Minggu, 30 Desember 2012

Pesantren dalam Kesederhanaan, Kebersamaan Sekaligus Gaya Hidup Sehat

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah. Pesantren identik dengan kesederhanaan dan kebersamaan, tetapi hal itu tidak mengurangi semangat para santri untuk terus belajar dan beribadah. Bukan berarti hal tersebut terus dibiarkan apa adanya, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bersama dengan Sesric (Statistical, Economic and Social Research and Training Center for Islamic Countries), sebuah organisasi yang berpusat Turki mendorong tumbuhnya perilaku gaya hidup sehat.

Pesantren dalam Kesederhanaan, Kebersamaan Sekaligus Gaya Hidup Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dalam Kesederhanaan, Kebersamaan Sekaligus Gaya Hidup Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dalam Kesederhanaan, Kebersamaan Sekaligus Gaya Hidup Sehat

Selama satu tahun belakangan ini, mereka mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Timur meliputi Blitar, Tulungagung, dan Kediri. Di Jabar mencakup Cilacap, Depok dan Tasikmalaya sementara wilayah Jateng dipusatkan di Pati. Yang menjadi sasaran terutama pesantren yang infrastrukturnya masih kurang memadai untuk mampu memaksimalkan potensi yang ada demi menjalankan kualitas hidup yang lebih baik.?

Endang Marhumah, dari LKNU yang terlibat dalam program ini menjelaskan, pihaknya melakukan sosialisasi bagaimana mengelola sanitasi yang baik, mengolah sampah organik atau anorganik, pengelolaan MCK, atau hal yang tampaknya sederhana tetapi penting dalam menjaga kesehatan seperti membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun.

Ribath Nurul Hidayah

Untuk memudahkan sosialisasi ini, pihaknya juga menggelar lomba desain poster untuk mensosialisasikan perilaku gaya hidup sehat di kalangan remaja. Termasuk didalamnya ada muatan tentang dampak dan bahaya merokok di dalam ruangan bagi remaja.

Ribath Nurul Hidayah

Lomba poster ini diselenggarakan bekerjasama dengan radio Bras MF Kediri, kemudian poster-poster ini dicetak dan disebarluaskan berbagai pesantren yang menjadi sasaran program.?

Terdapat dua kelompok sasaran dalam pelatihan tersebut, pertama, para ustadz di lingkungan pesantren. Mereka diharapkan mampu menyebarluaskan pengetahuan yang mereka miliki kepada para santri atau kelompok masyarakat lain. Kelompok lain adalah para santri dan remaja. Disini, mereka juga dilatih bagaimana mengadvokasi teman sebaya. Karena bagi remaja, kelompok sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar untuk diikuti perilakunya.

“Para santri, sangat antusias dalam mengikuti pelatihan, dan berharap program ini berkelanjutan,” kata Endang.

Dalam setiap pertemuan, para santri sangat getol menanyakan berbagai persoalan terkait kesehatan yang mereka hadapi. Mereka berusaha memanfaatkan kesempatan atas hadirnya para narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidangnya secara maksimal. Tak heran, para narasumber harus pintar-pintar membagi waktu untuk menanggapi pertanyaan, karena dalam setiap pertemuan, diikuti oleh 50 peserta.

Tak sampai disitu, untuk mencapai hasil yang berkesinambungan, hasil dari pelatihan tersebut dibuat modul pembelajaran yang nantinya digunakan para trainer untuk pelatihan dan sosialisasi lebih lanjut. Modul ini disebar ke pesantren yang sudah memiliki poskestren, yang selama ini belum mengikuti pelatihan.

“Kita bekerja pada wilayah preventif, setidaknya ada kesadaran yang muncul untuk merubah perilaku yang sehat. Makanya yang disasar remaja.?

Sebelumnya, pada 25 Oktober 2013, sudah dilakukan pertemuan nasional untuk mendorong perilaku hidup sehat. Dalam acara yang dihadiri oleh direktur Sesric Prof. Savas Alpay dihasilkan sejumlah rekomendasi, diantaranya, menyerukan kepada para tokoh agama untuk turut meneruskan pesan kesehatan dan perilaku hidup sehat dalam ceramah keagamaannya, mendorong adanya pendidikan tentang perilaku hidup bersih dan sehat bagi remaja di lingkungan pesantren, sekolah umum, karang taruna, remaja masjid, dan lain sebagainya.

Tokoh agama juga diminta mengajak para orang tua menjadi contoh perilaku hidup sehat di lingkungan keluarganya maupun edukasi bahaya merokok serta pengaturan area merokok untuk menghargai orang lain. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Hadits, RMI NU, Hikmah Ribath Nurul Hidayah

Kamis, 13 Desember 2012

PBNU: Kementerian Agama Belum Ramah Penyandang Tunanetra Muslim

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyayangkan sikap Kemenag RI yang belum menaruh perhatian kerjanya untuk penyandang disabilitas khusunya tunanetra. Padahal, kata Kiai Said, penyandang tunanetra juga punya hak untuk mengembangkan diri dalam beragama.

