Minggu, 28 Februari 2016

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan kehadiran digital yang masuk ke semua lini kehidupan.

“Digital tidak pandang bulu. Agama apapun, agama Islam sekalipun,” katanya saat menghadiri Peluncuran Aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) malam.

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Menurutnya, kehadiran digital menimbulkan banyak perubahan pada kehidupan. Dulu, katanya, qari dalam membaca Al-Qur’an itu membaca Al-Qur’an cetak, tapi sekarang qari tidak membawa Al-Qur’an cetak melainkan membacanya melalui ponsel.

Ribath Nurul Hidayah

Hal itu, menurutnya, sesuai dengan data yang menunjukkan bahwa penggunaan smartphone tidak terjadi perubahan. Dengan kata lain, aktivitas penggunaannya tetap tinggi, dari bangun sampai mau tidur.

Ribath Nurul Hidayah

“Jadi ini betul-betul merasuk ke kehidupan kita,” ujar pria kelahiran Bogor, Jawa Barat ini.

Oleh karena penggunaan yang sudah tak terbendung itu, Rudi pun mengingatkan tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan smartphone.

Hadir pada peluncuran aplikasi ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Cerita, Warta, Nusantara Ribath Nurul Hidayah

Senin, 22 Februari 2016

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas

Gianyar, Ribath Nurul Hidayah - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, mengingatkan agar seluruh desa di Bali tetap fokus pada program prioritas yang telah ditetapkan pemerintah. Keempat program tersebut adalah menentukan produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades), mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), membangun embung air desa, dan membangun sarana olahraga desa.

"Saya selalu mengingatkan agar dana desa yang telah digelontorkan dana desa diharapkan bisa difokuskan kepada empat program prioritas yang kita berikan," ujarnya. saat menghadiri The 4th Ubud Royal Weekend di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Sabtu (20/5).

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT: Desa Harus Fokus Empat Program Prioritas

Menteri Eko menambahkan, agar desa dapat semakin mengembangkan potensinya, dirinya pun meminta untuk segera dibuat klasterisasi di desa baik di sektor pertanian, perikanan, maupun pariwisata. Dengan demikian, para pemangku kepentingan akan lebih mudah untuk menentukan pengembangan apa yang dapat dilakukan di desa tersebut.

Ribath Nurul Hidayah

"Konsentrasi dan fokus pada produk unggulannya, Nanti kita akan kumpulkan kementerian terkait, dunia usaha, juga perbankan untuk membantu mengembangkan produk unggulan desa tersebut," katanya.

Sementara itu, Menteri Eko menilai Desa Ubud di Bali dapat menjadi salah satu model pengembangan desa wisata di Indonesia. Pembangunan embung pun dinilai potensial untuk semakin meningkatkan pengembangan pariwisata di lokasi ini.

"Untuk Ubud ini, karena pertanian masih sedikit, embung bisa untuk pariwisata atau perikanan yang dapat meningkatkan gizi masyarakat. Ini juga sejalan dengan program prioritas percepatan pembangunan desa," katanya.

Ribath Nurul Hidayah

Selain itu, lanjut Menteri Eko, dirinya pun mengharapkan ada pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di kawasan ini. Dirinya juga meminta PT Mitra BUMDEs di kabupaten untuk turut membentuk mitra BUMDes di desa-desa sehingga ada pendampingan di tiap desa. Ke depan, standar yang diterapkan di BUMDes pun diharapkan dapat mengikuti perusahaan besar.

"Dengan begitu, bisa terjadi link and match antara perusahaan besar, UKM, dan pengusaha kecil di desa-desa. Karena yang selama ini menjadi problem UKM dan pengusaha kecil ini adalah mereka tak memiliki manajemen sumber daya manusia yang baik, distribusi, dan pemasaran," katanya.

Melalui link and match antara perusahaan besar dan UKM atau pengusaha kecil, lanjut sambungnya, nantinya UKM atau pengusaha kecil dapat menjadi pemasok bagi perusahaan-perusahaan besar. Para pelaku usaha pun tak lagi kesulitan untuk menemukan pasar bagi produk-produk unggulannya. (kemendesa.go.id/mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Warta Ribath Nurul Hidayah

Selasa, 16 Februari 2016

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah?



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang yang melaksanakan ibadah puasa bisa dibagi ke dalam tiga golongan. Pertama, adalah puasa yang dilakukan orang awam.

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Puncak Tujuan Berpuasa adalah Allah Semata

“Puasa orang awam seperti kita-kita ini adalah lita’abud. Kalau tak puasa takut neraka, kalau puasa ingin surga. Ini puasa ta’abud,” katanya pada ceramah buka puasa bersama digelar di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/6).?

Kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini mengibaratkan puasa lita’abudi seperti kuli, yaitu melakukannya karena ingin mendapatkan bayaran dari majikan. Meski demikian, puasa tetap wajib karena itu perintah Allah.?

“Tidak sekali-kali manusia dan jin diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah,” katanya mengutip salah satu ayat Al-Qur’an. “Tidak ada pengabdian yang total, kecuali kepada Allah,” tambahnya.

Ribath Nurul Hidayah

Puasa jenis kedua adalah litaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah. Bagi orang yang berpuasa pada tahap taqarrub, surga dan bidadiari bukan apa-apa, imbalan bukan tujuannya. Karena bagi dia tujuan utamanya adalah dekat dengan Allah.?

Ketiga, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur tersebut adalah puasa untuk litahaquq, mencari hakikat. Puasa jenis ini adalah ketika orang mencari kebenaran agar berada pada pihak yang benar.?

“Kalau tidak bisa benar, orang tersebut ingin menjadi orang benar. Kalau belum bisa, jangan menghalang-halangi teman yang sudah benar. Masya Allah, jangan sampai ketika ada teman tidak korupsi, jangan dikata-katain kampungan, ndeso, kesempatan tidak terulang,” katanya. ?

Menurut dia, puasa litahaqquq tersebut adalah puasa maksimal yang puncaknya adalah allah. Karena, tujuan puasa yang paling utama adalah Allah semata. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah

Ribath Nurul Hidayah Tegal Ribath Nurul Hidayah