Timur yang rencananya akan berlangsung di Lirboyo, Kediri.

“Turnamen ini memang sangat bagus karena tujuannya adalah untuk lebih memasyarakatkan olahraga sepakbola, khususnya kepada kaum santri. Dengan demikian, maka nantinya ada bibit-bibit olahraga sepakbola yang lahir dari pondok pesantren,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Internasional, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Minggu, 05 November 2017

Keberagamaan dan Keberagaman Jadi Sempit karena Media Sosial?

Oleh Aris Adi Leksono

Jelang pemilihan Gubernur Provinsi DKI Jakarta suasana semakin memanas, kacau, tak terkendali. Bahkan susah diidentifikasi kondisi permainan isu, ini dilakukan tim sukses atau kelompok diluarnya, atau justru tim sukses dimainkan kelompok yang bukan tim sukses. Semakin kabur dan mengkobarkan, bahkan sesat menyesatkan.?

Berbagai opini muncul merespon kondisi kacau balau di Ibu kota saat ini. Kelompok fanatik agama mengatakan, Pilgub DKI sebagai upaya mengutan agama tertentu, atau mereka menyebutnya kristenisasi birokrasi, bahkan menurutnya ini adalah upaya mengurangi pengaruh dan jumlah umat Islam. Kelompok politis mengasumsikan DKI 1 adalah pertarungan perebutan RI 1 di masa mendatang, ini pertarungan "Grand Syech" Parpol P dan D, bahkan G.?

Keberagamaan dan Keberagaman Jadi Sempit karena Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberagamaan dan Keberagaman Jadi Sempit karena Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberagamaan dan Keberagaman Jadi Sempit karena Media Sosial?

Kelompok kajian Timur Tengah mengeluarkan hasil pengamatannya, menurutnya Indonesia akan dijadikan seperti Negara Timur Tengah yang terpecah belah, bertikai antar sesama saudara. Wah, segudang asumsi dari analisis yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara jelas. Ya, namanya juga opini boleh lah, segudang asumsi juga boleh. Namanya juga masa free market idea, ngomong apa aja juga boleh, oleh siapa aja boleh, di mana saja juga boleh.

Dalam tulisan ini tidak akan menambah opini itu, tetapi ingin melihat bagaimana media sosial mampu membius, sehingga memunculkan opini yang simpang siur tersebut. Terlebih dari itu, berbagai macam opini yang timbul dari media sosial tersebut telah mempersempit cara padang beragama dan keberagaman masyarakat.?

Indonesia dengan dasar Pancasila telah mengakui lima agama dan satu aliran kepercayaan. Masing-masing pemeluk agama diberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya. Negara menjamin keamanan dan ketertiban dalam beragama selama tidak bertentangan dengan Hukum Negara dan norma positif.

Ribath Nurul Hidayah

Kondisi semacam itu sudah berlaku sejak Indonesia belum merdeka hingga kini era reformasi dan keterbukaan informasi publik. Dalam lintasan sejarah sikap akomodatif negara terhadap agama atau pemeluk agama dalam menjalankan ajaran agamanya telah mampu mewujudkan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan untuk mengawal berjalannya konsesus beragam di Indonesia berdirilah Kementerian Agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan lain sebagainya.?

Lebih nyata lagi, umat beragama melalui organisasi kemasyarakatan masing-masing mayoritas menyepakati bahwa NKRI Harga Mati. Segelintir kelompok yang ingin sistem di luar arus utama bangsa Indonesia, yang menyebutnya sistem Khilafah, Negara Islam, dan simbul formal keagamaan lainnya. Bahkan dalam hal harmonisasi beragam, banyak negara lain belajar ke Indonesia.

Dalam hal keberagaman, Indonesia menjadi satu-satunya Negara di Dunia yang memiliki pulau terbanyak dengan berbagai suku, bahasa, ras, dan kekhasan lokal lainnya. Ini adalah real keberagaman yang mampu diikat dalam Undang-undang Dasar 1945 menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masing-masing daerah telah mampu menunjukkan sikap saling menghormati, teloransi, dan gotong royong. Tak jarang satu daerah dengan daerah lain yang berbeda pulau pun bisa saling melengkapi dalam keberagaman.?