Demikian disampaikan Kiai Said Aqil Siroj ketika menerima kunjungan rombongan pengasuh Pesantren Raudlatul Makfufin Tanggerang Selatan di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (9/10) sore.

PBNU: Kementerian Agama Belum Ramah Penyandang Tunanetra Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kementerian Agama Belum Ramah Penyandang Tunanetra Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kementerian Agama Belum Ramah Penyandang Tunanetra Muslim

Pesantren Raudlatul Makfufin adalah lembaga pendidikan Islam yang diasuh oleh penyandang tunanetra untuk kalangan tunanetra. Mereka berkegiatan mengajarkan Al-Quran dan ilmu-ilmu agama untuk kalangan tunanetra. Mereka juga aktif mencetak sendiri Al-Quran, hadits, dan sejumlah kitab kuning dengan huruf Braille.

“Kementerian Agama RI sudah bantu belum?” tanya Kiai Said kepada rombongan yang dipimpin Pengasuh Pesantren Raudlatul Makfufin Budi Santoso.

Ribath Nurul Hidayah

“Belum kiai. Mereka belum punya anggaran katanya,” jawab  pengasuh Pesantren Raudlatul Makfufin Budi Santoso.

Ribath Nurul Hidayah

Kiai Said mencoba memfasilitasi keperluan mereka. Kiai Said mengontak salah seorang dirjen di lingkungan Kementerian Agama RI.

“Saya pribadi akan membantu 200 untuk pengadaan tanah di sekitar yayasan pesantren,” kata Kiai Said.

Kiai Said juga menjelaskan bahwa penyandang tunanetra membutuhkan Al-Quran, literatur keislaman berhuruf Braille. “Kita sudah harus memerhatikan kebutuhan mereka,” kata Kiai Said kepada Ribath Nurul Hidayah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Pendidikan, Kajian, Kiai Ribath Nurul Hidayah

Sabtu, 01 Desember 2012

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan

Jakarta, Ribath Nurul Hidayah - Tahun ini, Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Jepara melakukan turun ke bawah (turba) dari kecamatan ke kecamatan. Turba yang bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Jepara Turba dilakukan untuk pembinaan dan sekaligus penyerahan izin operasional pondok pesantren, madrasah diniyah, dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) se-Kabupaten Jepara.

Demikian informasi yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Jepara, sekaligus Kepala KUA Kecamatan Keling H Hisyam Zamroni kepada Ribath Nurul Hidayah, Senin (13/3).

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan

Hisyam menambahkan salah satu daerah yang menerima pembinaan dan penyerahan izin operasional adalah di wilayah paling pojok utara kaki Gunung Muria yakni Kecamatan Keling. Pelaksanaan pembinaan dan penyerahan izin operasional di Kecamatan Keling berlangsung Senin, (13/3) pagi di Pendopo Kecamatan Keling.

Ribath Nurul Hidayah

“Kecamatan Keling menjadi kecamatan ke-14 dari 16 kecamatan di Kabupaten Jepara. Terdapat 2 buah pondok pesantren, 83 TPQ, dan 43 madrasah diniyah di Kecamatan Keling yang menerima pembinaan dan izin operasional,” rinci Hisyam.

Ia menegaskan, pondok pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ adalah pondasi mendasar dalam pembinaan akhlakul karimah dan keimanan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Ribath Nurul Hidayah

“Dengan terpenuhinya izin operasional, kepastian hukum tentang pengelolaan dan proses belajar mengajar menjadi legal, nyaman, dan tenang,” katanya.

Hisyam juga menambahkan, pada kesempatan tersebut Ketua LP Maarif NU Jepara,? H Fathul Huda menyampaikan bahwa pondok pesantren, madin, dan TPQ adalah tempat pemberdayaan keilmuan Islam dari tingkat awal sehingga membutuhkan perhatian serius. Diharapkan pembinaan dan izin operasional akan menguatkan pemahaman ajaran aswaja mereka.

Sementara Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, H Muslih Ahmad menyatakan pentingnya membentuk sinergitas dalam proses pemberdayaan pondok pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ.

“Agar pelayanannya menjadi mudah dan terkontrol tanpa ada hambatan yang berarti dari masyarakat dan pemerintah, khususnya Kanmenag,” ujar Muslih.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Ketua RMI Jepara Kiai Rosyif Arwani; Kepala Kanmenag Jepara H Muhdi Zamru; Kapolsek, Danramil, Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Keling. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ribath Nurul Hidayah Ubudiyah, Makam Ribath Nurul Hidayah