Berbeda dengan Negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan negara lainya di dunia, dengan luas negara yang tidak seberapa bila dibanding Indonesia, dengan jumlah pulau yang sedikit bila dibandingkan dengan pulau di Indonesia, apalagi jumlah suku, ras, dan bahasa, tidak ada negara yang mampu mengalahkan keberagaman masyarakat Indonesia. Meskipun Indonesia yang beragam, tetapi tetap satu juga, Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman ini pun sudah teruji dalam lintasan sejarah dan zaman. Bahkan banyak negara-negara lain yang belajar dari Indonesia dalam hal mengelolah keberagaman.

Ribath Nurul Hidayah

Dalam hal berserikat atas nama agama dan keragaman, Indonesia barang kali menjadi satu-satunya Negara yang memiliki serikat. Baik dalam bentuk organisasi kemasyarakatan berbasis agama, perkumpulan berbasis profesi, perkumpulan berbasis kedaerahan dan lain sebagainya. Data kementerian dalam negeri menyebutkan di tahun 2014, jumlah ormas yang terdaftar mencapai 65 ribu lebih, belum lagi terdaftar. Hal itu karena negara menjamin kebebasan berserikat dalam Undang-undang No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Bermula dari argumentasi atas nama politik dan demokrasi, subtansi keberagaman dan keberagamaan mulai terkoyak. Iya, suasana memanas di Ibu kota akibat Pilgub yang akan digelar tahun 2017, satu kelompok dan kelompok lain saling menyerang dalam bentuk agitasi dan propaganda, baik melalui forum, mimbar terbuka, media massa, bahkan setiap detik melalui media sosial, seperti facebook, whatsapp, twitter, dan lain sebagainya.

Pernyataan kontroversi kandidat petahana terkait Al-Quran surat al-Maidah ayat 51 tentang arti kata "auliya", telah mengundang kontroversi di kalangan umat. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju, bahkan ada yang melaporkan kepada penegak hukum, karena pernyataan Ahok adalah merupakan bagian dari "penistaan agama". Apalagi gaya bicara calon betahan yang ceplas-ceplos, kalau tidak mau dibilang tidak sesuai budaya masyarakat timur, semakin memancing protes masyarakat. Meskipun toh, petahana sudah meminta maaf kepada masyarakat, khususnya umat Islam.

Isu protes, sindir sana sini dalam berbagai bentuk, menambah runyam persoalan, apalagi media sosial yang selalu live time, real time dapat diakses juga berisi isu negatif sang calon petahana. Opini berbagai perspektif terus berseliweran secara viral melalui media sosial, jadilah asumsi kebenaran yang belim pernah teruji kesahihannya.?

Gelombang protes mulai dimainkan oleh sebagai ormas dengan tuduhan penistaan agama. Aparat mulai ikut menjelaskan melalui media, dengan dalih tuduhan dan laporan sedang diproses. Majlis Ulama Indonesia (MUI) tidak mau kalah dengan langsung membuat fatwa bahwa statemen Ahok adalah salah satu bentuk ungkapan yang mengarah pada penistaan agama, serta menciderai kesucian kitab suci agama Islam. Akibatnya, media sosial ibarat api ketemu kayu bakar, menjalar begitu cepat asumsi-asumsi yang mengarah pada mendiskreditkan kelompok lain, termasuk kelompok Ahok, sang petahana.

Dari opini media sosial, protes berlanjut menjadi aksi massa. Hampir setiap Jumat gelombang protes dan tuntutan dipenjarakan Ahok dari sebagian kelompok semakin keras, kencang, dan deras. Tanpa tau dasar yang pasti terkait kebenaran tuduhan, dan yang pasti tidak tau siapa yang "menggosok dan digosok". Ujungnya Jumat, 4 November 2016, media sosial telah menemukan titik api suci atas nama protes penistaan agama, konon menggerakkan massa yang lebih besar dengan isi tuntutan sama "Penjarakan Ahok". Apapun kenyataan dan hasilnya kita tunggu, tapi yang pasti negara kita adalah negara hukum. Menghormati keputusan dan proses hukum adalah kewajiban setiap warga negara. Kembali media sosial menemukan momentumnya.

Media sosial memang berpengaruh sangat besar terhadap opini publik dan pilihan terhadap pimpinan daerah. Berdasarkan pengalaman Pilkada DKI Jakarta 2012, Pilpres 2014 dan Pilkada di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan jawara di media sosial juga menjadi jawara Pilkada. Riset menunjukkan 55 hingga 65 pemilih terpengaruh oleh media sosial. Lantas alasan itu, kemudian dalam Pilkada DKI Jakarta penggunaan media sosial menjadi sarana kampanye mencari simpatik menjadi luar biasa. Bahkan menjadi kebablasan menggiring opini yang mengarah pada issu sara, merusak persatuan keberagaman dan keberagamaan.

Tetapi perlu diingat, kalau berdasarkan riset Politicawave kandidat yang jumlah percakapannya terbanyak dan yang sentimen negatifnya paling sedikit maka akan menjadi pemenang Pilkada. "ngono yo ngono, tapi mbok ojo ngono", menjadi pemenang adalah tujuan, tetapi jangan sampai menghalalkan segala cara, apalagi sampai mengarah pada disintegarasi bangsa.

Terlepas media sosial mampu memenangkan Pilkada, hal yang paling penting diwaspadai adalah terancamnya nilai keragaman dan keberagamaan yang sudah berjalan harmonis di negeri Indonesia. Negeri yang dibangun atas mufakat berbagai tokoh agama, negarawan, birokrat, kelompok adat, ras dan komponen lainnya. Negeri yang dibangun atas dasar nilai-nilai luhur agama, adat, dan kepercayaan. Negeri yang dibangun atas pengorbanan jiwa dan raga para pahlawannya.

Maka, jangan pernah media sosial mempersempit cara kita beragama dan berkeberagaman. Media sosial yang seharusnya mampu menbuka cakrawala pengetahuan untuk kebijaksanaan dan kebajikan justru berujung pada menyempitnya cara padang atas nama kebenaran beragama dan keberagaman. Jangan sampai media sosial justru mengadu domba antar sesama umat Islam. Harusnya media mampu membuka informasi pemahaman prinsip kebenaran masing-masing pemeluk agama dan kepercayaan dalam keberagaman, hari ini justru hadir dimanfaatkan sekolompok orang yang berkepentingan dengan disintegarasi bangsa, instabilitas keamanan dan ketertiban sosial. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.?

Penulis adalah Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Wakil Ketua STAINU Jakarta, Guru dan Wakil Kepala MTsN 34 Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Kiai, Olahraga Ribath Nurul Hidayah

Rabu, 01 November 2017

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Yogyakarta, Ribath Nurul Hidayah. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) larut dalam dzikir bersama yang digelar rutin tiap malam Jumat Legi di Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton, pada Kamis malam (7/11).

Majelis dzikir yang dikomandoni Gusti KGPH Joyokusumo (adik Sultan HB X) ini merupakan maejlis doa bersama seluruh elemen warga untuk kedamaian Yogya dan Indonesia.

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Jamiludin yang hadir pada kesempatan itu menilai, dzikir bersama rutin itu menjadi acara penting Kraton Ngayogyokarto untuk melestarikan tradisi dzikir bersama. “Ini merupakan cara khas kraton untuk menjaga kedamaian warganya,” katanya

Ribath Nurul Hidayah

Jamiludin menambahkan, dzikir bersama merupakan dakwah yang sangat efektif, karena melibatkan banyak sekali jamaah majelis talim di Yogyakarta. Bukan saja warga NU, semua kalangan diundang untuk doa bersama.

Ribath Nurul Hidayah

Maejlis ini dimulai dengan khataman Al-Quran, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan wiridan. Dalam kesempatan ini, hadir Rais Syuriah PWNU DIY, KH Asyhari Abta, yang kemudian didaulat untuk memimpin doa. Hadir pula Wakil Ketua PWNU DIY H. Harsoyo. (Muyassaroh Hafidzoh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Olahraga, Lomba Ribath Nurul Hidayah